Kategori: Uncategorized

  • Koperasi Desa Merah Putih Dorong Bansos Menjadi Jalan Kemandirian Ekonomi

    Oleh: Alexander Royce*)

    Upaya pemerintah mendorong pembangunan ekonomi dari desa terus menunjukkan arah yang semakin konkret. Salah satu langkah strategis yang kini digencarkan adalah penguatan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, sebuah program yang tidak hanya bertujuan membangun kelembagaan ekonomi rakyat, tetapi juga mengubah paradigma bantuan sosial dari sekadar perlindungan menjadi pemberdayaan.

    Gagasan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah tidak ingin bansos hanya menjadi mekanisme penyangga ekonomi sementara. Sebaliknya, bansos kini diarahkan sebagai pintu masuk bagi masyarakat untuk naik kelas secara ekonomi. Dengan koperasi sebagai wadah kolektif, masyarakat desa diharapkan memiliki akses lebih luas terhadap modal, pasar, serta berbagai fasilitas ekonomi yang sebelumnya sulit dijangkau secara individu.

    Program Koperasi Merah Putih juga menjadi bagian dari strategi besar pembangunan ekonomi kerakyatan yang berakar di desa. Pemerintah melihat desa bukan lagi sekadar objek pembangunan, melainkan pusat pertumbuhan ekonomi baru. Melalui koperasi yang kuat, potensi pertanian, peternakan, perikanan, hingga usaha mikro di desa dapat terhubung dalam satu ekosistem ekonomi yang produktif.

    Menteri Koperasi Ferry Juliantono menilai transformasi penerima bantuan sosial menjadi anggota koperasi merupakan langkah strategis untuk meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat. Ia melihat bahwa selama ini bansos berfungsi sebagai jaring pengaman sosial, namun melalui koperasi masyarakat dapat memiliki kesempatan untuk meningkatkan kesejahteraan secara berkelanjutan.

    Ferry juga menjelaskan bahwa pemerintah memberikan berbagai kemudahan bagi penerima bansos yang bergabung ke dalam Koperasi Merah Putih. Salah satunya adalah pembebasan iuran pokok keanggotaan sebagai bentuk dukungan negara agar masyarakat dapat langsung terlibat tanpa terbebani biaya awal. Kebijakan ini diharapkan mampu mempercepat partisipasi masyarakat desa dalam ekosistem koperasi, sekaligus memperluas basis anggota yang menjadi kekuatan utama koperasi sebagai lembaga ekonomi kolektif.

    Menurutnya, koperasi desa juga dapat berfungsi sebagai pusat distribusi berbagai kebutuhan masyarakat, mulai dari pupuk, LPG, hingga komoditas lain yang disubsidi pemerintah. Di sisi lain, koperasi juga akan menjadi tempat penampungan dan pemasaran hasil produksi masyarakat desa, mulai dari produk pertanian hingga hasil UMKM lokal. Dengan sistem ini, rantai ekonomi desa dapat berputar lebih kuat dan memberikan nilai tambah langsung kepada warga.

    Pemerintah sendiri menargetkan pembangunan puluhan ribu unit koperasi desa dalam beberapa tahun ke depan. Ribuan koperasi telah selesai dibangun dan mulai beroperasi, sementara puluhan ribu lainnya masih dalam tahap pengembangan. Skala program ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menjadikan koperasi sebagai fondasi ekonomi rakyat di tingkat akar rumput.

    Dari sisi kebijakan sosial, Menteri Sosial Saifullah Yusuf melihat keterlibatan penerima bansos dalam koperasi sebagai langkah penting untuk memutus rantai kemiskinan secara bertahap. Ia menilai bahwa jumlah penerima bantuan sosial yang sangat besar sebenarnya memiliki potensi ekonomi yang besar pula jika dikelola secara kolektif melalui koperasi desa. Dalam pandangannya, bansos tetap akan berfungsi sebagai jaring pengaman sosial, namun koperasi menjadi tangga yang memungkinkan masyarakat naik menuju kemandirian ekonomi.

    Saifullah Yusuf juga menilai bahwa integrasi program sosial dengan koperasi akan menciptakan ekosistem pemberdayaan yang lebih terarah. Ketika para penerima Program Keluarga Harapan dan bantuan pangan menjadi anggota koperasi, mereka tidak hanya menerima bantuan, tetapi juga dapat terlibat dalam kegiatan ekonomi produktif. Dengan cara ini, program perlindungan sosial dapat berkembang menjadi program pemberdayaan yang menghasilkan nilai ekonomi nyata bagi masyarakat.

    Pendekatan tersebut sekaligus menunjukkan adanya perubahan paradigma dalam kebijakan sosial pemerintah. Bantuan sosial tidak lagi dipandang sebagai program yang bersifat pasif, melainkan sebagai titik awal bagi transformasi ekonomi keluarga penerima manfaat. Ketika masyarakat mulai terlibat dalam aktivitas koperasi, mereka perlahan berubah dari penerima bantuan menjadi pelaku ekonomi lokal.

    Sementara itu, Direktur Umum dan Hukum LPDB Koperasi, Deva Rachman, melihat penguatan koperasi sebagai momentum penting untuk membangun ekonomi rakyat yang lebih modern dan inklusif. Ia menilai bahwa koperasi tidak lagi dapat dipandang sebagai lembaga ekonomi tradisional, tetapi harus berkembang menjadi institusi bisnis yang profesional, inovatif, dan mampu menarik partisipasi generasi muda.

    Deva juga menekankan pentingnya dukungan pembiayaan dan penguatan kapasitas usaha bagi koperasi agar mampu berkembang secara berkelanjutan. Dalam pandangannya, generasi muda memiliki peran strategis dalam membawa koperasi memasuki era ekonomi digital dan memperluas jangkauan pasar produk-produk lokal. Ketika koperasi mampu dikelola secara modern, maka lembaga ini dapat menjadi motor penggerak ekonomi desa yang kompetitif sekaligus berkeadilan.

    Sinergi antara kebijakan sosial, penguatan koperasi, dan dukungan pembiayaan menjadi fondasi penting bagi keberhasilan program ini. Pemerintah tidak hanya menghadirkan bantuan, tetapi juga membangun sistem ekonomi yang memungkinkan masyarakat berkembang secara mandiri.

    Koperasi Merah Putih bukan sekadar program pembangunan kelembagaan ekonomi desa. Ia merupakan simbol dari upaya negara untuk menghadirkan ekonomi yang lebih inklusif, di mana masyarakat desa tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga pelaku utama yang menggerakkan roda ekonomi di daerahnya.

    *) Penulis merupakan Pengamat Sosial

  • Takbiran dan Nyepi Beriringan, Pemerintah Ajak Jaga Harmoni Bersama

    Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Agama mengajak seluruh masyarakat untuk tetap menjaga kerukunan menyusul jatuhnya perayaan malam takbir Idulfitri yang berdekatan dengan hari suci Nyepi tahun ini. Momentum langka ini diharapkan menjadi bukti nyata kuatnya toleransi dan harmoni antarumat beragama di Indonesia.

    Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar dalam keterangannya menjelaskan bahwa pemerintah telah mengantisipasi potensi dinamika yang muncul karena waktu yang berdekatan antara perayaan Nyepi dan malam takbiran. Menurutnya, koordinasi telah dilakukan dengan pemerintah daerah serta tokoh masyarakat di Bali guna menjaga keharmonisan antarumat beragama.

    “Hari Nyepi kita tahu tidak boleh ada suara-suara berisik, tidak boleh ada kendaraan dan sebagainya padahal malam itu juga ada teman-teman kita takbir,” ujar Menag.

    Ia menuturkan bahwa hasil koordinasi menunjukkan adanya kesepakatan bersama agar kedua perayaan keagamaan tersebut tetap dapat berjalan dengan saling menghormati. Pemerintah pusat bersama Pemerintah Provinsi Bali dan tokoh masyarakat telah menyepakati mekanisme pelaksanaan takbiran yang disesuaikan dengan ketentuan Nyepi.

    “Takbir itu tidak bertentangan dengan Nyepi, cuma syaratnya ya Nyepi-nya berjalan tapi takbirnya juga berjalan, cuma tidak pakai sound system dan dibatasi waktunya juga dari jam 6 sampai jam 9,” jelasnya.

    Ia pun menegaskan bahwa pemerintah akan terus berupaya menjaga suasana toleransi dan kerukunan antarumat beragama, terutama dalam momentum hari-hari besar keagamaan yang berdekatan waktunya.

    Sementara itu, Gubernur Bali Wayan Koster telah menggelar rapat koordinasi bersama majelis agama se-Bali guna membahas pelaksanaan Hari Raya Nyepi yang waktunya berdekatan dengan Hari Raya Idul Fitri. Gubernur Koster mengatakan pembahasan utama dalam pertemuan tersebut adalah bagaimana pelaksanaan Nyepi dan Idul Fitri dapat berlangsung khidmat, aman, serta tetap menjaga kenyamanan masyarakat.

    Ia menegaskan seluruh pihak sepakat menjaga toleransi serta keharmonisan antarumat beragama di Bali.

    “Kesepakatannya supaya semuanya berjalan dengan baik, saling menghormati satu sama lain serta menjaga toleransi, kerukunan dan keharmonisan antarumat,” tegasnya.

    Ia juga memastikan seruan bersama terkait pelaksanaan Nyepi dan Takbiran yang telah disepakati tetap berlaku dan tidak mengalami perubahan meskipun masih menunggu kepastian tanggal Hari Raya Idul Fitri dari pemerintah pusat. Dengan koordinasi tersebut, diharapkan pelaksanaan Nyepi dan Idul Fitri di Bali dapat berlangsung lancar dengan semangat saling menghormati antarumat beragama.

  • Idul Fitri dan Nyepi Beririsan, Pemerintah Tegaskan Prioritas Kerukunan

    Kuningan — Pemerintah menegaskan komitmen untuk menjaga kerukunan dan toleransi antarumat beragama seiring dengan beririsan waktunya perayaan Idul Fitri dan Hari Raya Nyepi pada tahun ini. Momentum yang mempertemukan dua hari besar keagamaan tersebut dipandang sebagai kesempatan penting untuk memperkuat nilai persatuan, saling menghormati, serta menjaga stabilitas sosial di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.

    Kesamaan waktu antara kedua hari besar tersebut memunculkan dinamika tersendiri di tengah masyarakat. Pemerintah memandang kondisi ini sebagai bagian dari realitas keberagaman bangsa yang harus disikapi dengan kedewasaan serta semangat saling menghormati antarumat beragama. Oleh karena itu, berbagai langkah koordinasi dilakukan guna memastikan kedua perayaan dapat berlangsung secara khidmat, aman, serta tetap menjaga kenyamanan seluruh masyarakat.

    Pentingnya menjaga persatuan di tengah keberagaman juga kembali ditekankan oleh Presiden RI, Prabowo Subianto. Penegasan tersebut mengingatkan bahwa perbedaan merupakan kenyataan yang harus dikelola dengan sikap saling menghormati demi menjaga persatuan bangsa.

    “Perbedaan, itu bukan sesuatu yang harus mengarah kepada perpecahan. Kita perlu untuk menggalang persatuan, menggalang kerukunan untuk menghadapi keadaan yang penuh ketidakpastian ini,” kata Presiden Prabowo.

    Momentum beririsan antara Idul Fitri dan Nyepi dipandang sebagai cerminan nyata semangat Bhinneka Tunggal Ika yang selama ini menjadi perekat kehidupan masyarakat Indonesia. Dalam keberagaman keyakinan, masyarakat diharapkan mampu menunjukkan sikap saling menghargai dan menjaga harmoni sosial sebagai kekuatan bangsa.

    Selain itu, pentingnya peran tokoh agama dalam menjaga harmoni sosial turut menjadi perhatian pemerintah. Dalam momentum sejumlah hari besar keagamaan yang berlangsung berdekatan bahkan bersamaan tahun ini, yakni Nyepi, Idul Fitri, dan Paskah, para tokoh agama dipandang memiliki peran strategis dalam memperkuat pesan damai dan persaudaraan di tengah masyarakat.

    Ajakan tersebut disampaikan oleh Nasaruddin Umar selaku Menteri Agama agar para pemuka agama terus mengedepankan nilai-nilai kerukunan dalam setiap momentum keagamaan.

    “Para tokoh agama memiliki peran penting dalam menjaga harmoni dan damai di tengah masyarakat. Momentum hari-hari besar keagamaan ini harus menjadi penguat persaudaraan, bukan sebaliknya,” ujar Menag.

    Momentum beririsan antara Idul Fitri dan Nyepi pada tahun ini diharapkan menjadi simbol kuat persatuan bangsa Indonesia. Dalam perbedaan keyakinan, masyarakat tetap mampu hidup berdampingan secara damai, menjunjung tinggi toleransi, serta menjaga persaudaraan sebagai bagian dari identitas nasional.

  • Saat Takbiran dan Nyepi Beriringan, Toleransi Menjadi Nyata

    Oleh : Dewi Fatimah )*

    Di tahun 2026 ini, masyarakat Indonesia kembali diingatkan pada satu kenyataan yang indah tentang kebhinekaan. Malam takbiran yang menjadi penanda datangnya Hari Raya Idulfitri bagi umat Islam beriringan dengan Hari Raya Nyepi yang dirayakan oleh umat Hindu. Dua momentum keagamaan besar yang memiliki karakter sangat berbeda tersebut justru memperlihatkan wajah toleransi yang nyata di tengah kehidupan masyarakat. Takbiran identik dengan gema takbir, kebahagiaan, dan aktivitas masyarakat yang berlangsung hingga malam hari. Sementara Nyepi dijalani dengan suasana hening, refleksi diri, dan pembatasan aktivitas di ruang publik. Perbedaan ini tidak menjadi sumber gesekan, melainkan ruang untuk saling memahami.

    Di berbagai daerah di Indonesia, suasana kebersamaan justru terlihat semakin kuat ketika dua perayaan ini hadir dalam waktu yang bersamaan. Masyarakat saling menyesuaikan diri agar kedua ibadah dapat berjalan dengan khidmat. Di sejumlah wilayah, umat Islam yang merayakan malam takbiran bersedia menyesuaikan kegiatan agar tidak mengganggu pelaksanaan Catur Brata Penyepian. Di sisi lain, umat Hindu juga menunjukkan sikap terbuka dengan menghargai kebahagiaan umat Muslim yang menyambut hari kemenangan setelah menjalani ibadah puasa selama sebulan penuh. Momen ini menunjukkan bahwa toleransi bukan sekadar slogan, melainkan praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari.

    Ketua Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Bali, Husnul Fahmi mengatakan pelaksanaan malam Takbiran Idul Fitri 1447 Hijriah/Tahun 2026 bertepatan dengan Hari Suci Nyepi Tahun Caka 1948/Tahun 2026, yang jatuh pada Kamis, 19 Maret 2026. Pihaknya menjelaskan telah melakukan pertemuan beberapa kali dengan Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi Bali dan membuat seruan bersama bahwa umat Islam khususnya warga Muhammadiyah tetap diperbolehkan untuk melaksanakan takbir, namun dengan beberapa catatan salah satunya melakukan takbir, serta berjalan kaki menuju masjid/mushola terdekat dan tidak menggunakan pengeras suara, serta penerangan yang terlalu mencolok.

    Kondisi ini memperlihatkan kematangan sosial masyarakat Indonesia dalam mengelola perbedaan. Di tengah keragaman suku, agama, dan budaya, masyarakat telah memiliki tradisi panjang dalam merawat harmoni. Ketika dua perayaan keagamaan bertemu dalam waktu yang sama, masyarakat tidak melihatnya sebagai persoalan, tetapi sebagai kesempatan untuk menunjukkan sikap saling menghormati. Nilai-nilai gotong royong dan kebersamaan yang telah lama menjadi bagian dari budaya bangsa kembali terlihat dalam situasi seperti ini.

    Menteri Agama, Nasaruddin Umar menjelaskan pemerintah provinsi, pemerintah daerah, tokoh agama, dan aparat keamanan turut berperan dalam memastikan kedua perayaan dapat berjalan dengan aman dan tertib. Koordinasi dilakukan untuk mengatur aktivitas masyarakat agar tetap menghormati ketentuan yang berlaku selama Nyepi tanpa menghilangkan semangat perayaan Idulfitri. Upaya ini menunjukkan bahwa toleransi tidak hanya menjadi tanggung jawab masyarakat, tetapi juga membutuhkan dukungan kebijakan dan pengaturan yang bijak dari pemerintah.

    Pada Hari Nyepi terdapat aturan untuk menjaga keheningan, tanpa suara bising maupun aktivitas kendaraan. Sementara itu, pada malam yang sama umat Islam juga memiliki tradisi takbiran untuk menyambut Idulfitri. Oleh sebab itu, pemerintah membangun komunikasi agar kedua perayaan tersebut dapat berlangsung dengan tetap menjunjung tinggi sikap saling menghormati. Dari hasil koordinasi tersebut, dicapai kesepakatan bersama yang mencerminkan semangat kebersamaan masyarakat Bali. Takbiran tetap dapat dilaksanakan, namun dengan sejumlah penyesuaian agar tidak mengganggu pelaksanaan Nyepi.

    Fenomena beriringannya takbiran dan Nyepi juga menjadi pengingat penting bahwa keberagaman merupakan kekuatan bangsa Indonesia. Perbedaan cara beribadah, tradisi, dan budaya bukanlah sesuatu yang harus dipertentangkan. Justru dari perbedaan itulah lahir sikap saling menghargai yang memperkaya kehidupan sosial. Indonesia sejak awal berdiri telah dibangun di atas kesadaran bahwa masyarakatnya beragam, sehingga nilai toleransi menjadi fondasi utama dalam kehidupan berbangsa dan bernegara.

    Di tengah perkembangan teknologi informasi dan media sosial, momen seperti ini juga memiliki nilai edukatif yang besar. Banyak masyarakat yang membagikan cerita tentang bagaimana mereka saling menghormati dalam menjalankan ibadah masing-masing. Kisah-kisah sederhana tentang warga yang menahan diri dari aktivitas yang berpotensi mengganggu, atau masyarakat yang saling membantu menjaga ketertiban lingkungan, menjadi contoh nyata bahwa toleransi dapat tumbuh dari tindakan kecil yang dilakukan bersama.

    Gubernur Bali, I Wayan Koster menegaskan lebih dari sekadar peristiwa tahunan, beriringannya takbiran dan Nyepi menyampaikan pesan penting tentang masa depan Indonesia. Bangsa ini akan terus menghadapi berbagai dinamika sosial, politik, dan budaya. Dalam situasi tersebut, kemampuan untuk saling menghargai perbedaan menjadi modal sosial yang sangat berharga. Ketika masyarakat mampu menjaga harmoni dalam hal yang sensitif seperti ibadah keagamaan, maka sebenarnya masyarakat telah menunjukkan kedewasaan dalam menjaga persatuan.

    Pada akhirnya, pertemuan dua perayaan besar ini mengingatkan bahwa toleransi bukan hanya tentang membiarkan orang lain berbeda, tetapi tentang kesediaan untuk memberi ruang bagi orang lain menjalankan keyakinannya dengan damai. Malam takbiran yang penuh gema takbir dan Hari Raya Nyepi yang hening menjadi simbol bahwa perbedaan dapat berjalan berdampingan. Dari situlah terlihat bahwa toleransi di Indonesia bukan sekadar konsep, melainkan kenyataan yang hidup di tengah masyarakat.

    )* Kontributor Lingkar Khatulistiwa Institute

  • Takbiran dan Nyepi Beriringan, Mari Jaga Harmoni Bersama

    Oleh : Khrisna Utama

    Tahun 2026 menghadirkan momentum yang unik sekaligus sarat makna bagi kehidupan berbangsa di Indonesia. Pada tahun ini, malam takbiran yang menandai berakhirnya bulan Ramadan dan menyambut Hari Raya Idulfitri beriringan dengan perayaan Hari Raya Nyepi bagi umat Hindu. Pertemuan dua perayaan keagamaan besar ini bukan sekadar kebetulan kalender, melainkan sebuah pengingat bahwa Indonesia dibangun di atas keberagaman yang harus terus dirawat dengan semangat saling menghormati.

    Hari Raya Nyepi yang diperingati umat Hindu sebagai Tahun Baru Saka 1948 jatuh pada 19 Maret 2026. Di saat yang hampir bersamaan, umat Islam juga bersiap menyambut Idulfitri dengan tradisi takbiran yang biasanya diisi dengan lantunan takbir, kegiatan keagamaan di masjid, serta berbagai ekspresi kegembiraan umat setelah menjalani ibadah puasa selama satu bulan penuh. Pertemuan dua momentum spiritual ini menghadirkan tantangan sekaligus kesempatan bagi masyarakat Indonesia untuk menunjukkan kedewasaan dalam menjaga toleransi antarumat beragama. 

    Menteri Agama, Nasaruddin Umar mengatakan adanya pengaturam pelaksanaan takbiran di Bali yang waktunya berdekatan dengan perayaan nyepi. Pelaksanaan takbiran disepakati berlangsung tanpa penggunaan pengeras suara besar dan dengan pembatasan waktu, yakni antara pukul 18.00 hingga 21.00 WITA. Melalui pengaturan tersebut, Nyepi tetap dapat dijalankan secara khidmat sesuai nilai kesakralannya, sementara umat Islam tetap dapat melaksanakan tradisi takbiran sebagai bagian dari perayaan Idulfitri.

    Dalam konteks kehidupan berbangsa yang majemuk, situasi seperti ini bukanlah sesuatu yang harus dipandang sebagai persoalan. Sebaliknya, ia dapat menjadi ruang pembelajaran sosial yang penting untuk memperkuat nilai kebhinekaan. Indonesia sejak lama dikenal sebagai negara yang memiliki tradisi panjang dalam menjaga kerukunan antarumat beragama. Keberagaman agama, suku, budaya, dan bahasa yang ada justru menjadi kekuatan utama dalam membangun persatuan nasional.

    Pemerintah bersama tokoh agama dan masyarakat juga telah melakukan berbagai langkah koordinatif agar kedua perayaan tersebut dapat berjalan dengan baik. Melalui dialog dan kesepakatan bersama, berbagai penyesuaian teknis dilakukan agar umat Hindu dapat menjalankan Catur Brata Penyepian dengan khidmat, sementara umat Islam tetap dapat melaksanakan takbiran secara tertib dan penuh penghormatan terhadap suasana Nyepi. 

    Di beberapa wilayah seperti Bali, panduan khusus telah disusun untuk memastikan kedua kegiatan keagamaan tersebut tidak saling mengganggu. Misalnya, umat Islam diperkenankan melaksanakan takbiran di masjid atau mushola terdekat dengan berjalan kaki tanpa menggunakan pengeras suara serta tanpa menyalakan petasan atau bunyi-bunyian lainnya. Pelaksanaan kegiatan juga dibatasi dalam rentang waktu tertentu sehingga tetap menghormati suasana hening yang menjadi inti dari perayaan Nyepi. 

    Kebijakan semacam ini tidak dimaksudkan untuk membatasi ekspresi keagamaan, melainkan justru menjadi bentuk penghormatan antarumat beragama. Dengan semangat saling memahami, setiap komunitas dapat menjalankan ibadahnya dengan khusyuk tanpa mengurangi makna spiritual yang terkandung di dalamnya. Penyesuaian tersebut juga mencerminkan kedewasaan masyarakat dalam mengelola keberagaman secara bijak.

    Momentum beriringannya takbiran dan Nyepi pada tahun ini juga menjadi pengingat bahwa nilai toleransi bukan hanya sekadar konsep, tetapi praktik nyata dalam kehidupan sehari-hari. Toleransi tidak selalu berarti menyetujui semua perbedaan, melainkan kemampuan untuk memberikan ruang bagi orang lain menjalankan keyakinannya dengan tenang dan bermartabat.

    Anggota DPRD Bali, I Wayan Puspa Negera megatakan dengan kedekatan waktu antar Nyepi dan Idul Fitri, baiknya dimaknai sebagai semangat bersama untuk menciptakan kedamaian. Perbedaan bukanlah sesuatu yang memisahkan kita, hal ini menjadi keindahan hidup bermasyarakat.

    Dalam perspektif sosial yang lebih luas, pertemuan dua hari besar ini dapat dimaknai sebagai simbol harmoni. Takbiran yang identik dengan gema syukur dan kebahagiaan bertemu dengan Nyepi yang sarat dengan refleksi, keheningan, dan pengendalian diri. Kedua nilai tersebut sesungguhnya saling melengkapi dalam membangun kehidupan yang seimbang antara kegembiraan spiritual dan kedamaian batin.

    Di tengah dinamika global yang sering kali diwarnai oleh konflik identitas dan polarisasi sosial, Indonesia memiliki modal sosial yang sangat berharga berupa tradisi toleransi. Modal inilah yang harus terus dirawat melalui sikap saling menghargai, dialog antarumat beragama, serta kesadaran bahwa keberagaman adalah bagian tak terpisahkan dari jati diri bangsa.

    Oleh karena itu, momentum takbiran dan Nyepi yang beriringan pada tahun ini hendaknya dijadikan sebagai kesempatan untuk memperkuat semangat kebersamaan. Umat Islam dapat merayakan kemenangan setelah Ramadan dengan penuh rasa syukur, sementara umat Hindu menjalankan Nyepi sebagai waktu untuk melakukan introspeksi dan penyucian diri. Kedua perayaan tersebut dapat berjalan berdampingan selama dilandasi oleh sikap saling menghormati.

    Pada akhirnya, harmoni tidak tercipta dengan sendirinya. Ia lahir dari kesadaran kolektif masyarakat untuk menempatkan toleransi sebagai nilai utama dalam kehidupan bersama. Ketika setiap individu mampu menahan diri, menghargai perbedaan, dan menjaga ketertiban sosial, maka keberagaman bukan lagi menjadi tantangan, melainkan kekuatan yang mempersatukan.

    Takbiran dan Nyepi yang beriringan tahun ini adalah pengingat bahwa Indonesia mampu berdiri kokoh di atas perbedaan. Dengan menjaga harmoni bersama, kita tidak hanya merayakan hari besar keagamaan, tetapi juga merayakan persatuan sebagai bangsa.

    )*Pengamat sosial kemasyarakatan

  • Program MBG Dinilai Perkuat Kesehatan Masyarakat lewat Pemenuhan Gizi Seimbang

    Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus mendapat dukungan dari berbagai pihak karena dinilai mampu memperkuat kesehatan masyarakat melalui pemenuhan gizi yang seimbang. Program ini tidak hanya berfokus pada pemberian makanan, tetapi juga menjadi langkah strategis pemerintah dalam membangun kualitas sumber daya manusia Indonesia sejak usia dini.

    Anggota Komisi IX DPR RI, Lucy Kurniasari, menilai bahwa program MBG memberikan dampak positif yang luas bagi masyarakat, baik dari sisi kesehatan maupun kesejahteraan.

    “Program MBG memberikan manfaat besar bagi masyarakat karena membantu meningkatkan kesehatan dan kesejahteraan melalui pemenuhan gizi yang baik,” kata Lucy.

    Menurutnya, program ini merupakan langkah strategis pemerintah dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia. Dengan memastikan anak-anak mendapatkan asupan gizi yang cukup dan seimbang sejak dini, pemerintah menyiapkan fondasi penting bagi pembangunan bangsa di masa depan.

    Lucy menjelaskan bahwa program MBG menyasar berbagai kelompok masyarakat, khususnya peserta didik di berbagai jenjang pendidikan. Penerima manfaat program ini meliputi anak-anak di tingkat taman kanak-kanak, sekolah dasar, sekolah menengah pertama, hingga sekolah menengah atas.

    Selain itu, program MBG juga menjangkau santri di lingkungan pesantren serta anak-anak berkebutuhan khusus yang membutuhkan perhatian gizi secara khusus. Cakupan program yang luas ini diharapkan mampu memastikan setiap anak Indonesia memperoleh akses terhadap makanan bergizi.

    Tidak hanya peserta didik, program MBG juga menyasar kelompok masyarakat yang membutuhkan perhatian gizi tambahan, seperti ibu hamil, ibu menyusui, serta balita. Kelompok ini dinilai sangat penting dalam upaya pencegahan masalah gizi sejak masa awal kehidupan.

    “Program ini merupakan investasi besar bagi masa depan bangsa. Dengan pemenuhan gizi yang baik, kita dapat memperkuat pembangunan sumber daya manusia Indonesia,” ujar Lucy.

    Sementara itu, Anggota Komisi IX DPR RI lainnya, Ranny Fahd Arafiq, menegaskan bahwa program MBG tidak hanya sekadar memberikan bantuan makanan kepada masyarakat.

    Menurutnya, program ini merupakan bagian dari strategi besar pemerintah untuk menyiapkan generasi masa depan yang sehat, cerdas, dan produktif.

    “Program ini menjadi bentuk perhatian pemerintah agar anak-anak sebagai penerima manfaat mendapatkan asupan gizi yang cukup dan seimbang,” kata Ranny.

    Ia menambahkan bahwa pemenuhan gizi yang baik pada masa pertumbuhan akan berdampak besar terhadap perkembangan fisik dan kemampuan belajar anak. Dengan kondisi kesehatan yang lebih baik, anak-anak diharapkan mampu menyerap pelajaran secara optimal di sekolah.

    Selain meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, program MBG juga memberikan dampak ekonomi yang positif bagi lingkungan sekitar. Setiap dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) melibatkan tenaga kerja lokal serta menggunakan bahan pangan dari pemasok di wilayah sekitar.

    “Program ini juga dirancang untuk mendorong aktivitas ekonomi masyarakat. Setiap dapur SPPG akan melibatkan tenaga kerja dari lingkungan sekitar sehingga turut menggerakkan perekonomian wilayah,” lanjut Ranny.

    Dengan manfaat yang luas, program MBG diharapkan menjadi salah satu fondasi penting dalam membangun generasi Indonesia yang sehat, kuat, dan berdaya saing tinggi di masa depan. Pemerintah pun terus mendorong penguatan pelaksanaan program ini agar manfaatnya dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat di seluruh daerah.

  • Program MBG Diangkat di Forum PBB, Indonesia Soroti Investasi Gizi

    Jakarta – Komitmen Indonesia dalam membangun generasi masa depan yang sehat dan berkualitas kembali mendapat perhatian dunia. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu kebijakan strategis pemerintah, diangkat dalam forum internasional, termasuk pada sidang Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).

    Dalam berbagai forum internasional, Indonesia menegaskan bahwa program makan bergizi tidak hanya berkaitan dengan kesehatan, tetapi juga memiliki dampak langsung terhadap pendidikan, ekonomi keluarga, serta pembangunan manusia secara menyeluruh.

    Direktur Jenderal Pelayanan dan Kepatuhan HAM, Munafrizal Manan, menegaskan bahwa Indonesia memandang program pemenuhan gizi sebagai bagian dari upaya pemajuan hak asasi manusia, khususnya hak atas kesehatan dan hak anak untuk tumbuh secara optimal.

    “Program Makan Bergizi Gratis yang dijalankan pemerintah merupakan langkah konkret negara dalam memastikan pemenuhan hak dasar masyarakat, khususnya anak-anak. Melalui forum Dewan HAM PBB, Indonesia ingin menunjukkan bahwa pembangunan manusia yang berkelanjutan tidak dapat dilepaskan dari pemenuhan gizi yang memadai bagi generasi muda,” ujar Munafrizal.

    Ia menjelaskan bahwa upaya pemerintah tersebut sejalan dengan komitmen global untuk memperkuat pembangunan manusia yang inklusif. Menurutnya, akses terhadap makanan bergizi merupakan fondasi penting dalam menciptakan masyarakat yang sehat, produktif, dan berdaya saing.

    Sementara itu, Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, menilai MBG sebagai kebijakan strategis yang mampu memberikan dampak jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia Indonesia.

    “Program MBG bukan sekadar bantuan makanan, tetapi merupakan investasi jangka panjang dalam peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia,” ucap Lalu.

    Ia menambahkan bahwa berbagai kajian menunjukkan bahwa pemenuhan gizi yang baik bagi anak-anak berkontribusi langsung terhadap peningkatan konsentrasi belajar serta perkembangan kognitif siswa.

    Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa program MBG harus dipandang sebagai investasi jangka panjang negara dalam membangun kualitas sumber daya manusia.

    “Program ini adalah investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia. Dampaknya tidak hanya dirasakan dalam jangka pendek, tetapi juga dalam produktivitas ekonomi dan daya saing bangsa di masa depan,” jelas Airlangga.

    Menurutnya, berbagai lembaga internasional juga mulai menaruh perhatian pada Program MBG karena dinilai memiliki dampak luas terhadap pembangunan manusia.

  • MBG: Investasi Gizi untuk Masa Depan Bangsa

    Oleh: Bara Winatha*)

    Program Makan Bergizi Gratis (MBG) semakin menunjukkan perannya bukan sekadar sebagai program penyediaan makanan, melainkan sebagai strategi besar negara dalam memperkuat fondasi kesehatan masyarakat. Pemenuhan gizi tidak lagi dipandang sebagai bagian penting dari kebijakan publik yang menyentuh masa depan bangsa. MBG hadir untuk memastikan bahwa kelompok masyarakat yang paling membutuhkan memperoleh akses terhadap asupan bergizi, edukasi pola makan sehat, serta dukungan sosial yang berkelanjutan. Dari sinilah gagasan tentang MBG sebagai jembatan dari gizi seimbang menuju kesehatan publik yang kuat memperoleh relevansinya.

    Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sony Sonjaya, mengatakan bahwa pelaksanaan MBG harus dimulai dengan memprioritaskan kelompok rentan yang dikenal sebagai 3B, yaitu balita, ibu hamil, dan ibu menyusui. Menurutnya, ketika dapur layanan MBG mulai beroperasi di suatu wilayah, sasaran utama yang harus dicari terlebih dahulu adalah kelompok tersebut karena mereka berada dalam fase kehidupan yang paling menentukan. Ia memandang bahwa perhatian kepada balita, ibu hamil, dan ibu menyusui sangat berkaitan dengan periode 1.000 hari pertama kehidupan, yakni masa krusial yang akan memengaruhi kualitas tumbuh kembang anak, kondisi kesehatan, serta kapasitas generasi mendatang.

    Sony juga mengatakan bahwa konsep MBG di Indonesia memiliki nilai lebih dibanding sejumlah program makan gratis di negara lain. Jika di berbagai negara program serupa umumnya berfokus pada peserta didik di sekolah, Indonesia mengembangkan pendekatan yang lebih luas melalui konsep school meal plus. Dalam kerangka ini, sekolah tetap menjadi bagian penting, tetapi perhatian negara tidak berhenti di sana. Pemerintah juga menempatkan kelompok rentan di masyarakat sebagai prioritas utama. Dengan demikian, MBG tidak hanya mengisi kebutuhan gizi anak usia sekolah, melainkan juga memperkuat lingkaran perlindungan gizi sejak sebelum seorang anak memasuki bangku pendidikan formal.

    Penguatan MBG juga terlihat melalui kolaborasi lintas sektor yang terus dibangun pemerintah. Dalam pelaksanaannya, Kemendukbangga/BKKBN menggandeng Tim Penggerak PKK dan Tim Pendamping Keluarga untuk memperluas jangkauan distribusi serta edukasi gizi. Kerja sama ini memperlihatkan bahwa kesehatan publik yang kuat membutuhkan jaringan sosial yang dekat dengan masyarakat. Kader PKK, posyandu, dan pendamping keluarga berada di garis depan karena mereka mengenal kondisi riil keluarga sasaran, memahami kebutuhan lokal, dan dapat menjadi penghubung antara kebijakan nasional dengan praktik sehari-hari di tingkat desa maupun kelurahan. Di titik inilah MBG tidak berjalan sendiri, melainkan menjadi bagian dari ekosistem kesehatan masyarakat.

    Anggota Komisi IX DPR RI, Putih Sari, mengatakan bahwa perhatian terhadap pemenuhan gizi masyarakat merupakan aspek penting dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara menyeluruh. Ia menilai bahwa gizi yang baik sejak dini merupakan fondasi utama dalam membentuk generasi yang sehat, cerdas, dan produktif. Putih juga mengatakan bahwa kehadiran Badan Gizi Nasional melalui berbagai programnya merupakan langkah strategis untuk membantu masyarakat memperoleh akses terhadap makanan sehat dan bergizi. Menurutnya, pemenuhan gizi bagi anak-anak dan ibu hamil harus dipahami sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.

    Lebih jauh, MBG juga dapat menjadi instrumen penguatan keadilan sosial di bidang kesehatan. Selama ini, salah satu penyebab kesenjangan kualitas kesehatan adalah perbedaan kemampuan rumah tangga dalam memenuhi kebutuhan gizi. Keluarga dengan pendapatan terbatas sering kali harus memilih makanan berdasarkan harga termurah, bukan berdasarkan kandungan gizi terbaik. Akibatnya, anak-anak dari kelompok rentan berisiko lebih tinggi mengalami kekurangan nutrisi. Program seperti MBG membantu mengurangi ketimpangan tersebut dengan menghadirkan negara secara nyata di tengah masyarakat.

    Anggota Komisi IX DPR RI, Sri Meliyana, mengatakan bahwa makan bergizi tidak harus mahal karena banyak bahan pangan bergizi yang tetap terjangkau, seperti telur, sayuran, buah, dan sumber pangan lain yang mudah ditemukan masyarakat. Edukasi mengenai gizi seimbang sangat penting agar masyarakat memahami bahwa kualitas makanan tidak selalu ditentukan oleh harga tinggi, melainkan oleh kelengkapan kandungan nutrisi di dalamnya, seperti protein, karbohidrat, serat, vitamin, dan mineral. Pandangan ini memberikan dimensi edukatif yang sangat penting dalam penguatan kesehatan publik, sebab keberhasilan program gizi juga ditentukan oleh perubahan cara pandang masyarakat terhadap makanan.

    Pendekatan ini memperlihatkan bahwa program publik yang kuat membutuhkan partisipasi masyarakat, bukan sekadar penerimaan pasif. Dengan keterlibatan warga, MBG akan lebih mudah disesuaikan dengan kebutuhan lokal, lebih cepat dievaluasi ketika ada kendala, dan lebih besar peluangnya untuk diterima sebagai gerakan bersama dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat. Program ini adalah upaya membangun fondasi kesehatan publik melalui kombinasi intervensi gizi, edukasi keluarga, kolaborasi lintas sektor, dan partisipasi masyarakat.

    Karena itu, MBG perlu dipahami sebagai gerakan nasional yang membawa pesan besar bahwa kesehatan publik dimulai dari piring makan keluarga. Dari makanan yang dikonsumsi ibu hamil, dari asupan yang diterima balita, hingga dari pemahaman orang tua tentang gizi seimbang, semuanya berkontribusi terhadap masa depan bangsa. MBG mengajarkan bahwa negara yang ingin kuat harus membangun rakyatnya sejak akar paling dasar, yaitu kesehatan dan nutrisi. Dari gizi seimbang, Indonesia sedang menapaki jalan menuju kesehatan publik yang semakin kuat.

    *)Penulis merupakan pengamat sosial dan kemasyarakatan.

  • MBG dan Diplomasi Kesehatan Indonesia di Panggung PBB

    Oleh : Abdul Razak )*

    Komitmen Indonesia dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pemenuhan gizi masyarakat semakin mendapat perhatian di tingkat internasional. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang menjadi salah satu program prioritas nasional kini juga diperkenalkan sebagai bagian dari diplomasi kesehatan Indonesia dalam forum global, termasuk pada rangkaian kegiatan Sidang Dewan Hak Asasi Manusia Perserikatan Bangsa-Bangsa (Dewan HAM PBB) Sesi ke-61 di Jenewa, Swiss.

    Pemerintah Indonesia mengangkat program MBG dalam sebuah side event bertajuk Program Makan Bergizi Gratis di Indonesia: Investasi Berbasis Hak Asasi Manusia yang diselenggarakan di Markas Besar PBB, Jenewa. Forum ini menjadi sarana bagi Indonesia untuk menunjukkan bahwa kebijakan pemenuhan gizi tidak hanya berdimensi kesehatan, tetapi juga merupakan bagian dari pemajuan hak asasi manusia.

    Kegiatan di Jenewa ini juga menghadirkan sejumlah panelis internasional, di antaranya perwakilan dari Food and Agriculture Organization (FAO), World Food Programme (WFP), serta perwakilan tetap Prancis, Kuba, dan Finlandia untuk PBB di Jenewa. Diskusi tersebut dihadiri oleh berbagai delegasi negara dan organisasi masyarakat sipil yang membahas penguatan hak atas pangan sebagai bagian dari pembangunan yang inklusif dan berkelanjutan.

    Direktur Jenderal Pelayanan dan Kepatuhan HAM Kementerian Hukum dan HAM, Munafrizal Manan, menjelaskan bahwa hingga Maret 2026 program MBG telah menjangkau sekitar 61,6 juta penerima manfaat di seluruh Indonesia. Penerima manfaat tersebut meliputi anak sekolah, balita, serta ibu hamil dan menyusui yang dilayani melalui lebih dari 24.000 fasilitas layanan di berbagai daerah.

    Program MBG dirancang untuk meningkatkan status gizi generasi saat ini sekaligus mempersiapkan generasi masa depan yang lebih sehat dan produktif. Ia menilai pemenuhan gizi yang memadai akan berkontribusi langsung terhadap peningkatan kualitas pembelajaran di sekolah dan produktivitas masyarakat dalam jangka panjang.

    Selain memberikan dampak pada sektor kesehatan dan pendidikan, program ini juga membawa manfaat ekonomi yang luas. Implementasi MBG telah menciptakan lebih dari satu juta lapangan kerja dan melibatkan sekitar 35.000 pemasok pangan di berbagai daerah. Pemasok tersebut terdiri dari koperasi serta pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang menjadi bagian penting dalam rantai pasok program.

    Program MBG juga memiliki dimensi penting dalam pemajuan hak asasi manusia, khususnya terkait pemenuhan hak atas pangan, kesehatan, pendidikan, jaminan sosial, serta standar hidup yang layak. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa kebijakan pembangunan sosial dapat menjadi instrumen efektif dalam memperkuat kesejahteraan masyarakat secara menyeluruh.

    Implementasi program MBG juga mendapat dukungan dari berbagai elemen masyarakat. Ketua Umum Asosiasi Dapur Mandiri Indonesia (ADMIN), Bambang Purnomo Edi, menegaskan bahwa program MBG bukan sekadar pembagian makanan, melainkan sebuah ekosistem ekonomi kerakyatan yang terstruktur. ADMIN melihat bahwa program MBG mampu menghidupkan aktivitas ekonomi masyarakat di berbagai daerah. Program ini dinilai mampu menyerap tenaga kerja lokal sekaligus memberikan kepastian pasar bagi petani, peternak, serta pelaku usaha pangan skala kecil.

    Bambang menyoroti dinamika opini yang berkembang di media sosial terkait implementasi program MBG. Menurutnya, tidak semua informasi yang beredar mencerminkan kondisi di lapangan. Bambang menilai program MBG justru menjadi salah satu penggerak ekonomi rakyat karena melibatkan banyak pelaku usaha lokal dalam rantai pasok pangan. Bambang mengajak masyarakat untuk tetap optimis dan tidak mudah terpengaruh oleh konten yang menyudutkan program secara keseluruhan hanya berdasarkan kasus-kasus tunggal. Ia menilai langkah penertiban yang dilakukan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) terhadap unit pelayanan yang tidak memenuhi standar operasional justru menunjukkan keseriusan pemerintah dalam mengawasi pelaksanaan program.

    ADMIN saat ini berkoordinasi dengan BGN untuk memastikan lebih dari 1.200 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang berada di bawah naungan organisasi tersebut dapat beroperasi secara patuh, bersih, dan profesional. Pihaknya berkomitmen untuk menjaga kualitas dan transparansi dalam setiap porsi makanan yang disajikan kepada masyarakat.

    Dampak ekonomi program MBG juga terlihat jelas di berbagai daerah. Permintaan bahan pangan untuk kebutuhan dapur produksi program tersebut mendorong peningkatan aktivitas ekonomi pada sektor pertanian, perikanan, serta UMKM. Kondisi ini membuat banyak pelaku usaha lokal mendapatkan tambahan permintaan dalam jumlah besar. Petani, peternak, dan nelayan pun terdorong untuk meningkatkan kapasitas produksi mereka guna memenuhi kebutuhan bahan baku bagi dapur MBG.

    Di Kota Serang, Banten, dampak ekonomi program ini bahkan dinilai sangat signifikan. Wakil Wali Kota Serang, Nur Agis Aulia, menyampaikan bahwa keberadaan dapur MBG telah memberikan perputaran ekonomi yang besar bagi daerah tersebut. Saat ini terdapat sekitar 80 hingga 90 dapur MBG yang beroperasi di Kota Serang. Aktivitas dapur tersebut memicu perputaran ekonomi hingga mencapai sekitar Rp100 miliar setiap bulan atau hampir Rp1,2 triliun dalam satu tahun.

    Ini berdampak sangat besar bagi perekonomian daerah karena banyak UMKM serta pelaku usaha lokal yang menerima pesanan dalam jumlah besar. Bahkan sejumlah produsen makanan mengalami lonjakan permintaan yang signifikan sejak program MBG berjalan. Dengan pendekatan yang menggabungkan aspek kesehatan, pembangunan ekonomi, dan diplomasi internasional, program Makan Bergizi Gratis menunjukkan bahwa kebijakan sosial dapat menjadi instrumen strategis untuk memperkuat kualitas sumber daya manusia sekaligus memperluas peran Indonesia dalam agenda pembangunan global.

    )* Penulis adalah seorang Analis Kebijakan

  • Pemerintah Pastikan Pasokan Energi Jelang Lebaran Terjaga, Publik Diajak Konsumsi Bijak

    Makassar – Pemerintah memastikan pasokan energi nasional, khususnya bahan bakar minyak (BBM) dan liquefied petroleum gas (LPG), tetap terjaga menjelang perayaan Idulfitri. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kebutuhan masyarakat selama periode mudik dan libur Lebaran dapat terpenuhi dengan baik di berbagai wilayah Indonesia.

    PT Pertamina Patra Niaga bersama Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) serta Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) melakukan peninjauan ke sejumlah infrastruktur energi di Sulawesi Selatan menjelang Idulfitri 1447 Hijriah. Kegiatan tersebut dilakukan untuk memastikan kesiapan pasokan dan keandalan distribusi energi selama masa Ramadan dan Lebaran.

    “Kami dari tim Satgas Ramadan Idulfitri dari ESDM datang ke Kota Makassar ini untuk melihat ketersediaan tentunya BBM, juga nanti listrik dan elpiji supaya meyakinkan bahwa seluruh infrastruktur dan pasokan aman untuk menghadapi Idulfitri di mana arus mudik juga menuju wisata pastinya sangat tinggi,” ujar Staf Khusus Menteri ESDM Bidang Investasi dan Ekonomi, Muhammad Mahmud Azhar Lubis.

    Peninjauan dilakukan di sejumlah infrastruktur energi strategis, antara lain Aviation Fuel Terminal (AFT) Hasanuddin, Integrated Terminal Makassar, Stasiun Pengisian dan Pengangkutan Bulk Elpiji (SPPBE) Patra Trading, serta SPBU 74.901.15 Samratulangi. Kegiatan ini merupakan bagian dari pemantauan Satuan Tugas Ramadan dan Idulfitri untuk memastikan pasokan BBM, LPG, dan avtur tetap terjaga.

    Mahmud mengatakan bahwa hasil pengecekan di lapangan menunjukkan kondisi pasokan energi dalam keadaan aman dan mencukupi.

    “Tadi sudah kita cek ketersediaan LPG, BBM cukup. Jadi kami harapkan konsumen pun merasa aman dan tidak perlu menyimpan stok banyak-banyak (tidak perlu panic buying), ” kata Mahmud.

    Sementara itu, Direktur Pemasaran Korporat Pertamina Patra Niaga, Alimuddin Baso mengatakan perusahaan telah membentuk Satuan Tugas Ramadan dan Idulfitri 2026 guna memastikan layanan energi bagi masyarakat tetap berjalan optimal selama periode libur keagamaan tersebut.

    “Kami telah membentuk Satuan Tugas Ramadan dan Idulfitri dan tentu kita memastikan bahwa layanan kita selama Ramadan dan Idulfitri ini akan tercukupi. Kita ingin memastikan teman-teman yang sedang berlibur bisa terlayani dengan baik,” jelas Alimuddin.

    Mahmud menambahkan Integrated Terminal Makassar memiliki peran penting dalam menopang distribusi energi di kawasan Indonesia Timur.

    “Hampir 60% backbone supply BBM itu dari Timur, khusus di Sulawesi dari sini,” ungkap Alimuddin.

    Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah optimistis kebutuhan energi masyarakat selama Ramadan dan Idulfitri dapat terpenuhi dengan baik. Sinergi antara pemerintah, BUMN energi, serta masyarakat diharapkan mampu menjaga kelancaran distribusi dan memastikan perayaan Lebaran berlangsung aman, nyaman, dan lancar di seluruh Indonesia.