Penulis: restiana818@gmail.com

  • Beasiswa Otsus, Jembatan Emas Generasi Papua Menuju Masa Depan Gemilang

    Oleh : Natael Pigai )*

    Beasiswa Otonomi Khusus menjadi salah satu instrumen strategis dalam membangun masa depan Papua yang lebih cerah dan berdaya saing. Di tengah tantangan geografis, keterbatasan infrastruktur, dan kesenjangan akses pendidikan yang masih dirasakan di sejumlah wilayah, kehadiran beasiswa Otsus menjadi jembatan emas yang menghubungkan generasi muda Papua dengan kesempatan belajar yang lebih luas. Program ini tidak sekadar bantuan finansial, melainkan investasi jangka panjang untuk mencetak sumber daya manusia Papua yang unggul, percaya diri, dan mampu berkontribusi nyata bagi kemajuan daerahnya.

    Esensi utama dari Otsus di bidang pendidikan adalah afirmasi yang berpihak pada Orang Asli Papua agar memperoleh peluang setara dengan daerah lain. Melalui beasiswa Otsus, banyak pelajar Papua mendapat akses ke perguruan tinggi berkualitas di dalam dan luar negeri. Kesempatan tersebut memperluas wawasan, membentuk karakter kepemimpinan, serta menumbuhkan jejaring global yang kelak bermanfaat bagi pembangunan Papua. Pendidikan menjadi jalur strategis untuk memutus rantai kemiskinan struktural sekaligus membuka mobilitas sosial yang lebih luas.

    Kisah para penerima beasiswa Otsus memperlihatkan dampak konkret dari kebijakan ini. Cecilia Novani Mehue merupakan salah satu contoh bagaimana program afirmasi pendidikan mampu mengubah arah hidup generasi muda Papua. Dengan latar belakang keluarga sederhana, ia menempuh pendidikan sarjana dan magister di Amerika Serikat selama bertahun-tahun melalui dukungan beasiswa Otsus. Dalam berbagai kesempatan, Cecilia menempatkan dirinya sebagai bagian dari hasil nyata Otsus dan memandang pendidikan yang diperolehnya sebagai bekal untuk kembali mengabdi di Papua. Sepulang studi, ia terlibat dalam pemberdayaan masyarakat, menjadi dosen kontrak, aktif di kegiatan sosial dan pelayanan, serta mengembangkan usaha yang menyerap tenaga kerja muda Papua. Perjalanannya kemudian berlanjut ke dunia politik melalui jalur pengangkatan Otsus di DPR Papua, dengan fokus memperjuangkan hak-hak adat dan kepentingan Orang Asli Papua dalam kebijakan daerah.

    Pengalaman tersebut menunjukkan bahwa beasiswa Otsus tidak berhenti pada capaian akademik, tetapi mendorong lahirnya agen perubahan. Pendidikan yang diperoleh di luar daerah bahkan luar negeri kembali ditransformasikan menjadi kontribusi nyata di kampung halaman. Efek berantai ini penting karena satu penerima beasiswa dapat menginspirasi dan memberdayakan banyak orang di sekitarnya. Dari sini terlihat bahwa Otsus di bidang pendidikan bekerja sebagai mesin penggerak transformasi sosial.

    Meski demikian, pelaksanaan beasiswa Otsus tetap memerlukan penguatan di sejumlah aspek. Tantangan sosialisasi masih menjadi pekerjaan rumah. Masih ada anak muda Papua yang tidak mengakses beasiswa Otsus karena minim informasi. Kondisi ini menandakan bahwa program yang baik dapat kehilangan jangkauan bila komunikasi kebijakannya belum merata. Sosialisasi perlu menjangkau sekolah-sekolah di distrik terpencil, kampung-kampung, serta komunitas adat dengan pendekatan yang sesuai konteks lokal.

    Perhatian terhadap pendidikan Papua juga tampak dari langkah pemerintah daerah. Di Kabupaten Biak Numfor, ribuan siswa dari keluarga kurang mampu mulai menerima bantuan pendidikan melalui program nasional dan dukungan dana Otsus. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Biak Numfor, Kamaruddin, menekankan bahwa distribusi bantuan diarahkan tepat sasaran dan disertai kemudahan pencairan bagi sekolah di wilayah terpencil. Ia menyoroti bahwa hak pendidikan anak-anak di pelosok harus tetap terpenuhi meskipun terkendala jarak dan akses perbankan. Kebijakan pemberian kewenangan kepada kepala sekolah untuk membantu administrasi pencairan tanpa menyentuh dana bantuan menunjukkan adanya upaya menjaga akuntabilitas sekaligus mempermudah masyarakat. Kamaruddin juga mengingatkan pentingnya orang tua segera memanfaatkan bantuan sesuai kebutuhan sekolah agar dana tidak mengendap dan kembali ke kas negara.

    Langkah-langkah tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan Papua semakin menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama. Infrastruktur fisik tetap penting, tetapi tanpa sumber daya manusia yang terdidik dan percaya diri, hasil pembangunan tidak akan optimal. Beasiswa Otsus memastikan generasi muda Papua menjadi subjek pembangunan. Mereka dipersiapkan untuk menjadi guru, tenaga kesehatan, birokrat, wirausaha, peneliti, dan pemimpin masa depan di tanahnya sendiri.

    Dalam jangka panjang, keberhasilan beasiswa Otsus turut memperkuat integrasi sosial dan rasa memiliki terhadap pembangunan. Ketika generasi muda Papua merasakan manfaat langsung kebijakan pendidikan, tumbuh keyakinan bahwa masa depan dapat diraih melalui pendidikan dan kerja keras. Narasi ini penting untuk terus diperkuat sebagai fondasi optimisme kolektif di tengah berbagai tantangan yang masih dihadapi Papua.

    Ke depan, beasiswa Otsus perlu dikembangkan secara adaptif mengikuti perubahan zaman. Dunia kerja bergerak cepat, sehingga bidang studi prioritas perlu diarahkan pada teknologi digital, energi terbarukan, pengelolaan sumber daya alam berkelanjutan, serta kewirausahaan berbasis potensi lokal. Dengan orientasi yang tepat, penerima beasiswa Otsus tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi pencipta lapangan kerja yang menggerakkan ekonomi Papua.

    Beasiswa Otsus pada akhirnya adalah simbol harapan dan strategi pembangunan jangka panjang. Ia menjadi jembatan emas yang menghubungkan mimpi anak-anak Papua dengan masa depan gemilang. Ketika akses semakin luas, sosialisasi semakin merata, dan tata kelola semakin kuat, semakin banyak generasi muda Papua yang melintasi jembatan tersebut. Dari sanalah Papua yang maju, mandiri, dan sejahtera dibangun oleh putra-putri terbaiknya sendiri.

    *Penulis adalah Pengamat Sosial Kebudayaan

  • Beasiswa Otsus Papua Buka Peluang Kuliah hingga Luar Negeri

    Jakarta – Program beasiswa Otonomi Khusus (Otsus) Papua menjadi salah satu skema pendanaan pendidikan yang dimanfaatkan untuk mendukung akses generasi muda Papua menempuh pendidikan tinggi, baik di dalam negeri maupun luar negeri.

    Program ini dinilai berperan dalam memperluas kesempatan belajar bagi pelajar dan mahasiswa Papua melalui dukungan pembiayaan dari dana Otsus.

    Dua perempuan muda Papua, Cecilia Novani Mehue dan Yunita Alanda Monim, menilai beasiswa Otsus harus dimanfaatkan secara maksimal agar semakin banyak anak muda Papua memperoleh kesempatan pendidikan yang lebih luas.

    Keduanya juga mendorong pemerintah daerah terus memperkuat sosialisasi program, sehingga manfaatnya dapat dirasakan lebih merata oleh masyarakat.

    Cecilia Mehue menjadi contoh keberhasilan program tersebut. Ia berhasil menempuh pendidikan Strata 1 dan Strata 2 di Oregon State University, Amerika Serikat, melalui beasiswa Otsus Papua. Setelah menyelesaikan studi selama kurang lebih tujuh tahun, Cecilia memilih kembali ke Papua untuk mengabdi.

    “Saya ini aset hidup otonomi khusus Papua. Jadi saya harus pulang ke Papua untuk membantu masyarakat dalam bentuk apapun,” kata Cecilia.

    Selama menjalani pendidikan di Amerika Serikat, Cecilia aktif dalam organisasi Ikatan Mahasiswa Papua Amerika dan Kanada (IMAPA), bahkan dipercaya sebagai Wakil Presiden.

    “Saya ini berasal dari keluarga yang sederhana. Karena itu saya mencari beasiswa untuk sekolah dan pulang membantu orang tua dan masyarakat kami,” ungkapnya.

    Sepulang ke Papua, Cecilia mulai menerapkan ilmunya melalui berbagai aktivitas sosial. Ia juga ikut seleksi anggota DPRP Papua jalur Otsus periode 2024–2029 dan berhasil terpilih sebagai anggota dewan.

    “Sebagai anggota Dewan hasil pengangkatan dari jalur Otsus, tugas saya adalah menjaga dan memperjuangan hak-hak adat orang asli Papua agar bisa masuk dalam program pemerintah daerah,” timpalnya.

    Sementara itu, Puteri Indonesia Papua 2023, Yunita Alanda Monim menilai program beasiswa Otsus kini semakin dirasakan manfaatnya.

    “Yang penting pemerintah perlu terus melakukan sosialisasi tentang program-program Otsus supaya makin banyak masyarakat Papua merasakan manfaatnya, terutama di bidang pendidikan,” kata Yunita.

    Menurutnya, pendidikan harus menjadi fokus utama program Otsus agar anak muda Papua semakin berdaya dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun global. #

  • Beasiswa Otsus Papua Perluas Akses Pendidikan, Ribuan Siswa dan Mahasiswa Rasakan Manfaat Nyata

    BIak Numfor – Program Beasiswa Otonomi Khusus (Otsus) Papua terus menunjukkan peran strategis dalam memperluas akses pendidikan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia di Tanah Papua. Pada awal 2026, ribuan siswa dari keluarga kurang mampu di Kabupaten Biak Numfor mulai mendapatkan kepastian pencairan bantuan pendidikan yang bersumber dari program nasional maupun dana Otsus daerah.

    Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Dikdaya) Kabupaten Biak Numfor memastikan distribusi Program Indonesia Pintar (PIP) serta Kartu Biak Pintar (KBP) berjalan tepat sasaran, khususnya bagi siswa di wilayah terpencil yang memiliki keterbatasan akses terhadap layanan perbankan. Pemerintah daerah menggandeng bank-bank yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), terutama BRI dan BNI, untuk mempercepat pembukaan rekening siswa penerima manfaat.

    Kepala Dikdaya Biak Numfor, Kamaruddin, menyampaikan bahwa proses administrasi telah memasuki tahap akhir dan pencairan ditargetkan selesai paling lambat Februari 2026. “Paling lambat pada Februari ini para siswa sudah dapat mencairkan bantuan tersebut,” ujarnya. Ia menjelaskan, kepala sekolah di daerah sulit akses diberi kewenangan mengambil buku tabungan dan menyerahkannya langsung kepada orang tua siswa tanpa menyentuh fisik dana bantuan.

    Pemkab Biak Numfor mencatat sekitar 6.000 siswa dari jenjang SD hingga SMA/SMK telah diajukan sebagai penerima PIP nasional, dengan besaran bantuan mulai dari Rp450.000 hingga Rp1.000.000 per siswa. Selain itu, dana Otsus dimanfaatkan untuk memperkuat program Kartu Biak Pintar sebagai pelengkap pembiayaan pendidikan daerah.

    Dampak nyata beasiswa Otsus juga dirasakan hingga jenjang pendidikan tinggi. Cecilia Novani Mehue, penerima Beasiswa Otsus Papua yang menempuh pendidikan S1 dan S2 di Oregon State University, Amerika Serikat, menilai beasiswa tersebut telah membuka jalan bagi anak muda Papua untuk bersaing secara global. “Saya ini aset hidup otonomi khusus Papua. Jadi saya harus pulang ke Papua untuk membantu masyarakat dalam bentuk apa pun,” kata Cecilia.

    Senada, Puteri Indonesia Papua 2023, Yunita Alanda Monim, menilai program beasiswa Otsus semakin berkembang meski masih membutuhkan penguatan sosialisasi. “Yang penting pemerintah terus menyampaikan informasi agar makin banyak anak muda Papua merasakan manfaat Otsus, terutama di bidang pendidikan,” ujarnya.

    Sejalan dengan itu, Pemerintah Provinsi Papua Barat juga terus memperkuat pengembangan sumber daya manusia melalui kerja sama internasional, termasuk peluang beasiswa luar negeri bagi putra-putri Papua. Langkah ini menegaskan komitmen Otsus Papua sebagai instrumen utama dalam mencetak generasi muda yang berdaya saing, berpendidikan, dan berkontribusi bagi pembangunan daerah serta nasional.

  • Insentif Lebaran Jadi Instrumen Penggerak Konsumsi

    Oleh: Nadira Citra Maheswari)*

    Momentum Lebaran selalu menjadi fase penting dalam dinamika perekonomian nasional. Tradisi mudik, silaturahmi, serta peningkatan aktivitas sosial menjadikan periode ini sebagai pendorong utama lonjakan konsumsi rumah tangga. Dalam konteks tersebut, insentif Lebaran berperan sebagai instrumen strategis untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus mengakselerasi perputaran ekonomi domestik. Kebijakan ini tidak hanya bersifat musiman, tetapi juga menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi di tengah tantangan global.

    Konsumsi rumah tangga selama ini menjadi kontributor terbesar terhadap produk domestik bruto Indonesia. Oleh karena itu, penguatan konsumsi pada periode dengan kecenderungan belanja tinggi seperti Lebaran memiliki dampak signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan. Insentif Lebaran dirancang untuk memastikan momentum tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal, khususnya dalam menghadapi tekanan eksternal seperti perlambatan ekonomi global dan fluktuasi harga komoditas.

    Pemerintah memanfaatkan periode Ramadhan dan Idul Fitri sebagai waktu yang tepat untuk menyalurkan stimulus terukur. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto mengatakan Pemerintah Indonesia menyiapkan anggaran sekitar Rp13 triliun untuk mendanai program selama periode Ramadan dan Idul Fitri 2026. Rangkaian kebijakan tersebut meliputi potongan tarif angkutan umum, diskon jalan tol, serta penyaluran bantuan sosial berupa beras dan minyak goreng Minyakita. Menurut Airlangga, insentif Lebaran dirancang sebagai instrumen menjaga keseimbangan ekonomi nasional. Pernyataan ini menegaskan bahwa kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga daya beli sekaligus menahan potensi gejolak ekonomi selama periode konsumsi tinggi.

    Bentuk insentif yang beragam menunjukkan pendekatan komprehensif dalam menjaga likuiditas masyarakat. Diskon transportasi dan jalan tol diarahkan untuk menekan biaya mobilitas saat arus mudik dan balik, sementara bantuan pangan difokuskan untuk memastikan kebutuhan dasar masyarakat tetap terpenuhi. Dengan demikian, peningkatan konsumsi tidak hanya didorong oleh belanja non-pangan, tetapi juga ditopang oleh stabilitas harga kebutuhan pokok.

    Sektor transportasi menjadi salah satu penerima dampak langsung dari kebijakan ini. Mobilitas masyarakat yang meningkat selama Lebaran berkontribusi terhadap naiknya permintaan layanan transportasi publik. Vice President Corporate Communication KAI, Anne Purba mengatakan pemerintah akan memberikan diskon tiket kereta api sebesar 30% di periode Lebaran tahun ini. Diskon diberikan ke perjalanan kereta api ke berbagai kota di Pulau Jawa dan Sumatra. Kebijakan tersebut diharapkan memperluas akses masyarakat terhadap transportasi yang terjangkau sekaligus menjaga keberlanjutan sektor perkeretaapian.

    Selain transportasi, sektor ritel juga memegang peranan penting dalam penggerak konsumsi Lebaran. Peningkatan permintaan barang selama Ramadhan hingga Idul Fitri sering kali diiringi risiko kenaikan harga. Dalam merespons hal tersebut, pemerintah daerah turut berperan aktif menciptakan iklim belanja yang kondusif. Gubernur DKI Jakarta, Pramono Anung Wibowo mengatakan Pemerintah Provinsi DKI Jakarta kembali menyiapkan insentif pajak bagi pusat perbelanjaan yang memberi potongan harga selama Ramadhan hingga Idul Fitri 1447 Hijriah. Kebijakan ini diharapkan bisa menekan harga belanja sekaligus mendongkrak transaksi ekonomi warga. Langkah ini mencerminkan sinergi antara kebijakan fiskal daerah dan strategi nasional dalam menjaga daya beli.

    Keterpaduan kebijakan pusat dan daerah menciptakan efek pengganda yang luas. Diskon transportasi meningkatkan mobilitas, insentif ritel mendorong belanja, sementara bantuan sosial menjaga konsumsi dasar masyarakat. Dampaknya paling terasa pada sektor usaha mikro, kecil, dan menengah yang menggantungkan pendapatan pada tingginya aktivitas konsumsi masyarakat. Perputaran uang selama Lebaran menjadi penopang penting bagi ekonomi lokal, terutama di daerah tujuan mudik.

    Insentif Lebaran juga berfungsi sebagai instrumen stabilisasi sosial ekonomi. Tanpa intervensi kebijakan, lonjakan permintaan musiman berpotensi memicu inflasi yang menggerus daya beli kelompok rentan. Melalui subsidi, bantuan pangan, dan pengendalian biaya transportasi, tekanan harga dapat ditekan sehingga manfaat ekonomi Lebaran dapat dirasakan lebih merata oleh seluruh lapisan masyarakat.

    Dalam konteks ketidakpastian global, insentif Lebaran berperan menjaga optimisme konsumen dan kepercayaan pasar. Konsumsi domestik yang kuat menjadi bantalan penting bagi perekonomian nasional dalam menghadapi tekanan eksternal. Kebijakan ini juga mengirimkan sinyal bahwa negara hadir untuk memastikan aktivitas ekonomi tetap bergerak, sekaligus menjaga stabilitas sosial selama periode dengan intensitas ekonomi tinggi.

    Dari sisi fiskal, insentif Lebaran mencerminkan pendekatan kebijakan yang terukur dan antisipatif. Alokasi anggaran difokuskan pada periode dengan elastisitas konsumsi tinggi sehingga dampak stimulus lebih maksimal. Dengan pengelolaan anggaran yang disiplin, kebijakan ini tetap sejalan dengan prinsip keberlanjutan fiskal jangka menengah. Transformasi digital turut memperkuat efektivitas insentif Lebaran. Penyaluran bantuan sosial berbasis data, transaksi non-tunai, serta promosi diskon melalui platform digital mempercepat distribusi manfaat kebijakan. Digitalisasi juga mendorong perubahan pola konsumsi masyarakat dan membuka peluang pasar yang lebih luas bagi pelaku usaha.

    Ke depan, optimalisasi insentif Lebaran perlu terus diiringi evaluasi dan koordinasi lintas sektor. Pengendalian inflasi, kelancaran distribusi, serta pengawasan pasar menjadi kunci agar peningkatan likuiditas tidak berujung pada tekanan harga. Dengan sinergi yang kuat antara pemerintah, daerah, dan pelaku usaha, momentum Lebaran dapat dimanfaatkan sebagai katalis pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

    Pada akhirnya, insentif Lebaran bukan sekadar kebijakan tahunan, melainkan instrumen strategis dalam menjaga denyut perekonomian nasional. Melalui penguatan konsumsi, pemerataan manfaat ekonomi, dan stabilitas sosial, kebijakan ini berkontribusi menjaga ketahanan ekonomi Indonesia di tengah dinamika global yang terus berkembang.

    *) Penulis adalah Content Writer di Galaswara Digital Bureau

  • Insentif Lebaran dan Strategi Pemerintah Menopang Pertumbuhan Ekonomi

    Oleh: Alexandro Dimitri*)

    Menjelang bulan suci Ramadan dan puncak tradisi mudik Lebaran 2026, pemerintah kembali meluncurkan serangkaian kebijakan stimulan yang dirancang tidak sekadar sebagai insentif sesaat, tetapi sebagai upaya strategis untuk menjaga momentum ekonomi nasional. Di tengah dinamika global dan tantangan domestik, langkah ini menunjukkan sensitivitas pemerintah dalam menyelaraskan kebijakan fiskal dengan kebutuhan masyarakat serta kelancaran mobilitas yang berkontribusi pada pertumbuhan ekonomi.

    Paket insentif tersebut mencakup dukungan fiskal yang lebih besar dibanding periode libur sebelumnya dan mencerminkan respons pemerintah terhadap kondisi perekonomian yang terus bergerak dinamis. Pemerintah secara resmi menanggung Pajak Pertambahan Nilai (PPN) tiket pesawat sebesar 100 persen untuk periode mudik Lebaran 2026, jauh melampaui bantuan pada Natal dan Tahun Baru lalu. Stimulus ini bertujuan membuat biaya perjalanan udara lebih terjangkau bagi masyarakat luas, sekaligus mendorong daya beli dan konsumsi domestik di tengah musim libur panjang yang menjadi momen penting perputaran ekonomi.

    Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menggarisbawahi bahwa insentif ini bukan hanya sekadar keringanan fiskal, tetapi bagian dari strategi pemerintah untuk menjaga momentum ekonomi nasional di awal tahun. Dalam penjelasan publiknya kepada media, Menko Airlangga menyampaikan bahwa stimulus tiket pesawat kali ini jauh lebih signifikan dibanding periode libur sebelumnya, di mana pemerintah menanggung sepenuhnya PPN tiket pesawat. Ia juga menekankan bahwa peraturan pelaksanaan stimulus tersebut sedang disusun melalui Peraturan Menteri Keuangan dan ditargetkan dapat rampung dalam waktu dekat. Langkah ini diharapkan memberi kepastian bagi masyarakat yang ingin memesan tiket lebih awal sekaligus mengantisipasi lonjakan permintaan.

    Pernyataan Airlangga ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam memanfaatkan instrumen fiskal untuk membantu meringankan beban perjalanan bagi masyarakat kelas menengah ke bawah sekaligus menjaga dinamika konsumsi domestik yang menjadi motor utama pertumbuhan ekonomi nasional. Menko Perekonomian juga mengingatkan bahwa paket stimulus kuartal pertama 2026 mencakup berbagai bentuk bantuan sosial dan diskon transportasi lintas moda yang telah dialokasikan dengan cermat oleh pemerintah.

    Sementara itu, Menteri Perhubungan Dudy Purwagandhi memperkuat urgensi kolaborasi lintas lembaga dalam implementasi kebijakan stimulan ini. Menurutnya, koordinasi erat antara kementerian dan lembaga terkait mutlak diperlukan agar finalisasi kebijakan dapat segera selesai sehingga masyarakat memiliki waktu yang cukup untuk memanfaatkan insentif, termasuk untuk memesan tiket transportasi. Dudy juga menyoroti pentingnya program diskon transportasi yang tidak hanya berlaku untuk moda udara tetapi juga kereta api, angkutan laut, dan bahkan tarif tol, yang semuanya dirancang untuk mendukung mobilitas masyarakat selama libur panjang Ramadan dan Lebaran.

    Pendekatan proaktif dari Kemenhub tersebut menunjukkan bagaimana pemerintah secara menyeluruh memperhatikan aspek mobilitas sebagai bagian integral dari strategi menjaga momentum ekonomi, terutama di sektor-sektor jasa dan transportasi yang memegang peranan signifikan terhadap aktivitas ekonomi nasional. Kombinasi antara tanggungan PPN penuh, diskon lintas moda transportasi, hingga koordinasi kebijakan untuk mempercepat finalisasi regulasi menunjukkan sinergi yang baik antara kementerian, lembaga, dan otoritas pelaksana lainnya.

    Di sisi lain, data dari Badan Pusat Statistik (BPS) memperkuat gambaran bahwa ekonomi Indonesia tengah bergerak pada arah yang positif. Kepala BPS, Amalia Adininggar Widyasanti, menyampaikan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang tahun 2025 berhasil mencatat angka pertumbuhan sekitar 5,11 persen secara tahunan, yang menunjukkan peningkatan dari tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini juga didukung oleh meningkatnya konsumsi rumah tangga dan belanja domestik yang kuat, serta beberapa komponen investasi yang tumbuh signifikan di akhir tahun.

    Menurut Amalia, kinerja ekonomi yang relatif solid ini mencerminkan ketahanan fundamental perekonomian nasional di tengah berbagai tantangan global. Kontribusi kuat sektor konsumsi domestik juga menunjukkan bahwa stimulus pemerintah, termasuk melalui paket insentif konsumsi dan transportasi seperti pada musim Lebaran ini, berperan sebagai penggerak penting dalam menjaga dinamika ekonomi.

    Melihat data tersebut, langkah pemerintah untuk memberikan insentif ekonomi saat momentum Lebaran menjadi semakin relevan. Keringanan biaya transportasi dan berbagai diskon yang diberikan berpotensi mendorong konsumsi masyarakat di berbagai sektor yang menjadi tulang punggung penggerak perekonomian nasional, seperti perdagangan, jasa, transportasi, hingga sektor UMKM. Peningkatan mobilitas masyarakat selama periode libur pun dapat memperluas peluang pasar, khususnya bagi pelaku usaha kecil dan menengah di daerah.

    Di tengah optimisme yang muncul dari angka pertumbuhan ekonomi, pemerintah terus menegaskan bahwa kebijakan fiskal yang dirancang tidak hanya responsif terhadap kebutuhan saat ini, tetapi juga berorientasi pada pemulihan dan penguatan jangka panjang. Insentif ekonomi seperti yang disiapkan pada momentum Lebaran 2026 sekaligus menjadi bentuk komitmen pemerintah untuk terus menjaga kestabilan dan pertumbuhan ekonomi nasional.

    Dengan berbagai kebijakan yang sinergis dan terukur, momentum ekonomi Indonesia memasuki tahun 2026 diperkirakan akan terus terjaga dan berkontribusi pada kesejahteraan masyarakat luas. Dukungan pemerintah terhadap aktivitas ekonomi, terutama saat momen penting seperti Lebaran, menunjukkan kepedulian terhadap dinamika sosial-ekonomi sekaligus komitmen kuat menjaga pertumbuhan dan stabilitas nasional.

    *) Penulis merupakan Pengamat Ekonomi

  • Lebaran 2026, Pemerintah Gelontorkan Rp 12,83 Triliun untuk Diskon Transportasi hingga Bansos

    Jakarta, Selama periode libur Lebaran 2026, pemerintah menggulirkan sejumlah insentif strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong daya beli masyarakat. Kebijakan ini menjadi bagian dari langkah antisipatif pemerintah dalam menghadapi peningkatan mobilitas, konsumsi, dan aktivitas ekonomi yang biasanya melonjak saat momen Idulfitri. Insentif tersebut dirancang agar masyarakat dapat merayakan Lebaran dengan lebih tenang, sekaligus memastikan roda perekonomian tetap bergerak secara sehat.

    Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menyatakan pemerintah mengalokasikan anggaran senilai Rp 12,83 triliun untuk paket stimulus ekonomi kuartal I-2026. Paket stimulus itu meliputi diskon tiket transportasi, potongan tarif jalan tol, serta bantuan sosial (bansos).

    “Kita menyiapkan paket stimulus yang mencerminkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Kita menyiapkan Rp 12,83 triliun untuk diskon transportasi selama libur lebaran, termasuk juga diskon tiket pesawat,” ujarnya.

    Di sektor energi, pemerintah juga memastikan ketersediaan dan keterjangkauan harga bahan bakar serta listrik selama libur Lebaran. Stabilitas pasokan menjadi fokus utama agar aktivitas masyarakat, termasuk pelaku usaha kecil dan menengah, tidak terganggu. Dengan jaminan distribusi yang lancar, pemerintah berharap tidak terjadi lonjakan harga yang dapat memicu inflasi musiman.

    Selain itu, insentif turut diarahkan untuk menjaga stabilitas harga pangan. Pemerintah memperkuat pengawasan distribusi serta melakukan intervensi pasar guna memastikan kebutuhan pokok tetap tersedia dengan harga yang wajar. Upaya ini penting mengingat lonjakan permintaan bahan pangan selama Lebaran kerap menjadi pemicu kenaikan harga di sejumlah daerah.

    Sekretaris Kemenko Perekonomian, Susiwijono Moegiarso menjelaskan di sisi ekonomi makro, rangkaian insentif ini diharapkan mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional. Peningkatan konsumsi rumah tangga selama Lebaran menjadi salah satu penggerak utama ekonomi, sehingga kebijakan pemerintah diarahkan agar daya beli masyarakat tetap terjaga. Dengan demikian, manfaat Lebaran tidak hanya dirasakan secara sosial dan budaya, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap perekonomian nasional.

    “Pemerintah berharap rangkaian insentif yang diberikan selama Lebaran dapat menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional. Konsumsi rumah tangga yang meningkat pada periode ini menjadi penggerak penting perekonomian, sehingga kebijakan yang kami siapkan difokuskan untuk menjaga daya beli masyarakat,” ujarnya.

    Melalui kebijakan insentif selama libur Lebaran 2026, pemerintah menegaskan komitmennya untuk hadir di tengah masyarakat. Tidak hanya sebagai regulator, tetapi juga sebagai fasilitator yang memastikan perayaan hari besar keagamaan dapat berlangsung aman, nyaman, dan berdampak positif bagi kesejahteraan bersama.

  • Stimulus Lebaran Disiapkan, Pemerintah Fokus Dorong Konsumsi dan Mobilitas

    Jakarta – Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian telah menyiapkan berbagai paket insentif untuk mendukung mobilitas masyarakat serta menjaga daya beli selama periode Ramadan dan libur Lebaran 2026.

    Insentif tersebut mencakup diskon tarif transportasi, potongan tarif tol, hingga penyaluran bantuan sosial pangan sebagai bagian dari upaya menjaga stabilitas ekonomi nasional.

    Sekretaris Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Susiwijono Moegiarso mengatakan, stimulus Lebaran 2026 tidak jauh berbeda dengan tahun sebelumnya, yakni pemberian diskon transportasi sekaligus pengguliran program bantuan untuk menjaga daya beli masyarakat.

    Pemerintah telah menargetkan jumlah serta skema diskon untuk berbagai moda transportasi, mulai dari kereta api, transportasi laut, penyeberangan ASDP, hingga penerbangan.

    “Kita sudah mentargetkan jumlah-jumlahnya mulai dari yang kereta api, kemudian yang laut, penyeberangan ASDP, dan udara. Konsep skemanya hampir sama yang lalu,” tegas dia.

    Terkait insentif PPN Ditanggung Pemerintah (PPNDTP) untuk tiket pesawat, Susiwijono menyebut pemerintah menginginkan skema yang lebih besar dibandingkan tahun sebelumnya.

    Hal tersebut didasarkan pada data Badan Pusat Statistik (BPS) yang menunjukkan bahwa mobilitas masyarakat memberikan kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan ekonomi dan Produk Domestik Bruto (PDB).

    “BPS itu berapa kali merilis data PDB, ternyata mobilitas orang itu kontribusinya besar. Karena itu kita tetap ingin mengusulkan. Bahkan kalau bisa, misalkan pesawat kan waktu itu antara 13-14 persen, ada yang 16 persen. Kita mengusulkan kalau bisa lebih lagi. Tapi dengan alternatif usulan banyak lah,” ungkapnya.

    Sementara itu, Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyebut pemerintah telah menetapkan target anggaran insentif dan diskon untuk periode Ramadan dan Lebaran Idulfitri 2026.

    “Kisarannya Rp13 triliun,” kata Airlangga.

    Ia menjelaskan, paket kebijakan tersebut secara umum akan mencakup diskon transportasi, potongan tarif tol, serta penyaluran bantuan sosial pangan berupa beras dan Minyak Kita.

    Kendati demikian, rincian lebih lanjut mengenai besaran masing-masing insentif masih dalam tahap pematangan.

    “Seperti sebelumnya. Kemudian mungkin jumlahnya (insentif) akan lebih banyak, akan lebih besar,” ujar Airlangga.

    Dengan berbagai capaian tersebut, pemerintah menegaskan komitmennya untuk kembali menyiapkan insentif selama libur Lebaran 2026 sebagai bentuk kehadiran negara dalam memfasilitasi mobilitas masyarakat sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

    [w.R]

  • Optimalisasi Aset BUMN Jadi Fokus Pengelolaan Danantara

    Oleh: Dimas Aditya Wiguna )*

    Pemerintah menempatkan optimalisasi aset badan usaha milik negara sebagai salah satu strategi utama dalam memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi nasional. Melalui pembentukan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara, negara mendorong konsolidasi dan transformasi pengelolaan BUMN agar lebih efisien, terarah, dan mampu memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi perekonomian.

    Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi yang kuat memerlukan tata kelola negara yang solid serta pengelolaan modal yang efisien. Dalam berbagai forum internasional, Presiden menyampaikan bahwa Danantara dibentuk sebagai instrumen strategis untuk mengelola aset negara secara profesional dan modern, sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam ekosistem investasi global.

    Presiden memandang kehadiran Danantara sebagai langkah penting untuk mengonsolidasikan kekuatan ekonomi nasional. Dengan aset BUMN yang nilainya sangat besar, pengelolaan yang terintegrasi dinilai mampu menjadikan Indonesia mitra ekonomi yang lebih setara di tingkat global, sekaligus membuka peluang kerja sama investasi jangka panjang dengan berbagai negara.

    Dalam kerangka kebijakan nasional, Danantara dirancang untuk membiayai industri-industri masa depan yang memiliki nilai tambah tinggi. Pemerintah melihat pengelolaan aset BUMN bukan sekadar upaya korporasi, melainkan bagian dari agenda besar percepatan industrialisasi, hilirisasi, dan penguatan struktur ekonomi nasional.

    Sejalan dengan arahan Presiden, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan Roeslani, menjelaskan bahwa Danantara dibentuk untuk menyatukan pengelolaan lebih dari seribu BUMN dalam satu kerangka strategis. Menurutnya, konsolidasi tersebut memungkinkan keputusan investasi dilakukan secara lebih terukur, terkoordinasi, dan selaras dengan prioritas pembangunan nasional.

    Rosan menilai bahwa struktur pengelolaan yang terpusat memberi ruang optimalisasi dividen BUMN agar dapat diinvestasikan kembali tanpa ketergantungan penuh pada APBN. Pendekatan ini dinilai penting untuk memperkuat kapasitas pembiayaan proyek-proyek strategis, sekaligus meningkatkan daya tarik Indonesia bagi investor global melalui skema investasi bersama.

    Rosan juga menekankan bahwa konsolidasi aset BUMN merupakan bagian dari transformasi kelembagaan agar perusahaan negara lebih adaptif terhadap perubahan ekonomi global. Dengan pengelolaan yang lebih terintegrasi, efisiensi operasional diharapkan meningkat, sementara tumpang tindih investasi antar-BUMN dapat ditekan secara signifikan.

    Di tengah kebutuhan pembiayaan pembangunan jangka menengah yang terus meningkat, pemerintah memandang optimalisasi aset BUMN sebagai sumber pendanaan alternatif yang kredibel. Langkah ini memungkinkan kesinambungan pembangunan infrastruktur, pengembangan energi bersih, dan percepatan hilirisasi industri tanpa menambah tekanan berlebihan pada ruang fiskal negara.

    Danantara juga menegaskan bahwa reformasi BUMN akan memasuki fase yang lebih intensif mulai 2026. Agenda tersebut mencakup perbaikan operasional, penguatan struktur keuangan, optimalisasi aset, serta penyederhanaan jumlah entitas agar BUMN menjadi lebih fokus dan produktif. Presiden Prabowo sendiri telah menetapkan arah kebijakan untuk merampingkan jumlah BUMN secara bertahap sebagai bagian dari transformasi jangka panjang.

    Dalam Danantara Economic Outlook 2026, lembaga ini mencatat bahwa sejumlah BUMN besar menunjukkan prospek pemulihan kinerja yang kuat. Bank-bank milik negara dinilai berada pada posisi yang solid seiring perbaikan biaya dana dan pertumbuhan penyaluran kredit, sementara Telkom Indonesia dipandang siap menciptakan nilai tambah melalui optimalisasi aset dan penguatan bisnis digital.

    Kemajuan restrukturisasi juga tercatat pada sejumlah BUMN strategis seperti Garuda Indonesia, Krakatau Steel, dan Timah. Capaian tersebut memperkuat kredibilitas Danantara sebagai pengelola investasi negara sekaligus agen transformasi BUMN yang berorientasi pada kinerja dan keberlanjutan.

    Chief Operating Officer BPI Danantara, Dony Oskaria, menjelaskan bahwa penataan aset juga mencakup pengembalian fokus bisnis Danareksa sebagai perusahaan manajemen aset. Menurutnya, langkah ini bertujuan memastikan setiap entitas BUMN beroperasi sesuai kompetensi inti, sehingga pengelolaan aset negara dapat dilakukan secara lebih optimal dan profesional.

    Dony juga menyoroti penataan ulang bisnis kawasan industri BUMN yang berada di bawah Danantara. Saat ini, Danantara mengelola sejumlah kawasan industri aktif, dengan Kawasan Industri Terpadu Batang sebagai proyek prioritas. Rencana integrasi lahan tambahan ke kawasan tersebut diharapkan meningkatkan kapasitas industri nasional dan memperkuat daya tarik investasi.

    Selain perluasan kawasan, model bisnis juga diarahkan pada pengembangan pendapatan berulang melalui penyediaan utilitas dan layanan pendukung. Pergeseran ini dinilai penting untuk menciptakan sumber pendapatan yang lebih stabil dan berkelanjutan, sekaligus memperkuat kontribusi kawasan industri terhadap pertumbuhan ekonomi.

    Dengan total aset BUMN yang mencakup lebih dari separuh PDB nasional, pemerintah meyakini bahwa setiap peningkatan tata kelola dan efisiensi pengelolaan akan berdampak luas. Melalui Danantara, optimalisasi aset BUMN diarahkan untuk memperkuat stabilitas ekonomi, menciptakan nilai tambah, serta memastikan pertumbuhan nasional yang inklusif dan berdaya saing jangka panjang.

  • Pemerintah Perkuat Peran Danantara dalam Pengelolaan Aset Strategis

    Oleh: Dinda Amalia Dewi )*

    Pemerintah terus memperkuat peran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara sebagai instrumen utama dalam pengelolaan aset strategis nasional. Langkah ini ditempuh untuk memastikan aset negara dikelola secara profesional, terintegrasi, dan berorientasi jangka panjang guna menopang pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

    Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menempatkan Danantara sebagai bagian penting dari strategi besar pemerintah dalam mendorong transformasi ekonomi nasional. Dalam berbagai agenda bilateral dan internasional, Presiden menegaskan pentingnya pengelolaan aset negara yang modern, kredibel, dan mampu menjadi penggerak investasi produktif, khususnya di sektor-sektor bernilai tambah tinggi.

    Dalam pertemuan dengan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese di Istana Kepresidenan, Presiden mendorong penguatan kerja sama investasi di sektor hilirisasi. Pemerintah membuka peluang bagi Australia untuk berpartisipasi dalam pengolahan mineral kritis di Indonesia, seperti nikel, tembaga, bauksit, dan emas.

    Pada saat yang sama, Indonesia juga mendorong perusahaan nasional untuk berinvestasi pada sektor mineral kritis di Australia, sehingga tercipta hubungan ekonomi yang saling menguntungkan.

    Presiden juga menegaskan kesiapan Danantara untuk menjadi mitra strategis dalam menjajaki berbagai skema investasi bersama. Pemerintah memandang Danantara sebagai kendaraan investasi negara yang mampu menjembatani kepentingan nasional dengan mitra global melalui pendekatan co-investment dan kemitraan jangka panjang.

    Sebagai tindak lanjut, Danantara menandatangani nota kesepahaman dengan Kementerian Luar Negeri Australia. Dalam keterangan resminya, Danantara menyebutkan bahwa kesepakatan tersebut menetapkan kerangka kolaborasi yang terstruktur untuk memperkuat hubungan investasi bilateral secara berkelanjutan.

    Kerja sama difokuskan pada penguatan kemitraan dengan lembaga pendanaan dan institusi investasi Australia guna memperluas akses pembiayaan dan memperdalam arus investasi dua arah.

    Selain mobilisasi modal, kolaborasi tersebut juga diarahkan pada pembangunan kapasitas jangka panjang. Danantara menempatkan pengembangan sumber daya manusia sebagai elemen penting, melalui kerja sama di bidang pendidikan, peningkatan keahlian, serta pertukaran talenta. Pendekatan ini dipandang sejalan dengan agenda pemerintah untuk memperkuat profesionalisme dan produktivitas tenaga kerja nasional dalam menghadapi persaingan global.

    Kerja sama Indonesia dan Australia juga mencakup penjajakan peluang investasi di berbagai sektor prioritas, termasuk infrastruktur, energi, pertambangan, kesehatan, ekonomi digital, serta pangan dan agribisnis. Untuk memastikan implementasi berjalan efektif, kedua pihak sepakat membentuk kelompok kerja dan rencana aksi yang akan dievaluasi secara berkala.

    Di tengah dinamika global, pemerintah juga menunjukkan respons cepat terhadap perubahan outlook peringkat kredit Indonesia oleh Moody’s. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan bahwa pemerintah akan memperkuat komunikasi dengan pasar internasional dan lembaga pemeringkat terkait peran dan tata kelola Danantara. Langkah ini dipandang penting karena masih banyak pelaku pasar global yang belum sepenuhnya memahami fungsi Danantara sebagai sovereign wealth fund.

    Airlangga menjelaskan bahwa pemerintah kini membedakan secara tegas peran pembiayaan antara APBN dan Danantara. Investasi jangka panjang dan pengelolaan aset strategis diarahkan melalui Danantara, sementara APBN difokuskan pada pembiayaan program prioritas Presiden dan pelayanan publik. Pemisahan ini bertujuan meningkatkan efisiensi pengelolaan keuangan negara serta menjaga disiplin fiskal.

    Pemerintah menegaskan bahwa Danantara dibangun dengan prinsip tata kelola yang kuat, transparan, dan akuntabel, sejalan dengan praktik terbaik sovereign wealth fund di berbagai negara. Pendekatan ini diharapkan mampu meningkatkan kepercayaan investor sekaligus mendorong reformasi BUMN agar lebih fleksibel, adaptif, dan berorientasi kinerja.

    Di sisi makroekonomi, pemerintah juga menegaskan komitmen menjaga stabilitas fiskal. Defisit anggaran tetap dijaga dalam batas aman, rasio utang terkendali, inflasi stabil, serta cadangan devisa berada pada level yang kuat. Fondasi ekonomi yang solid ini dinilai menjadi penopang penting bagi peran Danantara dalam mengelola aset strategis secara optimal.

    Penguatan peran Danantara juga tercermin dalam percepatan program hilirisasi. CEO BPI Danantara, Rosan Roeslani, menyampaikan bahwa Danantara telah memulai fase pertama proyek hilirisasi melalui pelaksanaan groundbreaking sejumlah proyek strategis di berbagai lokasi. Hilirisasi diposisikan sebagai program prioritas Presiden karena memberikan dampak langsung terhadap penciptaan lapangan kerja, peningkatan nilai tambah, dan pertumbuhan ekonomi.

    Rosan menekankan bahwa kontribusi investasi hilirisasi terus menunjukkan tren peningkatan signifikan. Pada 2025, investasi di sektor ini menyumbang porsi besar terhadap total realisasi investasi nasional, mencerminkan keberhasilan kebijakan pemerintah dalam mendorong industrialisasi berbasis sumber daya alam.

    Pemerintah memandang hilirisasi sebagai instrumen penting untuk memperkuat struktur ekonomi dan mengurangi ketergantungan pada ekspor bahan mentah. Melalui Danantara, proyek-proyek hilirisasi diarahkan agar dikelola secara profesional, berkelanjutan, dan mampu menarik partisipasi investor global.

    Dengan berbagai langkah tersebut, pemerintah menegaskan komitmennya memperkuat peran Danantara dalam pengelolaan aset strategis negara. Danantara diposisikan bukan sekadar sebagai pengelola investasi, melainkan sebagai pilar transformasi ekonomi nasional yang mendukung stabilitas, pertumbuhan, dan daya saing Indonesia di tingkat global.

  • Penciptaan Lapangan Kerja Jadi Target Utama Investasi Danantara

    Jakarta – Target pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga mendekati delapan persen dalam beberapa tahun ke depan dinilai sangat bergantung pada percepatan investasi berskala besar yang diiringi dengan penciptaan lapangan kerja berkualitas.

    Tanpa dorongan investasi yang kuat, ambisi pertumbuhan tinggi dinilai sulit tercapai secara berkelanjutan.

    Menteri Investasi dan Hilirisasi sekaligus CEO Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, menyebut kebutuhan investasi Indonesia dalam lima tahun ke depan diperkirakan mencapai sekitar USD800 miliar atau setara Rp13.478 triliun hingga 2029.

    Angka tersebut menjadi prasyarat penting untuk mendorong laju pertumbuhan ekonomi nasional.

    “Untuk lima tahun ke depan kita perlu mencapai investasi sebesar sekitar USD800 miliar pada 2029 jika kita ingin mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar sekitar delapan persen,” ujar Rosan.

    Rosan menegaskan, investasi tidak hanya berfungsi sebagai motor pertumbuhan ekonomi, tetapi juga harus mampu menghasilkan pekerjaan yang berkualitas.

    Rosan menilai pertumbuhan ekonomi yang tinggi tanpa peningkatan kualitas pekerjaan tidak akan berdampak optimal bagi kesejahteraan masyarakat.

    “Investasi memainkan peran yang sangat penting dan kita tidak hanya membutuhkan investasi, tetapi juga pekerjaan berkualitas,” katanya.

    Dalam upaya memperkuat arus investasi, Indonesia dan Australia menandatangani memorandum of understanding (MoU) kerja sama investasi.

    Penandatanganan dilakukan oleh Rosan Roeslani dan Menteri Luar Negeri Australia Penny Wong, disaksikan Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Australia Anthony Albanese di Istana Negara.

    Rosan menyampaikan, MoU tersebut menjadi kerangka kolaborasi terstruktur untuk memperdalam hubungan investasi bilateral melalui kemitraan dengan lembaga pendanaan dan institusi investasi Australia.

    Kerja sama ini juga mencakup pembangunan kapasitas jangka panjang melalui pendidikan, pengembangan keahlian, dan pertukaran talenta.

    “Di luar mobilisasi modal, kerja sama ini juga menekankan pembangunan kapasitas jangka panjang melalui kolaborasi di bidang pendidikan, pengembangan keahlian, dan pertukaran talenta,” ujar Rosan.

    Selain itu, Danantara juga mendorong penguatan sektor industri strategis nasional. Badan Pengelola Investasi Danantara mempercepat transformasi PT Krakatau Steel (Persero) Tbk melalui pengembangan sektor hulu dengan penambahan kapasitas produksi sekitar 3 juta ton yang akan segera memasuki tahap groundbreaking.

    Chief Operating Officer Danantara, Dony Oskaria, menyatakan langkah tersebut bertujuan memperkuat ketahanan industri baja nasional dan mengurangi ketergantungan impor.

    “Krakatau Steel hari ini sudah memasuki fase menuju sehat secara finansial,” ujar Dony.