Penulis: restiana818@gmail.com

  • Masyarakat Papua Dukung Pemerintah Tindak Tegas Tambang Ilegal demi Masa Depan Papua

    *) Oleh: Markus Wanimbo

    Isu pertambangan ilegal di Tanah Papua selama bertahun-tahun menjadi persoalanserius yang berdampak langsung pada lingkungan hidup, hak masyarakat adat, sertakeberlanjutan pembangunan daerah. Aktivitas tambang tanpa izin tidak hanyamerusak ekosistem hutan dan sungai, tetapi juga menggerus tatanan sosial sertakearifan lokal yang dijaga turun-temurun oleh masyarakat adat Papua. Dalam konteksinilah, langkah tegas pemerintah untuk menertibkan dan menindak tambang ilegalpatut dipandang sebagai kebijakan strategis dan berorientasi jangka panjang. Dukungan publik, khususnya dari masyarakat Papua sendiri, menjadi fondasi pentingbagi keberhasilan kebijakan tersebut.

    Papua dikenal sebagai wilayah dengan kekayaan sumber daya alam yang luar biasa, namun pada saat yang sama memiliki tingkat kerentanan ekologis yang tinggi. Hutan hujan tropis, pegunungan, dan sungai-sungai besar di Papua bukan sekadar asetekonomi, melainkan ruang hidup masyarakat adat yang menyatu dengan identitas dan budaya mereka. Ketika tambang ilegal beroperasi tanpa pengawasan dan standarlingkungan, kerusakan yang ditimbulkan sering kali bersifat permanen dan sulitdipulihkan. Oleh karena itu, pendekatan penegakan hukum yang tegas dan konsistenmenjadi keniscayaan demi melindungi warisan alam Papua.

    Kebijakan pemerintah di bawah kepemimpinan Prabowo Subianto yang menegaskankomitmen penindakan terhadap tambang ilegal menunjukkan keberpihakan yang jelaspada kepentingan nasional dan masyarakat lokal. Penertiban ini tidak hanya bertujuanmenegakkan hukum, tetapi juga memastikan bahwa pengelolaan sumber daya alamdilakukan secara bertanggung jawab dan berkelanjutan. Negara hadir untukmencegah eksploitasi berlebihan yang merugikan rakyat dan menguntungkansegelintir pihak. Langkah ini sekaligus menjadi sinyal kuat bahwa Papua tidak bolehterus-menerus menjadi korban praktik ekonomi ilegal.

    Dukungan terhadap kebijakan tersebut datang dari berbagai elemen masyarakatPapua, termasuk tokoh adat yang memiliki legitimasi sosial dan moral di tengahkomunitasnya. Benhur Yaboisembut secara terbuka menyatakan dukungan penuhterhadap langkah pemerintah dalam menindak seluruh tambang ilegal di Tanah Papua. Ia menilai kebijakan tersebut sebagai bentuk keberanian negara dalammelindungi masyarakat adat dari kerugian ekologis dan sosial yang selama ini merekatanggung. Pernyataan ini mencerminkan aspirasi masyarakat adat yang menginginkan keadilan dan keberlanjutan.

    Menurut Benhur, aktivitas tambang ilegal telah menyebabkan kerusakan ekosistemdan alam Papua yang berdampak langsung pada kehidupan masyarakat adat. Sungai yang tercemar, hutan yang rusak, serta hilangnya sumber pangan tradisional menjadirealitas pahit akibat praktik pertambangan tanpa izin. Dalam pandangannya, penindakan tegas pemerintah merupakan langkah yang tepat dan harus didukungbersama. Ia juga menyampaikan apresiasi kepada Presiden Republik Indonesia atasketegasan dalam mengambil keputusan yang berpihak pada kelestarian lingkungandan masa depan Papua.

    Lebih jauh, dukungan tokoh adat ini menegaskan bahwa isu tambang ilegal bukansekadar persoalan hukum, melainkan juga persoalan keadilan sosial dan keberlanjutan budaya. Masyarakat adat Papua memiliki hubungan spiritual dan historis dengan tanah ulayat mereka, sehingga kerusakan lingkungan berarti pula tergerusnya identitas dan martabat komunitas. Dengan menertibkan tambang ilegal, pemerintah turut menjaga ruang hidup masyarakat adat agar tetap lestari. Hal inisejalan dengan amanat konstitusi untuk melindungi segenap bangsa dan seluruhtumpah darah Indonesia.

    Kebijakan penegakan hukum terhadap tambang ilegal juga membuka peluang bagipengelolaan sumber daya alam yang lebih tertata dan memberikan manfaat nyatabagi daerah. Ketika praktik ilegal dihentikan, ruang akan terbuka bagi investasi yang sah, berizin, dan memenuhi standar lingkungan. Hal ini berpotensi menciptakanlapangan kerja yang lebih aman dan berkelanjutan bagi masyarakat Papua. Dengandemikian, penindakan tambang ilegal bukanlah langkah anti-pembangunan, melainkan prasyarat bagi pembangunan yang berkeadilan.

    Dalam perspektif jangka panjang, langkah tegas pemerintah dapat menjadi fondasibagi masa depan Papua yang lebih seimbang antara pembangunan ekonomi dan pelestarian lingkungan. Generasi muda Papua berhak mewarisi alam yang sehat, sungai yang bersih, dan hutan yang terjaga. Jika praktik tambang ilegal dibiarkan, maka kesempatan generasi mendatang untuk menikmati keindahan dan kekayaanalam Papua akan semakin menyempit. Oleh karena itu, kebijakan saat ini harusdipandang sebagai investasi moral dan ekologis bagi masa depan.

    Ajakan Benhur Yaboisembut kepada seluruh masyarakat Papua untuk mendukungpenuh kebijakan pemerintah patut mendapat perhatian luas. Dukungan kolektif akanmemperkuat legitimasi kebijakan dan memudahkan aparat dalam menjalankanpenegakan hukum di lapangan. Partisipasi masyarakat juga penting untuk mencegahmunculnya kembali praktik ilegal melalui pengawasan sosial. Sinergi antarapemerintah dan masyarakat menjadi kunci keberhasilan penertiban tambang ilegal.

    Penindakan tegas terhadap tambang ilegal di Tanah Papua merupakan langkahstrategis yang sejalan dengan kepentingan nasional, perlindungan lingkungan, dan hak masyarakat adat. Dukungan masyarakat Papua menunjukkan bahwa kebijakan inibukanlah agenda sepihak, melainkan aspirasi bersama demi masa depan yang lebihbaik. Pemerintah perlu terus menjaga konsistensi, transparansi, dan keadilan dalampelaksanaannya. Dengan demikian, Papua dapat melangkah menuju masa depanyang lestari, adil, dan bermartabat bagi seluruh generasinya.

    *) Pengamat Kebijakan Lingkungan Papua.

  • Apresiasi Tinggi untuk Hilirisasi Pertanian: Peluang Kerja Semakin Terbuka

    Oleh : Andika Pratama

    Hilirisasi pertanian telah menjadi tonggak strategis dalam penguatan ekonomi nasional di tengah tantangan multidimensional yang dihadapi bangsa. Program-program yang digagas oleh Kementerian Pertanian (Kementan) di bawah kepemimpinan Menteri Andi Amran Sulaiman sepanjang tahun 2025 menunjukkan bukti nyata bahwa transformasi sektor pertanian bukan sekadar wacana, tetapi langkah konkret yang mampu menciptakan dampak langsung bagi masyarakat. Salah satu indikator penting keberhasilan program ini adalah terciptanya peluang kerja baru yang signifikan.

    Anggota DPR RI Bambang Soesatyo memberikan apresiasi tinggi terhadap inisiatif ini. Ia menekankan bahwa hilirisasi produk pertanian yang diusung Kementan telah terbukti mampu membuka hingga delapan juta lapangan kerja baru. Angka ini menjadi jawaban nyata terhadap ancaman pengangguran yang tengah membayangi Indonesia, terutama mengingat pada Februari 2025 jumlah pengangguran tercatat mencapai 7,28 juta orang. Hilirisasi bukan sekadar mengolah produk pertanian menjadi barang setengah jadi atau produk siap jual, tetapi juga menstimulasi industri pendukung, manufaktur, dan UMKM, yang semuanya bergerak dari akar rumput untuk menciptakan ekosistem ekonomi yang berkelanjutan.

    Selain tantangan pengangguran, tahun 2025 juga menjadi periode penuh ujian bagi bangsa, terutama akibat bencana di beberapa wilayah Sumatera yang berdampak pada 3,3 juta jiwa. Tekanan terhadap sektor UMKM dan manufaktur pun meningkat akibat gempuran produk impor ilegal. Dalam konteks ini, langkah hilirisasi yang mendorong nilai tambah di tingkat lokal menjadi strategi tepat untuk memulihkan daya saing domestik. Bamsoet menegaskan bahwa sinergi antar-kementerian dan dukungan penuh pemerintah pusat sangat penting untuk melindungi pasar domestik sekaligus menciptakan lapangan kerja baru yang berkualitas.

    Program hilirisasi ini dijalankan dengan investasi besar senilai Rp 371 triliun untuk 14 komoditas strategis, termasuk kelapa sawit, kelapa untuk VCO dan santan, tebu, kakao, kopi, lada, pala, jambu mete, dan gambir. Strategi ini tidak hanya bertujuan meningkatkan nilai tambah produk hingga ratusan kali lipat, tetapi juga menyerap tenaga kerja sekitar 8,6 juta orang. Dengan hadirnya pabrik pengolahan dekat sentra produksi, petani lokal dapat merasakan langsung manfaat ekonomi dari kerja keras mereka, sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi yang berakar pada Pasal 33 UUD 1945.

    Mentan Amran menegaskan bahwa hilirisasi adalah kunci kemandirian petani dan bangsa. Kekayaan alam tidak lagi dibiarkan keluar dalam bentuk mentah, melainkan diolah untuk memberikan nilai tambah yang maksimal. Dengan demikian, kesejahteraan petani meningkat, perekonomian daerah tumbuh, dan Indonesia mampu memproduksi barang siap ekspor yang kompetitif di pasar global. Visi besar ini sejalan dengan komitmen Presiden Prabowo Subianto untuk menegakkan prinsip ekonomi nasional yang berpihak pada rakyat. Semua kekayaan alam harus dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat, bukan dinikmati pihak asing.

    Apresiasi terhadap program hilirisasi juga datang dari kepala daerah yang merasakan dampak nyata dari kebijakan ini. Wali Kota Sabang, Zulkifli H. Adam, menyoroti keberhasilan hilirisasi kakao yang A+ sehingga mampu menarik minat konsumen internasional dari Malaysia hingga Eropa. Dukungan Kementan berupa pembangunan pabrik pengolahan dan penyediaan bahan baku menjadi faktor penting untuk memaksimalkan nilai tambah produk. Begitu pula Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, menekankan bahwa kolaborasi yang baik antara pemerintah pusat dan daerah memperkuat ekosistem pertanian serta membuka peluang ekspor hortikultura ke Singapura. Kedua kepala daerah ini menilai bahwa komitmen Mentan Amran menghadirkan solusi jangka panjang yang nyata bagi pengembangan komoditas unggulan daerah mereka.

    Hilirisasi pertanian juga mendorong sektor industri pendukung, termasuk pengadaan alsintan, pompa irigasi, dan penyediaan benih unggul, yang memperkuat kapasitas produksi lokal. Upaya ini memberi dampak langsung terhadap pertumbuhan UMKM, lapangan kerja informal, serta penguatan ekonomi desa. Dengan membangun pabrik pengolahan di dekat sentra produksi, hilirisasi memastikan setiap nilai tambah tetap berada di tangan petani dan pekerja lokal. Hal ini sekaligus menjawab tantangan penyelundupan dan gempuran produk impor yang menggerus daya saing industri domestik.

    Dalam perspektif jangka panjang, hilirisasi pertanian menjadi fondasi bagi pembangunan ekonomi berkelanjutan. Dengan membuka jutaan peluang kerja, mendorong ekspor, dan meningkatkan nilai tambah produk lokal, Indonesia bukan hanya menjaga ketahanan pangan, tetapi juga memperkuat kemandirian ekonomi nasional. Program ini menjadi bukti nyata bahwa kebijakan berbasis hilirisasi mampu menjadi solusi strategis untuk masalah pengangguran, ketimpangan ekonomi, dan daya saing global sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat di seluruh negeri.

    Melihat keberhasilan dan dampak nyata dari hilirisasi, tidak berlebihan jika program ini mendapat apresiasi tinggi dari berbagai pihak, mulai dari legislatif, eksekutif, hingga kepala daerah. Kunci keberhasilan terletak pada kolaborasi yang harmonis antara pemerintah pusat dan daerah, keberanian untuk berinovasi, serta fokus pada pemberdayaan masyarakat dan petani lokal. Hilirisasi pertanian membuktikan bahwa pembangunan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan bukan sekadar slogan, tetapi strategi yang mampu membuka pintu masa depan lebih cerah bagi bangsa.

    Dengan momentum ini, ke depan diharapkan pemerintah dapat memperluas cakupan hilirisasi ke komoditas lain, terus meningkatkan kualitas SDM pertanian, dan memperkuat konektivitas antara pusat produksi, pabrik pengolahan, dan pasar domestik maupun internasional. Hilirisasi pertanian tidak hanya menjadi strategi ekonomi, tetapi juga wujud nyata komitmen bangsa untuk memastikan kesejahteraan rakyat, menciptakan lapangan kerja berkualitas, dan menegaskan posisi Indonesia sebagai negara yang mampu mengelola kekayaan alamnya sendiri demi kemakmuran seluruh rakyat.

    *Penulis adalah Pengamat Sosial

  • Hilirisasi untuk Indonesia Maju: Solusi Lapangan Kerja Berkualitas

    Oleh : Salsa Nadya Sintya 

    Hilirisasi industri kini menjadi salah satu strategi nasional untuk memperkuat fondasi ekonomi Indonesia sekaligus membuka lapangan kerja yang berkualitas dan berkelanjutan. Program ini tidak sekadar menambah nilai pada produk domestik, tetapi juga memastikan rantai nilai industri berjalan terintegrasi, mulai dari hulu hingga hilir, sehingga menciptakan ekosistem yang mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Komitmen ini terlihat jelas dari arahan Presiden Prabowo Subianto yang menempatkan hilirisasi sebagai agenda prioritas nasional, termasuk melalui 18 proyek strategis yang dikelola oleh badan pengelola investasi strategis, Danantara.

    Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) menilai langkah ini sebagai fondasi penting pembangunan industri nasional. Ketua Umum HKI, Akhmad Ma’ruf Maulana, menekankan bahwa keterlibatan perguruan tinggi dalam mendukung proyek-proyek hilirisasi menjadi faktor krusial untuk memastikan ketersediaan tenaga kerja yang terampil, kreatif, dan inovatif. Dengan demikian, proyek hilirisasi tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi makro, tetapi juga memperkuat sumber daya manusia yang menjadi tulang punggung industri masa depan. Menurut Ma’ruf, keberhasilan proyek hilirisasi akan menciptakan siklus pertumbuhan yang saling menguatkan; ketika investasi tumbuh, ekonomi bergerak, dan lapangan kerja tercipta, ekosistem industri nasional pun semakin berdaya saing.

    Selain itu, industri padat karya seperti tekstil dan garmen memegang peran strategis dalam penciptaan lapangan kerja. Asosiasi Garmen dan Tekstil Indonesia (AGTI) mengapresiasi perhatian pemerintah terhadap sektor ini, karena industri tekstil dan garmen merupakan penopang utama ekonomi nasional sekaligus menjaga stabilitas sosial di berbagai daerah. Ketua Umum AGTI, Anne Patricia Sutanto, menegaskan bahwa penguatan hilirisasi sektor ini akan meningkatkan nilai tambah produk domestik sekaligus memperluas kesempatan kerja formal. Hal ini sangat penting mengingat sektor tekstil menyerap ribuan tenaga kerja dan menjadi salah satu pilar industri yang padat karya di Indonesia.

    Penguatan rantai pasok menjadi faktor kunci agar hilirisasi memberikan manfaat maksimal. Struktur rantai pasok industri yang panjang membutuhkan kebijakan yang terintegrasi, mulai dari hulu hingga hilir, agar industri nasional mampu meningkatkan daya saing dan mengurangi ketergantungan pada produk impor. Meskipun impor bahan baku masih diperlukan untuk menjaga kelancaran produksi, AGTI menekankan bahwa proses ini harus efisien dan patuh aturan agar daya saing industri tetap terjaga. Selain itu, penguasaan teknologi dan pengembangan industri permesinan domestik juga menjadi langkah penting untuk mendorong penerapan Industri 4.0, meningkatkan produktivitas, dan mengembangkan kualitas tenaga kerja.

    Kawasan industri berperan sebagai simpul eksekusi yang memastikan proyek hilirisasi berjalan efektif. Kesiapan lahan, utilitas memadai, kepastian layanan, dan ekosistem industri yang terintegrasi menjadi faktor utama dalam mempercepat realisasi investasi. Ma’ruf menjelaskan bahwa sinergi antara Danantara dan kawasan industri bersifat saling melengkapi; Danantara memperkuat sisi pembiayaan dan portofolio proyek strategis, sementara kawasan industri memastikan kesiapan lokasi dan ekosistem usaha. Dengan demikian, investor memperoleh kepastian yang lebih tinggi, dan dampak ekonomi bagi masyarakat dapat dirasakan secara nyata.

    Hilirisasi juga mendorong integrasi antara industri dan pendidikan tinggi. HKI telah menandatangani nota kesepahaman dengan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi serta Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM, sehingga kawasan industri dapat menjadi laboratorium nyata bagi riset terapan dan pengembangan talenta. Langkah ini diyakini mampu menjembatani kebutuhan industri dengan penyediaan tenaga kerja terampil, sekaligus memberikan pengalaman praktis bagi lulusan perguruan tinggi agar siap memasuki dunia kerja dengan kompetensi yang relevan.

    Keberhasilan hilirisasi akan memperkuat struktur industri nasional, meningkatkan investasi strategis, dan membuka lapangan kerja formal yang berkualitas. Industri padat karya seperti tekstil dan garmen menjadi motor penggerak ekonomi lokal, menjaga stabilitas sosial, dan mendorong pemerataan pembangunan. Dengan dukungan kebijakan terintegrasi dari pemerintah pusat dan daerah, fasilitasi perizinan, ketersediaan energi, serta pembiayaan yang tepat sasaran, agenda hilirisasi akan menjadi pendorong utama menuju Indonesia Maju.

    Hilirisasi bukan sekadar strategi ekonomi, tetapi juga jawaban terhadap tantangan lapangan kerja di era modern. Dengan investasi yang tumbuh, teknologi yang diadopsi, dan sumber daya manusia yang terampil, Indonesia siap menghadapi persaingan global sekaligus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Sinergi antara pemerintah, badan pengelola proyek, dunia usaha, dan pendidikan tinggi menjadi kunci utama agar Indonesia mampu menciptakan lapangan kerja berkualitas, meningkatkan daya saing industri nasional, dan menjadikan hilirisasi sebagai solusi jangka panjang untuk pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

    Dengan fokus yang konsisten, hilirisasi akan membawa Indonesia dari posisi sebagai produsen bahan mentah menjadi pemain global dengan produk bernilai tinggi, menyerap tenaga kerja secara luas, dan memperkuat stabilitas ekonomi. Program ini membuktikan bahwa pembangunan industri yang berkelanjutan tidak hanya meningkatkan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga menjadi jawaban atas tantangan ketenagakerjaan dan pemerataan kesejahteraan masyarakat. Dengan demikian, hilirisasi menjadi strategi yang tepat untuk menghadirkan Indonesia yang lebih maju, mandiri, dan sejahtera bagi seluruh rakyat.

    *Penulis adalah Peneliti Lembaga Institute Indonesia Sentris

  • Hilirisasi, UMKM, dan PSN Jadi Lokomotif Penciptaan Kerja

    Oleh: Rizky Adi Pratama *)

    Penciptaan lapangan kerja tetap menjadi isu sentral dalam agenda pembangunan nasional, terutama di tengah tantangan global yang menuntut daya saing ekonomi semakin kuat dan berkelanjutan. Pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan arah kebijakan yang konsisten dengan menempatkan hilirisasi industri, penguatan UMKM, dan percepatan Proyek Strategis Nasional (PSN) sebagai tiga pilar utama perluasan kesempatan kerja. Ketiganya tidak berdiri sendiri, melainkan saling menguatkan dalam membangun fondasi ekonomi yang produktif dan inklusif.

    Arah tersebut tercermin dari penekanan Presiden terhadap pentingnya peran pendidikan tinggi dalam mendukung investasi strategis dan hilirisasi nasional. Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) menilai kebijakan ini sebagai langkah krusial untuk memastikan proyek-proyek hilirisasi tidak hanya menghasilkan nilai tambah ekonomi, tetapi juga menciptakan lapangan kerja secara luas dan berkelanjutan. Ketua Umum HKI Akhmad Ma’ruf Maulana memandang dukungan perguruan tinggi terhadap 18 proyek strategis hilirisasi yang dikelola Danantara sebagai sinyal bahwa pembangunan industri ke depan dirancang semakin terstruktur dan berbasis kesiapan sumber daya manusia.

    Menurut pandangan HKI, proyek-proyek hilirisasi tersebut memiliki potensi besar dalam menyerap tenaga kerja, baik pada tahap konstruksi maupun saat industri mulai beroperasi. Lebih dari itu, hilirisasi mendorong terciptanya ekosistem industri yang lebih dalam, mulai dari kegiatan riset terapan, inovasi teknologi, hingga pengembangan talenta lokal. Dengan pendekatan ini, investasi tidak berhenti pada pembangunan fisik semata, melainkan berlanjut pada penguatan kapasitas nasional yang mampu menopang pertumbuhan jangka panjang.

    Keberadaan Danantara sebagai badan pengelola investasi strategis dinilai mempercepat realisasi proyek hilirisasi melalui dukungan pembiayaan yang lebih terarah. Dalam kerangka penciptaan lapangan kerja, kawasan industri memainkan peran sebagai simpul utama yang memastikan proyek dapat segera berjalan melalui kesiapan lahan, utilitas, dan kepastian layanan. Akhmad Ma’ruf Maulana menekankan bahwa hubungan antara Danantara dan kawasan industri bersifat saling melengkapi, di mana pembiayaan dan portofolio proyek strategis bertemu dengan kesiapan lokasi dan ekosistem usaha yang terintegrasi. Sinergi inilah yang mempercepat investasi masuk dan membuka peluang kerja dalam skala besar.

    Di saat yang sama, pemerintah tidak mengabaikan peran UMKM sebagai tulang punggung penciptaan lapangan kerja nasional. Penguatan UMKM, khususnya yang dipimpin perempuan, dipandang sebagai strategi untuk memastikan pertumbuhan ekonomi berjalan inklusif. Kerja sama internasional dengan Pemerintah Kanada menjadi contoh konkret bagaimana agenda nasional diperkuat melalui kolaborasi global. Dukungan pendanaan lebih dari 22 juta dolar Kanada untuk lima inisiatif penguatan UMKM di Indonesia diarahkan untuk meningkatkan kapasitas usaha, daya saing, serta kemampuan menyerap tenaga kerja.

    Pemerintah Indonesia memandang kerja sama ini sebagai bagian dari penguatan ekosistem UMKM secara menyeluruh, mulai dari akses pembiayaan, peningkatan keterampilan, hingga pemanfaatan teknologi yang berorientasi pada keberlanjutan. Menteri Muda Pembangunan Internasional Kanada Randeep Sarai dalam kunjungannya ke Jakarta menyampaikan bahwa dukungan tersebut ditujukan untuk memperkuat kemitraan ekonomi kedua negara. Bagi Indonesia, kolaborasi ini sejalan dengan agenda nasional dalam mendorong UMKM naik kelas, memperluas pasar ekspor, dan pada akhirnya menciptakan lapangan kerja baru, terutama di sektor makanan olahan.

    Program seperti Climate Resilient Agri-Food Trade Promotion Support (CRAFTS) dan Economic Linkages for Enhanced Value, Trade and Exports (ELEVaTE) memperlihatkan bagaimana penguatan kapasitas UMKM berkontribusi langsung pada penyerapan tenaga kerja. Ketika UMKM semakin produktif dan terhubung dengan pasar global, peningkatan produksi menjadi keniscayaan, dan kebutuhan tenaga kerja pun bertambah. Pendekatan ini menegaskan bahwa penciptaan lapangan kerja tidak selalu harus bertumpu pada industri besar, tetapi juga dapat tumbuh dari usaha-usaha kecil yang diperkuat secara sistematis.

    Selain melalui hilirisasi dan UMKM, pemerintah juga menunjukkan komitmen kuat dalam menciptakan lapangan kerja melalui percepatan PSN. Pembangunan Infrastruktur Energi Terintegrasi di Kilang Balikpapan menjadi contoh nyata bagaimana proyek nasional memberikan dampak langsung bagi penyerapan tenaga kerja dan perekonomian daerah. Proyek yang dijalankan PT Pertamina (Persero) tersebut pada fase konstruksi telah menyerap puluhan ribu tenaga kerja, mayoritas dari dalam negeri, sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat sekitar.

    Manfaat PSN tidak berhenti pada angka penyerapan tenaga kerja. Kehadiran ribuan pekerja mendorong tumbuhnya usaha lokal, khususnya UMKM di sekitar proyek. Cerita pelaku usaha kecil di Balikpapan menunjukkan bahwa proyek nasional mampu menciptakan efek berganda yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Vice President Corporate Communication Pertamina Muhammad Baron menegaskan bahwa PSN Kilang Balikpapan dirancang untuk memberikan manfaat ekonomi yang luas, tidak hanya pada masa konstruksi, tetapi juga pada fase operasi yang diproyeksikan melibatkan ribuan tenaga kerja secara langsung.

    Kebijakan pemerintah dalam mendorong hilirisasi, memperkuat UMKM, dan mempercepat PSN menunjukkan pendekatan pembangunan yang komprehensif dalam menciptakan lapangan kerja. Sinergi antara investasi strategis, kesiapan SDM, dan penguatan ekonomi lokal membentuk siklus pertumbuhan yang berkelanjutan. Dengan arah kebijakan yang konsisten dan kolaborasi lintas sektor, agenda penciptaan lapangan kerja tidak hanya menjadi target jangka pendek, tetapi fondasi kokoh bagi ketahanan ekonomi nasional di masa depan.

    *) Pengamat Kebijakan Publik

  • Dari Hilirisasi hingga UMKM: Strategi Pemerintah Memperluas Kesempatan Kerja

    Oleh: Rizky Adiwicaksono *)

    Upaya pemerintah dalam menciptakan lapangan kerja nasional semakin menunjukkan arah yang konsisten melalui penguatan hilirisasi industri, pemberdayaan UMKM, serta percepatan Proyek Strategis Nasional (PSN). Ketiga agenda tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan saling menopang dalam membentuk struktur ekonomi yang lebih produktif, berdaya saing, dan mampu menyerap tenaga kerja secara berkelanjutan. Di tengah tantangan global yang masih berfluktuasi, strategi ini mencerminkan keberanian pemerintah untuk menggeser orientasi pembangunan dari sekadar pertumbuhan menuju penciptaan nilai tambah dan kesempatan kerja yang nyata bagi masyarakat.

    Peresmian PSN Refinery Development Master Plan (RDMP) Balikpapan oleh Presiden Prabowo Subianto menjadi gambaran konkret bagaimana pembangunan industri strategis diarahkan langsung pada penguatan ketenagakerjaan nasional. Proyek modernisasi kilang yang telah berjalan sejak 2019 dengan investasi sekitar Rp123 triliun ini tidak hanya memperkuat ketahanan energi nasional, tetapi juga menghadirkan efek berlapis terhadap penyerapan tenaga kerja, baik pada tahap konstruksi maupun operasional. Dalam berbagai kesempatan, Presiden Prabowo menegaskan bahwa penguatan sektor energi merupakan fondasi kemandirian bangsa, sekaligus prasyarat penting bagi keberlanjutan pembangunan dan stabilitas ekonomi nasional.

    RDMP Balikpapan memperlihatkan bahwa PSN tidak lagi semata diukur dari kapasitas produksi atau besaran investasi, melainkan dari kemampuannya menggerakkan ekonomi lokal dan membuka ruang kerja yang luas. Puluhan ribu tenaga kerja terlibat selama masa pembangunan, mencakup sektor konstruksi, rekayasa, logistik, hingga jasa pendukung. Ketika memasuki fase operasi, kilang modern berteknologi tinggi ini juga membutuhkan tenaga kerja terampil yang berkelanjutan, sehingga mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia di daerah. Penilaian Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto memperkuat pandangan tersebut, bahwa beroperasinya RDMP Balikpapan menjadi tonggak penting kemandirian energi sekaligus perluasan dampak ekonomi, termasuk penciptaan pekerjaan di sektor industri energi dan turunannya.

    Agenda hilirisasi yang menjadi kerangka besar pembangunan industri nasional semakin mempertegas arah penciptaan lapangan kerja berbasis nilai tambah. Data Kementerian Investasi/BKPM menunjukkan bahwa sepanjang 2025, realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp584,1 triliun atau lebih dari 30 persen total investasi nasional, dengan pertumbuhan tahunan yang signifikan. Angka ini merefleksikan meningkatnya kepercayaan investor terhadap kebijakan pemerintah yang konsisten mendorong pengolahan di dalam negeri, sekaligus menunjukkan potensi besar penciptaan lapangan kerja dari sektor-sektor strategis.

    Menteri Investasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menekankan bahwa sektor mineral dan batu bara masih menjadi tulang punggung investasi hilirisasi, khususnya pada komoditas seperti nikel, tembaga, bauksit, dan besi baja. Namun demikian, arah kebijakan pemerintah tidak berhenti pada sektor ekstraktif. Hilirisasi di bidang perkebunan, kehutanan, migas, hingga perikanan dan kelautan juga terus diperkuat, menciptakan spektrum lapangan kerja yang lebih luas dan inklusif. Pendekatan ini penting untuk memastikan bahwa penciptaan kerja tidak terpusat pada satu sektor, melainkan menyebar ke berbagai wilayah dan lapisan ekonomi.

    Capaian realisasi investasi nasional sebesar Rp1.931,2 triliun sepanjang 2025 yang melampaui target turut berbanding lurus dengan peningkatan penyerapan tenaga kerja hingga lebih dari 2,7 juta orang. Fakta ini memperkuat argumen bahwa kebijakan hilirisasi bukan hanya strategi industri, tetapi juga instrumen efektif untuk menjaga dinamika pasar kerja nasional. Dominasi Penanaman Modal Dalam Negeri dalam struktur investasi juga menandakan semakin kuatnya peran pelaku usaha nasional dalam mendukung agenda penciptaan lapangan kerja.

    Di sisi lain, pemerintah menyadari bahwa penciptaan kerja tidak hanya bergantung pada proyek besar dan investasi skala industri, tetapi juga pada keberlangsungan UMKM sebagai penyerap tenaga kerja terbesar. Keberlanjutan Paket Ekonomi pada 2026 menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara pertumbuhan dan perlindungan tenaga kerja. Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian Haryo Limanseto menyampaikan bahwa berbagai insentif fiskal dan program penguatan UMKM terus dimatangkan untuk memastikan daya tahan sektor usaha kecil di tengah dinamika ekonomi.

    Perpanjangan insentif PPh Final UMKM, PPh Pasal 21 Ditanggung Pemerintah bagi sektor padat karya, serta keberlanjutan Program Magang Nasional menunjukkan pendekatan komprehensif pemerintah dalam mengelola pasar tenaga kerja. Kebijakan ini tidak hanya menjaga lapangan kerja yang telah ada, tetapi juga menyiapkan tenaga kerja baru agar lebih siap memasuki dunia kerja. Realisasi Program Magang Nasional yang melampaui target awal menjadi indikator positif bahwa kebijakan ketenagakerjaan pemerintah mulai menyentuh aspek kesiapan dan kualitas sumber daya manusia.

    Program padat karya tunai dan perluasan perlindungan jaminan sosial bagi pekerja informal turut melengkapi strategi penciptaan kerja yang inklusif. Dengan menyasar sektor-sektor yang rentan, pemerintah memperlihatkan bahwa agenda penciptaan lapangan kerja tidak bersifat eksklusif, melainkan menjangkau berbagai kelompok masyarakat. Ke depan, pengembangan ekonomi perkotaan dan gig economy berbasis digital di sejumlah kota juga membuka peluang baru bagi UMKM dan pekerja informal untuk beradaptasi dengan perubahan struktur ekonomi.

    Secara keseluruhan, sinergi antara PSN, hilirisasi industri, dan penguatan UMKM menegaskan arah kebijakan pemerintah yang berpihak pada penciptaan lapangan kerja berkelanjutan. Pendekatan ini tidak hanya menjawab kebutuhan jangka pendek, tetapi juga membangun fondasi ekonomi nasional yang lebih mandiri, inklusif, dan berdaya saing. Dengan konsistensi kebijakan dan penguatan implementasi di lapangan, agenda pemerintah dalam memperluas kesempatan kerja memiliki pijakan yang kuat untuk terus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat dan perekonomian nasional.

    *) Analis Ekonomi dan Industri Strategis

  • Hilirisasi Sawit dan Bauksit Tingkatkan Penyerapan Tenaga Kerja Indonesia

    Jakarta – Pemerintah terus memperkuat kebijakan hilirisasi sebagai motor penggerak pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus penciptaan lapangan kerja. Kementerian Investasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) mencatat realisasi investasi di bidang hilirisasi sepanjang 2025 mencapai Rp584,1 triliun atau tumbuh 43,3 persen secara tahunan. Angka tersebut setara dengan 30,2 persen dari total realisasi investasi nasional tahun 2025 yang mencapai Rp1.931,2 triliun dan melampaui target yang ditetapkan pemerintah.

    Menteri Investasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menyampaikan bahwa capaian investasi hilirisasi menunjukkan kepercayaan investor terhadap kebijakan pemerintah yang konsisten mendorong peningkatan nilai tambah di dalam negeri. Menurutnya, hilirisasi tidak hanya berdampak pada peningkatan penerimaan negara, tetapi juga berkontribusi besar terhadap penyerapan tenaga kerja Indonesia. “Hilirisasi memberikan dampak ekonomi yang tinggi, menciptakan lapangan pekerjaan, hingga mendorong perekonomian nasional secara berkelanjutan,” ujar Rosan.

    Berdasarkan data BKPM, sektor mineral dan batu bara menjadi kontributor terbesar investasi hilirisasi dengan nilai Rp373,1 triliun. Kontribusi tersebut berasal dari komoditas nikel sebesar Rp185,2 triliun, tembaga Rp65,8 triliun, bauksit Rp53,1 triliun, besi dan baja Rp39,2 triliun, timah Rp11,3 triliun, serta komoditas lainnya Rp18,5 triliun. Selain itu, sektor perkebunan dan kehutanan mencatatkan investasi hilirisasi sebesar Rp144,5 triliun, dengan kelapa sawit dan kayu log menjadi penyumbang utama.

    Rosan menegaskan bahwa memasuki 2026 pemerintah akan menggeber hilirisasi kelapa sawit dan bauksit karena dinilai memiliki efek berganda yang besar bagi perekonomian dan tenaga kerja. Ia menjelaskan bahwa hilirisasi bauksit hingga menjadi aluminium memerlukan investasi yang signifikan dan berpotensi menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. “Hilirisasi kelapa sawit akan terus kita dorong, dan di bauksit juga akan meningkat. Tahun ini bauksit akan masuk ke tahap aluminium, dan investasi aluminium cukup besar,” kata Rosan.

    Selain sektor mineral dan perkebunan, hilirisasi juga dilakukan di sektor minyak dan gas bumi serta perikanan dan kelautan. Di sektor migas, realisasi hilirisasi mencakup pengolahan minyak dan gas bumi, sementara sektor perikanan meliputi komoditas garam, tuna, cakalang, tongkol, udang, rumput laut, rajungan, hingga tilapia. Diversifikasi sektor ini dinilai mampu memperluas basis industri nasional dan membuka peluang kerja di berbagai daerah.

    Secara keseluruhan, realisasi investasi nasional tahun 2025 meningkat 12,7 persen secara tahunan dan berhasil menyerap 2,71 juta tenaga kerja atau tumbuh 10,4 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Rosan menegaskan bahwa capaian tersebut merupakan bukti konkret bahwa investasi dan hilirisasi berjalan seiring dalam menciptakan lapangan kerja. “Ini adalah penciptaan lapangan pekerjaan yang tercipta dari total investasi Rp1.931,2 triliun pada tahun 2025,” pungkasnya.

  • Tingkatkan Lapangan Pekerjaan, AGTI Apresiasi Pemerintah Perkuat Hilirisasi Industri Tekstil dan Garmen Nasional

    Jakarta – Asosiasi Garmen dan Tekstil Indonesia (AGTI) mengapresiasi komitmen Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat hilirisasi industri tekstil dan garmen nasional sebagai langkah strategis untuk meningkatkan penciptaan lapangan pekerjaan. Sektor tekstil dan garmen dinilai memiliki peran vital sebagai industri padat karya yang selama ini menjadi penopang utama perekonomian nasional sekaligus menjaga stabilitas sosial di berbagai daerah.

    Ketua Umum AGTI, Anne Patricia Sutanto, menilai perhatian langsung Presiden terhadap industri tekstil dan garmen merupakan sinyal politik dan ekonomi yang sangat kuat bagi keberlanjutan sektor tersebut. Menurutnya, penguatan hilirisasi tidak hanya berdampak pada peningkatan nilai tambah produk dalam negeri, tetapi juga berkontribusi langsung terhadap perluasan kesempatan kerja formal. “Industri tekstil dan garmen memiliki peran strategis dalam penciptaan lapangan kerja dan menjaga stabilitas sosial-ekonomi nasional,” ujar Anne.

    AGTI menekankan bahwa penempatan industri tekstil dan garmen sebagai sektor strategis perlu segera ditindaklanjuti dengan kebijakan konkret di tingkat kementerian, lembaga, hingga pemerintah daerah. Anne menilai komitmen nasional harus diterjemahkan dalam regulasi yang berpihak, instrumen fiskal yang tepat sasaran, serta mekanisme pelaksanaan yang efektif di lapangan agar industri mampu tumbuh berkelanjutan dan menyerap tenaga kerja secara optimal.

    Terkait arahan Presiden mengenai revitalisasi rantai pasok, AGTI memandang penguatan supply chain tekstil harus dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir. Struktur rantai pasok yang panjang membutuhkan kebijakan terintegrasi agar industri nasional mampu meningkatkan daya saing dan mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.

    Anne menilai penguatan industri hulu dalam negeri menjadi langkah penting, meski dalam jangka pendek impor bahan baku masih dibutuhkan untuk menjaga kelancaran produksi. “Impor bahan baku bagi produsen yang patuh aturan perlu berjalan cepat dan efisien agar daya saing industri tetap terjaga,” katanya.

    Selain itu, AGTI menilai hilirisasi industri tekstil dan garmen menjadi kunci peningkatan nilai tambah sekaligus memperkuat peran sektor ini sebagai penyerap tenaga kerja. Dengan hilirisasi yang konsisten, industri tekstil nasional diharapkan mampu naik kelas, tidak hanya sebagai produsen bahan mentah, tetapi juga menghasilkan produk bernilai tinggi yang mampu bersaing di pasar global.

    Anne juga menyoroti pentingnya adaptasi teknologi dan pengembangan industri permesinan dalam negeri. Menurutnya, ketergantungan terhadap mesin impor masih tinggi sehingga penguatan industri pendukung, termasuk penguasaan teknologi dan semikonduktor, perlu menjadi bagian dari agenda industrialisasi nasional. Langkah tersebut diyakini mampu mendorong penerapan Industri 4.0 sekaligus meningkatkan produktivitas dan kualitas tenaga kerja.

    Ke depan, AGTI berharap arahan Presiden Prabowo dapat segera diwujudkan dalam kebijakan teknis yang konkret, termasuk deregulasi perizinan, penyediaan energi yang kompetitif, serta dukungan fiskal dan pembiayaan yang tepat sasaran. Dengan kebijakan yang terintegrasi dan konsisten, AGTI optimistis industri tekstil dan garmen nasional mampu memperkuat daya saing, memperluas lapangan pekerjaan, dan kembali menjadi tulang punggung manufaktur padat karya Indonesia.

  • Program KUR UMKM Terbukti Perluas Lapangan Pekerjaan

    Jakarta – Penyaluran Kredit Usaha Rakyat (KUR) terus menunjukkan peran strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kerakyatan sekaligus membuka lapangan pekerjaan baru. Sepanjang tahun 2025, PT Bank Mandiri (Persero) Tbk berhasil menyalurkan KUR senilai Rp40,99 triliun kepada 355.658 pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di berbagai daerah. Capaian tersebut dinilai memperkuat kontribusi UMKM sebagai tulang punggung perekonomian nasional.

    Direktur Utama Bank Mandiri, Riduan, menegaskan bahwa penyaluran KUR tidak semata berorientasi pada pembiayaan, tetapi juga pada upaya pemberdayaan pelaku usaha. Menurutnya, akses permodalan yang inklusif menjadi kunci bagi UMKM untuk meningkatkan kapasitas usaha dan menyerap tenaga kerja. “Melalui akses modal yang lebih luas, Bank Mandiri ingin membantu pelaku UMKM memperkuat kapasitas produksi, memperluas lapangan pekerjaan, dan meningkatkan daya saing,” ujar Riduan dalam keterangan resminya.

    Penyaluran KUR Bank Mandiri sepanjang 2025 selaras dengan fokus pemerintah dalam membangun ekonomi kerakyatan berbasis sektor produktif. Hal tersebut tercermin dari dominasi pembiayaan ke sektor produksi yang mencapai 61,54 persen atau setara Rp25,13 triliun dari total KUR yang disalurkan. Sektor ini dinilai memiliki daya ungkit tinggi terhadap penciptaan lapangan kerja dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

    Sektor pertanian sebagai pilar ketahanan pangan nasional menjadi penerima pembiayaan terbesar dengan nilai Rp12,75 triliun atau 31,23 persen dari total penyaluran KUR. Selain itu, sektor jasa produksi memperoleh pembiayaan sebesar Rp8,76 triliun atau 21,45 persen, sektor industri pengolahan Rp3,03 triliun atau 7,43 persen, serta sektor perikanan sebesar Rp562 miliar atau 1,38 persen. Distribusi pembiayaan ini menunjukkan keberpihakan terhadap sektor-sektor yang memiliki potensi besar dalam menyerap tenaga kerja lokal.

    Riduan menambahkan bahwa Bank Mandiri berkomitmen menjaga kualitas penyaluran KUR melalui pendekatan pembiayaan berbasis ekosistem. Pendekatan ini terintegrasi dengan nasabah wholesale, khususnya pada sektor-sektor produksi unggulan di berbagai wilayah. “Melalui skema pembiayaan yang berkelanjutan ini, Bank Mandiri berperan aktif dalam mendorong pergerakan perekonomian nasional, terutama di sektor produksi,” katanya.

    Ke depan, Bank Mandiri menyatakan kesiapan untuk mendukung upaya pemerintah dalam mengakselerasi penyaluran KUR pada 2026. Dukungan tersebut diwujudkan melalui penguatan strategi pembiayaan berbasis ekosistem dan sinergi Mandiri Group yang terintegrasi. Riduan meyakini, UMKM yang semakin tangguh akan menciptakan lapangan kerja yang lebih luas serta menjadi fondasi bagi ketahanan pangan dan kesejahteraan nasional.

  • HKI Apresiasi Program Hilirisasi Dorong Investasi dan Lapangan Kerja

    Jakarta – Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) menyambut positif arahan Presiden Prabowo Subianto yang menekankan pentingnya peran pendidikan tinggi dalam mendukung investasi strategis dan agenda hilirisasi nasional. Arahan tersebut dinilai mempertegas arah kebijakan pembangunan industri yang semakin terintegrasi antara penguatan sumber daya manusia, riset, dan investasi, guna mendorong pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

    Ketua Umum HKI, Akhmad Ma’ruf Maulana menilai penekanan Presiden terhadap dukungan perguruan tinggi pada 18 proyek strategis hilirisasi yang dikelola Danantara menunjukkan keseriusan pemerintah dalam membangun fondasi industri nasional yang kuat. Menurutnya, keterlibatan dunia pendidikan menjadi kunci untuk memastikan ketersediaan tenaga kerja terampil dan inovasi yang mampu mendukung kebutuhan industri masa depan.

    “HKI melihat arahan Presiden sebagai sinyal kuat bahwa pembangunan industri ke depan harus bertumpu pada kesiapan SDM, riset terapan, dan inovasi. Hal ini sangat relevan untuk memastikan investasi strategis benar-benar memberikan nilai tambah bagi perekonomian nasional,” ujar Akhmad Ma’ruf Maulana di Jakarta.

    HKI menilai keberadaan Danantara sebagai badan pengelola investasi strategis memiliki peran penting dalam mempercepat pembiayaan dan pelaksanaan proyek-proyek hilirisasi. Dalam konteks tersebut, kawasan industri dipandang sebagai simpul eksekusi yang memastikan proyek berjalan efektif melalui ketersediaan lahan siap bangun, utilitas memadai, kepastian layanan, serta ekosistem industri yang terintegrasi.

    Ma’ruf menjelaskan bahwa relasi antara Danantara dan kawasan industri bersifat saling melengkapi. Danantara memperkuat sisi pembiayaan dan portofolio proyek strategis, sementara kawasan industri memastikan kesiapan lokasi dan ekosistem usaha sehingga investasi dapat segera direalisasikan dan memberikan dampak ekonomi yang nyata bagi masyarakat.

    “Keberhasilan proyek hilirisasi akan menciptakan siklus pertumbuhan yang saling menguatkan. Ketika investasi tumbuh, ekonomi akan bergerak, dan lapangan kerja tercipta. Pada saat yang sama, ekosistem industri nasional menjadi semakin kuat dan berdaya saing,” katanya.

    Dalam rangka mempercepat realisasi investasi, HKI menyatakan kesiapan untuk memperkuat koordinasi dengan Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM. Langkah tersebut mencakup dukungan terhadap kesiapan kawasan industri, fasilitasi perizinan, serta pengawalan berbagai hambatan atau debottlenecking yang kerap dihadapi investor di lapangan.

    Di sisi lain, HKI juga menegaskan komitmen dalam menjembatani kebutuhan industri dengan dunia pendidikan tinggi. Komitmen tersebut sebelumnya diwujudkan melalui penandatanganan nota kesepahaman bersama Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi serta Kementerian Investasi dan Hilirisasi/BKPM pada Konvensi Sains, Teknologi, dan Industri Indonesia 2025.

    “HKI siap terlibat aktif menindaklanjuti arahan Presiden. Kawasan industri dapat menjadi laboratorium nyata bagi riset terapan, pengembangan talenta, serta penyerapan lulusan perguruan tinggi yang sesuai dengan kebutuhan industri masa depan,” ujar Ma’ruf.

    HKI berharap sinergi antara pemerintah, Danantara, perguruan tinggi, dan pelaku kawasan industri dapat berjalan konsisten dan terukur. Dengan demikian, agenda hilirisasi dan investasi strategis tidak hanya mendorong pertumbuhan ekonomi jangka pendek, tetapi juga memperkuat struktur industri nasional serta menciptakan lapangan kerja secara berkelanjutan.

  • Tingkatkan Lapangan Pekerjaan, Pemerintah Ajak Kampus Dukung 18 PSN Hilirisasi

    Jakarta – Pemerintah menegaskan pentingnya peran perguruan tinggi dalam mendukung percepatan hilirisasi industri nasional yang menjadi salah satu motor utama penciptaan lapangan pekerjaan. Presiden Prabowo Subianto meminta kampus di seluruh Indonesia untuk memperkuat riset dan inovasi yang selaras dengan kebutuhan industri, khususnya dalam mendukung 18 Proyek Strategis Nasional (PSN) berbasis hilirisasi. Langkah ini dinilai krusial untuk memastikan ketersediaan sumber daya manusia (SDM) yang berkualitas dan berdaya saing tinggi.

    Arahan tersebut disampaikan Presiden Prabowo dalam dialog tertutup bersama sekitar 1.200 rektor dan guru besar dari berbagai perguruan tinggi di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta. Pemerintah memandang kampus sebagai fondasi utama dalam menyiapkan SDM unggul yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi, seiring dengan agenda besar industrialisasi dan hilirisasi yang akan dipercepat dalam beberapa tahun ke depan.

    Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa riset perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menopang program prioritas pemerintah, mulai dari swasembada pangan dan energi hingga penguatan industri nasional. Menurutnya, percepatan hilirisasi tidak hanya membutuhkan investasi fisik, tetapi juga kesiapan SDM yang mumpuni. “Mempersiapkan industrialisasi dan hilirisasi yang tahun ini akan mulai dilakukan groundbreaking besar-besaran tentunya membutuhkan sumber daya manusia yang menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi,” ujar Prasetyo dalam konferensi pers usai pertemuan tersebut.

    Sebagai bentuk komitmen nyata, Presiden Prabowo memutuskan penambahan anggaran riset perguruan tinggi sebesar Rp4 triliun. Prasetyo menegaskan, tambahan anggaran ini diharapkan mampu memperkuat ekosistem riset nasional dan mendorong kolaborasi yang lebih erat antara universitas dengan Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN). “Harapannya ini dapat memperkuat riset-riset untuk seluruh universitas, termasuk bekerja sama dengan BRIN,” katanya.

    Penguatan riset kampus dinilai penting karena pemerintah menargetkan kemandirian teknologi nasional. Presiden juga meminta civitas akademika untuk terlibat aktif dalam pengembangan inovasi yang aplikatif dan sesuai dengan kebutuhan industri. Dengan demikian, lulusan perguruan tinggi diharapkan tidak hanya siap kerja, tetapi juga mampu menciptakan lapangan pekerjaan baru melalui inovasi dan kewirausahaan berbasis teknologi.

    Selain isu riset, pemerintah turut menyoroti pembiayaan pendidikan tinggi dan perluasan akses beasiswa bagi mahasiswa. Prasetyo mengungkapkan bahwa dari sekitar 9,9 juta mahasiswa aktif di Indonesia, jumlah penerima beasiswa masih relatif terbatas. “Bapak Presiden memberikan arahan kepada kami untuk menghitung ulang dan memformulasikan kembali bagaimana memperbesar sebanyak-banyaknya penerima beasiswa,” ujarnya.

    Pemerintah berharap sinergi yang kuat antara kampus, industri, dan negara dapat melahirkan SDM unggul yang menjadi tulang punggung hilirisasi industri. Upaya ini diyakini tidak hanya memperkuat daya saing nasional, tetapi juga membuka lapangan pekerjaan luas dan berkelanjutan menuju visi Indonesia Emas 2045.