Kategori: Uncategorized

  • Ketahanan Pangan Berbasis Desa Menopang Stabilitas Nasional

    Oleh: Dimas Adiyatma *

    Ketahanan pangan tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menyediakan kebutuhan konsumsi masyarakat, tetapi juga menjadi salah satu faktor utama yang menentukan stabilitas nasional. Negara yang mampu memenuhi kebutuhan pangannya secara mandiri akan memiliki daya tahan yang lebih kuat dalam menghadapi berbagai tantangan global, mulai dari gejolak ekonomi, perubahan iklim, hingga gangguan rantai pasok internasional.

    Pemerintah saat ini menempatkan ketahanan pangan sebagai salah satu prioritas utama pembangunan nasional. Kebijakan tersebut tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi pangan, tetapi juga diarahkan untuk membangun ekosistem ekonomi yang mampu mendukung keberlanjutan sektor pertanian dari tingkat paling bawah. Melalui pendekatan tersebut, desa diposisikan sebagai aktor utama dalam mewujudkan kemandirian pangan nasional.

    Komitmen memperkuat peran desa dalam mendukung ketahanan pangan mengemuka dalam Rapat Kerja Nasional APDESI Merah Putih 2026 yang berlangsung di Kota Serang, Banten. Forum tersebut menjadi wadah konsolidasi berbagai kepala desa dari seluruh Indonesia untuk menyatukan langkah dalam mendukung agenda strategis pembangunan nasional, khususnya di bidang pangan dan penguatan ekonomi desa.

    Dewan Pakar APDESI Merah Putih, Johan Aripin Muba, menjelaskan bahwa organisasinya berkomitmen memperkuat ketahanan pangan melalui penguatan sektor pertanian serta peluncuran berbagai program ekonomi baru yang menyasar masyarakat desa. Menurutnya, dukungan terhadap petani dilakukan melalui kolaborasi berbagai kelompok masyarakat yang secara aktif membantu meningkatkan kapasitas dan produktivitas sektor pertanian di daerah masing-masing.

    Langkah nyata yang dilakukan adalah peluncuran Utility Coin untuk keluarga desa. Program tersebut dirancang sebagai instrumen yang mendukung penguatan ekonomi masyarakat sekaligus menjadi bagian dari gerakan besar dalam memperkuat ketahanan pangan nasional. Kehadiran program tersebut menunjukkan bahwa pembangunan desa kini semakin didukung oleh inovasi yang mampu menjawab tantangan perkembangan ekonomi modern.

    Johan juga menjelaskan bahwa setelah pelaksanaan Rakernas, APDESI Merah Putih akan melakukan sosialisasi gerakan ekonomi berbasis desa ke berbagai wilayah Indonesia. Program tersebut dirancang menjangkau sekitar 75.266 desa yang tersebar di seluruh tanah air. Skala pelaksanaan yang sangat luas menunjukkan besarnya perhatian terhadap peran desa sebagai fondasi pembangunan nasional.

    Pada tahap awal, implementasi program akan difokuskan pada sejumlah provinsi prioritas yang meliputi seluruh wilayah Pulau Jawa serta beberapa provinsi lain seperti Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, Lampung, Jambi, dan Sumatera Selatan. Pendekatan bertahap tersebut diharapkan mampu menghasilkan model pengembangan yang efektif sebelum diperluas ke wilayah lain.

    Selain memperkuat sektor pangan, program tersebut juga diarahkan untuk mendorong kemandirian fiskal desa. Johan menilai bahwa setiap desa memiliki potensi yang dapat dikembangkan untuk meningkatkan Pendapatan Asli Desa. Dengan kemampuan fiskal yang semakin kuat, desa dapat membiayai pembangunan secara mandiri sekaligus memperkuat berbagai sektor produktif yang mendukung kesejahteraan masyarakat.

    Dalam forum yang sama, Ketua Umum APDESI Merah Putih, Anwar Sadat, menegaskan bahwa desa tidak lagi dapat diposisikan hanya sebagai objek pembangunan. Menurutnya, desa harus menjadi subjek pembangunan yang berperan aktif menggerakkan perekonomian nasional dari tingkat akar rumput. Pandangan tersebut sejalan dengan arah pembangunan pemerintah yang semakin menempatkan masyarakat sebagai pelaku utama pembangunan.

    Anwar menilai desa memiliki modal yang sangat besar berupa sumber daya alam, sumber daya manusia, dan modal sosial yang tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Apabila seluruh potensi tersebut dikelola secara optimal melalui sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, desa akan menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus benteng utama ketahanan pangan Indonesia.

    Pandangan tersebut sejalan dengan strategi pemerintah yang saat ini menjalankan berbagai program transformasi ekonomi secara menyeluruh. Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Dony Oskaria menjelaskan bahwa pemerintah sedang membangun fondasi menuju Indonesia maju 2045 melalui tiga pilar utama, yaitu ketahanan pangan, ketahanan energi, dan penguatan sumber daya manusia.

    Menurut Dony, berbagai program yang dijalankan pemerintah saat ini bukanlah kebijakan yang berdiri sendiri. Seluruh program tersebut merupakan bagian dari transformasi ekonomi nasional yang dirancang secara terintegrasi untuk memperkuat daya saing bangsa dalam jangka panjang. Oleh karena itu, pemahaman masyarakat terhadap proses transformasi tersebut menjadi faktor yang sangat penting.

    Dony menegaskan bahwa pemerintah menempatkan ketahanan pangan sebagai fondasi utama menuju negara maju. Pandangan tersebut didasarkan pada kenyataan bahwa tidak ada negara yang dapat berkembang secara berkelanjutan tanpa memiliki kemampuan memenuhi kebutuhan pangannya sendiri. Karena itu, penguatan sektor pangan menjadi agenda strategis yang tidak dapat ditawar.

    Sebagai bentuk komitmen nyata, pemerintah menjalankan berbagai program yang mendukung peningkatan produksi pangan nasional. Program tersebut meliputi pencetakan sawah baru, pembangunan jaringan irigasi, pengendalian alih fungsi lahan pertanian, serta reformasi tata niaga pupuk agar kebutuhan petani dapat terpenuhi secara lebih efektif.

    Pemerintah juga memperkuat kebijakan pembelian gabah petani untuk menjaga stabilitas harga dan meningkatkan kesejahteraan petani. Selain itu, kapasitas penyimpanan pangan nasional melalui Bulog terus diperkuat guna memastikan ketersediaan cadangan pangan yang memadai dalam menghadapi berbagai situasi yang dapat memengaruhi pasokan pangan nasional.

    Berbagai langkah yang dilakukan pemerintah menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya berupaya meningkatkan produksi pangan, tetapi juga membangun sistem yang mampu menjaga keberlanjutan sektor pertanian secara menyeluruh. Dalam sistem tersebut, desa menjadi simpul utama yang menghubungkan produksi, distribusi, dan penguatan ekonomi masyarakat.

    )* Penulis merupakan Pengamat Kebijakan Publik

  • Pemerintah Integrasikan Aparatur Desa Percepat Kedaulatan Pangan Nasional

    JAKARTA — Langkah taktis Pemerintah Indonesia dalam mengintegrasikan serta meningkatkan kapasitas seluruh aparatur desa di tanah air dinilai menjadi kunci utama dalam mempercepat perwujudan kedaulatan pangan nasional.

    Strategi integratif yang diinisiasi pemerintah ini dipandang sangat relevan dan strategis dalam membentengi ketahanan nasional dari dampak meningkatnya ketidakpastian geopolitik serta dinamika ekonomi global saat ini.

    Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Akhmad Wiyagus menegaskan bahwa seluruh jajaran pemerintahan, mulai dari tingkat provinsi, kabupaten, hingga pemerintah desa, harus bersinergi memperkuat ketahanan wilayah melalui implementasi nyata program prioritas Asta Cita.

    Menurutnya, desa memiliki posisi yang sangat krusial karena menjadi fondasi utama dari seluruh roda pembangunan bangsa yang bersentuhan langsung dengan stabilitas pangan masyarakat.

    “Tidak ada satu pun program Asta Cita yang tidak terkait dengan pemerintahan desa karena semua berawal dari desa. Asta Cita ini harus benar-benar diimplementasikan secara nyata agar dampak dan outcome-nya langsung dirasakan oleh masyarakat kita di tingkat bawah,” ujar Wiyagus, dalam forum Temu Karya Nasional.

    Kemendagri juga menegaskan komitmen penuhnya untuk terus memfasilitasi pemerintah daerah dalam mengakselerasi pembangunan, termasuk menjembatani koordinasi lintas sektoral dengan kementerian dan lembaga terkait demi menyukseskan program strategis nasional ini.

    Sejalan dengan arah kebijakan pemerintah pusat, komitmen penguatan tersebut disambut positif dalam Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia (APDESI) Merah Putih 2026 yang berlangsung di Aston Hotel & Convention Center, Kota Serang, Banten.

    Ketua Umum APDESI Merah Putih, Anwar Sadat, menyatakan dukungan penuhnya dan menegaskan bahwa desa kini telah bangkit menjadi subjek utama pembangunan yang siap menggerakkan roda ekonomi dari bawah.

    Dengan jumlah lebih dari 75 ribu desa di seluruh Indonesia, penguatan kapasitas ekonomi desa menjadi pilar utama ketahanan pangan nasional.

    “Desa memiliki potensi alam, sumber daya manusia, dan modal sosial yang sangat masif. Melalui sinergi program yang terintegrasi erat dengan pemerintah, desa akan bertransformasi menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi baru sekaligus benteng pertahanan pangan Indonesia,” jelas Anwar.

    Langkah konkret akselerasi ini difokuskan pada penguatan sektor pertanian, peternakan, pemberdayaan koperasi desa, investasi kemitraan, hingga transformasi digital.

    Kolaborasi harmonis antara pemerintah pusat, daerah, dan desa ini optimis mampu melahirkan pembangunan yang inklusif, efektif, serta tepat sasaran demi mewujudkan kedaulatan pangan nasional yang mandiri, adil, dan berkelanjutan dari tingkat paling bawah.

  • Ketahanan Pangan Desa Menjadi Fondasi Kemandirian Bangsa

    JAKARTA – Penguatan ketahanan pangan di tingkat desa dinilai menjadi langkah strategis dalam mewujudkan kemandirian bangsa sekaligus mempercepat pemerataan pembangunan.

    Dewan Pakar APDESI Merah Putih, Johan Aripin Muba, menegaskan pihaknya siap memperkuat ketahanan pangan melalui pengembangan sektor pertanian dan peluncuran program ekonomi baru yang berbasis desa.

    “Kami bergerak dari sektor swasta, menggunakan dana pribadi dan kelompok untuk membantu para petani di masing-masing desa guna menyukseskan ketahanan pangan,” ujar Johan.

    Sebagai langkah awal, APDESI Merah Putih meluncurkan Utility Coin untuk keluarga desa. Program tersebut diperkenalkan dalam Rakernas sebagai bagian dari upaya menyatukan visi desa-desa di seluruh Indonesia dalam mendukung program pangan nasional.

    Johan menjelaskan, setelah konsolidasi dalam Rakernas, pihaknya akan mulai melakukan sosialisasi gerakan ekonomi desa pada Juli 2026. Program tersebut ditargetkan menjangkau 75.266 desa di seluruh Indonesia.

    “Program penguatan ini ditargetkan mampu menyasar 75.266 desa di seluruh Indonesia,” katanya.

    Pada tahap awal, implementasi program akan difokuskan di 10 provinsi prioritas, yakni seluruh provinsi di Pulau Jawa, Sulawesi Selatan, Nusa Tenggara Barat, Lampung, Jambi, dan Sumatera Selatan.

    Selain memperkuat ketahanan pangan, program tersebut juga diarahkan untuk mendorong kemandirian fiskal desa melalui optimalisasi potensi lokal dan peningkatan Pendapatan Asli Desa (PADesa).

    “Selain memperkuat ketahanan pangan, sasaran utama dari gerakan ini adalah mewujudkan kemandirian fiskal di tingkat perdesaan,” ujar Johan.

    Ketua Umum APDESI Merah Putih, Anwar Sadat, menilai desa harus ditempatkan sebagai subjek pembangunan yang mampu menggerakkan perekonomian nasional dari tingkat akar rumput.

    “Desa memiliki sumber daya alam, sumber daya manusia, dan modal sosial yang sangat besar. Jika seluruh potensi itu dikelola secara baik melalui kolaborasi pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat, desa akan menjadi lokomotif pertumbuhan ekonomi nasional sekaligus benteng ketahanan pangan Indonesia,” kata Anwar.

    Menurutnya, penguatan ekonomi desa perlu difokuskan pada sektor pertanian, peternakan, koperasi, UMKM, serta kemitraan usaha yang mampu meningkatkan nilai tambah dan kesejahteraan masyarakat.

    Sementara itu, Kepala BP BUMN sekaligus Chief Operating Officer (COO) Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara, Dony Oskaria, menyampaikan bahwa ketahanan pangan menjadi salah satu pilar utama transformasi ekonomi nasional menuju Indonesia maju 2045.

    “Dalam satu negara yang sedang melakukan transformasi tentu akan ada respons, baik positif maupun negatif. Tetapi yang paling penting adalah pemahaman masyarakat mengenai proses transformasi yang sedang dijalankan secara fundamental oleh pemerintah,” ujar Dony.

  • MBG Dikawal Para Ahli, Masa Depan Gizi Anak Makin Terjamin

    Oleh: Alexander Royce*)

    Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menjadi salah satu kebijakan strategis pemerintah dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia. Di tengah berbagai tantangan pembangunan, mulai dari stunting, kesenjangan akses pangan bergizi, hingga kebutuhan peningkatan kualitas generasi muda menuju Indonesia Emas 2045, kehadiran MBG menunjukkan komitmen negara untuk memastikan setiap anak Indonesia mendapatkan hak yang sama atas asupan gizi yang berkualitas. Pemerintah terus memperkuat tata kelola dan pengawasannya dengan melibatkan para ahli gizi, tenaga kesehatan, akademisi, hingga berbagai pemangku kepentingan agar manfaatnya semakin optimal dan tepat sasaran.

    Dukungan terhadap MBG juga datang dari kalangan akademisi dan praktisi gizi. Ahli Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB) sekaligus Dewan Pengurus Pusat Himpunan Alumni IPB Departemen Gizi, Lesda Lybaws, menilai program MBG merupakan langkah yang efektif untuk memutus rantai stunting yang masih menjadi tantangan di berbagai daerah. Menurutnya, persoalan stunting tidak dapat diselesaikan hanya melalui intervensi kesehatan sesaat, melainkan membutuhkan pemenuhan gizi yang konsisten sejak dini. Karena itu, kehadiran program yang mampu menjamin akses pangan bergizi bagi anak-anak menjadi instrumen penting dalam memperbaiki kualitas tumbuh kembang generasi mendatang.

    Lesda juga berpandangan bahwa MBG memiliki dampak yang jauh lebih luas dibanding sekadar penyediaan makanan di sekolah. Program ini berpotensi meningkatkan kualitas kesehatan, kemampuan belajar, hingga produktivitas anak dalam jangka panjang. Dengan asupan gizi yang lebih baik, risiko kekurangan zat gizi dapat ditekan sehingga anak-anak memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh sehat dan berkembang secara optimal. Pandangan tersebut memperkuat keyakinan bahwa investasi pemerintah pada sektor gizi merupakan investasi jangka panjang yang hasilnya akan dirasakan oleh bangsa secara keseluruhan.

    Komitmen pemerintah untuk memastikan kualitas program tersebut terlihat dari langkah yang dilakukan Kementerian Kesehatan. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan dukungannya terhadap berbagai upaya penyempurnaan pelaksanaan MBG yang dilakukan Badan Gizi Nasional (BGN). Salah satu bentuk dukungan yang paling penting adalah penyiapan tenaga ahli kesehatan dan ahli gizi anak dari lingkungan Kemenkes untuk mengawal pelaksanaan program di lapangan. Langkah ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada perluasan cakupan penerima manfaat, tetapi juga pada kualitas dan keamanan pelaksanaan program.

    Budi Gunadi Sadikin juga memberikan apresiasi terhadap langkah-langkah tata ulang yang dilakukan BGN. Pemerintah saat ini melakukan refocusing penerima manfaat agar bantuan semakin tepat sasaran, melakukan pembenahan fasilitas dapur yang telah beroperasi, menyusun skema baru untuk wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), serta memperkuat berbagai standar pelaksanaan program. Selain menyiapkan tenaga ahli, Kementerian Kesehatan juga menyinergikan data, konsep, dan detail teknis pelaksanaan agar MBG dapat berjalan lebih efektif. Kehadiran para profesional kesehatan dalam rantai pelaksanaan program menjadi bukti bahwa pemerintah serius menjadikan kualitas gizi anak sebagai prioritas nasional.

    Pendekatan berbasis keilmuan dan penguatan tata kelola tersebut menjadi jawaban atas berbagai evaluasi yang muncul selama implementasi program. Pemerintah menunjukkan sikap terbuka terhadap perbaikan dan terus melakukan penyempurnaan agar manfaat MBG semakin dirasakan masyarakat. Dalam kebijakan publik berskala besar, evaluasi merupakan bagian yang wajar. Yang lebih penting adalah kemampuan pemerintah untuk merespons masukan secara cepat dengan menghadirkan solusi yang konkret. Keterlibatan ahli gizi dan tenaga kesehatan menjadi salah satu langkah strategis untuk memastikan kualitas program tetap terjaga.

    Sementara itu, Menteri HAM Natalius Pigai menempatkan MBG dalam perspektif yang lebih luas, yakni sebagai bagian dari pemenuhan hak dasar masyarakat. Menurutnya, negara memiliki kewajiban untuk menghormati, melindungi, dan memenuhi hak-hak dasar rakyat, termasuk hak atas pangan yang layak dan bergizi. Karena itu, program MBG tidak semata-mata dipandang sebagai kebijakan sosial, tetapi juga sebagai bentuk nyata kehadiran negara dalam menjamin hak masyarakat, khususnya kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, balita, dan peserta didik.

    Pigai juga menyoroti dampak ekonomi yang mulai muncul dari implementasi program tersebut. Menurutnya, MBG telah menggerakkan berbagai sektor ekonomi daerah, mulai dari petani, peternak, nelayan, pelaku UMKM pangan, hingga sektor distribusi dan transportasi. Dengan mendorong penggunaan bahan baku lokal, program ini tidak hanya memperkuat ketahanan gizi masyarakat, tetapi juga menciptakan efek berganda bagi perekonomian daerah. Dalam konteks pembangunan nasional, pendekatan seperti ini sangat penting karena mampu menghubungkan agenda peningkatan kualitas sumber daya manusia dengan pemberdayaan ekonomi rakyat secara bersamaan.

    Berbagai perkembangan terbaru menunjukkan bahwa pemerintah terus memperkuat fondasi pelaksanaan MBG melalui pembenahan tata kelola, penguatan pengawasan, dan peningkatan peran tenaga profesional. Langkah ini menjadi sinyal positif bahwa program tidak hanya berorientasi pada pencapaian target jangka pendek, tetapi juga pada keberlanjutan dan kualitas hasil yang ingin dicapai. Ketika para ahli gizi, tenaga kesehatan, akademisi, dan pemerintah bergerak dalam satu arah yang sama, peluang keberhasilan program tentu semakin besar.

    Pada akhirnya, masa depan Indonesia sangat ditentukan oleh kualitas generasi mudanya hari ini. Dengan pengawalan para ahli, dukungan lintas kementerian, serta komitmen kuat pemerintah untuk terus melakukan penyempurnaan, Program Makan Bergizi Gratis semakin menunjukkan dirinya sebagai investasi strategis bagi bangsa. Jika konsistensi ini terus dijaga, maka upaya membangun generasi yang sehat, cerdas, produktif, dan berdaya saing global akan semakin mudah diwujudkan,

    *) Pengamat Sosial

  • Menata MBG, Menjaga Masa Depan Generasi Bangsa

    Oleh : Deka Dirgantara*

    Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu langkah strategis pemerintah dalam membangun kualitas sumber daya manusia Indonesia sejak usia dini. Program ini tidak hanya berfokus pada pemenuhan kebutuhan pangan anak-anak sekolah, tetapi juga menjadi bagian dari investasi jangka panjang untuk menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan produktif. Di tengah berbagai tantangan yang masih dihadapi, mulai dari stunting, kekurangan gizi, hingga kesenjangan akses makanan sehat, MBG hadir sebagai upaya nyata untuk memastikan setiap anak mendapatkan asupan nutrisi yang memadai. Karena itu, menata pelaksanaan MBG dengan baik bukan sekadar urusan distribusi makanan, melainkan bagian penting dalam menjaga masa depan generasi bangsa.

    Ketersediaan makanan bergizi memiliki hubungan langsung dengan perkembangan fisik dan kemampuan belajar anak. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa anak yang memperoleh nutrisi cukup cenderung memiliki daya konsentrasi lebih baik, tingkat kehadiran sekolah yang lebih tinggi, serta kemampuan berpikir yang lebih optimal. Sebaliknya, kekurangan gizi dapat berdampak pada perkembangan otak, pertumbuhan tubuh, hingga produktivitas ketika mereka dewasa. Dalam konteks ini, MBG menjadi instrumen penting untuk membantu menciptakan lingkungan belajar yang lebih sehat sekaligus mengurangi risiko gangguan pertumbuhan yang masih menjadi perhatian di berbagai daerah.

    Namun, keberhasilan MBG tidak hanya ditentukan oleh jumlah makanan yang dibagikan setiap hari. Kualitas menu menjadi faktor yang sangat penting. Makanan yang diberikan harus memenuhi standar gizi seimbang yang mencakup karbohidrat, protein, vitamin, mineral, serta kebutuhan energi sesuai usia anak. Penyusunan menu juga perlu memperhatikan variasi bahan pangan agar tidak menimbulkan kejenuhan sekaligus mendukung kecukupan nutrisi. Dengan pengelolaan yang baik, MBG dapat menjadi sarana edukasi bagi anak-anak untuk mengenal pola makan sehat sejak dini, sehingga manfaatnya tidak berhenti pada program semata tetapi juga membentuk kebiasaan positif dalam kehidupan sehari-hari.

    Direktur Political and Public Policy Studies, Jerry Massie menjelaskan selain aspek kualitas, tata kelola dan pengawasan menjadi kunci penting dalam menjaga keberlanjutan program. Sistem distribusi harus dirancang secara transparan dan akuntabel agar makanan yang disiapkan benar-benar sampai kepada penerima manfaat dalam kondisi layak konsumsi. Pengawasan terhadap proses pengolahan, penyimpanan, hingga pengiriman makanan perlu dilakukan secara berkala untuk memastikan standar keamanan pangan tetap terjaga. Kepercayaan masyarakat terhadap program akan semakin kuat apabila seluruh proses berjalan terbuka dan dapat dipertanggungjawabkan.

    Sementara itu, Sekretaris Jenderal Majelis Ulama Indonesia (MUI), Amirsyah Tambunan menjelaskan program MBG juga memiliki potensi besar dalam menggerakkan perekonomian daerah. Kebutuhan bahan pangan dalam jumlah besar dapat melibatkan petani, peternak, nelayan, serta pelaku usaha mikro dan kecil sebagai bagian dari rantai pasok. Dengan demikian, manfaat program tidak hanya dirasakan oleh siswa penerima makanan bergizi, tetapi juga oleh masyarakat yang terlibat dalam penyediaan bahan baku. Jika dikelola secara tepat, MBG dapat menjadi penggerak ekonomi lokal yang mendorong peningkatan pendapatan masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

    Partisipasi berbagai pihak menjadi faktor penting dalam menyukseskan program ini. Pemerintah memiliki peran dalam menyusun kebijakan, menyediakan anggaran, dan memastikan pengawasan berjalan efektif. Sementara itu, sekolah berperan sebagai pelaksana yang berinteraksi langsung dengan peserta didik. Orang tua juga memiliki kontribusi besar melalui dukungan terhadap pola makan sehat di rumah. Kolaborasi yang baik antara pemerintah, sekolah, keluarga, dan masyarakat akan menciptakan ekosistem yang mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Dengan kerja sama yang kuat, tujuan besar MBG akan lebih mudah tercapai.

    Di tengah besarnya cakupan program, evaluasi berkelanjutan perlu menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pelaksanaan MBG. Setiap tantangan yang muncul harus dijadikan bahan perbaikan agar kualitas layanan terus meningkat. Pengumpulan data mengenai status gizi siswa, tingkat kepuasan penerima manfaat, serta efektivitas distribusi dapat menjadi dasar untuk menyempurnakan kebijakan ke depan. Pendekatan yang adaptif akan membantu memastikan bahwa program tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat dan mampu memberikan dampak nyata dalam jangka panjang.

    Anggota Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat Fraksi Golkar, Bambang Soesatyo mengatakan menata MBG berarti menata fondasi masa depan Indonesia. Program ini bukan sekadar penyediaan makanan gratis, melainkan investasi besar dalam pembangunan manusia. Anak-anak yang tumbuh sehat hari ini akan menjadi generasi yang memimpin berbagai sektor pembangunan di masa depan.

     Oleh karena itu, setiap upaya untuk meningkatkan kualitas pelaksanaan MBG merupakan langkah penting dalam menjaga harapan bangsa. Dengan tata kelola yang baik, kualitas gizi yang terjamin, serta dukungan seluruh elemen masyarakat, MBG dapat menjadi salah satu pilar utama dalam mewujudkan Indonesia yang lebih maju, sehat, dan berdaya saing di masa mendatang.

    *) Penulis merupakan Ekonomi Makro dan Peneliti Kebijakan Fiskal

  • Pemerintah Siapkan Penambahan Ahli Gizi dan Dokter Perkuat Standar Mutu Program MBG

    Jakarta – Pemerintah terus memperkuat tata kelola Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan menyiapkan penambahan tenaga ahli gizi dan dokter dalam struktur Badan Gizi Nasional (BGN). Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan pelaksanaan program berjalan sesuai standar kesehatan dan kebutuhan gizi masyarakat, khususnya anak-anak dan kelompok rentan.

    Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik S Deyang mengatakan dewan pengarah dalam struktur organisasi BGN akan diisi oleh kalangan profesional yang memiliki kompetensi di bidang kesehatan dan gizi. Kehadiran para pakar tersebut diharapkan mampu memberikan panduan strategis dalam penyelenggaraan program MBG secara berkelanjutan.

    “Baik di SOTK dari BGN ada dewan pengarah di dewan pengarah akan kami isi dengan profesi ahli gizi dan dokter anak nanti yang akan meng-guideline kami mungkin di antara tujuh orang itu, lima dari pakar gizi,” ujar Nanik.

    Menurutnya, penguatan sumber daya manusia penting dalam upaya meningkatkan kualitas layanan gizi nasional. Selain membentuk dewan pengarah yang diisi para ahli, BGN juga akan melakukan refocusing penerima manfaat agar bantuan gizi lebih tepat sasaran dan diprioritaskan bagi kelompok masyarakat yang paling membutuhkan.

    BGN juga akan memperketat pengawasan terhadap kualitas makanan dan operasional dapur penyedia MBG melalui sistem penilaian dan grading terhadap seluruh fasilitas yang telah beroperasi. Mekanisme tersebut diharapkan dapat menjaga standar keamanan pangan sekaligus meningkatkan kualitas layanan di setiap daerah.

    Upaya pembenahan tersebut mendapat dukungan penuh dari Kementerian Kesehatan. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyatakan pihaknya siap mendukung empat langkah strategis yang disiapkan BGN dalam menata ulang pelaksanaan Program MBG.

    Empat langkah tersebut meliputi refocusing penerima manfaat, moratorium pembangunan dapur baru, pembenahan dapur yang telah beroperasi, serta penyusunan skema baru pelaksanaan MBG di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T).

    “Silakan siapa pun yang dipilih, kami menyiapkan yang terbaik, silakan Ibu yang memutuskan,” kata Menteri Budi Gunadi Sadikin.

    Kementerian Kesehatan telah menyiapkan tenaga ahli kesehatan dan gizi anak yang dapat dilibatkan dalam pelaksanaan program. Sinergi antarinstansi ini diharapkan mampu memperkuat sistem pengawasan sekaligus memastikan setiap menu yang disajikan memenuhi standar gizi dan keamanan pangan.

    Dengan penguatan kelembagaan, dukungan tenaga profesional, serta evaluasi menyeluruh terhadap operasional dapur, pemerintah optimistis Program Makan Bergizi Gratis dapat berjalan lebih efektif, tepat sasaran, dan memberikan manfaat yang lebih besar dalam meningkatkan kualitas kesehatan serta pemenuhan gizi masyarakat Indonesia. (*)

  • Tata Ulang Program MBG, Pemerintah Pastikan Layanan Gizi Lebih Tepat Sasaran

    Jakarta — Pemerintah terus melakukan penyempurnaan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) guna memastikan manfaat program diterima secara optimal oleh kelompok sasaran. Penataan ulang program dilakukan untuk meningkatkan kualitas layanan, memperkuat tata kelola, serta memastikan distribusi bantuan gizi berjalan efektif, tepat sasaran, dan berkelanjutan di seluruh wilayah Indonesia.

    Program MBG merupakan salah satu langkah strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia melalui pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, khususnya bagi peserta didik, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Melalui program ini, pemerintah berupaya menekan angka stunting, meningkatkan kesehatan masyarakat, serta mendukung tumbuh kembang generasi muda yang sehat dan produktif.

    Kepala Badan Gizi Nasional, Nanik S. Deyang menegaskan komitmennya untuk meningkatkan efektivitas pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis melalui penguatan tata kelola, efisiensi anggaran, penajaman sasaran penerima manfaat, serta optimalisasi pemanfaatan sumber daya yang tersedia. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan program berjalan lebih tepat sasaran, berkelanjutan, dan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.

    “Fokus kami saat ini adalah memastikan Program Makan Bergizi Gratis berjalan lebih efektif, tepat sasaran, dan memberikan manfaat yang optimal bagi masyarakat. Oleh karena itu, kami melakukan penataan pelaksanaan program agar kualitas layanan dapat terus ditingkatkan,” ujar Nanik.

    Dalam proses penataan ulang, pemerintah memperkuat sistem verifikasi dan validasi data penerima manfaat agar bantuan benar-benar menjangkau kelompok yang membutuhkan. Pemanfaatan teknologi digital juga ditingkatkan untuk mendukung akurasi data, mempercepat pelaporan, serta memudahkan pemantauan pelaksanaan program di berbagai daerah.

    Wakil Kepala BGN, Agustina Arumsari, menyampaikan bahwa penguatan tata kelola akan dilakukan melalui peningkatan sistem pengendalian internal, integrasi data, validasi informasi, serta pengembangan sistem yang lebih terstruktur dan terukur.

    “Tata kelola yang baik harus dibangun melalui sistem yang kuat sehingga pelaksanaan program dapat berjalan secara akuntabel, transparan, dan berkelanjutan.”

    Selain memperkuat tata kelola, pemerintah juga meningkatkan koordinasi antarinstansi, memperketat pengawasan kualitas pangan, serta menyempurnakan mekanisme distribusi makanan. Melalui berbagai langkah penyempurnaan tersebut, pemerintah optimistis Program MBG akan semakin efektif dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat, memperkuat pembangunan sumber daya manusia, serta mendukung terwujudnya generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.

  • Bansos Beras Presiden Bantu Ringankan Beban Masyarakat

    Oleh: Fajar Nugroho

    Pemerintah kembali memperkuat perlindungan sosial bagi masyarakat melalui penambahan program bantuan pangan beras pada tahun 2026. Kebijakan ini menjadi langkah strategis untuk membantu masyarakat rentan menghadapi tekanan ekonomi sekaligus menjaga stabilitas harga pangan nasional. Sebanyak 33,2 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) akan menerima bantuan beras sebanyak 10 kilogram pada setiap tahap penyaluran yang direncanakan berlangsung selama tiga bulan. Program tersebut menunjukkan komitmen pemerintah dalam memastikan kebutuhan pokok masyarakat tetap terpenuhi di tengah berbagai tantangan ekonomi dan ancaman musim kemarau yang berpotensi memengaruhi produksi pangan.

    Kebijakan penambahan bantuan pangan beras diputuskan dalam rapat koordinasi terbatas yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan. Pemerintah menilai langkah tersebut perlu dilakukan untuk mengantisipasi dampak musim kemarau sekaligus menjaga agar harga kebutuhan pokok tetap terkendali. Menurut Zulkifli Hasan, Presiden mengarahkan agar masyarakat tidak mengalami kesulitan akibat kenaikan harga bahan pokok maupun tekanan ekonomi lainnya. Oleh karena itu, bantuan pangan beras ditambah selama tiga bulan guna memberikan perlindungan bagi kelompok masyarakat yang paling rentan.

    Program ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah menjaga daya beli masyarakat. Ketika harga pangan berpotensi mengalami kenaikan akibat faktor cuaca maupun kondisi ekonomi global, bantuan beras diharapkan dapat membantu rumah tangga memenuhi kebutuhan dasar tanpa harus menanggung beban tambahan. Kebijakan tersebut sekaligus menjadi instrumen penting untuk menjaga stabilitas sosial dan ekonomi di tingkat masyarakat.

    Zulkifli Hasan menjelaskan bahwa penyaluran bantuan tahap pertama akan dimulai pada Juli 2026. Sementara dua tahap berikutnya akan disesuaikan dengan perkembangan kondisi pangan nasional dan potensi musim paceklik di sejumlah wilayah. Dengan jumlah penerima mencapai 33,2 juta keluarga, kebutuhan beras yang harus disiapkan pemerintah diperkirakan hampir mencapai satu juta ton selama seluruh periode distribusi. Besarnya alokasi tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah dalam melindungi masyarakat dari dampak ketidakpastian ekonomi maupun gejolak harga pangan.

    Dukungan terhadap kebijakan ini juga datang dari Badan Pangan Nasional. Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional, I Gusti Ketut Astawa, menegaskan bahwa bantuan pangan merupakan salah satu instrumen penting dalam menjaga ketahanan pangan nasional. Menurutnya, program bantuan pangan tidak hanya membantu memenuhi kebutuhan dasar masyarakat, tetapi juga berfungsi menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan di pasar.

    I Gusti Ketut Astawa menilai keberadaan bantuan pangan sangat penting untuk memastikan kelompok masyarakat rentan tetap mendapatkan akses terhadap bahan pangan yang cukup. Selain itu, distribusi bantuan juga dapat menjadi alat pemerintah dalam menjaga keseimbangan pasar sehingga gejolak harga dapat diminimalkan. Dengan demikian, manfaat program tidak hanya dirasakan oleh penerima bantuan, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap stabilitas ekonomi secara lebih luas.

    Keberhasilan program bantuan pangan selama tahun 2026 juga terlihat dari realisasi distribusi yang telah dilakukan sebelumnya. Berdasarkan data hingga 9 Juni 2026, penyaluran bantuan pangan untuk periode Februari-Maret telah mencapai 62,16 persen dari target nasional. Sebanyak 20,6 juta keluarga telah menerima manfaat dari program tersebut. Dalam periode yang sama, pemerintah berhasil mendistribusikan sekitar 413.300 ton beras dan 82.600 kiloliter minyak goreng ke berbagai daerah di Indonesia.

    Capaian tersebut menunjukkan bahwa program bantuan pangan masih menjadi instrumen yang efektif dalam menjaga ketahanan sosial masyarakat. Di tengah dinamika ekonomi yang terus berkembang, bantuan pangan terbukti mampu membantu masyarakat memenuhi kebutuhan pokok sekaligus menjaga stabilitas konsumsi rumah tangga. Program ini juga menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mencegah meningkatnya kerentanan sosial akibat tekanan ekonomi.

    Selama setahun terakhir, pemerintah juga mencatat sejumlah keberhasilan dalam memperkuat kesejahteraan masyarakat. Berbagai kebijakan berhasil menjaga inflasi tetap terkendali, memperkuat cadangan pangan nasional, memperluas jangkauan bantuan sosial, serta meningkatkan efektivitas distribusi logistik ke berbagai daerah. Selain itu, pemerintah terus memperkuat program perlindungan sosial melalui bantuan pangan, bantuan tunai, subsidi energi, dan berbagai kebijakan yang bertujuan menjaga daya beli masyarakat.

    Dalam bidang ketahanan pangan, pemerintah terus melakukan berbagai langkah strategis, mulai dari penguatan cadangan pangan pemerintah hingga stabilisasi pasokan dan harga komoditas penting. Berbagai upaya tersebut dilakukan untuk memastikan masyarakat tetap memiliki akses terhadap pangan yang cukup, aman, dan terjangkau. Langkah ini menjadi penting mengingat ketahanan pangan merupakan salah satu fondasi utama dalam menjaga stabilitas ekonomi dan sosial nasional.

    Penambahan bantuan pangan beras selama tiga bulan pada tahun 2026 menunjukkan komitmen pemerintah dalam melindungi masyarakat yang membutuhkan. Kebijakan ini tidak hanya membantu meringankan beban ekonomi jutaan keluarga rentan, tetapi juga berperan menjaga stabilitas harga pangan dan memperkuat ketahanan sosial nasional. Karena itu, dukungan seluruh pihak diperlukan agar distribusi bantuan dapat berjalan tepat sasaran dan memberikan manfaat optimal bagi masyarakat. Dengan kerja sama yang baik antara pemerintah dan seluruh pemangku kepentingan, upaya menjaga ketahanan pangan serta meningkatkan kesejahteraan rakyat diharapkan dapat terus berlanjut demi terciptanya Indonesia yang lebih kuat, sejahtera, dan berkeadilan.

    *)  Analis Ekonomi Kerakyatan

  • Bansos Beras Presiden Jadi Bantuan Strategis bagi Keluarga Penerima

    Oleh: Andika Prasetyo

    Komitmen pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat kembali diperkuat melalui kebijakan penambahan bantuan pangan beras bagi puluhan juta keluarga penerima manfaat di seluruh Indonesia. Di tengah tantangan ekonomi global, perubahan iklim, dan potensi kenaikan harga kebutuhan pokok, langkah ini menjadi strategi penting untuk memastikan masyarakat berpenghasilan rendah tetap mampu memenuhi kebutuhan pangan sehari-hari. Kebijakan tersebut sekaligus menunjukkan keberpihakan pemerintah kepada kelompok rentan agar tidak terdampak gejolak ekonomi yang dapat memengaruhi kesejahteraan rumah tangga.

    Pemerintah memutuskan menambah alokasi bantuan pangan beras selama tiga periode penyaluran kepada sekitar 33,24 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM). Setiap keluarga akan menerima 10 kilogram beras pada setiap tahap penyaluran. Program ini diperkirakan membutuhkan sekitar satu juta ton beras untuk mendukung pelaksanaannya.

    Keputusan tersebut diambil dalam Rapat Koordinasi Terbatas yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan. Kebijakan ini merupakan tindak lanjut arahan Presiden yang menekankan pentingnya menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok sekaligus melindungi masyarakat dari tekanan ekonomi yang berpotensi muncul akibat berbagai faktor, baik domestik maupun global.

    Zulkifli Hasan menjelaskan bahwa pemerintah ingin memastikan harga bahan pokok tetap terkendali meskipun Indonesia akan memasuki musim kemarau yang berpotensi memengaruhi kondisi pangan nasional. Menurutnya, Presiden memberikan arahan agar tidak ada kebijakan yang membuat masyarakat semakin terbebani. Karena itu, pemerintah memutuskan memperpanjang bantuan pangan beras selama tiga bulan tambahan sebagai bentuk perlindungan sosial bagi masyarakat yang membutuhkan.

    Kebijakan tersebut juga ditujukan untuk menjaga ketahanan pangan rumah tangga berpenghasilan rendah. Di tengah ketidakpastian ekonomi dan fluktuasi nilai tukar yang dapat memengaruhi harga berbagai komoditas, bantuan beras menjadi instrumen penting untuk mengurangi beban pengeluaran masyarakat. Dengan cakupan penerima yang mencapai lebih dari 33 juta keluarga, program ini diharapkan mampu menjaga stabilitas konsumsi pangan sekaligus memperkuat daya beli kelompok rentan.

    Penyaluran bantuan dijadwalkan mulai berlangsung pada Juli 2026. Sementara dua tahap berikutnya akan disesuaikan dengan kondisi musim paceklik dan perkembangan situasi pangan nasional. Pemerintah menilai pendekatan tersebut penting agar bantuan dapat diberikan pada waktu yang paling dibutuhkan masyarakat.

    Dari sisi kesiapan stok dan distribusi, pemerintah memastikan seluruh kebutuhan program telah dipersiapkan dengan baik. Direktur Utama Perum Bulog Letnan Jenderal TNI (Purn) Ahmad Rizal Ramdhani menyampaikan bahwa berbagai langkah strategis telah dilakukan untuk mengantisipasi dinamika harga beras di sejumlah daerah. Upaya tersebut mencakup percepatan distribusi bantuan pangan serta optimalisasi penyaluran beras Program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) ke pasar-pasar rakyat.

    Menurut Ahmad Rizal Ramdhani, kombinasi antara bantuan pangan dan distribusi beras SPHP menjadi langkah efektif untuk menjaga keseimbangan pasokan dan harga di pasar domestik. Melalui strategi tersebut, masyarakat diharapkan tetap dapat memperoleh beras dengan harga yang terjangkau sekaligus mendukung stabilitas pangan nasional.

    Ketersediaan stok nasional menjadi faktor utama yang memperkuat keyakinan pemerintah dalam menjalankan program ini. Hingga awal Juni 2026, cadangan beras yang dikelola Bulog mencapai sekitar 5,3 juta ton. Jumlah tersebut dinilai sangat memadai untuk memenuhi kebutuhan bantuan pangan, pelaksanaan program SPHP, serta berbagai intervensi pemerintah guna menjaga stabilitas pasokan dan harga beras di seluruh Indonesia.

    Realisasi penyaluran bantuan juga menunjukkan perkembangan yang positif. Hingga 6 Juni 2026, distribusi bantuan pangan beras telah mencapai hampir 60 persen dari target nasional dan telah diterima oleh hampir 20 juta penerima bantuan pangan. Pemerintah menargetkan seluruh sisa alokasi bantuan dapat tersalurkan sebelum akhir Juni sehingga manfaatnya segera dirasakan masyarakat dan mampu mendukung penguatan daya beli.

    Selain bantuan pangan, Bulog juga terus memperluas distribusi beras SPHP. Hingga saat ini, penyalurannya telah mencapai sekitar 315 ribu ton melalui berbagai jalur resmi, termasuk pasar tradisional, kios pangan, jaringan pengecer yang bekerja sama dengan pemerintah daerah, serta kegiatan Gerakan Pangan Murah di berbagai wilayah. Program tersebut bertujuan memastikan masyarakat tetap memiliki akses terhadap beras berkualitas dengan harga yang terjangkau.

    Keberhasilan pemerintah selama setahun terakhir menjadi modal penting dalam mendukung pelaksanaan program ini. Produksi pangan nasional menunjukkan tren yang positif, cadangan beras pemerintah berada pada level yang kuat, inflasi pangan relatif terkendali, dan berbagai program bantuan sosial terus diperkuat. Pemerintah juga berhasil menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tantangan global melalui kebijakan yang berfokus pada perlindungan masyarakat rentan, penguatan sektor pertanian, dan peningkatan efektivitas distribusi pangan.

    Dengan dukungan stok beras yang besar serta jaringan distribusi yang luas, pemerintah optimistis kebutuhan pangan masyarakat tetap dapat terpenuhi. Bulog bersama Badan Pangan Nasional dan berbagai pemangku kepentingan terus memperkuat koordinasi guna memastikan stabilitas harga tetap terjaga dan pasokan pangan tersedia secara memadai di seluruh wilayah Indonesia.

    Pada akhirnya, tambahan bantuan pangan beras merupakan langkah strategis pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus melindungi kesejahteraan masyarakat. Program ini diharapkan mampu membantu keluarga penerima manfaat menghadapi berbagai tantangan ekonomi, menjaga daya beli, dan memastikan kebutuhan pangan tetap terpenuhi. Dukungan seluruh pihak diperlukan agar penyaluran bantuan berjalan tepat sasaran dan manfaatnya dapat dirasakan secara optimal oleh masyarakat yang membutuhkan.

    *) Peneliti Ekonomi Pangan dan Pembangunan Daerah

  • Subsidi Beras 10 Kg Diperpanjang Pemerintah demi Jangkau 33 Juta KPM

    Jakarta – Pemerintah memperpanjang program bantuan pangan berupa beras 10 kilogram dengan menambah masa penyaluran menjadi tiga bulan pada tahun 2026. Kebijakan ini ditujukan untuk menjaga daya beli masyarakat sekaligus memastikan sekitar 33,2 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) tetap memperoleh kebutuhan pangan pokok di tengah ketidakpastian ekonomi dan potensi kenaikan harga bahan pangan.

    Keputusan tersebut diambil dalam rapat koordinasi terbatas yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan. Melalui program ini, setiap keluarga penerima manfaat akan menerima bantuan beras sebanyak 10 kilogram pada setiap tahap distribusi. Pemerintah menilai langkah tersebut penting untuk memperkuat perlindungan sosial bagi masyarakat rentan serta menjaga stabilitas harga pangan nasional.

    Zulkifli Hasan menjelaskan bahwa tambahan bantuan pangan diberikan sebagai langkah antisipasi menghadapi musim kemarau yang berpotensi memengaruhi produksi pangan di sejumlah wilayah. Selain itu, kebijakan ini juga bertujuan menjaga harga kebutuhan pokok agar tetap terkendali dan tidak membebani masyarakat.

    “Pemerintah memperkirakan musim kemarau akan segera berlangsung dan perkembangan kondisi pangan terus dipantau. Sesuai arahan Presiden, harga kebutuhan pokok harus tetap terkendali dan masyarakat tidak boleh merasakan kesulitan akibat kenaikan harga. Karena itu, bantuan pangan beras diputuskan untuk diperpanjang selama tiga bulan,” ujar Zulkifli Hasan.

    Penyaluran tahap pertama dijadwalkan dimulai pada Juli 2026. Sementara dua tahap berikutnya akan disesuaikan dengan kondisi pangan nasional dan potensi masa paceklik di berbagai daerah. Untuk mendukung program tersebut, pemerintah menyiapkan hampir satu juta ton beras.

    “Jika dihitung untuk tiga kali distribusi dengan alokasi 10 kilogram bagi 33,2 juta keluarga penerima manfaat, kebutuhan berasnya mendekati satu juta ton. Langkah ini dilakukan agar hampir 34 juta warga yang tergolong rentan tetap terlindungi dari dampak perubahan nilai tukar maupun tekanan ekonomi lainnya,” katanya.

    Kebijakan ini juga mendapat dukungan dari Deputi Bidang Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa.

    “Badan Pangan Nasional mendukung penuh langkah pemerintah dalam menjaga kestabilan pangan masyarakat. Program bantuan pangan menjadi salah satu upaya untuk memastikan pasokan pangan tetap tersedia serta memberikan perlindungan bagi kelompok masyarakat yang paling rentan,” ujar Ketut Astawa.

    Melalui program ini, pemerintah berharap kebutuhan pangan masyarakat rentan tetap terpenuhi serta stabilitas harga pangan nasional dapat terus terjaga sepanjang tahun 2026.