Kategori: Uncategorized

  • Deregulasi dan Kemudahan Berusaha untuk Mendorong Investasi

    Oleh : Antonius Utomo

    Menghadapi tantangan ekonomi global yang kian kompetitif, langkah pemerintah mempercepat deregulasi dan kemudahan berusaha menjadi sebuah keharusan strategis, bukan lagi sekadar pilihan. Gelombang kebijakan baru yang meluncur beberapa bulan terakhir menandai babak baru dalam upaya mendongkrak pertumbuhan ekonomi nasional. Kendati demikian, efektivitas dari pemangkasan birokrasi ini akan sangat bergantung pada konsistensi pengawasan di tingkat daerah, tempat di mana komitmen investasi tersebut benar-benar diuji di lapangan.

    Langkah deregulasi dinilai menjadi strategi krusial karena hambatan investasi di Indonesia tidak pernah tunggal. Persoalannya tidak hanya berkaitan dengan seberapa besar insentif fiskal yang ditawarkan, tetapi juga menyangkut kompleksitas regulasi dan proses birokrasi yang panjang serta tumpang tindih. Oleh karena itu, pemerintah kini dituntut untuk memastikan bahwa setiap regulasi yang diterbitkan mampu memberikan kepastian hukum yang kokoh, sekaligus mendukung percepatan realisasi investasi di berbagai sektor strategis secara nyata.

    Aksi nyata dari komitmen ini salah satunya ditunjukkan oleh Kementerian Perdagangan melalui penerbitan aturan kembar, yaitu Permendag Nomor 5 dan Nomor 6 Tahun 2026. Regulasi anyar di bidang ekspor ini sengaja diluncurkan untuk mempercepat deregulasi dan memberikan karpet merah bagi kemudahan berusaha, khususnya pada sejumlah komoditas strategis seperti timah, batu bara, serta minyak dan gas bumi.

    Menteri Perdagangan Budi Santoso menegaskan bahwa penerbitan kedua Permendag tersebut merupakan bagian dari upaya masif pemerintah dalam menyederhanakan proses ekspor. Melalui aturan ini, pemerintah melakukan relaksasi terhadap sejumlah ketentuan lama dengan mengurangi dokumen larangan dan pembatasan (lartas), menghapus beberapa kewajiban administratif yang berbelit, serta memangkas hambatan perizinan yang selama ini dikeluhkan memperlambat perputaran roda usaha. Langkah ini diharapkan mampu mendongkrak efisiensi industri ekspor sekaligus meningkatkan taji pelaku usaha Indonesia di tengah sengitnya dinamika perdagangan global.

    Namun, menyederhanakan regulasi di tingkat kementerian saja tentu tidak cukup. Menyadari ego sektoral yang sering kali menjadi batu sandungan, Presiden Prabowo Subianto mengambil langkah taktis dengan membentuk Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Deregulasi. Pembentukan satgas ini dinilai sangat mendesak untuk menyisir dan memangkas berbagai regulasi serta perizinan berusaha yang selama ini dinilai terlalu berlapis dan membingungkan investor.

    Keberadaan satgas deregulasi ini diyakini dapat menjadi jembatan yang memperbaiki arus investasi nasional, dengan catatan, mereka mampu bertindak tegas menghapus aturan yang tidak efektif dan mempercepat jalur koordinasi horizontal antar-kementerian maupun koordinasi vertikal dengan pemerintah daerah. Dengan birokrasi yang lebih ramping, investor akan memperoleh kepastian hukum dan kepastian waktu yang jauh lebih baik. Imbas positifnya, minat untuk menanamkan modal di Indonesia akan meningkat secara linear, yang pada gilirannya mampu mendorong percepatan proyek strategis nasional, terutama di sektor hilirisasi industri, infrastruktur, energi, dan manufaktur.

    Kebijakan progresif ini sejauh ini mendapat respons positif dari para pelaku pasar. Fleksibilitas regulasi dinilai dapat mempercepat arus barang, memangkas biaya logistik yang tinggi, dan memberikan ruang gerak yang lebih luas bagi dunia usaha untuk berekspansi. Di tengah dinamika geopolitik dan perdagangan internasional yang terus bergejolak, fleksibilitas dan kecepatan adaptasi regulasi adalah modal utama agar Indonesia tidak kehilangan momentum dan mampu memenangkan persaingan dengan negara-negara tetangga di kawasan ASEAN.

    Optimisme terhadap perbaikan iklim investasi Indonesia ini pun bukan tanpa bukti. Berdasarkan laporan terbaru, realisasi investasi asing pada kuartal pertama tahun 2026 menunjukkan tren peningkatan yang signifikan, terutama pada sektor prioritas. Investasi asal China, misalnya, tercatat melonjak tajam pada sektor hilirisasi yang memang menjadi tulang punggung fokus pembangunan pemerintah saat ini. Lonjakan angka ini menjadi sinyal kuat bahwa kebijakan deregulasi mulai memulihkan kepercayaan para pemodal kakap terhadap prospek jangka panjang ekonomi Indonesia.

    Di sisi lain, tulang punggung dari seluruh proses deregulasi ini adalah transformasi digital dalam pelayanan perizinan. Sistem layanan berbasis elektronik, seperti optimalisasi Online Single Submission (OSS), memungkinkan proses pengajuan izin menjadi lebih cepat, transparan, dan terintegrasi dari pusat hingga ke daerah. Pelaku usaha kini dapat mengakses berbagai layanan secara daring tanpa harus melewati labirin administratif yang melelahkan. Langkah digitalisasi ini tidak hanya memangkas waktu, tetapi juga menjadi instrumen efektif untuk menutup celah praktik pungutan liar dan birokrasi tidak produktif yang selama ini merusak citra investasi kita.

    Ke depan, konsistensi dan nyali untuk menjalankan reformasi birokrasi secara total akan menjadi kunci penentu. Kolaborasi yang sinergis antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat sipil harus terus dijaga agar regulasi yang sudah bagus di tingkat pusat tidak layu saat diimplementasikan di daerah. Dengan komitmen politik yang kuat serta dukungan kebijakan yang adaptif, deregulasi dan kemudahan berusaha akan benar-benar menjadi motor penggerak utama dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang tangguh, adil, dan berkelanjutan.

    )* Pengamat Kebijakan Publik

  • Investasi dan Iklim Usaha yang Lebih Kompetitif di Era Presiden Prabowo

    Oleh : Karina Fitri

    Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menghadapi tantangan besar dalam menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional di tengah situasi global yang masih dibayangi perlambatan ekonomi, ketegangan geopolitik, serta persaingan investasi antarnegara yang semakin kompetitif. Dalam konteks tersebut, penguatan iklim investasi menjadi langkah strategis untuk memastikan Indonesia tetap menjadi tujuan utama penanaman modal yang mampu mendorong penciptaan lapangan kerja, memperkuat industri nasional, dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat secara berkelanjutan. Pemerintah menyadari bahwa investasi tidak lagi cukup dipandang sekadar sebagai angka statistik pertumbuhan ekonomi, melainkan harus mampu menciptakan dampak nyata terhadap peningkatan kualitas hidup masyarakat dan penguatan ekonomi nasional secara menyeluruh.

    Komitmen pemerintah dalam memperbaiki iklim usaha tercermin melalui berbagai kebijakan reformasi birokrasi dan percepatan penyelesaian hambatan investasi. Salah satu langkah penting yang kini mendapat perhatian luas adalah penguatan Kanal Debottlenecking melalui Satgas Percepatan Program Pemerintah untuk Mendukung Peningkatan Pertumbuhan Ekonomi. Kehadiran kanal tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menciptakan sistem penyelesaian masalah investasi yang lebih cepat, responsif, dan terkoordinasi. Selama ini, berbagai hambatan seperti perizinan yang berbelit, tumpang tindih regulasi, persoalan logistik, hingga koordinasi lintas kementerian dan pemerintah daerah sering menjadi keluhan utama investor. Kondisi tersebut tidak hanya memperlambat realisasi investasi, tetapi juga memengaruhi tingkat kepercayaan pelaku usaha terhadap stabilitas kebijakan nasional.

    Melalui pendekatan debottlenecking, pemerintah berupaya membangun pola komunikasi yang lebih terbuka dengan dunia usaha. Investor diberikan ruang untuk menyampaikan kendala secara langsung sehingga penyelesaiannya dapat dilakukan secara lebih efektif dan terukur. Pendekatan ini mencerminkan perubahan paradigma pemerintah yang tidak lagi bekerja secara administratif semata, tetapi lebih adaptif terhadap dinamika kebutuhan pelaku usaha. Dalam persaingan global saat ini, negara yang mampu memberikan kepastian hukum, efisiensi birokrasi, dan respons cepat terhadap persoalan investasi akan memiliki daya saing lebih tinggi dibanding negara yang masih terjebak dalam prosedur panjang dan tidak sinkron.

    Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menekankan pentingnya kepastian hukum, konsistensi kebijakan, serta iklim usaha yang sehat menunjukkan bahwa pemerintah memahami kebutuhan utama investor modern. Dunia usaha membutuhkan jaminan bahwa kebijakan ekonomi tidak berubah secara tiba-tiba dan seluruh proses investasi dapat dijalankan secara transparan. Dalam situasi ekonomi global yang penuh ketidakpastian, kepercayaan menjadi faktor utama yang menentukan arus investasi masuk ke suatu negara. Oleh karena itu, langkah pemerintah memperkuat koordinasi lintas sektor menjadi sinyal positif bahwa Indonesia sedang bergerak menuju tata kelola investasi yang lebih profesional dan kompetitif.

    Selain itu, peran diplomasi ekonomi juga menjadi elemen penting dalam memperkuat posisi Indonesia di mata investor global. Wakil Menteri Luar Negeri Arif Havas Oegroseno menegaskan bahwa persaingan investasi internasional kini tidak hanya bergantung pada pemberian insentif, tetapi juga pada tingkat efisiensi, stabilitas ekonomi, dan kepercayaan terhadap institusi negara. Pernyataan tersebut menggambarkan bahwa pemerintah tidak hanya berfokus pada promosi investasi, tetapi juga membangun reputasi Indonesia sebagai negara yang memiliki kepastian regulasi dan daya tahan ekonomi yang kuat. Diplomasi ekonomi yang aktif akan memperluas peluang kerja sama strategis sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam rantai pasok global.

    Di sisi lain, orientasi investasi yang dibangun pemerintahan Presiden Prabowo juga perlu diarahkan pada kepentingan yang lebih luas, yakni penciptaan lapangan kerja dan penguatan ekonomi rakyat. Pandangan Anggota Komisi XI DPR RI Marwan Cik Asan menjadi pengingat penting bahwa keberhasilan investasi tidak boleh hanya diukur dari besarnya modal yang masuk, tetapi juga dari dampaknya terhadap masyarakat. Investasi yang berkualitas adalah investasi yang mampu menyerap tenaga kerja formal, meningkatkan pendapatan masyarakat, serta memperkuat kapasitas industri nasional. Oleh karena itu, fokus pada sektor-sektor padat karya seperti manufaktur berbasis sumber daya lokal, agroindustri, industri pangan, ekonomi kreatif, dan UMKM modern menjadi langkah yang relevan dengan kebutuhan pembangunan nasional saat ini.

    Pendekatan tersebut sejalan dengan visi transformasi ekonomi yang lebih inklusif. Indonesia membutuhkan model pertumbuhan yang tidak hanya menguntungkan kelompok tertentu, tetapi mampu menghadirkan manfaat bagi masyarakat luas hingga tingkat daerah. Hilirisasi ekonomi yang selama ini identik dengan sektor mineral perlu diperluas ke sektor pertanian, perikanan, perkebunan, dan UMKM agar masyarakat memperoleh nilai tambah dari proses produksi dan pengolahan. Dengan demikian, investasi tidak hanya memperkuat pertumbuhan ekonomi makro, tetapi juga mempercepat pemerataan kesejahteraan dan mengurangi kesenjangan ekonomi antarwilayah.

    Era pemerintahan Presiden Prabowo membuka peluang besar bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan. Dengan kombinasi reformasi birokrasi, penyelesaian hambatan investasi, penguatan diplomasi ekonomi, hilirisasi industri, serta pembangunan sumber daya manusia, Indonesia memiliki fondasi kuat untuk menciptakan iklim usaha yang semakin kompetitif. Keberhasilan agenda tersebut akan menjadi penentu penting dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif, berkelanjutan, dan mampu memberikan manfaat nyata bagi seluruh lapisan masyarakat.

    *Penulis adalah Pengamat Ekonomi

  • Danantara Perkuat Tata Kelola Aset dan Investasi BUMN

    Jakarta – Pemerintah terus memperkuat pengelolaan aset dan investasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melalui peran Danantara dan Badan Pengelola (BP) BUMN. Langkah tersebut dilakukan guna memastikan aset negara dapat memberikan kontribusi optimal bagi pertumbuhan ekonomi nasional serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

    Penguatan tata kelola dilakukan melalui strategi investasi yang lebih disiplin, profesional, dan berbasis mitigasi risiko. Upaya tersebut dinilai mulai menunjukkan hasil positif melalui optimalisasi aset-aset BUMN dengan pendekatan investasi yang lebih terukur dan inovatif.

    Kepala BP BUMN sekaligus COO Danantara, Dony Oskaria menegaskan bahwa seluruh BUMN harus mampu menjaga profitabilitas dengan memperkuat tata kelola perusahaan dan meningkatkan efisiensi operasional.

    “BUMN harus memastikan setiap aset dan modal yang dikelola dapat bekerja optimal untuk menciptakan nilai tambah yang berkelanjutan bagi negara dan masyarakat,” ujar Dony Oskaria.

    Selain fokus pada peningkatan keuntungan, Danantara dan BP BUMN juga mendorong perusahaan-perusahaan pelat merah agar semakin efektif dan efisien dalam menjalankan bisnis. Fokus tersebut meliputi pengendalian biaya, optimalisasi aset, kemampuan membaca dinamika pasar global, pemanfaatan teknologi, hingga penguatan mitigasi risiko investasi.

    “Fokus tersebut mencakup pengendalian biaya, optimalisasi aset, kemampuan membaca dinamika pasar global, pemanfaatan teknologi, hingga penguatan mitigasi risiko investasi,” kata Dony.

    Pemerintah berharap strategi tersebut mampu meningkatkan kinerja dan profitabilitas BUMN secara berkelanjutan sehingga dapat memperbesar kontribusi dividen negara serta memperkuat nilai aset nasional.

    Sementara itu, Presiden RI Prabowo Subianto menjelaskan bahwa Danantara merupakan dana kedaulatan Indonesia yang memiliki peran strategis dalam mengelola kekayaan negara untuk masa depan bangsa.

    “Danantara itu adalah dana kedaulatan kita, singkatan Daya Anagata Nusantara. Daya artinya energi, kekuatan. Anagata masa depan. Jadi mereka mengelola kekayaan seluruh bangsa untuk anak dan cucu kita seluruhnya,” ujar Prabowo.

    Presiden juga mengungkapkan bahwa aset yang dikelola Danantara memiliki nilai sangat besar, mencakup sekitar 1.040 BUMN dengan total aset hampir mencapai US$ 1 triliun atau sekitar Rp17.000 triliun. Karena itu, pengelolaan dana dan aset negara harus dilakukan secara hati-hati, transparan, dan akuntabel.

    “Yang dikelola nggak tanggung-tanggung, ada 1.040 BUMN. Kemudian nilainya ya hampir semuanya itu US$ 1 triliun, itu Rp17.000 triliun. Jadi harus diurus baik-baik ya, Pak Dony sama semua stafnya, jangan bocor, jangan menguap uang itu, uang rakyat itu ya,” tutur Prabowo.

    Penguatan tata kelola Danantara diharapkan menjadi langkah strategis dalam menjaga keberlanjutan aset negara sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika ekonomi global yang semakin kompetitif.

  • Danantara Didorong Jadi Penggerak Investasi Strategis Nasional

    Jakarta – Sentimen positif investasi dan kepercayaan investor global menjadi target utama dalam langkah pemulihan ekonomi nasional terbaru. Melalui optimalisasi BPI Danantara, pengelolaan perdagangan komoditas nasional kini disinergikan erat dengan penguatan pasar modal dalam negeri.

    Chief Executive Officer Danantara, Rosan Perkasa Roeslani, memastikan badan usaha yang akan menangani ekspor komoditas melalui mekanisme satu pintu segera berstatus Badan Usaha Milik Negara (BUMN). Entitas bernama PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) saat ini tengah menyelesaikan proses administrasi sebelum resmi menjadi BUMN.

    “Kebijakan ekspor satu pintu ini bagian dari strategi besar pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat kendali negara atas sumber daya alam serta mengoptimalkan penerimaan devisa negara,” ujar Rosan.

    Ia menjelaskan bahwa keberadaan PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperkuat pengelolaan sumber daya alam nasional secara lebih terintegrasi dan efisien. Minggu depan statusnya sudah berubah menjadi BUMN.

    Rosan juga menilai pasar modal Indonesia masih memiliki prospek jangka panjang yang sangat menjanjikan. Menurutnya, saham-saham BUMN, khususnya sektor perbankan dan mineral, masih menawarkan valuasi yang menarik dengan potensi pertumbuhan yang besar.

    “Perbaikan yang dilakukan saat ini merupakan sebuah proses menuju pasar modal yang lebih baik dan lebih dipercaya investor,” ungkap Rosan.

    Ia menegaskan, meski pasar saham mengalami dinamika naik turun, fundamental perusahaan-perusahaan Indonesia dinilai tetap kuat dan mampu menjadi daya tarik investasi strategis nasional ke depan.

    “Pasar modal pasti mengalami ups and downs, tetapi jika melihat fundamental perusahaan, valuasi, dan potensi pertumbuhan investor, kami yakin bursa Indonesia akan terus bertumbuh,” pungkas Rosan.

    Di sisi lain, penguatan peran Danantara juga berjalan seiring dengan upaya memperkuat fundamental pasar modal Indonesia. Ketua Dewan Komisioner Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Friderica Widyasari Dewi, menilai pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dalam beberapa waktu terakhir masih berada dalam kondisi moderat dan lebih dipengaruhi dinamika global.

    “Pelemahan IHSG saat ini masih moderat dan merupakan bagian dari penyesuaian pasar yang berbasis fundamental,” kata Friderica.

    Pasang surut pasar modal domestik saat ini merupakan proses pendewasaan yang justru memperkuat struktur ekonomi nasional. Melalui reformasi berkelanjutan yang diiringi penguatan peran Danantara, pasar keuangan Indonesia kini bertransformasi menjadi ekosistem yang lebih sehat.

  • Danantara dan Upaya Mengoptimalkan Aset Negara untuk Pertumbuhan Ekonomi

    Oleh : Rivka Mayangsari*)

    Pemerintah terus memperkuat fondasi ekonomi nasional melalui berbagai langkah strategis yang berorientasi pada kemandirian dan keberlanjutan pembangunan. Salah satu langkah penting tersebut diwujudkan melalui pembentukan Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara), yang diperkenalkan langsung oleh Presiden RI Prabowo Subianto saat menghadiri panen raya udang di Kebumen, Jawa Tengah. Kehadiran Danantara menjadi simbol baru komitmen pemerintah dalam mengoptimalkan pengelolaan aset negara secara profesional, transparan, dan berorientasi jangka panjang demi kesejahteraan rakyat Indonesia.

    Presiden Prabowo menegaskan bahwa Danantara dibentuk sebagai sovereign wealth fund atau dana kedaulatan negara yang memiliki tugas utama mengonsolidasikan serta mengoptimalkan aset-aset strategis nasional. Melalui lembaga ini, pemerintah ingin memastikan bahwa kekayaan negara dapat dikelola secara lebih efektif untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional dan mendukung pembiayaan pembangunan secara berkelanjutan.

    Pembentukan Danantara menunjukkan arah baru pengelolaan ekonomi nasional yang lebih modern dan terintegrasi. Selama ini, berbagai aset strategis negara tersebar di banyak sektor dan lembaga sehingga potensi optimalisasinya belum sepenuhnya maksimal. Dengan adanya Danantara, pemerintah berupaya menghadirkan sistem pengelolaan investasi yang lebih terpusat, profesional, dan mampu menghasilkan nilai tambah ekonomi yang lebih besar bagi negara.

    Presiden menekankan bahwa pengelolaan aset negara harus dilakukan dengan penuh kehati-hatian dan tanggung jawab. Menurutnya, setiap rupiah kekayaan negara merupakan milik rakyat yang harus dijaga dan dimanfaatkan sebesar-besarnya untuk kepentingan nasional. Karena itu, Danantara diharapkan mampu mencegah kebocoran anggaran sekaligus memastikan setiap investasi yang dilakukan memberikan manfaat nyata bagi pembangunan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat.

    Langkah ini juga menjadi bagian dari strategi besar pemerintah dalam memperkuat kemandirian ekonomi Indonesia. Dengan pengelolaan aset negara yang lebih optimal, Indonesia diharapkan mampu mengurangi ketergantungan terhadap utang luar negeri dalam pembiayaan pembangunan. Pemerintah ingin memastikan bahwa sumber daya dan kekayaan nasional dapat menjadi modal utama dalam membangun masa depan ekonomi bangsa yang lebih kuat dan berdaulat.

    Selain memperkuat ketahanan ekonomi, keberadaan Danantara juga diarahkan untuk meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global. Pengelolaan investasi yang profesional diyakini akan meningkatkan kepercayaan investor internasional terhadap Indonesia. Dengan demikian, peluang masuknya investasi baru akan semakin terbuka, yang pada akhirnya berdampak pada penciptaan lapangan kerja, pertumbuhan industri nasional, dan peningkatan kesejahteraan masyarakat.

    Optimisme terhadap pembentukan Danantara juga datang dari kalangan ekonom. Ekonom Senior Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Aviliani, menilai Danantara akan memiliki otoritas yang lebih kuat dalam mengelola dividen, menjalankan restrukturisasi, serta memastikan investasi negara dikelola berdasarkan prinsip tata kelola yang efisien dan akuntabel.

    Menurut Aviliani, pengelolaan aset negara yang lebih terkoordinasi akan memberikan dampak besar terhadap stabilitas modal dan kemampuan ekspansi investasi pemerintah. Dengan sistem yang lebih terintegrasi, pemerintah dapat memperkuat sinergi antar perusahaan milik negara sehingga mampu mencapai target ekonomi jangka panjang secara lebih efektif.

    Ia menilai bahwa langkah pemerintah membentuk Danantara merupakan kelanjutan dari transformasi besar yang selama ini telah dilakukan di lingkungan BUMN. Berbagai kebijakan seperti klasterisasi bisnis, merger, hingga pembentukan holding perusahaan terbukti berhasil meningkatkan efisiensi serta memperkuat daya saing perusahaan negara. Kebijakan tersebut juga dinilai berhasil meningkatkan kepercayaan publik terhadap kinerja BUMN Indonesia.

    Aviliani menyoroti keberhasilan sejumlah BUMN nasional yang kini mampu tampil sebagai perusahaan kelas dunia. Di sektor perbankan misalnya, nama-nama besar seperti Bank Mandiri, BNI, dan BRI dinilai telah menunjukkan daya saing global yang semakin kuat. Ketiga bank tersebut mampu menjaga kinerja dan stabilitasnya bahkan di tengah tekanan ekonomi global dan situasi krisis.

    Menurutnya, kekuatan modal dan resiliensi perbankan BUMN menjadi bukti bahwa perusahaan negara Indonesia memiliki kapasitas besar untuk menjalankan berbagai penugasan strategis dari pemerintah. Kondisi tersebut sekaligus memperkuat keyakinan bahwa pengelolaan aset negara melalui Danantara memiliki fondasi yang kokoh untuk berkembang secara berkelanjutan.

    Pembentukan Danantara juga mencerminkan paradigma baru pembangunan nasional yang menempatkan aset negara sebagai instrumen strategis untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Pemerintah tidak lagi hanya berfokus pada pengelolaan anggaran jangka pendek, tetapi mulai membangun sistem investasi jangka panjang yang mampu memberikan manfaat lintas generasi.

    Dengan pengelolaan yang profesional, Danantara diharapkan mampu menjadi motor penggerak investasi nasional di berbagai sektor strategis, mulai dari infrastruktur, energi, pangan, industri hilirisasi, hingga teknologi. Investasi yang tepat sasaran akan memperkuat struktur ekonomi nasional sekaligus memperluas peluang kerja bagi masyarakat Indonesia.

    Keberadaan Danantara menjadi bukti bahwa pemerintah serius membangun ekonomi nasional yang lebih mandiri, modern, dan berdaya saing tinggi. Melalui optimalisasi aset negara, Indonesia memiliki peluang besar untuk memperkuat posisi sebagai kekuatan ekonomi baru di tingkat global. Dengan dukungan tata kelola yang transparan, sinergi antar BUMN, serta pengawasan yang kuat, Danantara diyakini akan menjadi fondasi penting dalam mewujudkan pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan dan kesejahteraan rakyat yang lebih merata.

    *) Pemerhati ekonomi

  • Penguatan Tata Kelola Komoditas melalui Danantara

    Oleh: Nur Utunissa*

    Penguatan tata kelola komoditas nasional kembali menjadi fokus penting dalam arah pembangunan ekonomi Indonesia. Di tengah dinamika perdagangan global yang semakin kompetitif, pemerintah mulai mendorong sistem pengelolaan sumber daya alam yang lebih terintegrasi, transparan, dan berorientasi pada kepentingan nasional.

    Salah satu langkah strategis yang kini menjadi perhatian adalah penguatan peran Danantara dalam pengelolaan ekspor komoditas strategis Indonesia. Kebijakan ini dipandang sebagai upaya memastikan kekayaan sumber daya alam benar-benar memberikan manfaat optimal bagi pembangunan nasional, penguatan devisa, serta ketahanan ekonomi jangka panjang.

    Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia menghadapi tantangan besar dalam tata niaga komoditas. Sebagai salah satu eksportir utama batu bara, minyak sawit, dan mineral strategis lainnya, Indonesia memiliki posisi penting dalam rantai pasok global.

    Namun, besarnya potensi tersebut dinilai belum sepenuhnya memberikan dampak maksimal terhadap penerimaan negara maupun penguatan ekonomi domestik. Pemerintah melihat masih adanya celah dalam pengawasan transaksi perdagangan, termasuk persoalan ketidaksesuaian pencatatan nilai ekspor, lemahnya kontrol devisa hasil ekspor, hingga praktik transfer pricing yang merugikan kepentingan nasional.

    Dalam kerangka memperkuat pengawasan tersebut, Badan Pengelola Investasi Danantara membentuk PT Danantara Sumberdaya Indonesia guna memperbaiki tata kelola ekspor komoditas strategis nasional sekaligus mencegah praktik perdagangan ilegal. Kehadiran perusahaan baru ini diproyeksikan menjadi instrumen strategis dalam memperkuat kontrol negara terhadap arus perdagangan sumber daya alam yang selama ini menjadi salah satu penopang utama perekonomian nasional.

    Pemerintah juga menunjuk mantan direktur PT Vale Indonesia Tbk (INCO), Luke Thomas Mahony, sebagai Direktur Utama PT Danantara Sumberdaya Indonesia. Penunjukan figur yang memiliki pengalaman panjang di sektor industri sumber daya alam tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah dalam membangun tata kelola komoditas yang profesional dan mampu menjawab tantangan perdagangan global yang semakin kompleks. Struktur lengkap kepengurusan perusahaan baru ini akan diumumkan setelah penguatan tim internal selesai dilakukan.

    Langkah pembentukan PT Danantara Sumberdaya Indonesia menjadi bagian dari desain besar pemerintah dalam membangun sistem perdagangan nasional yang lebih tertata dan terintegrasi. Jika sebelumnya negara cenderung hanya menjadi regulator, kini pemerintah mulai mengambil peran lebih aktif dalam memastikan alur perdagangan strategis berjalan sesuai kepentingan nasional. Pendekatan tersebut dianggap penting mengingat komoditas strategis tidak hanya berkaitan dengan perdagangan biasa, tetapi juga menyangkut stabilitas ekonomi, ketahanan energi, kekuatan industri nasional, dan posisi tawar Indonesia di tingkat global.

    CEO Danantara, Rosan Roeslani menyatakan pembentukan badan usaha ini sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperketat pengawasan kegiatan ekspor sumber daya alam. Pengawasan intensif ini ditujukan untuk menghentikan kerugian negara akibat praktik kurang bayar, pemindahan harga, hingga pelarian devisa ke luar negeri.

    Di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, langkah penguatan tata kelola ini juga dinilai mampu memperkuat ketahanan ekonomi nasional. Pemerintah mendorong agar devisa hasil ekspor dapat lebih banyak tersimpan di dalam negeri sehingga memberi dampak langsung terhadap stabilitas nilai tukar dan likuiditas nasional. Dengan pengawasan yang lebih terstruktur, pemerintah berharap manfaat ekspor dapat lebih terasa bagi pembangunan nasional dan penguatan kapasitas fiskal negara.

    Managing Director Stakeholders Management & Communications Danantara Indonesia, Rohan Hafas mengatakan bahwa posisi PT Danantara Sumberdaya Indonesia berada langsung di bawah kendali induk Danantara yang memiliki kapasitas modal besar. Posisi strategis tersebut memperlihatkan bahwa perusahaan ini tidak hanya dibentuk sebagai entitas administratif semata, melainkan sebagai bagian penting dalam konsolidasi kekuatan ekonomi nasional yang lebih besar.

    Pembentukan mekanisme perdagangan yang lebih terpusat melalui Danantara juga menunjukkan upaya negara dalam membangun posisi tawar yang lebih kuat di pasar internasional. Indonesia selama ini dikenal sebagai produsen utama berbagai komoditas penting dunia.

    Komoditas strategis yang masuk dalam ruang lingkup pengelolaan korporasi ini meliputi minyak kelapa sawit mentah, batu bara, dan ferro alloy. Ketiga komoditas tersebut memiliki kontribusi besar terhadap penerimaan devisa nasional sekaligus memainkan peran penting dalam rantai pasok industri global. Dengan masuknya komoditas utama tersebut ke dalam sistem pengawasan yang lebih terintegrasi, pemerintah berharap tata niaga ekspor dapat berjalan lebih tertib, efisien, dan menguntungkan kepentingan nasional dalam jangka panjang.

    Langkah tersebut sekaligus mencerminkan semangat hilirisasi yang terus diperkuat pemerintah dalam beberapa tahun terakhir. Hilirisasi bukan hanya soal meningkatkan nilai tambah industri, tetapi juga menyangkut bagaimana negara mampu mengendalikan rantai distribusi dan perdagangan sumber daya alam secara lebih mandiri. Danantara diposisikan sebagai salah satu instrumen penting dalam membangun ekosistem ekonomi nasional yang tidak lagi bergantung pada pola lama yang cenderung menempatkan Indonesia hanya sebagai pemasok bahan mentah dunia.

    Di sisi lain, kebijakan ini juga membawa pesan penting mengenai pentingnya transparansi dalam pengelolaan kekayaan alam nasional. Dengan penguatan sistem pengawasan melalui Danantara, pemerintah ingin memastikan bahwa setiap transaksi perdagangan strategis dapat tercatat secara lebih akurat dan memberikan kontribusi nyata terhadap kepentingan nasional.

    *) Penulis adalah Penulis adalah Pegiat Literasi pada Narasi Nusa Institute

  • MBG di Papua Jadi Fondasi Baru Pembangunan Masyarakat Kampung

    PAPUA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Papua mulai menunjukkan peran pentingnya tidak hanya dalam pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga sebagai fondasi baru pembangunan ekonomi berbasis kampung. Program yang menyasar anak-anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita tersebut kini menghadirkan dampak langsung yang dirasakan masyarakat, mulai dari peningkatan kesehatan hingga terbukanya peluang usaha dan lapangan kerja baru.

    Melalui MBG, pemerintah menghadirkan pendekatan pembangunan manusia yang lebih menyentuh kebutuhan dasar masyarakat. Anak-anak sekolah yang sebelumnya menghadapi keterbatasan asupan gizi kini mulai mendapatkan makanan sehat dan bergizi secara rutin untuk mendukung proses belajar mereka.

    Gubernur Papua, Matius D Fakhiri, menegaskan bahwa program MBG menjadi langkah strategis untuk mempersiapkan generasi muda Papua yang lebih sehat dan produktif.

    “Pembangunan Papua tidak hanya soal infrastruktur, tetapi juga membangun kualitas manusianya. Anak-anak Papua harus tumbuh sehat agar siap menjadi generasi penerus yang kuat,” ujar Matius saat meninjau pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kabupaten Supiori.

    Pemerintah Provinsi Papua juga mendorong pemanfaatan hasil kebun dan tangkapan ikan masyarakat lokal untuk memenuhi kebutuhan dapur MBG. Kebijakan tersebut membuka peluang pasar baru bagi petani, nelayan, dan pelaku usaha kecil yang selama ini menghadapi keterbatasan distribusi hasil produksi.

    Kabupaten Supiori bahkan dipersiapkan menjadi salah satu daerah percontohan pengembangan dapur MBG di Papua dengan pembangunan 12 titik SPPG, termasuk di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Kehadiran dapur permanen MBG dinilai menjadi simbol keseriusan pemerintah dalam membangun pelayanan gizi jangka panjang.

    Program MBG juga menciptakan peluang kerja baru bagi masyarakat asli Papua. Setiap dapur MBG membutuhkan tenaga pengelola, distribusi, hingga pemasok bahan pangan lokal. Kondisi tersebut membuka ruang ekonomi baru bagi anak-anak muda Papua dan mama-mama Papua yang selama ini aktif berkebun maupun berdagang hasil bumi.

    Ketua Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Velix V Wanggai, mengatakan MBG harus dipandang sebagai bagian dari pembangunan ekosistem ekonomi masyarakat.

    “Program MBG menghubungkan sektor pertanian, perikanan, perdagangan lokal, pendidikan, hingga tenaga kerja dalam satu rantai pembangunan yang saling mendukung,” kata Velix.

    Sementara itu, Pelaksana Tugas Deputi Bidang Promosi dan Kerja Sama Badan Gizi Nasional, Gunalan, menilai Papua memiliki potensi besar dalam pengembangan menu berbasis pangan lokal seperti ikan, ubi, sagu, dan hasil kebun masyarakat.

    Melalui sinergi pemerintah pusat dan daerah, MBG diharapkan menjadi motor penggerak pembangunan masyarakat Papua yang lebih sehat, mandiri, dan sejahtera di masa depan.

  • Pemerintah Perkuat Tata Kelola Sekolah Rakyat Jelang Tahun Ajaran Baru

    Jakarta – Pemerintah terus menunjukkan komitmen kuat dalam memperkuat kualitas pendidikan nasional melalui pematangan penyelenggaraan program Sekolah Rakyat menjelang Tahun Ajaran 2026/2027. Program ini dinilai menjadi langkah strategis negara dalam menghadirkan pendidikan yang lebih inklusif, disiplin, modern, dan berorientasi pada pembentukan karakter generasi muda Indonesia.

    Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan bahwa penguatan tata kelola menjadi fondasi utama dalam keberhasilan Sekolah Rakyat. Menurutnya, sistem pendidikan berbasis asrama membutuhkan kesiapan yang lebih menyeluruh karena tidak hanya berfokus pada pembelajaran akademik, tetapi juga pembinaan mental, moral, dan kedisiplinan siswa selama 24 jam.

    “Pertemuan kita ini guna melakukan koordinasi menyamakan persepsi tentang beberapa hal yang perlu untuk kita tindaklanjuti dalam hari-hari ke depan berkaitan dengan penyelenggaraan Sekolah Rakyat tahun 2026-2027,” ujar Gus Ipul.

    Menurut Gus Ipul, Sekolah Rakyat bukan sekadar program pendidikan biasa, tetapi bagian dari upaya besar pemerintah untuk memutus rantai kemiskinan melalui peningkatan kualitas sumber daya manusia.

    “Sekolah Rakyat harus menjadi tempat yang mampu membangun harapan, menanamkan disiplin, dan menciptakan generasi yang percaya diri untuk masa depan Indonesia,” katanya.

    Pemerintah menilai Sekolah Rakyat sebagai terobosan penting dalam menciptakan pemerataan kualitas pendidikan hingga ke berbagai wilayah Indonesia. Melalui tata kelola yang lebih disiplin dan transparan, sekolah ini diharapkan mampu melahirkan generasi muda yang unggul, mandiri, serta memiliki karakter kebangsaan yang kuat.

    Penguatan tata kelola dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pengelolaan sarana dan prasarana, sistem pembelajaran, pengawasan siswa, hingga tata kelola keuangan yang lebih akuntabel. Pemerintah ingin memastikan seluruh fasilitas yang dibangun benar-benar menjadi ruang pendidikan yang aman, nyaman, dan mampu memotivasi siswa untuk berkembang secara optimal.

    “Semua harus rapi dan tertib maka penguatan kedisiplinan guru dan anak-anak bisa terus kita mulai rancang,” kata Gus Ipul.

    Selain fokus pada pendidikan formal, Sekolah Rakyat juga diarahkan untuk membangun kemandirian siswa melalui pemanfaatan lahan produktif seperti kebun sayur dan peternakan sederhana. Program tersebut dinilai mampu menanamkan nilai kerja keras, tanggung jawab, serta keterampilan hidup sejak dini.

    Dalam aspek sumber daya manusia, pemerintah menekankan pentingnya menghadirkan tenaga pendidik dan pendukung yang tidak hanya profesional, tetapi juga memiliki integritas moral yang tinggi.

    “Seluruh unsur di lingkungan sekolah harus menjadi teladan yang baik karena setiap aktivitas di sekolah akan membentuk karakter anak-anak,” ujar Gus Ipul.

    Pemerintah juga mulai mengintegrasikan teknologi dalam sistem pengawasan sekolah untuk memastikan keamanan dan kenyamanan lingkungan belajar tetap terjaga. Langkah ini menjadi bukti keseriusan pemerintah dalam menciptakan sistem pendidikan modern yang adaptif terhadap tantangan zaman.

  • MBG di Papua Perkuat Gizi dan Gerakkan Ekonomi Lokal

    PAPUA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Papua terus menunjukkan dampak positif dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Program yang menyasar anak-anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita tersebut kini semakin diperkuat melalui pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah Papua.

    Pemerintah daerah bersama pemerintah pusat terus mempercepat pembangunan infrastruktur dapur MBG agar pelayanan gizi dapat menjangkau masyarakat hingga wilayah terpencil. Gubernur Papua, Matius D Fakhiri, menegaskan bahwa program MBG merupakan langkah penting dalam membangun kualitas generasi muda Papua.

    “Program ini bukan hanya soal makanan bergizi, tetapi tentang masa depan anak-anak Papua agar tumbuh sehat, kuat, dan siap bersaing,” ujar Matius saat meninjau pembangunan SPPG di Kabupaten Supiori.

    Kabupaten Supiori sendiri dipersiapkan menjadi salah satu daerah percontohan pengembangan dapur MBG di Papua. Pemerintah setempat membangun 12 titik SPPG, termasuk di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T), sebagai bentuk komitmen pemerataan pelayanan gizi.

    Selain meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, MBG juga membuka peluang ekonomi baru bagi warga lokal. Pemerintah Provinsi Papua mendorong pemanfaatan hasil kebun, perikanan, dan produk pangan lokal untuk memenuhi kebutuhan dapur MBG. Langkah tersebut membuat petani, nelayan, dan pelaku usaha kecil memiliki kesempatan lebih besar untuk terlibat dalam rantai pasok program.

    Pelaksana Tugas Deputi Bidang Promosi dan Kerja Sama Badan Gizi Nasional, Gunalan, mengatakan Papua memiliki potensi besar dalam pengembangan menu berbasis pangan lokal.

    “Papua memiliki sumber pangan yang kaya dan bernilai gizi tinggi. Potensi ini dapat menjadi kekuatan utama dalam mendukung keberhasilan MBG,” katanya.

    Program MBG juga dinilai memberi dampak positif terhadap dunia pendidikan. Anak-anak sekolah yang memperoleh makanan bergizi dinilai lebih fokus dan bersemangat mengikuti kegiatan belajar mengajar.

    Sementara itu, Ketua Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Velix V Wanggai, menilai MBG menjadi bagian penting dari pembangunan ekonomi masyarakat Papua.

    “MBG bukan sekadar program gizi, tetapi bagian dari pembangunan ekosistem ekonomi masyarakat yang melibatkan sektor pertanian, perikanan, pendidikan, dan kesehatan,” ujar Velix.

    Melalui sinergi pemerintah pusat dan daerah, program MBG diharapkan mampu menjadi fondasi penting dalam menciptakan generasi Papua yang sehat, cerdas, dan sejahtera.

  • Pemerintah Fokus Perkuat Tata Kelola Sekolah Rakyat secara Menyeluruh

    Jakarta – Pemerintah terus memperkuat tata kelola Program Sekolah Rakyat sebagai bagian dari upaya memastikan akses pendidikan bagi masyarakat miskin berjalan transparan, akuntabel, dan tepat sasaran. Penguatan pengawasan dilakukan secara menyeluruh, terutama dalam proses pengadaan barang dan jasa yang menjadi bagian penting dalam pelaksanaan program strategis nasional tersebut.

    Kementerian Sosial bersama Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) memperkuat koordinasi untuk mencegah potensi penyimpangan sejak awal pelaksanaan program. Langkah ini dilakukan guna memastikan seluruh proses berjalan sesuai aturan serta memberikan manfaat nyata bagi masyarakat penerima bantuan pendidikan.

    Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menegaskan bahwa pemerintah tidak ingin Program Sekolah Rakyat tercemar praktik korupsi maupun penyimpangan anggaran.

    “Kami telah berkomitmen agar program strategis Presiden, khususnya Sekolah Rakyat, tidak dikotori praktik-praktik korupsi,” ujar Saifullah Yusuf dalam keterangannya.

    Pemerintah saat ini juga melakukan evaluasi menyeluruh terhadap sistem pengadaan barang dan jasa di lingkungan Kementerian Sosial. Langkah tersebut mencakup penguatan sumber daya manusia, peningkatan transparansi proses lelang, hingga pembenahan sistem pengawasan internal agar pelaksanaan program berjalan lebih efektif dan akuntabel.

    Ketua KPK Setyo Budiyanto menilai pengawasan menyeluruh menjadi faktor penting dalam menjaga kualitas program dan mencegah terjadinya kebocoran anggaran.

    “Pengadaan dalam bentuk apa pun harus dilandaskan pada pengawasan, ketelitian, dan prinsip antisipatif,” kata Setyo Budiyanto.

    Selain pengawasan internal pemerintah, KPK juga melakukan kajian terhadap potensi risiko korupsi dalam pelaksanaan Program Sekolah Rakyat, termasuk pada area pengadaan barang dan jasa yang dinilai rawan penyimpangan.

    Pemerintah menegaskan bahwa transparansi menjadi prinsip utama dalam pengelolaan program. Seluruh proses pengadaan direncanakan terbuka dan dapat diawasi publik guna meminimalkan potensi penggelembungan harga maupun penurunan kualitas barang.

    Melalui penguatan tata kelola dan pengawasan berlapis, pemerintah optimistis Program Sekolah Rakyat dapat berjalan efektif, tepat sasaran, serta menjadi fondasi penting dalam memperluas akses pendidikan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.