Kategori: Uncategorized

  • Pemerintah Resmikan 166 Sekolah Rakyat, Investasi Jangka Panjang Bangun SDM Unggul

    Banjarbaru – Presiden Prabowo Subianto meresmikan sebanyak 166 Sekolah Rakyat yang tersebar di 34 provinsi di Indonesia. Peresmian tersebut dilakukan sebagai bagian dari komitmen pemerintah dalam memperluas akses pendidikan gratis dan berkualitas bagi anak-anak dari keluarga miskin dan rentan di seluruh Tanah Air.

    Dalam sambutannya, Prabowo menegaskan bahwa kehadiran Sekolah Rakyat bukan sekadar pembangunan fisik sekolah, melainkan bentuk nyata kehadiran negara bagi rakyat kecil. Ia menyebut pendidikan sebagai kunci utama untuk memutus mata rantai kemiskinan yang telah berlangsung lintas generasi.

    “Dengan mengucap bismillahirrahmanirrahim, hari ini saya resmikan 166 Sekolah Rakyat yang tersebar di seluruh Indonesia. Ini adalah ikhtiar negara agar anak-anak dari keluarga kurang mampu memiliki masa depan yang lebih baik,” ujar Prabowo saat peresmian.

    Prabowo juga mengaku terharu ketika melihat langsung kondisi para siswa yang kini bisa mengenyam pendidikan secara layak. Ia menilai program ini sebagai langkah awal menuju pemerataan kualitas sumber daya manusia di Indonesia.

    “Saya melihat sendiri semangat anak-anak ini. Terus terang saya sangat terharu, bahkan sulit menahan air mata. Inilah alasan negara harus hadir secara nyata,” kata Prabowo.

    Sementara itu, Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menjelaskan bahwa Sekolah Rakyat dirancang sebagai model pengentasan kemiskinan terpadu yang menggabungkan pendidikan, perlindungan sosial, dan pemberdayaan keluarga. Menurutnya, program ini menyasar anak-anak yang selama ini berada di luar jangkauan sistem pendidikan formal.

    “Sekolah Rakyat adalah model pengentasan kemiskinan terpadu dari Presiden. Anak-anak yang masuk di sini berasal dari keluarga miskin ekstrem, dan negara mengambil alih tanggung jawab pendidikan mereka,” ujar Gus Ipul.

    Ia menambahkan, melalui sistem berasrama dan pendampingan intensif, Sekolah Rakyat diharapkan mampu membentuk karakter, keterampilan, serta membuka peluang masa depan yang lebih luas bagi para siswa.

    “Ini bukan sekadar sekolah, tetapi tempat menanam harapan. Presiden ingin memastikan kemiskinan tidak diwariskan kepada generasi berikutnya,” lanjutnya.

    Pemerintah juga menegaskan bahwa Sekolah Rakyat merupakan investasi jangka panjang bagi bangsa. Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, Angga Raka Prabowo menyebut program ini sebagai upaya strategis membangun sumber daya manusia unggul sejak dini.

    “Sekolah Rakyat adalah investasi bangsa. Kita sedang menyiapkan generasi masa depan agar Indonesia lebih kuat, mandiri, dan berdaya saing,” katanya.

    Dari daerah, dukungan terhadap program ini juga disampaikan oleh pemerintah daerah. Wali Kota Palangka Raya Fairid Naparin menilai kehadiran Sekolah Rakyat membuka akses pendidikan gratis bagi keluarga miskin yang selama ini mengalami keterbatasan.

    “Ini menjadi jawaban atas kebutuhan masyarakat kurang mampu. Anak-anak kini bisa bersekolah tanpa memikirkan biaya,” ujar Fairid.

    Saat ini, Sekolah Rakyat telah menampung ribuan siswa dengan dukungan ribuan guru dan tenaga pendidik. Pemerintah menargetkan jumlah Sekolah Rakyat akan terus bertambah hingga ratusan titik di seluruh Indonesia sebagai bagian dari visi besar pemerintahan Prabowo Subianto dalam membangun Indonesia yang lebih adil dan sejahtera.

  • Prabowo Resmikan 166 Sekolah Rakyat, Pendidikan Kunci Putus Kemiskinan

    Banjarbaru – Pemerintah menegaskan komitmen membangun sumber daya manusia melalui pendidikan dengan meresmikan 166 Sekolah Rakyat (SR) di berbagai wilayah Indonesia. Peresmian yang dilakukan langsung oleh Presiden Prabowo Subianto di Banjarbaru, Kalimantan Selatan beberapa waktu lalu, menjadi penanda kuat kehadiran negara dalam membuka akses pendidikan yang layak, inklusif, dan berkeadilan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu.

    Dalam sambutannya, Presiden Prabowo menekankan bahwa Sekolah Rakyat merupakan langkah strategis untuk memutus rantai kemiskinan dan menempatkan pembangunan manusia sebagai prioritas nasional.

    “Melalui peresmian ini, pemerintah menegaskan bahwa pembangunan manusia melalui pendidikan menjadi prioritas utama. Sekolah Rakyat merupakan wujud nyata keberpihakan negara kepada anak-anak yang selama ini memiliki keterbatasan akses pendidikan berkualitas.” ujar Presiden Prabowo.

    Presiden juga mengungkapkan rasa haru dan bangganya setelah melihat langsung perkembangan para siswa Sekolah Rakyat. Menurutnya, program ini lahir dari keberanian negara mengambil langkah yang tidak lazim namun sangat dibutuhkan rakyat.

    “Mari kita berbuat yang mungkin tidak lazim, kita bikin sekolah yang terbaik. Sekolah berasrama untuk mereka-mereka yang mungkin tidak punya harapan, mereka yang dari keluarga yang kondisinya tertinggal,” lanjut Presiden Prabowo.

    Dalam kesempatan tersebut, Presiden berpesan agar para siswa tidak pernah merasa rendah diri terhadap latar belakang keluarga, serta menegaskan bahwa setiap pekerjaan orang tua adalah mulia karena dilakukan dengan kejujuran dan kerja keras.

    ““Hormati orangtuamu, kalau perlu kau pulang, kau sungkem, kau cium kaki orangtuamu. Jangan pernah kau malu. Mereka lebih mulia dari orang-orang pintar tapi koruptor-koruptor yang berkhianat kepada negara dan bangsa,” tegasnya.

    Menteri Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) Rini Widyantini menyampaikan bahwa program Sekolah Rakyat sejalan dengan Asta Cita pemerintah dalam memperkuat pembangunan sumber daya manusia. Sekolah Rakyat, menurutnya, tidak hanya menyediakan pendidikan gratis, tetapi juga pemenuhan gizi, layanan kesehatan, dan pembinaan karakter.

    “Ini merupakan program Bapak Presiden untuk mendekatkan negara kepada masyarakat. Jadi, semakin kecil jarak antara instansi pemerintah dengan rakyat, (maka) masyarakat betul-betul lebih disejahterakan,” ujarnya.

    Rini menambahkan, meskipun berada di bawah kewenangan Kementerian Sosial, Sekolah Rakyat dibangun melalui kolaborasi lintas kementerian dan lembaga. Kementerian PANRB berperan memastikan tata kelola dan pemenuhan sumber daya manusia berjalan optimal dengan mengedepankan prinsip sistem merit agar program berkelanjutan.

    “Inilah semangat reformasi birokrasi yang kita dorong, yaitu birokrasi yang bekerja bersama, melampaui sekat organisasi, dan tidak terjebak pada ego sektoral,” ucap Rini.

    Peresmian 166 Sekolah Rakyat menegaskan tekad pemerintah untuk menghadirkan negara secara nyata, membuka harapan baru, serta memastikan anak-anak dari keluarga tertinggal memiliki kesempatan yang setara untuk meraih masa depan yang lebih baik.

  • Sekolah Rakyat Diperkuat, Pemerintah Berkomitmen Buka Akses Pendidikan Secara Merata

    Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengajak para wali asrama dan wali asuh Sekolah Rakyat se-Jawa Timur untuk bekerja dengan sepenuh hati dalam mengasuh serta membimbing peserta didik. Ajakan tersebut disampaikan saat menghadiri kegiatan Bimbingan Teknis Kepala Sekolah dan Tenaga Kependidikan (Tendik) Sekolah Rakyat di Balai Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Jawa Timur, Jumat (16/1/2026).

    Dalam kegiatan yang diikuti 26 kepala Sekolah Rakyat, 91 wali asrama, dan 86 wali asuh dari berbagai daerah di Jawa Timur itu, Gus Ipul—sapaan Saifullah Yusuf—mengajak seluruh pendamping siswa mengucapkan ikrar bersama. Ikrar tersebut menjadi penegasan komitmen moral dalam menjalankan amanah negara untuk memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga rentan.

    “Saya, wali asrama dan wali asuh Sekolah Rakyat seluruh Jawa Timur, siap bekerja dengan baik sesuai pedoman yang telah ditentukan, siap bekerja dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati untuk mengasuh dan membimbing siswa-siswa Sekolah Rakyat agar menjadi agen perubahan dan sungguh-sungguh mampu memutus mata rantai kemiskinan,” ujar Gus Ipul.

    Ia menegaskan bahwa Sekolah Rakyat bukanlah sekolah biasa. Program ini dirancang sebagai instrumen negara untuk pengentasan kemiskinan melalui pendidikan yang terintegrasi dengan perlindungan, rehabilitasi, dan pemberdayaan sosial. Menurutnya, peserta didik Sekolah Rakyat merupakan kelompok yang selama ini luput dari perhatian.

    “Anak-anak yang hadir di sini adalah the invisible people, yang penderitaannya tidak terlihat. Asa atau harapan adalah harta terakhir mereka, dan tugas kita adalah menjaga serta menguatkan asa itu,” katanya.

    Sementara itu, Ketua Tim Formatur Sekolah Rakyat Muhammad Nuh menekankan bahwa kunci keberhasilan Sekolah Rakyat terletak pada kesetiaan para pendidik dalam mendampingi anak-anak. Menurutnya, kesetiaan yang melampaui kewajiban formal menjadi modal utama dalam membentuk karakter dan masa depan siswa.

    “Yang paling mahal dalam mengurusi Sekolah Rakyat ini adalah kesetiaan,” ujar Nuh.

    Ia juga menegaskan pentingnya pendidikan berbasis karakter dan kecakapan hidup yang diperkuat melalui sistem berasrama, agar potensi unik setiap anak dapat ditemukan dan dikembangkan.

    Acara tersebut turut dimeriahkan oleh penampilan siswa Sekolah Rakyat se-Jawa Timur, mulai dari menyanyikan lagu, pembacaan puisi, hingga pidato dalam berbagai bahasa asing. Penampilan itu mendapat apresiasi dari Khofifah Indar Parawansa, yang menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam mendukung program Sekolah Rakyat.

    Hingga kini, pemerintah telah membuka 166 Sekolah Rakyat rintisan di berbagai daerah, dengan Jawa Timur menjadi provinsi terbanyak, yakni 26 sekolah. Program ini dipandang sebagai langkah strategis negara dalam memperluas akses pendidikan yang adil dan inklusif bagi anak-anak yang selama ini terpinggirkan.

  • Sekolah Rakyat Diperkuat, Pemerintah Berkomitmen Buka Akses Pendidikan Secara Merata

    Menteri Sosial Saifullah Yusuf mengajak para wali asrama dan wali asuh Sekolah Rakyat se-Jawa Timur untuk bekerja dengan sepenuh hati dalam mengasuh serta membimbing peserta didik. Ajakan tersebut disampaikan saat menghadiri kegiatan Bimbingan Teknis Kepala Sekolah dan Tenaga Kependidikan (Tendik) Sekolah Rakyat di Balai Pengembangan Sumber Daya Manusia (BPSDM) Provinsi Jawa Timur, Jumat (16/1/2026).

    Dalam kegiatan yang diikuti 26 kepala Sekolah Rakyat, 91 wali asrama, dan 86 wali asuh dari berbagai daerah di Jawa Timur itu, Gus Ipul—sapaan Saifullah Yusuf—mengajak seluruh pendamping siswa mengucapkan ikrar bersama. Ikrar tersebut menjadi penegasan komitmen moral dalam menjalankan amanah negara untuk memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga rentan.

    “Saya, wali asrama dan wali asuh Sekolah Rakyat seluruh Jawa Timur, siap bekerja dengan baik sesuai pedoman yang telah ditentukan, siap bekerja dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati untuk mengasuh dan membimbing siswa-siswa Sekolah Rakyat agar menjadi agen perubahan dan sungguh-sungguh mampu memutus mata rantai kemiskinan,” ujar Gus Ipul.

    Ia menegaskan bahwa Sekolah Rakyat bukanlah sekolah biasa. Program ini dirancang sebagai instrumen negara untuk pengentasan kemiskinan melalui pendidikan yang terintegrasi dengan perlindungan, rehabilitasi, dan pemberdayaan sosial. Menurutnya, peserta didik Sekolah Rakyat merupakan kelompok yang selama ini luput dari perhatian.

    “Anak-anak yang hadir di sini adalah the invisible people, yang penderitaannya tidak terlihat. Asa atau harapan adalah harta terakhir mereka, dan tugas kita adalah menjaga serta menguatkan asa itu,” katanya.

    Sementara itu, Ketua Tim Formatur Sekolah Rakyat Muhammad Nuh menekankan bahwa kunci keberhasilan Sekolah Rakyat terletak pada kesetiaan para pendidik dalam mendampingi anak-anak. Menurutnya, kesetiaan yang melampaui kewajiban formal menjadi modal utama dalam membentuk karakter dan masa depan siswa.

    “Yang paling mahal dalam mengurusi Sekolah Rakyat ini adalah kesetiaan,” ujar Nuh.

    Ia juga menegaskan pentingnya pendidikan berbasis karakter dan kecakapan hidup yang diperkuat melalui sistem berasrama, agar potensi unik setiap anak dapat ditemukan dan dikembangkan.

    Acara tersebut turut dimeriahkan oleh penampilan siswa Sekolah Rakyat se-Jawa Timur, mulai dari menyanyikan lagu, pembacaan puisi, hingga pidato dalam berbagai bahasa asing. Penampilan itu mendapat apresiasi dari Khofifah Indar Parawansa, yang menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Jawa Timur dalam mendukung program Sekolah Rakyat.

    Hingga kini, pemerintah telah membuka 166 Sekolah Rakyat rintisan di berbagai daerah, dengan Jawa Timur menjadi provinsi terbanyak, yakni 26 sekolah. Program ini dipandang sebagai langkah strategis negara dalam memperluas akses pendidikan yang adil dan inklusif bagi anak-anak yang selama ini terpinggirkan.

  • Masyarakat Sambut Antusias Kehadiran Sekolah Rakyat, Bukti Pendidikan Jadi Prioritas Utama Negara

    Jakarta — Antusiasme masyarakat mengemuka di berbagai wilayah terhadap program Sekolah Rakyat. Kehadiran program ini dipandang sebagai penegasan nyata bahwa negara menempatkan pendidikan sebagai agenda utama pembangunan, sekaligus instrumen strategis untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan memutus mata rantai kemiskinan yang selama ini bersifat struktural.

    Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa peresmian ratusan Sekolah Rakyat bukan sekadar agenda administratif, melainkan momentum penting kehadiran negara bagi masyarakat yang paling membutuhkan akses pendidikan. “Hari ini bukan hanya meresmikan Sekolah Rakyat, tetapi menjadi pengingat bahwa negara hadir dan pemerintah hadir untuk memastikan setiap anak bangsa mendapatkan kesempatan belajar yang layak,” ujarnya saat peresmian.

    Ia menjelaskan, melalui pengoperasian 166 Sekolah Rakyat yang tersebar di berbagai wilayah Indonesia, sekitar 15.000 siswa dari jenjang SD, SMP, hingga SMA telah mengikuti proses pembelajaran. Sekolah Rakyat diperuntukkan khusus bagi anak-anak dari keluarga dengan kondisi ekonomi paling sulit, termasuk kelompok miskin ekstrem serta anak-anak yang sebelumnya terancam putus sekolah atau tidak memiliki akses pendidikan formal yang memadai.

    Menurut Prasetyo Hadi, meskipun pada awalnya program Sekolah Rakyat sempat diragukan oleh sebagian pihak, pemerintah tetap melanjutkan kebijakan tersebut secara konsisten, bersamaan dengan perbaikan sekolah reguler. “Tahun ini pemerintah menargetkan renovasi minimal 60.000 sekolah, sekaligus peningkatan kualitas guru dan fasilitas pembelajaran agar mutu pendidikan semakin merata,” katanya.

    Ia menegaskan bahwa Sekolah Rakyat tidak menggantikan peran sekolah reguler, melainkan melengkapi sistem pendidikan nasional agar anak-anak dari keluarga paling rentan tidak tertinggal dari arus pembangunan.

    Selain itu, pemerintah juga telah menyalurkan panel interaktif ke sekitar 288.000 sekolah pada 2025 sebagai bagian dari transformasi sarana pendidikan berbasis teknologi. Langkah-langkah terobosan tersebut diambil untuk memastikan pendidikan menjadi instrumen utama dalam mendorong mobilitas sosial dan kebangkitan nasional menuju Indonesia Emas 2045.

    Antusiasme masyarakat juga tampak jelas saat Presiden Prabowo Subianto meresmikan Sekolah Rakyat secara simbolis di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Sejak kedatangan Presiden hingga menuju Balai Besar Pendidikan Pelatihan Kesejahteraan Sosial, warga memadati jalur yang dilalui untuk menyampaikan sambutan hangat. Presiden pun membalas sapaan masyarakat dari atas kendaraan, menciptakan suasana akrab dan penuh kehangatan.

    Dengan peresmian 166 Sekolah Rakyat, pemerintah menegaskan komitmennya untuk memperluas akses pendidikan yang adil dan merata, dari perkotaan hingga pelosok negeri, sebagai pilar utama pembangunan nasional.

  • Kehadiran Sekolah Rakyat Jadi Terobosan Besar Presiden Prabowo di Bidang Pendidikan

    Kalimantan Selatan –Pemerintah telah meresmikan 166 Sekolah Rakyat di seluruh Indonesia pada Senin (12/1/2026). Keberadaan ratusan Sekolah Rakyat tersebut secara langsung diresmikan oleh Presiden Prabowo dan diharapkan menjadi asa baru bagi pemerataan pendidikan di Indonesia.

    Presiden Prabowo mengungkapkan, peresmian ratusan Sekolah Rakyat menjadi terobosan besar di sektor pendidikan selama pemerintahannya, sekaligus membuktikan komitmen pemerintah untuk selalu hadir bagi rakyatnya.

    “Melalui peresmian ini, pemerintah menegaskan bahwa Pembangunan manusia melalui Pendidikan menjadi prioritas utama,” ujar Presiden Prabowo.

    Sekolah Rakyat dirancang memiliki ruang belajar yang layak, terjangkau, dan inklusif, dengan sasaran utama anak-anak dari keluarga miskin, miskin ekstrem, serta mereka yang sebelumnya terancam putus sekolah atau tidak memiliki akses pendidikan formal.

    Melalui program ini, tidak hanya fasilitas pendidikan yang disediakan, tetapi juga dukungan menyeluruh, mulai dari pemenuhan kebutuhan gizi, perlengkapan sekolah, hingga pendampingan sosial dan kesehatan, agar anak-anak dapat belajar dengan aman, sehat, dan berkelanjutan.

    Presiden Prabowo juga mengapresiasi seluruh Kementerian/Lembaga yang telah bahu-membahu mewujudkan mimpi anak-anak miskin dan kurang mampu untuk bisa bersekolah. Ia mengaku terharu dengan capaian ini.

    “Terima kasih semuanya, kita telah mewujudkan upaya ini. Terus terang saja, saya cukup bahagia, cukup besar hati. Saya terharu sebetulnya melihat dampak dari pada upaya kita,” ucap Presiden Prabowo.

    Rasa haru tak hanya dirasakan oleh Presiden Prabowo. Seorang siswi kelas 4 Sekolah Rakyat Dasar 6 Palangkaraya bernama Nusyifa, memberanikan diri menyerahkan sepucuk surat ucapan terima kasih kepada Presiden Prabowo saat peresmian Sekolah Rakyat di Sekolah Rakyat Terpadu (SRT) Banjarbaru.

    Surat itu dibuat oleh tulisan tangan Nusyifa sendiri. Ia menyampaikan rasa syukurnya karena kini bisa merasakan bangku sekolah berkat hadirnya Sekolah Rakyat.

    “Terima kasih Bapak Prabowo karena telah membuat Sekolah Rakyat ini, sehingga saya dan teman-teman bisa merasakan bangku sekolah,” ungkapnya.

    Nusyifa juga menuliskan harapannya tentang masa depan dirinya dan teman-teman sekolahnya. Ia meyakini Sekolah Rakyat bisa menjadi ruang untuk merakit mimpi-mimpinya.

    “Sekolah ini yang akan merakit kami menjadi anak-anak yang kreatif, cerdas, dan memiliki jiwa kepemimpinan seperti Bapak,” lanjutnya.

  • Presiden Prabowo Perkuat Pembangunan SDM Lewat Sekolah Rakyat Terintegrasi

    Jakarta — Program Sekolah Rakyat yang diinisiasi pemerintah kembali mendapat sorotan positif. Wakil Menteri Hak Asasi Manusia, Mugiyanto, menegaskan Sekolah Rakyat merupakan bukti konkret kehadiran negara dalam menjamin hak anak, terutama dari keluarga kurang mampu, untuk memperoleh pendidikan yang aman dan bermartabat.

    Saat memonitor Sekolah Rakyat Terintegrasi (SRT) 45 di Kota Semarang, Jawa Tengah, Jumat, Mugiyanto berinteraksi langsung dengan para siswa untuk memastikan rasa aman, kenyamanan, serta kualitas lingkungan belajar. Ia juga meninjau fasilitas asrama dan ruang kelas bersama jajaran Kementerian HAM setempat.

    “Sekolah Rakyat bukan sekadar program pendidikan, tetapi wujud nyata kehadiran negara dalam menjamin hak anak untuk tumbuh, belajar, dan bermimpi tanpa rasa takut. Anak-anak di sini harus merasa aman, sehat, dan dihargai martabatnya,” kata Mugiyanto dalam keterangan tertulis.

    Menurutnya, pemantauan dilakukan guna memastikan prinsip penghormatan, pelindungan, pemenuhan, penegakan, dan pemajuan HAM terimplementasi secara utuh. Hasil monitoring menunjukkan pemenuhan hak dasar siswa, khususnya penyediaan asrama dan makanan, berjalan cukup baik. Meski demikian, Kementerian HAM mendorong penguatan layanan kesehatan dan perluasan kepesertaan BPJS Kesehatan bagi seluruh siswa.

    Komitmen negara terhadap pendidikan inklusif tersebut sejalan dengan peresmian 166 Sekolah Rakyat di berbagai daerah oleh Presiden Prabowo Subianto, yang dipusatkan di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Dalam kesempatan itu, Prabowo menegaskan arah pembangunan nasional yang menempatkan pendidikan sebagai prioritas utama.

    “Melalui peresmian ini, pemerintah menegaskan bahwa pembangunan manusia melalui pendidikan menjadi prioritas utama,” ujar Prabowo.

    Sekolah Rakyat dirancang dengan pendekatan komprehensif melalui pendidikan gratis yang terintegrasi dengan layanan gizi, kesehatan, dan pembinaan karakter. Pendekatan ini dinilai krusial untuk memastikan anak-anak dari keluarga miskin mendapatkan dukungan menyeluruh.

    Pakar politik Ujang Komarudin menilai Sekolah Rakyat sebagai simbol kuat kehadiran negara bagi kelompok rentan. Ia menyebut kebijakan ini mencerminkan kesadaran bahwa kemiskinan dapat diputus melalui pembangunan manusia, sebagaimana konsisten disuarakan Presiden Prabowo sejak lama. ***

  • Presiden Prabowo Dorong Perluasan Sekolah Rakyat, Mensos: Tambah 100 Sekolah per Tahun

    Surabaya — Pemerintah menegaskan komitmen memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga kurang mampu melalui program Sekolah Rakyat. Menteri Sosial Syaifullah Yusuf menargetkan pembangunan 100 Sekolah Rakyat permanen setiap tahun sesuai dengan instruksi Presiden Prabowo Subianto.

    Hal itu disampaikan Syaifullah Yusuf, yang akrab disapa Gus Ipul, saat membuka kegiatan Bimbingan Teknis Kepala Sekolah dan Tenaga Kependidikan Sekolah Rakyat se-Jawa Timur Tahun 2026 di Kantor BPSDM Provinsi Jawa Timur, Surabaya, Jumat (16/1/2026).

    “Bertahun kita tambah 100 insyaallah sesuai targetnya presiden. 100 Sekolah Rakyat permanen,” ujar Gus Ipul.

    Ia menjelaskan, Sekolah Rakyat permanen dirancang memiliki fasilitas lengkap dengan daya tampung antara 300 hingga 500 siswa. Setiap sekolah akan melayani jenjang SD, SMP, dan SMA, dengan prioritas utama anak-anak dari keluarga desil satu atau kelompok paling rentan secara ekonomi.

    Menurut Gus Ipul, saat ini kapasitas Sekolah Rakyat di berbagai daerah masih bervariasi karena sebagian besar masih menggunakan gedung sementara. Kondisi tersebut membuat jumlah siswa yang dapat ditampung belum optimal. Dengan hadirnya gedung permanen, daya tampung diproyeksikan meningkat signifikan hingga lebih dari seribu siswa dalam tiga tahun untuk jenjang SD dan SMP.

    Selain itu, Kementerian Sosial juga menargetkan pembangunan Sekolah Rakyat di wilayah 3T (tertinggal, terdepan, dan terluar). Pemerintah menargetkan setiap kabupaten setidaknya memiliki satu Sekolah Rakyat permanen yang mampu menampung minimal 1.000 siswa jenjang SD dan SMP sebagai bagian dari pemerataan pendidikan nasional.

    Program Sekolah Rakyat merupakan kebijakan strategis yang telah diresmikan Presiden Prabowo di Banjarbaru, Kalimantan Selatan. Dalam peresmian tersebut, Prabowo mengungkapkan kekagumannya terhadap potensi siswa Sekolah Rakyat.

    “Saya terkesima hari ini terus terang saja, bisa ada anak yang pidatonya bisa dalam beberapa bahasa, luar biasa, bahasa Inggrisnya luar biasa,” kata Prabowo.

    Ke depan, pemerintah memastikan pengembangan Sekolah Rakyat akan terus diarahkan pada peningkatan kualitas layanan dan perluasan jangkauan. Evaluasi berkala dilakukan agar program ini benar-benar menjadi instrumen negara dalam menjamin kesempatan pendidikan yang setara bagi seluruh anak Indonesia. ****

  • Pakar Nilai Sekolah Rakyat Era Presiden Prabowo Jadi Pilar Pemerataan Pendidikan Nasional

    Jakarta – Pakar Politik juga Pendiri Literasi Politik Indonesia (LPI), Ujang Komarudin, menilai peresmian 166 Sekolah Rakyat oleh Presiden RI Prabowo Subianto sebagai tonggak penting dalam upaya pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan nasional.

    Program Sekolah Rakyat dinilai tidak hanya menjawab persoalan akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin, tetapi juga menjadi strategi jangka panjang negara dalam memutus mata rantai kemiskinan antar generasi.

    “Langkah ini dapat dibaca sebagai upaya konkret negara dalam memutus rantai kemiskinan melalui perluasan akses pendidikan yang lebih berkeadilan,” Ujar Ujang.

    Di tengah persoalan struktural tersebut, Ujang menegaskan bahwa pendidikan tetap menjadi jalan paling rasional dan manusiawi untuk memutus rantai kemiskinan.

    Dalam konteks Indonesia saat ini, Presiden Prabowo Subianto dinilai memahami esensi tersebut dengan menempatkan pendidikan sebagai salah satu poin krusial dalam Asta Cita menuju Indonesia Emas 2045.

    “Presiden Prabowo tampaknya memahami betul esensi tersebut, menjadikan pendidikan salah satu poin krusial dalam Asta Cita sebagai visi strategis pemerintahannya menuju Indonesia Emas 2045.” Tambahnya.

    Ujang memandang Sekolah Rakyat sebagai simbol kehadiran negara dalam memastikan anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem memperoleh akses pendidikan yang layak, gratis, dan bermartabat.

    “Sekolah Rakyat menjadi simbol penting bahwa negara tidak menutup mata terhadap nasib anak-anak dari keluarga miskin.” Ujarnya.

    Lebih dari sekadar program pendidikan, Sekolah Rakyat mencerminkan ikhtiar negara untuk memuliakan martabat manusia dan membuka harapan masa depan.

    Presiden Prabowo Subianto sendiri menyampaikan rasa haru atas dampak nyata program Sekolah Rakyat. Ia menegaskan bahwa pemerintah akan terus bekerja keras agar kekayaan negara dapat dirasakan seluruh rakyat, salah satunya melalui pendidikan.

    “Saya hari ini sangat bahagia. Terima kasih semua K/L, lembaga, elemen, dukungan Bupati/ Walikota dan Gubernur yang telah bekerja keras mewujudkan langkah terobosan yang berani,” kata Presiden Prabowo pasca peresmian Sekolah Rakyat di Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

    [w.R]

  • Pakar Nilai Sekolah Rakyat Era Presiden Prabowo Jadi Pilar Pemerataan Pendidikan Nasional

    Jakarta – Pakar Politik juga Pendiri Literasi Politik Indonesia (LPI), Ujang Komarudin, menilai peresmian 166 Sekolah Rakyat oleh Presiden RI Prabowo Subianto sebagai tonggak penting dalam upaya pemerataan dan peningkatan kualitas pendidikan nasional.

    Program Sekolah Rakyat dinilai tidak hanya menjawab persoalan akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin, tetapi juga menjadi strategi jangka panjang negara dalam memutus mata rantai kemiskinan antar generasi.

    “Langkah ini dapat dibaca sebagai upaya konkret negara dalam memutus rantai kemiskinan melalui perluasan akses pendidikan yang lebih berkeadilan,” Ujar Ujang.

    Di tengah persoalan struktural tersebut, Ujang menegaskan bahwa pendidikan tetap menjadi jalan paling rasional dan manusiawi untuk memutus rantai kemiskinan.

    Dalam konteks Indonesia saat ini, Presiden Prabowo Subianto dinilai memahami esensi tersebut dengan menempatkan pendidikan sebagai salah satu poin krusial dalam Asta Cita menuju Indonesia Emas 2045.

    “Presiden Prabowo tampaknya memahami betul esensi tersebut, menjadikan pendidikan salah satu poin krusial dalam Asta Cita sebagai visi strategis pemerintahannya menuju Indonesia Emas 2045.” Tambahnya.

    Ujang memandang Sekolah Rakyat sebagai simbol kehadiran negara dalam memastikan anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem memperoleh akses pendidikan yang layak, gratis, dan bermartabat.

    “Sekolah Rakyat menjadi simbol penting bahwa negara tidak menutup mata terhadap nasib anak-anak dari keluarga miskin.” Ujarnya.

    Lebih dari sekadar program pendidikan, Sekolah Rakyat mencerminkan ikhtiar negara untuk memuliakan martabat manusia dan membuka harapan masa depan.

    Presiden Prabowo Subianto sendiri menyampaikan rasa haru atas dampak nyata program Sekolah Rakyat. Ia menegaskan bahwa pemerintah akan terus bekerja keras agar kekayaan negara dapat dirasakan seluruh rakyat, salah satunya melalui pendidikan.

    “Saya hari ini sangat bahagia. Terima kasih semua K/L, lembaga, elemen, dukungan Bupati/ Walikota dan Gubernur yang telah bekerja keras mewujudkan langkah terobosan yang berani,” kata Presiden Prabowo pasca peresmian Sekolah Rakyat di Banjarbaru, Kalimantan Selatan.

    [w.R]