Penulis: restiana818@gmail.com

  • Reformasi Perpajakan Dorong Pajak Jadi Fondasi Ketahanan Nasional

    Jakarta,- Pemerintah terus memperkuat reformasi perpajakan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kemandirian fiskal dan memperkokoh ketahanan nasional. Melalui tata kelola perpajakan yang semakin modern, transparan, dan berbasis data, pemerintah berkomitmen menciptakan sistem perpajakan yang memberikan kepastian hukum sekaligus meningkatkan kepatuhan wajib pajak. Dalam pelaksanaannya, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) juga terus memperkuat koordinasi lintas sektor guna mendukung pengumpulan data dan informasi perpajakan secara efektif.

    Sebagai bagian dari penguatan sinergi tersebut, DJP menjalin koordinasi dengan berbagai kementerian, lembaga, pemerintah daerah, hingga unsur kewilayahan, termasuk Babinsa dan Bhabinkamtibmas. Koordinasi tersebut dilakukan semata-mata dalam kerangka pertukaran informasi dan dukungan pelaksanaan tugas di lapangan, bukan untuk memberikan kewenangan perpajakan kepada unsur kewilayahan.

    Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Direktorat Jenderal Pajak, Inge Diana Rismawanti, menegaskan bahwa Babinsa dan Bhabinkamtibmas bukan merupakan petugas pajak sehingga tidak memiliki kewenangan dalam menjalankan fungsi perpajakan.

    “Babinsa dan Bhabinkamtibmas bukan petugas pajak dan tidak memiliki kewenangan untuk melakukan pengawasan, pemeriksaan, penagihan, maupun penegakan hukum di bidang perpajakan,” jelas Inge.

    Menurutnya, koordinasi yang dilakukan DJP dengan unsur kewilayahan merupakan bagian dari pembangunan jejaring informasi yang bertujuan mendukung kelancaran tugas petugas pajak di lapangan. Dalam kondisi tertentu, pendampingan dapat dilakukan untuk mendukung aspek keamanan dan kelancaran pelaksanaan tugas, namun seluruh kewenangan yang berkaitan dengan perpajakan tetap berada sepenuhnya pada petugas DJP sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

    Inge juga mengimbau masyarakat agar tidak khawatir terhadap adanya koordinasi tersebut. Ia memastikan bahwa seluruh proses administrasi perpajakan tetap dilaksanakan secara profesional oleh aparat yang berwenang sehingga hak dan kewajiban wajib pajak tetap terlindungi.

    “Masyarakat tidak perlu khawatir karena Babinsa dan Bhabinkamtibmas tidak melakukan penilaian kepatuhan perpajakan, tidak meminta pembayaran pajak, tidak melakukan pemeriksaan, serta tidak mengambil tindakan apa pun kepada Wajib Pajak. Seluruh kewenangan perpajakan tetap dilaksanakan oleh petugas DJP sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan,” tegasnya.

    Pemerintah memandang reformasi perpajakan tidak hanya bertujuan meningkatkan penerimaan negara, tetapi juga memperkuat fondasi pembangunan nasional. Penerimaan pajak menjadi sumber utama pembiayaan berbagai program strategis, mulai dari pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, hingga penguatan perlindungan sosial yang secara langsung mendukung kesejahteraan masyarakat.

    Melalui penguatan koordinasi antarinstansi, kepastian hukum, serta pelayanan perpajakan yang semakin baik, pemerintah optimistis reformasi perpajakan akan mendorong meningkatnya kepercayaan masyarakat terhadap sistem perpajakan nasional. Dengan demikian, pajak dapat terus menjadi fondasi penting dalam menjaga ketahanan ekonomi, memperkuat kemandirian fiskal, dan mendukung pembangunan Indonesia yang berkelanjutan.

  • Pajak Jadi Fondasi Ketahanan Nasional, Penerimaan Semester I Tembus Rp1.035,7 Triliun

    Jakarta – Kinerja penerimaan pajak pada semester I 2026 kembali mengukuhkan posisi pajak sebagai tulang punggung ketahanan nasional. Hingga akhir paruh pertama tahun ini, negara berhasil mengantongi penerimaan pajak sebesar Rp1.035,7 triliun. Angka yang setara dengan 43,9 persen dari target APBN (Rp2.357,7 triliun) ini melonjak 24,6 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

    Pertumbuhan ini menjadi indikator kuat meningkatnya aktivitas ekonomi dan membaiknya kepatuhan serta tata kelola pajak.

    Direktur Jenderal Pajak, Bimo Wijayanto mengatakan capaian tersebut menjadi sinyal positif bagi kondisi ekonomi nasional. Menurutnya, momentum pertumbuhan penerimaan pajak harus terus dijaga agar target APBN dapat tercapai secara optimal.

    “Pertumbuhan ini menunjukkan fundamental ekonomi yang semakin kuat. Momentum ini harus terus dijaga agar target penerimaan dapat tercapai secara optimal. Kita harus terus berupaya menciptakan kinerja penerimaan yang berkelanjutan demi kesehatan fiskal negara,” ujarnya.

    Sejalan dengan tema Hari Pajak 2026, “Pajak Tumbuh, Indonesia Tangguh”, Direktorat Jenderal Pajak (DJP) mengajak seluruh elemen bangsa memperkuat semangat gotong royong melalui kepatuhan perpajakan guna mendukung pembangunan yang berkelanjutan.

    Sebagai tulang punggung APBN, penerimaan pajak membiayai berbagai program prioritas pemerintah, mulai dari sektor pendidikan, kesehatan, pembangunan infrastruktur, perlindungan sosial, hingga peningkatan pelayanan publik.

    Untuk menjaga tren positif penerimaan negara, DJP terus memperkuat edukasi perpajakan, meningkatkan kualitas layanan, serta membangun kolaborasi dengan berbagai pemangku kepentingan guna mendorong kepatuhan sukarela wajib pajak.

    “Kami ingin terus menumbuhkan kesadaran bahwa pajak merupakan wujud gotong royong seluruh elemen bangsa untuk membiayai pembangunan Indonesia,” ungkap Bimo.

    Sementara itu, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan kinerja APBN tetap menunjukkan kondisi yang sehat dan terkendali. Pendapatan negara mencapai Rp1.459,4 triliun atau tumbuh 21,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, didukung oleh penerimaan perpajakan sebesar Rp1.187,8 triliun, termasuk penerimaan pajak sebesar Rp1.035,7 triliun yang tumbuh 24,6 persen.

    “Dengan pendapatan yang tumbuh kuat, belanja yang produktif, dan belanja yang dikelola secara terukur, defisit tetap terkendali sebesar Rp196,5 triliun atau 0,76 persen dari PDB,” pungkas Purbaya.

  • Pajak Bukan Sekadar Setoran, tetapi Fondasi Ketahanan Nasional

    Oleh : Abdul Razak)*

    Ketahanan nasional tidak hanya ditentukan oleh kekuatan pertahanan dan keamanan, tetapi juga oleh kemampuan negara menjaga stabilitas ekonomi, membiayai pembangunan, serta menghadirkan pelayanan publik yang merata. Dalam konteks tersebut, pajak memiliki peran strategis sebagai tulang punggung penerimaan negara sekaligus instrumen untuk memperkuat kapasitas fiskal nasional. Oleh karena itu, membangun kepatuhan pajak dan memperkuat tata kelola perpajakan merupakan bagian penting dari upaya menjaga keberlanjutan pembangunan Indonesia.

    Komitmen pemerintah untuk memperkuat sistem perpajakan kembali ditegaskan melalui langkah Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang akan memeriksa kepatuhan wajib pajak yang belum merepatriasi harta mereka ke Indonesia. Kebijakan tersebut merupakan kelanjutan dari upaya pemerintah mendorong pemulangan aset yang selama ini berada di luar negeri melalui berbagai instrumen baru, seperti pembentukan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) serta penerbitan Patriot Bond dan Merah Putih Bond.

    Sebelumnya, pemerintah telah memberikan kesempatan kepada peserta Program Pengungkapan Sukarela atau Tax Amnesty tahun 2016 dan 2022 untuk menyelesaikan kewajiban repatriasi aset dalam kurun waktu enam bulan. Pendekatan persuasif tersebut menunjukkan bahwa pemerintah lebih mengedepankan kepatuhan sukarela dibandingkan membuka kembali program pengampunan pajak.

    Namun demikian, pemerintah juga menegaskan bahwa kepatuhan tetap harus ditegakkan secara konsisten. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa pemeriksaan kepatuhan pajak akan dilakukan terhadap dana yang masuk ke Indonesia apabila wajib pajak tetap tidak melakukan repatriasi setelah berbagai insentif diberikan. Pemeriksaan tersebut akan dilakukan dengan memanfaatkan pencocokan data bersama Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) tanpa memerlukan perubahan regulasi baru.

    Langkah tersebut mencerminkan transformasi tata kelola perpajakan yang semakin berbasis data, transparan, dan akuntabel. Pemerintah berupaya menciptakan keseimbangan antara pemberian insentif investasi dengan penegakan kepatuhan perpajakan agar tercipta iklim investasi yang sehat sekaligus menjaga keadilan fiskal.

    Pembentukan PFII sendiri diharapkan mampu menjadi magnet bagi arus modal global sekaligus memperdalam pasar keuangan nasional. Insentif perpajakan yang mencapai nol persen untuk investasi tertentu bukan dimaksudkan untuk mengurangi penerimaan negara, melainkan sebagai strategi meningkatkan aktivitas ekonomi yang pada akhirnya akan memperluas basis pajak dan memperkuat pertumbuhan ekonomi nasional.

    Di sisi lain, Patriot Bond dan Merah Putih Bond diproyeksikan menjadi instrumen investasi strategis yang mampu menarik minat investor domestik maupun internasional. Dengan semakin berkembangnya pasar keuangan Indonesia, pemerintah memiliki peluang lebih besar untuk membiayai pembangunan secara berkelanjutan tanpa terlalu bergantung pada sumber pembiayaan eksternal yang bersifat jangka pendek.

    Meski demikian, keberhasilan berbagai kebijakan tersebut tetap bergantung pada tingkat kepercayaan publik terhadap sistem perpajakan. Selama ini, pajak masih sering dipersepsikan sebagai beban oleh sebagian masyarakat. Padahal, hampir seluruh layanan publik yang dinikmati setiap hari berasal dari penerimaan pajak.

    Penyuluh Pajak Ahli Madya Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pajak Riau, Dr. Gusfahmi Arifin, menjelaskan bahwa persepsi negatif terhadap pajak masih menjadi tantangan dalam meningkatkan kepatuhan masyarakat. Menurutnya, manfaat pajak sebenarnya hadir dalam berbagai aspek kehidupan, mulai dari jalan raya yang digunakan masyarakat, pelayanan kesehatan, pendidikan, hingga kehadiran aparat keamanan yang menjaga ketertiban.

    Ia menjelaskan bahwa pajak merupakan kontribusi wajib yang dipungut berdasarkan undang-undang sehingga memiliki dasar hukum yang jelas. Berbeda dengan transaksi komersial yang memberikan manfaat langsung kepada pembeli, manfaat pajak diwujudkan dalam bentuk pelayanan publik yang dapat dinikmati seluruh masyarakat secara bersama-sama.

    Gusfahmi Arifin juga menegaskan bahwa seluruh penerimaan pajak dikelola melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) yang pembahasannya melibatkan pemerintah dan DPR. Penggunaannya diawasi oleh berbagai lembaga, mulai dari Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), aparat pengawasan internal pemerintah, hingga masyarakat. Dengan demikian, dana pajak tidak digunakan secara sepihak, melainkan melalui mekanisme pengawasan yang berlapis.

    Pandangan tersebut menjadi pengingat bahwa membayar pajak bukan sekadar memenuhi kewajiban administratif, melainkan merupakan bentuk partisipasi aktif warga negara dalam memperkuat fondasi pembangunan nasional. Semakin tinggi tingkat kepatuhan pajak, semakin besar pula kemampuan negara menghadirkan layanan publik yang berkualitas, mempercepat pembangunan infrastruktur, memperluas akses pendidikan dan kesehatan, serta menjaga stabilitas ekonomi nasional.

    Dalam perspektif yang lebih luas, penerimaan pajak juga menjadi instrumen penting dalam menghadapi berbagai tantangan global. Ketidakpastian ekonomi dunia, konflik geopolitik, hingga dinamika pasar keuangan internasional menuntut setiap negara memiliki ruang fiskal yang kuat. Negara dengan penerimaan pajak yang sehat akan lebih mampu memberikan stimulus ekonomi, menjaga daya beli masyarakat, serta melindungi kelompok rentan ketika terjadi tekanan ekonomi.

    Karena itu, membangun budaya kepatuhan pajak harus menjadi agenda bersama antara pemerintah, dunia usaha, dan masyarakat. Pemerintah perlu terus meningkatkan transparansi pengelolaan anggaran, memperkuat digitalisasi layanan perpajakan, serta memastikan penegakan hukum dilakukan secara adil dan profesional. Sementara itu, masyarakat perlu memandang pajak sebagai investasi kolektif untuk masa depan bangsa, bukan sekadar pengeluaran yang mengurangi pendapatan.

    Pada akhirnya, pajak bukan hanya persoalan penerimaan negara, tetapi merupakan fondasi ketahanan nasional. Ketika penerimaan negara kuat, pembangunan dapat berlangsung berkelanjutan, pelayanan publik semakin berkualitas, dan daya saing Indonesia akan semakin meningkat. Dengan sinergi antara kepatuhan masyarakat dan tata kelola perpajakan yang kredibel, pajak akan terus menjadi pilar utama dalam mewujudkan Indonesia yang maju, tangguh, dan sejahtera.

    )* Analis Kebijakan

  • Dari Penerimaan Pajak ke Ketahanan Nasional: Menjaga Negara Tetap Kuat

    Oleh: Bara Winatha*)

    Penerimaan pajak memiliki peran yang sangat strategis dalam menjaga kekuatan negara di tengah dinamika ekonomi global yang terus berubah. Melalui penerimaan negara yang sehat, pemerintah memiliki ruang fiskal untuk membiayai pembangunan, menjaga stabilitas ekonomi, memperkuat perlindungan sosial, serta meningkatkan kualitas pelayanan publik. Oleh karena itu, penguatan sistem perpajakan bukan sekadar upaya meningkatkan pendapatan negara, melainkan bagian dari strategi membangun ketahanan nasional yang berkelanjutan. Berbagai indikator fiskal pada Semester I 2026 menunjukkan fondasi penerimaan negara yang semakin kuat sebagai penopang pembangunan Indonesia.

    Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) sepanjang Semester I 2026 menunjukkan penguatan yang signifikan. Menurutnya, pendapatan negara mencapai Rp1.459,4 triliun atau tumbuh 21,4 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, sementara penerimaan pajak berhasil menembus Rp1.035,7 triliun atau meningkat 24,6 persen secara tahunan. Capaian tersebut mencerminkan semakin kuatnya kemampuan fiskal negara dalam menopang berbagai program pembangunan sekaligus menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional.

    Penguatan penerimaan negara tidak hanya berasal dari sektor perpajakan, tetapi juga ditopang oleh penerimaan kepabeanan, cukai, dan penerimaan negara bukan pajak yang turut mengalami pertumbuhan positif. Di sisi belanja, pemerintah tetap menjaga keseimbangan dengan memastikan belanja negara serta transfer ke daerah berjalan sesuai kebutuhan pembangunan. Kebijakan fiskal tersebut dirancang agar manfaat pertumbuhan ekonomi dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat di berbagai wilayah.

    Kinerja penerimaan pajak yang terus meningkat menunjukkan adanya perbaikan struktural dalam sistem perpajakan Indonesia. Pertumbuhan tersebut menjadi sinyal bahwa reformasi perpajakan mulai menghasilkan fondasi yang lebih kokoh dan tidak lagi bergantung pada faktor-faktor yang bersifat sementara. Kondisi ini sangat penting mengingat tantangan ekonomi global masih dipengaruhi oleh ketidakpastian geopolitik, fluktuasi harga komoditas, hingga perlambatan ekonomi di sejumlah negara. Dengan fondasi fiskal yang semakin kuat, Indonesia memiliki kapasitas lebih besar dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.

    Direktur Jenderal Pajak, Bimo Wijayanto, mengatakan perluasan basis pajak menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan fiskal Indonesia. Menurutnya, peningkatan rasio perpajakan merupakan syarat penting agar APBN memiliki kemampuan yang semakin besar dalam membiayai pembangunan dan menghadapi berbagai tantangan ekonomi global. Reformasi perpajakan perlu terus dilanjutkan agar sistem penerimaan negara menjadi lebih berkelanjutan serta mampu memberikan kontribusi yang stabil terhadap pembiayaan negara.

    Peningkatan kepatuhan wajib pajak di sektor formal saja belum cukup untuk mencapai target penerimaan nasional. Oleh karena itu, Direktorat Jenderal Pajak terus mengembangkan berbagai strategi melalui penambahan wajib pajak baru, optimalisasi perpajakan sektor ekonomi digital, serta penguatan sistem administrasi perpajakan. Pendekatan tersebut bertujuan menciptakan sistem perpajakan yang lebih modern, adil, dan mampu mengikuti perkembangan aktivitas ekonomi masyarakat. Reformasi tersebut sekaligus menjadi fondasi penting dalam memperkuat daya tahan APBN menghadapi dinamika global.

    Salah satu sektor yang memberikan kontribusi semakin besar terhadap penerimaan negara adalah ekonomi digital. Perkembangan teknologi telah melahirkan berbagai model bisnis baru yang memerlukan sistem perpajakan yang adaptif agar seluruh aktivitas ekonomi dapat memberikan kontribusi secara proporsional terhadap negara. Pemanfaatan teknologi informasi juga memungkinkan pemerintah meningkatkan efektivitas pengawasan sekaligus memperluas cakupan wajib pajak. Dengan demikian, pertumbuhan ekonomi digital dapat berjalan seiring dengan peningkatan penerimaan negara.

    Direktur Penyuluhan, Pelayanan, dan Hubungan Masyarakat Direktorat Jenderal Pajak, Inge Diana Rismawanti, mengatakan penerimaan pajak dari sektor ekonomi digital hingga akhir Juni 2026 telah mencapai Rp54,7 triliun. Menurutnya, penerimaan tersebut berasal dari berbagai sektor, antara lain Pajak Pertambahan Nilai Perdagangan Melalui Sistem Elektronik (PPN PMSE), pajak aset kripto, pajak fintech, serta pajak melalui Sistem Informasi Pengadaan Pemerintah. Capaian tersebut menunjukkan bahwa transformasi digital tidak hanya menciptakan peluang ekonomi baru, tetapi juga memperluas sumber penerimaan negara.

    Inge juga menjelaskan bahwa Direktorat Jenderal Pajak terus melakukan penyempurnaan sistem pemungutan pajak digital melalui penunjukan pelaku usaha PMSE sebagai pemungut PPN. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan setiap transaksi digital memberikan kontribusi terhadap pembangunan nasional sesuai ketentuan yang berlaku. Selain memperkuat penerimaan negara, kebijakan ini juga menciptakan kepastian hukum dan meningkatkan keadilan dalam sistem perpajakan.

    Penguatan penerimaan pajak pada akhirnya memiliki dampak yang jauh lebih luas dibandingkan sekadar peningkatan pendapatan negara. Dana yang dihimpun melalui pajak menjadi sumber utama pembiayaan pembangunan infrastruktur, pendidikan, kesehatan, perlindungan sosial, hingga penguatan pertahanan dan keamanan nasional. Semakin kuat penerimaan negara, semakin besar pula kemampuan pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi serta memberikan perlindungan kepada masyarakat ketika menghadapi berbagai tantangan global.

    Komitmen pemerintah dalam memperluas basis pajak, meningkatkan kepatuhan, serta memanfaatkan perkembangan teknologi akan memperkuat ketahanan nasional dalam menghadapi berbagai dinamika ekonomi dunia. Melalui sistem perpajakan yang sehat dan berkelanjutan, negara memiliki kemampuan lebih besar untuk menjaga pertumbuhan ekonomi, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, serta memastikan pembangunan nasional terus berjalan. Dengan demikian, penerimaan pajak tidak hanya menjadi instrumen fiskal, tetapi juga menjadi salah satu pilar utama dalam menjaga negara tetap kuat dan berdaya saing.

    *)Penulis merupakan pengamat sosial dan kemasyarakatan.

  • Pemerintah Siapkan Universitas Republik Indonesia untuk Perkuat Pendidikan Kepemimpinan

    JAKARTA — Pemerintah terus memperkuat pembangunan sumber daya manusia melalui pembentukan Universitas Republik Indonesia (URI), sebuah lembaga pendidikan yang disiapkan untuk mencetak calon pemimpin bangsa dengan kompetensi teknis, kemampuan manajerial, serta wawasan kebangsaan yang kuat.

    Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan bahwa URI dirancang dengan mengadopsi praktik terbaik dari sejumlah negara yang telah memiliki lembaga pendidikan khusus bagi calon pemimpin pemerintahan.

    “Jadi, belajar kayak beberapa negara itu punya lembaga-lembaga pendidikan yang memang khusus mempersiapkan calon-calon pemimpin. Sehingga diharapkan semua memiliki kemampuan secara teknis maupun yang paling penting itu wawasan kebangsaan,” ujar Prasetyo.

    Pembentukan URI menjadi bagian dari komitmen Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat kualitas kepemimpinan nasional melalui sistem pembinaan yang terintegrasi dan berkelanjutan.

    Model tersebut mengacu pada lembaga pendidikan kepemimpinan di Prancis, yakni École nationale d’administration (ENA) yang kini menjadi Institut National du Service Public (INSP), sebagai referensi dalam menyiapkan aparatur negara yang profesional dan berintegritas.

    Presiden Prabowo telah melantik Marsekal TNI (Purn) Donny Ermawan Taufanto sebagai Gubernur Universitas Republik Indonesia untuk memimpin pengembangan lembaga baru tersebut.

    Donny menjelaskan bahwa URI dibangun sebagai pusat pendidikan kepemimpinan yang mengintegrasikan berbagai jenjang pendidikan, mulai dari Sekolah Unggulan Garuda, perguruan tinggi, hingga pembinaan aparatur pemerintahan.

    “Jadi Bapak Presiden ini sangat concern dengan sumber daya manusia, terutama untuk pemimpin Indonesia di masa depan. Kita akan mendidik, melatih karakter, pemikiran, dan managerial skill agar mereka mampu menjadi pemimpin masa depan,” kata Donny.

    Sebagai bagian dari pengembangannya, pemerintah berencana membangun 10 kampus Universitas Republik Indonesia di berbagai daerah.

    Salah satu kampus utama akan dibangun di kawasan Bogor, Jawa Barat, dengan memanfaatkan lahan bekas perkebunan yang sudah tidak produktif.

    Sementara itu, aktivitas awal URI akan berlangsung di gedung Kementerian BUMN di Jakarta sebelum kampus permanen selesai dibangun.

    URI juga akan memperkuat fungsi Lembaga Administrasi Negara (LAN) dengan memperluas cakupan pembinaan, tidak hanya bagi aparatur sipil negara, tetapi juga calon pemimpin di lingkungan badan usaha milik negara (BUMN).

    Melalui integrasi tersebut, pemerintah menargetkan terciptanya jalur pengembangan kepemimpinan nasional yang berkesinambungan sejak pendidikan hingga pengabdian di sektor publik.

    Langkah strategis ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menyiapkan generasi pemimpin masa depan yang memiliki integritas, kapasitas, dan semangat kebangsaan.

    Dengan sistem pendidikan kepemimpinan yang terstruktur dan mengacu pada praktik internasional, URI diharapkan menjadi fondasi penting dalam memperkuat tata kelola pemerintahan sekaligus meningkatkan kualitas pelayanan publik di masa mendatang.

  • Presiden Prabowo Bentuk Universitas Republik Indonesia untuk Cetak Pemimpin Masa Depan

    Jakarta – Pemerintah resmi membentuk Universitas Republik Indonesia (URI) sebagai lembaga pendidikan yang dirancang untuk menyiapkan calon pemimpin masa depan di lingkungan pemerintahan dan badan usaha milik negara (BUMN).

    Kehadiran URI menjadi bagian dari strategi jangka panjang Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat kualitas sumber daya manusia (SDM) nasional sekaligus membangun sistem kepemimpinan yang terintegrasi, berkelanjutan, dan berorientasi pada kepentingan bangsa.

    Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi mengatakan pembentukan URI telah dipersiapkan secara matang dan mengadopsi praktik terbaik dari sejumlah negara yang memiliki institusi pendidikan khusus untuk mencetak pemimpin nasional.

    Salah satu model yang menjadi rujukan adalah Ecole nationale d’administration (ENA) di Prancis yang kini bertransformasi menjadi Institut National du Service Public (INSP).

    “Itu sudah kita persiapkan lama,” ujar Prasetyo.

    Menurutnya, pemerintah ingin menghadirkan lembaga pendidikan yang tidak hanya membekali peserta dengan kompetensi teknis, tetapi juga memperkuat karakter kepemimpinan dan wawasan kebangsaan.

    Hal tersebut dinilai penting mengingat tantangan pemerintahan dan pengelolaan BUMN ke depan akan semakin kompleks dan membutuhkan figur pemimpin yang adaptif serta memiliki integritas tinggi.

    “Sehingga diharapkan semua memiliki kemampuan secara teknis maupun yang paling penting itu wawasan kebangsaan. Kita ini semua menjalankan amanah untuk kepentingan kebangsaan dan negara,” katanya.

    Sementara itu, Gubernur Universitas Republik Indonesia, Donny Ermawan, menjelaskan bahwa URI merupakan manifestasi dari perhatian Presiden Prabowo terhadap pembangunan SDM, khususnya dalam menyiapkan pemimpin Indonesia di masa depan.

    Menurut Donny, URI akan menjadi simpul pendidikan yang menghubungkan pembinaan sejak tingkat sekolah menengah, perguruan tinggi, hingga pelatihan bagi aparatur sipil negara dan pegawai BUMN.

    “Jadi, Bapak Presiden ini sangat concern dengan sumber daya manusia, terutama untuk pemimpin Indonesia di masa depan khususnya. Nah, inilah beliau menginginkan adanya pendidikan-pendidikan, baik di tingkat SD, SMP, SMA, perguruan tinggi, dan juga di pemerintahan,” ujar Donny.

    Ia menambahkan, URI dirancang untuk membangun sistem pembinaan kepemimpinan yang komprehensif melalui penguatan karakter, integritas, serta kemampuan manajerial.

    “Ini semua terkait dengan pendidikan, pembinaan, dan penyiapan sumber daya manusia ke depan, baik untuk pemerintahan maupun BUMN,” tambahnya.

    Kehadiran URI diharapkan menjadi tonggak baru dalam pengembangan SDM nasional. Dengan sistem pendidikan yang terintegrasi dan berorientasi jangka panjang, pemerintah optimistis Indonesia akan memiliki generasi pemimpin yang profesional, berintegritas, dan mampu membawa bangsa bersaing di tingkat global tanpa kehilangan identitas dan semangat kebangsaan.

  • Universitas Republik Indonesia sebagai Investasi Jangka Panjang untuk Negara

    *) Oleh : Gavin Asadit

    Pemerintah terus menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai prioritas utama dalam agenda pembangunan nasional. Pada 2026, komitmen tersebut semakin diperkuat melalui pembentukan Universitas Republik Indonesia (URI), sebuah institusi yang diproyeksikan menjadi pusat pengembangan kepemimpinan nasional, tata kelola pemerintahan, serta pendidikan kebangsaan. Kehadiran URI dipandang bukan sekadar penambahan lembaga pendidikan tinggi, melainkan investasi jangka panjang negara dalam menyiapkan pemimpin masa depan yang memiliki integritas, kapasitas, dan kemampuan menjawab tantangan pembangunan Indonesia.

    Pemerintah meyakini bahwa kemajuan suatu bangsa sangat ditentukan oleh kualitas manusianya, sehingga investasi di bidang pendidikan merupakan fondasi utama menuju Indonesia Emas 2045. Pembentukan URI juga menjadi bagian dari strategi besar reformasi birokrasi, penguatan institusi negara, serta peningkatan kualitas aparatur yang mampu bekerja secara profesional, adaptif, dan berorientasi pada pelayanan publik.

    Universitas Republik Indonesia dibentuk di bawah Badan Pengelola Pendidikan Kebangsaan (BPPK) dengan mandat mengintegrasikan berbagai lembaga pendidikan kepemimpinan dan pengembangan aparatur yang selama ini berjalan secara terpisah. Melalui pendekatan tersebut, pemerintah ingin menghadirkan sistem pendidikan yang lebih terpadu, efektif, dan mampu menghasilkan sumber daya manusia unggul bagi kebutuhan negara. URI dirancang tidak hanya sebagai institusi akademik, tetapi juga sebagai pusat pembentukan karakter kepemimpinan yang menggabungkan penguasaan ilmu pengetahuan, wawasan kebangsaan, tata kelola pemerintahan, serta kemampuan menghadapi perubahan global. Langkah ini diharapkan mampu memperkuat kesinambungan regenerasi kepemimpinan nasional sekaligus meningkatkan kualitas birokrasi Indonesia dalam jangka panjang.

    Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pembangunan sumber daya manusia merupakan investasi paling penting bagi masa depan Indonesia. Dalam berbagai kesempatan, Presiden menyampaikan bahwa negara membutuhkan pemimpin dan aparatur yang memiliki kompetensi tinggi, integritas, serta semangat pengabdian kepada bangsa. Karena itu, pemerintah terus memperkuat ekosistem pendidikan melalui berbagai program strategis, termasuk pembangunan Universitas Republik Indonesia, perluasan akses pendidikan tinggi, penguatan SMA Unggul Garuda, serta peningkatan investasi pada riset dan inovasi. Menurut Presiden, kemajuan ekonomi, pertahanan, dan daya saing bangsa hanya dapat dicapai apabila Indonesia memiliki sumber daya manusia yang unggul dan mampu menguasai ilmu pengetahuan serta teknologi.

    Gubernur Universitas Republik Indonesia sekaligus Kepala Badan Pengelola Pendidikan Kebangsaan, Marsekal (Purn) Donny Ermawan Taufanto, menjelaskan bahwa URI dibangun sebagai institusi yang mempersiapkan calon-calon pemimpin bangsa melalui sistem pendidikan yang terintegrasi. Menurutnya, universitas tersebut tidak hanya menekankan aspek akademik, tetapi juga pembentukan karakter, kepemimpinan, disiplin, serta kemampuan manajerial yang dibutuhkan dalam penyelenggaraan pemerintahan modern.

    Ia menilai tantangan pembangunan ke depan semakin kompleks sehingga negara membutuhkan pemimpin yang memiliki kemampuan berpikir strategis, mampu berkolaborasi lintas sektor, serta memahami kepentingan nasional secara utuh. Karena itu, URI diharapkan menjadi salah satu pusat pengembangan kepemimpinan yang mampu menghasilkan SDM berkualitas tinggi untuk mendukung agenda pembangunan nasional.

    Pemerintah juga memandang pembentukan URI sebagai bagian dari penguatan ekosistem pendidikan nasional yang berorientasi pada kebutuhan pembangunan. Selain meningkatkan kualitas aparatur, institusi tersebut diharapkan menjadi pusat pengembangan kebijakan publik, riset strategis, serta inovasi tata kelola pemerintahan. Sinergi antara dunia akademik, lembaga negara, industri, dan pusat penelitian menjadi elemen penting agar hasil pendidikan tidak berhenti pada aspek teoritis, tetapi mampu melahirkan solusi nyata terhadap berbagai tantangan pembangunan. Pendekatan tersebut sejalan dengan arah transformasi pendidikan tinggi yang menempatkan kampus sebagai motor penggerak inovasi, peningkatan produktivitas, dan penguatan daya saing bangsa di tingkat global.

    Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menegaskan bahwa penguatan kualitas pendidikan tinggi menjadi bagian penting dari strategi nasional dalam membangun Indonesia yang maju dan mandiri. Menurutnya, pembangunan sumber daya manusia harus dilakukan secara berkesinambungan melalui peningkatan kualitas pendidikan, penguasaan sains dan teknologi, penguatan riset, serta kolaborasi antara perguruan tinggi dengan berbagai sektor pembangunan. Ia menilai kehadiran institusi pendidikan baru yang memiliki orientasi strategis akan memperkuat kapasitas nasional dalam mencetak pemimpin, inovator, dan profesional yang mampu menjawab tantangan masa depan. Pemerintah, lanjutnya, akan terus memperluas akses pendidikan berkualitas agar semakin banyak generasi muda memperoleh kesempatan mengembangkan potensi terbaiknya.

    Di sisi lain, pembentukan Universitas Republik Indonesia juga mencerminkan upaya pemerintah memperkuat kesinambungan pembangunan melalui investasi pada kualitas manusia. Dalam menghadapi perubahan teknologi, kompetisi global, serta transformasi ekonomi, negara membutuhkan pemimpin yang mampu mengambil keputusan berdasarkan ilmu pengetahuan, data, dan kepentingan nasional. Oleh karena itu, pembangunan institusi pendidikan yang berorientasi pada kepemimpinan dipandang sebagai investasi jangka panjang yang manfaatnya akan dirasakan dalam berbagai sektor, mulai dari birokrasi, ekonomi, pendidikan, hingga pertahanan. Pemerintah optimistis bahwa investasi pada pendidikan akan memberikan dampak yang jauh lebih besar dibandingkan manfaat jangka pendek karena menghasilkan generasi yang mampu menjaga keberlanjutan pembangunan nasional.

    Universitas Republik Indonesia merupakan bagian dari visi besar pemerintah dalam membangun fondasi sumber daya manusia yang unggul, berkarakter, dan berdaya saing global. Melalui integrasi pendidikan kepemimpinan, penguatan riset, serta pembentukan karakter kebangsaan, pemerintah berharap URI mampu menjadi salah satu institusi strategis yang melahirkan generasi pemimpin masa depan. Sinergi antara pemerintah, dunia pendidikan, lembaga negara, dan masyarakat diharapkan dapat memperkuat kualitas SDM Indonesia secara berkelanjutan. Dengan investasi yang konsisten pada sektor pendidikan, Indonesia memiliki modal yang semakin kuat untuk mewujudkan tata kelola pemerintahan yang modern, pembangunan yang inklusif, serta cita-cita Indonesia Emas 2045.

    )* Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial dan Kemasyarakatan

  • Universitas Republik Indonesia: Melahirkan Integritas, Karakter, dan Nasionalisme

    Oleh: Rivka Mayangsari*)

    Pembangunan bangsa yang berkelanjutan tidak hanya ditentukan oleh kekuatan ekonomi maupun kemajuan teknologi, tetapi juga oleh kualitas sumber daya manusia yang memimpin perjalanan bangsa. Di tengah dinamika global yang semakin kompleks, Indonesia membutuhkan pemimpin yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki integritas, karakter, kemampuan manajerial, dan semangat nasionalisme yang kuat. Berangkat dari kebutuhan tersebut, pemerintah menghadirkan Universitas Republik Indonesia (URI) sebagai langkah strategis dalam membangun sistem pembinaan kepemimpinan nasional yang lebih terintegrasi dan berorientasi jangka panjang.

    Pemerintah resmi membentuk Universitas Republik Indonesia (URI) sebagai lembaga yang berfokus pada pengembangan pendidikan kepemimpinan nasional. Kehadiran URI menjadi bagian dari strategi besar pemerintah dalam menyiapkan sumber daya manusia unggul yang mampu mengisi berbagai posisi strategis di masa depan. Langkah ini sekaligus menunjukkan komitmen negara dalam membangun fondasi kepemimpinan nasional yang kuat sebagai modal utama menuju Indonesia Emas 2045.

    Berbeda dengan institusi pendidikan pada umumnya, URI dirancang sebagai pusat pendidikan kepemimpinan yang mengintegrasikan pembinaan calon pemimpin sejak jenjang pendidikan sekolah, perguruan tinggi, hingga pelatihan aparatur negara. Pendekatan tersebut diharapkan mampu menciptakan proses pembentukan karakter kepemimpinan yang berlangsung secara berkesinambungan, sehingga setiap tahapan pendidikan menjadi bagian dari satu ekosistem yang saling melengkapi.

    Model pembinaan yang terintegrasi ini mencerminkan perubahan paradigma dalam pembangunan sumber daya manusia. Pemerintah tidak lagi memandang pendidikan kepemimpinan sebagai proses yang dilakukan secara terpisah, melainkan sebagai perjalanan panjang yang dimulai sejak usia muda hingga seseorang memasuki dunia profesional dan pengabdian kepada negara. Dengan demikian, pembentukan karakter, integritas, dan kemampuan memimpin dapat dilakukan secara lebih sistematis.

    Gubernur URI, Donny Ermawan Taufanto, menjelaskan bahwa lembaga ini dibangun untuk menghasilkan pemimpin yang memiliki kemampuan akademik, kecakapan manajerial, serta karakter kebangsaan yang kuat. Menurutnya, tantangan pembangunan nasional pada masa depan membutuhkan sosok pemimpin yang mampu mengambil keputusan secara tepat, adaptif terhadap perubahan, sekaligus tetap berpegang teguh pada nilai-nilai Pancasila dan kepentingan nasional.

    Donny menegaskan bahwa URI akan menjadi bagian penting dalam ekosistem pendidikan nasional yang menghubungkan berbagai jenjang pendidikan dan pelatihan kepemimpinan. Dengan sistem yang saling terintegrasi, proses pembinaan tidak lagi berjalan sendiri-sendiri, melainkan membentuk mata rantai pengembangan kepemimpinan yang berkesinambungan. Pendekatan ini diharapkan mampu menghasilkan kader-kader bangsa yang memiliki kompetensi sekaligus konsistensi dalam mengabdi kepada negara.

    Sistem yang diterapkan di URI bertujuan menghasilkan pemimpin yang tidak hanya menguasai ilmu pengetahuan, tetapi juga memiliki integritas, kemampuan mengambil keputusan, serta komitmen terhadap kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi maupun kelompok. Nilai-nilai tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun tata kelola pemerintahan yang profesional, akuntabel, dan berorientasi pada pelayanan masyarakat.

    Selain penguatan aspek akademik, URI juga memberikan perhatian besar terhadap pembentukan karakter. Pendidikan karakter dipandang sebagai elemen yang tidak dapat dipisahkan dari proses pembentukan kepemimpinan. Seorang pemimpin yang memiliki kompetensi tinggi akan mampu memberikan manfaat yang lebih besar apabila dibarengi dengan kejujuran, tanggung jawab, disiplin, empati, dan semangat pengabdian kepada bangsa.

    Nasionalisme juga menjadi salah satu pilar utama dalam konsep pendidikan URI. Di tengah arus globalisasi yang semakin terbuka, pemerintah menilai penting untuk memperkuat identitas kebangsaan agar generasi muda tetap memiliki rasa cinta tanah air, memahami sejarah bangsa, serta menjadikan kepentingan nasional sebagai orientasi utama dalam setiap kebijakan dan tindakan yang diambil. Dengan demikian, kemajuan teknologi dan keterbukaan global dapat dimanfaatkan tanpa mengikis jati diri bangsa Indonesia.

    Pendirian URI merupakan bagian dari upaya pemerintah dalam membangun Indonesia melalui peningkatan kualitas manusia. Pendidikan dipandang sebagai fondasi utama dalam melahirkan pemimpin yang mampu menghadapi berbagai tantangan pembangunan, mulai dari transformasi ekonomi, perkembangan teknologi, ketahanan nasional, hingga persaingan global yang semakin kompetitif.

    Keberadaan URI juga diharapkan mampu memperkuat sinergi antara dunia pendidikan, lembaga pelatihan, birokrasi, serta berbagai institusi strategis lainnya. Kolaborasi tersebut akan menciptakan ruang pembelajaran yang lebih komprehensif sehingga calon pemimpin tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki pengalaman praktis dalam menyelesaikan berbagai persoalan pembangunan.

    Dalam perspektif pembangunan nasional, investasi terbesar suatu bangsa bukan hanya pada infrastruktur fisik, melainkan juga pada pembangunan manusia. Oleh karena itu, pembentukan URI menjadi langkah strategis untuk memastikan Indonesia memiliki kader-kader pemimpin yang siap menghadapi perubahan zaman dengan bekal pengetahuan, keterampilan, serta karakter yang kuat. Investasi pada pendidikan kepemimpinan diyakini akan memberikan manfaat jangka panjang bagi keberlangsungan pembangunan nasional.

    Melalui URI, pemerintah berharap lahir generasi pemimpin yang memiliki kemampuan intelektual, jiwa kepemimpinan, integritas, nasionalisme, serta dedikasi tinggi dalam mengabdi kepada masyarakat dan negara. Dengan sistem pendidikan yang terintegrasi dan berorientasi pada pembentukan karakter, URI diharapkan menjadi salah satu pilar penting dalam mencetak pemimpin masa depan yang mampu membawa Indonesia menuju kemajuan, memperkuat persatuan bangsa, serta mewujudkan cita-cita Indonesia sebagai negara maju, berdaya saing, dan sejahtera.

    *) Pemerhati sosial

  • Pemerintah Siapkan PFII sebagai Pusat Finansial yang Perkuat Posisi Rupiah

    Jakarta – Pemerintah terus memperkuat fondasi sektor keuangan nasional melalui pembentukan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) sebagai bagian dari strategi meningkatkan daya saing ekonomi nasional di tengah dinamika global. Kehadiran PFII diharapkan menjadi pusat keuangan berstandar internasional yang mampu menarik investasi global, memperluas sumber pembiayaan pembangunan, memperdalam pasar keuangan domestik, serta mendukung penguatan posisi rupiah melalui meningkatnya kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia.

    Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa pembentukan PFII merupakan langkah strategis untuk membangun arsitektur baru sektor keuangan Indonesia yang lebih modern, kompetitif, dan terintegrasi dengan ekosistem keuangan global. Menurutnya, keberadaan PFII bukan untuk menggantikan sistem keuangan nasional yang telah berjalan, melainkan melengkapinya agar Indonesia memiliki pusat keuangan yang kredibel dan mampu menjadi magnet bagi arus investasi internasional. “Rancangan Undang-Undang tentang PFII ini lahir atas kesadaran bahwa sebagai negara Asia Tenggara terbesar dan anggota G20, Indonesia sudah saatnya memiliki sebuah financial center sendiri yang kredibel, mandiri, berintegritas, serta berdaya saing global,” tegasnya.

    Purbaya menambahkan bahwa pendalaman pasar keuangan melalui PFII akan memperluas pilihan pembiayaan bagi sektor riil sekaligus meningkatkan ketahanan ekonomi nasional terhadap gejolak eksternal. Ia menilai semakin kuatnya sektor keuangan domestik akan memberikan dukungan positif terhadap stabilitas nilai tukar rupiah dalam jangka panjang. “PFII merupakan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global,” ujarnya.

    Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menyampaikan bahwa pembahasan RUU PFII dilakukan secara intensif karena memiliki arti penting bagi masa depan sektor keuangan nasional. Menurutnya, pembentukan PFII merupakan amanat undang-undang yang harus segera diwujudkan guna memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pusat pertumbuhan ekonomi di kawasan. “RUU PFII menjadi prioritas karena akan menjadi fondasi penting bagi pengembangan pusat finansial internasional Indonesia,” katanya.

    Misbakhun menambahkan bahwa sinergi antara pemerintah dan DPR dalam menyelesaikan pembahasan RUU PFII mencerminkan komitmen bersama untuk menghadirkan regulasi yang memberikan kepastian hukum sekaligus meningkatkan daya tarik investasi. Ia berharap kehadiran PFII mampu memperluas akses pembiayaan bagi sektor produktif dan memperkuat posisi Indonesia dalam jaringan keuangan global. “Kami berharap PFII menjadi instrumen yang mampu memperkuat ekosistem keuangan nasional dan memberikan manfaat nyata bagi perekonomian Indonesia,” tuturnya.

    Melalui pembentukan PFII, pemerintah optimistis Indonesia akan memiliki pusat finansial yang mampu memperkuat posisi rupiah, meningkatkan ketahanan sektor keuangan, serta menjadi katalis pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat keuangan berdaya saing global tanpa mengabaikan kepentingan ekonomi nasional.

  • PFII Disiapkan Jadi Instrumen Baru Memperkuat Rupiah dan Daya Saing Keuangan RI

    Jakarta – Pemerintah terus memperkuat fondasi sektor keuangan nasional melalui pembentukan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII) sebagai instrumen baru untuk meningkatkan daya saing industri keuangan, memperluas sumber pembiayaan pembangunan, serta memperkuat ketahanan eksternal dan stabilitas nilai tukar rupiah. Kehadiran PFII diproyeksikan menjadi bagian dari strategi jangka panjang Indonesia dalam membangun pusat keuangan berstandar internasional yang mampu menarik arus modal global tanpa mengesampingkan kepentingan nasional.

    Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pembentukan PFII bukan dimaksudkan menggantikan sistem keuangan nasional yang telah berjalan, melainkan melengkapinya dengan ekosistem keuangan kelas dunia yang lebih kompetitif. Menurutnya, Indonesia sebagai negara ekonomi terbesar di Asia Tenggara dan anggota G20 sudah saatnya memiliki pusat finansial yang kredibel, mandiri, berintegritas, serta mampu memperluas akses pembiayaan jangka panjang bagi pembangunan nasional.

    “PFII merupakan langkah strategis untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global melalui pendalaman pasar keuangan, diversifikasi instrumen pembiayaan, dan peningkatan kepercayaan investor,” ujar Purbaya.

    Pemerintah menilai keberadaan PFII juga dapat memperkuat posisi rupiah melalui peningkatan aliran investasi, bertambahnya aktivitas jasa keuangan internasional di dalam negeri, serta pendalaman pasar keuangan domestik. Dengan ekosistem yang semakin lengkap, kebutuhan pembiayaan sektor riil dan proyek-proyek strategis nasional dapat dipenuhi secara lebih efisien sehingga mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan.

    Dukungan juga datang dari Bank Indonesia. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti menilai pembentukan PFII berpotensi memperkuat ketahanan eksternal Indonesia, khususnya melalui perbaikan neraca pembayaran dan peningkatan daya tarik investasi. Menurutnya, tantangan terbesar perekonomian Indonesia saat ini berada pada sektor eksternal sehingga diperlukan instrumen baru yang mampu menarik arus modal dan memperkuat fondasi sistem keuangan nasional.

    “Pembentukan PFII menjadi langkah strategis untuk memperkuat ketahanan eksternal Indonesia melalui pendalaman pasar keuangan dan peningkatan daya tarik investasi. Dengan ekosistem keuangan yang semakin kompetitif, Indonesia memiliki peluang lebih besar menarik arus modal berkualitas sekaligus memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah di tengah dinamika ekonomi global,” ujarnya

    Pemerintah menegaskan bahwa pengembangan PFII dilakukan dengan tetap mengedepankan tata kelola yang baik, transparansi, serta pengawasan yang kuat. Melalui sinergi antara pemerintah, otoritas keuangan, dan pelaku industri, PFII diharapkan menjadi katalis bagi penguatan rupiah, peningkatan investasi, serta menjadikan Indonesia sebagai salah satu pusat keuangan yang semakin diperhitungkan di kawasan maupun tingkat global.