Penulis: restiana818@gmail.com

  • Publik Diimbau Tidak Terpancing Narasi Provokatif Soal Gelar Pahlawan Soeharto

    Oleh: Dhita Karuniawati )*

    Perdebatan mengenai pemberian gelar pahlawan nasional kepada Presiden kedua RI, Soeharto, mencuat ke ruang publik dan menimbulkan berbagai reaksi. Perbedaan pandangan baik pro maupun kontra sebenarnya merupakan hal wajar dalam kehidupan demokrasi. Namun, meningkatnya narasi provokatif, misinformasi, serta ajakan-ajakan yang memanfaatkan isu tersebut untuk memecah belah masyarakat menjadi perhatian serius. Karena itu, berbagai kalangan mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpancing, tetap kritis, dan mengedepankan dialog berbasis data serta hukum yang berlaku.

    Isu gelar pahlawan bagi Soeharto telah menjadi topik sensitif sejak lama. Di satu sisi, ada kelompok yang menilai Soeharto berjasa besar terhadap pembangunan ekonomi, stabilitas nasional, dan program strategis yang membawa perubahan signifikan bagi Indonesia selama masa pemerintahannya. Di sisi lain, terdapat pihak yang menolak keras dengan alasan adanya berbagai catatan sejarah seperti pelanggaran HAM, pembungkaman kebebasan pers, serta tragedi-tragedi besar pada masa Orde Baru.

    Perbedaan posisi tersebut tidak bisa dinafikan. Namun yang perlu digarisbawahi adalah bahwa perdebatan ini sering kali dimanfaatkan oleh pihak-pihak tertentu, termasuk aktor politik maupun simpatisan yang ingin menciptakan kegaduhan dan polarisasi. Narasi provokatif yang beredar di media sosial dapat memicu kebencian, memperkeruh suasana, dan mengganggu stabilitas sosial. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk menjaga ketenangan, tidak langsung mempercayai narasi yang belum terverifikasi, serta menghindari membagikan konten provokatif yang dapat memperburuk keadaan.

    Direktur Citra Institute, Yusak Farhan mengatakan, jika masih saja ada pihak yang melakukan penolakan terhadap gelar Pahlawan Nasional terhadap Soeharto, maka justru mereka berlaku secara tidak adil karena mengabaikan kontribusi besar pembangunan Soeharto. Menjadikan Soeharto sebagai pahlawan nasional tidak berarti menghilangkan nalar kritis kita terhadap kepemimpinan Soeharto.

    Menurut Yusak, fondasi ekonomi yang dibangun melalui Repelita menjadi bukti nyata pengabdian panjang Soeharto. Yusak juga menekankan pentingnya kedewasaan bangsa dalam menyikapi sejarah. Kalau kita ribut dan dendam terus atas masa lalu, sampai kapan bangsa kita bisa menjadi dewasa. Kita harus bisa menempatkan sejarah secara adil.

    Yusak kemudian menegaskan bahwa usulan gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto telah melalui proses panjang sejak era Presiden SBY. Dukungan akademisi turut menguatkan anggapan bahwa gelar tersebut pantas diberikan. 

    Sementara Praktisi Hukum Universitas Negeri Semarang (Unnes), M. Azil Masykur SH MH, mengatakan, pemberian gelar pahlawan tahun 2025 terhadap Soeharto telah memenuhi syarat sebagaimana diatur dalam UU nomor 20 tahun 2009  tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan, serta Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 35 Tahun 2010.

    Menurut Azil, semua pihak harus memandang bahwa pro dan kontra merupakan upaya rekonsiliasi, sehingga ke depan dapat lebih dewasa dalam menghadapi perbedaan pendapat dan perbedaan perspektif antar anak bangsa. Pihak yang berseberangan bisa mengambil langkah hukum judicial review jika tidak sepakat syarat-syarat diatur dalam UU.

    Di era digital, informasi menyebar dengan sangat cepat. Ketika isu seperti gelar pahlawan untuk Soeharto muncul, ruang publik langsung dibanjiri opini yang sering kali tidak berdasarkan data, bahkan disertai manipulasi fakta. Jika dibiarkan, narasi seperti ini dapat memicu konflik horizontal, memperkuat polarisasi sosial, dan merusak kualitas deliberasi publik mengenai isu sejarah dan kebangsaan.

    Menanggapi hal tersebut, Ketua PW GP Ansor Jawa Tengah, DR. M. Shidqon Prabowo SH. MH. mengatakan, kader GP Ansor harus ikut menjaga stabilitas sosial terhadap keputusan pemerintah dalam pemberian gelar pahlawan ke sejumlah tokoh. 

    Shidqon mengatakan pihaknya ingin kader GP Ansor harus ikut menjaga stabilitas sosial dan narasi kebangsaan menyikapi keputusan pemerintah dalam pemberian gelar pahlawan nasional ke sejumlah tokoh, termasuk Soeharto. GP Ansor dapat mengambil posisi sebagai penyejuk, mengajak masyarakat menahan diri, tidak terprovokasi, dan tetap menjaga persatuan. Gelar pahlawan tidak boleh menjadi sumber konflik horizontal.

    Sejarah Indonesia menunjukkan bahwa isu-isu yang bersentuhan dengan memori kolektif bangsa sangat mudah dieksploitasi. Pada beberapa periode sebelumnya, polarisasi politik dan konflik sosial kerap diperparah oleh informasi yang tidak akurat atau sengaja dipelintir. Karena itu, literasi digital dan kemampuan berpikir kritis menjadi modal penting bagi masyarakat agar tidak terjebak dalam upaya provokasi.

    Selain itu, sejarah bangsa adalah rangkaian peristiwa yang kompleks. Tidak ada tokoh yang sepenuhnya tanpa cacat, sebagaimana tidak semua kebijakan masa lalu sepenuhnya salah atau benar. Pendekatan hitam-putih justru mempersempit ruang dialog dan menghambat pemahaman utuh tentang perjalanan bangsa.

    Pemberian gelar pahlawan nasional, apalagi kepada tokoh yang memiliki pengaruh besar seperti Soeharto, adalah isu yang tidak sederhana. Namun, pemerintah memastikan pembahasan tersebut dilakukan dengan hati-hati dan objektif sesuai ketentuan yang berlaku. Untuk itu, masyarakat jangan sampai terjebak pada narasi provokatif yang justru memperuncing perbedaan.

    Masyarakat diharapkan tetap tenang, cermat dalam menerima informasi, serta mengedepankan semangat persatuan. Sejarah bangsa adalah milik bersama, dan pengelolaannya membutuhkan kedewasaan publik. Menghormati perbedaan pandangan sambil menjaga akal sehat adalah cara terbaik untuk memastikan demokrasi tetap kuat dan ruang publik tetap produktif.

    *) Penulis adalah Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia

  • Pemberian Gelar Pahlawan Nasional Kepada Soeharto Bentuk Penghargaan Negara Terhadap Pemimpin

    Oleh: Anggina Nurhandayani*

    Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto, menjadi sebuah penegasan kuat bahwa negara menghormati para pemimpin yang telah memberikan kontribusi besar bagi kemajuan bangsa. Penetapan ini bukan sekadar keputusan administratif, melainkan simbol penghargaan tertinggi yang diberikan negara kepada sosok yang telah mengabdikan hidupnya untuk menjaga keutuhan negara, memperkuat fondasi pembangunan, dan menghadirkan kesejahteraan bagi rakyat Indonesia. Dalam konteks perjalanan sejarah bangsa, keputusan ini sekaligus menjadi penanda bahwa Indonesia menempatkan nilai-nilai kepemimpinan, pengabdian, dan dedikasi sebagai bagian tak terpisahkan dari identitas nasional.

    Soeharto merupakan figur penting dalam berbagai fase sejarah Indonesia. Kiprahnya dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 menjadi bukti nyata bahwa ia telah berjuang sejak masa awal mempertahankan kedaulatan Indonesia. Langkah-langkah strategisnya dalam menjaga keamanan nasional di masa-masa krusial menjadikan dirinya bagian integral dari proses panjang negara ini dalam meneguhkan eksistensi Republik. Negara memandang jejak perjuangan tersebut sebagai bagian dari alasan kuat yang mendasari pemberian gelar Pahlawan Nasional.

    Sebagai pemimpin, Soeharto dikenal berhasil membawa Indonesia memasuki era pembangunan modern. Melalui Repelita yang disusun secara sistematis, ia membangun fondasi ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur yang manfaatnya masih terasa hingga sekarang. Keberhasilannya dalam membawa Indonesia mencapai swasembada pangan, memperkokoh stabilitas ekonomi, dan memperluas akses pendidikan nasional menjadi catatan penting bagi negara dalam memberikan penghargaan resmi ini. Seluruh pencapaian tersebut menunjukkan bahwa Soeharto bukan hanya pemimpin administratif, tetapi juga arsitek pembangunan nasional.

    Dari perspektif masyarakat pedesaan, khususnya para petani, Soeharto dikenang sebagai pemimpin yang memberikan perhatian besar terhadap kesejahteraan mereka. Ketua Umum Asosiasi Petani Karet Indonesia, Irfan Ahmad Fauzi, menilai kebijakan-kebijakan Soeharto melalui program seperti PRPTE dan PIR berhasil membuka akses masyarakat desa terhadap pembangunan ekonomi yang lebih inklusif. Infrastruktur pertanian yang dibangun pada masa pemerintahannya memperlancar distribusi hasil produksi dan membuka konektivitas wilayah yang sebelumnya terisolasi. Dalam pandangan para petani, penetapan gelar Pahlawan Nasional merupakan penghormatan yang selaras dengan manfaat nyata yang mereka rasakan selama kepemimpinannya.

    Dukungan juga datang dari kalangan tokoh agama yang melihat bahwa keputusan ini menjadi bentuk penghormatan negara kepada pemimpin yang telah berjasa bagi bangsa. Muslim Mufti dari PP Persis menilai bahwa Soeharto adalah pemimpin yang pengabdiannya telah dimulai sejak masa perjuangan kemerdekaan. Ia melihat bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang menghargai para pemimpin yang telah memberikan kontribusi besar bagi kesejahteraan rakyat, dan penganugerahan gelar ini mencerminkan nilai luhur tersebut. Bagi kalangan tokoh agama, keputusan negara ini memperlihatkan penghormatan yang sejalan dengan nilai moral untuk menghargai orang-orang yang memberikan manfaat luas bagi umat.

    Pemerintah melalui Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka juga memandang penganugerahan ini sebagai langkah yang tepat dan penuh pertimbangan. Ia menilai bahwa Soeharto memiliki kontribusi besar dalam menciptakan stabilitas nasional serta membangun fondasi pertumbuhan ekonomi yang kuat. Keberhasilan Soeharto dalam memperluas akses pendidikan, menekan angka kemiskinan, serta meningkatkan kapasitas produksi nasional menjadi bagian dari alasan mengapa negara memberikan penghormatan tertinggi ini. Dengan memberikan gelar Pahlawan Nasional, negara menegaskan kembali bahwa kontribusi besar seorang pemimpin terhadap kesejahteraan rakyat adalah warisan yang patut dihargai.

    Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, menyampaikan bahwa penganugerahan gelar ini merupakan tradisi baik yang menunjukkan bagaimana bangsa menghormati pemimpinnya. Menurutnya, negara memberikan tempat terhormat bagi pemimpin yang telah berjasa demi kemajuan bangsa. Falsafah Jawa tentang menjunjung tinggi jasa pendahulu menjadi nilai luhur yang tercermin dalam keputusan ini. Sikap penghormatan tersebut dinilai sebagai bagian dari etika bangsa yang menempatkan pengabdian pemimpin sebagai warisan berharga.

    Pandangan positif juga datang dari Ketua DPD RI, Sultan Bachtiar Najamudin, yang menilai bahwa seluruh mantan presiden, terutama yang telah wafat, layak mendapatkan tempat terhormat. Ia melihat bahwa pemberian gelar ini merupakan bentuk penghargaan negara kepada pemimpin yang telah memberikan kontribusi besar untuk bangsa. Dengan memberikan gelar tersebut, negara menegaskan bahwa seluruh pemimpin memiliki peran penting dalam perjalanan republik.

    Kalangan akademisi turut memberikan penilaian yang menguatkan pentingnya penghargaan ini. Guru Besar UNJ, Abdul Haris Fatgehipon, menyampaikan bahwa Soeharto telah memberikan kontribusi besar, baik secara historis maupun pembangunan. Ia menilai bahwa pemberian gelar ini menjadi simbol penghormatan terhadap jasa besar yang telah diwariskan bagi bangsa Indonesia. Dalam pandangannya, bangsa yang beradab adalah bangsa yang memberikan penghormatan layak kepada para pemimpinnya.

    Dari perspektif rekonsiliasi nasional, Akademisi IAIN Gorontalo, Sahmin Madina, melihat bahwa pemberian gelar ini mencerminkan kedewasaan bangsa dalam memahami sejarah secara proporsional. Ia memandang bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai jasa pemimpinnya tanpa terus terjebak pada perbedaan politik masa lalu. Keputusan negara ini menjadi simbol persatuan dan semangat untuk menatap masa depan dengan optimisme.

    Secara keseluruhan, penetapan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional adalah bentuk penghormatan negara terhadap seorang pemimpin yang telah memberikan kontribusi luar biasa dalam membangun Indonesia. Gelar ini bukan hanya bentuk pengakuan terhadap masa lalu, tetapi juga pesan bagi generasi mendatang bahwa pengabdian tulus, visi kuat, dan kerja nyata seorang pemimpin akan selalu mendapatkan tempat terhormat dalam sejarah. Dengan menegaskan penghargaan ini, bangsa Indonesia semakin kuat dalam membangun identitas nasional yang menghormati jasa para pemimpinnya dan menjadikan semangat pembangunan sebagai warisan yang harus dilanjutkan.

    *Penulis merupakan Peneliti Bidang Kepemimpinan Nasional

  • Pemerintah Perkuat Peran Mahasiswa dalam Mendorong Kedaulatan Energi Nasional

    Pemerintah Perkuat Peran Mahasiswa dalam Mendorong Kedaulatan Energi Nasional

    JAKARTA – Pemerintah semakin mempertegas dukungan terhadap generasi muda untuk terlibat aktif dalam berbagai program pengembangan energi berkelanjutan sebagai fondasi menuju kemandirian energi nasional.

    Salah satu inisiatif nyata datang dari PT Pertamina Hulu Energi (PHE), subholding upstream PT Pertamina (Persero), yang meluncurkan program inspiratif bertajuk Pertamina Hulu Energi Youth Program: Upstream Force di Universitas Pertamina.

    Senior Manager External Communication & Stakeholder Relations PHE, Fitri Erika, menyampaikan bahwa generasi muda merupakan penggerak utama transformasi energi nasional.

    “Kami ingin menumbuhkan rasa ingin tahu, kreativitas, dan semangat kolaborasi mahasiswa agar berperan aktif menjaga ketahanan energi Indonesia,” ujar Fitri.

    Program ini menjadi wadah kolaboratif bagi mahasiswa untuk memahami lebih dalam dunia hulu migas serta berkontribusi terhadap pengembangan energi masa depan. Kegiatan tersebut menghadirkan sejumlah pembicara inspiratif, seperti PHE Upstream Champion Theresia Iin Wulandari, Founder Start Your Content Academy Victoria Wong, dan Social Media Manager Kapanlagi Youniverse Eko Setiawan.

    Selain talkshow interaktif, kegiatan ini juga menghadirkan kompetisi talent scouting bertema “Hulu Migas Sebagai Awal Ketahanan Energi”. Tim terbaik akan diundang mengikuti PHE Youthcamp: Energy Future Innovators, program pelatihan eksklusif selama dua hari yang mempertemukan mahasiswa dengan praktisi industri energi, kreator digital, dan mentor profesional.

    Rektor Universitas Pertamina, Prof. Wawan Gunawan A Kadir, mengapresiasi langkah Pertamina Hulu Energi yang membuka ruang pembelajaran kreatif bagi mahasiswa.

    “Mahasiswa diharapkan dapat menggali inspirasi dan contoh nyata dari para pelaku industri hulu migas untuk menyiapkan diri menjadi inovator energi masa depan,” ucapnya.

    Di sisi lain, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah melalui Balai Besar Pengembangan Penjaminan Mutu Pendidikan Vokasi Bidang Mesin dan Teknik Industri (BBPPMPV BMTI) turut memperkuat komitmen pengembangan energi bersih dengan membangun fasilitas Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) di Kampus Cimahi.

    Kepala BBPPMPV BMTI, Anwar Sidarta, menegaskan bahwa fasilitas PLTS tersebut bukan sekadar sarana belajar, tetapi juga laboratorium inovasi untuk menumbuhkan budaya riset di bidang energi hijau.

    “Kami ingin memastikan guru dan tenaga kependidikan mampu menjadi penggerak utama dalam mewujudkan green economy di sektor pendidikan,” jelasnya.

    Inisiatif ini disambut baik oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah Abdul Mu’ti, yang menilai langkah tersebut menjadi contoh nyata integrasi prinsip keberlanjutan dalam sistem pendidikan vokasi. “Transformasi pendidikan vokasi harus sejalan dengan kebutuhan industri masa depan dan keberlanjutan lingkungan,” ujarnya.

    Tak hanya di ruang akademik, semangat kepemimpinan muda juga terlihat di lapangan. Pertamina Subholding Upstream Regional Jawa menampilkan kisah lima local hero muda yang menjaga lingkungan, menanam mangrove, dan mengembangkan pertanian berkelanjutan bersama masyarakat sekitar.

    Manager Communication, Relations & CID Regional Jawa Pertamina EP, Pinto Budi Bowo Laksono, menyebutkan bahwa semangat muda ini menjadi energi positif bangsa.

    “Kami percaya, kekuatan terbesar Indonesia bukan hanya pada sumber daya alamnya, tetapi pada jiwa-jiwa muda yang berani bermimpi dan berbuat untuk negeri,” tuturnya.

    Berbagai inisiatif tersebut menunjukkan sinergi kuat antara pemerintah, BUMN, dan lembaga pendidikan dalam mencetak generasi muda berdaya saing tinggi yang siap menjadi penggerak program swasembada energi nasional menuju Indonesia berdaulat energi dan berkelanjutan. (*/rls)

  • Langkah Terpadu Perkuat Ketahanan Pangan Papua: Produksi Meningkat, Pengawasan Diperketat

    Jayapura – Ketahanan pangan Papua diperkuat melalui kolaborasi antara pemerintah daerah, lembaga akademis, dan instansi pengawasan pangan.

    Pemkot Jayapura bekerja sama dengan Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar untuk mengembangkan sektor pertanian dan perikanan berbasis potensi lokal sebagai langkah strategis mewujudkan kemandirian pangan.

    “Ini merupakan komitmen kami dalam mendorong kemandirian ekonomi masyarakat berbasis pertanian dan perikanan lokal serta memperkuat ketahanan pangan daerah melalui kerja sama yang berkelanjutan dengan lembaga akademis,” ujar Wakil Wali Kota Jayapura, Rustan Saru.

    Pemkot Jayapura telah menetapkan lima lokasi percontohan pertanian di Kampung Skow Sae, Skow Mabo, Skow Yambe, Koya Tengah, dan Koya Koso. Komoditas yang dikembangkan meliputi cabai besar, cabai kecil, jagung, semangka, dan tomat.

    Program yang telah berjalan satu bulan ini menunjukkan perkembangan positif dan ditargetkan dapat dipanen awal Desember 2025. Pemkot juga menyiapkan perluasan ke seluruh kampung berdasarkan kesesuaian lahan dan kebutuhan masyarakat.

    Di sektor perikanan, empat jenis budidaya diuji coba yakni kepiting soka, ikan bubara, udang air tawar, dan ikan nila.

    “Berdasarkan hasil tinjauan di lapangan, keempat komoditas tersebut menunjukkan perkembangan cukup baik meskipun produksi kepiting soka masih dalam jumlah terbatas,” kata Rustan.

    Panen ikan bubara ditargetkan berlangsung pada Desember sebagai model pengembangan perikanan di kampung pesisir seperti Nafri, Tobati, Enggros, Kayu Batu, dan Kayo Pulau.

    Rektor Unhas, Jamaluddin Jompa menyatakan kesiapan pihaknya mendukung penuh program penguatan pangan tersebut.

    “Kami siap membantu Pemkot Jayapura dengan sumber daya manusia di sektor pertanian, perikanan dan bidang lainnya untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

    Ia berharap kolaborasi ini mampu menghasilkan inovasi budidaya yang dapat diterapkan secara luas.

    Di Papua Barat Daya, Loka POM Sorong memperkuat aspek keamanan pangan melalui monitoring dan evaluasi tiga program unggulan: SAPA Sekolah, Desa Pangan Aman, dan Pasar Pangan Aman Berbasis Komunitas.

    Kegiatan dilakukan di sekolah, desa, dan pasar yang menjadi lokasi intervensi untuk memastikan ketersediaan pangan aman bagi masyarakat.

    “Keamanan pangan merupakan aspek fundamental yang tidak bisa ditawar,” kata Kepala Loka POM Sorong, Rizki Okprastowo.

    Ia menegaskan monev dilakukan untuk memastikan program berjalan sesuai sasaran serta menyiapkan langkah perbaikan. Harapannya, cakupan program dapat diperluas ke lebih banyak wilayah.

    Melalui penguatan produksi hingga pengawasan, Papua terus memperkuat fondasi ketahanan pangan daerah secara menyeluruh. #

  • Ketahanan Pangan Papua Melesat, Pemerintah Perkuat Modernisasi Pertanian dan Peran Petani Muda

    PAPUA – Ketahanan pangan di Papua menunjukkan kemajuan signifikan seiring menguatnya arah pembangunan nasional di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Pemerintah menjadikan ketahanan pangan sebagai pilar utama pembangunan melalui modernisasi pertanian, penguatan ekonomi lokal, dan transformasi digital yang kini menjangkau seluruh wilayah, termasuk Papua. Seluruh langkah percepatan ini berjalan searah dengan visi pemerataan pembangunan dan kemandirian pangan nasional.

    Modernisasi pertanian Papua kini semakin digerakkan oleh generasi muda. Melalui kebijakan yang mendorong inovasi digital, peningkatan kapasitas petani, serta perluasan akses pembiayaan, pemerintah menegaskan bahwa ketahanan pangan harus dibangun dengan teknologi dan sumber daya manusia unggul.

    “Pangan adalah fondasi kualitas hidup bangsa. Tanpa modernisasi pertanian, kita tidak bisa mencapai lompatan besar menuju Indonesia Emas 2045,” ujar salah satu pejabat teknis di lingkungan Pemerintah Pusat.

    Percepatan ini turut diperkuat oleh Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua. Kepala Perwakilan BI Papua, Faturahman, menyebut terdapat 22.730 petani muda yang kini didorong memanfaatkan teknologi smart farming. “Generasi petani muda memiliki adaptasi tinggi. Mereka adalah motor penggerak kemandirian pangan Papua,” katanya.

    Penerapan smart farming menjadi wajah baru pertanian Papua yang sejalan dengan kebijakan nasional. Teknologi seperti sensor digital, pemantauan lahan berbasis data, hingga pengelolaan tanaman presisi dinilai mampu meningkatkan produktivitas tanpa menambah tekanan ekologis. “Dengan pendekatan presisi, hasil meningkat, biaya turun, dan risiko gagal panen bisa ditekan,” ungkap Faturahman.

    Gubernur Papua, Mathius Fakhiri, menegaskan keseriusan daerah dalam mendukung modernisasi ini. “Pertanian adalah tulang punggung ekonomi masyarakat Papua. Anak-anak muda harus mengambil peran karena masa depan pangan ada di tangan mereka,” ujarnya.

    Upaya peningkatan kapasitas sumber daya manusia ini juga mendukung kebutuhan program nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Papua membutuhkan pasokan pangan lokal yang stabil, sehingga integrasi antara petani muda, teknologi, dan kebijakan pusat menjadi sangat penting.

    Selain sektor pertanian, kerja sama riset dan inovasi turut memperkuat agenda ketahanan pangan Papua. Pemerintah Kota Jayapura menjalin kemitraan dengan Universitas Hasanuddin melalui proyek percontohan di lima lokasi strategis. Wakil Wali Kota Jayapura, Rustan Saru, menyampaikan bahwa sejumlah komoditas menunjukkan perkembangan pesat. “Cabai, tomat, jagung, hingga semangka berkembang sangat cepat dengan pendampingan akademis. Bukti bahwa riset mempercepat produktivitas pangan lokal,” ujarnya.

    Model kolaborasi ini sejalan dengan kebijakan nasional yang menempatkan ilmu pengetahuan dan inovasi sebagai pilar utama ketahanan pangan. Daerah seperti Koya dan Skow kini berpeluang menjadi pusat pangan baru di timur Indonesia.

    Transformasi ketahanan pangan Papua menunjukkan bahwa pembangunan pangan adalah upaya komprehensif yang melibatkan teknologi, generasi muda, serta kolaborasi lintas institusi. Papua kian tegap melangkah sebagai salah satu lumbung pangan strategis Indonesia, memperkuat fondasi kedaulatan pangan nasional sekaligus membuka ruang kemajuan bagi generasi muda masa depan.

  • Pemerintah Perkuat Ketahanan Pangan Papua untuk Dorong Kemandirian Wilayah

    Oleh : Loa Murib

    Upaya memperkuat ketahanan pangan di Papua semakin menunjukkan arah yang semakin progresif. Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah, lembaga akademis, dan otoritas moneter terus memperkuat koordinasi untuk memastikan Papua mampu mencapai kemandirian pangan yang menjadi prasyarat bagi kesejahteraan masyarakat. Dalam konteks ini, ketahanan pangan bukan hanya persoalan kecukupan produksi, tetapi juga menyangkut stabilitas harga, pemanfaatan teknologi, transformasi ekonomi lokal, hingga penguatan kapasitas pelaku utama di sektor pertanian. Papua memiliki potensi lahan yang luas dan subur, namun belum sepenuhnya dioptimalkan. Karena itu, penguatan kebijakan dan sinergi multipihak menjadi kunci untuk membawa Papua menuju masa depan pangan yang mandiri, tangguh, dan berdaya saing.

    Salah satu langkah strategis yang mendapat perhatian adalah pemanfaatan dana Otonomi Khusus (Otsus) untuk memperkuat sektor pertanian. Komisi IV DPR RI menilai bahwa dana Otsus yang cukup besar harus menjadi modal utama bagi percepatan pembangunan pertanian berbasis lokal. Menurut pandangan Riyono dari Komisi IV DPR RI, potensi penguatan ketahanan pangan melalui dana Otsus akan sangat bergantung pada komitmen politik pemerintah daerah dalam memberikan pendampingan kepada petani. Ia menekankan bahwa jumlah petani di Papua masih relatif sedikit akibat faktor kultur dan minimnya pendampingan. Padahal, tanah Papua memiliki kesuburan yang tinggi dan mampu memenuhi kebutuhan pangan sendiri tanpa harus terlalu bergantung pada pasokan dari luar daerah. Pandangan tersebut menggambarkan bahwa kebijakan yang tepat dan terarah sangat diperlukan untuk memperkuat peran petani lokal sebagai aktor utama pembangunan pangan Papua.

    Komitmen memperkuat pangan lokal juga terlihat dari langkah Pemerintah Kota Jayapura yang menggandeng Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar dalam membangun model pertanian dan perikanan modern. Kolaborasi ini mencerminkan bahwa peningkatan produktivitas membutuhkan dukungan keilmuan dan teknologi yang mampu memberikan inovasi di tingkat akar rumput. Wakil Wali Kota Jayapura Rustan Saru menyampaikan bahwa pengembangan dilakukan melalui lima lokasi proyek percontohan pertanian dengan komoditas strategis seperti cabai besar, cabai kecil, jagung, semangka, dan tomat. Program ini telah menunjukkan perkembangan signifikan berkat pemeliharaan rutin, bahkan hasil panen awal ditargetkan sudah dapat dilakukan pada akhir 2025. Selain itu, sektor perikanan juga menjadi sasaran dengan adanya uji coba budidaya kepiting soka, ikan bubara, udang air tawar, serta ikan nila yang menunjukkan perkembangan positif. Rektor Unhas Jamaluddin Jompa menegaskan komitmen lembaganya untuk menyediakan sumber daya manusia terbaik guna mendukung penguatan pertanian dan perikanan daerah. Pandangan ini menegaskan bahwa transformasi pangan di Papua membutuhkan dukungan ilmiah dan teknologi yang relevan.

    Penguatan ketahanan pangan Papua tidak dapat dipisahkan dari stabilitas harga sebagai bagian dari pengendalian inflasi pangan. Bank Indonesia (BI) Papua melalui Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) 2025 telah menunjukkan capaian konkret. Kepala Perwakilan BI Papua Faturrahman menyampaikan bahwa inflasi di Papua saat ini terkendali pada level yang rendah dan stabil, jauh di bawah sasaran nasional. Stabilitas ini didukung oleh berbagai kegiatan strategis seperti 402 kali Gerakan Pangan Murah (GPM) sepanjang Januari–Oktober 2025, pelatihan Good Agricultural Practices (GAP), dan penyediaan sarana pertanian seperti cultivator, pompa air, mobile RMU, serta dukungan digital farming untuk kelompok tani dan nelayan. BI juga memastikan stok pangan strategis seperti beras, bawang merah, tomat, dan daging ayam tersedia dengan cukup menjelang Natal dan Tahun Baru. Penegasan ini menjadi bukti bahwa stabilitas pangan Papua dijaga melalui kerja sama lintas sektor yang solid.

    Pemerintah Daerah Papua juga memberikan dukungan penuh dalam penguatan ketahanan pangan ini. Wakil Gubernur Papua Aryoko Rumaropen menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah, perbankan, dan sektor swasta untuk membuka akses permodalan bagi UMKM dan petani. Ia menegaskan bahwa kemudahan perizinan dan dukungan pembiayaan harus diperluas agar produk pangan lokal dapat menembus pasar yang lebih luas. Pandangan tersebut memperlihatkan bahwa pembangunan pangan Papua bukan hanya soal produksi, tetapi juga penguatan ekosistem usaha agar petani dan UMKM dapat bertransformasi menjadi pelaku ekonomi yang kompetitif.

    Seluruh langkah ini menunjukkan bahwa agenda ketahanan pangan Papua telah memasuki fase yang semakin terintegrasi. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, perguruan tinggi, BI, dan masyarakat saling memperkuat peran masing-masing. Pemanfaatan dana Otsus menjadi fondasi pembiayaan, kolaborasi akademis memberi amunisi inovasi, dukungan otoritas moneter memastikan stabilitas harga, sementara generasi muda didorong untuk mengambil peran penting dalam modernisasi pertanian. Papua memiliki potensi menjadi salah satu pusat pangan yang kuat di Indonesia Timur. Tanah yang subur, keragaman komoditas lokal, dan generasi muda yang energik dapat menjadi modal besar untuk mewujudkan kemandirian pangan wilayah.

    Saat semua pihak bergerak dalam satu arah, ketahanan pangan Papua bukan lagi sekadar target, tetapi sebuah keniscayaan yang membawa dampak pada kesejahteraan masyarakat. Membangun Papua dari sektor pangan berarti membangun fondasi ketahanan ekonomi yang stabil, berkelanjutan, dan inklusif bagi masa depan seluruh wilayah. Dengan sinergi yang terus diperkuat, Papua dapat berdiri sebagai wilayah yang mandiri dalam pangan sekaligus berkontribusi lebih besar bagi ketahanan nasional.

    *Penulis adalah Mahasiswa Papua di Jawa Timur

  • Pemerintah Dorong Transformasi Pertanian Guna Penguatan Ketahanan Pangan Papua

    Oleh : Yohanes Wandikbo )*

    Ketahanan pangan Papua menjadi lebih progresif seiring menguatnya arah pembangunan nasional di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka. Pemerintah menempatkan ketahanan pangan sebagai pilar utama pembangunan nasional melalui pendekatan modernisasi pertanian, penguatan ekonomi lokal, dan transformasi digital di seluruh wilayah Indonesia, termasuk Papua sebagai salah satu episentrum strategis. Dalam kerangka besar inilah berbagai program percepatan di Bumi Cenderawasih berjalan selaras dengan visi pemerintah pusat untuk menghadirkan pemerataan pembangunan dan kemandirian pangan nasional.

    Langkah konkret tersebut tercermin dari dorongan kuat terhadap modernisasi sektor pertanian Papua yang kini semakin digerakkan oleh generasi muda. Melalui berbagai kebijakan yang memberi ruang inovasi digital, peningkatan kapasitas petani, serta penguatan akses pembiayaan, pemerintah menekankan bahwa ketahanan pangan tidak dapat dipisahkan dari teknologi dan sumber daya manusia yang unggul. Pendekatan ini juga merupakan bagian dari strategi besar Indonesia Emas 2045 yang menempatkan pangan sebagai fondasi utama kualitas hidup masyarakat.

    Di tingkat daerah, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua menjadi salah satu institusi yang mempercepat implementasi agenda tersebut. Menurut Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Papua, Faturahman terdapat 22.730 petani muda yang saat ini sedang didorong untuk memanfaatkan teknologi smart farming sebagai standar baru produksi pangan. Generasi petani milenial ini dipandang memiliki kemampuan adaptasi yang tinggi, sehingga menjadi motor penting dalam memperkuat kemandirian dan daya saing pertanian Papua.

    Penerapan smart farming merupakan wajah baru pembangunan pangan Papua yang sepenuhnya sejalan dengan arah kebijakan pemerintah pusat. Melalui pemanfaatan sensor digital, pemantauan lahan berbasis data, hingga pengelolaan tanaman secara presisi, produktivitas dapat meningkat tanpa menambah beban ekologis. Pendekatan ini tidak hanya mendorong efisiensi produksi, tetapi juga membantu menjaga stabilitas harga, memperkuat pasokan komoditas pangan, dan mengurangi risiko gagal panen akibat perubahan iklim. Dalam konteks ini, transformasi pertanian Papua sebangun dengan kebijakan nasional yang berfokus pada peningkatan produksi dalam negeri dan penguatan rantai pasok lokal di seluruh Indonesia.

    Sejalan dengan upaya tersebut, pemerintah provinsi memberikan dukungan penuh terhadap perluasan peran generasi muda dalam sektor pertanian. Gubernur Papua, Mathius Fakhiri menegaskan bahwa pertanian merupakan tulang punggung ekonomi masyarakat Papua dan memiliki peluang besar untuk dikembangkan menjadi sektor modern yang memberikan nilai tambah tinggi. Ajakan ini selaras dengan visi pemerintah pusat yang menekankan bahwa ketahanan pangan tidak hanya soal produksi, tetapi juga soal membangun ekosistem inovasi yang melibatkan anak muda sebagai penggerak utama.

    Dorongan pemerintah pusat terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia di sektor pertanian juga memberikan dampak positif terhadap percepatan produksi pangan sehat yang dibutuhkan masyarakat, terutama dalam mendukung program nasional seperti Makan Bergizi Gratis (MBG). Di Papua, program tersebut memerlukan pasokan komoditas lokal yang konsisten sehingga integrasi antara petani muda, teknologi digital, dan kebijakan Pemerintah Pusat menjadi penting untuk memastikan kelancaran suplai pangan bergizi.

    Selain sektor pertanian, pembangunan pangan di Papua juga diperkuat melalui kerja sama riset dan inovasi antara pemerintah daerah dan lembaga akademis. Pemerintah Kota Jayapura menjalin kemitraan dengan Universitas Hasanuddin untuk memperkuat sektor pertanian dan perikanan melalui proyek percontohan di lima lokasi strategis.

    Wakil Wali Kota Jayapura, Rustan Saru menjelaskan bahwa pengembangan komoditas seperti cabai, tomat, jagung, dan semangka telah menunjukkan perkembangan signifikan dalam waktu singkat. Dengan pemeliharaan yang sistematis dan pendampingan berbasis akademik, program percontohan ini memperlihatkan bahwa riset dan teknologi mampu meningkatkan produktivitas pangan lokal secara cepat dan terukur.

    Model kolaborasi tersebut berlangsung harmonis dengan kebijakan nasional yang memprioritaskan ketahanan pangan melalui integrasi ilmu pengetahuan dan inovasi. Pemerintahan Prabowo–Gibran menekankan pentingnya kerja sama antara pemerintah, lembaga akademis, pelaku ekonomi, dan masyarakat untuk menciptakan ekosistem pangan yang kuat dari hulu hingga hilir. Papua kini menjadi salah satu wilayah yang paling aktif memanfaatkan pendekatan kolaboratif tersebut.

    Selain menjadi motor produksi, sektor pertanian Papua juga diarahkan untuk membuka kesempatan ekonomi baru bagi masyarakat lokal. Dengan meningkatnya produktivitas dan keberhasilan proyek percontohan, daerah-daerah seperti Koya dan Skow memiliki potensi menjadi pusat pangan baru yang berkelanjutan. Hal ini sejalan dengan strategi pembangunan nasional yang berfokus pada pemerataan pertumbuhan ekonomi, terutama di wilayah timur Indonesia.

    Transformasi ketahanan pangan Papua menunjukkan bahwa pembangunan pangan bukan hanya agenda teknis, tetapi juga bagian dari inisiatif besar pemerintah dalam memastikan kesejahteraan masyarakat. Kombinasi penerapan teknologi, penguatan kapasitas petani muda, dan kerja sama lintas institusi menghasilkan energi baru dalam membangun kemandirian pangan di Tanah Papua. Keberhasilan tersebut merupakan bukti bahwa ketika kebijakan nasional berpadu dengan semangat masyarakat dan dukungan institusi daerah, ketahanan pangan dapat tercapai dengan lebih cepat dan berkelanjutan.

    Papua kini melangkah tegap menuju masa depan sebagai salah satu lumbung pangan strategis Indonesia, memperkuat fondasi kedaulatan pangan nasional, serta membuka ruang kemajuan bagi generasi muda yang menjadi harapan besar Indonesia masa depan.

    )* Penulis merupakan pengamat pembangunan Papua

  • Waspada Hoaks! KUHAP Baru Tidak Izinkan Penyadapan Sepihak

    Jakarta – Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman menjelaskan bahwa Rancangan Undang-Undang tentang Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) baru yang segera disahkan sama sekali tidak mengatur adanya kewenangan penyadapan sepihak oleh kepolisian.

    “Informasi tersebut di atas adalah hoaks alias tidak benar sama sekali,” kata Habiburokhman dalam keterangannya.

    Pernyataan tegas tersebut disampaikan sebagai respons atas maraknya kabar bohong yang menyebar di berbagai kanal media sosial maupun percakapan daring mengenai isi KUHAP baru.

    Dalam unggahan-unggahan yang beredar, disebutkan bahwa polisi nantinya bisa melakukan penyadapan tanpa izin pengadilan, membekukan tabungan warga secara sepihak, mengambil seluruh data digital, hingga melakukan penangkapan dan penggeledahan tanpa adanya dugaan tindak pidana. Narasi tersebut terbukti tidak berdasar dan menyesatkan publik.

    Habiburokhman menegaskan bahwa substansi KUHAP baru justru memperkuat prinsip kehati-hatian serta memastikan setiap langkah penegakan hukum tetap berada dalam koridor legalitas dan pengawasan yudisial.

    Ia memaparkan bahwa dalam Pasal 136 Ayat 2 rancangan KUHAP, penyadapan secara tegas akan diatur dalam undang-undang khusus yang mengatur teknik dan prosedurnya.

    Undang-undang khusus tersebut akan dibahas terpisah setelah KUHAP baru disahkan agar mekanisme penyadapan dapat dirumuskan secara lebih rinci, termasuk syarat izin pengadilan.

    Menurutnya, hampir seluruh fraksi di DPR memiliki pandangan yang sama bahwa penyadapan merupakan langkah serius yang hanya dapat dilakukan dengan pengawasan ketat dan izin hakim.

    Karena itu, rumor yang menyebut polisi bisa menyadap secara sewenang-wenang tanpa izin merupakan informasi yang sengaja dipelintir untuk memicu kekhawatiran publik dan merusak kepercayaan terhadap proses legislasi.

    Selain penyadapan, hoaks yang beredar juga menyinggung soal pemblokiran tabungan, pembekuan jejak digital, serta penyitaan perangkat elektronik seperti ponsel dan laptop.

    Menanggapi hal ini, Habiburokhman menegaskan bahwa KUHAP justru memperjelas aturan agar tidak terjadi kesewenang-wenangan.

    Ia merinci bahwa dalam Pasal 140 Ayat 2 KUHAP baru, seluruh bentuk pemblokiran, termasuk tabungan dan jejak online, harus melalui persetujuan hakim. Begitu pula soal penyitaan, yang dalam Pasal 44 KUHAP baru mensyaratkan izin dari ketua pengadilan negeri.

    Dengan adanya pengaturan tersebut, ia memastikan bahwa hak-hak masyarakat tetap terlindungi dan seluruh tindakan penegakan hukum wajib melalui mekanisme hukum yang sah.
    Ia juga mengimbau masyarakat untuk tidak mudah terpancing informasi tidak terverifikasi, terutama yang dikemas dengan bahasa provokatif seolah-olah negara akan memberikan kewenangan tak terbatas kepada aparat penegak hukum.

    Habiburokhman mengingatkan bahwa seluruh draf dan perkembangan pembahasan RUU KUHAP dapat diakses secara terbuka.

    “Naskah RUU KUHAP bisa dilihat di website DPR, dan rekaman pembahasan KUHAP bisa dilihat di kanal YouTube TV Parlemen. Jangan percaya dengan hoaks, KUHAP baru harus segera disahkan mengganti KUHAP lama yang tidak adil,” ujarnya.

    Ia juga menambahkan bahwa keterbukaan dokumen legislasi merupakan bagian dari upaya DPR memastikan proses revisi KUHAP berlangsung secara transparan dan akuntabel. Dengan demikian, masyarakat dapat mengikuti langsung proses pembahasan, memahami isi perubahan, dan mengawasi setiap perkembangan tanpa perlu terpancing narasi palsu.***

    [w.R]

  • Masyarakat Perlu Hindari Hoaks Penyebab Distorsi Informasi tentang KUHAP

    JAKARTA – Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) RI resmi mengesahkan Rancangan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (RKUHAP) menjadi undang-undang dalam Rapat Paripurna. Keputusan tersebut diambil setelah seluruh fraksi menyatakan persetujuan, sebagaimana dipimpin oleh Ketua DPR RI, Puan Maharani. Pengesahan ini menjadi tonggak penting dalam pembaruan hukum acara pidana Indonesia setelah pembahasan panjang di tingkat Panitia Kerja.

    Puan menegaskan bahwa semua penjelasan terkait substansi KUHAP baru yang disampaikan Ketua Komisi III, Habiburokhman, sudah sangat jelas. Puan juga mengimbau masyarakat agar tidak mudah terpengaruh oleh berbagai hoaks yang beredar di ruang digital.

    “Hoaks-hoaks yang beredar itu tidak benar. Penjelasan dari Ketua Komisi III sudah sangat jelas. Semoga kesalahpahaman dapat kita luruskan bersama,” katanya.

    Di tengah pengesahan tersebut, ruang publik diramaikan oleh empat hoaks utama mengenai KUHAP baru. Ketua Komisi III DPR, Habiburokhman, menyampaikan klarifikasi bahwa seluruh narasi tersebut tidak sesuai fakta. Ia menjelaskan bahwa tuduhan KUHAP baru memberi kewenangan penyadapan tanpa izin pengadilan adalah keliru, sebab mekanisme penyadapan tidak diatur dalam KUHAP dan akan dimasukkan dalam undang-undang khusus yang mengharuskan izin ketua pengadilan.

    Hoaks kedua menyebut polisi bisa membekukan tabungan atau rekening digital secara sepihak, padahal Pasal 139 ayat (2) tegas mengatur bahwa tindakan tersebut harus melalui izin hakim. Sementara hoaks ketiga yang mengklaim polisi dapat menyita perangkat elektronik tanpa prosedur juga dibantah karena Pasal 44 KUHAP baru mensyaratkan izin Ketua Pengadilan Negeri untuk setiap penyitaan.

    Terkait narasi yang menyebut polisi bisa menangkap atau menahan seseorang tanpa dasar yang sah, Habiburokhman menegaskan bahwa KUHAP baru justru memperketat aturan, sebagaimana tertuang dalam Pasal 93 dan Pasal 99 yang mewajibkan minimal dua alat bukti untuk melakukan penangkapan.

    Menteri Hukum dan HAM, Supratman Andi Agtas, menambahkan bahwa pembaruan KUHAP merupakan langkah penting untuk menjawab perkembangan zaman, terutama kejahatan siber dan lintas negara.

    “Setelah lebih dari empat dekade, sistem peradilan pidana kita harus menjadi lebih modern dan adaptif,” ujarnya.

    Dengan pengesahan KUHAP baru ini, DPR dan pemerintah menyerukan kewaspadaan publik terhadap hoaks yang dapat memicu distorsi informasi dan keresahan sosial. Pembaruan KUHAP diharapkan menjadi landasan kuat bagi proses peradilan yang lebih modern, transparan, dan berkeadilan bagi seluruh masyarakat. (*/rls)

  • Pengesahan KUHAP 2025 Disusupi Disinformasi, Publik Diminta Waspada Hoaks

    Oleh : Gavin Asadit )*

    Pengesahan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang baru pada akhir 2025 menjadi salah satu momen penting dalam reformasi sistem peradilan pidana di Indonesia. Namun, di tengah upaya pemerintah dan DPR mensosialisasikan regulasi tersebut, muncul gelombang hoaks yang beredar luas di media sosial. Narasi-narasi keliru itu menciptakan kesalahpahaman mengenai pasal-pasal tertentu dan berpotensi menurunkan kepercayaan publik terhadap lembaga penegak hukum maupun proses penyusunan undang-undang. Pemerintah menilai bahwa fenomena ini merupakan tantangan serius yang harus ditangani dengan pendekatan komunikasi publik yang cepat, akurat, dan terukur.

    Salah satu hoaks yang paling banyak beredar adalah klaim bahwa KUHAP baru memberikan kewenangan sewenang-wenang kepada aparat kepolisian untuk melakukan penyadapan tanpa izin pengadilan. Unggahan-unggahan yang viral mengesankan bahwa penyadapan bisa dilakukan kapan saja, terhadap siapa saja, dan untuk alasan apa pun tanpa kontrol lembaga peradilan. Narasi ini dibantah tegas oleh pemerintah dan DPR, yang menegaskan bahwa KUHAP justru memperkuat mekanisme pengawasan yudisial terhadap tindakan penyadapan. Pemerintah menjelaskan bahwa setiap tindakan penyadapan tetap mensyaratkan adanya regulasi khusus serta persetujuan dari pengadilan, sesuai ketentuan yang berlaku dan prinsip penghormatan terhadap hak privasi warga negara.

    Hoaks lain yang tidak kalah menyesatkan adalah klaim bahwa aparat dapat membekukan rekening, mengambil data digital, atau menyita perangkat elektronik secara sepihak tanpa prosedur hukum yang jelas. Pemerintah menggarisbawahi bahwa langkah-langkah tersebut tetap memerlukan izin ketua pengadilan atau putusan pengadilan, dan tidak ada satu pun pasal dalam KUHAP baru yang memberikan kewenangan absolut kepada penyidik. Justru sebaliknya, KUHAP memperjelas syarat-syarat hukum, batas waktu, serta mekanisme penilaian bukti agar tindakan penegakan hukum tidak disalahgunakan. Pemerintah khawatir apabila hoaks seperti ini terus dibiarkan, persepsi publik terhadap aparat penegak hukum dapat terdistorsi, yang pada akhirnya merusak legitimasi proses penegakan hukum.

    Ketua DPR RI, Puan Maharani, dalam keterangan resminya menegaskan bahwa berbagai informasi menyesatkan tentang KUHAP baru sebagian besar muncul dari potongan informasi yang tidak lengkap. Ia menjelaskan bahwa proses pembahasan KUHAP telah dilakukan secara terbuka dan melibatkan berbagai pemangku kepentingan sehingga setiap pasal yang disahkan sudah melalui kajian ketat. Puan juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terpancing oleh konten viral yang tidak dapat dipertanggungjawabkan. Menurutnya, pembaruan KUHAP diperlukan karena undang-undang sebelumnya telah berusia lebih dari empat dekade dan tidak sepenuhnya selaras dengan perkembangan teknologi maupun kebutuhan perlindungan hak asasi manusia di era modern.

    Dari sisi legislatif, Ketua Komisi III DPR RI, Habiburokhman, juga memberikan penjelasan mendalam terkait berbagai hoaks yang tersebar. Ia menegaskan bahwa semua tindakan seperti penyadapan, penggeledahan, penyitaan, dan blokir rekening memiliki prasyarat hukum yang jelas, terutama terkait persetujuan pengadilan dan keberadaan minimal dua alat bukti. Menurutnya, tidak benar bahwa KUHAP baru memberikan kekuasaan tanpa batas kepada aparat kepolisian. Justru regulasi baru ini dirancang untuk menutup celah hukum yang selama ini kerap menimbulkan perdebatan, sekaligus memberikan kepastian hukum bagi penyidik, penuntut, maupun masyarakat. Ia mengingatkan bahwa narasi hoaks yang beredar telah memicu keresahan publik, sehingga klarifikasi harus terus dilakukan.

    Sementara itu, Wakil Menteri Hukum dan HAM, Edward Omar Sharif Hiariej, menekankan bahwa penyusunan KUHAP baru dilakukan dengan filosofi untuk menyeimbangkan kewenangan negara dan perlindungan hak-hak warga. Ia menjelaskan bahwa pemerintah memasukkan banyak aspek pembaruan, termasuk perlindungan bagi kelompok rentan, penegasan hak tersangka untuk didampingi penasihat hukum sejak awal proses penyidikan, dan peningkatan standar transparansi dalam pemeriksaan perkara. Menurutnya, tudingan bahwa KUHAP memberikan “kebebasan absolut” kepada aparat tidak berdasar dan mencerminkan kurangnya pemahaman terhadap teks undang-undang. Ia berharap masyarakat lebih aktif mengecek informasi melalui sumber resmi agar tidak menjadi korban disinformasi.

    Pemerintah menilai bahwa persebaran hoaks ini tidak hanya menciptakan kebingungan, tetapi juga berpotensi memicu ketegangan antara masyarakat dan aparat. Dalam konteks kepercayaan publik, disinformasi merupakan ancaman serius karena dapat menggiring opini pada kesimpulan yang salah mengenai proses hukum. Oleh karena itu, pemerintah memperkuat koordinasi antara kementerian, DPR, dan lembaga penegak hukum untuk mempercepat publikasi penjelasan resmi, menyebarkan ringkasan pasal yang mudah dipahami, dan menghadirkan narasumber kredibel dalam diskusi publik. Pemerintah juga mendorong literasi hukum sebagai bagian dari upaya jangka panjang untuk membangun masyarakat yang kritis dan tidak mudah dipengaruhi informasi palsu.

    Sejalan dengan itu, pemerintah mengimbau masyarakat untuk lebih berhati-hati sebelum menyebarkan informasi terkait KUHAP dan regulasi lainnya. Setiap warga negara diharapkan melakukan verifikasi melalui situs resmi pemerintah, dokumen undang-undang yang telah diundangkan, atau pernyataan pejabat berwenang. Pemerintah juga menyarankan agar masyarakat menggunakan platform pemeriksa fakta yang tersedia untuk meminimalkan risiko penyebaran hoaks. Dengan ekosistem informasi yang lebih sehat, diharapkan dialog publik dapat berlangsung secara objektif dan konstruktif.

    Fenomena hoaks terkait KUHAP baru menunjukkan bahwa reformasi hukum tidak bisa dilepaskan dari tantangan komunikasi publik di era digital. Ketika informasi dapat tersebar dalam hitungan detik, negara harus bergerak lebih cepat dan responsif dalam menyampaikan fakta. Pemerintah mengajak semua pihak termasuk media, organisasi masyarakat sipil, dan akademisi untuk bersama-sama menjaga ruang informasi yang sehat. Dengan demikian, implementasi KUHAP baru dapat berlangsung dengan lancar, dan masyarakat dapat menilai regulasi berdasarkan data dan penjelasan resmi, bukan berdasarkan rumor yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

    )* Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial dan Kemasyarakatan