Penulis: restiana818@gmail.com

  • PSN Papua Dorong Penciptaan Lapangan Kerja dan Akses Kesejahteraan bagi Masyarakat Lokal

    Oleh : Lua Murib )*

    Program Strategis Nasional (PSN) yang digulirkan di Papua menghadirkan momentum penting bagi percepatan pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat lokal. PSN bukan sekadar daftar proyek di atas kertas, melainkan cetak biru pembangunan yang menyasar berbagai sektor vital, mulai dari infrastruktur, ketahanan pangan, energi, hingga transformasi digital dan pengembangan sumber daya manusia unggul. Dengan skala dan cakupan yang luas, PSN diharapkan menjadi penggerak ekonomi yang mampu menciptakan lapangan kerja sekaligus menghadirkan akses kesejahteraan yang lebih merata bagi masyarakat Papua.

    Ketua Badan Musyawarah Adat (BMA) Papua Tengah, Melkisedek Rumawai, menekankan bahwa keberhasilan PSN bergantung pada sinergi antara pemerintah daerah dan masyarakat. Dukungan masyarakat, mulai dari percepatan perizinan, pengadaan lahan, hingga pengawasan proyek, menjadi kunci agar implementasi PSN tepat sasaran. Menurutnya, proyek-proyek strategis nasional yang dijalankan di Papua bukan hanya untuk pembangunan fisik, tetapi juga untuk menumbuhkan kesempatan kerja dan memperkuat kapasitas lokal. Rumawai menegaskan pentingnya menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat agar pembangunan dapat berjalan lancar dan manfaatnya dirasakan secara langsung oleh masyarakat.

    Di Papua Pegunungan, PSN juga menunjukkan dampak nyata bagi penguatan ekonomi lokal. Wakil Gubernur Papua Pegunungan, Ones Pahabol, menyampaikan bahwa pembukaan lahan persawahan seluas 800 hektare di Tulem, Distrik Witawaya, Kabupaten Jayawijaya, merupakan bagian dari program PSN yang strategis. Kawasan ini dipandang sebagai sentra produksi pangan baru yang mampu mendukung ketahanan pangan di tingkat lokal maupun nasional. Pemerintah daerah menargetkan total sekitar 2.000 hektare lahan sawah yang tersebar di beberapa distrik untuk digarap, termasuk Piramid, Kurulu, Pisugi, Siepkosi, Pugima, Libarek, Muai, dan Minimo. Langkah ini diharapkan tidak hanya memperkuat produksi pangan, tetapi juga membuka lapangan kerja bagi masyarakat lokal, termasuk anak-anak muda yang dapat terlibat sebagai operator alat berat maupun tenaga lapangan.

    Program cetak sawah di Papua juga menjadi jawaban atas ketergantungan daerah ini terhadap pasokan beras dari luar. Gubernur Papua Mathius Fakhiri menegaskan bahwa 2026 merupakan periode kerja lapangan yang menentukan keberhasilan PSN. Fase ini menekankan kesiapan lahan, pembangunan infrastruktur pendukung, dan pemanfaatan sumber daya manusia lokal sebagai fondasi jangka panjang. Dengan cetak sawah seluas 5.380 hektare yang direncanakan, Papua tidak hanya memperkuat ketahanan pangan, tetapi juga menumbuhkan peluang kerja baru di sektor pertanian, sehingga memberikan dampak ekonomi yang langsung dirasakan masyarakat.

    Dampak ekonomi PSN di Papua tidak terbatas pada sektor pertanian. Proyek strategis ini mencakup pembangunan infrastruktur konektivitas dan energi yang membuka ruang bagi aktivitas ekonomi baru, termasuk perdagangan, jasa, dan sektor kreatif. Peningkatan konektivitas antara kota dan distrik memungkinkan distribusi produk lokal lebih efisien dan meminimalkan ketimpangan akses terhadap kebutuhan pokok. Hal ini, pada gilirannya, memperluas kesempatan kerja bagi masyarakat lokal, terutama generasi muda, yang dapat berperan sebagai tenaga kerja terampil maupun wirausaha baru.

    Selain itu, PSN membuka peluang bagi transformasi digital dan pengembangan sumber daya manusia. Program ini mendorong masyarakat Papua untuk menguasai keterampilan baru, termasuk pengoperasian teknologi pertanian modern, manajemen produksi, dan pengelolaan usaha berbasis digital. Dengan demikian, PSN tidak hanya membangun infrastruktur fisik, tetapi juga membangun kapasitas lokal agar masyarakat mampu bersaing di tingkat regional maupun nasional. Peningkatan kemampuan SDM lokal ini sejalan dengan tujuan PSN untuk menciptakan pembangunan yang adil dan berkelanjutan, di mana manfaat ekonomi dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

    Implementasi PSN di Papua juga menekankan prinsip partisipatif dan keberlanjutan. Pemerintah daerah memastikan tanah yang digunakan tetap menjadi milik warga, sementara penggunaan lahan untuk proyek strategis dilakukan dengan izin dan kerja sama yang mengedepankan kepentingan bersama. Pendekatan ini penting agar masyarakat merasa memiliki proyek tersebut, sehingga menjaga keberlanjutan program sekaligus mengurangi potensi konflik sosial. Selain itu, pengawasan yang melibatkan masyarakat dan pemerintah daerah menjadi mekanisme transparansi yang memastikan setiap proyek berjalan sesuai rencana, tepat sasaran, dan memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat lokal.

    Dengan demikian, PSN di Papua menghadirkan model pembangunan yang holistik: menggabungkan pertumbuhan ekonomi, penciptaan lapangan kerja, peningkatan ketahanan pangan, dan pemerataan akses kesejahteraan. Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat lokal menjadi kunci utama keberhasilan program ini. PSN tidak hanya menghadirkan perubahan fisik dan ekonomi, tetapi juga memperkuat kapasitas lokal sehingga masyarakat Papua dapat berperan aktif dalam proses pembangunan, menciptakan lapangan kerja, dan menikmati manfaat kesejahteraan yang lebih merata.

    Keberhasilan PSN di Papua di era pemerintahan Prabowo-Gibran menjadi bukti bahwa pembangunan yang terencana dan bersinergi dapat membuka peluang baru bagi daerah-daerah yang selama ini tertinggal. Dengan dukungan penuh masyarakat dan implementasi yang konsisten, PSN berpotensi menjadi motor penggerak kemajuan ekonomi, pemerataan kesejahteraan, dan pembangunan berkelanjutan di seluruh Papua, sekaligus menghadirkan contoh pembangunan strategis yang adil dan inklusif bagi daerah lain di Indonesia.

    )* Penulis merupakan Mahasiswa Asal Papua di Jawa Timur

  • PSN Dorong Kemandirian Pangan dan Ekonomi Lokal Papua Pegunungan

    Papua – Pemerintah terus mempercepat pelaksanaan Proyek Strategis Nasional (PSN) di Tanah Papua sebagai bagian dari agenda besar pemerataan pembangunan dan penguatan kesejahteraan masyarakat. Di Papua Pegunungan, PSN sektor pangan menjadi salah satu instrumen utama negara dalam membangun kemandirian ekonomi lokal, memperkuat ketahanan pangan, sekaligus membuka lapangan kerja bagi masyarakat setempat.

    Pemerintah Provinsi Papua Pegunungan memastikan percepatan PSN berjalan tanpa kendala berarti, termasuk pembukaan lahan persawahan seluas 800 hektare di kawasan Tulem, Distrik Witawaya, Kabupaten Jayawijaya. Wakil Gubernur Papua Pegunungan Ones Pahabol menilai kawasan tersebut memiliki posisi strategis sebagai pusat aktivitas ekonomi Kota Wamena, sehingga layak dikembangkan sebagai sentra produksi pangan baru dan masuk dalam PSN.

    “Kami melihat langsung kesiapan pembukaan lahan di Tulem dan sejumlah wilayah lain. Secara keseluruhan, Jayawijaya ditargetkan memiliki sekitar 2.000 hektare persawahan yang tersebar di beberapa distrik dan seluruhnya dirancang sebagai bagian dari PSN,” kata Ones Pahabol.

    Ia menegaskan bahwa program ini merupakan komitmen pemerintah untuk membangkitkan kembali tradisi bertani masyarakat pegunungan yang pernah menjadikan Wamena sebagai lumbung padi. “Sekitar enam puluh tahun lalu, Wamena dikenal sebagai penghasil padi. Semangat itu kami hidupkan kembali agar Papua Pegunungan memiliki stok beras yang kuat dan berkelanjutan,” ujarnya.

    Narasi keberpihakan negara juga ditekankan melalui skema pengelolaan lahan yang inklusif. Pemerintah memastikan tanah tetap menjadi milik masyarakat, sementara negara hadir sebagai fasilitator pembangunan ekonomi.

    “Ini murni untuk kepentingan rakyat, tidak ada kepentingan politik. Pemerintah hanya meminjam pakai lahan untuk kepentingan bersama,” kata Ones Pahabol.

    Dukungan terhadap PSN juga disampaikan Kepala Dinas Pertanian Papua Pegunungan Petrus Wenda. Ia menilai PSN sektor pangan menjadi fondasi penting dalam membangun kemandirian daerah. “PSN memberikan kepastian anggaran, pendampingan teknis, dan keberlanjutan program. Ini bukan proyek sesaat, tetapi investasi jangka panjang untuk kesejahteraan masyarakat Papua Pegunungan,” ujarnya.

    Selain ketahanan pangan, PSN turut menciptakan dampak ekonomi berganda. Proses pembukaan lahan dan pengelolaan persawahan menyerap tenaga kerja lokal, termasuk generasi muda Papua. “Anak-anak muda dilibatkan sebagai operator alat berat dan tenaga lapangan. Ke depan, mereka bisa menjadi tenaga terampil yang mendukung pembangunan di kabupaten lain,” ujar Petrus.

    Pemerintah daerah menargetkan percepatan pembukaan lahan agar penanaman padi dapat segera dilakukan oleh kelompok tani. Percepatan ini dipandang penting agar manfaat PSN dapat segera dirasakan masyarakat secara nyata.

    PSN di Papua Pegunungan mencerminkan kehadiran negara yang aktif, terukur, dan berpihak pada kebutuhan dasar rakyat. Dengan sinergi pusat dan daerah, PSN tidak hanya membangun infrastruktur, tetapi juga menumbuhkan harapan, kemandirian, dan masa depan Papua yang lebih sejahtera dalam kerangka pembangunan nasional yang berkeadilan.

  • Sinergi Pemerintah dan Tokoh Adat Kawal PSN demi Pembangunan Papua Berkelanjutan

    Nabire – Tokoh adat Papua menegaskan bahwa PSN merupakan instrumen percepatan pembangunan yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan masyarakat, bukan kebijakan yang merugikan atau memaksakan kehendak tertentu kepada daerah.

    Ketua Badan Musyawarah Adat (BMA) Papua Tengah, Melkisedek Rumawai, mengajak masyarakat serta pemerintah daerah untuk bersinergi mendukung PSN agar manfaatnya dapat dirasakan secara langsung oleh masyarakat Papua.

    Ia menilai PSN memiliki peran penting dalam membuka lapangan kerja, mempercepat pemerataan pembangunan, serta memperluas akses kesejahteraan di wilayah yang selama ini menghadapi keterbatasan infrastruktur dan layanan dasar.

    Menurut Melkisedek, PSN harus dipahami sebagai kompas pembangunan jangka panjang, bukan sekadar daftar proyek. Program ini mencakup pembangunan konektivitas, pemerataan energi, penguatan ketahanan pangan, hingga transformasi digital dan pengembangan sumber daya manusia.

    Namun, keberhasilan PSN sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat dan komitmen pemerintah daerah dalam mengawal pelaksanaannya secara bertanggung jawab.

    “PSN mencakup segala hal mulai dari infrastruktur konektivitas, pemerataan energi, kedaulatan pangan hingga transformasi digital dan pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) unggul. Namun visi besar ini lanjut kata Melkisedek Rumawi, hanya akan terwujud jika masyarakat Papua bergerak dari tahapan perencanaan menuju tahapan implementasi yang tuntas dan bertanggung jawab,” ujarnya.

    Ia juga menekankan pentingnya menjaga situasi keamanan dan ketertiban masyarakat agar pembangunan dapat berjalan kondusif, sekaligus memastikan program pemerintah pusat dan daerah terlaksana tepat sasaran.

    Sementara itu, Wakil Menteri Dalam Negeri Ribka Haluk turut meluruskan isu yang beredar terkait tudingan adanya arahan Presiden Prabowo Subianto untuk menanam kelapa sawit di Papua. Ribka menegaskan bahwa isu tersebut tidak benar dan tidak sesuai dengan konteks pertemuan antara Presiden dan para kepala daerah Papua.

    “Ada opini yang sementara berkembang bahwa ada arahan Bapak Presiden untuk menanam sawit di Papua. Itu tidak benar,” kata Ribka.

    Ia menjelaskan bahwa arahan Presiden berfokus pada percepatan pembangunan dan penguatan ketahanan pangan dengan menyesuaikan potensi masing-masing daerah. Papua memiliki beragam komoditas pangan lokal yang dapat dikembangkan sesuai karakter wilayah, tidak terbatas pada satu jenis komoditas tertentu.

    Ribka menegaskan, percepatan pembangunan melalui PSN merupakan bagian dari agenda nasional untuk mengurangi kesenjangan, memperkuat ekonomi lokal, serta memastikan masyarakat Papua memperoleh akses yang adil terhadap pangan, pendidikan, dan kesejahteraan. #

  • MBG Jadi Langkah Strategis Pemerintah untuk Perbaikan Gizi Anak, Target Jangkau 82,9 Juta Orang

    Oleh: Nur Utunissa

    Program Makan Bergizi Gratis (MBG) ditetapkan sebagai salah satu intervensi strategis pemerintah dalam upaya memperbaiki kualitas gizi anak dan kelompok rentan di Indonesia. Dengan target menjangkau hingga 82,9 juta orang, program ini dirancang sebagai langkah sistemik untuk memutus rantai persoalan gizi yang selama ini berdampak luas terhadap kualitas sumber daya manusia, produktivitas ekonomi, serta daya saing bangsa dalam jangka panjang. 

    Presiden RI, Prabowo Subianto mengatakan ingin memastikan bahwa seluruh warga negara, terutama anak-anak, memiliki akses gizi yang baik untuk mendukung pertumbuhan dan perkembangan kognitif mereka. Melalui Program MBG, pemerintah berupaya untuk menciptakan masyarakat yang lebih sehat dan produktif.

    Persoalan gizi masih menjadi tantangan struktural di Indonesia. Data selama beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa masalah stunting, kekurangan gizi, hingga ketimpangan akses pangan bergizi masih ditemukan di berbagai wilayah, terutama di daerah dengan tingkat kemiskinan tinggi dan keterbatasan infrastruktur. Dalam konteks inilah MBG hadir sebagai pendekatan intervensi langsung yang menyasar akar persoalan, yakni pemenuhan kebutuhan gizi harian secara merata dan berkelanjutan.

    MBG dirancang untuk menjangkau berbagai kelompok sasaran, mulai dari anak usiadini, peserta didik di jenjang pendidikan dasar dan menengah, hingga kelompok lain yang membutuhkan asupan gizi memadai. Dengan cakupan yang sangat luas, program ini menuntut sistem distribusi yang terkoordinasi, efisien, dan adaptif terhadap kondisi wilayah. Pemerintah memanfaatkan jaringan sekolah, satuan pendidikan, serta fasilitas publik lainnya sebagai titik distribusi utama, sehingga intervensi gizi dapat dilakukan secara rutin dan terpantau.

    Keunggulan MBG terletak pada pendekatan terpadu yang tidak hanya berfokus pada pemberian makanan, tetapi juga pada kualitas gizi yang disesuaikan dengan kebutuhan penerima manfaat. Menu yang disajikan dirancang untuk memenuhi standar gizi seimbang, mencakup sumber karbohidrat, protein, lemak sehat, vitamin, dan mineral. Dengan demikian, program ini diharapkan mampu memberikan dampak nyata terhadap peningkatan status gizi, daya tahan tubuh, serta konsentrasi belajar anak.

    Selain aspek kesehatan, MBG juga memiliki dimensi sosial dan ekonomi yang signifikan. Pelaksanaan program ini membuka peluang keterlibatan pelaku usaha lokal, khususnya usaha mikro, kecil, dan menengah di sektor pangan. Rantai pasok bahan makanan yang melibatkan petani, peternak, nelayan, dan pelaku usaha lokal berpotensi menggerakkan ekonomi daerah. Dengan skema yang tepat, MBG dapat menciptakan efek berganda berupa peningkatan pendapatan masyarakat sekaligus menjamin ketersediaan bahan pangan segar dan berkualitas.

    Dari sisi pembangunan sumber daya manusia, MBG dipandang sebagai fondasi penting dalam mempersiapkan generasi masa depan yang sehat dan produktif. Asupan gizi yang cukup sejak usia dini terbukti berpengaruh besar terhadap perkembangan kognitif dan fisik. Anak-anak yang mendapatkan gizi seimbang memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh optimal, berprestasi di bidang pendidikan, dan berkontribusi secara maksimal dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Oleh karena itu, MBG menjadi bagian integral dari strategi jangka panjang peningkatan kualitas manusia Indonesia.

    Program ini juga memperkuat upaya pengurangan ketimpangan antarwilayah. Dengan menjangkau daerah terpencil dan kelompok masyarakat berpenghasilan rendah, MBG membantu memastikan bahwa akses terhadap makanan bergizi tidak hanya dinikmati oleh kelompok tertentu. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip keadilan sosial dan pemerataan pembangunan, di mana setiap anak memiliki hak yang sama untuk tumbuh sehat dan mendapatkan kesempatan berkembang secara optimal.

    Dalam pelaksanaannya, MBG membutuhkan sistem pengawasan dan evaluasi yang ketat. Pengendalian kualitas makanan, ketepatan sasaran, serta kesinambungan distribusi menjadi faktor krusial untuk memastikan efektivitas program. Pemerintah mengintegrasikan teknologi informasi dalam proses pendataan dan pemantauan, sehingga pelaksanaan MBG dapat dievaluasi secara berkala dan disesuaikan dengan kebutuhan di lapangan. Transparansi dan akuntabilitas menjadi kunci untuk menjaga kepercayaan publik terhadap program berskala nasional ini.

    Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana mengatakan untuk mencapai target nol insiden di tahun 2026, BGN telah menyiapkan strategi komprehensif. Salah satunya adalah melalui program sertifikasi keamanan pangan bagi Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Sertifikasi ini akan menyasar sekitar 3.000 SPPG yang terlibat dalam Program Makan Bergizi Gratis. Proses sertifikasi dilaksanakan bekerja sama dengan ID Survei untuk menjamin standar kualitas.

    Disamping itu Wakil Kepala BGN, Nanik S Deyang menegaskan pihaknya berkomitmen untuk terus meningkatkan kualitas program MBG, termasuk memastikan tidak ada lagi kasus terkait keamanan makanan. Nanik juga menyebut, pihaknya terus memperkuat koordinasi lintas kementerian sesuai masukan dari Komisi IX DPR RI agar penyediaan bahan baku makanan bergizi dapat terjamin dengan baik.

    Sinergi lintas sektor menjadi faktor penentu keberhasilan MBG. Program ini melibatkan berbagai kementerian dan lembaga, pemerintah daerah, serta pemangku kepentingan lainnya. Koordinasi yang solid diperlukan agar kebijakan, anggaran, dan pelaksanaan di lapangan berjalan selaras. Pemerintah berupaya memastikan bahwa setiap anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh sehat, cerdas, dan siap menghadapi tantangan masa depan. Dengan pendekatan kolaboratif, MBG dapat diimplementasikan secara efektif dan berkelanjutan di seluruh wilayah Indonesia.

    *) Penulis adalah Penulis adalah Pegiat Literasi pada Narasi Nusa Institute

  • Program MBG Capai 55 Juta Penerima dalam Satu Tahun, Bukti Komitmen Pemerintah

    Oleh: Magdalena Anggina Lestari )*

    Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang berhasil menjangkau 55 juta penerima manfaat hanya dalam waktu satu tahun merupakan capaian bersejarah yang menegaskan komitmen kuat pemerintah dalam memastikan kesejahteraan dasar rakyat. Keberhasilan ini menjadi bukti nyata bahwa negara hadir secara aktif dan terukur dalam menjawab persoalan fundamental bangsa, yakni pemenuhan gizi bagi anak-anak dan ibu hamil sebagai fondasi utama pembangunan sumber daya manusia. Dalam skala nasional yang besar dan tantangan geografis yang kompleks, capaian tersebut menunjukkan kapasitas pemerintahan yang efektif, solid, dan berorientasi pada kepentingan rakyat luas.

    Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menempatkan program MBG sebagai kebijakan strategis nasional yang dijalankan dengan kepemimpinan kuat dan visi jangka panjang. Pemerintah menilai capaian 55 juta penerima manfaat dalam satu tahun sebagai prestasi luar biasa yang patut dibanggakan oleh seluruh bangsa. Kecepatan realisasi ini sekaligus menegaskan bahwa Indonesia mampu melaksanakan program sosial berskala besar secara cepat dan tepat sasaran. Perbandingan dengan negara lain yang membutuhkan waktu bertahun-tahun untuk mencapai jumlah penerima yang lebih kecil justru semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai negara yang progresif dalam kebijakan kesejahteraan sosial.

    Program MBG lahir dari kepedulian mendalam pemerintah terhadap kondisi gizi anak-anak Indonesia. Presiden Prabowo Subianto secara konsisten menegaskan bahwa negara tidak boleh abai terhadap fakta masih adanya anak-anak yang tumbuh dengan keterbatasan asupan gizi. Oleh karena itu, MBG dirancang sebagai bentuk intervensi langsung negara untuk memastikan setiap anak memperoleh hak dasarnya atas makanan bergizi. Kebijakan ini mencerminkan paradigma pemerintahan yang menempatkan kemanusiaan dan masa depan generasi bangsa sebagai prioritas utama di atas kepentingan lainnya.

    Keberhasilan MBG juga mencerminkan keseriusan pemerintah dalam menyusun kebijakan berbasis kajian dan pembelajaran global. Pemerintah melakukan studi terhadap praktik terbaik di berbagai negara yang telah lebih dahulu menjalankan program makan bergizi, kemudian menyesuaikannya dengan kebutuhan dan karakteristik Indonesia. Pendekatan yang komprehensif ini menghasilkan desain program yang realistis, adaptif, dan mampu dijalankan secara berkelanjutan. Hasilnya, dalam waktu singkat, jutaan anak dan ibu hamil di seluruh pelosok Tanah Air telah merasakan manfaat langsung dari kebijakan tersebut.

    Dari sisi pelaksanaan, pemerintah menunjukkan standar kinerja yang tinggi dan konsistensi yang kuat. Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa tingkat keberhasilan program MBG telah mencapai hampir sempurna, mencerminkan kerja keras dan dedikasi seluruh jajaran pemerintahan, baik di tingkat pusat maupun daerah. Pemerintah juga terus melakukan penguatan pengawasan dan penyempurnaan tata kelola agar manfaat program benar-benar dirasakan secara optimal oleh masyarakat. Sikap tidak mudah berpuas diri ini menunjukkan karakter kepemimpinan yang bertanggung jawab dan berorientasi pada hasil nyata.

    Program MBG juga memperoleh apresiasi luas dari berbagai kalangan, termasuk komunitas internasional, yang menilai kebijakan ini sebagai investasi sosial yang sangat strategis. Meski demikian, pemerintah secara tegas menempatkan dampak kemanusiaan sebagai tujuan utama program, bukan semata-mata efek ekonomi. Penegasan ini memperlihatkan bahwa MBG dijalankan dengan niat tulus untuk memastikan anak-anak Indonesia tumbuh sehat, kuat, dan siap menghadapi tantangan masa depan. Dalam kerangka ini, MBG menjadi simbol kebijakan yang berlandaskan nilai kepedulian dan keberpihakan pada rakyat.

    Komitmen pemerintah untuk memperluas dan memperkuat MBG juga tercermin dari dukungan infrastruktur yang terus dikembangkan. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menyampaikan bahwa pemerintah membuka diri terhadap berbagai masukan konstruktif dari masyarakat demi penyempurnaan program. Pemerintah juga menargetkan pembangunan puluhan ribu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi sebagai tulang punggung distribusi MBG di seluruh Indonesia. Langkah ini menegaskan keseriusan pemerintah dalam memastikan keberlanjutan program serta pemerataan manfaat hingga ke kelompok masyarakat yang paling membutuhkan.

    Secara strategis, program MBG memiliki dampak jangka panjang yang sangat signifikan bagi pembangunan nasional. Dengan memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan asupan gizi yang layak sejak dini, pemerintah sedang menyiapkan generasi unggul yang sehat secara fisik dan optimal secara kognitif. Kebijakan ini menjadi fondasi penting dalam meningkatkan kualitas pendidikan, produktivitas tenaga kerja, serta daya saing bangsa di tingkat global. Dalam perspektif pembangunan, MBG bukanlah beban anggaran, melainkan investasi jangka panjang yang menentukan arah masa depan Indonesia.

    Keberhasilan MBG juga memperkuat kepercayaan publik terhadap kapasitas pemerintah dalam menjalankan kebijakan besar. Program ini menjawab berbagai keraguan dengan bukti nyata di lapangan, bahwa dengan perencanaan matang, kepemimpinan yang tegas, dan pengelolaan yang profesional, negara mampu menghadirkan solusi konkret bagi persoalan rakyat. MBG kini telah menjadi simbol keberpihakan negara, sekaligus representasi dari pemerintahan yang bekerja dengan hati dan tanggung jawab.

    Dengan capaian 55 juta penerima manfaat dalam satu tahun, Program Makan Bergizi Gratis menegaskan bahwa komitmen pemerintah bukan sekadar janji, melainkan diwujudkan melalui kerja nyata yang dirasakan langsung oleh masyarakat. Program ini menjadi fondasi kuat bagi terwujudnya Indonesia yang lebih sehat, adil, dan berdaya saing. Ke depan, keberlanjutan dan penguatan MBG akan menjadi salah satu pilar utama dalam mewujudkan cita-cita besar bangsa menuju Indonesia yang maju dan sejahtera.

    )* Analis Kebijakan Sosial

  • Program MBG Berhasil 99,99 Persen, Presiden Prabowo Ajak Tingkatkan Kualitas Layanan Zero Defect

    Jawa Barat – Presiden Prabowo Subianto menyatakan program Makan Bergizi Gratis (MBG) telah menunjukkan capaian yang sangat signifikan dengan tingkat keberhasilan mencapai 99,99 persen. Meski demikian, pemerintah menegaskan tidak akan berpuas diri dan terus mendorong peningkatan kualitas layanan hingga mencapai standar zero defect atau tanpa kesalahan dalam pelaksanaannya. Hal tersebut disampaikan Presiden Prabowo saat memberikan taklimat awal tahun dalam agenda retret di kediamannya di Hambalang, Bogor, Selasa (6/1) lalu.

    Dalam arahannya, Presiden menekankan bahwa capaian tersebut merupakan hasil kerja keras lintas kementerian, lembaga, serta pemerintah daerah yang terlibat dalam pelaksanaan program berskala nasional tersebut. Menurutnya, keberhasilan ini patut diapresiasi, namun tidak boleh mengendurkan semangat perbaikan.

    “Kita bersyukur bahwa kalau kita pelajari dengan objektif statistik, boleh dikatakan bahwa kita 99 persen berhasil. Jadi saudara tentunya kita harapkan zero defect itu yang harus kita capai,” ujar Prabowo.

    Presiden Prabowo mengakui bahwa dalam program sebesar MBG, potensi kekurangan dan penyimpangan tidak dapat sepenuhnya dihindari. Namun, hal tersebut tidak boleh dijadikan alasan untuk menurunkan standar pelayanan kepada masyarakat. Oleh karena itu, pemerintah berkomitmen untuk terus memperketat pengawasan dan melakukan evaluasi berkelanjutan.

    “Apakah ada kekurangan? Ada. Dalam usaha manusia sebesar ini pasti ada kekurangan. Apakah ada penyimpangan? Pasti. Dalam usaha manusia sebesar ini pasti ada kekurangan dan penyimpangan,” ucapnya.

    Presiden juga menegaskan bahwa berbagai langkah pengamanan telah dan terus dilakukan untuk menutup celah kekurangan dalam pelaksanaan MBG. Intervensi ini meliputi penguatan tata kelola distribusi, peningkatan kualitas bahan pangan, hingga pengawasan langsung di lapangan.

    “Langkah-langkah pengamanan terus kita lakukan. Tapi intinya adalah bahwa kita intervensi,” tutur Prabowo.

    Saat ini, program Makan Bergizi Gratis telah menjangkau sekitar 55 juta penerima manfaat sejak pertama kali dicanangkan pada 6 Januari 2025. Presiden Prabowo menyebut angka tersebut sebagai prestasi besar jika dibandingkan dengan program serupa di negara lain. Contohnya Brasil yang baru mampu menjangkau sekitar 40 juta penerima manfaat setelah program berjalan selama 11 tahun.

    “Ini menunjukkan bahwa bangsa kita mampu bergerak cepat ketika ada kemauan politik dan keberpihakan yang jelas kepada rakyat,” ungkapnya.

    Lebih lanjut, Presiden menjelaskan bahwa MBG diluncurkan sebagai respons atas persoalan mendasar terkait gizi anak di Indonesia. Berdasarkan data yang dimiliki pemerintah, sekitar satu dari lima anak Indonesia masih mengalami kekurangan gizi, dan puluhan juta anak berangkat ke sekolah tanpa sarapan.

    ”Kondisi tersebut dinilai sebagai bentuk malanutrisi yang berkontribusi terhadap stunting dan berdampak pada kualitas sumber daya manusia di masa depan,” jelasnya.

    Dalam kesempatan itu, Presiden Prabowo juga mengingatkan pesan Presiden pertama RI Soekarno mengenai urgensi mengatasi kelaparan. Bahwa pemimpin yang bertanggung jawab harus bekerja keras untuk menghilangkan kelaparan dan kemiskinan sebagai fondasi menuju Indonesia yang lebih maju dan berdaya saing.

    “Saya ingat kata-kata pendahulu-pendahulu kita, satu ucapan Bung Karno, the hungry stomach cannot wait. Perut yang lapar tidak bisa menunggu,” pungkas Prabowo.

  • 19.188 Dapur MBG Siap Operasi Serentak, Layani 55 Juta Orang Mulai Januari 2026

    JAKARTA – Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) memastikan kesiapan penuh pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) pada awal 2026. Sebanyak 19.188 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) atau dapur MBG dipastikan siap beroperasi secara serentak mulai 8 Januari 2026, dengan jangkauan layanan mencapai sekitar 55,1 juta penerima manfaat di berbagai wilayah Indonesia.

    Kepala BGN Dadan Hindayana menyampaikan bahwa kesiapan ini merupakan hasil kerja bertahap dan terukur sepanjang 2025. Tahun tersebut dimanfaatkan pemerintah untuk membangun fondasi layanan MBG secara menyeluruh, mulai dari perencanaan, pembangunan infrastruktur, hingga penguatan sistem operasional di lapangan.

    “Tahun 2025 kami gunakan untuk membangun fondasi yang kuat. Dari 190 SPPG di awal tahun hingga 19.188 SPPG di akhir tahun, ini menunjukkan kerja masif dan terukur dalam menyiapkan layanan MBG,” ujar Dadan dalam keterangannya.

    Menurutnya, pencapaian tersebut memungkinkan program MBG memasuki 2026 dengan skala layanan yang besar sejak hari pertama. Hal ini dinilai penting agar manfaat intervensi gizi dapat dirasakan secara luas dan merata, khususnya oleh kelompok rentan seperti peserta didik, ibu hamil, dan anak-anak.

    “Mulai 8 Januari 2026, MBG langsung melayani lebih dari 55 juta penerima manfaat. Pada tahun 2026, MBG tidak hanya berfokus pada intervensi gizi, tetapi juga pada peningkatan kualitas layanan SPPG serta penguatan edukasi gizi agar masyarakat memiliki pemahaman yang lebih baik dalam memilih makanan sehat dan bergizi,” tegas Dadan.

    Sejalan dengan hal tersebut, Wakil Kepala BGN Nanik Sudaryati Deyang menegaskan bahwa pelaksanaan MBG pada 2026 akan berjalan sesuai dengan perencanaan awal pemerintah, tanpa adanya perubahan kebijakan maupun mekanisme pelaksanaan. Seluruh tahapan program tetap mengedepankan kesiapan teknis serta kepatuhan terhadap standar operasional prosedur (SOP) yang telah ditetapkan.

    “Tidak ada arahan khusus, Insyaallah akan berjalan seperti biasa,” kata Nanik di Jakarta.

    Ia juga memastikan bahwa jadwal pelaksanaan MBG di sekolah-sekolah tidak mengalami perubahan dan akan dimulai secara serentak pada 8 Januari 2026 di seluruh Indonesia.

    “Belum ada perubahan, masih sesuai jadwal,” ujarnya.

    Dengan kesiapan ribuan dapur MBG dan kepastian kebijakan yang konsisten, pemerintah optimistis Program Makan Bergizi Gratis akan menjadi instrumen strategis dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat sekaligus mendukung pembangunan sumber daya manusia Indonesia secara berkelanjutan.

  • Reformasi Hukum Pidana: KUHP Baru Dorong Pendekatan Pemidanaan Restoratif dan Adil

    Oleh Yulia Rahmawati )*

    Reformasi hukum pidana melalui pemberlakuan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Nasional dan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) baru menandai babak penting dalam perjalanan penegakan hukum Indonesia. Perubahan ini bukan sekadar pembaruan norma, melainkan pergeseran paradigma dari sistem yang kaku dan retributif menuju pendekatan yang lebih manusiawi, berkeadilan, dan berorientasi pada pemulihan. Penguatan keadilan restoratif menjadi salah satu pilar utama yang menunjukkan keseriusan negara menghadirkan hukum sebagai instrumen keadilan substantif, bukan semata alat penghukuman.

    Wakil Menteri Hukum Edward Omar Sharif Hiariej atau Eddy Hiariej menegaskan bahwa KUHAP baru secara tegas memperkuat penerapan keadilan restoratif dengan tata kelola yang lebih tertib dan akuntabel. Mekanisme ini tidak lagi dipahami sebagai jalan pintas untuk menghentikan perkara, melainkan sebagai proses hukum yang terukur, transparan, dan tercatat secara resmi. Keadilan restoratif dapat diterapkan sejak tahap penyelidikan, namun dengan syarat yang ketat, mulai dari status pelaku sebagai pelaku pertama kali, ancaman pidana yang relatif ringan, hingga persetujuan korban sebagai syarat utama. Tanpa persetujuan korban, proses hukum wajib dilanjutkan. Ketentuan ini menunjukkan bahwa orientasi pemulihan tidak boleh mengorbankan hak korban maupun kepastian hukum.

    Lebih jauh, penerapan keadilan restoratif dalam tahap penyidikan dan penuntutan juga tidak berdiri sendiri. KUHAP baru mensyaratkan adanya koordinasi antarpenegak hukum dan pengesahan melalui penetapan pengadilan. Dengan demikian, setiap penyelesaian perkara tercatat secara resmi dan tidak dapat diulang untuk kasus yang sama. Desain ini menjadi pengaman penting agar pendekatan restoratif tidak disalahgunakan sebagai ruang kompromi gelap atau transaksi di luar hukum. Di sinilah terlihat upaya negara menyeimbangkan nilai kemanusiaan dengan prinsip akuntabilitas.

    Reformasi KUHAP juga menyentuh aspek kewenangan penuntutan yang selama ini kerap menjadi sorotan. Pengaturan yang lebih jelas terkait mekanisme denda damai, pengakuan bersalah, serta perjanjian penundaan penuntutan pidana terhadap korporasi menunjukkan modernisasi sistem peradilan pidana. Seluruh mekanisme tersebut tetap berada dalam pengawasan pengadilan, sehingga proses peradilan tidak dihapus, melainkan disederhanakan secara bertanggung jawab. Pendekatan ini mencerminkan efisiensi tanpa mengorbankan keadilan, sekaligus memberikan kepastian hukum bagi para pihak.

    Aspek lain yang tidak kalah penting adalah penguatan peran advokat sebagai pilar fair trial. KUHAP baru menjamin hak setiap orang untuk didampingi penasihat hukum sejak tahap paling awal, bahkan sejak penyelidikan. Advokat tidak hanya berperan sebagai pendamping pasif, tetapi juga diberi hak mengajukan keberatan atas tindakan aparat penegak hukum. Keberatan tersebut wajib dicatat dalam berita acara pemeriksaan sebagai bahan pertimbangan hakim. Pengaturan ini membuka ruang transparansi sejak awal proses hukum dan menjadi instrumen pencegah penyalahgunaan kewenangan.

    Di sisi kebijakan pidana secara lebih luas, pemerintah dan DPR juga menegaskan bahwa KUHP Nasional dan KUHAP baru tidak dimaksudkan untuk menjerat warga negara yang beritikad baik. Menteri Koordinator Bidang Hukum, HAM, Imigrasi, dan Pemasyarakatan Yusril Ihza Mahendra menempatkan pemberlakuan KUHP Nasional sebagai momentum bersejarah untuk meninggalkan hukum pidana kolonial dan memasuki era penegakan hukum yang berlandaskan Pancasila dan nilai bangsa. Menurutnya, hukum pidana modern harus melindungi warga yang tidak berbuat jahat dan menjamin proses yang manusiawi serta berkeadilan.

    Penegasan serupa disampaikan Ketua Komisi III DPR Habiburokhman yang menekankan keberadaan berbagai “pengaman” dalam KUHP dan KUHAP baru. Pengaman tersebut memastikan hanya perbuatan yang benar-benar jahat dan memenuhi unsur kesalahan yang layak dipidana. Hakim diwajibkan mengedepankan keadilan di atas kepastian hukum semata serta menilai sikap batin atau niat terdakwa. Dalam konteks kritik terhadap pejabat, misalnya, niat untuk mengingatkan atau mengoreksi tidak dapat disamakan dengan niat merendahkan martabat atau menyerang kehormatan. Bahkan, KUHAP baru memperkenalkan mekanisme pemaafan hakim untuk perbuatan ringan, sebagai wujud konkret pendekatan restoratif dan proporsionalitas pemidanaan.

    Perubahan paradigma ini juga tercermin dalam perluasan pidana alternatif seperti kerja sosial, rehabilitasi, dan mediasi. Negara secara sadar membatasi intervensi berlebihan ke ranah privat dengan menjadikan sejumlah ketentuan sensitif sebagai delik aduan. Pada saat yang sama, KUHAP baru memperkuat perlindungan hak korban dan saksi, serta meningkatkan akuntabilitas aparat melalui pengawasan penyidikan dan penggunaan rekaman visual. Keseluruhan desain ini menunjukkan bahwa reformasi hukum pidana tidak hanya berfokus pada pelaku, tetapi juga pada korban, masyarakat, dan integritas sistem peradilan itu sendiri.

    Dengan demikian, KUHP dan KUHAP baru merepresentasikan arah baru penegakan hukum Indonesia. Pendekatan restoratif yang terukur, kewenangan penuntutan yang diawasi pengadilan, serta peran advokat yang diperluas menjadi fondasi bagi sistem peradilan pidana yang adil, manusiawi, dan berimbang. Tantangan ke depan tentu terletak pada implementasi yang konsisten dan berintegritas. Namun secara normatif, reformasi ini telah meletakkan kerangka yang kuat bagi terwujudnya hukum pidana nasional yang tidak hanya menghukum, tetapi juga memulihkan dan menegakkan keadilan substantif bagi seluruh warga negara.

    )* penulis merupakan pengamat hukum pidana

  • Pemberlakuan KUHP Baru Jadi Momentum Hukum Nasional Berlandaskan Pancasila dan HAM

    Oleh: Muhammad Rizki Darwis

    Pemberlakuan Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) nasional yang mulai efektif pada awal 2026 menandai babak penting dalam sejarah hukum Indonesia. Setelah lebih dari satu abad menggunakan sistem hukum pidana warisan kolonial, Indonesia kini resmi beralih ke sistem hukum pidana nasional dengan paradigma modern yang dirancang sesuai nilai, kebutuhan, dan jati diri bangsa. Pemerintah menilai momentum ini sebagai tonggak pembaruan hukum yang menegaskan kedaulatan hukum nasional sekaligus memperkuat perlindungan hak asasi manusia.

    Menteri Hukum Supratman Andi Agtas menyampaikan bahwa pemberlakuan KUHP nasional merupakan momen bersejarah karena Indonesia secara resmi meninggalkan paradigma hukum pidana kolonial. Menurutnya, sistem hukum pidana yang baru tidak lagi memandang hukum semata sebagai alat pembalasan, melainkan sebagai instrumen untuk menghadirkan keadilan, pemulihan, dan perlindungan martabat manusia. Perubahan paradigma tersebut dinilai sejalan dengan semangat Pancasila yang menempatkan kemanusiaan dan keadilan sosial sebagai prinsip utama.

    Pemerintah menjelaskan bahwa salah satu perbedaan mendasar antara KUHP lama dan KUHP nasional terletak pada pendekatan pemidanaan. Jika sebelumnya pidana penjara menjadi instrumen utama, maka dalam KUHP nasional pemidanaan tidak lagi bertumpu pada pemenjaraan. Sistem baru diarahkan untuk memberikan ruang pemulihan bagi korban sekaligus mendorong pelaku agar dapat bertobat dan kembali berkontribusi secara positif di tengah masyarakat. Pendekatan ini mencerminkan pergeseran ke arah keadilan restoratif yang lebih relevan dengan kebutuhan penegakan hukum modern.

    Dalam kerangka tersebut, KUHP nasional memperkenalkan sistem pemidanaan yang lebih manusiawi melalui penerapan double track system. Pemerintah menjelaskan bahwa hakim kini memiliki fleksibilitas untuk menjatuhkan pidana dan tindakan secara bersamaan, menjatuhkan pidana tanpa tindakan, atau sebaliknya menjatuhkan tindakan tanpa pidana. Mekanisme ini memungkinkan putusan hukum disesuaikan dengan karakter pelaku, dampak perbuatan, serta kepentingan korban dan masyarakat.

    Selain itu, sejumlah pembaruan substansial juga dimuat dalam KUHP nasional. Pemerintah mengungkapkan bahwa kategori lama berupa pemisahan antara “kejahatan” dan “pelanggaran” ditiadakan agar sistem hukum lebih sederhana dan adaptif. KUHP nasional juga mengakui keberadaan living law atau hukum yang hidup di masyarakat sepanjang tidak bertentangan dengan konstitusi. Pembaruan lain mencakup penempatan korporasi sebagai subjek tindak pidana, pengelompokan ancaman pidana denda secara lebih proporsional, serta pengaturan pidana mati dengan masa percobaan sebagai bentuk kehati-hatian negara dalam menjatuhkan sanksi tertinggi.

    Di tengah proses transisi tersebut, pemerintah juga menanggapi sejumlah isu krusial yang berkembang di masyarakat. Salah satunya terkait ketentuan penghinaan terhadap Presiden dan lembaga negara. Menteri Hukum menegaskan bahwa pengaturan ini tidak dimaksudkan untuk membatasi kebebasan berpendapat atau kritik terhadap kebijakan pemerintah. Untuk menjamin ruang demokrasi tetap terbuka, ketentuan tersebut dibatasi sebagai delik aduan yang hanya dapat diproses melalui laporan tertulis dari Presiden, Wakil Presiden, atau pimpinan lembaga negara yang bersangkutan.

    Isu lain yang turut menjadi perhatian publik adalah pengaturan mengenai demonstrasi. Pemerintah menjelaskan bahwa KUHP nasional tetap menjamin hak masyarakat untuk menyampaikan pendapat di muka umum. Selama unjuk rasa atau demonstrasi dilakukan dengan pemberitahuan terlebih dahulu sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan, maka peserta aksi tidak dapat dipidana, meskipun dalam pelaksanaannya terjadi gangguan kepentingan umum atau situasi keonaran. Ketentuan ini dipandang sebagai bentuk perlindungan negara terhadap hak konstitusional warga negara.

    Dari sisi legislatif, Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad menegaskan bahwa pemberlakuan KUHP nasional dan KUHAP baru pada awal 2026 telah memenuhi seluruh persyaratan formil dan materiil pembentukan undang-undang. Ia menyampaikan bahwa proses pembahasan kedua regulasi tersebut berlangsung panjang dan melibatkan partisipasi publik secara luas. DPR menilai keterlibatan masyarakat, akademisi, serta pemangku kepentingan lainnya menjadi faktor penting dalam memastikan substansi undang-undang selaras dengan kebutuhan hukum nasional.

    Sejumlah pakar hukum menilai bahwa pemberlakuan KUHP nasional merupakan langkah strategis dalam konsolidasi sistem hukum Indonesia. Kodifikasi hukum pidana yang berlandaskan Pancasila dan UUD 1945 dinilai mampu memberikan kepastian hukum sekaligus menjawab tantangan kejahatan modern. Namun demikian, mereka juga menekankan pentingnya sosialisasi dan penguatan kapasitas aparat penegak hukum agar implementasi KUHP nasional berjalan seragam dan tidak menimbulkan multitafsir.

    Pemerintah menyadari bahwa tahap implementasi akan menjadi kunci keberhasilan reformasi hukum pidana ini. Oleh karena itu, berbagai lembaga penegak hukum terus melakukan sosialisasi dan penyesuaian internal. Pemerintah juga menyiapkan peraturan turunan untuk memastikan transisi dari aturan lama ke KUHP nasional berlangsung tertib dan berkeadilan.

    Dengan diberlakukannya KUHP nasional, pemerintah berharap sistem hukum pidana Indonesia menjadi lebih relevan, manusiawi, dan berorientasi pada keadilan substantif. Reformasi ini diposisikan bukan sebagai akhir, melainkan sebagai fondasi awal dalam membangun sistem hukum nasional yang berdaulat, adaptif, dan berkelanjutan bagi generasi mendatang.

    *) Pengamat Kebijakan Publik

  • Prinsip Single Prosecution Jadi Terobosan Efisiensi KUHAP Baru

    JAKARTA – Pemerintah terus menunjukkan komitmennya dalam melakukan pembaruan sistem hukum nasional melalui pembahasan dan penyusunan Kitab Undang-Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP) yang baru. Salah satu terobosan penting dalam KUHAP baru tersebut adalah penerapan prinsip single prosecution yang menempatkan penanganan perkara pidana dalam satu garis kendali yang terintegrasi. Prinsip ini dinilai mampu menjawab berbagai persoalan klasik dalam penegakan hukum, khususnya terkait proses penanganan perkara yang selama ini kerap berlarut-larut dan tidak efisien.

    Dalam konteks dinamika penegakan hukum nasional, pemerintah menilai pembaruan KUHAP menjadi kebutuhan mendesak. Selama ini, praktik bolak-balik berkas perkara antara aparat penegak hukum kerap menimbulkan ketidakpastian hukum, memperpanjang masa penanganan perkara, serta berdampak pada rasa keadilan masyarakat. KUHAP baru dirancang untuk menghadirkan sistem peradilan pidana yang lebih modern, akuntabel, dan berorientasi pada kepastian hukum.

    Menteri Hukum, Supratman Andi Agtas, menegaskan bahwa KUHAP baru merupakan bagian dari upaya pemerintah mewujudkan sistem peradilan pidana yang progresif dan efisien.

    “KUHAP baru kita desain untuk menjawab tantangan penegakan hukum ke depan, dengan menekankan efisiensi, transparansi, dan perlindungan hak asasi manusia, tanpa mengurangi ketegasan negara dalam menegakkan hukum,” ujar Supratman.

    Ia menambahkan bahwa integrasi proses penanganan perkara akan mempercepat penyelesaian perkara sekaligus meningkatkan kualitas penegakan hukum.

    Wakil Menteri Hukum, Prof. Edward Omar Sharif Hiariej, menyoroti pentingnya integrated criminal justice system yang menjadi roh dalam KUHAP baru. Menurutnya, sistem terintegrasi tersebut akan mengakhiri praktik bolak-balik berkas perkara yang selama ini menjadi salah satu sumber inefisiensi.

    “Dengan sistem peradilan pidana yang terintegrasi, setiap tahapan penanganan perkara menjadi lebih jelas dan terkoordinasi, sehingga tidak ada lagi tarik-menarik kewenangan yang justru merugikan pencari keadilan,” kata Edward.

    Ia menekankan bahwa prinsip single prosecution akan memperkuat koordinasi antar aparat penegak hukum dalam satu kerangka kerja yang sama.

    Dari kalangan akademisi, Fakultas Hukum Universitas Trisakti menilai arah pembaruan KUHAP ini sejalan dengan kebutuhan reformasi hukum nasional. Akademisi FH Usakti, Azmi Syahputra, menyatakan bahwa penegasan posisi jaksa sebagai pengendali penanganan perkara merupakan langkah strategis.

    “KUHAP baru menempatkan jaksa sebagai kepala dan pengendali penanganan perkara, sehingga proses penegakan hukum menjadi lebih terarah, efektif, dan tidak tumpang tindih,” ucap Azmi.

    Menurutnya, desain tersebut penting untuk memastikan akuntabilitas dan konsistensi penanganan perkara sejak tahap awal hingga persidangan.

    Sejalan dengan berbagai agenda reformasi hukum yang tengah digulirkan pemerintah, pembaruan KUHAP juga dinilai relevan dengan upaya memperkuat kepercayaan publik terhadap institusi penegak hukum. ***