Penulis: restiana818@gmail.com

  • Jaga Stabilitas Keamanan Papua, Fondasi Kuat Menuju Pembangunan Berkelanjutan

    PAPUA – Pemerintah menegaskan komitmennya dalam menjaga stabilitas keamanan di Papua sebagai fondasi utama pembangunan dan peningkatan kesejahteraan masyarakat. Keamanan yang kondusif dipandang sebagai prasyarat penting agar seluruh aktivitas sosial, ekonomi, dan pemerintahan dapat berjalan secara berkelanjutan di Tanah Papua.

    Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan (Menko Polkam), Jenderal TNI (Purn) Djamari Chaniago menekankan bahwa stabilitas keamanan tidak dapat dilepaskan dari peran aktif masyarakat, khususnya generasi muda, serta sinergi yang kuat antara pemerintah dan aparat keamanan. Menurutnya, keamanan yang terjaga akan menciptakan ruang yang sehat bagi kreativitas, produktivitas, dan kemajuan masyarakat Papua.

    “Keamanan dan stabilitas adalah prasyarat utama agar masyarakat dapat hidup dengan tenang, berkarya, dan berkontribusi bagi pembangunan daerah maupun nasional,” ujar Djamari Chaniago.

    Menko Polkam juga menegaskan bahwa TNI dan Polri memiliki peran strategis sebagai pilar utama penjaga stabilitas nasional. Profesionalisme, soliditas, dan pendekatan yang humanis dinilai menjadi kunci keberhasilan dalam menciptakan rasa aman yang dirasakan langsung oleh masyarakat Papua.

    “TNI dan Polri harus terus menjaga kekompakan serta membangun kedekatan dengan masyarakat. Keamanan yang kuat adalah keamanan yang dirasakan manfaatnya oleh rakyat,” katanya.

    Dalam konteks penguatan tata kelola keamanan, pemerintah mendorong sinergi lintas sektor melalui kerja sama yang solid antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda). Pendekatan terpadu dinilai penting untuk menjawab berbagai tantangan sosial, ekonomi, dan keamanan yang dihadapi Papua secara menyeluruh.

    Gubernur Papua Mathius D. Fakhiri menyampaikan bahwa dukungan pemerintah pusat sangat berarti bagi daerah. Ia menegaskan pentingnya kerja sama yang berkelanjutan untuk menjaga situasi Papua tetap aman dan stabil. “Sinergi antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Provinsi Papua harus terus diperkuat demi keamanan dan kesejahteraan masyarakat,” ujarnya.

    Dukungan serupa juga disampaikan tokoh masyarakat Papua, Anggota Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Komjen Pol (Purn) Paulus Waterpauw. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat menjaga persatuan dan kedamaian sebagai modal utama pembangunan.

    “Mari kita jaga stabilitas keamanan dan dorong kemajuan Papua. Kedamaian adalah fondasi agar pembangunan benar-benar dirasakan masyarakat,” kata Paulus.

    Di tingkat masyarakat, tokoh adat dan warga Sentani menyatakan sikap tegas menolak segala bentuk aktivitas separatis yang berpotensi mengganggu keamanan. Ketua Aliansi Sentani Bersatu Sejahtera, Jhon Maurits Suebu, menegaskan bahwa masyarakat membutuhkan ketenangan untuk membangun kehidupan yang lebih baik.

    “Masyarakat Papua membutuhkan ketenangan untuk bekerja, berusaha, dan membangun. Kami menolak segala bentuk ajakan yang memecah belah persatuan,” ujarnya.

    Dengan dukungan pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat, stabilitas keamanan di Papua terus diperkuat sebagai landasan menuju Papua yang damai, maju, dan sejahtera.

  • Sinergitas Keamanan di Papua, Kunci Menjaga Perdamaian dan PersatuanNasional

    Oleh : Loa Murib

    Sinergitas keamanan di Papua merupakan kunci strategis dalam menjaga perdamaiandaerah sekaligus memperkokoh persatuan nasional. Papua sebagai wilayah dengankarakter geografis, sosial, dan budaya yang khas membutuhkan pendekatan keamananyang komprehensif dan kolaboratif. Stabilitas tidak dapat dibangun hanya melaluikehadiran aparat, tetapi harus ditopang oleh kerja sama erat antara negara, pemerintahdaerah, dan masyarakat. Dalam konteks tersebut, sinergitas lintas sektor menjadifondasi utama agar Papua tetap kondusif dan berkontribusi positif bagi ketahanannasional.

    Kunjungan Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia, Komjen Pol. Dedi Prasetyo, ke Papua menegaskan pentingnya kolaborasi sebagai pendekatan utamadalam menjaga keamanan. Dalam agenda Apel Mitra Kamtibmas Presisi di MapoldaPapua, Komjen Pol. Dedi Prasetyo memberikan apresiasi terhadap sinergi yang terbangun antara Polda Papua dan Pemerintah Provinsi Papua. Kehadiran GubernurPapua, Matius D. Fakhiri, dalam kegiatan tersebut mencerminkan kuatnya komitmenpemerintah daerah dalam mendukung upaya keamanan yang partisipatif dan inklusif. Sinergi ini dipandang sebagai contoh konkret bahwa keamanan yang berkelanjutanlahir dari keterlibatan bersama seluruh elemen daerah.

    Komjen Pol. Dedi Prasetyo menekankan bahwa keamanan tidak hanya bergantungpada kinerja institusi kepolisian, melainkan juga pada peran aktif masyarakat sebagaimitra strategis. Pelibatan kelompok tani, nelayan, komunitas ojek, tokoh adat, dan berbagai elemen sosial lainnya dinilai sebagai langkah efektif dalam membangunjaringan keamanan sosial. Masyarakat tidak hanya menjadi objek pengamanan, tetapijuga subjek yang berperan sebagai agen perubahan dalam menumbuhkan budayadisiplin, kepatuhan hukum, dan kepedulian terhadap lingkungan sosial di Papua.

    Pendekatan sinergis tersebut menjadi semakin relevan di tengah dinamika global yang terus berkembang. Komjen Pol. Dedi Prasetyo juga mengingatkan bahwa konflikantarnegara, ancaman terorisme, perang dagang, serta dampak perubahan iklim dapatmemengaruhi stabilitas keamanan nasional dan regional. Dalam situasi yang penuhketidakpastian, aparat keamanan bersama masyarakat dituntut untuk lebih adaptif dan responsif. Sinergitas yang terbangun di Papua menjadi modal penting dalammenghadapi berbagai potensi gangguan keamanan secara dini dan terukur.

    Dari sisi kebijakan nasional, perhatian terhadap Papua juga tercermin melalui arahanMenteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan, Djamari Chaniago. Dalam kunjungannya ke Polda Papua, Djamari Chaniago menegaskan bahwa TNI dan Polrimerupakan ujung tombak negara dalam menciptakan keamanan dan ketertiban. Menurutnya, soliditas dan kekompakan kedua institusi tersebut menjadi prasyaratutama agar masyarakat Papua benar-benar merasakan kehadiran negara melaluikeamanan yang stabil, pelayanan publik yang berjalan baik, serta kesempatanpembangunan yang adil dan merata.

    Djamari Chaniago menilai bahwa tanpa sinergi yang kuat antara TNI dan Polri, upayamenciptakan rasa aman di wilayah Papua, khususnya di daerah rawan konflik, akanmenghadapi tantangan besar. Oleh karena itu, pendekatan keamanan yang humanisperlu terus dikedepankan. Pendekatan ini diyakini mampu membangun kepercayaanmasyarakat terhadap aparat, sehingga kehadiran negara dipandang sebagai pelindungdan mitra, bukan sebagai ancaman. Kepercayaan publik menjadi fondasi penting dalammenjaga stabilitas jangka panjang di Papua.

    Komitmen sinergitas juga terlihat di tingkat daerah, salah satunya di Provinsi Papua Tengah. Pemerintah Provinsi Papua Tengah secara tegas menyatakan dukungan penuhterhadap pelaksanaan Operasi Terpusat Lilin Noken 2025 menjelang perayaan Natal dan Tahun Baru. Dalam rapat koordinasi lintas sektoral di Nabire, Plt Asisten I BidangPemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Papua Tengah, Jarius Asgimbaw, yang mewakili Gubernur Papua Tengah, menekankan bahwa stabilitas keamanan hanyadapat terwujud melalui kolaborasi solid antara TNI, Polri, pemerintah daerah, dan seluruh pemangku kepentingan.

    Jarius Asgimbaw menjelaskan bahwa momen akhir tahun selalu diiringi denganpeningkatan mobilitas masyarakat dan aktivitas ekonomi. Kondisi tersebut menuntutkesiapsiagaan aparat dan pemerintah daerah agar masyarakat dapat menjalankanaktivitas dan perayaan keagamaan dengan rasa aman dan nyaman. PemerintahProvinsi Papua Tengah telah menginstruksikan seluruh perangkat daerah untukmemberikan dukungan maksimal, baik dalam bentuk sumber daya maupun penguatankoordinasi dengan tokoh agama dan tokoh masyarakat.

    Pelaksanaan Operasi Lilin Noken 2025 juga mencerminkan pendekatan pengamananyang profesional, responsif, dan berbasis kearifan lokal. Langkah-langkah strategisseperti pengamanan rumah ibadah, pengaturan lalu lintas, serta antisipasi potensikerawanan di pusat-pusat keramaian dirancang melalui koordinasi lintas sektor. Keterlibatan unsur Forkopimda, instansi vertikal, tokoh pemuda, dan insan pers memperkuat ekosistem keamanan yang partisipatif dan transparan.

    Pada akhirnya, sinergitas keamanan di Papua memiliki makna strategis bagi persatuannasional. Keamanan yang terjaga menjadi prasyarat bagi percepatan pembangunan, peningkatan kesejahteraan, dan penguatan rasa keadilan sosial. Ketika masyarakatPapua merasa aman dan dilibatkan, kepercayaan terhadap negara akan semakin kuat. Sinergi antara aparat keamanan, pemerintah, dan masyarakat bukan sekadar agenda sektoral, melainkan wujud nyata komitmen bersama dalam menjaga Papua sebagaibagian integral dari Negara Kesatuan Republik Indonesia menuju Indonesia Maju dan Indonesia Emas 2045.

    *Penulis adalah Mahasiswa Papua di Jawa Timur

  • Masyarakat Aceh Puji Kerja Keras Pemerintah dan Relawan dalam Pemulihan Pascabanjir

    Oleh: Meutya Riska )*

    Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah di Provinsi Aceh meninggalkan dampak besar bagi kehidupan sosial dan ekonomi masyarakat. Ribuan warga harus mengungsi, rumah rusak, fasilitas umum terdampak, serta aktivitas ekonomi rakyat sempat terhenti. Di tengah kondisi tersebut, berbagai langkah cepat dan terkoordinasi yang dilakukan pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat keamanan, serta relawan kemanusiaan mendapat apresiasi luas dari masyarakat Aceh. Kehadiran negara dinilai nyata dan memberi harapan bagi pemulihan yang lebih cepat dan berkelanjutan.

    Sekretaris Pengurus Daerah Satria Aceh, Mahfudz Y. Loethan, mengatakan langkah cepat pemerintah pusat dalam menangani dampak banjir merupakan bukti keseriusan negara dalam melindungi rakyatnya. Komitmen pemerintah yang terus memonitor secara langsung progres pemulihan Aceh menunjukkan kepemimpinan yang responsif dan berpihak pada masyarakat terdampak. Menurutnya, percepatan pembangunan hunian tetap serta pemberian bantuan uang tunai bagi rumah rusak ringan hingga sedang menjadi kebijakan strategis yang menyentuh langsung kebutuhan warga.

    Mahfudz menjelaskan bahwa bantuan uang tunai memiliki efek ganda yang sangat penting dalam fase pemulihan. Selain membantu masyarakat memperbaiki rumah dan memenuhi kebutuhan dasar, bantuan tersebut juga menggerakkan kembali roda ekonomi lokal. Aktivitas tukang bangunan, pembelian material di daerah, hingga hidupnya kembali warung-warung kecil menjadi indikator bahwa kebijakan tersebut berdampak nyata di lapangan. Ia menegaskan bahwa pembangunan hunian tetap juga memberikan kepastian dan rasa aman bagi warga agar dapat kembali produktif dan membangun kehidupan yang lebih stabil pascabencana.

    Mahfudz yakin bahwa pemerintah pusat akan bekerja secara maksimal dalam membantu pemulihan Aceh. Ia menegaskan PD Satria Aceh sebagai bagian dari elemen masyarakat siap mendukung serta mengawal setiap kebijakan pemerintah agar pelaksanaannya tepat sasaran. Dukungan masyarakat sangat dibutuhkan agar program pemulihan berjalan efektif dan berkesinambungan.

    Apresiasi serupa juga datang dari kalangan pemuda dan mahasiswa Aceh. Koordinator Aliansi Pemuda Peduli Bencana, Sabarudin, mengatakan elemen pemuda Aceh menyatakan dukungan penuh terhadap langkah Pemerintah dalam mempercepat penanganan darurat, pemulihan, hingga rehabilitasi dan rekonstruksi pasca bencana. Langkah-langkah yang telah dilakukan pemerintah dinilai sebagai wujud nyata kehadiran negara dalam menjawab penderitaan masyarakat terdampak bencana.

    Sabarudin menuturkan bahwa aksi damai yang digelar oleh pemuda dan mahasiswa di Banda Aceh merupakan bentuk aspirasi sekaligus apresiasi atas kerja keras pemerintah. Menurutnya, kunjungan Presiden Prabowo Subianto ke Aceh menjadi simbol kuat kepedulian dan komitmen negara terhadap rakyatnya. Kehadiran Presiden di tengah masyarakat terdampak dinilai tidak hanya memberikan dorongan moral, tetapi juga memastikan bahwa proses penanganan dan pemulihan berjalan cepat, terarah, dan berkelanjutan.

    Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan,Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengatakan pemerintah terus mengawal pemenuhan kebutuhan kemanusiaan akibat bencana hidrometeorologi yang melanda Aceh dan sejumlah wilayah di Sumatra. Koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah menjadi kunci utama dalam memastikan bantuan tersalurkan dengan baik dan tepat sasaran.

    Pemerintah terus bekerja keras guna menangani dampak banjir dan longsor dengan fokus pada penyaluran bantuan, pemulihan infrastruktur, serta pemulihan ekonomi masyarakat. Bantuan kemanusiaan telah dikirim melalui berbagai jalur, termasuk dukungan TNI Angkatan Laut yang mengerahkan kapal untuk membawa bahan makanan, sarana komunikasi, serta perlengkapan pendukung pembangunan jembatan perintis di wilayah yang terisolasi.

    Pemulihan infrastruktur menjadi salah satu prioritas utama karena berkaitan langsung dengan aktivitas ekonomi dan mobilitas masyarakat. Pembangunan jembatan perintis dan perbaikan akses jalan dilakukan secara bertahap agar wilayah terdampak dapat kembali terhubung. Selain itu, pemulihan jaringan elektrifikasi dan komunikasi juga terus diupayakan, khususnya di daerah-daerah yang masih mengalami keterbatasan akses.

    Berbagai upaya tersebut mendapat respons positif dari masyarakat Aceh. Banyak warga menilai kerja sama lintas sektor yang melibatkan pemerintah, aparat keamanan, relawan, serta komunitas lokal telah mempercepat proses pemulihan. Kehadiran relawan di lapangan, distribusi bantuan yang relatif merata, serta komunikasi yang terbuka antara pemerintah dan masyarakat menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan publik.

    Masyarakat Aceh juga melihat bahwa pemulihan pasca bencana tidak hanya berfokus pada bantuan jangka pendek, tetapi juga pada pembangunan kembali kehidupan sosial dan ekonomi secara berkelanjutan. Kebijakan pembangunan hunian tetap, perbaikan infrastruktur, serta dukungan terhadap ekonomi rakyat dinilai sebagai langkah strategis untuk mencegah dampak berkepanjangan akibat bencana.

    Dukungan dan kepercayaan masyarakat menjadi modal penting agar proses pemulihan dapat berjalan lebih cepat, kuat, dan inklusif. Ke depan, masyarakat Aceh berharap sinergi yang telah terbangun dapat terus diperkuat. Bencana alam memang tidak dapat dihindari, tetapi dengan kesiapsiagaan, koordinasi, dan solidaritas nasional, dampaknya dapat diminimalkan. Pengalaman pemulihan pascabanjir di Aceh menjadi pelajaran penting bahwa kerja bersama antara negara dan masyarakat mampu menghadirkan harapan di tengah krisis.

    Melalui kerja keras yang berkelanjutan dan dukungan lintas sektor, Aceh perlahan bangkit dari dampak bencana. Apresiasi masyarakat terhadap pemerintah dan relawan bukan hanya bentuk rasa terima kasih, tetapi juga cerminan kepercayaan bahwa pemulihan yang adil dan berkelanjutan dapat terwujud demi masa depan Aceh yang lebih tangguh dan bermartabat.

    )* Pengamat Sosial dan kemasyarakatan

  • Presiden Prabowo Pastikan Pemulihan Infrastruktur Lembah Anai Berjalan Cepat dan Terkontrol

    Oleh : Hari Setiawan )*

    Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pemulihan infrastruktur di kawasan Lembah Anai harus berjalan cepat, terukur, dan tetap terkendali. Pernyataan ini menjadi penegasan komitmen pemerintah dalam memastikan jalur strategis yang menghubungkan wilayah Sumatera Barat kembali berfungsi normal setelah terdampak bencana. Bagi masyarakat, percepatan pemulihan ini bukan sekadar soal pembangunan fisik, melainkan tentang pemulihan aktivitas ekonomi, mobilitas warga, serta rasa aman saat melintasi kawasan tersebut.

    Lembah Anai dikenal sebagai jalur vital yang menghubungkan Kota Padang dengan sejumlah kabupaten dan kota di pedalaman Sumatera Barat. Ketika terjadi kerusakan akibat bencana alam, dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat luas, mulai dari terganggunya distribusi logistik, pariwisata yang menurun, hingga aktivitas harian warga yang terhambat. Karena itu, pemerintah memandang pemulihan kawasan ini sebagai prioritas nasional yang harus ditangani secara serius dan tidak berlarut-larut.

    Dalam arahannya, Presiden menekankan bahwa percepatan tidak boleh mengorbankan kualitas dan aspek keselamatan. Proses perbaikan infrastruktur harus mengikuti standar teknis yang ketat, memperhitungkan karakter geografis Lembah Anai yang rawan longsor dan banjir. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya mengejar target waktu, tetapi juga memastikan hasil pembangunan benar-benar tahan terhadap risiko bencana di masa depan.

    Pemerintah pusat melalui kementerian dan lembaga terkait telah diminta untuk berkoordinasi erat dengan pemerintah daerah. Sinergi ini penting agar pelaksanaan di lapangan berjalan efektif dan sesuai kebutuhan masyarakat setempat. Selain itu, pengawasan dilakukan secara berlapis untuk memastikan anggaran digunakan secara tepat sasaran dan proses pengerjaan tidak menyimpang dari rencana yang telah ditetapkan.

    Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo memastikan Jalan Nasional Bukittinggi–Padang melalui Jalur Lembah Anai mulai Selasa, 16 Desember 2025 dibuka secara fungsional terbatas untuk kendaraan roda dua dan roda empat. Pembukaan ini dilakukan setelah percepatan penanganan pascabencana banjir dan tanah longsor yang menimpa sejumlah titik terdampak di Sumatera Barat. Pembukaan fungsional dilakukan dengan tetap mengutamakan aspek keselamatan pengguna jalan. Dibukanya secara fungsional terbatas Jalur Lembah Anai diambil untuk segera memulihkan mobilitas masyarakat dan kelancaran distribusi logistik. Kementerian PU perlu mengkaji pengembangan jalur alternatif sebagai solusi permanen untuk mengurangi beban lalu lintas jalan nasional di Lembah Anai, termasuk opsi kelanjutan Jalan Tol Padang–Sicincin dari Kota Padang menuju Bukittinggi melalui pembangunan flyover atau terowongan. 

    Bagi masyarakat Sumatera Barat, langkah cepat pemerintah ini memberikan harapan besar. Pemulihan infrastruktur yang terkendali diharapkan dapat menghidupkan kembali roda perekonomian lokal, khususnya sektor pariwisata yang selama ini menjadi salah satu andalan daerah. Lembah Anai yang dikenal dengan keindahan alam dan air terjunnya memiliki potensi besar untuk kembali menarik wisatawan, asalkan akses jalan dan fasilitas pendukungnya aman dan layak.

    Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Kewilayah, Agus H. Yudhoyonomenekankan pentingnya melibatkan tenaga kerja lokal dalam proses pemulihan. Selain mempercepat pekerjaan, keterlibatan warga setempat dapat memberikan dampak ekonomi langsung bagi masyarakat sekitar. Pendekatan ini sejalan dengan visi pemerintah untuk menjadikan pembangunan infrastruktur sebagai motor penggerak kesejahteraan, bukan sekadar proyek fisik yang selesai tanpa manfaat sosial yang nyata.

    Aspek lingkungan turut menjadi perhatian utama dalam pemulihan Lembah Anai. Pemerintah menegaskan bahwa perbaikan infrastruktur harus selaras dengan upaya menjaga kelestarian alam. Penataan lereng, sistem drainase yang lebih baik, serta penguatan kawasan rawan longsor dilakukan dengan mempertimbangkan keseimbangan ekosistem, sehingga risiko bencana serupa dapat ditekan seminimal mungkin.

    Pemerintah berharap pemulihan infrastruktur Lembah Anai dapat menjadi contoh penanganan pascabencana yang cepat, tepat, dan berkelanjutan. Komitmen Presiden untuk memastikan proses berjalan terkontrol menunjukkan bahwa negara hadir dalam situasi krisis dan berupaya memberikan solusi nyata bagi masyarakat. Ke depan, keberhasilan pemulihan ini diharapkan tidak hanya memulihkan konektivitas, tetapi juga membangun kepercayaan publik terhadap kinerja pemerintah dalam menghadapi tantangan pembangunan.

    Secara keseluruhan, percepatan pemulihan infrastruktur di Lembah Anai mencerminkan pendekatan pembangunan yang tidak hanya berorientasi pada kecepatan, tetapi juga pada ketepatan, keselamatan, dan keberlanjutan. Dengan pengawasan yang ketat, koordinasi lintas pemerintah, pelibatan masyarakat lokal, serta perhatian terhadap aspek lingkungan, upaya ini diharapkan mampu memulihkan fungsi strategis kawasan sekaligus memperkuat ketahanan wilayah terhadap bencana di masa depan. Pemulihan yang berjalan cepat dan terkontrol ini menjadi pesan penting bahwa pembangunan infrastruktur harus selalu berpihak pada kepentingan rakyat dan keberlanjutan jangka panjang. Dengan demikian, keberhasilan pemulihan Lembah Anai diharapkan dapat menjadi model nasional dalam penanganan infrastruktur pascabencana yang responsif, transparan, dan berorientasi pada keselamatan serta kesejahteraan masyarakat.

    )* Penulis merupakan pengamat sosial

  • Koordinasi Pusat dan Daerah Percepat Penanganan Banjir Tiga Provinsi di Sumatera

    Oleh : Fahri Zakaria )*

    Bencana banjir dan tanah longsor yang melanda tiga provinsi di Sumatera pada Desember 2025 kembali menguji ketangguhan tata kelola penanggulangan bencana nasional. Intensitas hujan yang tinggi dan kondisi geografis yang rentan menyebabkan dampak kerusakan cukup luas, mulai dari infrastruktur dasar hingga terganggunya aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. Dalam situasi seperti ini, koordinasi yang solid antara pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci utama untuk memastikan penanganan berjalan cepat, tepat, dan berkelanjutan. Pemerintah menunjukkan komitmen kuat untuk menjadikan pemulihan pascabencana sebagai agenda prioritas nasional yang dilaksanakan secara terpadu lintas sektor.

    Penguatan koordinasi pusat dan daerah diarahkan agar setiap langkah penanganan memiliki arah yang jelas dan terukur. Pemulihan infrastruktur dasar seperti jalan, jembatan, fasilitas pendidikan, dan layanan kesehatan menjadi fokus awal agar mobilitas dan pelayanan publik dapat segera kembali normal. Di saat yang sama, pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak, mulai dari pangan, air bersih, hingga tempat tinggal sementara, terus diupayakan secara simultan. Pendekatan ini mencerminkan keseriusan pemerintah dalam memastikan bahwa proses pemulihan tidak berjalan parsial, melainkan menyentuh seluruh aspek kehidupan warga.

    Kehadiran Presiden Prabowo Subianto ke lokasi bencana di Aceh menjadi simbol kepemimpinan yang responsif dan berorientasi pada solusi. Presiden menegaskan bahwa pemerintah pusat bergerak cepat untuk mendukung percepatan pemulihan dengan mengerahkan seluruh kementerian dan lembaga terkait. Penegasan tersebut memberikan kepastian bahwa negara hadir dan tidak membiarkan daerah terdampak bekerja sendiri menghadapi situasi darurat. Kehadiran kepala negara juga memberikan dorongan moral bagi masyarakat agar tetap tabah dan optimistis menghadapi masa pemulihan.

    Dalam pernyataannya, Presiden Prabowo memastikan bahwa pemenuhan kebutuhan dasar masyarakat terdampak terus menjadi prioritas utama. Pemerintah berupaya agar bantuan logistik, layanan kesehatan, dan dukungan psikososial dapat menjangkau seluruh warga yang membutuhkan. Presiden juga menaruh perhatian besar pada keberlanjutan aktivitas belajar anak-anak yang sempat terganggu akibat bencana. Harapannya, proses pemulihan yang cepat akan memungkinkan kegiatan pendidikan dan kehidupan sosial masyarakat kembali berjalan normal dalam waktu yang tidak terlalu lama.

    Di tingkat daerah, pemerintah provinsi dan kabupaten bergerak aktif sebagai garda terdepan pemulihan pascabencana. Sekretaris Daerah Provinsi Sumatera Barat, Arry Yuswandi, menegaskan pengerahan aparatur sipil negara merupakan bentuk nyata percepatan pemulihan lingkungan pascabanjir bandang. Kegiatan pembersihan melibatkan 20 organisasi perangkat daerah dan sekitar 100 ASN yang diturunkan langsung ke lapangan. Langkah ini menunjukkan bahwa birokrasi daerah tidak hanya berperan administratif, tetapi juga hadir langsung membantu masyarakat.

    Arry menekankan bahwa proses pembersihan dilakukan secara bertahap dan harus tuntas di setiap titik terdampak. Pendekatan ini penting agar tidak ada wilayah yang tertinggal dan seluruh area dapat kembali aman untuk ditinggali. Koordinasi antar-OPD menjadi faktor krusial untuk menghindari tumpang tindih tugas dan memastikan efisiensi kerja. Upaya ini sekaligus memperlihatkan bagaimana sinergi internal pemerintah daerah mampu mempercepat pemulihan kondisi lingkungan dan sosial masyarakat.

    Solidaritas antardaerah juga menjadi kekuatan penting dalam penanganan bencana di Sumatera. Sekretaris Daerah Provinsi Kalimantan Timur, Sri Wahyuni, menyampaikan bahwa Pemprov Kaltim secara resmi melepas 37 relawan untuk membantu penanganan banjir bandang dan tanah longsor di Aceh Tamiang. Para relawan tersebut akan melaksanakan tugas kemanusiaan selama 8 hingga 10 hari, menyesuaikan dengan kebutuhan di lapangan. Langkah ini menunjukkan bahwa semangat gotong royong lintas provinsi masih menjadi fondasi kuat dalam sistem kebencanaan nasional.

    Selain relawan umum, Pemprov Kalimantan Timur juga mengirimkan 15 personel Taruna Siaga Bencana (Tagana) yang difokuskan untuk membantu operasional dapur umum. Kehadiran Tagana sangat strategis karena memastikan kebutuhan pangan masyarakat terdampak dapat terpenuhi secara berkelanjutan. Dukungan ini melengkapi upaya pemerintah pusat dan daerah setempat dalam menjaga stabilitas sosial selama masa tanggap darurat dan pemulihan. Sinergi lintas wilayah ini mempertegas bahwa penanganan bencana adalah tanggung jawab bersama seluruh elemen bangsa.

    Koordinasi lintas sektor yang diperkuat pemerintah mencerminkan pembelajaran dari berbagai penanganan bencana sebelumnya. Pemerintah tidak hanya berfokus pada respon darurat, tetapi juga mulai menata langkah pemulihan jangka menengah dan panjang secara terencana. Pemulihan sosial dan ekonomi dirancang agar berjalan seiring dengan perbaikan infrastruktur, sehingga masyarakat dapat kembali produktif. Pendekatan komprehensif ini penting untuk memutus rantai kerentanan dan mencegah dampak lanjutan pascabencana.

    Dalam konteks pembangunan nasional, penanganan banjir di Sumatera menjadi bukti bahwa sinergi pusat dan daerah mampu menghasilkan respons yang cepat dan terukur. Kebijakan yang terkoordinasi dengan baik akan meningkatkan kepercayaan publik terhadap kapasitas negara dalam melindungi warganya. Kepercayaan ini merupakan modal sosial penting untuk menjaga stabilitas dan ketahanan nasional di tengah tantangan perubahan iklim dan bencana hidrometeorologi. Pemerintah menunjukkan bahwa kepemimpinan yang kuat dan kolaboratif adalah kunci menghadapi krisis.

    )* Penulis merupakan Pengamat Kebijakan Publik.

  • Pemerintah Gerak Cepat dengan Mobilisasi Personel dan Logistik untuk Pemulihan Sumatera

    Jakarta – Pemerintah merespons cepat dan terkoordinasi dalam menangani dampak bencana di Sumatera melalui mobilisasi personel, logistik, serta peralatan pendukung ke wilayah terdampak. Langkah ini dilakukan untuk memastikan proses tanggap darurat dan pemulihan berjalan efektif, sekaligus menjamin kebutuhan dasar masyarakat dapat segera terpenuhi.

    Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto mengungkapkan bahwa keselamatan dan pemulihan masyarakat terdampak menjadi prioritas utama pemerintah. Presiden meminta seluruh jajaran kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah bergerak cepat serta bekerja secara terpadu agar penanganan bencana berjalan optimal, seraya menekankan bahwa negara harus hadir secara nyata di tengah masyarakat yang sedang menghadapi musibah,

    “Dalam situasi seperti ini, negara harus bergerak cepat dan hadir langsung untuk melindungi rakyat. Pentingnya percepatan distribusi bantuan logistik, layanan kesehatan, serta pemulihan infrastruktur dasar agar aktivitas masyarakat dapat kembali berjalan,” tegasnya.

    Presiden juga menekankan, sinergi lintas sektor menjadi kunci agar proses pemulihan tidak berlarut-larut dan dapat dilakukan secara berkelanjutan, dengan menyatakan bahwa seluruh sumber daya negara harus dikerahkan secara maksimal.

    “Kita kerahkan seluruh kekuatan yang ada agar pemulihan bisa dilakukan secepat mungkin,” katanya.

    Sementara itu, Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto mengatakan pemerintah telah mengerahkan personel gabungan dari TNI, Polri, relawan, dan aparat daerah untuk mendukung operasi tanggap darurat. Pengiriman logistik berupa pangan, obat-obatan, tenda pengungsian, serta peralatan pendukung terus dilakukan secara bertahap sesuai kebutuhan di lapangan.

    “Seluruh bantuan logistik dan personel terus kami distribusikan ke wilayah terdampak secara terukur dan berkelanjutan,” jelasnya.

    Suharyanto menambahkan bahwa BNPB bersama kementerian dan lembaga terkait juga memprioritaskan percepatan pemulihan pascabencana, termasuk rehabilitasi dan rekonstruksi infrastruktur vital. Menurutnya, upaya ini dilakukan agar masyarakat dapat segera kembali beraktivitas secara normal, dengan menegaskan bahwa proses pemulihan akan dilakukan secara menyeluruh.

    “Kami memastikan penanganan tidak berhenti di tanggap darurat, tetapi berlanjut hingga pemulihan masyarakat,” tambahnya.

    Pemerintah berkomitmen untuk terus memantau perkembangan di lapangan dan menyesuaikan langkah penanganan sesuai kondisi terbaru. Melalui mobilisasi personel dan logistik yang terkoordinasi, pemerintah optimistis proses pemulihan di wilayah terdampak bencana di Sumatera dapat berjalan lebih cepat dan efektif.

  • Pemerintah Percepat Pemulihan Banjir Sumatera, Akses Jalan dan Listrik Mulai Pulih

    Jakarta — Pemerintah Republik Indonesia terus menunjukkan komitmen penuh dalam mempercepat pemulihan pascabanjir bandang dan tanah longsor yang melanda wilayah Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat pada akhir November 2025. Dalam waktu kurang dari satu bulan, berbagai langkah konkret berhasil dilakukan, mulai dari pembukaan kembali akses jalan utama hingga pemulihan pasokan listrik, yang menjadi penanda penting kemajuan operasi tanggap darurat dan rehabilitasi infrastruktur di daerah terdampak.

    Berdasarkan data terbaru Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta laporan media nasional, pemerintah bekerja secara intensif memulihkan konektivitas antarwilayah dan layanan dasar masyarakat. Sejumlah ruas jalan yang sebelumnya terputus akibat longsor dan luapan sungai kini kembali dapat dilalui, sehingga distribusi bantuan logistik dapat berjalan lebih lancar. Pasokan listrik pun berangsur pulih di sebagian besar wilayah, meski tantangan geografis dan cuaca masih dihadapi di beberapa titik terpencil.

    Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan, Agus Harimurti Yudhoyono, menegaskan bahwa pemerintah akan terus mengawal proses pemulihan di lapangan. “Masih kita tingkatkan dan kita kawal, kekurangan di sana dan tentu memang harus kita akui upaya terbaik adalah koordinasi antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah,” ujar AHY.

    Ia menjelaskan, percepatan pemulihan dilakukan melalui perbaikan infrastruktur jalan dan jembatan, sekaligus penyaluran bantuan logistik secara masif. “Hari ini sejumlah jembatan bisa kita bangun kembali, walaupun sifatnya pendukung. Jembatan perintis harus terus kita bangun agar akses masyarakat benar-benar pulih,” tambahnya.

    Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Pratikno, mengungkapkan perkembangan positif dalam pemulihan layanan dasar. “Pasokan listrik, air bersih, hingga BBM berangsur membaik, dan jaringan komunikasi yang sempat terganggu kini juga mulai pulih di banyak titik,” ungkap Pratikno. Menurut dia, membaiknya akses transportasi turut mempercepat mobilisasi bantuan ke wilayah yang sebelumnya terisolasi.

    Dukungan terhadap upaya pemulihan juga disampaikan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Ia menyebutkan bahwa akses jalan dan pasokan listrik di 52 kabupaten/kota terdampak mulai pulih sejak akhir November 2025. “Jalan-jalan mulai tersambung kembali, sementara petugas PLN memulihkan sistem kelistrikan di daerah terdampak. Semua ini merupakan kerja keras bersama,” tegas Teddy.

    Perkembangan ini menjadi angin segar bagi warga terdampak dan para pengungsi yang mulai kembali merasakan layanan dasar. Meski tantangan masih ada, langkah cepat dan koordinasi lintas sektor menunjukkan kehadiran negara sebagai garda terdepan dalam memastikan pemulihan pascabanjir di Sumatera berjalan berkelanjutan.

  • Warga Aceh Apresiasi Sinergi Bupati dan Pemerintah Pusat dalamPenanganan Bencana 

    Oleh: Yandi Arya Adinegara)*

    Bencana alam yang terjadi di Aceh, terutama banjir dan longsor, telah menuntutkerja keras dan koordinasi antara berbagai pihak untuk mempercepat pemulihanwilayah yang terdampak. Salah satu contoh keberhasilan dalam penangananbencana ini adalah sinergi yang kuat antara pemerintah daerah, bupati setempat, serta pemerintah pusat, termasuk Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian. Sinergi ini telah mengundang apresiasi dari warga Aceh, yang merasa semakinoptimistis melihat upaya bersama yang luar biasa dalam mengatasi dampakbencana.

    Di Aceh Tamiang, Bupati Irjen Pol (P) Drs. Armia Pahmi, MH, menyampaikan terimakasih yang mendalam kepada Menteri Dalam Negeri M. Tito Karnavian atasperhatian dan dukungan langsungnya. Kehadiran Mendagri dalam rapat koordinasipenanganan bencana di Kabupaten Aceh Tamiang pada 22 Desember 2025 lalumemberikan semangat baru bagi masyarakat dan pemerintah daerah. Bupati Armia menegaskan bahwa bantuan pemerintah pusat sangat penting untuk mempercepatproses pemulihan, baik dalam perbaikan infrastruktur maupun dalam menghidupkankembali ekonomi warga yang terdampak bencana. Dukungan dari pemerintah pusatsangat krusial, agar pemulihan berjalan lebih cepat dan tepat sasaran.

    Pemerintah pusat, melalui Menteri Dalam Negeri, M. Tito Karnavian, menegaskanpentingnya normalisasi fasilitas publik dan pembersihan areal permukiman sertafasilitas umum. Perhatian pada pasar dan fasilitas sosial sangat penting untukmempercepat pemulihan perekonomian. Komitmen untuk mengkoordinasikan lintaskementerian dalam mempercepat pemulihan pasca-bencana pun menjadi titik terangbagi Aceh Tamiang. Ini adalah bukti bahwa sinergi yang baik antara pemerintahdaerah dan pusat memberikan dampak positif bagi percepatan proses rehabilitasi.

    Tidak hanya di Aceh Tamiang, di Aceh Utara, sinergi antara Bupati H. Ismail A. Jalil dan pemerintah pusat juga mendapat apresiasi tinggi dari masyarakat. Dalam kunjungan Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto ke Kecamatan Langkahan, BupatiAceh Utara didampingi unsur Forkopimda setempat turut menyambut denganhangat. Masyarakat Aceh Utara berharap bahwa dukungan dari pemerintah pusatdapat mempercepat pemulihan wilayah yang terdampak banjir bandang. Dalam kesempatan tersebut, bantuan tanggap darurat pun disalurkan langsung kepadawarga yang terdampak. Kepala BNPB Letjen TNI Suharyanto pun berkomitmenuntuk segera membangun hunian sementara dan infrastruktur guna mendukungpemulihan sosial dan ekonomi di daerah tersebut.

    Sinergi ini sangat terasa bagi warga yang sedang berjuang menghadapi dampakbencana, karena pemerintah pusat turut hadir dalam memastikan bahwa bantuandan program pemulihan tepat sasaran.

    Di Aceh Timur, Bupati Iskandar Usman Al-Farlaky, S.H.I., M.Si bersama denganForkopimda menyambut kedatangan Mendagri Tito Karnavian di KecamatanSerbajadi, yang juga terdampak parah akibat banjir dan longsor. Bupati Iskandar menyampaikan langsung kebutuhan mendesak, termasuk tenda pengungsian dan logistik yang diperlukan warga. Bupati Iskandar berharap dengan sinergi antarapemerintah pusat dan daerah, Aceh Timur dapat segera pulih dan masyarakat bisamelanjutkan kehidupannya dengan lebih baik.

    Pemerintah pusat yang diwakili oleh Mendagri Tito Karnavian juga menanggapiaspirasi warga terkait kebutuhan lahan untuk relokasi, khususnya denganmemanfaatkan lahan HGU yang tidak lagi digunakan. Ini menunjukkan bahwapemerintah pusat benar-benar mendengarkan aspirasi warga dan siap mengambillangkah konkret untuk mendukung pemulihan. Kehadiran Mendagri dan kebijakanyang segera diambil menunjukkan sinergi yang kuat dan responsif dari pemerintahdalam menangani bencana.

    Dalam kesempatan lainnya, Bupati Aceh Singkil, H. Safriadi Oyon, SH., bersamajajaran Forkopimda secara resmi menerima penyaluran bantuan tanggap daruratdari tim relawan Universitas Teuku Umar yang diinisiasi oleh Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek). Program PengabdianKepada Masyarakat yang dilaksanakan oleh perguruan tinggi ini merupakan contohsinergi lintas sektor yang patut diapresiasi. Bupati Safriadi mengungkapkan rasa terima kasih kepada Universitas Teuku Umar dan kementerian terkait, yang tidakhanya memberikan bantuan fisik, tetapi juga semangat solidaritas dari dunia pendidikan.

    Lebih dari itu, dalam penanganan bencana ini, peran sektor swasta juga turutmemberikan kontribusi signifikan. Di Aceh Tamiang, misalnya, Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia berkomitmen untuk membangun 500 unit rumah hunian tetap bagiwarga yang terdampak bencana hidrometeorologi. Komitmen ini menambah dimensikemanusiaan dalam upaya pemulihan. Bupati Armia memberikan apresiasi atasbantuan tersebut yang sangat penting dalam memastikan warga memiliki tempattinggal yang layak setelah bencana.

    Secara keseluruhan, warga Aceh mengapresiasi dan merasakan manfaat nyata darisinergi antara pemerintah daerah, pemerintah pusat, dan berbagai pihak lainnyadalam penanganan bencana. Sinergi ini tidak hanya terbatas pada bantuan fisik, tetapi juga menyentuh aspek moral dan psikologis warga yang sedang berjuangkeluar dari kesulitan. Dengan dukungan yang solid, Aceh dapat bangkit lebih cepatdan lebih tangguh dalam menghadapi masa depan yang lebih baik.

    Dukungan ini menunjukkan bahwa negara hadir untuk rakyatnya, bahwa tidak adayang terlupakan dalam proses pemulihan, dan bahwa sinergi antara pemerintahdaerah, pusat, serta masyarakat akan terus menjadi landasan kuat dalammenghadapi bencana di masa yang akan datang. Warga Aceh optimistis bahwadengan sinergi ini, pemulihan pasca-bencana akan berjalan lebih cepat dan tepatsasaran.

    )*Penulis Merupakan Pengamat Sosial

  • Kenaikan UMP 2026 Dorong Konsumsi Rumah Tangga dan Aktivitas Ekonomi Nasional

    Jakarta- Kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) 2026 berpotensi memberikan dorongan signifikan terhadap konsumsi rumah tangga sekaligus menggerakkan aktivitas ekonomi nasional. Kepastian regulasi pengupahan yang telah ditetapkan pemerintah menjadi sinyal positif bagi dunia usaha dan pekerja dalam menghadapi tahun ekonomi 2026 dengan landasan hukum yang lebih jelas dan adaptif terhadap kondisi daerah.

    Peraturan Pemerintah tentang Pengupahan yang telah ditandatangani Presiden Prabowo Subianto pada 16 Desember 2025 menetapkan mekanisme baru penentuan UMP. Regulasi tersebut mengatur bahwa penetapan UMP 2026 paling lambat diumumkan pada 24 Desember 2025 dan mulai berlaku efektif 1 Januari 2026. Skema ini diharapkan memberi kepastian bagi pelaku usaha sekaligus meningkatkan daya beli pekerja sejak awal tahun.

    Menteri Ketenagakerjaan Yassierli menjelaskan bahwa kenaikan UMP 2026 tidak bersifat seragam antarprovinsi. Besaran kenaikan ditentukan melalui formula inflasi ditambah pertumbuhan ekonomi dikalikan indeks alfa, dengan rentang nilai alfa antara 0,5 hingga 0,9.

    “Fleksibilitas ini memberikan ruang bagi pemerintah daerah untuk menyesuaikan kebijakan pengupahan dengan karakteristik ekonomi dan tingkat kesejahteraan masing-masing wilayah,” katanya di Jakarta.

    Menurut Menaker, pendekatan desentralisasi dalam penetapan UMP bertujuan menciptakan keseimbangan antara perlindungan pekerja dan keberlanjutan dunia usaha.

    “Daerah dengan pertumbuhan ekonomi tinggi dan merata dapat memilih nilai alfa yang lebih besar, sementara daerah dengan pertumbuhan terbatas tetap memiliki ruang kebijakan agar tidak membebani struktur ekonomi lokal,” jelasnya.

    Yassierli menegaskan bahwa penetapan UMP 2026 tidak dapat disamakan dengan kebijakan tahun sebelumnya. Kenaikan UMP 2025 sebesar 6,5 persen merupakan kondisi khusus sebagai tindak lanjut putusan Mahkamah Konstitusi terkait Undang-Undang Cipta Kerja.

    “Tahun 2026, kebijakan kembali pada mekanisme reguler yang menekankan dialog sosial melalui Dewan Pengupahan Daerah,” ujarnya.

    Dalam mekanismenya, Dewan Pengupahan Daerah akan melakukan penghitungan dan memberikan rekomendasi kepada gubernur. Kepala daerah kemudian wajib menetapkan UMP serta memiliki kewenangan menetapkan UMK dan upah minimum sektoral sesuai ketentuan.

    “Dengan tata kelola ini, pemerintah berharap kebijakan UMP 2026 tidak hanya meningkatkan kesejahteraan pekerja, tetapi juga menjaga iklim investasi dan memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan,” pungkasnya.

  • Pemerintah Siapkan UMP 2026 Berimbang, Lindungi Buruh dan Jaga Iklim Usaha

    Jakarta – Pemerintah bersiap menetapkan Upah Minimum Provinsi (UMP) 2026 dengan pendekatan yang lebih berimbang, mengakomodasi kepentingan pekerja sekaligus menjaga daya saing dunia usaha.

    Proses perumusan kebijakan pengupahan ini menjadi sorotan karena berdampak langsung terhadap kesejahteraan buruh, iklim investasi, serta stabilitas hubungan industrial di daerah.

    Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani, menilai penetapan UMP merupakan kebijakan strategis yang harus dilakukan secara cermat dan penuh kehati-hatian. Ia berharap keputusan yang diambil pemerintah mampu memberikan kepastian bagi pelaku usaha tanpa mengesampingkan perlindungan terhadap daya beli pekerja.

    “Penetapan UMP selalu menjadi kebijakan penting yang berdampak langsung bagi pekerja dan pelaku usaha. Karena itu, prosesnya perlu dilakukan secara cermat agar hasilnya adil dan dapat diterima semua pihak,” ujar Netty di Jakarta.

    Netty memahami pemerintah tengah menyesuaikan kebijakan pengupahan dengan berbagai variabel, mulai dari kondisi ekonomi nasional, dinamika dunia usaha, hingga kebutuhan menjaga kesejahteraan pekerja.

    “Pemerintah tentu ingin memastikan bahwa kebijakan yang diambil tidak hanya berpihak pada satu sisi, tetapi menjaga keseimbangan antara kepentingan pekerja dan keberlangsungan usaha,” papar dia.

    Ia menambahkan bahwa upah minimum sejatinya merupakan instrumen untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja sekaligus menjaga stabilitas ekonomi.

    “Harapannya bisa menjadi solusi bagi dunia usaha dan tentu yang utama bisa meningkatkan kesejahteraan,” tutur Netty.

    Sejalan dengan itu, Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung memastikan bahwa UMP Jakarta 2026 akan diumumkan lebih cepat setelah adanya penetapan resmi dari pemerintah pusat.

    Ia menegaskan bahwa Pemprov DKI Jakarta berkomitmen memberikan kepastian bagi pekerja dan pelaku usaha melalui proses yang tepat waktu.

    “Bismillah, Jakarta selesai lebih dari itu, lebih cepat,” kata Pramono di Balai Kota Jakarta.

    Pramono juga memastikan bahwa UMP Jakarta 2026 akan mengalami kenaikan dibandingkan tahun sebelumnya. Kenaikan tersebut, menurutnya, telah berada dalam kerangka formula yang jelas sebagaimana diatur pemerintah pusat.

    “Pasti ada kenaikan. Karena alfanya ada range-nya, tinggal disesuaikan dengan inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan sebagainya,” ujarnya.

    Ia menekankan bahwa indikator makroekonomi menjadi dasar utama penentuan angka final UMP.

    Lebih lanjut, Pramono menegaskan posisi Pemprov DKI Jakarta sebagai pihak yang harus adil bagi buruh dan pengusaha.

    “Pemerintah DKI Jakarta akan menjadi juri yang adil bagi buruh dan juga pengusaha,” pungkasnya.***

    [w.R]

    [edRW]