Penulis: restiana818@gmail.com

  • MBG Terus Disempurnakan, Layanan Bermasalah Langsung Ditindak

    Jakarta, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah terus mengalami penyempurnaan guna memastikan kualitas layanan bagi masyarakat tetap optimal. Komitmen ini ditegaskan melalui langkah responsif terhadap berbagai kendala di lapangan, di mana setiap laporan terkait layanan bermasalah langsung ditindak secara cepat dan terukur.

    Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Wamendukbangga), Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka, menegaskan bahwa seiring dengan perluasan cakupan penerima manfaat dan kompleksitas distribusi di berbagai daerah, pemerintah kini membentuk tim khusus untuk memastikan penyaluran program berjalan tepat sasaran, efektif, dan berkelanjutan. Pemerintah telah menyiapkan ribuan kader untuk menjadi ujung tombak distribusi MBG di masyarakat.

    “Kami telah menyiapkan sekitar 18 ribu kader yang akan menjadi ujung tombak dalam memastikan distribusi MBG berjalan dengan baik hingga ke tingkat keluarga. Mereka akan berperan aktif dalam mendata, mendampingi, sekaligus mengedukasi masyarakat terkait pentingnya pemenuhan gizi,” ujar Isyana

    Pemerintah menempatkan kualitas dan ketepatan sasaran sebagai prioritas utama dalam implementasi MBG. Evaluasi dilakukan secara berkala dengan melibatkan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, penyedia layanan, hingga masyarakat penerima manfaat. Mekanisme pengawasan juga diperkuat melalui sistem pelaporan yang lebih terbuka dan mudah diakses, sehingga setiap keluhan dapat segera direspons tanpa menunggu waktu lama.

    Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar menjelaskan sejumlah temuan di lapangan menjadi bahan perbaikan berkelanjutan. Misalnya, terkait distribusi makanan yang belum merata, kualitas gizi yang perlu ditingkatkan, hingga aspek kebersihan dan keamanan pangan. Terhadap hal-hal tersebut, pemerintah tidak segan memberikan teguran hingga sanksi kepada pihak penyedia layanan yang tidak memenuhi standar. Langkah ini menjadi bagian dari upaya menjaga akuntabilitas sekaligus memastikan program berjalan sesuai tujuan awal.

    ‘Kami masih menemukan beberapa kendala, mulai dari distribusi makanan yang belum merata, kualitas gizi yang perlu ditingkatkan, hingga aspek kebersihan dan keamanan pangan yang harus diperketat. Terhadap hal-hal tersebut, pemerintah tidak segan memberikan teguran hingga sanksi kepada penyedia layanan yang tidak memenuhi standar. Ini merupakan bagian dari upaya kami menjaga akuntabilitas sekaligus memastikan program berjalan sesuai tujuan awal,’ ujarnya.”

    Selain penindakan, pendekatan pembinaan juga dilakukan agar mitra penyedia layanan dapat meningkatkan kapasitas dan kualitasnya. Pemerintah memberikan panduan teknis yang lebih rinci serta melakukan pendampingan agar standar operasional dapat dipahami dan dijalankan dengan baik. Dengan demikian, perbaikan tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga preventif untuk mencegah terulangnya masalah serupa.

    Ke depan, pemerintah memastikan bahwa MBG akan terus disempurnakan melalui evaluasi berbasis data dan masukan publik. Transparansi dan kecepatan respons menjadi kunci dalam menjaga kepercayaan masyarakat. Dengan langkah-langkah ini, MBG diharapkan tidak hanya menjadi program bantuan, tetapi juga investasi jangka panjang bagi kesehatan dan kesejahteraan generasi bangsa.

  • Menjaga Kepercayaan Publik melalui Perbaikan Program MBG

    Oleh: Nugroho Surya *)

    Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu kebijakan strategis pemerintah dalam membangun kualitas sumber daya manusia sekaligus menjawab tantangan gizi di Indonesia. Dengan cakupan penerima manfaat yang sangat luas, program ini tidak hanya menyasar aspek kesehatan, tetapi juga menyentuh dimensi sosial dan ekonomi masyarakat. Dalam perjalanannya, MBG menghadapi berbagai dinamika yang menjadi bahan evaluasi penting. Pemerintah pun terus melakukan pembenahan agar program ini tetap berada pada jalur yang tepat, sekaligus menjaga kepercayaan publik yang menjadi fondasi utama keberlanjutan kebijakan.

    Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, mengatakan bahwa langkah tegas berupa penghentian sementara ribuan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas program. Sekitar 1.780 SPPG ditangguhkan karena belum memenuhi standar penting seperti keberadaan instalasi pengolahan air limbah serta sertifikasi laik higiene dan sanitasi. Dadan menegaskan bahwa perbaikan ini dilakukan secara dinamis dan berkelanjutan, sehingga angka penangguhan dapat berubah seiring proses pemenuhan standar di lapangan.

    Pendekatan pengawasan yang diperketat juga menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menjaga kualitas implementasi. Inspektorat dilibatkan untuk memastikan setiap persoalan teknis dapat ditangani secara rinci dan sistematis. Hal ini menjadi penting mengingat skala program yang sangat besar dan kompleks, sehingga membutuhkan sistem pengendalian yang kuat. Pemerintah tidak hanya berfokus pada ekspansi, tetapi juga memastikan bahwa setiap unit yang beroperasi mampu memenuhi standar yang telah ditetapkan.

    Di sisi lain, keberhasilan program ini juga tidak terlepas dari dukungan publik yang cukup tinggi. Peneliti Utama Cyrus Network, Syahril Ilhami, mengatakan bahwa mayoritas masyarakat masih memberikan dukungan terhadap program MBG. Ia mengungkapkan bahwa lebih dari setengah responden menyatakan program ini membantu pemenuhan gizi, mengurangi beban ekonomi keluarga, serta mendukung kesehatan kelompok rentan seperti anak-anak dan ibu hamil. Hal ini menunjukkan bahwa manfaat program telah dirasakan secara nyata oleh masyarakat.

    Sementara itu, perhatian masyarakat terhadap kualitas implementasi, mulai dari mutu makanan, ketepatan sasaran, hingga pelaksanaan di lapangan, menjadi masukan konstruktif yang mendorong penyempurnaan program. Hal ini menunjukkan bahwa kepercayaan publik terus berkembang seiring respons perbaikan yang konsisten. Keberlanjutan MBG pun semakin kuat ketika pemerintah mampu mengakomodasi aspirasi tersebut, dengan transparansi dan akuntabilitas sebagai fondasi utama agar setiap peningkatan dipahami dan diterima secara luas.

    Sementara itu, Wakil Kepala Badan Gizi Nasional Bidang Operasional Pemenuhan Gizi, Sony Sanjaya, mengatakan bahwa program MBG tetap difokuskan pada kelompok rentan sebagai prioritas utama. Ia menjelaskan bahwa sasaran program meliputi ibu hamil, ibu menyusui, balita, serta peserta didik, dengan penekanan pada periode seribu hari pertama kehidupan yang sangat menentukan kualitas kesehatan manusia. Pendekatan ini menunjukkan bahwa program dirancang secara strategis untuk memberikan dampak jangka panjang.

    Sony juga menyoroti bahwa MBG tidak hanya berdampak pada kesehatan, tetapi turut menggerakkan perekonomian daerah. Ribuan satuan pelayanan yang beroperasi telah melibatkan lebih dari satu juta tenaga kerja dan relawan. Keterlibatan ini menciptakan efek berganda yang mendorong aktivitas ekonomi lokal, mulai dari penyediaan bahan pangan hingga distribusi. Dengan demikian, MBG berperan sebagai instrumen pembangunan yang bersifat multidimensi.

    Dari perspektif pembangunan, integrasi antara aspek kesehatan dan ekonomi menjadi nilai tambah yang signifikan. Program ini telah membuka banyak peluang kerja serta memperkuat ekosistem ekonomi masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan publik yang dirancang secara komprehensif mampu memberikan dampak yang lebih luas dibandingkan pendekatan sektoral semata.

    Dalam konteks menjaga kepercayaan publik, konsistensi antara tujuan dan pelaksanaan menjadi hal yang sangat penting. Masyarakat tidak hanya menilai dari niat baik kebijakan, tetapi juga dari hasil nyata yang dirasakan. Oleh karena itu, setiap langkah perbaikan harus mampu menunjukkan perubahan yang konkret. Penutupan sementara unit yang tidak memenuhi standar, misalnya, dapat dilihat sebagai bentuk komitmen pemerintah untuk tidak berkompromi terhadap kualitas.

    Lebih jauh, keterlibatan masyarakat dalam memberikan umpan balik juga menjadi elemen penting dalam memperkuat program. Saluran pengaduan dan komunikasi publik terus dioptimalkan agar setiap permasalahan dapat segera direspons. Dengan demikian, kepercayaan publik tidak hanya dibangun dari atas, tetapi juga melalui partisipasi aktif masyarakat sebagai penerima manfaat.

    Pemerintah terus memastikan bahwa setiap kebijakan yang diambil tetap berorientasi pada kepentingan masyarakat, sekaligus mampu beradaptasi dengan dinamika di lapangan. Upaya perbaikan yang terus dilakukan menunjukkan bahwa pemerintah menyadari pentingnya menjaga kepercayaan publik. Dengan komitmen yang kuat, evaluasi yang berkesinambungan, serta keterlibatan berbagai pihak, program ini memiliki potensi besar untuk menjadi fondasi bagi terciptanya generasi yang sehat, produktif, dan berdaya saing.

    Melalui langkah-langkah perbaikan yang konsisten, pemerintah berupaya memastikan bahwa MBG tidak hanya berjalan, tetapi juga berkembang menjadi program yang semakin efektif dan terpercaya. Kepercayaan publik yang terjaga akan menjadi modal utama dalam mewujudkan tujuan besar pembangunan nasional, yaitu menciptakan kesejahteraan yang merata dan berkelanjutan bagi seluruh masyarakat Indonesia.

    *) Penulis merupakan pengamat sosial dan kemasyarakatan

  • MBG dan Komitmen Negara dalam Menjaga Kualitas Generasi Masa Depan

    Oleh Eka Chandrawati )*

    Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi salah satu manifestasi nyata kehadiran negara dalam menjawab tantangan mendasar pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Di tengah dinamika global yang semakin kompetitif, kualitas generasi masa depan tidak lagi hanya ditentukan oleh akses pendidikan, tetapi juga oleh fondasi kesehatan dan gizi sejak dini. Untuk itu, MBG hadir sebagai strategi komprehensif yang tidak sekadar menjawab persoalan jangka pendek, melainkan menjadi investasi jangka panjang bagi keberlanjutan bangsa.

    Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menegaskan bahwa pendekatan dalam Program MBG dilakukan secara menyeluruh dengan menitikberatkan pada dua fase krusial kehidupan manusia. Fase pertama adalah 1.000 hari pertama kehidupan, yang dikenal sebagai periode emas dalam menentukan perkembangan otak dan kecerdasan anak. Pada fase ini, kekurangan gizi dapat berdampak permanen terhadap kapasitas kognitif dan kesehatan individu. Fase kedua adalah usia sekolah, di mana kebutuhan gizi berperan besar dalam mendukung pertumbuhan fisik, konsentrasi belajar, serta produktivitas anak. Pendekatan berbasis siklus hidup ini menunjukkan bahwa negara tidak lagi melihat persoalan gizi secara parsial, melainkan sebagai bagian integral dari pembangunan manusia yang berkelanjutan.

    Program MBG juga diarahkan untuk menekan angka stunting yang selama ini menjadi salah satu tantangan serius di Indonesia. Stunting bukan sekadar persoalan tinggi badan, tetapi mencerminkan gangguan perkembangan otak yang berdampak pada rendahnya kemampuan belajar dan produktivitas di masa depan. Dengan intervensi yang sistematis melalui penyediaan makanan bergizi, negara menunjukkan komitmennya dalam memutus rantai masalah gizi buruk yang dapat menghambat kemajuan bangsa.

    Anggota Komisi IX DPR RI, Muh Haris, memandang Program MBG sebagai strategi besar pemerintah dalam membangun kualitas SDM sejak dini. Ia menekankan bahwa program ini tidak boleh dipersepsikan semata sebagai pembagian makanan gratis, melainkan sebagai langkah fundamental untuk memastikan masa depan bangsa yang lebih baik. Pemenuhan gizi bukan hanya soal mengatasi rasa lapar, tetapi juga tentang menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan mampu bersaing di tingkat global.

    Pandangan tersebut mempertegas bahwa pembangunan manusia harus dimulai dari hal yang paling mendasar, yaitu kecukupan nutrisi. Tanpa gizi yang seimbang, upaya peningkatan kualitas pendidikan dan pelatihan tidak akan mencapai hasil optimal. Oleh karena itu, Program MBG menjadi titik awal yang strategis dalam memastikan bahwa setiap anak Indonesia memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang secara maksimal.

    Selain berdampak pada aspek kesehatan, Program MBG juga memiliki dimensi ekonomi yang signifikan. Pelibatan petani, nelayan, koperasi, serta pelaku usaha lokal dalam rantai pasok bahan pangan menunjukkan bahwa program ini dirancang dengan pendekatan ekosistem. Dengan demikian, MBG tidak hanya meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga menggerakkan ekonomi lokal dan memperkuat ketahanan pangan nasional. Pendekatan ini mencerminkan sinergi antara kebijakan sosial dan ekonomi yang saling menguatkan.

    Muh Haris juga menyoroti bahwa kualitas gizi tidak hanya diukur dari rasa kenyang, tetapi dari keseimbangan nutrisi yang mencakup karbohidrat, protein, dan serat. Hal ini penting untuk memastikan bahwa asupan yang diberikan benar-benar mendukung pertumbuhan dan perkembangan anak secara optimal. Dengan demikian, MBG menjadi instrumen penting dalam mengatasi berbagai persoalan kesehatan seperti anemia dan rendahnya akses terhadap makanan bergizi.

    Sementara itu, Anggota Komisi IX DPR RI Arzeti Bilbina menilai Program MBG sebagai langkah strategis dalam menjawab kekhawatiran masyarakat terhadap pemenuhan gizi anak. Ia menegaskan bahwa gizi seimbang memiliki peran krusial dalam perkembangan otak, kemampuan berpikir, serta pertumbuhan fisik. Maka MBG hadir sebagai bentuk tanggung jawab negara untuk memastikan bahwa setiap anak Indonesia mendapatkan asupan nutrisi yang memadai.

    Arzeti juga menekankan pentingnya ketepatan sasaran dan pengawasan dalam pelaksanaan program. Tanpa pengelolaan yang baik, program sebesar MBG berpotensi menghadapi berbagai tantangan, mulai dari distribusi hingga kualitas makanan yang disediakan. Oleh karena itu, diperlukan sistem pengawasan yang transparan dan akuntabel agar manfaat program dapat dirasakan secara optimal oleh masyarakat yang membutuhkan.

    Selain itu, sosialisasi kepada masyarakat menjadi aspek penting yang tidak boleh diabaikan. Pemahaman yang baik mengenai manfaat Program MBG akan mencegah terjadinya misinformasi sekaligus meningkatkan partisipasi publik dalam mendukung keberhasilan program. Sehingga, kolaborasi antara pemerintah, tenaga ahli, dan masyarakat menjadi kunci utama.

    MBG juga mencerminkan arah baru kebijakan pembangunan Indonesia yang berfokus pada kualitas manusia. Dalam jangka panjang, keberhasilan program ini akan menentukan daya saing bangsa di kancah global. Sebab generasi yang sehat dan cerdas adalah modal utama untuk menghadapi berbagai tantangan masa depan, termasuk perubahan teknologi, dinamika ekonomi, dan persaingan internasional.

    Program MBG bukan sekadar kebijakan sektoral, melainkan wujud komitmen strategis negara dalam menjaga kualitas generasi masa depan. Program ini menegaskan bahwa pembangunan tidak hanya diukur dari pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dari kesejahteraan serta kualitas hidup masyarakat. Melalui pelaksanaan MBG yang konsisten dan berkelanjutan, diharapkan dapat terwujud generasi Indonesia yang sehat, maju, mandiri, dan berdaya saing tinggi.

    )* penulis merupakan pengamat kebijakan publik

  • Di Tengah Dampak Global, Stok Beras Nasional Dipastikan Aman

    Jakarta — Pemerintah memastikan stok beras nasional dalam kondisi aman di tengah ketidakpastian global dan potensi dampak perubahan iklim ekstrem. Cadangan beras pemerintah yang terus meningkat dinilai menjadi bantalan penting untuk menjaga stabilitas harga dan menjamin kebutuhan pangan masyarakat dalam jangka panjang.

    Menteri Pertanian Republik Indonesia, Andi Amran Sulaiman, mengatakan daya tahan stok beras nasional saat ini menunjukkan sinyal positif dan kekuatan signifikan dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk potensi kekeringan. Berdasarkan perhitungan pemerintah, cadangan beras yang tersimpan diproyeksikan mampu memenuhi kebutuhan nasional hingga 15 bulan ke depan.

    “Daya tahan stok beras nasional kita saat ini diproyeksikan mampu bertahan hingga 15 bulan ke depan,” tegas Amran.

    Ia menambahkan bahwa capaian tersebut merupakan hasil strategi akumulasi cadangan yang disertai dengan perencanaan produksi pangan yang tetap berjalan selama musim kemarau. Pemerintah juga telah mengantisipasi potensi gagal panen melalui berbagai langkah mitigasi.

    “Pemerintah telah melakukan antisipasi matang terhadap potensi gagal panen akibat kekeringan yang mungkin timbul,” ujarnya.

    Penguatan cadangan beras tersebut juga dikonfirmasi Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono. Ia menyebut stok cadangan beras pemerintah telah menembus 5 juta ton, tertinggi sepanjang sejarah. Menurutnya, capaian tersebut merupakan hasil kebijakan pemerintah dalam memperkuat produksi dan ketahanan pangan nasional.

    Dalam keterangannya di Jakarta, Sudaryono menyampaikan bahwa per 23 April 2026, cadangan beras yang tersimpan di Perum Bulog mencapai 5.000.198 ton.

    “Tertinggi sepanjang sejarah, tertinggi sepanjang Bulog ada dan tertinggi sepanjang Republik ini berdiri,” katanya.

    Ia juga memastikan kualitas beras tetap terjaga. “Kita cek kualitasnya bagus, ada yang satu tahun, ada yang enam bulan, semua dalam keadaan baik, tidak ada kutunya. Saya sudah cek random semua, dan yang disegel juga saya minta dibuka,” tambahnya.

    Wakil Ketua DPD RI Tamsil Linrung turut mengapresiasi lonjakan stok beras nasional yang mendekati 5 juta ton. Ia menilai kebijakan pangan pemerintah berada pada jalur yang tepat dalam memperkuat ketahanan sekaligus kedaulatan pangan. Menurutnya, capaian tersebut mencerminkan keberhasilan kolektif, terutama kerja keras petani di daerah.

    “Ini harus dibaca sebagai keberhasilan kolektif, terutama kerja keras petani di daerah. Ini adalah fondasi penting menuju swasembada pangan yang berkelanjutan,” ujar Tamsil. Ia juga menilai terobosan pemerintah dalam penyediaan pupuk bersubsidi, perbaikan distribusi, serta rehabilitasi jaringan irigasi turut mendorong peningkatan produksi nasional.

    Dengan cadangan yang kuat dan produksi yang terus meningkat, pemerintah optimistis stabilitas pasokan beras dapat terjaga. Langkah ini sekaligus menjadi sinyal positif bahwa kebijakan penguatan sektor pertanian mulai memberikan hasil nyata dalam menjaga ketahanan pangan nasional di tengah dinamika global.

  • Cadangan Beras Menguat, Ancaman Global dan El Nino Terkendali

    Jakarta – Pemerintah menunjukkan kinerja solid dalam menjaga ketahanan pangan nasional di tengah tekanan global dan ancaman El Nino, dengan cadangan beras yang terjaga dan bahkan menguat dibanding periode sebelumnya.

    Stabilitas pasokan ini didukung oleh peningkatan produksi dalam negeri, penguatan cadangan pemerintah, serta distribusi yang efektif, sehingga Indonesia mampu menjaga ketersediaan dan keterjangkauan beras di tengah dinamika global.

    Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa kondisi stok beras nasional saat ini berada dalam posisi yang sangat aman, bahkan cukup untuk menghadapi potensi dampak El Nino dalam jangka panjang. Ia menekankan bahwa pemerintah telah melakukan langkah antisipatif sejak dini melalui peningkatan produksi dan penguatan cadangan.

    “Stok beras kita aman untuk menghadapi El Nino, bahkan bisa bertahan hingga 15 bulan. Ini hasil kerja keras seluruh pihak, mulai dari petani hingga kebijakan pemerintah yang konsisten menjaga produksi dan distribusi,” ujar Andi.

    Ia juga menambahkan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada aspek ketersediaan, tetapi juga memastikan stabilitas harga di tingkat konsumen. Menurutnya, intervensi yang tepat waktu menjadi kunci dalam menjaga keseimbangan pasar di tengah gejolak global.

    “Langkah-langkah seperti peningkatan luas tanam, optimalisasi lahan, hingga distribusi cadangan beras pemerintah menjadi bagian dari strategi komprehensif kita. Ini bukan kerja jangka pendek, tetapi bagian dari visi besar ketahanan pangan nasional,” lanjutnya.

    Sementara itu, Direktur Utama Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, memastikan bahwa pihaknya terus memperkuat strategi pengelolaan cadangan beras untuk menghadapi berbagai kemungkinan, termasuk dampak El Nino.

    “Cadangan beras nasional saat ini mencapai rekor tertinggi. Ini menjadi modal penting bagi kita untuk menjaga stabilitas pangan,” ujar Rizal.

    Ia menjelaskan bahwa Bulog telah melakukan berbagai langkah strategis, mulai dari penyerapan hasil panen petani hingga penguatan distribusi ke berbagai daerah.

    “Kami memastikan bahwa distribusi berjalan lancar dan tepat sasaran, sehingga masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ketersediaan beras di pasaran,” katanya.

    Dengan capaian ini, pemerintah menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga ketahanan pangan nasional sebagai fondasi utama stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Keberhasilan ini sekaligus menjadi bukti bahwa Indonesia mampu menghadapi tantangan global dengan strategi yang terukur dan kepemimpinan yang responsif, sehingga optimisme terhadap masa depan ketahanan pangan nasional terus terjaga.***

  • Ketahanan Beras Indonesia di Tengah Tekanan Global dan Iklim

    *) Oleh : Gavin Asadit

    Ketahanan pangan, khususnya komoditas beras, menjadi salah satu fokus utama pemerintah Indonesia dalam menghadapi dinamika global tahun 2026 yang penuh tantangan. Krisis pangan dunia, tekanan perubahan iklim seperti El Nino, serta ketidakpastian geopolitik menjadi faktor yang berpotensi mengganggu stabilitas pasokan pangan di berbagai negara. Namun, di tengah tekanan tersebut, Indonesia justru menunjukkan capaian signifikan dalam memperkuat ketahanan beras nasional.

    Data terbaru per April 2026 menunjukkan bahwa cadangan beras nasional telah mencapai lebih dari 5 juta ton, angka tertinggi sepanjang sejarah Indonesia. Pencapaian ini tidak hanya menjadi indikator kuatnya sistem pangan nasional, tetapi juga menegaskan keberhasilan kebijakan pemerintah dalam meningkatkan produksi dan pengelolaan cadangan pangan.

    Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman menyampaikan bahwa capaian tersebut merupakan hasil kerja sama lintas sektor yang berjalan efektif, mulai dari peningkatan produksi di tingkat petani hingga optimalisasi penyerapan gabah oleh Perum Bulog. Ia juga menegaskan bahwa stok beras yang tinggi menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas nasional di tengah ketidakpastian global.

    Dari sudut pandang pemerintah, capaian ini memiliki arti strategis yang sangat penting. Ketahanan beras tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan pangan, tetapi juga berimplikasi langsung terhadap stabilitas ekonomi dan sosial. Beras sebagai makanan pokok mayoritas masyarakat Indonesia menjadikan ketersediaannya sebagai prioritas utama dalam kebijakan nasional.

    Pemerintah menilai bahwa keberhasilan menjaga stok beras di level tinggi merupakan hasil dari pendekatan komprehensif yang dilakukan dalam beberapa tahun terakhir. Kebijakan harga pembelian pemerintah yang melindungi petani, peningkatan luas tanam, serta modernisasi sektor pertanian menjadi faktor utama dalam meningkatkan produksi. Selain itu, koordinasi antar lembaga diperkuat untuk memastikan distribusi berjalan lancar dan merata.

    Wakil Menteri Pertanian, Sudaryono menilai bahwa capaian stok beras di atas 5 juta ton merupakan tonggak penting dalam sejarah ketahanan pangan Indonesia. Ia menekankan pentingnya menjaga konsistensi kebijakan agar produksi dan cadangan beras tetap berada dalam kondisi optimal.

    Di sisi lain, tekanan global terhadap sektor pangan masih menjadi perhatian serius. Dunia saat ini menghadapi tantangan berupa krisis pangan, energi, dan air yang saling berkaitan. Perubahan iklim yang memicu anomali cuaca, termasuk potensi El Nino berkepanjangan, dapat berdampak pada produksi pertanian di berbagai negara. Namun demikian, pemerintah Indonesia telah melakukan langkah antisipatif untuk menghadapi situasi tersebut.

    Pemerintah memandang bahwa kesiapan menghadapi dampak iklim ekstrem menjadi kunci dalam menjaga ketahanan pangan. Dengan pengalaman menghadapi fenomena serupa pada tahun-tahun sebelumnya, berbagai langkah mitigasi telah disiapkan, termasuk penguatan cadangan beras nasional serta peningkatan produktivitas pertanian di berbagai daerah.

    Selain faktor iklim, tekanan global juga datang dari fluktuasi harga pangan internasional dan kebijakan perdagangan negara lain. Dalam menghadapi situasi tersebut, pemerintah Indonesia mengambil langkah strategis dengan mengurangi ketergantungan terhadap impor beras. Kebijakan ini sejalan dengan upaya memperkuat kemandirian pangan nasional sekaligus melindungi petani dari tekanan pasar global.

    Dalam implementasinya, Perum Bulog memainkan peran penting dalam menjaga stabilitas cadangan beras. Pemerintah memastikan bahwa penyerapan gabah petani dilakukan secara optimal sehingga produksi dalam negeri dapat langsung memperkuat stok nasional. Selain itu, kapasitas penyimpanan terus ditingkatkan untuk mengakomodasi jumlah cadangan yang semakin besar.

    Dalam perspektif jangka panjang, pemerintah juga menargetkan peningkatan cadangan beras hingga mencapai tingkat yang lebih kuat dan berkelanjutan. Proyeksi menunjukkan bahwa stok beras nasional berpotensi terus meningkat seiring dengan penguatan produksi dalam negeri dan perbaikan sistem distribusi.

    Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa ketahanan pangan merupakan bagian dari kedaulatan nasional yang harus dijaga secara serius. Ia menilai bahwa negara harus mampu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat secara mandiri dan berkelanjutan, sehingga tidak bergantung pada dinamika pasar internasional yang tidak menentu.

    Dalam konteks ini, keberhasilan menjaga ketahanan beras tidak hanya menjadi capaian ekonomi, tetapi juga mencerminkan kemampuan negara dalam melindungi kepentingan rakyat. Dengan cadangan yang kuat, Indonesia mampu menjaga stabilitas harga, menjamin ketersediaan pangan, serta mengurangi risiko krisis yang dapat berdampak pada masyarakat luas.

    Pemerintah berkomitmen akan terus memperkuat ekosistem pertanian melalui pemanfaatan teknologi, peningkatan produktivitas lahan, serta pemberdayaan petani sebagai pelaku utama sektor pangan. Pendekatan ini diharapkan dapat menjaga keberlanjutan produksi sekaligus meningkatkan kesejahteraan petani di seluruh Indonesia.

    Berbagai langkah strategis yang telah dilakukan, Indonesia menunjukkan bahwa ketahanan beras dapat tetap terjaga meskipun berada di tengah tekanan global dan perubahan iklim. Pemerintah optimistis bahwa dengan kerja sama seluruh pihak, stabilitas pangan nasional akan terus terpelihara dan memberikan rasa aman bagi masyarakat.

    Dengan capaian ini, negara tidak sekadar menunjukkan kapasitas dalam menjaga pasokan, tetapi juga menegaskan keberpihakan nyata pada kepentingan rakyat. Ketahanan beras menjadi fondasi penting yang memastikan stabilitas, melindungi daya beli, dan menjaga keberlangsungan kehidupan Masyarakat, sekaligus mencerminkan langkah konsisten Indonesia dalam memperkuat kesejahteraan secara berkelanjutan.

    )* Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial dan Kemasyarakatan

  • Beras Aman di Tengah Badai Global

    Oleh: Citra Kurnia Khudori)*

    Di tengah ketidakpastian global yang terus meningkat, isu ketahanan pangan kembali menjadi perhatian utama berbagai negara. Indonesia, melalui langkah-langkah strategis pemerintah, justru menunjukkan keyakinan kuat bahwa stok beras nasional tetap aman dan terkendali.

    Situasi ini menjadi semakin relevan mengingat dunia sedang menghadapi ancaman perubahan iklim ekstrem, gangguan rantai pasok, hingga potensi fenomena El Nino berkekuatan besar. Dalam konteks tersebut, kemampuan menjaga ketersediaan pangan menjadi indikator penting ketahanan suatu negara.

    Pemerintah mengambil langkah proaktif untuk memastikan kesiapan tersebut, salah satunya melalui pengawasan langsung terhadap cadangan beras nasional. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pengelolaan pangan dilakukan secara serius dan berbasis kondisi nyata di lapangan.

    Presiden Prabowo Subianto bahkan melakukan inspeksi mendadak ke gudang Bulog Danurejo di Kabupaten Magelang, Jawa Tengah, guna memastikan ketersediaan dan kualitas beras tetap terjaga. Langkah ini menjadi bukti bahwa pemerintah tidak hanya mengandalkan laporan, tetapi juga melakukan verifikasi langsung.

    Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjelaskan bahwa hasil sidak tersebut menunjukkan kondisi stok beras aman dengan kualitas yang baik. Ia menyampaikan bahwa Presiden Prabowo memastikan langsung kesiapan cadangan pemerintah dalam menghadapi berbagai potensi gejolak global.

    Pernyataan tersebut memperkuat keyakinan bahwa pemerintah memiliki kendali penuh terhadap kondisi pangan nasional. Transparansi dalam penyampaian informasi juga menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan publik.

    Selain menjaga cadangan, pemerintah juga fokus pada keberlanjutan produksi dalam negeri. Upaya ini dilakukan agar pasokan beras tetap stabil meskipun menghadapi tekanan dari faktor eksternal.

    Sektor pertanian terus diperkuat melalui berbagai kebijakan, mulai dari penyediaan sarana produksi hingga dukungan kepada petani. Pendekatan ini menjadi fondasi utama dalam menjaga ketahanan pangan jangka panjang.

    Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa stok beras nasional mencukupi untuk kebutuhan hingga 15 bulan ke depan. Ia menilai bahwa meskipun dunia menghadapi ancaman El Nino ekstrem yang disebut sebagai “El Nino Godzilla”, Indonesia tetap dalam kondisi aman.

    Hal itu menunjukkan bahwa pemerintah tidak hanya bersiap menghadapi krisis, tetapi juga telah memiliki cadangan yang memadai. Dengan demikian, potensi gangguan global tidak serta-merta berdampak langsung pada ketersediaan pangan di dalam negeri.

    Optimisme ini turut memberikan efek positif terhadap stabilitas pasar. Ketika masyarakat mengetahui bahwa stok aman, potensi kepanikan dan lonjakan harga dapat diminimalkan.

    Keberhasilan menjaga stok beras juga tidak lepas dari sinergi antara pemerintah pusat dan daerah. Produksi di berbagai wilayah tetap menunjukkan tren yang positif. Daerah-daerah lumbung padi nasional, seperti Indramayu, menjadi indikator penting dalam melihat kondisi riil di lapangan. Produksi yang melimpah menunjukkan bahwa sektor pertanian masih menjadi tulang punggung ketahanan pangan.

    Pimpinan Cabang Bulog Indramayu, Apip Wijaya, dalam pemberitaan menjelaskan bahwa panen yang melimpah membuat stok beras di wilayahnya tetap aman tanpa perlu impor. Ia mengungkapkan bahwa kondisi tersebut mencerminkan kemampuan produksi dalam negeri yang kuat.

    Kondisi di daerah ini menjadi validasi bahwa kebijakan pemerintah berjalan efektif hingga tingkat akar rumput. Ketika produksi lokal mampu memenuhi kebutuhan, ketergantungan terhadap impor dapat ditekan.

    Hal ini menjadi capaian penting di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung. Indonesia tidak hanya mampu menjaga stok, tetapi juga memastikan keberlanjutan produksi.

    Di tengah narasi global yang cenderung pesimistis, Indonesia justru menunjukkan ketahanan yang solid. Ketahanan pangan menjadi salah satu sektor yang mampu bertahan bahkan di tengah tekanan eksternal.

    Tekanan global yang sempat menimbulkan kekhawatiran kini dapat dihadapi dengan lebih percaya diri. Pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah antisipatif untuk mengurangi dampak yang mungkin terjadi.

    Namun, pemerintah juga perlu terus menjaga konsistensi dalam implementasi kebijakan yang telah berjalan. Evaluasi berkala menjadi penting agar sistem tetap adaptif terhadap perubahan.

    Selain itu, kolaborasi lintas sektor harus terus diperkuat. Ketahanan pangan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga melibatkan berbagai pemangku kepentingan.

    Dengan pendekatan yang terintegrasi, ketersediaan pangan dapat terus dijaga dalam berbagai kondisi. Hal ini menjadi kunci dalam menghadapi dinamika global yang tidak menentu.

    Lebih jauh, keberhasilan ini juga memberikan dampak positif terhadap stabilitas ekonomi nasional. Pangan yang aman akan membantu menjaga inflasi tetap terkendali.

    Situasi ini menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah tidak hanya bersifat reaktif, tetapi juga preventif. Antisipasi yang dilakukan sejak dini menjadi faktor utama dalam menjaga stabilitas.

    Dalam konteks ini, kehadiran negara terasa nyata bagi masyarakat. Pemerintah menunjukkan bahwa kebutuhan dasar seperti pangan menjadi prioritas utama.

    Dengan langkah yang terukur dan berbasis data, Indonesia mampu menjaga ketersediaan beras di tengah badai global. Kondisi ini memberikan keyakinan bahwa masyarakat tidak perlu khawatir terhadap ancaman krisis pangan dalam waktu dekat.

    )* Pemerhati isu sosial-ekonomi

  • Rekrutmen Sekolah Rakyat Gunakan DTSEN, Pastikan Tepat Sasaran

    JAKARTA — Pemerintah terus memperkuat komitmennya dalam memperluas akses pendidikan bagi masyarakat kurang mampu melalui program Sekolah Rakyat. Kebijakan ini menjadi wujud nyata kehadiran negara dalam memastikan pemerataan pendidikan yang inklusif dan berkeadilan.

    Melalui pendekatan yang semakin terarah, pemerintah tidak hanya membuka akses, tetapi juga memastikan bahwa setiap anak dari keluarga prasejahtera memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang dan meraih masa depan yang lebih baik.

    Salah satu langkah strategis yang diterapkan adalah sistem rekrutmen siswa berbasis Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN). Pendekatan ini dirancang untuk memastikan program benar-benar menyasar kelompok yang paling membutuhkan secara tepat dan akurat. Dengan basis data yang terintegrasi, pemerintah mampu memetakan kondisi sosial ekonomi masyarakat secara komprehensif, sehingga intervensi pendidikan dapat dilakukan secara lebih efektif dan berdampak langsung.

    Dengan basis data yang terintegrasi, pemerintah mampu memetakan kondisi sosial ekonomi masyarakat secara komprehensif, sehingga intervensi pendidikan dapat dilakukan secara lebih efektif dan berdampak langsung.

    Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan bahwa proses seleksi siswa tidak dilakukan melalui mekanisme pendaftaran terbuka, melainkan melalui pendekatan proaktif berbasis penjangkauan. “Jadi tidak ada pembukaan pendaftaran, yang ada adalah penjangkauan,” ujarnya.

    Ia menjelaskan bahwa pemerintah menggunakan data DTSEN yang kemudian diverifikasi langsung di lapangan dengan mendatangi rumah calon siswa. “Setelah itu bertemu dengan orang tuanya, jika disetujui, maka akan ditindaklanjuti menjadi calon siswa Sekolah Rakyat,” jelasnya.

    Selain itu, pemerintah juga melakukan penjangkauan aktif ke berbagai titik yang berpotensi terdapat anak usia sekolah yang belum mengenyam pendidikan. “Misalnya kita mendatangi lokasi yang kita lihat ada anak-anak yang semestinya sekolah tapi tidak sekolah,” tambahnya. Pendekatan ini memastikan tidak ada anak yang terlewat dari program pendidikan.

    Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono menegaskan bahwa penggunaan DTSEN menjadi kunci utama agar program tepat sasaran. “Sekolah Rakyat ini bukan berbasis pendaftaran, tetapi berbasis rekrutmen menggunakan data DTSEN,” ujarnya.

    Dengan pendekatan berbasis data yang terintegrasi, program Sekolah Rakyat tidak hanya meningkatkan akurasi penerima manfaat, tetapi juga memperkuat efektivitas kebijakan sosial secara keseluruhan. Langkah ini menjadi bukti bahwa pemerintah terus menghadirkan solusi konkret dan berdampak langsung dalam mewujudkan pemerataan pendidikan di seluruh Indonesia.

  • Rekrutmen Sekolah Rakyat Dipastikan Berbasis Data, Minim Potensi Salah Sasaran

    Jakarta – Menteri Sosial, Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menegaskan bahwa proses rekrutmen siswa Sekolah Rakyat dilakukan berbasis data guna memastikan program pendidikan tersebut tepat sasaran dan menjangkau kelompok masyarakat yang paling membutuhkan.

    Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam memperkuat efektivitas intervensi sosial, khususnya di sektor pendidikan bagi keluarga miskin.

    “Jadi tidak ada pembukaan pendaftaran, yang ada adalah penjangkauan,” kata Mensos.

    Gus Ipul merinci bahwa terdapat dua jalur utama dalam proses rekrutmen tersebut. Jalur pertama dilakukan melalui pemanfaatan data DTSEN yang kemudian diverifikasi secara langsung di lapangan.

    “Jalur yang pertama adalah jalur yang berada di dalam DTSEN ada di dalam DTSEN kemudian didatangi rumahnya, dicocokkan apakah sesuai data dengan kenyataan di lapangan, kemudian bertemu dengan orang tuanya, kalau orang tuanya setuju tentu akan kita tidak lanjuti untuk menjadi calon siswa Sekolah Rakyat,” lanjutnya.

    Sementara itu, jalur kedua dilakukan melalui pendekatan proaktif dengan mendatangi lokasi-lokasi yang berpotensi terdapat anak usia sekolah yang belum mendapatkan akses pendidikan.

    “Jalur kedua adalah jangkauan yang lewat kegiatan langkah-langkah proaktif, misalnya kita medantangi titik-titik tertentu yang kita lihat itu sebagai tempat dimana ada anak-anak yang semestinya sekolah tapi tidak sekolah,” ujarnya.

    Menurutnya, langkah ini merupakan bagian dari arahan langsung Presiden Prabowo Subianto agar negara hadir secara aktif dalam menjangkau anak-anak yang rentan putus sekolah maupun yang belum pernah mengenyam pendidikan.

    “Ini adalah bagian dari atensi Bapak Presiden Prabowo agar anak-anak yang putus sekolah, belum sekolah, tidak sekolah, berpotensi putus sekolah bisa dijangkau lewat Sekolah Rakyat,” pungkasnya.

    Sejalan dengan itu, Wakil Menteri Sosial Agus Jabo Priyono juga menegaskan bahwa sistem rekrutmen Sekolah Rakyat memang dirancang tanpa mekanisme pendaftaran terbuka.

    Pendekatan ini bertujuan agar program benar-benar menyasar anak-anak dari keluarga miskin, khususnya yang berada pada desil 1 dan desil 2.

    “Sekolah Rakyat ini bukan berbasis pendaftaran, tetapi berbasis rekrutmen menggunakan data DTSEN, sehingga benar-benar menyasar mereka yang paling membutuhkan,” kata Agus.

    Ia menambahkan bahwa integrasi data menjadi kunci dalam memastikan seluruh program sosial berjalan secara efektif, terukur, dan tepat sasaran.

    “Kami ingin memastikan seluruh program sosial terintegrasi, tepat sasaran, dan berdampak nyata melalui penguatan koordinasi pusat dan daerah,” pungkasnya.

    [w.R]

  • Equity in Education: Peran DTSEN dalam Menjamin Akses Sekolah Rakyat

    Oleh: Asep Faturahman)*

    Prinsip equity in education atau keadilan dalam pendidikan menekankan bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk memperoleh akses belajar, dengan pendekatan yang disesuaikan berdasarkan kondisi sosial ekonomi masing-masing. Dalam pendidikan upaya ini semakin diperkuat melalui pemanfaatan Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN) sebagai fondasi kebijakan pendidikan inklusif, khususnya dalam penyelenggaraan program Sekolah Rakyat yang menyasar kelompok masyarakat paling rentan.

    Melalui pendekatan berbasis data, pemerintah memastikan bahwa akses pendidikan tidak lagi bergantung pada kemampuan administratif atau inisiatif individu untuk mendaftar, melainkan dijemput secara aktif oleh negara. Wakil Menteri Sosial, Agus Jabo Priyono mengatakan bahwa proses perekrutan siswa Sekolah Rakyat dilakukan dengan mengacu pada DTSEN. Skema ini dirancang untuk menjangkau anak-anak dari keluarga miskin, terutama yang berada pada desil 1 dan desil 2, sehingga prinsip keadilan dalam pendidikan dapat diwujudkan secara konkret.

    Pendekatan ini menjadi langkah strategis dalam mengatasi kesenjangan akses pendidikan yang selama ini masih menjadi tantangan. Dengan DTSEN, pemerintah memiliki basis data terpadu yang mampu memetakan kondisi sosial ekonomi masyarakat secara akurat. Hal ini memungkinkan intervensi pendidikan dilakukan secara lebih presisi, sehingga bantuan dan layanan benar-benar diterima oleh mereka yang membutuhkan, bukan sekadar berdasarkan asumsi atau mekanisme umum.

    Agus Jabo menekankan bahwa integrasi program berbasis data menjadi kunci utama dalam memastikan seluruh intervensi sosial berjalan efektif. Dalam kerangka equity in education, integrasi ini sangat penting karena pendidikan tidak dapat dipisahkan dari faktor sosial lainnya seperti kemiskinan, akses layanan dasar, dan kondisi lingkungan. Dengan DTSEN sebagai rujukan tunggal, berbagai program dapat disinergikan untuk menciptakan dampak yang lebih luas dan berkelanjutan.

    Pelaksanaan program Sekolah Rakyat berbasis DTSEN juga mencerminkan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah. Pemerintah daerah berperan sebagai pelaksana utama di lapangan, sementara pemerintah pusat memberikan dukungan kebijakan dan teknis. Ketika terjadi kendala, koordinasi yang solid menjadi solusi untuk memastikan program tetap berjalan optimal. Sinergi ini memperkuat upaya pemerataan akses pendidikan di seluruh wilayah.

    Sementara itu, Direktur Pemberdayaan Sosial Masyarakat Kemensos, Adrianus Ala mengatakan bahwa pemerintah mendorong pembentukan kelompok masyarakat berbasis data sebagai bagian dari strategi intervensi sosial. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada pemberian akses pendidikan, tetapi juga pada penguatan kapasitas keluarga dan komunitas sebagai lingkungan pendukung bagi anak-anak dalam menempuh pendidikan.

    Melalui pembentukan kelompok masyarakat berbasis DTSEN, intervensi dapat diarahkan secara lebih tepat kepada kelompok desil 1 hingga 4. Hal ini memperluas cakupan manfaat program sekaligus menciptakan ekosistem sosial yang kondusif bagi keberhasilan pendidikan. Dalam perspektif equity in education, langkah ini menunjukkan bahwa keadilan tidak hanya diukur dari akses masuk sekolah, tetapi juga dari keberlanjutan dan kualitas proses belajar.

    Komitmen terhadap keadilan pendidikan juga diperkuat melalui koordinasi lintas sektor di tingkat nasional. Menteri Sosial Saifullah Yusuf bersama Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya membahas perkembangan penyelenggaraan Sekolah Rakyat berbasis DTSEN, sekaligus menegaskan pentingnya sinkronisasi antara program pendidikan dan perlindungan sosial agar kebijakan dapat berjalan lebih efektif dan tepat sasaran. Integrasi antara penyaluran bantuan sosial dan akses pendidikan menjadi faktor penting dalam menciptakan keadilan yang nyata, terutama bagi kelompok masyarakat yang selama ini menghadapi keterbatasan struktural.

    Pemanfaatan DTSEN dalam program Sekolah Rakyat merupakan wujud konkret dari implementasi equity in education di Indonesia. Pendekatan berbasis data memungkinkan kebijakan yang lebih adaptif, inklusif, dan tepat sasaran. Negara tidak hanya menyediakan layanan pendidikan, tetapi juga memastikan bahwa layanan tersebut dapat diakses oleh mereka yang paling membutuhkan.

    Selain itu, penguatan DTSEN sebagai instrumen kebijakan akan semakin menentukan keberhasilan upaya pemerataan pendidikan. Dengan dukungan koordinasi lintas sektor dan komitmen yang berkelanjutan, program Sekolah Rakyat berpotensi menjadi model kebijakan yang mampu menjawab tantangan kesenjangan pendidikan. Dalam kerangka ini, keadilan pendidikan tidak lagi menjadi konsep normatif, melainkan realitas yang dapat dirasakan secara langsung oleh seluruh lapisan masyarakat.

    Implementasi DTSEN dalam Sekolah Rakyat juga membuka ruang bagi pengembangan sistem monitoring dan evaluasi yang lebih transparan dan akuntabel. Dengan data yang terintegrasi, pemerintah dapat secara berkala menilai efektivitas program, mengidentifikasi celah kebijakan, serta melakukan penyesuaian yang diperlukan secara cepat dan tepat. Hal ini memperkuat tata kelola pendidikan yang berbasis bukti (evidence-based policy), sekaligus memastikan keberlanjutan program dalam jangka panjang.

    Pemanfaatan DTSEN turut mendorong transformasi digital dalam tata kelola layanan sosial dan pendidikan. Integrasi data lintas sektor tidak hanya meningkatkan efisiensi birokrasi, tetapi juga mempercepat proses pengambilan keputusan yang berdampak langsung pada masyarakat. Dengan fondasi ini, upaya mewujudkan equity in education semakin memiliki pijakan yang kuat, menjadikan Sekolah Rakyat sebagai instrumen strategis dalam membangun generasi yang lebih berdaya dan berkeadilan.

    )* Penulis adalah Mahasiswa Bandung tinggal di Garut