JAKARTA — Badan Komunikasi Pemerintah (BAKOM) RI menyoroti capaian pemerintahan Prabowo-Gibran dalam menjaga stabilitas sekaligus memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi nasional menjelang dua tahun pemerintahan. Di tengah dinamika ekonomi global, berbagai indikator menunjukkan ketahanan ekonomi Indonesia, sementara pemerintah terus mendorong kebijakan yang diarahkan untuk memperluas manfaat pembangunan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Tenaga Ahli BAKOM RI, Fithra Faisal, mengatakan kondisi ekonomi Indonesia tetap menunjukkan ketahanan di tengah gejolak ekonomi global. Menurutnya, struktur pertumbuhan ekonomi mulai mengalami perubahan dengan investasi yang semakin berperan dalam menopang perekonomian.
“Dari sisi consumption driven, konsumsi kita masih 5%-an. Tapi sudah mulai ditopang oleh pergerakan dari sisi investasi. Maka kita bisa melihat di situ ada transformasi,” ujar Fithra dalam sebuah dialog di stasiun televisi swasta.
Fithra menjelaskan, pertumbuhan investasi yang positif sejak kuartal IV 2025 hingga kuartal I dan II 2026 menjadi indikasi semakin kuatnya peran investasi dalam perekonomian. Komitmen investasi dari Jepang, Jerman, Prancis, Rusia, dan China juga dinilai membuka peluang bagi Indonesia untuk mengembangkan pembangunan berbasis nilai tambah.
Ia menambahkan, pemerintah tidak hanya mendorong masuknya investasi, tetapi juga memastikan penerimaan negara dapat kembali memberikan manfaat kepada masyarakat melalui berbagai program prioritas. “Uang pajak yang dikumpulkan masyarakat akan kembali ke masyarakat,” kata Fithra.
Pakar Ekonomi Universitas Indonesia, Prof. Telisa Falianty, juga menilai pemerintah mampu menjaga sejumlah indikator utama ekonomi. Pertumbuhan ekonomi berada di sekitar 5 persen, sementara inflasi relatif terkendali di kisaran 3 persen.
“Secara makro kita bisa menjaga stabilitas ekonomi minimal di 5%. Kita cukup apresiasi pemerintah bisa menjaga itu bahkan lebih dari 5%,” ujar Telisa dalam sebuah dialog di stasiun televisi swasta.
Ia juga menyebut tingkat pengangguran terbuka telah berada di angka 4,65 persen. Sementara itu, tren kemiskinan secara umum terus menurun dan ketimpangan dalam lima tahun terakhir menunjukkan kecenderungan membaik.
Telisa menilai arah kebijakan pemerintah yang mendorong investasi dan penciptaan lapangan kerja mulai memperkuat fondasi ekonomi masyarakat. “Yang penting terus dilakukan perbaikan agar multiplier effect dirasakan masyarakat,” ujarnya.
Fithra menegaskan pembangunan ke depan perlu terus diarahkan pada transformasi ekonomi dan penciptaan kesempatan kerja formal. Langkah tersebut dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat pertumbuhan yang inklusif serta memastikan capaian PRAGIB semakin dirasakan masyarakat.


Tinggalkan Balasan