Kategori: Uncategorized

  • Danantara: Membangun Kepercayaan lewat Pengawasan, Regulasi, dan Restrukturisasi

    Oleh : Abdul Razak)*

    Transformasi Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tengah memasuki babak baru melalui langkah strategis yang dijalankan Badan Pengelola Investasi (BPI) Danantara. Tidak sekadar mengejar efisiensi bisnis, agenda restrukturisasi yang sedang berlangsung diarahkan untuk membangun tata kelola perusahaan negara yang semakin profesional, transparan, dan akuntabel. Keberhasilan transformasi tersebut pada akhirnya tidak hanya diukur dari peningkatan laba, melainkan juga dari tumbuhnya kepercayaan publik terhadap pengelolaan aset negara.

    Kepercayaan merupakan modal utama bagi setiap institusi yang mengelola kekayaan negara dalam jumlah besar. Oleh karena itu, langkah pemerintah melibatkan berbagai lembaga pengawas dalam proses streamlining atau penyehatan BUMN menjadi sinyal kuat bahwa reformasi dilakukan dengan mengedepankan prinsip kehati-hatian serta kepatuhan terhadap hukum.

    Pemerintah membentuk Tim Pengawalan Streamlining BUMN yang melibatkan Kejaksaan Agung, Badan Pemeriksa Keuangan (BPK), Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan (BPKP), serta Kementerian Hukum. Kolaborasi lintas lembaga tersebut menunjukkan bahwa restrukturisasi BUMN tidak hanya berorientasi pada efisiensi korporasi, tetapi juga memastikan seluruh proses berlangsung secara transparan dan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

    Jaksa Agung Muda Bidang Intelijen, Reda Manthovani, menegaskan bahwa keterlibatan berbagai institusi negara merupakan bentuk komitmen pemerintah untuk menghasilkan BUMN yang sehat, kuat, dan bersih. Pengawasan yang dilakukan sejak awal proses diharapkan mampu meminimalkan potensi penyimpangan sekaligus memberikan kepastian hukum bagi setiap kebijakan yang diambil.

    Langkah tersebut menjadi penting mengingat BUMN merupakan salah satu penggerak utama perekonomian nasional. Perusahaan-perusahaan negara mengelola sektor-sektor strategis mulai dari energi, pangan, telekomunikasi, perbankan hingga infrastruktur. Dengan demikian, setiap pembenahan tata kelola akan memberikan dampak yang luas terhadap daya saing ekonomi Indonesia.

    Agenda streamlining sendiri merupakan bagian dari transformasi besar BUMN sebagaimana arahan Presiden Prabowo Subianto. Melalui proses tersebut, jumlah perusahaan BUMN yang sebelumnya mencapai sekitar 1.077 entitas akan disederhanakan menjadi sekitar 200 hingga 300 perusahaan. Perampingan tersebut ditargetkan selesai pada tahun 2026.

    Restrukturisasi dilakukan melalui berbagai pendekatan, mulai dari likuidasi perusahaan yang tidak lagi produktif, divestasi, konsolidasi, hingga restrukturisasi bisnis. Data menunjukkan bahwa hingga April 2026, sebanyak 167 BUMN telah dilikuidasi dalam kurun satu tahun terakhir. Kebijakan tersebut bukan sekadar mengurangi jumlah perusahaan, melainkan bertujuan menghilangkan tumpang tindih fungsi, meningkatkan efisiensi, dan memperkuat fokus bisnis setiap perusahaan negara.

    Upaya tersebut mulai menunjukkan hasil yang positif. Sejumlah BUMN yang berada di bawah pengelolaan Danantara berhasil mencatatkan peningkatan kinerja keuangan sepanjang periode April 2025 hingga April 2026. Pertamina membukukan kenaikan laba sekitar 80 persen menjadi Rp24,9 triliun, sementara Pupuk Indonesia mencatat pertumbuhan laba lebih dari 200 persen. Di sisi lain, Krakatau Steel, Kimia Farma, dan Semen Indonesia berhasil membalikkan kondisi dari sebelumnya merugi menjadi mencetak keuntungan.

    Capaian tersebut menjadi indikator bahwa langkah restrukturisasi mulai memberikan dampak terhadap kinerja perusahaan. Namun demikian, peningkatan laba tidak boleh menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan transformasi. Ekonom CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, mengatakan sebagian peningkatan kinerja mencerminkan keberhasilan restrukturisasi yang bersifat fundamental, seperti yang terjadi pada Krakatau Steel melalui penataan utang, efisiensi operasional, dan pembaruan portofolio bisnis. Selain itu, pada sektor berbasis komoditas, peningkatan laba juga masih dipengaruhi oleh momentum kenaikan harga komoditas global.

    Pandangan tersebut menunjukkan bahwa reformasi BUMN perlu terus diarahkan pada perubahan yang lebih mendasar. Transformasi sejati bukan hanya menghasilkan laporan keuangan yang lebih baik dalam jangka pendek, melainkan membangun perusahaan yang memiliki daya tahan tinggi menghadapi perubahan kondisi ekonomi global.

    Dalam konteks inilah penguatan tata kelola perusahaan menjadi faktor yang sangat menentukan. Transparansi pengelolaan, independensi direksi, akuntabilitas pengambilan keputusan, serta sistem pengawasan yang kuat merupakan fondasi agar reformasi tidak berhenti pada pencapaian finansial semata.

    Keterlibatan lembaga pengawas seperti Kejaksaan Agung, BPK, dan BPKP menjadi instrumen penting untuk memastikan setiap kebijakan restrukturisasi berjalan sesuai prinsip good corporate governance. Pengawasan tersebut sekaligus memberikan kepastian kepada masyarakat bahwa aset negara dikelola secara profesional, bebas dari konflik kepentingan, serta mengutamakan kepentingan nasional.

    Selain itu, penyederhanaan struktur perusahaan juga membuka ruang bagi peningkatan efisiensi operasional. Selama ini banyak anak usaha BUMN yang memiliki fungsi serupa sehingga menimbulkan pemborosan biaya dan lambatnya pengambilan keputusan. Dengan struktur yang lebih ramping, koordinasi akan semakin efektif dan perusahaan dapat lebih adaptif menghadapi dinamika pasar.

    Ke depan, tantangan terbesar adalah menjaga konsistensi reformasi tersebut. Transparansi informasi kepada publik perlu terus diperkuat sehingga masyarakat dapat menilai perkembangan setiap BUMN secara objektif. Di saat yang sama, keputusan bisnis harus semakin didasarkan pada pertimbangan profesional dan ekonomi, sehingga mampu meminimalkan intervensi nonbisnis yang berpotensi menghambat transformasi.

    Danantara telah menunjukkan bahwa reformasi BUMN tidak hanya berbicara mengenai efisiensi maupun peningkatan laba, tetapi juga tentang membangun fondasi kelembagaan yang lebih kokoh melalui pengawasan yang kredibel, regulasi yang kuat, dan restrukturisasi yang terukur. Apabila seluruh proses tersebut dijalankan secara konsisten, maka transformasi BUMN akan menghasilkan perusahaan-perusahaan negara yang semakin kompetitif, berdaya saing global, serta mampu memberikan nilai tambah yang berkelanjutan bagi perekonomian nasional dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

    )* Analis Kebijakan

  • CKG Nasional Diperluas, Pemerintah Fokus Deteksi Penyakit Menular dan Tidak Menular

    Jakarta – Pemerintah terus memperkuat transformasi layanan kesehatan melalui perluasan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebagai langkah strategis untuk meningkatkan deteksi dini penyakit menular maupun tidak menular. Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya memperluas akses layanan kesehatan berkualitas sekaligus memperkuat pencegahan agar masyarakat memperoleh penanganan sejak tahap awal.

    Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, mengatakan bahwa perluasan CKG merupakan arahan langsung Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat transformasi kesehatan nasional. Menurutnya, program tersebut telah menunjukkan hasil yang signifikan dengan pemeriksaan kesehatan yang menjangkau lebih dari 70 juta penduduk sepanjang 2025 dan bertambah lebih dari 42,3 juta peserta di 38 provinsi pada 2026.

    Teddy menjelaskan bahwa mulai tahun ini CKG tidak hanya berfokus pada deteksi dini, tetapi juga pada tindak lanjut pengobatan. Masyarakat yang terdiagnosis hipertensi dan diabetes akan memperoleh obat serta pemantauan secara gratis di Puskesmas. Selain itu, pemerintah memperkuat penanggulangan tuberkulosis (TBC) melalui integrasi deteksi dengan CKG dan penerapan layanan one-stop service (OSS), sehingga skrining, diagnosis, dan pengobatan TBC dapat dilakukan di Puskesmas pada hari yang sama.

    Sementara itu, Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman, mengatakan fokus pemerintah pada 2026 adalah memastikan setiap hasil pemeriksaan CKG ditindaklanjuti hingga masyarakat memperoleh layanan kesehatan yang diperlukan. Menurutnya, orientasi program kini bergeser dari sekadar pemeriksaan menuju pengendalian penyakit secara nyata.

    Aji menambahkan bahwa pemerintah juga terus memperkuat komunikasi publik agar semakin banyak masyarakat memanfaatkan layanan CKG di fasilitas kesehatan primer. Langkah tersebut diharapkan dapat memperluas jangkauan program sekaligus menekan risiko penyakit tidak menular yang masih menjadi penyebab utama kematian di Indonesia.

    Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan, dr. Maria Endang Sumiwi, mengatakan evaluasi pelaksanaan CKG menunjukkan masih tingginya faktor risiko kesehatan pada berbagai kelompok usia. Karena itu, mulai 2026 pasien hipertensi dan diabetes yang terdeteksi akan langsung memperoleh obat di Puskesmas pada hari yang sama. Pemerintah menargetkan cakupan CKG mencapai lebih dari 130 juta penduduk atau sekitar 46 persen populasi Indonesia pada 2026 sebagai bagian dari penguatan layanan kesehatan preventif yang inklusif.__

  • CKG dan Skrining TBC Nasional Diperluas untuk Perkuat Deteksi Dini Penyakit

    Jakarta – Pemerintah memperluas pelaksanaan Cek Kesehatan Gratis (CKG) dan memperkuat skrining Tuberkulosis (TBC) nasional guna meningkatkan deteksi dini penyakit, mempercepat penanganan kasus, serta memperluas akses layanan kesehatan bagi masyarakat.

    Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, menyampaikan bahwa program kesehatan prioritas pemerintah terus menunjukkan hasil positif. Pada 2026, CKG telah menjangkau lebih dari 42,3 juta peserta di 38 provinsi dan tidak hanya berfokus pada pemeriksaan kesehatan, tetapi juga tindak lanjut pengobatan bagi masyarakat yang terdeteksi memiliki penyakit tidak menular.

    “Tidak hanya berhenti pada deteksi dini, program CKG mulai tahun ini memprioritaskan upaya pengobatan dan penyembuhan oleh petugas Puskesmas dengan pemberian obat dan monitoring secara gratis kepada masyarakat yang mengalami hipertensi dan diabetes,” ujar Seskab Teddy.

    Selain memperluas layanan CKG, pemerintah juga memperkuat upaya penanggulangan TBC melalui integrasi skrining dengan layanan kesehatan primer. Program ini menjadi bagian dari PHTC kedua yang menitikberatkan pada peningkatan deteksi kasus secara aktif agar pasien dapat memperoleh penanganan lebih cepat dan efektif.

    “Semakin banyak yang terdeteksi maka semakin mudah dan cepat pula untuk diobati. Inovasi penanggulangan TBC tahun ini terdiri dari integrasi deteksi dengan CKG, layanan one-stop service atau OSS di mana pelayanan skrining, diagnosis, dan pengobatan TBC dilakukan di satu Puskesmas pada hari yang sama,” imbuh Seskab Teddy.

    Integrasi CKG dan skrining TBC diharapkan meningkatkan keberhasilan pengobatan, menekan penularan, serta memperkuat kewaspadaan kesehatan nasional, yang didukung melalui pembangunan dan peningkatan kapasitas RSUD, khususnya di daerah tertinggal, terluar, dan terpencil, guna memperluas akses layanan kesehatan yang berkualitas.

    “Di tahun 2026, 14 dari 20 sudah mulai dibangun, dan di tahun 2027, masih ada 24 RSUD dalam perencanaan,” lanjut Seskab Teddy.

    Pemerintah mempercepat pemerataan layanan kesehatan melalui revitalisasi fasilitas kesehatan dasar guna memperkuat layanan primer hingga tingkat kecamatan dan kelurahan.

    “Untuk rencana ke depan, Menkes juga melaporkan upaya untuk merevitalisasi RSUD di 514 Kabupaten/Kota beserta tata kelolanya dan juga program revitalisasi 10.000 Puskesmas, Puskesmas Pembantu, dan Laboratorium Kesehatan Masyarakat di seluruh kecamatan & kelurahan,” pungkas Seskab Teddy.

    Perluasan CKG, penguatan skrining TBC, pembangunan RSUD, dan revitalisasi fasilitas kesehatan menjadi bagian dari upaya pemerintah memperkuat sistem kesehatan nasional agar layanan kesehatan berkualitas semakin merata dan dapat diakses hingga pelosok Indonesia.

  • CKG, TBC, dan Pentingnya Menjangkau Kelompok Berisiko

    Oleh Ananda Rusdian )*

    Upaya membangun bangsa yang sehat tidak cukup dilakukan melalui pelayanan kesehatan yang berpusat di fasilitas kesehatan formal semata. Tetapi negara juga hadir menjangkau kelompok-kelompok yang berada dalam posisi rentan, baik karena kondisi sosial, lingkungan hidup, maupun keterbatasan akses terhadap layanan kesehatan. Untuk itu, peluncuran Kick-Off Nasional Skrining Tuberkulosis (TB) dan Cek Kesehatan Gratis (CKG) di 532 lembaga pemasyarakatan dan rumah tahanan di seluruh Indonesia dipandang sebagai langkah strategis sekaligus berkeadilan. Kebijakan ini menunjukkan bahwa hak atas kesehatan menjangkau seluruh warga negara, termasuk warga binaan pemasyarakatan yang selama ini kerap luput dari perhatian publik.

    Program ini menegaskan bahwa pemerintah mulai menempatkan kesehatan sebagai hak dasar yang harus diakses oleh semua orang tanpa kecuali. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa arahan Presiden adalah agar program kesehatan menyasar seluruh masyarakat, termasuk ratusan ribu warga binaan di lapas dan rutan. Pernyataan itu penting karena memperlihatkan perubahan cara pandang negara bahwa warga binaan bukan sekadar objek pembinaan hukum, melainkan tetap subjek pembangunan yang berhak memperoleh perlindungan kesehatan secara layak.

    Langkah ini menjadi semakin relevan ketika melihat tingginya ancaman tuberkulosis di lingkungan pemasyarakatan. Data yang disampaikan pemerintah menunjukkan prevalensi TB di lapas mencapai 0,54 persen, lebih tinggi daripada rata-rata nasional yang berada di kisaran 0,3 persen. Angka tersebut tidak boleh dibaca sebagai statistik semata, melainkan sebagai peringatan serius bahwa lembaga pemasyarakatan merupakan ruang berisiko tinggi bagi penularan penyakit menular. Kepadatan hunian, sirkulasi udara yang terbatas, interaksi intensif antarpenghuni, serta mobilitas petugas menciptakan situasi yang memungkinkan penyebaran TB berlangsung lebih cepat. Jika tidak ditangani dengan pendekatan luar biasa, lapas dapat menjadi titik rawan penularan yang berdampak bukan hanya bagi warga binaan, tetapi juga bagi petugas, keluarga, dan masyarakat luas ketika proses keluar-masuk penghuni berlangsung.

    Karena itu, keputusan menjadikan lapas sebagai salah satu sasaran utama skrining TB merupakan kebijakan yang sangat rasional. Budi mengingatkan bahwa TB tidak boleh diremehkan, tetapi juga tidak boleh ditakuti secara berlebihan karena pengobatannya tersedia dan peluang sembuh sangat besar apabila kasus ditemukan lebih awal. Di sinilah skrining rutin, termasuk melalui foto rontgen dada, menjadi instrumen yang sangat penting. Pendekatan ini tidak hanya berguna untuk menemukan kasus aktif, tetapi juga mencegah penularan berantai dan menurunkan angka kematian akibat TB.

    Pada saat yang sama, pemeriksaan kesehatan gratis yang dilakukan secara menyeluruh juga membuka ruang deteksi dini terhadap penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, stroke, penyakit jantung, hingga gangguan ginjal. Ini sangat penting karena kelompok berisiko sering kali tidak memiliki akses pemeriksaan rutin, sehingga penyakit baru diketahui ketika sudah memasuki stadium berat. Budi menekankan pentingnya menjaga indikator kesehatan dasar seperti tekanan darah, kadar gula darah, dan kolesterol. Pembangunan kesehatan tidak cukup berfokus pada pengobatan, tetapi harus diarahkan pada pencegahan, perubahan perilaku, dan pengenalan faktor risiko sejak awal.

    Sementara itu, Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Agus Andrianto menyatakan kesiapan penuh jajarannya untuk mendukung deteksi dini dan percepatan eliminasi TB. Sikap tersebut menunjukkan bahwa persoalan kesehatan di lapas tidak dapat dibebankan hanya kepada Kementerian Kesehatan, melainkan membutuhkan dukungan serius dari institusi yang mengelola lingkungan pemasyarakatan. Koordinasi mengenai sarana dan prasarana klinik lapas dan rutan menjadi langkah penting agar skrining tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial, melainkan berlanjut menjadi layanan diagnosis, pengobatan, pemantauan, dan pencegahan yang berkesinambungan.

    Lebih jauh, program ini harus dibaca sebagai bagian dari agenda nasional eliminasi TBC pada 2030. Wakil Menteri Kesehatan dr. Benjamin Paulus Octavianus menegaskan bahwa percepatan eliminasi TBC menjadi perhatian khusus Presiden Prabowo Subianto, mengingat Indonesia saat ini menempati posisi kedua di dunia dalam jumlah kasus TBC setelah India. Pernyataan Benjamin menegaskan bahwa Indonesia tidak bisa lagi menangani TBC dengan cara-cara biasa. Dibutuhkan langkah luar biasa, agresif, dan terukur, mulai dari penemuan kasus aktif, pengobatan tuntas, pelacakan kontak erat, hingga pemberian terapi pencegahan. Untuk itulah CKG memiliki fungsi strategis, karena pemeriksaan kesehatan berkala dapat menjadi pintu masuk untuk mendeteksi berbagai indikasi penyakit, sebelum berkembang menjadi beban kesehatan yang lebih berat.

    Peluncuran skrining TBC dan CKG di lapas mengajarkan satu hal mendasar, yaitu kebijakan kesehatan yang baik adalah kebijakan yang berani menjangkau kelompok paling berisiko. Jika Indonesia sungguh ingin menurunkan angka TBC, mengurangi beban penyakit tidak menular, dan meningkatkan harapan hidup masyarakat, maka intervensi harus diarahkan ke ruang-ruang yang paling rentan dan membutuhkan kehadiran negara. Pesan besar pemerintah jelas bahwa kesehatan adalah hak universal, deteksi dini adalah kunci, dan perlindungan terhadap kelompok berisiko merupakan fondasi bagi Indonesia yang lebih sehat, lebih adil, dan lebih manusiawi.

    )* penulis merupakan pengamat kesehatan nasional

  • CKG dan Komitmen Negara Memperluas Layanan Kesehatan Preventif

    *) Oleh : Gavin Asadit

    Pembangunan kesehatan nasional terus diarahkan pada pendekatan yang lebih preventif sebagai bagian dari transformasi sistem kesehatan Indonesia. Pemerintahan Presiden Prabowo Subianto menempatkan upaya pencegahan penyakit sebagai prioritas agar masyarakat tidak hanya memperoleh akses pengobatan ketika sakit, tetapi juga memiliki kesempatan untuk mengetahui kondisi kesehatannya sejak dini.

    Dalam kerangka tersebut, Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menjadi salah satu kebijakan strategis pemerintah untuk memperluas layanan kesehatan preventif kepada seluruh lapisan masyarakat. Melalui pemeriksaan kesehatan yang dilakukan secara berkala, pemerintah berupaya membangun budaya deteksi dini sehingga berbagai penyakit tidak menular maupun gangguan kesehatan lainnya dapat ditangani lebih cepat sebelum berkembang menjadi kondisi yang lebih serius. Program ini juga menjadi bagian dari agenda besar transformasi layanan kesehatan primer yang menempatkan pencegahan sebagai fondasi utama pembangunan kesehatan nasional.

    Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa Cek Kesehatan Gratis merupakan salah satu program prioritas pemerintah dalam membangun sistem kesehatan yang lebih berorientasi pada pencegahan. Menurutnya, keberhasilan pembangunan kesehatan tidak hanya diukur dari jumlah rumah sakit atau layanan kuratif yang tersedia, tetapi juga dari kemampuan negara mencegah masyarakat jatuh sakit. Karena itu, pemerintah terus memperluas cakupan layanan CKG melalui puskesmas dan fasilitas kesehatan primer dengan memanfaatkan ekosistem digital SATUSEHAT.

    Pemerintah juga memastikan bahwa masyarakat yang terdeteksi memiliki masalah kesehatan melalui CKG memperoleh layanan pengobatan gratis pada tahap awal sebelum dilanjutkan melalui mekanisme Jaminan Kesehatan Nasional sesuai ketentuan yang berlaku.

    Sepanjang tahun 2026, pemerintah memperkuat pelaksanaan CKG dengan fokus yang lebih besar pada tindak lanjut hasil pemeriksaan. Evaluasi pelaksanaan sebelumnya menunjukkan bahwa deteksi dini akan memberikan manfaat maksimal apabila diikuti dengan pendampingan dan pengobatan yang cepat. Oleh sebab itu, pemerintah tidak hanya memperluas jumlah peserta pemeriksaan, tetapi juga memperkuat koordinasi antara puskesmas, rumah sakit, BPJS Kesehatan, dan pemerintah daerah agar masyarakat memperoleh kesinambungan layanan kesehatan. Pendekatan tersebut mencerminkan perubahan paradigma bahwa layanan preventif bukan sekadar pemeriksaan kesehatan, melainkan bagian dari sistem pelayanan yang terintegrasi dari proses skrining hingga penanganan medis.

    Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan, Maria Endang Sumiwi menjelaskan bahwa CKG dirancang berdasarkan pendekatan siklus hidup sehingga jenis pemeriksaan disesuaikan dengan usia dan kebutuhan masing-masing kelompok masyarakat. Pemeriksaan bagi bayi, anak, remaja, dewasa, ibu hamil, hingga lanjut usia memiliki indikator kesehatan yang berbeda agar deteksi dini dapat dilakukan secara lebih tepat sasaran. Menurutnya, pendekatan tersebut memungkinkan tenaga kesehatan mengidentifikasi faktor risiko sejak awal, termasuk gangguan gizi, penyakit metabolik, kesehatan mental, hingga penyakit kronis yang memerlukan pengawasan lebih lanjut.

    Pelaksanaan CKG juga didukung oleh pemanfaatan teknologi digital melalui aplikasi SATUSEHAT Mobile. Pemerintah memanfaatkan platform tersebut untuk mempermudah proses pendaftaran, penjadwalan pemeriksaan, pencatatan hasil skrining, hingga pemantauan tindak lanjut pelayanan kesehatan. Digitalisasi layanan dinilai penting untuk meningkatkan efisiensi sekaligus memperkuat integrasi data kesehatan nasional. Dengan sistem yang semakin terhubung, masyarakat dapat mengakses riwayat pemeriksaan secara lebih mudah, sementara tenaga kesehatan memperoleh informasi yang lebih lengkap untuk mendukung pengambilan keputusan medis. Pemerintah menilai bahwa transformasi digital menjadi salah satu faktor penting dalam memperluas akses layanan preventif secara merata di seluruh Indonesia.

    Wakil Menteri Kesehatan, Dante Saksono Harbuwono menilai bahwa penguatan layanan preventif akan memberikan dampak jangka panjang terhadap kualitas sumber daya manusia Indonesia. Menurutnya, masyarakat yang mengetahui kondisi kesehatannya sejak dini memiliki peluang lebih besar untuk menerapkan pola hidup sehat serta mencegah munculnya penyakit yang lebih berat. Karena itu, pemerintah terus mengajak masyarakat memanfaatkan layanan CKG sebagai bagian dari kebiasaan hidup sehat, bukan semata ketika mengalami keluhan kesehatan. Pendekatan tersebut sejalan dengan transformasi sistem kesehatan nasional yang menempatkan masyarakat sebagai subjek utama dalam menjaga kesehatannya sendiri.

    Program CKG juga memperkuat arah kebijakan pemerintah dalam membangun sistem kesehatan yang lebih inklusif dan merata. Pemerintah memastikan bahwa layanan pemeriksaan dapat diakses oleh seluruh kelompok masyarakat tanpa memandang latar belakang ekonomi maupun wilayah tempat tinggal. Melalui perluasan jaringan puskesmas, penguatan tenaga kesehatan, serta dukungan teknologi digital, pemerintah ingin memastikan bahwa layanan preventif menjadi hak yang dapat dinikmati oleh seluruh warga negara. Pendekatan ini sekaligus memperkuat upaya menurunkan angka kesakitan dan kematian akibat penyakit yang sebenarnya dapat dicegah apabila terdeteksi lebih awal.

    Cek Kesehatan Gratis mencerminkan komitmen pemerintah dalam menggeser paradigma pelayanan kesehatan dari berorientasi pada pengobatan menuju pencegahan. Dengan memperluas akses pemeriksaan kesehatan, memperkuat tindak lanjut hasil skrining, mengintegrasikan layanan digital, serta meningkatkan kolaborasi antarfasilitas kesehatan, pemerintah optimistis kualitas kesehatan masyarakat akan terus meningkat. Dalam jangka panjang, investasi pada layanan preventif diharapkan mampu melahirkan masyarakat yang lebih sehat, produktif, dan tangguh sehingga menjadi fondasi penting bagi terwujudnya visi Indonesia Emas 2045.

    )* Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial dan Kemasyarakatan

  • Mitigasi Krisis Iklim Dipercepat lewat Irigasi, Embung, dan Pompanisasi

    Jakarta – Pemerintah terus mempercepat langkah mitigasi dampak krisis iklim terhadap sektor pertanian melalui pembangunan dan rehabilitasi jaringan irigasi, embung, serta program pompanisasi di berbagai sentra produksi pangan nasional. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi memperkuat ketahanan pangan sekaligus menjaga produktivitas pertanian di tengah meningkatnya risiko cuaca ekstrem dan perubahan pola musim sepanjang 2026.

    Pemerintah menilai penguatan infrastruktur air menjadi salah satu solusi utama untuk mengurangi dampak kekeringan yang berpotensi menurunkan produksi pangan. Karena itu, percepatan pembangunan embung, optimalisasi jaringan irigasi, serta distribusi pompa air terus dilakukan melalui sinergi lintas kementerian, pemerintah daerah, dan kelompok tani.

    Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga membangun sistem pertanian yang lebih tangguh terhadap perubahan iklim.

    “Kami mempercepat pompanisasi, rehabilitasi irigasi, dan pembangunan embung agar petani tetap dapat berproduksi meskipun menghadapi tantangan cuaca ekstrem. Ketahanan pangan harus dibangun melalui langkah-langkah yang konkret dan terukur,” ujar Andi.

    Selain pembangunan infrastruktur air, pemerintah juga memperluas pemanfaatan teknologi pertanian, mempercepat tanam di lahan potensial, serta memperkuat sistem informasi iklim bagi petani agar proses budidaya dapat disesuaikan dengan kondisi cuaca yang terus berubah. Langkah tersebut diharapkan mampu menjaga produktivitas pertanian sekaligus mengurangi risiko gagal panen.

    Program pompanisasi menjadi salah satu prioritas karena mampu mengoptimalkan pemanfaatan sumber air yang tersedia pada wilayah-wilayah rawan kekeringan. Sementara itu, pembangunan embung dan rehabilitasi saluran irigasi diarahkan untuk meningkatkan kapasitas tampung air sehingga pasokan irigasi tetap tersedia selama musim kemarau.

    Pakar dari IPB University, Prof. Ernan Rustiadi menilai bahwa penguatan infrastruktur pengelolaan air merupakan langkah strategis dalam meningkatkan daya tahan sektor pertanian terhadap perubahan iklim.

    “Perubahan iklim menuntut sistem pertanian yang lebih adaptif. Pengembangan irigasi, embung, dan pengelolaan sumber daya air menjadi investasi penting untuk menjaga keberlanjutan produksi pangan,” ujarnya.

    Sementara itu, Guru besar Universitas Gadjah Mada, Bayu Dwi Apri Nugroho menilai bahwa sinergi antara pembangunan infrastruktur, teknologi pertanian, dan pendampingan kepada petani akan menjadi faktor penting dalam menjaga produktivitas sektor pertanian.

    “Mitigasi perubahan iklim tidak cukup hanya melalui pembangunan fisik, tetapi juga harus diikuti peningkatan kapasitas petani dan tata kelola sumber daya air yang lebih efisien,” katanya.

    Pemerintah optimistis percepatan pembangunan irigasi, embung, dan pompanisasi akan memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kemampuan sektor pertanian menghadapi dampak krisis iklim.

  • Pemerintah Siapkan Langkah Antisipatif Hadapi Dampak Krisis Iklim pada Pertanian

    Jakarta – Pemerintah mempercepat berbagai langkah mitigasi untuk menghadapi potensi dampak krisis iklim terhadap sektor pertanian nasional. Antisipasi dilakukan sejak dini melalui penguatan infrastruktur irigasi, percepatan program pompanisasi, serta pemanfaatan teknologi pertanian agar produksi pangan tetap terjaga di tengah ancaman musim kemarau dan fenomena El Nino yang diperkirakan terjadi pada 2026.

    Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan pemerintah memilih mengambil langkah preventif sebelum dampak kekeringan meluas. Menurutnya, pengalaman menghadapi El Nino pada tahun-tahun sebelumnya menjadi pelajaran penting bahwa mitigasi harus dilakukan sejak awal agar petani tidak kehilangan musim tanam dan target swasembada pangan tetap terjaga.

    “Kita harus bergerak sebelum kekeringan meluas. Jangan sampai petani kehilangan musim tanam. Karena itu kami mempercepat berbagai langkah mitigasi, salah satunya melalui gerakan pompanisasi agar air tetap tersedia dan produksi pangan tetap aman,” ujar Amran.

    Selain mempercepat penyaluran pompa air, pemerintah juga melakukan rehabilitasi jaringan irigasi, optimalisasi lahan, serta pemanfaatan teknologi pertanian untuk menjaga produktivitas. Strategi tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan pangan nasional di tengah dinamika perubahan iklim.

    Deputi Bidang Klimatologi BMKG Ardhasena Sopaheluwakan mengingatkan bahwa sebagian besar wilayah Indonesia diperkirakan menghadapi musim kemarau yang lebih kering akibat penguatan fenomena El Nino.

    Berdasarkan pemantauan BMKG, curah hujan di banyak wilayah diproyeksikan berada di bawah kondisi normal pada periode Juli hingga Oktober 2026 sehingga sektor pertanian perlu meningkatkan kesiapsiagaan.

    “Pada periode Juli hingga Oktober 2026 nanti, lebih dari 80 persen wilayah Indonesia diprediksi mengalami curah hujan di bawah normal. Adapun puncak musim kemarau diproyeksikan akan terjadi pada kisaran bulan Juli hingga September,” kata Ardhasena.

    BMKG juga mengimbau petani dan pemerintah daerah melakukan berbagai langkah adaptasi, mulai dari penyesuaian jadwal tanam, penggunaan varietas tanaman yang tahan kekeringan, hingga diversifikasi komoditas pangan. Informasi prakiraan iklim akan terus diperbarui secara berkala agar dapat menjadi dasar pengambilan keputusan di lapangan.

    “Bagi sektor pertanian, beberapa langkah yang sangat penting untuk segera diterapkan antara lain penyesuaian jadwal tanam, optimalisasi penggunaan varietas tanaman yang tahan terhadap kondisi kering serta berumur genjah, hingga pelaksanaan diversifikasi tanaman pangan,” pungkasnya. (*)

  • Mitigasi Krisis Iklim, Agenda Mendesak Ketahanan Nasional

    Oleh : Deva Baruna

    Mitigasi krisis iklim menjadi salah satu agenda strategis pemerintah dalam memperkuat ketahanan nasional di tengah meningkatnya tantangan perubahan iklim global. Kenaikan suhu bumi, cuaca ekstrem, banjir, kekeringan, hingga kebakaran hutan tidak lagi dipandang semata sebagai persoalan lingkungan, melainkan telah berdampak terhadap ketahanan pangan, energi, kesehatan, ekonomi, serta kehidupan sosial masyarakat. Kondisi tersebut mendorong pemerintah menjadikan pengendalian perubahan iklim sebagai bagian integral dari arah pembangunan nasional yang berkelanjutan, sehingga pertumbuhan ekonomi dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian lingkungan dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

    Pemerintahan Presiden Prabowo terus memperkuat kebijakan yang mengintegrasikan aspek lingkungan ke dalam berbagai program pembangunan nasional. Berbagai langkah ditempuh melalui percepatan rehabilitasi hutan dan lahan, perlindungan kawasan konservasi, pengembangan energi baru dan terbarukan, pengendalian emisi gas rumah kaca, serta penerapan pembangunan rendah karbon di berbagai sektor. Pendekatan tersebut menunjukkan komitmen pemerintah dalam membangun fondasi pembangunan yang lebih tangguh terhadap dampak perubahan iklim sekaligus meningkatkan daya saing nasional di tengah dinamika global yang semakin kompleks.

    Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki tingkat kerentanan yang tinggi terhadap dampak perubahan iklim. Wilayah pesisir menghadapi ancaman kenaikan muka air laut, sementara sektor pertanian semakin dipengaruhi oleh perubahan pola musim yang sulit diprediksi. Meningkatnya intensitas bencana hidrometeorologi juga menuntut penguatan kapasitas adaptasi di seluruh wilayah. Oleh karena itu, pemerintah terus memperkuat berbagai program mitigasi dan adaptasi agar masyarakat memiliki kemampuan yang semakin baik dalam menghadapi berbagai risiko sekaligus menjaga kesinambungan pembangunan nasional.

    Menteri Lingkungan Hidup sekaligus Kepala Badan Pengendalian Lingkungan Hidup, Moh. Jumhur Hidayat, menyatakan bahwa pengendalian perubahan iklim merupakan prioritas nasional yang membutuhkan kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. Menurutnya, pemerintah terus memperkuat berbagai kebijakan untuk menurunkan emisi gas rumah kaca sekaligus menjaga kualitas lingkungan hidup melalui sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat.

    Lebih lanjut, Moh. Jumhur Hidayat menjelaskan bahwa komitmen tersebut diwujudkan melalui penguatan tata kelola lingkungan yang lebih terintegrasi, mulai dari peningkatan rehabilitasi hutan dan lahan, perlindungan ekosistem gambut dan mangrove, pengembangan ekonomi rendah karbon, hingga percepatan transisi menuju energi yang lebih bersih. Pemerintah memandang bahwa mitigasi krisis iklim tidak hanya bertujuan menekan emisi gas rumah kaca, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan, ketahanan energi, serta mengurangi risiko bencana yang dapat memengaruhi stabilitas sosial dan ekonomi. Dengan pendekatan yang melibatkan seluruh pemangku kepentingan, upaya mitigasi diharapkan mampu menciptakan pembangunan yang berkelanjutan sekaligus meningkatkan ketahanan nasional dalam menghadapi tantangan perubahan iklim.

    Di sektor energi, pemerintah juga terus mendorong percepatan pemanfaatan energi baru dan terbarukan sebagai bagian dari strategi pembangunan nasional. Langkah tersebut dinilai penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap energi fosil, memperkuat ketahanan energi, sekaligus mendukung target penurunan emisi nasional. Transformasi menuju energi bersih juga diyakini mampu membuka peluang investasi baru, meningkatkan daya saing industri, dan menciptakan lapangan kerja yang mendukung pertumbuhan ekonomi hijau.

    Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menilai percepatan transisi menuju energi bersih merupakan langkah strategis dalam menghadapi krisis iklim sekaligus memperkuat ketahanan energi nasional. Menurutnya, pengembangan energi terbarukan akan mengurangi ketergantungan terhadap bahan bakar fosil, meningkatkan efisiensi sistem energi, serta menciptakan peluang investasi dan lapangan kerja baru yang mendukung pertumbuhan ekonomi hijau.

    Selain memperkuat kebijakan nasional, pemerintah juga terus mendorong partisipasi masyarakat dalam mendukung pengendalian perubahan iklim. Berbagai program pengelolaan sampah, rehabilitasi lingkungan, konservasi hutan, efisiensi energi, hingga edukasi mengenai gaya hidup ramah lingkungan terus diperluas. Pendekatan kolaboratif tersebut menunjukkan bahwa keberhasilan mitigasi krisis iklim memerlukan keterlibatan aktif seluruh lapisan masyarakat agar manfaat pembangunan berkelanjutan dapat dirasakan secara luas.

    Sementara itu, Wakil Ketua MPR RI, Eddy Saparno, menilai langkah pemerintah dalam memperkuat sistem mitigasi dan adaptasi perubahan iklim merupakan investasi jangka panjang bagi ketahanan nasional. Menurutnya, pembangunan infrastruktur yang tangguh terhadap bencana, penguatan sistem peringatan dini, serta peningkatan kapasitas pemerintah daerah akan memperkecil risiko kerugian ekonomi maupun sosial akibat perubahan iklim.

    Eddy Saparno juga menjelaskan bahwa keberhasilan mitigasi perubahan iklim tidak hanya bergantung pada kebijakan pemerintah pusat, tetapi memerlukan sinergi yang kuat antara pemerintah daerah, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan masyarakat. Ia menilai investasi pada pembangunan rendah karbon, pemanfaatan energi bersih, serta penguatan ketahanan lingkungan akan memberikan manfaat jangka panjang bagi perekonomian nasional sekaligus meningkatkan daya tahan Indonesia dalam menghadapi berbagai ancaman akibat perubahan iklim. Dengan kolaborasi yang semakin kuat, target pembangunan berkelanjutan dan ketahanan nasional diyakini dapat dicapai secara lebih efektif.

    Komitmen pemerintah dalam memperkuat mitigasi krisis iklim menunjukkan bahwa pembangunan nasional tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada keberlanjutan lingkungan, ketahanan nasional, dan kesejahteraan masyarakat. Dengan sinergi antara pemerintah, dunia usaha, akademisi, dan masyarakat, Indonesia memiliki fondasi yang semakin kuat untuk menghadapi tantangan perubahan iklim. Mitigasi krisis iklim pada akhirnya menjadi bagian penting dalam menjaga ketahanan nasional, meningkatkan daya saing bangsa, serta mewujudkan pembangunan yang berkelanjutan bagi generasi sekarang maupun mendatang.

    )* Pengamat Publik

  • Menghadapi El Nino dengan Mitigasi Krisis Iklim yang Makin Terukur

    Oleh: Bara Winatha*)

    Fenomena El Nino yang diperkirakan menguat sepanjang 2026 menjadi salah satu tantangan besar bagi Indonesia dalam menjaga ketahanan pangan, ketersediaan air, dan stabilitas ekonomi. Penurunan curah hujan yang diprediksi terjadi di banyak wilayah berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, mengganggu produktivitas pertanian, hingga memicu tekanan terhadap harga pangan. Dengan pendekatan yang terencana, Menghadapi El Nino dengan Mitigasi Krisis Iklim yang Makin Terukur menjadi strategi penting untuk meminimalkan dampak perubahan iklim terhadap masyarakat.

    Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan bahwa fenomena El Nino diperkirakan terus berkembang hingga berpotensi mencapai kategori kuat sepanjang 2026. Menurutnya, kondisi tersebut akan menyebabkan curah hujan berada di bawah normal di sebagian besar wilayah Indonesia sehingga musim kemarau diperkirakan berlangsung lebih panjang dan lebih kering dibandingkan kondisi biasa. Ia menjelaskan bahwa sektor pertanian menjadi salah satu sektor yang paling perlu meningkatkan kesiapsiagaan karena sangat bergantung pada ketersediaan air.

    Berdasarkan hasil pemantauan BMKG, lebih dari sepertiga Zona Musim di Indonesia telah memasuki musim kemarau sejak pertengahan Juni 2026. Pada saat yang sama, hampir separuh wilayah Indonesia mengalami curah hujan di bawah kondisi normal, dengan potensi meluas hingga lebih dari 80 persen wilayah selama periode Juli sampai Oktober. Gambaran tersebut menunjukkan bahwa ancaman kekeringan bukan lagi sekadar kemungkinan, melainkan kondisi yang harus diantisipasi melalui kebijakan berbasis data iklim.

    BMKG menekankan bahwa mitigasi harus dilakukan sejak dini agar dampak sosial maupun ekonomi dapat ditekan. Pemerintah daerah, pelaku usaha, hingga masyarakat didorong memanfaatkan informasi prakiraan iklim sebagai dasar dalam mengambil keputusan. Di sektor pertanian, penyesuaian pola tanam menjadi langkah yang sangat penting. BMKG merekomendasikan penggunaan varietas tanaman yang lebih tahan terhadap kekeringan, memiliki umur panen lebih singkat, serta mendorong diversifikasi tanaman pangan.

    Kesiapsiagaan pemerintah juga tercermin dari penguatan cadangan pangan nasional yang terus ditingkatkan sebagai bantalan menghadapi potensi gangguan produksi. Cadangan pangan memiliki fungsi strategis untuk menjaga stabilitas pasokan ketika kondisi iklim menyebabkan penurunan hasil panen di sejumlah wilayah. Dengan stok yang memadai, pemerintah memiliki ruang yang lebih besar dalam melakukan intervensi pasar apabila terjadi gejolak harga.

    Sekretaris Utama Badan Pangan Nasional, Sarwo Edhy, mengatakan bahwa cadangan beras pemerintah yang tersimpan di Perum Bulog telah mencapai sekitar 5,2 juta ton, menjadi yang tertinggi sepanjang sejarah Indonesia. Menurutnya, jumlah tersebut bukan hanya menunjukkan kecukupan stok, tetapi juga menjadi instrumen strategis dalam menjaga stabilitas harga dan pasokan apabila terjadi gangguan akibat musim kemarau maupun hambatan distribusi. Ia menegaskan bahwa pemerintah telah menyiapkan berbagai langkah dari sektor hulu hingga hilir agar ketahanan pangan tetap terjaga.

    Penguatan stok pangan didukung oleh peningkatan produksi beras nasional dalam beberapa tahun terakhir. Berbagai program seperti optimalisasi lahan, pencetakan sawah baru, penguatan jaringan irigasi, pendampingan petani, hingga pompanisasi menjadi bagian dari strategi memperbesar kapasitas produksi domestik. Peningkatan produksi tersebut memberikan fondasi yang lebih kuat bagi pemerintah dalam menghadapi risiko iklim yang tidak menentu.

    Mitigasi El Nino juga memerlukan dukungan infrastruktur sumber daya air yang mampu menjaga ketersediaan air selama musim kemarau. Pengelolaan bendungan, waduk, jaringan irigasi, hingga penyediaan air baku menjadi faktor yang sangat menentukan keberhasilan sektor pertanian maupun pelayanan dasar kepada masyarakat. Oleh karena itu, pembangunan dan penguatan infrastruktur air menjadi bagian penting dari strategi nasional menghadapi perubahan iklim.

    Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, mengatakan bahwa pemerintah telah membentuk Satuan Tugas Antisipasi El Nino untuk memperkuat koordinasi lintas unit dalam menghadapi potensi kekeringan. Menurutnya, dampak El Nino tidak hanya dirasakan sektor pertanian, tetapi juga dapat memengaruhi layanan penyediaan air minum, operasional bendungan, serta berbagai infrastruktur sumber daya air lainnya.

    Kementerian Pekerjaan Umum telah melaksanakan berbagai program rehabilitasi jaringan irigasi, peningkatan saluran tersier, pembangunan jaringan irigasi air tanah, hingga percepatan pembangunan infrastruktur pendukung. Berbagai peralatan seperti pompa air, mobil tangki, mesin bor, excavator, dan perangkat pendukung lainnya juga disiagakan untuk menghadapi kemungkinan kekeringan di berbagai wilayah.

    Di tingkat wilayah, pengelolaan bendungan dan waduk dilakukan secara lebih terukur melalui pemantauan harian terhadap volume tampungan air, elevasi, serta kebutuhan irigasi. Pengoperasian bendungan disesuaikan dengan kondisi aktual agar keseimbangan antara kebutuhan pertanian, penyediaan air baku, dan pembangkit listrik tetap terjaga. Pemanfaatan teknologi irigasi hemat air juga mulai diperluas sebagai bentuk adaptasi terhadap meningkatnya risiko kekeringan.

    Menghadapi El Nino dengan Mitigasi Krisis Iklim yang Makin Terukur membutuhkan sinergi antara informasi iklim yang akurat, penguatan cadangan pangan, serta kesiapan infrastruktur sumber daya air. Data yang disediakan BMKG menjadi dasar dalam penyusunan kebijakan, sementara penguatan stok pangan dan pembangunan infrastruktur memastikan masyarakat tetap terlindungi dari dampak musim kemarau yang lebih panjang. Dengan koordinasi yang semakin kuat antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dunia usaha, dan masyarakat, Indonesia memiliki fondasi yang lebih kokoh untuk menghadapi tantangan El Nino sekaligus memperkuat ketahanan pangan dan stabilitas ekonomi nasional.

    *)Penulis merupakan pengamat sosial dan kemasyarakatan.

  • Harga BBM Non-Subsidi Disesuaikan, Pemerintah Tetap Prioritaskan Stabilitas Inflasi

    JAKARTA – Pemerintah bersama PT Pertamina Patra Niaga kembali melakukan penyesuaian harga bahan bakar minyak (BBM) non-subsidi sebagai bagian dari mekanisme evaluasi berkala yang mengacu pada perkembangan harga minyak dunia. Kebijakan yang mulai berlaku sejak 1 Juli 2026 tersebut menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara dinamika pasar energi, daya beli masyarakat, serta stabilitas ekonomi nasional, termasuk pengendalian inflasi melalui tetap dipertahankannya harga BBM subsidi dan Pertamax.

    Vice President Corporate Communication Pertamina Patra Niaga, Kitty Andhora, menjelaskan bahwa penyesuaian harga BBM non-subsidi merupakan bagian dari evaluasi rutin yang dilakukan sesuai regulasi dan telah dikoordinasikan bersama pemerintah.

    “Penyesuaian harga BBM non-subsidi mengacu pada dinamika harga pasar minyak dunia dan mengikuti regulasi atau mekanisme yang berlaku. Tentunya langkah penyesuaian ini telah dikoordinasikan dengan pemerintah,” ujar Kitty Andhora.

    Menurutnya, kebijakan tersebut tidak hanya mempertimbangkan fluktuasi harga minyak mentah global, tetapi juga memperhatikan aspek fiskal, daya beli masyarakat, dan kondisi perekonomian nasional. Oleh karena itu, pemerintah tetap menjaga harga Pertamax serta BBM bersubsidi agar tidak berubah sebagai langkah mempertahankan stabilitas konsumsi masyarakat sekaligus mengendalikan tekanan inflasi.

    Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa penyesuaian harga BBM non-subsidi harus dipahami secara proporsional karena mengikuti mekanisme pasar. Menurutnya, pemerintah selama beberapa bulan terakhir justru telah menahan kenaikan harga Pertamax meskipun harga minyak dunia sempat mengalami lonjakan.

    “Kita lihat saja, teman-teman media juga harus fair. Pada saat harga minyak lagi naik dua bulan lebih, hampir tiga bulan, harga Pertamax tidak kita naikkan,” kata Bahlil Lahadalia.

    Ia menambahkan bahwa kebijakan pemerintah selama ini selalu mempertimbangkan kepentingan masyarakat secara menyeluruh. Ketika harga minyak dunia meningkat, pemerintah berupaya menahan kenaikan harga BBM agar tidak langsung membebani masyarakat. Sebaliknya, ketika kondisi pasar mulai membaik, evaluasi harga dilakukan sesuai mekanisme yang berlaku dengan tetap memperhatikan stabilitas ekonomi nasional.

    Langkah pemerintah mempertahankan harga BBM subsidi dan Pertamax di tengah fluktuasi harga energi global dinilai menjadi bagian dari strategi menjaga daya beli masyarakat sekaligus mengendalikan inflasi. Kebijakan tersebut mencerminkan upaya menghadirkan keseimbangan antara keberlanjutan sektor energi, kepastian usaha, serta perlindungan terhadap kepentingan masyarakat, sehingga momentum pemulihan dan pertumbuhan ekonomi nasional dapat terus terjaga secara berkelanjutan.