Kategori: Uncategorized

  • Rumah Layak Huni, Langkah Nyata Mengentaskan Kemiskinan di Tanah Papua

    Oleh: Yopi Nawipa*

    Pemerintah terus menunjukkan komitmen kuat untuk mewujudkan pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Indonesia, termasuk di Tanah Papua. Salah satu wujud nyata dari komitmen tersebut adalah penyediaan hunian layak bagi masyarakat berpenghasilan rendah melalui Program Nasional Tiga Juta Rumah. Papua menjadi bagian penting dari program strategis ini, dengan rencana pembangunan dan rehabilitasi 14.882 unit rumah layak huni yang diajukan oleh Pemerintah Provinsi Papua kepada Kementerian Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP).

    Langkah ini bukan sekadar proyek infrastruktur, melainkan sebuah upaya komprehensif untuk membangun kesejahteraan masyarakat Papua secara berkelanjutan. Gubernur Papua, Mathius Fakhiri, menegaskan bahwa program ini sejalan dengan visi pembangunan Papua Cerdas, Sejahtera, dan Harmoni (CERAH). Pembangunan rumah layak huni dinilai sebagai salah satu pilar penting dalam mengentaskan kemiskinan, memperluas akses terhadap tempat tinggal yang aman, serta memperkuat sendi-sendi sosial masyarakat di berbagai wilayah Papua.

    Rencana pembangunan 14.882 unit rumah tersebut akan tersebar di sembilan kabupaten dan kota di Papua, meliputi Kota Jayapura sebanyak 3.512 unit, Kabupaten Keerom 2.504 unit, Kabupaten Kepulauan Yapen 1.201 unit, Kabupaten Jayapura 2.671 unit, Kabupaten Supiori 1.046 unit, Kabupaten Waropen 471 unit, Kabupaten Sarmi 335 unit, Kabupaten Mamberamo Raya 293 unit, dan Kabupaten Biak Numfor 2.849 unit. Penyebaran ini menunjukkan bahwa pembangunan tidak terpusat di perkotaan saja, melainkan menyentuh daerah-daerah pelosok yang selama ini menghadapi keterbatasan infrastruktur dasar.

    Pemerintah Provinsi Papua memandang pembangunan rumah layak huni sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Selain memberikan tempat tinggal yang aman dan sehat, program ini juga diharapkan mendorong aktivitas ekonomi baru di sekitar kawasan hunian. Lingkungan yang tertata dan layak dapat memicu tumbuhnya usaha kecil, perdagangan lokal, serta kegiatan produktif lainnya yang menjadi sumber penghidupan masyarakat setempat.

    Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Maruarar Sirait, menegaskan bahwa Papua memiliki posisi strategis dalam implementasi Program Strategis Nasional Tiga Juta Rumah yang menjadi terobosan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, pembangunan perumahan rakyat bukan hanya urusan fisik, tetapi juga bagian dari strategi pemerataan kesejahteraan nasional. Ia menekankan pentingnya kerja sama erat antara pemerintah pusat dan daerah agar pembangunan berjalan efektif, tepat sasaran, dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat Papua.

    Koordinasi yang baik antara kementerian, pemerintah daerah, dan lembaga terkait menjadi kunci keberhasilan program ini. Pemerintah pusat akan melakukan sinkronisasi data bersama Pemerintah Provinsi Papua dan Badan Pusat Statistik (BPS) agar bantuan perumahan benar-benar diterima oleh masyarakat yang membutuhkan. Ketepatan sasaran menjadi penting, mengingat banyak masyarakat Papua berpenghasilan rendah yang selama ini hidup di rumah tidak layak huni atau bahkan belum memiliki tempat tinggal tetap.

    Selain membangun rumah, pemerintah juga menaruh perhatian besar pada keberlanjutan kawasan perumahan. Maruarar Sirait menekankan bahwa setiap kawasan yang telah dibangun harus memiliki prospek jangka panjang agar tidak kembali menjadi lingkungan kumuh. Oleh karena itu, setiap wilayah yang mendapat program pembangunan rumah akan dirancang agar memiliki potensi ekonomi baru, seperti pengembangan kawasan wisata lokal, pusat kegiatan ekonomi kreatif, atau fasilitas sosial yang dapat meningkatkan interaksi dan produktivitas warga.

    Penyesuaian desain rumah dengan kondisi geografis dan sosial masyarakat Papua juga menjadi prioritas penting. Papua memiliki keragaman budaya serta kondisi alam yang khas, mulai dari daerah pesisir hingga pegunungan. Pemerintah memastikan bahwa desain dan model rumah yang dibangun akan menyesuaikan dengan kebutuhan serta karakteristik lokal, agar hunian tidak hanya layak secara teknis, tetapi juga relevan dengan gaya hidup dan nilai-nilai masyarakat setempat.

    Program pembangunan rumah layak huni di Papua ini juga diharapkan membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat lokal. Proses pembangunan yang melibatkan tenaga kerja daerah akan menumbuhkan ekonomi masyarakat dan meningkatkan kemandirian warga. Dalam jangka panjang, hal ini dapat menjadi stimulus bagi pertumbuhan ekonomi di wilayah timur Indonesia yang selama ini masih tertinggal dibanding kawasan lain.

    Gubernur Papua Mathius Fakhiri menyampaikan apresiasi atas perhatian pemerintah pusat terhadap kebutuhan dasar masyarakat Papua. Ia menilai kolaborasi antara pemerintah pusat dan daerah merupakan bentuk nyata kehadiran negara dalam memperkuat kesejahteraan rakyat di Papua. Dengan dukungan penuh dari Kementerian PKP, program tiga juta rumah diharapkan dapat menjadi motor penggerak pembangunan sosial dan ekonomi, sekaligus mempercepat transformasi Papua menuju masa depan yang lebih sejahtera dan mandiri.

    Lebih dari sekadar membangun rumah, inisiatif ini mencerminkan tekad kuat pemerintah untuk menjadikan Papua sebagai bagian integral dari pembangunan nasional. Dengan pendekatan yang inklusif, berkeadilan, dan berbasis kebutuhan masyarakat, program tiga juta rumah diharapkan mampu menumbuhkan optimisme baru bagi rakyat Papua. Hunian yang layak bukan hanya tempat berteduh, tetapi juga fondasi bagi terbentuknya masyarakat yang produktif, berdaya saing, dan sejahtera.

    Melalui sinergi antara pemerintah pusat dan daerah, pembangunan perumahan rakyat di Papua akan menjadi simbol nyata dari semangat pemerataan pembangunan Indonesia. Dari Jayapura hingga Biak, dari pesisir hingga pedalaman, program ini diharapkan menjadi bukti bahwa negara hadir untuk seluruh rakyatnya tanpa terkecuali. Papua tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga menjadi pelaku aktif dalam perjalanan panjang menuju Indonesia yang lebih adil, makmur, dan berkeadilan sosial bagi seluruh warganya.

    *Penulis merupakan Peneliti Sosial dan Ekonomi Masyarakat Adat Papua

  • Program 3 Juta Rumah di Papua Dorong Pemerataan Pembangunan dan Kesejahteraan Masyarakat

    Oleh: Sylvia Mote *)

    Komitmen pemerintah pusat memperluas akses hunian layak di Papua menunjukkan keseriusan membangun Indonesia wilayah timur. Melalui Program Strategis Nasional 3 Juta Rumah yang dicanangkan Presiden Prabowo Subianto, Papua ditempatkan sebagai prioritas untuk memastikan bahwa masyarakat berpenghasilan rendah dapat merasakan manfaat pembangunan secara langsung. Program ini bukan hanya menjawab kebutuhan dasar akan rumah, tetapi juga menjadi instrumen penting untuk menurunkan kemiskinan, memperkuat aktivitas ekonomi lokal, dan menghadirkan ruang hidup yang lebih sehat dan produktif bagi masyarakat.

    Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait menyampaikan bahwa pemerintah pusat mendukung penuh usulan pembangunan 14.882 unit rumah layak huni di Papua. Ia menegaskan bahwa kerja sama dengan Pemerintah Provinsi Papua akan diperkuat agar percepatan pembangunan berjalan tanpa hambatan. Ia juga menekankan bahwa program ini merupakan terobosan strategis Presiden Prabowo yang menempatkan Papua sebagai bagian integral dari pemerataan pembangunan nasional. Pandangan tersebut menegaskan bahwa penyediaan rumah rakyat telah menjadi salah satu prioritas paling nyata dalam agenda pemerintah, terutama di wilayah yang selama ini menghadapi tantangan infrastruktur dan akses pelayanan dasar.

    Pendekatan pembangunan hunian di Papua tidak dilakukan secara seragam, melainkan melalui penyesuaian desain dan model rumah yang diselaraskan dengan karakteristik sosial ekonomi masing-masing daerah. Maruarar menyebut bahwa sinkronisasi data pusat dan daerah menjadi kunci agar alokasi rumah benar-benar tepat sasaran. Ia menilai bahwa rumah layak huni tidak hanya memenuhi fungsi fisik, tetapi juga menjadi fondasi peningkatan kesejahteraan yang bertumpu pada kualitas hidup masyarakat. Prioritas ini sekaligus mempertegas bahwa pembangunan Papua tidak lagi semata bertumpu pada proyek besar, melainkan pada kebutuhan dasar yang menyentuh langsung masyarakat.

    Salah satu daerah yang menunjukkan kesiapan menyambut program ini adalah Kabupaten Biak Numfor. Pemerintah kabupaten telah mengusulkan 3.400 unit rumah layak huni dan jumlah tersebut diperkirakan bertambah setelah verifikasi data masyarakat berpenghasilan rendah selesai dilakukan. Kepala Dinas PKP Biak Numfor, Frits G. Senandi, menjelaskan bahwa verifikasi berjalan dinamis karena data dari sejumlah kampung datang secara bertahap. Ia memastikan bahwa pemutakhiran data akan terus diperkuat agar pemerintah pusat memperoleh gambaran akurat mengenai jumlah kebutuhan rumah di Biak Numfor. Situasi ini mencerminkan bahwa pemerintah daerah merespons serius program nasional dan ingin memastikan tidak ada warga berhak yang terlewatkan.

    Program ini tidak hanya berlangsung di wilayah pesisir, tetapi juga menyentuh daerah terpencil seperti Kabupaten Asmat yang ditunjuk sebagai pilot project untuk Provinsi Papua Selatan. Target pembangunan 1.000 unit rumah dari total 8.000 kuota provinsi tersebut menandai langkah awal yang penting untuk menghadirkan perubahan nyata di daerah yang selama ini dikenal menghadapi tantangan infrastruktur. Direktur Utama PT Papua Bornesia Nusantara, Johanes Kutanggas, yang juga putra asli Papua, menjelaskan bahwa pembangunan rumah subsidi di Asmat dilakukan dengan mengacu pada kondisi lokal. Ia menggambarkan bagaimana penggunaan kayu lokal menjadi pilihan tepat karena sesuai dengan karakteristik alam dan budaya masyarakat Asmat. Konsep “membangun dari dan untuk masyarakat Papua” mencerminkan pendekatan pembangunan yang inklusif serta memberi ruang besar bagi kearifan lokal.

    Johanes menilai bahwa program 3 juta rumah di Asmat membawa makna kemanusiaan yang kuat karena memberikan harapan bagi masyarakat yang membutuhkan hunian layak, termasuk nelayan, pengojek, dan warga tanpa penghasilan tetap. Program ini tidak hanya memenuhi hak dasar masyarakat, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru melalui pelibatan kontraktor lokal, pekerja setempat, serta penggunaan bahan bangunan dari daerah tersebut. Dengan demikian, pembangunan rumah di Asmat tidak berhenti pada penyediaan unit, tetapi menjadi penggerak ekonomi masyarakat.

    Apresiasi atas pelaksanaan program juga datang dari tokoh masyarakat. Kepala suku Asmat, Felix Owom, menyampaikan bahwa masyarakat merasa bersyukur karena pemerintah hadir dan memberikan perhatian nyata. Pernyataan ini memperkuat bahwa keberadaan program 3 juta rumah memulihkan optimisme publik terhadap pembangunan yang inklusif dan berkeadilan.

    Pemerintah juga mulai memperhatikan aspek keberlanjutan pasca pembangunan. Kawasan kumuh yang direvitalisasi harus dikembangkan menjadi ruang produktif seperti kawasan wisata atau pusat ekonomi kreatif. Pemerintah tidak ingin melihat kawasan yang telah dibangun kembali kumuh setelah beberapa tahun, sehingga pengelolaan jangka panjang akan didorong melalui kolaborasi bersama pemerintah daerah, komunitas lokal, dan pelaku usaha. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pembangunan rumah rakyat tidak berhenti pada penyediaan fisik bangunan, tetapi mencakup tata ruang berkelanjutan yang mendukung aktivitas ekonomi serta memungkinkan masyarakat mendapatkan manfaat jangka panjang.

    Keseluruhan upaya ini memperlihatkan bahwa Program 3 Juta Rumah menjadi instrumen strategis dalam mempercepat pemerataan pembangunan di Papua. Dengan dukungan pemerintah pusat, kesiapan pemerintah daerah, dan keterlibatan masyarakat lokal, Papua mendapat posisi penting dalam visi besar pembangunan nasional. Kehadiran rumah layak huni tidak hanya menyelesaikan persoalan tempat tinggal, tetapi menjadi simbol kehadiran negara yang berpihak kepada rakyat. Program ini menguatkan pesan bahwa di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto, pembangunan Papua tidak lagi bersifat simbolik, tetapi berjalan konkret, terarah, dan dirasakan langsung oleh masyarakat.

    *) Pengamat Kebijakan Sosial di Papua

  • Program Pemeriksaan Gratis Bantu Deteksi Dini Penyakit Tidak Menular

    Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) yang digagas pemerintah menjadi langkah strategis dalam memperkuat deteksi dini dan pencegahan penyakit di masyarakat. Inisiatif ini dirancang untuk menekan angka penyakit tidak menular (PTM) sekaligus meningkatkan harapan hidup masyarakat Indonesia.

    Kepala Biro Komunikasi dan Informasi Publik Kementerian Kesehatan, Aji Muhawarman, mengatakan bahwa CKG merupakan bagian dari transformasi layanan kesehatan yang berfokus pada upaya promotif dan preventif.

    “Banyak kasus penyakit berat sebenarnya bisa dicegah jika kondisi kesehatan masyarakat diketahui sejak dini melalui pemeriksaan rutin,” ujarnya.

    Aji mencontohkan negara seperti Korea Selatan, Singapura, dan Jepang yang mampu mencapai usia harapan hidup hingga 84 tahun karena menekankan pentingnya deteksi dini.

    “Di Indonesia, banyak penyakit baru terdeteksi saat sudah kronis karena minimnya pemeriksaan. Padahal cukup tiga indikator dasar yang perlu rutin dicek, yaitu tekanan darah, gula darah, dan kolesterol,” jelasnya.

    Menurut Aji, sebagian besar masalah kesehatan masyarakat saat ini berasal dari penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, obesitas, dan penyakit jantung.

    Survei awal pelaksanaan CKG menunjukkan banyak warga usia produktif memiliki tekanan darah tinggi dan kadar gula darah tidak terkontrol, bahkan sebagian belum pernah memeriksakan kolesterol atau indeks massa tubuhnya.

    Ia menegaskan bahwa program CKG bersifat gratis dan dapat diakses di puskesmas, sekolah, serta melalui layanan jemput bola di komunitas.

    “Pemeriksaan yang biasanya menghabiskan biaya besar kini bisa dilakukan tanpa dipungut biaya. Sayang kalau kesempatan ini tidak dimanfaatkan,” tambahnya.

    Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Lamongan, Chaidir Annas, menyampaikan bahwa pelaksanaan CKG di daerahnya menunjukkan capaian membanggakan.

    “Sejak dimulai Februari lalu, kami telah melayani 344.217 warga atau 69,92 persen dari target 492 ribu orang. Antusiasme masyarakat sangat tinggi,” ujarnya.

    Chaidir menjelaskan, program ini tidak hanya menyasar masyarakat umum, tetapi juga anak-anak sekolah melalui pemeriksaan status gizi, kesehatan gigi, mata, dan deteksi dini penyakit menular maupun tidak menular.

    “Tenaga kesehatan kami aktif turun langsung ke sekolah-sekolah untuk menanamkan kesadaran hidup sehat sejak dini,” katanya.

    Ia juga menyebut inovasi digital melalui situs Sehat Indonesiaku (ASIK) membantu petugas mencatat data masyarakat secara langsung, sehingga kendala pendaftaran online bisa diatasi.

    Aji menegaskan pentingnya kerja sama semua pihak untuk memastikan keberlanjutan program ini.

    “Kesehatan tidak bisa dikerjakan pemerintah sendirian. Harus kolaboratif agar manfaatnya dirasakan seluruh masyarakat,” tegasnya. (*)

  • Jumlah Peserta Program Cek Kesehatan Gratis Tembus 50 Juta Orang hingga November 2025

    Jakarta – Hingga awal November 2025, tercatat sekitar 53,6 juta penduduk Indonesia telah mendaftar Program Cek Kesehatan Gratis (CKG), dengan lebih dari 50,5 juta orang sudah menjalani pemeriksaan baik melalui CKG Sekolah maupun program umum.

    Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menyebut capaian ini sebagai langkah besar dalam memperkuat kesadaran masyarakat terhadap pentingnya kesehatan. “Pencapaian lebih dari 50 juta peserta bukan hanya angka, melainkan tanda nyata meningkatnya partisipasi publik dalam menjaga kesehatan,” ujarnya.

    Menurut Budi, hasil CKG menunjukkan tantangan serius yang perlu segera direspons. Berdasarkan data akhir Oktober 2025, sebanyak 95,8 persen peserta dewasa masuk kategori kurang aktivitas fisik, sementara 41,9 persen mengalami karies gigi, 32,9 persen obesitas sentral, dan 24,4 persen mengalami overweight dan obesitas.

    “Ini peringatan keras bahwa aktivitas fisik dan pola hidup sehat harus menjadi prioritas utama,” tegasnya.

    Budi menekankan bahwa CKG tidak hanya sebatas pemeriksaan massal, tetapi juga alat strategis untuk deteksi dan tata laksana dini penyakit tidak menular.

    “Semakin cepat kita mengetahui kondisi kesehatan, semakin besar peluang untuk sembuh dan mencegah penyakit kronis yang bisa menyebabkan disabilitas bahkan kematian,” jelasnya.

    Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka turut mendukung penuh pelaksanaan program tersebut. Saat meninjau kegiatan CKG di SDN Ledok 05 Salatiga, Jawa Tengah, ia mengajak para siswa untuk rajin memeriksakan kesehatan.

    “Rajinlah cek kesehatan dan biasakan hidup sehat sejak kecil. Kalau badan sehat, belajar juga jadi semangat,” ucapnya di hadapan para siswa.

    Selain pemeriksaan kesehatan, kegiatan tersebut juga dirangkaikan dengan pemberian imunisasi dalam rangka Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS). Jenis vaksin yang diberikan meliputi DT untuk kelas 1 serta TD bagi kelas 2 dan 5.

    Kepala SDN Ledok 05, Nurul Hidayati, menilai program ini memiliki dampak positif besar bagi peserta didik.

    “Kegiatan seperti ini menumbuhkan kesadaran pentingnya menjaga kesehatan sejak dini. Kami berterima kasih atas perhatian pemerintah terhadap anak-anak,” tuturnya.

    Pemerintah berharap, melalui kolaborasi tenaga kesehatan, sekolah, dan pemerintah daerah, program CKG dapat membangun budaya hidup sehat yang berkelanjutan. Langkah ini menjadi fondasi penting dalam mewujudkan generasi kuat menuju Indonesia Emas 2045.

  • Pemerintah Dorong Akses Kesehatan Merata Lewat Program Pemeriksaan Gratis

    Oleh: Jessi Amara )*

    Pemerintah terus memperkuat komitmennya dalam menghadirkan layanan kesehatan yang inklusif dan merata bagi seluruh masyarakat Indonesia. Melalui Program Cek Kesehatan Gratis (CKG), pemeriksaan dasar kini dapat diakses tanpa biaya, menjangkau berbagai lapisan masyarakat hingga pelosok negeri. Program ini menjadi simbol nyata dari keseriusan pemerintah dalam membangun sistem kesehatan yang berpihak pada rakyat, bukan sekadar upaya administratif, tetapi bagian dari strategi nasional memperkuat ketahanan kesehatan jangka panjang.

    Sejak diluncurkan pada 10 Februari 2025, program ini berhasil mencatat capaian luar biasa. Hingga 4 November 2025, tercatat lebih dari 50,5 juta warga telah mengikuti pemeriksaan kesehatan di seluruh Indonesia dari total 53,6 juta pendaftar. Dari jumlah tersebut, 34,3 juta merupakan peserta pemeriksaan umum dan 16,2 juta berasal dari kategori sekolah. Capaian ini bukan hanya mencerminkan keberhasilan mobilisasi publik, tetapi juga meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap pentingnya menjaga kesehatan sejak dini.

    Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin, menilai keberhasilan partisipasi masyarakat dalam program CKG sebagai bukti kuat bahwa strategi promotif dan preventif pemerintah mulai menunjukkan hasil. Ia menegaskan bahwa program ini tidak sekadar pemeriksaan massal, melainkan instrumen strategis dalam deteksi dini dan pengelolaan awal penyakit. Dengan mendeteksi penyakit lebih awal, peluang sembuh menjadi jauh lebih besar, sehingga masyarakat dapat terhindar dari risiko penyakit kronis yang memerlukan biaya besar dan menurunkan produktivitas nasional.

    Namun di balik capaian positif tersebut, data yang dihasilkan dari CKG juga menunjukkan realitas kesehatan masyarakat yang perlu menjadi perhatian serius. Dari kelompok dewasa, sekitar 96 persen peserta tercatat kurang melakukan aktivitas fisik. Selain itu, ditemukan pula kasus karies gigi sebesar 41,9 persen, obesitas sentral 32,9 persen, serta overweight dan obesitas umum 24,4 persen. Data ini memperlihatkan bahwa penyakit tidak menular masih menjadi ancaman besar, terutama bagi kelompok usia produktif yang seharusnya menjadi motor pembangunan ekonomi.

    Hasil serupa juga muncul pada kelompok usia lain. Pada bayi baru lahir ditemukan risiko kelainan saluran empedu, berat badan lahir rendah, dan penyakit jantung bawaan kritis. Sementara pada balita dan anak prasekolah, masalah gigi tidak sehat serta kondisi stunting dan wasting masih menjadi tantangan utama. Di kalangan remaja dan pelajar, pola hidup tidak aktif semakin tampak dengan 60,1 persen kurang beraktivitas fisik dan lebih dari setengahnya mengalami karies gigi. Bahkan pada kelompok lansia, 96,7 persen dinyatakan kurang bergerak dengan 37,7 persen menderita hipertensi.

    Temuan tersebut justru menjadi dasar penting bagi pemerintah untuk memperkuat kebijakan kesehatan berbasis data. Menteri Kesehatan menjelaskan bahwa hasil dari program CKG akan digunakan untuk menyusun arah kebijakan baru, termasuk peningkatan kampanye pola hidup sehat dan penyesuaian layanan puskesmas agar lebih fokus pada pencegahan. Pemerintah ingin agar masyarakat tidak hanya sembuh dari penyakit, tetapi juga memiliki kemampuan menjaga kesehatannya secara berkelanjutan.

    Ahli kesehatan dari Universitas Indonesia, dr. Rina Andayani, menilai program CKG sebagai langkah progresif yang memperlihatkan pergeseran paradigma kesehatan nasional. Menurutnya, pemeriksaan rutin berperan vital dalam mendeteksi penyakit seperti diabetes, hipertensi, dan kolesterol tinggi sebelum berkembang menjadi kondisi serius. Ia menilai semakin cepat suatu penyakit terdeteksi, semakin besar pula peluang kesembuhan dan penghematan biaya pengobatan. Pandangan ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah yang menempatkan upaya pencegahan sebagai fondasi utama sistem kesehatan nasional.

    Selain pemeriksaan fisik, CKG juga dirancang untuk memberikan edukasi kesehatan masyarakat. Program ini mendorong perubahan perilaku melalui penyuluhan mengenai pola makan seimbang, aktivitas fisik, manajemen stres, dan pentingnya istirahat cukup. Pendekatan tersebut diharapkan dapat menumbuhkan kesadaran bahwa menjaga kesehatan tidak hanya bergantung pada fasilitas medis, tetapi merupakan gaya hidup yang harus diterapkan sehari-hari.

    Keberhasilan pelaksanaan CKG tidak terlepas dari kolaborasi lintas sektor. Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar, menekankan bahwa kesehatan merupakan modal utama dalam membangun manusia Indonesia yang produktif dan berdaya saing. Menurutnya, pemerintah tidak hanya ingin menurunkan angka penyakit, tetapi juga ingin memastikan setiap warga memiliki kesempatan yang sama untuk hidup sehat dan berkontribusi terhadap pembangunan. Ia menilai, masyarakat yang sehat merupakan fondasi dari pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan.

    Pemerintah juga menyiapkan langkah strategis untuk memperluas jangkauan program ini ke wilayah terpencil. Melalui sinergi antara tenaga kesehatan, pemerintah daerah, dan komunitas lokal, layanan pemeriksaan gratis dirancang agar tidak hanya berhenti di kota besar, melainkan menjangkau daerah-daerah yang sebelumnya sulit mendapat akses kesehatan memadai. Langkah ini memperkuat prinsip bahwa setiap warga negara, tanpa terkecuali, memiliki hak yang sama atas layanan kesehatan.

    Program CKG juga menjadi momentum bagi tenaga medis dan puskesmas untuk meningkatkan kapasitas pelayanan. Pemerintah mengapresiasi kerja keras jutaan petugas lapangan yang memastikan proses pemeriksaan berjalan tertib dan efektif.

    Di berbagai daerah, petugas kesehatan bahkan melakukan pendekatan jemput bola dengan mendatangi komunitas masyarakat, sekolah, hingga tempat ibadah. Strategi ini menunjukkan bahwa pelayanan publik dapat berjalan cepat dan menyentuh seluruh lapisan masyarakat bila dikelola dengan niat tulus dan manajemen yang baik.

  • Layanan Kesehatan Gratis Jadi Bukti Komitmen Pemerintah pada Masyarakat

    Oleh: Afdan Syahreza )*

    Pemerintah Indonesia menunjukkan komitmen kuat dalam menjamin hak dasar masyarakat untuk memperoleh layanan kesehatan melalui pelaksanaan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Program ini menjadi bagian nyata dari upaya mewujudkan sistem kesehatan nasional yang inklusif, merata, dan berorientasi pada pencegahan penyakit. Hingga awal November 2025, lebih dari 51 juta warga telah mengikuti layanan ini, melampaui target nasional yang sebelumnya ditetapkan sebanyak 50 juta peserta.

    Wakil Menteri Kesehatan RI, Prof. Dante Saksono Harbuwono, menilai capaian tersebut sebagai bukti bahwa pemerintah tidak hanya menargetkan angka partisipasi, tetapi juga memastikan seluruh lapisan masyarakat—termasuk kelompok rentan seperti lansia dan penyandang disabilitas—dapat menikmati akses layanan kesehatan yang setara. Ia menjelaskan bahwa keberhasilan pelaksanaan program ini tidak lepas dari sinergi antara kementerian, pemerintah daerah, fasilitas kesehatan, serta dukungan masyarakat di berbagai wilayah.

    Program CKG dirancang bukan semata sebagai kegiatan pemeriksaan massal, melainkan sebagai bagian dari strategi besar transformasi sistem kesehatan yang berfokus pada aspek promotif dan preventif. Setiap hasil pemeriksaan ditindaklanjuti dengan pengobatan dan edukasi kesehatan, sehingga masyarakat tidak hanya mengetahui kondisi kesehatannya, tetapi juga memahami cara menjaga tubuh agar tetap bugar dan terhindar dari penyakit kronis.

    Pemerintah menggunakan data hasil pemeriksaan sebagai dasar penyusunan kebijakan promosi kesehatan yang lebih efektif, termasuk peningkatan literasi masyarakat tentang gizi seimbang, kebersihan gigi, dan aktivitas fisik rutin.

    Hasil pemantauan program di berbagai daerah menunjukkan pola masalah kesehatan yang beragam pada tiap kelompok usia. Bayi baru lahir banyak ditemukan mengalami berat badan lahir rendah dan ikterus, sementara anak-anak prasekolah masih menghadapi kasus gizi kurang dan karies gigi.

    Di kalangan usia sekolah, rendahnya aktivitas fisik menjadi perhatian utama, sedangkan pada kelompok dewasa, prevalensi obesitas mencapai sekitar 30 persen dengan kecenderungan gaya hidup tidak aktif. Lansia pun banyak menghadapi hipertensi dan gangguan mobilisasi. Data ini menjadi dasar penting bagi Kementerian Kesehatan dalam memperkuat upaya deteksi dini dan penanganan penyakit tidak menular.

    Prof. Dante menilai pentingnya deteksi dini karena sebagian besar penyakit kronis muncul tanpa gejala awal. Banyak kasus hipertensi, diabetes, dan gangguan jantung yang baru diketahui ketika sudah dalam kondisi berat. Dengan pemeriksaan berkala, risiko tersebut dapat ditekan secara signifikan. Ia menegaskan bahwa program ini sekaligus membantu masyarakat menghemat biaya pengobatan di masa depan, karena intervensi medis dilakukan sebelum penyakit berkembang lebih jauh.

    Pemerintah juga memastikan layanan kesehatan gratis ini menjangkau seluruh masyarakat tanpa terkecuali. Mereka yang belum memiliki Nomor Induk Kependudukan (NIK) atau belum terdaftar di BPJS tetap berhak mendapatkan pemeriksaan dan penanganan medis, terutama dalam kondisi gawat darurat.

    Langkah ini menegaskan prinsip bahwa kesehatan merupakan hak seluruh warga negara, bukan hak eksklusif kelompok tertentu. Untuk mendukung implementasinya, Kementerian Kesehatan meningkatkan kapasitas sistem data nasional dari 3 miliar menjadi 9 triliun rekaman agar seluruh hasil pemeriksaan dapat tercatat dan dimanfaatkan sebagai dasar kebijakan jangka panjang.

    Ketua MPR RI, Ahmad Muzani, menilai bahwa kebijakan pemeriksaan kesehatan gratis bukan sekadar kebijakan teknis, melainkan refleksi dari komitmen negara dalam menjamin hak hidup sehat bagi rakyat. Ia menekankan bahwa program tersebut telah membawa dampak nyata dalam meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat di berbagai daerah, terutama bagi kelompok menengah ke bawah yang sebelumnya sulit mengakses layanan medis. Pemeriksaan gratis dinilai mampu mendorong pencegahan penyakit sejak dini sekaligus memastikan masyarakat memperoleh layanan kesehatan yang layak tanpa beban biaya.

    Muzani juga menilai bahwa kebijakan ini sejalan dengan agenda pembangunan manusia Indonesia unggul. Program CKG berperan penting dalam membentuk masyarakat yang produktif, sehat secara fisik dan mental, serta berdaya saing tinggi di masa depan. Pemerintah dinilai telah memberikan contoh nyata bahwa pembangunan kesehatan tidak dapat dipisahkan dari pembangunan sosial dan ekonomi bangsa.

    Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Veronica Tan, turut menegaskan pentingnya partisipasi masyarakat dalam memanfaatkan program ini. Ia menyoroti peran perempuan dalam menjaga kesehatan keluarga, termasuk melakukan deteksi dini terhadap penyakit seperti kanker serviks melalui tes IVA dan HPV DNA yang disediakan secara gratis di fasilitas kesehatan. Pemerintah, menurutnya, ingin memastikan bahwa perempuan tidak lagi merasa takut atau tabu untuk menjalani pemeriksaan, karena langkah pencegahan jauh lebih efektif daripada pengobatan.

    Melalui program ini, pemerintah tidak hanya mengatasi persoalan kesehatan masyarakat, tetapi juga membangun budaya baru: masyarakat yang sadar, peduli, dan aktif menjaga kesehatannya. Dengan kolaborasi lintas sektor, mulai dari tenaga medis, lembaga pendidikan, komunitas sosial, hingga organisasi perempuan, program Cek Kesehatan Gratis diharapkan menjadi gerakan nasional yang berkelanjutan.

    Capaian tersebut membuktikan bahwa kebijakan kesehatan gratis bukan sekadar janji politik, melainkan bentuk tanggung jawab negara terhadap kesejahteraan rakyat. Pemerintah berhasil menunjukkan bahwa pelayanan publik yang inklusif dan berkeadilan dapat diwujudkan melalui komitmen yang konsisten dan kerja sama seluruh elemen bangsa. Dalam konteks ini, kesehatan tidak lagi dipandang sebagai beban, tetapi sebagai investasi penting menuju masa depan Indonesia yang lebih kuat, sehat, dan berdaya saing.

    )* Penulis adalah pengamat kebijakan Publik

  • Jaga Kondusivitas, Tolak Provokasi Demo Penolakan Gelar Pahlawan Soeharto

    Oleh: Fajar Dwi Santoso

    Pemerintah secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 Republik Indonesia, Jenderal Besar H.M. Soeharto, pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 2025 di Istana Negara, Jakarta.

    Penganugerahan tersebut menjadi salah satu keputusan penting yang menegaskan penghargaan negara terhadap jasa seorang tokoh yang telah berkontribusi besar dalam menjaga keutuhan bangsa dan membangun pondasi ekonomi nasional.

    Namun di tengah dukungan luas masyarakat terhadap keputusan tersebut, muncul pula ajakan provokatif untuk menggelar aksi demonstrasi. Situasi itu menuntut kebijaksanaan publik agar tetap menjaga kondusivitas dan menolak segala bentuk provokasi yang berpotensi mengganggu stabilitas nasional.

    Pemerintah menegaskan, penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto diberikan semata-mata atas dasar jasa dan pengabdiannya terhadap bangsa, bukan sebagai glorifikasi atas seluruh perjalanan kekuasaannya.

    Soeharto termasuk satu dari sepuluh tokoh penerima gelar tahun 2025 berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 116/TK/2025. Keputusan tersebut lahir dari proses seleksi panjang dan melibatkan tim independen yang menilai kontribusi para tokoh terhadap perjuangan dan pembangunan Indonesia.

    Menteri Sekretaris Negara, Prasetyo Hadi, menilai bahwa semangat kepahlawanan semestinya diwujudkan dalam tindakan nyata menjaga perdamaian sosial. Ia menegaskan bahwa tantangan generasi hari ini bukan lagi perang fisik, melainkan menjaga persatuan di tengah derasnya arus digitalisasi dan perbedaan pandangan.

    Menurutnya, masyarakat perlu menunjukkan kedewasaan dalam menyikapi keputusan negara dengan menahan diri dari provokasi, serta menyalurkan pendapat melalui cara yang santun dan konstruktif. Bagi pemerintah, pahlawan masa kini adalah mereka yang menjaga kedamaian dan memperkuat semangat gotong royong di lingkungan sosialnya.

    Dari sisi keamanan, Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Jenderal Listyo Sigit Prabowo, menyampaikan bahwa Polri telah menyiapkan langkah antisipatif untuk memastikan situasi nasional tetap aman dan kondusif.

    Aparat keamanan berkomitmen melindungi masyarakat dan menjamin kebebasan berekspresi dalam koridor hukum. Namun ia menegaskan bahwa peran masyarakat tetap menjadi faktor utama dalam mencegah provokasi yang bisa merusak ketertiban umum. Stabilitas nasional, menurutnya, hanya bisa terjaga bila seluruh elemen bangsa menolak ajakan yang berpotensi memecah belah persatuan.

    Pemerintah mendorong seluruh warga untuk terus melakukan kegiatan positif, kerja bakti, dan aksi sosial. Penghargaan gelar pahlawan nasional tersebut diharapkan menjadi ruang refleksi atas perjuangan para pendiri bangsa yang telah mengorbankan segalanya demi kemerdekaan dan persatuan Indonesia. Menjaga keamanan dan ketertiban publik merupakan bentuk penghormatan paling nyata terhadap nilai kepahlawanan.

    Penetapan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional sejatinya menjadi cermin kedewasaan demokrasi Indonesia. Perbedaan pandangan mengenai sosok Soeharto memang tidak dapat dihindari, namun kebesaran suatu bangsa justru terletak pada kemampuannya mengelola perbedaan secara damai dan beradab. Demokrasi yang matang bukan diukur dari kerasnya protes, melainkan dari kemampuan masyarakat menghargai keputusan negara secara rasional dan proporsional.

    Pemerintah mencatat, usulan Soeharto untuk menerima gelar Pahlawan Nasional datang dari berbagai kalangan—mulai dari pemerintah daerah, partai politik, organisasi masyarakat, hingga tokoh agama.

    Dukungan juga datang dari dua organisasi Islam terbesar, Muhammadiyah dan Nahdlatul Ulama, yang menilai Soeharto memiliki jasa besar terhadap pembangunan nasional dan stabilitas negara.

    Dr. Makroen Sanjaya, Pimpinan Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah, menilai Soeharto sebagai salah satu tokoh penting dalam perjalanan sejarah bangsa. Ia menegaskan bahwa Soeharto berperan besar dalam perjuangan mempertahankan kemerdekaan, terutama dalam peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 yang menjadi momentum pengakuan kedaulatan Indonesia di mata dunia. Selain itu, Soeharto meninggalkan warisan pembangunan ekonomi dan sosial yang signifikan melalui kebijakan Repelita, swasembada beras, dan pemerataan pembangunan daerah.

    Makroen memandang bahwa menghargai jasa Soeharto tidak berarti menutup ruang kritik terhadap kebijakannya di masa lalu. Namun sikap objektif terhadap sejarah harus ditempatkan di atas emosi politik. Ia mengingatkan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghormati para pemimpinnya tanpa meniadakan sisi kritis terhadap perjalanan bangsanya sendiri.

    Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto tidak hanya menjadi bentuk penghormatan terhadap jasa individu, tetapi juga pengingat bagi seluruh masyarakat tentang pentingnya menjaga warisan stabilitas dan persatuan bangsa. Setiap upaya untuk memprovokasi perpecahan atas dasar perbedaan pandangan terhadap keputusan tersebut justru mencederai semangat kepahlawanan itu sendiri.

    Masyarakat lintas elemen dan lintas sektor diharapkan bersatu menjaga kondusivitas nasional. Perbedaan pendapat sepatutnya disampaikan melalui jalur konstitusional, bukan melalui demonstrasi yang berpotensi mengganggu ketertiban umum. Dalam konteks ini, menolak provokasi sama artinya dengan melanjutkan perjuangan para pahlawan yang berkorban demi persatuan dan kemerdekaan.

    Menjaga kedamaian adalah bagian dari perjuangan itu sendiri. Di tengah tantangan global, bangsa Indonesia memerlukan stabilitas sosial dan politik untuk terus melangkah maju. Setiap warga negara memiliki tanggung jawab moral untuk merawat persaudaraan, meneguhkan semangat gotong royong, dan memastikan bahwa peringatan Hari Pahlawan tidak ternoda oleh aksi yang justru mengoyak persatuan.

    Penganugerahan kepada Soeharto semestinya dijadikan momentum untuk mempererat rasa kebangsaan, bukan memicu perpecahan. Persatuan dan kondusivitas adalah fondasi utama agar Indonesia mampu melangkah tegak menuju masa depan yang lebih kuat dan berdaulat. (*)

    *) Pengamat Politik Nasional – Forum Politik Mandala Raya

  • Menolak Provokasi Aksi Penolakan Gelar Pahlawan Soeharto demi Stabilitas Bangsa

    Oleh: Aditya Nugraha )*

    Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 Republik Indonesia, Jenderal Besar H.M. Soeharto, pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 2025 menjadi momentum penting dalam perjalanan bangsa. Keputusan tersebut menegaskan bahwa negara tetap memberikan penghargaan kepada tokoh yang telah memberikan kontribusi besar bagi keutuhan nasional, stabilitas politik, serta pembangunan ekonomi yang menjadi pondasi menuju era modern Indonesia. Meski begitu, munculnya seruan untuk melakukan demonstrasi penolakan menuntut kedewasaan publik agar tetap menjaga ketertiban, menghindari provokasi, dan menempatkan kepentingan nasional di atas perbedaan pendapat.

    Pemerintah menegaskan bahwa gelar tersebut diberikan berdasarkan penilaian objektif atas jasa Soeharto, bukan untuk menghilangkan ruang kritik terhadap kekurangan pada masa pemerintahannya. Penetapan melalui Keputusan Presiden Nomor 116/TK/2025 dilakukan melalui seleksi ketat oleh tim independen yang menilai kontribusi historis para tokoh terhadap Indonesia. Dengan demikian, penganugerahan tersebut merupakan keputusan negara yang berdiri di atas pertimbangan komprehensif, bukan pertimbangan politis yang bersifat jangka pendek.

    Di tengah dinamika pandangan masyarakat, seruan untuk menjaga kondusivitas sangat relevan. Menteri Sekretaris Negara,Prasetyo Hadi, menilai bahwa penghormatan terhadap nilai kepahlawanan seharusnya tercermin dalam tindakan menjaga kedamaian sosial dan menahan diri dari provokasi. Ia memandang bahwa tantangan generasi saat ini bukan lagi berupa peperangan fisik, melainkan bagaimana mengelola perbedaan pendapat di tengah derasnya arus informasi digital. Sikap dewasa dalam menerima keputusan negara menjadi simbol kematangan demokrasi sekaligus cerminan kecintaan terhadap persatuan.

    Semangat tersebut juga ditekankan oleh sektor keamanan negara. Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, melihat bahwa stabilitas nasional hanya dapat terjaga ketika masyarakat menolak ajakan provokatif yang berpotensi menurunkan kualitas ruang publik. Polri telah menyiapkan langkah preventif untuk menjaga keamanan, memberikan perlindungan kepada masyarakat, serta memastikan kebebasan berpendapat berjalan dalam koridor hukum. Namun ia menegaskan bahwa ketenangan nasional tidak hanya bergantung pada aparat, melainkan pada kesadaran kolektif masyarakat untuk tidak memberikan ruang bagi upaya yang ingin memecah belah persatuan.

    Di tengah perdebatan mengenai sejarah, penganugerahan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional juga menjadi bukti kedewasaan berdemokrasi. Perbedaan pandangan adalah hal wajar, namun bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menempatkan perdebatan dalam ruang yang beradab. Demokrasi yang matang tidak menilai kerasnya protes sebagai ukuran kualitasnya, tetapi mengutamakan bagaimana publik menghormati keputusan negara dengan rasional dan proporsional. Keputusan tersebut juga mendapat dukungan luas dari berbagai kalangan, termasuk pemerintah daerah, organisasi masyarakat, tokoh agama, dan elemen masyarakat sipil yang menilai Soeharto memiliki kontribusi signifikan dalam pembangunan Indonesia.

    Pengakuan terhadap jasa tersebut juga disampaikan oleh Dr. Makroen Sanjaya, Pimpinan Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah,yang memandang Soeharto sebagai tokoh penting dalam perjalanan sejarah Indonesia. Ia menilai bahwa peran Soeharto dalam mempertahankan kemerdekaan, termasuk keterlibatannya pada Serangan Umum 1 Maret 1949, menjadi salah satu momentum penting pengakuan kedaulatan Indonesia. Menurutnya, warisan pembangunan yang ditinggalkan melalui Repelita, swasembada beras, serta pembangunan infrastruktur dan daerah menunjukkan kontribusi besar terhadap kesejahteraan rakyat. Dalam pandangannya, apresiasi terhadap jasa tokoh bangsa bukan berarti menghapus ruang evaluasi terhadap kebijakan masa lalu, tetapi menempatkan sejarah pada kerangka objektif yang jauh dari bias emosional.

    Momentum penganugerahan ini justru seharusnya menjadi pengingat bagi generasi hari ini bahwa menjaga persatuan jauh lebih penting daripada memperbesar perbedaan. Seruan untuk melakukan demonstrasi dengan muatan provokatif hanya akan menurunkan kualitas dialog nasional dan melemahkan ketahanan sosial bangsa. Di tengah tantangan global yang semakin kompleks, Indonesia membutuhkan stabilitas politik dan sosial untuk memperkuat fondasi pembangunan. Dengan demikian, menolak provokasi bukan hanya tindakan menjaga ketertiban, tetapi juga bentuk komitmen melanjutkan perjuangan para pahlawan yang mengorbankan tenaga dan hidup untuk persatuan Indonesia.

    Masyarakat di berbagai daerah diharapkan dapat mengedepankan sikap tenang, menjauhi tindakan yang dapat menciderai peringatan Hari Pahlawan, serta menyalurkan aspirasi melalui cara yang konstitusional. Semangat gotong royong, toleransi, dan penghormatan terhadap simbol negara harus terus dijaga sebagai bagian dari identitas bangsa. Ketegasan sikap ini menjadi penting agar ruang publik tidak didominasi oleh narasi yang menjurus pada polarisasi dan konflik horizontal.

    Penganugerahan kepada Soeharto seyogianya dimaknai sebagai momentum memperkuat kebangsaan, bukan memunculkan kegaduhan yang tidak produktif. Semua pihak perlu menyadari bahwa membangun Indonesia tidak dapat dilakukan dalam suasana penuh ketegangan. Rasa persatuan dan kemampuan menjaga kondusivitas adalah syarat utama bagi bangsa ini untuk berdiri tegak menghadapi masa depan. Dengan mengedepankan ketenangan, rasionalitas, serta penghormatan terhadap keputusan negara, masyarakat Indonesia sesungguhnya telah melanjutkan semangat pengabdian para pahlawan.

    )* Penulis merupakan Pengamat Isu Strategis

  • Hentikan Provokasi, Hormati Keputusan Negara Soal Gelar Pahlawan Soeharto

    JAKARTA — Pemerintah resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 RI, Jenderal Besar H.M. Soeharto, pada peringatan Hari Pahlawan, 10 November 2025, di Istana Negara, Jakarta.

    Penganugerahan tersebut tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 116/TK/Tahun 2025 dan menjadi salah satu bentuk penghormatan negara atas jasa Soeharto dalam mempertahankan kemerdekaan serta membangun fondasi ekonomi nasional.

    Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menegaskan pentingnya menjaga stabilitas dan persatuan di tengah beragam reaksi publik terhadap keputusan tersebut.

    “Mari kita wujudkan nilai perjuangan dengan menjaga keamanan dan ketertiban bersama. Jangan mudah terprovokasi oleh informasi yang belum tentu benar,” ujarnya.

    Ia menekankan bahwa tantangan bangsa saat ini bukan lagi perang fisik, melainkan menjaga persatuan di tengah arus digitalisasi dan perbedaan pandangan.

    “Pahlawan masa kini adalah mereka yang mampu menjaga kedamaian, menebarkan kebaikan, serta memperkuat semangat gotong royong di lingkungan masing-masing,” tambahnya.

    Kepala Kepolisian Republik Indonesia, Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo, menegaskan kesiapan aparat keamanan dalam menjaga situasi nasional tetap kondusif.

    “Kami telah menyiapkan langkah antisipatif agar situasi tetap aman dan damai. Namun yang terpenting adalah peran aktif masyarakat dalam menolak provokasi dan menyebarkan pesan persaudaraan,” ujarnya.

    Ia mengajak seluruh elemen bangsa untuk menjadikan semangat Hari Pahlawan sebagai momentum memperkuat persatuan dan menjaga keutuhan NKRI.

    “Mari bersama menjaga kondusivitas, menghormati jasa para pahlawan, dan melanjutkan perjuangan mereka dengan menjaga keamanan serta persaudaraan di masyarakat,” tegasnya.

    Dukungan terhadap penganugerahan gelar tersebut datang dari berbagai kalangan, termasuk organisasi Islam besar seperti Muhammadiyah.

    Dr. Makroen Sanjaya, Pimpinan Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah, menilai Soeharto sebagai tokoh penting dalam sejarah bangsa.

    Ia menyebut keterlibatan Soeharto dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 serta keberhasilannya dalam program Repelita dan swasembada beras sebagai warisan nyata pembangunan nasional.

    Pemerintah menyerukan seluruh masyarakat untuk menghormati keputusan negara, menjaga ketenangan, dan menolak segala bentuk provokasi yang dapat mengganggu keamanan serta persatuan bangsa. (*)

  • Jaga Kedamaian, Hormati Keputusan Negara soal Gelar Pahlawan Soeharto

    JAKARTA — Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 Republik Indonesia, Jenderal Besar H.M. Soeharto, oleh Presiden Prabowo Subianto pada peringatan Hari Pahlawan 10 November 2025 di Istana Negara menjadi penegasan bahwa negara menghormati jasa besar tokoh-tokoh yang telah berjasa menjaga keutuhan bangsa. Keputusan ini tertuang dalam Keputusan Presiden Nomor 116/TK/Tahun 2025 dan disambut dengan ajakan untuk menjaga ketenangan di ruang publik.

    Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menegaskan bahwa penghargaan tersebut merupakan bentuk penghormatan konstitusional terhadap perjuangan dan dedikasi Soeharto dalam menjaga kedaulatan serta membangun ekonomi nasional.

    “Mari bersama menjaga nilai persatuan dan tidak terprovokasi oleh isu yang bisa memecah belah bangsa,” ujarnya.

    Ia menambahkan bahwa makna kepahlawanan tidak berhenti pada masa lalu, melainkan harus diwujudkan dalam semangat gotong royong dan rasa cinta tanah air di era modern.

    “Pahlawan masa kini adalah mereka yang menjaga harmoni sosial, menghargai perbedaan, dan memperkuat solidaritas bangsa,” tambah Prasetyo Hadi.

    Sementara itu, Kapolri Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo menegaskan bahwa Polri siap memastikan situasi nasional tetap aman dan kondusif pasca penganugerahan gelar tersebut. “Kami telah menyiapkan langkah antisipatif di berbagai wilayah agar masyarakat tetap tenang dan tidak mudah diprovokasi,” tegasnya.

    Ia menjelaskan bahwa peran masyarakat menjadi kunci utama dalam menjaga stabilitas sosial di tengah maraknya informasi simpang siur di media sosial.

    “Kedamaian tidak hanya tanggung jawab aparat, tapi juga seluruh warga negara yang mencintai negeri ini,” pungkas Listyo Sigit Prabowo.

    Dukungan terhadap keputusan negara juga datang dari kalangan organisasi keagamaan. Pimpinan Majelis Pustaka dan Informasi PP Muhammadiyah, Dr. Makroen Sanjaya, menilai langkah pemerintah sebagai keputusan bijak yang mengedepankan rekonsiliasi sejarah bangsa.

    “Soeharto memiliki kontribusi nyata dalam perjalanan Republik, terutama melalui Serangan Umum 1 Maret 1949 serta keberhasilan program pembangunan dan swasembada pangan,” ujarnya.

    Ia menilai penganugerahan tersebut seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat rasa nasionalisme generasi muda terhadap sejarah perjuangan bangsa.

    “Penghargaan kepada Soeharto bukan sekadar simbol, melainkan pengingat bahwa pembangunan Indonesia hari ini berdiri di atas pondasi yang telah diletakkan oleh para pendahulu,” tutup Makroen Sanjaya.

    Pemerintah menegaskan bahwa penganugerahan gelar Pahlawan Nasional harus disikapi dengan kedewasaan dan semangat persatuan. Menghormati keputusan negara adalah bagian dari tanggung jawab moral setiap warga dalam menjaga stabilitas nasional. Nilai-nilai kepahlawanan yang diwariskan Soeharto dan para pejuang terdahulu menjadi inspirasi bagi bangsa Indonesia untuk terus melangkah maju dengan tenang, bermartabat, dan bersatu.