Kategori: Uncategorized

  • Apresiasi Menggema, Gelar Pahlawan Soeharto Jadi Simbol Rekonsiliasi

    Oleh : Nazriel Kurnia )*

    Peringatan Hari Pahlawan tahun ini bukan hanya ditandai oleh upacara kenegaraan yang khidmat dan berlangsung kondusif di seluruh Indonesia, tetapi juga oleh satu keputusan penting yang memberi warna baru bagi perjalanan sejarah bangsa. Presiden Prabowo Subianto secara resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 Republik Indonesia, Soeharto. Keputusan tersebut mendapat sambutan luas dari berbagai kalangan, mulai dari pemuda, politisi, hingga tokoh agama. Banyak yang menilai kebijakan ini sebagai langkah maju dalam upaya rekonsiliasi sejarah sekaligus memperkuat persatuan nasional yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa.

    Ketua Umum DPP KNPI, Haris Pertama, menjadi salah satu tokoh yang memberikan apresiasi tertinggi. Ia menilai bahwa pemberian gelar tersebut merupakan bentuk penghormatan negara terhadap seorang pemimpin yang telah mengabdikan hidupnya bagi republik. Bagi Haris, keputusan Presiden Prabowo Subianto menunjukkan keberanian moral dan sikap kenegarawanan karena menempatkan sejarah dalam perspektif yang adil, tidak terjebak pada fragmentasi politik masa lalu yang kerap memecah belah. Ia memandang gelar ini sebagai pengingat bagi generasi muda bahwa nilai pengabdian dan disiplin merupakan komponen penting dalam menjaga kedaulatan negara.

    Dari lingkar politik nasional, dukungan juga datang dari Ketua Umum Partai Golkar, Bahlil Lahadalia. Bahlil menilai bahwa Soeharto memiliki jasa besar yang sudah sewajarnya diakui negara. Menurutnya, selama lebih dari tiga dekade kepemimpinan Soeharto, Indonesia mampu menjaga stabilitas politik dan ekonomi meskipun dunia tengah mengalami dinamika global yang tidak mudah. Ia mengingatkan kembali bahwa pencapaian swasembada pangan, kemampuan mengendalikan inflasi, hingga pertumbuhan ekonomi pesat adalah bukti nyata bagaimana kebijakan Soeharto memberi dampak besar bagi perkembangan bangsa. Bahlil menegaskan bahwa pondasi ekonomi modern Indonesia tidak dapat dilepaskan dari kebijakan-kebijakan yang dibangun pada masa Orde Baru.

    Dari kalangan keagamaan, apresiasi tidak kalah kuat disampaikan oleh tokoh muda Nahdliyin Jawa Timur, KH Achmad Syamsul Askandar atau Gus Aan. Ia menilai keputusan pemerintah ini menunjukkan kedewasaan bangsa dalam membaca sejarah secara objektif. Gus Aan menyampaikan bahwa setiap pemimpin memiliki kelebihan dan kekurangan, namun jasa besar seorang tokoh terhadap negara tidak dapat dikesampingkan. Baginya, langkah pemerintah ini adalah wujud semangat rekonsiliasi yang sangat penting untuk kelangsungan persatuan bangsa. Ia juga menekankan bahwa menghormati jasa para pemimpin terdahulu merupakan bagian dari etika kebangsaan yang perlu dijaga oleh generasi kini.

    Gus Aan mengingatkan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu belajar dari sejarah, bukan yang terus terjebak pada trauma masa lalu. Ia memandang bahwa pengakuan terhadap jasa Soeharto menunjukkan kematangan bangsa Indonesia dalam menyikapi perjalanan politiknya sendiri dan menempatkan peristiwa sejarah pada konteks yang lebih utuh dan objektif.

    Di sisi lain, pemerintah, melalui Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi, menegaskan bahwa pemberian gelar ini merupakan pengakuan resmi terhadap kontribusi besar Soeharto dalam menjaga stabilitas nasional dan memperkuat fondasi ekonomi. Menurutnya, keputusan tersebut telah melalui proses dan mekanisme hukum yang ketat, melibatkan pertimbangan banyak pihak dan unsur masyarakat. Dalam pandangan pemerintah, gelar ini adalah penghormatan negara terhadap dedikasi seorang pemimpin yang telah mendedikasikan hidupnya untuk kemajuan Indonesia dan kelangsungan pembangunan nasional.

    Keputusan ini sekaligus menjadi pengingat bagi masyarakat agar tetap menjaga ketertiban sosial dan menghormati hukum. Perbedaan pendapat mengenai sosok Soeharto bisa saja muncul, namun penyikapan terhadap hal tersebut harus dilakukan secara dewasa dan dalam koridor demokrasi. Pemerintah mengajak masyarakat untuk menghargai keputusan negara sebagai bagian dari kedewasaan berdemokrasi dan sebagai wujud penghormatan terhadap mekanisme hukum yang berlaku.

    Gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto memiliki makna yang jauh lebih luas daripada sekadar penghargaan simbolik. Penganugerahan ini menegaskan bahwa pembangunan dan kemajuan bangsa hanya dapat dicapai melalui semangat persatuan dan penghormatan terhadap sejarah. Soeharto, dengan segala dinamika kepemimpinannya, tetap merupakan bagian penting dari kisah panjang perjalanan Indonesia. Menghargai jasanya berarti menghargai fase penting dalam pembangunan bangsa.

    Penganugerahan ini pada akhirnya bukan hanya bentuk penghormatan kepada seorang tokoh, tetapi juga refleksi kedewasaan bangsa Indonesia dalam menilai sejarahnya secara utuh. Dengan keputusan ini, negara menunjukkan komitmen kuat untuk menjaga kesinambungan nilai perjuangan serta menegaskan bahwa pengabdian kepada bangsa adalah warisan yang harus dihormati. Kebijakan ini juga mengajak seluruh masyarakat untuk tetap menjaga persatuan, menghormati hukum, dan memastikan kondusivitas nasional tetap terjaga di tengah dinamika sosial-politik yang terus berkembang.

    Di tengah perubahan zaman, keputusan ini menjadi pengingat penting bahwa bangsa Indonesia hanya dapat melangkah maju jika mampu menghadapi masa lalu dengan bijaksana, bersatu dalam keberagaman, dan terus membangun negeri dengan semangat para pendahulu yang telah lebih dahulu mengorbankan segalanya demi merah putih.

    )* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute

  • Pengakuan Negara terhadap Soeharto Langkah Tepat dalam Menilai Sejarah Secara Adil

    Oleh: Andi Ramli

    Pemerintah Republik Indonesia secara resmi menetapkan Presiden ke-2 RI, Jenderal Besar H.M. Soeharto, sebagai Pahlawan Nasional. Keputusan yang ditandatangani secara langsung oleh Presiden Prabowo Subianto melalui Keputusan Presiden (Kepres) Nomor 116/TK Tahun 2025 ini menjadi penegasan yang penting bahwa sejatinya bangsa yang besar adalah bangsa yang berani menilai sejarahnya secara jernih, objektif, dan berkeadilan.

    Penganugerahan tersebut bukan hanya sekadar simbol penghormatansemata, melainkan menjadi bentuk pengakuan dari negara terhadap jasa besar dari seorang pemimpin yang telah menjaga keutuhan, stabilitas, serta arah pembangunan Indonesia selama lebih dari tiga dekade kepemimpinannya tersebut.

    Langkah pemerintah itu menunjukkan bagaimana kebesaran jiwa dan kedewasaan bangsa dalam memandang sejarah. Presiden Soeharto tidak hanya tercatat sebagai pemimpin yang terbukti berhasil memimpin selama 32 tahun, tetapi juga sebagai arsitek pembangunan nasional yang berhasil membawa Indonesia keluar dari masa kekacauan menuju era kemakmuran dan stabilitas.

    Dalam masa pemerintahannya, Soeharto menegakkan kembali ideologi Pancasila sebagai dasar negara, menata ekonomi nasional yang porak-poranda, serta menanamkan disiplin pembangunan yang terukur dan berkesinambungan.

    Politikus senior Partai Golkar, Firman Soebagyo, memandang bahwa keputusan pemerintah untuk memberikan penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharti tersebut sebagai momentum yang sangat penting untuk senantiasa menegaskan kembali semangat nasionalisme dan pembangunan yang diwariskan oleh Presiden RI ke-2 itu.

    Ia menilai bahwa penetapan gelar Pahlawan Nasional bukan hanya semata sebagau keputusan politik saja, tetapi juga menjadi wujud penghargaan terhadap jasa seorang pemimpin yang mengabdikan seluruh hidupnya untuk membangun bangsa ini.

    Menurutnya, Soeharto telah meletakkan fondasi ekonomi, infrastruktur, dan stabilitas nasional yang masih dirasakan hingga masa kini. Melalui berbagai program seperti swasembada pangan dan pembangunan daerah, Soeharto menunjukkan bagaimana keteguhan dan keberpihakannya kepada rakyat.

    Wakil Sekretaris Balitbang DPP Partai Golkar, Leriadi, juga menegaskan bahwa keputusan pemerintah untuk memberikan gelar pahlawan nasional tersebut merupakan langkah bersejarah dan berkeadilan.

    Ia menilai bahwa Soeharto tidak hanya berperan sebagai pemimpin militer, tetapi juga sebagai penyelamat bangsa dari ancaman kehancuran ideologis dan ekonomi pada masa pasca-Gerakan 30 September 1965.

    Dalam situasi kritis itu, Soeharto tampil sebagai penegak kembali eksistensi Pancasila, mengembalikan arah pemerintahan kepada Undang-Undang Dasar 1945 secara murni dan konsekuen, serta memulihkan tatanan politik dan ekonomi yang sebelumnya lumpuh.

    Leriadi menilai, kepemimpinan Soeharto menandai babak kebangkitan nasional. Melalui langkah yang tegas dan terukur, beliau berhasil menstabilkan negara, menggelar Pemilu reguler setiap lima tahun, dan membangun sistem pemerintahan yang efektif.

    Warisan kebijakan Soeharto tidak hanya tercermin dalam pembangunan fisik, tetapi juga dalam upaya menanamkan nilai Pancasila sebagai ideologi pemersatu bangsa di tengah dinamika global yang terus berubah.

    Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo), Irfan Ahmad Fauzi, menilai bahwa penghargaan negara terhadap Soeharto merupakan bentuk pengakuan atas keberpihakannya kepada rakyat kecil.

    Menurutnya, melalui kebijakan seperti Program Peremajaan Perkebunan Rakyat (PRPTE) dan Perkebunan Inti Rakyat (PIR), Soeharto membuka jalan bagi jutaan petani untuk mandiri secara ekonomi.

    Program tersebut tidak hanya meningkatkan hasil produksi, tetapi juga memperluas akses petani terhadap pasar dan permodalan. Irfan menegaskan, banyak desa yang berkembang pesat karena kebijakan yang lahir di masa kepemimpinan Soeharto, yang menempatkan kesejahteraan rakyat sebagai pusat pembangunan.

    Dari berbagai pandangan itu, jelas bahwa pengakuan negara terhadap Soeharto bukanlah bentuk glorifikasi buta, melainkan upaya untuk menilai sejarah secara proporsional. Sejarah harus dibaca secara utuh—tidak hanya dari sisi kelam, tetapi juga dari capaian dan pengabdian yang nyata.

    Soeharto pernah memimpin bangsa ini melewati masa sulit dan berhasil menanamkan fondasi pembangunan yang kuat. Pengakuan terhadap jasa tersebut bukan berarti menutup kritik terhadap masa lalu, melainkan menegaskan bahwa keadilan sejarah harus mencakup seluruh dimensi kehidupan bangsa.

    Dalam konteks global, banyak negara besar menghormati pemimpin masa lalunya meski memiliki sisi kontroversial. Rusia mengenang Lenin dan Stalin sebagai pembentuk identitas nasional; Tiongkok menghormati Mao Zedong dan Deng Xiaoping sebagai pembangun kemandirian bangsa; Turki menempatkan Mustafa Kemal Atatürk sebagai simbol modernitas.

    Semua tokoh itu diakui bukan karena sempurna, melainkan karena mereka memberi arah sejarah bagi bangsanya. Indonesia sepatutnya bersikap serupa terhadap Soeharto—menilai dengan adil, bukan dengan kebencian.

    Firman Allah SWT dalam Surah Al-Maidah ayat 8 menegaskan, agar manusia menegakkan keadilan karena Allah, dan tidak membiarkan kebencian terhadap suatu kaum mendorong pada ketidakadilan.

    Prinsip tersebut menjadi cermin moral dalam menilai perjalanan bangsa. Menilai Soeharto dengan keadilan adalah bentuk ketakwaan intelektual dan kebangsaan, bukan sekadar pilihan politik.

    Bangsa yang besar tidak menolak sejarahnya; bangsa yang besar belajar darinya. Dengan penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden Soeharto, negara menunjukkan kedewasaan dalam menempatkan sejarah di tempat yang semestinya.

    Ia dikenang bukan hanya sebagai pemimpin, tetapi sebagai penjaga ideologi Pancasila, penyelamat Republik, dan arsitek pembangunan nasional yang jejaknya akan terus hidup dalam denyut nadi bangsa Indonesia. (*)

    Analis Politik Nasional – Forum Kajian Demokrasi Indonesia

  • Penetapan Gelar Pahlawan Nasional Bentuk Apresiasi Negara atas Jasa Besar Soeharto

    Jakarta – Pemerintah Republik Indonesia akhirnya menetapkan Presiden ke-2 RI, Jenderal Besar H.M. Soeharto, sebagai Pahlawan Nasional, melalui Keputusan Presiden Nomor 116/TK/Tahun 2025. Keputusan tersebut menegaskan sikap negara dalam memberikan penghormatan kepada sosok pemimpin yang dinilai memiliki jasa besar dalam menjaga ideologi, memperkuat stabilitas, dan membangun fondasi kemajuan Indonesia modern.

    Penetapan gelar bagi Soeharto dipandang sebagai bentuk apresiasi terhadap kontribusinya yang panjang dalam perjalanan bangsa. Di bawah kepemimpinannya, Indonesia memasuki era konsolidasi politik serta penataan sistem ekonomi yang mengubah wajah pembangunan nasional. Pemerintah menilai rekam jejak Soeharto menjadi salah satu fondasi terpenting terbentuknya sistem ketahanan nasional dan arah pembangunan jangka panjang.

    Politikus senior Partai Golkar, Firman Soebagyo, menyampaikan apresiasi tinggi terhadap keputusan Presiden Prabowo Subianto tersebut. Menurutnya, langkah ini tidak hanya bersejarah, tetapi juga menunjukkan keberanian negara untuk bersikap adil terhadap perjalanan sejarah nasional. “Ini kabar menggembirakan, bukan hanya bagi keluarga besar Golkar, tetapi juga bagi masyarakat luas. Penetapan Bapak Soeharto sebagai Pahlawan Nasional menegaskan kembali spirit pembangunan dan nasionalisme sebagai jati diri bangsa,” ujarnya.

    Firman menekankan bahwa keputusan tersebut mencerminkan kedewasaan bangsa dalam memandang sejarah secara objektif dan proporsional. Ia menilai gelar itu bukan sekadar keputusan politik, melainkan penghormatan kepada seorang pemimpin yang bekerja tanpa henti membangun Indonesia selama puluhan tahun.

    Pandangan serupa disampaikan Wakil Sekretaris Balitbang DPP Partai Golkar, Leriadi. Ia menilai negara telah mengambil langkah tepat dengan mengakui jasa Soeharto secara formal. Menurutnya, Soeharto bukan hanya sosok militer, tetapi juga figur sentral yang mengembalikan stabilitas politik dan ekonomi setelah masa kekacauan nasional. “Beliau adalah arsitek kebangkitan Indonesia pasca krisis politik dan ekonomi,” tegasnya.

    Leriadi menjelaskan, kepemimpinan Soeharto berhasil menata ulang sistem pemerintahan dan perekonomian, sekaligus mengembalikan arah bangsa pada Pancasila dan UUD 1945 secara murni. Hal ini, menurutnya, menjadi warisan penting bagi keberlangsungan negara hingga kini.

    Dukungan juga datang dari sektor pertanian. Ketua Umum Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo), Irfan Ahmad Fauzi, menilai Soeharto memiliki jasa besar terhadap kesejahteraan petani. Program seperti Perkebunan Inti Rakyat (PIR), pembangunan infrastruktur desa, hingga peningkatan akses pasar memberikan dampak nyata bagi jutaan keluarga petani. “Pembangunan jalan produksi, irigasi, dan jaringan distribusi pada masa beliau mengangkat ekonomi desa secara signifikan,” kata Irfan.

    Dengan pertimbangan tersebut, penetapan gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto dipandang banyak pihak sebagai penghormatan yang layak. Negara menempatkan warisan pembangunan dan kontribusi Soeharto dalam perspektif sejarah yang utuh—sebuah bentuk apresiasi terhadap peran seorang pemimpin bangsa yang pengaruhnya tetap dirasakan hingga sekarang.

  • Penetapan Gelar Pahlawan Soeharto: Penghargaan Berdasarkan Fakta dan Kontribusi Nyata

    JAKARTA — Pemerintah Republik Indonesia resmi menetapkan Presiden ke-2 RI, Jenderal Besar H.M. Soeharto, sebagai Pahlawan Nasional melalui Keputusan Presiden Nomor 116/TK/Tahun 2025.

    Penetapan tersebut menjadi wujud penghargaan negara atas jasa besar Soeharto dalam mempertahankan ideologi Pancasila, menegakkan stabilitas nasional, serta membangun fondasi ekonomi Indonesia modern.

    Politikus senior Partai Golkar, Firman Soebagyo, menyampaikan apresiasi atas keputusan Presiden Prabowo Subianto yang dinilainya sebagai langkah bersejarah dan berkeadilan.

    “Ini menjadi kabar yang menggembirakan tidak hanya bagi Partai Golkar, tetapi juga bagi masyarakat luas. Penetapan Bapak Soeharto sebagai Pahlawan Nasional menegaskan kepada kita semua spirit pembangunan serta nasionalisme sebagai sebuah bangsa,” ujarnya.

    Firman menilai keputusan tersebut mencerminkan kedewasaan politik bangsa dalam menempatkan sejarah secara proporsional.

    “Penetapan ini bukan semata keputusan politik, melainkan bentuk penghormatan terhadap jasa seorang pemimpin bangsa yang telah bekerja tanpa lelah membangun Indonesia,” tegasnya.

    Sementara itu, Wakil Sekretaris Balitbang DPP Partai Golkar, Leriadi, menilai penetapan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional mencerminkan komitmen negara untuk berlaku adil terhadap sejarah.

    Ia menegaskan bahwa sejatinya Soeharto bukan hanya sosok tokoh militer saja, melainkan juga orang yang berada di balik kebangkitan bangsa setelah terjadinya kekacauan politik dan ekonomi.

    “Presiden Soeharto bukan hanya tokoh militer, tetapi juga arsitek kebangkitan nasional pasca kekacauan politik dan ekonomi,” katanya.

    Menurutnya, kepemimpinan Soeharto berhasil menata kembali sistem pemerintahan dan ekonomi nasional, sekaligus mengembalikan Indonesia kepada Pancasila dan UUD 1945 secara murni dan konsekuen.

    Dari sektor pertanian, dukungan datang dari Ketua Umum Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo), Irfan Ahmad Fauzi.

    Ia menilai Soeharto sebagai pemimpin yang berjasa besar terhadap kesejahteraan petani melalui program-program seperti Perkebunan Inti Rakyat (PIR) dan pembangunan infrastruktur pedesaan.

    “Pembangunan jalan produksi, irigasi, dan jaringan distribusi pada masa beliau telah meningkatkan taraf hidup jutaan petani dan memperkuat ekonomi desa,” ujar Irfan.

    Penetapan gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto dipandang banyak kalangan sebagai pengakuan atas kontribusi nyata dan warisan pembangunan yang masih dirasakan hingga kini—sebuah penghargaan yang menempatkan sejarah bangsa secara utuh dan berkeadilan. (*)

  • Pemerintah Pastikan MBG Diproduksi Tanpa Alat dan Bahan Impor

    Pemerintah memastikan program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan tanpa ketergantungan pada alat maupun bahan baku impor, sebagai bagian dari komitmen menggunakan produk dalam negeri. Penegasan ini menjadi respons atas dorongan agar seluruh kebutuhan program nasional tersebut sepenuhnya dipasok dari produsen lokal, sejalan dengan upaya memperkuat rantai ekonomi nasional.

    Wakil Ketua Badan Gizi Nasional (BGN) Nanik Sudaryati Deyang menyatakan bahwa lembaganya telah menerapkan kebijakan tanpa impor sejak program MBG mulai beroperasi pada Januari 2025. “Kan memang kami tidak memakai bahan baku impor atau peralatan impor,” ujar Nanik.

    Menurut Nanik, seluruh kebutuhan peralatan untuk operasional MBG kini dipenuhi dari puluhan pabrik yang telah disiapkan pemerintah. Ia merinci bahwa terdapat sekitar 36 pabrik yang tersebar di berbagai daerah dan secara khusus memproduksi perlengkapan pendukung MBG.

    “Bahan baku juga pakai dalam negeri,” katanya, memastikan bahwa proses produksi berjalan sepenuhnya dengan sumber lokal.

    Menanggapi pertanyaan mengenai keberadaan ompreng atau food tray yang pernah disebut-sebut berasal dari luar negeri, Nanik menjelaskan bahwa produk tersebut sudah masuk ke Indonesia sebelum program MBG dimulai. Ia menegaskan bahwa impor food tray dari negeri Tirai Bambu itu tidak diperuntukkan khusus untuk MBG.

    “Food tray itu masuk ke Indonesia bukan hanya untuk MBG. Sekolah kedinasan juga pakai food tray,” ujarnya.

    Meski demikian, Nanik memastikan pabrik dalam negeri kini telah memroduksi ompreng untuk kebutuhan program tersebut. Ia menilai hal ini sebagai bentuk penyesuaian agar seluruh peralatan yang digunakan dapat memenuhi standar yang telah ditetapkan pemerintah.

    Dorongan penggunaan produk lokal juga sebelumnya disampaikan Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar dalam peninjauannya di Rancabali, Kabupaten Bandung, pada Rabu, 5 November 2025. Ia menegaskan pentingnya menerapkan prinsip kemandirian produksi dalam program tersebut.

    “Sebagai pengawas BGN, saya minta tidak ada satu barang pun yang impor, baik bahan pangan maupun peralatan dapur MBG,” ujar Muhaimin.

    Muhaimin yang juga menjabat sebagai Wakil Ketua II Tim Koordinasi MBG menyampaikan bahwa pada tahap kedua program tahun depan, pemerintah akan memastikan seluruh kebutuhan dapur MBG dipenuhi UMKM dan koperasi lokal. Ia menilai langkah ini dapat memperkuat ekosistem ekonomi rakyat.

    “Kalau sudah stabil, semua bahan akan kami serahkan sepenuhnya kepada pelaku ekonomi rakyat,” tuturnya.

    Dengan kepastian tidak digunakannya produk impor dalam MBG, pemerintah berharap pelaksanaan program dapat berjalan lebih efisien, memperkuat industri lokal, dan semakin memberi manfaat bagi masyarakat luas. ***

  • Pemerintah Terus Gencarkan Program MBG, Tingkatkan Kepercayaan Publik

    Oleh : Gavin Asadit )*

    Pemerintah terus menggencarkan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai salah satu prioritas nasional pada tahun 2025. Program ini kini tidak hanya difokuskan pada peningkatan gizi masyarakat, tetapi juga diarahkan untuk memperkuat kemandirian pangan dan mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Berbagai langkah perbaikan, pengawasan, dan transparansi terus dilakukan agar program yang menyentuh jutaan penerima manfaat ini berjalan sesuai standar dan mampu meningkatkan kepercayaan publik.

    Program MBG sejak awal dirancang untuk menurunkan angka stunting, memastikan kecukupan gizi anak-anak usia sekolah, serta mendukung kesehatan ibu hamil dan menyusui. Pemerintah mencatat bahwa pelaksanaan MBG telah menjangkau jutaan penerima di seluruh Indonesia dengan ribuan Satuan Penyedia Pangan Gizi (SPPG) aktif setiap hari. Dalam implementasinya, program ini juga melibatkan ribuan pelaku usaha kecil dan menengah, petani, serta koperasi pangan di berbagai daerah.

    Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis adalah investasi jangka panjang untuk masa depan bangsa. Ia menyampaikan bahwa program ini dirancang bukan hanya sebagai bentuk bantuan sosial, tetapi sebagai fondasi membangun generasi sehat dan produktif yang akan menentukan arah kemajuan Indonesia di masa depan. Menurut Presiden, keberhasilan program MBG diukur dari dua sisi: peningkatan kualitas gizi masyarakat dan dampak ekonominya terhadap produksi pangan lokal. Ia juga menilai partisipasi masyarakat menjadi faktor penting agar program ini bisa berjalan berkelanjutan dan tepat sasaran.

    Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Republik Indonesia, Airlangga Hartarto, menyatakan bahwa pemerintah memperkuat pengawasan berlapis untuk memastikan seluruh tahapan pelaksanaan MBG berjalan sesuai dengan prinsip keamanan pangan dan efisiensi distribusi. Airlangga menekankan bahwa pengawasan dilakukan dari hulu ke hilir, mulai dari proses pengadaan bahan pangan, penyimpanan, pengolahan, hingga distribusi makanan ke penerima manfaat. Ia juga menjelaskan bahwa pemerintah tidak akan ragu memberikan sanksi administratif maupun penutupan sementara bagi SPPG yang terbukti melanggar standar operasional. Dengan langkah tegas tersebut, pemerintah ingin memastikan setiap penerima mendapatkan makanan yang aman, bergizi, dan layak konsumsi.

    Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan Republik Indonesia, Zulkifli Hasan, menyoroti pentingnya koordinasi lintas lembaga agar program MBG dapat berjalan lebih efektif. Ia menjelaskan bahwa rapat koordinasi harian kini rutin dilakukan untuk memastikan setiap masalah di lapangan bisa segera ditangani. Pemerintah, menurutnya, ingin memastikan pelaksanaan program yang skalanya sangat besar ini tidak menimbulkan kendala dalam distribusi maupun kualitas makanan. Ia juga menegaskan bahwa MBG bukan sekadar proyek jangka pendek, tetapi bagian dari strategi besar pemerintah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional melalui keterlibatan aktif pelaku usaha daerah.

    Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) dan Kementerian Kesehatan juga terus memperketat Standar Operasional Prosedur (SOP) di setiap dapur penyedia makanan. Langkah-langkah seperti pelatihan ulang tenaga juru masak, pemeriksaan sanitasi dapur dan air bersih, serta sterilisasi alat makan diterapkan secara menyeluruh. Pemerintah memastikan bahwa seluruh proses produksi dan distribusi makanan memenuhi standar higienis dan gizi yang ditetapkan oleh otoritas nasional. Sejumlah SPPG yang belum memenuhi syarat telah dievaluasi, sementara yang ditemukan melakukan pelanggaran berat dihentikan operasionalnya untuk diperbaiki.

    Dari sisi kebijakan, pemerintah juga memperluas transparansi data dan mengundang lembaga independen untuk melakukan evaluasi. Badan Pusat Statistik (BPS) bersama lembaga pengawas lain telah mulai melakukan survei dampak MBG secara nasional. Evaluasi ini mencakup pengaruh program terhadap status gizi anak, tingkat partisipasi sekolah, serta kontribusinya terhadap pendapatan UMKM lokal. Data hasil evaluasi akan disampaikan secara terbuka kepada publik sebagai bentuk komitmen pemerintah terhadap akuntabilitas dan transparansi.

    Selain memberikan dampak kesehatan, program MBG terbukti memberi efek berganda terhadap perekonomian lokal. Ribuan UMKM bahan pangan dan koperasi daerah kini menjadi bagian dari rantai pasok program ini. Pemerintah berharap, dengan memperkuat keterlibatan sektor mikro dan menengah, MBG mampu menciptakan ekosistem ekonomi baru yang mendorong perputaran produksi pangan dalam negeri. Langkah ini diharapkan mampu menekan ketergantungan impor bahan pangan tertentu sekaligus menciptakan lapangan kerja baru bagi masyarakat di daerah.

    Pemerintah menyadari bahwa tantangan dalam pelaksanaan MBG tidak ringan. Sorotan publik terhadap isu teknis di lapangan menjadi catatan penting untuk perbaikan menyeluruh. Karena itu, strategi komunikasi publik diperkuat agar masyarakat mendapatkan informasi yang benar, termasuk mengenai langkah korektif yang telah dilakukan. Pemerintah membuka ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam pengawasan dan memberikan masukan terkait pelaksanaan program di daerah masing-masing.

    Dengan serangkaian langkah tersebut, pemerintah menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis akan terus dikembangkan sebagai program strategis nasional yang memiliki dampak langsung terhadap kesejahteraan rakyat. Melalui sinergi lintas lembaga, pengawasan ketat, serta partisipasi aktif masyarakat, pemerintah optimistis MBG dapat meningkatkan kepercayaan publik sekaligus mempercepat peningkatan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

    )* Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial dan Kemasyarakatan

  • Program MBG Tingkatkan Gizi Anak Dan Bantu Cegah Penyakit Sejak Dini

    Jakarta, Program Makan Bergizi Gratis (MBG) resmi memperluas layanan di sejumlah sekolah dasar dan menengah dengan fokus ganda yaitu memperbaiki status gizi harian anak serta mencegah munculnya penyakit sejak dini melalui intervensi terintegrasi di lingkungan sekolah. Program ini menghadirkan menu seimbang yang mengutamakan protein hewani, sayur, buah, dan sumber karbohidrat kompleks, disertai praktik higienitas dapur dan rantai pasok yang ketat agar makanan aman, bergizi, dan diterima anak.

    Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes), Benjamin P. Octavianus mengatakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk meningkatkan daya tahan tubuh anak dan generasi muda, sehingga lebih terlindungi dari risiko penyakit menular seperti TBC.

    “Upaya ini adalah investasi untuk kualitas manusia Indonesia. Eliminasi TBC bukan hanya tentang kesehatan, tapi juga tentang menjaga produktivitas dan masa depan bangsa,” kata Wamenkes

    Di tahap implementasi, penyelenggara memastikan standarisasi porsi dan kandungan gizi sesuai kelompok usia, pelabelan alergen, serta pengawasan suhu penyimpanan dan distribusi makanan. Verifikasi berlapis dilakukan mulai dari seleksi pemasok, uji kualitas bahan, hingga audit rutin lokasi produksi. Langkah ini didesain untuk menekan risiko kontaminasi, kejadian keracunan pangan, serta memastikan konsistensi mutu antarsekolah.

    Deputi Pemantauan dan Pengawasan BGN, Dadang Hendrayudha menjelaskan edukasi Komunikasi, Informasi, dan Edukasi (KIE) gizi juga terus diberikan secara berkala agar anak dan orang tua memahami pola makan seimbang, kebersihan tangan, serta kebiasaan minum air putih

    “Dengan data pemantauan yang rapi, sekolah bisa cepat bertindak bila terlihat gejala risiko gizi pada peserta didik,” ujarnya

    Sementara itu, Anggota DPD RI asal Jawa Timur, Lia Istifhama menegaskan pencegahan penyakit sejak dini berjalan beriringan dengan penyediaan menu yaitu sekolah melakukan pemantauan pertumbuhan sederhana seperti pengukuran tinggi-berat badan, indeks massa tubuh, serta tanda klinis yang mengarah pada anemia atau masalah gizi lainnya.

    “Pencegahan stunting, anemia, dan obesitas harus dilakukan bersama oleh sekolah, puskesmas, orang tua, serta pelaku UMKM pangan lokal. MBG menjadi jembatan yang menghubungkan semua pihak dalam satu ekosistem,” ucap Lia.

    Program MBG terbuka untuk kemitraan dengan komunitas, puskesmas, dan UMKM demi memperkuat ketahanan pangan sekolah. Informasi lebih lanjut dan permohonan liputan dapat disampaikan melalui Humas MBG setempat. Dengan intervensi terarah dan kolaboratif, MBG menyiapkan generasi yang lebih sehat, fokus belajar, dan berdaya saing

  • Program MBG Momentum Percepat Pemerataan Ekonomi dan Kualitas Gizi di Wilayah Terpencil

    Oleh: Juanda Syah )*

    Pemerintah terus berupaya mempercepat pemerataan kesejahteraan dan peningkatan kualitas sumber daya manusia di seluruh wilayah Indonesia melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Program ini menjadi langkah strategis dalam mengatasi persoalan ketimpangan gizi dan ekonomi, terutama di daerah-daerah terpencil yang selama ini sulit dijangkau oleh program pembangunan. MBG hadir tidak hanya sebagai inisiatif pemenuhan kebutuhan pangan bergizi, tetapi juga sebagai momentum penting untuk memperkuat kemandirian ekonomi lokal melalui peningkatan aktivitas produksi pangan rakyat.

    Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, mengatakan bahwa program MBG merupakan wujud nyata komitmen pemerintah dalam membangun bangsa melalui peningkatan kualitas gizi masyarakat. Menurutnya, asupan gizi yang baik menjadi pondasi utama dalam membentuk generasi cerdas, sehat, dan berdaya saing tinggi. Selama bertahun-tahun, kekurangan gizi menjadi salah satu penyebab rendahnya produktivitas dan kemampuan berpikir masyarakat. Dengan hadirnya MBG, pemerintah ingin memastikan bahwa anak-anak Indonesia, termasuk yang tinggal di wilayah terpencil, mendapatkan hak yang sama atas makanan bergizi dan kesempatan tumbuh secara optimal.

    Peningkatan kualitas gizi masyarakat akan berdampak langsung terhadap kecerdasan dan kemampuan bersaing bangsa. Saat ini, rata-rata tingkat kecerdasan masyarakat Indonesia masih berada pada angka yang perlu ditingkatkan. Melalui pelaksanaan MBG secara masif, pemerintah menargetkan perbaikan signifikan terhadap kualitas sumber daya manusia nasional. Anak-anak yang memperoleh gizi seimbang diharapkan tumbuh dengan fisik yang kuat dan kemampuan intelektual yang baik, sehingga menjadi modal utama dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.

    MBG tidak hanya sebatas penyediaan makanan bergizi, tetapi juga sarana untuk meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya perencanaan kebutuhan keluarga, termasuk pendidikan dan ekonomi rumah tangga. Di berbagai daerah, masih banyak masyarakat yang belum memiliki kemampuan menghitung kebutuhan keluarga secara tepat. Melalui sosialisasi MBG, masyarakat diajak untuk memahami pentingnya pola makan sehat sekaligus perencanaan ekonomi yang lebih rasional. Pendekatan ini memperkuat tujuan MBG sebagai program yang tidak hanya menyentuh aspek gizi, tetapi juga memberdayakan masyarakat agar lebih mandiri dan sejahtera.

    Program MBG menargetkan sebanyak 82,9 juta penerima manfaat pada tahun 2026. Sasaran utamanya mencakup anak-anak sekolah, ibu hamil, dan balita di seluruh wilayah, terutama daerah yang memiliki tingkat kerentanan gizi tinggi. Pemerintah berupaya agar program ini benar-benar menjangkau masyarakat terpencil dengan sistem distribusi yang efektif dan terintegrasi. Dalam pelaksanaannya, MBG juga menggandeng pemerintah daerah serta pelaku usaha kecil di sektor pangan agar perputaran ekonomi lokal semakin hidup.

    Dampak positif program ini mulai terlihat di berbagai daerah. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat bahwa pada Oktober hingga awal November 2025 terjadi peningkatan aktivitas ekonomi yang turut berkontribusi terhadap kenaikan inflasi bulanan sebesar 0,28 persen. Kenaikan tersebut disebabkan oleh meningkatnya permintaan terhadap telur dan daging ayam ras sebagai sumber protein utama dalam pelaksanaan program MBG. Fenomena ini menunjukkan bahwa distribusi makanan bergizi secara nasional telah mendorong peningkatan konsumsi dan perputaran ekonomi masyarakat, termasuk di wilayah terpencil.

    Deputi Statistik Distribusi dan Jasa BPS, Pudji Ismartini, mengatakan MBG berperan besar dalam mendorong konsumsi pangan hewani di berbagai daerah. Permintaan terhadap telur ayam ras dan daging ayam ras meningkat cukup signifikan dan menjadi pendorong utama inflasi. Meski demikian, hal ini merupakan sinyal positif bahwa kegiatan ekonomi di sektor pangan rakyat semakin menggeliat. Meningkatnya kebutuhan terhadap bahan pangan juga membuka peluang bagi peternak dan pelaku usaha mikro di pedesaan untuk meningkatkan produksi serta memperluas pasar.

    Selain mendorong konsumsi pangan, MBG juga memberi dampak berantai terhadap rantai pasok ekonomi lokal. Kenaikan harga bahan pakan seperti jagung dan biaya produksi ayam hidup mendorong aktivitas perdagangan di berbagai wilayah. Meskipun inflasi meningkat, pergerakan ini mencerminkan ekonomi yang lebih aktif dan daya beli masyarakat yang semakin kuat. Pemerintah pun terus menjaga keseimbangan antara peningkatan permintaan dan stabilitas harga agar manfaat program MBG tetap optimal bagi seluruh lapisan masyarakat.

    Dari sisi kebijakan, MBG dirancang sebagai bagian dari strategi besar pemerataan ekonomi nasional. Dengan melibatkan petani, nelayan, dan peternak lokal sebagai pemasok bahan pangan utama, program ini memperkuat ketahanan pangan sekaligus memperluas peluang usaha di pedesaan. Pendekatan ini menjadi bukti nyata bahwa pemerataan ekonomi tidak hanya diwujudkan melalui bantuan sosial, tetapi juga melalui peningkatan aktivitas produktif masyarakat. Di wilayah terpencil, pelaksanaan MBG bahkan menjadi motor penggerak ekonomi baru yang menumbuhkan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan keluarga.

    Pelaksanaan MBG juga sejalan dengan visi pemerintah untuk mewujudkan Indonesia yang sehat dan mandiri. Dengan memperbaiki gizi sejak dini, anak-anak di wilayah terpencil akan memiliki peluang yang sama untuk tumbuh menjadi generasi cerdas dan produktif. Di sisi lain, meningkatnya permintaan bahan pangan lokal akibat program ini memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat desa dan mengurangi ketergantungan pada pasokan dari luar daerah. Dampak ganda inilah yang menjadikan MBG sebagai momentum penting dalam mempercepat pemerataan ekonomi sekaligus peningkatan kualitas gizi nasional.

    Program ini menunjukkan bagaimana kebijakan pangan dapat menjadi katalis bagi pembangunan yang lebih inklusif. Ketika gizi masyarakat terpenuhi dan ekonomi lokal bergerak aktif, maka kesejahteraan akan tersebar lebih merata hingga ke pelosok negeri. Dengan koordinasi lintas kementerian, dukungan pemerintah daerah, serta partisipasi masyarakat, MBG diproyeksikan menjadi salah satu program paling berdampak dalam sejarah pembangunan nasional.

    Pada akhirnya, Program MBG tidak hanya menjadi wujud kepedulian terhadap kesehatan masyarakat, tetapi juga strategi nyata untuk mempercepat pemerataan ekonomi di wilayah terpencil. Melalui peningkatan asupan gizi, penguatan daya beli masyarakat, dan pemberdayaan ekonomi lokal, MBG menjadi simbol kemajuan Indonesia yang berkeadilan. Dengan kolaborasi yang solid antara pemerintah dan seluruh elemen bangsa, cita-cita mewujudkan masyarakat sehat, mandiri, dan sejahtera di seluruh pelosok tanah air kini semakin nyata.

    )* Penulis adalah mahasiswa Jakarta tinggal di Bandung

  • Hari Pahlawan 2025 Berjalan Lancar, Masyarakat Apresiasi Pemerintah

    Oleh : Astrid Widia )*

    Peringatan Hari Pahlawan tahun 2025 menjadi momen penuh makna bagi bangsa Indonesia. Dari Sabang sampai Merauke, suasana peringatan berjalan tertib, aman, dan penuh penghormatan terhadap jasa para pejuang. Kelancaran berbagai agenda nasional, termasuk upacara di Taman Makam Pahlawan Kalibata hingga tabur bunga di laut Teluk Jakarta, menunjukkan bahwa semangat nasionalisme dan gotong royong masih menjadi fondasi kuat kehidupan berbangsa.

    Presiden Prabowo Subianto memimpin langsung upacara ziarah dan renungan suci di TMP Kalibata, Jakarta Selatan, Minggu malam (9/11). Dalam suasana hening dan khidmat, Kepala Negara hadir bersama Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan Menteri Sosial Saifullah Yusuf. Dengan berpakaian jas biru tua dan peci hitam, Presiden memimpin peletakan karangan bunga sebagai simbol penghargaan negara kepada para pahlawan yang telah berkorban untuk kemerdekaan Indonesia.

    Dalam amanatnya, Prabowo menegaskan bahwa perjuangan para pahlawan tidak boleh dilupakan. Ia mengajak seluruh rakyat untuk meneladani semangat juang dan pengorbanan mereka sebagai bekal melanjutkan pembangunan bangsa. Kepala Negara menilai, mengenang jasa para pahlawan adalah cara terbaik menjaga semangat kebangsaan di tengah tantangan zaman.

    Tema Hari Pahlawan tahun ini, “Pahlawan Teladanku, Terus Bergerak, Melanjutkan Perjuangan,” menjadi cermin bahwa perjuangan bangsa tidak berhenti di masa lalu. Generasi penerus dituntut meneruskan cita-cita kemerdekaan melalui kerja keras, persatuan, dan dedikasi terhadap negeri.

    Kementerian Sosial bersama TNI Angkatan Laut juga menyelenggarakan upacara tabur bunga di laut Teluk Jakarta pada Senin (10/11) pagi. Acara yang berlangsung di atas KRI Brawijaya 320 itu dipimpin langsung oleh Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana TNI Muhammad Ali. Upacara berlangsung tertib, menegaskan bahwa semangat penghormatan kepada pahlawan bukan hanya milik pemerintah, tetapi juga seluruh komponen bangsa.

    Sementara itu di Papua, Pemerintah Provinsi menggelar upacara peringatan yang diikuti ratusan aparatur sipil negara di halaman kantor gubernur. Wakil Gubernur Papua Aryoko Rumaropen menilai, semangat perjuangan harus diwujudkan dalam kinerja nyata. Ia mengajak seluruh ASN dan masyarakat Papua meningkatkan produktivitas serta mempererat persatuan untuk mempercepat pembangunan daerah. Aryoko juga mengingatkan pentingnya meneladani keteguhan dan keikhlasan para pahlawan dalam mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi.

    Kelancaran dan ketertiban rangkaian peringatan Hari Pahlawan tahun ini patut diapresiasi. Pemerintah dinilai berhasil menjaga suasana nasional tetap kondusif, memperkuat rasa persaudaraan, dan menumbuhkan optimisme masyarakat di tengah situasi global yang penuh tantangan. Momentum ini memperlihatkan bahwa bangsa Indonesia semakin dewasa dalam berdemokrasi dan mampu merayakan perbedaan tanpa kehilangan rasa persatuan.

    Peringatan Hari Pahlawan juga bertepatan dengan pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 RI, Soeharto. Keputusan Pemerintah dan meluasnya dukungan publik terhadap pemberian gelar pahlawan tersebut mencerminkan semangat baru untuk menilai sejarah secara lebih objektif, sekaligus menghormati jasa besar seorang tokoh dalam membangun pondasi bangsa.

    Ketua Umum Angkatan Muda Partai Golkar, Said Aldi Al Idrus, menilai bahwa Soeharto adalah sosok dengan dedikasi tinggi terhadap bangsa, baik sebagai prajurit maupun pemimpin. Ia menyebut, kepemimpinan Soeharto berhasil membawa Indonesia keluar dari ketidakpastian politik dan ekonomi pada masa awal kemerdekaan. Pembangunan nasional di era tersebut, seperti program swasembada pangan dan penguatan infrastruktur dasar, menjadi warisan nyata yang masih dirasakan hingga kini.

    Langkah pemerintah yang membuka ruang dialog publik mengenai pemberian gelar kehormatan ini patut diapresiasi. Negara tidak sekadar memberi penghargaan kepada individu, melainkan meneguhkan makna kebangsaan bahwa jasa setiap tokoh, dengan segala kelebihan dan kekurangannya, adalah bagian dari perjalanan panjang Indonesia menuju kemajuan.

    Apresiasi terhadap kelancaran peringatan Hari Pahlawan dan penghormatan terhadap para tokoh bangsa seperti Soeharto menandai kedewasaan politik Indonesia. Pemerintahan Presiden Prabowo menunjukkan kemampuan menjaga stabilitas nasional sekaligus menumbuhkan budaya penghargaan terhadap sejarah.

    Menteri Sosial Saifullah Yusuf sebelumnya menekankan bahwa mengenang jasa pahlawan harus menjadi bagian dari refleksi kolektif bangsa. Semangat mereka, katanya, tidak boleh berhenti di masa lalu, tetapi harus terus menginspirasi kerja nyata bagi masa depan Indonesia. Pandangan ini sejalan dengan semangat pemerintah untuk membangun bangsa yang tangguh, bersatu, dan berorientasi pada kemajuan.

    Peringatan Hari Pahlawan 2025 menjadi simbol bahwa Indonesia mampu menjaga harmoni di tengah keberagaman, sekaligus menegaskan bahwa bangsa besar adalah bangsa yang tahu berterima kasih. Apresiasi terhadap suasana yang damai dan kondusif ini bukan hanya penghormatan terhadap pahlawan masa lalu, tetapi juga pengakuan terhadap pahlawan masa kini, yakni mereka yang terus bekerja menjaga stabilitas dan kemajuan bangsa.

    Dalam semangat itu, penghargaan kepada Soeharto sebagai tokoh pembangunan tidak hanya menjadi penghormatan kepada individu, tetapi juga penegasan bahwa Indonesia kini semakin dewasa dalam memandang sejarahnya sendiri. Dari ketenangan upacara di Kalibata hingga tabur bunga di Teluk Jakarta, satu pesan jelas menggema: bangsa ini kuat karena persatuan, tumbuh karena penghormatan, dan maju karena tidak pernah lupa dari mana ia berasal.

    )* Penulis adalah pengamat sosial politik

  • Tertib dan Penuh Makna, Peringatan Hari Pahlawan 2025 Dapat Apresiasi Luas

    Oleh: Erick Surya )*

    Peringatan Hari Pahlawan 2025 berlangsung tertib dan penuh makna di berbagai daerah di Indonesia. Momentum tahunan ini kembali menjadi refleksi nasional atas perjuangan para pahlawan yang telah mengorbankan jiwa dan raga demi kemerdekaan bangsa.

    Tahun ini, pemerintah melalui Kementerian Sosial mengajak seluruh elemen masyarakat untuk menghentikan sejenak aktivitasnya selama satu menit, tepat pukul 08.15 WIB tepat pada 10 November 2025, guna mengheningkan cipta sebagai bentuk penghormatan kepada para pahlawan.

    Menteri Sosial Syaifullah Yusuf menegaskan bahwa keheningan selama satu menit tersebut bukan sekadar seremoni simbolik, melainkan bentuk kesadaran kolektif bangsa untuk mengenang jasa para pejuang. Ia mengajak seluruh masyarakat di mana pun berada untuk turut berpartisipasi.

    Kegiatan heningkan cipta menjadi bagian dari rangkaian besar Peringatan Hari Pahlawan Nasional 2025 yang dipersiapkan secara komprehensif oleh Kementerian Sosial. Rangkaian kegiatan berlangsung sejak pagi, diawali dengan Upacara Ziarah Nasional di Taman Makam Pahlawan Nasional (TMPN) Utama Kalibata.

    Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto hadir sebagai Inspektur Upacara, memperlihatkan komitmen pemerintah untuk terus menghormati jasa para pahlawan yang telah berjasa besar bagi negeri.

    Pada waktu bersamaan, di Teluk Jakarta, digelar Upacara Tabur Bunga di Laut sebagai penghormatan bagi para pahlawan yang gugur di lautan. Kegiatan ini menjadi simbol penghargaan terhadap perjuangan tanpa batas dari mereka yang mempertaruhkan hidup demi menjaga kedaulatan Indonesia.

    Selain itu, pemerintah juga menyelenggarakan Upacara Penganugerahan Gelar Pahlawan Nasional di Istana Negara, menandai penghormatan tertinggi kepada tokoh-tokoh yang telah memberi kontribusi besar dalam perjalanan bangsa.

    Tidak hanya di tingkat nasional, pemerintah daerah dan berbagai instansi turut menggelar kegiatan serupa. Seluruh instansi, baik pemerintah maupun nonpemerintah, mengadakan upacara bendera pada pukul 08.00 waktu setempat. Dalam setiap upacara tersebut, pembina membacakan amanat dari Menteri Sosial sebagai pedoman renungan Hari Pahlawan 2025.

    Bagi lembaga yang tidak menyelenggarakan upacara secara langsung, Kementerian Sosial menyiarkan jalannya Upacara Ziarah Nasional melalui TVRI dan kanal resmi, sehingga seluruh masyarakat tetap dapat mengikuti peringatan dengan khidmat.

    Pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk mengibarkan Bendera Merah Putih satu tiang penuh di rumah masing-masing sepanjang 10 November 2025. Gerakan ini menjadi simbol kebersamaan dan semangat kebangsaan yang mengikat seluruh lapisan masyarakat tanpa memandang latar belakang

    Peringatan di berbagai daerah turut menambah makna dari momentum nasional ini. Di Kabupaten Maluku Tenggara, pemerintah daerah menggelar upacara ziarah dan tabur bunga di Taman Makam Pahlawan Rudira Jaya, Kelurahan Ohoijang Watdek, Kecamatan Kei Kecil.

    Upacara ziarah tersebut dipimpin oleh Komandan Lanud Dominicus Dumatubun, Letkol Pas Firasat Amansyah, yang bertindak sebagai Inspektur Upacara. Dalam pesannya, ia mengingatkan generasi muda bahwa perjuangan saat ini tidak lagi dengan senjata, melainkan melalui karya dan kontribusi nyata bagi kemajuan bangsa.

    Pesan ini menjadi relevan dengan semangat peringatan Hari Pahlawan yang ingin menegaskan bahwa nilai-nilai kepahlawanan dapat diwujudkan dalam berbagai bentuk pengabdian. Pemerintah melihat partisipasi masyarakat di berbagai daerah sebagai bukti bahwa semangat perjuangan masih terjaga. Di tengah dinamika zaman modern, kesadaran kolektif untuk menghormati jasa para pahlawan merupakan fondasi penting bagi pembangunan karakter bangsa.

    Sementara itu, di Kota Surabaya, semangat memperingati Hari Pahlawan diwujudkan secara kreatif oleh kalangan seniman. Forum Pegiat Kesenian Surabaya (FPKS) menggelar konser bertema Satu Jalan Perjuangan: Merayakan Hari Pahlawan, Merayakan W.S. Rendra. Acara tersebut menampilkan sejumlah seniman lintas bidang yang membawakan karya bertema perjuangan dan persatuan, sebagai bentuk penghormatan kepada semangat Kota Pahlawan.

    Musisi sekaligus penggagas acara, Sastra Harijanto Tjondrokusumo, menilai bahwa semangat kepahlawanan harus dihidupkan melalui karya seni yang membangkitkan rasa cinta tanah air. Melalui musik dan tari, masyarakat diingatkan untuk tidak melupakan akar perjuangan yang telah membentuk identitas bangsa. Kegiatan tersebut juga menjadi wadah memperkuat solidaritas antarseniman serta menginspirasi generasi muda untuk mengisi kemerdekaan dengan kreativitas dan karya positif.

    Pemerintah menilai inisiatif masyarakat seperti ini menunjukkan betapa peringatan Hari Pahlawan bukan hanya seremoni tahunan, tetapi momentum memperkokoh nilai-nilai kebangsaan. Peringatan yang berlangsung secara tertib dan penuh makna di seluruh Indonesia ini menjadi wujud nyata semangat persatuan nasional.

    Momen heningkan cipta yang digelar serentak di seluruh negeri pada pukul 08.15 WIB menjadi puncak refleksi nasional. Dalam satu menit keheningan itu, seluruh rakyat Indonesia seolah bersatu dalam doa dan rasa syukur atas jasa para pahlawan. Heningkan cipta menjadi ruang batin bagi bangsa untuk kembali meneguhkan komitmen menjaga kemerdekaan dan memperkuat keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

    Melalui peringatan yang berlangsung tertib, penuh makna, dan diikuti secara luas, masyarakat Indonesia menegaskan bahwa semangat kepahlawanan tidak pernah pudar. Pemerintah mengapresiasi seluruh pihak yang telah berpartisipasi dalam menjaga kondusivitas dan menjadikan peringatan Hari Pahlawan 2025 sebagai momen kebangsaan yang menggugah semangat nasionalisme.

    Dengan keberhasilan pelaksanaan peringatan yang serentak, tertib, dan penuh makna, Hari Pahlawan 2025 meninggalkan kesan mendalam bagi seluruh rakyat Indonesia. Semangat perjuangan para pendahulu kini diteruskan dalam bentuk pengabdian nyata — membangun bangsa, menjaga persatuan, serta meneguhkan cinta tanah air sebagai wujud penghormatan sejati bagi para pahlawan yang telah berjasa tanpa pamrih demi Indonesia merdeka.

    )* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute