Penulis: restiana818@gmail.com

  • Pemerintah: Ekonomi RI Tangguh Hadapi Gejolak Global

    Jawa Barat – Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar mengatakan pihaknya optimis dan sudah menunjukan fakta bahwa ekonomi Indonesia kuat menghadapi berbagai gejolak global terutama disaat perang.

    Hal tersebut disampaikan Menko Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar dihadapan awak media di Jawa Barat.

    Menurutnya, perekonomian Indonesia saat ini dipastikan kuat dalam menghadapi dinamika geopolitik global.

    “Yang pertama, kita optimistis dan sudah menunjukkan fakta bahwa ekonomi kita kuat menghadapi berbagai kondisi global terutama perang. Insya Allah kita akan bekerja total untuk kita memiliki daya tahan atau daya kekuatan menghadapi krisis yang terjadi di tingkat global terutama akibat perang. Kita kuat, fondasi ekonomi kuat,” ujar Menko Muhaimin Iskandar saat membuka Rakernas Ikatan Alumni Universitas Terbuka di Bogor, Jawa Barat.

    Hal itu dikatakannya terkait taklimat Presiden Prabowo Subianto kepada anggota Kabinet Merah Putih dalam rapat kerja di Istana.

    Dalam taklimat itu, Presiden juga menegaskan bahwa tidak akan ada kenaikan harga BBM hingga akhir tahun 2026.

    “Tidak ada kenaikan harga BBM. Insya Allah sampai akhir tahun tidak akan ada kenaikan harga BBM sehingga tidak perlu panik, tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” kata Muhaimin Iskandar.

    Selain itu, Presiden juga meminta Kabinet Merah Putih hingga pejabat daerah untuk bekerja keras membangun percepatan transformasi bangsa.

    “Pejabat mulai menteri sampai birokrat diberi arahan oleh Presiden untuk tidak main-main, untuk betul-betul kerja keras. Tidak ada waktu untuk berhenti di dalam membangun percepatan transformasi bangsa,” ungkap Muhaimin Iskandar.

    Sementara itu hal senada juga di sampaikan Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung. Ia mengatakan fundamental ekonomi Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang solid.

    “Pemerintah menjalankan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) secara prudent dan fleksibel sehingga mampu merespons berbagai risiko eksternal yang muncul akibat ketegangan geopolitik dunia,” jelasnya.

    Menurutnya, pendekatan kebijakan fiskal yang berhati-hati tersebut menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.

    “Ketahanan ekonomi Indonesia juga tercermin dari kinerja pertumbuhan yang tetap positif”, tuturnya.

    Pada tahun 2025, pertumbuhan ekonomi nasional tercatat sekitar 5,11 persen, dengan akselerasi yang lebih tinggi pada triwulan IV yang mencapai sekitar 5,39 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi domestik tetap bergerak dinamis meskipun lingkungan global berada dalam kondisi penuh ketidakpastian, kata dia.

    “Konsumsi masyarakat, investasi, serta berbagai aktivitas ekonomi produktif terus menjadi penggerak utama pertumbuhan,” pungkasnya.

    Ditambahkannya, selain pertumbuhan ekonomi yang stabil, tingkat inflasi Indonesia juga tetap berada dalam rentang yang terkendali.

    “Stabilitas harga tersebut menjadi bukti keberhasilan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter dalam menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendukung keberlanjutan aktivitas ekonomi,” ujarnya.

    “Kondisi ini semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu negara dengan stabilitas ekonomi yang relatif baik di tengah tekanan global,” tutup Juda Agung.

  • Ekonom Global Nilai Fondasi Ekonomi RI Makin Solid dan Layak Jadi Tujuan Investasi

    Jakarta,- Kepercayaan global terhadap perekonomian Indonesia terus menguat seiring dengan semakin kokohnya fondasi makroekonomi nasional. Di tengah tekanan global yang ditandai dengan volatilitas pasar, ketatnya likuiditas, serta fluktuasi harga energi, Indonesia dinilai mampu menunjukkan stabilitas yang konsisten dan menjanjikan bagi para investor.

    Chief Economist IQI Global, Shan Saeed, dalam riset terbarunya menegaskan bahwa profil makroekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 menunjukkan tren yang semakin solid. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu tujuan investasi yang semakin diperhitungkan di kawasan emerging markets.

    “Dalam ekonomi global saat ini, pertumbuhan saja tidak cukup untuk menarik kapital. Konsistensi kebijakan menjadi faktor utama. Indonesia menunjukkan disiplin tersebut,” ujar Shan.

    Ia menilai bahwa pendekatan kebijakan ekonomi Indonesia yang terukur dan konsisten menjadi kunci utama dalam menjaga ketahanan di tengah gejolak global. Ketika banyak negara menghadapi tekanan berat, Indonesia justru mampu mempertahankan stabilitas dengan pertumbuhan ekonomi yang berada di kisaran 5%, serta proyeksi tahunan antara 5,0% hingga 6,0%.

    Struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia juga dinilai kuat dan berkelanjutan. Konsumsi domestik yang menyumbang sekitar 53% dari Produk Domestik Bruto (PDB) menjadi penopang utama, sementara investasi yang berada di kisaran 30%–31% memperkuat basis pertumbuhan jangka panjang.

    “Ini bukan pertumbuhan yang didorong oleh ekses. Ini adalah pertumbuhan yang dibangun di atas struktur yang kuat,” tegas Shan.

    Lebih lanjut, ia menyoroti transformasi ekonomi Indonesia yang mulai bergerak dari sekadar eksportir bahan mentah menjadi negara dengan nilai tambah industri yang lebih tinggi. Kebijakan hilirisasi dinilai berhasil mendorong Indonesia naik dalam rantai nilai global.

    “Indonesia tidak lagi hanya menjadi pemasok bahan mentah. Negara ini mulai naik ke rantai nilai dengan mengubah sumber daya menjadi leverage industri,” jelasnya.

    Dari sisi stabilitas moneter, nilai tukar rupiah yang berada di kisaran Rp16.000 hingga Rp16.700 per dolar AS dinilai mencerminkan kondisi yang sehat dan terkendali. Shan menegaskan bahwa pasar lebih menghargai stabilitas dibandingkan sekadar kekuatan nominal mata uang.

    “Pasar bisa menerima depresiasi. Yang tidak bisa diterima adalah ketidakteraturan. Indonesia menawarkan stabilitas tersebut,” katanya.

    Selain itu, kebijakan fiskal Indonesia juga menunjukkan kehati-hatian yang tinggi. Dengan defisit anggaran sekitar 2,5% dari PDB dan rasio utang pemerintah di kisaran 40%, Indonesia dinilai menerapkan pengelolaan fiskal yang prudent dan berorientasi jangka panjang.

    “Ini bukan kebijakan yang reaktif. Ini kebijakan yang terukur dan antisipatif,” ujar Shan.

    Dalam konteks global, Shan menempatkan Indonesia sebagai bagian dari kategori “quality emerging markets”, yaitu negara berkembang yang mampu menjaga stabilitas dan ketahanan di tengah tekanan global.

    “Di dunia yang penuh volatilitas, kapital tidak lagi hanya mencari pertumbuhan. Kapital mencari konsistensi, disiplin, dan ketahanan. Indonesia telah menunjukkan itu,” pungkasnya.

    Dengan fondasi ekonomi yang semakin solid dan kebijakan yang konsisten, Indonesia kini berada pada posisi strategis untuk menarik lebih banyak investasi global, sekaligus memperkuat perannya sebagai kekuatan ekonomi baru di tingkat internasional.

  • Kemenkeu Yakin Ekonomi RI 2026 Tetap di Jalur 5,4 Persen

    Jakarta — Kementerian Keuangan (Kemenkeu) tetap optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran target pemerintah sebesar 5,4 persen, meski proyeksi Bank Dunia menunjukkan angka yang lebih rendah.

    Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu, Febrio Kacaribu, menegaskan keyakinan tersebut sejalan dengan fundamental ekonomi nasional yang dinilai masih kuat dan menarik bagi investor global.

    “Yakin (masih sesuai target 5,4 persen),” ujar Febrio saat ditemui di Jakarta. Ia menambahkan, perhatian Bank Dunia terhadap Indonesia justru menjadi sinyal positif bagi iklim investasi.

    “Mereka ingin memastikan bahwa ada investasi yang masuk ke Indonesia,” katanya.

    Dengan kombinasi konsumsi domestik yang kuat, stabilitas makroekonomi, serta upaya pemerintah menjaga iklim investasi, Kemenkeu yakin target pertumbuhan 5,4 persen masih realistis dicapai.

    “Yang penting kita bisa deliver dan itu menjadi kabar baik bagi investor,” tegas Febrio.

    Bank Dunia sebelumnya memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 menjadi sekitar 4,7 persen, turun dari perkiraan sebelumnya 4,8 persen. Revisi ini dipengaruhi oleh perlambatan ekonomi global, terutama akibat kenaikan harga energi dan ketegangan geopolitik. Namun, pemerintah menilai proyeksi tersebut terlalu konservatif.

    Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bahkan secara terbuka meragukan perhitungan lembaga internasional tersebut.

    “Saya pikir World Bank salah hitung,” kata Purbaya. Ia menilai asumsi yang digunakan Bank Dunia, khususnya terkait lonjakan harga minyak dunia, terlalu pesimistis terhadap prospek ekonomi Indonesia.

    Menteri yang memperoleh gelar Doktor dari Purdue University ini menilai bahwa langkah Bank Dunia seolah menghitung Indonesia mendekati fase resesi.vMenurutnya, jika harga energi kembali stabil, maka proyeksi pertumbuhan ekonomi juga akan berubah.

    “Kalau sebulan dari sini harga minyak turun, normal lagi, World Bank pasti akan berubah prediksinya,” ujarnya.

    Optimisme pemerintah juga didukung oleh kinerja ekonomi awal tahun. Purbaya menyebut pertumbuhan pada kuartal I-2026 berpotensi berada di kisaran 5,5 persen, mencerminkan daya tahan ekonomi domestik yang masih terjaga.

  • Pemerintah Optimistis Ekonomi Q2-2026 Melaju Lebih Kencang Didukung Program Prioritas

    JAKARTA — Pemerintah optimistis pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal II-2026 akan mengalami percepatan seiring implementasi program prioritas yang dinilai berjalan sesuai rencana dan mulai memberikan dampak nyata.

    Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyampaikan bahwa indikator awal ekonomi menunjukkan tren yang positif. Pemerintah saat ini masih menunggu rilis resmi data pertumbuhan kuartal I-2026 sebagai pijakan untuk melihat arah ekonomi ke depan.

    “Kalau saya lihat sih dari data-data yang ada sepertinya cukup baik bulan pertama. Itu saya pikir kalau di atas 5,5% kan sudah clear bahwa kita sudah betul-betul berbelok ekonominya,” ujar Purbaya.

    Ia menegaskan, pertumbuhan di atas 5,5% akan menjadi sinyal kuat bahwa ekonomi Indonesia mulai bergerak ke arah yang lebih positif. Kondisi tersebut diyakini mampu mendorong perubahan sentimen pelaku usaha dan investor.

    “Itu saya harapkan merubah sentimen para pelaku bisnis dan kita yakin dengan desain pembangunan sekarang harusnya ke depan kita akan lebih cepat lagi pertumbuhannya,” lanjutnya.

    Optimisme tersebut didukung oleh sejumlah indikator ekonomi, terutama dari sisi konsumsi. Survei konsumen, Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur, hingga peningkatan pembelian kendaraan bermotor menunjukkan perbaikan aktivitas ekonomi domestik.

    “Jadi bukan saya optimis, saya melihat data. Dan saya tahu apa yang saya masukkan ke sistem perekonomian supaya ekonominya bergerak. Data-data itu adalah dampak dari kebijakan di belakang,” tegasnya.

    Selain itu, pemerintah memastikan likuiditas ekonomi tetap terjaga melalui belanja negara yang dilakukan tepat waktu serta upaya berkelanjutan dalam memperbaiki iklim usaha.

    Di tengah optimisme pemerintah, sejumlah lembaga internasional justru memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada di bawah 5%. Organisation for Economic Co-operation and Development menurunkan proyeksi menjadi 4,8%, sementara World Bank memperkirakan pertumbuhan hanya 4,7% pada 2026.

    Revisi tersebut dipengaruhi oleh tekanan eksternal, seperti kenaikan harga minyak global dan meningkatnya ketidakpastian pasar keuangan akibat dinamika geopolitik global.

    Meski demikian, pemerintah tetap yakin bahwa fundamental ekonomi domestik yang kuat serta efektivitas kebijakan fiskal akan menjadi penopang utama. Dengan dukungan program prioritas yang berjalan optimal, percepatan pertumbuhan ekonomi pada kuartal II-2026 dinilai berada pada jalur yang realistis untuk dicapai.

  • Pemerintah Optimis Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal I 2026 Capai 5,5 Persen

    JAKARTA — Pemerintah menyatakan optimisme terhadap kinerja perekonomian Indonesia pada kuartal pertama tahun 2026. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menegaskan bahwa pertumbuhan ekonomi nasional diperkirakan mampu melampaui angka 5,5 persen pada periode Januari hingga Maret 2026.

    “Untuk kuartal pertama, kami optimis pertumbuhan akan mencapai setidaknya 5,5 persen. Pada akhir tahun, pertumbuhan diharapkan minimal 5,4 persen, sesuai dengan anggaran negara,” kata Airlangga.

    Pernyataan tersebut disampaikan Airlangga di tengah berbagai tantangan ekonomi global, termasuk ketidakpastian pasar keuangan dan dinamika perdagangan internasional yang terus berkembang.

    “Pemerintah mempertahankan asumsi pertumbuhan dasar untuk 2026 sekitar 5,4 persen, seperti yang tercantum dalam anggaran negara,” jelasnya.

    Pemerintah juga bersiap menyesuaikan kebijakan ekonomi nasional merespons gejolak harga energi dan gangguan rantai pasokan global yang dipicu konflik Timur Tengah, guna menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat Indonesia.

    “Setiap kenaikan US$1 dalam harga bahan bakar berdampak pada anggaran lebih dari enam triliun rupiah (US$351,55 juta). Dampak bersih, termasuk keuntungan ekspor dan subsidi, tetap dapat dikelola,” tutur Airlangga.

    Sementara itu, proyeksi pertumbuhan tersebut sejalan dengan target yang tercantum dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2026. Pemerintah menilai konsumsi domestik yang kuat, realisasi investasi yang terjaga, serta ekspor komoditas unggulan menjadi pilar utama penopang pertumbuhan ekonomi nasional.

    Menko Airlangga juga menekankan bahwa pemerintah terus berupaya menjaga stabilitas makroekonomi melalui berbagai kebijakan strategis, termasuk pengendalian inflasi, penguatan daya beli masyarakat, serta percepatan realisasi belanja negara yang berdampak langsung terhadap perekonomian riil.

    “Fundamental domestik yang kuat, terutama konsumsi rumah tangga, mendukung ekspektasi pertumbuhan,” katanya.

    Hingga akhir tahun 2026, pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi minimal 5,4 persen, angka yang dinilai realistis di tengah kondisi perekonomian global yang penuh ketidakpastian.

    Dengan optimisme pertumbuhan ekonomi minimal 5,5 persen di kuartal I dan 5,4 persen hingga akhir 2026, pemerintah menegaskan komitmennya menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah berbagai tekanan global. [-RWA]

  • Ketahanan Ekonomi Indonesia Tetap Kuat di Tengah Fluktuasi Global

    Jakarta- Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan bahwa penyesuaian proyeksi pertumbuhan oleh Bank Dunia mencerminkan dinamika global yang juga dialami banyak negara. Di tengah kondisi tersebut, ekonomi Indonesia dinilai tetap menunjukkan ketahanan karena mampu tumbuh di atas rata-rata global dengan dukungan sektor domestik dan kebijakan pemerintah yang adaptif.

    “Dengan situasi perang kan, ya mereka semua menurunkan (proyeksi) di berbagai wilayah,” ujar Airlangga.

    Airlangga menerangkan, proyeksi yang diberikan oleh Bank Dunia terhadap pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berada di atas pertumbuhan global rata-rata, yakni 3,4 persen. Ia optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bisa sesuai harapan.

    “Pertumbuhan global rata-rata kan 3,4 persen, tapi kalau Indonesia sendiri optimis karena nanti di kuartal I (2026) lihat saja hasilnya seperti apa,” ungkapnya.

    Terkait hal itu, nada positif juga disampaikan oleh Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin yang menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia masih berpotensi berada di atas proyeksi Bank Dunia. Meskipun, menurutnya, Indonesia sulit menembus level lima persen.

    “Saya rasa Indonesia akan tumbuh di atas proyeksi World Bank, tetapi sulit untuk bisa tembuh 5 persen,” tuturnya.

    Ia memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 masih berpotensi mencapai sekitar 5,5 persen karena ditopang oleh faktor musiman seperti momentum Natal dan Tahun Baru, Imlek, serta Lebaran.

    Namun di kuartal II hingga IV perekonomian Indonesia diprediksi menghadapi tekanan penurunan daya beli, pelemahan nilai tukar, peningkatan inflasi, dan ketidakpastian global yang membuat investor bersikap wait and see. Di samping itu, El Nino yang melanda Indonesia dapat memperburuk kondisi tersebut.

    Di tengah tantangan kondisi itu, Wijayanto menjelaskan pertumbuhan ekonomi pada 2026 menjadi sangat bergantung pada konsumsi domestik dengan sejumlah sektor bisa berperan sebagai motor pertumbuhan.

    “Sektor yang berpotensi menjadi motor pertumbuhan, antara lain perdagangan, keuangan, pertambangan dan hilirisasi, makanan-minuman, kesehatan, telekomunikasi, dan ritel,” jelasnya.

    Untuk diketahui, Bank Dunia dalam laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi April 2026 memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7 persen dari sebelumnya 4,8 persen pada Oktober 2025. Lembaga tersebut menyebut perlambatan dipengaruhi tekanan eksternal, terutama kenaikan harga minyak global serta meningkatnya kehati-hatian investor di pasar keuangan internasional.

    Meski demikian, Bank Dunia pun tetap yakin Indonesia masih memiliki penyangga ekonomi seperti ekspor komoditas dan inisiatif investasi pemerintah, yang dapat membantu meredam dampak kenaikan biaya energi dalam jangka pendek.

  • Ekonom : Meski Sulit, Ekonomi RI Masih Bisa Tumbuh Di Atas Proyeksi Bank Dunia

    Jakarta – Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 dinilai masih berpotensi berada di atas proyeksi Bank Dunia, meskipun sulit menembus level lima persen di tengah ketidakpastian global saat ini.

    “Saya rasa Indonesia akan tumbuh di atas proyeksi World Bank, tetapi sulit untuk bisa tembus lima persen,” kata Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, di Jakarta, beberapa waktu lalu.

    Sebelumnya, Bank Dunia memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7 persen dari 4,8 persen.

    Wijayanto memperkirakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I 2026 masih berpotensi mencapai sekitar 5,5 persen, karena aktivitas ekonomi terbantu oleh faktor musiman, seperti momentum Natal dan Tahun Baru, Imlek, serta Lebaran.

    Namun pada kuartal II hingga IV perekonomian Indonesia diperkirakan menghadapi tekanan dari penurunan daya beli, pelemahan nilai tukar, peningkatan inflasi, serta ketidakpastian global yang mendorong investor bersikap wait and see.

    Di samping itu ada potensi El Nino yang dapat memperburuk kondisi ekonomi.

    Ditambahkannya, pertumbuhan ekonomi pada 2026 sangat bergantung pada konsumsi domestik di tengah terbatasnya dorongan dari komponen lain seperti proyeksi investasi yang cenderung landai, belanja pemerintah yang terbatas, serta kinerja ekspor yang diperkirakan tidak mengalami lonjakan signifikan.

    Dalam kondisi ini, sejumlah sektor diperkirakan menjadi motor pertumbuhan.

    “Sektor yang berpotensi menjadi motor pertumbuhan, antara lain perdagangan, keuangan, pertambangan dan hilirisasi, makanan-minuman, kesehatan, telekomunikasi, dan ritel,” imbuhnya.

    Sementara itu, Menteri Koordinator (Menko) Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto merespons pemangkasan proyeksi pertumbuhan dari Bank Dunia. Menurutnya, revisi tersebut merupakan hal yang wajar di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global yang memengaruhi banyak negara.

    “Dengan situasi perang kan, ya mereka semua menurunkan (proyeksi) di berbagai wilayah,” ucap Airlangga.

    Airlangga menilai proyeksi ini masih tergolong optimistis karena berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi global.

    “Kita lihat angka itu juga masih di atas pertumbuhan global rata-rata. Pertumbuhan global rata-rata kan di 3,4 persen, tapi kalau Indonesia sendiri optimis karena nanti di kuartal I (2026) lihat aja hasilnya seperti apa,” ujarnya.

    Untuk diketahui, dalam laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi April 2026, Bank Dunia menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia menjadi 4,7 persen dari sebelumnya 4,8 persen pada Oktober 2025.

    Perlambatan ini dipengaruhi tekanan eksternal, terutama kenaikan harga minyak global serta meningkatnya kehati-hatian investor di pasar keuangan internasional.

    Meski demikian, Bank Dunia menilai Indonesia masih memiliki penyangga ekonomi, antara lain dari ekspor komoditas dan inisiatif investasi pemerintah, yang dapat membantu meredam dampak kenaikan biaya energi dalam jangka pendek. [*]

  • Belanja Negara Ekspansif Dinilai Jaga Momentum Pertumbuhan Ekonomi

    JAKARTA — Kinerja Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) pada triwulan I 2026 dinilai memberikan sinyal positif bagi perekonomian nasional. Peningkatan belanja negara yang diiringi pertumbuhan penerimaan dianggap mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi di tengah dinamika global.

    Ekonom sekaligus Direktur Eksekutif NEXT Indonesia Center, Christiantoko, menilai realisasi fiskal pada awal tahun ini mencerminkan kebijakan yang ekspansif namun tetap terjaga dalam koridor disiplin. “Perkembangan yang terjadi saat ini memberikan sinyal positif. Penyerapan belanja pemerintah naik, penerimaan negara juga tumbuh tinggi, sehingga gairah pergerakan ekonomi memberikan harapan baik ke depan,” ujarnya.

    Data Kementerian Keuangan mencatat realisasi penerimaan negara hingga akhir Maret 2026 mencapai Rp574,9 triliun atau tumbuh 10,5 persen secara tahunan. Kinerja tersebut ditopang oleh penerimaan pajak yang meningkat 20,7 persen menjadi Rp394,8 triliun. “Pencapaian ini memberikan ruang fiskal yang lebih sehat untuk menopang belanja yang meningkat,” kata Christiantoko.

    Christiantoko menjelaskan, pemerintah secara aktif terus mengakselerasi belanja negara sebagai instrumen untuk mendorong pertumbuhan ekonomi domestik. Realisasi belanja pada triwulan I 2026 telah mencapai 21,2 persen dari target tahunan, lebih tinggi dibandingkan rata-rata historis sekitar 17 persen.

    “Belanja yang meningkat dibandingkan tahun sebelumnya menunjukkan adanya upaya ekspansif yang memang diperlukan, terutama di awal tahun, untuk menjaga momentum pemulihan dan memperkuat daya dorong ekonomi domestik,” ucapnya.

    Peningkatan belanja tersebut antara lain didorong oleh pelaksanaan program strategis seperti Makan Bergizi Gratis (MBG), serta faktor musiman seperti momentum Hari Raya Idulfitri. Selain itu, pemerintah juga menggelontorkan paket stimulus senilai Rp15 triliun guna menjaga konsumsi masyarakat, termasuk bantuan pangan, diskon transportasi, serta penyaluran Tunjangan Hari Raya (THR) bagi aparatur negara.

    “Belanja pemerintah yang lebih tinggi menjadi pendorong penting untuk menjaga daya beli dan memperkuat perputaran ekonomi,” kata Christiantoko.

    Di sisi lain, komitmen menjaga disiplin fiskal tetap menjadi perhatian utama. Pemerintah mempertahankan target defisit di bawah 3 persen terhadap PDB guna menjaga kredibilitas kebijakan fiskal. “Dengan demikian, defisit sebesar 0,93 persen pada triwulan I 2026 harus dilihat sebagai bagian dari strategi kebijakan fiskal yang terukur. Selama dikelola secara hati-hati dan tetap dalam batas yang telah ditetapkan, langkah ini justru berpotensi memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi ke depan,” ujarnya.

    Kebijakan belanja negara ini patut diapresiasi sebagai langkah strategis pemerintah dalam menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi nasional. Dengan tetap mengedepankan disiplin fiskal dan pengelolaan defisit yang berhati-hati, kebijakan ini tidak hanya memperkuat daya beli masyarakat dalam jangka pendek, tetapi juga membangun fondasi ekonomi yang lebih kokoh dan berkelanjutan ke depan. (*)

  • Pakar Sebut Ekonomi RI Tahan Guncangan Global, Permintaan Domestik Jadi Andalan

    JAKARTA — Di tengah ketidakpastian global akibat konflik geopolitik dan tekanan ekonomi dunia, perekonomian Indonesia dinilai tetap tangguh dengan ditopang kuatnya permintaan domestik. Kondisi ini diharapkan mampu menjaga stabilitas ekonomi nasional sekaligus memberikan rasa tenang bagi masyarakat.

    Kepala Ekonomi Asian Development Bank, Albert Park, menyampaikan bahwa kawasan Asia Pasifik memang menghadapi perlambatan pertumbuhan akibat dinamika global, termasuk konflik di Timur Tengah.

    “Konflik berkepanjangan di Timur Tengah menjadi risiko terbesar proyeksi pertumbuhan ekonomi di kawasan ini. Karena konflik menyebabkan tingginya harga energi dan pangan, kondisi keuangan juga lebih ketat,” kata Albert Park.

    Meski demikian, Indonesia justru menunjukkan ketahanan yang relatif lebih kuat dibandingkan negara lain di kawasan. ADB memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia mencapai 5,2 persen pada 2026, meningkat dari 5,1 persen pada 2025.
    Menurut Park, ketahanan ini ditopang oleh faktor domestik yang solid.

    “Ketangguhannya didukung permintaan domestik yang masih bagus, pasar tenaga kerja yang stabil dan pengeluaran infrastruktur publik yang lebih tinggi,” ujarnya.

    Optimisme terhadap ekonomi nasional juga disampaikan pemerintah. Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat Abdul Muhaimin Iskandar menegaskan fondasi ekonomi Indonesia tetap kuat menghadapi gejolak global.

    “Kita optimistis dan sudah menunjukkan fakta bahwa ekonomi kita kuat menghadapi berbagai kondisi global terutama perang. Insya Allah kita akan bekerja total untuk kita memiliki daya tahan atau daya kekuatan menghadapi krisis yang terjadi di tingkat global terutama akibat perang. Kita kuat, fondasi ekonomi kuat,” ujarnya.

    Dari sisi domestik, tingkat kepercayaan masyarakat juga tetap terjaga. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menyebut optimisme konsumen masih berada pada level tinggi.

    “Survei Konsumen Bank Indonesia pada Maret 2026 mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap kuat. Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen Maret 2026 yang berada pada level optimis sebesar 122,9,” ujarnya.

    Sejumlah ekonom juga melihat peluang di tengah tekanan global. Ekonom INDEF Didik J. Rachbini menilai kondisi krisis justru dapat dimanfaatkan sebagai momentum transformasi ekonomi.

    “Krisis ini bagi pemerintah yang cerdas justru menjadi peluang untuk transformasi menuju pertumbuhan 6-7 persen,” katanya.

    Dengan kombinasi permintaan domestik yang kuat, kebijakan pemerintah yang adaptif, serta optimisme pelaku ekonomi, Indonesia dinilai memiliki fondasi yang kokoh untuk menjaga pertumbuhan dan stabilitas di tengah dinamika global.

    Kondisi ini sekaligus menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia tidak hanya mampu bertahan, tetapi juga berpeluang terus tumbuh secara berkelanjutan.

  • Ekonom: Tambang dan CPO Indonesia Jadi Pemenang di Tengah Krisis Global

    Jakarta – Lonjakan harga minyak global akibat konflik geopolitik memicu kekhawatiran terhadap tekanan ekonomi domestik. Namun di balik sentimen tersebut, ekonom menilai ada sektor-sektor yang justru diuntungkan, terutama pertambangan dan crude palm oil (CPO), yang berpotensi menjadi “pemenang” saat krisis.

    Ekonom INDEF sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Prof Didik J Rachbini, menilai krisis energi tidak selalu identik dengan ancaman. Ia menyoroti bahwa respons publik terhadap gejolak harga minyak kerap berlebihan.

    “Diskusi di media sosial dan media online tentang dampak krisis harga minyak karena perang AS-Israel vs Iran seperti mau kiamat,” ujarnya.

    Menurut Didik, perspektif dalam melihat krisis perlu diubah agar tidak hanya fokus pada risiko.

    “Perspektif kita harus out of the box dengan melihat bahwa di balik krisis juga ada peluang,” katanya.

    Ia menjelaskan, struktur ekonomi Indonesia yang masih ditopang sumber daya alam menjadi keunggulan saat terjadi guncangan global. Sektor pertambangan seperti batubara, minyak dan gas, panas bumi, serta komoditas logam seperti nikel dan bauksit dinilai memiliki ketahanan tinggi. Sementara itu, sektor perkebunan seperti CPO juga ikut terdongkrak.

    “Namun di balik tekanan tersebut terdapat sejumlah sektor yang justru menunjukkan ketahanan resilience bahkan menjadi pemenang winner dalam kondisi tersebut,” jelasnya.

    Menurut Didik, keunggulan sektor tersebut terletak pada biaya produksi berbasis domestik, sementara pendapatan berasal dari ekspor dalam mata uang asing. Kondisi ini membuat kinerja sektor tersebut cenderung menguat saat rupiah melemah.

    “Semua sektor tersebut basis inputnya domestik rupiah tetapi outputnya ekspor menghasilkan valuta asing dolar yen atau yuan,” katanya.

    Ia menambahkan, sektor batubara dapat menjadi substitusi energi dalam jangka pendek, sementara komoditas logam seperti nikel dan bauksit tetap kuat didorong tingginya permintaan industri global. Di sisi lain, CPO dinilai memiliki peran strategis sebagai alternatif energi.

    “Produk CPO berperan strategis sebagai substitusi energi biofuel,” ujarnya.

    Didik juga menekankan pentingnya strategi fiskal yang adaptif untuk memanfaatkan windfall profit dari sektor-sektor tersebut guna memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

    Sejalan dengan itu, Bank Dunia menilai kebijakan hilirisasi tambang Indonesia memiliki potensi besar dalam meningkatkan nilai tambah ekonomi. Laporan World Bank East Asia and Pacific Economic Update April 2026 mencatat kebijakan pembatasan ekspor bahan mentah telah mendorong pertumbuhan produksi dan ekspor, khususnya pada komoditas nikel.

    “Data menunjukkan bahwa pelarangan ekspor berkontribusi terhadap pesatnya pertumbuhan produksi dan ekspor Indonesia di produk-produk nikel serta penanaman modal asing di ekstraksi dan pengolahan nikel,” jelas Bank Dunia.

    Dengan kombinasi kebijakan yang tepat, krisis energi dinilai tidak hanya menjadi tekanan, tetapi juga peluang untuk memperkuat peran sektor tambang dan CPO sebagai penopang utama ekonomi nasional. #