Penulis: restiana818@gmail.com

  • Optimisme Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Tetap Terjaga di Tengah Dinamika Global

    Jakarta – Di tengah meningkatnya ketidakpastian ekonomi global, prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 tetap menunjukkan sinyal positif. Berbagai indikator menunjukkan bahwa fundamental ekonomi nasional masih cukup kuat untuk menopang pertumbuhan, meskipun tekanan eksternal seperti ketegangan geopolitik, fluktuasi harga energi, dan kehati-hatian investor global terus membayangi.

    Ekonom Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin, mengatakan pihaknya optimis terhadap performa ekonomi nasional ke depan. Menurutnya, Indonesia memiliki modalitas yang cukup kuat untuk menepis dampak perlambatan ekonomi global melalui penguatan mesin ekonomi di dalam negeri.

    “Pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun 2026 berpotensi melampaui proyeksi Bank Dunia, meskipun sulit mencapai lima persen,” ujar Wijayanto.

    Bank Dunia sebelumnya memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia dari 4,8 persen menjadi 4,7 persen. Namun, Wijayanto memperkirakan pertumbuhan pada kuartal I 2026 bisa mencapai 5,5 persen berkat dukungan faktor musiman seperti Natal, Tahun Baru, Imlek, dan Lebaran.

    Namun demikian, tekanan ekonomi diprediksi meningkat pada kuartal II hingga IV, dipengaruhi oleh penurunan daya beli, pelemahan nilai tukar, peningkatan inflasi, dan ketidakpastian global yang membuat investor bersikap wait and see. Potensi El Nino juga dapat memperburuk situasi ekonomi.

    Menurut Wijayanto, pertumbuhan ekonomi pada 2026 sangat bergantung pada konsumsi domestik karena dorongan dari komponen lain seperti investasi, belanja pemerintah, dan ekspor diperkirakan terbatas.

    “Beberapa sektor yang diprediksi menjadi penggerak pertumbuhan meliputi perdagangan, keuangan, pertambangan dan hilirisasi, makanan-minuman, kesehatan, telekomunikasi, dan ritel,” kata Wijayanto.

    Sebelumnya, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menanggapi revisi proyeksi pertumbuhan ekonomi oleh Bank Dunia. Ia menyebutkan bahwa penurunan tersebut wajar di tengah ketegangan geopolitik global yang memengaruhi banyak negara. Airlangga menilai proyeksi tersebut masih optimistis karena berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi global yang 3,4 persen.

    Bank Dunia dalam laporan East Asia and Pacific Economic Update edisi April 2026 menyatakan perlambatan ini dipengaruhi oleh tekanan eksternal seperti kenaikan harga minyak global dan kehati-hatian investor di pasar keuangan internasional. Meski demikian, Indonesia masih memiliki penyangga ekonomi seperti ekspor komoditas dan inisiatif investasi pemerintah yang dapat membantu meredam dampak kenaikan biaya energi dalam jangka pendek.

    Pemerintah optimistis bahwa Indonesia mampu menjaga momentum pertumbuhan di atas rata-rata global. Kombinasi antara konsumsi domestik yang kuat, peran sektor strategis, serta kebijakan ekonomi yang adaptif menjadi faktor kunci dalam menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi nasional.

    Dengan fondasi tersebut, Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga tumbuh secara berkelanjutan di tengah dinamika ekonomi global yang semakin kompleks.

  • Ketahanan Ekonomi Indonesia Menguat di Tengah Dinamika Global

    Jakarta – Perekonomian Indonesia terus menunjukkan ketahanan yang kokoh di tengah dinamika global, termasuk lonjakan harga minyak dunia akibat ketegangan geopolitik. Situasi ini justru menjadi peluang strategis untuk memperkuat struktur ekonomi nasional berbasis sumber daya alam (SDA) serta meningkatkan daya saing Indonesia di tingkat global.

    Ekonom dari INDEF sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Didik J. Rachbini, menegaskan bahwa Indonesia memiliki fondasi ekonomi yang kuat dan adaptif dalam menghadapi berbagai gejolak global. Ia menilai, cara pandang optimistis menjadi kunci dalam memanfaatkan momentum yang ada.

    “Diskusi di media sosial dan media online tentang dampak krisis harga minyak karena perang AS-Israel vs Iran seperti mau kiamat. Perspektif kita harus out of the box dengan melihat bahwa di balik krisis juga ada peluang,” ujarnya.

    Menurut Didik, keunggulan Indonesia terletak pada kekayaan sumber daya alam yang mampu menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi. Sektor pertambangan seperti batubara, minyak dan gas, serta komoditas logam seperti nikel dan bauksit dinilai memiliki potensi besar untuk terus berkembang.

    “Kita harus memanfaatkan penguatan sektor natural hedge sumber daya alam Indonesia sebagai kekuatan ekonomi nasional,” tegasnya.

    Selain itu, sektor perkebunan seperti crude palm oil (CPO) juga memiliki peran strategis dalam mendukung ketahanan energi global melalui pengembangan biofuel. Kondisi ini semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu pemain kunci dalam rantai pasok energi dan komoditas dunia.

    “Semua sektor tersebut basis inputnya domestik, sementara outputnya menghasilkan devisa dalam mata uang asing,” jelas Didik.

    Ia menambahkan bahwa momentum ini perlu dimanfaatkan untuk mempercepat hilirisasi industri guna meningkatkan nilai tambah komoditas nasional. Dengan strategi yang tepat, Indonesia berpeluang mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi dan berkelanjutan.

    “Krisis ini bagi pemerintah yang cerdas justru menjadi peluang untuk transformasi menuju pertumbuhan yang lebih kuat,” katanya.

    Dengan kebijakan yang adaptif dan pemanfaatan potensi nasional secara optimal, Indonesia dinilai mampu menjaga stabilitas sekaligus memperkuat posisinya sebagai negara dengan ekonomi yang tangguh, resilien, dan kompetitif di tengah tantangan global.

  • Optimisme Masyarakat: Ekonomi Indonesia Tetap Terjaga Kuat

    Optimisme masyarakat terhadap ekonomi Indonesia pada Maret 2026 tetap terjaga kuat, didukung oleh Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) sebesar 122,9, yang berada di zona optimistis (di atas 100).

    Keyakinan ini didorong oleh persepsi positif terhadap kondisi ekonomi saat ini (IKE 115,4) dan ekspektasi yang kuat (IEK 130,4) untuk enam bulan ke depan, meskipun ada kehati-hatian terhadap ketidakpastian lapangan kerja.

    Proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal pertama tahun 2026 mencapai 5,5 – 5,6 persen. Pertumbuhan ekonomi kuartal I/2026 didorong oleh sektor pertanian dan konsumsi rumah tangga yang masih kuat.

    Pemerintah optimistis ekonomi nasional bisa tumbuh sebesar 5,5 persen di tahun 2026. Direktur Jenderal Strategi Ekonomi Dan Fiskal Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kacaribu di Jakarta, Kamis (9/4) menyebut ada sejumlah faktor yang mendorong pertumbuhan ekonomi nasional, salah satunya ditopang oleh sektor pertanian.

    Bank Indonesia (BI) melaporkan bahwa keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi nasional masih terjaga pada level yang kuat.

    Hasil Survei Konsumen Bank Indonesia pada periode Maret 2026 menunjukkan angka tetap berada di zona optimis.

    Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia Ramdan Denny Prakoso menegaskan bahwa optimisme ini terlihat dari angka Indeks Keyakinan Konsumen atau IKK yang berada jauh di atas ambang batas 100.

    “Survei Konsumen Bank Indonesia pada Maret 2026 mengindikasikan keyakinan konsumen terhadap kondisi ekonomi tetap kuat. Hal ini tercermin dari Indeks Keyakinan Konsumen Maret 2026 yang berada pada level optimis sebesar 122,9,” ujar Ramdan Denny Prakoso dalam keterangan tertulisnya di Jakarta (10/4/2026).

    Kekuatan keyakinan konsumen tersebut ditopang oleh dua faktor utama, yaitu penilaian terhadap kondisi ekonomi saat ini serta ekspektasi masyarakat untuk jangka waktu 6 bulan mendatang.

    “Tetap kuatnya keyakinan konsumen pada Maret 2026 dipengaruhi oleh keyakinan pada kondisi ekonomi saat ini dan 6 bulan ke depan,” tuturnya.

    Ekonom Universitas Paramadina Wijayanto Samirin menilai pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 masih berpotensi berada di atas proyeksi Bank Dunia, meskipun sulit menembus level lima persen di tengah ketidakpastian global saat ini.

    “Saya rasa Indonesia akan tumbuh di atas proyeksi World Bank, tetapi sulit untuk bisa tembus lima persen,” kata.

    Lebih lanjut Wijayanto menerangkan pertumbuhan ekonomi pada 2026 sangat bergantung pada konsumsi domestik di tengah terbatasnya dorongan dari komponen lain seperti proyeksi investasi yang cenderung landai, belanja pemerintah yang terbatas, serta kinerja ekspor yang diperkirakan tidak mengalami lonjakan signifikan.

  • Ekonomi Indonesia Berpotensi Tumbuh 6–7 Persen di Momentum Krisis Energi Global

    JAKARTA – Lonjakan harga minyak global akibat dinamika geopolitik kembali menjadi perhatian. Namun di tengah tekanan tersebut, arah kebijakan nasional dinilai mampu menjaga stabilitas sekaligus membuka peluang baru bagi pertumbuhan ekonomi. Krisis energi kini dipandang sebagai momentum untuk mengoptimalkan kekuatan sektor domestik.

    Ekonom INDEF sekaligus Rektor Universitas Paramadina, Prof Didik J Rachbini, menilai respons terhadap krisis perlu tetap rasional dan berbasis pengalaman ekonomi Indonesia.

    “Diskusi di media sosial dan media online tentang dampak krisis harga minyak karena perang AS-Israel vs Iran cenderung berlebihan. Padahal dalam sejarahnya Indonesia sudah beberapa kali menghadapi situasi serupa dan tetap mampu menjaga stabilitas ekonomi dengan memanfaatkan kekuatan domestik,” ujar Didik J Rachbini.

    Fundamental ekonomi yang kuat dinilai menjadi modal utama. Indonesia memiliki keunggulan pada sektor sumber daya alam yang justru diuntungkan saat harga energi global meningkat, terutama pada komoditas ekspor.

    Menurut Didik J Rachbini, krisis perlu dilihat sebagai peluang strategis untuk mendorong pertumbuhan.

    “Perspektif kita harus out of the box dengan melihat bahwa di balik krisis terdapat peluang besar, khususnya bagi negara yang memiliki basis sumber daya alam kuat seperti Indonesia,” tegas Didik J Rachbini.

    Sektor seperti batubara, migas, panas bumi, hingga logam strategis dan perkebunan dinilai memiliki daya tahan tinggi. Struktur biaya domestik dan pendapatan ekspor dalam valuta asing membuat sektor ini mampu menjadi penopang ekonomi.

    “Semua sektor tersebut basis inputnya domestik rupiah tetapi outputnya ekspor menghasilkan devisa, sehingga mampu menjadi bantalan kuat ketika terjadi tekanan global,” jelas Didik J Rachbini.

    Selain itu, pengembangan energi alternatif seperti biofuel berbasis CPO turut memperkuat ketahanan energi nasional.

    “Produk CPO berperan strategis sebagai substitusi energi biofuel yang mendukung ketahanan energi sekaligus meningkatkan nilai tambah,” pungkas Didik J Rachbini.

    Permintaan global terhadap komoditas logam juga diperkirakan tetap tinggi, terutama untuk kebutuhan industri masa depan seperti kendaraan listrik.

    “Permintaan komoditas tetap tinggi bahkan meningkat saat krisis untuk memenuhi kebutuhan industri global, sehingga prospeknya tetap sangat kuat,” ungkap Didik J Rachbini.

    Dengan penguatan hilirisasi dan kebijakan fiskal yang adaptif, peluang mendorong pertumbuhan ekonomi semakin terbuka lebar.

    “Krisis ini bagi pemerintah yang cerdas justru menjadi peluang untuk mendorong transformasi ekonomi sehingga pertumbuhan 6 hingga 7 persen dapat dicapai,” tutup Didik J Rachbini. (*)

  • Rupiah Terkendali, Respons Kebijakan Jadi Kunci

    Oleh : Gavin Asadit )*

    Stabilitas nilai tukar rupiah pada 2026 menjadi salah satu indikator utama dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah dinamika global yang masih penuh ketidakpastian. Pemerintah bersama otoritas moneter terus menunjukkan respons kebijakan yang adaptif dan terukur untuk memastikan pergerakan rupiah tetap berada dalam kondisi terkendali. Pendekatan ini dinilai penting dalam menjaga kepercayaan pasar, memperkuat stabilitas makroekonomi, serta mendukung kesinambungan pertumbuhan ekonomi nasional.

    Sepanjang tahun 2026, tekanan terhadap nilai tukar rupiah masih dipengaruhi oleh sejumlah faktor eksternal, antara lain kebijakan suku bunga global yang cenderung tinggi, penguatan dolar Amerika Serikat, serta ketidakpastian geopolitik di berbagai kawasan. Kondisi tersebut turut memberikan tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Meski demikian, pemerintah menilai bahwa fundamental ekonomi nasional tetap kuat dan mampu menjadi bantalan dalam meredam gejolak eksternal.

    Presiden RI, Prabowo Subianto memandang stabilitas nilai tukar sebagai bagian integral dari ketahanan ekonomi nasional. Ia menekankan bahwa pengendalian rupiah tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan melalui sinergi kebijakan yang kuat antara pemerintah dan otoritas moneter. Dalam pandangannya, stabilitas rupiah menjadi faktor penting dalam menciptakan kepastian bagi pelaku usaha, menjaga iklim investasi, serta mendukung daya saing ekonomi nasional.

    Peran Bank Indonesia menjadi sangat krusial dalam menjaga stabilitas nilai tukar melalui bauran kebijakan moneter yang responsif. Bank Indonesia secara konsisten melakukan intervensi di pasar valuta asing, mengelola likuiditas perbankan, serta mengoptimalkan kebijakan suku bunga untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi.

    Gubernur Bank Indonesia, Perry Warjiyo menilai bahwa stabilitas rupiah merupakan hasil dari koordinasi kebijakan yang erat dan berkelanjutan. Ia menekankan bahwa pendekatan kebijakan dilakukan secara pre-emptive dan forward looking guna mengantisipasi potensi tekanan global serta menjaga kepercayaan pasar terhadap perekonomian Indonesia.

    Di sisi fiskal, pemerintah terus memastikan kebijakan anggaran berjalan secara pruden, kredibel, dan adaptif. Pengelolaan fiskal yang sehat menjadi salah satu faktor utama dalam menjaga stabilitas ekonomi secara keseluruhan. Pemerintah berupaya menjaga keseimbangan antara belanja produktif dan pengendalian defisit agar tetap berada dalam batas aman.

    Sementara itu, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa memandang bahwa kekuatan fundamental ekonomi domestik menjadi penopang utama stabilitas rupiah di tengah tekanan global. Ia menilai bahwa penguatan penerimaan negara, pengendalian defisit, serta efektivitas belanja pemerintah menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan investor dan stabilitas makroekonomi.

    Koordinasi antara pemerintah dan Bank Indonesia juga diperkuat melalui Komite Stabilitas Sistem Keuangan. Forum ini menjadi wadah penting dalam memastikan respons kebijakan yang cepat, terintegrasi, dan tepat sasaran dalam menghadapi potensi risiko di sektor keuangan. Sinergi antar lembaga ini dinilai menjadi salah satu kunci keberhasilan dalam menjaga stabilitas rupiah sepanjang 2026.

    Dari sisi eksternal, kinerja neraca perdagangan yang masih mencatatkan surplus turut memberikan dukungan terhadap stabilitas nilai tukar. Pemerintah terus mendorong hilirisasi industri, peningkatan nilai tambah komoditas, serta diversifikasi pasar ekspor untuk memperkuat ketahanan sektor eksternal.

    Selain itu, pemerintah juga aktif memperluas kerja sama internasional dalam rangka memperkuat stabilitas ekonomi. Salah satu langkah yang terus didorong adalah penggunaan mata uang lokal dalam transaksi bilateral. Kebijakan ini diharapkan dapat mengurangi ketergantungan terhadap mata uang asing tertentu serta meningkatkan ketahanan sistem keuangan nasional.

    Pemerintah juga memberikan perhatian terhadap stabilitas sektor keuangan domestik sebagai bagian dari upaya menjaga nilai tukar. Penguatan perbankan, pengawasan sektor jasa keuangan, serta peningkatan inklusi keuangan menjadi bagian dari strategi yang dijalankan secara paralel.

    Meskipun berbagai indikator menunjukkan kondisi yang relatif stabil, pemerintah tetap mewaspadai berbagai potensi risiko yang dapat memengaruhi nilai tukar rupiah ke depan. Ketidakpastian global, fluktuasi harga komoditas, serta dinamika pasar keuangan internasional menjadi faktor yang terus dipantau secara intensif.

    Stabilitas rupiah tidak hanya berdampak pada sektor keuangan, tetapi juga memiliki implikasi luas terhadap kegiatan ekonomi masyarakat. Nilai tukar yang terkendali memberikan kepastian bagi dunia usaha dalam merencanakan investasi dan produksi, serta membantu menjaga daya beli masyarakat melalui stabilitas harga.

    Ke depan, pemerintah optimistis bahwa stabilitas rupiah dapat terus dijaga melalui penguatan fundamental ekonomi dan sinergi kebijakan yang konsisten. Kombinasi antara kebijakan fiskal yang pruden dan kebijakan moneter yang responsif diyakini mampu menjaga ketahanan ekonomi nasional di tengah tekanan global.

    Melalui berbagai langkah strategis tersebut, pemerintah menegaskan komitmennya dalam menjaga stabilitas rupiah sebagai bagian dari fondasi pembangunan nasional. Rupiah yang terkendali tidak hanya mencerminkan kekuatan ekonomi Indonesia, tetapi juga menjadi elemen penting dalam mewujudkan pertumbuhan yang inklusif, berkelanjutan, dan berdaya saing tinggi di tingkat global.

    )* Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial dan Kemasyarakatan

  • Dampak Global Diantisipasi, Pemerintah Pastikan Stabilitas Ekonomi dan Rupiah Terjaga

    Jakarta – Pemerintah menegaskan bahwa stabilitas ekonomi nasional tetap berada dalam kondisi terjaga meskipun dunia tengah dihadapkan pada ketidakpastian akibat eskalasi geopolitik dan meningkatnya volatilitas pasar keuangan global.

    Berbagai indikator makroekonomi menunjukkan resiliensi yang kuat, didukung oleh koordinasi kebijakan yang solid antarotoritas serta langkah antisipatif yang terukur.

    Dalam konteks ini, pemerintah memastikan bahwa dampak global dapat dikelola secara efektif tanpa mengganggu momentum pertumbuhan ekonomi domestik.

    Juru Bicara Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Haryo Limanseto, menyampaikan bahwa kondisi makroekonomi Indonesia saat ini masih berada pada jalur yang stabil dan terkendali.

    Ia menekankan bahwa pemerintah terus mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam merespons dinamika global yang penuh ketidakpastian.

    “Kami akan terus menjaga stabilitas dan memastikan kebijakan yang diambil adaptif terhadap perkembangan global, sehingga perekonomian nasional tetap tumbuh positif dan berkelanjutan,” ujar Haryo.

    Menurutnya, respons kebijakan yang adaptif dan terukur menjadi kunci dalam menjaga daya tahan ekonomi nasional di tengah tekanan eksternal.

    Sejalan dengan hal tersebut, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa penguatan fondasi ekonomi domestik menjadi faktor utama dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.

    Ia menjelaskan bahwa selama fundamental ekonomi tetap kuat, volatilitas nilai tukar dapat dikendalikan secara efektif.

    “Pemantauan terhadap pergerakan nilai tukar juga dilakukan secara ketat guna mengantisipasi potensi gejolak,” ujarnya.

    Lebih lanjut, Purbaya menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas pasar keuangan.

    “Jika kondisi ekonomi domestik terjaga dan likuiditas sistem keuangan tetap kuat, tekanan terhadap nilai tukar dapat dikendalikan dengan lebih baik. Dengan pemantauan yang berkelanjutan, pemerintah optimistis stabilitas rupiah dapat tetap terjaga di tengah dinamika ekonomi dunia,” katanya.

    Sementara itu, Bank Indonesia juga menunjukkan optimisme terhadap ketahanan eksternal Indonesia. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, mengungkapkan bahwa posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Maret 2026 masih berada pada level tinggi dan melampaui standar kecukupan internasional.

    “Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” ujarnya.

    Ia menambahkan bahwa cadangan devisa yang memadai memberikan ruang intervensi yang cukup bagi otoritas moneter dalam meredam gejolak pasar.

    Lebih jauh, prospek masuknya aliran modal asing juga dinilai tetap terbuka seiring persepsi positif investor terhadap ekonomi Indonesia. Imbal hasil investasi yang kompetitif serta stabilitas kebijakan menjadi daya tarik tersendiri di tengah ketidakpastian global.

  • Tekanan Global Tak Goyahkan Komitmen Pemerintah Jaga Rupiah

    Jakarta – Pemerintah menegaskan komitmennya dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah tekanan global yang masih berlangsung. Di tengah dinamika pasar keuangan internasional, langkah-langkah strategis terus ditempuh melalui koordinasi lintas sektor guna memastikan fundamental ekonomi nasional tetap kuat.

    Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyampaikan bahwa stabilitas ekonomi, termasuk nilai tukar rupiah, menjadi prioritas utama pemerintah dalam menjaga kepercayaan publik dan dunia usaha. Ia menekankan pentingnya kesiapan menghadapi gejolak global dengan kebijakan yang terukur. “Kita harus memastikan ekonomi nasional tetap stabil dan kuat, termasuk menjaga nilai rupiah agar tetap terkendali,” ujarnya.

    Presiden Prabowo juga menegaskan bahwa sinergi antar lembaga menjadi kunci dalam merespons tekanan global secara efektif. “Kolaborasi yang kuat antar lembaga akan memastikan setiap kebijakan berjalan optimal dan tepat sasaran,” tegasnya.

    Sementara itu, pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat tercatat melemah pada Kamis (9/4/2026). Mata uang Garuda dibuka di level Rp17.038 per dolar AS atau melemah 0,16% dibanding penutupan sebelumnya. Meski demikian, pemerintah memastikan kondisi tersebut masih dalam koridor yang telah diperhitungkan.

    Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Febrio Kacaribu, menegaskan bahwa level nilai tukar saat ini sudah masuk dalam asumsi pemerintah. “Itu sudah masuk dalam pertimbangan kita, kita tidak masalah,” kata Febrio.

    Ia juga memastikan bahwa dampak pelemahan rupiah terhadap belanja negara akan dihitung secara cermat. “Kita pasti akan hitung dampaknya terhadap harga-harga yang kita asumsikan dalam belanja itu sudah masuk,” katanya.

    Di sisi lain, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa pemerintah terus memperkuat bauran kebijakan fiskal guna menjaga stabilitas makroekonomi. Menurutnya, pengelolaan anggaran dilakukan secara hati-hati namun tetap mendorong pertumbuhan. “Kami memastikan kebijakan fiskal tetap kredibel dan mampu menjaga stabilitas ekonomi, termasuk nilai tukar rupiah,” ujarnya.

    Dengan koordinasi yang solid dan kebijakan yang adaptif, pemerintah optimistis stabilitas rupiah tetap terjaga di tengah tekanan global.***

  • Skema Pendanaan Koperasi Merah Putih Disempurnakan untuk Efektivitas Program

    Jakarta – Pemerintah memastikan program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih berjalan semakin efektif, akuntabel, dan berdampak langsung bagi masyarakat desa melalui penyempurnaan PMK Nomor 15 Tahun 2026 sebagai wujud keberpihakan pada penguatan ekonomi akar rumput, sekaligus menjawab kebutuhan percepatan pembangunan infrastruktur koperasi secara terarah dan berkelanjutan.

    Dalam skema baru ini, kewajiban cicilan pembiayaan pembangunan fisik gerai, pergudangan, dan kelengkapan operasional tidak lagi dibebankan langsung kepada koperasi, tetapi diambil alih melalui mekanisme dana transfer ke daerah seperti DAU, DBH, dan Dana Desa. Kebijakan ini dinilai memperkuat fondasi kelembagaan koperasi agar dapat fokus pada pengembangan usaha dan pelayanan masyarakat.

    Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa perubahan skema ini merupakan bentuk penyempurnaan tata kelola agar program nasional tersebut berjalan lebih efektif dan tidak membebani koperasi yang baru tumbuh.

    “Perlu diatur tata kelola dalam penyaluran dana alokasi umum/dana bagi hasil atau dana desa untuk pembayaran seluruh kewajiban yang timbul atas pelaksanaan kegiatan percepatan pembangunan fisik gerai, pergudangan, dan kelengkapan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih,” ujar Purbaya.

    Pernyataan ini menegaskan komitmen pemerintah untuk memastikan aspek fiskal program tertata rapi sekaligus menjaga keberlanjutan jangka panjang.

    Dari sisi penguatan ekosistem pembiayaan, Wakil Menteri Koperasi Farida Farichah menekankan pentingnya kolaborasi antara Kopdes Merah Putih dengan koperasi yang sudah mapan.

    “Koperasi eksisting memiliki pengalaman dan sistem yang kuat untuk mendampingi Kopdes Merah Putih. Sinergi ini krusial agar masyarakat di tingkat desa bisa merasakan manfaat langsung dari program pemerintah,” kata Farida.

    Ia juga menambahkan bahwa pemerintah tengah mengkaji skema pembiayaan mikro berbunga rendah agar akses modal usaha masyarakat desa semakin terjangkau.

    “Kami sedang mengkaji agar bunga 6% itu benar-benar sampai dan diterima di masyarakat. Masukan dari para praktisi koperasi seperti BMT Al-Fath sangat penting bagi kami untuk mengawal kebijakan LPDB ini agar tepat sasaran,” tambah Farida.

    Skema ini dinilai relevan dengan situasi terkini, ketika masyarakat desa membutuhkan pembiayaan murah dan legal untuk mengembangkan usaha produktif tanpa terjebak pinjaman informal berbunga tinggi.

    Deputi Bidang Pengawasan Koperasi Kementerian Koperasi, Herbert Siagian, menegaskan bahwa penyempurnaan pembiayaan ini harus dipahami sebagai solusi atas persoalan struktural ekonomi desa yang selama ini berlangsung.

    “Koperasi desa dimaksudkan untuk menjadi solusi nyata masalah lama desa, yaitu: rantai distribusi yang terlalu panjang, dominasi tengkulak menekan harga di tingkat petani & keterbatasan modal usaha warga desa,” kata Herbert.***

  • Skema Baru Pendanaan Koperasi Merah Putih Bangun Optimisme Masyarakat

    Jakarta – Kementerian Keuangan resmi menerbitkan Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 15 Tahun 2026 yang mengatur skema baru pendanaan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.

    Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa regulasi ini menjadi langkah konkret pemerintah dalam memastikan keberlanjutan pembangunan koperasi di daerah.

    Melalui kebijakan tersebut, pemerintah membuka ruang pemanfaatan dana transfer ke daerah seperti Dana Alokasi Umum (DAU), Dana Bagi Hasil (DBH), dan Dana Desa untuk mendukung pembangunan fisik koperasi, mulai dari gerai, pergudangan, hingga kelengkapan operasional.

    “Dalam rangka mendukung pembiayaan oleh bank untuk percepatan pembangunan fisik gerai, pergudangan, dan kelengkapan koperasi, pemerintah melakukan penempatan dana sebagai sumber likuiditas pembiayaan bank secara bertahap dengan tetap memperhatikan kondisi keuangan negara,” ujar Purbaya.

    Lebih lanjut, Purbaya mengungkapkan bahwa pemerintah telah menyiapkan anggaran sekitar Rp40 triliun per tahun untuk membayar cicilan pembiayaan program Koperasi Desa Merah Putih. Skema ini menggunakan pembiayaan kredit perbankan, namun kewajiban pembayaran tidak dibebankan kepada debitur, melainkan ditanggung oleh negara melalui APBN.

    “Kalau sekarang kan saya sudah pasti cuma bayar Rp40 triliun setiap tahun,” ucapnya.

    Ia menjelaskan bahwa pendekatan ini dipilih sebagai alternatif yang lebih terukur dibandingkan skema Penyertaan Modal Negara (PMN). Dengan total kebutuhan pembiayaan mencapai Rp240 triliun untuk sekitar 80 ribu koperasi, pemerintah mengatur cicilan selama enam tahun agar beban fiskal tetap terjaga.

    Dalam skema ini, pembiayaan disalurkan melalui perbankan Himbara kepada PT Agrinas Pangan Nusantara, sementara risiko pembiayaan tetap berada pada pihak bank.

    Sementara itu, Wakil Menteri Koperasi Farida Farichah menekankan bahwa keberhasilan program ini juga ditentukan oleh kolaborasi antarkoperasi. Ia mendorong koperasi yang telah mapan untuk berperan sebagai “kakak asuh” bagi Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih.

    “Koperasi eksisting memiliki pengalaman dan sistem yang kuat untuk mendampingi Kopdes Merah Putih. Sinergi ini krusial agar masyarakat di tingkat desa bisa merasakan manfaat langsung dari program pemerintah,” kata Farida.

    Farida juga mengungkapkan bahwa pemerintah tengah mengkaji skema pembiayaan mikro melalui Lembaga Pengelola Dana Bergulir (LPDB). Dalam skema tersebut, pembiayaan akan disalurkan melalui koperasi eksisting dengan bunga rendah, sehingga masyarakat desa dapat memperoleh akses pembiayaan dengan bunga maksimal sekitar 6 persen.

    “Kami sedang mengkaji agar bunga 6 persen itu benar-benar sampai dan diterima di masyarakat. Masukan dari para praktisi koperasi sangat penting agar kebijakan ini tepat sasaran,” tegasnya.

  • Skema Pendanaan Kopdes Jadi Pilar Penguatan Ekonomi Rakyat

    Oleh: Sukma Sasmita Dewi )*

    Pemerintah terus memperkuat fondasi ekonomi rakyat melalui pengembangan koperasi desa sebagai instrumen utama pembangunan berbasis komunitas. Salah satu langkah strategis yang diambil adalah penyesuaian skema pendanaan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih melalui kebijakan terbaru yang lebih adaptif dan terintegrasi.

    Melalui regulasi baru yang ditetapkan oleh Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, pemerintah melakukan transformasi mendasar dalam mekanisme pembiayaan koperasi desa. Perubahan ini tidak hanya menyederhanakan struktur pembiayaan, tetapi juga memperkuat peran negara dalam menjamin keberlanjutan program.

    Dalam skema terbaru, pemerintah mengambil alih kewajiban pembayaran cicilan pembiayaan koperasi yang sebelumnya menjadi tanggung jawab langsung koperasi. Pendekatan ini memberikan ruang yang lebih luas bagi koperasi desa untuk fokus pada pengembangan usaha tanpa terbebani kewajiban finansial yang berat di tahap awal.

    Kebijakan ini juga mengatur pemanfaatan dana transfer ke daerah, seperti dana alokasi umum, dana bagi hasil, dan dana desa, untuk mendukung pembangunan koperasi. Mekanisme ini dirancang agar pembiayaan berjalan lebih terstruktur sekaligus memastikan keterlibatan pemerintah daerah dalam penguatan ekonomi desa.

    Perubahan tersebut merupakan tindak lanjut dari arahan Presiden Prabowo Subianto dalam percepatan pembangunan koperasi desa. Pemerintah memandang koperasi sebagai pilar penting dalam menciptakan pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan, terutama di wilayah pedesaan.

    Deputi Bidang Pengawasan Koperasi Kementerian Koperasi, Herbert Siagian, menjelaskan bahwa kebijakan ini lahir dari kebutuhan untuk menjawab persoalan struktural yang selama ini membatasi perkembangan ekonomi desa. Ia menilai koperasi desa dapat menjadi solusi atas panjangnya rantai distribusi serta keterbatasan akses permodalan yang sering dihadapi masyarakat.

    Dengan dukungan pembiayaan yang lebih kuat, koperasi desa diharapkan mampu memperpendek rantai distribusi dan meningkatkan nilai tambah bagi pelaku usaha di tingkat lokal. Hal ini akan berdampak langsung pada peningkatan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat daya saing produk desa.

    Selain itu, skema baru juga mengarahkan pembiayaan untuk pembangunan infrastruktur fisik yang lebih representatif. Pembangunan gudang, gerai, dan fasilitas pendukung lainnya menjadi fokus utama agar koperasi memiliki sarana yang memadai dalam menjalankan aktivitas ekonomi secara optimal.

    Pemerintah turut melibatkan badan usaha milik negara dalam mendukung pembangunan tersebut. Penugasan kepada perusahaan negara untuk membangun infrastruktur koperasi menunjukkan adanya sinergi lintas sektor dalam mempercepat realisasi program. Dukungan pembiayaan dari perbankan yang tergabung dalam Himpunan Bank Milik Negara juga memperkuat keberlanjutan skema ini.

    Dari sisi teknis, pemerintah tetap mempertahankan suku bunga pembiayaan pada tingkat yang terjangkau serta memberikan masa tenggang yang lebih panjang. Kebijakan ini memberikan ruang bagi koperasi untuk berkembang sebelum mulai menghadapi kewajiban pembayaran yang lebih intensif.

    Perubahan skema juga berdampak pada status kepemilikan aset. Infrastruktur yang dibangun melalui pembiayaan tersebut ditetapkan sebagai milik pemerintah daerah atau desa. Hal ini memastikan bahwa aset yang dihasilkan dapat dimanfaatkan secara berkelanjutan untuk kepentingan masyarakat luas.

    Dukungan terhadap kebijakan ini juga datang dari berbagai pemangku kepentingan. Ketua Umum DPP Asosiasi Pemerintah Desa Seluruh Indonesia, Junaedi Mulyono, menyampaikan bahwa pihaknya pada prinsipnya mendukung langkah pemerintah dalam memperkuat ekonomi desa melalui koperasi. Ia melihat kebijakan ini sebagai bagian dari upaya mencapai target pertumbuhan ekonomi nasional yang lebih tinggi.

    Dalam implementasinya, desa tidak lagi dibebani kewajiban mencicil pembiayaan koperasi secara langsung. Namun, sebagian alokasi anggaran desa diarahkan untuk mendukung skema tersebut. Pendekatan ini menciptakan keseimbangan antara dukungan pemerintah pusat dan kontribusi daerah dalam membangun koperasi yang kuat.

    Di sisi lain, manfaat ekonomi yang dihasilkan dari koperasi desa tetap dapat dirasakan oleh pemerintah desa. Potensi peningkatan pendapatan asli desa dari aktivitas koperasi menjadi salah satu dampak positif yang diharapkan. Dengan demikian, kebijakan ini tidak hanya mengurangi beban, tetapi juga membuka peluang baru bagi peningkatan kesejahteraan.

    Kebijakan penguatan koperasi desa juga mencerminkan pendekatan pembangunan yang berorientasi pada akar rumput. Pemerintah menyadari bahwa ketahanan ekonomi nasional tidak dapat dilepaskan dari kekuatan ekonomi lokal. Oleh karena itu, penguatan koperasi desa menjadi langkah strategis dalam menciptakan struktur ekonomi yang lebih seimbang.

    Dalam konteks global yang penuh ketidakpastian, langkah ini menunjukkan kesiapan pemerintah dalam mengelola tantangan dengan pendekatan yang terukur. Dengan memperkuat sektor ekonomi rakyat, pemerintah membangun fondasi yang lebih kokoh untuk menghadapi dinamika eksternal.

    Ke depan, keberhasilan program ini akan sangat ditentukan oleh sinergi antara pemerintah pusat, daerah, serta masyarakat. Koordinasi yang solid menjadi kunci agar implementasi kebijakan berjalan efektif dan tepat sasaran.

    Melalui skema pendanaan yang diperbarui, pemerintah memberikan dukungan nyata bagi koperasi desa untuk tumbuh dan berkembang. Pendekatan ini tidak hanya memperkuat kelembagaan koperasi, tetapi juga mendorong terciptanya ekosistem ekonomi yang lebih inklusif.

    Pada akhirnya, penguatan koperasi desa melalui skema pendanaan yang lebih adaptif menjadi bukti bahwa pemerintah hadir dalam mendukung ekonomi rakyat. Dengan kebijakan yang tepat dan pelaksanaan yang konsisten, koperasi desa diharapkan mampu menjadi pilar utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang merata dan berkelanjutan di seluruh Indonesia.

    *) Analis Ekonomi Kerakyatan dan Pemberdayaan Desa