Penulis: restiana818@gmail.com

  • Hilirisasi Riset dan Jalan Baru Menjadikan Kampus sebagai Mesin Inovasi Nasional

    Oleh: Bagas Nurahman)*

    Kampus kini semakin menegaskan perannya sebagai mesin inovasi nasional melalui penguatan hilirisasi riset yang menghubungkan hasil penelitian dengan kebutuhan industri dan masyarakat. Perubahan tersebut menjadi langkah penting dalam membangun ekosistem inovasi yang mampu menghasilkan produk bernilai tambah, memperkuat daya saing nasional, sekaligus mendorong terwujudnya ekonomi berbasis ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan hilirisasi yang semakin terarah, kampus tidak lagi hanya menghasilkan publikasi ilmiah, tetapi juga menghadirkan solusi nyata bagi berbagai sektor pembangunan.

    Komitmen memperkuat hilirisasi riset tersebut tercermin dalam Forum Akademik Pemaparan Agenda Riset Nasional yang digelar Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) bersama Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (UMSIDA) di Kampus UMSIDA, Sidoarjo, Jawa Timur. Forum tersebut menjadi ruang kolaborasi strategis untuk menyelaraskan arah penelitian perguruan tinggi dengan kebutuhan industri, dunia usaha, dan masyarakat sehingga hasil riset dapat berkembang menjadi inovasi yang memberikan manfaat luas bagi pembangunan nasional.

    Kepala BRIN, Arif Satria, mengatakan bahwa tantangan pengembangan riset saat ini tidak lagi sebatas menghasilkan inovasi yang berkualitas, melainkan memastikan setiap inovasi mampu dikenal, dimanfaatkan, dan memberikan nilai tambah bagi bangsa. Menurutnya, perguruan tinggi perlu memperkuat strategi komunikasi dan pemasaran inovasi agar hasil penelitian dapat menjangkau dunia industri dan memperoleh peluang lebih besar untuk dikembangkan menjadi produk yang memiliki daya saing.

    Lebih lanjut, Kepala BRIN, Arif Satria, menilai keberhasilan hilirisasi sangat bergantung pada terbangunnya ekosistem kolaborasi yang melibatkan pemerintah, perguruan tinggi, lembaga riset, dan sektor industri. BRIN membuka ruang kolaborasi yang lebih luas bagi para peneliti kampus melalui pendampingan, fasilitasi, serta penguatan riset yang memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi produk nasional. Ia juga memaparkan delapan bidang prioritas riset BRIN, yaitu pangan, energi, kesehatan, lingkungan, air, industri strategis, kebencanaan, serta sosial-humaniora sebagai arah pengembangan inovasi nasional.

    Pandangan tersebut diperkuat Guru Besar Bidang Akuntansi UMSIDA, Sigit Hermawan, yang mengatakan bahwa BRIN telah menjadi mitra strategis dalam meningkatkan kapasitas riset dosen di perguruan tinggi. Menurutnya, berbagai hasil penelitian yang dihasilkan sivitas akademika telah mampu memberikan solusi bagi kebutuhan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kampus memiliki potensi besar untuk menjadi sumber inovasi yang memberikan dampak langsung terhadap penguatan ekonomi masyarakat.

    Lebih lanjut, Sigit Hermawan, menjelaskan bahwa agar hasil penelitian mampu berkembang menuju skala industri, diperlukan penguatan riset lanjutan, pemanfaatan teknologi, serta kolaborasi yang semakin erat antara perguruan tinggi, BRIN, dan dunia usaha. Sinergi tersebut menjadi fondasi penting dalam mempercepat proses hilirisasi sehingga inovasi yang lahir dari kampus mampu berkembang menjadi produk unggulan nasional yang memiliki daya saing tinggi.

    Pembahasan dalam forum juga menunjukkan bahwa hilirisasi riset membutuhkan dukungan kebijakan yang adaptif serta ekosistem inovasi yang mampu mempertemukan hasil penelitian dengan kebutuhan pasar. Pendekatan tersebut akan mempercepat transformasi inovasi dari laboratorium menuju dunia industri sehingga berbagai hasil penelitian dapat dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat. Dengan demikian, kampus semakin berperan sebagai penggerak inovasi yang tidak hanya menghasilkan ilmu pengetahuan, tetapi juga menciptakan nilai ekonomi.

    Berbagai inovasi yang dipresentasikan dalam forum menjadi bukti bahwa penelitian di perguruan tinggi memiliki prospek besar untuk dikembangkan menjadi produk nasional. Salah satunya adalah pengembangan biomaterial untuk bidang kedokteran gigi yang telah memasuki tahap praklinik. Inovasi tersebut menunjukkan bahwa hasil riset kampus mampu mendukung kemandirian industri kesehatan sekaligus mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap bahan baku impor. Keberhasilan tersebut menjadi contoh nyata bagaimana hilirisasi mampu meningkatkan manfaat penelitian bagi pembangunan nasional.

    Selain aspek teknologi, keberhasilan hilirisasi juga memerlukan dukungan ilmu sosial agar inovasi dapat diterima secara luas oleh masyarakat. Integrasi antara sains, teknologi, dan kajian sosial menjadi bagian penting dalam memastikan setiap produk inovasi mampu menjawab kebutuhan pengguna serta memberikan manfaat yang berkelanjutan. Pendekatan multidisiplin tersebut memperkuat posisi perguruan tinggi sebagai pusat pengembangan ilmu pengetahuan yang mampu melahirkan inovasi yang adaptif terhadap dinamika masyarakat.

    Transformasi peran perguruan tinggi melalui hilirisasi riset menjadi langkah strategis dalam memperkuat ekosistem inovasi Indonesia. Kolaborasi yang semakin erat antara BRIN, perguruan tinggi, dunia usaha, dan masyarakat akan mempercepat lahirnya berbagai produk inovatif yang mampu meningkatkan daya saing industri nasional. Dengan dukungan ekosistem yang terintegrasi, kampus tidak hanya menjadi tempat mencetak sumber daya manusia unggul, tetapi juga menjadi pusat penciptaan teknologi dan solusi bagi berbagai kebutuhan bangsa.

    Hilirisasi riset pada akhirnya menjadi jalan baru dalam menjadikan kampus sebagai mesin inovasi nasional. Semakin kuat kolaborasi antara lembaga riset, perguruan tinggi, dan dunia industri, semakin besar pula peluang Indonesia menghasilkan inovasi berkelas dunia yang memberikan nilai tambah bagi perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Melalui penguatan ekosistem tersebut, kampus diharapkan terus menjadi motor penggerak lahirnya teknologi, produk, dan solusi yang mendukung terwujudnya Indonesia sebagai negara maju berbasis riset dan inovasi.

    )* Penulis adalah Mahasiswa tinggal di Jakarta

  • Dari Laboratorium ke Industri: Momentum Hilirisasi Riset Indonesia

    Oleh: Juniansyah Putra)*

    Kemajuan sebuah bangsa pada era modern ditentukan oleh kemampuannya mengubah pengetahuan menjadi inovasi yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Indonesia memiliki modal besar berupa sumber daya manusia yang terus berkembang, jaringan perguruan tinggi yang semakin kuat, serta dukungan pemerintah terhadap penguatan riset dan teknologi. Dalam konteks tersebut, hilirisasi riset menjadi langkah strategis untuk mempercepat transformasi Indonesia menuju negara maju berbasis inovasi.

    Pemerintah menempatkan pengembangan riset dan inovasi sebagai salah satu fondasi penting pembangunan nasional. Berbagai kebijakan diarahkan untuk memastikan hasil penelitian tidak hanya menjadi kontribusi akademik, tetapi juga dapat berkembang menjadi teknologi, produk, dan layanan yang meningkatkan produktivitas, memperkuat industri nasional, serta membuka peluang ekonomi baru. Langkah ini menunjukkan komitmen kuat negara dalam membangun ekosistem inovasi yang berdaya saing global.

    Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Brian Yuliarto menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran sentral sebagai motor penggerak hilirisasi riset nasional. Menurutnya, kampus tidak hanya berfungsi sebagai pusat pendidikan dan pengembangan ilmu pengetahuan, tetapi juga sebagai sumber lahirnya teknologi dan solusi yang mampu menjawab kebutuhan masyarakat serta dunia usaha. Melalui kolaborasi antarkampus dan kemitraan dengan berbagai sektor, potensi riset Indonesia dapat dimanfaatkan secara lebih luas dan lebih cepat.

    Brian menjelaskan bahwa budaya inovasi di lingkungan perguruan tinggi terus diperkuat agar para peneliti terdorong menghasilkan karya yang memiliki nilai tambah tinggi. Pendekatan ini mencerminkan perubahan paradigma penting dalam pembangunan nasional, yaitu menjadikan penelitian sebagai penggerak pertumbuhan ekonomi sekaligus sarana meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Publikasi ilmiah tetap menjadi indikator kualitas akademik, namun keberhasilan riset juga diukur dari sejauh mana inovasi tersebut memberi dampak nyata bagi kehidupan masyarakat.

    Untuk mendukung transformasi tersebut, pemerintah bersama perguruan tinggi terus memperkuat ekosistem inovasi melalui pengembangan inkubator bisnis, pusat inovasi, perlindungan hak kekayaan intelektual, serta kemudahan kemitraan dengan dunia usaha. Langkah-langkah ini menciptakan lingkungan yang kondusif bagi lahirnya perusahaan rintisan berbasis teknologi dan pengembangan industri nasional yang lebih modern.

    Kepala Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Prof. Dr. Arif Satria, S.P., M.Si., menekankan bahwa kolaborasi antarlembaga merupakan kunci utama untuk mempercepat hilirisasi riset dan meningkatkan daya saing inovasi Indonesia. Menurutnya, sinergi antara BRIN, perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan sektor industri akan memperkuat ekosistem riset nasional sehingga lebih produktif dan mampu meningkatkan posisi Indonesia dalam Global Innovation Index (GII).

    Arif menegaskan bahwa Indonesia memiliki kapasitas besar untuk menjadi pusat inovasi di kawasan. Dengan dukungan kebijakan yang tepat dan kolaborasi yang kuat, hasil penelitian anak bangsa dapat berkembang menjadi teknologi unggulan yang dimanfaatkan oleh dunia usaha, pemerintah, maupun masyarakat luas. Optimisme ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga semakin mampu menjadi pencipta teknologi yang kompetitif di tingkat internasional.

    Perkembangan positif tersebut telah terlihat dari semakin banyaknya inovasi perguruan tinggi yang diterapkan untuk menjawab kebutuhan masyarakat, mulai dari bidang kesehatan, pangan, energi, lingkungan, hingga transformasi digital. Keberhasilan berbagai inovasi kampus menunjukkan bahwa lembaga pendidikan tinggi Indonesia memiliki kapasitas besar untuk menjadi pusat lahirnya solusi yang relevan dan berdampak luas.

    Wakil Rektor Bidang Riset, Inovasi, Mahasiswa, dan Alumni Universitas Indonesia Hamdi Muluk menyampaikan bahwa hilirisasi riset dapat diwujudkan melalui kolaborasi strategis yang mempertemukan inovasi akademik dengan kebutuhan pengguna. Menurutnya, peluncuran berbagai produk berbasis hasil penelitian menjadi bukti bahwa sinergi antara peneliti, pemerintah, industri, dan masyarakat mampu mempercepat pemanfaatan riset dalam kehidupan sehari-hari.

    Hamdi menambahkan bahwa pendekatan kolaboratif membuka peluang lebih besar bagi hasil penelitian untuk berkembang menjadi produk yang memiliki manfaat nyata. Ketika inovasi dikembangkan dengan memahami kebutuhan masyarakat sejak awal, proses adopsi menjadi lebih cepat dan dampak ekonominya dapat dirasakan lebih luas.

    Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa kekuatan utama Indonesia terletak pada kemampuan membangun jejaring kolaborasi yang solid. Semakin erat hubungan antara perguruan tinggi, lembaga riset, pemerintah, industri, dan masyarakat, semakin besar pula peluang lahirnya inovasi yang menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi nasional.

    Ke depan, penguatan hilirisasi riset akan terus menjadi bagian penting dari strategi pembangunan nasional yang berkelanjutan. Investasi pada sumber daya manusia, infrastruktur penelitian, pendanaan inovasi, serta penyederhanaan regulasi akan mempercepat terbentuknya ekosistem riset yang semakin kompetitif dan inklusif.

    Momentum kebangkitan riset nasional ini perlu dijaga melalui kolaborasi yang konsisten dan berkelanjutan. Dengan ekosistem inovasi yang semakin kuat, Indonesia memiliki peluang besar menjadikan hasil riset sebagai fondasi industri berbasis teknologi dan pengetahuan. Langkah tersebut akan memperkuat daya saing nasional, menciptakan lapangan kerja berkualitas, meningkatkan nilai tambah ekonomi, dan mengantarkan Indonesia menjadi negara maju yang mandiri, inovatif, dan disegani di tingkat global.

    )* Peneliti bidang Kebijakan Publik dan Inovasi

  • CKG Diperkuat dengan Deteksi Kusta di Faskes Dasar

    Jakarta – Pemerintah memperkuat deteksi dini kusta melalui program Cek Kesehatan Gratis (CKG) di fasilitas kesehatan dasar sebagai bagian dari upaya mempercepat eliminasi kusta di Indonesia. Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan penemuan kasus secara dini sehingga pengobatan dapat segera diberikan dan penularan dapat dicegah.

    Menteri Kesehatan RI Budi Gunadi Sadikin menjelaskan bahwa kusta selama ini sering dikaitkan dengan stigma sosial, padahal penyakit tersebut disebabkan oleh bakteri dan dapat disembuhkan dengan pengobatan yang tersedia..

    “Kusta ini sering diasosiasikan dengan negara miskin karena sejak ribuan tahun lalu penyakit ini tidak bisa dijelaskan secara ilmiah sehingga muncul berbagai stigma. Padahal sekarang kita sudah tahu penyebabnya adalah bakteri dan obatnya sudah tersedia,” ujarnya.

    Menurut Menkes, stigma terhadap kusta masih menjadi salah satu hambatan dalam penanganan penyakit tersebut. Padahal, deteksi dini sangat penting untuk meningkatkan peluang kesembuhan dan mencegah penularan.

    Ia juga menegaskan bahwa meningkatnya temuan kasus menunjukkan sistem deteksi berjalan efektif dan mampu menjangkau masyarakat yang membutuhkan layanan kesehatan.

    “Strateginya jelas: temukan sebanyak-banyaknya, obati sampai selesai, dan berikan pencegahan kepada kontak erat pasien. Dengan cara ini penularan bisa dihentikan,” ujar Menkes Budi.

    Untuk mendukung strategi tersebut, Kementerian Kesehatan memperkuat layanan skrining melalui program CKG yang dilaksanakan di fasilitas kesehatan dasar. Program ini menjadi instrumen penting untuk menemukan kasus lebih awal sehingga pasien dapat segera memperoleh pengobatan dan mencegah terjadinya komplikasi maupun penularan lanjutan.

    Direktur Jenderal Farmasi dan Alat Kesehatan Kementerian Kesehatan, Lucia Rizka Andalusia, mengatakan bahwa penguatan CKG dilakukan berdasarkan pola penyakit yang ditemukan di masyarakat sehingga layanan pemeriksaan dapat semakin tepat sasaran.

    “Ada beberapa penambahan pemeriksaan yang dilakukan berdasarkan pola penyakit yang ada dan juga temuannya. Karena itu, ada penambahan pemeriksaan untuk scabies, kusta, dan frambusia,” kata Lucia.

    Penambahan pemeriksaan tersebut memperkuat layanan kesehatan primer dalam mendeteksi kusta lebih dini sehingga pengobatan dapat segera diberikan dan penularan dapat dicegah.

    Melalui penguatan CKG, perluasan skrining, dan edukasi masyarakat, pemerintah optimistis target eliminasi kusta dapat tercapai. Dukungan masyarakat dalam menghapus stigma dan melakukan pemeriksaan dini menjadi kunci memutus rantai penularan.

  • Pemerintah Integrasikan Skrining Kusta dalam CKG untuk Kejar Eliminasi 2030

    Jakarta- Pemerintah terus memperkuat langkah menuju target eliminasi kusta pada 2030 dengan mengintegrasikan skrining kusta ke dalam Program Cek Kesehatan Gratis (CKG). Kebijakan tersebut diharapkan mampu mempercepat penemuan kasus secara dini, memperluas akses pengobatan, sekaligus memutus rantai penularan penyakit yang hingga kini masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di berbagai daerah. Integrasi skrining kusta dalam CKG juga menjadi bagian dari strategi nasional untuk memperkuat layanan kesehatan dasar yang menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

    Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa pemerintah menargetkan peningkatan penemuan kasus kusta hingga sekitar 37 ribu kasus sesuai estimasi jumlah penderita yang ada di Indonesia. Menurutnya, masih banyak kasus yang belum terdeteksi sehingga berpotensi terus menularkan penyakit kepada masyarakat. “Kita ingin penemuannya, kan sekarang 14 ribu, kita ingin segera dinaikkan ke 37 ribuan karena estimasinya itu 37 ribu. Kalau yang ketemu cuma 14 ribu, sisanya kan nggak ketemu itu masih menularkan,” ujar Budi Gunadi Sadikin. Untuk mendorong pencapaian tersebut, Kementerian Kesehatan juga akan memberikan apresiasi kepada puskesmas yang berhasil menemukan kasus terbanyak melalui program penghargaan pada peringatan Hari Kesehatan Nasional mendatang.

    Menurut Menkes, percepatan deteksi menjadi langkah paling efektif dalam mengakhiri penyebaran kusta karena penyakit tersebut dapat disembuhkan melalui pengobatan antibiotik yang tersedia. Ia menjelaskan bahwa setelah pasien mulai menjalani terapi sesuai ketentuan, risiko penularan dapat dihentikan sehingga semakin cepat kasus ditemukan maka semakin besar peluang Indonesia mencapai eliminasi kusta pada 2030. Integrasi skrining ke dalam Program CKG dinilai menjadi terobosan penting karena memungkinkan pemeriksaan dilakukan secara lebih luas bersamaan dengan layanan kesehatan preventif lainnya.

    Komitmen pemerintah pusat tersebut mendapat dukungan dari pemerintah daerah. Kepala Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana Papua Selatan Benedicta Herlina Rahangiar mengajak masyarakat memanfaatkan Program CKG sebagai sarana deteksi dini berbagai penyakit menular. “Melalui pemeriksaan kesehatan gratis secara rutin maka penyakit dapat ditemukan lebih awal sehingga pengobatan bisa segera diberikan dan penularan bisa dicegah,” katanya.

    Pemerintah juga mendorong sinergi lintas sektor guna memastikan upaya percepatan eliminasi kusta berjalan efektif hingga ke tingkat daerah. Pertemuan koordinasi dengan berbagai pemangku kepentingan akan terus dilakukan agar pelaksanaan skrining, edukasi masyarakat, penanganan pasien, serta penyediaan layanan kesehatan berlangsung secara terpadu.

  • CKG Membuka Jalan Menemukan Kasus Kusta Tersembunyi

    Oleh: Zhafran Goldwin)*

    Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) menjadi salah satu langkah strategis dalam memperkuat transformasi layanan kesehatan melalui pendekatan promotif dan preventif. Selain mendeteksi penyakit tidak menular, mulai 2026 program ini juga mencakup skrining kusta sebagai bagian dari upaya mempercepat eliminasi penyakit tersebut. Kebijakan ini menunjukkan perubahan paradigma pelayanan kesehatan dari yang semula berorientasi pada pengobatan menjadi lebih mengedepankan pencegahan dan deteksi dini sehingga masyarakat dapat mengetahui kondisi kesehatannya sebelum penyakit berkembang menjadi lebih serius.

    Komitmen tersebut diperkuat dengan kebijakan baru pemerintah. Menteri Kesehatan, Budi Gunadi Sadikin mengatakan, mulai 2026, skrining kusta akan disertakan dalam Cek Kesehatan Gratis (CKG) sebagai upaya pemerintah mempercepat eliminasi penyakit tersebut. Kusta masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat di Indonesia.

    Penyakit yang disebabkan oleh bakteri Mycobacterium leprae ini sebenarnya dapat disembuhkan apabila ditemukan sejak dini dan diobati hingga tuntas. Namun, rendahnya kesadaran masyarakat, keterbatasan akses layanan kesehatan di sejumlah wilayah, serta stigma yang masih melekat menyebabkan banyak penderita terlambat memeriksakan diri. Akibatnya, sebagian kasus baru ditemukan ketika telah memasuki tahap lanjut dan berpotensi menimbulkan kecacatan. Kondisi tersebut menunjukkan masih adanya kasus-kasus tersembunyi yang belum teridentifikasi oleh sistem pelayanan kesehatan.

    Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyebutkan, meski kusta adalah penyakit yang sulit menularnya, pihaknya berkomitmen untuk mencari penderitanya sebanyak-banyaknya dan segera mengobatinya. Dia menjelaskan, saat ini, ada sekitar 13.000-15.000 penderita kusta di Indonesia. Namun, jumlahnya bisa lebih banyak dari angka tersebut. Oleh karena itu, pihaknya juga mendorong skrining kusta yang masif dengan memberi penghargaan pada kepala daerah dan puskesmas yang banyak menemukan kasus kusta.

    Integrasi skrining kusta ke dalam CKG menjadi langkah strategis untuk memperluas penemuan kasus secara aktif. Pemeriksaan kesehatan yang dilakukan secara rutin memberi peluang bagi tenaga kesehatan menemukan penderita yang sebelumnya belum terdeteksi sehingga pengobatan dapat segera dimulai sebelum terjadi komplikasi maupun penularan lebih lanjut. Keberhasilan pengendalian penyakit tidak hanya diukur dari sedikitnya kasus yang dilaporkan, tetapi juga dari kemampuan sistem kesehatan menemukan kasus lebih awal dan memastikan seluruh pasien memperoleh pengobatan.

    Penguatan deteksi dini tersebut sejalan dengan transformasi layanan kesehatan primer. Puskesmas tidak lagi hanya berfungsi sebagai tempat berobat, tetapi juga menjadi pusat edukasi, skrining, dan pencegahan penyakit. Melalui CKG, masyarakat didorong membangun kebiasaan melakukan pemeriksaan kesehatan secara berkala karena banyak penyakit, termasuk kusta, dapat berkembang tanpa gejala yang jelas pada tahap awal. Budaya pemeriksaan kesehatan rutin diharapkan mampu meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat sekaligus menekan beban pembiayaan kesehatan di masa mendatang.

    Di sisi lain, pengendalian kusta tidak hanya bergantung pada pelayanan medis, tetapi juga pada meningkatnya pemahaman masyarakat. Stigma yang menganggap kusta sebagai penyakit yang tidak dapat disembuhkan masih menyebabkan sebagian penderita memilih menyembunyikan kondisinya. Padahal, pengobatan yang tersedia mampu menyembuhkan penderita apabila dilakukan secara tuntas. Karena itu, pelaksanaan CKG juga menjadi sarana edukasi untuk memberikan informasi yang benar mengenai penyebab, penularan, dan pentingnya pengobatan sejak dini sehingga diskriminasi terhadap penyandang kusta dapat terus berkurang.

    Upaya tersebut turut diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor. Direktur Eksekutif The Habibie Center, Mohammad Hasan Ansori mengatakan, pihaknya berkolaborasi dengan Kemenkes dan The Nippon Foundation dan Sasakawa Health Foundation untuk mengembangkan model intervensi berbasis bukti dalam mendukung deteksi dini kusta dan pengurangan stigma di tingkat komunitas, yang diharapkan dapat direplikasi serta diintegrasikan ke dalam kebijakan publik. Secara fakta dan data kusta Indonesia cukup tinggi karena penyakit ini punya 2 aspek yaitu medis aspek dan sosial aspek.

    Hasil riset tersebut menunjukkan bahwa eliminasi kusta memerlukan pendekatan yang menyentuh aspek medis sekaligus sosial. Selain memastikan penderita memperoleh pengobatan, diperlukan pula edukasi yang berkelanjutan agar masyarakat memahami bahwa kusta dapat disembuhkan dan tidak perlu menjadi alasan terjadinya diskriminasi. Sinergi antara pemerintah, tenaga kesehatan, lembaga penelitian, pemerintah daerah, dan masyarakat menjadi fondasi penting untuk memperluas deteksi dini sekaligus menciptakan lingkungan yang lebih inklusif bagi penyandang kusta.

    Pelaksanaan CKG juga akan menghasilkan data kesehatan yang lebih akurat mengenai persebaran kasus di berbagai daerah. Data tersebut menjadi dasar bagi pemerintah dalam menentukan wilayah prioritas, memperkuat kapasitas layanan kesehatan, serta menyusun kebijakan yang lebih tepat sasaran. Semakin cepat kasus ditemukan, semakin besar peluang mencegah kecacatan, memutus rantai penularan, dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat.

    Ke depan, integrasi skrining kusta dalam CKG menjadi salah satu inovasi penting dalam memperkuat sistem kesehatan nasional. Melalui deteksi dini, edukasi yang berkesinambungan, serta kolaborasi lintas sektor, upaya menemukan kasus-kasus kusta yang selama ini tersembunyi akan semakin optimal. Langkah tersebut tidak hanya mendukung target eliminasi kusta, tetapi juga memperkuat pembangunan sumber daya manusia yang sehat, produktif, dan terlindungi melalui layanan kesehatan yang semakin merata dan berorientasi pada pencegahan.

    *) Penulis adalah Content Writer di Medical Groovia

  • CKG dan Jalan Baru Indonesia Mengejar Eliminasi Kusta 2030

    Oleh Anindya Yustisia )*

    Indonesia sedang memasuki babak baru dalam pembangunan kesehatan nasional dengan menempatkan pencegahan dan deteksi dini sebagai fondasi utama pelayanan kesehatan. Pendekatan ini tidak hanya bertujuan meningkatkan kualitas hidup masyarakat, tetapi juga menjadi strategi penting untuk mengatasi berbagai penyakit menular yang selama ini masih menjadi tantangan, termasuk kusta. Di tengah target eliminasi kusta pada 2030, Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) hadir sebagai instrumen strategis yang memperkuat kemampuan negara menemukan kasus lebih cepat, memperluas akses layanan kesehatan, sekaligus memutus rantai penularan sebelum penyakit berkembang menjadi masalah yang lebih besar.

    Kusta masih menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang tidak bisa dipandang sebelah mata. Penyakit ini sesungguhnya dapat disembuhkan melalui pengobatan yang tersedia, namun tantangan terbesar justru terletak pada masih banyaknya penderita yang belum teridentifikasi. Kondisi tersebut menyebabkan penularan terus berlangsung secara diam-diam di tengah masyarakat. Karena itu, upaya memperbanyak penemuan kasus menjadi sangat penting agar setiap penderita dapat segera memperoleh pengobatan yang tuntas.

    Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menegaskan bahwa pemerintah menargetkan peningkatan penemuan kasus hingga sekitar 37 ribu orang. Langkah tersebut didasarkan pada estimasi jumlah penderita yang sebenarnya masih berada di masyarakat sehingga percepatan deteksi menjadi syarat utama untuk menghentikan penularan secara nasional. Keberhasilan eliminasi tidak lagi hanya diukur dari berkurangnya laporan kasus, melainkan dari kemampuan sistem kesehatan menemukan kasus yang selama ini tersembunyi. Semakin banyak penderita yang ditemukan dan diobati, semakin kecil peluang penyakit menyebar kepada orang lain.

    Program Cek Kesehatan Gratis hadir menjadi pintu masuk bagi deteksi dini berbagai penyakit, termasuk kusta, sehingga masyarakat dapat memperoleh diagnosis sebelum muncul kecacatan maupun komplikasi yang lebih berat. Kehadiran CKG memungkinkan tenaga kesehatan melakukan skrining secara lebih sistematis kepada kelompok masyarakat yang selama ini memiliki akses terbatas terhadap pelayanan kesehatan. Pendekatan preventif tersebut selaras dengan upaya pemerintah membangun sistem kesehatan yang lebih tangguh, efisien, dan berorientasi pada perlindungan masyarakat sejak dini.

    Komitmen tersebut juga tercermin melalui keterlibatan pemerintah daerah yang mulai mengintegrasikan CKG dengan berbagai inovasi pelayanan kesehatan. Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, misalnya, memperkuat sinergi antara Program Dokter Spesialis Keliling (Speling) dan CKG untuk memperluas jangkauan skrining hingga ke berbagai pelosok wilayah. Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa seluruh pemerintah kabupaten dan kota perlu diberikan target dalam melakukan deteksi dini kusta agar penanganan dapat dilakukan secara lebih terukur dan sistematis. Ia juga mendorong kolaborasi erat antara dinas kesehatan provinsi dan kabupaten/kota dalam memastikan seluruh penderita memperoleh pengobatan hingga tuntas.

    Eliminasi kusta juga merupakan perjuangan melawan stigma sosial yang telah berlangsung selama puluhan tahun. Upaya edukasi kepada masyarakat memiliki posisi yang sama pentingnya dengan penyediaan layanan kesehatan. Penghapusan stigma akan mendorong lebih banyak orang memanfaatkan layanan kesehatan sejak muncul gejala awal sehingga peluang kesembuhan semakin tinggi.

    Semangat kolaborasi tersebut juga terlihat di Papua Selatan. Dinas Kesehatan, Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (Dinkes PPKB) Papua Selatan mengajak masyarakat memanfaatkan Program CKG sebagai bagian dari upaya memperkuat deteksi dini berbagai penyakit menular. Kepala Dinkes PPKB Papua Selatan Benedicta Herlina Rahangiar menilai pemeriksaan kesehatan secara rutin memungkinkan penyakit ditemukan lebih awal sehingga pengobatan dapat segera diberikan dan penularan dapat dicegah. Menurutnya, CKG menjadi salah satu komitmen pemerintah dalam memperkuat layanan kesehatan dasar sekaligus mendukung pengendalian AIDS, tuberkulosis, malaria, kusta, serta peningkatan kesehatan ibu dan anak. Pendekatan yang menggabungkan berbagai program kesehatan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan kesehatan tidak dapat dilakukan secara parsial, melainkan harus saling terintegrasi agar menghasilkan dampak yang lebih luas.

    Keberhasilan eliminasi kusta sangat bergantung pada kolaborasi lintas sektor. Pemerintah daerah, tenaga kesehatan, organisasi masyarakat, tokoh agama, dunia pendidikan, hingga masyarakat memiliki peran yang saling melengkapi. Pertemuan lintas sektor yang terus didorong di Papua Selatan menjadi contoh bahwa pengendalian penyakit menular membutuhkan kesamaan komitmen seluruh pemangku kepentingan. Pelayanan kesehatan tetap harus berjalan optimal agar masyarakat tidak kehilangan akses terhadap pengobatan yang dibutuhkan.

    Target eliminasi kusta pada 2030 memang bukan pekerjaan ringan, namun bukan pula sesuatu yang mustahil dicapai. Indonesia kini memiliki modal penting berupa Program CKG yang mampu memperluas deteksi dini hingga ke tingkat masyarakat. Ketika seluruh elemen bergerak bersama, angka penemuan kasus meningkat, pengobatan diberikan lebih cepat, dan stigma berhasil dikurangi, maka rantai penularan dapat diputus secara bertahap. Jalan baru yang ditempuh melalui CKG pada akhirnya bukan hanya menjadi strategi kesehatan, melainkan investasi besar bagi masa depan bangsa. Eliminasi kusta pada 2030 akan menjadi bukti bahwa Indonesia mampu membangun sistem kesehatan yang lebih inklusif, preventif, dan berkeadilan, sehingga setiap warga negara memiliki kesempatan yang sama untuk hidup sehat tanpa dibayangi penyakit maupun diskriminasi sosial.

    )* penulis merupakan pengamat kesehatan publik

  • Presiden Prabowo Perkuat Perlindungan Nelayan lewat BBM Khusus dan Cold Storage

    Jakarta – Presiden Prabowo menegaskan komitmennya memperkuat perlindungan terhadap nelayan dan masyarakat desa melalui kebijakan yang terintegrasi, mulai dari pembangunan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) hingga pemberian harga khusus bahan bakar minyak (BBM) bagi nelayan.

    Dalam peringatan Hari Koperasi ke-79 Tahun 2026 di Indonesia Arena, Jakarta, Presiden menjelaskan bahwa KDKMP akan menjadi pusat pelayanan ekonomi desa yang mengintegrasikan berbagai layanan penting dalam satu kawasan.

    Kehadiran koperasi tersebut diharapkan mampu mempermudah masyarakat memperoleh akses pembiayaan, distribusi kebutuhan pokok, hingga fasilitas penyimpanan hasil panen dan hasil tangkapan nelayan sehingga nilai ekonomi produk dapat terus meningkat.

    “KDKMP nanti akan jadi pusat pelayanan ekonomi desa yang terintegrasi. Akan ada cold storage ruang pendingin, supaya hasil-hasil petani tidak akan rusak dan berbagai layanan ekonomi lainnya,” ujar Presiden Prabowo.

    Presiden menjelaskan bahwa pembangunan fasilitas cold storage menjadi salah satu prioritas karena dapat mengurangi kerugian akibat hasil panen maupun hasil tangkapan yang cepat rusak.

    Presiden juga menegaskan pentingnya menghadirkan akses pembiayaan yang murah dan mudah dijangkau oleh masyarakat desa melalui koperasi.

    “Rakyat kita harus bisa mendapat kesempatan pinjam uang dengan bunga yang murah. Jawabannya adalah harus ada koperasi simpan pinjam di setiap desa di seluruh Republik Indonesia,” kata Prabowo.

    Dalam kesempatan yang sama, Presiden mengingatkan agar seluruh barang subsidi disalurkan melalui jalur resmi koperasi desa sehingga manfaatnya benar-benar diterima masyarakat yang membutuhkan.

    “Semua barang subsidi harus disalurkan kepada rakyat melalui Koperasi Desa Merah Putih. Harus, saya katakan ini harus, barang subsidi rakyat tidak boleh diperdagangkan,” ucapnya.

    Upaya memperkuat kesejahteraan nelayan juga diwujudkan melalui kebijakan harga khusus BBM jenis Solar bagi kapal nelayan berukuran 30 hingga 200 Gross Ton (GT).

    Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto menegaskan bahwa pemerintah menetapkan harga khusus Solar sebesar Rp15.000 per liter bagi nelayan. Sebelumnya, harga Solar non-subsidi sempat mencapai sekitar Rp21.300 per liter sehingga membebani biaya melaut.

    “Karena pengusaha nelayan ini perlu diberikan harga kekhususan, tadi dibahas bahwa harga yang disepakati adalah di harga Rp 15.000 per liter,” pungkas Airlangga.

    [w.R]

  • Pemerintah Pacu Modernisasi Kapal Ikan untuk Nelayan Lokal

    Jakarta – Pemerintah terus mempercepat modernisasi armada perikanan nasional sebagai bagian dari upaya meningkatkan produktivitas nelayan lokal, memperkuat ketahanan pangan, dan mendorong pertumbuhan ekonomi maritim. Program modernisasi kapal ikan dilakukan melalui pengadaan kapal yang lebih efisien, pemanfaatan teknologi penangkapan ikan yang ramah lingkungan, serta peningkatan standar keselamatan pelayaran. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan hasil tangkapan nelayan sekaligus memperkuat daya saing sektor perikanan Indonesia di pasar domestik maupun internasional.

    Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono, mengatakan bahwa modernisasi kapal perikanan menjadi salah satu prioritas pemerintah dalam membangun sektor kelautan yang maju dan berkelanjutan. Menurutnya, penggunaan kapal yang lebih modern akan meningkatkan efisiensi operasional, menjaga kualitas hasil tangkapan, serta mendukung praktik penangkapan ikan yang sesuai dengan prinsip keberlanjutan.

    “Modernisasi armada perikanan merupakan langkah penting untuk meningkatkan produktivitas nelayan sekaligus menjaga keberlanjutan sumber daya ikan agar tetap dapat dimanfaatkan oleh generasi mendatang,” ujarnya.

    Pemerintah menilai sebagian besar nelayan Indonesia masih menggunakan kapal berukuran kecil dengan teknologi yang terbatas sehingga produktivitas dan jangkauan penangkapan ikan belum optimal. Melalui modernisasi armada, nelayan diharapkan memiliki akses terhadap kapal yang lebih aman, hemat bahan bakar, dilengkapi peralatan navigasi, serta fasilitas penyimpanan hasil tangkapan yang lebih baik. Upaya tersebut juga diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan nelayan melalui peningkatan pendapatan dan efisiensi biaya operasional.

    Direktur Utama PT PAL Indonesia, Kaharuddin Djenod, menyatakan bahwa industri galangan kapal nasional siap mendukung program pemerintah melalui pembangunan kapal perikanan yang sesuai dengan kebutuhan nelayan Indonesia. Menurutnya, keterlibatan industri dalam negeri akan memperkuat kemandirian industri maritim sekaligus membuka peluang penciptaan lapangan kerja baru.

    “PT PAL berkomitmen mendukung penguatan sektor maritim nasional melalui pembangunan kapal yang berkualitas, efisien, dan sesuai kebutuhan operasional nelayan maupun pemerintah,” katanya.

    Ke depan, pemerintah akan terus memperkuat kolaborasi dengan pemerintah daerah, industri galangan kapal, lembaga pembiayaan, dan pelaku usaha perikanan untuk memperluas program modernisasi armada nelayan. Sinergi tersebut diharapkan mampu mempercepat transformasi sektor perikanan nasional menjadi lebih produktif, berdaya saing, dan berkelanjutan.

    Modernisasi kapal ikan menjadi bagian penting dari strategi pemerintah dalam mewujudkan ekonomi biru yang berorientasi pada keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi dan pelestarian sumber daya laut. Dengan armada yang semakin modern dan didukung teknologi yang memadai, sektor perikanan nasional diharapkan mampu meningkatkan kontribusinya terhadap perekonomian nasional sekaligus memperkuat kesejahteraan masyarakat pesisir.

  • Prabowo dan Jalan Baru Menguatkan Ekonomi Nelayan dari Pesisir

    Oleh: Dhita Karuniawati )*

    Kebijakan Presiden Prabowo Subianto yang memberikan harga khusus BBM solar sebesar Rp15.000 per liter bagi pengusaha nelayan dengan kapal berukuran 30 hingga 200 gross ton (GT) dipandang sebagai langkah strategis dalam memperkuat ekonomi pesisir. Kebijakan tersebut tidak sekadar menghadirkan insentif fiskal, tetapi juga menunjukkan pendekatan baru yang lebih berpihak pada produktivitas sektor perikanan nasional.

    Pemerintah sebelumnya mencermati bahwa nelayan kecil dengan kapal di bawah 30 GT telah memperoleh BBM bersubsidi seharga Rp6.800 per liter. Sebaliknya, kelompok nelayan dengan kapal berukuran 30–200 GT masih harus membeli solar dengan harga nonsubsidi yang sempat mencapai sekitar Rp21.300 per liter. Kondisi tersebut menyebabkan biaya produksi meningkat tajam dan mengurangi daya saing usaha penangkapan ikan. Karena itu, Presiden Prabowo mengarahkan agar kelompok nelayan tersebut memperoleh harga khusus sehingga biaya operasional mereka dapat ditekan secara signifikan.

    Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan bahwa pemerintah menyepakati harga Rp15.000 per liter sebagai bentuk perlakuan khusus bagi pengusaha nelayan. Selisih harga dari biaya produksi solar dalam negeri akan didukung melalui dana Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP), sehingga kebijakan tersebut tidak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Pemerintah bahkan telah menyiapkan kuota sekitar 400.000 ton untuk enam bulan pertama pelaksanaan kebijakan tersebut.

    Dari perspektif ekonomi, kebijakan ini memiliki dampak berantai yang cukup besar. Penurunan biaya BBM akan meningkatkan efisiensi operasional kapal, memperbesar peluang nelayan untuk tetap melaut, menjaga stabilitas pasokan ikan, sekaligus meningkatkan pendapatan pelaku usaha perikanan. Pada akhirnya, efek tersebut juga dapat membantu menjaga stabilitas harga ikan di tingkat konsumen serta memperkuat rantai pasok sektor perikanan nasional.

    Respons positif pun datang dari kalangan nelayan. Berbagai komunitas nelayan menyambut baik kebijakan tersebut karena dinilai mampu memberikan ruang napas bagi pelaku usaha yang selama beberapa bulan terakhir menghadapi tekanan akibat kenaikan harga energi. Mereka menilai biaya operasional yang lebih rendah akan memberikan kepastian usaha sekaligus mendorong aktivitas penangkapan ikan kembali bergairah.

    Apresiasi juga disampaikan oleh Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI). Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) HNSI Jawa Tengah, Riswanto mengatakan kebijakan tersebut menjadi langkah strategis untuk meringankan beban biaya operasional nelayan karena BBM merupakan komponen biaya terbesar dalam aktivitas penangkapan ikan. Penurunan harga BBM diharapkan meningkatkan efisiensi usaha penangkapan ikan, memperkuat daya saing sektor perikanan, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir. Kebijakan tersebut juga mencerminkan perhatian pemerintah terhadap sektor kelautan dan perikanan sebagai salah satu pilar ketahanan pangan nasional sekaligus penggerak ekonomi masyarakat pesisir.

    Di sisi lain, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia mengatakan bahwa kementeriannya akan menyiapkan regulasi teknis sebagai tindak lanjut kebijakan tersebut. Menurutnya, harga khusus BBM diharapkan memberikan kepastian biaya operasional bagi pelaku usaha perikanan sehingga aktivitas produksi dapat berlangsung lebih stabil.

    Kebijakan ini memperlihatkan perubahan pendekatan pembangunan ekonomi kelautan. Selama ini, perhatian terhadap sektor perikanan sering kali lebih banyak diarahkan pada peningkatan produksi. Kini, pemerintah juga mulai menaruh perhatian terhadap struktur biaya produksi yang secara langsung menentukan tingkat kesejahteraan nelayan.

    Pendekatan tersebut menjadi penting mengingat Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia dengan lebih dari 17.000 pulau dan wilayah laut yang mencapai sekitar 6,4 juta kilometer persegi. Potensi sumber daya ikan Indonesia sangat besar sehingga sektor perikanan memiliki kontribusi penting terhadap pertumbuhan ekonomi nasional, penyediaan lapangan kerja, hingga ketahanan pangan. Namun, potensi tersebut hanya dapat dimanfaatkan secara optimal apabila pelaku utamanya, yakni nelayan, memiliki daya tahan ekonomi yang memadai.

    Kebijakan harga khusus BBM juga dapat menjadi bagian dari strategi pembangunan ekonomi berbasis pesisir. Ketika biaya produksi menurun, nelayan memiliki peluang lebih besar untuk meningkatkan produktivitas, memperbaiki kualitas hasil tangkapan, serta memperluas akses terhadap pasar. Efisiensi biaya juga memungkinkan pelaku usaha melakukan investasi pada perbaikan kapal, alat tangkap yang lebih modern, maupun penerapan teknologi penangkapan ikan yang lebih ramah lingkungan.

    Langkah pemerintah memberikan harga khusus BBM dapat dipandang sebagai titik awal dari agenda besar pembangunan ekonomi kelautan Indonesia. Kebijakan ini menunjukkan bahwa pembangunan tidak hanya berorientasi pada angka pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada upaya memperkuat kelompok produktif yang menjadi fondasi ekonomi nasional.

    Kekuatan Indonesia sebagai negara maritim tidak hanya ditentukan oleh luasnya lautan, melainkan oleh kemampuan negara memastikan masyarakat pesisir memperoleh kesempatan yang adil untuk berkembang. Ketika nelayan dapat melaut dengan biaya yang lebih efisien, memperoleh kepastian usaha, dan menikmati hasil kerja yang lebih layak, maka pembangunan ekonomi nasional sesungguhnya sedang dimulai dari pesisir. Di situlah jalan baru yang ditempuh Presiden Prabowo menemukan maknanya membangun Indonesia dari sektor yang selama ini menjadi denyut kehidupan jutaan keluarga nelayan sekaligus menjadi penyangga ketahanan pangan dan ekonomi bangsa.

    *) Penulis adalah Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia

  • Modernisasi Kapal dan Pelatihan Awak sebagai Jalan Nelayan Naik Kelas

    *) Oleh : Gavin Asadit

    Pemerintah terus memperkuat transformasi di sektor kelautan dan perikanan sebagai bagian dari strategi besar membangun ekonomi biru yang berkelanjutan. Salah satu langkah yang menjadi perhatian pada 2026 adalah pelaksanaan Program Modernisasi Kapal Perikanan yang diikuti dengan penguatan kompetensi awak kapal melalui pelatihan dan sertifikasi nasional. Pemerintah memandang bahwa peningkatan kesejahteraan nelayan tidak cukup dilakukan melalui bantuan alat tangkap semata, tetapi juga membutuhkan armada yang lebih modern, sumber daya manusia yang profesional, serta tata kelola usaha perikanan yang semakin efisien.

    Melalui kebijakan tersebut, pemerintah ingin mendorong nelayan Indonesia naik kelas, meningkatkan produktivitas penangkapan ikan, sekaligus memperkuat daya saing sektor perikanan nasional di pasar domestik maupun internasional. Upaya ini juga menjadi bagian dari agenda hilirisasi dan optimalisasi potensi sumber daya kelautan sebagai salah satu pilar pertumbuhan ekonomi nasional.

    Modernisasi armada perikanan menjadi salah satu fokus utama pemerintah dalam beberapa tahun ke depan. Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) menargetkan pembangunan sebanyak 1.582 kapal perikanan modern secara bertahap pada periode 2026–2028. Armada tersebut terdiri atas kapal berukuran 30 GT, 200 GT, hingga 500 GT yang dilengkapi dengan teknologi penangkapan yang lebih efisien, aman, dan sesuai dengan karakteristik wilayah penangkapan ikan. Pada tahap awal, pemerintah menargetkan penyelesaian 50 kapal modern sepanjang 2026 sebagai fondasi implementasi program secara nasional. Modernisasi armada ini diharapkan mampu meningkatkan produktivitas hasil tangkapan, mengurangi biaya operasional, sekaligus memperkuat keselamatan nelayan saat melaut.

    Menteri Kelautan dan Perikanan, Sakti Wahyu Trenggono menegaskan bahwa modernisasi kapal merupakan bagian dari transformasi sektor perikanan tangkap yang diarahkan Presiden Prabowo Subianto. Menurutnya, Indonesia memiliki potensi sumber daya kelautan yang sangat besar sehingga harus didukung oleh armada yang mampu beroperasi secara lebih efisien, profesional, dan berkelanjutan. Ia menilai bahwa kapal modern akan meningkatkan produktivitas nelayan sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu negara maritim terbesar di dunia. Karena itu, pemerintah tidak hanya membangun kapal baru, tetapi juga menyiapkan sistem pendukung mulai dari infrastruktur pelabuhan, rantai logistik, hingga penguatan kualitas sumber daya manusia agar transformasi sektor perikanan berjalan secara menyeluruh.

    Sejalan dengan pembangunan armada modern, pemerintah juga memprioritaskan peningkatan kualitas sumber daya manusia melalui Program Pelatihan Awak Kapal Perikanan. KKP memperkirakan modernisasi armada tersebut membutuhkan sekitar 20.094 awak kapal yang terdiri atas nahkoda, kepala kamar mesin, mualim, masinis, hingga anak buah kapal. Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, pemerintah membuka rekrutmen nasional yang diikuti pelatihan teknis, sertifikasi kompetensi, serta familiarisasi terhadap pengoperasian kapal modern.

    Direktur Jenderal Perikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan, Lotharia Latif, menjelaskan bahwa keberhasilan modernisasi armada tidak hanya ditentukan oleh teknologi kapal, tetapi juga kualitas awak yang mengoperasikannya. Menurutnya, pemerintah menyiapkan pembangunan kapal secara bertahap dengan mempertimbangkan kesiapan industri galangan nasional, ketersediaan peralatan, serta kemampuan sumber daya manusia. Ia menilai pelatihan awak kapal menjadi investasi jangka panjang karena kapal modern membutuhkan pengoperasian yang lebih profesional agar produktivitas penangkapan ikan dapat meningkat tanpa mengabaikan aspek keselamatan maupun keberlanjutan sumber daya laut. Pemerintah karena itu terus memperkuat sinergi antara sekolah-sekolah perikanan, balai pelatihan, dan masyarakat pesisir dalam mencetak tenaga kerja yang kompeten.

    Kepala Badan Penyuluhan dan Pengembangan Sumber Daya Manusia Kelautan dan Perikanan, I Nyoman Radiarta, menambahkan bahwa program penyiapan awak kapal dirancang untuk memenuhi kebutuhan operasional seluruh armada modern yang akan dibangun pemerintah. Menurutnya, kompetensi setiap awak kapal disusun berdasarkan jenjang tugas masing-masing, mulai dari perwira hingga anak buah kapal.

    Pemerintah juga mendorong agar masyarakat lokal di kawasan pesisir memperoleh prioritas sebagai tenaga kerja sehingga manfaat ekonomi dari modernisasi armada dapat dirasakan langsung oleh daerah. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa transformasi sektor perikanan tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi, tetapi juga penciptaan lapangan kerja baru dan pemberdayaan masyarakat pesisir secara berkelanjutan.

    Program modernisasi kapal juga menjadi bagian dari strategi pemerintah memperkuat ekonomi biru yang menekankan keseimbangan antara produktivitas ekonomi dan kelestarian sumber daya laut. Kapal-kapal baru dirancang menggunakan teknologi yang lebih efisien sehingga mampu meningkatkan hasil tangkapan tanpa mendorong eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya perikanan. Pemerintah juga terus memperkuat pengawasan terhadap praktik penangkapan ikan agar pemanfaatan sumber daya laut tetap memperhatikan prinsip keberlanjutan. Dengan demikian, peningkatan kesejahteraan nelayan dapat berjalan seiring dengan upaya menjaga kelestarian ekosistem laut sebagai aset strategis bangsa.

    Modernisasi kapal dan pelatihan awak kapal mencerminkan komitmen pemerintah dalam membangun sektor perikanan yang lebih maju, profesional, dan berdaya saing. Melalui pembangunan armada modern, peningkatan kompetensi nelayan, penciptaan lapangan kerja baru, serta penguatan tata kelola perikanan, pemerintah optimistis kesejahteraan masyarakat pesisir akan terus meningkat.

    Sinergi antara pemerintah, dunia pendidikan, industri galangan kapal, dan masyarakat nelayan diharapkan mampu melahirkan generasi pelaku perikanan yang semakin kompeten sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai negara maritim yang mandiri. Dengan langkah tersebut, modernisasi perikanan bukan hanya menjadi investasi pada teknologi, tetapi juga investasi terhadap kualitas sumber daya manusia yang akan membawa nelayan Indonesia naik kelas dan menjadi pilar penting ketahanan pangan nasional.

    )* Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial dan Kemasyarakatan