Penulis: restiana818@gmail.com

  • MBG Mengakselerasi Pembangunan SDM di Papua

    Oleh : Yohanes Wandikbo )*

    Pembangunan sumber daya manusia menjadi fondasi utama dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Di tengah berbagai tantangan geografis dan pemerataan pembangunan, Papua menjadi salah satu wilayah yang memperoleh perhatian besar dari pemerintah melalui berbagai program strategis. Salah satu langkah nyata tersebut adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG), yang tidak hanya berorientasi pada pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga menjadi instrumen percepatan pembangunan manusia. Program ini mencerminkan komitmen pemerintah dalam memastikan seluruh anak bangsa memiliki kesempatan yang sama untuk tumbuh sehat, cerdas, dan produktif, tanpa terkecuali masyarakat di Tanah Papua.

    Pemerintah terus menunjukkan keseriusan dalam menyempurnakan pelaksanaan program tersebut. Berbagai evaluasi dilakukan secara berkala agar MBG benar-benar berjalan sesuai kebutuhan masyarakat. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pemerintah tidak sekadar melaksanakan program, tetapi juga terus melakukan penyempurnaan berdasarkan kondisi di lapangan sehingga kualitas layanan semakin meningkat dari waktu ke waktu.

    Di Papua Barat Daya, evaluasi pelaksanaan MBG dilakukan dengan melibatkan Badan Gizi Nasional, Satuan Tugas MBG, kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), tenaga ahli gizi, serta pemerintah daerah. Langkah tersebut menjadi bukti bahwa keberhasilan program dibangun melalui kolaborasi lintas sektor sehingga setiap kendala dapat segera diidentifikasi dan dicarikan solusi yang tepat.

    Wakil Gubernur Papua Barat Daya Ahmad Nausrau menjelaskan bahwa evaluasi dilakukan sebagai tindak lanjut atas berbagai masukan masyarakat mengenai pelaksanaan MBG. Evaluasi tersebut tidak hanya membahas perkembangan operasional SPPG, tetapi juga memperbarui data penerima manfaat, mengidentifikasi kendala distribusi, serta memastikan kualitas makanan yang diberikan tetap memenuhi standar gizi yang telah ditetapkan oleh Badan Gizi Nasional.

    Hingga kini, puluhan SPPG telah beroperasi di Papua Barat Daya dan menjangkau puluhan ribu peserta didik serta kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Capaian tersebut memperlihatkan bahwa pemerintah mampu memperluas akses layanan gizi secara bertahap meskipun wilayah Papua memiliki tantangan geografis yang berbeda dibandingkan daerah lain di Indonesia.

    Dalam setiap program berskala nasional, tantangan tentu tidak dapat dihindari. Keterbatasan pasokan bahan pangan lokal, variasi menu makanan, maupun kelengkapan data penerima manfaat menjadi bagian dari proses penyempurnaan kebijakan. Yang patut diapresiasi adalah respons cepat pemerintah dalam menjadikan berbagai kendala tersebut sebagai bahan evaluasi untuk meningkatkan kualitas layanan, bukan sebagai hambatan yang menghentikan pelaksanaan program.

    Pemerintah juga memberikan perhatian khusus terhadap wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T). Upaya menghadirkan MBG hingga ke wilayah tersebut menunjukkan komitmen agar tidak ada masyarakat yang tertinggal dalam memperoleh hak atas makanan bergizi. Usulan pengelolaan MBG melalui sekolah berasrama maupun pondok pesantren menjadi alternatif yang mencerminkan fleksibilitas pemerintah dalam mencari solusi sesuai karakteristik wilayah Papua.

    Perkembangan positif juga terlihat di Kabupaten Nabire, Papua Tengah. Selama semester pertama tahun 2026, lebih dari 32 ribu masyarakat telah menerima manfaat MBG melalui 14 SPPG yang tersebar di berbagai distrik. Program tersebut menjangkau peserta didik sekaligus kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita sebagai sasaran prioritas dalam upaya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat.

    Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional Nabire Marsel Asyerem menyampaikan bahwa evaluasi selama enam bulan pertama menjadi dasar penyempurnaan program agar jangkauannya semakin luas dan kualitas pelayanannya semakin baik. Menurutnya, keberhasilan MBG bukan hanya diukur dari jumlah makanan yang disalurkan, tetapi juga dari kontribusinya dalam membangun sumber daya manusia Papua yang sehat sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat.

    Manfaat MBG juga terlihat dari dampaknya terhadap perekonomian daerah. Operasional SPPG telah membuka ratusan lapangan pekerjaan, termasuk bagi Orang Asli Papua. Kehadiran program ini menciptakan peluang kerja baru sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat. Selain itu, kebutuhan bahan pangan dalam jumlah besar memberikan peluang bagi petani, peternak, nelayan, dan pelaku usaha lokal untuk memperluas pasar hasil produksinya.

    Kebijakan pemerintah yang mendorong penggunaan komoditas lokal sebagai bahan baku MBG menjadi langkah yang sangat strategis. Semakin besar keterlibatan pelaku usaha lokal, semakin besar pula nilai tambah ekonomi yang tercipta di daerah. Dengan demikian, MBG berkembang menjadi program yang memiliki manfaat ganda, yakni meningkatkan kualitas gizi sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi masyarakat Papua.

    Agar manfaat tersebut semakin optimal, pemerintah juga memperkuat aspek transparansi melalui Sistem Informasi Akuntabilitas dan Pelaporan MBG (SIAP-MBG). Sistem digital ini memungkinkan proses perencanaan, pengelolaan anggaran, hingga distribusi makanan dipantau secara lebih terbuka sehingga pelaksanaan program berlangsung semakin akuntabel dan efisien.

    Pengembang SIAP-MBG Azrulah Kainage menjelaskan bahwa sistem tersebut dikembangkan untuk memperkuat pengawasan publik sekaligus memastikan setiap anggaran yang dialokasikan benar-benar memberikan manfaat bagi masyarakat. Transparansi tersebut menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan masyarakat terhadap pelaksanaan program pemerintah.

    Keberhasilan MBG di Papua menunjukkan bahwa pembangunan sumber daya manusia memerlukan kolaborasi seluruh pihak. Pemerintah pusat menyediakan kebijakan dan anggaran, pemerintah daerah memastikan pelaksanaan berjalan efektif, sedangkan masyarakat berperan aktif mendukung kelancaran program. Sinergi tersebut menjadi modal penting untuk menciptakan pembangunan yang berkelanjutan.

    )* Penulis merupakan Pengamat Pembangunan Papua

  • Komitmen Penyempurnaan MBG demi Manfaat Lebih Optimal dan Tata Kelola yang Lebih Baik

    Oleh: Ethan Shabir Uttara *)

    Dalam studi kebijakan publik, keberhasilan sebuah program nasional tidak pernah diukur dari absennya kritik. Sebaliknya, program yang baik justru ditandai oleh kemampuannya beradaptasi, menerima evaluasi, lalu melakukan penyempurnaan secara berkelanjutan. Literatur public policy menyebut proses tersebut sebagai policy learning, yakni kemampuan pemerintah belajar dari pengalaman implementasi untuk menghasilkan kebijakan yang semakin efektif. Tidak ada program berskala besar yang langsung sempurna sejak hari pertama, termasuk program makan bergizi di berbagai negara maju.

    Program Makan Bergizi Gratis (MBG) Indonesia kini berada pada fase tersebut. Setelah memasuki tahap implementasi nasional, berbagai tantangan muncul, mulai dari tata kelola, distribusi, pengawasan, hingga efisiensi anggaran. Pemerintah memilih melakukan evaluasi menyeluruh dan memperbaiki berbagai aspek pelaksanaan. Pilihan ini menunjukkan pendekatan kebijakan yang lebih dewasa dibanding sekadar mempertahankan status quo atau justru menghentikan program yang manfaatnya telah dirasakan masyarakat.

    Komitmen tersebut ditegaskan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa yang menyatakan bahwa MBG merupakan salah satu program prioritas Presiden Prabowo Subianto sehingga tidak akan dihentikan. Menurutnya, yang sedang dilakukan pemerintah bukanlah mengurangi komitmen terhadap pemenuhan gizi masyarakat, melainkan menyempurnakan pelaksanaannya agar semakin efisien, tepat sasaran, dan memberikan manfaat yang lebih besar. Ia juga mengakui bahwa sebagai program baru berskala nasional, masih terdapat berbagai kekurangan dalam implementasi yang memang harus dibenahi secara bertahap.

    Hal ini memperlihatkan filosofi dasar pengelolaan kebijakan publik. Pemerintah tidak menutup mata terhadap berbagai persoalan yang muncul di lapangan. Sebaliknya, evaluasi dijadikan instrumen utama untuk meningkatkan kualitas layanan kepada masyarakat. Dalam perspektif evidence-based policy, keputusan semacam ini justru mencerminkan tata kelola pemerintahan yang sehat karena kebijakan disesuaikan berdasarkan pengalaman implementasi, bukan semata-mata berdasarkan asumsi awal.

    Salah satu bentuk penyempurnaan yang kini dilakukan adalah efisiensi anggaran. Pemerintah melakukan penyesuaian alokasi anggaran MBG dari rencana awal sekitar Rp330 triliun menjadi Rp270 triliun. Langkah tersebut sering kali dipersepsikan sebagai pengurangan komitmen pemerintah terhadap program. Padahal, substansinya berbeda. Efisiensi bukan berarti mengurangi manfaat program, melainkan memastikan setiap rupiah anggaran negara menghasilkan manfaat publik yang lebih optimal.

    Efisiensi merupakan salah satu prinsip utama good governance. Negara dituntut tidak hanya mampu menyediakan pelayanan publik, tetapi juga memastikan sumber daya yang digunakan benar-benar memberikan nilai tambah bagi masyarakat. Keberhasilan sebuah program bukan diukur dari besarnya anggaran yang dibelanjakan, melainkan dari efektivitas manfaat yang diterima penerima program.

    Selain melakukan penyesuaian anggaran, pemerintah juga memperkuat sistem pengawasan pelaksanaan MBG. Kementerian Keuangan melalui Direktorat Jenderal Perbendaharaan (DJPb) kini ditugaskan melakukan pemantauan rutin terhadap operasional setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di berbagai daerah. Hasil pemantauan tersebut akan menjadi dasar evaluasi bersama Badan Gizi Nasional (BGN), sehingga setiap persoalan dapat segera diperbaiki sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar. Pendekatan seperti ini memperkuat akuntabilitas sekaligus meningkatkan kepercayaan publik terhadap penggunaan keuangan negara.

    Di sisi lain, Badan Gizi Nasional juga melakukan penataan melalui penghentian sementara pembangunan SPPG baru yang belum beroperasi. Kebijakan moratorium tersebut memberi ruang bagi pemerintah untuk mengevaluasi kapasitas dapur yang telah berjalan, memetakan kebutuhan riil setiap wilayah, sekaligus memastikan distribusi layanan berlangsung lebih merata.

    Langkah tersebut sekaligus menjawab berbagai kritik yang berkembang di ruang publik. Kepala Badan Komunikasi Pemerintah, Muhammad Qodari, bahkan menegaskan bahwa kritik masyarakat merupakan bagian penting dalam proses penyempurnaan kebijakan. Namun menurutnya, menghentikan MBG bukanlah solusi karena manfaat program telah dirasakan oleh kelompok masyarakat yang paling membutuhkan. Yang diperlukan adalah evaluasi menyeluruh terhadap tata kelola, ketepatan sasaran, kualitas layanan, serta efisiensi pelaksanaannya.

    Sejalan dengan prinsip kebijakan adaptif adaptive governance, berdasarkan dinamika pelaksanaan tanpa kehilangan tujuan utama program. Dari perspektif ekonomi publik, Ekonom LPEM Universitas Indonesia, Teuku Riefky, menilai penataan di sektor MBG merupakan langkah awal yang baik dalam memperkuat ruang fiskal pemerintah. Meskipun tantangan pengelolaan anggaran nasional masih cukup besar, upaya meningkatkan efisiensi pada program strategis menunjukkan adanya komitmen menjaga keseimbangan antara pembangunan sosial dan disiplin fiskal. Artinya, pemerintah tidak hanya mengejar manfaat jangka pendek, tetapi juga menjaga keberlanjutan keuangan negara dalam jangka panjang.

    Komitmen tersebut diperkuat oleh Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim, Hashim Djojohadikusumo, yang menegaskan bahwa pemerintah bertekad melanjutkan Program Makan Bergizi Gratis hingga tujuan besarnya tercapai. Namun ia juga mengingatkan bahwa setiap program yang memiliki tujuan mulia memerlukan pengawasan yang kuat agar implementasinya benar-benar sesuai sasaran. Karena itu, keterlibatan berbagai kementerian, lembaga, pemerintah daerah, hingga masyarakat menjadi bagian penting dalam memastikan MBG berjalan secara akuntabel.

    Pada akhirnya, kualitas suatu kebijakan publik tidak ditentukan oleh kemampuannya menghindari kritik, melainkan oleh kesediaan pemerintah menjadikan kritik sebagai bahan pembelajaran. Program Makan Bergizi Gratis kini memasuki fase pendewasaan kebijakan, yakni fase ketika evaluasi, efisiensi, pengawasan, dan penyempurnaan berjalan beriringan dengan komitmen menjaga manfaat bagi masyarakat.

    *) pemerhati kebijakan publik

  • Pemerintah Perkuat Ekosistem MBG lewat Nutripreneur, Dorong Kesejahteraan Masyarakat

    Jakarta – Pemerintah terus memperkuat ekosistem Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya melalui penyediaan layanan pangan bergizi, tetapi juga dengan mendorong lahirnya pelaku usaha baru di sektor gizi. Langkah tersebut diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja, memperkuat rantai pasok, sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di berbagai daerah.

    Upaya itu diwujudkan melalui kerja sama Kementerian Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dengan Dewan Pimpinan Pusat Persatuan Ahli Gizi Indonesia (DPP Persagi) untuk mencetak nutripreneur, yakni wirausaha yang memiliki kompetensi di bidang gizi dan kewirausahaan.

    Deputi Bidang Kewirausahaan Kementerian UMKM Riza Adha Damanik mengatakan kolaborasi tersebut diarahkan untuk melahirkan sumber daya manusia yang mampu memberikan manfaat bagi kesehatan sekaligus menggerakkan ekonomi lokal.

    “Kami menyambut inisiatif Persagi untuk membangun kerja sama dalam kerangka mendorong lahirnya nutripreneur yang memiliki keahlian terkait gizi dan di sisi lain menjadi pengusaha yang berkontribusi terhadap ekonomi daerah,” kata Riza.

    Ia menjelaskan pemerintah menyiapkan penguatan inkubasi usaha, pendataan melalui platform SAPA UMKM, serta pengembangan jejaring inkubator bersama Politeknik Kesehatan dan perguruan tinggi berbasis kesehatan. Menurutnya, proses inkubasi akan membuka akses pelatihan, pendampingan, hingga pembiayaan melalui Program Kewirausahaan dan Penciptaan Lapangan Kerja (Prokersa).

    Riza juga menilai pelaksanaan MBG di Jawa Timur menunjukkan dampak ekonomi yang positif karena melibatkan petani, nelayan, peternak, pekebun, pedagang pasar, hingga UMKM dalam rantai pasok pangan.

    “Skema tersebut tidak hanya meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga mendorong perputaran ekonomi daerah,” tuturnya.

    Ketua Umum DPP Persagi Doddy Izwardy mengatakan sinergi tersebut menjadi bagian dari penguatan pembangunan gizi berbasis ilmu pengetahuan dan kewirausahaan agar manfaatnya berkelanjutan.

    Sementara itu, Utusan Khusus Presiden Bidang Energi dan Iklim Hashim Djojohadikusumo memastikan MBG akan terus dilanjutkan. “Saya kira sudah bukan rahasia lagi bahwa pemerintah sudah bertekad untuk melanjutkan program MBG, tidak akan berhenti sampai nanti kita berhasil,” katanya.

    Hashim menambahkan pengawasan yang kuat tetap menjadi kunci agar program berjalan tepat sasaran sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat sekaligus mendukung peningkatan kualitas sumber daya manusia menuju Indonesia Emas 2045.***

  • Pemerintah Perkuat Evaluasi MBG, Publik Diimbau Tak Terpancing Provokasi Demo

    Jakarta – Pemerintah memastikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap menjadi prioritas meski kembali menjadi sorotan dalam aksi demonstrasi. Masyarakat juga diimbau tidak mudah terpancing provokasi untuk berdemonstrasi mengingat program tersebut terus dievaluasi dan diawasi.

    Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan Presiden Prabowo Subianto memerintahkan efisiensi besar-besaran terhadap pelaksanaan MBG tanpa menghapus program tersebut. Anggaran yang semula dialokasikan sekitar Rp330 triliun telah disesuaikan menjadi Rp270 triliun dan masih berpotensi diturunkan kembali.

    “Jadi kalau tadinya kita alokasikan Rp330 triliun, turun ke Rp270 triliun, nanti mungkin turun lagi ke level yang lebih rendah lagi dari itu. Jadi akan dilakukan efisiensi yang besar-besaran. Ini perintah Bapak Presiden,” ujar Purbaya.

    Menurutnya, penyempurnaan dilakukan karena pemerintah menyadari masih terdapat sejumlah kekurangan pada tahap awal pelaksanaan. Untuk memperkuat pengawasan, Kementerian Keuangan melalui Direktorat Jenderal Perbendaharaan akan memantau penggunaan anggaran Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di daerah.

    “Mereka (unit kerja DJPb di daerah) kasih laporannya ke saya. Nanti kalau memang jelek, saya akan laporkan ke BGN untuk dia ambil tindakan,” kata Bendahara Negara tersebut.

    Ia menegaskan pemerintah juga memiliki mekanisme penyesuaian anggaran apabila rekomendasi perbaikan tidak dijalankan. “Nah kalau enggak ambil tindakan dalam keadaan seperti itu baru saya bisa potong anggarannya,” ujarnya.

    Sebelumnya, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI Muhammad Qodari menegaskan evaluasi merupakan jawaban pemerintah terhadap berbagai masukan masyarakat, bukan alasan untuk menghentikan MBG.

    “Setiap program besar pasti menghadapi tantangan dalam implementasi. Yang perlu dilakukan adalah evaluasi dan perbaikan, bukan menghentikan program yang sudah memberi manfaat,” ujar Qodari.

    Saat ini pemerintah mengevaluasi ketepatan sasaran penerima, operasional SPPG, kualitas menu, tata kelola, hingga mekanisme pembayaran yang diperkirakan mampu menghemat anggaran hingga Rp1 triliun. BGN pun memastikan efisiensi tidak akan mengurangi alokasi bahan baku makanan.

    Dengan langkah evaluasi yang terus diperkuat, pemerintah berharap publik menyikapi dinamika seputar MBG secara objektif dan tidak mudah terpengaruh narasi provokatif yang dapat mengaburkan tujuan utama program, yakni meningkatkan kualitas gizi masyarakat. ***

  • Program MBG Jadi Katalisator Ekonomi Desa dan Peluang Usaha Baru

    Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berperan meningkatkan pemenuhan gizi masyarakat, tetapi juga menjadi katalisator pertumbuhan ekonomi desa. Pelaksanaan program MBG membuka peluang bagi petani, peternak, nelayan, pelaku UMKM, hingga Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) untuk terlibat dalam penyediaan bahan baku, sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.

    Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDT) Yandri Susanto mengatakan desa memiliki potensi besar untuk mendukung keberhasilan MBG melalui penyediaan bahan pangan lokal yang berkelanjutan. Potensi tersebut ditopang oleh lebih dari 45 ribu BUMDes yang bergerak di sektor pangan, pertanian, dan kelautan.

    “BUMDesa saat ini jumlahnya lebih dari 45 ribu dengan usaha di bidang Desa Tematik, yaitu pangan, pertanian, dan kelautan,” ungkapnya.

    Menurut Yandri, saat ini hampir 1.000 BUMDes telah menjadi pemasok bahan baku Program MBG. Keterlibatan tersebut menunjukkan bahwa pelaksanaan MBG tidak hanya meningkatkan akses masyarakat terhadap makanan bergizi, tetapi juga menciptakan permintaan yang berkelanjutan terhadap hasil produksi desa sehingga menggerakkan aktivitas ekonomi masyarakat.

    “Kami berterima kasih kepada Kementerian Kelautan atas pendampingan program Kemendes selama ini. Saat ini hampir 1.000 BUMDesa jadi penyuplai bahan baku Makan Bergizi Gratis,” ujarnya.

    Pemerintah juga terus memperkuat ekosistem pendukung MBG melalui pengembangan desa tematik dan penguatan ketahanan pangan. Kebijakan alokasi Dana Desa untuk sektor pangan diharapkan semakin meningkatkan kapasitas desa dalam memenuhi kebutuhan bahan baku program, sekaligus membuka ruang bagi tumbuhnya usaha-usaha produktif berbasis potensi lokal.

    Yandri berharap semakin banyak BUMDes dan Koperasi Desa Merah Putih yang terlibat sebagai pemasok kebutuhan MBG melalui Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Semakin kuat rantai pasok pangan yang dibangun dari desa, semakin besar pula dampak ekonomi yang dihasilkan, mulai dari meningkatnya penyerapan hasil produksi lokal, terciptanya peluang usaha baru, hingga bertambahnya pendapatan masyarakat.

    Dengan ekosistem yang melibatkan berbagai pelaku ekonomi desa, MBG tidak hanya menjadi investasi untuk menciptakan generasi yang sehat dan berkualitas, tetapi juga menjadi penggerak pertumbuhan ekonomi yang mendorong kemandirian desa melalui penguatan produksi pangan lokal dan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.

  • Komitmen Pemerintah Perkuat Evaluasi Berkala demi Optimalisasi MBG di Papua

    SORONG – Pemerintah terus memperkuat komitmennya dalam memastikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Papua memberikan manfaat nyata bagi masyarakat melalui evaluasi berkala dan penyempurnaan tata kelola pelaksanaan di lapangan. Langkah tersebut dilakukan sebagai bagian dari upaya menghadirkan layanan pemenuhan gizi yang berkualitas, tepat sasaran, dan berkelanjutan, khususnya bagi peserta didik, ibu hamil, ibu menyusui, serta balita.

    Pemerintah Provinsi Papua Barat Daya bersama Badan Gizi Nasional (BGN), Satuan Tugas MBG, kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), dan tenaga ahli gizi menggelar evaluasi menyeluruh terhadap pelaksanaan program. Evaluasi dilakukan untuk menindaklanjuti berbagai masukan masyarakat sekaligus memastikan seluruh pelaksanaan program memenuhi standar pelayanan yang telah ditetapkan pemerintah.

    Wakil Gubernur Papua Barat Daya Ahmad Nausrau mengatakan pemerintah berkomitmen untuk terus menyempurnakan pelaksanaan MBG agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal oleh seluruh penerima manfaat.

    “Pelaksanaan evaluasi berkala dan pengawasan ketat terhadap standar operasional SPPG di Papua mencerminkan keterbukaan serta komitmen kuat pemerintah untuk terus menyempurnakan tata kelola, mutu gizi, dan efektivitas program, sehingga manfaat utamanya dapat diterima secara optimal dan tepat sasaran oleh masyarakat,” ujar Ahmad Nausrau.

    Menurutnya, hingga saat ini sebanyak 21 SPPG telah beroperasi di Papua Barat Daya dan telah melayani lebih dari 79 ribu peserta didik serta sekitar 50 ribu ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Capaian tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah dalam memperluas akses masyarakat terhadap pemenuhan gizi sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia yang unggul.

    Meski demikian, pemerintah tidak menutup mata terhadap berbagai tantangan yang masih dihadapi, mulai dari keterbatasan pasokan bahan pangan lokal, variasi menu, hingga proses pendataan penerima manfaat. Berbagai kendala tersebut justru dijadikan bahan evaluasi untuk memperkuat efektivitas program dan memastikan kualitas layanan terus meningkat.

    “Kami ingin pelaksanaan program MBG berjalan sesuai standar sehingga manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat dan kualitas pelayanannya terus meningkat,” tegas Ahmad.

    Pemerintah juga mendorong penguatan pelaksanaan MBG di wilayah terdepan, terluar, dan tertinggal (3T) melalui skema yang lebih adaptif terhadap kondisi daerah. Langkah tersebut diharapkan mampu memperluas jangkauan layanan sehingga masyarakat di wilayah yang paling membutuhkan dapat memperoleh akses pemenuhan gizi secara merata.

    Komitmen melakukan evaluasi secara berkelanjutan mencerminkan keseriusan pemerintah dalam menjaga kualitas Program MBG sekaligus memastikan setiap kebijakan yang dijalankan memberikan dampak nyata bagi peningkatan kesehatan, kualitas generasi muda, dan kesejahteraan masyarakat Papua. Dengan tata kelola yang semakin baik serta pengawasan yang konsisten, Program MBG diharapkan menjadi salah satu pilar penting dalam mewujudkan pembangunan sumber daya manusia Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing.

  • Kepala Bakom RI: Pelaku Korupsi Program MBG Harus Tetap Diproses, Tanpa Melihat Latar Belakang

    Jakarta – Baru-baru ini, Kejaksaan Agung (Kejagung) kembali menetapkan satu tersangka baru pada kasus dugaan korupsi tata kelola program MBG. Tersangka adalah Sekretaris Deputi Bidang Promosi dan Kerja Sama Badan Gizi Nasional (BGN) yang merupakan perwira Polri aktif.

    Kejagung juga mengungkap adanya dugaan keterlibatan seorang perwira TNI aktif dalam penyidikan kasus dugaan korupsi Program Makan Bergizi Gratis di lingkungan BGN. Perwira tersebut menjabat sebagai Sekretaris Deputi Bidang Penyediaan dan Penyaluran di BGN.

    Menanggapi hal tersebut, Kepala Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI Muhammad Qodari menegaskan, Kejagung diberikan keleluasaan penuh oleh Presiden Prabowo Subianto untuk mengusut tuntas skandal yang menggerogoti program prioritas nasional tersebut.

    “Seperti dikatakan oleh Bapak Presiden bahwa hukum sekarang ditegakkan tanpa pandang bulu apa pun latar belakangnya,” kata Qodari usai membuka kompetisi olah rasa antarmedia di Jakarta, beberapa waktu lalu.

    Bahwa penanganan hukum dipastikan tidak akan melunak meskipun harus berhadapan dengan tameng institusi vertikal aparat penegak hukum maupun militer. Menurutnya, penegakan hukum tidak didasarkan pada latar belakang profesi seseorang, melainkan pada dugaan perbuatan yang dilakukan saat menjalankan tugas.

    “Jadi, bukan karena latar belakangnya polisi, bukan karena latar belakangnya nonpolisi, tetapi karena memang masalah-masalah yang terjadi di saat beliau sedang ditugaskan di tempat yang di mana kasus itu terjadi, yaitu BGN,” tegasnya.

    Sebelumnya, Kejagung berhasil membongkar peran perwira aktif TNI atas dugaan rekayasa tender. Sementara untuk anggota Polri aktif, dijebloskan ke tahanan atas dugaan pemerasan monopoli alat makan berupa food tray kepada calon mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

    Direktur Penyidikan Jaksa Agung Muda Tindak Pidana Khusus (Jampidsus), Syarief Sulaeman Nahdi, mengatakan dugaan keterlibatan perwira TNI aktif ditemukan berdasarkan hasil pengembangan penyidikan yang sedang dilakukan penyidik Kejagung.

    “Berdasarkan pengembangan penyidikan korupsi tata kelola Program Makan Bergizi Gratis ini, kami menemukan adanya keterlibatan oknum TNI aktif,” ujar Syarief di Gedung Bundar Kejaksaan Agung, Jakarta.

    Kejagung juga menegaskan bahwa proses penyidikan dugaan korupsi tata kelola Program Makan Bergizi Gratis masih terus berjalan. Penyidik memastikan seluruh pihak yang diduga terlibat akan diproses sesuai mekanisme hukum yang berlaku, termasuk melalui jalur koneksitas apabila melibatkan personel TNI aktif. [*]

  • Program MBG Dinilai Perkuat Keadilan Sosial Melalui Pemenuhan Gizi

    Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai berbagai kalangan semakin mempertegas peran negara dalam mengurangi ketimpangan sosial melalui pemenuhan hak gizi masyarakat.

    Mantan Ketua Komisi Nasional Hak Asasi Manusia (Komnas HAM), Hafid Abbas, menilai MBG merupakan kebijakan afirmatif yang memiliki dasar konstitusional karena memberikan kesempatan yang sama bagi setiap anak tanpa membedakan latar belakang ekonomi keluarga.

    “Program MBG merupakan salah satu instrumen konstitusional negara untuk mewujudkan persamaan kesempatan atau equality of opportunity melalui pengurangan hambatan-hambatan sosial dan ekonomi,” ujar Hafid.

    Guru Besar Universitas Negeri Jakarta (UNJ) itu menjelaskan bahwa Indonesia masih menghadapi kesenjangan sosial yang cukup lebar sehingga diperlukan intervensi negara untuk memastikan anak-anak dari keluarga kurang mampu tetap memiliki peluang berkembang secara optimal.

    “MBG merupakan salah satu instrumen pemerataan negara yang dapat dikategorikan sebagai most immediate demand sebagai satu kebijakan afirmatif yang dirancang untuk mempersempit kesenjangan kehidupan sosial, ekonomi, jurang kaya-miskin yang teramat ekstrem di negeri ini,” tegasnya.

    Menurut Hafid, tanpa intervensi negara melalui program gizi sekolah, ketimpangan kualitas pendidikan dan kondisi ekonomi keluarga akan terus memperlebar kesenjangan antargenerasi.

    “Negara harus hadir untuk memberi hari depan yang cerah bagi masa depan bangsa ini. Dengan itu, MBG hadir sebagai instrumen penyelamat masa depan generasi bangsa ini,” katanya.

    Pandangan serupa disampaikan Ketua Umum Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi), Dr. Doddy Izwardy, yang menilai MBG memiliki manfaat jauh lebih luas dibanding sekadar memenuhi kebutuhan pangan harian anak sekolah.

    “Intervensi anak sekolah diposisikan sebagai agenda gizi dan pencegahan penyakit tidak menular. Ini yang menjadi penekanan yang kami sampaikan,” ujar Doddy.

    Ia menjelaskan bahwa anak usia sekolah masih berada pada fase pertumbuhan fisik dan perkembangan otak yang sangat pesat sehingga membutuhkan asupan gizi yang memadai. Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia dan Riskesdas, prevalensi stunting pada kelompok usia 5–12 tahun masih mencapai 23,6 persen, sementara kelebihan berat badan dan obesitas sekitar 20 persen.

    “Program MBG selama pelaksanaannya menunjukkan adanya peningkatan konsumsi buah dan sayur pada anak sekolah, sekaligus membantu mendorong pola makan yang lebih sehat,” jelasnya.

    Karena itu, ia menegaskan bahwa program gizi sekolah perlu dipandang sebagai investasi pembangunan manusia lintas sektor yang berkontribusi terhadap peningkatan kualitas pendidikan, kesehatan, hingga pertumbuhan ekonomi.

    “Program gizi sekolah sebaiknya tidak diposisikan hanya sebagai bantuan makan atau pangan, tetapi sebagai investasi human capital lintas sektor,” tegas Doddy.

    Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/Kepala BKKBN Wihaji menegaskan bahwa pemenuhan gizi pada kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita non-PAUD (MBG 3B) menjadi langkah penting untuk mencegah stunting sejak awal kehidupan.

    “Kenapa MBG 3B itu penting? Salah satu penyebab stunting adalah kurangnya asupan gizi. Inilah wujud kehadiran negara melalui Program MBG 3B untuk menjawab penyebab stunting yang berkaitan dengan pemenuhan gizi,” ujar Wihaji.

    Ia menambahkan bahwa keberhasilan program sangat bergantung pada sinergi antarkementerian dan lembaga, termasuk penyelarasan data agar bantuan benar-benar tepat sasaran.

  • Melalui Pendekatan Ilmiah Para Ahli Gizi Dukung Peningkatan Kualitas Pelaksanaan MBG

    Persatuan Ahli Gizi Indonesia (PERSAGI) terus mengawal program ini dengan pendekatan ilmiah, menekankan bahwa peran ahli gizi sangat vital dalam menyusun menu sesuai Angka Kecukupan Gizi (AKG) dan melakukan uji organoleptik demi memastikan keamanan serta kelayakan makanan.

    Ahli gizi sangat mendukung program Makan Bergizi Gratis (MBG) karena dinilai krusial sebagai investasi pembangunan sumber daya manusia (SDM). Hal ini dapat menjadi unsur utama dalam melakukan pencegahan penyakit tidak menular, dan upaya percepatan penurunan stunting.

    Ketua Umum DPP PERSAGI Ir. Doddy Izwardy mengatakan rekomendasi tersebut berfokus pada penguatan ketahanan gizi, keamanan pangan, kesehatan saluran cerna, hingga edukasi masyarakat.

    DPP PERSAGI tengah menyiapkan rekomendasi bagi pemerintah untuk memperkuat pembangunan gizi nasional. Hal itu dibahas dalam Temu Ilmiah Nasional II PERSAGI, yang nantinya akan disampaikan kepada Presiden sebagai bahan penguatan kebijakan.

    Menurutnya, peran organisasi profesi dibutuhkan untuk mendukung target Indonesia Emas 2045 dan penurunan stunting.

    “Nanti kita akan berikan kepada pemerintah, ke Bapak Presiden, hasil dari semua tim ini. Karena tujuan kita adalah 2045 yang 19 tahun lagi, yang stunting-nya harus 5%. Kami lah yang berusaha memberikan ke pemerintah karena kami kepakaran dari profesi,” kata Doddy di sela Temu Ilmiah Nasional II PERSAGI yang digelar di Trans Luxury Hotel Surabaya.

    Dalam sambutannya Sekretaris Daerah Provinsi Jawa Timur, Adhy Karyono, mengatakan bahwa forum ilmiah ini sangat penting untuk memperkuat keamanan pangan, ketahanan gizi, serta edukasi masyarakat dalam mendukung keberhasilan Program Makan Bergizi Gratis.

    Program MBG tidak hanya memberikan manfaat bagi kesehatan anak-anak, pelajar, santri, ibu hamil, dan balita, tetapi juga memberikan dampak positif terhadap pertumbuhan ekonomi, khususnya di Jawa Timur.

    “Forum ini menjadi ruang konferensi ilmiah untuk membahas ketahanan pangan, ketepatan gizi, keamanan pangan, hingga penguatan edukasi dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis,” ujarnya.

    Adhy Karyono, mewakili Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa membuka secara resmi TIN II Persagi. Menurutnya, ekosistem MBG melibatkan banyak sektor, mulai dari petani, peternak, nelayan, pelaku UMKM, hingga distributor bahan pangan. Keterlibatan berbagai sektor tersebut menciptakan perputaran ekonomi yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.

    “Dampak Program MBG bukan hanya pada peningkatan kualitas kesehatan masyarakat, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi daerah melalui pemberdayaan petani, peternak, nelayan, UMKM, hingga pelaku distribusi pangan,” jelasnya.

    Pelaksanaan MBG juga membuka lapangan pekerjaan baru sehingga mampu meningkatkan pendapatan masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi, baik di Jawa Timur maupun secara nasional.

  • Pemerintah Perluas Jangkauan MBG di Papua Demi Peningkatan Penerima Manfaat

    NABIRE – Pemerintah terus memperluas pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di Papua agar semakin banyak masyarakat merasakan manfaatnya. Di Kabupaten Nabire, Papua Tengah, program tersebut tidak hanya meningkatkan akses terhadap makanan bergizi bagi peserta didik dan kelompok rentan, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi lokal melalui penyerapan tenaga kerja, pemanfaatan komoditas daerah, dan penguatan tata kelola yang transparan.

    Selama semester I 2026, Badan Gizi Nasional (BGN) Nabire mencatat sebanyak 32.002 penerima manfaat telah menerima layanan MBG. Jumlah tersebut terdiri atas 28.113 peserta didik serta 3.889 penerima dari kelompok ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Pelaksanaan program didukung oleh 14 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tersebar di sejumlah distrik di Kabupaten Nabire.

    Koordinator Wilayah Badan Gizi Nasional (BGN) Nabire, Marsel Asyerem, mengatakan evaluasi yang dilakukan selama enam bulan pertama menjadi dasar penyempurnaan program agar jangkauannya semakin luas dan kualitas layanan terus meningkat. “Evaluasi ini bukan sekadar melihat berapa banyak makanan yang telah disalurkan, tetapi merupakan bentuk tanggung jawab dalam membangun sumber daya manusia Papua yang sehat sekaligus menggerakkan kemandirian ekonomi daerah,” ujar Marsel Asyerem.

    Selain menghadirkan manfaat di bidang gizi, MBG turut memberikan dampak ekonomi yang signifikan. Sebanyak 658 tenaga kerja telah terserap dalam operasional 14 SPPG, termasuk 180 Orang Asli Papua (OAP). Dengan penghasilan harian antara Rp120 ribu hingga Rp200 ribu, program tersebut mendorong perputaran ekonomi lokal yang diperkirakan mencapai Rp1,58 miliar hingga Rp2,63 miliar setiap bulan.

    BGN Nabire juga terus mendorong pemanfaatan hasil pertanian, peternakan, dan perikanan lokal sebagai bahan baku utama penyediaan makanan bergizi. Langkah ini diharapkan mampu memperluas manfaat ekonomi bagi petani, peternak, nelayan, serta pelaku usaha di Kabupaten Nabire seiring meningkatnya kebutuhan bahan pangan program.

    Marsel Asyerem menegaskan bahwa perluasan manfaat MBG tidak hanya diukur dari bertambahnya jumlah penerima layanan, tetapi juga dari dampaknya terhadap kesejahteraan masyarakat. “Kami ingin semakin banyak hasil pertanian, peternakan, dan perikanan lokal terserap sehingga manfaat program ini dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat,” tegas Marsel Asyerem.

    Untuk memperkuat akuntabilitas, pelaksanaan MBG didukung melalui Sistem Informasi Akuntabilitas dan Pelaporan MBG (SIAP-MBG). Platform digital tersebut memungkinkan proses perencanaan, pengelolaan anggaran, hingga distribusi makanan dipantau secara terbuka sehingga meningkatkan transparansi pelaksanaan program.

    Pengembang SIAP-MBG, Azrulah Kainage, menjelaskan bahwa sistem tersebut dirancang agar masyarakat dapat ikut mengawasi pelaksanaan program sekaligus memastikan manfaatnya berjalan optimal. “Program ini bukan hanya soal gizi, tetapi bagaimana uang negara yang masuk bisa berputar di masyarakat sehingga manfaat ekonominya dirasakan langsung oleh warga,” pungkas Azrulah Kainage.

    Perluasan jangkauan MBG di Papua menunjukkan komitmen pemerintah dalam membangun sumber daya manusia yang sehat sekaligus memperkuat perekonomian daerah. Dengan cakupan penerima manfaat yang terus bertambah dan tata kelola yang semakin baik, program tersebut diharapkan mampu menghadirkan manfaat yang semakin luas bagi masyarakat Papua.