Penulis: restiana818@gmail.com

  • MBG Indonesia Diakui Dunia sebagai Program Makan Sekolah Terbesar Kedua

    Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah Indonesia mendapat perhatian internasional karena dinilai sebagai salah satu program makan sekolah terbesar di dunia. Pengakuan tersebut mencerminkan besarnya komitmen pemerintah dalam memperkuat kualitas gizi anak sekaligus membangun fondasi sumber daya manusia yang sehat dan produktif.

    Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menyampaikan bahwa program MBG merupakan investasi jangka panjang negara dalam menyiapkan generasi masa depan yang lebih kuat. Ia menegaskan bahwa pemenuhan gizi bagi anak-anak Indonesia merupakan prioritas utama pemerintah dalam agenda pembangunan nasional. “Kita ingin memastikan setiap anak Indonesia mendapatkan akses makanan bergizi agar mereka dapat tumbuh sehat dan belajar dengan baik,” ujarnya.

    Presiden Prabowo menambahkan bahwa skala pelaksanaan program yang besar membutuhkan kerja sama lintas sektor, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga pelaku usaha pangan di berbagai wilayah. Menurutnya, keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari jumlah penerima manfaat, tetapi juga dari dampaknya terhadap kesehatan dan kualitas pendidikan anak. “Program ini harus berjalan dengan baik, transparan, dan memberi manfaat nyata bagi masyarakat,” tegasnya.

    Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, menjelaskan bahwa pelaksanaan MBG dirancang untuk menjangkau jutaan pelajar di seluruh Indonesia secara bertahap. Ia mengatakan bahwa besarnya cakupan program menjadikan MBG sebagai salah satu program makan sekolah dengan skala terbesar di dunia. “Program ini dirancang untuk menjangkau peserta didik secara luas, sehingga manfaat pemenuhan gizi dapat dirasakan secara merata,” katanya.

    Dadan menambahkan bahwa selain meningkatkan status gizi anak, program MBG juga memberi dampak ekonomi melalui keterlibatan petani, peternak, dan pelaku usaha lokal dalam penyediaan bahan pangan. Menurutnya, model tersebut membuat program tidak hanya berfokus pada aspek kesehatan, tetapi juga berkontribusi pada penguatan ekonomi daerah. “Keterlibatan rantai pasok lokal menjadi bagian penting agar program ini memberikan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat,” tambahnya.

    Pemerintah optimistis bahwa keberlanjutan program MBG akan semakin memperkuat posisi Indonesia dalam upaya global meningkatkan kualitas gizi anak. Dengan dukungan berbagai pihak, program ini diharapkan terus berkembang dan memberikan dampak positif bagi pembangunan sumber daya manusia Indonesia secara berkelanjutan.

  • Dunia Akui Kehebatan MBG, Bukti Indonesia Serius Investasi pada Generasi

    Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah terus menunjukkan dampak signifikan, tidak hanya di dalam negeri tetapi juga di tingkat global. Program ini kini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan jumlah penerima manfaat makan sekolah terbesar di dunia.

    Pencapaian tersebut memperlihatkan keseriusan pemerintah dalam menjadikan pemenuhan gizi anak sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia. Di tengah berbagai tantangan global, langkah Indonesia ini dinilai sebagai strategi konkret dalam menyiapkan generasi masa depan yang sehat dan kompetitif.

    Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat Badan Gizi Nasional (BGN), Khairul Hidayati (Hida), mengatakan program MBG menempatkan Indonesia pada posisi kedua di dunia dalam jumlah penerima manfaat program makan sekolah, sementara data global yang dihimpun dari World Food Programme (WFP) menunjukkan posisi pertama ditempati India dengan 118 juta penerima program makan sekolah. Sementara Indonesia berada di atas sejumlah negara besar seperti Brasil dengan 38,5 juta penerima, China 34,57 juta, serta Amerika Serikat 30,1 juta penerima.

    “Capaian tersebut memperlihatkan komitmen kuat pemerintah dalam memastikan pemenuhan gizi anak-anak usia sekolah sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia,” kata Hida.

    Menurutnya, capaian tersebut tidak hanya menunjukkan skala besar pelaksanaan program, tetapi juga menggambarkan keseriusan Indonesia dalam menjadikan pemenuhan gizi sebagai agenda prioritas nasional.

    “Program MBG bukan hanya soal penyediaan makanan, tetapi juga investasi masa depan bangsa. Program ini diharapkan mampu memperkuat kualitas gizi sekaligus mendukung peningkatan prestasi belajar anak-anak Indonesia,” tambahnya.

    Terkait hal ini, Ketua Komisi IX DPR RI, Felly Estelita Runtuwene, menegaskan bahwa Program Makan Bergizi Gratis tidak sekadar menyediakan makanan bagi anak-anak, tetapi merupakan investasi penting untuk menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan unggul di masa depan.

    “Ini bukan cuma soal makanan, tetapi tentang bagaimana kita meraih generasi Indonesia yang sehat, cerdas, dan unggul,” ujar Felly.

    Senada, Anggota Komisi IX DPR RI Heru Tjahjono juga menilai bahwa MBG sebagai bentuk investasi jangka panjang negara dalam menyiapkan sumber daya manusia yang unggul dan berdaya saing. Program ini dirancang untuk memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan asupan gizi yang layak sejak dini, sehingga mampu mendukung tumbuh kembang mereka secara optimal.

    “Program MBG dirancang untuk memastikan anak-anak Indonesia mendapatkan asupan gizi yang layak sejak dini. Dukungan serta pengawasan masyarakat sangat penting agar pelaksanaannya tepat sasaran dan berkelanjutan,” tutur Heru.

    Pengakuan dunia terhadap komitmen Indonesia dalam program makan sekolah ini menjadi bukti bahwa investasi pada generasi muda telah menjadi prioritas strategis nasional. Dengan peningkatan cakupan penerima yang luas, kebijakan ini mampu memberikan dampak nyata bagi peningkatan kualitas generasi penerus bangsa. Melalui langkah ini, Indonesia tidak hanya memperkuat fondasi kesehatan anak-anak, tetapi juga menyiapkan generasi yang siap bersaing di tingkat global.

  • MBG Peringkat 2 Global: Bukti Komitmen Pemerintah pada Gizi Anak Diakui Dunia

    Oleh: Citra Kurnia Khudori)*

    Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali menjadi sorotan setelah dinilai sebagai salah satu program gizi paling ambisius di dunia. Pencapaian peringkat kedua secara global menunjukkan keseriusan pemerintah dalam memperkuat fondasi gizi anak sejak dini.

    Badan Gizi Nasional (BGN) menyatakan World Food Programme (WFP) menempatkan Indonesia sebagai negara peringkat dua tertinggi di dunia dalam hal pemberian makan untuk siswa sekolah.

    Ada sekitar 174.900.000 anak di seluruh dunia menerima manfaat program makan di sekolah. Dari total 174 negara di dunia, ada 107 negara yang telah menjalankan program makan sekolah sebagai program nasional.

    Menurut BGN, organisasi kemanusiaan di bawah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) itu menyebut jumlah penerima program makan sekolah di Indonesia telah mencapai 61.239.037 orang, dengan 49.057.682 diantaranya merupakan siswa sekolah.

    Pengakuan internasional terhadap program MBG bukan sekadar simbol prestasi administratif. Lebih dari itu, capaian ini mencerminkan komitmen nyata negara dalam memastikan generasi muda tumbuh sehat, kuat, dan berdaya saing.

    Di tengah berbagai tantangan pemenuhan gizi anak di banyak negara, langkah Indonesia melalui MBG menunjukkan arah kebijakan yang progresif. Program ini menegaskan bahwa investasi pada gizi anak adalah investasi strategis bagi masa depan bangsa.

    Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat BGN, Khairul Hidayati mengatakan data global yang dihimpun WFP menunjukkan posisi pertama diraih India dengan 118 juta penerima, sementara Indonesia berada di atas sejumlah negara besar seperti Brasil (38,5 juta), China (32,57 juta), dan Amerika Serikat (30,1 juta).

    Hida menyebut, capaian itu memperlihatkan komitmen kuat pemerintah dalam memastikan pemenuhan gizi anak-anak usia sekolah sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia. Selain itu, Indonesia mulai memainkan peran penting dalam upaya global memperkuat ketahanan gizi anak melalui program makan sekolah.

    Dengan lebih dari 61,2 juta penerima manfaat, Indonesia kini menjadi salah satu negara dengan program makan sekolah terbesar di dunia. Ini menunjukkan komitmen pemerintahan Presiden Prabowo Subianto untuk memastikan setiap anak mendapatkan akses terhadap makanan bergizi yang aman dan berkualitas.

    Hida menambahkan, program MBG juga menjadi bagian dari strategi jangka panjang pemerintah dalam menyiapkan generasi Indonesia yang sehat dan produktif. Ia berharap, program ini mampu memperkuat kualitas gizi sekaligus mendukung peningkatan prestasi belajar anak-anak Indonesia dengan dukungan sistem pelaksanaan yang kuat.

    Atas pengakuan di level internasional, Pengamat Kebijakan Publik, Banter Adis, memberikan apresiasi terhadap pemerintahan Presiden Prabowo dan Kepala BGN, Dadan Hindayana. Ia menilai hal itu mencerminkan komitmen kuat pemerintah dalam memastikan pemenuhan gizi anak-anak usia sekolah sebagai bagian dari upaya pembangunan sumber daya manusia.

    Ia mengatakan, program MBG tidak hanya berperan dalam meningkatkan asupan gizi anak, tetapi juga berdampak pada peningkatan konsentrasi belajar serta kesehatan generasi muda.

    Alumni Kajian Aksi Strategis PP Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia (KAMMI) itu menyebut, sebelum memperoleh pengakuan dunia internasional, program MBG sudah terbukti memberikan dampak positif dengan mengubah pola asupan anak-anak menjadi lebih sehat karena pola gizi yang terjaga.

    Penilaian Adis juga didasarkan pada hasil kajian yang dilakukan oleh Research Institute of Socio-Economic Development (RISED). Dalam penelitian itu ditemukan adanya perubahan signifikan pada rutinitas makan anak-anak yang menjadi penerima manfaat program MBG.

    Sekitar 80 persen orang tua menyatakan bahwa setelah adanya program MBG, anak-anak mereka menjadi lebih rutin mengonsumsi makanan bergizi. Selain itu, sebanyak 81 persen orang tua dari keluarga prasejahtera juga menyatakan mendukung keberlanjutan program tersebut.

    Menurut Adis, temuan tersebut menunjukkan bahwa program MBG tidak hanya diterima dengan baik oleh masyarakat, tetapi juga memberikan manfaat nyata bagi kesehatan anak-anak. Oleh karena itu, ia sangat mendukung keberlanjutan program MBG sebagai bagian dari investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa.

    Ke depan, keberhasilan program MBG perlu terus dijaga melalui penguatan tata kelola, kualitas menu, serta pemerataan distribusi manfaat. Konsistensi pelaksanaan akan menjadi kunci agar manfaat gizi yang diberikan benar-benar dirasakan oleh seluruh anak Indonesia.

    Pengakuan dunia terhadap MBG juga menjadi pengingat bahwa kebijakan publik yang berpihak pada kesehatan anak memiliki dampak luas bagi pembangunan bangsa. Ketika negara menempatkan gizi sebagai prioritas, maka fondasi bagi generasi yang sehat, cerdas, dan produktif pun semakin kuat.

    Selain itu, keberlanjutan program ini juga memerlukan dukungan berbagai pihak, mulai dari pemerintah daerah, sekolah, hingga masyarakat. Kolaborasi tersebut akan memastikan program MBG tidak hanya besar dalam skala, tetapi juga kuat dalam kualitas pelaksanaan.

    Dengan demikian, capaian peringkat dua dunia bukan sekadar angka dalam laporan global. Ia menjadi simbol bahwa komitmen pemerintah terhadap masa depan anak-anak Indonesia mulai mendapat pengakuan di panggung internasional.

    )* Pemerhati isu sosial-ekonomi

  • MBG Indonesia Masuk Jajaran Program Makan Sekolah Terbesar di Dunia

    Oleh: Asep Faturahman)*

    Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah kini menjadi salah satu program makan sekolah terbesar di dunia. Berdasarkan data World Food Programme (WFP), Indonesia masuk dalam jajaran negara dengan jumlah penerima manfaat terbanyak dalam program makan di lingkungan pendidikan. Capaian ini menunjukkan komitmen kuat pemerintah dalam memastikan pemenuhan gizi anak sekaligus memperkuat kualitas sumber daya manusia sejak usia sekolah.

    Data per 3 Maret 2026 mencatat bahwa jumlah penerima manfaat Program MBG di Indonesia telah mencapai sekitar 61,2 juta orang. Dari jumlah tersebut, sekitar 49 juta di antaranya merupakan siswa sekolah yang menerima makanan bergizi secara langsung melalui program yang dijalankan Badan Gizi Nasional (BGN). Dengan jumlah penerima manfaat sebesar itu, Indonesia kini berada di posisi kedua dunia dalam program makan sekolah dengan cakupan penerima terbanyak.

    Secara global, program makan sekolah telah menjadi salah satu instrumen penting dalam upaya meningkatkan kesehatan dan kualitas pendidikan anak. Data WFP menunjukkan bahwa sekitar 174,9 juta anak di seluruh dunia telah menerima manfaat dari program makan sekolah yang dijalankan oleh berbagai negara. Hal ini mencerminkan semakin kuatnya kesadaran global bahwa pemenuhan gizi melalui lingkungan pendidikan merupakan bagian penting dalam mendukung perkembangan anak secara optimal.

    Kepala Biro Hukum dan Hubungan Masyarakat Badan Gizi Nasional, Khairul Hidayati, mengatakan bahwa Indonesia menjadi bagian penting dari upaya global dalam memperkuat pemenuhan gizi anak melalui program makan sekolah. Dengan lebih dari 49 juta siswa yang menerima manfaat, Indonesia berkontribusi signifikan dalam upaya internasional untuk meningkatkan kesehatan generasi muda. Program ini sekaligus menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menempatkan gizi anak sebagai prioritas pembangunan nasional.

    Program MBG tidak hanya berfokus pada penyediaan makanan bagi siswa, tetapi juga dirancang sebagai investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa. Pemenuhan gizi yang baik diyakini mampu meningkatkan kesehatan, konsentrasi belajar, serta daya tahan tubuh anak. Dengan kondisi fisik yang lebih optimal, siswa diharapkan mampu mengikuti proses pembelajaran secara lebih baik sehingga mendukung peningkatan kualitas pendidikan secara nasional.

    Dalam daftar negara dengan program makan sekolah terbesar di dunia, India menempati posisi pertama dengan sekitar 118 juta siswa penerima manfaat. Indonesia berada di posisi kedua dengan 49 juta siswa, disusul Brasil dengan 38 juta siswa, China dengan 34 juta siswa, serta Amerika Serikat dengan sekitar 30 juta siswa. Posisi ini menempatkan Indonesia sebagai salah satu negara dengan komitmen besar dalam memastikan anak-anak mendapatkan akses terhadap makanan bergizi selama masa pendidikan.

    Perkembangan Program Makan Bergizi Gratis sepanjang tahun 2026 juga menunjukkan tren yang sangat positif. Program ini telah menjangkau puluhan juta masyarakat di berbagai daerah di Indonesia. Pemerintah menargetkan jumlah penerima manfaat akan terus meningkat hingga mencapai sekitar 82,9 juta orang sebelum akhir tahun 2026. Target tersebut menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk memperluas jangkauan pemenuhan gizi bagi masyarakat, khususnya bagi anak-anak sekolah.

    Program MBG yang dikelola Badan Gizi Nasional menjadi salah satu agenda prioritas pemerintah dalam memperkuat ketahanan gizi nasional. Program ini difokuskan pada pemenuhan kebutuhan gizi anak sekolah serta kelompok masyarakat rentan lainnya. Dengan cakupan yang semakin luas, program ini diharapkan mampu memberikan dampak positif bagi peningkatan kualitas kesehatan masyarakat secara menyeluruh.

    Selain itu, Kepala Badan Gizi Nasional, Dadan Hindayana, mengatakan bahwa Program Makan Bergizi Gratis merupakan program strategis yang akan terus berjalan sebagai bagian dari investasi jangka panjang pembangunan sumber daya manusia Indonesia. Program ini dirancang untuk memastikan generasi muda Indonesia mendapatkan asupan gizi yang cukup sehingga mampu tumbuh dengan sehat, cerdas, dan produktif.

    Pelaksanaan program MBG juga dilakukan secara adaptif dengan menyesuaikan kondisi masyarakat. Selama bulan Ramadhan, pemerintah melakukan penyesuaian mekanisme distribusi makanan. Penyaluran makanan tetap dilakukan dengan beberapa skema, termasuk pembagian makanan menjelang waktu berbuka puasa maupun pengemasan makanan agar dapat dibawa pulang oleh para penerima manfaat. Penyesuaian ini dilakukan agar kebutuhan gizi siswa tetap terpenuhi tanpa mengganggu aktivitas ibadah selama bulan suci.

    Sementara itu, selama periode libur Idulfitri dan cuti bersama pada 18 hingga 24 Maret 2026, distribusi makanan melalui program MBG akan dihentikan sementara. Sebagai langkah antisipasi, pemerintah menyiapkan paket makanan sehat yang dibagikan lebih awal pada 17 Maret 2026 kepada para penerima manfaat. Langkah ini dilakukan agar kebutuhan gizi para siswa tetap terjaga selama masa libur sekolah.

    Dengan jumlah penerima manfaat yang sangat besar dan cakupan yang terus diperluas, Program Makan Bergizi Gratis kini menempatkan Indonesia dalam jajaran program makan sekolah terbesar di bumi. Keberhasilan ini tidak hanya menunjukkan komitmen pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi anak, tetapi juga menjadi langkah strategis dalam membangun generasi masa depan Indonesia yang sehat, cerdas, dan berdaya saing tinggi di tingkat global.

    )* Penulis adalah Mahasiswa Bandung tinggal di Garut

  • THR Cair Jelang Lebaran, Konsumsi Masyarakat Diprediksi Melonjak

    Jakarta – Pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) menjelang Idulfitri 1447 Hijriah diperkirakan akan memberikan dorongan signifikan terhadap konsumsi masyarakat. Momentum tahunan ini selalu menjadi salah satu penggerak utama aktivitas ekonomi domestik, terutama di sektor ritel, transportasi, hingga pariwisata.

    Pemerintah bersama pelaku usaha meluncurkan berbagai program untuk memperkuat konsumsi domestik. Salah satunya melalui program Belanja di Indonesia Aja (BINA) Lebaran 2026 yang melibatkan ratusan merek, puluhan ribu gerai ritel, dan ratusan pusat perbelanjaan di berbagai daerah.

    Program tersebut ditargetkan mampu menghasilkan transaksi hingga Rp53 triliun selama periode Ramadan hingga Idulfitri, sekaligus menjadi katalis bagi pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal pertama tahun ini.

    Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menilai momentum Ramadan dan Lebaran merupakan periode penting untuk mendorong konsumsi masyarakat.

    “Pemerintah melihat dana yang beredar menjelang Lebaran cukup besar. Penyaluran THR kepada ASN, TNI, Polri, serta pekerja swasta diperkirakan akan memicu peningkatan perputaran uang di masyarakat hingga sekitar Rp179 triliun. Hal ini diharapkan mampu meningkatkan konsumsi masyarakat sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama tahun ini,” ujar Airlangga.

    Optimisme serupa juga disampaikan oleh pelaku industri ritel. Ketua Umum Himpunan Peritel dan Penyewa Pusat Perbelanjaan Indonesia (HIPPINDO), Budihardjo Iduansjah, menyebut momentum Lebaran selalu menjadi pendorong utama pergerakan sektor ritel nasional.

    “Momentum Lebaran selalu menjadi periode penting bagi industri ritel. Melalui program BINA Lebaran 2026, kami berharap konsumsi domestik semakin kuat dan masyarakat semakin terdorong untuk berbelanja produk-produk dalam negeri,” kata Budihardjo.

    Ia menambahkan bahwa kolaborasi antara pemerintah dan pelaku usaha sangat penting dalam menciptakan iklim belanja yang kondusif.

    Sementara itu, Ketua Umum Asosiasi Pengelola Pusat Belanja Indonesia (APPBI), Alphonzus Widjaja, menilai bahwa peningkatan aktivitas ekonomi menjelang Lebaran sudah mulai terlihat di berbagai pusat perbelanjaan di Indonesia.

    “Menjelang Lebaran, pusat perbelanjaan biasanya mengalami peningkatan kunjungan yang signifikan. Dengan adanya program promosi dan festival belanja, kami optimistis aktivitas ritel akan meningkat dan memberikan dampak positif bagi perekonomian nasional,” tutur Alphonzus.

    Di sisi lain, pemerintah juga memastikan pencairan THR bagi pekerja dilakukan tepat waktu. Regulasi yang berlaku mewajibkan perusahaan menyalurkan THR paling lambat tujuh hari sebelum Hari Raya Idulfitri, sehingga masyarakat memiliki waktu yang cukup untuk merencanakan kebutuhan Lebaran.***

  • Pemerintah Pastikan THR Cair Tepat Waktu

    Jakarta – Pemerintah memastikan pencairan Tunjangan Hari Raya (THR) bagi aparatur negara, pekerja, maupun pensiunan akan dilakukan secara tepat waktu guna menjaga daya beli masyarakat menjelang perayaan hari besar keagamaan.

    Kepastian ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam menjamin pemenuhan hak para pekerja sekaligus mendorong perputaran ekonomi nasional yang biasanya meningkat signifikan menjelang momentum hari raya.

    Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyampaikan anggaran THR bagi ASN telah tersedia dan siap dicairkan. Namun, belum seluruh THR tersalurkan karena sebagian instansi belum mengajukan pencairan dana ke Kementerian Keuangan.

    “Sudah (disiapkan). Ada yang belum ngajuin kali. Tapi kalau itu sudah semuanya sudah lengkap, harusnya sudah tidak ada kendala. Kecuali orang yang bagiannya ASN itu belum minta ke kita, kan mesti minta,” ujar Purbaya.

    Senada, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, juga memastikan anggaran THR akan dicairkan tepat waktu dan akan dilakukan secara bertahap hingga paling lambat H-7 sebelum lebaran.

    ”THR akan disalurkan kepada 2,4 juta ASN pusat serta TNI/Polri dengan total anggaran Rp22,2 triliun. Selanjutnya 4,3 juta ASN daerah akan menerima THR sebesar Rp20,2 triliun, sementara 3,8 juta pensiunan memperoleh alokasi anggaran Rp12,7 triliun. Pencairan ini dilakukan secara bertahap mulai 26 Februari 2026 hingga paling lambat H-7 sebelum lebaran,” tegas Airlangga.

    Selain bagi aparatur negara, pemerintah juga memastikan pekerja di sektor swasta akan menerima THR tepat waktu dari perusahaan. Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, menegaskan bahwa pembayaran THR bagi karyawan swasta dan buruh wajib dilakukan sebelum Lebaran 2026 dan harus dibayarkan secara penuh.

    “Kami meminta THR wajib dibayarkan perusahaan paling lambat 7 hari sebelum Hari Raya Idul Fitri. THR juga wajib dibayarkan oleh perusahaan secara penuh dan tidak boleh dicicil,” tegas Yassierli.

    Melalui berbagai langkah tersebut, pemerintah menegaskan komitmennya untuk memastikan pencairan THR bagi seluruh pekerja, baik aparatur negara maupun karyawan sektor swasta, dapat berlangsung tepat waktu.

    Kepastian ini diharapkan tidak hanya memberikan jaminan kesejahteraan bagi pekerja menjelang Hari Raya, tetapi juga mendorong peningkatan konsumsi masyarakat yang berkontribusi pada penguatan aktivitas ekonomi nasional.

  • Distribusi THR Mulai Bergulir, Pemerintah Pastikan Hak Pekerja Terpenuhi

    Oleh: Ardiansyah Pratama

    Distribusi tunjangan hari raya (THR) menjelang Idulfitri 1447 Hijriah mulai bergulir di berbagai sektor. Pemerintah memastikan kebijakan ini berjalan sesuai ketentuan agar hak pekerja dapat terpenuhi secara optimal. Langkah tersebut menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam menjaga kesejahteraan pekerja sekaligus mempertahankan stabilitas ekonomi nasional menjelang perayaan hari besar keagamaan.

    Kebijakan pemberian THR dan bonus hari raya (BHR) tahun 2026 telah diumumkan sebagai bagian dari paket stimulus ekonomi yang disiapkan pemerintah. Program ini dirancang untuk memperkuat daya beli masyarakat selama Ramadan hingga Idulfitri, sekaligus mendorong aktivitas ekonomi yang biasanya meningkat pada periode tersebut.

    Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menjelaskan bahwa kebijakan tersebut merupakan bagian dari arahan Presiden untuk memastikan masyarakat mendapatkan dukungan ekonomi pada momentum hari besar keagamaan nasional. Pemerintah memandang distribusi THR sebagai instrumen penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi sekaligus memberikan kepastian bagi pekerja di berbagai sektor.

    Dalam implementasinya, pemerintah menyiapkan anggaran sebesar Rp55 triliun untuk pembayaran THR aparatur negara pada tahun ini. Nilai tersebut meningkat sekitar 10 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Anggaran tersebut dialokasikan bagi sekitar 10,5 juta aparatur negara yang terdiri atas aparatur sipil negara, pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja, prajurit TNI, anggota Polri, serta para pensiunan.

    Airlangga menjelaskan bahwa komponen THR yang diberikan mencakup gaji pokok, tunjangan keluarga, tunjangan pangan, serta tunjangan jabatan atau kinerja sesuai dengan regulasi yang berlaku. Seluruh komponen tersebut dibayarkan secara penuh sehingga aparatur negara dapat merasakan manfaat secara maksimal menjelang Lebaran.

    Pemerintah juga menegaskan bahwa pemberian THR berbeda dengan gaji ke-13 yang biasanya diberikan pada pertengahan tahun. Dengan pemisahan tersebut, kebijakan THR tetap fokus pada pemenuhan kebutuhan aparatur negara dalam menyambut Idulfitri, sementara gaji ke-13 diarahkan untuk mendukung kebutuhan pendidikan keluarga pada pertengahan tahun.

    Penyaluran THR kepada aparatur negara dilakukan secara bertahap sejak 26 Februari 2026 atau pada minggu pertama Ramadan. Program ini mencakup sekitar 2,4 juta aparatur negara di tingkat pusat termasuk prajurit TNI dan anggota Polri, sekitar 4,3 juta aparatur sipil negara di daerah, serta sekitar 3,8 juta pensiunan.

    Kebijakan tersebut memberikan kepastian bagi para penerima manfaat sehingga mereka dapat mempersiapkan kebutuhan Lebaran lebih awal. Selain itu, percepatan distribusi THR juga diharapkan mampu meningkatkan aktivitas ekonomi masyarakat secara lebih merata.

    Di sektor swasta, pemerintah menegaskan bahwa kewajiban pembayaran THR tetap harus dipenuhi oleh perusahaan. Airlangga menyampaikan bahwa THR bagi pekerja swasta wajib dibayarkan secara penuh dan tidak boleh dicicil. Pembayaran juga harus dilakukan paling lambat tujuh hari sebelum hari raya Idulfitri.

    Ketentuan tersebut berlaku bagi pekerja dengan masa kerja minimal satu tahun yang berhak menerima THR sebesar satu bulan upah. Sementara itu, pekerja dengan masa kerja kurang dari satu tahun tetap memperoleh THR dengan perhitungan secara proporsional sesuai masa kerja mereka.

    Pemerintah memperkirakan jumlah pekerja penerima upah di sektor formal mencapai sekitar 26,5 juta orang berdasarkan data BPJS Ketenagakerjaan. Dengan jumlah tersebut, total nilai THR yang dibayarkan oleh sektor swasta diperkirakan mencapai sekitar Rp124 triliun.

    Nilai tersebut diyakini dapat memberikan dampak signifikan terhadap peningkatan konsumsi rumah tangga. Peningkatan konsumsi ini berpotensi memperkuat perputaran ekonomi nasional selama Ramadan hingga Idulfitri.

    Selain aparatur negara dan pekerja sektor formal, pemerintah juga memberikan perhatian kepada mitra pengemudi transportasi daring. Pemerintah mendorong perusahaan aplikator untuk menyalurkan bonus hari raya kepada para pengemudi sebagai bentuk penghargaan atas kontribusi mereka dalam sektor transportasi digital.

    Upaya pemerintah dalam memastikan distribusi THR juga didukung oleh pemerintah daerah. Di Jawa Tengah, Gubernur Ahmad Luthfi melakukan pemantauan langsung terhadap pemenuhan kewajiban perusahaan dalam membayarkan THR kepada pekerja.

    Pemantauan tersebut dilakukan di sejumlah perusahaan, salah satunya di PT Selalu Cinta Indonesia di Kota Salatiga. Langkah tersebut dilakukan untuk memastikan perusahaan memenuhi ketentuan pembayaran THR sesuai dengan surat edaran kementerian yang menetapkan batas waktu pembayaran maksimal tujuh hari sebelum Lebaran.

    Pemerintah Provinsi Jawa Tengah juga menyiapkan posko layanan aduan untuk menampung laporan pekerja terkait permasalahan THR. Posko tersebut berada di Kantor Dinas Ketenagakerjaan Provinsi Jawa Tengah serta enam wilayah satuan kerja pengawasan ketenagakerjaan.

    Di sisi lain, Pemerintah Provinsi DKI Jakarta juga menyatakan kesiapan mengikuti kebijakan pemerintah pusat terkait penyaluran THR bagi aparatur sipil negara. Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menyampaikan bahwa seluruh aparatur yang berhak menerima THR akan mendapatkan haknya sesuai ketentuan yang berlaku.

    Pemerintah daerah telah mempersiapkan mekanisme pencairan agar proses distribusi berjalan lancar. Kebijakan tersebut akan mengikuti sepenuhnya ketentuan yang ditetapkan oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi.

    Berbagai langkah tersebut menunjukkan keseriusan pemerintah dalam memastikan distribusi THR berjalan tertib dan tepat sasaran. Dengan pengawasan yang ketat serta koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah, hak pekerja dapat terlindungi secara optimal.

    Melalui kebijakan ini, pemerintah tidak hanya memastikan pemenuhan hak pekerja, tetapi juga mendorong perputaran ekonomi nasional. Distribusi THR yang tepat waktu diharapkan mampu menjaga daya beli masyarakat serta memperkuat aktivitas ekonomi selama Ramadan hingga Idulfitri.

    *) Kolumnis Ekonomi dan Pemerhati Kebijakan Publik

  • Distribusi THR Jadi Penopang Konsumsi Nasional Jelang Lebaran

    Oleh: Nabila Rahmawati

    Distribusi tunjangan hari raya (THR) mulai mengalir ke masyarakat menjelang Idulfitri 1447 Hijriah. Pemerintah memulai pencairan THR bagi aparatur sipil negara dan pensiunan sejak 26 Februari 2026 sebagai bagian dari kebijakan stimulus ekonomi yang dirancang untuk menjaga daya beli masyarakat.

    Momentum Ramadan dan Idulfitri secara tradisional selalu menjadi periode dengan tingkat konsumsi yang tinggi. Pemerintah memanfaatkan momentum tersebut dengan memastikan distribusi THR berjalan tepat waktu dan menjangkau jutaan penerima manfaat. Selain THR bagi aparatur negara dan pensiunan, pemerintah juga memastikan pengemudi ojek daring kembali menerima bonus hari raya (BHR) sebagai bentuk dukungan terhadap sektor ekonomi digital yang terus berkembang.

    Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menjelaskan bahwa stimulus ekonomi melalui THR dan BHR tahun ini mengalami peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya. Pemerintah memandang kebijakan tersebut sebagai instrumen penting untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi pada awal tahun.

    Airlangga menyampaikan bahwa peningkatan nilai stimulus diharapkan dapat memberikan dampak lebih kuat terhadap aktivitas ekonomi. Pemerintah menargetkan pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama berada di kisaran 5,4 hingga 5,6 persen. Target tersebut lebih tinggi dibandingkan capaian pada kuartal keempat tahun sebelumnya.

    Menurut Airlangga, momentum Ramadan dan Idulfitri yang jatuh pada kuartal pertama memberikan peluang bagi perekonomian untuk tumbuh lebih kuat. Dengan adanya pencairan THR bagi jutaan aparatur negara serta tambahan penghasilan bagi pengemudi ojek daring, perputaran uang di masyarakat diperkirakan meningkat secara signifikan.

    Distribusi THR bagi pensiunan dilaksanakan melalui sistem pembayaran pensiun yang terintegrasi dengan puluhan mitra bayar di seluruh Indonesia. PT Taspen sebagai pengelola program pensiun memulai penyaluran THR kepada para peserta pensiun melalui jaringan pembayaran yang telah terhubung dengan berbagai lembaga keuangan.

    Komisaris Independen PT Taspen, Ariawan, melakukan pemantauan langsung terhadap proses penyaluran tersebut di sejumlah mitra bayar di Makassar, Sulawesi Selatan. Dari hasil pemantauan tersebut, ia melihat proses distribusi berjalan tertib dan lancar melalui berbagai lembaga keuangan yang menjadi mitra pembayaran.

    Pemantauan dilakukan di beberapa titik layanan, termasuk Bank Mandiri Taspen, Bank BRI, kantor pos, serta Bank Sulselbar. Hasil peninjauan menunjukkan bahwa mekanisme penyaluran THR bagi pensiunan dapat berjalan dengan baik dan aman.

    Ariawan juga melihat antusiasme para pensiunan yang menerima THR menjelang Idulfitri. Penyaluran yang tertib dan tepat waktu dinilai menjadi bukti bahwa sistem distribusi yang disiapkan mampu menjangkau penerima manfaat secara efektif.

    Menurut Ariawan, penyaluran THR bagi pensiunan merupakan bentuk penghargaan atas pengabdian para purnabakti kepada negara. Selain itu, distribusi dana tersebut diharapkan dapat memberikan kontribusi terhadap peningkatan daya beli masyarakat menjelang hari raya.

    Pada tahun ini, PT Taspen menyalurkan THR kepada lebih dari 3,2 juta peserta pensiun. Pembayaran dilakukan berdasarkan komponen penghasilan yang diterima pada bulan sebelumnya, yang terdiri dari pensiun pokok, tunjangan keluarga, tunjangan pangan, serta tambahan penghasilan sesuai ketentuan peraturan perundang-undangan.

    Pemerintah juga memastikan bahwa pembayaran THR bagi pensiunan tidak dikenakan potongan iuran maupun potongan lainnya, kecuali pajak penghasilan yang ditanggung oleh pemerintah sesuai ketentuan yang berlaku. Kebijakan ini memberikan jaminan bahwa dana yang diterima pensiunan dapat dimanfaatkan secara maksimal untuk memenuhi kebutuhan hari raya.

    Aliran dana dalam jumlah besar ke masyarakat dinilai mampu memperkuat konsumsi rumah tangga. Perputaran dana tersebut tidak hanya memberikan manfaat bagi penerima secara langsung, tetapi juga mendorong aktivitas ekonomi di berbagai sektor usaha.

    Ekonom dari Kisi Asset Management Arfian Prasetya Aji menjelaskan bahwa dampak distribusi THR dan BHR dapat menciptakan efek berantai dalam perekonomian. Menurutnya, tambahan pendapatan yang diterima masyarakat menjelang hari raya biasanya akan segera dibelanjakan untuk berbagai kebutuhan Lebaran.

    Kondisi tersebut membuat sejumlah sektor usaha mengalami peningkatan aktivitas. Sektor ritel, misalnya, biasanya mencatat kenaikan penjualan karena meningkatnya permintaan terhadap pakaian baru, makanan, serta kebutuhan rumah tangga lainnya.

    Selain sektor ritel, aktivitas logistik juga meningkat seiring dengan tingginya permintaan barang. Perdagangan daring yang terus berkembang membuat proses distribusi dan pengiriman barang menjadi semakin intensif menjelang hari raya.

    Arfian menilai bahwa peningkatan permintaan barang sebelum Lebaran mendorong aktivitas distribusi dan pengiriman meningkat secara signifikan. Hal ini memperlihatkan bagaimana tambahan pendapatan masyarakat mampu menggerakkan berbagai sektor ekonomi secara bersamaan.

    Dampak positif juga diperkirakan dirasakan oleh sektor transportasi dan pariwisata. Tradisi mudik yang menjadi bagian dari perayaan Idulfitri meningkatkan mobilitas masyarakat di berbagai daerah.

    Mobilitas tersebut mendorong pertumbuhan bisnis transportasi darat, udara, maupun laut. Di saat yang sama, kunjungan ke berbagai destinasi wisata juga mengalami peningkatan selama masa libur Lebaran.

    Arfian menilai bahwa konsumsi rumah tangga merupakan salah satu pilar utama perekonomian Indonesia. Saat ini, sekitar 54 persen pertumbuhan ekonomi nasional berasal dari belanja masyarakat.

    Dengan kontribusi sebesar itu, suntikan dana melalui THR dan BHR menjadi instrumen yang efektif untuk memperkuat daya beli masyarakat. Kebijakan ini memungkinkan peningkatan konsumsi terjadi dalam waktu relatif cepat.

    Melalui kebijakan distribusi THR yang tepat waktu dan terarah, pemerintah menunjukkan komitmennya dalam menjaga stabilitas ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Dukungan terhadap daya beli masyarakat menjelang Idulfitri diharapkan mampu menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional pada awal tahun.

    *) Pengamat Ekonomi dan Kebijakan Publik

  • Cicilan Rumah Subsidi Bisa 30 Tahun, Hunian Lebih Terjangkau

    Jakarta- Rencana pemerintah memperpanjang tenor cicilan rumah subsidi hingga 30 tahun diyakini dapat membuka peluang kepemilikan rumah yang lebih luas bagi masyarakat berpenghasilan rendah. Kebijakan ini diharapkan membuat besaran cicilan bulanan menjadi lebih ringan sehingga akses terhadap hunian layak semakin terjangkau.

    Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman (PKP) Maruarar Sirait mengatakan bahwa perpanjangan masa cicilan rumah subsidi dilakukan atas perintah Presiden RI Prabowo Subianto.

    “Atas arahan Bapak Presiden dan Bapak Hasyim, bahwa kita harus pro-rakyat, kita naikkan bahwa cicilan bagi rakyat Indonesia adalah 30 tahun berlakunya, bukan 20 tahun lagi,” ujar menteri yang akrab disapa Ara itu.

    Ara menuturkan, langkah ini diambil sebagai bagian dari upaya memperluas pembangunan program 3 juta rumah yang menjadi prioritas pemerintah. Perpanjangan masa cicilan diharapkan dapat mengurangi beban finansial masyarakat berpenghasilan rendah (MBR) saat mengambil rumah subsidi.

    “Bagaimana itu harus juga menyangkut mendorong daya beli, misalnya salah satunya kan kita desain cicilan 30 tahun, supaya jangka waktunya panjang, supaya cicilanya bisa rendah,” ungkap Ara.

    Di samping itu, pemerintah tengah menyiapkan sejumlah langkah pendukung, termasuk penyediaan lahan dan skema pembiayaan yang melibatkan berbagai pihak. Salah satu lokasi yang disiapkan adalah di kawasan Meikarta, Cikarang.

    Kementerian PKP berkolaborasi dengan Danantara untuk menyulap Meikarta menjadi hunian rumah subsidi. Danantara Indonesia menyiapkan pendanaan hingga Rp 16 triliun untuk pembangunan hunian vertikal dalam program 3 juta rumah setelah mendapatkan hibah lahan dari Lippo Group.

    Lippo Group menghibahkan sekitar 30 hektar lahan di wilayah Cikarang, yang diperkirakan dapat membangun 140.000 unit hunian vertikal untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). CEO Danantara Indonesia Rosan Roeslani mengatakan, lembaganya akan berperan dalam mendukung pembiayaan proyek tersebut sekaligus membuka peluang kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk BUMN karya dan perusahaan swasta.

    “Dari segi pembiayaan kami akan dukung secara full, karena kalau kita lihat ini juga proyek yang sangat baik, dan kalau dibilang ini supply and demand- nya sangat banyak,” jelasnya.

    Di tahap awal, proyek tersebut akan membangun hunian dengan menggunakan 12,8 hektar lahan. Di lokasi itu juga rencananya dibangun sekitar 18 tower hunian vertikal dan tiap tower diproyeksikan memiliki 32 lantai. Dengan rencana pembangunan itu, nilai investasi proyek diperkirakan mencapai Rp 14-16 triliun.

    Rosan menambahkan, selain menyediakan dukungan pembiayaan, Danantara juga akan mendorong kolaborasi antara BUMN karya dan sektor swasta dalam pembangunan proyek tersebut.

    “Jadi dari pembiayaan kita dukung full dan juga kami ada BUMN-BUMN karya yang bisa bekerja sama juga di dalam proyek ini, tentunya bersama-sama dengan perusahaan swasta lainnya, kita akan berkolaborasi,” pungkasnya.

  • Pemerintah Genjot Program 3 Juta Rumah Subsidi, Tenor Lebih Panjang

    Jakarta — Pemerintah terus mempercepat realisasi program pembangunan dan pembiayaan 3 juta rumah subsidi guna memperluas akses masyarakat terhadap hunian yang layak dan terjangkau. Program ini menjadi salah satu strategi utama untuk menekan angka backlog perumahan sekaligus mendorong pertumbuhan sektor properti nasional yang memiliki efek berganda terhadap perekonomian.

    Percepatan tersebut dilakukan melalui berbagai kebijakan, salah satunya dengan menyesuaikan skema pembiayaan kredit perumahan rakyat agar cicilan lebih terjangkau. Pemerintah tengah mempertimbangkan perpanjangan tenor kredit rumah subsidi sehingga beban cicilan bulanan masyarakat berpenghasilan rendah dapat menjadi lebih ringan dan peluang memiliki rumah pertama semakin terbuka.

    Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman, Maruarar Sirait, mengatakan Pemerintah tengah mempertimbangkan kebijakan baru berupa perpanjangan masa cicilan rumah subsidi dari sebelumnya maksimal 20 tahun menjadi hingga 30 tahun.

    “Selama puluhan tahun cicilan rumah subsidi maksimal 20 tahun. Sekarang kita naikkan menjadi 30 tahun supaya cicilan rakyat lebih ringan,” ujar Maruarar.

    Program tiga juta rumah dirancang untuk menjawab kebutuhan hunian yang terus meningkat seiring pertumbuhan penduduk dan urbanisasi. Selama ini, kebutuhan rumah di Indonesia masih lebih besar dibandingkan jumlah rumah yang tersedia, sehingga banyak masyarakat, khususnya kelompok berpenghasilan rendah, masih menghadapi kesulitan dalam memperoleh tempat tinggal yang layak.

    Melalui program tersebut, pemerintah mendorong pembangunan rumah subsidi secara masif dengan melibatkan pemerintah daerah, pengembang, serta lembaga pembiayaan. Kolaborasi lintas sektor dinilai menjadi kunci untuk mempercepat pembangunan sekaligus menjaga kualitas hunian yang dibangun.

    Dukungan terhadap rencana perpanjangan tenor kredit juga datang dari sektor keuangan negara. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa menilai kebijakan tersebut dapat menjadi strategi efektif untuk memperluas akses kredit perumahan bagi masyarakat.

    “Kami mendukung langkah Kementerian PKP dan Badan Pengelola Tabungan Perumahan Rakyat (BP Tapera) untuk memperpanjang tenor menjadi 30 tahun. Dengan begitu cicilan akan lebih murah, DP bisa lebih rendah, dan masyarakat semakin mudah membeli rumah,” ujar Purbaya.

    Melalui berbagai kebijakan yang terus diperkuat, termasuk rencana perpanjangan tenor kredit hingga 30 tahun, pemerintah berharap program tiga juta rumah subsidi dapat menjangkau lebih banyak masyarakat dan mempercepat pemenuhan kebutuhan hunian nasional. Program ini diharapkan menjadi bagian penting dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat pembangunan sosial dan ekonomi di berbagai daerah.