Penulis: restiana818@gmail.com

  • Fleksibilitas CKG sebagai Langkah Penting Pemerataan Layanan Kesehatan

    Oleh : Irfan Aditya )*

    Fleksibilitas Cek Kesehatan Gratis (CKG) merupakan salah satu terobosan kebijakan kesehatan yang patut diapresiasi sebagai langkah nyata dalam mewujudkan pemerataan layanan kesehatan di Indonesia. Dalam konteks geografis dan demografis yang sangat beragam, pendekatan yang kaku dan seragam sering kali tidak efektif menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Karena itu, fleksibilitas dalam pelaksanaan CKG menjadi kunci agar layanan kesehatan preventif dapat dirasakan secara adil, inklusif, dan berkelanjutan oleh masyarakat di perkotaan hingga pelosok desa.

    Merujuk kepada pernyataan Direktur Jenderal Kesehatan Primer dan Komunitas Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Maria Endang Sumiwi bahwa hingga pertengahan September 2025, Kemenkes mencatat layanan CKG sudah menjangkau hampir 30 juta orang. Kemudian masyarakat yang sudah mendaftar CKG tercatat sebanyak 32,3 juta orang yang tersebar di 10.226 puskesmas di seluruh Tanah Air. Presiden Prabowo Subianto meluncurkan Program CKG pada 10 Februari 2025 sebagai bagian dari strategi nasional membangun sistem kesehatan yang adil.

    Selain itu, CKG tidak sekadar dipahami sebagai program pemeriksaan kesehatan rutin tanpa biaya, melainkan sebagai instrumen negara untuk membangun kesadaran hidup sehat dan memperkuat deteksi dini penyakit. Dengan fleksibilitas waktu, lokasi, dan mekanisme pelayanan, masyarakat yang selama ini terkendala akses, baik karena jarak, jam kerja, kondisi ekonomi, maupun keterbatasan fasilitas, memiliki peluang yang sama untuk memeriksakan kesehatannya. Fleksibilitas ini menjadikan CKG lebih adaptif terhadap realitas sosial masyarakat Indonesia yang sangat dinamis.

    Salah satu bentuk fleksibilitas yang berdampak besar adalah pelaksanaan CKG di luar fasilitas kesehatan konvensional. Pemeriksaan dapat dilakukan melalui layanan jemput bola, pos kesehatan desa, sekolah, tempat ibadah, hingga kawasan industri. Pendekatan ini menegaskan bahwa negara hadir mendekatkan layanan, bukan menunggu masyarakat datang. Bagi kelompok pekerja informal, nelayan, petani, dan buruh harian, model seperti ini sangat membantu karena mereka tidak perlu meninggalkan pekerjaan atau kehilangan penghasilan demi memeriksakan kesehatan.

    Selain itu, fleksibilitas juga tercermin dalam pengaturan waktu pelayanan. Tidak semua masyarakat memiliki keleluasaan datang ke puskesmas pada jam kerja. Dengan membuka layanan pada akhir pekan atau jam tertentu di luar jam sibuk, CKG menjadi lebih ramah terhadap kebutuhan masyarakat. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan kesehatan yang baik bukan hanya soal anggaran dan fasilitas, tetapi juga soal empati dan pemahaman terhadap pola hidup masyarakat.

    Dari sisi pemerataan, fleksibilitas CKG berperan penting dalam mengurangi kesenjangan layanan kesehatan antarwilayah. Daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) selama ini menghadapi keterbatasan tenaga medis dan sarana prasarana. Dengan desain program yang luwes, pemerintah daerah dapat menyesuaikan pelaksanaan CKG dengan kondisi setempat, termasuk memanfaatkan tenaga kesehatan lokal, kader posyandu, dan dukungan komunitas. Sinergi ini memperkuat sistem kesehatan primer sekaligus memberdayakan masyarakat.

    Fleksibilitas CKG juga sejalan dengan upaya transformasi sistem kesehatan yang menekankan pencegahan dan promotif. Pemeriksaan kesehatan gratis yang mudah diakses mendorong masyarakat untuk tidak menunggu sakit parah sebelum berobat. Deteksi dini penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes, dan kolesterol tinggi dapat dilakukan lebih awal, sehingga menekan biaya pengobatan jangka panjang dan meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Dalam jangka panjang, ini berdampak positif pada produktivitas nasional.

    Lebih jauh, fleksibilitas dalam jenis pemeriksaan yang disesuaikan dengan kelompok usia dan risiko kesehatan menjadikan CKG lebih tepat sasaran. Anak-anak, remaja, dewasa, hingga lansia memiliki kebutuhan kesehatan yang berbeda. Dengan pendekatan yang adaptif, CKG tidak bersifat seremonial, tetapi benar-benar menjawab kebutuhan riil masyarakat. Hal ini memperkuat kepercayaan publik terhadap program pemerintah di bidang kesehatan.

    Sementara itu, Gubernur Maluku Utara, Sherly Tjoanda Laos mengatakan pihaknya secara resmi meluncurkan program CKG bagi satuan pendidikan SMA, SMK, dan SLB tingkat Provinsi Maluku Utara tahun 2026. Program ini merupakan langkah strategis Pemerintah Provinsi Maluku Utara dalam mengimplementasikan program prioritas Presiden Prabowo guna memastikan standar kesehatan nasional terpenuhi sejak bangku sekolah. Dengan total populasi 70.000 siswa, pihaknya optimis program ini dapat rampung dalam waktu dua bulan melalui koordinasi lintas sektor yang intensif.

    Dari perspektif keadilan sosial, fleksibilitas CKG mencerminkan komitmen negara untuk melindungi seluruh warga negara tanpa diskriminasi. Layanan kesehatan yang mudah diakses oleh kelompok rentan, seperti penyandang disabilitas, lansia, dan masyarakat berpenghasilan rendah, merupakan wujud nyata dari prinsip bahwa kesehatan adalah hak dasar. Fleksibilitas memastikan bahwa hak tersebut tidak terhambat oleh prosedur yang rumit atau jarak yang jauh.

    Pada akhirnya, Fleksibilitas Cek Kesehatan Gratis adalah fondasi penting dalam membangun sistem kesehatan yang kuat, merata, dan berorientasi pada manusia. Program ini bukan hanya soal pemeriksaan gratis, tetapi tentang perubahan paradigma pelayanan publik yang lebih responsif dan inklusif. Dengan menjaga fleksibilitas sebagai roh utama kebijakan, CKG berpotensi menjadi tonggak penting dalam mewujudkan Indonesia yang lebih sehat, adil, dan berdaya saing. Pemerataan layanan kesehatan pun tidak lagi menjadi slogan, melainkan realitas yang dirasakan langsung oleh seluruh masyarakat.

    )* Pengamat kebijakan publik

  • Pemerintah Targetkan Layanan CKG Jangkau Hampir Seluruh Populasi 2026

    JAKARTA – Pemerintah menargetkan perluasan signifikan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) pada 2026 agar menjangkau hampir seluruh lapisan masyarakat. Target nasional ini ditopang oleh penguatan layanan di daerah, peningkatan sarana prasarana, serta kolaborasi lintas pemangku kepentingan untuk memastikan deteksi dini penyakit berjalan merata dan berkelanjutan.

    Di tingkat nasional, Kementerian Kesehatan (Kemenkes) terus mengoptimalkan cakupan Program Cek Kesehatan Gratis (CKG) hingga mencapai 46 persen atau 130 juta orang pada tahun 2026, menyusul evaluasi terkait CKG 2025 yang diikuti oleh 70,8 juta orang atau 24,9 persen dari populasi nasional.

    “Untuk tahun 2026 ini kita coba akan mencapai lebih dari seratus juta lebih capaian CKG nasional,” kata Wakil Menteri Kesehatan (Wamenkes) Dante Saksono Harbuwono.

    Ia mengatakan capaian CKG pada tahun sebelumnya merupakan capaian terbesar dalam sistem kesehatan Indonesia yang mencapai sekitar 70 juta jiwa.

    Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes, Siti Nadia Tarmizi, menjelaskan target 2026 yang meluas.

    “Pada tahun 2026, melalui Program Cek Kesehatan Gratis, kami menargetkan skrining masyarakat Indonesia, mulai dari bayi hingga lansia,” ujarnya.

    Sepanjang 2025, skrining terhadap sekitar 55 juta penduduk menunjukkan 17 persen mengalami gangguan penglihatan, dengan 3,6 juta anak memiliki kelainan refraksi yang belum terkoreksi.

    Penguatan layanan kesehatan mata mendapat dukungan WHO melalui inisiatif SPECS 2030. Perwakilan WHO Indonesia, Fransiska, mengapresiasi komitmen pemerintah yang bergabung sejak Oktober 2025. Dukungan juga datang dari perwakilan One Sight Essilor Luxottica Foundation, Patricia Koh.

    “Kami mendukung pelatihan tenaga kesehatan, khususnya perawat, agar memiliki kapasitas melakukan pemeriksaan dasar penglihatan di tingkat layanan kesehatan primer,” ujarnya.

    Sementara itu, Provinsi Jambi menargetkan peningkatan partisipasi CKG hingga lebih dari 20 persen pada 2026. Kepala Bidang Pelayanan Kesehatan Dinkes Provinsi Jambi, dr. Dewi Lestari, menyebut penguatan SDM dan fasilitas menjadi kunci.

    “Pada 2026 beberapa puskesmas sudah dilengkapi labkesmas, sehingga pemeriksaan tidak lagi terbatas pada tekanan darah, tetapi juga gula darah, kolesterol, asam urat, hingga urin,” katanya.

    Pemerintah pusat juga menyalurkan alat kesehatan, termasuk radiologi, untuk mendukung deteksi dini penyakit prioritas.

    Dengan strategi jemput bola, kolaborasi global, dan penguatan layanan primer, pemerintah berharap CKG 2026 menjadi fondasi kuat peningkatan kualitas kesehatan masyarakat secara inklusif dan merata.

    (*/rls)

  • Pemerintah Perluas Layanan Kesehatan melalui CKG

    Jakarta – Pemerintah terus mengukuhkan komitmennya untuk memperluas layanan kesehatan melalui berbagai program strategis, salah satunya dengan memperkenalkan Cek Kesehatan Gratis (CKG).

    Program ini bertujuan untuk memberikan akses pemeriksaan kesehatan secara menyeluruh bagi masyarakat, dengan fokus pada deteksi dini berbagai penyakit, termasuk kanker leher rahim, gangguan penglihatan, dan masalah kesehatan lainnya.

    Dalam Rapat Koordinasi Nasional (Rakornas) yang diselenggarakan di Sentul, Presiden Prabowo Subianto menekankan bahwa program-program prioritas pemerintah seperti CKG akan memberikan dampak langsung pada kesehatan dan kesejahteraan rakyat.

    Presiden menyampaikan bahwa pemerintah telah memperluas akses layanan dasar bagi masyarakat. Pemeriksaan kesehatan gratis menjadi salah satu program unggulan yang langsung menyentuh kebutuhan rakyat.

    “Tujuh puluh juta rakyat kita sudah dicek kesehatan gratis. Pertama kali dalam sejarah,” ujar Presiden.

    Salah satu inovasi utama dalam CKG adalah integrasi pemeriksaan kanker leher rahim (serviks) menggunakan metode skrining DNA HPV.

    Ini akan mempercepat deteksi dini dan mengurangi keterlambatan penanganan kanker serviks, salah satu kanker yang paling banyak ditemukan di Indonesia.

    Wakil Menteri Kesehatan, Prof. Dante Saksono Harbuwono, menambahkan bahwa mulai tahun 2026, hasil skrining positif akan ditindaklanjuti dengan langkah medis yang jelas dan terstruktur, termasuk pengobatan lanjutan.

    “Integrasi skrining ke dalam Program Cek Kesehatan Gratis merupakan respon nyata pemerintah untuk mencegah keterlambatan penanganan dan progresivitas lesi pra-kanker,” ucap Wamenkes.

    Selain itu, program CKG juga mencakup pemeriksaan gangguan penglihatan, dengan target skrining 140 juta masyarakat Indonesia pada tahun 2026.

    Menurut Direktur Penyakit Tidak Menular Kemenkes, dr. Siti Nadia Tarmizi, program ini akan menjangkau semua lapisan masyarakat, termasuk di wilayah terpencil.

    “Pada tahun 2026, melalui Program Cek Kesehatan Gratis, kami menargetkan skrining terhadap sekitar 140 juta masyarakat Indonesia, mulai dari bayi hingga lansia,” jelas Direktur PTM Kemenkes Nadia.

    Inisiatif ini mendapat dukungan dari World Health Organization (WHO) melalui program SPECS 2030, yang bertujuan untuk menghilangkan gangguan penglihatan yang dapat dicegah dan dikoreksi.

    Tak hanya itu, CKG juga mengintegrasikan layanan kesehatan ke dalam paket medical check-up (MCU) di fasilitas kesehatan yang akan dibiayai sepenuhnya oleh pemerintah.

    Hal ini bertujuan untuk memastikan bahwa semua lapisan masyarakat, termasuk yang belum terjangkau oleh fasilitas kesehatan formal, dapat memperoleh manfaat dari program ini.

    Melalui program CKG yang terintegrasi, pemerintah berkomitmen untuk memperkuat sistem kesehatan nasional, memperluas akses bagi masyarakat, dan mendorong deteksi dini penyakit agar dapat memberikan penanganan yang lebih cepat dan tepat.***

  • Ketahanan Energi Bawa Peluang Investasi Ribuan Triliun Rupiah

    Oleh: Rivka Mayangsari*)

     Ketahanan energi nasional kini tidak lagi dipandang semata sebagai isu pasokan dan keamanan, melainkan sebagai pintu masuk bagi lompatan besar investasi dan industrialisasi hijau Indonesia. Pemerintah mendorong perubahan paradigma bahwa dekarbonisasi industri bukan beban biaya, melainkan peluang ekonomi strategis yang mampu menggerakkan pertumbuhan, menciptakan lapangan kerja, serta memperkuat kedaulatan energi. Di tengah dinamika global yang kian menuntut transisi energi, Indonesia justru berada pada posisi percaya diri untuk menjadikan agenda ini sebagai motor pembangunan baru.

    Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot menegaskan bahwa peta jalan menuju energi bersih menyimpan potensi investasi yang sangat besar. Nilainya diproyeksikan mencapai Rp1.682,4 triliun, sejalan dengan visi Asta Cita pemerintah dalam mewujudkan swasembada energi dan pertumbuhan ekonomi hijau berkelanjutan. Angka ini mencerminkan keseriusan negara membangun ekosistem energi masa depan yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga kompetitif dan bernilai tambah tinggi.

    Lebih dari sekadar angka investasi, Yuliot menyoroti dampak langsung terhadap penyerapan tenaga kerja nasional. Transisi energi diperkirakan mampu menciptakan hingga 760 ribu lapangan kerja hijau (green jobs), yang tersebar mulai dari tahap pra-konstruksi, masa konstruksi, operasi dan pemeliharaan, hingga industri manufaktur komponen pendukung energi terbarukan. Ini menandai babak baru industrialisasi nasional, di mana dekarbonisasi menjadi penggerak tumbuhnya industri, bukan penghambatnya.

    Menurut Yuliot, tantangan utama untuk mewujudkan potensi tersebut terletak pada aspek pendanaan. Oleh karena itu, pemerintah menekankan urgensi penerapan skema pembiayaan inovatif agar proyek-proyek energi hijau menjadi layak secara komersial atau bankable. Konsep blended finance dinilai krusial untuk menjembatani kesenjangan antara kelayakan proyek dan ekspektasi imbal hasil investor. Dengan kombinasi dukungan publik dan partisipasi swasta, risiko dapat ditekan dan daya tarik investasi meningkat.

    Pemerintah menyadari bahwa mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) saja tidak cukup untuk mencapai target ambisius kapasitas pembangkit energi baru terbarukan (EBT). Karena itu, kolaborasi erat antara pemerintah, BUMN, dan sektor swasta menjadi prasyarat utama. Sinergi ini diharapkan menciptakan ekosistem investasi yang sehat, menurunkan risiko proyek, serta mempercepat realisasi infrastruktur energi bersih di berbagai wilayah Indonesia.

    Selain tantangan finansial, transisi energi juga dipahami sebagai upaya kolektif yang menuntut keterlibatan aktif berbagai pihak di luar pemerintah. Dunia usaha, lembaga keuangan, industri pendukung, hingga masyarakat luas memiliki peran penting dalam menjaga daya saing bangsa. Ketahanan energi bukan hanya soal teknologi, tetapi juga konsistensi kebijakan, kepastian regulasi, dan kepercayaan investor terhadap arah pembangunan nasional.

    Dari sisi industri penunjang, PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) menilai target investasi jumbo pemerintah sebagai sinyal kuat bahwa transisi energi Indonesia akan berjalan semakin masif. Bagi Jasindo, agenda ini membuka peluang besar dalam penyediaan perlindungan risiko bagi proyek-proyek strategis bernilai tinggi, berjangka panjang, dan memiliki kompleksitas teknis. Keberadaan asuransi menjadi elemen penting untuk menjamin keberlangsungan proyek dan memberikan rasa aman bagi investor.

    Sekretaris Perusahaan Asuransi Jasindo, Brellian Gema Widayana, menyatakan bahwa sejalan dengan Asta Cita pemerintah—khususnya agenda kemandirian bangsa melalui swasembada energi—pengembangan EBT menjadi elemen kunci dalam memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan pada energi impor. Dalam konteks ini, industri asuransi memainkan peran strategis sebagai penopang stabilitas proyek, memastikan risiko teknis dan finansial dapat dikelola secara profesional.

    Peran industri keuangan dan asuransi menunjukkan bahwa transisi energi bukan agenda sektoral semata, melainkan ekosistem besar yang melibatkan banyak pelaku. Dengan manajemen risiko yang tepat, proyek-proyek energi terbarukan dapat berjalan berkelanjutan, meningkatkan kepercayaan pasar, dan menarik lebih banyak modal masuk ke Indonesia.

    Sementara itu, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menegaskan bahwa sebagian besar target investasi jumbo tersebut direncanakan berasal dari sektor swasta. Hal ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan pelaku usaha terhadap komitmen pemerintah dalam mendorong EBT. Menurut Eniya, penguatan regulasi menjadi faktor kunci, terutama sejak diterbitkannya Peraturan Menteri ESDM Nomor 10 Tahun 2025 yang menjadi landasan percepatan transisi energi nasional.

    Regulasi tersebut memberikan kepastian hukum dan arah kebijakan yang jelas bagi investor, sekaligus mempercepat implementasi proyek EBT di lapangan. Dengan kepastian ini, Indonesia semakin dipandang sebagai destinasi investasi energi bersih yang prospektif di kawasan. Kejelasan aturan juga memperkuat posisi Indonesia dalam persaingan global untuk menarik modal hijau yang saat ini jumlahnya terus meningkat.

    Pada akhirnya, ketahanan energi tidak hanya menjawab tantangan kemandirian dan keamanan pasokan, tetapi juga membuka peluang investasi ribuan triliun rupiah yang berdampak luas bagi perekonomian nasional. Dengan kepemimpinan kebijakan yang tegas, kolaborasi lintas sektor, serta dukungan regulasi yang progresif, transisi energi Indonesia bergerak dari komitmen menuju realisasi. Inilah momentum ketika agenda hijau menjadi mesin pertumbuhan, lapangan kerja, dan daya saing bangsa di masa depan.

    *) Pemerhati Isu Energi Hijau

  • Ketahanan Energi Bawa Peluang Investasi Ribuan Triliun Rupiah

    Oleh: Rivka Mayangsari*)

     Ketahanan energi nasional kini tidak lagi dipandang semata sebagai isu pasokan dan keamanan, melainkan sebagai pintu masuk bagi lompatan besar investasi dan industrialisasi hijau Indonesia. Pemerintah mendorong perubahan paradigma bahwa dekarbonisasi industri bukan beban biaya, melainkan peluang ekonomi strategis yang mampu menggerakkan pertumbuhan, menciptakan lapangan kerja, serta memperkuat kedaulatan energi. Di tengah dinamika global yang kian menuntut transisi energi, Indonesia justru berada pada posisi percaya diri untuk menjadikan agenda ini sebagai motor pembangunan baru.

    Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Yuliot menegaskan bahwa peta jalan menuju energi bersih menyimpan potensi investasi yang sangat besar. Nilainya diproyeksikan mencapai Rp1.682,4 triliun, sejalan dengan visi Asta Cita pemerintah dalam mewujudkan swasembada energi dan pertumbuhan ekonomi hijau berkelanjutan. Angka ini mencerminkan keseriusan negara membangun ekosistem energi masa depan yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga kompetitif dan bernilai tambah tinggi.

    Lebih dari sekadar angka investasi, Yuliot menyoroti dampak langsung terhadap penyerapan tenaga kerja nasional. Transisi energi diperkirakan mampu menciptakan hingga 760 ribu lapangan kerja hijau (green jobs), yang tersebar mulai dari tahap pra-konstruksi, masa konstruksi, operasi dan pemeliharaan, hingga industri manufaktur komponen pendukung energi terbarukan. Ini menandai babak baru industrialisasi nasional, di mana dekarbonisasi menjadi penggerak tumbuhnya industri, bukan penghambatnya.

    Menurut Yuliot, tantangan utama untuk mewujudkan potensi tersebut terletak pada aspek pendanaan. Oleh karena itu, pemerintah menekankan urgensi penerapan skema pembiayaan inovatif agar proyek-proyek energi hijau menjadi layak secara komersial atau bankable. Konsep blended finance dinilai krusial untuk menjembatani kesenjangan antara kelayakan proyek dan ekspektasi imbal hasil investor. Dengan kombinasi dukungan publik dan partisipasi swasta, risiko dapat ditekan dan daya tarik investasi meningkat.

    Pemerintah menyadari bahwa mengandalkan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) saja tidak cukup untuk mencapai target ambisius kapasitas pembangkit energi baru terbarukan (EBT). Karena itu, kolaborasi erat antara pemerintah, BUMN, dan sektor swasta menjadi prasyarat utama. Sinergi ini diharapkan menciptakan ekosistem investasi yang sehat, menurunkan risiko proyek, serta mempercepat realisasi infrastruktur energi bersih di berbagai wilayah Indonesia.

    Selain tantangan finansial, transisi energi juga dipahami sebagai upaya kolektif yang menuntut keterlibatan aktif berbagai pihak di luar pemerintah. Dunia usaha, lembaga keuangan, industri pendukung, hingga masyarakat luas memiliki peran penting dalam menjaga daya saing bangsa. Ketahanan energi bukan hanya soal teknologi, tetapi juga konsistensi kebijakan, kepastian regulasi, dan kepercayaan investor terhadap arah pembangunan nasional.

    Dari sisi industri penunjang, PT Asuransi Jasa Indonesia (Jasindo) menilai target investasi jumbo pemerintah sebagai sinyal kuat bahwa transisi energi Indonesia akan berjalan semakin masif. Bagi Jasindo, agenda ini membuka peluang besar dalam penyediaan perlindungan risiko bagi proyek-proyek strategis bernilai tinggi, berjangka panjang, dan memiliki kompleksitas teknis. Keberadaan asuransi menjadi elemen penting untuk menjamin keberlangsungan proyek dan memberikan rasa aman bagi investor.

    Sekretaris Perusahaan Asuransi Jasindo, Brellian Gema Widayana, menyatakan bahwa sejalan dengan Asta Cita pemerintah—khususnya agenda kemandirian bangsa melalui swasembada energi—pengembangan EBT menjadi elemen kunci dalam memperkuat ketahanan energi nasional dan mengurangi ketergantungan pada energi impor. Dalam konteks ini, industri asuransi memainkan peran strategis sebagai penopang stabilitas proyek, memastikan risiko teknis dan finansial dapat dikelola secara profesional.

    Peran industri keuangan dan asuransi menunjukkan bahwa transisi energi bukan agenda sektoral semata, melainkan ekosistem besar yang melibatkan banyak pelaku. Dengan manajemen risiko yang tepat, proyek-proyek energi terbarukan dapat berjalan berkelanjutan, meningkatkan kepercayaan pasar, dan menarik lebih banyak modal masuk ke Indonesia.

    Sementara itu, Direktur Jenderal Energi Baru Terbarukan dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menegaskan bahwa sebagian besar target investasi jumbo tersebut direncanakan berasal dari sektor swasta. Hal ini mencerminkan meningkatnya kepercayaan pelaku usaha terhadap komitmen pemerintah dalam mendorong EBT. Menurut Eniya, penguatan regulasi menjadi faktor kunci, terutama sejak diterbitkannya Peraturan Menteri ESDM Nomor 10 Tahun 2025 yang menjadi landasan percepatan transisi energi nasional.

    Regulasi tersebut memberikan kepastian hukum dan arah kebijakan yang jelas bagi investor, sekaligus mempercepat implementasi proyek EBT di lapangan. Dengan kepastian ini, Indonesia semakin dipandang sebagai destinasi investasi energi bersih yang prospektif di kawasan. Kejelasan aturan juga memperkuat posisi Indonesia dalam persaingan global untuk menarik modal hijau yang saat ini jumlahnya terus meningkat.

    Pada akhirnya, ketahanan energi tidak hanya menjawab tantangan kemandirian dan keamanan pasokan, tetapi juga membuka peluang investasi ribuan triliun rupiah yang berdampak luas bagi perekonomian nasional. Dengan kepemimpinan kebijakan yang tegas, kolaborasi lintas sektor, serta dukungan regulasi yang progresif, transisi energi Indonesia bergerak dari komitmen menuju realisasi. Inilah momentum ketika agenda hijau menjadi mesin pertumbuhan, lapangan kerja, dan daya saing bangsa di masa depan.

    *) Pemerhati Isu Energi Hijau

  • Papua Jadi Harapan Baru Swasembada Energi Indonesia

    Oleh: Putri Ayu Lestari )*

    Pemerintah menempatkan Papua sebagai salah satu harapan baru dalam agenda besar swasembada energi nasional. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Papua diproyeksikan tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri, tetapi juga menjadi wilayah yang mandiri dalam penyediaan energi, sekaligus berkontribusi bagi ketahanan energi Indonesia secara keseluruhan.

    Presiden Prabowo menegaskan bahwa Papua memiliki kekayaan sumber daya energi yang sangat besar dan selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Pemerintah berpandangan bahwa potensi tersebut harus dikelola secara terencana agar mampu mendukung kemandirian daerah, bukan sekadar menjadi cadangan yang tidak memberi dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.

    Dalam arah kebijakan yang disampaikan kepada para kepala daerah se-Papua dan Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Presiden menekankan pentingnya keadilan dalam pengelolaan energi. Pemerintah memastikan bahwa energi yang diproduksi di Papua harus memberi manfaat langsung bagi masyarakat Papua, sehingga pembangunan energi berjalan seiring dengan pembangunan sosial dan ekonomi daerah.

    Selain penguatan energi konvensional, pemerintah secara konsisten mendorong pemanfaatan energi alternatif di wilayah-wilayah terpencil Papua. Energi surya dan tenaga air dipandang sebagai solusi yang paling relevan dengan kondisi geografis Papua, terutama di daerah yang sulit dijangkau jaringan energi konvensional.

    Kemajuan teknologi dinilai telah membuat energi surya semakin terjangkau dan mudah diterapkan, sementara potensi sungai-sungai di Papua membuka peluang besar bagi pengembangan pembangkit listrik tenaga air skala kecil. Pemerintah melihat pendekatan ini sebagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan Papua terhadap pasokan bahan bakar minyak dari luar daerah yang selama ini memerlukan biaya logistik tinggi.

    Presiden memandang swasembada energi sebagai kunci penting bagi kesehatan fiskal negara. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukkan bahwa pada 2025 nilai impor bahan bakar minyak mencapai sekitar Rp520 triliun. Angka tersebut dinilai terlalu besar dan membatasi ruang fiskal untuk pembangunan yang lebih produktif.

    Dengan mengurangi ketergantungan impor, pemerintah menghitung adanya potensi penghematan ratusan triliun rupiah setiap tahun. Dana tersebut dapat dialihkan untuk memperkuat pembangunan daerah, termasuk di Papua, hingga ke tingkat kabupaten dan kota.

    Meski demikian, pemerintah menyadari bahwa pengurangan impor energi tidak dapat dilakukan secara instan. Presiden Prabowo menyampaikan bahwa impor solar masih dilakukan dalam jangka pendek, namun ketergantungan tersebut ditargetkan dihentikan secara bertahap. Pemerintah berharap dalam empat tahun ke depan impor bensin dapat dihentikan melalui peningkatan produksi energi dalam negeri.

    Sejalan dengan arahan Presiden, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa pemerintah mendorong swasembada energi dengan mengoptimalkan seluruh potensi yang dimiliki daerah, baik energi fosil maupun energi nabati. Pemerintah memandang pendekatan ini sebagai strategi realistis untuk mengurangi impor bahan bakar minyak.

    Bahlil menjelaskan bahwa pemerintah tengah menjalankan program biodiesel B50 yang memanfaatkan kelapa sawit sebagai bahan baku utama. Melalui kebijakan ini, penggunaan solar berbasis impor diharapkan dapat ditekan secara signifikan sekaligus mendorong pengembangan energi yang lebih ramah lingkungan.

    Peningkatan penggunaan biodiesel tersebut otomatis meningkatkan kebutuhan bahan baku kelapa sawit. Oleh karena itu, pemerintah melihat Papua sebagai salah satu wilayah yang berpotensi mendukung pasokan bahan baku secara berkelanjutan, dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan dan sosial.

    Selain biodiesel, pemerintah juga menjalankan program mandatori bioetanol untuk menekan impor bensin yang masih cukup tinggi. Bioetanol yang berasal dari singkong, jagung, dan tebu diproyeksikan menjadi bagian penting dari bauran energi nasional. Papua dinilai memiliki potensi lahan yang memadai untuk mendukung produksi bahan baku etanol tersebut.

    Mandatori bioetanol 10 persen yang ditargetkan mulai berjalan pada 2027 dipandang sebagai langkah lanjutan setelah keberhasilan program biodiesel. Pemerintah berharap kebijakan ini mampu menurunkan impor bensin secara bertahap dan memperkuat kedaulatan energi nasional.

    Dari perspektif masyarakat Papua, politisi Partai Golkar sekaligus putra asli Papua, Yance Mote, menilai bahwa kesejahteraan masyarakat harus menjadi pusat dari setiap kebijakan energi. Ia memandang pemerintah pusat telah menunjukkan keberpihakan dengan membuka ruang bagi masyarakat Papua untuk terlibat langsung dalam pengelolaan sumber daya alamnya.

    Yance menekankan bahwa masyarakat Papua perlu diberi kesempatan untuk mengolah tanahnya sendiri melalui skema yang adil dan berkelanjutan. Menurutnya, peran pemerintah pusat seharusnya lebih pada supervisi, penyediaan sarana, dan pendampingan agar masyarakat mampu menjadi pelaku utama dalam program swasembada energi.

    Ia juga menyampaikan bahwa secara umum masyarakat Papua mendukung agenda swasembada energi nasional, dengan catatan pengelolaannya harus berpihak kepada rakyat. Pengembangan komoditas seperti kopi, tebu, cokelat, cengkeh, dan pala dinilai dapat menjadi alternatif yang selaras dengan karakter sosial dan budaya Papua.

    Usulan pemberian bibit plasma kepada setiap keluarga dinilai dapat menciptakan sumber pendapatan baru tanpa menghilangkan hak atas tanah adat. Dengan skema tersebut, hasil panen dapat diserap pemerintah untuk keperluan hilirisasi maupun ekspor, sehingga masyarakat memperoleh manfaat ekonomi yang berkelanjutan.

    Pemerintah memandang keterlibatan langsung masyarakat sebagai kunci keberhasilan swasembada energi di Papua. Dengan menjadikan masyarakat sebagai subjek pembangunan, program energi tidak hanya memperkuat ketahanan nasional, tetapi juga mendorong peningkatan kesejahteraan dan perlindungan lingkungan secara berkelanjutan.

  • Papua Jadi Harapan Baru Swasembada Energi Indonesia

    Oleh: Putri Ayu Lestari )*

    Pemerintah menempatkan Papua sebagai salah satu harapan baru dalam agenda besar swasembada energi nasional. Di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, Papua diproyeksikan tidak hanya mampu memenuhi kebutuhan pangannya sendiri, tetapi juga menjadi wilayah yang mandiri dalam penyediaan energi, sekaligus berkontribusi bagi ketahanan energi Indonesia secara keseluruhan.

    Presiden Prabowo menegaskan bahwa Papua memiliki kekayaan sumber daya energi yang sangat besar dan selama ini belum dimanfaatkan secara optimal. Pemerintah berpandangan bahwa potensi tersebut harus dikelola secara terencana agar mampu mendukung kemandirian daerah, bukan sekadar menjadi cadangan yang tidak memberi dampak nyata bagi kesejahteraan masyarakat.

    Dalam arah kebijakan yang disampaikan kepada para kepala daerah se-Papua dan Komite Eksekutif Percepatan Pembangunan Otonomi Khusus Papua, Presiden menekankan pentingnya keadilan dalam pengelolaan energi. Pemerintah memastikan bahwa energi yang diproduksi di Papua harus memberi manfaat langsung bagi masyarakat Papua, sehingga pembangunan energi berjalan seiring dengan pembangunan sosial dan ekonomi daerah.

    Selain penguatan energi konvensional, pemerintah secara konsisten mendorong pemanfaatan energi alternatif di wilayah-wilayah terpencil Papua. Energi surya dan tenaga air dipandang sebagai solusi yang paling relevan dengan kondisi geografis Papua, terutama di daerah yang sulit dijangkau jaringan energi konvensional.

    Kemajuan teknologi dinilai telah membuat energi surya semakin terjangkau dan mudah diterapkan, sementara potensi sungai-sungai di Papua membuka peluang besar bagi pengembangan pembangkit listrik tenaga air skala kecil. Pemerintah melihat pendekatan ini sebagai langkah strategis untuk mengurangi ketergantungan Papua terhadap pasokan bahan bakar minyak dari luar daerah yang selama ini memerlukan biaya logistik tinggi.

    Presiden memandang swasembada energi sebagai kunci penting bagi kesehatan fiskal negara. Data Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral menunjukkan bahwa pada 2025 nilai impor bahan bakar minyak mencapai sekitar Rp520 triliun. Angka tersebut dinilai terlalu besar dan membatasi ruang fiskal untuk pembangunan yang lebih produktif.

    Dengan mengurangi ketergantungan impor, pemerintah menghitung adanya potensi penghematan ratusan triliun rupiah setiap tahun. Dana tersebut dapat dialihkan untuk memperkuat pembangunan daerah, termasuk di Papua, hingga ke tingkat kabupaten dan kota.

    Meski demikian, pemerintah menyadari bahwa pengurangan impor energi tidak dapat dilakukan secara instan. Presiden Prabowo menyampaikan bahwa impor solar masih dilakukan dalam jangka pendek, namun ketergantungan tersebut ditargetkan dihentikan secara bertahap. Pemerintah berharap dalam empat tahun ke depan impor bensin dapat dihentikan melalui peningkatan produksi energi dalam negeri.

    Sejalan dengan arahan Presiden, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa pemerintah mendorong swasembada energi dengan mengoptimalkan seluruh potensi yang dimiliki daerah, baik energi fosil maupun energi nabati. Pemerintah memandang pendekatan ini sebagai strategi realistis untuk mengurangi impor bahan bakar minyak.

    Bahlil menjelaskan bahwa pemerintah tengah menjalankan program biodiesel B50 yang memanfaatkan kelapa sawit sebagai bahan baku utama. Melalui kebijakan ini, penggunaan solar berbasis impor diharapkan dapat ditekan secara signifikan sekaligus mendorong pengembangan energi yang lebih ramah lingkungan.

    Peningkatan penggunaan biodiesel tersebut otomatis meningkatkan kebutuhan bahan baku kelapa sawit. Oleh karena itu, pemerintah melihat Papua sebagai salah satu wilayah yang berpotensi mendukung pasokan bahan baku secara berkelanjutan, dengan tetap memperhatikan aspek lingkungan dan sosial.

    Selain biodiesel, pemerintah juga menjalankan program mandatori bioetanol untuk menekan impor bensin yang masih cukup tinggi. Bioetanol yang berasal dari singkong, jagung, dan tebu diproyeksikan menjadi bagian penting dari bauran energi nasional. Papua dinilai memiliki potensi lahan yang memadai untuk mendukung produksi bahan baku etanol tersebut.

    Mandatori bioetanol 10 persen yang ditargetkan mulai berjalan pada 2027 dipandang sebagai langkah lanjutan setelah keberhasilan program biodiesel. Pemerintah berharap kebijakan ini mampu menurunkan impor bensin secara bertahap dan memperkuat kedaulatan energi nasional.

    Dari perspektif masyarakat Papua, politisi Partai Golkar sekaligus putra asli Papua, Yance Mote, menilai bahwa kesejahteraan masyarakat harus menjadi pusat dari setiap kebijakan energi. Ia memandang pemerintah pusat telah menunjukkan keberpihakan dengan membuka ruang bagi masyarakat Papua untuk terlibat langsung dalam pengelolaan sumber daya alamnya.

    Yance menekankan bahwa masyarakat Papua perlu diberi kesempatan untuk mengolah tanahnya sendiri melalui skema yang adil dan berkelanjutan. Menurutnya, peran pemerintah pusat seharusnya lebih pada supervisi, penyediaan sarana, dan pendampingan agar masyarakat mampu menjadi pelaku utama dalam program swasembada energi.

    Ia juga menyampaikan bahwa secara umum masyarakat Papua mendukung agenda swasembada energi nasional, dengan catatan pengelolaannya harus berpihak kepada rakyat. Pengembangan komoditas seperti kopi, tebu, cokelat, cengkeh, dan pala dinilai dapat menjadi alternatif yang selaras dengan karakter sosial dan budaya Papua.

    Usulan pemberian bibit plasma kepada setiap keluarga dinilai dapat menciptakan sumber pendapatan baru tanpa menghilangkan hak atas tanah adat. Dengan skema tersebut, hasil panen dapat diserap pemerintah untuk keperluan hilirisasi maupun ekspor, sehingga masyarakat memperoleh manfaat ekonomi yang berkelanjutan.

    Pemerintah memandang keterlibatan langsung masyarakat sebagai kunci keberhasilan swasembada energi di Papua. Dengan menjadikan masyarakat sebagai subjek pembangunan, program energi tidak hanya memperkuat ketahanan nasional, tetapi juga mendorong peningkatan kesejahteraan dan perlindungan lingkungan secara berkelanjutan.

  • Papua Jadi Prioritas Pengembangan Energi Berkelanjutan

    JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menegaskan arah kebijakan pemerintah dalam mewujudkan kemandirian energi nasional dengan menempatkan Papua sebagai salah satu kawasan prioritas pengembangan energi berkelanjutan.

    Papua dinilai memiliki potensi sumber daya energi yang besar dan strategis untuk dimanfaatkan secara optimal demi kesejahteraan masyarakat daerah serta mendukung kepentingan nasional.

    “Saya kira Papua punya sumber energi yang sangat baik dan Menteri ESDM juga sudah merancang bahwa daerah-daerah di Papua harus menikmati hasil dari energi yang diproduksi di Papua,” ujar Presiden Prabowo.

    Presiden menjelaskan, pengembangan energi di Papua diarahkan pada pemanfaatan energi terbarukan, khususnya untuk menjawab tantangan geografis dan keterbatasan akses energi di wilayah terpencil.

    Energi surya dan tenaga air dipandang semakin realistis diterapkan seiring kemajuan teknologi yang semakin terjangkau dan adaptif.

    Menurutnya, pembangkit listrik tenaga surya dapat menjadi solusi utama bagi daerah-daerah yang sulit dijangkau jaringan listrik konvensional.

    Sementara itu, pembangkit listrik tenaga air skala kecil dapat dikembangkan di wilayah yang memiliki potensi aliran sungai.

    “Kalau ada tenaga surya dan tenaga air, tidak perlu kirim-kirim BBM mahal-mahal dari daerah-daerah lain,” tegas Presiden.

    Presiden menekankan bahwa kemandirian energi akan berdampak langsung pada penguatan fiskal negara.

    Saat ini, Indonesia masih mengimpor bahan bakar minyak dengan nilai sekitar Rp520 triliun per tahun.

    Jika ketergantungan impor dapat ditekan, anggaran negara akan memiliki ruang yang lebih besar untuk pembangunan daerah.

    “Bayangkan kalau kita bisa potong setengah, berarti ada Rp250 triliun. Apalagi kalau kita bisa potong Rp500 triliun. Lima ratus triliun itu berarti tiap kabupaten bisa punya, kemungkinan bisa punya satu triliun tiap kabupaten,” ujarnya.

    Presiden juga menyampaikan target konkret pemerintah, yaitu mulai tahun depan Indonesia tidak lagi mengimpor solar dari luar negeri.

    Selanjutnya, impor bensin ditargetkan dapat dihentikan secara bertahap dalam empat tahun ke depan.

    Dari sisi perencanaan, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyatakan Papua diproyeksikan memiliki peran penting dalam agenda bioenergi nasional.

    “Papua merupakan salah satu wilayah yang diproyeksikan berkontribusi signifikan terhadap target nasional produksi bioetanol,” ujarnya.

    Sementara itu, Anggota Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), Erika Retnowati, menekankan pentingnya kesiapan infrastruktur energi di Papua.

    “Peningkatan kapasitas penyimpanan BBM dan avtur menjadi langkah antisipatif untuk menjaga keandalan pasokan, terutama dalam menghadapi tantangan distribusi dan kondisi cuaca,” katanya.

  • Papua Jadi Prioritas Pengembangan Energi Berkelanjutan

    JAKARTA – Presiden Prabowo Subianto menegaskan arah kebijakan pemerintah dalam mewujudkan kemandirian energi nasional dengan menempatkan Papua sebagai salah satu kawasan prioritas pengembangan energi berkelanjutan.

    Papua dinilai memiliki potensi sumber daya energi yang besar dan strategis untuk dimanfaatkan secara optimal demi kesejahteraan masyarakat daerah serta mendukung kepentingan nasional.

    “Saya kira Papua punya sumber energi yang sangat baik dan Menteri ESDM juga sudah merancang bahwa daerah-daerah di Papua harus menikmati hasil dari energi yang diproduksi di Papua,” ujar Presiden Prabowo.

    Presiden menjelaskan, pengembangan energi di Papua diarahkan pada pemanfaatan energi terbarukan, khususnya untuk menjawab tantangan geografis dan keterbatasan akses energi di wilayah terpencil.

    Energi surya dan tenaga air dipandang semakin realistis diterapkan seiring kemajuan teknologi yang semakin terjangkau dan adaptif.

    Menurutnya, pembangkit listrik tenaga surya dapat menjadi solusi utama bagi daerah-daerah yang sulit dijangkau jaringan listrik konvensional.

    Sementara itu, pembangkit listrik tenaga air skala kecil dapat dikembangkan di wilayah yang memiliki potensi aliran sungai.

    “Kalau ada tenaga surya dan tenaga air, tidak perlu kirim-kirim BBM mahal-mahal dari daerah-daerah lain,” tegas Presiden.

    Presiden menekankan bahwa kemandirian energi akan berdampak langsung pada penguatan fiskal negara.

    Saat ini, Indonesia masih mengimpor bahan bakar minyak dengan nilai sekitar Rp520 triliun per tahun.

    Jika ketergantungan impor dapat ditekan, anggaran negara akan memiliki ruang yang lebih besar untuk pembangunan daerah.

    “Bayangkan kalau kita bisa potong setengah, berarti ada Rp250 triliun. Apalagi kalau kita bisa potong Rp500 triliun. Lima ratus triliun itu berarti tiap kabupaten bisa punya, kemungkinan bisa punya satu triliun tiap kabupaten,” ujarnya.

    Presiden juga menyampaikan target konkret pemerintah, yaitu mulai tahun depan Indonesia tidak lagi mengimpor solar dari luar negeri.

    Selanjutnya, impor bensin ditargetkan dapat dihentikan secara bertahap dalam empat tahun ke depan.

    Dari sisi perencanaan, Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi Kementerian ESDM, Eniya Listiani Dewi, menyatakan Papua diproyeksikan memiliki peran penting dalam agenda bioenergi nasional.

    “Papua merupakan salah satu wilayah yang diproyeksikan berkontribusi signifikan terhadap target nasional produksi bioetanol,” ujarnya.

    Sementara itu, Anggota Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), Erika Retnowati, menekankan pentingnya kesiapan infrastruktur energi di Papua.

    “Peningkatan kapasitas penyimpanan BBM dan avtur menjadi langkah antisipatif untuk menjaga keandalan pasokan, terutama dalam menghadapi tantangan distribusi dan kondisi cuaca,” katanya.

  • Investasi Kilang Menguat, Pemerintah Percepat Ketahanan Energi

    Jakarta – Program ketahanan energi nasional kian menjadi magnet investasi triliunan rupiah seiring keseriusan pemerintah memperkuat sektor hulu migas strategis. Melalui dorongan hilirisasi dan kemitraan global, pemerintah menegaskan komitmen menjaga pasokan energi sekaligus mengurangi ketergantungan impor.

    Baru-baru ini, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menggelar rapat dengan jajaran direksi PT Pertamina (Persero) dan konglomerasi swasta asal India, Essar Group, guna membahas rencana investasi kilang minyak di Indonesia.

    Bahlil menjelaskan rapat tersebut berfokus membahas rencana pengembangan infrastruktur kilang minyak di Indonesia, melalui penguatan kapasitas pengolahan minyak dalam negeri. Selain itu, Bahlil juga menekankan langkah tersebut perlu dijalankan bersamaan dengan peningkatan nilai tambang industri hilir.

    “Rencana investasi ini diharapkan dapat berjalan selaras dengan kebijakan pemerintah dan berkontribusi pada penguatan ketahanan energi nasional,” kata Bahlil.

    Memang beberapa waktu sebelumnya, Bahlil sempat mengatakan Pertamina bakal bermitra dengan swasta untuk menggarap proyek Refinery Development Master Plan (RDMP) di Kilang Dumai, Riau. Menurutnya, dengan kebijakan itu Pertamina bisa dapat untuk dan negara memiliki ketahanan energi, sehingga saling menguntungkan.

    Sementara itu, Wakil Direktur Utama Pertamina Oki Muraza mensinyalir raksasa migas Rusia, PJSC Rosneft Oil Company, bakal ditemani oleh mitra kerja tambahan di proyek Grass Root Refinery (GRR) atau Kilang Tuban. Oki menjelaskan belanja modal atau capital expenditure (capex) yang dibutuhkan untuk membangun Kilang Tuban memang terbilang sangat besar.

    Saat ini proses keputusan investasi atau final investment decision (FID) oleh Rosneft masih berlangsung dan diharapkan segera rampung. Ia memastikan secara umum Pertamina bakal mempercepat penambahan kapasitas kilang yang dimiliki, salah satunya dengan menggaet mitra-mitra baru, tak terkecuali pada proyek GRR Tuban.

    “Karena itu kita melakukan partnerships. Saat ini statusnya sedang FID nanti mudah-mudahan kita bisa segera menyelesaikannya dan mudah-mudahan bisa segera menuju tahapan selanjutnya. Untuk partner-partner di refinery ini kami tentunya berkoordinasi sangat erat dengan pemerintah, dengan Danantara, dan juga dengan Kementerian ESDM,” jelas Oki.

    Ke depan, konsistensi kebijakan dan percepatan realisasi proyek menjadi kunci menjaga kepercayaan investor di sektor energi nasional. Investasi kilang dan hulu migas diharapkan memperkuat pasokan sekaligus menekan defisit impor energi.

    Dengan kolaborasi strategis dan penguatan industri hilir, ketahanan energi tidak hanya menopang kebutuhan domestik, tetapi juga mendorong pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. Langkah ini menegaskan energi sebagai fondasi penting kemandirian dan daya saing nasional.