Penulis: restiana818@gmail.com

  • Swasembada Energi, Agenda Strategis Kedaulatan Bangsa

    Oleh: Alexander Royce*)

    Isu swasembada energi kembali mengemuka sebagai salah satu agenda strategis nasional di tengah dinamika geopolitik global, fluktuasi harga energi dunia, serta meningkatnya kebutuhan domestik. Bagi Indonesia, energi bukan sekadar komoditas ekonomi, melainkan fondasi utama bagi kedaulatan bangsa, keberlanjutan pembangunan, dan stabilitas sosial. Pemerintahan saat ini menempatkan swasembada energi sebagai prioritas kebijakan, sejalan dengan visi besar memperkuat ketahanan nasional dan mengurangi ketergantungan pada impor, khususnya bahan bakar minyak (BBM).

    Dalam beberapa waktu terakhir, arah kebijakan energi nasional menunjukkan penegasan yang semakin kuat. Pemerintah tidak lagi hanya berbicara tentang pengamanan pasokan jangka pendek, tetapi mendorong transformasi struktural sektor energi, mulai dari hulu hingga hilir. Langkah ini menjadi penting mengingat impor energi selama ini menjadi salah satu faktor utama tekanan terhadap neraca perdagangan dan fiskal negara. Ketika ketergantungan impor dapat ditekan, maka ruang fiskal akan lebih sehat dan kemandirian ekonomi semakin kokoh.

    Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) sekaligus Ketua Harian Dewan Energi Nasional (DEN), Bahlil Lahadalia, dalam berbagai kesempatan menekankan bahwa swasembada energi merupakan mandat strategis yang harus dijalankan secara konsisten. Ia menyoroti arahan Presiden Prabowo Subianto agar Indonesia secara bertahap menghentikan impor BBM dan memaksimalkan potensi energi domestik. Dalam pandangan Bahlil, Indonesia sesungguhnya memiliki sumber daya yang memadai, baik dari minyak dan gas bumi, batu bara, maupun energi baru dan terbarukan. Tantangan utamanya terletak pada keberanian mengambil keputusan strategis, pembenahan tata kelola, serta memastikan investasi energi berpihak pada kepentingan nasional.

    Bahlil juga melihat swasembada energi sebagai instrumen penting untuk memperkuat posisi tawar Indonesia di tingkat global. Ketika pasokan energi dalam negeri terjamin, Indonesia tidak mudah terpengaruh oleh gejolak eksternal. Lebih jauh, kebijakan penghentian impor BBM bukan dimaknai sebagai langkah proteksionis semata, melainkan sebagai upaya membangun ekosistem energi yang efisien, berdaya saing, dan berkelanjutan. Dalam konteks inilah, peran Dewan Energi Nasional menjadi krusial untuk memastikan sinkronisasi kebijakan lintas sektor dan daerah.

    Sejalan dengan itu, dukungan dari Badan Usaha Milik Negara dan entitas strategis nasional menjadi faktor penentu keberhasilan agenda swasembada energi. Chief Operating Officer (COO) Danantara, Dony Oskaria, menyampaikan bahwa Danantara mendukung penuh program prioritas pemerintah, termasuk dalam penguatan ketahanan energi. Menurutnya, ketahanan energi memiliki irisan yang kuat dengan ketahanan pangan dan industri, karena seluruh aktivitas produksi bergantung pada ketersediaan energi yang stabil dan terjangkau.

    Dony memandang swasembada energi sebagai peluang untuk mempercepat industrialisasi nasional. Dengan energi yang lebih mandiri, biaya produksi dapat ditekan, sehingga daya saing industri dalam negeri meningkat. Ia juga menekankan pentingnya peran investasi strategis yang diarahkan pada proyek-proyek bernilai tambah tinggi, seperti pengolahan energi di dalam negeri dan pengembangan infrastruktur pendukung. Dalam kerangka tersebut, Danantara menempatkan diri sebagai mitra pemerintah untuk memastikan pembiayaan dan eksekusi proyek berjalan sejalan dengan kepentingan jangka panjang bangsa.\

    Dari sisi operator energi nasional, Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Simon Aloysius Mantiri, melihat kebijakan kedaulatan energi sebagai langkah konkret untuk menekan ketergantungan impor. Pertamina, sebagai tulang punggung sektor energi nasional, terus didorong untuk meningkatkan produksi migas, memperkuat kilang dalam negeri, serta mengembangkan energi baru dan terbarukan. Simon menilai bahwa transformasi Pertamina tidak hanya bertujuan mengejar keuntungan korporasi, tetapi juga menjalankan mandat strategis negara dalam menjamin pasokan energi bagi seluruh rakyat.

    Ia juga menyoroti bahwa penguatan kapasitas kilang dan optimalisasi rantai pasok domestik akan memberikan dampak berlapis bagi perekonomian nasional, mulai dari penciptaan lapangan kerja hingga peningkatan nilai tambah. Dalam konteks global yang penuh ketidakpastian, langkah ini menjadi bukti bahwa pemerintah dan BUMN bergerak seirama untuk melindungi kepentingan nasional. Upaya menekan impor bukan berarti menutup diri, tetapi justru memperkuat fondasi agar Indonesia dapat berdiri sejajar dengan negara lain.

    Informasi terkini menunjukkan bahwa pemerintah juga mempercepat pengembangan energi baru dan terbarukan sebagai bagian dari strategi swasembada. Proyek-proyek pembangkit energi surya, panas bumi, hingga bioenergi terus didorong, seiring dengan kebijakan hilirisasi sumber daya alam. Pendekatan ini menegaskan bahwa swasembada energi tidak bertentangan dengan agenda transisi energi, melainkan saling melengkapi. Kemandirian energi hari ini menjadi jembatan menuju sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan di masa depan.

    Secara keseluruhan, swasembada energi adalah agenda besar yang membutuhkan kepemimpinan kuat, konsistensi kebijakan, serta kolaborasi seluruh pemangku kepentingan. Pemerintah telah menunjukkan arah yang jelas dengan menempatkan kedaulatan energi sebagai prioritas nasional. Dengan dukungan regulasi yang tegas, peran aktif BUMN, serta partisipasi dunia usaha, Indonesia berada di jalur yang tepat untuk mewujudkan kemandirian energi. Pada akhirnya, swasembada energi bukan hanya soal angka produksi, melainkan simbol keberanian bangsa untuk berdiri di atas kaki sendiri, demi masa depan Indonesia yang berdaulat, mandiri, dan sejahtera.

    *) Penulis merupakan Pengamat Ekonomi

  • Ketahanan Energi di Era Presiden Prabowo: Dari Roadmap ke Eksekusi

    Oleh: Nadira Citra Maheswari)*

    Ketahanan energi menjadi salah satu fondasi utama pembangunan nasional di era Presiden Prabowo Subianto. Dalam konteks global yang diwarnai ketidakpastian geopolitik, fluktuasi harga energi, serta percepatan transisi menuju energi bersih, Indonesia dihadapkan pada tantangan besar untuk memastikan pasokan energi yang andal, terjangkau, dan berkelanjutan. Pemerintahan Presiden Prabowo menempatkan isu ketahanan energi tidak lagi sebatas wacana strategis, melainkan sebagai agenda eksekusi yang terukur dan terintegrasi dengan pembangunan nasional jangka panjang.

    Dalam konteks penguatan kelembagaan, Presiden RI Prabowo Subianto mengatakan bahwa dirinya secara resmi telah melantik keanggotaan Dewan Energi Nasional (DEN) dari unsur pemerintah dan pemangku kepentingan. Pelantikan tersebut menandai langkah strategis untuk memastikan arah kebijakan energi nasional berjalan konsisten dan terkoordinasi. Presiden Prabowo mengatakan penandatanganan berita acara menjadi bukti konkret pengukuhan para profesional terpilih ini, yang siap berjuang demi kemandirian serta keamanan pasokan energi untuk seluruh rakyat Indonesia.

    Keberadaan DEN diposisikan sebagai simpul strategis dalam menjembatani perencanaan kebijakan dan pelaksanaan di lapangan. Ketua Harian DEN, Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa pelantikan ini menandai babak baru pengelolaan energi nasional. Bahlil menegaskan bahwa perhatian Presiden Prabowo terhadap sektor energi sangat kuat dan konsisten. Hal ini sejalan dengan Asta Cita khususnya pada poin ketahanan energi dan ketahanan pangan. Pelantikan Dewan Energi Nasional ini diharapkan menjadi momentum penguatan tata kelola energi nasional, mengonsolidasikan kebijakan lintas sektor, memastikan kesinambungan pasokan, serta mempercepat transformasi menuju sistem energi yang mandiri, berkelanjutan, dan berpihak pada kepentingan rakyat.

    Ketahanan energi di era Presiden Prabowo dimaknai secara luas, tidak hanya terkait ketersediaan energi, tetapi juga mencakup aspek kemandirian, efisiensi, dan keadilan akses. Ketergantungan terhadap impor energi fosil, khususnya minyak bumi, selama ini menjadi salah satu titik lemah struktur energi nasional. Oleh karena itu, upaya penguatan produksi dalam negeri, optimalisasi sumber daya energi nasional, serta diversifikasi bauran energi menjadi langkah strategis yang terus didorong.

    Pada sektor minyak dan gas bumi, fokus kebijakan diarahkan pada peningkatan produksi melalui optimalisasi lapangan eksisting dan percepatan pengembangan wilayah kerja baru. Reformasi regulasi, kepastian hukum, serta peningkatan efisiensi operasional menjadi instrumen penting untuk menghidupkan kembali investasi hulu migas. Sejalan dengan itu, penguatan kapasitas pengolahan dalam negeri juga dipercepat guna mengurangi ketergantungan terhadap impor bahan bakar minyak dan memperkuat ketahanan pasokan domestik.

    Sektor ketenagalistrikan menjadi pilar penting berikutnya dalam strategi ketahanan energi nasional. Peningkatan kebutuhan listrik sebagai dampak industrialisasi dan pertumbuhan ekonomi menuntut sistem kelistrikan yang andal, adaptif, dan efisien. Pemerintah mendorong pembangunan pembangkit yang berorientasi pada keberlanjutan, disertai penguatan jaringan transmisi dan distribusi agar pasokan listrik merata hingga ke wilayah terpencil dan kawasan perbatasan.

    Energi baru dan terbarukan menempati posisi strategis dalam upaya diversifikasi sumber energi nasional. Pemanfaatan potensi energi surya, air, panas bumi, bioenergi, dan angin dipercepat melalui berbagai skema kebijakan. Pemerintah menekankan pendekatan transisi energi yang realistis dan berkeadilan, dengan memastikan pengembangan energi bersih tidak mengganggu stabilitas pasokan dan pertumbuhan ekonomi. Transisi energi diposisikan sebagai peluang untuk mendorong industrialisasi hijau dan penciptaan lapangan kerja baru.

    Pendekatan dari roadmap ke eksekusi juga tercermin dalam kebijakan hilirisasi energi. Pemerintah mendorong pengolahan sumber daya energi di dalam negeri untuk meningkatkan nilai tambah dan memperkuat struktur industri nasional. Hilirisasi dipandang sebagai instrumen strategis untuk memperkuat ketahanan energi sekaligus mengurangi kerentanan ekonomi terhadap fluktuasi pasar global.

    Keterkaitan antara ketahanan energi dan daya saing industri nasional menjadi perhatian serius. Ketua Umum Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI), Muhammad Ma’ruf Maulana menegaskan kawasan industri merupakan tulang punggung pertumbuhan ekonomi nasional yang sangat bergantung pada kepastian pasokan energi. Oleh karena itu, kebijakan energi yang terintegrasi, berkelanjutan, dan berorientasi jangka panjang menjadi faktor kunci dalam menjaga daya saing industri Indonesia. Pernyataan tersebut mencerminkan kebutuhan dunia usaha akan kebijakan energi yang tidak hanya stabil, tetapi juga mampu mendukung ekspansi industri nasional.

    Penguatan infrastruktur energi menjadi prasyarat utama keberhasilan eksekusi kebijakan. Pembangunan kilang, jaringan gas, fasilitas penyimpanan energi, serta infrastruktur pendukung lainnya terus dipercepat. Infrastruktur ini tidak hanya berfungsi sebagai penopang pasokan energi nasional, tetapi juga sebagai instrumen pemerataan pembangunan antarwilayah.

    Ketahanan energi juga tidak dapat dilepaskan dari penguatan sumber daya manusia dan penguasaan teknologi. Pemerintah mendorong peningkatan kapasitas tenaga kerja sektor energi, termasuk pengembangan keahlian di bidang energi terbarukan dan teknologi rendah karbon. Investasi pada riset dan inovasi menjadi bagian dari strategi jangka panjang untuk memastikan Indonesia tidak tertinggal dalam dinamika teknologi energi global.

    Dalam konteks global, kebijakan ketahanan energi di era Presiden Prabowo dirancang dengan mempertimbangkan dinamika geopolitik dan perubahan lanskap energi dunia. Melalui penguatan kelembagaan, konsistensi kebijakan, dan sinergi lintas sektor, ketahanan energi diharapkan menjadi fondasi kokoh bagi pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan rakyat Indonesia di masa depan.

    *) Penulis adalah Content Writer di Galaswara Digital Bureau

  •    Sekolah Rakyat Wujud Nyata Ikhtiar Negara Memutus Kemiskinan

    Oleh : Antonius Googie)*

    Pemerintah Indonesia kian mempertegas komitmennya dalam memutus mata rantai kemiskinan struktural melalui percepatan pengembangan program Sekolah Rakyat. Program ini diposisikan sebagai instrumen strategis negara untuk memastikan anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem tidak lagi terjebak dalam siklus keterbatasan ekonomi yang diwariskan lintas generasi. Melalui pendekatan pendidikan yang terintegrasi dengan pemenuhan kebutuhan dasar, Sekolah Rakyat diharapkan menjadi fondasi baru mobilitas sosial masyarakat pra-sejahtera.

    Keseriusan pemerintah terlihat dalam pertemuan antara Menteri Sosial Saifullah Yusuf dengan Sekretariat Kabinet pada Rabu malam, 28 Januari 2026. Dalam pertemuan tersebut, pemerintah menegaskan percepatan proyek strategis Sekolah Rakyat sebagai pilar utama pengentasan kemiskinan ekstrem. Kebijakan ini sekaligus menandai pergeseran pendekatan sosial yang tidak lagi sekadar bersifat karitatif, melainkan transformatif dengan pendidikan sebagai pintu utama perubahan.

    Menteri Sosial yang akrab disapa Gus Ipul memaparkan rencana pengembangan Sekolah Rakyat di sejumlah lokasi baru di berbagai wilayah Indonesia. Ia menekankan bahwa program ini tidak berdiri sendiri, melainkan akan diperkuat melalui integrasi dengan universitas negeri serta sekolah kedinasan. Kolaborasi tersebut diharapkan mampu menjadikan institusi pendidikan tinggi sebagai pusat transfer ilmu dan nilai, sehingga lulusan Sekolah Rakyat memiliki standar kompetensi yang unggul dan relevan dengan kebutuhan pembangunan nasional.

    Sekolah Rakyat sendiri digagas Presiden Prabowo Subianto bukan sekadar sebagai lembaga pendidikan formal, melainkan sebagai sebuah ekosistem penyelamat bagi keluarga pra-sejahtera. Program ini secara khusus menyasar anak-anak yang selama ini terpinggirkan dari sistem pendidikan konvensional akibat keterbatasan ekonomi dan sosial. Melalui Sekolah Rakyat, negara hadir secara utuh untuk memastikan bahwa kemiskinan tidak lagi menjadi penghalang utama dalam mengakses pendidikan berkualitas.

    Kebijakan Sekolah Rakyat dibangun di atas tiga pilar utama. Pertama, aksesibilitas yang menjamin pendidikan layak bagi warga tidak mampu. Kedua, peningkatan kualitas hidup melalui transformasi kesejahteraan berbasis penguatan intelektual. Ketiga, ketahanan fisik siswa melalui penyediaan asupan nutrisi dan makanan bergizi yang memadai. Pendekatan komprehensif ini diyakini mampu menciptakan dampak jangka panjang yang berkelanjutan.

    Presiden Prabowo Subianto secara tegas menekankan bahwa negara tidak boleh lagi membiarkan kemiskinan diwariskan dari orang tua kepada anak-anak mereka. Ia menilai bahwa perbaikan kualitas hidup masyarakat harus dilakukan secara bertahap namun konsisten, dimulai dari pemenuhan kebutuhan dasar seperti pendidikan, kesehatan, dan pangan. Melalui Sekolah Rakyat, pemerintah memastikan bahwa pendidikan dan pemenuhan kebutuhan dasar menjadi alat utama bagi masyarakat untuk naik kelas secara ekonomi dan sosial secara permanen.

    Dukungan terhadap program ini juga datang dari parlemen. Wakil Ketua MPR RI sekaligus Anggota Komisi VIII DPR RI, Hidayat Nur Wahid, mendorong agar pembangunan Sekolah Rakyat permanen diprioritaskan di wilayah dengan tingkat kemiskinan tertinggi. Menurutnya, langkah tersebut akan lebih efektif dalam memutus rantai kemiskinan antargenerasi sekaligus mengurangi kesenjangan antarwilayah.

    Berdasarkan data Kementerian Sosial hingga tahun 2025, tercatat telah berdiri 166 Sekolah Rakyat rintisan yang tersebar di berbagai daerah, dengan konsentrasi terbanyak di Jawa Timur, Jawa Barat, dan Jawa Tengah. Sekolah-sekolah tersebut umumnya memanfaatkan fasilitas milik Kemensos, seperti Sentra dan BP3KS, serta bekerja sama dengan pemerintah daerah dan perguruan tinggi. Namun, sesuai arahan Presiden, pada tahun 2026 pemerintah akan membangun Sekolah Rakyat permanen di setiap kabupaten dengan site plan terstandarisasi, di mana lahan disediakan pemerintah daerah dan pembangunan sarana dilakukan oleh Kementerian PUPR.

    Hidayat Nur Wahid menilai bahwa karena pembangunan Sekolah Rakyat permanen dilakukan secara bertahap, maka penentuan wilayah prioritas harus berbasis tingkat kemiskinan. Ia merujuk data Susenas BPS 2025 yang menunjukkan Papua, Nusa Tenggara Timur, Maluku, dan Aceh sebagai wilayah dengan tingkat kemiskinan tertinggi. Menurutnya, pendirian Sekolah Rakyat di wilayah tersebut perlu didahulukan dan diperbanyak agar tujuan memutus lingkaran kemiskinan antargenerasi melalui pendidikan berkualitas dapat segera terwujud. Ia juga menekankan bahwa pengurangan kemiskinan melalui Sekolah Rakyat berpotensi memperkuat integrasi bangsa dan ketahanan NKRI, terutama di tengah menguatnya kembali isu separatisme.

    Di tingkat daerah, komitmen terhadap Sekolah Rakyat juga ditunjukkan Pemerintah Kabupaten Ciamis. Bupati Ciamis Herdiat Sunarya secara langsung mengawal realisasi program tersebut dengan menemui Menteri Sosial di Jakarta. Ia menilai Sekolah Rakyat sangat relevan dengan kondisi Ciamis yang masih memiliki angka kemiskinan cukup tinggi dan membutuhkan terobosan strategis di sektor pendidikan.

    Herdiat menegaskan bahwa Pemkab Ciamis siap mendukung penuh realisasi Sekolah Rakyat, termasuk dengan menyiapkan sejumlah alternatif lokasi pembangunan. Salah satu lokasi yang diajukan berada di Desa Panjalu, Kecamatan Panjalu, dengan luas lahan lebih dari 10 hektare yang dinilai strategis dan berpotensi dikembangkan sebagai kawasan pendidikan terintegrasi. Ia menilai kehadiran Sekolah Rakyat sangat dibutuhkan masyarakat tidak mampu, karena seluruh kebutuhan pendidikan siswa, mulai dari sekolah, seragam, asrama, hingga konsumsi harian, disiapkan oleh negara sehingga hak pendidikan dapat dinikmati secara setara.

    Pembangunan Sekolah Rakyat di sejumlah wilayah memiliki peluang besar untuk segera direalisasikan. Proses pembangunan dapat dimulai sesuai tahapan perencanaan tahun ini. Dengan sinergi pusat dan daerah, Sekolah Rakyat diharapkan menjadi bukti nyata kehadiran negara dalam memutus warisan kemiskinan dan menyiapkan masa depan yang lebih adil bagi generasi penerus bangsa.

    )* Pengamat Pendidikan

  • Pengawasan MBG Libatkan Publik, Pemerintah Dorong Transparansi

    Bondowoso – Pemerintah mendorong keterlibatan aktif masyarakat dalam pengawasan Program MBG sebagai bagian dari komitmen memperkuat transparansi dan akuntabilitas pelaksanaan program nasional tersebut. BGN menilai partisipasi publik menjadi elemen penting untuk memastikan kualitas dan keberlanjutan layanan gizi bagi anak-anak.

    Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang, menegaskan bahwa masyarakat diperbolehkan mengunggah foto maupun video menu MBG yang dikonsumsi anak-anak ke media sosial, baik menu yang dinilai sesuai maupun yang dianggap bermasalah. Menurutnya, tidak ada larangan bagi orang tua siswa, guru, atau masyarakat untuk menyampaikan penilaian terhadap pelaksanaan program.

    “Saya tidak pernah melarang orang tua siswa, guru, atau siapa pun untuk mengunggah menu MBG,” kata Nanik.

    Nanik menganjurkan agar setiap unggahan disertai keterangan yang jelas, seperti waktu pengambilan gambar, alamat sekolah penerima manfaat, serta nama dan alamat SPPG yang mendistribusikan makanan. Informasi tersebut dinilai krusial untuk memudahkan penelusuran apabila ditemukan ketidaksesuaian di lapangan.

    “Selain gambar atau video, pengunggah perlu juga menyertakan keterangan waktu, alamat sekolah penerima manfaat, maupun nama dan alamat SPPG yang mendistribusikan hidangan MBG itu,” ujarnya.

    Sebagai Ketua Harian Tim Koordinasi 17 Kementerian dan Lembaga pelaksana MBG, Nanik menegaskan bahwa keterbukaan data tersebut bukan untuk kepentingan intimidasi. Sebaliknya, transparansi justru diperlukan agar pemerintah dapat segera melakukan klarifikasi, perbaikan, dan pencegahan terhadap potensi masalah.

    “Keterangan yang detail itu justru sangat penting, agar BGN bekerja sama dengan Lembaga dan Kementerian lain bisa segera melacak, memastikan apa yang sebenarnya terjadi, dan dapat mencegah hal-hal yang tidak diinginkan,” ujarnya.

    Nanik menyebut, partisipasi masyarakat sangat dibutuhkan mengingat keterbatasan sumber daya pengawasan pemerintah. Saat ini, BGN hanya memiliki sekitar 70 anggota tim pemantauan SPPG yang bertugas mengawasi pelaksanaan MBG di seluruh Indonesia.

    “Jadi kami justru sangat berterima kasih jika ada banyak saran, masukan, dan juga pengawasan dari orang tua murid, guru, maupun warga masyarakat lainnya,” kata Nanik.

    Dukungan terhadap pelibatan publik juga disampaikan Anggota DPR RI Komisi IX, Netty Prasetiyani Aher. Ia menilai keterbukaan pengawasan menjadi keniscayaan mengingat skala program MBG yang menyasar jutaan anak di seluruh Indonesia.

    “Program MBG menyasar jutaan anak di seluruh Indonesia. Dengan cakupan sebesar itu, maka pengawasannya tidak bisa bertumpu pada pemerintah pusat atau satu lembaga saja. Partisipasi masyarakat menjadi elemen penting,” tegasnya.

    Netty menekankan bahwa setiap masukan publik harus ditindaklanjuti secara adil dan proporsional, serta berorientasi pada perlindungan anak sebagai penerima manfaat utama program. #

  • Pemerintah Terima Kritik dan Unggahan Menu MBG Jadi Bentuk Partisipasi Publik

    Jakarta, – Pemerintah melalui Badan Gizi Nasional (BGN) menyambut terbuka kritik dan unggahan menu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari masyarakat sebagai bagian dari upaya keterbukaan dan partisipasi publik dalam pengawasan pelaksanaan program nasional tersebut.

    Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang, menegaskan bahwa masyarakat termasuk orang tua siswa, guru, dan pihak sekolah dipersilakan mengunggah foto maupun video menu MBG ke media sosial. Hal ini berlaku untuk menu yang dinilai baik maupun menu yang bermasalah, termasuk jika dinilai tidak sesuai dengan pagu anggaran Rp 10.000 per porsi.

    “Kami tidak pernah melarang siapa pun untuk mengunggah menu MBG,” ujar Nanik.

    Ia juga mendorong agar setiap unggahan dilengkapi dengan keterangan mendetail, seperti waktu pengambilan gambar, alamat sekolah penerima manfaat, serta nama dan alamat Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang mendistribusikan makanan.

    Menurut Nanik, keterlibatan aktif masyarakat merupakan bagian penting dari transparansi program dan perluasan pengawasan, terutama mengingat kondisi geografis Indonesia yang luas dan jumlah unit pelaksana SPPG yang sangat banyak.

    “Partisipasi publik menjadi elemen penting dalam memastikan kualitas gizi, keamanan pangan, dan pemenuhan hak anak,” tambah Nanik.

    Sementara itu, Anggota DPR RI Komisi IX, Netty Prasetiyani menyatakan dukungannya terhadap keterbukaan tersebut. Program MBG menyasar jutaan anak di seluruh Indonesia dengan cakupan sebesar itu, pengawasannya tidak bisa bertumpu pada pemerintah pusat saja.

    “Program MBG menyasar jutaan anak di seluruh Indonesia. Dengan cakupan sebesar itu, pengawasannya tidak bisa bertumpu pada pemerintah pusat atau satu lembaga saja. Partisipasi masyarakat menjadi elemen penting” katanya.

    Sebagai program unggulan pemerintah Presiden Prabowo Subianto, MBG terus diperkuat dari sisi kebijakan dan pengawasan. Dalam beberapa kesempatan, Presiden juga telah meminta penguatan standardisasi dan kepatuhan pelaksanaan untuk mengantisipasi berbagai kendala yang muncul selama implementasi.

    Setiap laporan masyarakat akan dijadikan bahan verifikasi lapangan dan perbaikan teknis, baik terkait kualitas menu, distribusi, maupun kepatuhan penyedia terhadap standar anggaran dan gizi. Langkah ini diharapkan mempercepat respons korektif serta mencegah terulangnya temuan serupa di kemudian hari.

    Dengan pendekatan terbuka dan kolaboratif tersebut, Program Makan Bergizi Gratis diharapkan tidak hanya berjalan luas secara kuantitas, tetapi juga terjaga dari sisi mutu dan akuntabilitas. Keterlibatan publik diposisikan sebagai mitra strategis pemerintah dalam memastikan program berjalan tepat sasaran, berkelanjutan, dan benar-benar memberikan manfaat optimal bagi tumbuh kembang anak Indonesia.

  • Pemerintah Ajak Masyarakat Kawal MBG

    *) Oleh : Hildan Setiawan

    Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digulirkan pemerintah bukan sekadar kebijakan bantuan pangan, melainkan sebuah ikhtiar besar untuk membangun kualitas sumber daya manusia sejak dini. Melalui program ini, negara hadir memastikan anak-anak sekolah mendapatkan asupan gizi yang layak agar tumbuh sehat, cerdas, dan mampu belajar secara optimal. Namun, besarnya skala program dan luasnya wilayah pelaksanaan membuat keberhasilan MBG tidak mungkin hanya bergantung pada pemerintah semata. Di sinilah pentingnya peran masyarakat untuk ikut mengawal agar tujuan mulia program ini benar-benar tercapai.

    Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN) bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik Sudaryati Deyang mengajak masyarakat untuk terlibat aktif dalam pengawasan pelaksanaan MBG di lapangan. Program yang menyasar jutaan penerima manfaat membutuhkan transparansi, akuntabilitas, dan kontrol sosial yang kuat. Mmenurutnya masyarakat, mulai dari orang tua siswa, guru, komite sekolah, hingga organisasi kemasyarakatan, memiliki posisi strategis untuk memastikan bahwa makanan yang disalurkan benar-benar bergizi, aman dikonsumsi, dan sampai kepada sasaran yang tepat tanpa penyimpangan.

    Pengawalan masyarakat menjadi penting karena MBG menyentuh langsung kebutuhan dasar anak-anak. Kualitas makanan, ketepatan waktu distribusi, hingga kebersihan proses penyajian adalah hal-hal yang hanya bisa diawasi secara efektif oleh mereka yang berada paling dekat dengan lokasi pelaksanaan. Dengan keterlibatan publik, potensi masalah seperti pengurangan porsi, kualitas bahan yang tidak layak, atau praktik tidak jujur dapat dicegah sejak dini. Partisipasi ini sekaligus memperkuat rasa memiliki masyarakat terhadap program negara.

    Selain aspek pengawasan, keterlibatan masyarakat juga membuka ruang edukasi bersama tentang pentingnya gizi seimbang. MBG dapat menjadi pintu masuk untuk meningkatkan kesadaran orang tua dan lingkungan sekolah mengenai pola makan sehat bagi anak. Ketika masyarakat ikut mengawal, diskusi tentang kandungan gizi, variasi menu, dan kebutuhan nutrisi anak akan tumbuh secara alami. Dampaknya bukan hanya pada penerima MBG, tetapi juga pada perubahan perilaku makan di rumah dan lingkungan sekitar.

    Pemerintah sendiri menegaskan bahwa kritik dan masukan dari masyarakat merupakan bagian penting dari perbaikan kebijakan. Pengawalan publik tidak dimaknai sebagai upaya mencari kesalahan, melainkan sebagai bentuk gotong royong dalam menyempurnakan pelaksanaan program. Laporan, saran, dan temuan di lapangan dapat menjadi dasar evaluasi agar MBG terus berkembang menjadi lebih baik, lebih efektif, dan lebih tepat guna. Dengan mekanisme ini, kebijakan tidak berjalan satu arah, tetapi tumbuh bersama kebutuhan nyata masyarakat.

    Anggota Komisi III DPR RI, Sudin mengatakan keterlibatan masyarakat juga berperan menjaga keberlanjutan program dalam jangka panjang. Program sebesar MBG memerlukan legitimasi sosial yang kuat agar tidak mudah dipolitisasi atau ditinggalkan oleh pergantian kebijakan. Ketika masyarakat merasa dilibatkan dan merasakan langsung manfaatnya, dukungan publik akan terbentuk secara alami. Dukungan inilah yang menjadi modal sosial penting agar MBG tetap konsisten sebagai investasi masa depan bangsa.

    Pengawalan masyarakat terhadap MBG juga sejalan dengan semangat demokrasi partisipatif. Warga negara tidak hanya menjadi penerima manfaat, tetapi juga mitra aktif negara dalam memastikan kebijakan berjalan sesuai tujuan. Dalam konteks ini, pengawasan publik adalah wujud tanggung jawab bersama untuk menjaga uang negara digunakan sebesar-besarnya bagi kepentingan rakyat. Transparansi dan partisipasi menjadi kunci agar kepercayaan antara pemerintah dan masyarakat terus terjaga.

    Ekonom Senior, Wijayanto Samiri menjelaskan ajakan agar masyarakat mengawal MBG patut dibaca sebagai sinyal positif keterbukaan dan keseriusan dalam membangun generasi sehat dan berkualitas. Keberhasilan program ini tidak hanya diukur dari jumlah makanan yang dibagikan, tetapi dari dampak nyata bagi tumbuh kembang anak-anak Indonesia. Dengan pengawasan bersama, MBG berpeluang besar menjadi fondasi kuat bagi masa depan bangsa, sekaligus bukti bahwa kolaborasi negara dan masyarakat mampu menghasilkan perubahan yang berarti.

    Secara keseluruhan, Program Makan Bergizi Gratis hanya akan mencapai tujuan strategisnya apabila dijalankan dengan prinsip keterbukaan dan partisipasi publik yang kuat. Keterlibatan masyarakat dalam mengawal MBG bukan sekadar pelengkap, melainkan elemen kunci untuk memastikan program ini berjalan tepat sasaran, berkualitas, dan bebas dari penyimpangan. Dengan pengawasan yang dilakukan secara bersama-sama, negara dan masyarakat dapat membangun ekosistem kebijakan yang saling percaya, di mana kepentingan anak-anak sebagai generasi penerus benar-benar ditempatkan sebagai prioritas utama.

    Ke depan, ajakan pemerintah kepada masyarakat untuk mengawal MBG perlu diterjemahkan dalam mekanisme yang mudah diakses, responsif, dan berkelanjutan. Partisipasi publik yang terkelola dengan baik akan memperkuat legitimasi program sekaligus meningkatkan efektivitas pelaksanaannya di lapangan. Jika kolaborasi ini terus dijaga, MBG tidak hanya menjadi program bantuan jangka pendek, tetapi menjelma sebagai investasi sosial jangka panjang yang menentukan kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.

    )* Penulis adalah pemerhati kebijakan publik

  • Pemerintah Menguatkan MBG Lewat Pengawasan Bersama

    Oleh : Andhika Rachma

    Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi prioritas pemerintah dalam pemenuhan gizi anak sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, dan balita. Diluncurkan awal 2025, MBG tidak hanya berfokus pada pemberian makanan, tetapi juga mencerminkan komitmen negara membangun generasi sehat dan produktif, dengan keberhasilan yang ditopang oleh pengawasan kuat, kolaborasi lintas sektor, dan partisipasi publik agar pelaksanaannya akuntabel, transparan, dan aman.

    Seiring pelaksanaan MBG yang berskala nasional dan menjangkau puluhan juta penerima manfaat, pemerintah memperkuat pengawasan melalui kolaborasi lintas lembaga dan masyarakat. Salah satu langkah utama adalah pembentukan tim koordinasi yang dipimpin Menteri Koordinator Bidang Pangan untuk memastikan kebijakan dan standar MBG berjalan selaras di semua tingkatan, sekaligus memantau dan mengevaluasi pelaksanaan agar setiap dapur MBG menjamin keamanan dan mutu gizi makanan.

    Anggota DPR RI Komisi IX, Netty Prasetiyani mengatakan keterbukaan Badan Gizi Nasional (BGN) terhadap partisipasi publik dalam pengawasan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai langkah yang perlu dikawal secara serius agar tujuan program benar-benar tercapai. Penguatan kapasitas pelaksana di lapangan, termasuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), menjadi kunci keberhasilan MBG.

    Dalam pengawasan mutu makanan, Kementerian Kesehatan bersama Badan Gizi Nasional (BGN) memperketat standar keamanan pangan melalui standarisasi pelaporan, sertifikasi, dan pengawasan berlapis di setiap penyedia MBG. Penerapan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS), HACCP, dan sertifikasi halal menegaskan komitmen pemerintah menjadikan keamanan dan kesehatan pangan sebagai fondasi program, sehingga manfaat MBG dapat diterima secara aman dan optimal.

    Selain itu, BGN sendiri telah membangun sistem internal monitoring yang kuat melalui pembentukan Inspektorat Utama dan Deputi Pengawasan serta Monitoring yang bertugas melakukan audit, evaluasi, dan pengawasan teknis secara komprehensif terhadap operasional program. Sistem pengawasan ini menjadi salah satu pilar penting dalam mencegah penyimpangan, memastikan akuntabilitas, serta menjaga kepercayaan publik terhadap program yang begitu besar ini.

    Penguatan pengawasan MBG juga melibatkan lembaga penegak hukum dan pengawal integritas publik seperti Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Melalui sistem Deteksi Dini Penyalahgunaan Dana MBG, KPK mendorong sinergi pengawasan anggaran sebagai langkah pencegahan korupsi dan kontrol publik agar aliran dana terpantau sejak awal. Upaya ini menjadi krusial mengingat besarnya anggaran MBG, sehingga tata kelola yang bersih, transparan, dan akuntabel dapat terjaga demi memastikan manfaat program benar-benar dirasakan masyarakat.

    Wakapolres Pringsewu, Kompol Samsuri mengatakan bahwa pihaknya Polri tidak hanya mengawal distribusi Program Makan Bergizi Gratis (MBG), tetapi juga menempatkan kualitas dan keamanan pangan sebagai prioritas utama dalam pelaksanaannya. Program MBG tidak boleh hanya mengejar kuantitas, tetapi harus menjamin kualitas gizi dan kebersihan karena menyasar anak-anak usia sekolah.

    Keterlibatan publik dalam pengawasan MBG semakin diperkuat melalui peluncuran layanan aduan dan portal pengawasan yang mudah diakses masyarakat. Layanan nasional SAGI 127 yang diresmikan Kepala Badan Gizi Nasional memungkinkan masyarakat melaporkan persoalan distribusi, kualitas makanan, hingga kendala di lapangan, sehingga meningkatkan keterbukaan dan kecepatan respons program.

    Di sisi lain, peran masyarakat sipil juga menguat melalui inisiatif seperti portal reviewmbg.id yang diluncurkan Indonesia Food Security Review (IFSR), yang memberi ruang bagi orang tua, guru, dan siswa untuk menyampaikan masukan secara langsung, sekaligus memperluas partisipasi publik dalam menjaga mutu dan standar pelaksanaan MBG.

    Kolaborasi lintas sektor dalam MBG juga melibatkan lembaga strategis seperti Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yang secara aktif bekerja sama dengan Badan Gizi Nasional, Kementerian Kesehatan, serta Komisi IX DPR RI untuk memperkuat pengawasan, penanganan kasus, dan efektivitas pelaksanaan program. Sinergi ini mencerminkan komitmen bersama seluruh pemangku kepentingan dalam menjadikan MBG sebagai layanan publik berkualitas demi kesejahteraan generasi muda Indonesia.

    Realita di lapangan menunjukkan bahwa pengawasan yang melibatkan banyak pihak memberikan dampak positif yang nyata. Pemerintah daerah di beberapa provinsi bahkan telah membentuk gugus tugas khusus untuk mencegah insiden yang tidak diinginkan, seperti food poisoning, sekaligus mempercepat koordinasi antara instansi terkait dalam menangani masalah yang muncul. Contoh ini menunjukkan bahwa semangat pengawasan dan kolaborasi tidak hanya menjadi jargon, tetapi diimplementasikan secara nyata oleh berbagai pihak dalam rangka meningkatkan kualitas program MBG.

    Dengan pengawasan bersama yang konsisten, MBG semakin adaptif menghadapi tantangan sekaligus mencerminkan komitmen pemerintah menjamin hak atas pangan sehat bagi seluruh anak bangsa melalui pemantauan ketat, standar yang jelas, sinergi lintas lembaga, dan partisipasi aktif masyarakat.

    Secara keseluruhan, langkah pemerintah dalam menguatkan MBG lewat pengawasan bersama merupakan cerminan dari kebijakan yang responsif terhadap kebutuhan masyarakat dan tantangan implementasi di lapangan. Dengan fondasi pengawasan yang kuat, MBG tidak hanya menjadi sekadar program pemberian makan, namun juga simbol kuatnya kolaborasi antara pemerintah dan publik dalam membangun bangsa yang lebih sehat, produktif, dan berdaya saing.

    )* Pengamat Kebijakan Publik

  • Gerakan Pasar Murah Jadi Andalan Pemerintah Jaga Stabilitas Harga Pangan Nasional

    Surabaya – Pemerintah terus memperkuat langkah pengendalian harga bahan pokok nasional menjelang bulan puasa dan Hari Raya Idulfitri melalui Gerakan Pasar Murah yang digelar secara masif di berbagai daerah. Program ini menjadi instrumen utama pemerintah untuk memastikan harga pangan tetap stabil dan daya beli masyarakat terjaga di tengah potensi lonjakan permintaan saat hari besar keagamaan.

    Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan bahwa Presiden RI memberikan perhatian khusus terhadap stabilitas harga kebutuhan pokok. Pemerintah bahkan mendorong agar harga pangan tidak hanya terkendali, tetapi juga dapat ditekan agar lebih terjangkau bagi masyarakat.

    “Bapak Presiden selalu menekankan agar harga-harga menjelang hari raya tidak boleh naik. Bahkan beliau ingin harga-harga turun. Alhamdulillah, pada Natal dan Tahun Baru serta Lebaran tahun lalu, harga bisa kita kendalikan,” ujar Zulkifli Hasan.

    Menghadapi puasa dan Lebaran tahun ini, pemerintah memastikan ketersediaan stok pangan dalam kondisi aman. Selain pengamanan pasokan, pasar murah digencarkan sebagai langkah konkret menahan laju kenaikan harga di tingkat konsumen.
    “Sekarang yang paling penting stok cukup dan harga terkendali. Tidak boleh naik. Karena itu kita lakukan pasar murah, misalnya beras diskon 10 persen, telur diskon 10 persen,” jelasnya.

    Menurut Zulkifli Hasan, pasar murah bersifat antisipatif dan berkelanjutan, dilaksanakan setiap hari di sejumlah wilayah untuk meredam gejolak harga akibat peningkatan permintaan.

    Di tingkat daerah, Pemerintah Provinsi Jawa Timur turut mengambil peran strategis. Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa langsung menggelar pasar murah keenam sejak awal 2026 sebagai bagian dari upaya pengendalian inflasi daerah.
    “Awal tahun ini kita langsung bergerak. Pasar murah adalah bagian dari ikhtiar Pemprov Jawa Timur untuk menjaga stabilitas harga bahan pokok, agar masyarakat tetap bisa mengakses kebutuhan pangan dengan harga terjangkau,” tegas Khofifah.

    Ia menilai pasar murah efektif karena menghadirkan harga pembanding di bawah harga pasar, tanpa mengganggu ekosistem pasar tradisional. “Kita tempatkan pasar murah ini di titik-titik yang tidak berdekatan dengan pasar tradisional, supaya tidak mengganggu ekosistem pasar yang sudah ada,” jelasnya.

    Sementara itu, Pemimpin Wilayah Perum Bulog Jawa Timur Langgeng Wisnu Adinugroho memastikan stok pangan di wilayahnya berada pada posisi sangat aman.
    “Kami sangat siap. Stok 796 ribu ton itu cukup untuk 14 bulan ke depan,” ungkapnya. Bulog Jatim juga aktif menyerap hasil panen petani dan bersinergi dengan Satgas Pangan untuk pemantauan harian, guna memastikan stabilitas harga tetap terjaga.

    Dengan sinergi pemerintah pusat, daerah, dan Bulog, Gerakan Pasar Murah diharapkan menjadi benteng utama menjaga stabilitas harga pangan nasional. (*)

  • Gerakan Pasar Murah Diperluas, Pemerintah Kendalikan Inflasi Pangan

    JAKARTA – Pemerintah terus memperluas pelaksanaan Gerakan Pasar Murah sebagai langkah konkret menjaga stabilitas harga pangan nasional menjelang bulan puasa dan Hari Raya Idulfitri. Kebijakan ini diarahkan untuk meredam potensi lonjakan harga akibat meningkatnya permintaan sekaligus memastikan masyarakat tetap memiliki akses terhadap kebutuhan pokok dengan harga terjangkau.

    Gerakan Pasar Murah tidak hanya difokuskan pada wilayah perkotaan, tetapi juga menjangkau daerah-daerah dengan tingkat kerawanan inflasi pangan yang lebih tinggi. Melalui pendekatan ini, pemerintah berupaya memastikan distribusi pangan berjalan merata dan tidak terkonsentrasi di titik tertentu saja.

    Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan bahwa pengendalian harga pangan menjadi perhatian langsung Presiden RI, terutama menjelang hari besar keagamaan yang kerap memicu kenaikan harga. Pemerintah, menurutnya, tidak ingin masyarakat terbebani oleh lonjakan harga bahan pokok.

    “Bapak Presiden selalu menekankan agar harga-harga menjelang hari raya tidak boleh naik. Bahkan beliau ingin harga-harga turun. Alhamdulillah, pada Natal dan Tahun Baru serta Lebaran tahun lalu, harga bisa kita kendalikan,” ujar Zulkifli Hasan.

    Untuk menghadapi Ramadan dan Lebaran tahun ini, pemerintah memastikan stok pangan nasional berada dalam kondisi aman. Selain menjaga ketersediaan pasokan, pasar murah dijalankan secara rutin sebagai instrumen menahan pergerakan harga di tingkat konsumen.

    “Sekarang yang paling penting stok cukup dan harga terkendali. Tidak boleh naik. Karena itu dilakukan pasar murah, misalnya beras diskon 10 persen, telur diskon 10 persen,” jelas Zulkifli Hasan.

    Pelaksanaan pasar murah dirancang bersifat berkelanjutan dan adaptif, dengan pelaksanaan harian di berbagai wilayah. Skema ini diharapkan mampu meredam gejolak harga yang kerap muncul akibat lonjakan permintaan musiman.

    Di tingkat daerah, Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan turut mengambil langkah antisipatif melalui penyiapan Gerakan Pasar Murah menjelang Ramadan 2026. Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Peternakan Sumatera Selatan Ruzuan Efendi menyebut sejumlah komoditas pangan berpotensi mengalami kenaikan harga pada periode tersebut.

    “Dari jauh hari sudah harus dipersiapkan agar harga tetap stabil. Sudah disiapkan rencana gerakan pasar murah dan kemungkinan ada gerakan lain dari OPD maupun pemerintah kabupaten dan kota,” kata Ruzuan Efendi.

    Langkah tersebut dilakukan untuk mengantisipasi peningkatan permintaan masyarakat terhadap komoditas strategis seperti beras, cabai, telur, daging, bawang, dan ikan. Tanpa intervensi, lonjakan permintaan berpotensi memicu tekanan harga di pasaran.

    “Harapannya harga tetap stabil, distribusi bahan pangan berjalan lancar, tidak terjadi kelangkaan, dan masyarakat bisa memenuhi kebutuhan pokok dengan harga terjangkau selama Ramadan 2026,” ujar Ruzuan Efendi.

    Selain menjaga stabilitas harga, Gerakan Pasar Murah juga memperkuat rantai pasok pangan dengan melibatkan petani lokal dan pelaku usaha pangan daerah. Pendekatan ini memperpendek jalur distribusi sekaligus mendukung perekonomian daerah.

    Dengan langkah terkoordinasi antara pemerintah pusat dan daerah, pengendalian inflasi pangan diharapkan tetap terjaga, sehingga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat dapat terus dipertahankan.

  • Gerakan Pasar Murah, Instrumen Negara Menjaga Daya Beli Masyarakat

    Oleh: Yusuf Rinaldi)*

    Dalam menghadapi dinamika pangan yang selalu berubah, Pemerintah semakin menunjukkan komitmennya dalam menjaga ketersediaan pangan yang terjangkau bagi masyarakat. Salah satu instrumen penting yang diluncurkan adalah Gerakan Pasar Murah (GPM). Gerakan ini bukan hanya sekadar aksi pasar, namun juga merupakan bagian dari strategi besar negara untuk menjaga daya beli masyarakat, terutama menjelang momen-momen penting seperti bulan puasa Ramadan yang sering kali disertai lonjakan harga pangan.

    Gerakan Pasar Murah yang digalakkan pemerintah terbukti menjadi alat yang efektif dalam mengendalikan harga pangan pokok yang terus mengalami fluktuasi. Dengan menyasar komoditas utama seperti beras, gula, minyak goreng, dan daging, GPM dirancang untuk memberikan solusi langsung bagi masyarakat yang terjebak dalam lonjakan harga. Pemerintah melalui Badan Pangan Nasional (Bapanas) dan berbagai instansi terkait berkolaborasi dengan pemerintah daerah untuk menyelenggarakan pasar murah yang menyediakan bahan pangan dengan harga yang lebih terjangkau daripada harga pasar pada umumnya.

    Direktur Kewaspadaan Pangan Bapanas, Nita Yulianis, menjelaskan bahwa pihaknya telah mempersiapkan tujuh langkah strategis untuk menjaga stabilitas harga pangan, yang salah satunya adalah dengan menggencarkan Gerakan Pangan Murah. Langkah-langkah ini dirancang untuk mengantisipasi lonjakan harga yang kerap terjadi menjelang bulan Ramadan, yang dapat menambah beban ekonomi masyarakat, terutama mereka yang berpendapatan rendah.

    Berdasarkan pantauan Badan Pusat Statistik (BPS), komoditas yang sering mempengaruhi inflasi pangan pada bulan Ramadan antara lain daging ayam ras, telur ayam ras, beras, minyak goreng, dan cabai rawit. Menyikapi hal tersebut, pemerintah melakukan pemantauan harga pasar secara rutin. Jika terdapat gejolak harga yang berpotensi memberatkan masyarakat, intervensi pasar dilakukan melalui program GPM yang dilaksanakan di berbagai daerah.

    Asisten Deputi Cadangan Pangan dan Bantuan Pangan Kemenko Pangan, Sugeng Harmono, menegaskan bahwa intervensi pasar dengan program GPM adalah langkah preventif untuk menstabilkan harga pangan. Pemerintah melakukan pemantauan harga pasar secara rutin. Jika harga pasar sudah mencapai level yang tinggi, intervensi akan dilakukan, salah satunya melalui Gerakan Pangan Murah. Dengan adanya pasar murah, pemerintah dapat menjamin ketersediaan pangan dengan harga yang lebih terjangkau bagi masyarakat berpendapatan rendah.

    Keberhasilan Gerakan Pangan Murah bukan hanya soal harga, tetapi juga soal memastikan akses pangan yang lebih merata. Pemerintah daerah memainkan peran kunci dalam memperkuat jaringan distribusi pangan. Di Kota Pangkalpinang, misalnya, Gerakan Pangan Murah yang digelar di depan kantor Dinas Pangan dan Pertanian, berhasil menarik minat masyarakat.

    Stok beras stabilisasi pangan dan harga pasar (SPHP) sebanyak 2 ton habis terjual dalam waktu hanya dua jam. Hal ini menunjukkan bahwa program tersebut sangat dibutuhkan masyarakat, terutama mereka yang kesulitan mendapatkan bahan pangan dengan harga wajar. Gerakan ini juga diharapkan dapat mengurangi kesenjangan sosial yang muncul akibat perbedaan daya beli di berbagai lapisan masyarakat.

    Selain itu, pemerintah juga mendorong pemerintah daerah untuk memperkuat kerjasama antar daerah. Pemerintah daerah diharapkan dapat mengidentifikasi potensi surplus dan defisit pangan melalui neraca pangan wilayah dan memperkuat cadangan pangan lokal. Sinergi antara pusat dan daerah menjadi kunci penting dalam menjaga ketersediaan pangan dan mengendalikan inflasi pangan. Dengan koordinasi yang solid, diharapkan ketahanan pangan di seluruh wilayah dapat lebih terjamin.

    Tidak hanya berfokus pada GPM, program lain seperti pengembangan kios pangan juga menjadi strategi penting dalam menjaga stabilitas harga pangan. Kios pangan ini bertujuan untuk menyediakan pangan murah di wilayah-wilayah yang mengalami kesulitan distribusi, sehingga masyarakat tidak perlu menempuh jarak jauh untuk memperoleh bahan pangan dengan harga wajar.

    Gerakan Pasar Murah ini jelas menjadi instrumen yang penting bagi pemerintah dalam menjaga daya beli masyarakat. Melalui GPM, pemerintah tidak hanya berperan sebagai pengawas pasar, tetapi juga sebagai penyedia solusi yang langsung dirasakan oleh masyarakat. Dengan harga pangan yang terjangkau, masyarakat tidak hanya dapat memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka dengan lebih mudah, tetapi juga terhindar dari potensi krisis ekonomi akibat lonjakan inflasi yang dapat terjadi pada momen-momen tertentu, seperti menjelang Ramadan.

    Pemerintah juga menyadari bahwa keberhasilan Gerakan Pangan Murah ini memerlukan dukungan semua pihak, baik pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga sektor swasta. Oleh karena itu, berbagai upaya untuk memperkuat kerjasama antara berbagai pihak terus dilakukan. Hal ini penting agar setiap kebijakan yang diambil dapat diimplementasikan dengan efektif di lapangan.

    Secara keseluruhan, Gerakan Pasar Murah menjadi salah satu bukti bahwa pemerintah berkomitmen untuk menjaga daya beli masyarakat melalui kebijakan yang terencana dan terintegrasi. Dalam menghadapi tantangan ekonomi yang semakin kompleks, keberadaan GPM menjadi salah satu instrumen utama yang membantu masyarakat untuk tetap bertahan di tengah ketidakpastian harga pangan.

    )*Penulis merupakan Pengamat Ekonomi