Penulis: restiana818@gmail.com

  • Tak Perlu Panik, Rupiah Masih Dalam Kendali Negara

    Oleh: Juana Syahril)*

    Nilai tukar rupiah sempat melemah mendekati level psikologis Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS) dalam beberapa waktu terakhir. Pergerakan tersebut langsung memantik perhatian publik karena angka itu dianggap sebagai batas yang sensitif, sekaligus menimbulkan kekhawatiran akan dampaknya terhadap perekonomian domestik. Namun, otoritas moneter dan fiskal menegaskan bahwa kondisi ini masih berada dalam pengawasan ketat dan tidak perlu direspons dengan kepanikan. Pemerintah memastikan seluruh perangkat kebijakan tetap berjalan untuk menjaga stabilitas serta mendukung penguatan rupiah ke depan.

    Bank Indonesia menilai pelemahan rupiah yang terjadi bersifat sementara dan merupakan bagian dari dinamika pasar keuangan global. Dalam konteks tersebut, Bank Indonesia menegaskan bahwa rupiah memiliki ruang untuk kembali menguat, terutama setelah pasar menemukan titik keseimbangan baru. Pergerakan nilai tukar pada dasarnya dipengaruhi banyak faktor, mulai dari sentimen global, kebijakan suku bunga negara maju, hingga aliran modal internasional. Namun, dalam situasi seperti ini, ketahanan fundamental ekonomi domestik menjadi penentu utama, dan Indonesia dinilai berada pada jalur yang solid.

    Deputi Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, mengatakan bahwa pelemahan rupiah sudah mencapai fase yang wajar sebelum memasuki tahap penguatan. Penilaian tersebut memperlihatkan bahwa Bank Indonesia memantau pergerakan rupiah secara komprehensif dan mengandalkan indikator yang terukur. Dalam pandangan otoritas moneter, rupiah bukan hanya bergerak mengikuti persepsi pasar, tetapi juga akan kembali menyesuaikan diri dengan kondisi fundamental serta dukungan kebijakan yang tepat.

    Lebih jauh, Destry Damayanti menekankan bahwa optimisme itu didukung oleh langkah-langkah operasi moneter yang sedang dijalankan melalui strategi yang dikenal sebagai smart intervention. Strategi ini dirancang bukan sekadar untuk merespons gejolak sesaat, tetapi untuk menata ekspektasi pasar agar stabilitas dapat terjaga secara konsisten. Dengan pendekatan tersebut, Bank Indonesia berupaya meminimalkan risiko peningkatan volatilitas yang berlebihan, sehingga rupiah tetap bergerak dalam koridor yang sehat dan terkendali.

    Smart intervention yang dilakukan Bank Indonesia melibatkan sejumlah instrumen penting, antara lain operasi di pasar Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), pasar spot, serta pasar surat berharga negara (SBN). Pemanfaatan instrumen ini memperlihatkan kesiapan otoritas moneter dalam merespons dinamika pasar secara cepat dan presisi. DNDF, misalnya, berperan untuk membantu pelaku pasar dalam melakukan lindung nilai, sekaligus menjaga agar tekanan di pasar valas tidak berkembang menjadi spekulasi yang merugikan. Sementara operasi di pasar spot menjaga ketersediaan likuiditas, dan intervensi di pasar SBN membantu menstabilkan aliran modal yang berkaitan dengan investasi portofolio.

    Selain langkah Bank Indonesia, koordinasi antarotoritas menjadi faktor yang memperkuat keyakinan publik bahwa rupiah tidak berada dalam situasi yang mengkhawatirkan. Pentingnya sinergi antara kebijakan fiskal, moneter, dan sektor riil. Tiga komponen ini saling terkait dan tidak bisa berjalan sendiri-sendiri. Ketika kebijakan fiskal mendukung pertumbuhan melalui pengelolaan anggaran yang kredibel, kebijakan moneter menjaga stabilitas harga dan nilai tukar, sementara sektor riil menjadi penggerak produktivitas, maka perekonomian memiliki fondasi yang kuat untuk menghadapi tekanan eksternal.

    Keyakinan serupa juga disampaikan dari sisi pemerintah. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, mengatakan bahwa pelemahan rupiah yang hampir menyentuh Rp17.000 per dolar AS tidak serta-merta menjadi sinyal krisis ekonomi dalam negeri. Ia menilai bahwa indikator fundamental ekonomi Indonesia masih berada dalam kondisi yang sangat baik, sehingga tekanan nilai tukar tidak perlu diterjemahkan sebagai ancaman besar. Pernyataan ini sekaligus menjadi penegasan bahwa pemerintah memandang situasi secara rasional dengan dasar data dan proyeksi ekonomi, bukan semata-mata dipengaruhi fluktuasi harian di pasar.

    Menurut Purbaya Yudhi Sadewa kondisi fundamental yang kuat juga tercermin dari prospek pertumbuhan ekonomi yang dinilai akan bergerak lebih cepat ke depan. Proyeksi ini memberikan sinyal positif bagi pelaku pasar, sebab pertumbuhan ekonomi yang terjaga akan meningkatkan optimisme terhadap kinerja korporasi, stabilitas fiskal, serta kemampuan negara dalam menjaga stabilitas makroekonomi. Dalam situasi global yang penuh tantangan, narasi optimistis yang berbasis kebijakan dan indikator nyata menjadi penyangga psikologis yang penting bagi pasar keuangan domestik.

    Selain itu, optimisme terhadap arus investasi masuk juga didorong oleh indikator pasar modal. Kinerja indeks harga saham gabungan (IHSG) menjadi salah satu cerminan kepercayaan investor terhadap fondasi ekonomi nasional. Penguatan pasar modal kerap dipandang sebagai sinyal bahwa pelaku pasar melihat peluang pertumbuhan di masa depan. Ketika IHSG bergerak positif, Indonesia menjadi lebih menarik bagi investor global, baik dalam bentuk investasi portofolio maupun investasi langsung atau foreign direct investment (FDI), yang pada akhirnya memperkuat ketahanan ekonomi jangka panjang.

    Dengan langkah-langkah yang sudah ditempuh Bank Indonesia melalui smart intervention, ditambah koordinasi yang erat dengan pemerintah, rupiah dinilai memiliki ruang untuk menguat kembali seiring meredanya tekanan pasar. Situasi ini menunjukkan bahwa negara hadir melalui kebijakan yang terukur dan komunikasi yang menenangkan. Masyarakat dan pelaku usaha pun diharapkan tetap tenang, tidak terjebak spekulasi, dan tetap fokus pada aktivitas produktif yang mendukung perekonomian nasional. Dalam iklim yang terjaga stabil, kepercayaan akan tumbuh, investasi akan mengalir, dan rupiah akan kembali menemukan momentum penguatan yang lebih sehat.

    )* Penulis adalah Mahasiswa Bogor tinggal di Jakarta

  • Tekanan Global Meningkat, Rupiah Tetap Terkendali

    Jakarta – Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, meminta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik menyikapi pergerakan nilai tukar rupiah yang belakangan mendekati level Rp17.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

    Menurutnya, pelemahan tersebut lebih dipengaruhi oleh dinamika global, sementara fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat dan terjaga.

    Purbaya menegaskan bahwa nilai tukar rupiah pada dasarnya akan kembali mencerminkan kondisi fundamental ekonomi nasional.

    “Rupiah kan akan tergantung pada fundamental ekonominya,” kata Purbaya.

    Ia meyakini bahwa seiring membaiknya persepsi investor dan meningkatnya kepercayaan pasar, rupiah akan kembali menguat dalam waktu yang tidak terlalu lama.

    Optimisme tersebut, lanjut Purbaya, ditopang oleh prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia yang dinilai semakin solid. Pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi ke depan diyakini akan mendorong masuknya aliran modal asing ke dalam negeri.

    Hal ini tercermin dari pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang telah menembus level tertinggi sepanjang sejarah.

    “Kalau indeks naik ke situ pasti ada flow asing masuk ke situ juga, kan? Nggak mungkin termasuk sendiri yang bisa mendorong itu ke level yang seperti itu,” jelasnya.

    Purbaya menilai kondisi tersebut bersifat sementara dan akan diprediksi akan kembali menguat.

    “Jadi tinggal tunggu waktu aja rupiahnya menguat juga. Karena suplai dolar akan bertambah,” ujarnya.

    Dari sisi fundamental, pemerintah tetap optimistis terhadap kinerja ekonomi nasional. Pada 2026, Purbaya menargetkan pertumbuhan yang lebih tinggi, yakni mencapai 6%.

    Sejumlah kebijakan pendukung telah disiapkan, mulai dari pelonggaran likuiditas, perbaikan iklim investasi, hingga penguatan kolaborasi antara kebijakan fiskal dan moneter.

    “Nanti kalau begitu insaf juga langsung menguat lagi rupiah karena pondasi ekonominya kita akan jaga supaya semakin membaik ke depan pertumbuhan ekonomi akan semakin cepat Semakin cepat, semakin cepat.” Ujar Menkeu.

    Sementara itu, pemerintah dan Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi dalam menjaga stabilitas ekonomi.

    Dalam pertemuan di Istana Negara, Rabu (21/1/2026), Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi mengundang Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa dan Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo untuk membahas fluktuasi nilai tukar rupiah dan perkembangan ekonomi nasional.

    Pertemuan tersebut juga dihadiri sejumlah anggota DPR sebagai bagian dari konsolidasi antarlembaga.

    Gubernur BI, Perry Warjiyo menjelaskan bahwa tekanan terhadap rupiah dipicu oleh kombinasi faktor global dan domestik, termasuk ketidakpastian pasar keuangan internasional, ketegangan geopolitik, kebijakan tarif Presiden AS Donald Trump, serta tingginya imbal hasil US Treasury.

    Namun demikian, dengan fundamental ekonomi yang kuat, koordinasi kebijakan yang erat, serta kepercayaan investor yang terus terjaga, pemerintah optimistis rupiah tetap berada dalam kondisi terkendali di tengah tekanan global yang meningkat.

    [w.R]

  • Nilai Tukar Rupiah Terkendali, Pemerintah Pastikan Ekonomi Tetap Aman

    Jakarta, Pemerintah memastikan stabilitas ekonomi nasional tetap terjaga di tengah dinamika global, salah satunya melalui pengendalian nilai tukar rupiah yang dilakukan secara terukur dan berkelanjutan. Di tengah tekanan eksternal seperti ketidakpastian geopolitik, fluktuasi harga komoditas, serta kebijakan moneter ketat di negara maju, nilai tukar rupiah dinilai masih berada dalam koridor yang aman dan mencerminkan fundamental ekonomi yang kuat.

    Stabilitas nilai tukar menjadi salah satu indikator penting dalam menjaga kepercayaan pasar dan pelaku usaha. Pemerintah bersama Bank Indonesia terus memperkuat koordinasi kebijakan fiskal dan moneter guna memastikan volatilitas nilai tukar dapat dikelola dengan baik. Langkah-langkah stabilisasi dilakukan tidak hanya melalui intervensi pasar valuta asing, tetapi juga melalui penguatan cadangan devisa dan pengelolaan arus modal yang lebih adaptif terhadap dinamika global.

    Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun mengatakan Pertumbuhan ekonomi berada pada tren stabil di kisaran 4,8-5 persen secara tahunan, dengan inflasi yang terkendali. Cadangan devisa Indonesia juga menunjukkan kekuatan, didukung oleh surplus transaksi berjalan dan neraca perdagangan yang positif.

    “Fundamental kita kuat. Yang terjadi adalah sentimen yang harus diperkuat kepada pasar,” ungkap Misbakhun

    Fundamental ekonomi domestik yang relatif solid turut menopang pergerakan rupiah. Pertumbuhan ekonomi yang terjaga, inflasi yang terkendali, serta kinerja ekspor yang masih positif menjadi faktor penyangga utama stabilitas nilai tukar.

    “Pemerintah terus mendorong diversifikasi pasar ekspor dan penguatan industri dalam negeri untuk mengurangi ketergantungan terhadap faktor eksternal tertentu,” imbuhnya.

    Sementara itu, Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan pemerintah berkomitmen menjaga disiplin anggaran dengan tetap mengedepankan belanja produktif. Fokus diarahkan pada program-program strategis yang memiliki dampak langsung terhadap daya beli masyarakat, penciptaan lapangan kerja, serta peningkatan kapasitas ekonomi nasional.

    “Dengan pengelolaan fiskal yang prudent dan kredibel, stabilitas makroekonomi dapat terus dijaga tanpa mengorbankan momentum pertumbuhan ekonomi,” katanya.

    Pemerintah juga menegaskan bahwa stabilitas nilai tukar bukanlah tujuan akhir, melainkan bagian dari upaya menciptakan iklim ekonomi yang aman dan kondusif. Nilai tukar yang terkendali memberikan kepastian bagi dunia usaha dalam menyusun perencanaan investasi dan produksi, sekaligus melindungi masyarakat dari lonjakan harga barang impor yang berpotensi memicu inflasi.

    Ke depan, pemerintah akan terus meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai risiko global dengan memperkuat sinergi kebijakan lintas sektor. Dengan langkah antisipatif dan komunikasi kebijakan yang jelas, pemerintah optimistis stabilitas nilai tukar dapat terus dijaga, sehingga perekonomian nasional tetap aman, resilien, dan mampu tumbuh secara berkelanjutan di tengah tantangan global yang terus berkembang.

  • Diplomasi  Presiden Prabowo di WEF Perkuat Daya Saing Indonesia

    Oleh : Aditya Akbar )*

    Presiden Prabowo Subianto melaksanakan kunjungan kerja global dengan membawa hasil konkret yang langsung menyentuh kepentingan nasional. Lawatan ke Inggris hingga ke panggung World Economic Forum (WEF) Davos tidak berhenti pada simbol diplomasi tingkat tinggi, melainkan menjelma menjadi paket lengkap antara investasi besar, peran aktif dalam perdamaian dunia, serta penegasan arah transformasi ekonomi Indonesia ke depan.

    Di London, Prabowo menutup agenda kenegaraan pada 21 Januari 2026 dengan mengamankan komitmen investasi sebesar 4 miliar pound sterling atau setara Rp90 triliun. Angka tersebut bukan sekadar headline ekonomi, melainkan fondasi baru bagi penguatan sektor maritim nasional. Investasi itu diarahkan pada pembangunan 1.582 kapal nelayan yang seluruh proses produksi dan perakitannya dilakukan di dalam negeri. Pendekatan tersebut menunjukkan keberpihakan pada industri nasional, sekaligus memastikan nilai tambah ekonomi tidak bocor ke luar.

    Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjelaskan bahwa pertemuan Presiden Prabowo dengan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer menghasilkan tiga kesepakatan utama. Selain komitmen investasi, kedua negara memperkuat kemitraan maritim dan menyepakati pembangunan kapal nelayan sebagai proyek unggulan. 

    Teddy memaparkan bahwa proyek tersebut berpotensi menyerap sekitar 600 ribu tenaga kerja, mulai dari awak kapal, pekerja galangan, hingga efek berganda di sektor pendukung. Skema tersebut memperlihatkan bahwa investasi asing diarahkan untuk menciptakan lapangan kerja luas, bukan sekadar menambah angka statistik.

    Lawatan ke Inggris juga memperluas kerja sama di bidang pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia. Presiden Prabowo bertemu dengan 24 profesor dari universitas-universitas terkemuka Inggris seperti Oxford, Imperial College London, dan King’s College London. 

    Teddy menuturkan bahwa Presiden mendorong pendirian sepuluh kampus baru di Indonesia, terutama di bidang kedokteran dan STEM. Kerja sama tersebut mencakup pertukaran dosen, peningkatan jumlah mahasiswa Indonesia di Inggris, serta rencana pendirian kampus universitas Inggris di Tanah Air. Arah kebijakan tersebut menegaskan bahwa investasi fisik berjalan seiring dengan investasi manusia.

    Di tengah padatnya agenda luar negeri, Prabowo tetap menjalankan kendali atas agenda strategis nasional. Teddy mengungkapkan bahwa Presiden memimpin rapat Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan melalui konferensi video, lalu mengambil keputusan tegas mencabut izin perusahaan yang terbukti melanggar. Sikap tersebut mengirimkan pesan bahwa diplomasi ekonomi berjalan beriringan dengan penegakan hukum dan tata kelola yang bersih.

    Dari London, Prabowo melanjutkan langkah ke Davos, Swiss, untuk menghadiri WEF 2026. Di forum tersebut, Presiden memaparkan peta besar transformasi ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian geopolitik global. 

    Prabowo menempatkan Indonesia sebagai calm investment bet, negara yang stabil secara politik, disiplin fiskal, dan konsisten menegakkan supremasi hukum. Pesan tersebut ditujukan untuk meyakinkan pelaku ekonomi global bahwa Indonesia layak menjadi mitra jangka panjang.

    Dalam pidato kunci di Davos, Prabowo menegaskan bahwa tidak ada kemakmuran tanpa perdamaian. Presiden menempatkan stabilitas dan persatuan sebagai prasyarat utama pertumbuhan ekonomi. 

    Rekam jejak Indonesia yang tidak pernah gagal bayar utang serta konsistensi menghormati komitmen internasional menjadi modal kredibilitas ekonomi. Pengakuan lembaga internasional seperti IMF yang menyebut Indonesia sebagai global bright spot memperkuat narasi tersebut.

    Prabowo juga memperkenalkan Danantara sebagai instrumen baru pengelolaan investasi negara. Melalui badan tersebut, Indonesia tidak lagi berdiri sebagai penerima modal pasif, melainkan sebagai mitra setara yang siap berinvestasi bersama. 

    Danantara dirancang untuk merombak tata kelola BUMN, meningkatkan efisiensi, serta menegakkan standar internasional. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa transformasi ekonomi diarahkan pada perbaikan struktural, bukan solusi jangka pendek.

    Di luar agenda ekonomi, Prabowo menegaskan peran moral Indonesia di panggung global. Pada 23 Januari 2026, Presiden menandatangani Piagam Board of Peace di Davos. Keikutsertaan tersebut menandai komitmen Indonesia dalam mengawal proses transisi dan rekonstruksi Gaza pascakonflik. 

    Prabowo memosisikan Indonesia sebagai penjaga agar proses tersebut tetap mengarah pada solusi dua negara dan menghormati hak rakyat Palestina. Diplomasi tersebut melanjutkan peran aktif Indonesia dalam upaya perdamaian Timur Tengah yang telah dijalankan pada tahun sebelumnya.

    Keseluruhan rangkaian kunker global tersebut membentuk satu benang merah yang jelas. Prabowo memadukan diplomasi ekonomi, penegakan hukum, pembangunan manusia, dan peran kemanusiaan dalam satu strategi besar. Inggris dan Davos menjadi etalase yang memperlihatkan wajah baru Indonesia: negara yang percaya diri, stabil, dan berani menegaskan kepentingannya di tengah dinamika global.

    Hasil yang dibawa pulang dari kunker global tersebut menegaskan bahwa diplomasi tidak berhenti pada seremoni. Investasi Rp90 triliun, ratusan ribu lapangan kerja, komitmen perdamaian, serta peta transformasi ekonomi menjadi bukti bahwa Indonesia bergerak dengan arah yang terukur. 

    Di bawah kepemimpinan Prabowo, panggung global dimanfaatkan bukan hanya untuk berbicara, tetapi untuk memastikan masa depan ekonomi dan peran Indonesia di dunia berjalan seiring. 

    Setiap pertemuan diarahkan pada hasil yang terukur, setiap forum dimanfaatkan untuk menegaskan posisi tawar, dan setiap kesepakatan dirancang agar berdampak langsung bagi kepentingan nasional. 

    Pendekatan tersebut menandai pergeseran diplomasi Indonesia dari sekadar partisipasi simbolik menuju kepemimpinan yang aktif, pragmatis, dan berorientasi hasil, sekaligus menempatkan Indonesia sebagai aktor yang semakin diperhitungkan dalam percaturan global. (*)

    )* Penulis adalah kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia 

  • WEF 2026: Kepemimpinan Prabowo Tegaskan Arah Stabilitas Ekonomi Nasional

    Oleh : Astrid Widia )*

    Presiden Prabowo Subianto memanfaatkan panggung World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 di Davos untuk menunjukkan bahwa Indonesia tidak sekadar bertahan di tengah turbulensi global, tetapi mampu melangkah dengan percaya diri sebagai ekonomi yang stabil dan kredibel. 

    Kehadiran langsung Kepala Negara di forum elite dunia tersebut menjadi penanda kembalinya Indonesia ke pusat percakapan global setelah lebih dari satu dekade absen, sekaligus momentum strategis untuk menegaskan arah kebijakan ekonomi nasional di tengah perang, ketegangan geopolitik, dan rapuhnya kepercayaan antarnegara.

    Dalam pidato kunci pada 22 Januari 2026, Prabowo menyampaikan gambaran menyeluruh tentang ketahanan ekonomi Indonesia melalui konsep yang disebutnya sebagai Prabowonomics. 

    Presiden menegaskan bahwa stabilitas makroekonomi Indonesia terjaga dengan inflasi di kisaran dua persen dan defisit anggaran konsisten berada di bawah tiga persen dari produk domestik bruto. 

    Kondisi tersebut memperlihatkan disiplin fiskal yang tidak lahir secara kebetulan, melainkan hasil dari pilihan kebijakan jangka panjang yang menempatkan stabilitas sebagai fondasi pertumbuhan.

    Prabowo juga mengaitkan capaian tersebut dengan pengakuan lembaga internasional. Dana Moneter Internasional menempatkan Indonesia sebagai salah satu titik terang ekonomi global di tengah pengetatan finansial dan ketidakpastian eksternal. 

    Presiden menegaskan bahwa kepercayaan tersebut dibangun dari rekam jejak panjang Indonesia yang tidak pernah gagal memenuhi kewajiban utangnya. Konsistensi antarrezim dalam menghormati komitmen finansial internasional dinilai menjadi modal utama dalam menjaga kredibilitas ekonomi nasional.

    Di hadapan para pemimpin negara dan eksekutif perusahaan global, Prabowo memaparkan peta jalan transformasi ekonomi yang berangkat dari pembangunan manusia. Presiden memandang kemakmuran jangka panjang tidak hanya ditentukan oleh angka pertumbuhan, tetapi oleh kualitas sumber daya manusia. Keyakinan tersebut tercermin dalam kebijakan investasi besar pada pendidikan, kesehatan, dan gizi masyarakat sebagai basis produktivitas nasional.

    Salah satu instrumen penting dalam strategi tersebut adalah kehadiran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara atau Danantara. Prabowo menjelaskan bahwa sovereign wealth fund tersebut dirancang sebagai alat untuk mengubah posisi Indonesia dari penerima modal pasif menjadi mitra investasi yang setara. 

    Dengan Danantara, Indonesia membuka ruang pembiayaan bersama, mendorong industrialisasi, serta melakukan pembenahan badan usaha milik negara agar dikelola dengan standar internasional dan tata kelola yang kuat.

    Presiden menekankan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak dapat dilepaskan dari pemerintahan yang bersih dan penegakan hukum yang tegas. Reformasi birokrasi, penyederhanaan regulasi, dan pemberantasan praktik ekonomi serakah menjadi pesan yang disampaikan secara terbuka. 

    Prabowo menilai tidak ada investor serius yang bersedia menanamkan modal di negara dengan kepastian hukum yang rapuh. Oleh karena itu, pemerintahannya memilih untuk menghentikan program tidak efisien dan mengalihkan anggaran pada sektor yang langsung menyentuh kepentingan publik.

    Dalam konteks ketahanan pangan, Prabowo memaparkan capaian strategis berupa percepatan swasembada beras yang berhasil dicapai jauh lebih cepat dari target awal. Presiden optimistis swasembada komoditas pangan lain dapat diraih dalam beberapa tahun mendatang. Keyakinan tersebut menjadi bagian dari narasi bahwa ketahanan ekonomi nasional juga bertumpu pada kemampuan memenuhi kebutuhan dasar secara mandiri.

    Pidato Prabowo di Davos tidak berhenti pada urusan domestik. Presiden menegaskan bahwa perdamaian dan stabilitas global merupakan prasyarat mutlak bagi pertumbuhan ekonomi berkelanjutan. 

    Dalam kerangka tersebut, Prabowo menandatangani Board of Peace Charter sebagai wujud peran aktif Indonesia dalam mendorong perdamaian Gaza dan solusi dua negara. Langkah tersebut menempatkan Indonesia sebagai aktor yang menggabungkan kepentingan ekonomi dengan tanggung jawab moral di tingkat global.

    Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjelaskan bahwa kehadiran Presiden di WEF 2026 diarahkan untuk memaparkan gagasan ekonomi yang telah dirancang dan dijalankan secara konsisten. 

    Konsep Prabowonomics disebut sebagai refleksi dari kebijakan yang berbasis hasil, bukan sekadar wacana. Forum tersebut dimanfaatkan untuk menunjukkan bukti konkret capaian pemerintahan dalam waktu relatif singkat.

    Dari perspektif investasi, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menilai partisipasi Indonesia di WEF 2026 bertujuan memperkuat citra dan daya saing nasional, terutama di sektor padat karya, industri hijau, dan pangan. Kehadiran Presiden sebagai tokoh kunci dinilai mampu menyampaikan pesan Indonesia secara solid dan terkoordinasi kepada komunitas global.

    Di tengah gejolak dunia, Prabowo menggunakan Davos sebagai panggung untuk menegaskan bahwa Indonesia memilih stabilitas, kolaborasi, dan keterbukaan sebagai fondasi kebijakan luar negeri dan ekonomi nasional. 

    Pendekatan tersebut memperlihatkan sikap Indonesia yang tidak reaktif terhadap krisis global, tetapi proaktif dalam membaca arah perubahan dan menempatkan kepentingan nasional secara rasional di tengah kompetisi internasional. 

    Pesan tersebut menempatkan Indonesia bukan hanya sebagai negara yang mampu bertahan dari tekanan eksternal, tetapi sebagai mitra yang siap tumbuh bersama, menawarkan kepastian, peluang, dan keandalan bagi komunitas global. 

    WEF 2026 pun menjadi etalase bahwa ketahanan ekonomi nasional bukan retorika, melainkan hasil dari disiplin fiskal, reformasi tata kelola, serta visi jangka panjang yang dijalankan secara konsisten dan terukur. (*)

    )* Penulis adalah kontributor Jeka Media Institute 

  • Dari Inggris ke Davos, Presiden Prabowo Bawa Pulang Investasi dan Penguatan Posisi Indonesia

    Oleh : Usman Maulana )*

    Presiden Prabowo Subianto melaksanakan kunjungan kerja globalnya dengan membawa pulang hasil konkret yang langsung menggeser posisi Indonesia dalam percaturan dunia. Lawatan ke Inggris dan kehadiran di World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos tidak berhenti pada simbol diplomasi tingkat tinggi, melainkan berbuah kesepakatan, komitmen investasi, serta pesan strategis yang memperlihatkan Indonesia sebagai kekuatan baru yang semakin diperhitungkan. Inggris–Davos menjelma etalase yang menampilkan wajah Indonesia yang lebih percaya diri, tegas, dan berorientasi hasil.

    Di London, Presiden Prabowo mengamankan komitmen investasi senilai 4 miliar pound sterling atau sekitar Rp90 triliun setelah bertemu Perdana Menteri Inggris Keir Starmer. Kesepakatan tersebut tidak berdiri di ruang abstrak, melainkan diarahkan pada sektor maritim yang menyentuh langsung kepentingan nasional. 

    Program pembangunan 1.582 kapal nelayan menjadi simbol nyata dari kerja sama yang tidak hanya berbicara angka, tetapi juga lapangan kerja, industrialisasi, dan penguatan ekonomi pesisir. Proyek tersebut diproyeksikan menyerap ratusan ribu tenaga kerja karena seluruh proses produksi dan perakitan berlangsung di dalam negeri, memperkuat basis industri nasional.

    Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menilai seluruh agenda kunjungan Presiden Prabowo dirancang dengan satu benang merah yang jelas, yakni setiap perjalanan luar negeri harus menghasilkan manfaat langsung bagi Indonesia. 

    Teddy memaparkan bahwa selain sektor maritim, kerja sama pendidikan tinggi juga mendapat perhatian serius. Presiden Prabowo bertemu dengan para profesor dari puluhan universitas ternama Inggris untuk membahas pendirian kampus dan kolaborasi akademik di Indonesia, terutama di bidang kedokteran dan STEM. Langkah tersebut menegaskan bahwa investasi sumber daya manusia ditempatkan sejajar dengan pembangunan fisik dan industri.

    Pertemuan dengan Raja Charles III memperluas spektrum diplomasi Indonesia ke isu lingkungan dan konservasi. Presiden Prabowo membawa agenda pelestarian alam dan konservasi gajah ke meja diskusi bersama tokoh filantropi dunia, memperlihatkan bahwa pembangunan ekonomi tidak dilepaskan dari tanggung jawab ekologis. Diplomasi lingkungan tersebut memperkuat citra Indonesia sebagai negara yang tidak memisahkan pertumbuhan dari keberlanjutan.

    Dari London, Prabowo melangkah ke Davos dengan membawa narasi yang lebih besar. Di hadapan para pemimpin dunia dan CEO global, Presiden memperkenalkan Prabowonomics sebagai peta jalan transformasi ekonomi Indonesia. 

    Konsep tersebut menekankan kemandirian pangan dan energi, stabilitas makro, serta keberanian melakukan reformasi di tengah tekanan geopolitik global. Prabowo menempatkan Indonesia bukan sebagai korban ketidakpastian dunia, melainkan sebagai negara yang mampu mengelola risiko dan mengubahnya menjadi peluang.

    Salah satu pesan paling tegas yang disampaikan Presiden di Davos berkaitan dengan supremasi hukum. Prabowo menegaskan bahwa tidak ada iklim investasi tanpa kepastian dan keadilan hukum. 

    Presiden menyatakan bahwa investor rasional tidak akan menanamkan modal di negara yang mengabaikan penegakan hukum. Komitmen tersebut tidak berhenti pada retorika. Prabowo memaparkan langkah konkret pemerintah dalam menghadapi korupsi dan praktik ekonomi ilegal, termasuk penyitaan jutaan hektare perkebunan dan tambang ilegal sejak awal pemerintahannya. Presiden memosisikan penegakan hukum sebagai fondasi keadilan sosial sekaligus prasyarat pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

    Di Davos pula, Indonesia memamerkan etalase kekuatan ekonomi baru melalui Paviliun Indonesia bertema Indonesia Endless Horizons. Presiden memperkenalkan Danantara sebagai badan pengelola investasi yang dirancang untuk menarik minat investor global secara terstruktur. Kehadiran Danantara memperlihatkan keseriusan pemerintah membangun instrumen kelembagaan yang mampu menjembatani modal global dengan agenda pembangunan nasional.

    Perdana Menteri Keir Starmer menyambut kerja sama maritim dengan Indonesia sebagai kemitraan strategis yang saling menguntungkan. Starmer menilai program tersebut penting bagi Inggris karena membuka lapangan kerja baru, sekaligus memperkuat hubungan bilateral dengan Indonesia. 

    Bagi Indonesia, kemitraan itu membuka ruang revitalisasi industri galangan kapal, penguatan pertahanan maritim, dan pemberdayaan komunitas nelayan. Apresiasi tersebut menegaskan bahwa Indonesia hadir di panggung global sebagai mitra setara, bukan sekadar pasar.

    Rangkaian capaian dari Inggris hingga Davos memperlihatkan satu pola yang konsisten. Presiden Prabowo menggabungkan diplomasi ekonomi, supremasi hukum, pembangunan manusia, dan kepemimpinan lingkungan dalam satu narasi besar yang saling terhubung. 

    Pendekatan tersebut menempatkan kebijakan luar negeri bukan sekadar alat hubungan internasional, tetapi sebagai perpanjangan langsung dari agenda pembangunan nasional. Melalui pola tersebut, Indonesia tampil sebagai negara yang tidak terjebak pada retorika global, melainkan hadir dengan strategi utuh yang menjawab tantangan investasi, keadilan sosial, dan keberlanjutan secara bersamaan.

    Lawatan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya aktif berbicara di forum dunia, tetapi juga mampu membawa pulang hasil yang terukur dan berdampak langsung bagi kepentingan nasional. 

    Dari komitmen investasi, penciptaan lapangan kerja, hingga penguatan posisi tawar di hadapan investor global, seluruh agenda disusun untuk menghasilkan manfaat nyata, bukan sekadar pencitraan diplomatik. 

    Inggris–Davos menjadi etalase yang menampilkan kekuatan baru Indonesia, sebuah negara yang semakin matang dalam membaca peluang global, konsisten menautkan diplomasi dengan agenda domestik, serta berani menegaskan kepentingannya sendiri dengan percaya diri dan perhitungan strategis. (*)

    )* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute 

  • WEF Davos: Prabowo Tegaskan Perdamaian dan Stabilitas sebagai Aset Utama Pertumbuhan Global

    Oleh : Diana Triasunu *)

    Presiden Prabowo Subianto tampil lugas di panggung World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 di Davos dengan membawa satu pesan sentral: perdamaian dan stabilitas merupakan fondasi paling bernilai bagi pertumbuhan ekonomi global. 

    Di tengah dunia yang dilanda ketegangan geopolitik, fragmentasi ekonomi, dan ketidakpastian kebijakan, Presiden menempatkan isu tersebut bukan sebagai wacana normatif, melainkan sebagai prasyarat struktural bagi kemakmuran bersama.

    Forum internasional tersebut dimanfaatkan Prabowo untuk menegaskan bahwa dunia tengah memasuki fase yang rapuh. Konflik bersenjata, perang dagang, serta tekanan keuangan global menciptakan risiko sistemik yang menghambat pertumbuhan. 

    Dalam konteks tersebut, Presiden menegaskan bahwa sejarah dunia secara konsisten menunjukkan satu pola, yakni kemakmuran tidak pernah tumbuh di atas ketidakstabilan. Perdamaian dan stabilitas berperan sebagai aset paling berharga bagi peradaban modern karena keduanya memungkinkan investasi, perdagangan, dan pembangunan manusia berjalan berkelanjutan.

    Prabowo kemudian mengaitkan pesan global tersebut dengan pengalaman Indonesia. Presiden menegaskan bahwa stabilitas nasional bukan hasil kebetulan, melainkan buah dari pilihan kebijakan yang mengedepankan persatuan, kolaborasi, dan hubungan persahabatan dengan berbagai pihak. 

    Pendekatan tersebut menjaga Indonesia tetap berada di jalur moderat di tengah dinamika global yang kian terpolarisasi. Sikap tersebut sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra yang rasional dan dapat diprediksi.

    Dalam pidato kunci tersebut, Presiden juga memaparkan ketangguhan ekonomi nasional sebagai bukti konkret bahwa stabilitas menghasilkan daya tahan. Indonesia mampu menjaga inflasi di kisaran dua persen dan defisit anggaran tetap berada di bawah tiga persen dari produk domestik bruto. 

    Capaian tersebut disampaikan sebagai hasil disiplin fiskal yang konsisten, bukan sebagai retorika optimisme. Pengakuan lembaga internasional yang menempatkan Indonesia sebagai titik terang pertumbuhan global dijadikan Presiden sebagai refleksi atas kebijakan yang terkalibrasi dengan baik.

    Kredibilitas ekonomi menjadi penekanan berikutnya. Prabowo menegaskan bahwa kepercayaan global hanya dapat dibangun melalui rekam jejak yang terjaga lintas pemerintahan. 

    Indonesia, menurut Presiden, selalu menghormati kewajiban keuangan negara tanpa memandang pergantian rezim. Konsistensi tersebut memperkuat reputasi Indonesia di mata investor dan mitra internasional, terutama saat banyak negara menghadapi tekanan utang dan volatilitas pasar.

    Presiden juga menegaskan arah politik luar negeri Indonesia yang berlandaskan prinsip seribu teman terlalu sedikit dan satu musuh terlalu banyak. Filosofi tersebut diposisikan sebagai strategi aktif untuk menjaga perdamaian dan memperluas ruang dialog. 

    Indonesia memilih menjadi warga dunia yang bertanggung jawab, termasuk dalam isu perlindungan lingkungan dan keberlanjutan. Pendekatan tersebut menempatkan diplomasi sebagai instrumen ekonomi sekaligus penjaga stabilitas global.

    Di sisi domestik, Prabowo mengaitkan stabilitas global dengan agenda kesejahteraan rakyat. Presiden menegaskan bahwa kepemimpinan bertujuan menghadirkan perubahan nyata bagi kelompok paling rentan. 

    Pemerintah memusatkan perhatian pada pemberantasan korupsi, perbaikan tata kelola, dan penghapusan penyalahgunaan kekuasaan sebagai prasyarat keadilan sosial. Stabilitas politik, menurut Presiden, kehilangan makna apabila tidak diterjemahkan menjadi peningkatan kualitas hidup masyarakat.

    Capaian di sektor ketahanan pangan turut dipaparkan sebagai contoh konkret. Target swasembada beras yang semula dirancang untuk empat tahun berhasil dicapai dalam waktu satu tahun. 

    Presiden menyampaikan optimisme bahwa kemandirian pangan lain, termasuk jagung, gula, dan protein, dapat diwujudkan melalui disiplin kebijakan dan konsistensi kepemimpinan. Keberhasilan tersebut diposisikan sebagai bagian dari strategi menjaga stabilitas nasional di tengah gejolak global.

    Prabowo juga menegaskan sikap terbuka terhadap integrasi ekonomi global. Perdagangan internasional dan kemitraan ekonomi dipandang sebagai sarana saling menguntungkan, bukan ancaman kedaulatan. 

    Presiden menekankan bahwa Indonesia merupakan bangsa perdagangan sejak berabad-abad lalu dan terus memperluas perjanjian ekonomi atas dasar kebutuhan strategis. Visi tersebut diarahkan untuk membangun negara modern yang terintegrasi dengan ekonomi global sekaligus bebas dari kemiskinan.

    Reformasi birokrasi, penyederhanaan regulasi, serta investasi pada pendidikan dan kesehatan disebut sebagai prioritas pemerintahan. Presiden menegaskan bahwa administrasi publik harus melayani kepentingan umum dan tidak tunduk pada kepentingan ekonomi yang serakah. Kepastian hukum dan pemerintahan yang bersih diposisikan sebagai prasyarat utama bagi iklim investasi yang sehat.

    Menjelang penutupan pidato, Prabowo memperkenalkan arah pemikiran ekonomi yang disebut Prabowonomics. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa konsep tersebut menekankan stabilitas fiskal serta kemandirian pangan dan energi agar ekonomi nasional bergerak optimal. 

    Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menambahkan bahwa gagasan tersebut berangkat dari pemikiran yang telah dirancang dan diterapkan, disertai hasil konkret selama satu tahun kepemimpinan.

    Melalui WEF 2026, Prabowo menegaskan bahwa Indonesia memilih perdamaian, stabilitas, dan dialog sebagai kompas pembangunan yang dijalankan secara konsisten, baik di dalam negeri maupun dalam relasi internasional. 

    Sikap tersebut mencerminkan keyakinan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak dapat dipisahkan dari kepastian politik dan kepercayaan global. Pesan tersebut menempatkan Indonesia bukan sekadar sebagai negara yang mampu bertahan menghadapi guncangan dunia, tetapi sebagai mitra global yang siap tumbuh bersama, menawarkan solusi, menjaga keseimbangan kepentingan, serta berkontribusi aktif dalam membentuk tatanan ekonomi internasional yang lebih inklusif dan berkelanjungan dalam lanskap dunia yang semakin menuntut kepemimpinan berimbang dan visioner. (*)

    *) pemerhati hubungan internasional

  • Prabowo Soroti Pembangunan Manusia dan Pertumbuhan Ekonomi Inklusif di WEF 2026

    Oleh: Swari Kasetyaningtyas *)

    Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto membawa pesan tegas ke panggung World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos dengan menempatkan pembangunan manusia sebagai fondasi utama pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan. 

    Di tengah ketidakpastian global yang dipenuhi tekanan geopolitik, disrupsi teknologi, dan perlambatan ekonomi, Prabowo memosisikan Indonesia sebagai negara yang memilih jalan investasi jangka panjang pada kualitas manusia, stabilitas, serta tata kelola yang kredibel.

    Dalam pidato kunci pada forum tersebut, Prabowo menegaskan bahwa kemajuan ekonomi tidak dapat dipisahkan dari peningkatan kapasitas manusia. Ia menempatkan pendidikan, kesehatan, dan perlindungan kelompok rentan sebagai inti strategi pembangunan. 

    Pendekatan tersebut memperlihatkan pergeseran narasi dari sekadar mengejar angka pertumbuhan menuju upaya memastikan manfaat ekonomi dirasakan secara lebih merata oleh seluruh lapisan masyarakat.

    Prabowo memaparkan komitmen pemerintah untuk memutus rantai kemiskinan struktural melalui akses pendidikan yang setara. Salah satu langkah konkret yang disoroti adalah rencana pembangunan 160 sekolah berasrama bagi anak-anak dari keluarga termiskin. 

    Program tersebut dirancang untuk menciptakan mobilitas sosial nyata, bukan hanya memperbaiki statistik, tetapi membuka peluang masa depan bagi generasi yang selama ini tertinggal. Pembangunan manusia, dalam pandangan Prabowo, merupakan investasi paling strategis untuk menjaga daya saing bangsa dalam jangka panjang.

    Kerangka besar kebijakan ekonomi yang disebut Prabowonomics menjadi benang merah pidato tersebut. Prabowo memperkenalkan pendekatan ekonomi yang menekankan kemandirian nasional sekaligus keterbukaan terhadap kerja sama global. 

    Pertumbuhan inklusif menjadi tujuan utama, di mana negara tidak hanya menciptakan kekayaan, tetapi memastikan distribusinya mendukung kohesi sosial dan stabilitas politik. Pendekatan tersebut menempatkan negara sebagai fasilitator yang aktif, bukan sekadar penonton dinamika pasar.

    Capaian konkret selama satu tahun pemerintahan turut disampaikan untuk memperkuat kredibilitas narasi tersebut. Program Makan Bergizi Gratis dipaparkan sebagai contoh investasi langsung pada kualitas sumber daya manusia. 

    Program itu telah menjangkau hampir 60 juta penerima dan ditargetkan meningkat menjadi lebih dari 80 juta penerima per hari. Prabowo memosisikan kebijakan tersebut bukan sebagai beban fiskal, melainkan sebagai fondasi kesehatan dan produktivitas generasi masa depan yang akan menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

    Dalam konteks transformasi ekonomi, Prabowo menyoroti peran Danantara sebagai instrumen strategis negara. Melalui Danantara, pemerintah merasionalisasi lebih dari seribu badan usaha milik negara untuk meningkatkan efisiensi dan mempercepat pembiayaan industri masa depan. 

    Pendekatan tersebut mencerminkan upaya menghubungkan reformasi struktural dengan agenda pembangunan manusia, di mana efisiensi ekonomi diarahkan untuk mendukung penciptaan lapangan kerja dan peningkatan nilai tambah domestik.

    Stabilitas makroekonomi dan perdamaian tetap menjadi prasyarat utama dalam kerangka besar tersebut. Prabowo menegaskan bahwa pembangunan manusia dan pertumbuhan inklusif hanya dapat berlangsung dalam iklim politik yang stabil serta kepastian hukum yang kuat. 

    Ia memaparkan indikator ekonomi Indonesia yang relatif solid, dengan inflasi terjaga dan defisit fiskal terkendali, sebagai bukti bahwa kebijakan ekonomi dijalankan secara terukur dan bertanggung jawab.

    Pengakuan internasional terhadap kinerja ekonomi Indonesia juga dikontekstualisasikan sebagai hasil dari disiplin kebijakan, bukan optimisme tanpa dasar. Prabowo menekankan pentingnya kredibilitas fiskal, termasuk rekam jejak Indonesia yang selalu memenuhi kewajiban keuangan lintas pemerintahan. Kredibilitas tersebut, menurutnya, menjadi modal penting untuk menarik investasi yang berkualitas dan berorientasi jangka panjang.

    Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjelaskan bahwa Prabowo memanfaatkan forum Davos untuk memaparkan gagasan ekonomi yang telah dipikirkan dan diterapkan, baik sebelum maupun selama masa kepemimpinannya. 

    Ia menegaskan bahwa Prabowonomics tidak berhenti pada konsep, tetapi ditopang hasil nyata yang dapat diukur dalam waktu relatif singkat. Paparan tersebut dirancang untuk menunjukkan kesinambungan antara visi, kebijakan, dan implementasi.

    Sementara itu, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menekankan bahwa kehadiran Indonesia di WEF 2026 bertujuan memperkuat citra dan daya saing investasi, khususnya di sektor padat karya, industri hijau, dan pangan. 

    Ia memposisikan Prabowo sebagai tokoh kunci yang membawa pesan bahwa Indonesia menawarkan stabilitas, pasar besar, serta komitmen serius terhadap pembangunan manusia sebagai basis pertumbuhan ekonomi.

    Kembalinya Presiden Indonesia ke panggung WEF setelah lebih dari satu dekade memiliki makna simbolik sekaligus strategis. Di bawah kepemimpinan Prabowo, Davos dimanfaatkan bukan sekadar sebagai forum diplomasi, tetapi sebagai arena untuk menegaskan arah pembangunan nasional. 

    Pembangunan manusia dan pertumbuhan ekonomi inklusif tampil sebagai dua sisi yang saling menguatkan, membentuk fondasi bagi Indonesia untuk tumbuh berkelanjutan dan berperan lebih aktif dalam lanskap ekonomi global yang semakin kompetitif. 

    Pendekatan tersebut menempatkan kualitas sumber daya manusia sebagai penggerak utama produktivitas, inovasi, dan ketahanan ekonomi nasional, sekaligus memastikan bahwa ekspansi ekonomi tidak terpusat pada segelintir sektor atau kelompok. 

    Dengan kerangka itu, Indonesia diarahkan untuk naik kelas dari sekadar pasar dan basis produksi, menjadi mitra strategis yang mampu menawarkan stabilitas, nilai tambah, serta kepemimpinan yang relevan di tengah perubahan tatanan ekonomi dunia. (*)

    *) pemerhati ekonomi 

  • Pidato di WEF, Kepemimpinan Presiden Prabowo Semakin Tingkatkan Eksistensi Indonesia

    Davos, Swiss – Kehadiran Presiden Prabowo Subianto di World Economic Forum (WEF) Davos 2026 menandai kembalinya Indonesia ke panggung dialog ekonomi global setelah hampir satu dekade. Momentum ini menegaskan arah baru kepemimpinan Indonesia yang semakin aktif, percaya diri, dan berpengaruh dalam percaturan dunia.

    Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa kehadiran Presiden Prabowo di WEF bukan sekadar simbolik, melainkan membawa agenda strategis nasional.

    “Kehadiran Presiden Prabowo di WEF Davos menandai kembalinya Indonesia ke panggung dialog ekonomi global setelah sekitar satu dekade absen,” ujar Teddy.

    Dalam pidatonya di hadapan ribuan pemimpin dunia dan CEO global, Presiden Prabowo menegaskan fondasi kuat ekonomi Indonesia, khususnya terkait kredibilitas fiskal dan stabilitas keuangan negara.

    “Dalam sejarah kita, Indonesia tidak pernah sekali pun gagal membayar utang kita. Tidak sekali pun,” tegas Presiden Prabowo.

    Komitmen tersebut diperkuat dengan penegasan bahwa Indonesia menjamin kepastian hukum bagi investor dan berani mengambil langkah tegas terhadap pelanggaran.

    “Indonesia adalah negara yang menjamin kepastian hukum bagi para investor,” kata Presiden Prabowo.

    Agenda diplomasi Presiden Prabowo juga menghasilkan capaian konkret. Lawatan ke Inggris membuahkan komitmen investasi senilai 4 miliar pound sterling atau sekitar Rp90 triliun, termasuk kerja sama maritim dan pembangunan 1.582 kapal nelayan yang diproduksi di dalam negeri.

    “Yang menarik, kapal-kapal ini nanti akan diproduksi dan dirakit di Indonesia, dan diperkirakan akan memperkerjakan sekitar 600 ribu orang,” ungkap Seskab Teddy Indra Wijaya.

    Selain sektor maritim, Presiden Prabowo juga mendorong penguatan sumber daya manusia melalui kerja sama pendidikan dengan Inggris, khususnya di bidang kedokteran dan STEM.

    “Pengiriman mahasiswa ke luar negeri serta pembangunan universitas di Indonesia, terutama dalam bidang kedokteran dan STEM, menjadi fokus utama Presiden Prabowo,” ujar Teddy.

    Di hadapan forum global, Presiden Prabowo turut memaparkan keberhasilan program strategis nasional yang berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Cek Kesehatan Gratis (CKG).

    “Program makan bergizi gratis berhasil menciptakan ratusan ribu pekerjaan,” kata Presiden Prabowo dalam pidatonya.

    Dalam isu global, Presiden Prabowo menegaskan posisi Indonesia sebagai negara yang mengedepankan perdamaian dan stabilitas dunia.

    “Jika Anda ingin mengambil satu hal dari pidato saya hari ini, inilah pesannya: Indonesia memilih perdamaian daripada kekacauan,” tegas Presiden Prabowo.

    Sikap tersebut diperkuat dengan keterlibatan Indonesia dalam Dewan Perdamaian dan komitmen untuk mengurangi penderitaan rakyat Gaza.

    “Ini adalah peluang nyata untuk mencapai perdamaian di Gaza, agar penderitaan rakyat Gaza bisa sangat berkurang,” ujar Presiden Prabowo.

    Sejumlah pengamat menilai kepemimpinan Presiden Prabowo telah meningkatkan posisi Indonesia di mata dunia. Peneliti Indikator Politik Indonesia, Bawono Kumoro, menyebut Indonesia kini semakin disegani secara internasional.

    “Harus diakui, di era kepemimpinan Presiden Prabowo, Indonesia terlihat jauh lebih aktif berkiprah di panggung internasional sehingga semakin dihormati negara-negara lain,” ujarnya.

    Optimisme serupa datang dari kalangan diaspora. Mahasiswa Indonesia di Swiss, Alvin Wihono, menilai Presiden Prabowo memiliki visi global yang jelas.

    “Pak Prabowo adalah sosok yang memiliki mimpi besar,” kata Alvin.

    Apresiasi juga datang dari tokoh dunia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan memberikan pujian langsung terhadap sosok Presiden Prabowo.

    “Tough guy!” ujar Trump dalam salah satu pertemuan di sela WEF 2026.

    Secara keseluruhan, pidato dan rangkaian agenda Presiden Prabowo di WEF 2026 menegaskan bahwa Indonesia tidak hanya kembali hadir di panggung global, tetapi tampil sebagai negara dengan kepemimpinan kuat, agenda jelas, dan keberanian bersuara, sekaligus memperkuat eksistensi Indonesia di tengah dinamika dunia yang penuh ketidakpastian.

  • Hadiri WEF 2026, Tokoh Dunia Puji Kepemimpinan Presiden Prabowo

    Davos, Swiss — Kehadiran Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dalam World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, menegaskan posisi Indonesia sebagai kekuatan penting dalam percaturan geopolitik global. Di tengah forum bergengsi yang dihadiri para pemimpin dunia, Presiden Prabowo tampil sebagai figur negarawan yang disegani, dengan kepemimpinan yang memperoleh apresiasi langsung dari tokoh-tokoh internasional.

    Salah satu momen yang mencuri perhatian dunia terjadi saat sesi penandatanganan Piagam Perdamaian Board of Peace Charter. Presiden Prabowo menandatangani piagam tersebut berdampingan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban. Dalam suasana yang sarat simbol diplomatik, Presiden Trump tampak menepuk pundak Presiden Prabowo dan menyebutnya sebagai sosok pemimpin tangguh.

    “Two tough guys,” ujar Trump sambil tersenyum kepada Presiden Prabowo dan Viktor Orban, sebuah pernyataan yang dipandang sebagai bentuk pengakuan personal sekaligus simbol penghormatan terhadap kepemimpinan Indonesia.

    Penandatanganan piagam ini menandai dimulainya operasional Board of Peace (BoP), sebuah badan internasional baru yang bertugas mengawasi proses gencatan senjata, stabilisasi keamanan, serta rekonstruksi Gaza pascakonflik. BoP dibentuk sebagai bagian dari Comprehensive Plan to End the Gaza Conflict dan telah memperoleh legitimasi kuat melalui Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2803 Tahun 2025.

    Keterlibatan Indonesia dalam BoP dinilai sebagai langkah strategis yang mencerminkan kepemimpinan global Presiden Prabowo dalam isu perdamaian dunia. Indonesia tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi sebagai suara moral yang konsisten memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan. Presiden Prabowo menegaskan bahwa partisipasi Indonesia bertujuan menjaga agar proses transisi Gaza tetap berada dalam kerangka solusi dua negara dan selaras dengan hukum internasional.

    “Saya kira ini kesempatan bersejarah. Ini benar-benar peluang untuk mencapai perdamaian di Gaza secara adil dan berkelanjutan,” ujar Presiden Prabowo usai penandatanganan piagam.

    Kehadiran Presiden Prabowo di WEF 2026 sekaligus memperkuat citra Indonesia sebagai negara berdaulat yang aktif, berprinsip, dan berpengaruh di tingkat global. Sikap tegas namun diplomatis yang ditunjukkan Presiden Prabowo mendapat apresiasi luas, menandai babak baru kepemimpinan Indonesia yang tidak hanya fokus pada pembangunan nasional, tetapi juga berkontribusi nyata bagi perdamaian dan stabilitas dunia.

    Melalui kepemimpinan Presiden Prabowo, Indonesia kembali menegaskan jati dirinya sebagai kekuatan penyeimbang global yang dihormati, dipercaya, dan didengar oleh komunitas internasional.