Penulis: restiana818@gmail.com

  • Pemulihan Pascabencana Aceh Terus Berjalan, Warga Tegaskan Tolak Simbol Separatisisme demi Keutuhan NKRI

    Pemulihan Pascabencana Aceh Terus Berjalan, Warga Tegaskan Tolak Simbol Separatisisme demi Keutuhan NKRI

    Oleh: Silmi Mubharok*)
    Pemulihan pascabencana hidrometeorologi di Aceh terus menunjukkan kemajuan nyata. Berbagai unsur pemerintah bersama TNI, lembaga kemanusiaan, dan masyarakat bergerak serempak memulihkan lingkungan, fasilitas umum, serta kehidupan warga yang terdampak banjir dan longsor. Di tengah kerja-kerja pemulihan tersebut, masyarakat Aceh juga menegaskan komitmennya menjaga persatuan dengan menolak segala bentuk simbol dan narasi separatisisme yang berpotensi mengganggu stabilitas sosial serta keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

    Kementerian Kehutanan (Kemenhut) menjadi salah satu garda terdepan dalam percepatan pemulihan, khususnya melalui penanganan kayu sisa bencana di wilayah Sumatera. Hingga hari ke-15 pelaksanaan, fokus kegiatan diarahkan ke Kecamatan Langkahan, Kabupaten Aceh Utara. Tim terpadu Kemenhut yang melibatkan Balai Besar Taman Nasional Gunung Leuser (BBTNGL), Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA), Balai Pengelolaan Daerah Aliran Sungai (BPDAS), Balai Pemantapan Kawasan Hutan (BPKH), serta Balai Gakkum Wilayah Sumatera, bersinergi dengan unsur TNI dan Kementerian Pekerjaan Umum untuk memastikan pembersihan berjalan cepat dan efektif.

    Sebanyak 23 unit alat berat dikerahkan dalam operasi ini, terdiri dari 21 unit milik Kemenhut—meliputi ekskavator capit, ekskavator bucket, dan dozer—ditambah dua unit milik TNI serta dua unit dari Kementerian PU. Alat berat tersebut difokuskan untuk membersihkan material kayu yang menyumbat aliran sungai, saluran air, dan permukiman warga. Selain itu, satu unit alat berat juga digunakan untuk membersihkan parit dan halaman SMP Negeri 3 Langkahan, memastikan aktivitas pendidikan dapat segera kembali normal.

    Tak hanya mengandalkan alat berat, puluhan personel Kemenhut turut terjun langsung ke lapangan. Sekitar 50 personel membersihkan SD Negeri 4 Langkahan dengan hasil signifikan, mulai dari satu ruang perpustakaan, satu gudang olahraga, hingga empat kamar mandi yang sebelumnya tertimbun material sisa banjir. Langkah ini menjadi simbol kuat kehadiran negara dalam memulihkan ruang-ruang publik yang vital bagi masyarakat.

    Pemanfaatan kayu sisa bencana juga dilakukan secara terukur dan bertanggung jawab. Berdasarkan pantauan di lapangan, kerja sama antara lembaga kemanusiaan Rumah Zakat dan masyarakat setempat mampu memanfaatkan sekitar tiga meter kubik kayu hanya dalam satu hari, menggunakan tujuh unit gergaji mesin. Secara akumulatif sejak 29 Desember 2025 hingga 3 Januari 2026, pemanfaatan kayu mencapai sekitar 18,5 meter kubik. Kayu-kayu tersebut diarahkan untuk mendukung pembangunan hunian sementara (huntara), di mana hingga kini tercatat tiga unit huntara masih dalam proses pembangunan.

    Di wilayah lain, seperti Kabupaten Aceh Tamiang, upaya pemulihan juga terus berlanjut. Personel BPKH Sumatera Utara bersama tim Manggala Agni melakukan pembersihan rumah warga dari sisa material kayu di lorong-lorong permukiman. Kegiatan ini tidak hanya mempercepat pemulihan fisik, tetapi juga memulihkan rasa aman dan kenyamanan warga pascabencana. Kunjungan Koordinator BNPB Brigjen Asep ke lokasi menjadi penguat koordinasi lintas sektor, sekaligus memastikan pemanfaatan kayu sisa bencana berjalan sesuai ketentuan dan tepat sasaran.

    Di tengah proses pemulihan tersebut, muncul perhatian serius terkait isu persatuan dan stabilitas. Direktur Eksekutif Arus Survei Indonesia, Ali Rif’an, mengingatkan agar pemerintah dan masyarakat bersikap waspada terhadap praktik pengibaran bendera Gerakan Aceh Merdeka (GAM) di ruang publik. Menurutnya, simbol tersebut memiliki makna ideologis dan politis yang kuat, sehingga tidak bisa dianggap sebagai ekspresi budaya semata.

    Ali menegaskan bahwa secara historis, bendera GAM merupakan identitas gerakan separatis bersenjata yang pernah mengancam kedaulatan negara. Normalisasi terhadap simbol tersebut dinilai berisiko membuka ruang delegitimasi negara dan mengganggu harmoni sosial yang telah terbangun pascaperdamaian. Ia juga mengkritik keras upaya pihak-pihak tertentu yang mengeksploitasi situasi duka akibat bencana untuk membangun narasi ketidakadilan dan provokasi.

    Menurut Ali, pola ancaman separatisisme saat ini telah bergeser. Ancaman tidak lagi hadir dalam bentuk senjata, melainkan melalui simbol, narasi emosional, dan manipulasi opini di ruang publik maupun digital. Karena itu, negara dituntut bersikap adaptif dan kontekstual, dengan memperkuat kehadiran negara, pelayanan publik, serta komunikasi yang menenangkan masyarakat.

    Sikap tegas warga Aceh menolak simbol separatisisme menjadi cerminan kedewasaan politik dan komitmen menjaga perdamaian. Di tengah kerja keras memulihkan kehidupan pascabencana, masyarakat memilih bergandengan tangan, memperkuat solidaritas, dan menjaga Aceh tetap menjadi bagian utuh dari NKRI. Pemulihan fisik dan sosial pun berjalan beriringan, memastikan bahwa bencana tidak menjadi celah bagi perpecahan, melainkan momentum memperkokoh persatuan dan kepercayaan kepada negara.

    Sebagai penutup, keberlanjutan pemulihan pascabencana di Aceh menegaskan bahwa kehadiran negara tidak hanya diwujudkan melalui pembangunan fisik, tetapi juga melalui perlindungan persatuan dan ketenteraman sosial. Sinergi pemerintah, aparat, lembaga kemanusiaan, dan masyarakat menjadi fondasi penting untuk memastikan Aceh bangkit lebih kuat, aman, dan berdaya. Dengan menolak simbol serta narasi separatisisme, warga Aceh menunjukkan komitmen menjaga perdamaian yang telah diraih, sekaligus mengirimkan pesan tegas bahwa proses pemulihan harus berjalan dalam semangat kebersamaan demi masa depan Aceh yang stabil, sejahtera, dan tetap kokoh dalam bingkai NKRI.

    *) Pemerhati sosial

  • Fasilitas Vital di Kawasan Banjir Sumatra Mulai Pulih, Sekolah Kembali Beroperasi Awal Januari

    Fasilitas Vital di Kawasan Banjir Sumatra Mulai Pulih, Sekolah Kembali Beroperasi Awal Januari

    Oleh: Yandi Arya Adinegara)*

    Awal Januari 2026 menjadi tonggak penting dalam proses pemulihan pendidikan di wilayah Sumatra yang terdampak banjir dan longsor besar pada penghujung 2025. Di tengah duka akibat korban jiwa dan kerusakan infrastruktur yang luas, langkah cepat pemerintah memulihkan fasilitas vital, khususnya sektor pendidikan yang menunjukkan keseriusan negara dalam menjaga keberlanjutan pembangunan sumber daya manusia. Sekolah-sekolah yang kembali beroperasi bukan sekadar bangunan yang dibuka kembali, melainkan simbol bangkitnya harapan dan stabilitas sosial masyarakat terdampak.

    Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti memastikan kegiatan belajar mengajar di wilayah terdampak bencana di Sumatra Utara dapat kembali berjalan mulai 5 Januari 2026. Dari total 1.215 sekolah yang terdampak, sebanyak 1.157 sekolah atau 95,23 persen telah siap beroperasi.

    Capaian ini patut diapresiasi mengingat kompleksitas penanganan pascabencana, mulai dari pembersihan lumpur, perbaikan fasilitas dasar, hingga pemulihan psikososial warga sekolah. Pernyataan tersebut disampaikan dalam Peresmian Bantuan Revitalisasi Satuan Pendidikan di Kota Medan, yang sekaligus menandai transisi dari fase tanggap darurat menuju pemulihan awal.

    Memang masih terdapat sebagian kecil sekolah yang menjalani pembelajaran darurat. Sebanyak 19 sekolah memanfaatkan tenda sementara dan 29 sekolah masih dalam tahap pembersihan intensif. Namun, pemerintah memastikan seluruh sekolah tetap difungsikan secara adaptif agar proses belajar tidak terhenti. Kebijakan ini menegaskan bahwa hak anak untuk memperoleh pendidikan tetap dijaga, bahkan dalam kondisi krisis sekalipun. Kurikulum darurat dirancang secara fleksibel, menyesuaikan kondisi lapangan tanpa mengurangi esensi pembelajaran.

    Pendekatan adaptif tersebut tercermin dari kebijakan pembelajaran yang lebih manusiawi. Murid tidak dibebani kewajiban seragam atau perlengkapan belajar yang sulit dipenuhi pascabencana. Fokus utama diarahkan pada pemulihan semangat belajar, rasa aman, dan keterlibatan siswa. Abdul Mu’ti menegaskan bahwa yang terpenting adalah semangat untuk bangkit dan menatap masa depan, sebuah pesan yang relevan bagi daerah yang baru saja mengalami trauma kolektif.

    Secara regional, pemulihan pendidikan di Sumatra menunjukkan tren positif. Di tiga provinsi terdampak, yakni Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat terdapat sekitar 85 persen sekolah sudah dapat beroperasi kembali. Dari total 4.149 sekolah yang rusak, mayoritas telah dibersihkan dan difungsikan meski dengan keterbatasan.

    Pemerintah pusat melalui Kemendikdasmen menyiapkan 54 tenda darurat serta melakukan pembersihan di 587 sekolah. Langkah ini menegaskan bahwa negara tidak menunggu kondisi ideal untuk bertindak, melainkan bergerak paralel antara pemulihan fisik dan keberlangsungan layanan publik.

    Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama petugas gabungan TNI-Polri juga terus melakukan pemulihan infrastruktur pascabencana di Aceh, Sumatra Barat, dan Sumatra Utara sejak dihantam banjir bandang dan longsor pada November 2025. Sejumlah fasilitas publik dikebut agar bisa dimanfaatkan masyarakat terdampak bencana

    Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari menambahkan bahwa fasilitas pendidikan ditargetkan kembali berfungsi seiring dimulainya semester genap pertengahan Januari 2026. Minggu pertama bulan Januari beberapa fasilitas pendidikan yang sebelumnya mungkin terdampak lumpur dan lain-lain ini sudah bisa kembali difungsikan.

    BNPB tetap akan mendirikan tenda darurat sehingga kegiatan belajar mengajar di beberapa sekolah yang masih tergenang lumpur bisa beroperasi. Menurutnya, proses pembelajaran bisa dilakukan di tenda-tenda darurat untuk sekolah-sekolah yang belum pulih total.

    Pemulihan ini semakin kuat dengan keterlibatan dunia usaha dan BUMN. PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk mengambil langkah konkret melalui aksi pembersihan fasilitas pendidikan di Aceh Utara. Dengan mengerahkan alat berat, armada angkut, serta tenaga lapangan, BNI membantu memastikan ruang belajar dapat kembali digunakan.

    Corporate Secretary BNI Okki Rushartomo menegaskan bahwa fasilitas pendidikan menjadi prioritas utama dalam penanganan pascabencana. Sekolah memiliki peran vital dalam menjaga keberlanjutan pendidikan dan stabilitas sosial masyarakat terdampak. Sinergi lintas BUMN dalam program “Satu Hati untuk Sumatera” memperlihatkan bahwa pemulihan pascabencana adalah kerja kolektif yang terkoordinasi, bukan upaya parsial.

    Keterlibatan BUMN sekaligus mencerminkan peran strategis sektor usaha milik negara sebagai perpanjangan tangan pemerintah dalam situasi krisis. Fokus pada sekolah sebagai prioritas pemulihan menunjukkan pemahaman bahwa pendidikan memiliki efek jangka panjang bagi stabilitas sosial dan ekonomi. Anak-anak yang kembali bersekolah tidak hanya melanjutkan proses belajar, tetapi juga memulihkan rutinitas dan rasa aman setelah bencana.

    Sebelummnya Presiden Prabowo Subianto memerintahkan jajarannya juga memperhatikan sekolah-sekolah, RS, dan puskesmas-puskesmas yang rusak akibat banjir bandang dan longsor di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat harus segera diperbaiki dan dibangun kembali agar dapat berfungsi secepatnya.

    Dengan sekolah-sekolah yang kembali beroperasi sejak awal Januari 2026, pemulihan itu tidak lagi sebatas rencana. Di ruang kelas sederhana, tenda darurat, dan bangunan yang baru dibersihkan, proses belajar kembali berlangsung. Dari sanalah, pemulihan kawasan banjir Sumatra menemukan makna sejatinya: membangun kembali masa depan melalui pendidikan.

    )*Penulis Merupakan Pengamat Isu Sosial

  • Pembangunan Massal 19.188 SPPG Bukti Konkret BGN Perkuat Layanan Gizi Nasional

    Oleh: Aulia Sofyan Harahap

    Pembangunan massal 19.188 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sepanjang tahun 2025 menandai fase penting penguatan layanan gizi nasional yang digerakkan Badan Gizi Nasional (BGN). 

    Langkah tersebut tidak hanya menunjukkan kapasitas negara dalam membangun infrastruktur layanan gizi secara cepat dan terukur, tetapi juga memperlihatkan keseriusan pemerintah dalam menjadikan pemenuhan gizi sebagai fondasi pembangunan sumber daya manusia Indonesia.

    Sepanjang 2025, BGN memfokuskan kerja pada pembentukan sistem dan kesiapan operasional Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dari tahap awal yang hanya didukung 190 SPPG pada Januari 2025, jumlah unit meningkat drastis menjadi 19.188 SPPG di akhir tahun. 

    Perluasan tersebut memperlihatkan strategi pembangunan yang bersifat masif, namun tetap mengedepankan tata kelola dan keberlanjutan. Fondasi tersebut kemudian menjadi pijakan utama pengoperasian penuh SPPG mulai 8 Januari 2026.

    Dengan jumlah unit tersebut, layanan MBG diproyeksikan menjangkau sekitar 55 juta penerima manfaat pada awal 2026. Sasaran tersebut mencakup peserta didik, balita, ibu hamil, serta ibu menyusui yang selama ini menjadi kelompok prioritas intervensi gizi. 

    Dalam beberapa bulan berikutnya, jangkauan layanan bahkan diproyeksikan meningkat hingga 82,9 juta orang, sebuah angka yang merefleksikan skala program gizi terbesar dalam sejarah kebijakan sosial Indonesia.

    Peran strategis SPPG menjadi kunci dalam pencapaian tersebut. Setiap SPPG berfungsi sebagai dapur produksi sekaligus pusat distribusi makanan bergizi yang harus memenuhi standar keamanan pangan nasional. 

    Kehadiran tenaga ahli gizi serta kewajiban kepemilikan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi menunjukkan bahwa pembangunan tidak berhenti pada kuantitas, tetapi juga diarahkan pada kualitas layanan. Pendekatan tersebut penting untuk memastikan intervensi gizi berjalan aman, konsisten, dan berdampak nyata bagi kesehatan masyarakat.

    Kepala BGN, Dadan Hindayana, menegaskan bahwa seluruh capaian sepanjang 2025 merupakan hasil kerja terukur dalam membangun fondasi layanan MBG yang berkelanjutan. Menurutnya, kesiapan operasional SPPG memungkinkan program berjalan dengan cakupan luas sejak awal tahun anggaran, sekaligus membuka ruang peningkatan kualitas layanan pada 2026. Dadan juga menempatkan penguatan edukasi gizi sebagai bagian integral dari strategi jangka panjang agar masyarakat semakin memahami pentingnya pola konsumsi sehat.

    Dampak pembangunan SPPG tidak hanya terasa pada aspek kesehatan, tetapi juga ekonomi lokal. Ribuan dapur MBG menyerap tenaga kerja setempat, mulai dari juru masak hingga tenaga distribusi. 

    Pengadaan bahan baku dari petani dan pelaku usaha lokal turut menggerakkan rantai ekonomi di daerah. Dalam konteks tersebut, program gizi bertransformasi menjadi instrumen pemulihan dan penguatan ekonomi rakyat yang bersifat inklusif.

    Presiden Prabowo Subianto menempatkan MBG sebagai bagian dari strategi besar pemerintah dalam memperbaiki kualitas hidup masyarakat, mendorong kebangkitan ekonomi, serta memperluas lapangan kerja. 

    Presiden secara terbuka mengakui bahwa pelaksanaan program tersebut masih memerlukan percepatan agar menjangkau seluruh sasaran. Namun, komitmen untuk bekerja lebih cepat dan memastikan seluruh anak memperoleh akses makan bergizi menjadi pesan utama yang terus disampaikan dalam berbagai kesempatan.

    Di wilayah timur Indonesia, Presiden Prabowo Subianto juga menargetkan adanya pengoperasian hingga sebanyak ribuan SPPG, termasuk 2.500 unit di Papua pada tahun 2026 ini. 

    Target tersebut jelas menegaskan bahwa pemerataan layanan gizi secara gratis terus menjadi prioritas secara nasional tanpa memandang wilayah. MBG diposisikan sebagai instrumen percepatan pembangunan sumber daya manusia, terutama di daerah yang selama ini menghadapi tantangan ketimpangan akses gizi.

    Dukungan terhadap program tersebut juga datang secara langsung dari anggota parlemen. Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher, menilai bahwa penyaluran MBG kepada para ibu hamil, ibu menyusui, dan balita sebagai bentuk intervensi langsung yang bersifat sangat strategis dari pemerintah. 

    Fokus pemerintah pada upaya pemenuhan gizi dalam 1.000 hari pertama kehidupan dipandang merupakan hal yang penting untuk dapat menentukan kualitas kesehatan danbagaimana tumbuh kembang anak di masa depan. 

    Netty juga mengapresiasi tinggi adanya pelibatan posyandu, kader kesehatan, serta Tim Pendamping Keluarga yang selama ini terus berperan sebagai ujung tombak distribusi di lapangan.

    Meski demikian, perhatian serius terhadap kualitas menu tetap menjadi catatan penting bagi pemerintah. Orientasi menu yang sesuai dengan bagaimana kebutuhan gizi para ibu dan balita serta upaya penghindaran pangan ultra-proses terusmenjadi syarat agar manfaat dari program itu dapat benar-benar berjalan dengan optimal. Dalam konteks tersebut, penguatan regulasi dan pengawasan menjadi bagian yang tidak dapat terpisahkan dari keberlanjutan pelaksanaan MBG.

    Pembangunan massal hingga sebanyak 19.188 SPPG menunjukkan secara nyata bahwa memang layanan gizi nasional yang diberikan oleh pemerintah secara gratis kepada seluruh masyarakat Indonesia tidak lagi berada hanya pada tahap wacana semata. 

    Langkah tersebut telah mampu menghadirkan bukti yang sangat konkret bahwa negara terus hadir secara sistematis untuk menjamin akses gizi gratis bagi segenap masyarakat. Dengan fondasi yang telah dibangun cukup kuat sepanjang tahun 2025 lalu, kemudian pada tahun 2026 ini akan bisa menjadi momentum yang penting bagi terwujudnya penguatan kualitas, pemerataan manfaat, dan keberlanjutan layanan gizi nasional. (*)

    Pengamat Kebijakan Publik – Lembaga Kajian Kebijakan Publik Bentang Nusantara

  • Dampak Positif MBG Terukur, 19.188 SPPG Siap Layani Lebih 55 Juta Orang di 2026

    Oleh: Reza Mahendra Siregar

    Pembangunan masif Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi sepanjang 2025 menandai fase paling serius negara dalam membangun sistem pemenuhan gizi nasional yang terukur. Badan Gizi Nasional menutup tahun tersebut dengan capaian konkret berupa 19.188 SPPG yang siap beroperasi serentak mulai awal 2026. 

    Angka tersebut bukan sekadar statistik, melainkan fondasi layanan publik yang dirancang untuk menjangkau lebih dari 55 juta penerima manfaat program Makan Bergizi Gratis pada tahap awal operasional.

    Capaian tersebut memperlihatkan bahwa MBG bergerak melampaui wacana. Program tersebut menunjukkan arah kebijakan berbasis hasil, bukan sekadar niat. Dalam kurun satu tahun, BGN membuktikan kemampuan membangun infrastruktur layanan gizi dari skala terbatas menuju jangkauan nasional. 

    Pada awal 2025, program tersebut hanya ditopang 190 SPPG dengan sekitar 570 ribu penerima manfaat. Lonjakan menjadi 19.188 unit pada akhir tahun menunjukkan perencanaan bertahap yang dieksekusi secara konsisten.

    Kepala BGN Dadan Hindayana menempatkan pencapaian tersebut sebagai tonggak penting dalam pembangunan sistem pemenuhan gizi berkelanjutan. Pengoperasian seluruh SPPG mulai 8 Januari 2026 diproyeksikan langsung melayani lebih dari 55 juta orang di berbagai wilayah Indonesia. 

    Skala layanan sejak hari pertama mencerminkan kesiapan teknis sekaligus kematangan tata kelola yang dibangun sepanjang 2025 melalui penguatan sistem dan penyempurnaan mekanisme operasional.

    Lebih jauh, Dadan memosisikan 2026 sebagai fase peningkatan kualitas. Program MBG tidak lagi berhenti pada distribusi makanan bergizi, tetapi diarahkan pada penguatan mutu layanan SPPG dan edukasi gizi masyarakat. 

    Pendekatan tersebut memperlihatkan orientasi jangka panjang pemerintah dalam membentuk pola konsumsi sehat sejak usia dini. Target peningkatan jumlah penerima hingga 82,9 juta orang pada Februari atau Maret 2026 menjadi indikator bahwa ekspansi layanan dibarengi dengan peningkatan standar.

    Peran SPPG sebagai dapur umum modern menempatkan unit tersebut sebagai simpul strategis dalam rantai layanan gizi nasional. Setiap SPPG bertanggung jawab mengolah makanan, menjaga keamanan pangan, dan mendistribusikannya kepada kelompok sasaran, terutama peserta didik. 

    Keharusan melibatkan ahli gizi serta kepemilikan Sertifikat Laik Higiene Sanitasi mempertegas keseriusan negara dalam mencegah risiko kesehatan seperti keracunan pangan. Standar tersebut menjadikan MBG sebagai program intervensi gizi yang terukur dan akuntabel.

    Dampak program tersebut tidak berhenti pada aspek kesehatan. Pembangunan ribuan SPPG ikut menggerakkan ekonomi lokal melalui penyerapan tenaga kerja dan pemanfaatan bahan baku dari petani maupun pemasok setempat. Efek berganda tersebut memperlihatkan bahwa MBG dirancang sebagai kebijakan lintas sektor, menghubungkan agenda kesehatan masyarakat dengan penguatan ekonomi daerah.

    Presiden Prabowo Subianto menempatkan MBG dalam kerangka besar perbaikan kualitas hidup rakyat. Seluruh program pemerintah, menurut Prabowo, diarahkan untuk mendorong kebangkitan ekonomi dan perluasan lapangan kerja, sekaligus memastikan generasi muda tumbuh sehat dan kuat. Perhatian khusus terhadap anak-anak menjadi penekanan utama, karena pemenuhan gizi dipandang sebagai prasyarat lahirnya sumber daya manusia unggul.

    Komitmen tersebut juga tercermin dalam fokus wilayah. Prabowo menargetkan 2.500 SPPG beroperasi di Papua pada 2026 sebagai bagian dari percepatan pembangunan sumber daya manusia. 

    Program MBG di kawasan tersebut diposisikan bukan hanya sebagai bantuan sosial, melainkan instrumen strategis untuk mengejar ketertinggalan dan memperkuat fondasi kesehatan generasi mendatang.

    Dukungan politik terhadap MBG juga datang dari parlemen. Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher menilai penyaluran MBG kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita sebagai intervensi paling strategis. 

    Pemenuhan gizi pada fase seribu hari pertama kehidupan dipandang akan dapat menentukan bagaimana kualitas kesehatan dan tumbuh kembang anak di masa depan. Pelibatan posyandu, kader kesehatan, serta Tim Pendamping Keluarga dinilai mampu untuk semakin memperkuat efektivitas distribusi karena berangkat dari basis kepercayaan di tingkat desa.

    Netty juga turut menyoroti bagaimana mekanisme pengantaran langsung ke rumah seluruh penerima manfaat sebagai langkah adaptif bagi kelompok dengan keterbatasan mobilitas. Meski demikian, perhatian terhadap seperti apa kualitas menu yang disalurkan itu tetap menjadi kunci yang senantiasa dipantau dengan seksama. 

    Orientasi pada kebutuhan kesehatan ibu dan balita, termasuk juga upaya untuk dapat menghindari pangan ultra-proses, menjadi prasyarat agar dampak MBG bisa benar-benar berlangsung dengan optimal dan mampu dirasakan oleh segenap masyarakat Indonesia.

    Dengan fondasi yang cukup kuat, yakni hingga sebanyak 19.188 SPPG, program MBG memasuki tahun 2026 ini dengan kesiapan yang jarang dimiliki jika dibandingkan dengan kebijakan publik berskala nasional lainnya. 

    Pasalnya, dampak positif dari pelaksanaan program penyaluran gizi secara merata dan gratis itu telah terukur melalui jangkauan layanan, peningkatan kualitas sistem, dan efek ekonomi lokal yang semuanya merupakan dampak baik dari kebijakan tersebut.

    Tantangan ke depan adalah terletak pada bagaimana pemerintah terus mampu menjaga konsistensi implementasi dan pengawasan mutu. Namun satu hal yang telah jelas terjadi, yakni bahwa Program MBGtersebut tidak lagi sekadar janji politik dari Presiden Prabowo Subianto saja, melainkan kini telah menjadi sebuah investasi yang sangat nyata bagi masa depan kesehatan dan kualitas hidup seluruh masyarakat Indonesia. (*)

    *) Pengamat Kebijakan Sosial – Lembaga Sosial Madani Institute

  • Apresiasi Publik Terhadap Pembangunan 19.188 SPPG, MBG Capai Momentum Baru

    JAKARTA — Apresiasi publik terhadap pembangunan 19.188 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) oleh Badan Gizi Nasional (BGN) terus menguat dan menjadi penanda penting terciptanya momentum baru Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

    Capaian sepanjang 2025 tersebut mempertegas keseriusan negara memperluas akses gizi, menekan angka stunting, serta memperkuat ketahanan sosial dan ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.

    Keberadaan ribuan SPPG yang tersebar di berbagai daerah telah mendorong peningkatan cakupan penerima manfaat secara signifikan.

    Program prioritas nasional tersebut menjangkau anak sekolah, balita, ibu hamil, serta ibu menyusui.

    Selain aspek kesehatan, kehadiran SPPG juga menggerakkan ekonomi lokal melalui penciptaan lapangan kerja dan keterlibatan pelaku UMKM di sekitar lokasi dapur layanan.

    Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan dukungan penuh organisasinya terhadap program MBG yang digagas Presiden Prabowo Subianto.

    Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh jaringan Muhammadiyah dan ‘Aisyiyah yang telah terlibat aktif dalam pengoperasian SPPG.

    “Ucapan selamat yang sebesar-besarnya untuk ‘Aisyiyah Cabang Kasihan dan seluruh keluarga besar yang telah menjadi bagian dari koordinasi nasional program Makan Bergizi Gratis,” ujar Haedar.

    “Sejak itu, program ini terus bergulir. Kini Muhammadiyah telah memiliki 150 unit SPPG dan bahkan akan terus bertambah,” tambahnya.

    Kepala BGN Dadan Hindayana menyampaikan bahwa pembangunan 19.188 SPPG menjadi fondasi kuat bagi pelaksanaan MBG pada 2026.

    “Tahun 2025 kami gunakan untuk membangun fondasi yang kuat. Dari 190 SPPG di awal tahun hingga 19.188 SPPG di akhir tahun, ini menunjukkan kerja masif dan terukur dalam menyiapkan layanan MBG,” jelas Dadan.

    “Mulai 8 Januari 2026, MBG langsung melayani lebih dari 55 juta penerima manfaat,” tegasnya.

    Presiden Prabowo Subianto menegaskan seluruh program pemerintah, termasuk MBG, diarahkan untuk memperbaiki kualitas hidup rakyat dan memperkuat masa depan generasi bangsa.

    “Saya tegaskan kembali bahwa semua program kita, semua strategi kita adalah untuk memperbaiki kehidupan rakyat kita. Kita ingin ekonomi kita bangkit, lapangan kerja kita tambah,” ujar Prabowo.

    “Anak-anak harus makan yang baik supaya tumbuh sehat, kuat, pintar, dan nanti bisa menjadi masa depan bangsa yang hebat,” kata Presiden.

    Sinergi lintas sektor, penguatan kualitas layanan, serta tingginya partisipasi masyarakat menjadikan pembangunan 19.188 SPPG sebagai pijakan optimistis bagi MBG untuk melangkah ke fase yang lebih matang dan berdampak luas bagi Indonesia. (*)

  • BGN Berhasil Bangun 19.188 SPPG Demi Dukung Akses Gizi untuk Jutaan Warga

    JAKARTA — Badan Gizi Nasional (BGN) menuntaskan pembangunan 19.188 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sepanjang 2025 sebagai perluasan akses makan bergizi gratis bagi jutaan warga di seluruh Indonesia.

    Capaian tersebut menandai akselerasi signifikan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

    Dengan jumlah SPPG tersebut, BGN menargetkan layanan gizi dapat menjangkau lebih dari 55,1 juta penerima manfaat, mencakup siswa sekolah, ibu hamil, ibu menyusui, serta balita.

    Seluruh unit SPPG berfungsi sebagai dapur produksi dan distribusi yang memastikan makanan diproses secara higienis sesuai standar nutrisi nasional.

    Operasional dapur telah dimulai sejak awal Januari, sementara distribusi makan bergizi dilaksanakan serentak pada 8 Januari 2026 setelah melewati masa persiapan sumber daya manusia dan logistik.

    Kepala BGN Dadan Hindayana menegaskan pembangunan ribuan SPPG tersebut merupakan hasil kerja terukur sepanjang satu tahun penuh.

    “Tahun 2025 kami gunakan untuk membangun fondasi yang kuat. Dari 190 SPPG di awal tahun hingga 19.188 SPPG di akhir tahun, ini menunjukkan kerja yang masif dan terukur dalam menyiapkan layanan MBG,” ujarnya.

    Ia menambahkan kesiapan infrastruktur tersebut memungkinkan MBG langsung berjalan dengan cakupan luas sejak awal tahun anggaran.

    “Mulai 8 Januari 2026, MBG langsung melayani lebih dari 55 juta penerima manfaat. Pada 2026, fokus kami tidak hanya pada intervensi gizi, tetapi juga peningkatan kualitas layanan SPPG serta penguatan edukasi gizi kepada masyarakat,” jelasnya.

    Komitmen pemerintah terhadap MBG juga terlihat dari perhatian Presiden RI Prabowo Subianto di lapangan.

    Saat mengunjungi pengungsi banjir di Tapanuli Selatan, Prabowo memastikan kesiapan dapur MBG dan menekankan pentingnya pemenuhan gizi anak.

    “Anak-anak harus makan yang baik supaya tumbuh sehat, kuat, pintar nanti bisa menjadi masa depan bangsa Indonesia yang hebat,” tuturnya.

    Ia menegaskan seluruh program pemerintah diarahkan untuk memperbaiki kehidupan rakyat, termasuk pemulihan ekonomi dan penambahan lapangan kerja.

    Dukungan turut datang dari parlemen. Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher menilai MBG sebagai intervensi strategis bagi kelompok rentan.

    “Penyaluran MBG kepada ibu hamil, ibu menyusui, dan balita adalah intervensi yang sangat strategis,” katanya.

    Menurutnya, pelibatan posyandu, kader kesehatan, dan Tim Pendamping Keluarga memperkuat ketepatan sasaran.

    “Mereka menjadi ujung tombak keberhasilan program tersebut, sekaligus memastikan bantuan benar-benar sampai kepada sasaran,” jelasnya. (*)

  • Mendukung Pemerintah Tindak Tegas Kekejaman OPM

    Oleh : yohanes Wandikbo )*

    Kekejaman Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang beroperasi melalui kelompok kriminal bersenjata kembali menorehkan luka mendalam bagi Tanah Papua. Aksi kekerasan yang menyasar aparat keamanan dan warga sipil sepanjang 2025 menunjukkan pola teror yang sistematis, merusak rasa aman, serta menghambat proses pembangunan dan pelayanan publik. Dalam situasi seperti ini, Pemerintah menunjukkan ketegasan yang berlandaskan hukum, sekaligus menguatkan pendekatan humanis agar masyarakat Papua terlindungi dan masa depan damai tetap terjaga.

    Fakta di lapangan menegaskan bahwa ancaman OPM bukan isapan jempol. Data penegakan hukum memperlihatkan korban jiwa dan luka yang signifikan akibat rentetan serangan bersenjata. Kapolda Papua, Irjen Pol Patrige Renwarin menjelaskan bahwa sepanjang 2025 tercatat ratusan kasus kekerasan yang tersebar di berbagai wilayah hukum, dengan puluhan korban meninggal dari unsur aparat keamanan, warga sipil, dan juga pelaku bersenjata. Angka tersebut menggambarkan dampak luas teror OPM yang tidak mengenal batas kemanusiaan, karena masyarakat sipil kerap menjadi sasaran ketakutan dan pemerasan ruang hidup.

    Kondisi keamanan yang tertekan berdampak langsung pada aktivitas sosial dan ekonomi. Sekolah terganggu, layanan kesehatan terhambat, dan mobilitas warga dibatasi oleh rasa cemas. Kekejaman OPM merusak tatanan sosial yang selama ini dibangun dengan kerja keras, kolaborasi, dan kepercayaan. Oleh karena itu, mengutuk tindakan tersebut bukan sekadar sikap moral, melainkan keharusan konstitusional untuk melindungi segenap bangsa dan seluruh tumpah darah Indonesia.

    Pemerintah melalui Polri dan TNI menjalankan mandat dengan pendekatan yang terukur. Penegakan hukum dilakukan secara tegas terhadap pelaku kekerasan, namun tetap mengedepankan prinsip hak asasi manusia dan keselamatan warga. Kapolda Papua Irjen Pol Patrige Renwarin juga menekankan pentingnya peran pemerintah daerah, DPRD, perangkat daerah, serta tokoh masyarakat dan tokoh agama untuk tampil di garis depan membangun keteduhan. Keterlibatan pemangku kepentingan lokal menjadi kunci agar pesan damai sampai ke akar rumput, sekaligus memutus siklus kekerasan yang diproduksi oleh OPM.

    Pendekatan humanis yang dijalankan aparat patut diapresiasi. Upaya dialog, perlindungan warga, serta pelayanan kemasyarakatan menjadi instrumen penting untuk merebut kembali ruang aman. Negara hadir bukan hanya dengan penindakan, tetapi juga dengan empati, keadilan, dan pembangunan yang berkelanjutan. Inilah garis kebijakan yang tepat: tegas terhadap kejahatan, ramah terhadap masyarakat.

    Di sisi operasional, pemetaan wilayah rawan dilakukan secara cermat agar pengamanan efektif dan proporsional. Kepala Operasi Satgas Damai Cartenz, Brigjen Pol Faizal Rahmadani menguraikan bahwa sejumlah kabupaten menjadi episentrum gangguan keamanan akibat aktivitas OPM, dengan intensitas tertinggi di wilayah tertentu Papua Pegunungan dan Papua Tengah. Data kejadian sepanjang 2025 memperlihatkan pola gangguan berulang yang menuntut kehadiran aparat secara konsisten, terkoordinasi, dan adaptif terhadap dinamika lokal.

    Satgas Damai Cartenz menjalankan mandat di berbagai kabupaten lintas provinsi dengan fokus menjaga stabilitas dan keselamatan warga. Kepala Operasi Satgas Damai Cartenz,Brigjen Pol Faizal Rahmadani menegaskan peningkatan pengamanan dan penegakan hukum terus dilakukan untuk menekan gangguan OPM, seraya memastikan aktivitas masyarakat dapat berlangsung. Kerja ini bukan pekerjaan singkat; diperlukan kesabaran, ketelitian intelijen, dan dukungan publik agar hasilnya berkelanjutan.

    Mendukung kebijakan pemerintah berarti menolak normalisasi kekerasan. OPM bukan representasi aspirasi rakyat Papua; kekerasan bersenjata justru memperdalam ketertinggalan dan memperpanjang penderitaan. Aspirasi pun harus ditempuh melalui jalur damai dan demokratis, bukan dengan senjata yang menodong warga.

    Mengutuk kekejaman OPM berarti meneguhkan komitmen pada Indonesia yang damai dan berkeadilan. Pemerintah telah menapaki jalan yang benar dengan kombinasi ketegasan dan kemanusiaan. Dukungan publik menjadi energi penting agar upaya ini berbuah stabilitas, rasa aman, dan harapan baru bagi Tanah Papua. Negara tidak boleh mundur, dan masyarakat Papua berhak hidup tanpa bayang-bayang teror.

    Hal ini untuk memperkuat konsensus nasional bahwa kekerasan bersenjata tidak memiliki tempat di Tanah Papua. Dukungan terhadap kebijakan pemerintah yang mengedepankan penegakan hukum tegas, pendekatan humanis, dan percepatan pembangunan merupakan jalan paling rasional untuk memulihkan kepercayaan publik. Dengan persatuan seluruh elemen bangsa, konsistensi aparat, dan partisipasi aktif masyarakat lokal, Papua dapat bergerak menuju stabilitas yang berkelanjutan, terbebas dari teror OPM, serta menatap masa depan yang damai, aman, dan sejahtera.

    Situasi keamanan di Tanah Papua harus ditempatkan dalam kerangka kepentingan nasional yang lebih luas, yakni menjaga keutuhan negara sekaligus melindungi hak hidup masyarakat sipil dari ancaman kekerasan. Negara tidak boleh kalah oleh teror, namun juga tidak boleh kehilangan wajah kemanusiaannya. Kebijakan pemerintah yang memadukan penegakan hukum tegas terhadap OPM dengan pendekatan humanis, dialog sosial, serta percepatan pembangunan merupakan strategi yang tepat dan relevan dengan karakter sosial Papua. Dukungan publik, khususnya dari tokoh adat, tokoh agama, dan pemerintah daerah, menjadi faktor penentu keberhasilan upaya tersebut. Dengan sinergi yang solid, konsistensi kebijakan, dan keberanian menolak segala bentuk pembenaran atas kekerasan, Tanah Papua dapat keluar dari lingkaran konflik berkepanjangan menuju kondisi yang aman, kondusif, dan bermartabat, di mana pembangunan berjalan, masyarakat terlindungi, dan masa depan generasi Papua terjamin dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

    )* Penulis merupakan Pengamat Pembangunan Papua

  • Mengutuk Kekejaman OPM terhadap Warga Sipil di Papua

    Oleh : Loa Murib

    Kekerasan bersenjata yang terus dilakukan oleh Organisasi Papua Merdeka (OPM) semakin menegaskan wajah kejam kelompok tersebut, terutama ketika warga sipil berulang kali menjadi korban utama. Sepanjang 2025, eskalasi kekerasan di Tanah Papua menunjukkan pola yang mengkhawatirkan karena sasaran tidak lagi terbatas pada aparat keamanan, melainkan juga masyarakat biasa yang tidak memiliki keterkaitan dengan konflik bersenjata. Kondisi ini memperlihatkan bahwa tindakan OPM telah melampaui batas perjuangan politik dan berubah menjadi pelanggaran hak asasi manusia berat yang mengoyak rasa kemanusiaan.

    Data yang disampaikan Kepala Kepolisian Daerah Papua Irjen Petrus Patrige Rudolf Renwarin mengungkapkan bahwa sepanjang 2025 terdapat 104 kasus kekerasan di wilayah hukum Polda Papua yang menyebabkan 94 orang meninggal dunia. Dari jumlah tersebut, mayoritas korban adalah warga sipil, yakni sebanyak 64 orang, disusul aparat TNI dan Polri, serta anggota kelompok bersenjata itu sendiri. Fakta ini memperkuat kesimpulan bahwa warga sipil telah menjadi pihak paling dirugikan dalam konflik yang diciptakan OPM, sekaligus membantah klaim kelompok tersebut yang sering mengatasnamakan kepentingan rakyat Papua.

    Kekerasan terhadap warga sipil bukanlah insiden yang bersifat sporadis, melainkan dilakukan secara sistematis dan terencana. Penyerangan terhadap warga pendatang di Yahukimo, Papua Pegunungan, menjadi contoh nyata bagaimana teror dijalankan dengan modus yang licik dan tidak berperikemanusiaan. Kepala Operasi Satgas Damai Cartenz Brigjen Faizal Ramadhani menjelaskan bahwa penyerangan dilakukan dengan cara menyasar korban di rumah atau tempat usaha, bahkan dengan berpura-pura sebagai pembeli. Tindakan tersebut menunjukkan adanya niat jahat yang terstruktur dan bertujuan menciptakan ketakutan luas di tengah masyarakat.

    Korban dalam peristiwa Yahukimo adalah warga sipil yang menjalani aktivitas ekonomi sederhana untuk menghidupi keluarga. Mereka tidak terlibat dalam konflik, tidak membawa senjata, dan tidak memiliki kekuatan untuk membela diri. Namun, OPM tetap menjadikan mereka target kekerasan, menggunakan senjata tajam dengan cara brutal. Fakta bahwa para pelaku menyerang secara tiba-tiba dan melarikan diri setelah melukai korban memperlihatkan bahwa tindakan tersebut sama sekali tidak dapat dibenarkan dalam kerangka apa pun, baik politik maupun sosial.

    Jika ditelaah dari perspektif hak asasi manusia, tindakan OPM telah memenuhi unsur pelanggaran HAM berat. Pembunuhan, penganiayaan serius, serta teror terhadap penduduk sipil merupakan kejahatan yang bertentangan dengan prinsip dasar kemanusiaan dan hukum internasional. OPM tidak hanya merampas hak hidup warga, tetapi juga menghancurkan rasa aman, mengganggu aktivitas sosial ekonomi, dan menciptakan trauma berkepanjangan bagi masyarakat Papua, baik asli maupun pendatang.

    Pernyataan Kapolda Papua yang menegaskan bahwa OPM masih menjadi ancaman nyata bagi keamanan di Tanah Papua mencerminkan situasi objektif di lapangan. Ketakutan warga untuk beraktivitas normal adalah konsekuensi langsung dari teror bersenjata yang terus berlangsung. Dalam kondisi seperti ini, negara memiliki kewajiban konstitusional untuk melindungi segenap warga negara tanpa kecuali, sekaligus memastikan bahwa hukum ditegakkan secara adil dan tegas terhadap para pelaku kekerasan.

    Upaya penanganan yang dilakukan aparat keamanan saat ini tidak semata-mata mengandalkan pendekatan represif, tetapi juga mengedepankan langkah humanis. Irjen Petrus Patrige Rudolf Renwarin menekankan pentingnya peran pemerintah daerah, DPRD, serta tokoh masyarakat dan tokoh agama untuk tampil di garis depan menyuarakan perdamaian. Pendekatan ini menjadi krusial agar masyarakat tidak terus terjebak dalam siklus ketakutan dan kekerasan yang diciptakan oleh kelompok bersenjata.

    Namun demikian, pendekatan humanis tidak boleh dimaknai sebagai pembiaran terhadap kejahatan. Penegakan hukum yang tegas dan konsisten tetap menjadi prasyarat utama untuk memutus mata rantai kekerasan. Pernyataan Brigjen Faizal Ramadhani yang menegaskan komitmen Satgas Damai Cartenz untuk memburu dan memproses hukum para pelaku penyerangan menunjukkan keseriusan negara dalam memberikan rasa keadilan bagi para korban. Proses hukum yang transparan dan akuntabel juga penting untuk mencegah propaganda yang kerap dimainkan OPM di tingkat lokal maupun internasional.

    Menyoroti kekejaman OPM bukan berarti menutup mata terhadap kompleksitas persoalan Papua. Namun, membiarkan kekerasan terhadap warga sipil atas nama apa pun adalah bentuk pengkhianatan terhadap nilai kemanusiaan itu sendiri. Masyarakat Papua berhak hidup aman, bekerja dengan tenang, dan membangun masa depan tanpa bayang-bayang teror. Kekerasan bersenjata yang menyasar warga tak berdosa justru menjadi penghambat utama bagi terciptanya kesejahteraan dan perdamaian di Tanah Papua.

    Oleh karena itu, narasi publik perlu diarahkan secara jujur dan berimbang dengan menempatkan korban sebagai pusat perhatian. Kekejaman OPM harus diungkap apa adanya agar tidak terjadi pembelokan opini yang menyesatkan. Dukungan terhadap langkah-langkah damai, penegakan hukum, serta kolaborasi semua elemen bangsa menjadi kunci untuk menghentikan pelanggaran HAM berat dan mengembalikan rasa aman di Papua. Tanpa itu semua, warga sipil akan terus menjadi korban dari kekerasan yang tidak berperikemanusiaan.

    *Penulis adalah Mahasiswa Papua di Jawa Timur

  • Negara Hadir Jaga Papua Tetap Aman, Kekejaman OPM Dinilai Ancaman Nyata Kemanusiaan

    Timika – Upaya menjaga stabilitas keamanan di Papua terus dimaksimalkan di tengah dinamika yang ada. Kehadiran aparat TNI dan Polri di wilayah Papua dinilai berkontribusi terhadap terciptanya suasana yang lebih kondusif, sehingga masyarakat dapat menjalankan aktivitas harian dengan lebih tenang meski tantangan keamanan masih terus dihadapi.

    Pendekatan yang humanis dan terintegrasi dengan tokoh masyarakat serta pemda menjadi salah satu unsur penting dalam mewujudkan rasa aman dan keteraturan sosial. Pendekatan ini dinilai efektif membangun kepercayaan serta memperkuat ketahanan sosial masyarakat.

    “TNI hadir di Papua sebagai penjaga kedamaian. Kami menekankan kepada setiap prajurit agar mengedepankan pendekatan humanis, menghormati adat dan budaya lokal, serta membangun komunikasi yang baik dengan masyarakat. Perdamaian hanya dapat terwujud apabila kepercayaan antara TNI dan rakyat terus terjaga,” tegas Panglima Komando Operasi Habema, Mayjen TNI Lucky Avianto.

    Ia menambahkan, stabilitas keamanan di Papua merupakan hasil kerja bersama seluruh pemangku kepentingan.

    “Stabilitas keamanan di Papua tidak dapat terwujud secara sepihak, melainkan melalui sinergi kuat antara aparat keamanan, pemerintah daerah, dan masyarakat. Kolaborasi tersebut menjadi fondasi penting dalam mendukung kelancaran aktivitas warga serta percepatan pembangunan di Papua,” ungkapnya.

    Di tengah upaya tersebut, aparat keamanan menyoroti masih masifnya kekerasan yang dilakukan OPM. Kapolda Papua Irjen Patrige Renwarin mencatat, sepanjang 2025 terdapat 94 orang meninggal dunia akibat aksi OPM dari 104 kasus kekerasan yang terjadi di wilayah hukum Polda Papua.

    “KKB [OPM] memang masih menjadi ancaman bagi keamanan di Tanah Papua hingga membuat warga menjadi ketakutan,” katanya.

    Korban meninggal dunia tersebut terdiri atas sembilan anggota TNI, enam anggota Polri, 64 warga sipil, dan 15 anggota OPM. Selain itu, tercatat 120 orang luka-luka akibat aksi kekerasan tersebut.

    Kekejaman OPM yang menyasar aparat dan warga sipil dinilai sebagai ancaman serius terhadap kemanusiaan dan persatuan bangsa. Kapolda Papua menegaskan, penanganan OPM membutuhkan peran aktif seluruh elemen daerah.

    “Semua pihak diharapkan berperan aktif dalam mendukung pendekatan humanis yang dilakukan Polri, sehingga dengan tampilnya pemda, DPRD dan para tokoh diharapkan dapat menciptakan situasi yang lebih aman dan kondusif,” ujarnya.

    Pemerintah bersama TNI-Polri menegaskan komitmen menjaga Papua tetap aman melalui langkah tegas, terukur, dan berlandaskan pendekatan humanis demi terwujudnya perdamaian berkelanjutan di wilayah Papua. #

  • OPM Langgar Nilai Kemanusiaan, Aparat Perkuat Stabilitas Keamanan

    PAPUA – Aksi kekerasan bersenjata yang terus dilakukan Organisasi Papua Merdeka (OPM) sepanjang 2025 kembali menegaskan ancaman serius terhadap stabilitas keamanan dan kemanusiaan di Tanah Papua. Serangkaian penyerangan yang menyasar aparat keamanan serta warga sipil menunjukkan bahwa kekerasan yang dilakukan kelompok tersebut telah melampaui batas dan tidak dapat dibenarkan dalam kerangka apa pun.

    Data Kepolisian Daerah Papua mencatat, sepanjang 2025 terjadi 104 kasus kekerasan bersenjata di wilayah hukum Polda Papua yang mengakibatkan 94 orang meninggal dunia. Dari jumlah tersebut, 64 korban merupakan warga sipil, sembilan anggota TNI, enam anggota Polri, serta 15 anggota OPM. Selain korban meninggal, tercatat 120 orang mengalami luka-luka akibat aksi kekerasan tersebut. Fakta ini memperlihatkan bahwa masyarakat sipil menjadi pihak paling dirugikan dalam konflik yang diciptakan OPM.

    Kapolda Papua Irjen Pol Patrige Renwarin menegaskan bahwa OPM masih menjadi ancaman nyata bagi keamanan dan ketertiban masyarakat. “KKB atau OPM masih menjadi ancaman di Tanah Papua dan menimbulkan rasa takut di tengah masyarakat. Warga sipil justru menjadi korban terbesar dari aksi kekerasan tersebut,” ujarnya. Menurutnya, kondisi ini membantah klaim OPM yang kerap mengatasnamakan perjuangan rakyat Papua.

    Salah satu peristiwa yang menjadi sorotan adalah penyerangan terhadap warga sipil di Yahukimo, Papua Pegunungan. Kepala Operasi Satgas Damai Cartenz Brigjen Pol Faizal Ramadhani menjelaskan bahwa pelaku melakukan aksi dengan cara menyasar korban di rumah atau tempat usaha, bahkan berpura-pura sebagai pembeli. “Modus tersebut menunjukkan bahwa aksi kekerasan dilakukan secara terencana untuk menebar teror,” katanya.

    Pemerintah bersama TNI dan Polri menegaskan komitmen menjaga stabilitas keamanan melalui langkah tegas dan terukur, tanpa mengesampingkan pendekatan humanis. Panglima Komando Operasi Habema Mayjen TNI Lucky Avianto menyatakan bahwa kehadiran aparat bertujuan melindungi masyarakat. “TNI hadir sebagai penjaga kedamaian dengan mengedepankan pendekatan humanis, menghormati adat dan budaya lokal, serta membangun kepercayaan dengan masyarakat,” ujarnya.

    Selain penegakan hukum, aparat keamanan mendorong peran aktif pemerintah daerah, DPRD, tokoh adat, dan tokoh agama untuk bersama-sama menyuarakan perdamaian. Pendekatan kolaboratif dinilai penting agar masyarakat tidak terus terjebak dalam siklus ketakutan.

    Pemerintah menegaskan bahwa mengutuk kekejaman OPM merupakan bagian dari upaya melindungi hak hidup warga sipil dan menjaga keutuhan bangsa. Dengan sinergi aparat keamanan, pemerintah daerah, dan masyarakat, stabilitas keamanan di Papua diharapkan dapat terwujud secara berkelanjutan demi terciptanya rasa aman dan percepatan pembangunan.