Penulis: restiana818@gmail.com

  • Optimalisasi MBG, BRIN Dukung Gunakan Peta Potensi Laut Berbasis AI

    Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan agenda nasional memerlukan tata kelola data yang kuat, mulai dari ketepatan sasaran hingga efisiensi logistik serta akuntabilitas.

    Saat ini Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) sedang mengembangkan model pemetaan zona tangkap udang, ikan, rumput laut berbasis AI untuk mendukung optimalisasi MBG. Pemetaan potensi laut berbasis artifisial dengan tingkat akurasi 94% untuk memastikan ketahanan protein.

    Kepala Pusat Riset Sains Data dan Informasi, BRIN Esa Prakasa mengatakan, integrasi data geospasial dan tata kelola satu data membuka peluang kolaborasi pemanfaatan data pemerintahan digital guna mendukung MBG melalui inisiatif Satu Peta Nasional MBG.

    “Kami ulas kebutuhan dan tantangan integrasi data produksi, stok, distribusi, harga, serta data lokasi yang relevan dengan operasional MBG,” ujar Esa.

    pelaksanaan MBG membutuhkan data akurat dan terpadu, termasuk data spasial lokasi dapur dan penyedia layanan. Tanpa tata kelola data dan mekanisme verifikasi yang kuat, penentuan lokasi berbasis geolocation berpotensi menimbulkan risiko penyimpangan.

    “Dengan BGN kami ingin memperoleh terkait kebutuhan data, proses validasi, serta peran pemerintah daerah sebagai produsen data,” ujarnya.

    “Dengan kolaborasi ini kami berharap menghasilkan rekomendasi konkret penguatan pemerintahan digital dalam kerangka Satu Peta Nasional MBG hingga mendorong tindak lanjut riset terapan untuk mendukung keberhasilan program MBG secara transparan, akuntabel, dan berbasis bukti,”

    Sedang Peneliti BRIN pencetus ide peta protein ikan untuk MBG, Rezza Eko Caraka menyampaikan riset bertujuan memetakan potensi laut Indonesia sebagai alternatif sumber gizi dalam disversifikasi pangan MBG.

    Hasil riset ini berpotensi diintegrasikan ke dalam dasbord nasional guna mendukung pengambilan keputusan lintas kementerian/lembaga serta pemerintah daerah. Integrasi dan spasial dan AI diharapkan menjadi fondasi ilmiah dalam memperkuat ketahanan pangan nasional sekaligus mengoptimalkan potensi protein laut Indonesia untuk menunjang program MBG.

  • Mensos Gus Ipul: MBG Lansia dan Disabilitas Segera Diluncurkan

    Jakarta – Menteri Sosial Saifullah Yusuf (Gus Ipul) mengatakan pihaknya bersama Badan Gizi Nasional (BGN) sedang mematangkan skema pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) untuk lanjut usia dan penyandang disabilitas.

    Hal tersebut disampaikan Mensos Gus Ipul setelah bertemu dengan Kepala BGN Dadan Hindayana di Kantor BGN Jakarta.

    “Hari ini saya berkoordinasi dengan Kepala BGN Prof Dadan untuk mematangkan makan bergizi gratis khusus untuk lansia dan penyandang disabilitas. Saya bersyukur karena konsepnya makin matang dan sudah ketemu kira-kira bagaimana bentuk kerjasamanya,” ujar Gus Ipul

    Menurutnya, program MBG bagi lansia dan penyandang disabilitas ini melanjutkan dari program “Permakanan” yang selama ini telah dijalankan Kemensos. Sebelumnya, bantuan makanan siap santap bagi lansia dan penyandang disabilitas telah disalurkan melalui para pendamping sosial dan kelompok masyarakat (Pokmas) di daerah.

    “Kini, skema MBG nasional akan dipadukan agar cakupannya lebih luas dan standar gizinya lebih terukur,” tuturnya.

    Gus Ipul menjelaskan, penyediaan makanan akan memanfaatkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) milik BGN yang tersebar di daerah. Sementara penjangkauan kepada penerima manfaat tetap dilakukan melalui mekanisme layanan sosial Kemensos yang sudah berjalan.

    “Nanti yang melayani tetap SPPG, sementara yang mengantar nanti dari Pokmas atau dari caregiver,” pungkasnya.

    Sasaran program ini adalah lansia dan penyandang disabilitas yang tercatat dalam Data Tunggal Sosial Ekonomi Nasional (DTSEN), khususnya kelompok desil 1-5. Diprioritaskan bagi lansia rentan serta penyandang disabilitas berat yang memiliki keterbatasan dalam pemenuhan kebutuhan dasar sehari-hari, sehingga memerlukan dukungan pemenuhan gizi secara langsung, jelasnya.

    Terima kasih Prof Dadan, selama ini telah membimbing kami untuk menyusun satu konsep, sehingga ini sudah terintegrasi dengan MBG secara menyeluruh,” tambah Gus Ipul.

    Sementara itu, Kepala BGN Dadan Hindayana menilai sinergi tersebut akan mempermudah jangkauan layanan bagi kelompok rentan, terutama karena jaringan SPPG sudah tersedia di berbagai wilayah di Indonesia.

    “Saya kira apa yang sebenarnya jadi tugas Mensos selama ini dengan hadirnya SPPG di setiap wilayah itu akan dipermudah, karena SPPG ada di setiap wilayah di Indonesia di radius rata-rata 4 Km,” kata Dadan.

    Ia menambahkan, pembagian peran antara BGN dan Kemensos membuat proses penyediaan hingga distribusi makanan dapat berjalan lebih efektif.

    “Penyediaan makanan bisa diambil dari SPPG, kemudian yang mengantarkan tetap petugas dari Kementerian Sosial yaitu Pokmas atau caregiver. Jadi ini sinergi yang bagus mengoptimalkan fasilitasnya,” tutupnya.

  • Program MBG Tunjukkan Dampak Positif, Telah Dinikmati Puluhan Juta Peserta Didik

    Medan – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai menunjukkan dampak positif nyata karena telah dinikmati oleh puluhan juta peserta didik di berbagai daerah. Dukungan terhadap program ini kembali ditegaskan oleh Muhammadiyah dalam peresmian Tahap 3 Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di Kampus IV Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara (UMSU), Medan.

    Sekretaris Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah yang juga merupakan Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah RI, Prof. Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa dukungan terhadap MBG bukan sekadar pernyataan, melainkan telah diwujudkan melalui penandatanganan nota kesepahaman dengan BGN pada momentum Tanwir Muhammadiyah di Kupang.

    Menurutnya, komitmen tersebut sejalan dengan prinsip Muhammadiyah dalam menyiapkan generasi yang kuat secara intelektual dan fisik.

    “Program makan bergizi adalah ikhtiar menyiapkan kualitas manusia sejak dini, sehingga anak-anak dan masyarakat memiliki fondasi yang kuat untuk belajar, bertumbuh, dan berkontribusi,” tegasnya.

    Prof. Abdul Mu’ti mengaitkan arah MBG dengan konsep Islam bastatan fil ‘ilmi wal jism, yakni keunggulan ilmu dan ketangguhan raga yang berjalan beriringan.

    Ia merujuk kisah Thalut yang dinilai layak memimpin bukan karena faktor material, melainkan kekuatan fisik dan kebijaksanaan intelektual.

    “Tafsir-tafsir modern menyebut bahwa amanah besar menuntut daya lahir dan batin yang dipandu iman, ilmu, serta upaya pendidikan yang sistematis. Kontekstualisasi hari ini menempatkan ilmu sebagai seluruh pengetahuan yang bermanfaat, dan jism sebagai kesehatan, kebugaran, ketahanan mental, serta kecakapan hidup,” jelas Mu’ti.

    Menurutnya, kerangka tersebut menempatkan MBG tidak semata sebagai program pemenuhan gizi, melainkan sebagai pintu masuk pembentukan karakter dan penguatan kualitas sumber daya manusia. Generasi kuat membutuhkan tubuh yang sehat agar ilmu dapat berkembang dan diwujudkan dalam kerja nyata.

    Prof. Abdul Mu’ti juga menyerahkan buku berjudul Makan Bergizi Gratis Perspektif Islam dan Pendidikan kepada para tokoh yang hadir, sebagai bagian dari penguatan rujukan gagasan dan narasi publik mengenai pentingnya gizi serta pendidikan karakter dalam menyiapkan generasi Indonesia yang tangguh menuju Indonesia Emas 2045. #

  • Banggar DPR dan Seskab Tegaskan MBG Tidak Gunakan Anggaran Pendidikan

    JAKARTA – Penjelasan mengenai pendanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kembali dipertegas dalam pernyataan resmi antara DPR dan pemerintah. Ketua Badan Anggaran DPR RI, Said Abdullah, mengamini keterangan Sekretaris Kabinet bahwa program MBG tidak mengurangi maupun menggunakan anggaran pendidikan sebagaimana dipahami sebagian pihak.

    “Saya mengamini apa yang disampaikan oleh Pak Teddy, Menseskab, bahwa anggaran MBG dibahas dan disetujui bersama antara pemerintah dan DPR sejak 2025 dan 2026, sebagaimana tertuang dalam APBN. Seluruh fraksi bulat menyetujui APBN tahun 2025 dan 2026 yang di dalamnya menganggarkan MBG,” ujar Said Abdullah.

    Penegasan tersebut menunjukkan bahwa proses penganggaran dilakukan secara transparan dan kolektif melalui mekanisme konstitusional. MBG ditempatkan sebagai bagian dari strategi besar pembangunan sumber daya manusia tanpa mengurangi porsi pendidikan yang telah ditetapkan sesuai amanat undang-undang.

    “Dengan demikian, saya dan seluruh anggota DPR bertanggung jawab secara etik dan konstitusional atas persetujuan anggaran MBG,” tegas Said Abdullah.

    Ia menambahkan bahwa dukungan DPR terhadap MBG sejalan dengan komitmen memperkuat kualitas generasi muda melalui intervensi gizi yang terukur dan berkelanjutan.

    “Program ini diniatkan sebagai intervensi perbaikan gizi anak-anak dan kita mendukung atas hal itu. Kalau tidak mendukung tidak mungkin kami setujui pada APBN,” tambah Said Abdullah.

    Sementara itu, Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, menegaskan bahwa anggaran pendidikan tetap berada pada angka 20 persen dari APBN sesuai ketentuan konstitusi dan tidak mengalami pengurangan akibat program MBG.

    “Jadi namanya anggaran pendidikan itu 20 persen dari APBN. Nah, di tahun ini Rp 769,1 triliun, itu 20 persen. Dan itu anggaran pendidikan. Anggaran pendidikan itu apa? Banyak. Isinya, peruntukannya,” ujar Teddy Indra Wijaya.

    Ia memastikan bahwa seluruh komponen belanja telah dibahas dan disepakati bersama DPR, termasuk dalam forum Badan Anggaran.

    “Dan isinya, peruntukannya itu sudah disepakati bersama tahun lalu oleh pemerintah, DPR, dan Badan Anggaran DPR,” tegas Teddy Indra Wijaya.

    Lebih lanjut, MBG disebut sebagai program pendukung yang memperkuat fondasi pendidikan melalui peningkatan status gizi peserta didik.

    “Dan tadi, semua hal itu adalah, termasuk MBG, adalah fondasi awal untuk memperbaiki pendidikan ke depan,” tutup Teddy Indra Wijaya.

    Dengan penegasan tersebut, pemerintah dan DPR memastikan bahwa MBG berjalan tanpa mengurangi anggaran pendidikan, sekaligus memperkuat komitmen terhadap peningkatan kualitas generasi penerus bangsa. (*)

  • BPKN Dukung Langkah BGN Evaluasi Seluruh Program MBG Selama Ramadan 2026

    Jakarta – Badan Perlindungan Konsumen Nasional (BPKN) RI mendukung langkah evaluasi menyeluruh Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dilakukan Badan Gizi Nasional (BGN) selama Ramadan 2026.

    Evaluasi ini meliputi pembenahan kemasan makanan, penyesuaian komposisi gizi, peningkatan sistem distribusi, serta penguatan transparansi anggaran. Ini penting guna memastikan program pemenuhan gizi nasional tetap berjalan sesuai standar kesehatan dan prinsip perlindungan konsumen.

    Ketua BPKN, Mufti Mubarok, mengatakan Program MBG merupakan kebijakan strategis yang menyentuh langsung hak dasar masyarakat, terutama anak-anak, ibu hamil, dan kelompok rentan.

    “Evaluasi ini adalah langkah korektif yang penting agar Program MBG benar-benar menjamin pangan yang aman, bergizi, dan layak konsumsi bagi penerima manfaat,” ujar Mufti di Jakarta.

    Pelaksanaan MBG selama Ramadan, BGN menyesuaikan pola distribusi dengan menyediakan paket makanan yang dapat dibawa pulang untuk dikonsumsi saat berbuka puasa. Penyesuaian ini dilakukan untuk menjaga asupan gizi tetap terpenuhi meski pola konsumsi masyarakat berubah.

    “Kualitas kemasan juga diperkuat guna memastikan keamanan pangan selama proses pengiriman dan penyimpanan. Komposisi menu dievaluasi juga agar tetap memenuhi standar gizi nasional,” katanya.

    BPKN mengungkapkan bahwa keberhasilan Program MBG tidak hanya diukur dari jumlah penerima manfaat, tetapi juga dari kualitas layanan dan tata kelola anggarannya.

    “Program MBG harus dikelola secara transparan dan akuntabel. Hak konsumen atas informasi yang jelas, keamanan produk, serta kualitas makanan harus dijaga,” imbuh Mufti.

    BPKN juga mendorong BGN untuk terus melibatkan pemangku kepentingan, termasuk masyarakat, sekolah, dan lembaga pengawas, dalam proses evaluasi dan perbaikan program.

    “Evaluasi berkala sangat penting untuk memastikan Program MBG tidak hanya berjalan secara administratif dan, tapi benar-benar memberikan manfaat nyata bagi kesehatan dan kesejahteraan masyarakat, jadi diperlukan lembaga pengawas BGN atau semacam dewan pengawas,” ucap Mufti.

    Menurutnya, komitmen terhadap standar gizi, keamanan pangan, dan transparansi anggaran akan memperkuat kepercayaan publik terhadap Program MBG sebagai bagian dari kebijakan pemenuhan gizi nasional.

    “Pengawasan yang konsisten, sangat penting untuk memastikan perbaikan berkelanjutan dalam pelaksanaan program,” pungkasnya.

    Evaluasi yang dilakukan BGN mencakup aspek kemasan makanan, komposisi gizi, hingga transparansi penggunaan anggaran, guna memastikan Program MBG berjalan sesuai standar kesehatan dan tepat sasaran.

    Dengan evaluasi MBG Ramadan 2026 ini, pemerintah dinilai menunjukkan keseriusan dalam meningkatkan mutu layanan publik sekaligus memperkuat sistem perlindungan konsumen di sektor pangan. [*]

  • Program MBG Investasi Strategis dalam Peningkatan Mutu Pendidikan Nasional

    Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai sebagai langkah strategis pemerintah dalam memperkuat kualitas pendidikan nasional. Program yang menyasar pemenuhan gizi siswa ini tidak hanya berfokus pada aspek kesehatan anak, tetapi juga dipandang sebagai investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

    Wakil Ketua Komisi X DPR RI, Lalu Hadrian Irfani, menegaskan bahwa program MBG tidak mengganggu alokasi anggaran pendidikan sebagaimana yang sempat menjadi perdebatan di publik. Menurutnya, pemerintah justru tetap menjaga bahkan memperkuat komitmen terhadap pembiayaan sektor pendidikan.

    “Program MBG tidak mengganggu anggaran pendidikan. Justru dengan adanya MBG, tujuan pendidikan nasional kita akan semakin kuat,” ujar Hadrian.

    Ia menjelaskan bahwa berbagai rapat koordinasi antara Komisi X DPR RI dengan kementerian terkait menunjukkan bahwa program MBG memiliki mekanisme pendanaan tersendiri. Dengan demikian, program tersebut tidak memotong anggaran pendidikan yang telah dialokasikan sebelumnya dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).

    Hadrian menambahkan bahwa pemerintah bahkan menambah alokasi anggaran pendidikan melalui skema tambahan anggaran yang difokuskan untuk meningkatkan sarana dan prasarana pendidikan, mutu pembelajaran, serta kesejahteraan tenaga pendidik. Langkah ini menunjukkan bahwa program MBG berjalan seiring dengan agenda besar peningkatan kualitas pendidikan nasional.

    Program MBG dipandang sebagai kebijakan yang memiliki efek ganda. Selain membantu memenuhi kebutuhan gizi anak-anak usia sekolah, program ini juga berpotensi meningkatkan konsentrasi belajar siswa dan menekan angka putus sekolah. Asupan makanan bergizi secara rutin dinilai mampu mendukung perkembangan fisik dan kognitif peserta didik, yang pada akhirnya berdampak positif terhadap proses belajar di sekolah.

    Lebih jauh, Hadrian menilai bahwa keberadaan MBG merupakan bagian dari investasi negara dalam pembangunan generasi masa depan. Pendidikan yang berkualitas tidak hanya ditentukan oleh kurikulum dan tenaga pengajar, tetapi juga oleh kondisi kesehatan dan gizi peserta didik. Anak yang sehat dan mendapatkan nutrisi yang cukup cenderung memiliki daya serap belajar yang lebih baik.

    Ia menekankan bahwa keberhasilan program ini membutuhkan perencanaan yang matang serta pelaksanaan yang transparan dan akuntabel. Pemerintah perlu memastikan kualitas makanan yang diberikan kepada siswa benar-benar memenuhi standar gizi yang dibutuhkan. Selain itu, pengawasan yang ketat juga diperlukan agar pelaksanaan program berjalan efektif dan tepat sasaran.

    “Dengan perencanaan yang matang dan pengawasan yang baik, MBG dapat menjadi investasi strategis yang memberikan kontribusi nyata terhadap peningkatan mutu pendidikan nasional,” kata Hadrian.

    Program MBG pada akhirnya tidak hanya dipandang sebagai program bantuan pangan bagi siswa, melainkan sebagai kebijakan strategis yang memperkuat fondasi pendidikan nasional. Melalui pemenuhan kebutuhan gizi anak-anak sekolah, pemerintah berupaya menciptakan generasi yang sehat, cerdas, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

    Program MBG menjadi bukti bahwa peningkatan kualitas pendidikan dapat ditempuh melalui pendekatan yang lebih komprehensif, yakni dengan mengintegrasikan aspek kesehatan, kesejahteraan, dan pembelajaran dalam satu kebijakan pembangunan sumber daya manusia. Dukungan berbagai pihak, termasuk parlemen, diharapkan dapat memastikan program ini berjalan optimal demi mewujudkan pendidikan nasional yang semakin berkualitas.

  • Pengamat Dukung Penuh Penempatan MBG dalam Fungsi Pendidikan

    Jakarta — Pengamat kebijakan publik Trubus Rahardiansyah menyatakan dukungan penuh terhadap penempatan program Makan Bergizi Gratis (MBG) dalam fungsi pendidikan.

    Menurutnya, penempatan program MBG dalam ranah pendidikan sudah sesuai, karena berkontribusi pada peningkatan kesiapan belajar siswa serta menjadi bagian dari investasi jangka panjang pembangunan sumber daya manusia.

    “Anak-anak yang sehat dan terpenuhi kebutuhan gizinya akan memiliki kesiapan belajar yang jauh lebih baik di sekolah,” jelasnya.

    Trubus menilai bahwa penerima manfaat utama MBG adalah peserta didik yang menjadi subjek sentral dalam sistem pendidikan nasional.

    “Dalam pendekatan pembangunan sumber daya manusia, intervensi gizi terhadap peserta didik adalah bagian tak terpisahkan dari ekosistem pendidikan itu sendiri,” ungkap Trubus, yang juga Ketua Umum Asosiasi Analis Kebijakan Indonesia (AAKI).

    Dirinya menyebut bahwa kesehatan dan nutrisi yang baik secara langsung berkorelasi dengan kemampuan kognitif dan konsentrasi belajar siswa. Program Makan Bergizi Gratis bertujuan untuk memastikan bahwa setiap anak memiliki fondasi fisik yang kuat untuk menyerap ilmu pengetahuan secara optimal.

    “Dengan gizi yang tercukupi, diharapkan angka putus sekolah dapat berkurang dan prestasi akademik siswa meningkat,” sebutnya.

    Penempatan program ini dalam lingkup fungsi pendidikan dinilai sebagai pendekatan menyeluruh dan terintegrasi guna mendukung pencapaian tujuan pendidikan nasional secara lebih komprehensif, efektif, serta berkelanjutan dalam jangka panjang bagi peningkatan kualitas generasi penerus bangsa.

    “Investasi pada gizi anak sekolah bukan hanya tentang makanan, melainkan juga tentang menciptakan lingkungan belajar yang kondusif,” kata Trubus.

    Dengan menempatkan program ini dalam fungsi pendidikan, implementasi dan pengawasannya dinilai akan lebih terarah, terukur, serta terintegrasi dengan agenda peningkatan kualitas sumber daya manusia. [-RWA]

  • MBG Ciptakan Kebiasaan Makan Anak-Anak Jadi Lebih Sehat

    Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah berjalan selama satu tahun berhasil menciptakan perubahan positif signifikan dalam kebiasaan makan anak-anak Indonesia.

    Hasil kajian Research Institute of Socio-Economic Development (RISED) menunjukkan bahwa setelah mengikuti program ini, banyak anak menjadi lebih rutin mengonsumsi makanan bergizi dan tidak lagi pilih-pilih dalam memilih makanan.

    Direktur RISED, M. Fajar Rachmadi, menyampaikan bahwa temuan dari survei mendalam itu menggambarkan keterlibatan orang tua dalam perubahan pola makan anak.

    “Salah satu temuan dari pertanyaan mendalam kami kepada para orang tua siswa penerima MBG adalah, mereka tahu bahwa orang tualah yang bertanggung jawab memenuhi gizi dan kebutuhan anak mereka. Kehadiran MBG ini justru memberikan rasa tenang kepada keluarga ketika anak-anak mereka di sekolah dan survei kami menunjukkan, 55% orang tua setuju bahwa kebiasaan anaknya berubah menjadi tidak pilih-pilih makanan, setelah adanya program MBG,” ujar Fajar.

    Hasil survei yang melibatkan sekitar 1.800 orang tua turut menunjukkan dukungan kuat dari keluarga prasejahtera terhadap keberlanjutan program ini, dengan 81 persen responden menyatakan setuju agar MBG terus dilaksanakan.

    “Menariknya lagi, ketika anak-anaknya bisa mendapatkan makanan di sekolah, orang tua juga merasa aman,” tambah Fajar.

    Dukungan terhadap MBG tidak hanya datang dari kalangan orang tua. Dokter Spesial Penyakit Dalam, dr. Andi Khomeini Takdir, Sp.PD-KPsi, menyebut MBG sebagai gagasan yang sangat baik dalam membentuk kebiasaan makan sehat sejak dini.

    “Jadi MBG menurut saya adalah program dengan niat yang bagus. Saya bisa memahami niat dari Presiden Prabowo dalam menginisiasi MBG ini karena saya pikir ini idenya sangat bagus,” ujar dr. Andi, menegaskan bahwa menu harian yang beragam membantu anak-anak menerima variasi makanan yang lebih sehat.

    Secara langsung, MBG juga berdampak pada semangat belajar siswa di sekolah. Evaluasi dari Laboratorium Sosiologi Universitas Indonesia (LabSosio UI) mencatat bahwa 66,4 persen murid merasa lebih bersemangat mengikuti pelajaran setelah menerima makanan bergizi dari program ini, menunjukkan keterkaitan antara asupan gizi dengan energi dan konsentrasi belajar.

    Manfaat program ini kian dirasakan oleh sekolah-sekolah di berbagai daerah.

    “Anak-anak lebih aktif bertanya dan lebih ceria sepanjang hari,” ucap Kepala SD Negeri 24 Rufei di Kota Sorong, Sientje Martentji Ajomi.

    Dengan berbagai dampak positif tersebut, MBG kini dinilai bukan sekadar program pemberian makanan, tetapi sebuah upaya strategis membentuk kebiasaan makan sehat yang berkelanjutan dan meningkatkan kualitas hidup generasi masa depan Indonesia.

  • Ramadan 2026, Skema Bansos Ganda Diluncurkan untuk Ringankan Beban Keluarga Prasejahtera

    Jakarta – Menteri Sosial, Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menyampaikan proses penyaluran bantuan sosial (bansos) reguler pada triwulan pertama 2026 terus berjalan.

    Hingga awal bulan suci Ramadan ini, tercatat realisasi penyaluran bansos reguler telah mencapai 90 persen secara nasional sebagai bagian dari komitmen pemerintah menjaga daya beli dan ketahanan keluarga prasejahtera.

    “Alhamdulillah proses penyaluran bansos reguler terus berjalan dan sekarang sudah lebih dari 90 persen secara nasional, untuk Program Keluarga Harapan (PKH) maupun untuk Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) atau bantuan sembako,” kata Gus Ipul.

    Penyaluran tersebut mencakup dua program utama, yakni Program Keluarga Harapan (PKH) dan Bantuan Pangan Non-Tunai (BPNT) atau bantuan sembako, yang menyasar jutaan keluarga penerima manfaat (KPM) di seluruh Indonesia.

    Skema ini menjadi fondasi perlindungan sosial rutin yang setiap tahunnya diperkuat menjelang Ramadan, ketika kebutuhan rumah tangga cenderung meningkat.

    Tak hanya bansos reguler, Kementerian Sosial (Kemensos) juga menggulirkan bansos adaptif atau kebencanaan di wilayah terdampak bencana seperti Provinsi Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat.

    Untuk tiga provinsi tersebut, Kemensos telah menyalurkan bansos PKH dan sembako kepada 1.763.038 keluarga penerima manfaat dengan total anggaran Rp 1,8 triliun.

    “Bansos reguler untuk tiga provinsi itu diberikan kepada 1.763.038 keluarga penerima manfaat, nilai anggarannya Rp 1,8 triliun,” ujarnya.

    Pada masa rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana Sumatera, Kemensos juga menyalurkan bantuan jaminan hidup kepada 175.211 penerima manfaat sebesar Rp 450 ribu per orang selama tiga bulan, dengan total anggaran lebih dari Rp 238 miliar.

    “Nilainya Rp 238 miliar lebih, ini sudah mulai proses salur, karena tentu penerima manfaatnya sudah terverifikasi. Mulai dari usulan pemerintah daerah dan ditandatangani oleh Pak Mendagri sebagai Ketua Satgas Percepatan Rekonstruksi dan Rehabilitasi. Lalu kita mulai salurkan secara bertahap melalui PT POS maupun juga BSI,” jelas Gus Ipul.

    Bantuan lainnya berupa isian rumah bagi lebih dari 47 ribu KPM dengan nilai lebih dari Rp 143 miliar, masing-masing keluarga menerima Rp 3 juta.

    Sejalan dengan itu, Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sebelumnya menegaskan bahwa pemerintah juga menyiapkan bantuan pangan tambahan sebagai stimulus ekonomi Ramadan 2026.

    “Bantuan pangan untuk memperluas daya beli dan memperkuat dari sisi demand side, pemerintah juga menyalurkan bantuan pangan,” kata Airlangga Hartarto dikutip dari YouTube resmi PerekonomianRI.

    Melalui skema bansos ganda—reguler dan adaptif—pemerintah ingin memastikan perlindungan sosial berjalan komprehensif di bulan Ramadan.

    [w.R]

  • Mendukung Disiplin Operasional Demi Integritas MBG

    Oleh : Rivka Mayangsari*)

    Komitmen negara dalam membangun generasi sehat dan unggul tidak hanya diwujudkan melalui kebijakan besar, tetapi juga melalui disiplin operasional di lapangan. Inilah yang kini ditegaskan oleh Badan Gizi Nasional (BGN) dalam pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Penguatan pengawasan dan penegakan aturan menjadi langkah nyata untuk memastikan setiap proses berjalan sesuai standar, transparan, dan berorientasi pada kepentingan anak-anak Indonesia sebagai penerima manfaat utama.

    Salah satu fokus utama BGN adalah penegakan disiplin penggunaan mobil operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Kendaraan tersebut secara tegas dilarang digunakan untuk kepentingan pribadi, seperti berbelanja atau urusan lain di luar distribusi MBG. Mobil operasional merupakan bagian vital dari rantai distribusi makanan bergizi. Penyimpangan sekecil apa pun berpotensi mengganggu efektivitas dan kredibilitas program.

    Wakil Kepala BGN, Nanik Sudaryati Deyang, dalam Rapat Koordinasi bersama Kepala SPPG, Pengawas Keuangan, dan Pengawas Gizi se-Solo Raya, menegaskan pentingnya penggunaan kendaraan sesuai peruntukannya. Ketegasan BGN bukan sekadar imbauan administratif. Nanik yang juga membidangi Komunikasi Publik dan Investigasi menegaskan sanksi tegas bagi Kepala SPPG yang terbukti melanggar aturan. Ancaman sanksi ini mencerminkan keseriusan BGN dalam menjaga marwah program strategis nasional. MBG bukan sekadar distribusi makanan, melainkan investasi negara terhadap kualitas sumber daya manusia. Karena itu, integritas pelaksanaannya tidak boleh ditawar.

    BGN juga menekankan pentingnya independensi Kepala SPPG. Mereka diminta menolak tegas jika ada mitra atau pemasok yang mencoba memanfaatkan kendaraan operasional untuk kepentingan di luar distribusi MBG. BGN menegaskan bahwa pemasok wajib menyediakan kendaraan sendiri untuk mengangkut bahan pangan ke dapur SPPG. Ketegasan ini bertujuan menghindari konflik kepentingan dan memastikan tidak ada celah penyimpangan dalam rantai logistik.

    Dengan menjaga independensi, Kepala SPPG dapat fokus pada misi utama: memastikan makanan bergizi sampai tepat waktu dan dalam kondisi aman kepada anak-anak penerima manfaat. Disiplin operasional bukan sekadar soal aturan teknis, tetapi bagian dari etika pelayanan publik yang mengutamakan kepentingan masyarakat.

    Selain kendaraan operasional, BGN memberi perhatian besar pada pengawasan bahan baku pangan. Proses penerimaan bahan baku di dapur SPPG dinilai sebagai titik krusial dalam menjaga keamanan pangan. Pengawas Gizi, Pengawas Keuangan, dan Asisten Lapangan diwajibkan hadir saat bahan pangan tiba, melakukan pengecekan menyeluruh terhadap kualitas, kesegaran, dan kelayakan bahan.

    Ketiga unsur pengelola dapur tersebut memiliki tanggung jawab yang saling melengkapi. Pengawas Gizi memastikan kualitas nutrisi dan keamanan bahan. Pengawas Keuangan menjamin kesesuaian dengan standar pengadaan. Sementara Asisten Lapangan mengawasi kesesuaian prosedur operasional. Kolaborasi ini menjadi benteng pertama untuk mencegah potensi masalah sebelum makanan diolah dan didistribusikan.

    Nanik mengungkapkan bahwa dalam sejumlah kasus keamanan pangan di beberapa SPPG, indikasi bahan baku kurang segar sebenarnya telah terpantau sejak awal, tetapi tidak ditindaklanjuti secara tegas. Fakta ini menjadi pelajaran penting bahwa pengawasan harus disertai keberanian mengambil keputusan. Menolak bahan baku yang tidak memenuhi standar bukanlah tindakan berlebihan, melainkan bentuk perlindungan terhadap anak-anak penerima manfaat.

    BGN menegaskan prinsip pencegahan sebagai prioritas utama. Mencegah jauh lebih baik daripada menangani dampak keracunan atau gangguan kesehatan. Setiap kelalaian dapat merusak kepercayaan publik terhadap program MBG yang telah dirancang dengan visi besar untuk memperbaiki status gizi anak-anak Indonesia.

    Program MBG sendiri merupakan program strategis pemerintah yang bertujuan meningkatkan kualitas gizi, mencegah stunting, memperkuat daya tahan tubuh, dan mendukung perkembangan kognitif anak-anak, terutama dari keluarga kurang mampu. Dengan asupan makanan bergizi secara teratur, anak-anak memiliki peluang lebih besar untuk tumbuh sehat, berprestasi di sekolah, dan menjadi generasi produktif di masa depan.

    Wakil Gubernur Jawa Tengah, Taj Yasin Maimoen pun juga meminta Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Makan Bergizi Gratis (MBG) memperketat standar operasional, mulai dari pengemasan, penyimpanan, hingga pengiriman makanan. Keberhasilan MBG sangat bergantung pada komitmen kolektif. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, pengelola dapur, mitra, hingga masyarakat memiliki peran penting dalam menjaga program ini tetap bersih, efektif, dan berkelanjutan. Pengawasan ketat, evaluasi berkala, serta peningkatan kapasitas pengelola dapur menjadi pilar utama untuk memastikan program berjalan optimal.

    Pengetatan pengawasan distribusi, larangan tegas penggunaan mobil operasional di luar peruntukan, serta penguatan pengawasan bahan baku menunjukkan bahwa BGN tidak hanya fokus pada ekspansi program, tetapi juga kualitas pelaksanaan. Integritas operasional menjadi fondasi utama agar setiap rupiah anggaran benar-benar memberikan manfaat maksimal.

    BGN juga mengajak masyarakat untuk turut serta mengawasi pelaksanaan MBG dan melaporkan setiap indikasi penyimpangan. Partisipasi publik akan memperkuat akuntabilitas dan memperkecil ruang penyalahgunaan. Dengan disiplin yang konsisten dan komitmen bersama, Program Makan Bergizi Gratis dapat menjadi model kebijakan sosial yang tidak hanya besar dalam visi, tetapi juga kokoh dalam pelaksanaan.

    Pada akhirnya, mendukung disiplin operasional berarti mendukung masa depan anak-anak Indonesia. Integritas MBG adalah integritas investasi bangsa. Dengan tata kelola yang bersih, pengawasan ketat, dan keberanian menegakkan aturan, MBG akan terus menjadi simbol komitmen negara dalam membangun generasi sehat, cerdas, dan berdaya saing tinggi.

    *) Pemerhati sosial