Penulis: restiana818@gmail.com

  • Relaunching AMANAH Sukses Digelar, Wadah Pemuda Aceh Menuju Daya Saing Global

    Banda Aceh – Relaunching Yayasan Aneuk Muda Aceh Unggul dan Hebat atau AMANAH berlangsung dengan sangat meriah. AMANAH hadir sebagai wadah pemberdayaan generasi muda Aceh yang bertumpu pada inovasi teknologi, kewirausahaan berbasis komoditas lokal, sekaligus selaras dengan Asta Cita Presiden Prabowo, khususnya dalam hal hilirisasi industry.

    Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya, dalam sambutannya mengatakan, mengacu pada Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya poin ke-3 tentang peningkatan tenaga kerja berkualitas melalui pengembangan industri kreatif.

    “Industri kreatif dipandang sebagai sektor strategis untuk menciptakan lapangan kerja berkualitas berbasis keterampilan yang harus terus diasahhadiran AMANAH di Aceh diharapkan menjadi wadah untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas SDM kreatif daerah,” kata Teuku Riefky Harsya.

    Dirinya menyebut bahwa Asta Cita poin ke-5 menekankan pentingnya hilirisasi guna meningkatkan nilai tambah ekonomi, dimana hilirisasi tidak hanya berlaku untuk sektor tambang, tetapi juga industri kreatif, sepert fashion, parfum, film dan aplikasi asing menjadi produk lokal

    “Target utama adalah menjadikan Indonesia, termasuk Aceh, sebagai pemain industri kreatif di tingkat global,” tuturnya.

    Sementara itu, Ketua Yayasan AMANAH, Syaifullah Muhammad, menjelaskan bahwa visi utama lembaga ini adalah mewujudkan generasi muda Aceh yang inovatif, mandiri, dan berdaya saing global.

    “Misi yang kami jalankan, yaitu, mengembangkan ekosistem kewirausahaan berbasis inovasi, mendorong pemanfaatan teknologi di berbagai sektor, memberdayakan UMKM dan ekonomi lokal, meningkatkan kapasitas dan kompetensi pemuda melalui pelatihan, serta mewujudkan pembangunan berkelanjutan berbasis komunitas”, kata Syaifullah.

    Dirinya berharap AMANAH menjadi salah satu stakeholder yang menggerakkan anak muda Aceh agar mampu bersaing di tingkat lokal, nasional, hingga global.

    Salah satu unggulan yang dikembangkan adalah teknologi pemurnian minyak nilam menggunakan molecular distillation and fractionation — teknologi yang juga digunakan oleh Prancis dan Amerika Serikat.

    “Dengan teknologi ini, minyak nilam bisa masuk ke grade kosmetik, skincare, hingga parfum. Ini penting karena selama ini bahan mentah dari Indonesia diekspor, lalu kita membeli kembali dalam bentuk produk jadi,” jelasnya.

    Melalui teknologi ini, minyak nilam asal Aceh tidak lagi diekspor dalam bentuk bahan mentah, melainkan diolah hingga memenuhi standar kosmetik, skincare, dan parfum berkualitas tinggi. AMANAH bahkan telah memiliki fasilitas produksi dan formulasi kosmetik serta parfum untuk mendukung substitusi impor.

    “Jika ini berjalan, maka hilirisasi benar-benar terjadi di dalam negeri, dari bahan baku hingga produk akhir. Ini akan menjadi gerakan ekonomi yang sangat besar,” tega Syaifullah. [-RWA]

  • Relaunching AMANAH Jadi Momentum Besar Dorong Pemuda Aceh Tembus Pasar Global

    Aceh – Ketua Yayasan AMANAH Saifullah Muhammad mengatakan Relaunching AMANAH kali ini menjadi momentum strategis konsolidasi pengurus dan badan pekerja dalam memperkuat peran pemuda Aceh yang unggul, produktif, dan berdaya saing.

    Hal tesebut diungkapkan Ketua Yayasan AMANAH Saifullah Muhammad saat menyampaikan pidatonya dalam acara relaunching AMANAH di Aceh.

    Menurut Saifullah, diakui ada yang perlu divaluasi agar ditengah keterbatasan yang ada, pemuda Aceh didorong untuk dapat lebih berperan baik di skala nasional maupun global.

    “Evaluasi kondisi awal fasilitas menunjukkan berbagai keterbatasan mendasar namun pemuda Aceh didorong untuk mampu berkompetisi tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga di level global. Program AMANAH diproyeksikan sebagai gelombang peluang yang harus dimanfaatkan secara maksimal oleh generasi muda,” tuturnya.

    Ia menilai pintingnya peran pemangku kepentingan agar dapat menyelesaikan masalah dengan cepat dan tepat serta pengembangan ekonomi kreatif dapat terus berkembang dengan mengoptimalkan potensi besar Aceh.

    “Peran pemangku kepentingan menjadi krusial sebagai problem solver yang mampu menyelesaikan persoalan secara cepat dan tepat. Pengembangan ekonomi kreatif tidak semata bergantung pada besarnya modal, melainkan pada kemauan, manajemen yang efektif, dan kolaborasi yang kuat. Potensi besar Aceh harus dikelola secara optimal agar dapat berkembang dengan pesat dan tidak dimanfaatkan pihak luar,” ujarnya.

    Ditambahkannya dengan fasilitas tersedia saat ini dapat dimaksimalkan agar ada ruang kreatifitas yang tumbuh dan adanya peningkatan daya saing pemuda Aceh.

    “Fasilitas yang tersedia dinilai memadai dan harus dimaksimalkan sebagai ruang tumbuh kreativitas serta peningkatan daya saing pemuda.

    Disisi lain perlunya akses pembiayaan dan penguatan ekosistem usaha agar kualitas produk yang dihasilkan memiliki daya saing nasional maupun internasional.

    “Akses pembiayaan, termasuk kredit UMKM, perlu diiringi dengan pelatihan dan pendampingan yang berkelanjutan untuk meminimalisir risiko kegagalan. Penguatan ekosistem usaha menjadi kunci, mencakup tidak hanya aspek produksi, tetapi juga distribusi dan pemasaran. Produk yang dihasilkan harus memiliki kualitas unggul dan daya saing tinggi agar mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional,” pungkasnya.

    Sementara itu, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan mengacu pada Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya poin ke-3 tentang peningkatan tenaga kerja berkualitas melalui pengembangan industri kreatif, peran pemuda Aceh dapat terus di tingkatkan.

    “Industri kreatif dipandang sebagai sektor strategis untuk menciptakan lapangan kerja berkualitas berbasis keterampilan (skill) yang harus terus diasah,” katanya.

    Menurutnya, kehadiran AMANAH di Aceh menjadi wadah untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas SDM kreatif daerah.

    “Target utama adalah menjadikan Indonesia, termasuk Aceh, sebagai pemain industri kreatif di tingkat global. Indonesia memiliki potensi besar karena kekayaan budaya yang kuat sebagai fondasi pengembangan industri kreatif’ jelasnya.

    Relaunching AMANAH diharapkan menjadi pusat aktivitas kreatif untuk kurasi, pengembangan ide, dan inkubasi bisnis pemuda Aceh dengan kolaborasi bersama perguruan tinggi dalam lingkup hilirisasi yang diyakini dapat menarik investasi lebih besar, tutupTeuku Riefky.

  • Pasca Relaunching AMANAH, Hilirisasi dan Ekonomi Kreatif Jadi Motor Penguatan SDM Aceh

    ACEH BESAR — Pasca Relaunching Aneuk Muda Aceh Unggul Hebat (AMANAH), penguatan ekonomi kreatif berbasis hilirisasi dan kolaborasi lintas sektor langsung menjadi fokus utama dalam mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) Aceh.

    Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menegaskan bahwa AMANAH selaras dengan arah pembangunan nasional sebagaimana tertuang dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam pengembangan tenaga kerja berkualitas melalui industri kreatif.

    “Industri kreatif dipandang sebagai sektor strategis untuk menciptakan lapangan kerja berkualitas berbasis keterampilan (skill) yang harus terus diasah,” ujarnya.

    Ia menekankan bahwa hilirisasi tidak hanya terbatas pada sektor sumber daya alam, tetapi juga harus diperluas ke sektor ekonomi kreatif.

    “Hilirisasi tidak hanya berlaku untuk sektor tambang, tetapi juga industri kreatif, seperti fashion asing menjadi produk lokal, parfum asing menjadi produk lokal, film asing menjadi produksi lokal, hingga aplikasi asing menjadi karya lokal,” jelasnya.

    Menurutnya, AMANAH memiliki peran strategis sebagai pusat aktivitas kreatif yang mampu mengkurasi ide, menginkubasi bisnis, serta membuka akses pembiayaan dan pemasaran bagi pelaku ekonomi kreatif.

    “Target utama adalah menjadikan Indonesia, termasuk Aceh, sebagai pemain industri kreatif di tingkat global,” tegasnya.

    Gubernur Aceh Muzakir Manaf turut menegaskan bahwa relaunching AMANAH menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi lintas sektor di daerah.

    “Gedung AMANAH diharapkan menjadi wadah sinergi antara pemerintah, pelaku ekonomi kreatif, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya dalam mengembangkan potensi daerah,” ujarnya.

    Ia menambahkan bahwa pendekatan kolaboratif yang diusung melalui AMANAH diyakini mampu memberikan dampak nyata dalam menjawab tantangan sosial ekonomi, termasuk pengangguran dan kemiskinan.

    “Fokus pascarelaunching adalah menghadirkan program yang lebih terarah dan berkelanjutan untuk mengurangi pengangguran dan kemiskinan,” katanya.

    Sementara itu, Ketua Yayasan AMANAH Syaifullah Muhammad menegaskan bahwa fase pascarelaunching menjadi momentum konsolidasi dan percepatan program.

    “Visi utama kami adalah pengembangan generasi muda Aceh yang inovatif, mandiri, dan berdaya saing global,” ujarnya.

    Ia menyoroti pentingnya hilirisasi komoditas lokal sebagai kunci peningkatan nilai tambah ekonomi daerah.

    “Selama ini kita hanya berhenti di komoditas mentah. Padahal, sesuai visi hilirisasi pemerintah, kita harus menciptakan nilai tambah,” katanya.

    Menurutnya, AMANAH telah mengembangkan teknologi pemurnian minyak nilam agar dapat masuk ke industri bernilai tinggi seperti kosmetik dan parfum.

    “Jika ini berjalan, maka hilirisasi benar-benar terjadi di dalam negeri—dari bahan baku hingga produk akhir. Ini akan menjadi gerakan ekonomi yang sangat besar,” tegasnya.

    Ia juga menekankan pentingnya penguatan ekosistem usaha secara menyeluruh, mulai dari produksi hingga pemasaran.

    “Kami ingin produk mereka tidak hanya bagus, tetapi juga siap masuk pasar dengan standar tinggi,” ujarnya.

    Selain itu, AMANAH mengusung kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media sebagai fondasi pengembangan berkelanjutan.

    Dengan langkah pascarelaunching ini, AMANAH diharapkan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi kreatif sekaligus ruang tumbuh bagi generasi muda Aceh untuk bersaing di tingkat nasional hingga global.

  • Relaunching AMANAH Jadi Pusat Kolaborasi, Aceh Bidik Peran Global di Industri Kreatif

    Aceh – Penguatan peran AMANAH sebagai pusat kolaborasi mulai menunjukkan arah konkret dalam mendorong pengembangan industri kreatif di Aceh. Setelah momentum relaunching, berbagai langkah strategis diarahkan untuk memastikan program berjalan optimal dan memberikan dampak nyata bagi peningkatan daya saing daerah.

    Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menegaskan bahwa pengembangan sektor ini selaras dengan agenda nasional.

    “Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya poin ketiga, menekankan pentingnya peningkatan tenaga kerja berkualitas melalui pengembangan industri kreatif,” ujarnya.

    Ia menambahkan, industri kreatif menjadi sektor strategis karena berbasis keterampilan yang harus terus dikembangkan.

    “Dengan penguatan skill, sektor ini mampu menciptakan lapangan kerja berkualitas dan berkelanjutan,” katanya.

    Sejalan dengan itu, Gubernur Aceh, Muzakir Manaf menyampaikan bahwa pemanfaatan Gedung AMANAH kini difokuskan sebagai pusat aktivitas bersama lintas sektor.

    “Fasilitas ini harus dimaksimalkan sebagai ruang kolaborasi antara pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan komunitas kreatif,” ujarnya.

    Ia menilai pendekatan berbasis sinergi menjadi langkah efektif dalam menjawab tantangan sosial ekonomi di Aceh.

    “Melalui kolaborasi yang kuat, program-program yang dijalankan diharapkan mampu menekan pengangguran dan kemiskinan secara lebih terarah,” tambahnya.

    Dalam pengembangannya, konsep hilirisasi turut menjadi perhatian utama guna meningkatkan nilai tambah ekonomi.

    “Hilirisasi tidak hanya berlaku di sektor tambang, tetapi juga pada industri kreatif seperti fashion, parfum, film, hingga aplikasi digital yang dapat dikembangkan menjadi produk lokal unggulan,” jelasnya.

    Menurutnya, kekayaan budaya yang dimiliki menjadi modal penting untuk mendorong Aceh tampil sebagai bagian dari kekuatan industri kreatif global.

    Lebih lanjut, AMANAH diarahkan menjadi pusat kurasi ide, inkubasi bisnis, serta penguatan komersialisasi kekayaan intelektual. Kolaborasi multipihak terus diperkuat dengan melibatkan perguruan tinggi, dunia usaha, lembaga keuangan, dan komunitas.

    “Sinergi ini penting untuk menjawab berbagai tantangan, mulai dari pembiayaan, pemasaran, hingga perlindungan kekayaan intelektual,” ungkapnya.

    Dengan penguatan ekosistem tersebut, program AMANAH kini difokuskan pada perluasan akses pendanaan, peningkatan promosi, serta dorongan ekspor produk kreatif. Upaya ini diharapkan mampu meningkatkan investasi sekaligus membuka lapangan kerja baru.

    “Kita optimistis, melalui langkah kolaboratif ini, Aceh dapat memperkuat posisinya tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga di level global,” tutupnya.

  • Transformasi Besar Dimulai! Relaunching AMANAH Aceh Jadi Game Changer Industri Kreatif

    Aceh – Relaunching AMANAH Aceh yang telah digelar menjadi momentum strategis dalam memperkuat pengembangan ekonomi kreatif berbasis sumber daya manusia unggul di daerah.

    Program ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah dalam mendorong peningkatan tenaga kerja berkualitas serta hilirisasi industri kreatif sebagai motor baru pertumbuhan ekonomi nasional.

    Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menegaskan bahwa penguatan sektor ekonomi kreatif merupakan bagian penting dari Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam menciptakan lapangan kerja berbasis keterampilan.

    Menurutnya, industri kreatif memiliki potensi besar untuk menyerap tenaga kerja sekaligus meningkatkan nilai tambah ekonomi melalui inovasi dan kreativitas.

    “Industri kreatif adalah sektor strategis yang mampu menciptakan lapangan kerja berkualitas berbasis skill. Kehadiran AMANAH di Aceh diharapkan menjadi wadah untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas SDM kreatif daerah,” ujar Teuku Riefky Harsya.

    Ia menambahkan, konsep hilirisasi yang selama ini identik dengan sektor sumber daya alam kini juga diperluas ke industri kreatif.

    Produk-produk asing, seperti fashion, parfum, film, hingga aplikasi digital, didorong untuk dikembangkan menjadi karya lokal yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan mampu bersaing di pasar global.

    “Target kita jelas, menjadikan Indonesia, termasuk Aceh, sebagai pemain utama industri kreatif di tingkat global. Kita punya kekayaan budaya yang kuat sebagai fondasi, tinggal bagaimana dikelola dengan baik,” katanya.

    Namun demikian, ia mengakui bahwa pengembangan sektor ini masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari keterbatasan data, akses pembiayaan, infrastruktur, hingga perlindungan kekayaan intelektual.

    Untuk itu, pemerintah mendorong kolaborasi multipihak dalam ekosistem AMANAH yang melibatkan pemerintah, akademisi seperti Universitas Syiah Kuala, dunia usaha, lembaga keuangan, serta komunitas kreatif.

    Sementara itu, Ketua Yayasan AMANAH, Dr. Saifullah Muhammad, menilai relaunching ini sebagai langkah penting untuk mengonsolidasikan peran pemuda Aceh dalam pembangunan ekonomi daerah.

    Ia menekankan pentingnya memanfaatkan potensi yang ada secara optimal agar tidak terbuang sia-sia.

    “Relaunching AMANAH menjadi momentum strategis untuk memperkuat peran pemuda Aceh yang unggul, produktif, dan berdaya saing,” ujarnya.

    “Potensi Aceh sangat besar. Jika tidak kita kelola dengan baik, maka akan dimanfaatkan oleh pihak luar. Karena itu, fasilitas yang ada harus menjadi ruang tumbuh kreativitas dan peningkatan daya saing pemuda,” tambahnya.

    Lebih lanjut, Saifullah menekankan pentingnya penguatan ekosistem usaha, tidak hanya dari sisi produksi, tetapi juga distribusi dan pemasaran.

    Ia juga mendorong agar akses pembiayaan, termasuk kredit UMKM, disertai dengan pendampingan yang berkelanjutan agar mampu meminimalisir risiko kegagalan usaha.

    Dengan relaunching ini, AMANAH diharapkan menjadi pusat inkubasi ide, pengembangan bisnis, serta komersialisasi kekayaan intelektual. Program ini juga diproyeksikan mampu meningkatkan investasi, mendorong ekspor produk kreatif, serta membuka lapangan kerja baru bagi generasi muda Aceh.

  • Hilirisasi Ekonomi Kreatif: Jalan Strategis AMANAH Mendorong Kebangkitan Pemuda Aceh Menuju Indonesia Mandiri

    Oleh Yohana Suliastri )*

    Pasca gelaran relaunching program Anak Muda Aceh Unggul Hebat (AMANAH) dengan tema “Sinergi Muda Berdaya: Menciptakan Ekosistem Kreatif Anak Muda Aceh Unggul dan Hebat Menuju Indonesia Mandiri”, arah baru pembangunan ekonomi kreatif di Aceh menemukan momentumnya. Kegiatan tersebut bukan sekadar seremoni, melainkan penanda dimulainya fase konsolidasi yang lebih terstruktur dalam membangun ekosistem kreatif berbasis kolaborasi lintas sektor. Di tengah tantangan ekonomi global dan kebutuhan penciptaan lapangan kerja yang semakin mendesak, AMANAH hadir sebagai instrumen strategis yang menghubungkan potensi pemuda Aceh dengan peluang ekonomi yang lebih luas.

    Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menegaskan bahwa pengembangan ekonomi kreatif sejalan dengan visi besar Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam upaya meningkatkan kualitas tenaga kerja melalui sektor berbasis keterampilan. Industri kreatif dinilai memiliki keunggulan karena tidak hanya mengandalkan sumber daya alam, tetapi juga kreativitas, inovasi, dan kemampuan adaptasi generasi muda. Dalam konteks ini, AMANAH diposisikan sebagai ruang strategis untuk meningkatkan kapasitas sumber daya manusia kreatif di Aceh agar mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.

    Lebih jauh, konsep hilirisasi yang selama ini identik dengan sektor tambang kini diperluas ke ranah industri kreatif. Teuku Riefky Harsya mendorong transformasi produk-produk kreatif agar memiliki nilai tambah yang lebih tinggi, seperti adaptasi produk asing menjadi karya lokal yang berdaya saing. Pendekatan ini membuka peluang bagi pelaku kreatif Aceh untuk tidak hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen yang mampu menciptakan produk unggulan, mulai dari fashion, parfum, film, hingga aplikasi digital. Dengan fondasi budaya yang kuat, Indonesia, termasuk Aceh, memiliki modal besar untuk menjadi pemain global dalam industri kreatif.

    Namun demikian, tantangan yang dihadapi sektor ini tidak dapat diabaikan. Permasalahan terkait ketersediaan data, akses pembiayaan, infrastruktur, sistem pemasaran, hingga perlindungan kekayaan intelektual menjadi pekerjaan rumah yang harus diselesaikan secara sistematis. Menjawab hal tersebut, pendekatan kolaboratif menjadi kunci utama. Melalui AMANAH, sinergi antara pemerintah, akademisi seperti Universitas Syiah Kuala, dunia usaha, lembaga keuangan seperti Bank Syariah Indonesia, serta komunitas kreatif diharapkan mampu membangun ekosistem yang solid dan berkelanjutan.

    Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, melihat relaunching AMANAH sebagai momentum penting untuk mengoptimalkan fungsi gedung yang diresmikan sebagai pusat aktivitas kreatif. Kehadiran fasilitas ini diharapkan menjadi ruang temu berbagai pemangku kepentingan dalam merancang program pemberdayaan ekonomi yang lebih terarah. Kolaborasi lintas sektor yang diusung melalui AMANAH diyakini mampu memberikan solusi konkret terhadap persoalan sosial ekonomi di Aceh, khususnya dalam menekan angka pengangguran dan kemiskinan.

    Dalam perspektif kelembagaan, Ketua Yayasan AMANAH, Dr. Saifullah Muhammad, menekankan bahwa relaunching ini juga menjadi titik awal konsolidasi internal untuk memperkuat peran pemuda Aceh sebagai motor penggerak ekonomi kreatif. Ia mengungkapkan bahwa pada tahap awal, fasilitas yang ada menghadapi berbagai keterbatasan mendasar. Namun, kondisi tersebut justru menjadi pengingat pentingnya optimalisasi aset agar tidak terbengkalai dan dapat memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat. Pendekatan solutif dan kolaboratif dinilai lebih relevan dibandingkan saling menyalahkan, terutama dalam menghadapi tantangan pembangunan.

    Saifullah Muhammad juga menegaskan bahwa keberhasilan pengembangan ekonomi kreatif tidak semata ditentukan oleh besarnya modal, tetapi lebih pada kualitas manajemen, kemauan untuk berkembang, serta kekuatan kolaborasi. Dengan pengelolaan yang tepat, potensi besar Aceh dapat dioptimalkan sehingga tidak diambil alih oleh pihak luar. Fasilitas yang tersedia harus dimanfaatkan sebagai ruang tumbuh bagi kreativitas pemuda, sekaligus menjadi inkubator bagi lahirnya produk-produk unggulan yang kompetitif.

    Ke depan, AMANAH diarahkan untuk menjadi pusat kurasi ide, pengembangan inovasi, serta inkubasi bisnis yang berorientasi pada komersialisasi kekayaan intelektual. Akses terhadap pendanaan dan pemasaran menjadi fokus utama yang harus diperkuat agar produk kreatif Aceh mampu menembus pasar nasional dan internasional. Selain itu, sinergi dengan perguruan tinggi dalam proses hilirisasi diyakini dapat menarik investasi yang lebih besar, sekaligus mempercepat transformasi ide menjadi produk bernilai ekonomi tinggi.

    Dengan pendekatan yang terintegrasi, dampak yang diharapkan dari penguatan AMANAH tidak hanya terbatas pada peningkatan investasi dan ekspor, tetapi juga penciptaan lapangan kerja baru yang berkualitas. Program ini menjadi simbol harapan baru bagi generasi muda Aceh untuk mengambil peran lebih besar dalam pembangunan ekonomi daerah. Dalam jangka panjang, keberhasilan AMANAH akan sangat ditentukan oleh konsistensi kolaborasi, keberanian berinovasi, serta kemampuan menjaga kualitas produk agar tetap kompetitif.

    Pada akhirnya, relaunching AMANAH bukanlah garis akhir, melainkan titik awal perjalanan panjang menuju kemandirian ekonomi berbasis kreativitas. Di tengah dinamika global yang terus berubah, Aceh memiliki peluang besar untuk menempatkan dirinya sebagai pusat pertumbuhan ekonomi kreatif di kawasan. Dengan sinergi yang kuat, komitmen bersama, dan pemanfaatan potensi secara optimal, cita-cita mewujudkan generasi muda Aceh yang unggul, hebat, dan berdaya saing global bukanlah sesuatu yang mustahil.

    )* penulis merupakan pengamat kebijakan publik

  • Relaunching AMANAH Buka Jalan Hilirisasi Kreatif dan Lapangan Kerja Berkualitas

    Oleh: Citra Kurnia Khudori)*

    Relaunching Yayasan Aneuk Muda Aceh Unggul dan Hebat (AMANAH) di Aceh menjadi langkah strategis pemerintah dalam memperkuat arah pembangunan ekonomi berbasis kreativitas sekaligus membuka peluang kerja yang lebih berkualitas. Kebijakan ini mencerminkan keseriusan negara dalam mendorong transformasi ekonomi daerah melalui pendekatan yang terstruktur dan berorientasi masa depan.

    Momentum relaunching tidak sekadar seremoni, melainkan bagian dari upaya berkelanjutan untuk memastikan program pengembangan ekonomi kreatif berjalan lebih efektif. Pemerintah menunjukkan komitmen kuat dalam menghadirkan ekosistem yang mampu mendorong produktivitas, inovasi, dan daya saing generasi muda.

    Dalam kerangka besar pembangunan nasional, sektor ekonomi kreatif kini diposisikan sebagai salah satu pilar utama penciptaan lapangan kerja. Pendekatan ini menjadi relevan di tengah perubahan struktur ekonomi global yang semakin berbasis pengetahuan dan keterampilan.

    Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menjelaskan bahwa penguatan sektor ini sejalan dengan Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam meningkatkan kualitas tenaga kerja melalui pengembangan industri kreatif. Ia menilai bahwa industri kreatif memiliki potensi besar dalam menciptakan pekerjaan berbasis keterampilan yang terus berkembang.

    Lebih lanjut, ia menekankan bahwa pekerjaan di sektor kreatif tidak hanya soal kuantitas, tetapi juga kualitas. Penguatan skill menjadi faktor utama agar tenaga kerja Indonesia mampu bersaing di tingkat global.

    Dalam konteks Aceh, kehadiran AMANAH diharapkan menjadi katalis dalam meningkatkan kapasitas sumber daya manusia kreatif. Program ini dirancang untuk menjadi ruang pembelajaran sekaligus inkubasi bagi talenta lokal agar mampu berkembang secara optimal.

    Selain fokus pada pengembangan SDM, pemerintah juga menekankan pentingnya hilirisasi dalam sektor ekonomi kreatif. Hilirisasi dipandang sebagai langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah dari produk-produk lokal.

    Teuku Riefky Harsya menjelaskan bahwa Asta Cita juga menyoroti pentingnya hilirisasi sebagai upaya memperkuat struktur ekonomi. Ia menilai bahwa hilirisasi tidak hanya berlaku pada sektor ekstraktif, tetapi juga dapat diterapkan dalam industri kreatif.

    Ia menggambarkan bahwa produk-produk asing seperti fashion, parfum, film, hingga aplikasi dapat dikembangkan menjadi karya lokal yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Dengan pendekatan ini, Indonesia tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga produsen dalam rantai nilai global.

    Transformasi ini menjadi penting untuk mengurangi ketergantungan terhadap produk luar negeri. Di sisi lain, hal ini juga membuka peluang besar bagi pelaku kreatif lokal untuk berkembang.

    Di tingkat daerah, dukungan pemerintah provinsi menjadi faktor penting dalam memastikan keberhasilan program. Sinergi antara pusat dan daerah menjadi kunci dalam memperkuat implementasi kebijakan.

    Gubernur Aceh Muzakir Manaf menyampaikan bahwa relaunching AMANAH juga menandai peresmian gedung sebagai pusat kegiatan bersama. Ia menjelaskan bahwa fasilitas ini dirancang untuk mendukung kolaborasi lintas sektor di Aceh.

    Menurutnya, gedung AMANAH akan menjadi ruang sinergi antara pemerintah, pelaku ekonomi kreatif, akademisi, dan berbagai pemangku kepentingan. Kolaborasi ini diharapkan mampu mempercepat pengembangan potensi daerah secara lebih terarah.

    Ia juga menilai bahwa relaunching ini menegaskan pentingnya kerja sama lintas sektor dalam memperkuat pemberdayaan ekonomi. Pendekatan kolaboratif dinilai sebagai solusi untuk menghadapi tantangan sosial ekonomi yang kompleks.

    Lebih jauh, Muzakir Manaf menjelaskan bahwa model kerja sama yang diusung melalui AMANAH dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Program yang terintegrasi diyakini mampu menjawab kebutuhan riil di lapangan.

    Salah satu fokus utama pasca-relaunching adalah pengurangan angka pengangguran dan kemiskinan. Pemerintah daerah melihat bahwa ekonomi kreatif dapat menjadi solusi konkret untuk menciptakan lapangan kerja baru.

    Pendekatan ini juga memperkuat peran pemuda sebagai motor penggerak ekonomi. Dengan dukungan yang tepat, generasi muda dapat menjadi pelaku utama dalam menciptakan inovasi dan peluang usaha.

    Selain itu, keberadaan AMANAH juga memperkuat ekosistem kreatif yang lebih inklusif. Program-program yang dijalankan diharapkan mampu menjangkau berbagai lapisan masyarakat.

    Dengan adanya hilirisasi kreatif, produk lokal tidak hanya memiliki nilai ekonomi, tetapi juga identitas budaya. Hal ini menjadi kekuatan tersendiri dalam menghadapi persaingan global.

    Di sisi lain, keberhasilan program ini juga akan memperkuat kepercayaan masyarakat terhadap kebijakan pemerintah. Transparansi dan konsistensi dalam implementasi menjadi faktor penting dalam menjaga kepercayaan tersebut.

    Dengan dukungan berbagai pihak, AMANAH berpotensi menjadi model pengembangan ekonomi kreatif yang dapat direplikasi di daerah lain. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan yang tepat dapat menghasilkan dampak yang luas.

    Ke depan, konsistensi dalam menjalankan program akan menjadi faktor penentu keberhasilan. Pemerintah perlu memastikan bahwa setiap inisiatif berjalan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

    Melalui relaunching ini, terlihat bahwa pemerintah serius dalam membuka jalan bagi hilirisasi kreatif dan penciptaan lapangan kerja berkualitas. Masyarakat pun memiliki alasan kuat untuk optimistis terhadap arah pembangunan yang sedang dijalankan.

    )* Pemerhati isu sosial-ekonomi

  • Relaunching AMANAH, Ekosistem Baru Pemberdayaan Pemuda Aceh Berbasis Inovasi dan Teknologi

    Oleh : Reenee Winda Adam (Former Journalist/Social Economic Observer)

    Relaunching  Yayasan Aneuk Muda Aceh Unggul dan Hebat (AMANAH) menjadi tonggak penting dalam peta pemberdayaan generasi muda Aceh. Bukan sekadar kebangkitan kembali, namun momentum ini menandai hadirnya ekosistem nyata yang mempertemukan inovasi teknologi, kewirausahaan lokal, dan kolaborasi lintas sektor dalam satu gerakan yang terstruktur.

    Dengan infrastruktur yang telah terbangun, kemitraan strategis bersama perguruan tinggi, serta arah hilirisasi yang selaras dengan kebijakan nasional, AMANAH menempatkan dirinya bukan sekadar sebagai yayasan, melainkan sebagai mesin penggerak perubahan. Amanah memastikan bahwa semangat yang lahir akan tumbuh menjadi dampak nyata yang dirasakan oleh anak muda Aceh hingga ke pelosok daerah.

    Pengukuhan kembali AMANAH bukan sekadar seremonial. Ini adalah pernyataan sikap bahwa pemberdayaan pemuda tidak bisa lagi berjalan setengah hati. AMANAH memposisikan dirinya sebagai wahana konkret , bukan sekadar wadah, yang menghubungkan anak muda Aceh dengan ekosistem inovasi, kewirausahaan, dan teknologi secara nyata.

    Selama ini, banyak program pemberdayaan pemuda yang berhenti di tahap pelatihan. Ilmu diberikan, sertifikat diserahkan, lalu peserta pulang tanpa jaminan bahwa apa yang mereka pelajari bisa diterapkan.

    Ketua Yayasan AMANAH, Syaifullah Muhammad, menegaskan bahwa misi yang diemban lembaganya mencakup spektrum yang luas: dari membangun ekosistem kewirausahaan berbasis inovasi, mendorong pemanfaatan teknologi, memberdayakan UMKM dan ekonomi lokal, hingga mewujudkan pembangunan berkelanjutan berbasis komunitas. Itu bukan daftar kegiatan semata, namun jika dijalankan dengan konsisten, maka mampu mengubah wajah ekonomi Aceh dalam satu dekade ke depan.

    Yang membedakan AMANAH dari banyak yayasan sejenis adalah kehadiran infrastruktur nyata. Ada pusat nilam, pusat kopi, rumah teknologi, fasilitas energi terbarukan, hingga greenhouse pertanian. Mahasiswa dari Universitas Syiah Kuala dan UIN Ar-Raniry bisa magang di sana, bukan untuk sekedar mengisi absensi, tapi untuk mendapat pengalaman kerja di skala industri yang sesungguhnya. Ini adalah pendekatan yang tepat: mengawinkan dunia akademik dengan kebutuhan industri secara langsung.

    Salah satu gebrakan paling substantif dari AMANAH adalah pengembangan teknologi pemurnian minyak nilam menggunakan molecular distillation and fractionation , yakni teknologi yang selama ini hanya dikenal digunakan di Prancis dan Amerika Serikat. Dengan teknologi ini, minyak nilam Aceh tidak lagi berhenti sebagai komoditas mentah. Ia bisa diolah hingga memenuhi standar kosmetik, skincare, bahkan parfum kelas premium.

    Indonesia selama ini adalah eksportir minyak nilam terbesar di dunia, namun ironisnya juga mengimpor produk-produk turunannya dalam jumlah besar. Langkah AMANAH selaras dengan arah kebijakan hilirisasi yang diusung Presiden Prabowo dalam Asta Cita. AMANAH turut serta, bergerak dari bawah, membangun fasilitas produksi dan formulasi kosmetik serta parfum secara mandiri, dengan harapan substitusi impor bisa dimulai dari Aceh.

    Hilirisasi benar-benar terjadi di dalam negeri, dari bahan baku hingga produk akhir. Ini akan menjadi gerakan ekonomi yang sangat besar. Menurut Syaifullah, pernyataan itu bukan sekadar optimisme namun juga didukung oleh teknologi dan fasilitas yang sudah ada.

    Walikota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal menyebut fasilitas AMANAH sebagai jawaban nyata atas keresahan anak muda yang berbakat namun terkendala infrastruktur. Pernyataan itu menarik dicermati karena menyentuh akar masalah yang sering diabaikan: bakat saja tidak cukup tanpa ekosistem yang mendukung.

    Selama ini, banyak anak muda Aceh yang punya gagasan cemerlang namun akhirnya menyerah bukan karena kurang pintar, melainkan karena tidak ada tempat untuk mencoba, bereksperimen, dan gagal dengan aman. AMANAH mencoba mengisi kekosongan itu. Studio fotografi produk untuk UMKM, rumah kemasan, pendampingan pemasaran digital, dimana semua ini adalah infrastruktur yang membuat ide bisa berubah menjadi produk yang siap jual.

    Model kolaborasi pentahelix, yang melibatkan pemerintah, akademisi, pelaku bisnis, komunitas, dan media merupakan pilihan yang tepat untuk memastikan keberlanjutan. Tidak ada satu pihak pun yang bisa menanggung beban pemberdayaan pemuda sendirian. Sinergi antarpemangku kepentingan inilah yang akan menentukan apakah AMANAH akan bertahan sebagai gerakan jangka panjang, atau hanya menjadi euforia sesaat.

    Relaunching AMANAH bukan sekadar kebangkitan sebuah yayasan, melainkan pernyataan tegas bahwa pemberdayaan pemuda Aceh harus bergerak melampaui pelatihan dan seremonial. Dengan ekosistem yang terbangun, hilirisasi komoditas lokal, dan kolaborasi lintas sektor yang nyata, AMANAH hadir sebagai wahana konkret yang menghubungkan anak muda Aceh dengan inovasi dan kewirausahaan. Kini saatnya semangat itu dibuktikan lewat dampak yang benar-benar dirasakan hingga ke pelosok daerah. —-

  • PP TUNAS Diperkuat, Pendidik Tekankan Etika Digital demi Pendidikan Bermutu Anak

    Jakarta — Penguatan implementasi Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP TUNAS) semakin menjadi perhatian dalam upaya menciptakan ekosistem pendidikan yang aman, sehat, dan berkualitas bagi generasi muda di tengah pesatnya perkembangan teknologi digital.

    Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi), Meutya Hafid menegaskan, kebijakan tersebut menjadi tonggak penting bagi Indonesia dalam menjaga generasi muda di era digital.

    “Kita patut berbangga, karena Indonesia menjadi salah satu pelopor negara non-Barat yang mengambil langkah tegas dalam pelindungan anak di ruang digital,” ujarnya.

    Penegasan ini memperlihatkan komitmen pemerintah dalam menghadirkan ruang digital yang aman dan ramah anak.

    Secara substantif, PP TUNAS mewajibkan seluruh Penyelenggara Sistem Elektronik (PSE) untuk menempatkan perlindungan anak sebagai prinsip utama dalam perancangan layanan digital.

    Terdapat tiga kewajiban utama bagi platform, yaitu menyediakan klasifikasi konten berbasis usia, menerapkan mekanisme verifikasi usia pengguna yang andal, serta menyediakan fitur kontrol orangtua yang mudah diakses. Langkah ini menjadi fondasi penting dalam memperkuat perlindungan anak di ruang digital.

    Di sektor pendidikan, pemanfaatan teknologi digital membawa manfaat besar, mulai dari kemudahan akses informasi hingga pembelajaran interaktif. Namun, tanpa pengawasan, risiko seperti paparan konten negatif, kecanduan gawai, hingga penurunan kualitas interaksi sosial tetap mengintai. Karena itu, pendidik menekankan pentingnya etika digital sebagai bagian dari pendidikan karakter.

    Widyaprada Ahli Utama Direktorat PAUD, Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Ir. Harris Iskandar, Ph.D. menekankan bahwa kepatuhan terhadap etika digital ini merupakan harga mati bagi setiap satuan pendidikan.

    Menurut dia, tren digitalisasi yang masif belakangan ini kerap kali membuat para pemangku kepentingan terjebak pada modernitas semu yang justru mengabaikan kebutuhan dasar anak usia dini.

    “Kita harus mematuhi etika pemanfaatan teknologi sesuai amanat PP TUNAS. Semangatnya adalah ‘Tunggu Anak Siap’. Jangan sampai kita mengejar modernitas tetapi mengabaikan kesiapan motorik dan emosional anak. Teknologi baru boleh masuk saat anak sudah benar-benar siap secara kognitif,” ujar Harris di hadapan ratusan guru PAUD peserta Bimtek.

    Penguatan PP TUNAS juga mendorong keterlibatan sekolah, keluarga, dan masyarakat dalam membangun budaya digital yang sehat. Pendidik berperan strategis dalam menanamkan nilai tanggung jawab, empati, serta kemampuan memilah informasi secara kritis kepada anak sejak dini.

    Dengan dukungan regulasi yang kuat dan kolaborasi berbagai pihak, implementasi PP TUNAS diharapkan mampu membentuk lingkungan digital yang aman dan kondusif. Langkah ini menjadi bagian penting dalam mempersiapkan generasi yang adaptif, kritis, dan berkarakter di era digital.

  • Akademisi dan Satuan Pendidikan Dukung PP TUNAS untuk Wujudkan Pendidikan Bermutu

    Jakarta — Kalangan akademisi dan satuan pendidikan mendukung kuat penerapan kebijakan pemerintah untuk membatasi akses media sosial (medsos) bagi anak di bawah umur 16 tahun melalui Peraturan Pemerintah No. 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas). Regulasi itu dinilai mampu mewujudkan pendidikan yang lebih bermutu bagi anak.

    Akademisi sekaligus pengamat pendidikan, Dr. Iswadi mengatakan, PP Tunas menjadi langkah strategis pemerintah untuk melindungi kemampuan berpikir anak. Selama ini sekolah kesulitan bersaing dengan algoritma media sosial yang menyebabkan perhatian siswa untuk belajar terganggu.

    “PP Tunas bukan sekadar aturan teknis, tetapi perisai moral dan intelektual untuk menjaga kejernihan berpikir siswa,” ujarnya”.

    Menurutnya, pengurangan distraksi digital akan memberi ruang bagi siswa untuk kembali melatih fokus, berpikir kritis, dan memahami materi secara lebih mendalam. Dengan demikian, fungsi teknologi sebagai alat bantu literasi dan riset lebih terarah.

    Ia juga mengingatkan pentingnya konsistensi semua pihak dalam menjalankan aturan tersebut, termasuk penyedia platform digital. “Saya mendesak platform digital untuk patuh dan tidak mencari celah. Fokus belajar siswa adalah aset bangsa yang harus dilindungi,” tegasnya.

    Iswadi menambahkan, peningkatan fokus belajar menjadi fondasi menuju Indonesia Emas 2045. Tanpa konsentrasi yang kuat, transformasi pendidikan tidak akan berjalan optimal.

    Di samping itu, satuan pendidikan memiliki peran penting dalam implementasi PP Tunas di lapangan. Seperti di SMA Negeri 2 Medan, pihak sekolah membatasi penggunaan gawai di lingkungan sekolah saat jam belajar.

    Guru Sosiologi SMA Negeri 2 Medan, Juniarti Lumbantobing, mengatakan di sekolahnya telah melakukan edukasi terkait penggunaan media sosial secara bijak juga telah lama diberikan kepada siswa, bahkan sebelum adanya PP Tunas.

    “Kalau secara general diumumkan itu sepertinya belum ada (di SMAN 2 Medan), tapi seperti saya yang berbicara tentang kenakalan remaja di mapel Sosiologi itu sudah selalu disampaikan bahkan sebelum ada PP Tunas ini,” ungkanya.

    Ia juga mengapreasiasi kebijakan PP Tunas yang mengatur penggunaan platform seperti YouTube dan TikTok. Menurutnya aturan tersebut merupakan langkah yang sangat baik, terutama dalam membatasi penggunaan media sosial di kalangan remaja.

    Kebijakan ini, lanjutnya, bertujuan agar siswa lebih fokus dalam mengikuti proses belajar mengajar serta mencegah penggunaan ponsel untuk hal-hal yang tidak relevan selama pembelajaran. Ke depan, Juni berharap implementasi PP Tunas dapat berjalan optimal dengan dukungan berbagai pihak.

    “Harus bersinergi antara sekolah sebagai lembaga pendidikan, orang tua, kemudian pemerintah. Jadi kalau ini bersinergi saya rasa akan banyak perubahan yang lebih baik,” pungkasnya. (*)