Penulis: restiana818@gmail.com

  • MBG Hadir di Perbatasan, Negara Perkuat Akses Gizi dan Layanan Dasar

    Jakarta – Pemerintah terus mengoptimalkan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai bagian dari strategi memperkuat akses gizi dan layanan dasar, khususnya di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Langkah ini diperkuat melalui pembangunan Sentra Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di kawasan perbatasan negara salah satunya di PLBN Wini dan Motamasin. Kehadiran fasilitas ini menjadi bukti nyata komitmen negara dalam memastikan masyarakat perbatasan mendapatkan layanan gizi yang merata dan berkualitas.

    Pembangunan SPPG difokuskan pada wilayah dengan kebutuhan layanan gizi yang mendesak. Selain mendukung pemenuhan nutrisi, dapur MBG di kawasan perbatasan juga berfungsi sebagai penguat layanan dasar sekaligus penggerak aktivitas ekonomi lokal. Dengan demikian, kehadiran MBG tidak hanya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, tetapi juga memperluas manfaat pembangunan hingga ke wilayah perbatasan.

    Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menyampaikan bahwa program MBG merupakan bagian dari kebijakan strategis nasional yang berdampak luas.

    “Program MBG adalah amanat Presiden untuk memastikan generasi Indonesia tumbuh sehat dan cerdas. Di sisi lain, program ini juga memperkuat ekonomi lokal melalui keterlibatan petani, nelayan, dan pelaku UMKM, sehingga manfaatnya dirasakan secara langsung oleh masyarakat,” ujarnya.

    Ia juga menegaskan bahwa pembangunan SPPG di perbatasan mencerminkan kehadiran negara dalam memperkuat layanan dasar.

    “Kehadiran fasilitas ini menunjukkan komitmen negara dalam menjamin akses gizi yang layak, menjaga stabilitas pangan, serta memastikan ketersediaan layanan dasar bagi masyarakat di wilayah perbatasan,” tambah Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo.

    Secara teknis, SPPG di PLBN Wini dan Motamasin dilengkapi dengan fasilitas yang memenuhi standar kebersihan dan keberlanjutan lingkungan, mulai dari dapur utama, area pencucian, gudang penyimpanan, hingga Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Fasilitas pendukung seperti jaringan air bersih, area parkir, serta penataan kawasan juga disiapkan untuk menunjang operasional yang optimal.

    Sementara itu, Asisten Deputi Pengelolaan Lintas Batas Negara (Tasbara) BNPP, Budi Setyono, menekankan pentingnya kesiapan operasional pascapembangunan.

    “Arahan Sekretaris BNPP menegaskan agar SPPG yang telah dibangun dapat segera dioperasikan. Oleh karena itu, kesiapan aspek teknis dan manajerial, termasuk penetapan mitra pengelola dan penyusunan SOP, menjadi hal yang krusial,” jelasnya.

    Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa pengelolaan SPPG di kawasan PLBN memerlukan koordinasi lintas sektor.

    “Perencanaan operasional harus mencakup pemetaan kebutuhan pangan, distribusi, hingga kesiapan tenaga kerja agar layanan berjalan efektif dan berkelanjutan,” tambah Budi Setyono.

    Melalui percepatan ini, pemerintah bersama BNPP menegaskan komitmennya untuk menghadirkan MBG di perbatasan sebagai upaya memperkuat akses gizi dan layanan dasar. Program ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mendorong pemerataan pembangunan di wilayah perbatasan Indonesia.

  • MBG di Perbatasan Libatkan Petani dan UMKM, Ekonomi Lokal Bergerak

    Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menunjukkan dampak positifnya, termasuk di wilayah perbatasan Indonesia–Timor Leste. Tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi masyarakat, program ini juga terbukti mampu menggerakkan roda ekonomi lokal dengan melibatkan petani dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat.

    Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo mengatakan bahwa program MBG memiliki dampak yang luas, tidak hanya pada sektor kesehatan, tetapi juga ekonomi.

    “Program MBG adalah amanat Presiden Prabowo Subianto untuk mencetak generasi Indonesia yang sehat dan cerdas. Program ini juga mendorong ekonomi lokal dengan melibatkan petani, nelayan, dan UMKM. Dengan demikian, MBG bukan hanya program sosial, tetapi juga bagian dari strategi pembangunan nasional,” ujar Dody.

    Melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU), pemerintah telah menyelesaikan pembangunan dua unit Sentra Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste. Kedua fasilitas tersebut berlokasi di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Wini dan PLBN Motamasin, Nusa Tenggara Timur.

    Kehadiran dapur MBG di kawasan perbatasan ini tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan akses gizi masyarakat, tetapi juga memperkuat peran PLBN sebagai pusat pelayanan sekaligus penggerak kesejahteraan warga. Pembangunan fasilitas difokuskan pada wilayah yang memiliki kebutuhan layanan gizi mendesak, termasuk daerah perbatasan yang selama ini menghadapi keterbatasan akses.

    Dody mengatakan pembangunan fasilitas ini merupakan wujud nyata kehadiran negara di kawasan perbatasan.

    “Ini menjadi bentuk nyata kehadiran negara dalam memastikan akses gizi yang layak, menjaga stabilitas harga, serta menjamin ketersediaan pangan bagi masyarakat perbatasan,” kata Dody.

    Secara teknis, kedua SPPG tersebut dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung yang memenuhi standar kebersihan dan keberlanjutan lingkungan. Mulai dari dapur utama, area pencucian alat dan bahan makanan, gudang kering dan basah, hingga ruang penyimpanan peralatan. Selain itu, tersedia pula fasilitas parkir, jaringan air bersih, serta Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Infrastruktur tambahan seperti ruang panel, tempat pembuangan sampah (TPS), serta penataan lanskap kawasan turut dibangun guna mendukung operasional yang optimal.

    Ke depan, model implementasi MBG di perbatasan ini dinilai dapat direplikasi di wilayah lain dengan karakteristik serupa. Sinergi antara pemerintah, masyarakat, petani, dan UMKM menjadi kunci keberhasilan yang perlu terus dijaga dan ditingkatkan.

    Dengan pendekatan yang tepat, MBG tidak sekadar menjadi program bantuan, melainkan instrumen strategis untuk mendorong kemandirian ekonomi lokal. Di perbatasan Indonesia–Timor Leste, langkah ini telah membuktikan bahwa pembangunan dari pinggiran dapat menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan nasional yang berkelanjutan. (*)

  • MBG: Dari Perbatasan untuk Kesejahteraan Nasional

    Oleh : Ricky Rinaldi *)

    Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya menjadi instrumen peningkatan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga mencerminkan komitmen negara dalam menghadirkan kesejahteraan secara merata hingga ke wilayah perbatasan. Selama ini, kawasan perbatasan kerap menghadapi keterbatasan akses terhadap layanan dasar, termasuk pemenuhan gizi yang layak. Melalui MBG, negara menunjukkan bahwa pembangunan tidak boleh berhenti di pusat, melainkan harus menjangkau seluruh wilayah hingga titik terluar.

    Wilayah perbatasan memiliki peran strategis, tidak hanya sebagai batas geografis, tetapi juga sebagai wajah kedaulatan negara. Kesejahteraan masyarakat di kawasan ini menjadi indikator penting keberhasilan pembangunan nasional. Oleh karena itu, kehadiran program seperti MBG memiliki makna yang lebih luas, yakni memperkuat kehadiran negara sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat di daerah yang selama ini menghadapi berbagai keterbatasan.

    Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pembangunan harus bersifat inklusif dan merata. Tidak boleh ada wilayah yang tertinggal dalam proses pembangunan, termasuk kawasan perbatasan. MBG menjadi salah satu bentuk konkret dari komitmen tersebut, dengan memastikan bahwa anak-anak di daerah terluar pun mendapatkan akses terhadap makanan bergizi yang dibutuhkan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.

    Pelaksanaan MBG di wilayah perbatasan juga menghadapi tantangan tersendiri. Akses logistik, keterbatasan infrastruktur, serta kondisi geografis menjadi faktor yang harus diatasi melalui perencanaan yang matang. Pemerintah merespons tantangan ini dengan pendekatan yang adaptif, memanfaatkan potensi lokal serta memperkuat koordinasi lintas sektor agar distribusi program dapat berjalan efektif.

    Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana menekankan bahwa pendekatan berbasis wilayah menjadi kunci keberhasilan implementasi MBG di daerah perbatasan. Program ini tidak hanya mengandalkan distribusi dari pusat, tetapi juga mendorong pemanfaatan sumber daya lokal dalam penyediaan bahan pangan. Dengan cara ini, keberlanjutan program dapat terjaga sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat setempat.

    Selain meningkatkan kualitas gizi, MBG di wilayah perbatasan juga berkontribusi pada penguatan ekonomi lokal. Kebutuhan bahan pangan untuk program ini membuka peluang bagi petani, nelayan, dan pelaku usaha kecil untuk terlibat dalam rantai pasok. Aktivitas ekonomi yang tercipta dari program ini membantu meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi daerah.

    Program ini juga memiliki dimensi sosial yang penting. Kehadiran MBG di wilayah perbatasan memperkuat rasa keadilan dan kebersamaan dalam pembangunan nasional. Masyarakat di daerah terpencil merasakan bahwa negara hadir dan memberikan perhatian yang setara. Hal ini berkontribusi pada penguatan rasa kebangsaan dan kepercayaan terhadap pemerintah.

    Dalam jangka panjang, peningkatan kualitas gizi di wilayah perbatasan akan berdampak pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Anak-anak yang mendapatkan asupan gizi yang baik akan memiliki kemampuan belajar yang lebih optimal serta kesehatan yang lebih terjaga. Hal ini menjadi modal penting dalam menciptakan generasi yang mampu berkontribusi dalam pembangunan daerah maupun nasional.

    Namun demikian, keberhasilan MBG di wilayah perbatasan memerlukan komitmen yang berkelanjutan. Pemerintah terus memastikan bahwa program ini tidak hanya berjalan dalam jangka pendek, tetapi menjadi bagian dari sistem yang terintegrasi dalam pembangunan daerah. Pengawasan dan evaluasi yang konsisten diperkuat untuk menjaga kualitas pelaksanaan program.

    Peran pemerintah daerah juga sangat penting dalam mendukung implementasi MBG. Dengan memahami kondisi lokal, pemerintah daerah dapat membantu memastikan bahwa program berjalan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci dalam menghadapi berbagai tantangan di lapangan.

    Selain itu, partisipasi masyarakat menjadi faktor penentu keberhasilan program. Keterlibatan masyarakat dalam penyediaan bahan pangan, pengelolaan distribusi, serta pengawasan program akan memperkuat efektivitas MBG. Dengan kolaborasi yang baik, manfaat program dapat dirasakan secara lebih luas dan berkelanjutan.

    Program MBG di wilayah perbatasan juga berperan dalam mengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah. Selama ini, disparitas antara pusat dan daerah pinggiran menjadi tantangan dalam pembangunan nasional. Dengan intervensi yang tepat sasaran seperti MBG, kesenjangan tersebut dapat ditekan secara bertahap. Program ini menunjukkan bahwa pemerataan bukan sekadar konsep, tetapi dapat diwujudkan melalui kebijakan yang konkret dan berkelanjutan.

    Selain aspek ekonomi dan sosial, MBG di wilayah perbatasan juga memperkuat ketahanan nasional dalam arti yang lebih luas. Masyarakat yang sejahtera dan sehat akan memiliki rasa keterikatan yang lebih kuat terhadap negara. Dengan terpenuhinya kebutuhan dasar, potensi kerentanan sosial dapat diminimalkan, sehingga stabilitas wilayah perbatasan dapat terjaga dengan lebih baik. Ini menjadi bagian penting dalam menjaga kedaulatan negara dari berbagai tantangan non-militer.

    Program MBG menjadi simbol bahwa kesejahteraan nasional harus dibangun dari seluruh wilayah, termasuk dari perbatasan. Dengan memastikan setiap anak mendapatkan akses terhadap gizi yang baik, negara sedang menyiapkan fondasi bagi masa depan yang lebih kuat. Dari perbatasan, kesejahteraan dapat tumbuh dan menyebar ke seluruh penjuru negeri, memperkuat ketahanan nasional secara menyeluruh.

    *) Pengamat Isu Strategis

  • From Border to Better Future: MBG dan Transformasi Wilayah Perbatasan

    Oleh : Nayaka Mayangsari

    Transformasi wilayah perbatasan tidak lagi semata dipandang sebagai agenda pembangunan fisik, melainkan telah berkembang menjadi strategi komprehensif untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat secara berkelanjutan. Dalam konteks tersebut, implementasi Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang diperkuat melalui pembangunan Sentra Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di kawasan perbatasan menjadi tonggak penting dalam mewujudkan masa depan yang lebih baik. Dari wilayah yang selama ini kerap diasosiasikan dengan keterbatasan akses, perbatasan kini diarahkan menjadi beranda depan negara yang maju, sehat, dan produktif.

    Pembangunan dua unit SPPG di Pos Lintas Batas Negara Wini dan Motamasin di Nusa Tenggara Timur mencerminkan keseriusan pemerintah dalam menghadirkan layanan dasar hingga ke wilayah terluar. Infrastruktur tersebut bukan sekadar fasilitas pendukung program MBG, melainkan simbol kehadiran negara dalam menjamin hak dasar masyarakat terhadap gizi yang layak. Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menegaskan bahwa pembangunan fasilitas ini merupakan bagian dari strategi nasional untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi lokal, sejalan dengan arahan Presiden Prabowo Subianto dalam mencetak generasi yang sehat dan cerdas. Ia juga memandang bahwa program MBG memiliki peran penting dalam menggerakkan sektor ekonomi masyarakat melalui keterlibatan petani, nelayan, dan pelaku UMKM di daerah.

    Wilayah perbatasan selama ini menghadapi tantangan kompleks, mulai dari keterbatasan akses pangan bergizi hingga minimnya infrastruktur layanan dasar. Kondisi ini berdampak langsung pada kualitas kesehatan masyarakat, khususnya anak-anak yang menjadi generasi penerus bangsa. Melalui MBG, pemerintah berupaya memutus mata rantai permasalahan tersebut dengan memastikan ketersediaan makanan bergizi secara berkelanjutan. Dody Hanggodo juga menekankan bahwa pembangunan SPPG difokuskan pada wilayah dengan kebutuhan gizi tinggi, termasuk kawasan perbatasan, sebagai bentuk nyata kehadiran negara dalam menjamin akses pangan bergizi, menjaga stabilitas harga, serta memastikan ketersediaan bahan pangan bagi masyarakat setempat.

    Kehadiran SPPG yang dilengkapi fasilitas modern seperti dapur higienis, ruang penyimpanan bahan makanan, area pencucian, gudang, hingga instalasi pengolahan air limbah menunjukkan bahwa standar pelayanan di perbatasan kini tidak lagi tertinggal dibandingkan wilayah lain. Infrastruktur pendukung seperti jaringan air bersih, tempat pembuangan sampah, hingga penataan lingkungan kawasan memperkuat fungsi SPPG sebagai pusat layanan gizi yang berkelanjutan. Hal ini sekaligus menegaskan bahwa pembangunan di wilayah perbatasan dilakukan secara menyeluruh, tidak hanya berorientasi pada output fisik, tetapi juga kualitas layanan.

    Lebih jauh, pembangunan SPPG juga memiliki dimensi ekonomi yang signifikan. Program MBG dirancang untuk melibatkan pelaku usaha lokal dalam rantai pasok pangan, sehingga menciptakan efek berganda bagi perekonomian daerah. Petani, nelayan, dan UMKM memperoleh peluang baru untuk meningkatkan pendapatan melalui keterlibatan langsung dalam penyediaan bahan pangan. Dengan demikian, program ini tidak hanya meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga memperkuat struktur ekonomi lokal serta mendorong kemandirian wilayah perbatasan.

    Di sisi lain, dukungan legislatif terhadap program MBG turut memperkuat legitimasi dan keberlanjutan kebijakan ini. Anggota Komisi IX DPR RI Arzeti Bilbina memandang MBG sebagai langkah strategis dalam mengatasi persoalan gizi anak yang selama ini menjadi perhatian nasional. Ia menilai bahwa pemenuhan gizi seimbang memiliki dampak besar terhadap perkembangan otak, kemampuan berpikir, serta pertumbuhan fisik anak, yang pada akhirnya menentukan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Perspektif ini menegaskan bahwa intervensi di sektor gizi merupakan investasi jangka panjang bagi kemajuan bangsa.

    Arzeti juga menekankan pentingnya ketepatan sasaran dan pengawasan dalam pelaksanaan program agar manfaatnya dapat dirasakan secara optimal oleh masyarakat. Sosialisasi yang berkelanjutan dinilai penting untuk meningkatkan pemahaman publik sekaligus mendorong partisipasi aktif masyarakat. Pendekatan ini diharapkan mampu meminimalkan potensi kesalahpahaman serta memastikan bahwa program berjalan sesuai dengan tujuan yang telah ditetapkan.

    Kolaborasi lintas sektor menjadi kunci utama dalam keberhasilan transformasi wilayah perbatasan melalui MBG. Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, tenaga ahli, dan masyarakat menciptakan ekosistem yang mendukung keberlanjutan program. Keterlibatan berbagai pihak, termasuk Badan Gizi Nasional dan kalangan akademisi, menunjukkan bahwa pendekatan berbasis data dan keilmuan menjadi landasan dalam pelaksanaan kebijakan. Hal ini penting untuk memastikan bahwa setiap intervensi memberikan dampak yang nyata dan terukur.

    Dengan demikian, MBG dan pembangunan SPPG di wilayah perbatasan merupakan langkah konkret menuju masa depan yang lebih baik. Pernyataan Menteri PU Dody Hanggodo yang menekankan pentingnya pembangunan ini sebagai bagian dari strategi peningkatan kualitas sumber daya manusia dan penguatan ekonomi lokal mempertegas arah kebijakan pemerintah. Transformasi ini menunjukkan bahwa dengan kebijakan yang tepat dan pelaksanaan yang terintegrasi, wilayah perbatasan dapat berkembang menjadi kawasan yang maju, mandiri, dan berdaya saing, sekaligus menjadi simbol keberhasilan pemerataan pembangunan nasional.

    *Penulis adalah Pengamat Sosial

  • Relaunching AMANAH Dorong Hilirisasi dan Ekosistem Kreatif Pemuda Aceh

    Aceh — Upaya mendorong hilirisasi industri kreatif sebagai strategi peningkatan nilai tambah ekonomi menjadi sorotan dalam Relaunching Anak Muda Aceh Unggul Hebat (AMANAH) bertema “Sinergi Muda Berdaya: Menciptakan Ekosistem Kreatif Anak Muda Aceh Unggul dan Hebat Menuju Indonesia Mandiri.” Momentum ini sekaligus menegaskan peran pemuda Aceh dalam memperkuat daya saing ekonomi berbasis kreativitas.

    Kegiatan ini dihadiri berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah, pelaku industri kreatif, akademisi, hingga komunitas pemuda, sebagai bentuk komitmen bersama membangun ekosistem kreatif yang kolaboratif dan berkelanjutan di Aceh.

    Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, menegaskan bahwa AMANAH sejalan dengan arah pembangunan nasional. “Mengacu pada Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya poin ke-3 tentang peningkatan tenaga kerja berkualitas melalui pengembangan industri kreatif, AMANAH memiliki posisi strategis dalam menyiapkan generasi muda yang kompeten,” ujarnya.

    Ia menambahkan bahwa industri kreatif menjadi sektor penting dalam menciptakan lapangan kerja berbasis keterampilan. “Industri kreatif dipandang sebagai sektor strategis untuk menciptakan lapangan kerja berkualitas berbasis skill yang harus terus diasah. Kehadiran AMANAH di Aceh diharapkan menjadi wadah untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas SDM kreatif daerah,” lanjutnya.

    Selain itu, ia menyoroti pentingnya hilirisasi ekonomi kreatif. “Asta Cita poin ke-5 menekankan pentingnya hilirisasi guna meningkatkan nilai tambah ekonomi. Hilirisasi tidak hanya berlaku untuk sektor tambang, tetapi juga industri kreatif,” tegasnya. Ia menjelaskan bentuk hilirisasi tersebut, seperti fashion asing menjadi produk lokal, parfum asing menjadi produk lokal, film asing menjadi produksi lokal, hingga aplikasi asing menjadi karya lokal.

    “Target utama adalah menjadikan Indonesia, termasuk Aceh, sebagai pemain industri kreatif di tingkat global,” tambahnya.

    Gubernur Aceh menyampaikan bahwa relaunching ini juga menandai peresmian gedung AMANAH sebagai pusat kolaborasi. “Relaunching AMANAH menjadi momentum peresmian gedung sebagai pusat kegiatan bersama yang mendukung kolaborasi lintas sektor di Aceh,” ujarnya.

    “Gedung AMANAH diharapkan menjadi wadah sinergi antara pemerintah, pelaku ekonomi kreatif, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya. Momen ini menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dalam memperkuat pemberdayaan ekonomi,” lanjutnya.

    Sementara Ketua Yayasan AMANAH, Dr. Saifullah Muhammad, menyebut relaunching ini sebagai langkah konsolidasi. “Relaunching AMANAH menjadi momentum strategis konsolidasi pengurus dan badan pekerja dalam memperkuat peran pemuda Aceh yang unggul, produktif, dan berdaya saing,” ujarnya.

    Melalui sinergi yang kuat, AMANAH diharapkan menjadi katalis lahirnya generasi muda Aceh yang kreatif dan mampu bersaing di tingkat global. (*)

  • Relaunching AMANAH Berlangsung Semarak, Dorong Hilirisasi dan Penguatan Ekonomi Pemuda Aceh

    ACEH BESAR — Relaunching program Aneuk Muda Aceh Unggul Hebat (AMANAH) berlangsung meriah dan penuh semangat kolaborasi di Gedung AMANAH, Kawasan Industri Aceh (KIA) Ladong. Momentum ini menandai penguatan peran AMANAH sebagai pusat pengembangan pemuda sekaligus motor hilirisasi komoditas lokal Aceh.

    Rangkaian acara dimulai dengan registrasi peserta dan pembukaan opening art exhibition yang menampilkan karya kreatif anak muda Aceh. Suasana semakin khidmat saat pembacaan ayat suci Al-Qur’an dan menyanyikan lagu Indonesia Raya, sebelum memasuki inti acara pengukuhan badan pengurus AMANAH.

    Ketua Yayasan AMANAH Syaifullah Muhammad menegaskan bahwa relaunching ini menjadi titik awal penguatan visi besar dalam membangun generasi muda Aceh yang unggul.

    “Visi utama kami adalah pengembangan generasi muda Aceh yang inovatif, mandiri, dan berdaya saing global,” ujarnya.

    Ia menjelaskan, AMANAH mengusung pendekatan berbasis inovasi, teknologi, dan penguatan ekonomi lokal sebagai strategi utama dalam pemberdayaan pemuda.
    “Selama ini kita hanya berhenti di komoditas mentah. Padahal, sesuai visi hilirisasi pemerintah, kita harus menciptakan nilai tambah,” katanya.

    Menurutnya, AMANAH telah mengembangkan teknologi pemurnian minyak nilam menggunakan metode molecular distillation and fractionation sehingga produk lokal dapat naik kelas ke industri kosmetik dan parfum.

    “Dengan teknologi ini, minyak nilam bisa masuk ke grade kosmetik, skincare, hingga parfum. Ini penting karena selama ini bahan mentah dari Indonesia diekspor, lalu kita membeli kembali dalam bentuk produk jadi,” jelasnya.

    Ia menambahkan, langkah tersebut merupakan bagian dari upaya mendorong substitusi impor dan menciptakan ekosistem ekonomi baru berbasis hilirisasi di daerah.

    “Jika ini berjalan, maka hilirisasi benar-benar terjadi di dalam negeri—dari bahan baku hingga produk akhir. Ini akan menjadi gerakan ekonomi yang sangat besar,” tegasnya.

    Selain hilirisasi, AMANAH juga fokus pada peningkatan kapasitas pemuda melalui pelatihan, penguatan soft skill, serta pendampingan usaha berbasis teknologi.

    “Kami ingin produk mereka tidak hanya bagus, tetapi juga siap masuk pasar dengan standar tinggi,” ujarnya.

    Syaifullah menambahkan, AMANAH mengusung konsep social enterprise dengan pendekatan ganda, yakni penguatan SDM dan pengembangan ekonomi.

    Ketua Yayasan AMANAH, Dr. Saifullah Muhammad dalam sambutannya menegaskan bahwa AMANAH hadir menjadi momentum strategis konsolidasi pengurus dan badan pekerja dalam memperkuat peran pemuda Aceh yang unggul, produktif, dan berdaya saing dan pentingnya optimalisasi aset bernilai besar agar tidak terbengkalai dan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.

    “Peran pemangku kepentingan menjadi krusial sebagai problem solver yang mampu menyelesaikan persoalan secara cepat dan tepat,” ujar nya.

    Ia juga menambahkan bahwa Program AMANAH diproyeksikan sebagai gelombang peluang yang harus dimanfaatkan secara maksimal oleh generasi muda.

    “Produk yang dihasilkan harus memiliki kualitas unggul dan daya saing tinggi agar mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional”, tegasnya.

  • Relaunching AMANAH, Motor Hilirisasi dan Ekonomi Kreatif Berbasis Kolaborasi Asta Cita

    Aceh – Relaunching AMANAH Aceh berlangsung dengan semangat baru sebagai pusat pengembangan ekonomi kreatif dan kolaborasi lintas sektor, yang diharapkan menjadi bagian dari penguatan agenda Asta Cita serta hilirisasi industri kreatif di daerah.

    Kegiatan ini dipandang sebagai momentum strategis untuk memperkuat peran pemuda Aceh agar lebih unggul, produktif, dan berdaya saing global.

    Ketua Yayasan AMANAH, Dr. Saifullah Muhammad, menegaskan bahwa relaunching ini menjadi titik konsolidasi penting dalam memperkuat gerakan pemuda. Ia menyebutkan bahwa AMANAH harus menjadi ruang tumbuh yang mampu mengoptimalkan potensi besar Aceh.

    “Launching AMANAH menjadi momentum strategis konsolidasi pengurus dan badan pekerja dalam memperkuat peran pemuda Aceh yang unggul, produktif, dan berdaya saing,” ujarnya.

    Sejalan dengan itu, Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya menegaskan bahwa penguatan AMANAH merupakan implementasi dari Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya terkait peningkatan kualitas tenaga kerja dan hilirisasi ekonomi kreatif. Ia menjelaskan bahwa industri kreatif merupakan sektor strategis dalam menciptakan lapangan kerja berbasis keterampilan yang harus terus ditingkatkan.

    “Hilirisasi tidak hanya berlaku pada sektor tambang, tetapi juga industri kreatif, seperti fashion asing menjadi produk lokal, parfum asing menjadi produk lokal, film asing menjadi produksi lokal, hingga aplikasi asing menjadi karya lokal,” jelasnya.

    Ia menambahkan bahwa AMANAH diharapkan menjadi pusat kurasi, inkubasi ide, serta penguatan komersialisasi kekayaan intelektual, akses pembiayaan, dan pemasaran produk kreatif. Kolaborasi multipihak, termasuk pemerintah, akademisi seperti Universitas Syiah Kuala, dunia usaha, lembaga keuangan, serta komunitas kreatif, dinilai menjadi kunci keberhasilan ekosistem ini.

    Gubernur Aceh dalam kesempatan yang sama menegaskan bahwa relaunching AMANAH menjadi penanda penting dimulainya kembali fungsi gedung sebagai pusat kolaborasi lintas sektor. Ia menyebutkan bahwa AMANAH diharapkan menjadi wadah sinergi untuk mengembangkan potensi daerah secara berkelanjutan.

    “Gedung AMANAH diharapkan menjadi wadah sinergi antara pemerintah, pelaku ekonomi kreatif, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya,” ucapnya.

    Ia juga menekankan bahwa program ini diharapkan dapat memberikan dampak nyata, terutama dalam mengurangi pengangguran dan kemiskinan melalui pendekatan ekonomi kreatif yang lebih terarah.

    Dengan semangat kolaborasi dan hilirisasi, AMANAH Aceh diproyeksikan menjadi motor penggerak ekonomi kreatif daerah yang tidak hanya memperkuat daya saing pemuda, tetapi juga membuka peluang investasi, ekspor, serta penciptaan lapangan kerja baru di masa mendatang.

  • AMANAH Resmi Dikukuhkan Kembali, Jadi Penggerak Utama Pemberdayaan Pemuda Aceh Menuju Daya Saing Global

    Banda Aceh – Yayasan Aneuk Muda Aceh Unggul dan Hebat atau AMANAH secara resmi dikukuhkan kembali. Yayasan ini hadir sebagai wahana pemberdayaan generasi muda Aceh yang bertumpu pada inovasi teknologi, kewirausahaan berbasis komoditas lokal, sekaligus selaras dengan Asta Cita Presiden Prabowo, khususnya dalam hal hilirisasi industri.

    Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya, dalam sambutannya menjelaskan bahwa mengacu pada Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya poin ke-3 tentang peningkatan tenaga kerja berkualitas melalui pengembangan industri kreati, industri kreatif dipandang sebagai sektor strategis untuk menciptakan lapangan kerja berkualitas berbasis keterampilan (skill) yang harus terus diasah.

    “Kehadiran AMANAH di Aceh diharapkan menjadi wadah untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas SDM kreatif daerah,” kata Menteri Teuku.

    Dirinya menyebuut bahwa Asta Cita poin ke-5 menekankan pentingnya hilirisasi guna meningkatkan nilai tambah ekonomi, dimana hilirisasi tidak hanya berlaku untuk sektor tambang, tetapi juga industri kreatif, sepert fashion, parfum, film dan aplikasi asing menjadi produk lokal

    “Target utama adalah menjadikan Indonesia, termasuk Aceh, sebagai pemain industri kreatif di tingkat global,” tuturnya.

    Ketua Yayasan AMANAH, Syaifullah Muhammad, menyampaikan bahwa visi utama lembaga ini adalah mewujudkan generasi muda Aceh yang inovatif, mandiri, dan berdaya saing global.

    “Misi yang kami jalankan, yaitu, mengembangkan ekosistem kewirausahaan berbasis inovasi, mendorong pemanfaatan teknologi di berbagai sektor, memberdayakan UMKM dan ekonomi lokal, meningkatkan kapasitas dan kompetensi pemuda melalui pelatihan, serta mewujudkan pembangunan berkelanjutan berbasis komunitas”, kata Syaifullah.

    Dirinya berharap AMANAH menjadi salah satu stakeholder yang menggerakkan anak muda Aceh agar mampu bersaing di tingkat lokal, nasional, hingga global.

    Salah satu unggulan yang dikembangkan adalah teknologi pemurnian minyak nilam menggunakan molecular distillation and fractionation, yaitu teknologi yang juga digunakan oleh Prancis dan Amerika Serikat.

    “Dengan teknologi ini, minyak nilam bisa masuk ke grade kosmetik, skincare, hingga parfum. Ini penting karena selama ini bahan mentah dari Indonesia diekspor, lalu kita membeli kembali dalam bentuk produk jadi,” jelasnya.

    Melalui teknologi ini, minyak nilam asal Aceh tidak lagi diekspor dalam bentuk bahan mentah, melainkan diolah hingga memenuhi standar kosmetik, skincare, dan parfum berkualitas tinggi. AMANAH bahkan telah memiliki fasilitas produksi dan formulasi kosmetik serta parfum untuk mendukung substitusi impor.

    “Jika ini berjalan, maka hilirisasi benar-benar terjadi di dalam negeri, dari bahan baku hingga produk akhir. Ini akan menjadi gerakan ekonomi yang sangat besar,” tegas Syaifullah.

    Menurutnya, respons publik sangat positif, dengan sejumlah influencer kembali mempromosikan AMANAH sebagai pusat pengembangan pemuda Aceh. AMANAH akan menerapkan kolaborasi pentahelix, melibatkan pemerintah, akademisi, bisnis, komunitas, dan media, untuk mempercepat pemberdayaan pemuda Aceh secara terukur dan terintegrasi.

    Sebelumnya, Walikota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal menyebut bahwa fasilitas AMANAH menjadi ruang nyata bagi anak muda untuk berkembang dan berinovasi.

    “Fasilitas di sini sangat lengkap dan luar biasa. Ini adalah jawaban bagi keresahan anak muda kita yang memiliki bakat, tetapi sering terkendala infrastruktur,” tuturnya.

    Kolaborasi dan sinergitas antarpemangku kepentingan diharapkan mendorong pemanfaatan teknologi di berbagai sektor, memberdayakan UMKM dan ekonomi lokal dan meningkatkan kapasitas serta kompetensi pemuda yang berakar pada kekayaan potensi daerah. [-RWA]

  • AMANAH Resmi Relaunching, Fokus pada Hilirisasi dan Penguatan Ekosistem Ekonomi Kreatif Aceh

    Aceh Besar – Yayasan Aneuk Muda Aceh Unggul Hebat (AMANAH) resmi memulai babak baru melalui momentum Relaunching dengan semangat “Restart and Rise”. Langkah strategis ini mempertegas posisi AMANAH sebagai motor penggerak hilirisasi di sektor ekonomi kreatif dan komoditas lokal, selaras dengan program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat kemandirian ekonomi nasional.

    Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, dalam sambutannya menekankan bahwa kehadiran AMANAH merupakan implementasi nyata dari Asta Cita poin ke-3 dan ke-5. Fokus utamanya adalah peningkatan kualitas SDM melalui pengembangan industri kreatif serta penciptaan nilai tambah ekonomi lewat hilirisasi.

    “Hilirisasi yang kita dorong bukan hanya di sektor tambang, tetapi juga industri kreatif. Kita ingin melihat produk fashion, parfum, hingga film asing bertransformasi menjadi karya lokal yang berkualitas global. AMANAH adalah wadah untuk mewujudkan hal tersebut di Aceh,” ujar Teuku Riefky.

    Sejalan dengan visi tersebut, Ketua Yayasan AMANAH, Dr. Saifullah Muhammad, menjelaskan bahwa fokus utama gerakan ini adalah memberikan nilai tambah nyata pada komoditas unggulan daerah. Salah satu terobosan konkret yang dihadirkan adalah penerapan teknologi molecular distillation and fractionation untuk pemurnian minyak nilam.

    “Selama ini kita berhenti di komoditas mentah. Dengan teknologi ini, minyak nilam kita masuk ke grade kosmetik dan parfum. Jika ini berjalan, maka hilirisasi benar-benar terjadi di dalam negeri, dari bahan baku hingga produk akhir. Ini akan menjadi gerakan ekonomi yang sangat besar,” jelas Saifullah.

    Saifullah menambahkan bahwa AMANAH telah menyiapkan fasilitas pendukung mulai dari rumah kemasan hingga studio fotografi produk untuk meningkatkan daya saing UMKM.

    “Kami ingin produk mereka tidak hanya bagus secara kualitas, tetapi juga siap masuk pasar dengan standar tinggi. Kami mendorong pemuda Aceh untuk mampu berkompetisi tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga di level global,” pungkasnya.

    Pemerintah Provinsi Aceh turut memberikan dukungan penuh dengan menjadikan Gedung AMANAH sebagai pusat kolaborasi lintas sektor atau hub bagi ekosistem pentahelix.

    Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, dalam sambutannya menekankan bahwa fasilitas ini harus menjadi ruang tumbuh bagi kreativitas yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.

    “Pendekatan berbasis kerja sama yang diusung melalui AMANAH dinilai mampu memberikan dampak nyata dalam menjawab tantangan sosial ekonomi, termasuk membantu mengurangi pengangguran dan kemiskinan di Aceh melalui program yang lebih terarah,” tutur Muzakir.

    Ke depan, AMANAH akan mengedepankan pendekatan social enterprise yang menggabungkan pelatihan kapasitas diri dengan penguatan ekosistem bisnis.

    Transformasi ini menjadi sinyal kuat bahwa sinergi antara pusat dan daerah dalam bingkai Asta Cita dapat mengakselerasi lahirnya generasi muda Aceh yang inovatif, mandiri, dan berdaya saing global. #

  • AMANAH Sejalan Asta Cita, Dorong Daya Saing Ekonomi Lokal ke Tingkat Global

    Aceh – Program AMANAH semakin mengukuhkan posisinya sebagai pusat pengembangan generasi muda Aceh yang selaras dengan agenda besar Asta Cita pemerintah, khususnya dalam mendorong hilirisasi dan penguatan ekonomi berbasis potensi lokal. Dengan pendekatan inovatif dan kolaboratif, AMANAH hadir sebagai motor penggerak ekonomi kreatif yang mampu membawa komoditas daerah naik kelas ke pasar global.

    Ketua Yayasan AMANAH, Syaifullah Muhammad, menegaskan bahwa arah pengembangan AMANAH ke depan berfokus pada penciptaan generasi muda yang inovatif, mandiri, dan berdaya saing global. “Visi utama kami adalah pengembangan generasi muda Aceh yang inovatif, mandiri, dan berdaya saing global. Untuk itu, kami membangun ekosistem kewirausahaan berbasis inovasi serta mendorong pemanfaatan teknologi di berbagai sektor,” ujarnya.

    Ia menjelaskan bahwa AMANAH tidak hanya berfokus pada pengembangan individu, tetapi juga pada pemberdayaan ekonomi lokal. Melalui pelatihan, pendampingan, serta penguatan kapasitas pemuda, AMANAH turut mendorong pertumbuhan UMKM dan pembangunan berkelanjutan berbasis komunitas.

    Menurut Syaifullah, AMANAH juga secara aktif mengadopsi arah kebijakan nasional, khususnya Asta Cita yang diusung Prabowo Subianto. “Kami mempelajari Asta Cita Presiden, lalu kami adopsi menjadi gerakan di AMANAH agar bisa bersinergi dengan pemerintah, baik pusat maupun daerah,” jelasnya.

    Salah satu implementasi nyata dari sinergi tersebut adalah penguatan hilirisasi berbasis komoditas lokal. AMANAH mendorong pengembangan produk unggulan seperti kopi dan nilam agar tidak hanya menjadi bahan mentah, tetapi memiliki nilai tambah melalui inovasi dan teknologi.

    Pendekatan ini sejalan dengan strategi nasional dalam memperkuat hilirisasi sebagai kunci peningkatan daya saing ekonomi Indonesia. Dengan mengolah komoditas lokal menjadi produk bernilai tinggi, AMANAH turut berkontribusi dalam menciptakan lapangan kerja serta memperluas akses pasar bagi pelaku usaha muda.

    Selain itu, AMANAH juga diproyeksikan menjadi pusat aktivitas kreatif atau hotspot bagi anak muda Aceh. Berbagai program dan fasilitas yang tersedia mampu menarik minat generasi muda untuk berinovasi dan berkolaborasi dalam menciptakan solusi ekonomi berbasis lokal.

    “Responsnya sangat positif. Banyak influencer mulai kembali membicarakan AMANAH, dan kami juga memperkuat kerja sama dengan kampus seperti Universitas Syiah Kuala dan UIN Ar-Raniry sebagai basis komunitas anak muda kreatif,” ungkap Syaifullah.

    Kolaborasi lintas sektor ini dinilai menjadi kunci keberhasilan AMANAH dalam membangun ekosistem inovasi yang berkelanjutan. Sinergi antara pemerintah, akademisi, dan komunitas kreatif membuka peluang besar bagi lahirnya generasi muda yang siap bersaing di tingkat global.

    Dengan semangat Asta Cita dan fokus pada hilirisasi, AMANAH tidak hanya menjadi wadah pengembangan pemuda, tetapi juga lokomotif baru dalam mendorong transformasi ekonomi Aceh yang inklusif, produktif, dan berdaya saing tinggi.