Kategori: Uncategorized

  • Indonesia dan India Sepakati Sejumlah Kerja Sama Strategis, Kemitraan Komprehensif Makin Kuat

    Jakarta — Pemerintah Indonesia dan India memperkuat hubungan bilateral melalui kesepakatan 15 kerja sama strategis di berbagai bidang sebagai bagian dari penguatan Kemitraan Strategis Komprehensif kedua negara. Kesepakatan tersebut dicapai dalam pertemuan bilateral Presiden RI, Prabowo Subianto dan Perdana Menteri (PM) Republik India, Narendra Modi di Istana Merdeka, Jakarta.

    Kerja sama yang disepakati mencakup sektor pendidikan, kesehatan, energi, kebudayaan, ekonomi, keamanan, hingga politik. Pertemuan kedua pemimpin negara menjadi tonggak penting dalam mempertahankan hubungan yang telah terjalin erat dan penuh sejarah sekaligus mencerminkan komitmen kedua negara untuk terus memajukan kemitraan melalui kerja sama yang konkret dan saling menguntungkan.

    Dalam kesempatan tersebut, Presiden Prabowo optimistis seluruh kesepakatan dapat segera diwujudkan.

    “Kami yakin, kesepakatan-kesepakatan tersebut dapat segera diimplementasikan sehingga memberi hasil dan manfaat nyata bagi masyarakat kedua negara,” kata Presiden Prabowo.

    Kesepakatan tersebut juga menjadi respons atas tantangan global, mulai dari dinamika geopolitik, ketahanan rantai pasok, transisi energi, hingga percepatan transformasi digital. Kedua negara sepakat memperkuat perdagangan dan investasi melalui perluasan akses pasar, peningkatan konektivitas bisnis, serta penciptaan iklim investasi yang kondusif.

    Selain itu, Indonesia dan India memperluas kolaborasi di bidang ketahanan pangan, kesehatan, energi baru dan terbarukan, transformasi digital, pengembangan kecerdasan artifisial, keamanan siber, pendidikan, penelitian, kebudayaan, serta penguatan kerja sama maritim guna mendukung stabilitas kawasan Indo-Pasifik yang damai, terbuka, dan inklusif.

    Menanggapi hasil pertemuan tersebut, Menteri Koordinator Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar atau Cak Imin menilai penguatan hubungan Indonesia dan India memiliki nilai strategis bagi agenda pemberdayaan masyarakat. Menurutnya, India merupakan salah satu mitra penting Indonesia dengan jumlah penduduk yang besar serta pertumbuhan ekonomi yang terus meningkat sehingga membuka peluang lebih luas bagi produk, investasi, dan talenta Indonesia untuk menembus pasar global.

    “India merupakan pasar yang sangat strategis bagi Indonesia. Semakin kuat hubungan kedua negara, semakin besar peluang bagi produk-produk masyarakat kita untuk masuk ke pasar internasional. Ini bukan hanya tentang perdagangan antarnegara, tetapi juga membuka ruang yang lebih luas bagi ekonomi rakyat untuk berkembang,” ujar Muhaimin.

    Ia berharap penguatan hubungan bilateral Indonesia dan India tidak hanya mempererat kerja sama antarnegara, tetapi juga meningkatkan daya saing nasional serta memperluas kesempatan ekonomi bagi masyarakat sehingga manfaat kemitraan dapat dirasakan secara lebih merata..

  • Kolaborasi Strategis RI-India Perkuat Pertahanan, Industri, Hingga Ekonomi Digital

    Oleh : Naya Salsabila

    Kolaborasi strategis antara Indonesia dan India memasuki babak baru yang semakin komprehensif. Hubungan kedua negara yang selama ini dibangun atas dasar sejarah panjang, kedekatan sebagai negara demokrasi besar di kawasan Asia, serta kepentingan bersama dalam menjaga stabilitas kawasan, kini berkembang menuju kemitraan yang lebih berorientasi pada penguatan kapasitas nasional. Pertemuan tingkat tinggi antara Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Narendra Modi menjadi momentum penting dalam memperluas ruang kerja sama, tidak hanya di sektor pertahanan, tetapi juga industri, investasi, transfer teknologi, hilirisasi, hingga penguatan ekonomi digital. Perkembangan tersebut menunjukkan bahwa diplomasi Indonesia semakin diarahkan untuk menghasilkan manfaat konkret bagi pembangunan nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia di tengah dinamika geopolitik dan ekonomi global.

    Penguatan kerja sama pertahanan merupakan salah satu langkah strategis yang memiliki nilai penting bagi kedua negara. Selama ini hubungan Indonesia dan India di bidang pertahanan lebih banyak berfokus pada kerja sama antarmiliter melalui latihan bersama, pertukaran personel, maupun dialog keamanan. Kini, orientasi tersebut berkembang menuju kolaborasi industri pertahanan yang memungkinkan kedua negara membangun kapasitas produksi, pengembangan teknologi, dan kemandirian alutsista secara bersama. Pergeseran paradigma ini mencerminkan semakin besarnya kepercayaan antara Indonesia dan India dalam membangun kemitraan jangka panjang yang saling menguntungkan.

    Kerja sama industri pertahanan juga memiliki dampak ekonomi yang tidak kecil. Pengembangan teknologi pertahanan biasanya melibatkan berbagai sektor pendukung, mulai dari manufaktur, elektronika, teknologi informasi, material maju, hingga industri maritim. Dengan demikian, manfaat yang dihasilkan tidak hanya dirasakan oleh institusi pertahanan, tetapi juga mampu menciptakan efek berganda terhadap pertumbuhan industri nasional, peningkatan investasi, pembukaan lapangan kerja berkualitas, serta peningkatan daya saing produk Indonesia di pasar internasional.

    Selain sektor pertahanan, hubungan Indonesia dan India juga diarahkan pada penguatan kerja sama ekonomi yang lebih berkualitas. Selama bertahun-tahun, hubungan ekonomi kedua negara memang menunjukkan tren positif melalui peningkatan perdagangan bilateral. Namun, tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa hubungan tersebut mampu menciptakan nilai tambah yang lebih besar melalui investasi produktif, hilirisasi industri, serta transfer teknologi. Pendekatan seperti ini menjadi sangat penting agar kerja sama ekonomi tidak berhenti pada aktivitas ekspor-impor semata, melainkan mampu memperkuat struktur industri nasional.

    Dorongan terhadap hilirisasi industri mencerminkan kesamaan visi kedua negara dalam meningkatkan nilai tambah sumber daya yang dimiliki. Indonesia tengah menjalankan kebijakan hilirisasi berbagai komoditas strategis sebagai bagian dari transformasi ekonomi nasional. India, yang memiliki pengalaman dalam pengembangan industri manufaktur, teknologi, farmasi, hingga digital, dapat menjadi mitra penting dalam mempercepat proses tersebut. Sinergi kedua negara membuka peluang bagi lahirnya investasi baru yang berbasis teknologi dan inovasi.

    Transfer teknologi menjadi salah satu aspek paling strategis dalam hubungan Indonesia dan India. Kemajuan suatu bangsa tidak hanya ditentukan oleh besarnya investasi yang masuk, tetapi juga oleh kemampuan menguasai teknologi yang digunakan dalam proses produksi. Oleh karena itu, setiap kerja sama internasional yang mampu menghadirkan alih teknologi akan memberikan manfaat jangka panjang bagi peningkatan kualitas sumber daya manusia, penguatan riset nasional, serta percepatan transformasi industri Indonesia menuju ekonomi berbasis inovasi.

    Tidak kalah penting, perkembangan teknologi digital membuka ruang kolaborasi baru antara Indonesia dan India. India dikenal sebagai salah satu negara dengan perkembangan teknologi informasi yang pesat, sementara Indonesia merupakan salah satu pasar digital terbesar di Asia Tenggara. Sinergi kedua negara dalam pengembangan ekonomi digital, kecerdasan buatan, layanan digital, keamanan siber, hingga pengembangan talenta digital akan menjadi modal penting dalam mempercepat transformasi ekonomi nasional. Kolaborasi tersebut juga dapat memperluas akses pelaku usaha kecil dan menengah terhadap pasar global melalui pemanfaatan teknologi digital.

    Sekretaris (Timur) Kementerian Luar Negeri India, Rudrendra Tandon, menyampaikan bahwa Indonesia dan India sepakat memperluas kerja sama pertahanan dari hubungan antarmiliter menuju kolaborasi industri pertahanan yang mencakup sektor perkapalan, sistem persenjataan, hingga teknologi rudal melalui pembentukan kerangka kerja yang memungkinkan perusahaan-perusahaan kedua negara bekerja sama secara lebih intensif. Sementara itu, Ketua DPR RI, Puan Maharani, menegaskan bahwa kemitraan strategis Indonesia dan India perlu diarahkan pada penguatan investasi, hilirisasi industri, transfer teknologi, serta penguatan rantai pasok regional sehingga menghasilkan kerja sama ekonomi yang lebih berkualitas dan memberikan nilai tambah bagi kedua negara.

    Pada akhirnya, penguatan kolaborasi strategis Indonesia dan India merupakan investasi jangka panjang yang tidak hanya memperkuat pertahanan negara, tetapi juga mempercepat transformasi ekonomi nasional menuju industri yang lebih maju, inovatif, dan berdaya saing tinggi. Apabila seluruh peluang tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal melalui implementasi yang konsisten dan melibatkan dunia usaha, akademisi, serta lembaga riset, maka kemitraan Indonesia dan India akan menjadi salah satu pilar penting dalam memperkuat ketahanan nasional, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, sekaligus memperkokoh posisi Indonesia sebagai kekuatan strategis di kawasan Indo-Pasifik.

    *Penulis adalah Pengamat Politik

  • Diplomasi Konkret Presiden Prabowo dalam Kemitraan Indonesia–India

    Oleh : Antonius Utomo

    Hubungan Indonesia dan India memasuki babak baru yang semakin strategis di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto. Diplomasi yang dijalankan tidak hanya berhenti pada pernyataan politik dan simbol persahabatan antarnegara, tetapi telah diwujudkan melalui berbagai kerja sama konkret yang menyentuh sektor pertahanan, ekonomi, teknologi, ketahanan pangan, hingga pelestarian warisan budaya. Langkah ini menunjukkan bahwa diplomasi Indonesia saat ini diarahkan untuk menghasilkan manfaat nyata bagi kepentingan nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam percaturan kawasan Indo-Pasifik.

    Kunjungan kenegaraan Perdana Menteri India Narendra Modi ke Indonesia pada Juli 2026 menjadi momentum penting yang menandai penguatan Kemitraan Strategis Komprehensif kedua negara. Dalam pertemuan bilateral di Jakarta, Presiden Prabowo dan PM Modi menyaksikan penandatanganan 16 dokumen kerja sama yang mencakup berbagai bidang strategis, mulai dari keamanan maritim, pertahanan, pertanian, kesehatan, mineral kritis, hingga pengembangan teknologi. Kesepakatan tersebut mencerminkan keseriusan kedua negara dalam membangun hubungan yang tidak hanya bersifat diplomatik, tetapi juga berorientasi pada hasil dan kepentingan jangka panjang.

    Presiden Prabowo Subianto mengatakan kunjungan Perdana Menteri Modi kali ini menjadi tonggak bersejarah. Kunjungan ini merupakan cermin komitmen kedua negara untuk terus memajukan kemitraan strategis komprehensif melalui kerja sama yang konkret dan saling menguntungkan.

    Salah satu capaian yang paling menonjol adalah penguatan kerja sama pertahanan. Indonesia dan India sepakat meningkatkan kolaborasi industri pertahanan melalui pengadaan sistem persenjataan, transfer pengetahuan, pelatihan, serta pengembangan kapasitas sumber daya manusia. Kerja sama ini memperkuat kemampuan pertahanan nasional sekaligus membuka peluang bagi industri pertahanan dalam negeri untuk berkembang melalui kemitraan yang saling menguntungkan. Kesepakatan pengadaan rudal BrahMos dan kerja sama pengembangan sistem pertahanan udara menjadi bukti bahwa hubungan kedua negara telah bergerak ke arah kemitraan strategis yang lebih mendalam.

    Di sektor ekonomi, diplomasi Presiden Prabowo juga menghasilkan terobosan yang penting. Indonesia dan India memperluas kerja sama dalam pengembangan rantai pasok mineral kritis, industri manufaktur, serta investasi strategis yang mendukung hilirisasi nasional. Kolaborasi ini sejalan dengan agenda pemerintah untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri dan memperkuat posisi Indonesia sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru di kawasan. Kerja sama tersebut juga diharapkan mampu menciptakan lapangan kerja, mendorong transfer teknologi, dan meningkatkan daya saing industri nasional di pasar global.

    Selain bidang ekonomi dan pertahanan, kedua negara juga memberikan perhatian besar terhadap ketahanan pangan. Indonesia dan India sepakat memperkuat kerja sama pertanian melalui peningkatan produktivitas, pertukaran teknologi, serta pengembangan sistem rantai pasok pangan yang lebih efisien. Bagi Indonesia, langkah ini sangat relevan dengan agenda besar pemerintah dalam mewujudkan swasembada pangan dan memperkuat ketahanan nasional menghadapi tantangan global yang semakin kompleks.

    Kemitraan Indonesia–India juga berkembang pada sektor teknologi dan transformasi digital. Kedua negara menjajaki kerja sama dalam pengembangan kecerdasan buatan, digitalisasi layanan publik, dan inovasi teknologi yang dapat mendukung peningkatan produktivitas ekonomi. Kerja sama ini menjadi penting mengingat Indonesia sedang mempercepat transformasi digital di berbagai sektor sebagai fondasi menuju negara maju.

    Yang menarik, diplomasi Presiden Prabowo tidak hanya berfokus pada aspek ekonomi dan keamanan. Hubungan kedua negara juga diperkuat melalui kerja sama budaya yang memiliki nilai historis tinggi. Kunjungan Presiden Prabowo dan PM Modi ke Kompleks Candi Prambanan menjadi simbol kuat kedekatan peradaban Indonesia dan India yang telah terjalin selama berabad-abad.

    Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa  dalam kunjungan Presiden Prabowo dan PM India ke Candi Prambanan, meninjau cagar budaya dan keagamaan terbesar dunia. Beberapa agenda, di antaranya adalah penandatanganan kerja sama untuk konservasi Candi Prambanan serta akan melakukan ibadah di Kompleks Candi Prambanan.

    Pendekatan yang ditempuh Presiden Prabowo menunjukkan karakter diplomasi yang pragmatis sekaligus visioner. Di satu sisi, diplomasi diarahkan untuk menghasilkan manfaat konkret yang dapat dirasakan langsung oleh masyarakat melalui peningkatan investasi, perdagangan, teknologi, dan keamanan. Di sisi lain, Indonesia tetap mengedepankan nilai-nilai persahabatan, kerja sama antarbangsa, serta penghormatan terhadap sejarah dan budaya sebagai fondasi hubungan jangka panjang.

    Penguatan kemitraan dengan India juga memiliki arti strategis dalam konteks geopolitik kawasan Indo-Pasifik. Sebagai dua negara demokrasi terbesar di dunia yang sama-sama memiliki posisi penting di Samudra Hindia, Indonesia dan India memiliki kepentingan bersama dalam menjaga stabilitas kawasan, keamanan jalur perdagangan, serta mendorong tata kelola global yang lebih inklusif. Kesamaan visi tersebut semakin memperkuat fondasi kerja sama yang telah dibangun selama ini.

    Melalui berbagai capaian tersebut, diplomasi Presiden Prabowo memperlihatkan bagaimana hubungan luar negeri dapat menjadi instrumen pembangunan nasional yang efektif. Kemitraan Indonesia–India tidak lagi sekadar hubungan bilateral yang bersifat simbolik, melainkan telah berkembang menjadi kerja sama strategis yang menghasilkan manfaat nyata bagi kedua negara. Dengan fondasi yang semakin kuat dan ruang kerja sama yang terus berkembang, hubungan Indonesia dan India berpotensi menjadi salah satu pilar penting dalam mendukung stabilitas kawasan, pertumbuhan ekonomi, dan kemajuan bersama di masa depan.

    )* Pengamat Kebijakan Publik

  • Pemerintah Perkuat Kolaborasi OJK, Perbankan, Fintech, dan Polri Tangani Online Scam Keuangan

    Jakarta – Pemerintah terus memperkuat sinergi lintas sektor untuk menghadapi meningkatnya ancaman penipuan digital (online scam) yang semakin kompleks dan berkaitan dengan aktivitas keuangan ilegal serta tindak pidana pencucian uang. Kolaborasi antara Otoritas Jasa Keuangan (OJK), industri perbankan, perusahaan teknologi finansial (fintech), Kepolisian Negara Republik Indonesia (Polri), serta berbagai pemangku kepentingan dinilai menjadi kunci dalam melindungi masyarakat sekaligus menjaga stabilitas sistem keuangan nasional.

    Penguatan koordinasi tersebut dilakukan melalui Regional Expert Group Meeting on Online Scams bertajuk Strengthening Financial Intelligence, AML/CFT Regulation, and Law Enforcement Cooperation in Southeast Asia yang digelar di Jakarta. Forum ini mempertemukan regulator sektor keuangan, aparat penegak hukum, lembaga intelijen keuangan, bank sentral, lembaga jasa keuangan, serta mitra internasional untuk memperkuat kerja sama menghadapi kejahatan digital lintas negara.

    Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono, mengatakan karakter kejahatan digital telah berubah sehingga membutuhkan respons yang lebih terintegrasi.

    “Online scams tidak lagi dapat dipandang sebagai kejahatan yang berdiri sendiri. Penipuan digital kini semakin terhubung dengan aktivitas keuangan ilegal dan tindak pidana pencucian uang, sehingga pencegahannya membutuhkan respons yang cepat, terintegrasi, dan berbasis intelijen keuangan,” ujar Dicky.

    Menurutnya, pesatnya perkembangan ekosistem keuangan digital memang mendorong inklusi dan pertumbuhan ekonomi. Namun, kondisi tersebut juga dimanfaatkan pelaku kejahatan melalui berbagai modus seperti investasi palsu, phishing, social engineering, account takeover, job scam, e-commerce fraud, hingga penyalahgunaan rekening penampung (money mule).

    Dicky menambahkan, kecepatan perpindahan dana dalam sistem keuangan digital menjadi tantangan besar bagi penegakan hukum.

    “Dalam ekosistem keuangan digital, dana hasil kejahatan dapat berpindah dalam hitungan menit melalui berbagai platform, rekening penampung, aset virtual, dan transaksi lintas negara,” katanya.

    Karena itu, pemerintah mendorong penguatan sinergi antara OJK, Satgas PASTI, sektor perbankan, perusahaan fintech, Polri, serta aparat penegak hukum lainnya guna mempercepat pertukaran informasi, memperkuat intelijen keuangan, serta meningkatkan efektivitas pelacakan dan pemulihan aset hasil kejahatan.

    Pemerintah juga mengimbau masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan dengan menjaga kerahasiaan data pribadi, PIN, kata sandi, dan kode OTP, tidak mudah tergiur investasi ilegal, serta selalu memastikan legalitas pelaku usaha jasa keuangan melalui kanal resmi OJK. Langkah preventif tersebut diharapkan mampu mempersempit ruang gerak pelaku kejahatan sekaligus membangun ekosistem keuangan digital yang aman, sehat, dan terpercaya.

  • Leaders Retreat 2026 Perkuat Kerja Sama Investasi, Energi, dan Ekonomi Digital

    JAKARTA — Indonesia dan Singapura memperkuat kemitraan ekonomi strategis melalui Leaders’ Retreat 2026 di Istana Merdeka, Jakarta. Pertemuan Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong menghasilkan 26 kesepakatan yang mencakup kerja sama antarpemerintah maupun antarpelaku usaha.

    Presiden Prabowo mengatakan hubungan Indonesia dan Singapura memiliki nilai strategis karena dibangun atas kepentingan bersama dalam menjaga stabilitas, perdamaian, dan kemakmuran kawasan. Menurutnya, hasil pertemuan tersebut menunjukkan semakin eratnya hubungan bilateral kedua negara.

    Di tengah tantangan ekonomi global dan dinamika geopolitik, kedua negara berkomitmen mempercepat implementasi berbagai proyek strategis untuk meningkatkan daya saing ekonomi sekaligus memperkuat ketahanan kawasan.

    Sebanyak 26 kesepakatan yang dicapai terdiri atas 18 kerja sama antarpemerintah (government-to-government) dan delapan kerja sama antarpelaku usaha (business-to-business). Kerja sama tersebut mencakup sektor perdagangan, investasi, perdagangan listrik lintas batas, energi, ekonomi digital, pengembangan ekosistem digital, serta keamanan siber.

    Presiden Prabowo menyatakan seluruh capaian tersebut mencerminkan semakin luas dan mendalamnya kemitraan Indonesia dan Singapura. Pemerintah juga menunjuk BPI Danantara untuk mendukung implementasi sejumlah proyek strategis, termasuk kerja sama perdagangan listrik lintas batas sebagai bagian dari pengembangan energi berkelanjutan.

    Selain bidang ekonomi, kedua negara menyepakati peningkatan kerja sama di sektor ketahanan pangan, rantai pasok, pengembangan sumber daya manusia, serta implementasi kerja sama pertahanan. Langkah tersebut diharapkan mampu menciptakan iklim investasi yang semakin kondusif sekaligus memperkuat konektivitas ekonomi di Asia Tenggara.

    Pertemuan juga membahas berbagai isu regional dan global, termasuk pentingnya menjaga stabilitas kawasan melalui dialog dan diplomasi. Indonesia dan Singapura kembali menegaskan komitmen memperkuat sentralitas ASEAN serta menjaga keamanan dan keterbukaan Selat Malaka sebagai jalur pelayaran internasional yang strategis bagi perdagangan dunia.

    Presiden Prabowo menegaskan bahwa kerja sama kedua negara diharapkan tidak hanya memberikan manfaat bagi Indonesia dan Singapura, tetapi juga berkontribusi terhadap stabilitas, pertumbuhan, dan kemakmuran kawasan Asia Tenggara. Melalui Leaders’ Retreat 2026, kedua negara juga menegaskan komitmen memperkuat hubungan bilateral menjelang peringatan 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia–Singapura pada 2027._

  • Indonesia-Singapura Perkuat Keamanan Selat Malaka demi Stabilitas Perdagangan

    JAKARTA – Indonesia dan Singapura mempertegas komitmen bersama untuk menjaga Selat Malaka sebagai jalur pelayaran internasional yang aman, terbuka, dan bebas dilalui seluruh negara sesuai ketentuan Konvensi Perserikatan Bangsa-Bangsa tentang Hukum Laut (UNCLOS) 1982. Kesepakatan tersebut menjadi salah satu hasil strategis dalam Leaders’ Retreat antara Presiden Prabowo Subianto dan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong di Istana Merdeka, Jakarta, Senin (6/7).

    Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia dan Singapura memiliki kepentingan bersama dalam memastikan keamanan salah satu jalur perdagangan tersibuk di dunia. Sebagai negara yang berbatasan langsung dengan Selat Malaka, kedua negara berkomitmen menjaga kawasan dari ancaman polusi, kecelakaan pelayaran, perompakan, maupun pembajakan yang berpotensi mengganggu kelancaran arus perdagangan internasional.

    “Indonesia dan Singapura adalah negara yang langsung berbatasan di Selat Malaka. Kita berkepentingan untuk menjaga Selat Malaka sebagai lintasan yang bebas untuk semua pihak,” kata Presiden Prabowo.

    Prabowo menegaskan, Indonesia akan terus memperkuat koordinasi dengan Singapura, Malaysia, dan Thailand sebagai negara-negara pantai untuk memastikan implementasi ketentuan UNCLOS 1982 berjalan secara konsisten sehingga Selat Malaka tetap menjadi jalur pelayaran yang aman dan terbuka.

    “Selat Malaka akan selalu terbuka bagi semua, aman, dan dapat diakses oleh siapa pun yang membutuhkan akses. Saya kira itu adalah ketegasan kita, dan saya yakinkan kepada kawan-kawan di Singapura,” ujar Prabowo.

    Menurut Prabowo, kemitraan Indonesia dan Singapura dibangun atas dasar saling percaya serta kepentingan bersama dalam menjaga stabilitas kawasan.

    “Saya kira sudah saya buktikan selama beberapa puluh tahun secara pribadi, komitmen saya, keyakinan saya bahwa Singapura dan Indonesia harus menjadi mitra yang baik,” tegasnya.

    Sementara itu, Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong menyampaikan bahwa kedua negara memiliki pandangan yang sama mengenai pentingnya menjaga kebebasan navigasi dan keamanan jalur komunikasi laut di Selat Malaka maupun Selat Singapura.

    “Baik Presiden Prabowo maupun saya sepakat bahwa kami akan melakukan bagian kami, bersama dengan negara-negara pantai lainnya, untuk memastikan bahwa Selat Malaka dan Selat Singapura tetap aman, terbuka, dan dapat diakses oleh semua pihak,” kata Wong.

    Selain membahas keamanan maritim, pertemuan tahunan tersebut menghasilkan 26 capaian strategis yang terdiri atas 18 kesepakatan antarpemerintah (government-to-government) dan delapan kesepakatan antarpelaku usaha (business-to-business). Kerja sama tersebut meliputi penguatan ketahanan rantai pasok, perdagangan listrik lintas batas, pengembangan energi terbarukan, infrastruktur digital, kecerdasan artifisial untuk perdagangan, hingga kolaborasi di bidang pertahanan, pendidikan, kesehatan, riset, dan pengembangan sumber daya manusia.

    Di bidang ekonomi, kedua negara juga memperkuat sinergi investasi melalui pengembangan Kawasan Industri Kendal, proyek energi surya di Morowali, serta penguatan ekosistem digital yang melibatkan BPI Danantara. Wong menilai, kerja sama tersebut menunjukkan komitmen kedua negara untuk membangun pertumbuhan ekonomi yang lebih tangguh dan berkelanjutan.

    “Anda dapat melihat komitmen terhadap kerja sama tambahan itu dari banyak perjanjian dan nota kesepahaman yang kita tanda tangani hari ini,” ujar Wong.

    Menurut Wong, penguatan hubungan bilateral juga diarahkan untuk memperkokoh ketahanan rantai pasok, memperluas investasi, dan menciptakan peluang ekonomi baru bagi kedua negara maupun kawasan ASEAN.

    Kesepakatan yang dicapai dalam Leaders’ Retreat tidak hanya mempererat hubungan bilateral menjelang peringatan 60 tahun hubungan diplomatik Indonesia-Singapura pada 2027, tetapi juga mempertegas komitmen kedua negara dalam menjaga stabilitas maritim, memperlancar perdagangan internasional, dan memperkuat perdamaian kawasan Asia Tenggara.

    (*/rls)

  • Indonesia-Singapura dan Jalan Baru Kemitraan Investasi Strategis

    Oleh: Ferry Permahadi)*

    Hubungan Indonesia dan Singapura selama beberapa dekade telah berkembang menjadi salah satu kemitraan bilateral paling penting di kawasan Asia Tenggara. Selain karena kedekatan geografis, intensitas kerja sama yang terus meningkat juga menjadikan kedua negara memiliki kepentingan strategis untuk memperkuat kolaborasi jangka panjang.

    Di tengah dinamika ekonomi global yang dipenuhi ketidakpastian, penguatan kemitraan bertujuan untuk membangun ekosistem investasi, perdagangan, dan pembangunan berkelanjutan yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Karena itu, setiap kesepakatan strategis yang dihasilkan memiliki arti penting bagi arah pertumbuhan ekonomi kawasan.

    Presiden Prabowo menegaskan bahwa hubungan Indonesia dan Singapura memasuki fase baru yang lebih konkret melalui berbagai kesepakatan yang dihasilkan dalam Leaders’ Retreat bersama Perdana Menteri Singapura, Lawrence Wong. Menurutnya, pertemuan tersebut menghasilkan puluhan kerja sama strategis yang mencakup berbagai sektor, mulai dari ekonomi, investasi, energi, pertahanan, hingga pengembangan sumber daya manusia.

    Ia memandang bahwa hubungan kedua negara bukan hanya menjaga komunikasi diplomatik, tetapi diarahkan untuk menghasilkan implementasi nyata yang mampu memperkuat daya saing ekonomi nasional. Berbagai kesepakatan yang dicapai menunjukkan adanya komitmen bersama untuk menjawab tantangan global melalui kolaborasi yang saling menguntungkan.

    Presiden Prabowo juga menekankan bahwa Indonesia memandang Singapura sebagai mitra strategis yang memiliki peran penting dalam pembangunan ekonomi nasional. Kepercayaan yang terus terbangun selama bertahun-tahun menjadi modal kuat untuk memperluas kerja sama pada sektor-sektor baru yang memiliki nilai tambah tinggi.

    Komitmen tersebut menjadi sinyal positif bagi dunia usaha dan investor internasional. Sebab, ketika hubungan antarnegara dibangun di atas kepercayaan dan kepastian kerja sama, iklim investasi akan menjadi lebih kondusif sehingga mampu mendorong masuknya modal baru yang mendukung penciptaan lapangan kerja.

    Bagi Indonesia, kerja sama investasi bukan sekadar menghadirkan aliran modal, tetapi juga membuka akses terhadap teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, serta pengembangan industri bernilai tambah. Sebaliknya, bagi Singapura, Indonesia menawarkan pasar yang besar dan peluang investasi jangka panjang.

    Pandangan serupa disampaikan Perdana Menteri Singapura Lawrence Wong yang menegaskan kesiapan negaranya untuk terus memperkuat kemitraan strategis dengan Indonesia. Ia meyakini, kerja sama kedua negara akan diperluas pada berbagai bidang penting, termasuk energi bersih, pertahanan, konektivitas ekonomi, hingga pengembangan investasi berkelanjutan.

    Bagi Singapura, Indonesia merupakan mitra utama dalam menjaga stabilitas dan pertumbuhan ekonomi kawasan. Oleh karena itu, kolaborasi yang dibangun harus mampu memberikan manfaat nyata bagi kedua negara sekaligus memperkuat posisi Asia Tenggara dalam menghadapi dinamika global.

    Lawrence Wong juga menekankan pentingnya membangun hubungan yang berorientasi jangka panjang. Kerja sama tidak hanya diarahkan pada penyelesaian kebutuhan saat ini, tetapi juga pada penciptaan fondasi ekonomi yang tangguh untuk menghadapi tantangan masa depan.

    Salah satu sektor yang menjadi perhatian utama adalah pengembangan energi bersih. Peralihan menuju energi ramah lingkungan bukan hanya menjadi tuntutan global, tetapi juga peluang ekonomi baru yang dapat menciptakan investasi bernilai tinggi bagi kedua negara.

    Dalam konteks ini, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menjelaskan bahwa Indonesia dan Singapura tengah melakukan negosiasi terkait kerja sama ekspor listrik hijau. Pembahasan tersebut dilakukan dengan tetap mengedepankan kepentingan nasional sekaligus memastikan terciptanya kerja sama yang saling menguntungkan.

    Ia menegaskan bahwa pengembangan energi hijau harus memberikan nilai tambah bagi Indonesia, baik dari sisi investasi, pengembangan industri, maupun penciptaan lapangan kerja. Dengan demikian, kerja sama internasional tidak hanya menjadi aktivitas perdagangan, tetapi juga instrumen untuk memperkuat pembangunan nasional.

    Langkah tersebut mencerminkan perubahan orientasi diplomasi ekonomi Indonesia yang semakin menekankan kualitas investasi. Pemerintah tidak hanya mengejar besarnya nilai investasi, tetapi juga manfaat jangka panjang yang dapat dirasakan masyarakat melalui pengembangan teknologi, industri, dan peningkatan kapasitas nasional.

    Kemitraan Indonesia-Singapura memperlihatkan bagaimana hubungan bilateral dapat berkembang menjadi instrumen strategis dalam menghadapi perubahan ekonomi global. Kepercayaan yang telah terbangun selama bertahun-tahun menjadi fondasi bagi lahirnya berbagai kerja sama baru yang lebih relevan dengan tantangan masa kini.

    Di tengah kompetisi ekonomi internasional yang semakin ketat, kolaborasi seperti ini menjadi modal penting bagi kedua negara untuk memperkuat daya saing kawasan. Investasi, inovasi, dan transisi menuju ekonomi hijau dapat berjalan lebih cepat apabila didukung oleh hubungan bilateral yang stabil dan saling percaya.

    Penguatan kemitraan strategis Indonesia dan Singapura tidak hanya mencerminkan keberhasilan diplomasi kedua negara, tetapi juga menghadirkan optimisme baru bagi pembangunan ekonomi nasional. Ketika kerja sama internasional diarahkan pada penciptaan nilai tambah, transfer teknologi, dan pembangunan berkelanjutan, maka manfaatnya akan dirasakan jauh melampaui hubungan antarnegara, yakni dalam bentuk kesejahteraan masyarakat dan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.

    )* Pengamat Isu Luar Negeri

  • Dari Energi hingga Digital, Kemitraan Indonesia–Singapura Makin Strategis

    Oleh : Doni Wicaksono )*

    Hubungan Indonesia dan Singapura memasuki babak baru yang semakin strategis. Jika selama ini kemitraan kedua negara identik dengan perdagangan dan investasi, kini ruang kolaborasi berkembang jauh lebih luas, mencakup transisi energi, ekonomi digital, ketahanan pangan, keamanan siber, hingga pembangunan sumber daya manusia. Hasil Leaders’ Retreat Indonesia–Singapura pada Juli 2026 menjadi bukti bahwa hubungan bilateral tidak lagi sekadar berorientasi pada peningkatan nilai ekonomi, tetapi juga diarahkan untuk membangun daya saing kawasan di tengah perubahan geopolitik dan transformasi ekonomi global.

    Momentum tersebut menunjukkan bahwa Indonesia dan Singapura mampu memanfaatkan karakteristik masing-masing sebagai kekuatan yang saling melengkapi. Indonesia memiliki sumber daya alam, potensi energi terbarukan, serta pasar digital yang besar, sementara Singapura memiliki kapasitas teknologi, pembiayaan, inovasi, dan jaringan global. Kombinasi tersebut menghadirkan peluang besar bagi kedua negara untuk membangun kemitraan yang saling menguntungkan sekaligus memperkuat posisi Asia Tenggara sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru.

    Dalam pernyataan bersama usai Leaders’ Retreat, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa kerja sama ekonomi tetap menjadi fondasi utama hubungan kedua negara, namun kini semakin berkembang ke berbagai sektor strategis. Presiden menyampaikan bahwa peningkatan kolaborasi mencakup perdagangan, konektivitas, energi, ekonomi digital, ekosistem digital, keamanan siber, hingga ketahanan pangan. Menurut Presiden, kemitraan yang kuat tidak hanya dibangun oleh pemerintah, tetapi juga melalui hubungan antarmasyarakat, pendidikan, pariwisata, dan generasi muda. Pemerintah Indonesia juga menunjuk Danantara sebagai pelaksana utama kerja sama perdagangan listrik lintas batas dan berbagai inisiatif lanjutan di sektor energi.

    Pernyataan tersebut mencerminkan perubahan paradigma diplomasi ekonomi Indonesia. Kemitraan kini tidak hanya diukur dari besarnya nilai investasi yang masuk, tetapi juga dari kemampuan menghasilkan nilai tambah, transfer teknologi, penciptaan lapangan kerja, dan peningkatan kapasitas nasional. Pendekatan seperti ini sejalan dengan agenda transformasi ekonomi Indonesia yang berorientasi pada industrialisasi, hilirisasi, dan penguatan ekonomi berbasis inovasi.

    Salah satu sektor yang menjadi perhatian utama adalah energi. Kesepakatan mengenai perdagangan listrik lintas batas menunjukkan bahwa Indonesia memiliki peluang menjadi pemasok energi hijau bagi kawasan. Potensi energi surya, hidro, dan sumber energi terbarukan lainnya dapat dioptimalkan melalui pembangunan infrastruktur bersama dengan Singapura. Kerja sama ini tidak hanya mendukung target penurunan emisi karbon, tetapi juga membuka peluang investasi baru yang mampu menciptakan efek berganda terhadap pertumbuhan industri nasional.

    Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, sebelumnya juga menegaskan bahwa kerja sama energi Indonesia–Singapura diarahkan untuk membangun ekosistem energi hijau yang saling menguntungkan. Menurut Bahlil, pengembangan interkoneksi energi dan perdagangan listrik lintas batas menjadi langkah strategis untuk mempercepat transisi energi sekaligus meningkatkan nilai ekonomi nasional melalui investasi, pembangunan industri, dan penciptaan lapangan kerja. Komitmen tersebut menunjukkan bahwa pemerintah ingin memastikan potensi energi Indonesia memberikan manfaat nyata bagi pembangunan nasional sekaligus memperkuat ketahanan energi kawasan.

    Di sisi lain, sektor digital menjadi dimensi baru yang semakin penting dalam hubungan kedua negara. Indonesia merupakan salah satu pasar digital terbesar di Asia Tenggara dengan jumlah pengguna internet dan ekonomi digital yang terus tumbuh. Kolaborasi dengan Singapura membuka peluang percepatan pembangunan pusat data, penguatan keamanan siber, pengembangan kecerdasan buatan, hingga peningkatan kualitas talenta digital. Kerja sama tersebut menjadi modal penting agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar teknologi, tetapi juga mampu menjadi produsen inovasi digital di kawasan.

    Sinergi digital juga memberikan manfaat langsung bagi masyarakat. Transformasi layanan publik, sistem pembayaran digital, logistik berbasis teknologi, hingga pengembangan usaha mikro dan ekonomi kreatif akan semakin mudah berkembang apabila didukung oleh ekosistem digital yang kuat. Dalam konteks tersebut, kemitraan Indonesia–Singapura menjadi katalis untuk mempercepat transformasi digital yang inklusif dan berkelanjutan.

    Tidak kalah penting, perluasan kerja sama hingga sektor lingkungan hidup dan perdagangan karbon memperlihatkan bahwa kedua negara memiliki visi yang sama mengenai pembangunan berkelanjutan. Kolaborasi dalam pengelolaan karbon, perlindungan lingkungan, dan ekonomi hijau menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak harus mengorbankan keberlanjutan lingkungan. Justru sebaliknya, inovasi hijau dapat menjadi sumber pertumbuhan baru yang memberikan manfaat ekonomi sekaligus menjaga kualitas lingkungan bagi generasi mendatang.

    Ke depan, tantangan terbesar bukan lagi pada penyusunan kesepakatan, melainkan memastikan implementasi berjalan efektif. Komitmen politik yang kuat perlu diterjemahkan menjadi proyek nyata, investasi yang terealisasi, transfer teknologi, peningkatan kapasitas sumber daya manusia, dan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat luas. Dengan fondasi hubungan yang semakin kokoh serta kesamaan visi menghadapi tantangan global, kemitraan Indonesia–Singapura berpotensi menjadi salah satu model kerja sama bilateral paling progresif di kawasan. Dari energi hingga digital, kolaborasi kedua negara bukan hanya memperkuat hubungan bilateral, tetapi juga menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi, inovasi, dan stabilitas regional yang semakin strategis pada masa depan.

    )* Pemerhati kebijakan publik

  • OJK Ajak Masyarakat Segera Lapor jika Menjadi Korban Online Scam Keuangan

    Jakarta – Otoritas Jasa Keuangan (OJK) terus memperkuat upaya pelindungan konsumen di tengah meningkatnya berbagai modus penipuan digital atau online scam di sektor jasa keuangan.

    Masyarakat diimbau untuk segera melaporkan setiap indikasi penipuan yang dialami agar peluang penyelamatan dana menjadi lebih besar melalui mekanisme yang telah disiapkan pemerintah bersama para pemangku kepentingan.

    Ketua Dewan Komisioner OJK, Friderica Widyasari Dewi, menegaskan bahwa kecepatan masyarakat dalam menyampaikan laporan menjadi faktor penting dalam proses penanganan kasus penipuan digital.

    “Kami mengimbau masyarakat yang menjadi korban scam agar segera menyampaikan laporan melalui Indonesia Anti-Scam Centre (IASC). Semakin cepat laporan disampaikan, semakin besar peluang dana korban dapat diblokir dan dikembalikan,” ujar Friderica.

    Menurut Friderica, berbagai modus penipuan kini semakin beragam, mulai dari investasi palsu, penyamaran identitas (impersonation), penipuan belanja daring, penawaran pekerjaan fiktif, hingga love scam.

    Karena itu, masyarakat diharapkan tidak mudah tergiur dengan tawaran keuntungan yang tidak masuk akal serta selalu melakukan verifikasi sebelum melakukan transaksi keuangan.

    Sementara itu, Kepala Eksekutif Pengawas Perilaku Pelaku Usaha Jasa Keuangan, Edukasi, dan Pelindungan Konsumen OJK, Dicky Kartikoyono, mengatakan bahwa ancaman online scam kini semakin kompleks karena berkaitan erat dengan aktivitas keuangan ilegal dan tindak pidana pencucian uang.

    Menurutnya, penanganan kasus penipuan digital membutuhkan respons cepat, kolaborasi lintas sektor, serta pemanfaatan intelijen keuangan agar pelaku dapat segera ditindak dan kerugian masyarakat dapat diminimalkan.

    “Online scam saat ini semakin terhubung dengan aktivitas keuangan ilegal serta tindak pidana pencucian uang. Oleh sebab itu, online scam tidak lagi dapat dipandang sebagai kejahatan yang berdiri sendiri. Pencegahannya membutuhkan respons yang cepat, terintegrasi, dan berbasis intelijen keuangan,” ujar Dicky.

    OJK juga mengajak seluruh masyarakat untuk meningkatkan literasi keuangan digital serta memanfaatkan kanal pelaporan resmi apabila menemukan dugaan penipuan di sektor jasa keuangan.

    Langkah cepat dalam melapor tidak hanya membantu proses penyelamatan dana korban, tetapi juga mendukung upaya pemerintah memutus rantai kejahatan keuangan digital dan memperkuat kepercayaan publik terhadap sistem keuangan nasional. (*)

  • Ketahanan Pangan Jadi Prioritas, Pemerintah Perkuat Sawah, Gudang, dan Distribusi

    Jakarta – Pemerintah terus melakukan pembangunan infrastruktur pertanian yang meliputi bendungan, jaringan irigasi, perluasan lahan sawah, serta penguatan distribusi hasil panen. Program tersebut berkaitan dengan upaya peningkatan ketahanan pangan nasional di tengah perubahan iklim dan meningkatnya kebutuhan pangan.

    Kementerian Pekerjaan Umum (PU) menempatkan pembangunan bendungan dan jaringan irigasi sebagai salah satu prioritas dalam mendukung swasembada pangan nasional.

    Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo menegaskan bahwa ketersediaan air merupakan faktor paling mendasar dalam mewujudkan ketahanan pangan. Menurut dia, peningkatan produksi pertanian tidak cukup hanya mengandalkan pupuk dan benih unggul, melainkan juga harus ditopang sistem irigasi yang baik dan berfungsi optimal.

    “Kalau kita melihatnya, kalau pangan mau kuat atau kalau mau swasembada pangan ya otomatis airnya harus pasti dulu. Bagaimanapun juga padi itu butuh air. Karena itu fokus kita memastikan sawah-sawah tidak lagi bergantung pada air hujan, tetapi mendapatkan pasokan air dari bendungan maupun embung yang kita bangun,” ujar Dody.

    Ia menambahkan, pembenahan irigasi daerah menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan swasembada pangan. Pemerintah, kata dia, ingin memastikan capaian produksi pangan tidak berhenti pada satu momentum, melainkan terus berlanjut pada tahun-tahun berikutnya melalui dukungan infrastruktur air yang memadai.

    Dukungan terhadap agenda ketahanan pangan nasional juga datang dari Papua Selatan. Pemerintah Provinsi Papua Selatan menyebut lahan cetak sawah di Merauke mencapai 48 ribu hektare dari total 84 ribu hektare lahan cetak sawah di seluruh Tanah Papua.

    “Dari 84 ribu lahan cetak sawah yang dilakukan di seluruh Tanah Papua, di antaranya 48 ribu hektare ada di Kabupaten Merauke,” kata Gubernur Papua Selatan Apolo Safanpo.

    Selain itu, optimalisasi lahan yang dilakukan sejak 2024 hingga 2026 di Tanah Papua mencapai 54 ribu hektare, dengan sekitar 53 ribu hektare atau hampir 99 persen berada di Merauke. Menurut Apolo, hal tersebut menunjukkan besarnya peran Papua Selatan dalam menopang produksi pangan nasional.

    Ia juga mengapresiasi perhatian pemerintah pusat terhadap pengembangan sektor pertanian di Papua Selatan, khususnya di Merauke, yang dinilai memberi semangat baru bagi petani dan daerah dalam meningkatkan produktivitas.

    “Kami berharap ke depan Kabupaten Merauke bisa mengekspor beras ke daerah lain di Indonesia,” tutupnya. (*)