Kategori: Uncategorized

  • Dari Inggris ke Davos, Presiden Prabowo Bawa Pulang Investasi dan Penguatan Posisi Indonesia

    Oleh : Usman Maulana )*

    Presiden Prabowo Subianto melaksanakan kunjungan kerja globalnya dengan membawa pulang hasil konkret yang langsung menggeser posisi Indonesia dalam percaturan dunia. Lawatan ke Inggris dan kehadiran di World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos tidak berhenti pada simbol diplomasi tingkat tinggi, melainkan berbuah kesepakatan, komitmen investasi, serta pesan strategis yang memperlihatkan Indonesia sebagai kekuatan baru yang semakin diperhitungkan. Inggris–Davos menjelma etalase yang menampilkan wajah Indonesia yang lebih percaya diri, tegas, dan berorientasi hasil.

    Di London, Presiden Prabowo mengamankan komitmen investasi senilai 4 miliar pound sterling atau sekitar Rp90 triliun setelah bertemu Perdana Menteri Inggris Keir Starmer. Kesepakatan tersebut tidak berdiri di ruang abstrak, melainkan diarahkan pada sektor maritim yang menyentuh langsung kepentingan nasional. 

    Program pembangunan 1.582 kapal nelayan menjadi simbol nyata dari kerja sama yang tidak hanya berbicara angka, tetapi juga lapangan kerja, industrialisasi, dan penguatan ekonomi pesisir. Proyek tersebut diproyeksikan menyerap ratusan ribu tenaga kerja karena seluruh proses produksi dan perakitan berlangsung di dalam negeri, memperkuat basis industri nasional.

    Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menilai seluruh agenda kunjungan Presiden Prabowo dirancang dengan satu benang merah yang jelas, yakni setiap perjalanan luar negeri harus menghasilkan manfaat langsung bagi Indonesia. 

    Teddy memaparkan bahwa selain sektor maritim, kerja sama pendidikan tinggi juga mendapat perhatian serius. Presiden Prabowo bertemu dengan para profesor dari puluhan universitas ternama Inggris untuk membahas pendirian kampus dan kolaborasi akademik di Indonesia, terutama di bidang kedokteran dan STEM. Langkah tersebut menegaskan bahwa investasi sumber daya manusia ditempatkan sejajar dengan pembangunan fisik dan industri.

    Pertemuan dengan Raja Charles III memperluas spektrum diplomasi Indonesia ke isu lingkungan dan konservasi. Presiden Prabowo membawa agenda pelestarian alam dan konservasi gajah ke meja diskusi bersama tokoh filantropi dunia, memperlihatkan bahwa pembangunan ekonomi tidak dilepaskan dari tanggung jawab ekologis. Diplomasi lingkungan tersebut memperkuat citra Indonesia sebagai negara yang tidak memisahkan pertumbuhan dari keberlanjutan.

    Dari London, Prabowo melangkah ke Davos dengan membawa narasi yang lebih besar. Di hadapan para pemimpin dunia dan CEO global, Presiden memperkenalkan Prabowonomics sebagai peta jalan transformasi ekonomi Indonesia. 

    Konsep tersebut menekankan kemandirian pangan dan energi, stabilitas makro, serta keberanian melakukan reformasi di tengah tekanan geopolitik global. Prabowo menempatkan Indonesia bukan sebagai korban ketidakpastian dunia, melainkan sebagai negara yang mampu mengelola risiko dan mengubahnya menjadi peluang.

    Salah satu pesan paling tegas yang disampaikan Presiden di Davos berkaitan dengan supremasi hukum. Prabowo menegaskan bahwa tidak ada iklim investasi tanpa kepastian dan keadilan hukum. 

    Presiden menyatakan bahwa investor rasional tidak akan menanamkan modal di negara yang mengabaikan penegakan hukum. Komitmen tersebut tidak berhenti pada retorika. Prabowo memaparkan langkah konkret pemerintah dalam menghadapi korupsi dan praktik ekonomi ilegal, termasuk penyitaan jutaan hektare perkebunan dan tambang ilegal sejak awal pemerintahannya. Presiden memosisikan penegakan hukum sebagai fondasi keadilan sosial sekaligus prasyarat pertumbuhan ekonomi berkelanjutan.

    Di Davos pula, Indonesia memamerkan etalase kekuatan ekonomi baru melalui Paviliun Indonesia bertema Indonesia Endless Horizons. Presiden memperkenalkan Danantara sebagai badan pengelola investasi yang dirancang untuk menarik minat investor global secara terstruktur. Kehadiran Danantara memperlihatkan keseriusan pemerintah membangun instrumen kelembagaan yang mampu menjembatani modal global dengan agenda pembangunan nasional.

    Perdana Menteri Keir Starmer menyambut kerja sama maritim dengan Indonesia sebagai kemitraan strategis yang saling menguntungkan. Starmer menilai program tersebut penting bagi Inggris karena membuka lapangan kerja baru, sekaligus memperkuat hubungan bilateral dengan Indonesia. 

    Bagi Indonesia, kemitraan itu membuka ruang revitalisasi industri galangan kapal, penguatan pertahanan maritim, dan pemberdayaan komunitas nelayan. Apresiasi tersebut menegaskan bahwa Indonesia hadir di panggung global sebagai mitra setara, bukan sekadar pasar.

    Rangkaian capaian dari Inggris hingga Davos memperlihatkan satu pola yang konsisten. Presiden Prabowo menggabungkan diplomasi ekonomi, supremasi hukum, pembangunan manusia, dan kepemimpinan lingkungan dalam satu narasi besar yang saling terhubung. 

    Pendekatan tersebut menempatkan kebijakan luar negeri bukan sekadar alat hubungan internasional, tetapi sebagai perpanjangan langsung dari agenda pembangunan nasional. Melalui pola tersebut, Indonesia tampil sebagai negara yang tidak terjebak pada retorika global, melainkan hadir dengan strategi utuh yang menjawab tantangan investasi, keadilan sosial, dan keberlanjutan secara bersamaan.

    Lawatan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya aktif berbicara di forum dunia, tetapi juga mampu membawa pulang hasil yang terukur dan berdampak langsung bagi kepentingan nasional. 

    Dari komitmen investasi, penciptaan lapangan kerja, hingga penguatan posisi tawar di hadapan investor global, seluruh agenda disusun untuk menghasilkan manfaat nyata, bukan sekadar pencitraan diplomatik. 

    Inggris–Davos menjadi etalase yang menampilkan kekuatan baru Indonesia, sebuah negara yang semakin matang dalam membaca peluang global, konsisten menautkan diplomasi dengan agenda domestik, serta berani menegaskan kepentingannya sendiri dengan percaya diri dan perhitungan strategis. (*)

    )* Penulis adalah kontributor Pertiwi Institute 

  • WEF Davos: Prabowo Tegaskan Perdamaian dan Stabilitas sebagai Aset Utama Pertumbuhan Global

    Oleh : Diana Triasunu *)

    Presiden Prabowo Subianto tampil lugas di panggung World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 di Davos dengan membawa satu pesan sentral: perdamaian dan stabilitas merupakan fondasi paling bernilai bagi pertumbuhan ekonomi global. 

    Di tengah dunia yang dilanda ketegangan geopolitik, fragmentasi ekonomi, dan ketidakpastian kebijakan, Presiden menempatkan isu tersebut bukan sebagai wacana normatif, melainkan sebagai prasyarat struktural bagi kemakmuran bersama.

    Forum internasional tersebut dimanfaatkan Prabowo untuk menegaskan bahwa dunia tengah memasuki fase yang rapuh. Konflik bersenjata, perang dagang, serta tekanan keuangan global menciptakan risiko sistemik yang menghambat pertumbuhan. 

    Dalam konteks tersebut, Presiden menegaskan bahwa sejarah dunia secara konsisten menunjukkan satu pola, yakni kemakmuran tidak pernah tumbuh di atas ketidakstabilan. Perdamaian dan stabilitas berperan sebagai aset paling berharga bagi peradaban modern karena keduanya memungkinkan investasi, perdagangan, dan pembangunan manusia berjalan berkelanjutan.

    Prabowo kemudian mengaitkan pesan global tersebut dengan pengalaman Indonesia. Presiden menegaskan bahwa stabilitas nasional bukan hasil kebetulan, melainkan buah dari pilihan kebijakan yang mengedepankan persatuan, kolaborasi, dan hubungan persahabatan dengan berbagai pihak. 

    Pendekatan tersebut menjaga Indonesia tetap berada di jalur moderat di tengah dinamika global yang kian terpolarisasi. Sikap tersebut sekaligus memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra yang rasional dan dapat diprediksi.

    Dalam pidato kunci tersebut, Presiden juga memaparkan ketangguhan ekonomi nasional sebagai bukti konkret bahwa stabilitas menghasilkan daya tahan. Indonesia mampu menjaga inflasi di kisaran dua persen dan defisit anggaran tetap berada di bawah tiga persen dari produk domestik bruto. 

    Capaian tersebut disampaikan sebagai hasil disiplin fiskal yang konsisten, bukan sebagai retorika optimisme. Pengakuan lembaga internasional yang menempatkan Indonesia sebagai titik terang pertumbuhan global dijadikan Presiden sebagai refleksi atas kebijakan yang terkalibrasi dengan baik.

    Kredibilitas ekonomi menjadi penekanan berikutnya. Prabowo menegaskan bahwa kepercayaan global hanya dapat dibangun melalui rekam jejak yang terjaga lintas pemerintahan. 

    Indonesia, menurut Presiden, selalu menghormati kewajiban keuangan negara tanpa memandang pergantian rezim. Konsistensi tersebut memperkuat reputasi Indonesia di mata investor dan mitra internasional, terutama saat banyak negara menghadapi tekanan utang dan volatilitas pasar.

    Presiden juga menegaskan arah politik luar negeri Indonesia yang berlandaskan prinsip seribu teman terlalu sedikit dan satu musuh terlalu banyak. Filosofi tersebut diposisikan sebagai strategi aktif untuk menjaga perdamaian dan memperluas ruang dialog. 

    Indonesia memilih menjadi warga dunia yang bertanggung jawab, termasuk dalam isu perlindungan lingkungan dan keberlanjutan. Pendekatan tersebut menempatkan diplomasi sebagai instrumen ekonomi sekaligus penjaga stabilitas global.

    Di sisi domestik, Prabowo mengaitkan stabilitas global dengan agenda kesejahteraan rakyat. Presiden menegaskan bahwa kepemimpinan bertujuan menghadirkan perubahan nyata bagi kelompok paling rentan. 

    Pemerintah memusatkan perhatian pada pemberantasan korupsi, perbaikan tata kelola, dan penghapusan penyalahgunaan kekuasaan sebagai prasyarat keadilan sosial. Stabilitas politik, menurut Presiden, kehilangan makna apabila tidak diterjemahkan menjadi peningkatan kualitas hidup masyarakat.

    Capaian di sektor ketahanan pangan turut dipaparkan sebagai contoh konkret. Target swasembada beras yang semula dirancang untuk empat tahun berhasil dicapai dalam waktu satu tahun. 

    Presiden menyampaikan optimisme bahwa kemandirian pangan lain, termasuk jagung, gula, dan protein, dapat diwujudkan melalui disiplin kebijakan dan konsistensi kepemimpinan. Keberhasilan tersebut diposisikan sebagai bagian dari strategi menjaga stabilitas nasional di tengah gejolak global.

    Prabowo juga menegaskan sikap terbuka terhadap integrasi ekonomi global. Perdagangan internasional dan kemitraan ekonomi dipandang sebagai sarana saling menguntungkan, bukan ancaman kedaulatan. 

    Presiden menekankan bahwa Indonesia merupakan bangsa perdagangan sejak berabad-abad lalu dan terus memperluas perjanjian ekonomi atas dasar kebutuhan strategis. Visi tersebut diarahkan untuk membangun negara modern yang terintegrasi dengan ekonomi global sekaligus bebas dari kemiskinan.

    Reformasi birokrasi, penyederhanaan regulasi, serta investasi pada pendidikan dan kesehatan disebut sebagai prioritas pemerintahan. Presiden menegaskan bahwa administrasi publik harus melayani kepentingan umum dan tidak tunduk pada kepentingan ekonomi yang serakah. Kepastian hukum dan pemerintahan yang bersih diposisikan sebagai prasyarat utama bagi iklim investasi yang sehat.

    Menjelang penutupan pidato, Prabowo memperkenalkan arah pemikiran ekonomi yang disebut Prabowonomics. Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi menjelaskan bahwa konsep tersebut menekankan stabilitas fiskal serta kemandirian pangan dan energi agar ekonomi nasional bergerak optimal. 

    Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menambahkan bahwa gagasan tersebut berangkat dari pemikiran yang telah dirancang dan diterapkan, disertai hasil konkret selama satu tahun kepemimpinan.

    Melalui WEF 2026, Prabowo menegaskan bahwa Indonesia memilih perdamaian, stabilitas, dan dialog sebagai kompas pembangunan yang dijalankan secara konsisten, baik di dalam negeri maupun dalam relasi internasional. 

    Sikap tersebut mencerminkan keyakinan bahwa pertumbuhan ekonomi tidak dapat dipisahkan dari kepastian politik dan kepercayaan global. Pesan tersebut menempatkan Indonesia bukan sekadar sebagai negara yang mampu bertahan menghadapi guncangan dunia, tetapi sebagai mitra global yang siap tumbuh bersama, menawarkan solusi, menjaga keseimbangan kepentingan, serta berkontribusi aktif dalam membentuk tatanan ekonomi internasional yang lebih inklusif dan berkelanjungan dalam lanskap dunia yang semakin menuntut kepemimpinan berimbang dan visioner. (*)

    *) pemerhati hubungan internasional

  • Prabowo Soroti Pembangunan Manusia dan Pertumbuhan Ekonomi Inklusif di WEF 2026

    Oleh: Swari Kasetyaningtyas *)

    Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto membawa pesan tegas ke panggung World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos dengan menempatkan pembangunan manusia sebagai fondasi utama pertumbuhan ekonomi nasional yang inklusif dan berkelanjutan. 

    Di tengah ketidakpastian global yang dipenuhi tekanan geopolitik, disrupsi teknologi, dan perlambatan ekonomi, Prabowo memosisikan Indonesia sebagai negara yang memilih jalan investasi jangka panjang pada kualitas manusia, stabilitas, serta tata kelola yang kredibel.

    Dalam pidato kunci pada forum tersebut, Prabowo menegaskan bahwa kemajuan ekonomi tidak dapat dipisahkan dari peningkatan kapasitas manusia. Ia menempatkan pendidikan, kesehatan, dan perlindungan kelompok rentan sebagai inti strategi pembangunan. 

    Pendekatan tersebut memperlihatkan pergeseran narasi dari sekadar mengejar angka pertumbuhan menuju upaya memastikan manfaat ekonomi dirasakan secara lebih merata oleh seluruh lapisan masyarakat.

    Prabowo memaparkan komitmen pemerintah untuk memutus rantai kemiskinan struktural melalui akses pendidikan yang setara. Salah satu langkah konkret yang disoroti adalah rencana pembangunan 160 sekolah berasrama bagi anak-anak dari keluarga termiskin. 

    Program tersebut dirancang untuk menciptakan mobilitas sosial nyata, bukan hanya memperbaiki statistik, tetapi membuka peluang masa depan bagi generasi yang selama ini tertinggal. Pembangunan manusia, dalam pandangan Prabowo, merupakan investasi paling strategis untuk menjaga daya saing bangsa dalam jangka panjang.

    Kerangka besar kebijakan ekonomi yang disebut Prabowonomics menjadi benang merah pidato tersebut. Prabowo memperkenalkan pendekatan ekonomi yang menekankan kemandirian nasional sekaligus keterbukaan terhadap kerja sama global. 

    Pertumbuhan inklusif menjadi tujuan utama, di mana negara tidak hanya menciptakan kekayaan, tetapi memastikan distribusinya mendukung kohesi sosial dan stabilitas politik. Pendekatan tersebut menempatkan negara sebagai fasilitator yang aktif, bukan sekadar penonton dinamika pasar.

    Capaian konkret selama satu tahun pemerintahan turut disampaikan untuk memperkuat kredibilitas narasi tersebut. Program Makan Bergizi Gratis dipaparkan sebagai contoh investasi langsung pada kualitas sumber daya manusia. 

    Program itu telah menjangkau hampir 60 juta penerima dan ditargetkan meningkat menjadi lebih dari 80 juta penerima per hari. Prabowo memosisikan kebijakan tersebut bukan sebagai beban fiskal, melainkan sebagai fondasi kesehatan dan produktivitas generasi masa depan yang akan menopang pertumbuhan ekonomi nasional.

    Dalam konteks transformasi ekonomi, Prabowo menyoroti peran Danantara sebagai instrumen strategis negara. Melalui Danantara, pemerintah merasionalisasi lebih dari seribu badan usaha milik negara untuk meningkatkan efisiensi dan mempercepat pembiayaan industri masa depan. 

    Pendekatan tersebut mencerminkan upaya menghubungkan reformasi struktural dengan agenda pembangunan manusia, di mana efisiensi ekonomi diarahkan untuk mendukung penciptaan lapangan kerja dan peningkatan nilai tambah domestik.

    Stabilitas makroekonomi dan perdamaian tetap menjadi prasyarat utama dalam kerangka besar tersebut. Prabowo menegaskan bahwa pembangunan manusia dan pertumbuhan inklusif hanya dapat berlangsung dalam iklim politik yang stabil serta kepastian hukum yang kuat. 

    Ia memaparkan indikator ekonomi Indonesia yang relatif solid, dengan inflasi terjaga dan defisit fiskal terkendali, sebagai bukti bahwa kebijakan ekonomi dijalankan secara terukur dan bertanggung jawab.

    Pengakuan internasional terhadap kinerja ekonomi Indonesia juga dikontekstualisasikan sebagai hasil dari disiplin kebijakan, bukan optimisme tanpa dasar. Prabowo menekankan pentingnya kredibilitas fiskal, termasuk rekam jejak Indonesia yang selalu memenuhi kewajiban keuangan lintas pemerintahan. Kredibilitas tersebut, menurutnya, menjadi modal penting untuk menarik investasi yang berkualitas dan berorientasi jangka panjang.

    Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menjelaskan bahwa Prabowo memanfaatkan forum Davos untuk memaparkan gagasan ekonomi yang telah dipikirkan dan diterapkan, baik sebelum maupun selama masa kepemimpinannya. 

    Ia menegaskan bahwa Prabowonomics tidak berhenti pada konsep, tetapi ditopang hasil nyata yang dapat diukur dalam waktu relatif singkat. Paparan tersebut dirancang untuk menunjukkan kesinambungan antara visi, kebijakan, dan implementasi.

    Sementara itu, Menteri Investasi dan Hilirisasi Rosan Roeslani menekankan bahwa kehadiran Indonesia di WEF 2026 bertujuan memperkuat citra dan daya saing investasi, khususnya di sektor padat karya, industri hijau, dan pangan. 

    Ia memposisikan Prabowo sebagai tokoh kunci yang membawa pesan bahwa Indonesia menawarkan stabilitas, pasar besar, serta komitmen serius terhadap pembangunan manusia sebagai basis pertumbuhan ekonomi.

    Kembalinya Presiden Indonesia ke panggung WEF setelah lebih dari satu dekade memiliki makna simbolik sekaligus strategis. Di bawah kepemimpinan Prabowo, Davos dimanfaatkan bukan sekadar sebagai forum diplomasi, tetapi sebagai arena untuk menegaskan arah pembangunan nasional. 

    Pembangunan manusia dan pertumbuhan ekonomi inklusif tampil sebagai dua sisi yang saling menguatkan, membentuk fondasi bagi Indonesia untuk tumbuh berkelanjutan dan berperan lebih aktif dalam lanskap ekonomi global yang semakin kompetitif. 

    Pendekatan tersebut menempatkan kualitas sumber daya manusia sebagai penggerak utama produktivitas, inovasi, dan ketahanan ekonomi nasional, sekaligus memastikan bahwa ekspansi ekonomi tidak terpusat pada segelintir sektor atau kelompok. 

    Dengan kerangka itu, Indonesia diarahkan untuk naik kelas dari sekadar pasar dan basis produksi, menjadi mitra strategis yang mampu menawarkan stabilitas, nilai tambah, serta kepemimpinan yang relevan di tengah perubahan tatanan ekonomi dunia. (*)

    *) pemerhati ekonomi 

  • Pidato di WEF, Kepemimpinan Presiden Prabowo Semakin Tingkatkan Eksistensi Indonesia

    Davos, Swiss – Kehadiran Presiden Prabowo Subianto di World Economic Forum (WEF) Davos 2026 menandai kembalinya Indonesia ke panggung dialog ekonomi global setelah hampir satu dekade. Momentum ini menegaskan arah baru kepemimpinan Indonesia yang semakin aktif, percaya diri, dan berpengaruh dalam percaturan dunia.

    Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa kehadiran Presiden Prabowo di WEF bukan sekadar simbolik, melainkan membawa agenda strategis nasional.

    “Kehadiran Presiden Prabowo di WEF Davos menandai kembalinya Indonesia ke panggung dialog ekonomi global setelah sekitar satu dekade absen,” ujar Teddy.

    Dalam pidatonya di hadapan ribuan pemimpin dunia dan CEO global, Presiden Prabowo menegaskan fondasi kuat ekonomi Indonesia, khususnya terkait kredibilitas fiskal dan stabilitas keuangan negara.

    “Dalam sejarah kita, Indonesia tidak pernah sekali pun gagal membayar utang kita. Tidak sekali pun,” tegas Presiden Prabowo.

    Komitmen tersebut diperkuat dengan penegasan bahwa Indonesia menjamin kepastian hukum bagi investor dan berani mengambil langkah tegas terhadap pelanggaran.

    “Indonesia adalah negara yang menjamin kepastian hukum bagi para investor,” kata Presiden Prabowo.

    Agenda diplomasi Presiden Prabowo juga menghasilkan capaian konkret. Lawatan ke Inggris membuahkan komitmen investasi senilai 4 miliar pound sterling atau sekitar Rp90 triliun, termasuk kerja sama maritim dan pembangunan 1.582 kapal nelayan yang diproduksi di dalam negeri.

    “Yang menarik, kapal-kapal ini nanti akan diproduksi dan dirakit di Indonesia, dan diperkirakan akan memperkerjakan sekitar 600 ribu orang,” ungkap Seskab Teddy Indra Wijaya.

    Selain sektor maritim, Presiden Prabowo juga mendorong penguatan sumber daya manusia melalui kerja sama pendidikan dengan Inggris, khususnya di bidang kedokteran dan STEM.

    “Pengiriman mahasiswa ke luar negeri serta pembangunan universitas di Indonesia, terutama dalam bidang kedokteran dan STEM, menjadi fokus utama Presiden Prabowo,” ujar Teddy.

    Di hadapan forum global, Presiden Prabowo turut memaparkan keberhasilan program strategis nasional yang berdampak langsung pada kesejahteraan rakyat, seperti Makan Bergizi Gratis (MBG) dan Cek Kesehatan Gratis (CKG).

    “Program makan bergizi gratis berhasil menciptakan ratusan ribu pekerjaan,” kata Presiden Prabowo dalam pidatonya.

    Dalam isu global, Presiden Prabowo menegaskan posisi Indonesia sebagai negara yang mengedepankan perdamaian dan stabilitas dunia.

    “Jika Anda ingin mengambil satu hal dari pidato saya hari ini, inilah pesannya: Indonesia memilih perdamaian daripada kekacauan,” tegas Presiden Prabowo.

    Sikap tersebut diperkuat dengan keterlibatan Indonesia dalam Dewan Perdamaian dan komitmen untuk mengurangi penderitaan rakyat Gaza.

    “Ini adalah peluang nyata untuk mencapai perdamaian di Gaza, agar penderitaan rakyat Gaza bisa sangat berkurang,” ujar Presiden Prabowo.

    Sejumlah pengamat menilai kepemimpinan Presiden Prabowo telah meningkatkan posisi Indonesia di mata dunia. Peneliti Indikator Politik Indonesia, Bawono Kumoro, menyebut Indonesia kini semakin disegani secara internasional.

    “Harus diakui, di era kepemimpinan Presiden Prabowo, Indonesia terlihat jauh lebih aktif berkiprah di panggung internasional sehingga semakin dihormati negara-negara lain,” ujarnya.

    Optimisme serupa datang dari kalangan diaspora. Mahasiswa Indonesia di Swiss, Alvin Wihono, menilai Presiden Prabowo memiliki visi global yang jelas.

    “Pak Prabowo adalah sosok yang memiliki mimpi besar,” kata Alvin.

    Apresiasi juga datang dari tokoh dunia. Presiden Amerika Serikat Donald Trump bahkan memberikan pujian langsung terhadap sosok Presiden Prabowo.

    “Tough guy!” ujar Trump dalam salah satu pertemuan di sela WEF 2026.

    Secara keseluruhan, pidato dan rangkaian agenda Presiden Prabowo di WEF 2026 menegaskan bahwa Indonesia tidak hanya kembali hadir di panggung global, tetapi tampil sebagai negara dengan kepemimpinan kuat, agenda jelas, dan keberanian bersuara, sekaligus memperkuat eksistensi Indonesia di tengah dinamika dunia yang penuh ketidakpastian.

  • Hadiri WEF 2026, Tokoh Dunia Puji Kepemimpinan Presiden Prabowo

    Davos, Swiss — Kehadiran Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto dalam World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, menegaskan posisi Indonesia sebagai kekuatan penting dalam percaturan geopolitik global. Di tengah forum bergengsi yang dihadiri para pemimpin dunia, Presiden Prabowo tampil sebagai figur negarawan yang disegani, dengan kepemimpinan yang memperoleh apresiasi langsung dari tokoh-tokoh internasional.

    Salah satu momen yang mencuri perhatian dunia terjadi saat sesi penandatanganan Piagam Perdamaian Board of Peace Charter. Presiden Prabowo menandatangani piagam tersebut berdampingan dengan Presiden Amerika Serikat Donald Trump dan Perdana Menteri Hungaria Viktor Orban. Dalam suasana yang sarat simbol diplomatik, Presiden Trump tampak menepuk pundak Presiden Prabowo dan menyebutnya sebagai sosok pemimpin tangguh.

    “Two tough guys,” ujar Trump sambil tersenyum kepada Presiden Prabowo dan Viktor Orban, sebuah pernyataan yang dipandang sebagai bentuk pengakuan personal sekaligus simbol penghormatan terhadap kepemimpinan Indonesia.

    Penandatanganan piagam ini menandai dimulainya operasional Board of Peace (BoP), sebuah badan internasional baru yang bertugas mengawasi proses gencatan senjata, stabilisasi keamanan, serta rekonstruksi Gaza pascakonflik. BoP dibentuk sebagai bagian dari Comprehensive Plan to End the Gaza Conflict dan telah memperoleh legitimasi kuat melalui Resolusi Dewan Keamanan PBB Nomor 2803 Tahun 2025.

    Keterlibatan Indonesia dalam BoP dinilai sebagai langkah strategis yang mencerminkan kepemimpinan global Presiden Prabowo dalam isu perdamaian dunia. Indonesia tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi sebagai suara moral yang konsisten memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan. Presiden Prabowo menegaskan bahwa partisipasi Indonesia bertujuan menjaga agar proses transisi Gaza tetap berada dalam kerangka solusi dua negara dan selaras dengan hukum internasional.

    “Saya kira ini kesempatan bersejarah. Ini benar-benar peluang untuk mencapai perdamaian di Gaza secara adil dan berkelanjutan,” ujar Presiden Prabowo usai penandatanganan piagam.

    Kehadiran Presiden Prabowo di WEF 2026 sekaligus memperkuat citra Indonesia sebagai negara berdaulat yang aktif, berprinsip, dan berpengaruh di tingkat global. Sikap tegas namun diplomatis yang ditunjukkan Presiden Prabowo mendapat apresiasi luas, menandai babak baru kepemimpinan Indonesia yang tidak hanya fokus pada pembangunan nasional, tetapi juga berkontribusi nyata bagi perdamaian dan stabilitas dunia.

    Melalui kepemimpinan Presiden Prabowo, Indonesia kembali menegaskan jati dirinya sebagai kekuatan penyeimbang global yang dihormati, dipercaya, dan didengar oleh komunitas internasional.

  • Berpidato di WEF 2026, Presiden Prabowo Tegaskan Komitmen Indonesia Tegakkan Hukum

    Davos, Swiss — Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia merupakan negara yang menjamin kepastian hukum bagi para investor. Penegasan tersebut disampaikan Presiden Prabowo saat berpidato dalam World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026).

    Dalam forum ekonomi global tersebut, Presiden Prabowo menekankan bahwa iklim investasi yang sehat dan berkelanjutan tidak akan pernah terwujud tanpa penegakan hukum yang kuat dan konsisten. Menurutnya, kepastian hukum menjadi faktor utama yang dipertimbangkan investor sebelum menanamkan modal di suatu negara.

    “Tidak akan ada yang datang untuk berinvestasi di negara yang tidak memiliki hukum atau mempunyai tradisi hukum yang lemah. Karena itu, saya bertekad untuk menegakkan aturan hukum dalam pemerintahan yang saya pimpin,” tegas Presiden Prabowo di hadapan para pemimpin dunia dan pelaku usaha global.

    Presiden Prabowo menegaskan bahwa komitmen tersebut bukan sekadar pernyataan, melainkan telah dibuktikan melalui kebijakan konkret pemerintah. Ia menyebutkan bahwa Indonesia telah mengambil langkah tegas dengan menutup jutaan hektare perkebunan dan tambang ilegal di berbagai wilayah Tanah Air, sebagai bentuk keberpihakan negara pada supremasi hukum.

    Dalam pidatonya, Presiden Prabowo juga menyoroti penegakan hukum di sektor kehutanan yang dinilainya sebagai yang paling tegas sepanjang sejarah Indonesia. Ia menyampaikan bahwa pemerintah tidak ragu untuk menindak para pelaku usaha yang terbukti melanggar hukum, meskipun memiliki kekuatan ekonomi besar.

    “Kami sebenarnya telah memberlakukan upaya penegakan hukum kehutanan yang paling tegas dan paling berani dalam sejarah Indonesia,” ujar Presiden Prabowo.

    Presiden Prabowo merinci, melalui Satuan Tugas Penertiban Kawasan Hutan (Satgas PKH), pemerintah telah berhasil menguasai kembali lebih dari 4,09 juta hektare kawasan hutan yang sebelumnya dikuasai secara ilegal. Selain itu, pemerintah juga mencabut izin 28 korporasi yang terbukti melanggar hukum, dengan total luas kawasan mencapai 1,01 juta hektare hutan.

    Menurut Presiden Prabowo, kebijakan tersebut tidak mudah untuk dijalankan karena kerap menghadapi tekanan dari kelompok-kelompok tertentu yang selama ini menguasai sebagian sektor ekonomi nasional. Namun, ia menegaskan bahwa pemerintah tidak akan mundur dalam menegakkan hukum demi kepentingan bangsa.

    “Upaya kita untuk mencapai pertumbuhan ekonomi yang adil membutuhkan supremasi hukum. Dan menegakkan supremasi hukum membutuhkan tekad dan kemauan politik yang kuat,” tegasnya.

    Melalui pernyataan tersebut, Presiden Prabowo menegaskan bahwa Indonesia membuka diri terhadap investasi, dengan jaminan kepastian hukum sebagai fondasi utamanya. Pemerintah berkomitmen menciptakan iklim usaha yang transparan, adil, dan berkelanjutan, sekaligus memastikan bahwa setiap aktivitas ekonomi berjalan sesuai aturan. Pesan yang disampaikan di WEF 2026 ini menjadi sinyal kuat bagi komunitas global bahwa Indonesia adalah negara yang serius menegakkan supremasi hukum demi menjaga stabilitas ekonomi dan melindungi investasi. (*)

  • Prabowo di WEF 2026: Indonesia Pilih Perdamaian Global

    Davos – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menegaskan posisi Indonesia sebagai negara yang memilih jalan perdamaian dan stabilitas global dalam pidatonya pada World Economic Forum (WEF) 2026 di Davos, Swiss. Pernyataan tersebut disampaikan di hadapan para pemimpin negara, ekonom dunia, investor global, serta pelaku usaha internasional yang berkumpul di Congress Hall, menjadikan Indonesia sorotan dalam diskursus geopolitik dan ekonomi global.

    Dalam forum bergengsi tersebut, Presiden Prabowo menekankan bahwa arah kebijakan luar negeri Indonesia tidak didasarkan pada konfrontasi, melainkan pada semangat persahabatan dan tanggung jawab global. Di tengah dinamika dunia yang sarat konflik dan ketidakpastian, Indonesia memilih untuk tampil sebagai kekuatan penyejuk yang mengedepankan stabilitas dan kerja sama.

    “Jika Anda ingin mengambil satu hal dari pidato saya hari ini, inilah pesannya: Indonesia memilih perdamaian daripada kekacauan,” ujar Presiden Prabowo. Ia menegaskan bahwa Indonesia ingin menjadi sahabat bagi seluruh negara dan tidak menjadi musuh bagi siapa pun.

    Presiden Prabowo menjelaskan bahwa prinsip tersebut menjadi fondasi utama politik luar negeri Indonesia ke depan. Indonesia memandang hubungan internasional sebagai ruang untuk membangun kepercayaan, memperkuat kolaborasi, dan menciptakan manfaat bersama, bukan arena pertarungan kepentingan sempit.

    “Kami ingin menjadi tetangga yang baik, warga dunia yang bertanggung jawab, melindungi lingkungan, dan menjaga alam,” tambahnya.

    Komitmen Indonesia terhadap perdamaian global, lanjut Presiden, tidak berdiri sendiri, melainkan ditopang oleh fondasi pemerintahan yang kuat dan kebijakan publik yang kredibel. Menurutnya, stabilitas di dalam negeri menjadi prasyarat utama agar sebuah negara dapat berkontribusi positif bagi tatanan dunia.

    “Harapan harus berdasarkan kredibilitas, tata kelola kebijakan publik yang sehat, serta pertumbuhan yang berkelanjutan dan berkeadilan,” kata Presiden Prabowo di hadapan peserta WEF.

    Pesan tersebut sekaligus mencerminkan arah pemerintahan Indonesia yang menempatkan pembangunan berkelanjutan, keadilan sosial, dan perlindungan lingkungan sebagai bagian tak terpisahkan dari agenda nasional. Dalam konteks global, Indonesia ingin menunjukkan bahwa pertumbuhan ekonomi dapat berjalan seiring dengan tanggung jawab moral terhadap perdamaian dan kelestarian bumi.

    Pidato Presiden Prabowo di WEF 2026 juga menegaskan posisi Indonesia sebagai mitra strategis yang terbuka bagi kerja sama internasional, baik di bidang ekonomi, investasi, lingkungan, maupun pembangunan manusia. Sikap moderat dan inklusif ini dinilai relevan di tengah meningkatnya fragmentasi geopolitik dan tantangan global yang kian kompleks.

    Di penghujung pidatonya, Presiden Prabowo mengajak para pemimpin dunia dan seluruh pemangku kepentingan global untuk bersama-sama membangun masa depan yang lebih baik, aman, dan inklusif bagi seluruh umat manusia.

    “Mari kita membangun dunia yang ingin kita tinggali bersama,” ajaknya.

    Melalui pesan tersebut, Indonesia menegaskan perannya sebagai negara yang tidak hanya fokus pada kepentingan nasional, tetapi juga berkontribusi aktif dalam menciptakan perdamaian dan stabilitas global.

  • Diaspora Apresiasi Pidato Prabowo di WEF 2026, Tegaskan Supremasi Hukum dan Arah Investasi

    DAVOS — Pidato Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto di World Economic Forum (WEF) Annual Meeting 2026 di Davos, Swiss, mendapat apresiasi dari diaspora Indonesia. Dalam forum ekonomi global tersebut, Presiden Prabowo menegaskan supremasi hukum sebagai fondasi utama iklim investasi, sekaligus menegaskan arah kebijakan pemerintah dalam memperkuat kepercayaan investor.

    “Tidak akan ada iklim investasi tanpa kepastian penegakan hukum yang adil. Tidak seorang pun akan datang untuk berinvestasi di negara yang tidak taat hukum atau memiliki tradisi hukum yang meragukan,” tegas Prabowo, Kamis (22/1)

    Presiden menyampaikan komitmen pemerintah untuk menegakkan hukum tanpa pandang bulu dan menempatkannya di atas segala kepentingan. Sejak 2025, pemerintah secara terbuka menghadapi persoalan korupsi sebagai bagian dari reformasi tata kelola.

    “Kami bertekad untuk memerangi korupsi ini secara langsung. Ini tantangan. Tidak banyak orang yang percaya kita bisa melakukannya, tetapi kita tidak punya pilihan. Saya tidak punya pilihan. Saya telah dilantik, saya telah disumpah untuk menegakkan konstitusi dan supremasi hukum,” kata Prabowo.

    Kepala Negara juga mengungkap adanya penyalahgunaan besar dalam tata kelola bahan bakar dan minyak mentah, serta praktik ilegal di berbagai sektor. Pemerintah telah menyita jutaan hektare perkebunan dan tambang ilegal.

    “Pada tahun pertama pemerintahan saya, kami telah menyita empat juta hektare perkebunan ilegal dan tambang ilegal. Ini luar biasa. Saya menyebut ini bukan usaha bebas, saya menyebut ini bukan pasar bebas. Saya menyebutnya secara terang-terangan ini ekonomi keserakahan, ekonomi ketamakan, ekonomi dengan praktik yang rakus,” ujar Presiden.

    Prabowo menambahkan, penegakan hukum telah berdampak pada penurunan kemiskinan ekstrem ke level terendah dalam sejarah. “Tidak ada yang lebih rentan, tidak ada yang lebih memuaskan daripada menurunkan kemiskinan dan memberantas kelaparan,” ucapnya.

    Pidato tersebut mendapat apresiasi dari diaspora. Alvin Wihono, mahasiswa magister di ETH Zurich sekaligus materials engineer di Hilti Group, menilai Prabowo sebagai pemimpin dengan visi jangka panjang.

    “Menurut saya, Pak Prabowo adalah sosok yang memiliki mimpi besar,” ujar Alvin. Ia juga menyebut kehadiran Presiden di Davos sebagai langkah strategis dan berharap agenda WEF turut memperkuat pembangunan human capital Indonesia.***

  • Pengamat Apresiasi Kunjungan Prabowo ke Inggris, Dinilai Perkuat Posisi Indonesia di Dunia

    Jakarta – Kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke London, Inggris, yang berlangsung pada 18–21 Januari 2026, menuai apresiasi luas dari berbagai pihak karena dinilai semakin memperkuat eksistensi Indonesia di panggung internasional dan membawa hasil konkret yang strategis bagi kepentingan nasional.

    Peneliti dari Indikator Politik Indonesia, Bawono Kumoro, mengatakan bahwa kunjungan tersebut menunjukkan bahwa Indonesia kini lebih aktif dan dihormati dalam pergaulan dunia.

    “Harus diakui di era kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto kini Indonesia terlihat jauh lebih aktif berkiprah dalam pergaulan di panggung internasional sehingga membuat Indonesia kian disegani dan dihormati negara-negara lain,” kata Bawono.

    Menurut Bawono, langkah diplomasi yang dilakukan Presiden Prabowo bukan sekadar tradisi protokoler, tetapi membawa agenda membangun kerja sama di berbagai bidang strategis seperti pertahanan dan keamanan, pertumbuhan ekonomi, energi, lingkungan, serta antisipasi perubahan iklim.

    “Ini membuat Indonesia semakin disegani dan memberikan ruang bagi pemerintah untuk memperjuangkan kepentingan nasional di tingkat internasional,” ujar Bawono.

    Selain itu, kunjungan Presiden Prabowo ke Inggris juga membuahkan komitmen investasi signifikan senilai 4 miliar pound sterling atau setara sekitar Rp 90 triliun dari Inggris Raya.

    Investasi ini terutama akan dialokasikan pada kerja sama di sektor maritim, termasuk pembangunan 1.582 kapal nelayan yang seluruh proses produksi dan perakitannya dilakukan di Indonesia, diperkirakan menciptakan ratusan ribu lapangan kerja.

    Hasil lain dari pertemuan kenegaraan tersebut adalah penguatan kerja sama strategis bilateral yang dibahas antara Presiden Prabowo dan Perdana Menteri Inggris Keir Starmer. Dalam pertemuan di 10 Downing Street, kedua pemimpin membicarakan kemitraan di bidang pertahanan dan keamanan, pertumbuhan ekonomi, serta isu-isu global seperti perubahan iklim dan lingkungan.

    Menteri Sekretaris Negara sekaligus Juru Bicara Presiden, Prasetyo Hadi, menjelaskan pertemuan Presiden Prabowo dengan PM Starmer tentunya bermanfaat untuk Indonesia.

    Kementerian Sekretariat Kabinet turut menyoroti pencapaian kunjungan ini, yang tidak hanya terbatas pada investasi ekonomi, tetapi meluas ke kerja sama pendidikan tinggi dan penguatan sumber daya manusia.

    “Ada beberapa pertemuan, sesuatu yang bermanfaat bagi negara kita,” kata Prasetyo saat memberikan keterangan di Istana Kepresidenan Jakarta.

    Presiden Prabowo juga berdiskusi dengan para akademisi dari universitas-universitas terkemuka Inggris dan membuka peluang kolaborasi pendidikan, termasuk pendirian kampus baru di Indonesia dan pertukaran dosen serta mahasiswa.

    Berbagai pihak menilai bahwa capaian-capaian tersebut mencerminkan strategi diplomasi ekonomi yang efektif dan berpihak pada kepentingan nasional. Di tengah persaingan dan tantangan geopolitik global, langkah Presiden Prabowo dinilai memperkuat posisi Indonesia sebagai mitra strategis penting bagi negara-negara besar dunia.

    Dengan kombinasi peningkatan investasi, kerja sama bilateral yang lebih luas, serta dialog strategis antarnegara, kunjungan ini turut memperkuat citra Indonesia di kancah internasional sekaligus memberikan dampak langsung bagi pertumbuhan ekonomi dan pembangunan nasional.

  • Di Hadapan CEO Dunia, Pidato Presiden Prabowo Tegaskan Indonesia Tak Pernah Gagal Bayar Utang

    JAKARTA – Di hadapan ribuan CEO dan pemimpin ekonomi global, Presiden Prabowo Subianto menegaskan posisi Indonesia sebagai negara yang konsisten menjaga kredibilitas fiskal. Dalam pidatonya pada World Economic Forum (WEF) di Davos, Swiss, Kamis (22/1/2026), Presiden menekankan bahwa Indonesia memiliki rekam jejak panjang yang dapat dipercaya dalam pengelolaan utang negara, sebuah pesan penting di tengah ketidakpastian ekonomi global.

    “Dalam sejarah kita, Indonesia tidak pernah sekali pun gagal membayar utang kita. Tidak sekali pun,” tegas Presiden Prabowo Subianto.

    Pernyataan tersebut disampaikan di forum strategis yang mempertemukan pengambil keputusan dunia, mulai dari kepala negara hingga pimpinan korporasi multinasional. Penegasan itu tidak hanya menjadi penanda komitmen fiskal, tetapi juga sinyal kuat bahwa Indonesia hadir sebagai mitra ekonomi yang dapat diandalkan. Presiden menegaskan setiap pemerintahan di Indonesia selalu menghormati kewajiban yang diwariskan oleh pemerintahan sebelumnya, sehingga kesinambungan kebijakan tetap terjaga.

    “Kredibilitas adalah fondasi utama kepercayaan global, dan itu dijaga lintas pemerintahan,” ujar Presiden Prabowo Subianto.

    Dalam kesempatan tersebut, Presiden juga memaparkan bahwa kebijakan ekonomi nasional disusun secara terukur dan berbasis data. Pendekatan ini disebut sebagai kunci menjaga stabilitas makroekonomi dan disiplin fiskal, terutama saat perekonomian dunia menghadapi tekanan geopolitik dan perlambatan pertumbuhan. Menurut Presiden, stabilitas ekonomi bukan hasil kebetulan, melainkan buah dari pilihan kebijakan yang konsisten.

    “Kebijakan telah dan akan selalu dirancang secara tepat,” tambah Presiden Prabowo Subianto.

    Lebih jauh, Presiden mengaitkan stabilitas ekonomi dengan pilihan strategis Indonesia dalam menjaga persatuan nasional dan hubungan internasional yang bersahabat. Pendekatan kolaboratif dinilai mampu menciptakan iklim kondusif bagi investasi dan pertumbuhan jangka panjang. Di hadapan para pelaku usaha global, pesan tersebut menjadi pengingat bahwa faktor non-ekonomi turut menentukan ketahanan suatu negara.

    “Sejarah mengajarkan bahwa perdamaian dan stabilitas adalah aset paling berharga,” ucap Presiden Prabowo Subianto.

    Penekanan pada stabilitas dan perdamaian tersebut menjadi benang merah dalam pidato Presiden. Menurutnya, tidak ada kemakmuran tanpa kondisi yang aman dan stabil. Oleh karena itu, menjaga kredibilitas fiskal dipandang sebagai bagian tak terpisahkan dari upaya menciptakan kepercayaan, baik di dalam maupun di luar negeri.

    “Kredibilitas yang dibangun dengan susah payah sangat mahal jika harus dipulihkan kembali,” pungkas Presiden Prabowo Subianto.

    Melalui pidato ini, Indonesia menampilkan diri sebagai negara dengan tata kelola ekonomi yang berkelanjutan. Di forum global seperti WEF, pesan tersebut memperkuat persepsi bahwa Indonesia tidak hanya menawarkan potensi pasar, tetapi juga kepastian dan disiplin dalam pengelolaan keuangan negara.