Kategori: Uncategorized

  • Penguatan Stabilitas Keamanan Papua Jadi Prioritas, Aparat Tegas Lindungi Warga dari Aksi Kekerasan

    Papua Tengah – Upaya menjaga stabilitas keamanan di Papua terus diperkuat menyusul insiden yang terjadi di Distrik Sinak dan Distrik Pogoma, Kabupaten Puncak. Pemerintah bersama aparat keamanan bergerak cepat merespons situasi guna memastikan perlindungan masyarakat tetap menjadi prioritas utama di tengah dinamika yang berkembang.

    Direktur Eksekutif Semar Institute, Tunjung Budi, menegaskan bahwa peristiwa yang terjadi tidak dapat dilepaskan dari aksi awal yang menimbulkan kepanikan warga. “Kronologi ini harus dibaca secara utuh dan jujur. Sebelum ada operasi aparat, sebelum ada kontak senjata, sudah ada rumah-rumah warga yang dibakar oleh TPNPB OPM Kodap III/Sinak pimpinan Telagak Telenggen. Warga yang ketakutan akhirnya mengungsi. Itulah titik awal tragedi ini,” ujarnya.

    Penjelasan tersebut menegaskan bahwa kehadiran aparat merupakan respons atas situasi darurat yang mengancam keselamatan masyarakat sipil. Dalam kondisi seperti ini, langkah cepat dan terukur menjadi faktor penting untuk mencegah dampak yang lebih luas.

    Lebih lanjut, Tunjung Budi mengingatkan bahwa informasi yang beredar harus disikapi secara kritis agar tidak menimbulkan persepsi yang keliru terhadap upaya penegakan hukum. “Kejadian ini sangat mungkin di-framing untuk mendiskreditkan aparat keamanan. Apalagi, dengan adanya 12 warga sipil yang meninggal dunia. Seandainya situasi kondusif, tidak ada pembakaran, warga Pogoma tidak histeris dan mengungsi, tentu saja aparat keamanan tidak akan ke lokasi,” tuturnya.

    Dalam konteks tersebut, penguatan literasi informasi menjadi penting agar masyarakat tidak mudah terpengaruh narasi yang tidak utuh. Stabilitas wilayah sangat bergantung pada pemahaman publik terhadap fakta di lapangan.

    “Taktik disinformasi seperti ini sudah berulang kali digunakan. Publik, media, dan komunitas internasional harus waspada dan tidak menelan narasi sepihak begitu saja,” tandas Tunjung Budi.

    Di sisi lain, pengamanan objek vital nasional juga terus ditingkatkan sebagai bagian dari strategi menjaga keberlanjutan pembangunan di Papua. Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan III, Letjen TNI Lucky Avianto, memastikan kesiapan aparat dalam menjaga titik-titik strategis.

    “Pada hari ini saya beserta pejabat utama Kogabwilhan III meyakinkan titik-titik tersebut untuk menjamin pengamanan objek nasional,” tegasnya.

    Langkah tersebut diperkuat dengan peningkatan patroli terpadu, penambahan personel, serta penggunaan alutsista modern untuk mendukung kesiapsiagaan di lapangan. Kehadiran aparat tidak hanya berfungsi sebagai pengamanan, tetapi juga memberikan rasa aman bagi masyarakat dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

    Operasi penegakan hukum juga dilakukan secara terukur melalui Satgas Operasi Damai Cartenz 2026. Kepala Operasi Damai Cartenz, Irjen Pol Faizal Ramadhani, menyampaikan bahwa pendekatan yang dilakukan mengedepankan aspek preventif dan profesionalitas.

    “Langkah ini bersifat preventif untuk memastikan situasi tetap aman. Tindakan yang dilakukan terukur guna meminimalisasi potensi gangguan keamanan,” ujarnya.

    Penguatan sinergi antara pemerintah, aparat keamanan, dan masyarakat menjadi fondasi utama dalam menjaga Papua tetap aman dan kondusif, sehingga pembangunan dapat terus berjalan dan memberikan manfaat nyata bagi kesejahteraan masyarakat.

  • MBG dan Perannya dalam Perluasan Lapangan Kerja

    Oleh: Asep Faturahman)*

    Program Makan Bergizi Gratis (MBG) semakin menunjukkan peran strategisnya, tidak hanya dalam meningkatkan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga sebagai penggerak utama dalam perluasan lapangan kerja. Dengan skema yang melibatkan berbagai sektor, mulai dari produksi pangan hingga distribusi, MBG menghadirkan efek berantai yang signifikan terhadap penciptaan peluang kerja baru di berbagai daerah.

    Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan bahwa program MBG memiliki potensi besar dalam menciptakan lapangan kerja dalam skala luas. Program ini diperkirakan mampu menyerap hingga sekitar satu juta tenaga kerja, baik secara langsung melalui operasional program maupun tidak langsung melalui aktivitas ekonomi yang ditimbulkan. Penyerapan tenaga kerja ini menjadi salah satu faktor utama yang mendorong kontribusi MBG terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.

    Berdasarkan pendekatan data Badan Pusat Statistik (BPS), setiap pertumbuhan ekonomi sebesar satu persen umumnya diikuti dengan penciptaan sekitar 450 ribu lapangan kerja. Dengan demikian, kontribusi MBG yang diperkirakan mencapai satu persen terhadap pertumbuhan ekonomi menunjukkan adanya potensi besar dalam memperluas kesempatan kerja. Meski sebagian tenaga kerja berasal dari peralihan sektor lain, program ini tetap memberikan dampak nyata dalam meningkatkan akses masyarakat terhadap pekerjaan.

    Perluasan lapangan kerja melalui MBG sangat bergantung pada efektivitas implementasi program di lapangan. Ketika program dijalankan secara optimal, peluang kerja yang tercipta tidak hanya bertambah dari sisi jumlah, tetapi juga semakin merata di berbagai wilayah, termasuk daerah yang selama ini memiliki keterbatasan akses ekonomi.

    Kontribusi besar terhadap penciptaan lapangan kerja juga datang dari pembangunan dan operasional Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG). Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana mengatakan bahwa investasi masyarakat dalam pembangunan SPPG telah mencapai sekitar Rp54 triliun. Besarnya nilai investasi ini mencerminkan tingginya partisipasi publik sekaligus memperkuat kapasitas program dalam membuka peluang kerja baru secara masif.

    Hingga kini, sekitar 27.000 unit SPPG telah beroperasi di seluruh Indonesia. Setiap unit yang dibangun mampu menyerap sekitar 15 hingga 20 tenaga kerja lokal selama tahap konstruksi. Angka ini menunjukkan bahwa bahkan sebelum beroperasi, MBG sudah memberikan kontribusi langsung terhadap penyerapan tenaga kerja di tingkat daerah. Dibandingkan dengan pembangunan yang hanya mengandalkan anggaran pemerintah, keterlibatan investor terbukti mempercepat proses pembangunan sekaligus memperluas dampak penciptaan kerja.

    Setelah beroperasi, peran SPPG dalam membuka lapangan kerja semakin terlihat. Setiap unit melibatkan puluhan tenaga kerja lokal dalam operasional harian, termasuk relawan yang memperoleh penghasilan tetap. Secara nasional, program ini telah melibatkan sekitar 1,1 juta relawan, yang menjadi bagian penting dalam mendukung keberlangsungan layanan MBG. Hal ini menunjukkan bahwa program ini tidak hanya menciptakan pekerjaan formal, tetapi juga memperluas kesempatan kerja berbasis komunitas.

    Selain menciptakan pekerjaan langsung, MBG juga mendorong terbentuknya lapangan kerja tidak langsung melalui rantai pasok pangan. Sekitar 70 persen anggaran operasional SPPG digunakan untuk membeli bahan baku dari petani, peternak, nelayan, dan pelaku UMKM. Kondisi ini membuka peluang usaha baru serta meningkatkan permintaan tenaga kerja di sektor-sektor tersebut. Dengan meningkatnya aktivitas produksi dan distribusi, kebutuhan tenaga kerja di tingkat lokal pun ikut bertambah.

    Selain itu, keberadaan MBG turut menciptakan stabilitas ekonomi bagi pelaku usaha kecil dan menengah. Permintaan yang konsisten dari SPPG memberikan kepastian pasar, sehingga mendorong pelaku usaha untuk meningkatkan kapasitas produksi dan memperluas tenaga kerja. Dampak ini menjadikan MBG sebagai salah satu program yang mampu mengintegrasikan kebijakan sosial dengan penciptaan lapangan kerja secara berkelanjutan.

    Program ini juga memberikan manfaat kepada sekitar 62 juta penerima, termasuk kelompok rentan seperti ibu hamil, ibu menyusui, dan anak balita. Dengan meningkatnya kualitas gizi masyarakat, produktivitas tenaga kerja dalam jangka panjang juga berpotensi meningkat. Hal ini memperkuat hubungan antara investasi sosial dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

    Perluasan SPPG hingga menjangkau wilayah terpencil menjadi langkah strategis untuk memperluas dampak penciptaan lapangan kerja. Target pengembangan ribuan unit tambahan diharapkan dapat membuka peluang kerja baru sekaligus memperkuat perekonomian daerah. Dengan dukungan kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan dunia usaha, MBG berpotensi menjadi motor utama dalam menciptakan lapangan kerja yang luas dan merata di seluruh Indonesia.

    Sebagai penguatan, keberhasilan MBG dalam memperluas lapangan kerja mencerminkan model pembangunan yang inklusif dan berorientasi pada pemberdayaan masyarakat. Program ini tidak hanya membuka peluang kerja dalam jumlah besar, tetapi juga memastikan keterlibatan aktif masyarakat lokal dalam setiap rantai nilai, sehingga manfaat ekonomi dapat dirasakan secara langsung dan berkelanjutan di tingkat akar rumput.

    Secara keseluruhan, MBG membuktikan bahwa program berbasis pemenuhan kebutuhan dasar dapat dirancang sebagai instrumen produktif dalam memperluas lapangan kerja. Dengan pendekatan yang terintegrasi dan partisipatif, program ini tidak hanya meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tetapi juga mendorong terbentuknya ekosistem ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan.

    )* Penulis adalah Mahasiswa Ekonomi di Bandung

  • MBG: Dari Program Sosial ke Penggerak Lapangan Kerja

    Oleh : Rivka Mayangsari*)

    Program Makan Bergizi Gratis (MBG) kini menunjukkan transformasi signifikan, dari sekadar kebijakan sosial menjadi instrumen strategis dalam mendorong pertumbuhan ekonomi dan penciptaan lapangan kerja. Di tengah upaya pemerintah memperkuat kesejahteraan masyarakat, MBG hadir tidak hanya sebagai solusi pemenuhan gizi, tetapi juga sebagai penggerak roda ekonomi yang melibatkan berbagai sektor secara luas.

    Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas, menegaskan bahwa program MBG memiliki potensi besar dalam memperkuat sirkulasi ekonomi lokal. Ia mendorong keterlibatan aktif pedagang pasar tradisional dan pelaku usaha dalam rantai pasok program tersebut. Menurutnya, dengan melibatkan lebih banyak pihak, manfaat ekonomi dari MBG dapat dirasakan secara merata oleh masyarakat.

    Kota Medan sendiri memiliki 52 pasar tradisional yang berada di bawah pengelolaan BUMD, yang dapat menjadi basis distribusi dan penyedia bahan pangan untuk program MBG. Keterlibatan pedagang di pasar-pasar ini tidak hanya meningkatkan pendapatan mereka, tetapi juga memperkuat ekosistem ekonomi lokal yang berbasis kerakyatan.

    Rico Tri Putra Bayu Waas menekankan pentingnya dukungan sistem koordinasi data yang real-time dalam memastikan distribusi kebutuhan pangan berjalan secara efektif dan tepat sasaran. Dengan sistem yang terintegrasi, pemerintah dapat memantau kebutuhan secara akurat sekaligus membuka peluang partisipasi yang lebih luas bagi pelaku usaha lokal.

    Lebih jauh, ia menyoroti bahwa program MBG harus dipandang sebagai penggerak ekonomi masyarakat, bukan semata-mata program bantuan sosial. Dengan meningkatnya kebutuhan pangan dalam program ini, berbagai sektor mulai dari produksi hingga distribusi akan ikut terdorong. Hal ini menciptakan efek berantai yang berdampak langsung pada pertumbuhan ekonomi di tingkat lokal.

    Salah satu aspek penting yang juga ditekankan adalah keterlibatan tenaga kerja lokal di setiap titik layanan MBG. Menurut Rico Tri Putra Bayu Waas, hal ini tidak hanya membuka lapangan pekerjaan baru, tetapi juga mempererat hubungan sosial di lingkungan masyarakat. Program ini menjadi sarana kolaborasi yang memperkuat solidaritas sekaligus meningkatkan kesejahteraan bersama.

    Dalam praktiknya, kebutuhan pangan untuk program MBG terus meningkat secara signifikan. Sebagai contoh, kebutuhan telur yang diproyeksikan mencapai jutaan butir per bulan menunjukkan skala besar dari program ini. Kondisi ini menuntut kesiapan pasokan yang terencana serta sinergi yang kuat antara pemerintah, pelaku usaha, dan penyedia bahan pangan.

    Dukungan terhadap program MBG juga datang dari kalangan mahasiswa. Ketua Umum Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Kota Bogor, Moeltazam, menyatakan bahwa MBG merupakan kebijakan yang memiliki dampak luas dan berkelanjutan. Ia menilai program ini bukan hanya membantu masyarakat dalam pemenuhan gizi, tetapi juga menjadi motor penggerak ekonomi rakyat.

    Menurut Moeltazam, MBG memiliki efek berganda atau *multiplier effect* yang signifikan. Program ini melibatkan berbagai lapisan masyarakat, mulai dari petani sebagai produsen bahan pangan, pedagang sebagai distributor, hingga pelaku logistik yang memastikan kelancaran distribusi. Keterlibatan ini membuka peluang kerja baru sekaligus mempercepat sirkulasi ekonomi dari hulu ke hilir.

    Efek berganda tersebut menjadi bukti bahwa program MBG mampu menciptakan dampak ekonomi yang luas. Ketika satu sektor bergerak, sektor lainnya ikut terdorong. Hal ini menciptakan ekosistem ekonomi yang dinamis dan saling terhubung, sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh lebih banyak pihak.

    Lebih dari itu, Moeltazam menilai bahwa MBG mencerminkan kehadiran negara secara nyata dalam kehidupan masyarakat. Program ini bukan sekadar wacana politik, tetapi kebijakan yang benar-benar dirasakan manfaatnya oleh rakyat kecil. Kehadiran negara dalam bentuk nyata seperti ini menjadi faktor penting dalam membangun kepercayaan publik.

    Namun demikian, ia juga menekankan pentingnya pengawasan yang baik agar program MBG dapat berjalan secara berkelanjutan. Keterlibatan masyarakat secara aktif dalam pengawasan dan pelaksanaan program menjadi kunci untuk memastikan bahwa manfaatnya tetap tepat sasaran dan tidak disalahgunakan.

    Transformasi MBG dari program sosial menjadi penggerak ekonomi menunjukkan bahwa kebijakan publik dapat memiliki dampak yang lebih luas jika dirancang secara komprehensif. Program ini tidak hanya menyelesaikan satu masalah, tetapi juga membuka peluang untuk mengatasi berbagai tantangan sekaligus, seperti pengangguran dan ketimpangan ekonomi.

    Ke depan, keberhasilan MBG akan sangat bergantung pada konsistensi implementasi dan penguatan kolaborasi antara berbagai pihak. Pemerintah, pelaku usaha, masyarakat, dan organisasi sosial perlu terus bersinergi untuk memastikan program ini berjalan secara optimal.

    Dengan pendekatan yang inklusif dan berorientasi pada pemberdayaan, MBG memiliki potensi besar untuk menjadi model kebijakan yang tidak hanya menyejahterakan masyarakat, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi nasional. Program ini membuktikan bahwa ketika kebijakan dirancang dengan tepat, manfaatnya dapat melampaui tujuan awal dan menciptakan perubahan yang lebih luas.

    Pada akhirnya, MBG bukan sekadar program makan bergizi, melainkan gerakan ekonomi yang melibatkan seluruh elemen masyarakat. Dari petani hingga pedagang, dari tenaga kerja hingga pelaku logistik, semua memiliki peran dalam menyukseskan program ini. Inilah wujud nyata pembangunan yang inklusif, di mana setiap lapisan masyarakat memiliki kesempatan untuk tumbuh dan berkembang bersama.

    *) Pemerhati ekonomi

  • Program MBG Buka Peluang Kerja bagi Masyarakat Lokal

    Kepualuan Riau – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menunjukkan kontribusi nyata dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat, tidak hanya dari sisi pemenuhan gizi, tetapi juga dalam membuka peluang kerja bagi masyarakat lokal. Implementasi program ini di berbagai daerah menjadi bukti bahwa kebijakan pemerintah mampu memberikan dampak langsung terhadap pengurangan pengangguran sekaligus mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis komunitas.

    Di Provinsi Kepulauan Riau, Program MBG tercatat telah menyerap sebanyak 9.601 tenaga kerja lokal hingga April 2026. Penyerapan tenaga kerja ini tersebar di 223 dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang beroperasi di tujuh kabupaten dan kota. Kehadiran dapur-dapur tersebut menjadi pusat aktivitas ekonomi baru yang melibatkan masyarakat setempat dalam berbagai peran, mulai dari tenaga dapur hingga tenaga pendukung operasional.

    Kepala Kantor Pelayanan Pangan Gizi (KPPG) Wilayah Riau, Sumatera Barat, dan Kepulauan Riau, Syartiwidya, menjelaskan bahwa setiap dapur SPPG membutuhkan puluhan tenaga kerja dengan beragam keahlian.

    “Masing-masing SPPG membutuhkan sekitar 40 hingga 50 relawan atau pekerja operasional, mencakup posisi seperti juru masak, tenaga logistik, kebersihan, pengemudi, serta didukung oleh kepala SPPG, ahli gizi, dan akuntan,” ujarnya.

    Ia menambahkan bahwa keterlibatan masyarakat lokal dalam operasional program menjadi salah satu kunci keberhasilan MBG di daerah.

    Menurut Syartiwidya, penyerapan tenaga kerja tersebut menjadi indikator bahwa Program MBG mampu memberikan solusi konkret dalam menekan angka pengangguran.

    “Penyerapan tenaga kerja lokal ini menandakan Program MBG menjadi salah satu solusi konkret mengatasi angka pengangguran, selain berfokus pada pemenuhan asupan gizi penerima manfaatnya,” katanya.

    Wakil Gubernur Kepulauan Riau, Nyanyang Haris Pratamura, mengapresiasi keberhasilan implementasi program tersebut yang dinilai memberikan dampak luas bagi masyarakat. Ia menilai MBG tidak hanya berdampak pada aspek kesehatan, tetapi juga pada penguatan ekonomi lokal melalui keterlibatan pelaku usaha dan sektor pertanian.

    “Program itu bukan hanya sekadar soal makanan, tetapi investasi jangka panjang untuk melahirkan generasi yang sehat, cerdas, dan berdaya saing,” ujarnya.

    Dengan berbagai capaian tersebut, Program MBG semakin memperkuat posisinya sebagai program unggulan yang tidak hanya berorientasi pada peningkatan kualitas gizi, tetapi juga berkontribusi dalam membuka peluang kerja dan mendorong kemandirian ekonomi masyarakat lokal.

  • MBG Serap Tenaga Kerja, Program Gizi Sekaligus Gerakkan Ekonomi

    JAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berfokus pada peningkatan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga dinilai mampu menjadi penggerak baru perekonomian nasional melalui penciptaan lapangan kerja dalam skala besar. Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyatakan bahwa program ini memiliki potensi signifikan dalam menyerap tenaga kerja.

    “MBG ini menciptakan satu juta lapangan kerja,” ujarnya di Kementerian Keuangan.

    Implementasi program ini di berbagai daerah juga menunjukkan hasil nyata. Kepala Kantor Pelayanan Pangan Gizi (KPPG) Wilayah Riau, Sumatra Barat, dan Kepulauan Riau, Syartiwidya, mengungkapkan bahwa di Provinsi Kepulauan Riau saja, program MBG telah menyerap 9.601 tenaga kerja lokal.

    “Masing-masing SPPG membutuhkan sekitar 40 hingga 50 relawan atau pekerja operasional, mencakup posisi seperti juru masak, tenaga logistik, kebersihan, pengemudi, serta didukung oleh kepala SPPG, ahli gizi, dan akuntan,” ujar Syatiwidya saat ditemui di Jakarta

    Dampak serupa juga terlihat di Kota Palembang. Program MBG tercatat memberikan kontribusi signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja lokal melalui Kelompok Penerima Program Gizi (KPPG) dan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

    “Jumlah tenaga kerja penduduk Kota Palembang yang terserap di KPPG dan SPPG Kota Palembang sebanyak 7.591 orang,” ujar Kepala Bidang Penempatan dan Perluasan Kerja Disnaker Palembang, Agusti saat ditemui di Jakarta

    Menurutnya, angka tersebut tergolong besar untuk skala program sektoral karena tidak hanya menyerap tenaga kerja inti, tetapi juga menjangkau sektor pendukung.

    “Sejauh ini Program MBG memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap penyerapan tenaga kerja lokal di Palembang, dan bahkan mulai terlihat sebagai salah satu instrumen penurunan angka pengangguran daerah. Tenaga kerja yang terserap tidak hanya tenaga inti, tetapi juga rantai pendukung,” jelasnya.

    Penyerapan tenaga kerja ini menjadi bukti konkret bahwa program MBG tidak hanya berperan dalam pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga menjadi solusi dalam menekan angka pengangguran.

    Dengan potensi besar yang dimiliki, Program Makan Bergizi Gratis diharapkan mampu memberikan dampak ganda meningkatkan kualitas sumber daya manusia sekaligus memperkuat fondasi ekonomi nasional melalui penciptaan lapangan kerja yang luas.

  • Amanah Aceh Konsolidasikan Program untuk Penguatan SDM Muda

    Oleh: Meutia Zahiya

    Di tengah perubahan zaman yang bergerak cepat, masa depan Aceh tidak cukup disiapkan hanya melalui pembangunan fisik. Gedung, jalan, dan berbagai infrastruktur tetap penting, tetapi ada unsur yang jauh lebih menentukan dalam jangka panjang, yakni kualitas manusianya. Dalam konteks itulah, generasi muda menempati posisi yang sangat strategis. Setiap ikhtiar yang sungguh-sungguh diarahkan untuk memperkuat kapasitas anak muda Aceh layak diapresiasi, didukung, dan dijaga keberlanjutannya.

    Menjelang relaunching AMANAH, ada pesan penting yang patut dibaca bersama bahwa penguatan sumber daya manusia muda Aceh tidak dapat dilakukan secara sporadis, melainkan perlu dikonsolidasikan melalui program-program yang saling terhubung. Hal ini penting, sebab tantangan generasi muda hari ini tidak lagi tunggal yang tidak hanya dituntut cakap secara intelektual, tetapi juga lentur menghadapi perubahan, mampu bekerja sama, memiliki arah hidup, serta mempunyai kepekaan sosial yang kuat.

    Dalam konteks itulah, dua kegiatan yang baru-baru ini digelar, yakni AMANAH Tech EducationdanFuture Leaders Bootcamp, terasa representatif untuk melihat bagaimana AMANAH membangun fondasi pengembangan anak muda Aceh secara lebih utuh. Pelaksanaan AMANAH Tech Education di Gedung Amanah, Ladong, Aceh Besar, menghadirkan semangat yang menggembirakan. Sebanyak 48 siswa dari jenjang SD, SMP, hingga SMA dari Banda Aceh dan Aceh Besar mengikuti kegiatan ini dengan antusias, diperkenalkan pada dunia robotika, mulai dari konsep dasar hingga praktik sederhana.

    Koordinator kegiatan, Alsudais, ST menegaskan bahwa penguasaan teknologi saat ini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan penting bagi generasi muda.  Karena teknologi diposisikan secara tepat tidak hanya sebagai sebagai simbol kemajuan yang jauh dari kehidupan sehari-hari, tapi sebagai alat untuk menciptakan solusi. Anak muda Aceh tentu tidak cukup hanya menjadi pengguna teknologi, apalagi sekadar penikmat tren digital. Maka yang dibutuhkan adalah generasi yang mampu memahami teknologi sebagai sarana menjawab persoalan riil masyarakat, mulai dari pertanian modern, transportasi, pelayanan publik, hingga ekonomi kreatif.

    Pandangan ini terasa semakin relevan bila menengok pengalaman Aceh yang pada 2025 lalu menghadapi bencana banjir bandang dan longsor di sejumlah wilayah. Peristiwa itu menjadi pengingat yang keras, tetapi juga jernih, bahwa pembangunan daerah tidak cukup hanya bertumpu pada infrastruktur. Daerah ini juga membutuhkan manusia-manusia yang tangguh, adaptif, dan sigap membaca keadaan. Dalam situasi krisis, yang dibutuhkan bukan hanya bantuan darurat, tetapi juga kapasitas sosial untuk pulih, berbenah, dan menata kembali kehidupan bersama.

    Dari titik itulah, penguatan SDM muda Aceh menjadi semakin penting. Generasi muda tidak boleh hanya dibayangkan sebagai penonton perubahan, melainkan sebagai pelaku utama dalam membangun daya lenting masyarakat. Penguasaan teknologi, misalnya, dapat membantu lahirnya solusi-solusi yang lebih efektif untuk mitigasi, penyebaran informasi, distribusi bantuan, hingga pemulihan produktivitas warga. Sementara kecakapan berpikir kritis dan kemampuan berorganisasi akan sangat berguna ketika masyarakat membutuhkan anak-anak muda yang tenang, cepat belajar, dan siap bekerja untuk kepentingan bersama.

    Keterlibatan mentor berpengalaman dari Universitas Syiah Kuala juga menunjukkan bahwa pembinaan generasi muda membutuhkan kolaborasi. Lembaga pendidikan, komunitas, yayasan, dan tokoh-tokoh inspiratif perlu dipertemukan dalam ekosistem yang sehat. Di sinilah Future Leaders Bootcamp mengambil peran penting. Kegiatan yang diikuti 26 anak muda Aceh terpilih dari berbagai daerah ini menunjukkan bahwa AMANAH tidak hanya menaruh perhatian pada hard skill, tetapi juga pada pembangunan karakter dan kapasitas kepemimpinan.

    Tema yang diusung, “Mengenal Diri, Menentukan Arah, Mewujudkan Masa Depan”, terasa sangat dekat dengan realitas anak muda hari ini. Banyak yang memiliki semangat besar, tetapi belum sepenuhnya menemukan arah. Pesan yang disampaikan Ketua Yayasan Aneuk Muda Aceh Unggul dan Hebat, Dr. Saifullah Muhammad, tentang pentingnya membangun pola pikir kepemimpinan, komitmen, dan peran aktif generasi muda dalam pembangunan yang berkelanjutan patut diapresiasi. Aceh memang membutuhkan anak-anak muda yang tidak hanya pintar secara akademik, tetapi juga memiliki kesadaran kebangsaan, kepedulian sosial, dan semangat cinta tanah air. Kepemimpinan pada akhirnya bukan hanya soal tampil di depan, melainkan soal kesiapan memikul tanggung jawab, merawat harapan, dan bekerja untuk kepentingan yang lebih besar.

    Dari dua program tersebut, tampak bahwa AMANAH sedang bergerak ke arah yang membangun ekosistem penguatan SDM muda Aceh secara lebih terarah. Pendidikan teknologi memberi bekal keterampilan dan keberanian berinovasi. Bootcamp kepemimpinan memberi pijakan karakter, refleksi diri, dan orientasi masa depan. Program-program seperti ini perlu dijaga kesinambungannya, diperluas jangkauannya, dan dipastikan dampaknya terasa hingga ke lebih banyak daerah.

    Pembangunan Aceh harus semakin bertumpu pada manusia, terutama generasi mudanya. Bahwa investasi terbaik bukan hanya pada apa yang tampak secara fisik, tetapi pada kapasitas yang tumbuh di dalam diri anak-anak muda Aceh. Harapan itu terasa masuk akal. Aceh memiliki banyak anak muda yang cerdas, hangat, kreatif, dan penuh semangat. Yang dibutuhkan adalah ruang yang tepat, pendampingan yang konsisten, dan program yang dirancang dengan visi jangka panjang. Dalam hal ini, AMANAH memperlihatkan upaya yang patut diperhitungkan. Kelak konsolidasi program ini terus diperkuat, AMANAH akan menjadi nama yang baik, juga kerja nyata yang ikut menyiapkan masa depan Aceh lebih tangguh, lebih siap, dan lebih membanggakan.

    *) Aktivis Muda Aceh

  • AMANAH Bangun Generasi Unggul Aceh melalui Ekosistem Pengembangan Talenta

    Oleh : Cut Keumala Putri )*

    Upaya mendorong lahirnya generasi muda Aceh yang unggul, adaptif, dan berdaya saing global kini semakin menunjukkan arah yang jelas dan terstruktur. Kehadiran program-program strategis yang terintegrasi dalam ekosistem pengembangan talenta, seperti yang diinisiasi oleh AMANAH, menjadi bukti konkret bahwa pembangunan sumber daya manusia tidak lagi bersifat sporadis, melainkan dirancang secara berkelanjutan. Inisiatif ini sejalan dengan visi besar pemerintah dalam memperkuat kualitas SDM sebagai fondasi utama pembangunan nasional, sekaligus menjawab tantangan bonus demografi yang tengah dihadapi.

    Penyelenggaraan Future Leaders Bootcamp (FLB) di Gedung AMANAH, Kawasan Industri Aceh (KIA) Ladong, menjadi salah satu contoh nyata bagaimana pendekatan pembangunan generasi muda dilakukan secara komprehensif. Program ini tidak hanya berfokus pada peningkatan kapasitas intelektual, tetapi juga menyentuh aspek emosional dan spiritual, yang selama ini sering terabaikan dalam pendidikan formal. Dengan proses seleksi ketat yang menghasilkan 26 peserta terbaik dari berbagai daerah di Aceh, kegiatan ini mencerminkan keseriusan dalam mencetak calon pemimpin masa depan yang berkualitas dan berintegritas.

    Dalam konteks tersebut, Ketua Yayasan Aneuk Muda Aceh Unggul Hebat, Dr. Saifullah Muhammad menegaskan bahwa AMANAH tidak sekadar menjadi lembaga pelatihan, melainkan hadir sebagai ekosistem pembinaan yang mampu melahirkan pemimpin masa depan dengan visi kuat dan kepedulian terhadap pembangunan daerah. Pandangan ini menunjukkan bahwa arah kebijakan pengembangan pemuda telah bergerak ke tahap yang lebih maju, yakni membangun ekosistem yang berkelanjutan, bukan sekadar program jangka pendek.

    Lebih jauh, pendekatan pelatihan yang menggabungkan entrepreneurial mindset, penyusunan peta jalan hidup, serta penguatan kemampuan komunikasi menjadi indikator bahwa generasi muda didorong untuk tidak hanya siap bekerja, tetapi juga mampu menciptakan peluang. Hal ini selaras dengan agenda pemerintah dalam memperkuat sektor kewirausahaan sebagai salah satu motor penggerak ekonomi nasional, khususnya di daerah. Dengan demikian, AMANAH tidak hanya berkontribusi pada pembangunan SDM, tetapi juga pada penguatan struktur ekonomi berbasis inovasi.

    Peran pemerintah daerah dalam mendukung keberlanjutan program ini juga patut diapresiasi. Dukungan yang diberikan menunjukkan adanya keselarasan antara kebijakan pusat dan daerah dalam mengembangkan potensi generasi muda. Bupati Aceh Besar, H. Muharram Idris memandang bahwa keberadaan fasilitas yang lengkap di Gedung AMANAH harus dimanfaatkan secara optimal untuk memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Penegasan tersebut mencerminkan komitmen kuat pemerintah daerah dalam memastikan bahwa investasi infrastruktur di bidang pengembangan SDM tidak berhenti pada pembangunan fisik, tetapi juga pada pemanfaatan yang produktif.

    Selain itu, penekanan pada pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan komunitas pemuda menjadi langkah strategis dalam menciptakan sinergi pembangunan. Dalam perspektif kebijakan publik, kolaborasi semacam ini merupakan kunci keberhasilan program, karena melibatkan berbagai pemangku kepentingan dalam satu tujuan yang sama. Hal ini juga menunjukkan bahwa pendekatan pembangunan saat ini semakin inklusif dan partisipatif, sesuai dengan arah reformasi birokrasi yang terus didorong pemerintah.

    Komitmen pemerintah daerah dalam menjaga sektor pertanian, memperkuat UMKM, serta meningkatkan kesejahteraan masyarakat juga memiliki keterkaitan langsung dengan pengembangan talenta muda. Generasi muda yang dibina melalui AMANAH akan memiliki ruang aktualisasi yang jelas dalam sektor-sektor prioritas tersebut. Dengan demikian, pengembangan talenta tidak berjalan di ruang hampa, tetapi terhubung langsung dengan kebutuhan riil pembangunan daerah.

    Dari sisi kelembagaan, penguatan kolaborasi dengan dunia akademik menjadi langkah penting dalam memastikan keberlanjutan program. Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Dr. Mujiburrahman menilai bahwa perguruan tinggi harus bertransformasi menjadi pusat inovasi yang terbuka dan terhubung dengan kebutuhan masyarakat. Pandangan ini memperkuat posisi kampus sebagai mitra strategis dalam pengembangan generasi muda, sekaligus mendukung kebijakan pemerintah dalam mendorong link and match antara dunia pendidikan dan dunia kerja.

    Sementara itu, Direktur AMANAH, Dr. Safwan Nurdin melihat adanya peluang besar untuk mengembangkan program-program inovatif di Aceh Besar, seiring dengan visi pembangunan daerah yang progresif. Hal ini menunjukkan bahwa AMANAH tidak berjalan sendiri, melainkan menjadi bagian dari ekosistem pembangunan yang lebih luas dan terintegrasi. Dukungan lintas sektor ini menjadi faktor kunci dalam memastikan keberhasilan program pengembangan talenta secara berkelanjutan.

    Secara keseluruhan, langkah yang dilakukan melalui AMANAH mencerminkan keberhasilan pemerintah dalam mengarahkan kebijakan pembangunan SDM ke arah yang lebih strategis dan berorientasi masa depan. Pendekatan berbasis ekosistem, kolaborasi lintas sektor, serta fokus pada pengembangan karakter dan kompetensi menjadi kombinasi yang tepat dalam menjawab tantangan global. Dengan konsistensi dan dukungan berkelanjutan, program ini berpotensi melahirkan generasi muda Aceh yang tidak hanya unggul secara lokal, tetapi juga mampu bersaing di tingkat internasional, sekaligus menjadi pilar penting dalam mewujudkan Indonesia yang maju dan berdaya saing tinggi.

    )* Penulis merupakan Pegiat Ekonomi Kreatif asal Lhokseumawe

  • Relaunching AMANAH dan AMANAH Tech Education: Fondasi Generasi Muda Aceh yang Inovatif dan Berdaya Saing

    Oleh: Teuku Rizqan Hidayat*

    Upaya memperkuat kualitas generasi muda sebagai fondasi utama pembangunan daerah di Aceh kini menunjukkan arah yang semakin progresif. Kehadiran Aneuk Muda Aceh Unggul Hebat (AMANAH) tidak hanya menghadirkan fasilitas fisik yang modern, tetapi juga mencerminkan keseriusan dalam membangun ekosistem pembinaan pemuda yang terstruktur, adaptif, dan berorientasi masa depan. Salah satu program unggulan yang menjadi simbol penguatan tersebut adalah AMANAH Tech Education, yang menegaskan bahwa transformasi generasi muda Aceh kini berbasis pada penguasaan teknologi dan inovasi.

    Momentum relaunching AMANAH menjadi titik penting dalam memperluas dampak program pembinaan. Tidak hanya fokus pada pengembangan kapasitas individu, AMANAH juga membangun ekosistem ekonomi kreatif yang inklusif. Hal ini terlihat dari capaian penghimpunan 45 produk UMKM yang telah terverifikasi, dengan 40 produk telah dipamerkan di Galeri UMKM dan sisanya masih dalam tahap kurasi di sekretariat AMANAH Banda Aceh. Langkah ini menunjukkan bahwa pembinaan pemuda tidak lagi sebatas pelatihan, melainkan diarahkan pada penciptaan peluang ekonomi nyata.

    Lebih dari itu, relaunching AMANAH juga akan menghadirkan inovasi berbasis lingkungan melalui enam produk hasil pengolahan sampah yang dipamerkan di Ruang Inovasi. Produk seperti SOBOTIK (sofa botol plastik), briket ampas kopi, pouch kain perca, pupuk dari daun nilam, eco enzym, hingga berbagai produk daur ulang plastik rumah tangga menjadi bukti bahwa kreativitas pemuda Aceh mampu menjawab isu global seperti keberlanjutan dan pengelolaan limbah. Ini menandakan bahwa AMANAH tidak hanya mencetak generasi kreatif, tetapi juga generasi yang memiliki kesadaran ekologis.

    Pemerintah Kabupaten Aceh Besar menunjukkan kepemimpinan yang visioner dalam mendukung optimalisasi peran AMANAH. Penekanan pada pemanfaatan fasilitas secara maksimal menjadi sinyal kuat bahwa investasi pembangunan harus berdampak langsung bagi masyarakat. Dalam konteks ini, AMANAH tidak sekadar menjadi simbol pembangunan, tetapi berfungsi sebagai pusat aktivitas yang menggerakkan potensi pemuda secara konkret.

    Pendekatan kolaboratif yang dibangun antara pemerintah daerah, komunitas, dan AMANAH menjadi kunci keberhasilan inisiatif ini. Sinergi lintas sektor membuka ruang bagi lahirnya inovasi di berbagai bidang, mulai dari UMKM, pertanian modern, hingga industri kreatif. Bahkan, langkah konkret terlihat dari penyelenggaraan program “Pelatihan Teknik Dasar Menjahit AMANAH x Ija Kroeng” yang telah menarik minat peserta. Tingginya antusiasme, dengan jumlah pendaftar yang terus bertambah, menunjukkan bahwa generasi muda Aceh memiliki semangat besar untuk mengembangkan keterampilan produktif.

    Di sisi lain, penguatan berbasis teknologi melalui AMANAH Tech Education menjadi jawaban atas tantangan global. Program ini tidak hanya mengenalkan teknologi, tetapi juga mendorong pemuda untuk menjadi inovator. Pendekatan pembelajaran yang interaktif, seperti pengenalan robotika dan teknologi terapan, membentuk pola pikir problem solving yang sangat dibutuhkan di era disrupsi. Generasi muda tidak lagi diposisikan sebagai pengguna teknologi, tetapi sebagai pencipta solusi.

    Hal ini sejalan dengan pandangan bahwa penguasaan teknologi merupakan kebutuhan mendasar. Dalam konteks pembangunan daerah, teknologi menjadi alat untuk meningkatkan produktivitas di berbagai sektor, termasuk pertanian, pelayanan publik, dan ekonomi kreatif. Dengan demikian, AMANAH berperan sebagai jembatan antara potensi pemuda dan kebutuhan pembangunan daerah yang semakin kompleks.

    Namun, keunggulan AMANAH tidak hanya terletak pada aspek teknologi dan ekonomi. Pembentukan karakter dan kepemimpinan tetap menjadi fondasi utama. Program seperti Future Leaders Bootcamp memperkuat nilai-nilai kepemimpinan yang berintegritas, visioner, dan berorientasi pada kepentingan masyarakat. Ini penting, karena pembangunan yang berkelanjutan membutuhkan pemimpin yang tidak hanya cerdas, tetapi juga memiliki komitmen moral yang kuat.

    Menariknya, pendekatan yang diterapkan AMANAH juga tetap berakar pada nilai-nilai lokal dan keislaman. Di tengah arus globalisasi, identitas menjadi faktor penting yang tidak boleh diabaikan. Dengan mengintegrasikan nilai budaya dan agama dalam setiap program, AMANAH berhasil menciptakan keseimbangan antara modernitas dan kearifan lokal.

    Ke depan, tantangan terbesar bukan hanya pada pengembangan program, tetapi juga pada konsistensi dan keberlanjutan. Pengelolaan yang profesional, penguatan kolaborasi, serta evaluasi yang berkelanjutan menjadi kunci agar AMANAH benar-benar mampu menjadi model pembinaan generasi muda yang inspiratif, tidak hanya di Aceh tetapi juga di tingkat nasional.

    Pada akhirnya, relaunching AMANAH bukan sekadar seremoni, melainkan langkah strategis dalam menegaskan arah pembangunan sumber daya manusia di Aceh. Dengan kombinasi program teknologi seperti AMANAH Tech Education, penguatan UMKM, inovasi berbasis lingkungan, serta pelatihan industri kreatif, Aceh memiliki peluang besar untuk melahirkan generasi muda yang unggul, adaptif, dan berdaya saing global. Generasi inilah yang kelak akan menjadi motor penggerak kemajuan daerah menuju masa depan yang lebih gemilang.

    *Analis Kebijakan Publik

  • Menjelang Relaunching, AMANAH Aceh Fokus pada Penguatan Daya Saing Pemuda

    Banda Aceh — Amanah Aceh menegaskan komitmennya untuk menjadikan penguatan daya saing pemuda sebagai pilar utama menjelang agenda relaunching organisasi yang akan segera dilaksanakan. Langkah strategis ini diambil sebagai respons terhadap tantangan ketenagakerjaan dan pengembangan sumber daya manusia di Provinsi Aceh.

    Komitmen tersebut diwujudkan melalui pelaksanaan AMANAH Tech Education di Gedung Amanah, Ladong. Kegiatan ini diikuti 48 siswa dari jenjang SD, SMP, hingga SMA yang berasal dari Banda Aceh dan Aceh Besar.

    Koordinator kegiatan, Alsudais, ST, menegaskan bahwa penguasaan teknologi kini bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.

    “Teknologi harus menjadi alat untuk menciptakan solusi. Anak-anak muda perlu dibekali kemampuan agar mampu berkontribusi dalam berbagai sektor strategis seperti pertanian modern, transportasi, pelayanan publik, hingga ekonomi kreatif,” ujarnya.

    Program yang digagas oleh Bidang Pengembangan Teknologi Yayasan Aneuk Muda Aceh Unggul dan Hebat (AMANAH) di bawah kepemimpinan Ir. Muhammad Tadjuddin, ST, M.Eng ini bertujuan membangun generasi yang tidak hanya melek teknologi, tetapi juga mampu menciptakan dampak nyata bagi masyarakat.

    “Inovasi berbasis teknologi dapat mendorong efisiensi di sektor pertanian, mempercepat layanan publik, serta membuka peluang ekonomi baru yang lebih kreatif dan berdaya saing global,” tuturnya.

    Sebelumnya, Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, mengunjungi Gedung AMANAH dalam rangka penjajakan peluang kerja sama strategis antara Banda Aceh Academy dan AMANAH untuk membangun ekosistem ekonomi kreatif di Aceh.
    “Fasilitas di sini sangat lengkap dan luar biasa. Ini adalah jawaban bagi keresahan anak muda kita yang memiliki bakat, tetapi sering terkendala infrastruktur,” kata Illiza.

    Dalam kesempatan itu, ia meninjau langsung berbagai fasilitas yang mencakup sejumlah sektor unggulan: studio musik dan ruang podcast untuk para kreator konten; fasilitas produksi minyak nilam serta bengkel kreatif; green house untuk pertanian modern; fasilitas roasting kopi profesional dan kafe; hingga perpustakaan sebagai ruang riset dan pengembangan ide.

    Ke depan, Amanah Aceh juga akan memperluas sinergi dengan pemerintah daerah, dunia usaha, dan lembaga pendidikan guna menciptakan ekosistem yang menyeluruh bagi tumbuhnya generasi muda Aceh yang unggul dan berdaya saing di era global. [-RWA]

  • AMANAH Aceh Dorong Pendekatan Kolaboratif Membina Generasi Muda

    Aceh – Ketua Yayasan Aneuk Muda Aceh Unggul dan Hebat (Amanah), Syaifullah Muhammad mengatakan pihaknya mendorong pendekatan kolaboratif dalam melakukan pembinaan terhadap generasi muda Aceh.

    Hal itu terungkap saat Yayasan Aneuk Muda Aceh Unggul dan Hebat (Amanah) bertemu dengan Rektor UIN Ar-Raniry Prof Mujiburrahman saat membahas penguatan pembinaan generasi muda di tengah meningkatnya kerentanan sosial.

    Pada pertemuan tersebut dibahas pentingnya perubahan pendekatan dalam menangani persoalan pemuda.

    Penanganan dinilai tidak cukup bersifat reaktif terhadap dampak, tetapi perlu berfokus pada pembangunan ekosistem yang mampu menyalurkan potensi secara produktif, ujar Syaifullah saat ditemui awak media di Aceh.

    Menurut ketua Amanah, Syaifullah Muhammad, generasi muda Aceh tidak kekurangan potensi, namun masih terbatas dalam hal ruang pengembangan diri.

    “Anak muda Aceh tidak kekurangan potensi. Yang dibutuhkan adalah ekosistem yang mampu mengubah potensi itu menjadi produktivitas dan daya saing,” katanya.

    Ia menambahkan, energi dan kreativitas yang tidak tersalurkan berpotensi mendorong munculnya perilaku destruktif, termasuk penyalahgunaan narkoba.

    Sementara itu, Mujiburrahman menegaskan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan tersebut.

    Menurut dia, kampus harus bertransformasi menjadi pusat inovasi yang terbuka dan terhubung dengan kebutuhan masyarakat.

    “Perguruan tinggi tidak cukup hanya menjadi ruang akademik. Kampus harus hadir sebagai pusat solusi dan kolaborasi bagi generasi muda,” pungkasnya.

    Dalam pertemuan tersebut, kedua pihak sepakat memperkuat kolaborasi melalui berbagai program konkret, seperti pelatihan berbasis industri kreatif, inkubasi kewirausahaan, serta perluasan jejaring global bagi pemuda Aceh.

    “Pembinaan juga diarahkan pada penguatan pola pikir berkembang (growth mindset) guna membentuk generasi muda yang adaptif, inovatif, dan siap bersaing di tingkat global”, tuturnya

    Langkah ini dinilai penting seiring besarnya bonus demografi di Aceh. Tanpa pengelolaan yang tepat, dominasi penduduk usia muda berpotensi memunculkan berbagai persoalan sosial.

    “Melalui kolaborasi ini, Amanah dan UIN Ar-Raniry berharap dapat membuka lebih banyak ruang bagi generasi muda untuk berkembang, sekaligus mengarahkan potensi mereka ke kontribusi nyata bagi daerah maupun tingkat global,” tutupnya.