Kategori: Uncategorized

  • Relaunching AMANAH Aceh Perkuat Strategi Pengembangan Pemuda Adaptif dan Inovatif

    Banda Aceh – Ketua Yayasan Aneuk Muda Aceh Unggul Hebat (AMANAH), Syaifullah Muhammad membuka secara resmi kegiatan Future Leaders Bootcamp (FLB) yang diselenggarakan oleh Bidang Pelatihan dan Sertifikasi Badan Pekerja AMANAH.

    Kegiatan diikuti sebanyak 26 anak muda Aceh dari berbagai daerah dengan narasumber akademisi Universitas Syiah Kuala, penulis produktif, serta trainer dan public speaker di bidang pengembangan diri dan kepemimpinan, Said Muniruddin. Kegiatan berlangsung di Gedung AMANAH, Kawasan Industri Aceh (KIA), Ladong, Kabupaten Aceh Besar, mengusung tema “Mengenal Diri, Menentukan Arah, Mewujudkan Masa Depan.”

    Dalam sambutannya, Syaifullah mengatakan peserta yang mengikuti kegiatan ini adalah mereka terpilih yang telah melalui proses seleksi dari puluhan pendaftar terbaik di seluruh Aceh. Dia juga menyampaikan pentingnya kehadiran AMANAH sebagai wadah pengembangan generasi muda Aceh.

    “Pentingnya membangun pola pikir kepemimpinan, komitmen, serta peran aktif generasi muda dalam pembangunan yang berkelanjutan dan selaras dengan nilai-nilai kebangsaan dengan semangat cinta tanah air,“ ucapnya.

    Sebelumnya, Syaifullah juga melakukan pertemuan dengan Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh, Prof. Mujiburrahman. Pertemuan membahas pentingnya perubahan pendekatan dalam menangani persoalan pemuda serta penguatan pembinaan generasi muda di tengah meningkatnya kerentanan sosial.

    Syaifullah mengatakan generasi muda Aceh tidak kekurangan potensi, namun masih terbatas dalam hal ruang pengembangan diri. Energi dan kreativitas yang tidak tersalurkan berpotensi mendorong munculnya perilaku destruktif, termasuk penyalahgunaan narkoba.

    “Yang dibutuhkan adalah ekosistem yang mampu mengubah potensi itu menjadi produktivitas dan daya saing. Hal ini membutuhkan dukungan dari semua pihak,” ujarnya di ruang kerja Rektor UIN Ar-Raniry Banda Aceh, beberapa waktu lalu.

    Sementara itu, Prof. Mujiburrahman mengungkapkan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam menjawab tantangan tersebut. Kampus harus bertransformasi menjadi pusat inovasi yang terbuka dan terhubung dengan kebutuhan masyarakat.

    “Perguruan tinggi tidak cukup hanya menjadi ruang akademik. Kampus harus hadir sebagai pusat solusi dan kolaborasi bagi generasi muda,” kata Rektor.

    Pada pertemuan ini, kedua pihak sepakat memperkuat kolaborasi melalui berbagai program konkret, seperti pelatihan berbasis industri kreatif, inkubasi kewirausahaan, serta perluasan jejaring global bagi pemuda Aceh. Selain itu, pembinaan juga diarahkan pada penguatan pola pikir berkembang (growth mindset) guna membentuk generasi muda yang adaptif, inovatif, dan siap bersaing di tingkat global.

    Melalui kolaborasi ini, AMANAH dan UIN Ar-Raniry berharap dapat membuka lebih banyak ruang bagi generasi muda untuk berkembang, sekaligus mengarahkan potensi mereka ke kontribusi nyata bagi daerah maupun tingkat global. Langkah ini dinilai penting seiring besarnya bonus demografi di Aceh. Tanpa pengelolaan yang tepat, dominasi penduduk usia muda berpotensi memunculkan berbagai persoalan sosial. [*]

  • Jelang Relaunching, AMANAH Aceh Perkuat Pengembangan Talenta Muda

    Aceh – Yayasan Aneuk Muda Aceh Unggul-Hebat (AMANAH) terus memperkuat langkah strategisnya dalam membina generasi muda Aceh menjelang relaunching program tersebut.

    Upaya ini ditandai dengan penyelenggaraan Future Leaders Bootcamp (FLB), sebuah program pelatihan kepemimpinan intensif yang berlangsung di Gedung AMANAH, Kawasan Industri Aceh (KIA), Ladong, Aceh Besar.

    Program ini menjadi sinyal kuat komitmen dalam mencetak talenta muda unggul yang mampu menjawab tantangan zaman.

    Sebanyak 26 peserta terpilih dari berbagai kabupaten/kota di Aceh mengikuti kegiatan bertema “Mengenal Diri, Menentukan Arah, Mewujudkan Masa Depan”.

    Mereka merupakan hasil seleksi ketat dari puluhan kandidat terbaik, mencerminkan keseriusan program dalam menjaring calon pemimpin muda berkualitas.

    Selain itu, pendekatan pelatihan dirancang secara intensif dan terstruktur untuk memperkuat kapasitas personal sekaligus profesional peserta.

    Ketua Yayasan AMANAH, Dr. Saifullah Muhammad, menegaskan bahwa keberadaan AMANAH semakin relevan di tengah kebutuhan akan generasi muda yang tangguh dan visioner.

    “Pentingnya kehadiran AMANAH sebagai wadah pengembangan generasi muda Aceh menjadi semakin krusial, terutama dalam membangun kepemimpinan yang berintegritas dan berdaya saing,” ujarnya.

    Ia menambahkan, pembinaan tidak hanya berfokus pada aspek keterampilan, tetapi juga pada pembentukan pola pikir kepemimpinan dan komitmen terhadap pembangunan berkelanjutan.

    Lebih lanjut, Dr. Saifullah menekankan pentingnya peran aktif pemuda dalam pembangunan daerah yang selaras dengan nilai kebangsaan.

    “Kami mendorong lahirnya generasi muda yang tidak hanya cakap secara intelektual, tetapi juga memiliki semangat cinta tanah air dan tanggung jawab sosial yang tinggi,” katanya.

    Menurutnya, AMANAH hadir sebagai platform strategis untuk memastikan anak muda Aceh memiliki bekal memadai untuk menjadi pemimpin di tingkat lokal, nasional, hingga global.

    Dalam pelaksanaan FLB, peserta mendapatkan pembekalan dari berbagai narasumber berpengalaman, termasuk Said Muniruddin, akademisi Universitas Syiah Kuala sekaligus praktisi pengembangan diri.

    Salah satu materi kunci yang disampaikan adalah “Assessing Entrepreneurial Mindset” yang menekankan pentingnya pola pikir kewirausahaan sebagai fondasi kepemimpinan bisnis modern.

    Materi ini dipadukan dengan sesi mentoring dan simulasi yang aplikatif, sehingga peserta mampu menginternalisasi pembelajaran secara komprehensif.

    Program ini sekaligus menjadi bagian dari rangkaian persiapan relaunching AMANAH yang akan memperluas jangkauan pembinaan secara lebih masif, sistematis, dan berkelanjutan.

    Sejalan dengan kebijakan pemerintah dalam penguatan sumber daya manusia, langkah ini diharapkan mampu mendorong lahirnya ekosistem kepemudaan yang produktif dan inovatif di Aceh.

    Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir generasi muda Aceh yang kreatif, unggul, berkarakter, dan siap menjadi pemimpin masa depan yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa terutama dalam menghadapi persaingan global.

  • Momentum Relaunching, AMANAH Aceh Kian Solid Bangun Pemuda Berdaya Saing

    Aceh – Menjelang relaunching, Yayasan Aneuk Muda Aceh Unggul Hebat (AMANAH) semakin mempertegas langkahnya dalam membangun generasi muda yang adaptif, inovatif, dan berdaya saing. Penguatan program berbasis teknologi dan kreativitas menjadi fokus utama guna menjawab tantangan zaman sekaligus mendorong kemajuan daerah.

    Upaya tersebut tercermin melalui pelaksanaan AMANAH Tech Education yang digelar pada Sabtu, 11 April 2026 di Gedung AMANAH, Ladong. Kegiatan ini melibatkan 48 pelajar dari tingkat SD hingga SMA asal Banda Aceh dan Aceh Besar yang mendapatkan pembekalan teknologi secara langsung dan aplikatif.

    Program ini diinisiasi oleh Bidang Pengembangan Teknologi AMANAH sebagai bagian dari komitmen membangun generasi yang tidak hanya memahami teknologi, tetapi juga mampu memanfaatkannya untuk menciptakan solusi nyata di tengah masyarakat.

    Melalui metode pembelajaran interaktif, peserta diperkenalkan pada dunia robotika, mulai dari konsep dasar hingga praktik sederhana. Kegiatan ini turut didukung oleh mentor berpengalaman dari Universitas Syiah Kuala yang membimbing peserta secara intensif sehingga proses belajar menjadi lebih efektif.

    Koordinator kegiatan, Alsudais, ST menegaskan bahwa penguasaan teknologi menjadi kebutuhan utama bagi generasi muda saat ini. “Teknologi harus menjadi alat untuk menciptakan solusi. Anak-anak muda perlu dibekali kemampuan agar mampu berkontribusi dalam berbagai sektor strategis seperti pertanian modern, transportasi, pelayanan publik, hingga ekonomi kreatif,” ujarnya.
    Ia menambahkan, teknologi juga berperan penting dalam meningkatkan produktivitas serta menjaga keberlanjutan lingkungan. Oleh karena itu, penguatan literasi teknologi dinilai menjadi fondasi penting dalam mencetak sumber daya manusia unggul di Aceh.

    Antusiasme peserta terlihat tinggi selama kegiatan berlangsung, khususnya saat sesi praktik robotik. Interaksi aktif antara mentor dan peserta mendorong tumbuhnya kreativitas sekaligus keberanian untuk bereksperimen.

    Dukungan pemerintah daerah turut memperkuat peran AMANAH. Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal, sebelumnya mengapresiasi fasilitas lengkap yang dimiliki Gedung AMANAH.
    “Fasilitas di sini sangat lengkap dan luar biasa. Ini adalah jawaban bagi keresahan anak muda kita yang memiliki bakat, tetapi sering terkendala infrastruktur,” ujar Illiza.
    Dengan fasilitas yang mencakup sektor digital, industri kreatif, hingga pertanian modern, AMANAH dinilai mampu menjadi pusat pengembangan pemuda yang terintegrasi.****

  • Bootcamp Kepemimpinan AMANAH Cetak Generasi Muda Aceh yang Visioner

    Aceh – Menjelang peluncuran ulang programnya, Yayasan Aneuk Muda Aceh Unggul – Hebat (Amanah) terus memperkuat ekosistem kreatif pemuda melalui penyelenggaraan Future Leaders Bootcamp (FLB). Kegiatan ini diikuti oleh 26 anak muda terpilih dari berbagai daerah di Aceh dan digelar di Gedung Amanah, Kawasan Industri Aceh (KIA), Ladong, Kabupaten Aceh Besar, dengan mengusung tema “Mengenal Diri, Menentukan Arah, Mewujudkan Masa Depan.”

    Kegiatan ini menjadi bagian dari langkah strategis Amanah dalam menyiapkan generasi muda yang adaptif, inovatif, dan siap berkontribusi dalam pembangunan. Para peserta yang terlibat telah melalui proses seleksi ketat dari puluhan pendaftar terbaik, sehingga menghasilkan kelompok pemuda dengan potensi unggul. Antusiasme tinggi terlihat sepanjang kegiatan, mencerminkan kesiapan mereka dalam mengembangkan kapasitas diri.

    Ketua Yayasan Aneuk Muda Aceh Unggul – Hebat (Amanah), Dr. Saifullah Muhammad menegaskan pentingnya penguatan ekosistem kreatif sebagai fondasi pembangunan pemuda.

    “Menjelang peluncuran ulang Amanah, kami ingin memastikan bahwa generasi muda Aceh memiliki pola pikir kepemimpinan yang kuat, kreatif, serta mampu berperan aktif dalam pembangunan berkelanjutan yang selaras dengan nilai kebangsaan,” ujarnya,

    Sebagai bagian dari penguatan kapasitas, FLB menghadirkan narasumber inspiratif, Akademisi Universitas Syiah Kuala Said Muniruddin, SE, M.Sc., yang memberikan materi utama terkait pengembangan pola pikir kewirausahaan. Ia menekankan bahwa daya saing global pemuda Aceh sangat ditentukan oleh kesiapan mental dan visi yang dimiliki.

    “Pemuda Aceh memiliki peluang besar untuk bersaing di tingkat global, selama mereka membangun entrepreneurial mindset yang solid, tidak hanya dari sisi keterampilan teknis, tetapi juga dari kekuatan visi dan nilai spiritual,” jelasnya.

    Berbagai sesi pelatihan seperti Vision Building, Life Roadmap, dan Communication & Public Speaking dirancang untuk memperkuat keterampilan praktis peserta. Salah satu peserta menyampaikan bahwa kegiatan ini memberikan arah yang lebih jelas dalam merancang masa depan.

    “Kami tidak hanya belajar teori, tetapi juga menyusun langkah konkret untuk pengembangan diri, termasuk meningkatkan kepercayaan diri dalam berkomunikasi,” ungkapnya.

    Selain itu, Akademisi Universitas Syiah Kuala, Said Muniruddin, SE, M.Sc. menegaskan pentingnya keseimbangan kemampuan agar pemuda Aceh mampu bersaing di tingkat global dengan didukung fondasi yang kuat.

    “Pendekatan growth mindset menjadi kunci agar pemuda mampu menguasai soft skill dan hard skill secara seimbang sebagai bekal menghadapi tantangan global,” katanya.

    Melalui kegiatan ini, Amanah menegaskan komitmennya dalam memperkuat ekosistem kreatif pemuda Aceh menjelang peluncuran ulang, dengan harapan lahir generasi yang inovatif, berkarakter, dan siap membawa daerah menuju kemajuan berkelanjutan.

  • Relaunching AMANAH Dorong Penguatan Karakter dan Kepemimpinan Pemuda Aceh

    Aceh Besar – Menjelang relaunching yang diagendakan pada pertengahan April 2026, Yayasan Aneuk Muda Aceh Unggul dan Hebat (AMANAH) memperkuat arah pengembangan generasi muda melalui program pembinaan yang lebih terarah. Salah satu langkah yang dilakukan adalah penyelenggaraan Future Leaders Bootcamp (FLB) sebagai upaya membentuk karakter dan kapasitas kepemimpinan pemuda Aceh.

    Kegiatan yang digelar oleh Bidang Pelatihan dan Sertifikasi Badan Pekerja AMANAH ini berlangsung di Gedung AMANAH, Kawasan Industri Aceh (KIA), Ladong, Aceh Besar. Sebanyak 26 peserta terpilih dari berbagai kabupaten/kota di Aceh mengikuti program tersebut setelah melalui proses seleksi ketat.

    Mengusung tema “Mengenal Diri, Menentukan Arah, Mewujudkan Masa Depan”, FLB dirancang sebagai ruang pembentukan karakter dan penguatan kepemimpinan generasi muda. Peserta tidak hanya menerima materi, tetapi juga aktif berdiskusi dan mengasah potensi diri melalui pendekatan interaktif.

    Ketua Yayasan AMANAH, Dr. Saifullah Muhammad, menegaskan pentingnya membangun ekosistem yang mampu mendorong lahirnya pemimpin muda yang berintegritas dan berdaya saing.

    “Anak muda Aceh tidak kekurangan potensi. Yang dibutuhkan adalah ekosistem yang mampu mengubah potensi itu menjadi produktivitas dan daya saing,” ujarnya.

    Ia menambahkan, AMANAH hadir sebagai wadah pengembangan yang tidak hanya berfokus pada pelatihan, tetapi juga pada pembentukan pola pikir kepemimpinan, komitmen, dan peran aktif generasi muda dalam pembangunan berkelanjutan.

    Dalam kegiatan ini, peserta dibekali berbagai materi aplikatif, mulai dari penguatan pola pikir kewirausahaan melalui sesi entrepreneurial mindset, hingga penyusunan visi hidup dan peta jalan masa depan (life roadmap). Selain itu, kemampuan komunikasi efektif dan public speaking juga menjadi bagian penting untuk meningkatkan kepercayaan diri dalam menyampaikan gagasan.

    Bootcamp ini menghadirkan Said Muniruddin, akademisi Universitas Syiah Kuala dan praktisi pengembangan diri. Ia menekankan pentingnya keseimbangan antara kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual dalam membangun kepemimpinan yang utuh.

    AMANAH juga menegaskan komitmennya dalam membangun ekosistem pengembangan generasi muda yang lebih terintegrasi melalui kolaborasi dengan berbagai pihak. Penguatan program diarahkan pada penciptaan ruang yang mampu menyalurkan potensi anak muda secara produktif dan berkelanjutan.

    Relaunching AMANAH diharapkan menjadi momentum untuk memperluas jangkauan program serta memperkuat peran lembaga sebagai pusat pengembangan kepemimpinan dan inovasi generasi muda Aceh.

    Melalui langkah ini, AMANAH menargetkan lahirnya generasi muda yang adaptif, kreatif, dan memiliki daya saing global, sekaligus mampu berkontribusi nyata dalam pembangunan daerah. #

  • AMANAH Masuki Fase Baru, Gandeng Kampus dan Pemda Bangun Ekosistem Pemuda

    Aceh – Yayasan Aneuk Muda Aceh Unggul–Hebat (Amanah) terus memperkuat langkah strategis dalam memasuki fase baru pengembangan program kepemudaan di Aceh. Organisasi ini mulai menyiapkan berbagai inisiatif yang lebih terintegrasi dengan melibatkan perguruan tinggi, pemerintah daerah, hingga sektor ekonomi kreatif.

    Langkah tersebut terlihat dari serangkaian pertemuan dan penjajakan kolaborasi yang dilakukan Amanah dalam beberapa waktu terakhir, termasuk dengan pihak kampus dan pemerintah kota.

    Salah satu upaya konkret dilakukan melalui pertemuan dengan pimpinan Universitas Islam Negeri Ar-Raniry. Dalam pertemuan itu, kedua pihak sepakat memperkuat pembinaan generasi muda Aceh melalui kolaborasi yang lebih sistematis.

    Ketua Yayasan Amanah, Dr. Syaifullah Muhammad, menegaskan bahwa penguatan kapasitas pemuda menjadi fokus utama dalam fase pengembangan selanjutnya. Ia menyebut, tantangan generasi muda saat ini tidak cukup dijawab dengan pendekatan konvensional.

    “Kita ingin membangun kompetensi, mengubah mindset, dan membuka akses pemuda Aceh ke ekosistem kreatif global,” ujarnya dalam pertemuan tersebut.

    Sementara itu, Rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Mujiburrahman, menyambut baik sinergi tersebut. Ia menilai kolaborasi lintas sektor menjadi kunci dalam menciptakan pembinaan pemuda yang berkelanjutan.

    Menurutnya, perguruan tinggi memiliki peran strategis dalam membentuk karakter dan daya saing generasi muda, sehingga kemitraan dengan organisasi seperti Amanah perlu terus diperkuat.

    “Sinergi ini penting agar pembinaan pemuda tidak berjalan parsial, tetapi terarah dan berdampak luas,” ungkapnya.

    Selain dengan kalangan akademisi, Amanah juga mulai menjajaki kolaborasi dengan pemerintah daerah. Dalam kunjungan ke gedung Amanah, Wali Kota Banda Aceh menyoroti potensi kerja sama di sektor ekonomi kreatif sebagai ruang baru bagi pengembangan anak muda.

    Inisiatif tersebut dinilai sejalan dengan visi Amanah untuk menghadirkan program yang tidak hanya berorientasi pada pembinaan, tetapi juga pemberdayaan ekonomi generasi muda.

    Di sisi lain, dukungan terhadap penguatan peran pemuda juga datang dari berbagai pihak. Pemerintah mendorong agar organisasi kepemudaan mampu menjadi motor penggerak pembangunan berbasis kreativitas dan inovasi, khususnya di daerah.

    Dengan rangkaian kolaborasi ini, Amanah menegaskan komitmennya untuk memasuki fase baru dengan pendekatan yang lebih terintegrasi—menggabungkan aspek pendidikan, pengembangan karakter, hingga penciptaan peluang ekonomi.

    Ke depan, Amanah berharap sinergi lintas sektor ini dapat melahirkan ekosistem pembinaan pemuda Aceh yang lebih kuat, adaptif, dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.

  • AMANAH Hadirkan Model Pembinaan Pemuda Berbasis Kebutuhan Zaman

    Oleh: Cut Najwa Safira

    Di tengah perubahan zaman yang bergerak semakin cepat, pendekatan lama dalam membina generasi muda jelas tidak lagi memadai. Dunia kerja berubah, lanskap ekonomi bergeser, dan tuntutan kompetensi semakin kompleks. Dalam konteks itulah, langkah AMANAH Aceh menghadirkan Future Leaders Bootcamp (FLB) menjadi lebih dari sekadar pelatihan rutin, namun juga sinyal kuat dimulainya fase baru pembinaan pemuda berbasis kebutuhan zaman.

    Kegiatan yang diikuti oleh 26 anak muda terpilih dari berbagai daerah di Aceh tersebut bukan hanya ajang peningkatan kapasitas, tetapi juga ruang refleksi dan penajaman arah hidup. Mengusung tema “Mengenal Diri, Menentukan Arah, Mewujudkan Masa Depan”, FLB secara tegas menunjukkan bahwa pembinaan generasi muda hari ini tidak bisa lagi bersifat umum dan seragam. Ia harus spesifik, relevan, dan adaptif terhadap dinamika global maupun lokal.

    Pelaksanaan kegiatan di Gedung AMANAH, Kawasan Industri Aceh (KIA), Ladong, Aceh Besar, juga bukan tanpa makna. Pemilihan lokasi ini mencerminkan orientasi pembinaan yang tidak lagi terlepas dari realitas ekonomi produktif. Generasi muda tidak hanya dipersiapkan sebagai individu yang “siap kerja”, tetapi juga sebagai aktor yang mampu menciptakan peluang dan nilai tambah di tengah masyarakat.

    Ketua Yayasan Aneuk Muda Aceh Unggul-Hebat (AMANAH), Dr. Saifullah Muhammad, dalam sambutannya menegaskan pentingnya kehadiran AMANAH sebagai wadah pengembangan generasi muda Aceh. Penegasan ini menjadi kunci dalam memahami arah baru yang sedang dibangun. Bahwa pembinaan pemuda tidak bisa lagi bersifat sporadis atau sekadar seremonial, melainkan harus terstruktur, berkelanjutan, dan memiliki visi jangka panjang.

    Pernyataan tersebut, jika dielaborasi lebih jauh, menunjukkan bahwa AMANAH tengah berupaya membangun ekosistem pembinaan yang utuh. Tidak hanya fokus pada peningkatan keterampilan teknis, tetapi juga pada pembentukan pola pikir kepemimpinan, komitmen, dan karakter kebangsaan. Dalam konteks kebutuhan zaman, hal ini menjadi sangat relevan. Generasi muda tidak cukup hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga harus memiliki ketangguhan mental, kepekaan sosial, serta orientasi kontribusi bagi bangsa.

    Lebih lanjut, penekanan pada nilai-nilai kebangsaan dan cinta tanah air yang disampaikan oleh Saifullah juga menegaskan bahwa modernisasi tidak boleh mengikis identitas. Justru, dalam era globalisasi, akar nilai menjadi fondasi penting agar generasi muda tidak kehilangan arah. Di sinilah AMANAH mencoba memadukan antara kebutuhan kompetensi global dengan karakter lokal yang kuat.

    Kehadiran Said Muniruddin sebagai narasumber dalam kegiatan ini semakin memperkaya pendekatan yang digunakan. Dengan latar belakang sebagai akademisi Universitas Syiah Kuala, penulis, serta trainer kepemimpinan, ia membawa perspektif yang tidak hanya teoritis, tetapi juga praktis dan kontekstual. Pendekatan yang mengintegrasikan aspek rasional, emosional, dan spiritual menjadi nilai tambah yang jarang ditemukan dalam pelatihan konvensional.

    Jika ditarik dalam kerangka framing yang lebih luas, pendekatan Said Muniruddin ini sejalan dengan kebutuhan zaman yang menuntut keseimbangan. Di era disrupsi, individu tidak hanya dituntut untuk cepat dan cerdas, tetapi juga harus mampu mengelola emosi, menjaga integritas, serta memiliki tujuan hidup yang jelas. Inilah yang menjadikan pembinaan berbasis karakter dan kesadaran diri menjadi semakin penting.

    Salah satu materi utama yang disampaikan, yakni “Assessing Entrepreneurial Mindset”, juga menunjukkan arah baru pembinaan yang lebih progresif. Kewirausahaan tidak lagi dipahami semata sebagai aktivitas bisnis, tetapi sebagai pola pikir yang mencakup keberanian mengambil risiko, kemampuan beradaptasi, serta kreativitas dalam memecahkan masalah.

    Dalam konteks Aceh, penguatan pola pikir kewirausahaan ini memiliki relevansi strategis. Berdasarkan berbagai inisiatif yang juga didorong bersama Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, pengembangan ekonomi kreatif menjadi salah satu fokus utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah. Generasi muda diposisikan sebagai motor penggerak, bukan hanya sebagai pelaku, tetapi juga sebagai inovator yang mampu menciptakan ekosistem baru.

    Kolaborasi antara AMANAH Aceh dan Bank Indonesia ini menunjukkan bahwa pembinaan pemuda tidak lagi berdiri sendiri, melainkan terintegrasi dengan agenda pembangunan ekonomi yang lebih luas. Ini merupakan lompatan penting dalam paradigma pembinaan, di mana pelatihan tidak berhenti pada peningkatan kapasitas individu, tetapi berlanjut pada penciptaan dampak ekonomi nyata.

    Antusiasme tinggi para peserta sepanjang kegiatan juga menjadi indikator bahwa pendekatan ini diterima dengan baik. Generasi muda hari ini membutuhkan ruang yang tidak hanya mengajar, tetapi juga menginspirasi dan memberdayakan. Mereka ingin didengar, dilibatkan, dan diberi kesempatan untuk tumbuh sesuai dengan potensi masing-masing.

    Ke depan, tantangan terbesar tentu adalah menjaga konsistensi dan keberlanjutan program. Fase baru ini harus diikuti dengan penguatan sistem, perluasan jangkauan, serta peningkatan kualitas program secara berkelanjutan. Tanpa itu, inisiatif yang baik berisiko menjadi sekadar momentum sesaat.

    Namun, jika arah ini terus dijaga, AMANAH Aceh berpotensi menjadi model pembinaan pemuda yang relevan dan adaptif di Indonesia. Sebuah model yang tidak hanya mencetak generasi muda yang kompeten, tetapi juga berkarakter, inovatif, dan memiliki komitmen kuat terhadap pembangunan daerah dan bangsa.

    Inilah esensi dari pembinaan pemuda berbasis kebutuhan zaman: membentuk individu yang tidak hanya siap menghadapi masa depan, tetapi juga mampu menciptakan masa depan itu sendiri. AMANAH Aceh tampaknya telah mengambil langkah awal yang tepat menuju tujuan tersebut.

    *) Pemerhati Ekonomi Kreatif dan Pemberdayaan Pemuda Aceh

  • Rekrutmen Ribuan Manajer Koperasi Merah Putih Dibuka, Peluang Besar bagi Anak Muda

    Jakarta – Pemerintah resmi membuka rekrutmen besar-besaran untuk posisi manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih), sebagai bagian dari upaya memperkuat ekonomi kerakyatan sekaligus membuka peluang kerja luas bagi generasi muda di seluruh Indonesia.

    Kebijakan ini menjadi salah satu langkah konkret pemerintah dalam mendorong pemerataan pembangunan berbasis desa di tengah dinamika ekonomi global yang menuntut ketahanan ekonomi nasional yang lebih kuat.

    Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyampaikan bahwa pada tahap awal, pemerintah menyediakan sedikitnya 30.000 formasi manajer koperasi yang akan ditempatkan di berbagai daerah.

    “Negara memanggil putra-putri terbaik untuk hadir di desa, kelurahan, dan kampung nelayan. Mari kawal bersama agar yang terpilih benar-benar SDM terbaik demi Indonesia maju,” ujar Zulkifli.

    Rekrutmen ini terbuka bagi lulusan D3, D4, hingga S1 dari semua jurusan, dengan batas usia maksimal 35 tahun dan IPK minimal 2,75. Pendaftaran dibuka pada 15 hingga 24 April 2026 melalui kanal resmi Program Hasil Terbaik Cepat (PHTC).

    Pemerintah menegaskan seluruh proses seleksi dilakukan secara terbuka, transparan, dan tanpa pungutan biaya, sekaligus menutup celah praktik percaloan maupun titipan.

    Bahkan, pemerintah memastikan tidak ada jalur khusus dalam proses ini sehingga seluruh peserta memiliki kesempatan yang sama untuk lolos berdasarkan kompetensi.

    Rekrutmen ini merupakan bagian dari strategi besar pemerintah dalam mempercepat pembangunan 30.000 unit Kopdes Merah Putih yang ditargetkan rampung pada pertengahan 2026.

    Program ini juga terintegrasi dengan pengembangan Kampung Nelayan Merah Putih, sehingga diharapkan mampu memperkuat sektor pangan dan kelautan secara simultan.

    Selain membuka peluang kerja profesional, program ini juga dirancang untuk mendorong keterlibatan masyarakat lokal.

    Dalam kondisi nilai seleksi yang setara, pemerintah akan memprioritaskan putra daerah guna memastikan efisiensi operasional sekaligus memperkuat dampak ekonomi di wilayah setempat.

    Pendekatan ini diyakini mampu menekan biaya operasional sekaligus mempercepat adaptasi manajer terhadap karakteristik daerah.

    Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota, menambahkan bahwa skema koperasi ini dirancang agar manfaat ekonominya langsung dirasakan masyarakat.

    “Sebagian besar keuntungan koperasi akan dikembalikan ke desa, sehingga perputaran ekonomi benar-benar terjadi di tingkat lokal,” jelasnya.

    Dengan langkah ini, pemerintah tidak hanya membuka peluang karier bagi anak muda, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi nasional berbasis desa. Setiap unit koperasi bahkan diproyeksikan mampu menyerap belasan tenaga kerja lokal, sehingga efek berganda terhadap penciptaan lapangan kerja semakin nyata.

  • Rekrutmen Manajer Koperasi Desa Merah Putih Dipastikan Transparan dan Akuntabel

    Oleh: Darma Putra )*

    Program Koperasi Desa dan Kelurahan Merah Putih menjadi salah satu langkah strategis pemerintah dalam memperkuat ekonomi dari tingkat akar rumput. Program ini tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga menekankan pentingnya tata kelola yang profesional. Dalam kerangka tersebut, proses rekrutmen manajer Kopdes ditempatkan sebagai fondasi utama yang menentukan arah keberhasilan program.

    Pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menegaskan bahwa proses rekrutmen dilakukan secara terbuka dan adil. Pernyataan tersebut menunjukkan komitmen kuat untuk menutup seluruh celah praktik tidak transparan. Pemerintah memastikan bahwa tidak ada jalur khusus, titipan, maupun intervensi yang dapat memengaruhi hasil seleksi.

    Kebijakan rekrutmen berbasis merit menjadi instrumen utama dalam menjaring kandidat terbaik. Sistem ini dirancang untuk memberikan kesempatan yang sama bagi seluruh pelamar tanpa memandang latar belakang tertentu. Pemerintah ingin memastikan bahwa setiap individu yang terpilih benar-benar memiliki kapasitas dan integritas dalam mengelola koperasi di desa.

    Proses pendaftaran yang dilakukan secara terpusat melalui platform resmi pemerintah menjadi bagian dari upaya menjaga akuntabilitas. Mekanisme ini tidak hanya memudahkan akses, tetapi juga meminimalkan potensi penyimpangan. Pemerintah juga menegaskan bahwa seluruh tahapan seleksi tidak dipungut biaya dalam bentuk apa pun.

    Pemerintah juga memberikan peringatan kepada masyarakat terkait potensi penipuan dalam proses rekrutmen. Imbauan ini menekankan bahwa segala bentuk janji kelulusan yang disertai permintaan imbalan merupakan tindakan yang tidak sah. Dengan demikian, masyarakat diharapkan lebih waspada dan hanya mengikuti jalur resmi yang telah ditetapkan.

    Standar kualifikasi yang ditetapkan pemerintah mencerminkan kebutuhan akan tenaga profesional yang kompeten. Lulusan D3 hingga S1 dari berbagai jurusan diberikan kesempatan yang sama, selama memenuhi syarat akademik dan administratif. Batas usia maksimal 35 tahun juga menunjukkan fokus pada generasi produktif yang siap bekerja di lapangan.

    Pertimbangan domisili dalam proses seleksi menjadi strategi untuk meningkatkan efektivitas pengelolaan koperasi. Kebijakan ini diterapkan dalam kondisi tertentu, khususnya ketika terdapat pelamar dengan nilai yang sama. Kandidat yang berasal dari wilayah setempat dinilai memiliki pemahaman lebih baik terhadap karakteristik sosial dan ekonomi daerahnya.

    Skala rekrutmen yang mencapai puluhan ribu posisi menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menjalankan program ini. Sebagian besar posisi diperuntukkan bagi manajer koperasi, sementara sisanya untuk mendukung operasional Kampung Nelayan Merah Putih. Jumlah ini mencerminkan kebutuhan besar akan tenaga profesional dalam menggerakkan ekonomi desa secara sistematis.

    Pemerintah melalui Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah, Fithra Faisal, menjelaskan bahwa program ini tidak membebani Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Skema pembiayaan yang digunakan memanfaatkan dana yang telah tersedia melalui mekanisme daur ulang fiskal. Pendekatan ini memastikan keberlanjutan program tanpa menambah tekanan pada keuangan negara.

    Pemanfaatan dana desa, Dana Alokasi Umum, dan Dana Bagi Hasil menjadi bagian dari strategi pembiayaan yang terintegrasi. Distribusi anggaran disesuaikan dengan kebutuhan dan skala usaha masing-masing desa. Kebijakan ini memungkinkan pengelolaan yang lebih fleksibel dan tepat sasaran dalam mendorong pertumbuhan ekonomi lokal.

    Konsep pembangunan berbasis desa yang diusung pemerintah menempatkan koperasi sebagai mesin penggerak ekonomi daerah. Sistem ini dirancang untuk menciptakan aktivitas ekonomi yang produktif dan berkelanjutan. Dengan demikian, desa tidak lagi menjadi objek pembangunan, melainkan subjek yang aktif dalam mengelola potensi yang dimiliki.

    Pengelolaan koperasi secara profesional juga didukung oleh Direktur Utama PT Agrinas Pangan Nusantara, Joao Angelo De Sousa Mota. Pandangan tersebut menegaskan pentingnya penerapan sistem modern dalam tata kelola koperasi. Model ini mengacu pada praktik terbaik dari koperasi internasional yang telah terbukti berhasil.

    Penggunaan sistem digital dalam pengelolaan koperasi menjadi langkah konkret untuk meningkatkan transparansi. Sistem ini memungkinkan keterbukaan informasi serta partisipasi masyarakat dalam pengawasan. Dengan mekanisme tersebut, akuntabilitas pengelolaan dapat dijaga secara berkelanjutan.

    Manfaat koperasi bagi masyarakat desa menjadi salah satu tujuan utama dari program ini. Keuntungan yang dihasilkan akan dikembalikan kepada anggota sebagai pemilik koperasi. Skema ini memperkuat prinsip bahwa koperasi merupakan entitas ekonomi yang berorientasi pada kesejahteraan bersama.

    Peran koperasi dalam memperpendek rantai distribusi barang juga menjadi aspek penting yang ditekankan pemerintah. Sistem distribusi yang lebih efisien memungkinkan masyarakat memperoleh kebutuhan pokok dengan harga yang lebih terjangkau. Di sisi lain, produk lokal memiliki peluang lebih besar untuk menjangkau pasar yang lebih luas.

    Sinergi antara koperasi dan pelaku usaha lokal menjadi bagian dari strategi pembangunan ekonomi yang inklusif. Koperasi tidak menggantikan usaha kecil yang telah ada, tetapi justru memperkuat ekosistem yang sudah berjalan. Kolaborasi ini diharapkan mampu menciptakan pertumbuhan ekonomi yang merata di tingkat desa.

    Peran manajer koperasi dalam keseluruhan sistem ini menjadi sangat strategis. Tugas yang diemban tidak hanya bersifat administratif, tetapi juga mencakup perencanaan bisnis dan pengelolaan sumber daya. Oleh karena itu, kualitas individu yang terpilih akan sangat menentukan keberhasilan program secara keseluruhan.

    Komitmen pemerintah terhadap transparansi dan akuntabilitas dalam rekrutmen mencerminkan arah kebijakan yang berorientasi pada hasil. Proses yang bersih dan terbuka akan menghasilkan pengelola yang berkualitas. Dari sinilah fondasi ekonomi desa yang kuat dapat dibangun secara berkelanjutan.

    *) Pengamat Ekonomi Kerakyatan

  • Rekrutmen Manajer Koperasi Desa Merah Putih Jadi Kunci Sukses Pengelolaan Desa

    Oleh: Alinka Paramita )*

    Langkah pemerintah dalam memperkuat ekonomi desa melalui program Koperasi Desa Merah Putih tidak hanya bergantung pada pembangunan fisik semata. Lebih dari itu, kualitas sumber daya manusia yang mengelola koperasi menjadi faktor penentu keberhasilan. Dalam konteks ini, proses rekrutmen manajer Kopdes menjadi titik krusial yang menentukan arah dan keberlanjutan program di tingkat akar rumput.

    Pemerintah melalui Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menegaskan bahwa rekrutmen dilakukan secara terbuka dan adil. Ia menyampaikan bahwa tidak ada ruang bagi praktik titipan maupun jalur orang dalam. Seluruh pelamar harus mengikuti mekanisme yang telah ditetapkan secara terpusat melalui sistem resmi pemerintah. Penegasan ini menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah berupaya menjaga integritas sejak tahap awal pelaksanaan program.

    Kebijakan tersebut tidak hanya menunjukkan komitmen terhadap transparansi, tetapi juga menjadi bentuk perlindungan bagi masyarakat dari praktik penipuan. Pemerintah mengingatkan agar calon pelamar tidak mudah percaya terhadap pihak yang menjanjikan kelulusan dengan imbalan tertentu. Dengan sistem seleksi yang berbasis merit, hanya kandidat yang benar-benar memenuhi kriteria yang akan terpilih.

    Standar yang ditetapkan juga cukup jelas dan terukur. Lulusan minimal D3 hingga S1 dari berbagai jurusan diberi kesempatan yang sama, dengan syarat IPK minimal 2,75 dan batas usia maksimal 35 tahun. Ketentuan ini mencerminkan upaya pemerintah untuk menjaring tenaga profesional muda yang memiliki kapasitas akademik sekaligus energi untuk membangun desa.

    Di sisi lain, faktor kedekatan domisili turut dipertimbangkan dalam kondisi tertentu. Hal ini bukan bentuk diskriminasi, melainkan strategi untuk memastikan efektivitas kerja di lapangan. Kandidat yang berasal dari wilayah setempat dinilai lebih memahami karakter sosial, budaya, serta potensi ekonomi desa yang akan dikelola. Dengan demikian, keputusan tersebut justru memperkuat relevansi dan keberlanjutan program.

    Rekrutmen besar-besaran ini mencakup puluhan ribu posisi, dengan sekitar 30.000 di antaranya diperuntukkan bagi manajer Kopdes. Skala ini menunjukkan keseriusan pemerintah dalam membangun ekosistem ekonomi desa yang terstruktur dan profesional. Selain itu, ribuan posisi lain juga dibuka untuk mendukung operasional Kampung Nelayan Merah Putih, sehingga dampaknya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat desa, tetapi juga komunitas pesisir.

    Lebih lanjut, pemerintah menegaskan bahwa skema penggajian bagi tenaga yang lolos seleksi tidak bersumber dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara. Melalui penjelasan Menteri PANRB, Rini Widyantini, disebutkan bahwa pembiayaan berada di bawah mekanisme badan usaha milik negara. Dengan model ini, Kopdes diarahkan untuk menjadi entitas yang mandiri secara finansial dan tidak bergantung pada anggaran negara.

    Pendekatan tersebut sejalan dengan visi besar pemerintah untuk membangun ekonomi desa yang berkelanjutan. Koperasi tidak hanya menjadi wadah distribusi bantuan, tetapi juga sebagai pusat aktivitas ekonomi yang produktif. Dalam jangka panjang, kemandirian ini akan memperkuat daya tahan ekonomi masyarakat desa terhadap berbagai tantangan.

    Dukungan terhadap program ini juga disampaikan oleh Wakil Menteri Koperasi, Farida Farichah. Ia menilai bahwa Koperasi Desa Merah Putih memiliki potensi besar untuk menggerakkan ekonomi pedesaan. Menurutnya, desa memiliki sumber daya yang melimpah dan selama ini belum sepenuhnya dikelola secara optimal. Kehadiran manajer profesional diharapkan mampu mengubah potensi tersebut menjadi kekuatan ekonomi nyata.

    Pemerintah juga telah melakukan berbagai persiapan untuk memastikan operasional Kopdes berjalan dengan baik. Pembangunan infrastruktur seperti gerai, pergudangan, dan fasilitas pendukung lainnya terus dipercepat. Proses ini melibatkan badan usaha milik negara yang bertugas memastikan standar kualitas dan efisiensi terpenuhi.

    Selain pembangunan fisik, pendampingan terhadap pengurus koperasi juga menjadi fokus utama. Hal ini penting agar manajemen Kopdes tidak hanya bergantung pada satu individu, tetapi mampu bekerja secara kolektif dan berkelanjutan. Dengan sistem yang terbangun, risiko kegagalan dapat diminimalkan sejak awal.

    Data menunjukkan bahwa puluhan ribu koperasi desa telah terbentuk dan sebagian di antaranya sudah mulai menjalankan aktivitas usaha secara mandiri. Capaian ini menjadi indikator bahwa program tidak berhenti pada tahap perencanaan, tetapi benar-benar bergerak menuju implementasi. Namun demikian, keberhasilan jangka panjang tetap bergantung pada kualitas pengelolaan di tingkat operasional.

    Di sinilah peran manajer menjadi sangat strategis. Mereka tidak hanya bertugas menjalankan administrasi, tetapi juga merancang strategi bisnis, mengelola sumber daya, serta membangun jejaring dengan berbagai pihak. Kemampuan manajerial yang baik akan menentukan apakah koperasi mampu berkembang atau justru stagnan.

    Pemerintah menyadari bahwa tantangan di lapangan tidaklah sederhana. Oleh karena itu, proses seleksi dirancang untuk memastikan bahwa kandidat yang terpilih benar-benar memiliki kompetensi yang dibutuhkan. Integritas, kemampuan komunikasi, serta pemahaman terhadap ekonomi lokal menjadi aspek penting yang harus dimiliki.

    Dengan seluruh rangkaian kebijakan yang telah disiapkan, rekrutmen manajer Kopdes bukan sekadar proses administratif. Ia merupakan fondasi utama bagi keberhasilan program Koperasi Desa Merah Putih. Ketika proses ini berjalan secara transparan, akuntabel, dan berbasis kompetensi, maka harapan untuk mewujudkan desa yang mandiri dan sejahtera menjadi semakin realistis.

    Pada akhirnya, keberhasilan program ini akan menjadi cerminan dari konsistensi pemerintah dalam menjalankan visi pembangunan dari pinggiran. Rekrutmen yang tepat akan melahirkan pengelola yang tepat, dan dari situlah roda ekonomi desa dapat berputar secara berkelanjutan.

    *) Analis Ekonomi Sosial