Kategori: Uncategorized

  • Presiden Prabowo: Listrik Lebih Tanggap, Stabil, Kuat dan Andal

    Oleh: Nadira Citra Maheswari)*

    Keandalan pasokan listrik menjadi fondasi penting dalam menjaga keberlanjutan pembangunan nasional. Di tengah meningkatnya kebutuhan energi, pertumbuhan industri, dan digitalisasi layanan publik, pemerintah mendorong pembenahan sektor ketenagalistrikan agar semakin tanggap, stabil, kuat, dan andal. Upaya tersebut menjadi bagian dari agenda pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat infrastruktur strategis sekaligus mendukung produktivitas masyarakat dan daya saing nasional.

    Gangguan pasokan listrik yang menyebabkan pemadaman di sejumlah wilayah menjadi perhatian Presiden Prabowo Subianto. Dalam rapat terbatas di Istana Kepresidenan, Presiden menginstruksikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama PT PLN (Persero) untuk segera melakukan langkah perbaikan guna memulihkan keandalan sistem kelistrikan. Arahan tersebut menegaskan pentingnya penanganan gangguan secara cepat sekaligus pembenahan menyeluruh untuk meningkatkan kualitas pelayanan.

    Pemadaman listrik dalam beberapa waktu terakhir menjadi tantangan yang perlu segera ditangani pemerintah. Gangguan di berbagai daerah dipicu beragam faktor, antara lain kondisi cuaca, ketersediaan pasokan batu bara, serta proses pemeliharaan fasilitas pembangkit listrik. Kondisi ini menunjukkan bahwa keandalan pasokan tidak hanya ditentukan kapasitas pembangkit, tetapi juga kesiapan jaringan, kualitas peralatan, ketersediaan bahan bakar, dan kemampuan operator menghadapi keadaan darurat.

    Gangguan di Batam dan Bintan, Kepulauan Riau, memperlihatkan pentingnya kesiapan operasional hingga tingkat wilayah. Pemulihan pasokan di Batam yang mencapai 100 persen pada 14 Oktober 2026 menjadi perkembangan penting bagi masyarakat terdampak, sementara pemulihan di sebagian wilayah Bintan masih berlangsung bertahap. Evaluasi penyebab gangguan dan pemeliharaan infrastruktur diperlukan agar penanganan tidak berhenti pada pemulihan sementara, tetapi menghasilkan perbaikan berkelanjutan.

    CEO Danantara Indonesia, Rosan Perkasa Roeslani, menyampaikan bahwa Presiden Prabowo mendorong percepatan transformasi PLN agar perusahaan mampu bekerja lebih responsif, cepat, dan efisien. Langkah tersebut juga sejalan dengan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt (GW) yang ditujukan untuk menekan beban subsidi energi. Transformasi ini diharapkan memperbaiki kinerja perusahaan sekaligus mendukung perubahan struktur energi nasional.

    Kebutuhan listrik terus meningkat seiring pertumbuhan industri, perluasan kawasan ekonomi, dan penggunaan teknologi digital. Gangguan pasokan dapat memengaruhi aktivitas rumah tangga, operasional fasilitas kesehatan dan pendidikan, serta kelancaran usaha. Karena itu, peningkatan kapasitas pembangkit harus berjalan seiring dengan penguatan jaringan transmisi dan distribusi, pemeliharaan peralatan, serta penyediaan sistem cadangan.

    Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi, Bahlil Lahadalia, menekankan perlunya pembenahan internal PT PLN (Persero), termasuk melalui peningkatan intensitas perbaikan teknis guna menjaga kenyamanan masyarakat. Menurutnya, gangguan kelistrikan terutama disebabkan oleh sambaran petir dan kendala teknis pada jaringan. Adapun terkait kemungkinan pemberian kompensasi kepada pelanggan terdampak, kementerian akan berkoordinasi dengan PLN.

    Pembenahan internal tersebut perlu diwujudkan melalui pemeliharaan terencana, pengawasan jaringan, dan peningkatan kemampuan teknis petugas. Sistem kelistrikan yang tangguh membutuhkan kemampuan mendeteksi potensi masalah sejak dini, mengerahkan petugas secara cepat, serta menyampaikan informasi yang jelas kepada pelanggan. Prosedur pemulihan yang terukur diperlukan untuk mengurangi durasi gangguan dan mempercepat normalisasi pelayanan.

    Di sisi lain, Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan (EBT) PLN, Suroso Isnandar, mengakui bahwa PLN masih menghadapi sejumlah pekerjaan rumah yang perlu diselesaikan, terutama seiring meningkatnya kebutuhan listrik di Indonesia. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya penyesuaian kapasitas dan kualitas infrastruktur dengan perkembangan konsumsi energi. Investasi, pengelolaan aset, serta penguatan jaringan menjadi bagian penting dalam menjawab kebutuhan tersebut.

    Transformasi PLN juga membutuhkan evaluasi model bisnis, peningkatan produktivitas, dan pengendalian biaya. Efisiensi perlu diarahkan untuk mendukung kualitas pelayanan sehingga perbaikan kinerja perusahaan sejalan dengan kepentingan masyarakat. Perencanaan yang terintegrasi antara kebutuhan energi, kondisi infrastruktur, dan proyeksi pertumbuhan ekonomi dapat membantu mengarahkan investasi pada bagian sistem yang paling membutuhkan penguatan.

    Selain memperkuat infrastruktur yang sudah beroperasi, pemerintah mendorong pengembangan energi terbarukan melalui percepatan pemanfaatan panel surya berkapasitas 100 GW. Pengembangan ini membuka peluang diversifikasi sumber energi sekaligus memperluas pemanfaatan potensi surya Indonesia. Namun, pencapaian target memerlukan perencanaan dan integrasi sistem yang matang agar tambahan kapasitas dapat mendukung kebutuhan listrik secara efektif.

    Produksi energi surya dipengaruhi cuaca dan waktu penyinaran. Oleh karena itu, pengembangannya perlu disertai penguatan jaringan, pengaturan operasi sistem, serta solusi penyimpanan energi sesuai kebutuhan. Integrasi yang tepat akan membantu memastikan peningkatan kapasitas energi terbarukan turut mendukung kestabilan pasokan dan mengurangi ketergantungan pada sumber energi tertentu.

    Kebijakan energi juga berkaitan dengan pemerataan pembangunan. Listrik yang andal mendukung kegiatan belajar, pelayanan kesehatan, produktivitas usaha, dan akses masyarakat terhadap teknologi digital. Bagi industri, kepastian pasokan menjadi pertimbangan penting dalam menentukan investasi dan merencanakan operasional. Dengan demikian, peningkatan kualitas layanan kelistrikan berpotensi memperkuat iklim usaha dan daya saing nasional.

    Keberhasilan transformasi PLN memerlukan koordinasi konsisten antara pemerintah, pengelola perusahaan, dan pemangku kepentingan sektor energi. Oleh karena itu, kebijakan strategis perlu diterjemahkan menjadi program kerja, jadwal pelaksanaan, indikator kinerja, dan evaluasi terukur. Pengawasan terhadap tindak lanjut menjadi penting agar pembenahan berjalan disiplin dan berkelanjutan.

    *) Penulis adalah Content Writer di Galaswara Digital Bureau

  • Dari Evaluasi ke Transformasi, Prabowo Dorong Listrik Lebih Kuat dan Bisa Diandalkan

    Oleh: Sjaichul Anwari )*

    Listrik telah menjadi kebutuhan mendasar yang menentukan produktivitas masyarakat, keberlangsungan industri, dan kualitas pelayanan publik. Karena itu, keandalan pasokan listrik tidak cukup diukur dari besarnya kapasitas pembangkit, tetapi juga dari kemampuan sistem menjaga layanan tetap stabil, merespons gangguan dengan cepat, dan memenuhi kebutuhan energi yang terus meningkat.

    Evaluasi terhadap layanan kelistrikan menjadi penting ketika pertumbuhan ekonomi berjalan beriringan dengan meningkatnya konsumsi listrik. Arahan Presiden Prabowo Subianto untuk mempercepat transformasi PT PLN (Persero), memperbaiki efisiensi, serta mengembangkan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) berkapasitas 100 gigawatt peak (GWp) menunjukkan bahwa pembenahan sektor kelistrikan akan dilakukan secara menyeluruh.

    Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Perkasa Roeslani mengatakan Presiden Prabowo meminta percepatan transformasi PLN agar perusahaan tersebut bekerja lebih baik, cepat, dan tanggap. Ia menjelaskan bahwa evaluasi juga diarahkan pada model bisnis PLN untuk meningkatkan efisiensi dan produktivitas sekaligus mengurangi beban subsidi pemerintah.

    Arahan tersebut memperlihatkan bahwa transformasi kelistrikan tidak cukup dilakukan melalui penambahan infrastruktur fisik. Pembenahan tata kelola, efektivitas operasional, perencanaan investasi, dan kemampuan merespons kebutuhan pelanggan harus berjalan beriringan agar penguatan sistem menghasilkan manfaat nyata.

    Salah satu ukuran keberhasilan transformasi itu ialah kemampuan PLN menjaga kualitas pelayanan ketika permintaan listrik meningkat. Direktur Manajemen Proyek dan Energi Baru Terbarukan PLN, Suroso Isnandar, menjelaskan pertumbuhan ekonomi mendorong kenaikan kebutuhan listrik sehingga harus diimbangi dengan peningkatan keandalan dan pemeliharaan infrastruktur kelistrikan.

    Gangguan pasokan di sejumlah wilayah menjadi pengingat bahwa sistem kelistrikan membutuhkan kesiapan teknis yang konsisten. Pemulihan layanan, pemeriksaan penyebab gangguan, komunikasi yang jelas kepada pelanggan, serta evaluasi kompensasi sesuai ketentuan perlu menjadi bagian dari standar pelayanan agar kepercayaan masyarakat tetap terjaga.

    Di sisi lain, transformasi juga membutuhkan sumber energi yang lebih beragam. Program pembangunan PLTS 100 GWp menjadi salah satu langkah untuk memperluas pemanfaatan energi terbarukan, memperkuat kemandirian energi, dan mengurangi ketergantungan terhadap pembangkit berbahan bakar fosil.

    Pengembangan energi surya memiliki peluang besar karena Indonesia memperoleh paparan sinar matahari sepanjang tahun. Namun, pencapaian target kapasitas tersebut memerlukan perencanaan lokasi, kesiapan jaringan transmisi dan distribusi, sistem penyimpanan energi, serta pengelolaan pasokan yang mampu menjaga keseimbangan antara produksi dan kebutuhan listrik.

    Transformasi energi juga harus mempertimbangkan keterjangkauan biaya bagi masyarakat. Efisiensi pembangkitan dan distribusi perlu diterjemahkan menjadi manfaat bagi pelanggan, sementara kebijakan subsidi harus dirancang secara tepat agar kelompok yang membutuhkan tetap terlindungi tanpa menghambat kesehatan keuangan sektor ketenagalistrikan.

    Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi Bahlil Lahadalia menekankan perlunya perbaikan layanan kelistrikan setelah munculnya gangguan pasokan di sejumlah daerah. Seusai melaporkan persoalan tersebut kepada Presiden pada 14 Oktober 2026, Bahlil menyampaikan bahwa pembenahan perlu dilakukan lebih intensif pada tingkat implementasi yang menjadi tanggung jawab PLN.

    Bahlil juga menjelaskan bahwa gangguan listrik di Batam antara lain berkaitan dengan jaringan yang terdampak petir dan persoalan teknis lainnya. Penjelasan ini menegaskan pentingnya pemeliharaan preventif, kesiapan menghadapi cuaca ekstrem, serta evaluasi teknis yang mampu mencegah gangguan serupa berulang.

    Pembenahan tersebut membutuhkan koordinasi yang kuat antara pemerintah, PLN, dan pemangku kepentingan lainnya. Evaluasi tidak semestinya berhenti pada identifikasi penyebab gangguan, melainkan diteruskan menjadi rencana perbaikan yang terukur, memiliki target waktu, dan dapat dipantau hasilnya oleh masyarakat.

    Keberhasilan transformasi juga perlu dilihat dari pemerataan akses listrik. Wilayah terpencil dan kepulauan menghadapi tantangan berbeda dibandingkan pusat industri atau perkotaan, sehingga pendekatan penyediaan energi perlu disesuaikan dengan kondisi geografis, kebutuhan warga, serta kemampuan infrastruktur setempat.

    Pada saat yang sama, pengembangan energi terbarukan harus berjalan seiring dengan kesiapan sistem kelistrikan nasional. Investasi pada jaringan, teknologi pengendalian, dan penyimpanan energi diperlukan agar peningkatan kapasitas PLTS tidak hanya tercatat sebagai pencapaian pembangunan, tetapi benar-benar mendukung pasokan yang stabil dan berkelanjutan.

    Transformasi PLN dan percepatan energi surya karena itu perlu ditempatkan sebagai dua agenda yang saling melengkapi. Sistem yang efisien membutuhkan tata kelola yang sehat, sedangkan transisi energi membutuhkan infrastruktur yang mampu mengintegrasikan sumber energi baru tanpa mengorbankan keandalan pelayanan.

    Arahan Presiden Prabowo memberikan momentum bagi evaluasi sektor kelistrikan untuk bergerak menuju perubahan yang lebih terukur. Ukuran keberhasilannya bukan semata-mata besarnya investasi atau kapasitas pembangkit yang dibangun, melainkan listrik yang semakin andal, gangguan yang semakin terkendali, layanan yang semakin responsif, dan akses yang semakin merata.

    Dari evaluasi menuju transformasi, pekerjaan utama pemerintah dan PLN adalah memastikan setiap kebijakan menghasilkan perbaikan yang dirasakan masyarakat. Listrik yang kuat dan bisa diandalkan bukan hanya fondasi pertumbuhan ekonomi, melainkan juga prasyarat bagi pelayanan publik, kegiatan usaha, dan peningkatan kesejahteraan di seluruh Indonesia.

    )* Pengamat Energi

  • Digitalisasi Bansos, Ponsel Gratis Diprioritaskan bagi Warga Paling Membutuhkan

    Jakarta – Rencana pemanfaatan telepon genggam (ponsel) gratis untuk mendukung digitalisasi bantuan sosial (bansos) menjadi salah satu upaya memperluas akses masyarakat terhadap layanan keuangan digital. Program ini diharapkan membantu warga berpenghasilan rendah, terutama mereka yang belum memiliki rekening bank dan perangkat memadai untuk mengakses layanan pemerintah.

    Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo menjelaskan ponsel direncanakan terhubung dengan rekening digital sehingga penyaluran bantuan pemerintah dapat dilakukan secara langsung kepada penerima. Meski demikian, mekanisme pembagian perangkat dan kriteria penerimanya masih menunggu penjelasan resmi pemerintah.

    Melalui sistem ini, penyaluran bantuan diharapkan menjadi lebih transparan, tepat sasaran, dan mudah dipantau sehingga risiko kesalahan pendataan maupun penyaluran dapat diminimalkan. Selain itu, kepemilikan ponsel diharapkan membantu masyarakat berpenghasilan rendah mengakses layanan keuangan digital dan informasi bantuan pemerintah secara lebih mudah.

    “Setiap warga negara akan diberikan telepon genggam dengan rekening digital. Seluruh dana akan berada di sana dan dikirimkan ke rekening masing-masing” ujarnya.

    Dalam pelaksanaannya, kelompok masyarakat yang paling membutuhkan perlu menjadi perhatian utama. Prioritas dapat diarahkan kepada keluarga miskin dan rentan yang belum memiliki ponsel, tidak mempunyai akses rekening perbankan, serta mengalami kesulitan menjangkau layanan digital. Penetapan penerima tetap perlu didasarkan pada pendataan dan verifikasi agar bantuan tidak diberikan kepada kelompok yang sebenarnya sudah mampu.

    Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menekankan pentingnya kualitas data dan koordinasi antarlembaga dalam mendukung digitalisasi bantuan sosial, termasuk rencana pemberian ponsel gratis bagi masyarakat yang paling membutuhkan. Pendataan yang akurat diperlukan agar bantuan perangkat dapat diprioritaskan kepada keluarga miskin dan rentan yang belum memiliki ponsel atau mengalami keterbatasan akses terhadap layanan digital.

    “Melalui koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan instansi terkait, program ini diharapkan dapat mendukung penyaluran bansos secara lebih tepat sasaran, transparan, dan mudah diakses. Dengan demikian, digitalisasi tidak hanya mempermudah proses penyaluran bantuan, tetapi juga memastikan masyarakat yang membutuhkan tidak tertinggal akibat keterbatasan teknologi,” ujarnya

    Dengan demikian, digitalisasi bansos tidak sekadar menghadirkan perangkat baru, tetapi juga membuka akses yang lebih adil terhadap layanan publik. Keberhasilan program bergantung pada transparansi kriteria penerima, kesiapan infrastruktur, serta jaminan bahwa warga paling membutuhkan memperoleh manfaat nyata.

  • Digitalisasi Bansos Dibuka Lebih Inklusif lewat Ponsel Gratis

    *) Oleh : Gavin Asadit

    Transformasi digital bantuan sosial (bansos) membuka peluang bagi pemerintah untuk memperbaiki ketepatan sasaran, mempercepat pelayanan, dan memperluas akses masyarakat terhadap program perlindungan sosial. Namun, manfaat digitalisasi tidak akan dirasakan secara merata apabila sebagian kelompok penerima masih terkendala kepemilikan perangkat dan kemampuan mengakses layanan digital. Wacana pemberian ponsel pintar gratis pun mengemuka sebagai salah satu upaya untuk menjembatani kesenjangan tersebut.

    Gagasan itu sejalan dengan kebutuhan membangun sistem bansos yang bukan hanya efisien, tetapi juga inklusif. Masyarakat yang belum memiliki telepon pintar atau belum terbiasa menggunakan layanan digital perlu mendapat perhatian agar perubahan sistem pelayanan tidak justru menciptakan hambatan baru bagi kelompok rentan.

    Utusan Khusus Presiden Bidang Iklim dan Energi, Hashim Djojohadikusumo, sebelumnya menyampaikan gagasan pemberian ponsel yang dilengkapi rekening digital untuk mendukung penyaluran bantuan pemerintah. Melalui skema tersebut, masyarakat diharapkan dapat menerima bantuan secara langsung melalui sistem digital, sehingga proses penyaluran menjadi lebih praktis dan mudah ditelusuri.

    Meski demikian, gagasan tersebut masih membutuhkan pembahasan lebih lanjut. Menteri Sosial Saifullah Yusuf pada 14 Oktober 2026 menyatakan bahwa rencana pembagian ponsel gratis masih dikaji dan mekanismenya belum dibahas secara terperinci. Ia menjelaskan bahwa penyaluran nantinya perlu didasarkan pada data dan hasil asesmen, dengan prioritas bagi masyarakat penerima manfaat yang belum memiliki perangkat komunikasi.

    Sikap tersebut menunjukkan bahwa perluasan akses digital perlu dilakukan melalui perencanaan yang matang. Ponsel gratis tidak cukup dipahami sebagai pembagian perangkat, melainkan sebagai bagian dari upaya memastikan warga dapat menggunakan layanan pemerintah secara mandiri dan aman.

    Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menekankan pentingnya kualitas data, koordinasi antarlembaga, serta kesiapan sistem dalam pelaksanaan digitalisasi bansos. Pendekatan tersebut menjadi fondasi agar perubahan pelayanan benar-benar menghasilkan penyaluran yang lebih akurat dan transparan. Ketersediaan perangkat perlu berjalan beriringan dengan integrasi data dan perlindungan informasi pribadi penerima manfaat.

    Di sisi lain, pemerintah telah mengembangkan Portal Perlindungan Sosial Digital untuk menghubungkan data lintas kementerian dan lembaga. Sistem ini ditujukan untuk membantu proses verifikasi kelayakan penerima, mengurangi potensi duplikasi, serta memperbaiki ketidaksesuaian data yang selama ini dapat menyebabkan bantuan tidak diterima warga yang berhak.

    Pada September 2026, Kementerian Komunikasi dan Digital juga menyampaikan persiapan pengujian kapasitas dan ketahanan sistem menjelang perluasan layanan secara nasional. Pemerintah memperkirakan sekitar 50 juta masyarakat berpotensi mengakses portal tersebut. Besarnya jumlah pengguna membuat kesiapan infrastruktur, keamanan data, dan kemampuan sistem menangani lonjakan akses menjadi faktor penting dalam pelaksanaan program.

    Digitalisasi juga membuka ruang bagi masyarakat untuk berpartisipasi dalam pembaruan data. Mekanisme usul dan sanggah memungkinkan warga mengajukan koreksi apabila informasi mengenai kondisi sosial-ekonomi atau kelayakan penerima tidak sesuai dengan keadaan sebenarnya. Dengan proses tersebut, hasil penilaian sistem tidak semestinya diperlakukan sebagai keputusan yang tidak dapat diperbaiki, melainkan sebagai bagian dari proses verifikasi yang dapat ditinjau kembali berdasarkan bukti.

    Namun, manfaat mekanisme tersebut akan bergantung pada kemudahan penggunaannya. Warga yang tidak memiliki ponsel, menghadapi keterbatasan jaringan internet, memiliki disabilitas, atau belum terbiasa dengan layanan daring tetap membutuhkan pendampingan. Karena itu, layanan tatap muka dan bantuan dari petugas maupun pendamping masyarakat perlu tetap tersedia selama masa transisi menuju sistem digital.

    Akses yang inklusif juga menuntut perhatian terhadap keamanan. Apabila ponsel menjadi sarana untuk mengakses rekening dan menerima bantuan, penerima manfaat perlu memperoleh penjelasan tentang perlindungan PIN, kata sandi, kode verifikasi, serta risiko penipuan. Pemerintah juga perlu memastikan bahwa warga tidak dibebani biaya tidak resmi, tidak dipaksa menggunakan layanan tertentu tanpa penjelasan, dan tidak kehilangan akses bantuan hanya karena mengalami kendala teknis.

    Dari sisi pelaksanaan, sejumlah hal masih perlu diperjelas sebelum gagasan ponsel gratis dapat dijalankan, mulai dari kriteria penerima perangkat, sumber pembiayaan, spesifikasi dan distribusi ponsel, hingga mekanisme pengawasan agar perangkat benar-benar digunakan untuk mendukung akses layanan. Evaluasi juga perlu mengukur apakah perangkat tersebut meningkatkan kemudahan penerimaan bantuan, bukan sekadar menghitung jumlah ponsel yang dibagikan.

    Keberhasilan digitalisasi bansos pada akhirnya harus diukur dari dampaknya terhadap masyarakat. Data yang lebih akurat, waktu pelayanan yang lebih singkat, proses koreksi yang mudah, dan akses yang tidak diskriminatif merupakan indikator yang lebih bermakna dibandingkan sekadar keberadaan aplikasi atau perangkat digital.

    Dengan demikian, gagasan ponsel gratis dapat menjadi pintu masuk untuk memperluas inklusi digital apabila dirancang berdasarkan kebutuhan nyata penerima manfaat. Digitalisasi seharusnya mendekatkan layanan negara kepada masyarakat, terutama warga yang paling membutuhkan perlindungan. Teknologi akan memberi manfaat maksimal ketika didukung tata kelola yang transparan, keamanan data yang kuat, pendampingan yang memadai, serta komitmen untuk memastikan tidak ada warga yang tertinggal dalam mengakses haknya.

    )* Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial dan Kemasyarakatan

  • Cadangan Beras Terjaga, El Nino Diantisipasi Sejak Dini

    JAKARTA – Pemerintah memastikan cadangan beras nasional tetap terjaga di tengah ancaman fenomena El Nino yang berpotensi mengganggu produksi pertanian. Penguatan stok beras pemerintah menjadi modal penting untuk menjaga ketersediaan pangan, menstabilkan harga, serta memenuhi kebutuhan masyarakat hingga memasuki musim panen berikutnya pada 2027.

    Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, mengatakan realisasi pengadaan beras untuk penugasan pelayanan publik (Public Service Obligation/PSO) telah mencapai 4.115.014 ton atau 102,88 persen dari target pemerintah sebesar 4 juta ton. Capaian tersebut memperkuat kesiapan cadangan pangan nasional dalam menghadapi potensi gangguan produksi akibat perubahan iklim.

    Rizal menjelaskan, stok beras Bulog sempat mencapai puncak 5,4 juta ton pada pertengahan September 2026. Sementara itu, stok yang tersedia saat ini sekitar 4,5 juta ton. Menurutnya, cadangan tersebut dapat dimanfaatkan untuk intervensi pasar dan penyaluran bantuan kepada masyarakat guna menjaga stabilitas pasokan serta keterjangkauan harga beras.

    Ia memperkirakan ketersediaan beras nasional mampu memenuhi kebutuhan hingga Juli 2027 dengan memperhitungkan stok pemerintah, persediaan di masyarakat, serta hasil produksi pertanian. Meski proyeksi produksi beras menghadapi penyesuaian akibat El Nino, panen berikutnya pada Maret atau April 2027 diharapkan kembali memperkuat pasokan nasional.

    Dukungan terhadap penguatan cadangan beras juga disampaikan anggota Komisi IV DPR RI, Sumail Abdullah. Ia menilai stok beras pemerintah yang mencapai 4,6 juta ton pada September 2026 merupakan modal penting menghadapi ancaman El Nino ekstrem. Namun, ia mengingatkan bahwa ketahanan pangan tidak cukup hanya mengandalkan persediaan di gudang.

    “Ketahanan pangan bukan hanya soal berapa banyak beras yang tersimpan. Kita juga harus memastikan produksi petani tetap berjalan, air tersedia, distribusi tidak terganggu, dan masyarakat tetap mampu membeli beras dengan harga yang wajar,” kata Sumail.

    Ia mendorong pemerintah memperkuat antisipasi sejak dini melalui pemetaan wilayah rawan kekeringan, pengamanan sumber air, perlindungan produksi petani, serta kelancaran distribusi pangan. Langkah tersebut diperlukan agar gangguan iklim tidak berkembang menjadi persoalan pasokan dan kenaikan harga di daerah.

    Dengan cadangan yang memadai dan koordinasi lintas sektor, pemerintah diharapkan mampu menjaga kesinambungan pasokan beras nasional. Antisipasi El Nino sejak dini menjadi kunci untuk mempertahankan ketahanan pangan, melindungi daya beli masyarakat, dan mendukung keberlanjutan swasembada pangan Indonesia

  • Cadangan Beras Aman, Pemerintah Siapkan Antisipasi El Nino

    Jakarta – Pemerintah memperkuat kesiapan ketahanan pangan nasional dalam menghadapi potensi dampak fenomena El Niño dan musim kemarau berkepanjangan.

    Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani memastikan cadangan beras nasional dalam kondisi aman, didukung capaian pengadaan beras yang telah melampaui target penugasan pemerintah serta upaya penyerapan hasil panen petani dalam negeri.

    “Saat ini realisasi pengadaan Public Service Obligation (PSO) Perum Bulog secara keseluruhan telah mencapai 4.115.014 ton setara beras, atau 102,88 persen dari target penugasan pemerintah sebesar 4 juta ton,” kata Ahmad.

    Ia juga memastikan pasokan beras nasional aman hingga pertengahan tahun depan, dengan stok Bulog yang saat ini mencapai 4,5 juta ton. Menurutnya, ketersediaan beras di masyarakat serta produksi yang masih dalam proses pertumbuhan turut menjadi faktor pendukung dalam menjaga kecukupan pasokan nasional.

    “Nah, 4,5 juta ton ditambah dengan stok yang ada di umum, di masyarakat itu yang dijual ke restoran, kafe, di rumah-rumah, di warung-warung itu ada itu 10 juta ton. Ditambah lagi yang sudah standing crop itu yang sudah ditanam,” katanya.

    Ahmad menjelaskan, Bulog telah melakukan penyerapan gabah dan beras petani sejak awal tahun sebagai langkah antisipasi terhadap potensi El Nino dan musim kemarau berkepanjangan. Upaya tersebut dilakukan untuk memperkuat cadangan beras pemerintah sekaligus memastikan hasil panen petani dapat terserap secara optimal.

    Meski produksi beras diprediksi turun dari 12 juta ton menjadi 9–10 juta ton akibat El Nino, Bulog memperkirakan cadangan beras nasional masih mencukupi kebutuhan hingga Juli 2027, dengan sisa stok sekitar 2 juta ton. Perhitungan tersebut mengacu pada konsumsi beras nasional sekitar 2,2 juta ton per bulan.

    “Kita punya 24 juta ton kan. Nah, sampai Juli 2027 itu baru hampir habis. Kita masih ada stok lebih kurang 2 juta ton,” katanya.

    Capaian pengadaan dan terjaganya cadangan beras tersebut menjadi salah satu indikator penting dalam upaya mewujudkan swasembada pangan berkelanjutan. Ahmad optimistis Indonesia dapat mempertahankan swasembada beras pada 2026 tanpa impor, dengan dukungan ketersediaan stok dan penguatan produksi dalam negeri.

    “InsyaAllah, pada 2026 tidak ada impor beras dan stok tetap terjamin dengan baik. Kami berharap swasembada pangan berkelanjutan benar-benar terwujud pada tahun ini,” ungkap Ahmad. (*)

  • El Nino Mengintai, Cadangan Beras Nasional Tetap Terjaga

    Oleh : Aditya Anggara )*

    Ancaman fenomena El Nino berpotensi memperpanjang musim kemarau menjadi tantangan serius bagi ketahanan pangan Indonesia. Perubahan pola cuaca, berkurangnya curah hujan, dan risiko kekeringan dapat memengaruhi produktivitas pertanian, terutama tanaman padi yang sangat bergantung pada ketersediaan air. Namun, tantangan tersebut tidak serta-merta menjadi alasan untuk meragukan kemampuan Indonesia dalam menjaga pasokan pangan. Pemerintah terus memperkuat cadangan beras, meningkatkan produksi dalam negeri, serta menyiapkan langkah antisipatif agar kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi. Kondisi ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan menjadi prioritas strategis untuk menjaga stabilitas ekonomi dan kesejahteraan rakyat.

    Salah satu indikator penting kesiapan Indonesia menghadapi El Nino adalah besarnya Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman mengatakan cadangan beras pemerintah mencapai sekitar 5,1 juta ton. Pihaknya menilai capaian tersebut sebagai salah satu tonggak penting dalam penguatan ketahanan pangan nasional karena memberikan ruang yang lebih besar bagi pemerintah untuk mengantisipasi dampak kekeringan, menjaga ketersediaan beras, dan memenuhi kebutuhan masyarakat di tengah ketidakpastian iklim.

    Besarnya cadangan beras tersebut merupakan modal penting untuk mengantisipasi kemungkinan penurunan produksi akibat kekeringan. Pemerintah memiliki ruang untuk menyalurkan beras ketika pasokan di suatu daerah mengalami tekanan, membantu masyarakat yang membutuhkan, serta melakukan intervensi pasar ketika harga bergerak naik. Dengan demikian, cadangan beras tidak hanya berfungsi sebagai persediaan di gudang, tetapi juga menjadi instrumen kebijakan untuk menjaga stabilitas pangan. Kekuatan cadangan akan semakin berarti apabila disertai pengelolaan stok yang terukur, pemantauan kebutuhan antardaerah, dan distribusi yang cepat serta tepat sasaran.

    Upaya menjaga ketersediaan beras juga mendapat perhatian DPR RI. Ketua Komisi IV DPR RI Siti Hediati Hariyadi atau Titiek Soeharto mengatakan pihaknya menekankan pentingnya memastikan ketersediaan stok beras dalam jumlah memadai, menjaga stabilitas harga, serta memperlancar distribusi kepada masyarakat. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa pengawasan terhadap rantai pasok pangan merupakan bagian penting dari upaya menjaga kepentingan konsumen. Sinergi antara pemerintah dan DPR diharapkan dapat memastikan kebijakan ketahanan pangan berjalan efektif, mulai dari pengelolaan cadangan hingga penyaluran beras ke berbagai daerah.

    Selain cadangan pemerintah, produksi dalam negeri menjadi fondasi utama untuk menjaga keberlanjutan pasokan beras. Data Badan Pusat Statistik yang disampaikan Kementerian Pertanian menunjukkan produksi padi Januari hingga Agustus 2026 mencapai 43,89 juta ton gabah kering giling, sedangkan produksi beras untuk konsumsi masyarakat mencapai 25,29 juta ton. Capaian tersebut menjadi modal penting dalam menghadapi risiko cuaca, meskipun kesinambungan produksi tetap memerlukan perhatian.

    Langkah antisipatif juga perlu diarahkan pada daerah yang rentan mengalami kekeringan. Pemetaan wilayah rawan, percepatan distribusi sarana pengairan, optimalisasi sumber air, dan penyesuaian kalender tanam dapat membantu mengurangi risiko gagal panen. Di sisi lain, pemerintah daerah, kelompok tani, penyuluh pertanian, dan pengelola irigasi perlu memperkuat koordinasi agar respons terhadap perubahan cuaca berlangsung cepat. Pendekatan ini menegaskan bahwa kesiapan menghadapi El Nino tidak cukup hanya mengandalkan stok beras, tetapi juga membutuhkan perlindungan terhadap proses produksi sejak awal musim tanam.

    Dari sisi distribusi, pemerintah dapat memperkuat program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) serta bantuan pangan bagi masyarakat yang membutuhkan. Penyaluran harus didasarkan pada pemantauan stok dan harga secara berkala, terutama di wilayah yang menghadapi hambatan transportasi atau tekanan pasokan. Pemerataan distribusi menjadi faktor penting karena cadangan nasional yang besar belum tentu langsung menjamin keterjangkauan harga apabila pasokan terlambat tiba di daerah. Karena itu, koordinasi antara Badan Pangan Nasional, Bulog, pemerintah daerah, dan pelaku usaha perlu dijaga agar beras tersedia ketika dibutuhkan.

    Pada saat yang sama, perlindungan terhadap petani harus menjadi bagian tak terpisahkan dari kebijakan stabilisasi pangan. Harga gabah yang layak, kepastian penyerapan hasil panen, dan akses terhadap sarana produksi akan membantu menjaga semangat petani untuk terus berproduksi. Kebijakan pangan yang seimbang perlu melindungi kepentingan produsen sekaligus memastikan konsumen tidak terbebani kenaikan harga. Dengan menjaga keseimbangan tersebut, pemerintah dapat memperkuat fondasi pertanian nasional sekaligus mempertahankan daya beli masyarakat di tengah ketidakpastian ekonomi dan iklim.

    Masyarakat juga memiliki peran dalam mendukung ketahanan pangan melalui konsumsi yang bijak, pengurangan pemborosan makanan, dan pemanfaatan pangan lokal. Informasi mengenai kondisi stok serta kebijakan distribusi perlu disampaikan secara terbuka agar masyarakat memperoleh gambaran yang akurat dan tidak mudah terpengaruh kabar yang belum terverifikasi. Komunikasi publik yang konsisten dapat membangun kepercayaan sekaligus mendorong partisipasi masyarakat dalam menjaga ketersediaan pangan.

    Ancaman El Nino harus dijawab dengan kesiapsiagaan, kerja sama, dan kebijakan yang berkelanjutan. Cadangan beras pemerintah yang besar, produksi domestik yang tetap berjalan, serta penguatan distribusi merupakan modal penting bagi Indonesia untuk menghadapi tantangan tersebut. Pemerintah perlu terus memantau perkembangan iklim, menjaga kualitas cadangan, dan memastikan intervensi pangan menjangkau masyarakat secara tepat sasaran. Dengan langkah yang terukur dan kolaborasi lintas sektor, Indonesia memiliki peluang lebih kuat untuk mempertahankan stabilitas pasokan beras, melindungi petani, dan menjaga daya beli rakyat.

    )* Pemerhati kebijakan publik

  • Cadangan Beras Kuat, Indonesia Lebih Tenang Hadapi El Nino

    Oleh : Abdul Razak)*

    Ancaman El Nino yang berpotensi menekan produksi pertanian menempatkan ketahanan pangan Indonesia pada ujian penting. Namun, cadangan beras pemerintah yang mencapai 4,5 juta ton pada Oktober 2026 memberikan ruang bagi pemerintah untuk menjaga pasokan, mengendalikan gejolak harga, dan memastikan kebutuhan masyarakat tetap terpenuhi. Tantangan berikutnya adalah memastikan kekuatan stok tersebut berjalan seiring dengan keberlanjutan produksi di tengah risiko kekeringan.

    Perum Bulog memperkirakan ketersediaan beras nasional mampu memenuhi kebutuhan masyarakat hingga Juli 2027. Proyeksi ini memperhitungkan stok yang dikuasai Bulog, persediaan di masyarakat, serta produksi dalam negeri yang diperkirakan berlangsung selama periode tersebut. Dengan kebutuhan beras sekitar 2,2 juta ton per bulan, ketersediaan pangan menjadi instrumen strategis untuk menghadapi kemungkinan berkurangnya hasil panen akibat perubahan iklim.

    Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menjelaskan, persediaan beras nasional terdiri atas sekitar 4,5 juta ton stok Bulog, 10 juta ton beras di masyarakat, serta proyeksi produksi dalam negeri sebesar 9 juta hingga 10 juta ton. Dengan demikian, total ketersediaan diperkirakan mencapai 23,5 juta hingga 24,5 juta ton. Jumlah tersebut secara teoritis mencukupi kebutuhan hingga Juli 2027, dengan potensi sisa sekitar 2 juta ton berdasarkan asumsi kebutuhan yang digunakan.

    Perhitungan ini memperlihatkan pentingnya cadangan pangan sebagai penyangga ketika produksi menghadapi tekanan. Meski demikian, proyeksi ketersediaan tetap perlu dievaluasi secara berkala berdasarkan realisasi panen, perkembangan konsumsi, distribusi antardaerah, serta tingkat kehilangan hasil. Ketersediaan secara agregat juga harus diikuti kemampuan menyalurkan beras ke wilayah yang mengalami gangguan pasokan.

    Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman pada 15 Oktober 2026 menyebut cadangan beras pemerintah sebesar 4,5 juta ton sebagai rekor tertinggi untuk periode Oktober sepanjang sejarah Indonesia merdeka. Capaian tersebut menjadi modal penting untuk menjaga stabilitas pangan, terutama ketika sebagian wilayah menghadapi musim kemarau dan potensi penurunan produktivitas pertanian.

    Kementerian Pertanian mencatat sekitar 30 ribu hektare lahan mengalami kekeringan. Kondisi ini menunjukkan bahwa besarnya cadangan beras tidak boleh mengurangi kewaspadaan terhadap ancaman produksi. Cadangan berfungsi sebagai perlindungan jangka pendek, sedangkan keberlanjutan swasembada bergantung pada kemampuan menjaga produktivitas, memperkuat infrastruktur pertanian, dan mengurangi ketergantungan terhadap kondisi cuaca.

    Untuk mengantisipasi risiko tersebut, pemerintah mengandalkan pompanisasi, perbaikan jaringan irigasi, optimalisasi lahan, serta penggunaan benih varietas tahan kering. Kementerian Pertanian juga mendorong metode pertanian modern yang dinilai berpotensi meningkatkan produktivitas. Kombinasi kebijakan tersebut penting agar lahan tetap produktif dan petani memiliki dukungan teknis ketika ketersediaan air menurun.

    Dari perspektif kebijakan publik, langkah mitigasi perlu dilaksanakan secara terintegrasi. Pemerintah tidak cukup hanya mengandalkan penumpukan stok di gudang, tetapi juga perlu memastikan bantuan sarana produksi tersedia tepat waktu, sistem irigasi berfungsi, dan informasi cuaca dapat digunakan petani untuk menyesuaikan jadwal tanam. Dengan pendekatan tersebut, risiko gagal panen dapat ditekan sebelum berdampak lebih luas terhadap pasokan dan harga pangan.

    Penguatan cadangan juga perlu diimbangi dengan penyerapan hasil panen petani. Sepanjang 2026, Bulog mencatat penyerapan gabah dan beras setara beras mencapai 4,112 juta ton, atau 102,8 persen dari target 4 juta ton berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 2 Tahun 2026. Penyerapan tersebut membantu menjaga ketersediaan stok pemerintah sekaligus menyediakan kepastian pasar bagi petani ketika panen berlangsung.

    Di Jawa Tengah, Bulog mencatat stok beras sebanyak 465 ribu ton setara beras menjelang akhir tahun. Penyaluran beras melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP) mencapai 116 ribu ton, melampaui target 101 ribu ton atau setara 114,72 persen. Penyaluran rata-rata mencapai 110 ton per hari. Capaian ini menunjukkan bahwa cadangan perlu dikelola secara aktif melalui distribusi, bukan sekadar disimpan sebagai persediaan.

    Beras SPHP juga berperan dalam menjaga keterjangkauan harga bagi konsumen. Di Zona 1, harga eceran tertinggi beras SPHP medium ditetapkan Rp12.500 per kilogram, sedangkan beras medium non-SPHP memiliki HET Rp13.500 per kilogram. Melalui intervensi tersebut, pemerintah memiliki instrumen untuk meredam tekanan harga ketika pasokan di pasar mengalami gangguan, dengan tetap memperhatikan kelancaran distribusi dan ketersediaan di tingkat pengecer.

    Selain stabilisasi pasar, cadangan beras menjadi dasar pelaksanaan bantuan pangan tambahan pada Oktober, November, dan Desember 2026. Kebijakan ini penting untuk menjaga daya beli rumah tangga yang rentan terhadap kenaikan harga kebutuhan pokok. Ketepatan sasaran, ketepatan waktu penyaluran, dan kecukupan pasokan perlu menjadi ukuran utama keberhasilannya.

    Ke depan, tantangan Indonesia bukan hanya mempertahankan cadangan beras dalam jumlah besar, melainkan memastikan sistem pangan mampu bertahan menghadapi tekanan iklim secara berkelanjutan. Risiko penurunan produksi di negara produsen lain juga menjadi pengingat bahwa ketergantungan pada impor tidak selalu menjadi pilihan yang mudah ketika pasar internasional mengalami gangguan.

    Dengan cadangan yang kuat, penyerapan hasil panen, stabilisasi harga, bantuan pangan, dan mitigasi kekeringan yang berjalan beriringan, Indonesia memiliki fondasi lebih kokoh untuk menghadapi El Nino. Ketahanan pangan yang sesungguhnya tidak semata-mata diukur dari banyaknya beras di gudang, tetapi dari kemampuan negara memastikan pangan tersedia, terjangkau, dan dapat diakses masyarakat tanpa mengabaikan kesejahteraan petani serta keberlanjutan produksi nasional.

    )* Analis Kebijakan

  • Pemerintah Perkuat Langkah Kendalikan Inflasi Pangan di Daerah

    Jakarta – Pemerintah terus memperkuat langkah pengendalian inflasi pangan di berbagai daerah guna menjaga stabilitas harga kebutuhan pokok dan melindungi daya beli masyarakat. Upaya tersebut dilakukan melalui peningkatan koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, serta lembaga terkait untuk memastikan ketersediaan pasokan dan keterjangkauan harga pangan.

    Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi tahunan Indonesia pada September 2026 mencapai 3,28 persen, meningkat dibandingkan Agustus sebesar 3,19 persen. Sementara itu, inflasi bulanan naik dari 0,21 persen menjadi 0,30 persen, dengan kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi salah satu penyumbang utama.

    Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Muhammad Tito Karnavian menegaskan pentingnya langkah konkret pemerintah daerah untuk mencegah inflasi melampaui batas atas sasaran pemerintah sebesar 3,5 persen.

    “Tapi sektor yang paling critical yang harus kita jaga betul adalah makanan minuman, karena berhubungan langsung dengan rakyat yang kelas bawah,” ujar Tito.

    Pemerintah memberikan perhatian khusus terhadap perkembangan harga beras, telur ayam ras, dan daging ayam ras karena ketiga komoditas tersebut memiliki peran penting dalam memenuhi kebutuhan konsumsi masyarakat sehari-hari.

    Penguatan pengendalian juga diarahkan kepada daerah dengan tingkat inflasi relatif tinggi, termasuk Sulawesi Utara, Maluku Utara, Gorontalo, Papua Pegunungan, dan Papua Tengah. Pemerintah daerah didorong meningkatkan pemantauan harga sekaligus mempercepat respons terhadap potensi gangguan pasokan.

    Selain itu, koordinasi dengan Badan Pangan Nasional, Perum Bulog, dan pelaku usaha menjadi langkah penting untuk menentukan komoditas yang membutuhkan intervensi. Pelaksanaan operasi pasar serta penguatan distribusi pangan dapat membantu meredam tekanan harga di wilayah terdampak.

    Langkah pengendalian tersebut perlu disesuaikan dengan karakteristik masing-masing daerah, mengingat perbedaan kondisi produksi, distribusi, dan kebutuhan masyarakat dapat memengaruhi pergerakan harga pangan.

    Pemantauan secara berkala diperlukan agar kenaikan harga dapat terdeteksi lebih awal, sehingga langkah penanganan tidak terlambat dan masyarakat tetap memperoleh bahan pangan dengan harga terjangkau.

    Sinergi antarlembaga juga menjadi faktor penting agar kebijakan stabilisasi harga dapat dilaksanakan secara tepat sasaran, terutama di wilayah yang menghadapi tekanan inflasi lebih tinggi.

    Melalui pengawasan harga yang konsisten, koordinasi lintas sektor, dan intervensi yang terukur, pemerintah berupaya menjaga inflasi tetap terkendali. Kebijakan ini diharapkan mampu mempertahankan daya beli masyarakat, khususnya kelompok berpenghasilan rendah, sekaligus mendukung stabilitas perekonomian nasional secara berkelanjutan.

  • Pemerintah Jaga Harga Pangan agar Inflasi Tetap Terkendali

    JAKARTA – Pemerintah terus memperkuat pengawasan harga, menjaga ketersediaan pasokan, dan memastikan distribusi bahan pangan berjalan lancar sebagai langkah strategis untuk mengendalikan inflasi serta melindungi daya beli masyarakat. Komitmen tersebut menjadi bagian dari upaya mewujudkan stabilitas ekonomi nasional sekaligus memastikan kebutuhan pokok tetap terjangkau.

    Data Badan Pusat Statistik (BPS) per 1 Oktober 2026 yang mencatat inflasi secara year-on-year (YoY) pada September 2026 berada di level 3,28%, naik dari bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 3,19%.

    Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional (Bapanas), Andi Amran Sulaiman, menegaskan bahwa stabilisasi harga harus dilakukan dengan menjaga keseimbangan kepentingan petani, peternak, pedagang, dan konsumen.

    “Harga di produsen dan konsumen harus sama-sama baik,” ujar Amran.

    Pernyataan tersebut menegaskan bahwa kebijakan pangan diarahkan untuk memberikan manfaat bagi seluruh rantai pasok, bukan hanya menjaga harga di tingkat konsumen.

    Amran menyoroti kekuatan produksi nasional. “Kita surplus, kita ekspor. Tapi harga dalam negeri naik melampau,” katanya.

    Pemerintah pun memperkuat penyaluran jagung pakan melalui program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), penyerapan hasil produksi, serta pengawasan distribusi guna mengatasi ketidakseimbangan harga.

    Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian turut menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dalam mengendalikan harga komoditas strategis, terutama beras, telur ayam ras, dan daging ayam ras.

    Pemerintah daerah didorong melakukan pemantauan berkala, memahami pola konsumsi masyarakat, serta mempercepat langkah antisipatif sebelum kenaikan harga memengaruhi daya beli.

    “Kita perhatikan betul angka ini jangan sampai ke angka di atas 3,5 persen ini target pemerintah,” ujar Tito

    Tito juga menekankan bahwa pangan memiliki peran penting bagi kelompok masyarakat berpenghasilan rendah.

    “Tapi sektor yang paling critical yang harus kita jaga betul adalah makanan minuman, karena berhubungan langsung dengan rakyat yang kelas bawah,” tegasnya.

    Ia meminta daerah segera berkoordinasi dengan Bapanas, Bulog, dan pelaku usaha untuk menstabilkan komoditas yang mengalami kenaikan harga.

    Melalui penguatan pasokan, pengawasan distribusi, dan pelaksanaan program stabilisasi, pemerintah berkomitmen menjaga keterjangkauan pangan sekaligus melindungi kesejahteraan masyarakat.

    Partisipasi masyarakat dalam berbelanja secara bijak dan melaporkan indikasi penyimpangan harga juga diharapkan mendukung terciptanya pasar yang sehat, adil, dan stabil. (*)