Kategori: Uncategorized

  • Target Investasi 2027: Pemerintah Dorong Pertumbuhan tanpa Bergantung pada Utang

    Oleh: Dwi Saputri)*

    Pemerintah menempatkan investasi sebagai salah satu motor utama untuk mendorong pertumbuhan ekonomi mencapai 6 persen pada 2027. Strategi tersebut tercermin dalam target realisasi investasi sebesar Rp2.322 triliun, meningkat 13,76 persen dibandingkan target 2026 yang mencapai sekitar Rp2.041,3 triliun. Peningkatan target ini menunjukkan bahwa pemerintah berupaya memperbesar peran modal produktif dalam menggerakkan perekonomian nasional.

    Dalam Rencana Kerja Pemerintah (RKP) 2027, target investasi tersebut menjadi bagian dari sasaran investasi sekitar Rp13.032 triliun selama periode 2025–2029. Nilainya meningkat sekitar 143 persen dibandingkan capaian investasi dalam sepuluh tahun terakhir. Besarnya sasaran itu memperlihatkan ambisi pemerintah untuk mempercepat pembangunan melalui peningkatan kapasitas produksi, penguatan industri, pembangunan infrastruktur, dan penciptaan lapangan kerja.

    Pilihan untuk mengandalkan investasi merupakan langkah yang relevan di tengah kebutuhan pembiayaan pembangunan yang semakin besar. Investasi tidak hanya menghadirkan tambahan modal, tetapi juga dapat membawa teknologi, memperluas pasar, meningkatkan keterampilan tenaga kerja, serta memperkuat daya saing industri nasional. Apabila diarahkan ke sektor-sektor produktif, investasi dapat menciptakan efek berganda yang lebih luas bagi perekonomian.

    Target investasi sebesar Rp2.322 triliun pada 2027 diharapkan mampu memperkuat pertumbuhan ekonomi sekaligus memperluas kesempatan kerja. Namun, keberhasilan kebijakan tersebut tidak cukup diukur dari besarnya nilai investasi yang terealisasi. Pemerintah juga perlu memastikan bahwa investasi dapat menghasilkan kegiatan ekonomi baru, meningkatkan nilai tambah di dalam negeri, menyerap tenaga kerja, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

    Dalam kerangka tersebut, Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (BPI Danantara) tengah menyusun desain investasi untuk periode 2026–2027. Langkah ini diarahkan untuk mendukung pencapaian target pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen pada 2027 melalui pengelolaan investasi yang lebih terencana dan terintegrasi.

    COO Danantara, Dony Oskaria, mengatakan bahwa investasi diharapkan memberikan kontribusi yang lebih besar terhadap perekonomian nasional untuk mencapai target pertumbuhan tersebut. Oleh karena itu, Danantara diarahkan untuk memperkuat perannya dalam mendorong peningkatan penanaman modal.

    Keberadaan Danantara dapat menjadi salah satu instrumen strategis untuk mengoptimalkan aset dan kekuatan ekonomi nasional. Melalui pengelolaan investasi yang profesional, terukur, dan berorientasi jangka panjang, Danantara diharapkan mampu mengarahkan modal ke sektor-sektor yang memiliki daya ungkit tinggi terhadap pertumbuhan. Peran tersebut juga penting untuk membangun kepercayaan bahwa Indonesia memiliki kapasitas kelembagaan yang kuat dalam mengelola investasi.

    Wakil Ketua Komisi XI DPR, Fauzi Amro, turut menilai bahwa investasi akan memainkan peran besar dalam upaya mencapai pertumbuhan ekonomi sebesar 6 persen. Target tersebut merupakan sasaran yang ditetapkan Presiden Prabowo Subianto dalam RAPBN dan Nota Keuangan 2027.

    Menurut Fauzi, dukungan terhadap target pertumbuhan ekonomi tidak hanya bersumber dari investasi, tetapi juga mencakup pendapatan negara, belanja negara, dan pengelolaan defisit. Kendati demikian, investasi tetap menjadi salah satu komponen penting karena berkaitan langsung dengan peningkatan kapasitas produksi dan aktivitas ekonomi.

    Pandangan tersebut menegaskan bahwa investasi bukan satu-satunya instrumen untuk mendorong pertumbuhan. Kebijakan investasi harus berjalan beriringan dengan penguatan penerimaan negara, belanja pemerintah yang produktif, pengendalian defisit, serta peningkatan konsumsi dan ekspor. Sinergi antarkomponen inilah yang akan menentukan apakah pertumbuhan ekonomi dapat berlangsung secara sehat dan berkelanjutan.

    Pada saat yang sama, Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa Indonesia menolak tawaran pinjaman dari Dana Moneter Internasional (IMF). Sikap tersebut didasarkan pada keyakinan bahwa Indonesia masih memiliki kemampuan untuk membiayai pembangunan tanpa kembali bergantung pada pinjaman lembaga keuangan internasional tersebut.

    Pernyataan itu membawa pesan penting mengenai arah kemandirian ekonomi nasional. Pemerintah memilih memperkuat sumber pembiayaan produktif melalui investasi, optimalisasi aset negara, peningkatan penerimaan, dan pengelolaan anggaran yang disiplin. Dengan demikian, pembangunan tidak semata-mata ditopang oleh penambahan utang, tetapi oleh aktivitas ekonomi yang mampu menciptakan nilai tambah dan memperbesar kapasitas nasional.

    Namun, memilih investasi bukan berarti menerima seluruh modal tanpa pertimbangan. Pemerintah harus tetap memastikan bahwa investasi yang masuk sejalan dengan kepentingan nasional, tidak menimbulkan ketergantungan baru, serta tidak hanya menjadikan Indonesia sebagai pasar atau penyedia bahan mentah. Investasi perlu diarahkan untuk memperkuat hilirisasi, industrialisasi, ketahanan pangan dan energi, ekonomi digital, serta pengembangan sumber daya manusia.

    Kepastian hukum, penyederhanaan perizinan, konsistensi regulasi, dan tata kelola yang transparan juga menjadi prasyarat utama. Tanpa perbaikan iklim usaha, target investasi yang besar berisiko berhenti sebagai angka perencanaan. Sebaliknya, apabila hambatan investasi dapat diselesaikan dan proyek-proyek prioritas disiapkan secara matang, target Rp2.322 triliun dapat menjadi fondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi pada 2027.

    Strategi pertumbuhan berbasis investasi pada akhirnya harus menghasilkan manfaat yang dapat dirasakan masyarakat. Pertumbuhan ekonomi tidak boleh hanya terlihat dalam statistik, tetapi perlu tercermin dalam bertambahnya lapangan kerja, meningkatnya pendapatan, berkembangnya usaha nasional, dan berkurangnya kesenjangan antardaerah.

    Target investasi 2027 merupakan bentuk optimisme sekaligus ujian bagi pemerintah. Indonesia sedang memilih jalan pertumbuhan yang bertumpu pada penguatan kapasitas ekonomi, bukan pada ketergantungan terhadap utang. Agar pilihan tersebut berhasil, investasi harus dikelola secara selektif, transparan, dan berorientasi pada kepentingan jangka panjang. Dengan pendekatan itu, pertumbuhan 6 persen bukan sekadar sasaran angka, melainkan momentum untuk membangun perekonomian yang lebih produktif, mandiri, dan berkelanjutan.

    )* Pemerhati isu sosial-ekonomi

  • Pemerintah Galang Kekuatan Nasional Atasi Karhutla di Sejumlah Wilayah

    Jakarta – Pemerintah terus menggalang kekuatan nasional untuk mengatasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah Indonesia. Upaya penanganan dilakukan secara terpadu dengan mengerahkan personel, peralatan, serta operasi darat dan udara guna menekan kemunculan titik api (hotspot) sekaligus mencegah meluasnya dampak kebakaran.

    Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama Satuan Tugas Penanganan Kebakaran Hutan dan Lahan (Satgas Karhutla) Provinsi Sumatera Selatan (Sumsel) terus mengintensifkan operasi pemadaman. Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya pemerintah menghadapi puncak musim kemarau dan fenomena El Nino 2026 yang meningkatkan potensi terjadinya kebakaran di kawasan hutan dan lahan.

    Kepala BNPB Suharyanto menilai kekuatan personel di lapangan menjadi faktor penting dalam mempercepat penanganan karhutla. Menurut dia, keberadaan Satgas Darat yang melibatkan berbagai unsur menjadi kekuatan utama dalam memadamkan api sekaligus mencegah kebakaran meluas.

    “Hasil operasi pemadaman kebakaran hutan dan lahan di Sumatera Selatan membuktikan bahwa Satgas Darat yang terdiri dari Manggala Agni, TNI, Polri, BPBD, Masyarakat Peduli Api, Basarnas, Relawan dan sektor swasta ini menjadi kekuatan utama dan harus semakin ditingkatkan kekuatannya,” ujar Suharyanto.

    Selain operasi darat, pemerintah juga mengoptimalkan penanganan melalui operasi udara. Penguatan koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat keamanan, relawan, masyarakat dan sektor swasta dinilai penting untuk memastikan respons terhadap titik api dapat dilakukan secara cepat dan terukur.

    Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan bahwa pemerintah terus melakukan penanganan karhutla. Namun, persoalan tersebut tidak dapat diselesaikan hanya melalui intervensi pemerintah. Keterlibatan seluruh elemen masyarakat menjadi faktor penting, terutama ketika Indonesia menghadapi kondisi El Nino yang sangat kuat.

    Raja Juli meminta masyarakat, pemerintah desa, serta aparat di tingkat lokal ikut memperkuat upaya pencegahan dan penanganan karhutla. Partisipasi masyarakat dinilai dapat mempercepat deteksi dini sekaligus mencegah api berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar.

    “Kami berharap kerja sama semua pihak, baik masyarakat, Kepala Desa, Bhabinkamtibmas, Babinsa ya sampai seluruh elemen masyarakat dibawa untuk sama-sama berpartisipasi menyelesaikan masalah ini,” kata Raja Juli.

    Pemerintah menilai sinergi lintas sektor merupakan kunci menghadapi ancaman karhutla. Penguatan Satgas, peningkatan kesiapsiagaan masyarakat, serta respons cepat terhadap kemunculan titik api diharapkan mampu mencegah kebakaran meluas dan mengurangi risiko kabut asap yang dapat mengganggu kesehatan, aktivitas masyarakat, serta lingkungan. (*)

  • Negara Bergerak, TNI dan Kementerian PU Perkuat Penanganan Karhutla

    Jakarta – Pemerintah terus membuktikan komitmen nyata dalam merespons krisis bencana melalui tindakan cepat, terukur, dan terkoordinasi. Menghadapi eskalasi ancaman Kebakaran Hutan dan Lahan (Karhutla) di puncak kemarau, negara sigap bergerak melalui sinergi Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kementerian Pekerjaan Umum (PU). Kolaborasi strategis ini difokuskan pada sejumlah titik kritis di Sumatra dan Kalimantan demi menjamin perlindungan mutlak bagi rakyat.

    Sebagai langkah awal mobilisasi tanggap darurat, Komandan Lanud Halim Perdanakusuma, Marsma TNI Ali Gusman, S.T., M.M., memastikan bahwa pangkalannya dioptimalkan secara penuh menjadi pusat percepatan pengiriman pasukan tempur.

    “Pasukan TNI diterbangkan ke Kalimantan via Lanud Halim secara bergelombang. Target kami di lapangan sangat jelas, yaitu melakukan penanganan cepat karhutla sejak dini,” ujar Ali Gusman.

    Ia menambahkan bahwa seluruh personel yang diberangkatkan telah melalui persiapan matang. Mereka turut membawa instrumen pemadaman termutakhir guna memastikan keberhasilan operasi kemanusiaan di medan terberat sekalipun.

    Sementara itu, manuver operasi lapangan di Sumatra berlangsung dengan sangat progresif. Kabidpenum Puspen TNI, Kolonel Laut (P) Agung Saptoadi, memaparkan strategi penembusan jalur udara andalan TNI untuk wilayah yang sulit dijangkau kendaraan darat.

    “Guna percepat penanganan karhutla di wilayah terisolir Pekanbaru, prajurit TNI laksanakan teknik fast-rope dari helikopter ke titik sasaran,” ungkap Agung.

    Pendaratan cepat ini dinilai sangat vital dalam memotong waktu tempuh pergerakan pasukan. Ia menegaskan bahwa taktik spesifik tersebut memungkinkan prajurit segera melokalisir kobaran api sebelum meluas.

    “Kami juga siapkan titik penerjunan free-fall. Taktik krusial ini memungkinkan personel khusus mendarat akurat guna mengisolasi dan memutus rantai api secepat mungkin,” tegasnya.

    Langkah taktis militer tersebut ditopang kuat oleh kesiapan infrastruktur dari pemerintah. Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo, menyatakan komitmen penuh lembaganya dalam menjamin ketersediaan suplai air berlimpah sebagai tulang punggung pemadaman di kawasan gambut.

    “Kementerian PU secara penuh perkuat dukungan air untuk tangani karhutla di wilayah episentrum seperti Kalimantan dan Jambi. Seluruh jaringan infrastruktur dikerahkan,” kata Dody.

    Dukungan pengairan ini direalisasikan melalui pengerahan fasilitas berat ke titik-titik krusial. Ia menjamin kehadiran infrastruktur tersebut membuat armada pemadam di garis depan bisa bekerja optimal tanpa hambatan.

    “Armada tangki penyiram, instalasi pompa raksasa, hingga pemanfaatan sumur bor terus diaktifkan. Sinergi ini menjamin pasukan tidak akan pernah kekurangan pasokan air,” imbuhnya.

    Sinergi lintas sektoral yang masif ini merupakan manifestasi nyata dari kepemimpinan pemerintahan yang tangguh, responsif, dan selalu hadir untuk rakyat. Melalui aksi proaktif yang terukur di lapangan, negara terbukti sukses memberikan perlindungan menyeluruh sekaligus menjaga stabilitas perekonomian nasional dari ancaman bencana kabut asap.(*)

  • Bersama Mengawal Pencegahan, Pemadaman, dan Hukum Tegas dalam Karhutla

    Oleh : Abdul Razak)*

    Kebakaran hutan dan lahan atau karhutla kembali menjadi ancaman serius yang membutuhkan penanganan terpadu. Di tengah kondisi cuaca yang semakin kering dan pengaruh fenomena El Nino, risiko munculnya titik api di sejumlah wilayah meningkat. Situasi tersebut menuntut keterlibatan semua pihak, mulai dari pemerintah, aparat penegak hukum, pelaku usaha, hingga masyarakat, untuk memperkuat pencegahan, mempercepat pemadaman, dan memastikan penegakan hukum berjalan tegas terhadap pihak yang bertanggung jawab.

    Kepolisian Daerah Riau menegaskan komitmennya untuk tidak memberikan kompromi terhadap setiap tindakan yang sengaja maupun akibat kelalaian menyebabkan terjadinya kebakaran hutan dan lahan. Kabid Humas Polda Riau Kombes Akmadi menyampaikan bahwa pencegahan tetap menjadi langkah utama, namun penegakan hukum akan terus dilakukan untuk memberikan efek jera dan melindungi lingkungan serta masyarakat dari dampak karhutla.

    Komitmen tersebut diwujudkan melalui pengungkapan puluhan perkara sepanjang 2026. Polda Riau dan jajaran tercatat telah menangani 37 kasus karhutla selama periode Januari hingga Agustus 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 40 orang telah ditetapkan sebagai tersangka. Total luas lahan yang terdampak dalam perkara-perkara tersebut mencapai sekitar 904 hektare.

    Direktur Reserse Kriminal Khusus Polda Riau Kombes Ade Kuncoro Ridwan menjelaskan bahwa sebagian besar kasus yang ditangani memiliki unsur kesengajaan. Modus yang ditemukan antara lain pembukaan lahan dengan cara membakar untuk kepentingan usaha perkebunan sawit maupun kegiatan hortikultura lainnya.

    Selain unsur kesengajaan, penyidik juga menemukan sejumlah kebakaran yang dipicu kelalaian. Salah satunya berasal dari aktivitas pembakaran sampah yang awalnya dilakukan dalam skala kecil, tetapi kemudian tidak terkendali dan merambat ke lahan di sekitarnya. Kondisi cuaca panas dan angin dapat mempercepat penyebaran api sehingga kebakaran yang semula terbatas berpotensi berkembang menjadi lebih luas.

    Ade menegaskan bahwa dalam setiap perkara, penyidik melakukan pendalaman secara menyeluruh untuk mengetahui sumber dan penyebab kebakaran. Proses tersebut juga dilakukan untuk mengidentifikasi pihak yang harus bertanggung jawab berdasarkan fakta serta alat bukti yang tersedia.

    Penanganan karhutla, dengan demikian, tidak hanya berhenti pada upaya pemadaman api. Pencegahan harus menjadi lapisan pertama dalam mengurangi risiko. Polda Riau mengimbau masyarakat maupun pelaku usaha untuk tidak membuka lahan dengan cara membakar dan menghindari pembakaran sampah secara sembarangan, terutama ketika kondisi cuaca panas dan angin berpotensi mempercepat penjalaran api.

    Langkah preventif menjadi semakin penting karena dampak karhutla dapat meluas ke berbagai sektor. Kebakaran tidak hanya merusak hutan dan lahan, tetapi juga dapat mengganggu kesehatan masyarakat akibat asap, menghambat aktivitas ekonomi, serta menimbulkan kerugian sosial. Dalam skala yang lebih besar, karhutla juga berpotensi mengganggu stabilitas kehidupan masyarakat di daerah terdampak.

    Ketua Dewan Perwakilan Daerah RI Sultan Bachtiar Najamudin turut mendorong aparat untuk menindak tegas pihak-pihak yang bertanggung jawab atas terjadinya karhutla. Menurut Sultan, persoalan tersebut harus ditangani melalui kombinasi antara pendekatan preventif dan penegakan hukum yang tegas agar kejahatan terhadap lingkungan dapat dicegah dan dihentikan.

    Sultan menilai karhutla saat ini menjadi persoalan yang mengancam stabilitas sosial dan ekonomi di sejumlah daerah. Oleh karena itu, penanganannya tidak dapat hanya mengandalkan tindakan setelah api muncul, tetapi harus dimulai dari upaya pencegahan, pengawasan, dan peningkatan kesadaran terhadap risiko yang dapat ditimbulkan.

    Ia juga menyoroti pengaruh kondisi cuaca ekstrem, fenomena El Nino, dan perubahan iklim terhadap meningkatnya risiko kebakaran. Kenaikan suhu dan kondisi lingkungan yang semakin kering dapat membuat api lebih mudah muncul serta lebih cepat meluas. Situasi tersebut membutuhkan kesiapan yang lebih besar, terutama di wilayah yang memiliki tingkat kerawanan tinggi.

    Dalam konteks tersebut, Sultan mendorong penerapan langkah adaptasi dan mitigasi dalam pemanfaatan hutan dan lahan secara berkelanjutan, khususnya pada kawasan gambut. Pengelolaan lahan yang memperhatikan kondisi lingkungan menjadi bagian penting untuk mengurangi potensi kebakaran, di samping penguatan sistem pencegahan dan kesiapsiagaan di lapangan.

    Upaya pencegahan juga membutuhkan koordinasi yang kuat antara pemerintah pusat dan daerah, aparat keamanan, petugas pemadam, masyarakat, serta pelaku usaha. Setiap pihak memiliki peran dalam memantau kondisi wilayah, mendeteksi potensi kebakaran sejak dini, melaporkan titik api, hingga membantu mencegah api berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar.

    Ketika kebakaran terjadi, kecepatan respons menjadi faktor penting. Informasi dari masyarakat, pemantauan kondisi lapangan, serta kesiapan personel dan peralatan pemadaman harus terhubung dalam satu sistem penanganan. Semakin cepat titik api diketahui dan ditangani, semakin besar peluang untuk mencegah kebakaran meluas.

    Namun, upaya pemadaman tidak akan cukup apabila perilaku pembakaran lahan masih terus terjadi. Penegakan hukum menjadi bagian penting untuk memberikan kepastian bahwa setiap tindakan yang merusak lingkungan akan diproses sesuai ketentuan. Langkah hukum yang profesional, transparan, dan berkeadilan juga diperlukan untuk memberikan efek jera sekaligus memperkuat perlindungan terhadap masyarakat dan lingkungan.

    Karhutla pada akhirnya merupakan persoalan bersama yang membutuhkan tanggung jawab bersama. Pencegahan harus dilakukan sebelum api muncul, pemadaman harus dilaksanakan secara cepat ketika kebakaran terjadi, dan penegakan hukum harus berjalan tegas terhadap pihak yang terbukti bertanggung jawab. Melalui kolaborasi yang kuat antara pemerintah, aparat, dunia usaha, dan masyarakat, ancaman karhutla dapat dikendalikan sekaligus mencegah kerusakan lingkungan dan dampak sosial yang lebih luas.

    )* Analis Kebijakan

  • Negara Hadir: TNI, PU, BNPB, dan Masyarakat Bergerak Melawan Karhutla

    Oleh : Antonius Utomo )*

    Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) kembali menjadi perhatian di tengah musim kemarau yang meningkatkan risiko kebakaran di sejumlah wilayah Indonesia. Namun, situasi tersebut sekaligus menunjukkan semakin kuatnya kesiapsiagaan pemerintah dalam menghadapi bencana. Negara hadir bukan hanya ketika api telah membesar, tetapi melalui rangkaian pencegahan, pemantauan, pemadaman, hingga pemulihan yang melibatkan berbagai unsur secara terpadu. TNI, BNPB, Kementerian Pekerjaan Umum (PU), pemerintah daerah, aparat keamanan, relawan, dunia usaha, dan masyarakat bergerak dalam satu tujuan, yakni melindungi lingkungan sekaligus memastikan keselamatan masyarakat.

    Pemerintah telah memperkuat operasi pengendalian karhutla terutama di wilayah yang memiliki risiko tinggi seperti Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan. BNPB menyebut risiko karhutla diperkirakan meningkat pada periode Agustus hingga September 2026 sehingga penguatan operasi darat, udara, pemantauan hotspot, serta kesiapsiagaan masyarakat menjadi bagian penting dalam strategi penanganan.

    Menteri Pertahanan (Menhan) Sjafrie Sjamsoeddin menekankan bahwa Kementerian Pertahanan (Kemenhan) dan TNI, telah mengerahkan seluruh kemampuan serta kekuatan untuk menangani karhutla, pihakny juga menyampaikan kepada Komisi I untuk bisa kita teruskan kepada masing-masing sektor atau pihak yang mempunyai kaitan dengan bencana kebakaran hutan. Khususnya kita mengajak kerja sama dan gotong royong kepada semua pengusaha hutan yang ada di wilayah nasional untuk ikut serta bergotong royong dalam rangka memitigasi kebakaran hutan yang sedang berkembang ini,

    Kehadiran negara terlihat dari pengerahan sumber daya yang tidak hanya mengandalkan satu institusi. BNPB mengoordinasikan operasi darat dan udara melalui pos komando, sementara unsur TNI dan Polri memperkuat personel serta dukungan operasional di lapangan. Di udara, pemadaman dilakukan melalui water bombing dan didukung operasi modifikasi cuaca untuk membantu meningkatkan potensi hujan di wilayah yang membutuhkan.

    Dukungan TNI juga menjadi bagian penting dari operasi terpadu tersebut. Sejumlah pesawat TNI Angkatan Udara dikerahkan untuk memperkuat penanganan karhutla di Kalimantan, terutama dalam mendukung operasi udara dan pemadaman dari kawasan yang sulit dijangkau melalui jalur darat. Keterlibatan TNI menunjukkan bahwa kemampuan pertahanan negara dapat dimobilisasi untuk kepentingan kemanusiaan dan perlindungan masyarakat ketika menghadapi bencana berskala luas.

    Kepala Bidang Penerangan Umum Pusat Penerangan TNI Kolonel Laut (P) Agung Saptoadi mengatakan Kesiapsiagaan dan pengerahan personel tersebut merupakan wujud komitmen TNI untuk senantiasa hadir membantu pemerintah dan masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk bencana karhutla

    Pada saat yang sama, Kementerian PU turut memainkan peran dalam mendukung penanganan karhutla melalui kapasitas dan infrastruktur yang dimiliki. Perkembangan terbaru menunjukkan pemerintah menangani titik kebakaran di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan. Di Jambi, misalnya, tim gabungan melakukan pemadaman terhadap kebakaran di kawasan Tahura Senami, Batanghari, dengan luasan sekitar 100 hektare. Penanganan juga dilakukan terhadap titik api di Palangka Raya, Kalimantan Tengah.

    Menteri PU Dody Hanggodo mengatakan bahwa Kementerian PU tidak hanya berfokus pada pembangunan infrastruktur, tetapi juga memastikan infrastruktur tersebut dapat dimanfaatkan secara optimal untuk mendukung penanggulangan bencana, menjaga ketersediaan air, melindungi lingkungan, serta menjamin keselamatan Masyarakat

    Sinergi lintas sektor tersebut menjadi semakin penting karena karhutla bukan sekadar persoalan lingkungan. Dampaknya dapat menjalar kepada kesehatan masyarakat, aktivitas pendidikan, transportasi, perekonomian, hingga kualitas udara. Karena itu, keselamatan masyarakat ditempatkan sebagai prioritas dalam operasi pengendalian karhutla. Pemerintah juga memperkuat kolaborasi dengan Manggala Agni, Masyarakat Peduli Api, relawan, pelaku usaha, pemerintah daerah, serta masyarakat di sekitar wilayah rawan kebakaran.

    Pendekatan tersebut juga memperlihatkan perubahan paradigma dalam penanggulangan bencana. Pemerintah tidak hanya berfokus pada pemadaman setelah kebakaran terjadi, tetapi semakin menempatkan pencegahan dan kesiapsiagaan sebagai prioritas. Pemanfaatan data hotspot berbasis satelit, pemantauan cuaca, patroli udara, drone, operasi modifikasi cuaca, serta penguatan kapasitas masyarakat menjadi bagian dari ekosistem pengendalian karhutla yang semakin modern.

    Presiden Prabowo Subianto juga menegaskan bahwa penanganan bencana dilakukan secara terpadu dengan melibatkan pemerintah daerah, kementerian dan lembaga, TNI, Polri, BNPB, serta instansi terkait. Menurut Presiden, seluruh unsur pemerintah telah bekerja secara efektif dalam menghadapi berbagai kondisi bencana dan iklim ekstrem. Pesan tersebut memperlihatkan bahwa prinsip negara hadir diterjemahkan melalui kerja bersama, bukan sekadar pernyataan.

    Perkembangan penanganan karhutla dalam beberapa hari terakhir memperkuat gambaran tersebut. Pemerintah terus meningkatkan operasi darat dan udara di berbagai wilayah, sementara koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah terus diperkuat. Di Riau, misalnya, pemerintah melakukan pengecekan langsung terhadap penanganan karhutla sekaligus memastikan dampak sosial akibat kebakaran ikut mendapat perhatian.

    Karhutla memang menjadi tantangan serius, terlebih ketika kondisi cuaca kering meningkatkan potensi penyebaran api. Namun, tantangan tersebut juga menjadi momentum untuk memperkuat gotong royong nasional. Ketika TNI bergerak di lapangan dan udara, BNPB mengoordinasikan penanganan bencana.

    Pada akhirnya, keberhasilan melawan karhutla bukan hanya diukur dari seberapa cepat api dipadamkan, tetapi juga dari seberapa kuat sistem pencegahan dibangun dan seberapa besar masyarakat terlindungi dari dampaknya. Kolaborasi lintas lembaga dan partisipasi masyarakat menjadi modal penting untuk menjaga hutan, lahan, kesehatan, serta keberlangsungan aktivitas sosial dan ekonomi. Negara hadir ketika seluruh kekuatan tersebut bergerak bersama: cepat merespons, kuat mencegah, dan konsisten melindungi masyarakat serta lingkungan Indonesia.

    )* Pengamat Kebijakan Strategis

  • Investasi Nasional Jadi Kunci Ekonomi RI Tumbuh hingga 5,6 Persen

    Jakarta – Investasi nasional menjadi salah satu faktor penting dalam menjaga pertumbuhan ekonomi Indonesia sepanjang 2026. Global Research on Economics, Advance Technology, and Politics (GREAT) Institute memperkirakan ekonomi Indonesia pada 2026 tumbuh sekitar 5,3–5,6 persen, ditopang kuatnya konsumsi domestik, aktivitas dunia usaha, serta investasi yang mulai menunjukkan tren positif.

    Peneliti Ekonomi GREAT Institute, Adrian Nalendra Perwira, menyampaikan bahwa proyeksi tersebut menunjukkan optimisme, meski tetap bergantung pada sejumlah kondisi pendukung. Menurutnya, fundamental ekonomi Indonesia masih tergolong kuat, namun sumber utama pertumbuhan mulai mengalami pergeseran.

    “Proyeksi pertumbuhan 5,3-5,6 persen adalah optimisme dengan prasyarat. Kita melihat fondasi pertumbuhan masih cukup kuat, tetapi komposisi mesin pertumbuhannya mulai berubah,” kata Adrian.

    Mengacu pada laporan GREAT Mid-Year Economic Outlook 2026: Membangun Kembali Kepercayaan, Menumbuhkan Optimisme, Adrian menjelaskan bahwa optimisme terhadap prospek ekonomi Indonesia masih memiliki landasan yang kuat. Perekonomian nasional mencatat pertumbuhan kumulatif sebesar 5,45 persen pada semester I-2026, dengan konsumsi pemerintah tumbuh 18,62 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

    Konsumsi rumah tangga juga tumbuh 5,06 persen secara tahunan pada triwulan II-2026. Namun, GREAT Institute menilai ketahanan konsumsi perlu dicermati lebih mendalam.

    “Karena konsumsi menyumbang porsi terbesar ekonomi, ketahanannya tetap menjadi fondasi proyeksi kami. Tetapi kita juga tidak boleh membaca konsumsi rumah tangga hanya dari satu angka PDB. Ada sinyal kehati-hatian yang meningkat. Karena itu, menjaga pendapatan riil dan pekerjaan menjadi lebih penting daripada sekadar mendorong konsumsi sesaat,” kata Adrian.

    Dalam kondisi tersebut, investasi menjadi komponen strategis untuk memperkuat sisi produksi, meningkatkan kapasitas industri, menciptakan lapangan kerja, serta mendorong nilai tambah melalui hilirisasi dan pengembangan sektor berbasis teknologi. Kepastian regulasi, kemudahan perizinan, infrastruktur, dan stabilitas ekonomi juga diperlukan untuk meningkatkan daya tarik investasi.

    Prospek pertumbuhan berlanjut pada 2027. Ekonomi Indonesia berpotensi tumbuh hingga 6 persen, meski proyeksi saat ini berada di kisaran 5,1-5,9 persen.

    “Ada tiga syarat utama yang menjadi kunci. Pertama, ekonomi global membaik sehingga permintaan ekspor dan aliran modal asing meningkat. Kedua, investasi perlu didorong melalui percepatan realisasi proyek strategis nasional. Ketiga, optimalisasi penerimaan devisa hasil ekspor (DHE) perlu terus diperkuat.” Ujar Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Aida S. Budiman.

    Penguatan investasi bersama konsumsi domestik dan kebijakan fiskal diharapkan mampu menjaga momentum pertumbuhan sekaligus memperkuat kapasitas ekonomi nasional menuju pertumbuhan yang lebih tinggi dan berkelanjutan.

  • Ekonomi RI Berpeluang Tembus 5,6 Persen Ditopang Investasi Produktif

    JAKARTA — Perekonomian Indonesia dinilai memiliki peluang tumbuh hingga 5,6 persen sepanjang 2026. Optimisme tersebut didukung oleh fondasi ekonomi domestik yang relatif kuat, terutama melalui peningkatan investasi dan aktivitas produktif sektor swasta yang diperkirakan menjadi penggerak penting pertumbuhan pada semester II.

    GREAT Institute memproyeksikan pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada kisaran 5,3-5,6 persen pada 2026. Peneliti Ekonomi GREAT Institute Adrian Nalendra Perwira mengatakan pencapaian batas atas proyeksi tersebut membutuhkan sejumlah prasyarat, terutama penguatan investasi, kepastian kebijakan, serta terjaganya kepercayaan pelaku ekonomi.

    “Proyeksi pertumbuhan 5,3-5,6 persen adalah optimisme dengan prasyarat. Kita melihat fondasi pertumbuhan masih cukup kuat, tetapi komposisi mesin pertumbuhannya mulai berubah,” kata Adrian.

    Menurut GREAT Institute, ekonomi Indonesia tumbuh kumulatif 5,45 persen pada semester I-2026. Konsumsi pemerintah dan rumah tangga masih menjadi fondasi penting. Konsumsi pemerintah tercatat tumbuh 18,62 persen secara tahunan, sementara konsumsi rumah tangga pada triwulan II tumbuh 5,06 persen.

    Namun, Adrian menilai momentum pertumbuhan pada semester II perlu semakin diperkuat melalui investasi dan aktivitas produktif. Hal ini sejalan dengan sejumlah indikator yang menunjukkan dunia usaha mulai bergerak positif.

    “Semester I banyak terbantu oleh konsumsi dan dorongan fiskal. Memasuki Semester II, konsumsi tentu tetap menjadi fondasi pertumbuhan, tetapi tambahan akselerasi semakin perlu datang dari investasi dan aktivitas produktif sektor swasta,” ujarnya.

    Optimisme terhadap pertumbuhan juga disampaikan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa. Ia meyakini ekonomi Indonesia dapat tumbuh 6 persen pada 2027. Dengan pertumbuhan tersebut, sekitar 2,4 juta lapangan kerja baru berpotensi tercipta.

    “Kalau pertumbuhan ekonomi mencapai 6 persen, maka 6 dikali 400.000, artinya akan ada 2,4 juta lapangan kerja baru yang tercipta,” ujar Purbaya.

    Pemerintah, lanjut Purbaya, akan mendorong pertumbuhan melalui efisiensi serta peningkatan kepatuhan perpajakan dan sektor kepabeanan. Langkah tersebut diharapkan menjaga daya saing perusahaan nasional sekaligus memperkuat ruang pertumbuhan ekonomi.

    Di tengah ketidakpastian global, konsistensi kebijakan menjadi faktor penting untuk menjaga kepercayaan rumah tangga dan dunia usaha. GREAT Institute menilai stabilitas makroekonomi, investasi berkualitas, produktivitas, dan penciptaan lapangan kerja akan menjadi kunci agar pertumbuhan ekonomi Indonesia dapat mencapai batas atas proyeksi 5,6 persen.

  • Investasi Nasional: Pengungkit Pertumbuhan Ekonomi Semester II

    *) Oleh : Gavin Asadit

    Pemerintah terus memperkuat investasi sebagai salah satu pengungkit utama pertumbuhan ekonomi nasional pada semester II 2026. Langkah tersebut menjadi semakin penting setelah ekonomi Indonesia pada semester I 2026 tumbuh 5,45 persen secara tahunan. Pemerintah melihat momentum tersebut sebagai fondasi untuk menjaga kesinambungan pertumbuhan melalui peningkatan investasi, hilirisasi, penciptaan lapangan kerja, dan penguatan kapasitas produksi nasional.

    Realisasi investasi sepanjang semester I 2026 mencapai Rp1.010,6 triliun atau sekitar 49,5 persen dari target investasi nasional tahun ini sebesar Rp2.041,3 triliun. Capaian tersebut meningkat 7,2 persen dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya dan sekaligus menciptakan 1.448.862 lapangan kerja langsung bagi tenaga kerja Indonesia. Angka tersebut menunjukkan bahwa investasi semakin memiliki peran penting dalam memperluas aktivitas ekonomi dan membuka kesempatan kerja.

    Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan P. Roeslani menilai kinerja investasi semester I mencerminkan masih kuatnya kepercayaan pelaku usaha terhadap prospek perekonomian Indonesia. Menurut Rosan, pemerintah akan terus memastikan investasi yang masuk tidak hanya menghasilkan nilai finansial, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi nasional melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan kapasitas industri, dan pengembangan sektor bernilai tambah.

    Memasuki semester II, pemerintah memiliki ruang untuk mempercepat realisasi berbagai komitmen investasi yang telah masuk. Hal tersebut dilakukan melalui penyederhanaan perizinan, penyelesaian hambatan investasi di lapangan, serta percepatan pembangunan proyek. Pemerintah juga terus memperkuat sistem Online Single Submission (OSS) agar proses perizinan semakin memberikan kepastian kepada investor. Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi menjaga momentum investasi di tengah ketidakpastian ekonomi global.

    Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan pada triwulan II 2026  investasi tumbuh 6,87 persen secara tahunan, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang mencapai 5,06 persen. Kondisi tersebut memperlihatkan bahwa pertumbuhan ekonomi mulai semakin ditopang oleh peningkatan kapasitas produksi, bukan hanya oleh konsumsi masyarakat.

    Pada periode yang sama, perekonomian Indonesia tumbuh 5,29 persen secara tahunan dan meningkat 3,73 persen dibandingkan triwulan sebelumnya. Kinerja tersebut memberikan modal positif bagi pemerintah untuk mempertahankan momentum pertumbuhan pada paruh kedua tahun ini. Penguatan investasi menjadi penting karena proyek baru dapat menciptakan aktivitas produksi, meningkatkan permintaan terhadap barang dan jasa, serta membuka kesempatan kerja di berbagai daerah.

    Salah satu fokus utama pemerintah adalah hilirisasi. Pada semester I 2026, realisasi investasi hilirisasi mencapai Rp300,1 triliun atau sekitar 29,7 persen dari total investasi nasional. Nilai tersebut tumbuh 6,9 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pemerintah mendorong agar investasi hilirisasi terus berkembang dari sektor pengolahan mineral menuju industri dengan teknologi lebih tinggi, termasuk energi bersih, manufaktur maju, infrastruktur digital, dan berbagai sektor strategis lainnya.

    Presiden Prabowo Subianto juga menempatkan investasi dan hilirisasi sebagai bagian penting dalam membangun kemandirian ekonomi nasional. Dalam pidato kenegaraan pada Agustus 2026, Presiden menyampaikan bahwa realisasi investasi semester I telah mencapai lebih dari Rp1.010 triliun dan menciptakan lebih dari 1,4 juta lapangan kerja. Pemerintah melihat capaian tersebut sebagai bukti bahwa kepercayaan terhadap perekonomian Indonesia tetap terjaga meskipun lingkungan ekonomi global masih menghadapi berbagai tantangan.

    Selain hilirisasi berbasis sumber daya alam, pemerintah mulai memperluas perhatian kepada sektor ekonomi masa depan. Infrastruktur digital, pusat data, kecerdasan artifisial, energi bersih, manufaktur maju, dan mineral kritis dipandang memiliki potensi besar untuk menjadi sumber pertumbuhan baru. Rosan menilai arah investasi global semakin bergerak menuju sektor-sektor tersebut sehingga Indonesia perlu mengambil posisi strategis agar tidak hanya menjadi pasar, tetapi juga menjadi tempat berlangsungnya produksi dan pengembangan teknologi.

    Pemerintah juga berupaya memastikan investasi tersebar lebih merata di berbagai wilayah Indonesia. Jakarta tetap menjadi salah satu pusat investasi utama, tetapi pemerintah terus mendorong kawasan ekonomi khusus, kawasan industri, dan pusat pertumbuhan baru di luar Pulau Jawa. Strategi tersebut bertujuan memperluas kesempatan ekonomi sekaligus mengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah. Dengan investasi yang lebih tersebar, manfaat pembangunan diharapkan dapat dirasakan oleh masyarakat di berbagai daerah.

    Dari sisi kebijakan ekonomi, pemerintah telah menyiapkan sejumlah stimulus untuk menjaga momentum pertumbuhan pada semester II 2026. Kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga daya beli, mendukung dunia usaha, memperkuat penciptaan lapangan kerja, serta mempertahankan stabilitas ekonomi. Sinergi antara kebijakan fiskal, moneter, investasi, dan sektor riil menjadi penting agar arus modal yang masuk dapat segera diterjemahkan menjadi kegiatan ekonomi produktif.

    Investasi nasional bukan sekadar angka realisasi penanaman modal, tetapi instrumen untuk memperbesar kapasitas ekonomi Indonesia. Ketika investasi diarahkan pada sektor produktif, hilirisasi, manufaktur, energi, teknologi, dan pembangunan wilayah, manfaatnya dapat mengalir melalui penciptaan lapangan kerja, peningkatan produktivitas, pertumbuhan usaha lokal, serta bertambahnya nilai tambah di dalam negeri. Dengan menjaga kepercayaan investor dan mempercepat realisasi proyek, pemerintah optimistis investasi dapat menjadi salah satu pengungkit utama untuk mempertahankan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada semester II 2026 sekaligus memperkuat fondasi menuju pertumbuhan jangka panjang.

    )* Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial dan Kemasyarakatan

  • Investasi dan Hilirisasi Jadi Mesin Baru Pertumbuhan Ekonomi RI

    Oleh Wiranti Anwar )*

    Indonesia tengah memasuki fase penting dalam perjalanan pembangunan ekonominya. Ketika konsumsi rumah tangga selama ini menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan, investasi kini menunjukkan peran yang semakin strategis sebagai mesin baru untuk memperkuat fondasi ekonomi nasional. Pertumbuhan investasi yang terus terjaga membuka peluang penciptaan lapangan kerja, penguatan industri domestik, peningkatan produktivitas, serta pembentukan sumber-sumber pertumbuhan baru yang lebih berkelanjutan.

    Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) memiliki posisi penting dalam memastikan momentum tersebut tidak berhenti pada angka realisasi investasi. Penyederhanaan layanan perizinan, peningkatan kepastian hukum, serta fasilitasi penyelesaian berbagai hambatan investasi atau debottlenecking menjadi bagian penting dari upaya menciptakan iklim usaha yang lebih kompetitif. Investasi hanya akan memberikan dampak maksimal apabila proyek yang telah direncanakan dapat segera direalisasikan dan beroperasi secara optimal sehingga manfaat ekonominya dapat dirasakan masyarakat.

    Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan Roeslani menegaskan pentingnya kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, kementerian dan lembaga, serta berbagai pemangku kepentingan dalam mengawal pelaksanaan investasi. Pandangan tersebut menunjukkan bahwa investasi tidak dapat lagi diperlakukan semata-mata sebagai urusan administrasi perizinan. Keberhasilan investasi membutuhkan ekosistem yang terintegrasi, mulai dari kepastian regulasi, ketersediaan lahan dan infrastruktur, kesiapan tenaga kerja, akses energi, hingga kepastian pasar.

    Tantangan tersebut semakin relevan karena arah investasi global juga mengalami perubahan. Modal internasional kini semakin tertarik pada sektor-sektor strategis yang diperkirakan menentukan struktur perekonomian masa depan. Infrastruktur digital, kecerdasan buatan, energi bersih, manufaktur maju, teknologi, inovasi, serta mineral kritis menjadi sektor yang semakin penting. Rosan Roeslani melihat bahwa tahap berikutnya dari hilirisasi Indonesia tidak lagi hanya berfokus pada mineral dan pengolahannya, tetapi mulai bergerak menuju infrastruktur digital, teknologi, inovasi, dan industri masa depan.

    Perubahan arah tersebut harus ditangkap Indonesia secara serius. Keunggulan sumber daya alam memang menjadi modal penting, tetapi tidak cukup untuk menjamin daya saing dalam jangka panjang. Indonesia perlu mengubah posisi dari sekadar pemasok bahan mentah menjadi negara yang mampu menghasilkan produk bernilai tambah tinggi, menguasai teknologi, mengembangkan sumber daya manusia, dan membangun rantai pasok domestik yang kuat. Dengan demikian, investasi tidak hanya masuk ke Indonesia, tetapi juga berakar dan berkembang bersama industri nasional.

    Di sinilah peran Danantara dapat menjadi semakin strategis. Wakil Ketua Komite Tetap Perencanaan Pengembangan Energi Terbarukan Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Feiral Rizky Batubara menilai Danantara dapat berperan sebagai anchor investor dalam proyek-proyek berskala besar. Posisi tersebut dapat membuka ruang kolaborasi jangka panjang dengan perusahaan nasional melalui skema joint venture, co-investment, penyediaan barang dan jasa, serta keterlibatan perusahaan domestik dalam rantai pasok.

    Investasi berskala besar harus memiliki keterkaitan yang kuat dengan industri domestik sehingga menciptakan efek berganda bagi pemasok lokal, UMKM, tenaga kerja, dan industri pendukung. Momentum tersebut mulai terlihat dari 19 proyek hilirisasi yang telah melakukan groundbreaking dengan nilai sekitar Rp225 triliun. Proyek-proyek tersebut mencakup sektor mineral, energi, hingga agrikultur. Kehadiran proyek tersebut memperlihatkan bahwa strategi hilirisasi mulai bergerak dari konsep menuju implementasi.

    Secara makroekonomi, peran investasi juga semakin terlihat. Investasi tumbuh 6,87 persen pada kuartal II-2026, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang mencapai 5,06 persen. Pada periode yang sama, sektor hilirisasi tumbuh 6,9 persen. Sementara itu, realisasi investasi pada semester I-2026 mencapai Rp1.010,6 triliun dengan penyerapan 1,45 juta tenaga kerja langsung, meningkat 15 persen. Angka-angka tersebut memperlihatkan bahwa investasi telah menjadi salah satu penggerak penting aktivitas ekonomi nasional.

    Ekonom Senior Didik J. Rachbini juga menilai perbaikan iklim investasi menjadi salah satu faktor yang dapat memperkuat fondasi nilai tukar rupiah dalam jangka panjang, terutama ketika ruang kebijakan moneter menghadapi berbagai persoalan struktural. Arus investasi asing dapat menjadi sumber devisa yang memperkuat sektor eksternal Indonesia. Karena itu, peningkatan daya tarik Indonesia sebagai tujuan investasi bukan hanya berkaitan dengan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga dengan ketahanan ekonomi nasional.

    Ke depan, reformasi perizinan harus terus berjalan, kepastian hukum perlu diperkuat, dan koordinasi pusat-daerah harus semakin efektif. Pada saat yang sama, perusahaan nasional juga dipersiapkan agar mampu menjadi mitra utama dalam berbagai proyek strategis. Jika modal yang masuk mampu bertemu dengan kapasitas industri domestik, investasi akan menghasilkan efek berantai yang jauh lebih besar.

    Menjadikan investasi sebagai mesin baru pertumbuhan adalah bagaimana modal tersebut diubah menjadi produktivitas, lapangan kerja, teknologi, nilai tambah, dan daya saing. Indonesia memiliki pasar yang besar, sumber daya alam yang melimpah, serta posisi strategis dalam perekonomian kawasan. Dengan iklim investasi yang semakin pasti dan strategi hilirisasi yang tepat, modal tersebut dapat dikonversi menjadi kekuatan ekonomi baru. Investasi yang berkualitas akan menjadi fondasi bagi pertumbuhan Indonesia yang lebih kuat, inklusif, dan berkelanjutan.

    )* penulis merupakan pengamat kebijakan ekonomi

  • Pemerintah Perketat Disiplin Kepala SPPG untuk Perkuat Keamanan Pangan MBG

    JAKARTA — Pemerintah memperketat disiplin kepala Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) sebagai bagian dari upaya memperkuat keamanan pangan dan memastikan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) berjalan sesuai standar operasional prosedur (SOP).

    Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, mengatakan kepala SPPG merupakan penanggung jawab utama operasional dapur sehingga wajib hadir pada jam-jam krusial untuk memastikan seluruh tahapan pengolahan makanan berjalan sesuai ketentuan.

    “Dia kan pemimpin di dapur itu, harus memastikan SOP dijalankan. Maka, kami telah mengeluarkan surat edaran bahwa jam ASN PPPK kepala SPPG adalah jam operasional dapur, dari pukul 02.00 hingga 08.00 pagi, ditambah dua jam lagi saat penerimaan bahan baku di sore hari,” kata Sudaryono.

    Menurutnya, kehadiran kepala SPPG penting untuk mengawasi secara langsung penerimaan bahan baku, proses pengolahan makanan, kebersihan dapur, hingga kesiapan makanan sebelum didistribusikan kepada penerima manfaat.

    Sudaryono menyebut sejumlah persoalan yang terjadi sebelumnya berkaitan dengan ketidakdisiplinan dalam menjalankan prosedur, termasuk kepala SPPG yang tidak berada di lokasi ketika dapur beroperasi. Karena itu, BGN menyiapkan sanksi tegas bagi kepala SPPG yang tidak memenuhi kewajibannya.

    “Kalau Anda tidak hadir di jam kerja selama 10 hari berturut-turut tanpa adanya keterangan, itu ancamannya pemberhentian dengan tidak hormat,” tegasnya.

    Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan 66 pegawai BGN yang baru diberhentikan terbukti tidak disiplin dalam menjalankan kewajiban sebagai pegawai pemerintah dengan perjanjian kerja (PPPK).

    “Enggak disiplin, enggak ngantor, enggak datang ke kantor. Mereka kan P3K, kalau enggak ngantor berapa kali itu harus diberhentikan,” ujar Zulkifli.

    Zulkifli menegaskan pemerintah terus melakukan perbaikan agar pelaksanaan MBG tidak hanya berorientasi pada perluasan jumlah SPPG dan penerima manfaat, tetapi juga menjamin kualitas layanan.

    “Program MBG terus kita perbaiki. Bukan hanya mengejar jumlah SPPG atau penerima manfaat, tetapi yang paling penting kualitas pelaksanaannya harus terjaga. Standar harus dipenuhi dan aturan harus dipatuhi. Kalau tidak memenuhi persyaratan, kita tindak tegas,” katanya.

    Penguatan disiplin dan pengawasan di tingkat SPPG diharapkan memastikan seluruh proses penyediaan MBG berjalan sesuai SOP, sehingga keamanan pangan dan kualitas layanan kepada masyarakat semakin terjamin.