Kategori: Uncategorized

  • Kebijakan Fiskal Ekspansif Jadi Harapan Baru Stabilitas dan Pertumbuhan Ekonomi

    JAKARTA — Pemerintah terus memperkuat langkah menjaga stabilitas dan mempercepat pertumbuhan ekonomi melalui kebijakan fiskal ekspansif yang dipimpin Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa.

    Pendekatan tersebut menjadi sinyal optimisme baru di tengah dinamika global yang menekan perekonomian banyak negara.

    Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan, strategi fiskal ekspansif diarahkan untuk memperkuat fondasi pertumbuhan yang berkelanjutan.

    “APBN berperan menjaga daya beli masyarakat dan mendukung dunia usaha agar lebih berdaya saing di tingkat global,” ujar Purbaya.

    Ia menjelaskan bahwa percepatan belanja negara serta penempatan dana pemerintah sebesar Rp200 triliun di bank-bank Himbara telah memberi dorongan nyata bagi aktivitas ekonomi domestik.

    “Kebijakan fiskal yang ekspansif diarahkan untuk memperkuat fondasi pertumbuhan, tidak hanya menjaga konsumsi tapi juga menciptakan ruang investasi baru,” tegasnya.

    Capaian pertumbuhan ekonomi 5,04 persen pada kuartal III-2025 menjadi bukti bahwa mesin ekonomi nasional tetap bergerak positif.

    Pemerintah mencatat penciptaan 1,9 juta lapangan kerja baru dan penurunan tingkat pengangguran menjadi 4,85 persen.

    Pertumbuhan ini ditopang oleh konsumsi rumah tangga, investasi, serta peningkatan ekspor barang dan jasa.

    Anggota Komisi XI DPR RI Fraksi PKB, Hasanuddin Wahid atau Cak Udin, menilai langkah Menkeu Purbaya sangat strategis dalam menjaga stabilitas fiskal sekaligus mendorong kemandirian ekonomi.

    “Pertumbuhan ekonomi 8 persen yang menjadi target nasional bukan sekadar angka. Itu butuh langkah nyata dan strategi cermat. Menkeu harus mampu memadukan kebijakan fiskal yang ekspansif tapi tetap sehat,” kata Cak Udin di Jakarta.

    Ia menambahkan, penting bagi pemerintah untuk mengoptimalkan potensi ekonomi dalam negeri tanpa ketergantungan berlebihan pada utang luar negeri.

    Sementara itu, Ketua Umum Perkumpulan Analis Efek Indonesia, Dr. David Sutyanto, CSA, menyebut kebijakan ekspansif Purbaya dan sinergi erat dengan Bank Indonesia telah menyalakan optimisme pasar.

    “Pemerintah tidak lagi menahan diri, melainkan mengadopsi sikap ekspansif. Dana sebesar 200 triliun rupiah yang sebelumnya mengendap di Bank Indonesia digeser ke bank-bank milik negara agar bisa segera disalurkan menjadi kredit,” jelas David.

    Menurutnya, langkah fiskal tersebut menjadi titik awal era ekonomi ekspansif di bawah pemerintahan Presiden Prabowo Subianto—sebuah fase baru yang memberi harapan bahwa pertumbuhan ekonomi dapat berlangsung lebih panjang, stabil, dan inklusif bagi seluruh rakyat Indonesia. (*)

  • Publik Sambut Positif Kebijakan Fiskal Ekspansif Pemerintah

    JAKARTA — Kebijakan fiskal ekspansif yang dijalankan oleh pemerintah di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto mendapat sambutan positif dari berbagai kalangan.

    Publik menilai langkah pemerintah memperluas ruang fiskal menjadi sinyal kuat pemulihan dan pemerataan ekonomi nasional.

    Wakil Ketua DPD RI, Tamsil Linrung, menilai kebijakan fiskal pemerintah menunjukkan keberpihakan terhadap daerah dan masyarakat kecil.

    “Arsitektur fiskal satu tahun terakhir menunjukkan keberpihakan yang kian kuat kepada daerah. Pemerintah berupaya agar anggaran tidak berhenti di pusat, melainkan mengalir langsung ke daerah supaya manfaatnya segera dirasakan masyarakat,” ujarnya di Jakarta.

    Menurut Tamsil, strategi tersebut menjadi langkah penting agar manfaat program nasional benar-benar sampai ke bawah.

    Ia mencontohkan, peningkatan Nilai Tukar Petani (NTP) sepanjang tahun terakhir menunjukkan dampak positif kebijakan fiskal terhadap ekonomi rakyat.

    “Program Makan Bergizi Gratis bukan hanya memberi makan, tapi juga menghidupkan ekonomi lokal,” tegasnya.

    Tamsil menilai desain fiskal pemerintahan Prabowo mencerminkan ideologi pembangunan pro-rakyat dengan fokus sektor riil seperti ketahanan pangan, koperasi desa, dan UMKM.

    “Negara sedang menata ulang distribusi kesejahteraan agar manfaat pembangunan lebih nyata hingga ke pelosok,” tambahnya.

    Sementara itu, Direktur Eksekutif Indonesia Political Opinion (IPO), Dedi Kurnia Syah, menuturkan hasil survei menunjukkan mayoritas masyarakat mendukung kebijakan ekonomi pemerintah.

    “Angka kepuasan yang tinggi ini menunjukkan bahwa masyarakat masih memiliki harapan terhadap kepemimpinan Presiden Prabowo,” ujarnya.

    Survei IPO Mei 2025 mencatat 71 persen masyarakat mendukung efisiensi anggaran, dan 68 persen menilai Makan Bergizi Gratis berjalan baik.

    Bahkan, tingkat kepuasan terhadap kinerja Presiden 81 persen, mencerminkan optimisme arah ekonomi nasional.

    Dari sisi kinerja ekonomi, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,04 persen (yoy) pada kuartal III-2025 menjadi bukti kebijakan fiskal ekspansif berjalan efektif.

    “APBN berperan menjaga daya beli masyarakat dan mendukung dunia usaha agar lebih berdaya saing di tingkat global,” katanya.

    Purbaya menjelaskan, kebijakan fiskal yang ekspansif memperkuat fondasi pertumbuhan melalui peningkatan konsumsi, investasi, dan ekspor.

    “Kebijakan fiskal yang ekspansif diarahkan untuk memperkuat fondasi pertumbuhan, tidak hanya menjaga konsumsi tapi juga menciptakan ruang investasi baru,” terangnya.

    Secara keseluruhan, publik menilai kebijakan fiskal pemerintah mampu menjaga stabilitas sekaligus memperkuat fondasi ekonomi nasional.

    Harapan besar tumbuh agar strategi fiskal pro-rakyat tersebut berlanjut demi kesejahteraan di seluruh Indonesia. (*)

  • Negara Akui Jasa Besar Soeharto Pahlawan Nasional dari Era Pembangunan

    Oleh: Ayu Safira Lestari

    Pemerintah resmi menetapkan Presiden ke-2 Republik Indonesia, H. M. Soeharto, sebagai Pahlawan Nasional. Keputusan ini menandai babak penting dalam sejarah bangsa Indonesia, sekaligus mempertegas pengakuan negara atas jasa besar seorang pemimpin yang telah meletakkan fondasi pembangunan nasional dan menjaga stabilitas politik selama lebih dari tiga dekade kepemimpinannya.

    Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto dinilai berbagai kalangan sebagai bentuk apresiasi negara terhadap dedikasi dan kontribusinya dalam membangun Indonesia dari masa pasca-kemerdekaan menuju era pembangunan modern. Soeharto tidak hanya dikenal sebagai sosok yang menata kembali ekonomi nasional, tetapi juga sebagai pemimpin yang berhasil menciptakan stabilitas politik serta memperkuat keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).

    Penetapan gelar tersebut juga menjadi penegasan terhadap penghargaan yang telah diberikan oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) melalui TAP MPR No. V/MPR/1983 yang menetapkan Soeharto sebagai “Bapak Pembangunan Indonesia.” Dalam keputusan tersebut, MPR menilai Soeharto telah berhasil meletakkan dasar yang kuat bagi pembangunan nasional berkelanjutan melalui program Pembangunan Lima Tahun (Repelita), yang mencakup sektor ekonomi, pendidikan, kesehatan, dan infrastruktur.

    Bagi banyak kalangan, penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto adalah bentuk pengakuan atas warisan kebijakan yang masih dirasakan hingga kini. Ia dianggap sebagai pemimpin yang mampu menyeimbangkan antara pembangunan ekonomi dan sosial, sekaligus menjaga arah pembangunan agar tetap berpihak pada rakyat kecil.

    Dukungan terhadap penganugerahan ini datang dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk dari kalangan petani yang menjadi salah satu kelompok paling merasakan langsung kebijakan ekonomi dan pertanian di masa Orde Baru. Ketua Umum Asosiasi Petani Karet Indonesia (Apkarindo), Irfan Ahmad Fauzi, menilai bahwa kebijakan-kebijakan di era Soeharto berhasil membawa perubahan besar bagi petani, terutama melalui program-program peningkatan produktivitas dan pemerataan kesejahteraan.

    Menurut Irfan, berbagai inisiatif yang dijalankan di masa kepemimpinan Soeharto seperti Program Peremajaan Perkebunan Rakyat (PRPTE) dan Perkebunan Inti Rakyat (PIR) telah membuka peluang bagi jutaan petani untuk memperbaiki taraf hidupnya. Ia menjelaskan bahwa melalui pendekatan tersebut, negara tidak hanya berfokus pada peningkatan hasil produksi, tetapi juga menciptakan sistem ekonomi yang lebih inklusif di pedesaan.

    Irfan menilai bahwa Soeharto memiliki visi jauh ke depan dengan menekankan pentingnya infrastruktur pertanian dan pedesaan. Pembangunan jalan produksi, sistem irigasi, serta jaringan distribusi yang dilakukan pada masa Orde Baru, menurutnya, telah memberikan dampak jangka panjang bagi pemerataan ekonomi di berbagai daerah. Ia menambahkan bahwa banyak wilayah yang dulunya terisolasi kini dapat berkembang pesat berkat kebijakan pembangunan yang terarah pada masa kepemimpinan Soeharto.

    Kalangan petani menilai penghargaan negara ini sebagai langkah yang tepat dan pantas, mengingat Soeharto telah mendedikasikan sebagian besar hidupnya untuk memajukan sektor yang menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia. Pemberian gelar Pahlawan Nasional ini dinilai sebagai simbol penghargaan terhadap kerja keras seorang pemimpin yang berhasil membawa kesejahteraan nyata ke tingkat akar rumput.

    Dukungan serupa juga datang dari kalangan tokoh agama. Ketua Bidang Garapan Siyasah dan Kebijakan Publik Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP Persis), Muslim Mufti, memandang bahwa Soeharto adalah sosok pemimpin yang tidak hanya berperan dalam pembangunan ekonomi, tetapi juga seorang pejuang kemerdekaan yang turut mempertahankan kedaulatan bangsa. Ia menilai bahwa keterlibatan Soeharto dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 membuktikan bahwa dedikasinya kepada negara telah dimulai jauh sebelum ia menjadi presiden.

    Menurut Muslim, Soeharto memberikan pelajaran penting tentang kepemimpinan yang berpijak pada kepentingan rakyat dan semangat pengabdian. Ia melihat sosok Soeharto sebagai figur yang mampu melanjutkan semangat perjuangan nasional dari era revolusi kemerdekaan menuju era pembangunan. Dalam pandangan Persis, penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto mencerminkan penghargaan terhadap kesinambungan perjuangan bangsa—bahwa pembangunan dan kemerdekaan merupakan dua sisi dari semangat yang sama untuk menegakkan kedaulatan Indonesia.

    Muslim juga menilai bahwa penetapan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional seharusnya menjadi momentum bagi bangsa untuk menilai sejarah secara lebih dewasa dan berimbang. Ia menilai bahwa tidak ada pemimpin yang tanpa kekurangan, namun jasa besar Soeharto dalam membangun Indonesia modern layak mendapat tempat terhormat dalam catatan sejarah bangsa.

    Dari sisi pemerintahan, Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menilai bahwa keputusan pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto telah melalui proses panjang dan pertimbangan matang. Menurutnya, Soeharto adalah sosok yang memiliki kontribusi besar dalam menciptakan fondasi ekonomi nasional dan mewujudkan kemandirian pangan. Ia menilai bahwa keberhasilan Soeharto dalam mencapai swasembada pangan, menekan angka kemiskinan, dan memperluas akses pendidikan menjadi alasan kuat di balik pemberian penghargaan tersebut.

    Gibran juga menilai bahwa penghargaan ini mencerminkan kedewasaan bangsa Indonesia dalam menghormati pemimpin terdahulu. Ia menekankan pentingnya menilai setiap masa kepemimpinan secara objektif, dengan memahami konteks dan tantangan yang berbeda di setiap era. Dalam pandangannya, bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menghargai sejarah dan belajar dari perjalanan para pemimpinnya tanpa terjebak pada penilaian hitam-putih.

    Menurut Gibran, pemberian gelar ini juga menjadi simbol rekonsiliasi sejarah—sebuah langkah moral untuk melihat masa lalu secara utuh dan menempatkan setiap tokoh bangsa pada proporsi yang tepat. Ia menilai bahwa penghormatan terhadap Soeharto sebagai Pahlawan Nasional merupakan wujud rasa terima kasih bangsa atas jasa seorang pemimpin yang telah membawa perubahan nyata bagi rakyat.

    Momentum penetapan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional dipandang banyak kalangan sebagai refleksi dari perjalanan panjang bangsa Indonesia dalam meneguhkan identitas nasional dan semangat pembangunan. Peringatan Hari Pahlawan tahun ini menjadi momen penting, tidak hanya untuk mengenang jasa para pejuang kemerdekaan, tetapi juga untuk menegaskan arti kepemimpinan yang visioner dan berdampak bagi kesejahteraan rakyat.

    Warisan kebijakan Soeharto masih hidup dalam berbagai aspek kehidupan masyarakat Indonesia. Infrastruktur pedesaan yang dibangun pada masa pemerintahannya menjadi tulang punggung konektivitas ekonomi hingga kini. Program pendidikan dasar dan pembangunan sarana kesehatan yang dikembangkan pada era tersebut turut berperan besar dalam menciptakan generasi penerus bangsa yang lebih maju.

    Lebih dari sekadar mengenang, penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto menjadi bentuk penghargaan konkret bangsa Indonesia terhadap visi, keteguhan, dan pengabdian seorang tokoh pembangunan nasional. Di tengah dinamika zaman, jejak tangan Soeharto masih terasa dalam struktur sosial dan ekonomi bangsa—menjadi bukti bahwa pembangunan yang ia rintis telah menorehkan bab penting dalam perjalanan Indonesia menuju kemajuan.

    Dengan gelar Pahlawan Nasional yang kini resmi disematkan, bangsa Indonesia tidak hanya memberi penghormatan kepada seorang pemimpin masa lalu, tetapi juga menegaskan komitmen untuk melanjutkan semangat pembangunan yang berpihak pada rakyat sebagaimana diwariskan oleh Soeharto. (*)

    Pengamat Politik Nasional – Forum Politik Mandala Raya

  • Gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto, Pengakuan atas Jasa dalam Membangun Negeri

    Oleh: Bagas Pratama Adi

    Pemerintah telah secara resmi menetapkan Presiden ke-2 Republik Indonesia, H. M. Soeharto, sebagai Pahlawan Nasional. Keputusan tersebut menjadi salah satu penanda yang penting dalam sejarah bangsa, yakni adanya sebuah pengakuan atas jasa besar seorang pemimpin yang telah meletakkan dasar pembangunan ekonomi, pertanian, dan infrastruktur Indonesia modern.

    Penganugerahan itu bukan hanya bentuk penghormatan, melainkan juga simbol rekonsiliasi nasional yang menunjukkan kedewasaan bangsa dalam menilai sejarah secara berimbang dan objektif.

    Soeharto tidak hanya dikenal sebagai kepala negara yang memimpin selama 32 tahun, tetapi juga sebagai tokoh yang berperan penting dalam mempertahankan kedaulatan Indonesia sejak masa revolusi.

    Kiprahnya dalam Serangan Umum 1 Maret 1949 tercatat sebagai salah satu momentum penting dalam sejarah perjuangan bangsa yang memaksa Belanda mengakui kedaulatan Indonesia. Dengan latar perjuangan itu, penghargaan yang diberikan negara kini menjadi penegasan terhadap warisan kontribusi yang telah dibangun sepanjang perjalanan hidupnya.

    Menko Infrastruktur sekaligus Ketua Umum Partai Demokrat, Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), menyebut keputusan pemerintah sebagai langkah penting dalam menyatukan sejarah bangsa.

    Ia menilai bahwa penghargaan kepada Soeharto dan Presiden ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur) merupakan bukti kedewasaan bangsa yang berani menghormati jasa para pemimpin tanpa menafikan sisi lain perjalanan mereka. Bagi AHY, bangsa yang besar adalah bangsa yang tidak melupakan jasa pendahulunya, sebab dari fondasi mereka-lah negeri ini terus berdiri dan berkembang.

    AHY juga menilai keputusan tersebut sebagai momentum memperkuat silaturahmi kebangsaan di tengah dinamika politik yang terus bergerak. Semangat rekonsiliasi dan penghargaan terhadap tokoh bangsa dinilai akan memperkokoh kebersamaan serta menumbuhkan optimisme menuju masa depan Indonesia yang lebih baik. Ia mengingatkan bahwa pengakuan terhadap jasa para pemimpin terdahulu mencerminkan kematangan politik dan kedewasaan bangsa dalam menilai sejarah secara utuh dan adil.

    Dalam pandangannya, setiap era memiliki tantangan dan konteksnya masing-masing. Ia mencontohkan bagaimana Susilo Bambang Yudhoyono (SBY), saat menjabat sebagai Presiden ke-6 RI, pernah menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden pertama, Soekarno, pada tahun 2012.

    Meski keputusan itu menimbulkan perdebatan, langkah SBY diambil karena pandangan yang komprehensif terhadap jasa besar sang proklamator bagi republik. Dengan semangat yang sama, penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto dianggap sebagai upaya melanjutkan tradisi penghormatan terhadap pemimpin yang berjasa besar bagi bangsa.

    Dari perspektif akademisi, Sahmin Madina dari IAIN Gorontalo menilai bahwa penetapan gelar tersebut menunjukkan kematangan politik bangsa dalam berdamai dengan masa lalu. Menurutnya, sebagian pihak yang masih menolak penghargaan tersebut memperlihatkan bahwa luka sejarah belum sepenuhnya disembuhkan. Namun, bangsa yang besar seharusnya mampu mengakui masa lalunya secara objektif—baik sisi cemerlang maupun sisi kelamnya.

    Sahmin memandang Soeharto sebagai bagian integral dari perjalanan sejarah Indonesia. Ia menilai bahwa peran besar Soeharto dalam membangun ekonomi, memperkuat ketahanan pangan, serta menjaga stabilitas nasional tidak bisa dihapus dari catatan bangsa.

    Pendekatan dendam terhadap masa lalu hanya akan memperpanjang perpecahan, sedangkan sikap rekonsiliatif justru memperkuat fondasi kebangsaan. Ia menyebut bahwa langkah pemerintah dalam memberikan gelar pahlawan kepada Soeharto menunjukkan politik berjiwa besar, sebagaimana yang pernah dicontohkan Gus Dur saat memulihkan kehormatan para tokoh yang dulu dianggap lawan.

    Bagi Sahmin, penghormatan terhadap Soeharto tidak perlu dimaknai sebagai pembenaran atas seluruh kebijakannya di masa Orde Baru, melainkan sebagai pengakuan objektif terhadap jasa-jasanya dalam membangun negeri.

    Ia menekankan bahwa bangsa yang matang tidak menutup mata terhadap sejarahnya, melainkan mengakui jasa, mengoreksi kesalahan, dan melangkah ke depan dengan kebesaran hati. Momentum penganugerahan tersebut seharusnya menjadi ajang refleksi untuk menegaskan kedewasaan bangsa dalam memandang sejarah secara bijak dan beradab.

    Sementara itu, Ketua PP Muhammadiyah Bidang Pustaka, Informatika, dan Digitalisasi, Dadang Kahmad, menilai bahwa kiprah Soeharto tidak hanya tercatat pada masa kepemimpinannya sebagai presiden, tetapi juga sejak masa perjuangan kemerdekaan. Ia menegaskan bahwa Soeharto berjasa besar dalam memperkuat fondasi pembangunan nasional di berbagai sektor, mulai dari pertanian, pendidikan, hingga infrastruktur desa.

    Menurut Dadang, ormas-ormas keagamaan memandang penganugerahan gelar tersebut sebagai bagian dari rekonsiliasi sejarah nasional. Ia menilai sudah saatnya bangsa Indonesia menempatkan penilaian terhadap tokoh-tokoh besar secara adil dan proporsional tanpa terjebak dalam bias politik masa lalu.

    Penghargaan terhadap jasa Soeharto, dalam pandangannya, bukan hanya penghormatan terhadap masa lampau, melainkan juga warisan nilai bagi generasi penerus dalam membangun negeri dengan semangat pengabdian yang sama.

    Pemberian gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto akhirnya menandai babak baru dalam perjalanan bangsa. Pengakuan negara atas jasanya menjadi simbol bahwa Indonesia telah sampai pada fase kematangan dalam menilai sejarahnya sendiri.

    Dari pembangunan pertanian hingga stabilisasi ekonomi, dari perjuangan fisik di masa revolusi hingga penataan kebijakan pembangunan nasional, seluruh kontribusi Soeharto telah membentuk wajah Indonesia yang dikenal saat ini.

    Dengan penganugerahan gelar tersebut, bangsa Indonesia bukan sekadar mengenang seorang pemimpin masa lalu, melainkan menegaskan bahwa jasa dalam membangun negeri layak dihormati lintas zaman. (*)

    Analis Politik Nasional – Forum Kajian Demokrasi Indonesia

  • Apresiasi Negara atas Dedikasi Pembangunan: Soeharto Resmi Dianugerahi Gelar Pahlawan Nasional

    JAKARTA — Pemerintah resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 Republik Indonesia, H. M. Soeharto, sebagai bentuk apresiasi negara atas dedikasinya yang luar biasa dalam membangun fondasi ekonomi, infrastruktur, dan ketahanan nasional. Penganugerahan ini menjadi momentum penting dalam menghargai jasa besar Soeharto sebagai sosok pemimpin yang telah menorehkan jejak mendalam dalam sejarah pembangunan Indonesia.

    Penghargaan ini juga menegaskan kembali pengakuan negara terhadap peran Soeharto sebagai Bapak Pembangunan, sebagaimana telah ditetapkan Majelis Permusyawaratan Rakyat (MPR) pada tahun 1982 atas keberhasilannya dalam mewujudkan swasembada pangan dan menjalankan program Pembangunan Lima Tahun (Repelita) yang menjadi fondasi kemajuan nasional di berbagai sektor.

    Anggota DPR Fraksi Partai Golkar asal Papua, Robert J. Kardinal, menyambut positif keputusan pemerintah tersebut. Ia menilai Soeharto memiliki jasa strategis yang tak ternilai dalam menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), terutama melalui kiprahnya dalam pembebasan Irian Barat dari Belanda.

    “Soeharto layak dianugerahi gelar Pahlawan Nasional atas jasa dan peran strategisnya dalam pembebasan Irian Barat (kini Papua) dari kekuasaan Belanda pada awal 1960-an,” tegas Robert di Jakarta.

    Robert menjelaskan, saat menjabat sebagai Panglima Mandala, Soeharto memimpin Operasi Mandala yang berhasil menekan posisi Belanda hingga tercapainya Perjanjian New York tahun 1962, yang menjadi tonggak kembalinya Irian Barat ke pangkuan Indonesia. Keberhasilan itu, katanya, merupakan bukti kemampuan Soeharto memadukan kekuatan militer dan diplomasi secara strategis.

    “Program transmigrasi yang beliau jalankan juga berperan penting dalam pemerataan kesejahteraan dan memperkuat integrasi nasional, khususnya di wilayah timur seperti Papua,” tambahnya.

    Dukungan senada disampaikan Sekretaris Jenderal DPP Angkatan Muda Satkar Ulama Indonesia (AMSI), Azrizal Nasri, yang menilai bahwa kepemimpinan Soeharto tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga pembangunan manusia Indonesia seutuhnya.

    “Soeharto bukan hanya membangun jalan dan gedung, tetapi juga membangun peradaban manusia Indonesia,” ujarnya.

    Azrizal menjelaskan, melalui kebijakan pendidikan dasar sembilan tahun dan dukungannya terhadap organisasi sosial keagamaan seperti Satkar Ulama Indonesia, Soeharto berupaya menanamkan keseimbangan antara pembangunan spiritual, moral, dan ekonomi bangsa.

    “Soeharto berhasil menjaga keseimbangan antara agama dan negara. Figur seperti ini layak dikenang dan dihormati sebagai pahlawan nasional,” tegasnya.

    Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menilai penganugerahan gelar tersebut mencerminkan kedewasaan bangsa dalam menghargai jasa para pemimpin terdahulu. Menurutnya, penghargaan ini menjadi bukti bahwa Indonesia adalah bangsa yang menghormati sejarah dan jasa pengabdiannya.

    “Kita harus menghargai jasa para pemimpin kita seperti Pak Soeharto, Pak BJ Habibie, dan Gus Dur. Mereka semua telah memberikan kontribusi besar bagi bangsa ini dan layak menjadi pahlawan nasional,” ujarnya.

    Penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto menjadi simbol penghormatan negara terhadap dedikasi seorang pemimpin yang mengabdikan hidupnya bagi kemajuan dan kedaulatan Indonesia.

    Warisan pembangunan Soeharto — mulai dari swasembada pangan, modernisasi pertanian, hingga penguatan sektor pendidikan dan pemerataan ekonomi — menjadi fondasi kuat bagi Indonesia menuju masa depan yang lebih mandiri dan berdaya saing.

    Melalui langkah ini, bangsa Indonesia menegaskan bahwa menghargai jasa pemimpin bukan sekadar mengenang masa lalu, tetapi juga mengukuhkan semangat persatuan dan pembangunan berkelanjutan yang diwariskan bagi generasi penerus bangsa. (*)

  • Elemen Masyarakat Apresiasi Gelar Pahlawan Nasional untuk Soeharto Warisan Pembangunan Diakui Negara

    Jakarta – Bertepatan dengan peringatan Hari Pahlawan, pemerintah resmi menganugerahkan gelar Pahlawan Nasional kepada Presiden ke-2 Republik Indonesia, H. M. Soeharto. Keputusan ini disambut luas oleh berbagai elemen masyarakat sebagai bentuk penghargaan terhadap jasa besar Soeharto dalam membangun fondasi ekonomi, pertanian, dan stabilitas nasional yang menjadi warisan berharga bagi bangsa hingga hari ini.

    Ketua Umum Aliansi Indonesia Timur, Emanuel Mikael Kota, menyatakan apresiasinya terhadap langkah pemerintah tersebut. Ia menilai, penetapan Soeharto sebagai Pahlawan Nasional adalah wujud pengakuan negara terhadap jasa besar seorang pemimpin yang telah meletakkan dasar kuat bagi kemajuan Indonesia modern.

    “Soeharto bukan tanpa cela, tapi beliau juga bukan tanpa jasa. Beliau pemimpin yang melanjutkan estafet sejarah dari Soekarno, bukan pemutusnya,” ujarnya.

    Emanuel menegaskan bahwa bangsa yang besar adalah bangsa yang mampu menilai sejarah dengan kepala dingin dan hati yang dewasa. Ia mengingatkan agar masyarakat tidak terjebak dalam dendam politik yang justru berpotensi memecah persatuan nasional.

    “Kalau dendam terus dipelihara, nanti anak cucu kita belajar sakit hati, bukan belajar menghargai sejarah. Bangsa besar bukan bangsa tanpa luka, tapi bangsa yang bisa memaafkan dan terus melangkah,” tegasnya.

    Apresiasi serupa juga datang dari Wakil Ketua MPR RI, Eddy Soeparno, yang menilai bahwa penganugerahan ini merupakan momentum tepat untuk meneguhkan sikap bangsa yang menghargai para pemimpin atas kontribusi mereka terhadap republik.

    “Setiap kepala negara memiliki jasa kepada republik. Presiden Soeharto mengambil alih kepemimpinan saat ekonomi terpuruk dan berhasil menstabilkan kondisi tersebut. Itu fakta sejarah yang tidak bisa dihapus,” kata Eddy.

    Ia menambahkan, gelar Pahlawan Nasional bagi Soeharto menjadi simbol penghargaan atas dedikasi dalam membangun ekonomi nasional yang tangguh, yang kemudian menjadi pijakan bagi pertumbuhan jangka panjang.

    Sementara itu, Wakil Direktur Intelligence and National Security Studies (INSS), Yusup Rahman Hakim, menilai bahwa kebijakan strategis pada masa pemerintahan Soeharto memiliki dampak yang sangat besar terhadap pembangunan karakter bangsa dan ketahanan ekonomi.

    “Pembangunan sekolah dasar, reformasi administrasi pemerintahan, serta modernisasi pertanian menjadi warisan yang masih kita rasakan hingga kini. Itu bagian dari legacy pembangunan yang berkelanjutan,” ujarnya.

    Menurut Yusup, penganugerahan gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto bukan sekadar penghormatan simbolik, melainkan refleksi dari kesadaran kolektif bangsa untuk menilai sejarah secara utuh.

    “Bangsa ini sedang belajar berdamai dengan masa lalu. Menghormati jasa tokoh bangsa seperti Soeharto bukan berarti menutup mata terhadap kritik, tetapi mengakui kontribusi besar yang membentuk wajah Indonesia hari ini,” imbuhnya.

    Keputusan pemerintah memberikan gelar Pahlawan Nasional kepada Soeharto dinilai sebagai langkah moral sekaligus momentum persatuan. Pengakuan atas legacy pembangunan yang diwariskan Soeharto menjadi pengingat bahwa kemajuan bangsa tidak lepas dari kerja keras para pemimpinnya — dan penghormatan terhadap jasa mereka adalah bagian penting dari menjaga keutuhan Indonesia. (*)

  • Kehadiran MBG Membantu Menurunkan Risiko Gangguan Pertumbuhan Anak

    Oleh: Hana Widya Saraswati

    Upaya menghadirkan MBG sebagai program pemenuhan gizi terbukti memberi kontribusi besar dalam menurunkan risiko gangguan pertumbuhan anak, dan pembaca diajak melihat bagaimana berbagai pihak meyakini bahwa inisiatif ini bukan sekadar penyediaan makanan, tetapi fondasi jangka panjang bagi kualitas generasi muda. Pandangan dari para ahli gizi menunjukkan bahwa program ini layak mendapat dukungan lebih kuat agar hasilnya semakin optimal.

    Ketua Umum DPP Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi) Doddy Izwardy menilai bahwa standar yang diterapkan dalam penyelenggaraan MBG berdiri di atas pondasi ilmiah serta mekanisme pengawasan yang serius. Ia mengangkat kembali bahwa sebelum program ini dijalankan, para pakar gizi di Persagi telah menyampaikan sejumlah rekomendasi penting, terutama mengenai tata laksana MBG di lapangan.

    Keterlibatan ahli gizi dalam proses SPPG juga memastikan bahwa menu yang disusun bukan sekadar layak konsumsi, tetapi sesuai kebutuhan anak-anak di berbagai jenjang usia. Doddy mengingatkan bahwa Persagi memiliki lebih dari 53 ribu anggota yang tersebar di 35 DPD dan sekitar 500 kabupaten dan kota, serta komunikasi internal dilakukan secara berkala agar semua ahli gizi memahami standar pelaksanaan MBG.

    Penyesuaian menu MBG, menurut penegasan Persagi, telah dibuat berdasarkan angka kecukupan gizi sesuai usia anak. Pedoman tersebut juga sejalan dengan aturan angka kecukupan gizi harian yang tercantum dalam Permenkes. Doddy menggarisbawahi bahwa menu yang disajikan tidak boleh keluar dari unsur dasar pemenuhan gizi yang mencakup karbohidrat, protein, vitamin, dan mineral. Selain itu, proses quality control dianggap sebagai aspek mutlak. Pengawasan mencakup pemilihan bahan mentah, penyimpanan, pengolahan, pengemasan, hingga distribusi ke sekolah.

    Lebih jauh, Doddy menyoroti bahwa manfaat MBG tidak berhenti pada persoalan rasa kenyang. Ia mengamati perubahan perilaku konsumsi makanan sehat pada anak-anak sekolah sejak program ini berjalan. Menurutnya, anak-anak kini mendapat referensi baru tentang makanan sehat, sesuatu yang mungkin tidak mereka temui di rumah.

    Situasi makan bersama di sekolah membuat anak yang sebelumnya tidak menyukai sayuran menjadi lebih berani mencoba karena terpengaruh teman-temannya. Ia membandingkan fenomena itu dengan kondisi di Posyandu, di mana anak lebih bersemangat makan ketika melihat anak lain makan lahap. Bagi Doddy, aspek sosial semacam ini justru menjadi kunci penguatan pola makan sehat di lingkungan anak-anak.

    Doddy juga menegaskan bahwa MBG adalah kombinasi dari data empiris, penguatan SDM, serta pengawasan yang dilakukan para ahli. Ia memandang program ini bukan hanya sebagai solusi jangka pendek bagi masalah gizi, tetapi sebagai investasi jangka panjang yang akan menentukan kualitas generasi Indonesia di masa depan. Dengan dasar tersebut, ia mengajak publik melihat MBG sebagai bagian dari pembangunan kesehatan nasional, bukan sekadar proyek pemberian makanan sesaat.

    Sementara itu, ahli gizi Ni Ketut Sutiari memberikan pandangan mengenai pentingnya peran sekolah dalam penyelenggaraan MBG. Menurutnya, sekolah tidak boleh hanya menjadi penerima menu, tetapi harus terlibat sejak tahap paling awal, yaitu perencanaan menu dan pemilihan penyedia bahan makanan.

    Ia menekankan bahwa pemantauan kualitas makanan tidak cukup hanya pada proses pembagian kepada murid. Sekolah harus terlibat sejak perencanaan, pelaksanaan, hingga evaluasi. Mekanisme partisipatif semacam itu diyakininya dapat menjaga kualitas gizi tetap stabil dan sesuai standar. Pendapat ini ia sampaikan ketika menjelaskan bagaimana sekolah perlu memperkuat perannya dalam keseluruhan rantai penyelenggaraan program.

    Program MBG di sekolah dinilai menjadi salah satu solusi strategis dalam mendorong upaya penurunan angka stunting. Dengan memberikan akses makanan bergizi secara teratur, anak-anak memiliki kesempatan tumbuh lebih optimal dan produktif. Upaya ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah dalam mengatasi stunting, terutama di daerah yang masih mencatat angka permasalahan gizi cukup tinggi.

    Di Bali, pemerintah provinsi terus mempercepat penanganan stunting pada bayi dan balita. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2024, prevalensi stunting di Bali berada pada angka 8,7 persen. Angka tersebut menempatkan Bali sebagai provinsi dengan tingkat stunting terendah di Indonesia. Kepala Bidang Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Provinsi Bali dr. Putu Astri Dewi Miranti menyatakan bahwa lebih dari 75 persen target intervensi spesifik pencegahan stunting berhasil dicapai.

    Capaian ini menunjukkan bahwa proses penanganan berjalan efektif, meskipun ia menekankan bahwa intervensi spesifik hanya berkontribusi sekitar 30 persen dalam penanganan stunting. Sisanya, yaitu 70 persen, merupakan intervensi sensitif yang melibatkan berbagai perangkat daerah. Mulai dari penyediaan sanitasi, air bersih, jaminan kesehatan, hingga peningkatan pemahaman masyarakat mengenai stunting, semuanya menjadi faktor penentu.

    Dr. Astri menambahkan bahwa Pemerintah Provinsi Bali membentuk tim percepatan penanganan stunting dengan melibatkan seluruh perangkat daerah. Tim ini bertugas melaksanakan intervensi terpadu, baik pada aspek kesehatan maupun faktor pendukung lain yang mempengaruhi tumbuh kembang anak. Menurutnya, keberhasilan menurunkan angka stunting hanya dapat dicapai jika penanganan dilakukan secara menyeluruh dan terkoordinasi.

    Dengan rangkaian pandangan para ahli dan bukti keberhasilan yang sudah terlihat, program MBG layak diperluas dengan penguatan sistem dan pengawasan berkelanjutan. Jika masyarakat, sekolah, dan pemerintah bergerak dalam arah yang sama, maka upaya menciptakan generasi yang sehat dan berkualitas akan semakin nyata. Dukungan dan partisipasi aktif dari semua pihak menjadi kunci agar manfaat MBG tidak hanya dirasakan saat ini, tetapi juga menjadi investasi jangka panjang bagi masa depan anak-anak Indonesia.

    *)Konsultan Pemberdayaan Sosial – Sentra Kesejahteraan Nasional

  • MBG Hadir sebagai Solusi Gizi Dorong Kesejahteraan Keluarga

    Oleh: Arman Panggabean

    Program Makan Bergizi Gratis (MBG) semakin mengemuka sebagai bukti bahwa upaya peningkatan gizi dapat menjadi fondasi kesejahteraan keluarga dan masa depan bangsa. Program ini layak mendapat perhatian publik, bukan hanya untuk dipahami, tetapi juga untuk didukung bersama sebagai gerakan besar yang bertujuan membangun generasi Indonesia yang lebih kuat.

    Ketika masyarakat diajak melihat lebih dekat, terlihat bahwa MBG bukan sekadar inisiatif pemberian makanan, tetapi sebuah strategi jangka panjang yang menyatukan kepentingan kesehatan, pendidikan, hingga pemberdayaan ekonomi daerah. Karena itu, pembaca perlu ikut memahami mengapa program ini menjadi salah satu langkah penting menuju kesejahteraan keluarga Indonesia sekaligus masa depan Indonesia Emas 2045.

    Pandangan tersebut ditegaskan oleh Anggota Komisi VI DPR RI, Kawendra Lukistian, yang melihat MBG sebagai langkah konkret pemerintah dalam memperbaiki kualitas sumber daya manusia sejak usia dini. Ia menilai bahwa pemenuhan gizi seimbang bukan hanya kebutuhan biologis anak, tetapi investasi jangka panjang bagi kelangsungan bangsa.

    Menurut Kawendra, generasi yang tumbuh dengan asupan nutrisi memadai akan memiliki kesempatan lebih besar untuk menjadi generasi cerdas, produktif, dan siap bersaing di masa depan. Pesan yang ia sampaikan menegaskan bahwa pendidikan dan kesehatan memiliki hubungan erat, dan asupan gizi menjadi pondasi yang tak bisa diabaikan.

    Kawendra juga mengingatkan bahwa kesuksesan program ini membutuhkan keterlibatan publik. Baginya, dukungan masyarakat terhadap MBG adalah wujud kasih sayang terhadap bangsa dan generasi penerus. Ia menekankan bahwa program ini bukan sekadar bantuan makanan, melainkan sebuah gerakan besar menuju terwujudnya Indonesia Emas 2045. Karena itu, partisipasi orang tua, komunitas, lembaga pendidikan, hingga pengurus pesantren menjadi penentu apakah program ini dapat berjalan maksimal hingga menjangkau anak-anak yang membutuhkan.

    Pandangan ini turut diperkuat oleh Badan Gizi Nasional yang sejak awal terlibat dalam perancangan dan pengawasan program MBG. Dalam sebuah kegiatan sosialisasi, Kepala Subbagian Tata Usaha KPPG Jember, Suhaidi, memaparkan bahwa MBG merupakan bagian dari Asta Cita Presiden Prabowo Subianto untuk membangun generasi yang sehat, kuat, dan siap menghadapi tantangan masa depan. Ia menegaskan bahwa program ini tidak hanya berfokus pada distribusi makanan bergizi, tetapi juga membuka peluang ekonomi yang memberi dampak berantai pada masyarakat sekitar.

    Suhaidi menjelaskan bahwa pelaksanaan MBG melibatkan banyak unsur lokal, mulai dari dapur produksi, tenaga kerja dalam proses memasak dan pengemasan, hingga penggunaan bahan baku dari daerah. Semua elemen itu menciptakan putaran ekonomi yang menguntungkan masyarakat sekaligus mendukung keberlanjutan program. Penjelasan ini menunjukkan bahwa MBG tidak hanya berdampak pada kesehatan anak, tetapi juga mampu menggerakkan ekonomi di tingkat komunitas, sebuah nilai tambah yang jarang disadari publik.

    Dari sisi keilmuan, Ketua Umum DPP Persatuan Ahli Gizi Indonesia (Persagi), Doddy Izwardy, memberikan penegasan mengenai standar kualitas yang diterapkan dalam MBG. Ia menyampaikan bahwa sebelum program dilaksanakan, para ahli di Persagi telah terlibat memberikan rekomendasi terkait pelaksanaan teknis MBG agar sesuai kebutuhan gizi anak. Keterlibatan ahli gizi dalam tim Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memastikan bahwa menu yang disusun telah melalui kajian profesional dan memiliki komposisi nutrisi yang seimbang.

    Doddy juga menuturkan bahwa menu MBG sudah disesuaikan dengan angka kebutuhan gizi berdasarkan usia anak, mengikuti pedoman Permenkes mengenai kecukupan gizi harian. Selain itu, proses pengawasan dilakukan secara menyeluruh, mulai dari pemilihan bahan baku, penyimpanan, pengolahan, pengemasan, hingga distribusi makanan ke sekolah-sekolah.

    Ia mengingatkan bahwa kualitas makanan harus tetap terjaga agar aman dikonsumsi anak-anak. Standar quality control yang ketat diterapkan untuk memastikan tidak ada makanan yang tidak layak sampai ke meja anak-anak. Ketelitian inilah yang membuat MBG menjadi program yang bukan hanya masif, tetapi juga berkualitas.

    Lebih jauh, Doddy menjelaskan bahwa manfaat program MBG tidak berhenti pada pemenuhan gizi harian. Program ini berfungsi sebagai sarana edukasi dan pembentuk kebiasaan makan sehat sejak dini. Banyak anak yang sebelumnya tidak akrab dengan sayuran atau makanan sehat kini mulai mengenalnya karena disajikan dalam lingkungan yang menyenangkan.

    Melihat teman sebaya makan sayur atau mencoba menu baru membuat anak-anak lebih termotivasi. Fenomena ini mirip dengan suasana di Posyandu, ketika interaksi dengan sesama anak mendorong mereka menjadi lebih lahap. Menurut Doddy, aspek sosial ini menjadi faktor penting dalam membentuk pola makan yang lebih sehat dan berkelanjutan.

    Di tengah tantangan yang dihadapi bangsa, dari kesenjangan ekonomi hingga kualitas pendidikan, MBG hadir sebagai alternatif solusi yang menjangkau banyak lapisan masyarakat. Program ini memberikan contoh bahwa intervensi sederhana seperti pemberian makanan bergizi dapat membawa perubahan signifikan bagi masa depan anak-anak Indonesia. Karena itu, masyarakat perlu memahami betapa pentingnya peran mereka dalam mendukung keberlanjutan program ini.

    Pada akhirnya, MBG hadir sebagai langkah penting yang patut dijaga keberlangsungannya karena berpotensi menciptakan generasi muda Indonesia yang lebih kuat, sehat, dan berdaya saing. Dukungan dan kesadaran masyarakat menjadi kunci agar program ini tidak hanya berjalan, tetapi berkembang dan memberi dampak lebih luas. Melalui peran aktif semua pihak, kesejahteraan keluarga dan masa depan bangsa dapat dibangun dari langkah sederhana yang dimulai dari makanan bergizi di piring anak-anak.

    Pengamat Kebijakan Sosial – Lembaga Sosial Madani Institute

  • Pemerintah Lakukan Verifikasi Berlapis Jaga Kualitas Produk MBG

    Jakarta, Pemerintah menegaskan komitmennya menjaga mutu Program Makan Bergizi Gratis (MBG) melalui sistem verifikasi berlapis dari hulu ke hilir. Skema ini dirancang untuk memastikan setiap produk yang diterima peserta didik aman dikonsumsi, bergizi sesuai standar, serta tepat sasaran dan tepat waktu.

    Auditor Kepolisian Madya Itwasda Polda Papua, Kombes Sandi Sultan mengatakan yayasan Kemala Bhayangkari Polda Papua memastikan produk MBG lolos uji kualitas dan layak dikonsumsi karena sebelumnya telah diperiksa tim gizi. Sekolah yang dilayani berada di wilayah Distrik Jayapura Utara, Kota Jayapura, dan hingga saat ini makanan yang disiapkan memenuhi kebutuhan akan gizi.

    “Pihaknya memastikan produk MBG lolos uji kualitas dan layak dikonsumsi karena telah diperiksa oleh tim gizi. Sekolah yang kami layani, sejauh ini menerima sajian yang memenuhi kebutuhan gizi para siswa” katanya.

    Sementara itu, Badan Gizi Nasional (BGN) menjelaskan ada tiga lapis sistem untuk menjaga kualitas produk program MBG. Lapisan pertama mencakup pra-kualifikasi pemasok melalui pemeriksaan legalitas usaha, pemenuhan standar keamanan pangan, izin edar, serta kepatuhan terhadap sertifikasi kualitas dan kehalalan. Selain itu, dilakukan verifikasi sumber bahan baku, catatan asal-usul, dan kesiapan rantai dingin agar kualitas tetap terjaga sejak pengadaan hingga pengolahan.

    Lapisan kedua berfokus pada proses produksi dan distribusi. Pemerintah menerapkan uji sampling berkala organoleptik, mikrobiologi, dan kandungan gizi di laboratorium terakreditasi. Setiap batch produk wajib memiliki chain of custody yang terdokumentasi dan dilengkapi kode QR untuk memastikan traceability hingga titik layanan di sekolah. Mekanisme ini memudahkan pelacakan cepat jika ditemukan deviasi mutu.

    Lapisan ketiga adalah pengawasan lapangan. Tim lintas dinas melakukan audit rutin dan inspeksi mendadak, termasuk pengambilan sampel acak di dapur produksi, gudang, dan lokasi distribusi. Pemerintah menyiapkan kanal pengaduan terpadu dengan standar respons maksimal 1×24 jam, disertai sanksi bertingkat bagi pemasok yang melanggar, mulai dari peringatan hingga pemutusan kemitraan.

    Wakil Kepala BGN, Sony Sonjaya mengatakan verifikasi berlapis ini untuk menjaga kualitas produk MBG agar tetap terjaga dan aman dikonsumsi. BGN akan terus memperluas jangkauan Program MBG ke daerah lain secara bertahap. Tahap berikutnya akan dibuka kembali dengan mekanisme yang lebih terarah berdasarkan hasil pemetaan kebutuhan nasional.

    “Verifikasi berlapis berarti setiap produk MBG melewati rangkaian cek yang dapat ditelusuri kembali, sehingga tidak ada kompromi terhadap keamanan dan kandungan gizi,” ujarnya.

    Untuk memperkuat transparansi, pemerintah menyiapkan dashboard ringkas yang menampilkan jumlah sampel yang diuji, tingkat kepatuhan, temuan audit, serta tindakan korektif. Sekolah, komite orang tua, dan puskesmas dilibatkan dalam edukasi higienitas, food handling, dan literasi gizi agar kualitas terjaga sampai ke peserta didik.

    Sementara itu, Anggota Komisi VII DPR RI, Siti Mukaromah mengatakan program MBG tidak hanya berkaitan dengan pemenuhan gizi anak, tetapi juga berpotensi menjadi penggerak ekonomi masyarakat. Bila konsisten menggunakan produk dalam negeri, dampaknya dinilai dapat dirasakan langsung oleh pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM).

    “Jadi harapan agar program MBG melahirkan multiplier effect dalam mengerahkan roda pertumbuhan ekonomi bisa terwujud,” tuturnya.

    Pemerintah mengundang partisipasi publik dalam pengawasan bersama. Masyarakat dapat menyampaikan masukan dan laporan melalui kanal resmi yang tersedia. Dengan verifikasi berlapis, MBG ditargetkan memenuhi prinsip Aman, Sehat, Tepat, serta memberikan manfaat maksimal bagi generasi pelajar Indonesia.

  • Pemerintah Evaluasi dan Perketat SOP untuk Menjamin Keamanan Program MBG

    Jakarta – Pemerintah menegaskan komitmennya memperketat standar operasional prosedur (SOP) dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai upaya mencegah terjadinya insiden keracunan serta memastikan keamanan makanan bagi jutaan penerima manfaat. Evaluasi menyeluruh dilakukan untuk memperkuat tata kelola, koordinasi lintas sektor, hingga pengawasan di lapangan agar program berjalan aman dan efektif.

    Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa pemerintah telah mengambil langkah tegas untuk meningkatkan keamanan MBG melalui pengadaan peralatan modern penunjang pengujian makanan.

    “Kami perketat pengawasan, SOP. Kami juga membeli peralatan-peralatan baru, filter untuk air, perangkat uji untuk tiap makanan yang diproduksi, serta peralatan modern untuk sterilisasi air dan ompreng,” ujarnya.

    Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (PANRB) turut memastikan tata kelola MBG berjalan terintegrasi melalui penyusunan Rancangan Peraturan Presiden tentang Tata Kelola MBG dan Rancangan Perpres mengenai Struktur Organisasi dan Tata Kerja Badan Gizi Nasional (BGN). Menteri PANRB Rini Widyantini menyatakan bahwa penguatan regulasi menjadi bagian dari percepatan pelaksanaan kebijakan lintas kementerian.

    “Kementerian PANRB memastikan tata kelola bisa dilaksanakan secara seksama,” tuturnya dalam Rapat Koordinasi Terbatas MBG di Jakarta.

    Rini menjelaskan bahwa rancangan peraturan tersebut akan mengatur mekanisme kolaborasi instansi, mulai perencanaan, pelaksanaan, hingga pengawasan. Selain pemberian makanan bergizi, penguatan infrastruktur, kemitraan, serta koordinasi lintas sektor juga menjadi perhatian.

    Ia menekankan pentingnya memperkuat Badan Gizi Nasional dan Kantor Pelayanan Pemenuhan Gizi Nasional (KPPG) sebagai ujung tombak pelaksanaan program di daerah. “KPPG harus menjadi motor utama di daerah,” ujarnya.

    Koordinasi lintas sektor juga ditekankan, termasuk kerja sama dengan Kementerian Kesehatan, BPOM, serta kementerian terkait pendidikan. Menurut Rini, hal ini diperlukan agar pengawasan mutu, keamanan pangan, dan pelaksanaan di satuan pendidikan berjalan optimal.

    Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan pentingnya Keputusan Presiden Nomor 28 Tahun 2025 mengenai pembentukan Tim Koordinasi Penyelenggaraan Program MBG.

    “Ada 82,9 juta penerima manfaat MBG. Kita tidak ingin ada risiko apa pun,” ujarnya.

    Melalui penguatan tata kelola, regulasi, dan koordinasi, pemerintah menargetkan pelaksanaan MBG dapat berjalan semakin aman, transparan, dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat sebagai bagian dari upaya menciptakan generasi Indonesia yang sehat dan berdaya saing.