Kategori: Uncategorized

  • Program MBG Tingkatkan Serapan Hasil Petani dan Peternak

    Jakarta – Badan Pangan Nasional (Bapanas) menyebut kehadiran program Makan Bergizi Gratis (MBG) turut meningkatkan penyerapan hasil pangan langsung dari petani dan peternak. Program tersebut dinilai membuka kepastian pasar sekaligus mendorong terbentuknya ekosistem pasokan pangan yang lebih terorganisasi untuk memenuhi kebutuhan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

    Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional, I Gusti Ketut Astawa, mengatakan peningkatan kebutuhan pangan untuk MBG membuat hasil produksi petani dan peternak dapat dikumpulkan menjadi pasokan yang lebih besar melalui koperasi.

    “Pak Kepala Badan yang baru (Sudaryono) kan sudah memerintahkan ambil dari sisi hulu. Makanya sekarang yang berbahagia itu adalah peternak maupun petani…Kecil-kecil (hasil pertanian/peternakan) bergabunglah menjadi satu kekuatan besar, dibuatlah sebuah ekosistem dalam sebuah koperasi itu,” ujar Ketut.

    Menurut Ketut, MBG memberikan kepastian pasar bagi petani dan peternak karena kebutuhan bahan pangan dapat dipenuhi secara rutin. Kondisi tersebut juga membuat pergerakan harga komoditas lebih mudah dipantau, sehingga pemerintah dapat menjaga agar fluktuasi harga tidak terlalu tinggi.

    Ketut mengatakan ketersediaan pangan nasional saat ini masih cukup kuat untuk memenuhi kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung tambahan permintaan dari MBG.

    Berdasarkan proyeksi Neraca Pangan Nasional 2026, stok beras pada akhir tahun diperkirakan mencapai 16 juta ton. Selain beras, ketersediaan telur ayam, daging ayam, bawang merah, dan cabai juga disebut berada dalam kondisi cukup kuat bahkan surplus.

    Penguatan pasokan MBG juga diarahkan agar menjangkau wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Ketut mencontohkan wilayah 3T yang memiliki produksi ikan melimpah dapat menggunakan ikan lokal sebagai bagian dari menu MBG.

    “Yang kedua yang tidak kalah penting adalah pemanfaatan daripada makanan lokal. Jangan lupa, kita juga punya konsumsi makanan lokal. Kalau daerah 3T, misalkan dia memiliki banyak ikan, ya gunakan ikan dong. Manfaatkan ikan di situ. Makanan lokal jangan dilupakan,” pungkas Ketut.

    Pandangan mengenai dampak ekonomi MBG juga disampaikan Ketua Umum Gerbang Tani dan Majelis Pakar Konsorsium Pembaruan Agraria, Idham Arsyad.

    Ia menilai MBG memiliki peluang besar untuk menjadi instrumen yang menghubungkan kebijakan produksi pertanian dengan kepastian permintaan pangan.

    Idham menyoroti besarnya belanja bahan baku dalam program MBG. Menurutnya, peluang tersebut perlu diarahkan agar manfaat ekonomi tidak berhenti pada pemasok atau perantara, tetapi benar-benar diterima petani, peternak, dan nelayan sebagai produsen primer.***

  • Legislator Dorong Keberlanjutan Program MBG, Sebut Jadi Investasi untuk SDM Unggul

    Jakarta – Ketua Kelompok Fraksi (Kapoksi) DPR Fraksi PAN DPR RI, Ashabul Kahfi, mengapresiasi komitmen Presiden Prabowo Subianto untuk melanjutkan Program Makan Bergizi Gratis (MBG).

    Menurutnya, program tersebut merupakan investasi jangka panjang yang penting untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) Indonesia, meski pelaksanaannya perlu terus diperbaiki agar semakin efektif dan efisien.

    “Saya mengapresiasi pandangan Bapak Presiden bahwa Program Makan Bergizi Gratis perlu terus dilanjutkan. MBG merupakan investasi jangka panjang untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia kita. Tetapi saya juga sepakat bahwa kelanjutannya harus disertai perbaikan dan efisiensi yang serius,” kata Kahfi.

    Kahfi menilai keberlanjutan MBG perlu diiringi perubahan orientasi. Pemerintah tidak cukup hanya mengejar peningkatan jumlah penerima manfaat maupun pembangunan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), tetapi harus memastikan program memberikan dampak nyata terhadap status gizi dan kesehatan masyarakat.

    “Kita perlu memastikan apakah makanan yang diberikan benar-benar memenuhi standar gizi, aman dikonsumsi, tepat sasaran, dan pada akhirnya menghasilkan perbaikan status gizi penerima manfaat,” ucapnya.

    Ia juga menekankan bahwa efisiensi dalam pelaksanaan MBG tidak boleh dilakukan dengan mengurangi kualitas makanan ataupun kebutuhan gizi penerima manfaat. Efisiensi justru harus diarahkan pada pengurangan pemborosan, perbaikan rantai pasok dan distribusi, penyesuaian penempatan SPPG dengan kebutuhan, serta pencegahan kebocoran anggaran.

    “Pengadaan bahan pangan juga sedapat mungkin memberdayakan petani, nelayan, peternak, koperasi dan UMKM lokal,” katanya.

    Selain kualitas dan efisiensi, pemerataan layanan juga dinilai penting, khususnya bagi masyarakat di daerah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T) serta wilayah yang memiliki tantangan geografis. Kahfi menilai keberhasilan MBG juga diukur dari dampaknya terhadap kesehatan dan kualitas anak-anak Indonesia.

    Komitmen Presiden Prabowo untuk meneruskan MBG sebelumnya disampaikan dalam pidato kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD 2026 di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Jumat (14/8). Presiden menegaskan program tersebut diperlukan untuk mengatasi persoalan stunting yang masih dialami sebagian anak Indonesia.

    “Dan karena itu, saya bertekad teruskan program MBG tapi dengan perbaikan dan efisiensi,” ujarnya.

    Dukungan terhadap keberlanjutan program juga disampaikan Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Almuzzammil Yusuf. Ia memastikan PKS akan terus mengawal implementasi MBG agar berjalan efisien, efektif, dan tepat sasaran.

    “PKS insya Allah akan terus mengawal agar implementasi MBG berjalan efisien, efektif, dan tepat sasaran,” kata Almuzzammil.**

  • Penerima MBG Makin Tepat Sasaran, BGN dan Kemendagri Integrasikan Data Dukcapil

    Jakarta – Menteri Dalam Negeri, Tito Karnavian, mengatakan integrasi data kependudukan antara Kementerian Dalam Negeri (Kemendagri) dan Badan Gizi Nasional (BGN) menjadi langkah penting untuk memastikan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) semakin tepat sasaran.

    Pemutakhiran data tersebut dilakukan agar penerima manfaat dapat diidentifikasi secara individual sekaligus mencegah terjadinya pencatatan penerima secara ganda.

    “Jadi tidak hanya data kuantitatif, angka jumlah penerima manfaat, tapi siapa penerima manfaatnya, bisa terdata,” ujar Tito.

    Data Dukcapil diharapkan dapat membantu BGN memperoleh basis data penerima MBG yang lebih akurat, termasuk untuk kelompok sasaran seperti anak-anak dan ibu hamil.

    Tito menegaskan integrasi data tersebut diarahkan untuk menerapkan prinsip “satu orang, satu penerima manfaat”. Dengan prinsip tersebut, pendataan tidak hanya berfokus pada jumlah penerima, tetapi juga memastikan identitas setiap penerima tercatat secara jelas dan tidak masuk dalam daftar penerima secara berulang.

    Langkah ini juga menjadi bagian dari upaya pemerintah membenahi tata kelola MBG. Data kependudukan yang terus diperbarui dapat digunakan untuk mencocokkan data administratif dengan kondisi penerima manfaat di lapangan.

    Kepala Badan Gizi Nasional, Sudaryono, mengatakan pemutakhiran data bersama Kemendagri menjadi bagian penting dalam memastikan pelaksanaan MBG sesuai dengan kondisi faktual. BGN sebelumnya menemukan adanya data ganda maupun data penerima yang secara administratif tercatat, tetapi belum memperoleh layanan.

    “Dukcapil, betul, tadi ditandatangani MOU dengan Kementerian Dalam Negeri, pemutakhiran data termasuk juga kita lihat kemarin kita sudah rapat koordinasi terbatas di Menko Pangan dan kita menemukan ada praktik lama, ada data-data yang double,” kata Mas Dar.

    Sudaryono juga membeberkan bahwa pemutakhiran data juga dapat membantu pemerintah mengidentifikasi adanya ketidaksesuaian antara jumlah penerima yang tercatat dengan kondisi sebenarnya di lapangan.

    “Jadi ada nama-nama yang penting kelihatannya banyak, tapi ternyata memang belum dilayani. Itu termasuk dari data pemutakhiran tadi,” ujarnya.

    Penguatan integrasi data Dukcapil antara BGN dan Kemendagri diharapkan membuat penyaluran MBG semakin akurat, efektif, dan akuntabel. Kolaborasi tersebut juga memungkinkan pemerintah daerah memiliki dasar data yang lebih kuat dalam menjalankan program.

    Sudaryono menegaskan kesiapan BGN untuk memperkuat koordinasi dengan pemerintah daerah dalam memastikan program berjalan sesuai sasaran. Melalui integrasi data Dukcapil, pemerintah berupaya memastikan penerima MBG benar-benar sesuai dengan kelompok sasaran.

    “BGN siap berkolaborasi, siap berkoordinasi dengan semua pihak, terkhusus adalah kepala daerah,” tegas Mas Dar.***

  • Pemerintah Perkuat Transparansi Menu MBG, Publik Didorong Ikut Mengawasi

    Jakarta – Pemerintah terus memperkuat transparansi pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan menyiapkan sistem pemantauan digital yang memungkinkan masyarakat ikut mengawasi penyelenggaraan program tersebut. Langkah ini dilakukan untuk memastikan kualitas layanan, keamanan pangan, serta akuntabilitas pelaksanaan MBG di berbagai daerah.

    Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, mengatakan pihaknya telah menyiapkan portal digital bernama Radar MBG yang dapat digunakan masyarakat untuk memantau berbagai informasi terkait program tersebut.

    “Kami sudah menyiapkan portal di mana masyarakat, khususnya orang tua, guru, kemudian kepala sekolah dan kepala daerah, dinas, itu bisa kemudian memonitor,” ujar Sudaryono di Jakarta.

    Melalui portal tersebut, masyarakat dapat mengetahui sekolah yang menerima manfaat MBG, menu makanan yang disajikan setiap hari, kandungan gizi, dokumentasi menu, hingga asal Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memproduksi makanan.

    Kehadiran Radar MBG diharapkan menjadi sarana yang memudahkan orang tua dan pemangku kepentingan lainnya untuk memperoleh informasi secara cepat dan terbuka.

    “Orang tua itu ingin tahu, anak yang sekolah di sekolah yang mendapatkan MBG, hari ini menunya apa. Maka kami sudah menyiapkan portal. Di sana bisa dilihat sekolah mana, menunya apa, foto menunya ada, gizinya mana, dan dari SPPG mana itu bisa dicek melalui yang kami namakan Radar MBG,” kata Sudaryono.

    Selain memperluas akses informasi kepada publik, pemerintah juga memperketat pengawasan terhadap kualitas dapur MBG. BGN menegaskan bahwa setiap SPPG wajib memenuhi standar operasional yang telah ditetapkan demi menjaga mutu makanan dan keselamatan penerima manfaat program.

    Sebagai bentuk komitmen terhadap kualitas layanan, BGN telah menutup sebanyak 1.300 SPPG dalam tiga minggu terakhir karena dinilai tidak memenuhi standar yang ditetapkan. Penutupan dilakukan tanpa memandang latar belakang pengelola dapur dan ditujukan untuk melindungi penerima manfaat serta menjaga kredibilitas program MBG.

    “Ya kalau nggak bisa diperbaiki, kita tutup permanen. Jadi sudah saya sudah menutup mungkin 800 tambah kemarin saya sudah menutup 500, jadi sudah 1.300 saya tutup selama tiga minggu saya jadi kepala,” kata Sudaryono.

    Menurut Sudaryono, pengawasan yang ketat diperlukan agar seluruh SPPG menjalankan proses produksi sesuai standar keamanan dan kualitas pangan.

    “Saya nggak peduli itu SPPG-nya misalnya apa punya siapa, saya nggak lihat, saya lihat sistem. Manakala tidak memenuhi standar di sistem saya, maka dengan berat hati harus saya tutup permanen,” pungkasnya.

  • Pemerintah – DPR Tingkatkan Pengawasan dan Keamanan Program MBG

    Jakarta – Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, menegaskan pemerintah terus memperketat pengawasan dan keamanan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) di berbagai daerah.

    Penguatan pengawasan dilakukan dengan memastikan setiap Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) memenuhi standar yang ditetapkan, sekaligus menindak tegas dapur yang dinilai tidak mampu menjaga kualitas dan keamanan makanan bagi penerima manfaat.

    “Ya kalau nggak bisa diperbaiki, kita tutup permanen. Jadi sudah saya sudah menutup mungkin 800 tambah kemarin saya sudah menutup 500, jadi sudah 1.300 saya tutup selama tiga minggu saya jadi kepala,” kata Sudaryono.

    Kepala Badan Gizi Nasional, Sudaryono, menyampaikan bahwa penutupan terhadap SPPG yang tidak memenuhi ketentuan merupakan bagian dari upaya melindungi penerima manfaat MBG.

    Pemerintah tidak akan memberikan perlakuan khusus kepada dapur tertentu apabila ditemukan pelanggaran terhadap standar yang dapat membahayakan kesehatan dan keselamatan penerima manfaat.

    “Saya nggak peduli itu SPPG-nya misalnya apa punya siapa, saya nggak lihat, saya lihat sistem. Manakala tidak memenuhi standar di sistem saya, maka dengan berat hati harus saya tutup permanen. Itu kira-kira. Saya ini tujuannya adalah untuk melindungi mitra-mitra SPPG-SPPG yang kerjanya baik selama ini,” jelas Sudaryono.

    Menurut Sudaryono, pengetatan terhadap kinerja SPPG akan terus dilakukan untuk meningkatkan kualitas penyelenggaraan MBG.

    Dari evaluasi yang dilakukan, pemerintah juga berupaya mempelajari praktik terbaik dari SPPG yang dinilai berhasil menjaga keamanan makanan. Saat ini, sekitar 27.000 SPPG disebut telah bekerja dengan baik dalam mendukung pelaksanaan program.

    “Jadi kita belajar dari keberhasilan SPPG, beberapa SPPG salah satunya adalah SPPG yang dikelola oleh Bhayangkari ya dari Polri itu menggunakan test kit dan sampai saat ini tidak ada satu kasus pun keracunan,” terang Sudaryono.

    Penguatan pengawasan juga mendapat perhatian dari Presiden Partai Keadilan Sejahtera (PKS), Almuzzammil Yusuf. Ia memastikan PKS akan terus mengawal implementasi MBG agar berjalan efektif, efisien, tepat sasaran, sekaligus memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat.

    Menurutnya, program pemenuhan gizi tersebut memiliki tujuan strategis dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia.

    “PKS insya Allah akan terus mengawal agar implementasi MBG berjalan efisien, efektif, dan tepat sasaran,” kata Almuzzammil.

    Almuzzammil menilai setiap rupiah anggaran MBG harus memberikan manfaat nyata bagi masyarakat, termasuk dalam pemenuhan gizi, pengentasan stunting, pembukaan lapangan kerja, serta meminimalkan kemubaziran. Ia juga mengapresiasi berbagai langkah serius pemerintah dalam perbaikan tata kelola MBG.

  • Program MBG Perkuat Ekonomi Lokal, Kesejahteraan Masyarakat Ikut Meningkat

    Kupang – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya menjadi instrumen pemenuhan kebutuhan gizi masyarakat, tetapi juga berpotensi memperkuat ekonomi lokal melalui peningkatan permintaan terhadap produk pertanian dan peternakan.

    Di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T), keberadaan dapur MBG dapat membuka pasar baru sekaligus mendorong masyarakat desa meningkatkan produksi pangan sesuai potensi daerah masing-masing.

    “Begitu pun dengan adanya MBG 3T yang ada di kampung, di desa-desa ini, juga akan mendorong para petani-petani kita di daerah, otomatis mereka akan bekerja untuk mempersiapkan itu,” ujar Ketua Kamar Dagang dan Industri (KADIN) NTT, Bobi Lianto.

    Menurut Ketua KADIN NTT, Bobi Lianto, kebutuhan bahan baku yang berlangsung secara rutin dapat mendorong petani dan peternak lokal untuk terlibat dalam rantai pasok MBG.

    Kondisi tersebut dinilai dapat menciptakan perputaran ekonomi baru di tingkat desa karena kebutuhan pangan tidak selalu harus didatangkan dari wilayah lain.

    Dari sisi logistik, pemenuhan bahan pangan dari wilayah sekitar juga dinilai lebih efisien, terutama bagi daerah yang memiliki keterbatasan akses transportasi dan infrastruktur.

    “Secara hitungan sudah pasti selayak dan sepantasnya, kalau apalagi di daerah yang remote area yang tidak bisa dijangkau, otomatis lebih baik supply-nya ada di kampung itu sendiri,” katanya.

    Penguatan ekonomi lokal melalui MBG juga sejalan dengan kebijakan pemerintah yang mendorong penyerapan pangan langsung dari petani dan peternak.

    Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Badan Pangan Nasional (Bapanas), I Gusti Ketut Astawa, mengatakan hasil produksi petani dan peternak dapat dikonsolidasikan melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) sehingga pasokan untuk Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) lebih mudah dipenuhi secara rutin.

    “Pak Kepala Badan yang baru kan sudah memerintahkan ambil dari sisi hulu. Makanya sekarang yang berbahagia itu adalah peternak maupun petani…Kecil-kecil (hasil pertanian/peternakan) bergabunglah menjadi satu kekuatan besar, dibuatlah sebuah ekosistem dalam sebuah koperasi itu,” ujar Ketut.

    Menurut Ketut,kehadiran MBG juga memberikan kepastian pasar bagi petani dan peternak lokal sekaligus membantu menjaga stabilitas harga komoditas. Pemerintah berupaya menjaga agar perubahan harga tidak mengalami fluktuasi terlalu tinggi seiring dinamika produksi, pasokan, dan permintaan.

    “Yang kedua yang tidak kalah penting adalah pemanfaatan daripada makanan lokal. Jangan lupa, kita juga punya konsumsi makanan lokal. Kalau daerah 3T, misalkan dia memiliki banyak ikan, ya gunakan ikan dong. Manfaatkan ikan di situ. Makanan lokal jangan dilupakan,” pungkas Ketut.***

  • Pemerintah Terapkan Nol Toleransi untuk Jaga Mutu dan Keamanan Pangan MBG

    JAKARTA – Badan Gizi Nasional (BGN) memperkuat standar pelayanan dan pengawasan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dengan menerapkan prinsip nol toleransi terhadap kasus keracunan. Kebijakan tersebut menjadi bagian dari pembenahan tata kelola untuk memastikan pemenuhan gizi berjalan beriringan dengan jaminan mutu dan keamanan pangan bagi seluruh penerima manfaat.

    Kepala BGN Sudaryono menegaskan keamanan pangan merupakan prinsip yang tidak dapat ditawar. Karena itu, BGN terus memperkuat pengawasan dan monitoring dengan melibatkan berbagai pihak, mulai dari penyelenggara program hingga sekolah, guru, peserta didik, dan pemangku kepentingan lainnya.

    “BGN terus meningkatkan pelayanan, pengawasan, monitoring, dan kolaborasi dari semua pihak agar program ini berjalan dengan baik, dengan nol toleransi terhadap kasus keracunan,” ujar Sudaryono dalam keterangan resminya.

    Menurut pria yang akrab disapa Mas Dar itu, penguatan pengawasan harus diikuti kepatuhan terhadap prosedur keamanan pangan. Salah satunya memastikan makanan dikonsumsi sesuai batas waktu yang telah ditentukan untuk menjaga kualitas makanan dan meminimalkan risiko kontaminasi.

    BGN juga mengingatkan makanan MBG tidak dibawa pulang untuk dikonsumsi di rumah. Pasalnya, setelah makanan berada di luar mekanisme pengawasan penyelenggara, kondisi penyimpanan dan kualitasnya tidak lagi dapat dipastikan.

    Komitmen memperkuat MBG mendapat dukungan Anggota DPD RI Alfiansyah Bustami atau Komeng. Menurutnya, substansi program MBG sudah tepat karena diarahkan untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat, sementara aspek pelaksanaannya harus terus diperbaiki.

    “Sebenarnya semua program Presiden bagus. Cuma yang kerjanya aja pada nggak benar,” kata Komeng. Ia berharap kepemimpinan baru BGN mampu membawa perbaikan pelaksanaan program.

    “Mudah-mudahan yang sekarang Pak Dar, mudah-mudahan bagus. Karena memang MBG bagus,” ujarnya.

    Sementara itu, Ketua MPR RI Ahmad Muzani menilai MBG masih dibutuhkan karena persoalan pemenuhan gizi anak belum sepenuhnya terselesaikan. Di tengah berbagai capaian pembangunan selama 81 tahun Indonesia merdeka, menurutnya masih ditemukan anak yang harus berangkat sekolah tanpa sarapan serta keluarga yang menghadapi pilihan sulit antara memenuhi kebutuhan makanan dan membiayai pengobatan.

    “Masih ada anak-anak kita yang berangkat sekolah tanpa sarapan, masih memilih antara membeli makanan atau biayai pengobatan,” kata Muzani.

    Karena itu, ia memandang MBG sebagai salah satu instrumen strategis pembangunan manusia.

    “Dalam kerangka itulah kita memandang program MBG sebagai terobosan mewujudkan generasi emas tahun 2045,” tuturnya.

    Penguatan standar keamanan pangan sekaligus menunjukkan bahwa perluasan manfaat MBG harus diikuti peningkatan kualitas pelaksanaan. Melalui prinsip nol toleransi, pengawasan berlapis dan kolaborasi seluruh pihak, BGN mendorong setiap makanan yang diterima anak tidak hanya bergizi, tetapi juga aman dan memenuhi standar kualitas yang ditetapkan.

  • MBG Gerakkan Ekonomi Daerah, Serap Produk Lokal dan Perkuat Ketahanan Pangan

    JAKARTA – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai memiliki potensi besar menjadi penggerak ekonomi daerah karena kebutuhan pangan dalam skala besar dapat menciptakan pasar bagi petani, peternak, nelayan, koperasi, hingga pelaku UMKM.

    Menteri Dalam Negeri Muhammad Tito Karnavian mengatakan pemerintah daerah perlu memandang MBG sebagai program yang memiliki dampak luas terhadap pembangunan daerah. Selain membantu menekan stunting dan kemiskinan serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia, kebutuhan pangan MBG dapat menggerakkan aktivitas produksi dan membuka lapangan kerja.

    “Nah, dengan adanya Program MBG, kepala daerah akan sangat terbantu. Ada program makan bergizi yang gratis tanpa APBD, didukung APBN,” ujar Tito.

    Menurut Tito, besarnya kebutuhan pangan MBG dapat dimanfaatkan pemerintah daerah untuk memperkuat pasar bagi komoditas yang dihasilkan masyarakat setempat. Penyerapan telur, ikan, sayuran, beras maupun produk pangan lainnya juga berpotensi menjadi instrumen untuk membantu menjaga stabilitas harga ketika terjadi kelebihan pasokan atau penurunan harga di tingkat produsen.

    “Di daerah-daerah tertentu beliau (Kepala BGN) bisa memberikan instruksi. Beli ikan, misalnya. Beli telur ketika harga telurnya turun. Jadi memang banyak sekali manfaatnya bagi pemerintah daerah. Kita harus dukung,” katanya.

    Pemerhati isu strategis sekaligus Doktor Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Safriady, melihat MBG bahkan berpotensi berkembang menjadi salah satu kebijakan ekonomi terbesar Indonesia karena menggunakan permintaan negara untuk menciptakan aktivitas produksi secara luas di berbagai daerah.

    “Uang negara tidak hanya menghasilkan makanan di atas meja anak sekolah, tetapi juga menghidupkan kandang ayam, gudang pakan, koperasi, transportasi, tenaga kerja dan perdagangan lokal,” ujar Safriady.

    Potensi tersebut terlihat dari kebutuhan telur dan daging ayam untuk pelayanan MBG. Di Jawa Tengah, pemerintah provinsi bersama Badan Gizi Nasional (BGN) dan asosiasi peternak telah menyepakati penyerapan telur dan ayam lokal oleh Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), dengan telur sebesar Rp26.000 per kilogram dan daging ayam karkas Rp35.000 per kilogram.

    MBG memiliki dua mata rantai manfaat yang dapat berjalan bersamaan: di sisi hilir memastikan anak memperoleh makanan bergizi, sementara di sisi hulu menciptakan kepastian permintaan bagi produsen pangan lokal. Ketika kedua sisi tersebut terhubung melalui tata kelola yang transparan dan efisien, MBG dapat berkembang dari program pemenuhan gizi menjadi lokomotif ekonomi daerah sekaligus memperkuat ketahanan pangan nasional.

    “Ketahanan pangan bukan sekadar memastikan rakyat bisa makan hari ini. Ketahanan pangan adalah kemampuan sebuah negara memastikan produsennya masih mampu menghasilkan pangan besok, lusa, dan bertahun-tahun kemudian,” kata Safriady.

  • Tata Kelola MBG Berbasis Sekolah Didorong untuk Perkuat Keamanan Pangan

    JAKARTA – Pembenahan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dinilai perlu memasuki tahap penguatan tata kelola yang lebih dekat dengan penerima manfaat. Setelah pembenahan internal Badan Gizi Nasional (BGN), pengawasan berlapis hingga sekolah, transparansi anggaran, digitalisasi, serta pelibatan ekonomi lokal didorong menjadi bagian dari upaya memperkuat keamanan pangan dan akuntabilitas program.

    Pengamat Kebijakan Publik sekaligus Guru Besar Sosiologi Hukum Fakultas Hukum Universitas Trisakti, Trubus Rahardiansah, menilai langkah Kepala BGN Sudaryono melakukan pembenahan internal dan evaluasi sumber daya manusia merupakan langkah progresif.

    “Ini merupakan satu langkah inovatif dalam membenahi tata kelola Program MBG. Dari sisi human resources, apa yang dilakukan Kepala BGN Sudaryono sangat progresif,” kata Trubus.

    Menurutnya, pembenahan tersebut perlu dilanjutkan dengan membangun sistem pengawasan yang menjangkau seluruh rantai pelaksanaan, mulai dari BGN, pemerintah daerah, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), hingga sekolah.

    “Tanggung jawab hukum pengelola harus jelas apabila terjadi pelanggaran serius, termasuk kasus keracunan makanan. Selain itu, pengawasan juga perlu dibangun berlapis dari pusat, daerah, SPPG, hingga sekolah,” ujarnya.

    Gagasan memperkuat peran sekolah juga disampaikan pengamat ekonomi dan UMKM Ridwan Mahmudi. Ia menilai evaluasi pelaksanaan MBG seharusnya tidak diarahkan untuk menghentikan program, melainkan menjadi momentum menyempurnakan desain tata kelolanya.

    Dalam model tersebut, sekolah tidak sekadar menjadi tempat penerimaan makanan, tetapi memperoleh peran lebih besar dalam pengawasan pelaksanaan. Sekolah dinilai memiliki kedekatan dengan kondisi penerima manfaat karena mengetahui jumlah siswa yang hadir, kebutuhan khusus maupun alergi makanan, serta dapat mengawasi apakah makanan benar-benar dikonsumsi atau justru terbuang.

    Kepala BGN Sudaryono mengatakan keterlibatan guru penting karena mereka berada langsung di lingkungan sekolah dan mendampingi siswa dalam pelaksanaan MBG.

    Menurutnya, laporan dari guru dapat menjadi sumber informasi bagi BGN untuk mengetahui kondisi pelaksanaan program di lapangan dan menjadi bahan perbaikan.

    “Kalau Bapak-Ibu Guru kemudian merasa ada yang perlu disampaikan kepada kami sebagai Badan Gizi Nasional, apakah itu keluhan, apakah itu komplain, apakah itu temuan, apa pun itu yang terkait Program Makan Bergizi Gratis, kami menyiapkan saluran khusus email kepada Badan Gizi Nasional,” ujar Sudaryono

    Dorongan percepatan pembenahan MBG turut disampaikan Wakil Ketua MPR RI Eddy Soeparno. Menurutnya, penataan program memang membutuhkan waktu, namun proses tersebut harus dipercepat mengingat MBG tetap diperlukan masyarakat.

    “Kami mendukung bahwa proses penataan itu berjalan secara cepat,” kata Eddy.

    Ia menilai pembenahan yang dilakukan merupakan bagian penting agar program MBG dapat berjalan semakin baik.

    Dengan standar nasional yang kuat, pengawasan berlapis, digitalisasi dan rantai pasok lokal, MBG diharapkan berkembang menjadi program gizi yang semakin aman, transparan, akuntabel, sekaligus menggerakkan ekonomi rakyat.

  • Tata Kelola MBG Dibenahi, Pemerintah Pastikan Program Tetap Lindungi Anak

    JAKARTA – Pemerintah menegaskan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tetap dilanjutkan dengan pembenahan tata kelola, pengawasan, dan efisiensi untuk memastikan tujuan utama program dalam melindungi tumbuh kembang anak dapat tercapai.

    Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen tersebut dalam pidato kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD beberapa saat lalu. Menurut Presiden, pemerintah tidak boleh membiarkan anak Indonesia belajar dalam kondisi lapar, terlebih angka stunting di sejumlah wilayah masih tergolong tinggi.

    “Satu dari empat anak-anak Indonesia ada yang mengalami stunting. Sel otak tidak berkembang dengan baik, sel otot tidak berkembang dengan baik, dan juga sel tulang,” ujar Prabowo.

    Karena itu, ia menegaskan MBG tetap menjadi bagian penting dari strategi pembangunan sumber daya manusia.

    “Kita tidak boleh menerima satu dari empat anak mengalami stunting. Kita tidak bisa menerima itu dan karena itu saya bertekad untuk melanjutkan MBG dengan perbaikan dan efisiensi,” tegasnya.

    Prabowo juga memberi peringatan keras terhadap praktik korupsi dalam pelaksanaan MBG. Menurutnya, penyimpangan terhadap anggaran makanan anak merupakan tindakan yang tidak dapat ditoleransi.

    “Saya menilai mereka yang mau korupsi dari makan untuk anak-anak ini adalah orang-orang biadab. Ini adalah orang-orang yang tidak pantas kita hormati. Menurut saya ini sama sekali tidak ada nilai kemanusiaan,” kata Prabowo.

    Komitmen pembenahan tersebut mendapat dukungan Anggota Komisi IX DPR RI Irma Suryani Chaniago. Ia menilai MBG memiliki tujuan strategis untuk meningkatkan kualitas generasi mendatang, mencegah stunting, sekaligus memberikan dampak terhadap perekonomian.

    “Tentu saja MBG harus dilanjutkan. Selain ini program utama beliau, program ini bermanfaat untuk anak-anak bangsa dan ibu hamil jika dikelola secara profesional,” kata Irma.

    Menurutnya, persoalan dalam implementasi harus menjadi dasar evaluasi terhadap SDM, pengawasan, serta penggunaan anggaran.

    “Perbaiki tata kelolanya, evaluasi SDM dan anggarannya, agar antara anggaran yang dikeluarkan, manfaat yang diterima dan target Presiden tercapai,” ujarnya.

    Sementara itu, Anggota Komisi VIII DPR RI Lisda Hendrajoni menekankan perlindungan anak dalam MBG harus melampaui sekadar pemberian makanan. Standar keamanan pangan yang ketat diperlukan untuk melindungi anak dari risiko kontaminasi, sekaligus memastikan pemenuhan kebutuhan gizinya.

    Ketua MPR RI Ahmad Muzani juga menilai MBG sebagai investasi jangka panjang pembangunan manusia menuju Indonesia Emas 2045. Namun, tujuan tersebut harus ditopang pelaksanaan yang dapat dipertanggungjawabkan.

    “Tugas kita bersama adalah memastikan bahwa tujuan yang baik itu dilaksanakan dengan tata kelola yang tepat sasaran dan akuntabel,” ujar Muzani.

    Pembenahan tata kelola, pengawasan keamanan pangan, evaluasi SPPG, transparansi anggaran, serta penindakan tegas terhadap penyimpangan menjadi kunci agar MBG tetap berjalan aman, efektif, dan benar-benar melindungi kepentingan terbaik anak.