Kategori: Uncategorized

  • Dukungan Menguat, Relaunching AMANAH Didorong Maksimalkan Fasilitas untuk Pemuda Aceh

    Banda Aceh – Bupati Aceh Besar, H. Muharram Idris (Syech Muharram), menegaskan komitmennya dalam mendukung pengembangan talenta muda melalui program Aneuk Muda Aceh Unggul dan Hebat (AMANAH). Dukungan ini menjadi bagian penting dalam menyambut fase baru penguatan kapasitas generasi muda di Aceh.

    Ia menilai fasilitas yang dimiliki AMANAH sudah sangat memadai dan perlu dimaksimalkan pemanfaatannya agar memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

    “Sudah ada gedung yang megah dan fasilitas yang lengkap, maka sangat disayangkan jika tidak dimanfaatkan secara optimal. Kita berharap AMANAH benar-benar memberi manfaat nyata bagi masyarakat Aceh Besar,” ujar Syech Muharram.

    Menurutnya, seluruh sarana yang tersedia saat ini juga telah cukup untuk menunjang pengembangan kapasitas pemuda tanpa harus bergantung pada pelatihan di luar daerah.

    “Kalau saya mendengar pemaparan tadi, tidak perlu lagi belajar atau mengikuti bimbingan teknis ke luar daerah. Semua fasilitas sudah tersedia di sini. Tinggal bagaimana kita mengelolanya bersama secara maksimal,” tambahnya.

    Sejalan dengan dukungan tersebut, AMANAH mulai menunjukkan penguatan program melalui pelaksanaan Future Leaders Bootcamp (FLB) yang diikuti 26 pemuda terpilih dari berbagai daerah di Aceh. Kegiatan ini berlangsung di Gedung AMANAH, Kawasan Industri Aceh (KIA), Ladong, Kabupaten Aceh Besar.

    Program yang mengusung tema “Mengenal Diri, Menentukan Arah, Mewujudkan Masa Depan” ini difokuskan pada pembentukan karakter, kepemimpinan, serta arah hidup generasi muda Aceh. Para peserta merupakan hasil seleksi dari puluhan pendaftar terbaik di seluruh Aceh.

    Ketua Yayasan AMANAH, Dr. Saifullah Muhammad, menyampaikan bahwa AMANAH hadir sebagai wadah pengembangan generasi muda. Ia menekankan pentingnya membangun pola pikir kepemimpinan, komitmen, serta peran aktif pemuda dalam pembangunan berkelanjutan yang selaras dengan nilai kebangsaan dan semangat cinta tanah air.

    Dalam kegiatan tersebut, peserta mendapatkan pembekalan dari akademisi Universitas Syiah Kuala, Said Muniruddin, yang memberikan materi pengembangan diri dan kepemimpinan secara komprehensif.

    Materi yang diberikan mencakup penguatan pola pikir kewirausahaan melalui “Assessing Entrepreneurial Mindset”, serta pengembangan diri melalui sesi Vision Building, penyusunan Life Roadmap, dan pelatihan Communication & Public Speaking.

    Kegiatan berlangsung secara interaktif dan aplikatif, mendorong peserta mengembangkan keseimbangan antara soft skill dan hard skill sebagai bekal menghadapi persaingan global.

    Sebagai informasi, relaunching AMANAH akan digelar pada 23 April 2026 sebagai momentum penataan program serta penguatan ekosistem pengembangan talenta muda Aceh agar semakin terarah dan berdampak luas.****

  • Relaunching AMANAH Disambut Luas, Dorong Pemuda Aceh Jadi Motor Ekonomi Kreatif

    Banda Aceh – Menjelang relaunching program Aneuk Muda Aceh Unggul dan Hebat (AMANAH) pada 23 April 2026, dukungan dari berbagai pemangku kepentingan terus menguat. Momentum ini dipandang sebagai langkah strategis dalam memperkuat peran generasi muda sebagai motor penggerak pembangunan dan ekonomi kreatif di Aceh.

    Dukungan tersebut salah satunya datang dari Wali Nanggroe Aceh, Malik Mahmud Al Haythar yang menerima audiensi pengurus AMANAH di Meuligoe Wali Nanggroe. Dalam pertemuan itu, ia menegaskan bahwa pengembangan kapasitas generasi muda merupakan kunci utama dalam menentukan masa depan Aceh. Ia juga mengapresiasi konsistensi AMANAH sebagai bagian dari elemen masyarakat yang fokus pada pembinaan pemuda.

    Ketua Yayasan AMANAH, Syaifullah Muhammad, menjelaskan bahwa relaunching menjadi titik awal untuk memperluas peran lembaga sebagai pusat pengembangan keterampilan dan inovasi pemuda. “Relaunching AMANAH pada bulan April 2026 guna memperkenalkan kembali program dan membuka ruang kolaborasi yang lebih luas,” ujarnya.

    Ia menambahkan, AMANAH telah dilengkapi berbagai fasilitas yang mendukung pengembangan kapasitas generasi muda di berbagai sektor. “AMANAH memiliki banyak fasilitas yang dapat dimanfaatkan anak-anak muda Aceh, mulai dari pelatihan pertanian, peternakan, ekonomi kreatif, UMKM, robotik, hingga rumah produksi nilam dan kopi beserta produk turunannya,” katanya. Menurutnya, keberadaan fasilitas tersebut diharapkan mampu mendorong produktivitas sekaligus membuka peluang ekonomi baru berbasis kreativitas.

    Dukungan serupa juga disampaikan Bupati Aceh Besar Syech Muharram yang menilai AMANAH memiliki peran strategis sebagai wadah pengembangan potensi pemuda. “Gedung AMANAH ini menjadi wadah bagi anak-anak muda Aceh untuk mengembangkan potensi diri,” ujarnya. Ia menegaskan komitmen untuk terus mendukung keberadaan AMANAH agar mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

    Selain itu, Walikota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal turut melihat AMANAH sebagai ruang aktualisasi yang relevan bagi generasi muda. “Fasilitas ini menjadi ruang nyata bagi anak muda untuk berkembang dan berinovasi,” ungkapnya. Kolaborasi lintas sektor yang dibangun diharapkan dapat memperkuat kapasitas sumber daya manusia sekaligus mendorong lahirnya wirausaha muda berbasis potensi lokal.

    Wali Nanggroe juga mengingatkan pentingnya keseimbangan dalam pembangunan. “Pembangunan jangan hanya berorientasi pada gedung dan ruko semata, tetapi harus menjaga keseimbangan alam, keindahan, serta karakter Aceh. Aceh harus modern, namun tetap bernuansa keacehan yang kuat,” tegasnya.

    Dengan dukungan kuat dari berbagai pihak, relaunching AMANAH diharapkan menjadi momentum penting dalam melahirkan generasi muda Aceh yang kreatif, mandiri, dan berdaya saing global. Program ini sekaligus diproyeksikan menjadi pusat inkubasi inovasi dan kewirausahaan yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi daerah secara berkelanjutan.***

  • AMANAH Segera Comeback! Saatnya Anak Muda Aceh Naik Level di Ekonomi Kreatif

    BANDA ACEH – Menjelang relaunching program Aneuk Muda Aceh Unggul Hebat (AMANAH), penguatan kolaborasi lintas sektor semakin ditegaskan sebagai strategi utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di Aceh. Momentum ini terlihat dari kunjungan Walikota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal ke Gedung AMANAH di kawasan Krueng Raya, Aceh Besar, yang menjadi bagian dari upaya memperkuat sinergi antar lembaga.

    Dalam kunjungan tersebut, Illiza menilai fasilitas yang dimiliki AMANAH mampu menjawab kebutuhan generasi muda yang selama ini menghadapi keterbatasan ruang untuk berkembang. “Fasilitas di sini sangat lengkap dan luar biasa. Ini adalah jawaban bagi keresahan anak muda kita yang memiliki bakat, tetapi sering terkendala infrastruktur,” ujarnya.

    Gedung AMANAH sendiri dirancang sebagai pusat kreativitas terpadu yang mengintegrasikan berbagai sektor, mulai dari digital dan media hingga industri kreatif dan pertanian modern. Kehadiran studio musik, ruang podcast, hingga fasilitas produksi minyak nilam dan pengolahan kopi menunjukkan pendekatan yang menghubungkan kreativitas dengan aktivitas ekonomi produktif. Hal ini dinilai menjadi langkah strategis dalam mendorong hilirisasi komoditas lokal bernilai tambah.

    Ketua Yayasan AMANAH, Syaifullah Muhammad, menegaskan bahwa relaunching program akan difokuskan pada penguatan kolaborasi yang lebih luas. “Kami ingin memastikan setiap potensi anak muda terfasilitasi, dari proses pelatihan hingga implementasi karya yang memiliki nilai ekonomi,” ungkapnya. Ia menambahkan, berbagai fasilitas yang tersedia diharapkan mampu menjadi sarana pengembangan keterampilan sekaligus mendorong lahirnya wirausaha muda.

    Penguatan juga dilakukan pada sektor pertanian modern melalui pemanfaatan greenhouse, budidaya hortikultura, serta sistem bioflok untuk perikanan. Program ini tidak hanya bertujuan meningkatkan produktivitas, tetapi juga mendukung ketahanan pangan dan stabilitas ekonomi daerah secara berkelanjutan.

    Dukungan terhadap relaunching AMANAH juga datang dari Wali Nanggroe Aceh Malik Mahmud Al Haythar yang menekankan pentingnya pengembangan kapasitas generasi muda sebagai motor pembangunan Aceh. Dalam audiensi bersama pengurus AMANAH, ia mengapresiasi konsistensi lembaga tersebut dalam membina generasi muda.

    Ketua Yayasan AMANAH Syaifullah Muhammad turut menjelaskan bahwa AMANAH akan terus dikembangkan sebagai pusat pengembangan keterampilan lintas sektor. “AMANAH memiliki banyak fasilitas yang dapat dimanfaatkan anak-anak muda Aceh, mulai dari pelatihan pertanian, peternakan, ekonomi kreatif, UMKM, robotik, hingga rumah produksi nilam dan kopi beserta produk turunannya,” katanya. Ia berharap keberadaan AMANAH mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan daerah melalui kreativitas pemuda.

    Sementara itu, Wali Nanggroe mengingatkan pentingnya keseimbangan dalam pembangunan. “Pembangunan jangan hanya berorientasi pada gedung dan ruko semata, tetapi harus menjaga keseimbangan alam, keindahan, serta karakter Aceh. Aceh harus modern, namun tetap bernuansa keacehan yang kuat,” tegasnya.

    Dengan sinergi yang terus diperkuat, relaunching AMANAH pada 23 April 2026 mendatang diharapkan menjadi titik awal lahirnya ekosistem ekonomi kreatif yang lebih terintegrasi. Program ini diproyeksikan mampu melahirkan generasi muda Aceh yang inovatif, mandiri, dan siap bersaing di tingkat global.***

  • Program Future Leaders Bootcamp AMANAH Jadi Pilar Penguatan SDM Unggul Aceh

    *) Oleh: Teuku Rizky Syahputra

    Momentum relaunching Yayasan Aneuk Muda Aceh Unggul-Hebat (AMANAH) tidak sekadar menjadi agenda seremonial, melainkan menandai fase konsolidasi strategis dalam pembangunan sumber daya manusia di Aceh. Penguatan peran lembaga ini mencerminkan kesadaran bahwa investasi terbesar suatu daerah terletak pada kualitas generasi mudanya. Dalam konteks pembangunan nasional yang semakin kompetitif, keberadaan wadah pembinaan yang terarah menjadi kebutuhan mendesak. Oleh karena itu, langkah AMANAH dalam menyelaraskan program pembinaan pemuda patut dipandang sebagai bagian dari orkestrasi kebijakan yang lebih luas.

    Selanjutnya, penyelenggaraan Future Leaders Bootcamp (FLB) menjadi indikasi konkret bahwa proses pembinaan tidak lagi bersifat sporadis, melainkan dirancang secara sistematis dan berbasis kebutuhan zaman. Kegiatan yang berlangsung di Kawasan Industri Aceh ini menunjukkan adanya integrasi antara pengembangan kapasitas individu dengan realitas dunia usaha. Pendekatan ini relevan, mengingat tantangan generasi muda saat ini tidak hanya berkutat pada aspek akademik, tetapi juga pada kemampuan adaptasi terhadap dinamika ekonomi global. Dengan demikian, FLB tidak hanya menjadi ruang pelatihan, tetapi juga laboratorium kepemimpinan masa depan.

    Lebih jauh, seleksi ketat terhadap 26 peserta dari berbagai daerah di Aceh mencerminkan upaya serius dalam menjaring talenta terbaik. Proses ini menunjukkan bahwa pembinaan pemuda tidak dapat dilakukan secara massal tanpa standar kualitas yang jelas. Justru, pendekatan berbasis meritokrasi menjadi kunci dalam menciptakan dampak yang berkelanjutan. Para peserta yang terpilih bukan hanya representasi individu unggul, tetapi juga simbol harapan bagi daerahnya masing-masing. Dalam konteks ini, AMANAH telah menempatkan kualitas sebagai fondasi utama programnya.

    Di sisi lain, Ketua Yayasan AMANAH, Dr. Saifullah Muhammad, menegaskan bahwa urgensi kehadiran lembaga ini dalam membangun generasi muda Aceh yang berdaya saing. Ia memandang bahwa pembinaan tidak cukup berhenti pada transfer pengetahuan, melainkan harus menyentuh aspek pembentukan karakter dan kepemimpinan. Penekanan pada pentingnya pola pikir kepemimpinan yang kuat serta komitmen tinggi menjadi relevan di tengah tantangan disrupsi global. Perspektif ini sejalan dengan arah kebijakan pemerintah yang menempatkan pembangunan manusia sebagai prioritas utama.

    Lebih lanjut, dorongan agar pemuda berperan aktif dalam pembangunan berkelanjutan memperlihatkan adanya keselarasan antara program AMANAH dengan nilai-nilai kebangsaan. Dalam hal ini, generasi muda tidak hanya diposisikan sebagai objek pembangunan, tetapi sebagai subjek yang memiliki tanggung jawab moral dan sosial. Semangat cinta tanah air menjadi elemen penting yang harus diinternalisasi dalam setiap proses pembinaan. Dengan demikian, output yang dihasilkan tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga memiliki integritas kebangsaan.

    Selain itu, keterlibatan Said Muniruddin sebagai narasumber utama memberikan dimensi akademik sekaligus praktis dalam pelatihan ini. Sebagai akademisi Universitas Syiah Kuala dan praktisi pengembangan diri, ia membawa pendekatan yang komprehensif dalam membangun kapasitas peserta. Materi mengenai pola pikir kewirausahaan menjadi salah satu titik tekan yang strategis. Hal ini mengingat kewirausahaan tidak hanya berkaitan dengan bisnis, tetapi juga dengan keberanian mengambil risiko, inovasi, dan kemampuan membaca peluang.

    Kemudian, desain materi yang sistematis dan aplikatif menunjukkan bahwa program ini tidak berhenti pada tataran konseptual. Peserta didorong untuk menginternalisasi setiap pembelajaran melalui simulasi dan praktik langsung. Pendekatan experiential learning seperti ini terbukti efektif dalam membentuk kompetensi yang berkelanjutan. Dalam konteks pembangunan daerah, model pembinaan semacam ini dapat menjadi prototipe yang direplikasi di berbagai wilayah. Dengan kata lain, AMANAH tidak hanya membangun individu, tetapi juga menciptakan model pembinaan yang scalable.

    Namun demikian, relaunching AMANAH harus dipahami sebagai titik awal, bukan tujuan akhir. Tantangan ke depan terletak pada konsistensi implementasi dan perluasan jangkauan program. Dalam hal ini, sinergi dengan pemerintah dan pemangku kepentingan menjadi krusial. Dukungan kebijakan yang berpihak pada pengembangan talenta muda akan memperkuat keberlanjutan program ini. Oleh sebab itu, relaunching harus diiringi dengan penguatan tata kelola dan strategi ekspansi yang terukur.

    Sejalan dengan itu, upaya penyelarasan program pembinaan pemuda juga mencerminkan respons terhadap perubahan lanskap global yang semakin kompetitif. Generasi muda dituntut untuk tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga pencipta nilai tambah. Dalam kerangka ini, AMANAH berperan sebagai katalisator yang menghubungkan potensi individu dengan peluang ekonomi. Pendekatan ini selaras dengan visi pemerintah dalam mendorong transformasi ekonomi berbasis inovasi dan kewirausahaan.

    Program yang terstruktur, berbasis kualitas, dan selaras dengan kebijakan nasional akan menjadi fondasi bagi lahirnya generasi unggul. relaunching AMANAH menjadi momentum penting dalam memperkuat ekosistem pengembangan talenta muda di Aceh. Ke depan, keberhasilan program ini akan sangat ditentukan oleh konsistensi, kolaborasi, dan keberanian untuk berinovasi. Melalui kegiatan ini, diharapkan lahir generasi muda Aceh yang kreatif, unggul, berkarakter, dan siap menjadi pemimpin masa depan yang mampu memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat dan bangsa terutama dalam menghadapi persaingan global.

    *) Konsultan Pengembangan Kepemimpinan Pemuda.

  • Penguatan Ekosistem Jadi Fokus, Relaunching AMANAH Siapkan Pemuda Aceh Hadapi Tantangan Global

    Oleh: Teuku Salman Al-Azmi)*

    Menjelang relaunching program Aneuk Muda Aceh Unggul dan Hebat (AMANAH), penguatan kapasitas pemuda menjadi fokus utama dalam upaya mendorong lahirnya generasi muda Aceh yang unggul, adaptif, dan berdaya saing. Langkah ini dipandang sebagai strategi penting untuk memastikan bahwa potensi besar yang dimiliki generasi muda dapat berkembang secara optimal melalui dukungan ekosistem yang semakin matang dan terintegrasi.

    Ketua Yayasan AMANAH, Syaifullah Muhammad mengatakan bahwa menjelang peluncuran ulang program, pihaknya terus melakukan penguatan ekosistem pemuda Aceh. Upaya tersebut diarahkan untuk menciptakan ruang pengembangan yang lebih luas dan terstruktur, sehingga generasi muda tidak hanya memiliki potensi, tetapi juga mampu mengaktualisasikannya secara nyata dalam berbagai bidang.

    Menurutnya, pemuda Aceh memiliki energi dan kreativitas yang besar. Namun, tantangan utama yang dihadapi saat ini adalah keterbatasan ruang dan wadah yang mampu mengarahkan potensi tersebut menjadi produktivitas dan daya saing. Oleh karena itu, penguatan kapasitas pemuda menjadi prioritas utama dalam relaunching AMANAH.

    Penguatan kapasitas yang dimaksud tidak hanya berfokus pada peningkatan keterampilan teknis, tetapi juga mencakup pembentukan karakter, pola pikir, serta kesiapan menghadapi dinamika global. Menurut Syaifullah Muhammad, ekosistem yang kuat akan mampu mengubah potensi menjadi kekuatan nyata yang berdampak bagi pembangunan daerah.

    Ia juga menyoroti pentingnya menyediakan wadah yang tepat bagi generasi muda agar energi dan kreativitas mereka tersalurkan secara positif. Tanpa adanya ruang yang memadai, potensi tersebut berisiko tidak berkembang secara optimal. Dalam konteks ini, kehadiran AMANAH menjadi sangat penting sebagai platform pengembangan pemuda yang terarah dan berkelanjutan.

    Selain itu, Syaifullah Muhammad menekankan bahwa penguatan kapasitas pemuda juga memiliki dimensi sosial yang signifikan. Dengan pembinaan yang tepat, generasi muda dapat diarahkan untuk menjauhi berbagai perilaku negatif dan lebih fokus pada kegiatan produktif yang memberikan manfaat bagi diri sendiri maupun lingkungan sekitarnya.

    Selain itu, pentingnya membangun jiwa kepemimpinan di kalangan pemuda Aceh. Penguatan kapasitas tidak hanya berkaitan dengan kemampuan individu, tetapi juga mencakup penanaman nilai-nilai kepemimpinan, komitmen, dan tanggung jawab dalam pembangunan. Generasi muda diharapkan mampu mengambil peran aktif dalam mendorong kemajuan daerah dengan berlandaskan semangat kebangsaan dan cinta tanah air.

    Sejalan dengan hal tersebut, dukungan dari dunia pendidikan tinggi menjadi elemen penting dalam memperkuat kapasitas pemuda. Rektor UIN Ar-Raniry, Prof. Dr. Mujiburrahman mengatakan bahwa perguruan tinggi harus bertransformasi menjadi lebih dari sekadar ruang akademik. Kampus perlu hadir sebagai pusat inovasi, solusi, dan kolaborasi yang mampu menjawab kebutuhan generasi muda secara nyata.

    Menurut Prof. Dr. Mujiburrahman, keterlibatan perguruan tinggi dalam pengembangan pemuda menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem yang dinamis dan relevan. Dengan membuka ruang kolaborasi yang luas, kampus dapat berperan sebagai penghubung antara potensi akademik dan kebutuhan praktis di lapangan.

    Kolaborasi antara AMANAH dan perguruan tinggi menjadi salah satu langkah strategis dalam penguatan kapasitas pemuda. Sinergi ini diharapkan mampu menghadirkan program-program yang tidak hanya meningkatkan kompetensi, tetapi juga membentuk karakter dan daya pikir kritis generasi muda Aceh.

    Dalam implementasinya, AMANAH terus memperkuat berbagai program unggulan yang berorientasi pada pengembangan kapasitas pemuda. Salah satu program yang menjadi perhatian adalah Future Leaders Bootcamp, yang dirancang untuk mencetak pemimpin muda dengan kemampuan komprehensif serta integritas yang kuat.

    Program ini tidak hanya memberikan pelatihan, tetapi juga membuka ruang kolaborasi dan jejaring yang luas bagi peserta. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya berkembang secara individu, tetapi juga memiliki konektivitas yang kuat dalam mendukung pengembangan diri dan kontribusi sosial.

    Selain itu, AMANAH juga membangun kemitraan dengan berbagai pihak, termasuk komunitas dan pemangku kepentingan lainnya. Kolaborasi ini menjadi bagian dari strategi untuk memperluas akses dan peluang bagi pemuda dalam mengembangkan potensi mereka di berbagai sektor, mulai dari pendidikan hingga kewirausahaan.

    Menjelang relaunching, fokus pada penguatan kapasitas pemuda diharapkan mampu memberikan dampak yang lebih signifikan bagi pembangunan Aceh. Dengan ekosistem yang semakin kuat dan program yang semakin terarah, AMANAH diyakini dapat melahirkan generasi muda yang tidak hanya berpotensi, tetapi juga siap bersaing di tingkat nasional maupun global.

    Momentum relaunching AMANAH menjadi titik penting dalam mempertegas arah penguatan kapasitas pemuda sebagai fokus utama program. Melalui langkah ini, komitmen bersama diperkuat untuk menjadikan generasi muda Aceh sebagai aktor utama pembangunan yang tidak hanya memiliki potensi, tetapi juga kesiapan kompetensi, karakter, dan daya saing yang mumpuni.

    Sejalan dengan fokus tersebut, penguatan kapasitas pemuda melalui AMANAH diarahkan untuk mendorong lahirnya ekosistem kewirausahaan muda yang produktif dan inovatif. Dukungan dalam bentuk pelatihan, pendampingan, serta perluasan akses jejaring menjadi bagian integral dalam meningkatkan kemampuan pemuda, sehingga mereka tidak hanya siap memasuki dunia kerja, tetapi juga mampu menciptakan peluang usaha baru yang berdampak pada pertumbuhan ekonomi daerah.

    Selain itu, penguatan kapasitas pemuda juga mencakup peningkatan literasi digital dan kemampuan adaptasi terhadap perkembangan teknologi. Hal ini menjadi bagian penting dalam menyongsong relaunching AMANAH, agar generasi muda Aceh memiliki kesiapan menghadapi era transformasi digital sekaligus mampu memanfaatkan teknologi sebagai sarana untuk mengembangkan inovasi, memperluas kolaborasi, dan meningkatkan daya saing di berbagai sektor strategis.

    )* Penulis adalah Mahasiswa Aceh tinggal di Jakarta

  • Jelang Relaunching, AMANAH Perluas Ruang Pengembangan Pemuda Bersama Dunia Kampus

    Oleh: Muhammad Farhan Lamri

    Momentum relaunching Yayasan Aneuk Muda Aceh Unggul dan Hebat (AMANAH) menjadi penanda penting dalam penguatan strategi pembangunan sumber daya manusia di Aceh. Langkah ini tidak sekadar menghadirkan pembaruan program, melainkan juga mempertegas arah kebijakan pembinaan generasi muda yang lebih terstruktur, inklusif, dan berkelanjutan. Di tengah dinamika global yang semakin kompleks, kehadiran ekosistem pengembangan pemuda yang kuat menjadi kebutuhan mendesak. Dalam konteks ini, kolaborasi antara AMANAH dan dunia kampus menjadi fondasi strategis dalam memperluas ruang pengembangan generasi muda Aceh.

    Salah satu langkah konkret terlihat dari pertemuan AMANAH dengan Rektor Universitas Islam Negeri Ar-Raniry, Prof. Dr. Mujiburrahman. Pertemuan tersebut menyoroti pentingnya penguatan pembinaan generasi muda di tengah meningkatnya kerentanan sosial. Fenomena ini dinilai tidak bisa dipandang sebelah mata, karena berpotensi memicu kesenjangan sosial yang berdampak pada menurunnya kemampuan adaptasi masyarakat terhadap perubahan global. Oleh karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih sistematis dalam membangun kapasitas pemuda, bukan sekadar respons jangka pendek terhadap persoalan yang muncul.

    Dalam pembahasan tersebut, ditekankan bahwa generasi muda Aceh sejatinya memiliki potensi besar, baik dari sisi kreativitas maupun energi produktif. Namun, keterbatasan ruang pengembangan masih menjadi tantangan utama. Ketua AMANAH, Syaifullah Muhammad, memandang bahwa persoalan mendasar bukan pada kurangnya potensi, melainkan belum optimalnya ekosistem yang mampu mengarahkan potensi tersebut menjadi produktivitas nyata. Ia menilai bahwa tanpa wadah yang tepat, energi dan kreativitas pemuda berisiko tidak tersalurkan secara positif, bahkan dapat mengarah pada perilaku destruktif seperti penyalahgunaan narkoba.

    Pandangan tersebut menggarisbawahi pentingnya membangun ekosistem yang tidak hanya menyediakan ruang, tetapi juga memberikan kesempatan yang objektif dan berkelanjutan. Dalam konteks ini, peran perguruan tinggi menjadi sangat strategis. Kampus tidak lagi cukup berfungsi sebagai ruang akademik semata, melainkan harus bertransformasi menjadi pusat inovasi, kolaborasi, dan solusi bagi generasi muda. Sinergi antara AMANAH dan dunia kampus mencerminkan upaya untuk menghadirkan pendekatan baru yang lebih relevan dengan kebutuhan zaman.

    Kolaborasi ini kemudian diarahkan pada berbagai program konkret, seperti pelatihan berbasis industri kreatif, inkubasi kewirausahaan, hingga perluasan jejaring global. Program-program tersebut dirancang untuk menjawab tantangan nyata yang dihadapi generasi muda, khususnya dalam menghadapi persaingan global. Selain itu, pembinaan juga difokuskan pada penguatan pola pikir berkembang atau growth mindset, yang dinilai penting untuk membentuk karakter pemuda yang adaptif, inovatif, dan resilien.

    Langkah ini menjadi semakin relevan jika dikaitkan dengan kondisi demografi Aceh yang didominasi oleh usia produktif. Bonus demografi yang dimiliki dapat menjadi peluang besar, namun juga berpotensi menjadi beban jika tidak dikelola dengan baik. Keterbatasan akses terhadap pendidikan, informasi, hingga infrastruktur masih menjadi faktor yang dapat memicu munculnya berbagai persoalan sosial, seperti kemiskinan dan rendahnya tingkat kesejahteraan. Oleh karena itu, penguatan kapasitas pemuda melalui pendekatan kolaboratif menjadi solusi yang tidak dapat ditunda.

    Tidak hanya berhenti pada kolaborasi dengan dunia akademik, AMANAH juga memperluas sinergi dengan sektor ekonomi. Salah satunya melalui kerja sama dengan Bank Indonesia Perwakilan Provinsi Aceh. Kolaborasi ini difokuskan pada pengembangan ekonomi kreatif berbasis generasi muda dan UMKM. Upaya tersebut menunjukkan bahwa pembinaan pemuda tidak bisa dilepaskan dari aspek ekonomi, karena kemandirian finansial menjadi salah satu indikator penting dalam menciptakan generasi yang berdaya saing.

    Melalui integrasi antara pendidikan, kewirausahaan, dan jejaring ekonomi, AMANAH berupaya menghadirkan ekosistem yang mampu menghubungkan potensi pemuda dengan peluang nyata. Pendekatan ini mencerminkan perubahan paradigma dalam pembinaan generasi muda, dari yang sebelumnya bersifat parsial menjadi lebih holistik dan terintegrasi. Dengan demikian, generasi muda tidak hanya dibekali keterampilan, tetapi juga diarahkan untuk mampu berkontribusi secara langsung terhadap pembangunan daerah.

    Relaunching AMANAH pada akhirnya bukan sekadar simbol pembaruan program, melainkan representasi dari komitmen untuk membangun masa depan Aceh melalui investasi pada generasi muda. Kolaborasi dengan dunia kampus dan sektor ekonomi menjadi bukti bahwa pembangunan pemuda memerlukan keterlibatan berbagai pihak. Jika sinergi ini terus diperkuat, maka potensi besar yang dimiliki generasi muda Aceh tidak hanya akan berkembang secara optimal, tetapi juga mampu menjadi motor penggerak kemajuan daerah di tengah persaingan global yang semakin ketat. 

    Optimisme terhadap relaunching AMANAH semakin menguat seiring dengan arah program yang semakin terukur dan berpihak pada kebutuhan generasi muda. Kehadiran AMANAH tidak lagi dipandang sekadar sebagai wadah pembinaan, melainkan sebagai akselerator yang membuka peluang lebih luas bagi pemuda Aceh untuk tumbuh dan berkembang. Dengan pendekatan yang lebih adaptif, program ini diyakini mampu menjembatani kesenjangan antara potensi dan peluang, sehingga anak muda tidak hanya menjadi penonton dalam arus perubahan, tetapi juga pelaku utama yang menentukan masa depan daerahnya.

    Lebih jauh, relaunching ini menghadirkan harapan baru bagi lahirnya ekosistem yang benar-benar inklusif. AMANAH berupaya memastikan bahwa setiap pemuda, tanpa terkecuali, memiliki akses terhadap ruang pengembangan diri yang adil dan berkelanjutan. Upaya ini penting untuk menciptakan pemerataan kesempatan, terutama bagi mereka yang selama ini berada di wilayah dengan keterbatasan akses. Dengan membuka lebih banyak ruang kolaborasi lintas sektor, AMANAH mendorong terciptanya lingkungan yang tidak hanya kompetitif, tetapi juga suportif dalam mengembangkan kreativitas dan inovasi.

    *) Konsultan Pemberdayaan Pemuda dan Anak

  • Ekosistem Kreatif Kian Terkonsolidasi Jelang Relaunching AMANAH

    Oleh : Awaluddin Jamin )*

    Relaunching Yayasan Aneuk Muda Aceh Unggul–Hebat (AMANAH) yang dijadwalkan berlangsung pada April 2026 menjadi momentum penting dalam mengaktifkan kembali pusat kreativitas pemuda Aceh sebagai ruang kolaborasi yang lebih luas dan terintegrasi. Program ini diarahkan untuk memperkuat sinergi antara generasi muda, dunia usaha, komunitas kreatif, serta pelaku UMKM, guna mendorong lahirnya inovasi dan peluang ekonomi baru berbasis potensi lokal. Dengan pendekatan kolaboratif, AMANAH diharapkan mampu menjadi motor penggerak pengembangan kapasitas pemuda sekaligus memperkuat ekosistem ekonomi kreatif di Aceh.

    Diantara program kolaborasi yang dilakukan AMANAH adalah memperkuat ekosistem kreatif pemuda melalui penyelenggaraan Future Leaders Bootcamp (FLB). Acara ini digelar di Gedung Amanah, Kawasan Industri Aceh (KIA), Ladong, Kabupaten Aceh Besar, dengan mengusung tema “Mengenal Diri, Menentukan Arah, Mewujudkan Masa Depan.”

    Melalui kegiatan ini, AMANAH menegaskan komitmennya dalam memperkuat ekosistem kreatif pemuda Aceh menjelang peluncuran ulang, dengan harapan lahir generasi yang inovatif, berkarakter, dan siap membawa daerah menuju kemajuan berkelanjutan. Berbagai sesi pelatihan seperti Vision Building, Life Roadmap, dan Communication & Public Speaking dirancang untuk memperkuat keterampilan praktis peserta.

    Sebagai bagian dari penguatan kapasitas, FLB juga menghadirkan narasumber inspiratif, Akademisi Universitas Syiah Kuala, Said Muniruddin yang memberikan materi utama terkait pengembangan pola pikir kewirausahaan. Ia menekankan bahwa daya saing global pemuda Aceh sangat ditentukan oleh kesiapan mental dan visi yang dimiliki.

    Kegiatan ini juga menjadi bagian dari langkah strategis AMANAH dalam menyiapkan generasi muda yang adaptif, inovatif, dan siap berkontribusi dalam pembangunan. Para peserta yang terlibat telah melalui proses seleksi ketat dari puluhan pendaftar terbaik, sehingga menghasilkan kelompok pemuda dengan potensi unggul. Antusiasme tinggi terlihat sepanjang kegiatan, mencerminkan kesiapan mereka dalam mengembangkan kapasitas diri.

    Ketua Yayasan AMANAH, Saifullah Muhammad menegaskan pentingnya penguatan ekosistem kreatif sebagai fondasi pembangunan pemuda. Pihaknya ingin memastikan bahwa generasi muda Aceh memiliki pola pikir kepemimpinan yang kuat, kreatif, serta mampu berperan aktif dalam pembangunan berkelanjutan yang selaras dengan nilai kebangsaan.

    Pemuda Aceh memiliki peluang besar untuk bersaing di tingkat global, selama mereka membangun entrepreneurial mindset yang solid, tidak hanya dari sisi keterampilan teknis, tetapi juga dari kekuatan visi dan nilai spiritual. Selain itu, perlunya keseimbangan kemampuan agar pemuda Aceh mampu bersaing di tingkat global dengan didukung fondasi yang kuat. Pendekatan growth mindset menjadi kunci agar pemuda mampu menguasai soft skill dan hard skill secara seimbang sebagai bekal menghadapi tantangan global.

    Selain menyelenggarakan Future Leaders Bootcamp (FLB), AMANAH juga memperkuat kolaborasi strategis dengan Kantor Perwakilan Bank Syariah Indonesia (BSI) Provinsi  Aceh dalam upaya membangun ekosistem ekonomi produktif yang mampu mendorong pertumbuhan ekonomi Aceh yang inklusif dan berkelanjutan melalui pemberdayaan generasi muda. Kolaborasi ini diarahkan untuk memperkuat kewirausahaan muda, pengembangan UMKM, serta optimalisasi komoditas unggulan daerah agar mampu menjadi motor penggerak ekonomi baru di Aceh.


    AMANAH berkomitmen membangun ekosistem pemberdayaan generasi muda Aceh yang tidak hanya fokus pada peningkatan kapasitas individu, tetapi juga menciptakan peluang ekonomi baru yang berdampak luas bagi masyarakat. Program pemberdayaan ini diarahkan pada penguatan growth mindset, peningkatan soft skill dan hard skill, serta sertifikasi kompetensi agar anak muda Aceh mampu mandiri secara ekonomi dan menjadi pelaku pembangunan di daerahnya.

    Melalui kolaborasi ini, AMANAH dan BSI diharapkan mampu mendorong lahirnya wirausaha muda Aceh yang tangguh, memperkuat UMKM agar naik kelas, serta mempercepat terwujudnya pertumbuhan ekonomi Aceh yang inovatif, inklusif, dan berkelanjutan.


    Sebagai pusat pengembangan ekonomi kreatif dan kewirausahaan muda, AMANAH mengelola kawasan pemberdayaan ekonomi di Kawasan Industri Ladong, Aceh Besar, dengan nilai investasi sekitar Rp200 miliar yang diresmikan pada akhir tahun 2024. Kawasan seluas sekitar 5 hektar tersebut dirancang sebagai pusat inovasi dan inkubasi bisnis bagi anak muda Aceh, yang dapat dimanfaatkan oleh berbagai pemangku kepentingan yang memiliki kepedulian terhadap Pembangunan ekonomi kreatif.

    Berbagai fasilitas strategis tersedia di kawasan ini, antara lain gedung utama AMANAH, studio podcast, studio fashion, galeri UMKM, rumah kopi, rumah produksi nilam, rumah teknologi, rumah kemasan, greenhouse hortikultura, area budidaya ikan bioflok, aula pertemuan, asrama pelatihan, serta area pameran UMKM.

    Selain itu, kawasan ini juga dilengkapi berbagai peralatan produksi bernilai tinggi seperti mesin roasting kopi, fasilitas pengolahan minyak nilam, serta peralatan produksi dan pengemasan berbagai produk turunan seperti kosmetik dan skincare.

    Tujuan dilakukannya Relaunching adalah untuk menghidupkan kembali aktivitas, mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif generasi muda Aceh, dan mengembangkan produk lokal. Sebagai wadah inovasi dan kreativitas anak-anak muda Aceh, diharapkan menjadi embrio bagi ekonomi-ekonomi startup, kemudian juga ekonomi-ekonomi dengan sentuhan teknologi modern, sehingga menggeser dari yang sebelumnya tradisional menuju ke modernisasi.

    Pada akhirnya, relaunching AMANAH menjadi momentum penting dalam menegaskan bahwa masa depan Aceh berada di tangan generasi mudanya. Dengan dukungan ekosistem yang semakin kuat, peluang untuk mengoptimalkan potensi menjadi semakin terbuka lebar. Jika konsistensi program ini terus dijaga, maka bukan tidak mungkin generasi muda Aceh akan tampil sebagai kekuatan baru yang mampu bersaing di tingkat nasional maupun global, sekaligus membawa daerahnya menuju pembangunan yang lebih maju, inklusif, dan berkelanjutan.

     
    )* Pemerhati Sosial Kemasyarakatan

  • Sekolah Rakyat Dibangun di Seluruh Daerah, Target Satu Per Kabupaten atau Kota

    Makassar — Pemerintah terus memperluas jangkauan program Sekolah Rakyat sebagai bagian dari komitmen menghadirkan pendidikan yang inklusif dan merata di seluruh Indonesia. Program ini tidak hanya menyasar peningkatan jumlah peserta didik, tetapi juga diarahkan pada pembangunan infrastruktur permanen di setiap daerah, dengan target satu sekolah di setiap kabupaten atau kota.

    Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyampaikan bahwa perkembangan program Sekolah Rakyat menunjukkan tren positif dan terus diperluas. Pemerintah bahkan menargetkan jumlah siswa mencapai lebih dari 100 ribu pada tahun 2027.

    “Tahun lalu itu hampir 16 ribu, sekarang alokasinya lebih dari 30 ribu. Jadi kita harapkan bisa berjalan dengan baik,” ujarnya.

    Menurutnya, peningkatan alokasi tersebut akan berdampak signifikan terhadap jumlah peserta didik secara keseluruhan. Jika target tahun ini tercapai, jumlah siswa Sekolah Rakyat diproyeksikan meningkat pesat.

    “Kalau tahun ini alokasinya bisa mencapai lebih dari 30 ribu bisa kita realisasikan, maka tahun ini pula itu lebih dari 46 ribu sudah siswa sekolah rakyat,” ungkapnya.

    Lebih lanjut, pemerintah berkomitmen untuk terus memperluas cakupan penerima manfaat, khususnya bagi anak-anak dari keluarga rentan. Penambahan kuota akan dilakukan secara bertahap hingga tahun depan.

    “Jika begitu maka tahun depan berarti sudah ada lebih dari 100 ribu,” tambahnya.

    Selain peningkatan jumlah siswa, pembangunan infrastruktur menjadi fokus utama dalam penguatan program ini. Saat ini, sebagian besar Sekolah Rakyat masih memanfaatkan gedung sementara. Namun, pemerintah telah menetapkan arah kebijakan untuk menghadirkan gedung permanen di setiap wilayah.

    “Untuk jumlah sekolahnya ini kan gedung sementara ya, untuk sekolah permanennya sesuai arahan Bapak Presiden kita harapkan setiap kabupaten kota memiliki satu gedung permanen sekolah rakyat,” jelasnya.

    Pembangunan sekolah permanen tersebut mulai direalisasikan pada tahun ini di berbagai daerah. Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas layanan pendidikan sekaligus memperluas daya tampung siswa.

    “Nah untuk tahun ini dibangun di 100 titik lebih yang insya Allah akan bisa dimanfaatkan tahun ini. Nanti gedung permanennya itu bisa menampung seribu siswa, SD, SMP, SMA,” ujarnya.

    Ke depan, program ini tidak hanya berperan sebagai sarana pendidikan formal, tetapi juga sebagai pusat pemberdayaan masyarakat yang didukung infrastruktur memadai dan peningkatan jumlah peserta didik, sehingga diharapkan mampu melahirkan generasi unggul serta memperkuat ketahanan sosial dan ekonomi nasional.

  • Sekolah Rakyat Ditargetkan Jangkau 100 Ribu Siswa pada 2027

    JAKARTA – Pemerintah melalui Kementerian Sosial (Kemensos) terus memperluas jangkauan Program Sekolah Rakyat sebagai upaya strategis meningkatkan akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Program ini ditargetkan mampu menjangkau lebih dari 100 ribu siswa pada 2027.

    Menteri Sosial Saifullah Yusuf menyampaikan bahwa peningkatan jumlah penerima manfaat dilakukan secara bertahap. Pada 2026, jumlah peserta ditargetkan menembus lebih dari 30 ribu siswa. Jika ditambah sekitar 15 ribu siswa dari tahun ajaran sebelumnya, total penerima manfaat pada akhir 2026 diproyeksikan mencapai sekitar 46 ribu siswa.

    “Pemerintah akan terus memperluas jangkauan program Sekolah Rakyat. Tahun ini target kita menembus 30 ribu siswa, dan tahun depan kita tingkatkan menjadi lebih dari 100 ribu siswa,” ujarnya.

    Program ini merupakan bagian dari prioritas nasional yang diarahkan oleh Presiden Prabowo Subianto, dengan fokus pada anak-anak yang masuk dalam desil 1 dan 2 Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN), khususnya mereka yang putus sekolah atau berisiko tinggi tidak melanjutkan pendidikan.

    Saifullah menegaskan, Sekolah Rakyat tidak hanya memberikan pendidikan formal berbasis learning management system (LMS), tetapi juga pembinaan karakter melalui sistem berasrama. “Mereka dipersiapkan menjadi agen perubahan bagi diri, keluarga, dan Indonesia. Melalui program ini, anak-anak mendapatkan jalan perubahan melalui pendidikan terpadu,” katanya.

    Untuk mendukung peningkatan jumlah peserta, pemerintah menargetkan pembangunan gedung permanen di lebih dari 100 titik pada tahun ini. Dalam jangka panjang, setiap kabupaten dan kota ditargetkan memiliki minimal satu Sekolah Rakyat dengan kapasitas hingga 1.000 siswa dari jenjang SD hingga SMA.

    Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo menegaskan komitmen jajarannya dalam mempercepat pembangunan infrastruktur program tersebut. Ia meminta seluruh pihak bekerja maksimal agar pembangunan selesai tepat waktu dan berkualitas.

    “Kita enggak punya ide, tetapi kita dikasih kepercayaan untuk mewujudkan ide ini harusnya kita bersemangat 45, kalau perlu mati di lapangan sana agar sekolah ini terbangun on time dengan kualitas yang bagus,” ujarnya.

    Dody menambahkan bahwa Sekolah Rakyat merupakan gagasan strategis untuk mempersiapkan generasi emas Indonesia. “Sekolah Rakyat nantinya untuk adik-adik kita yang prasejahtera. Inilah generasi emas kita nanti, paling enggak di tahun 2045,” katanya.

    Di tingkat daerah, dukungan juga terus menguat. Pemerintah Provinsi Jawa Timur tercatat sebagai wilayah dengan jumlah Sekolah Rakyat terbanyak, yakni 26 unit hingga April 2026. Kepala Dinas Sosial Jawa Timur, Restu Novi Widiani, memastikan komitmen daerah dalam mendukung program nasional tersebut. “Support Pemprov Jatim terhadap program nasional itu terus berjalan,” tegasnya.

    Selain menyediakan lahan dan bangunan, Pemprov Jawa Timur juga mendukung operasional sekolah melalui penyediaan fasilitas, tenaga pengelola, hingga rencana penempatan guru agama di setiap lokasi. Sinergi pusat dan daerah ini diharapkan mampu mempercepat pemerataan akses pendidikan sekaligus memperkuat kualitas sumber daya manusia Indonesia di masa depan.

    (*/rls)

  • Sekolah Rakyat: Dari Akses Pendidikan ke Lompatan Masa Depan

    Oleh: Dhita Karuniawati )*

    Program Sekolah Rakyat hadir sebagai salah satu terobosan penting dalam memperluas akses pendidikan bagi kelompok masyarakat yang selama ini berada di pinggiran sistem. Lebih dari sekadar membuka pintu belajar, Sekolah Rakyat mencerminkan upaya negara dalam membangun fondasi mobilitas sosial yang lebih adil, sekaligus mendorong lahirnya generasi baru yang mampu melompat lebih jauh ke masa depan.

    Dalam beberapa tahun terakhir, isu ketimpangan akses pendidikan masih menjadi tantangan serius di Indonesia. Anak-anak dari keluarga prasejahtera kerap menghadapi hambatan struktural, mulai dari keterbatasan biaya, akses geografis, hingga minimnya dukungan lingkungan belajar. Di tengah situasi ini, Sekolah Rakyat dirancang sebagai jawaban konkret yang tidak hanya bersifat kuratif, tetapi juga transformatif.

    Menteri Sosial (Mensos) Saifullah Yusuf atau Gus Ipul mengatakan bahwa arahan Presiden Prabowo Subianto menargetkan siswa Sekolah Rakyat mencapai 100.000 pada tahun 2027. Tahun ini, alokasi peserta ditargetkan menembus lebih dari 30 ribu siswa. Jika seluruh target terealisasi, total penerima manfaat pada 2026 diproyeksikan melampaui 46 ribu siswa. Pada tahun 2027 jumlah itu ditargetkan meningkat menjadi lebih dari 100 ribu siswa.

    Untuk mendukung target tersebut, pemerintah menyiapkan pembangunan gedung permanen di lebih dari 100 titik tahun ini. Sesuai arahan Presiden Prabowo Subianto, setiap kabupaten dan kota ditargetkan memiliki sedikitnya satu Sekolah Rakyat permanen yang mampu menampung sekitar 1.000 siswa jenjang SD, SMP, dan SMA.

    Gus Ipul mengatakan, program Sekolah Rakyat mulai menunjukkan hasil nyata setelah berjalan lebih dari sembilan bulan sejak dimulai pada 14 Juli 2025. Para siswa kini tumbuh lebih percaya diri, disiplin, serta memiliki cita-cita melanjutkan pendidikan maupun memasuki dunia kerja.

    Menurut Gus Ipul, para lulusan Sekolah Rakyat akan terus didampingi hingga dapat melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi atau menjadi tenaga kerja terampil. Hal tersebut sejalan dengan arahan Presiden Prabowo terhadap program prioritas ini.

    Gus Ipul menjelaskan, tantangan terbesar muncul pada masa awal pelaksanaan program. Dalam dua minggu hingga satu bulan pertama, siswa maupun guru menjalani proses adaptasi dengan sistem sekolah berasrama. Namun, memasuki bulan kedua dan ketiga, ritme pendidikan dan pembelajaran mulai terbentuk dan berjalan semakin baik.

    Sekolah Rakyat menerapkan pendidikan terpadu. Pada pagi hari, siswa mengikuti pembelajaran formal berbasis learning management system (LMS). Sementara sore hingga malam hari difokuskan pada pembinaan karakter melalui pendampingan wali asrama dan wali asuh.

    Gus Ipul mengatakan pihaknya ingin anak-anak memiliki karakter kuat sebagai orang beragama, memiliki hubungan dengan Tuhan, bisa cinta sesama, cinta ilmu dan menyadari bahwa mereka adalah anak-anak Indonesia yang harus berkontribusi (dalam) kemajuan Indonesia di masa yang akan datang.

    Siswa Sekolah Rakyat berasal dari keluarga miskin dan miskin ekstrem pada desil 1 dan 2 Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN). Sebagian di antaranya pernah putus sekolah atau berisiko tidak melanjutkan pendidikan. Karena itu, program ini menjadi jalan perubahan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera.

    Di sisi lain, kesiapan operasional program juga terus diperkuat. Sejumlah lembaga pendidikan dan pelatihan, termasuk Sekolah Tinggi Ilmu Pelayaran (STIP), telah siap mendukung pelaksanaan Sekolah Rakyat. Kesiapan ini mencakup penyediaan fasilitas, kurikulum, hingga tenaga pengajar yang mampu menjawab kebutuhan peserta didik dengan latar belakang yang beragam. Hal ini menunjukkan bahwa implementasi Sekolah Rakyat tidak dilakukan secara tergesa-gesa, melainkan melalui proses perencanaan yang cukup matang.

    Berdasarkan pemaparan tim teknis, dari total 56 bangunan di kawasan STIP, terdapat empat bangunan dan dua fasilitas olahraga yang dapat dimanfaatkan untuk Sekolah Rakyat. Empat bangunan tersebut berada di Asrama Taruna E, Taruna J, Wisma Bahari II, dan Nautika, yang didukung dua lapangan tenis serta dua lapangan sepak bola.

    Dirjen Prasarana Strategis Kementerian Pekerjaan Umum, Bisma Staniarto mengatakan untuk tahap awal, kapasitas yang disiapkan sekitar 100 siswa, didukung dua tenaga pembimbing dan 18 tenaga pengajar.

    Selain STIP, pemerintah juga menyiapkan lokasi lain, termasuk kawasan milik Lembaga Administrasi Negara (LAN), dengan kondisi bangunan yang relatif serupa dan kapasitas sekitar 100 siswa.

    Keterlibatan berbagai institusi tersebut menjadi sinyal bahwa Sekolah Rakyat tidak berdiri sendiri, melainkan menjadi bagian dari ekosistem pendidikan yang lebih luas. Dengan kolaborasi lintas sektor, program ini berpotensi menghadirkan model pendidikan alternatif yang lebih adaptif terhadap kebutuhan zaman, termasuk dalam hal penguatan keterampilan vokasi dan kesiapan kerja.

    Selain itu, pemerintah juga memastikan bahwa kurikulum yang diterapkan relevan dengan kebutuhan masa depan. Dunia kerja yang terus berubah menuntut keterampilan baru, sehingga Sekolah Rakyat perlu mengadopsi pendekatan pembelajaran yang fleksibel dan berbasis kompetensi. Integrasi antara pendidikan akademik dan keterampilan praktis menjadi salah satu aspek yang tidak bisa diabaikan.

    Pada akhirnya, Sekolah Rakyat merepresentasikan pergeseran paradigma dalam kebijakan pendidikan. Dari sekadar memperluas akses, kini bergerak menuju penciptaan lompatan masa depan. Jika dijalankan secara konsisten dan berkelanjutan, program ini tidak hanya akan mengubah nasib individu, tetapi juga memperkuat fondasi pembangunan nasional secara keseluruhan.

    *) Penulis adalah Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia