Penulis: restiana818@gmail.com

  • Pemerintah Pastikan Banpres Karhutla Segera Dicairkan secara Akuntabel

    JAKARTA – Pemerintah memastikan Bantuan Presiden (Banpres) untuk penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) segera dicairkan dan dimanfaatkan secara akuntabel untuk memperkuat penanganan di daerah.

    Kebijakan tersebut diarahkan untuk mendukung kebutuhan operasional, pencegahan, serta pengendalian dampak karhutla di tengah kondisi kemarau yang masih berlangsung di sejumlah wilayah.

    Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni mengatakan Banpres merupakan dukungan pemerintah pusat untuk memperkuat upaya pemerintah daerah dalam menghadapi karhutla.

    Ia menekankan pencairan perlu dilakukan secara cepat tanpa mengabaikan prinsip transparansi dan pertanggungjawaban penggunaan anggaran.

    “Sehingga dana ini bisa segera mungkin dicairkan untuk penanggulangan karhutla, untuk mencegah dampak, termasuk bagi kesehatan dan sebagainya,” kata Raja Juli.

    Ia menjelaskan penggunaan Banpres perlu disesuaikan dengan kebutuhan penanganan di lapangan. Di Sumatera Selatan, pemerintah provinsi memperoleh alokasi Banpres sebesar Rp30 miliar, sementara sejumlah pemerintah kabupaten juga mendapatkan dukungan anggaran untuk memperkuat penanganan karhutla. Pemerintah daerah diminta memastikan pemanfaatan dana tetap sesuai ketentuan dan dapat dipertanggungjawabkan.

    Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru mengatakan anggaran Banpres sebesar Rp30 miliar akan diarahkan terutama untuk memperkuat sarana dan peralatan yang digunakan satuan tugas penanganan karhutla. Pemerintah daerah juga menyiapkan pemanfaatan anggaran berdasarkan petunjuk teknis yang telah diterbitkan.

    “Jadi kita fokus untuk peralatan yang tidak habis pakai, dan mungkin tambahan untuk uang semangat dan lain sebagainya,” ujar Herman.

    Ia menegaskan pelaksanaan program tetap mengedepankan prinsip akuntabilitas. Petunjuk teknis dari Kementerian Dalam Negeri menjadi acuan pemerintah daerah agar proses pemanfaatan anggaran dapat segera berjalan sekaligus memenuhi ketentuan administrasi dan pertanggungjawaban.

    Sementara itu, Bupati Kubu Raya Sujiwo menekankan pentingnya memperkuat langkah preventif dan mitigasi untuk menghadapi potensi karhutla, khususnya ketika kemarau panjang terjadi. Upaya tersebut dilakukan bersamaan dengan kesiapan pemadaman dan penanganan ketika kebakaran muncul.

    “Jadi ke depannya ada upaya langkah preventif. Ketika kemarau panjang ada mitigasi, melakukan pemadaman, dan langkah konkret,” ujarnya.

    Sujiwo menegaskan bahwa pemerintah daerah terus melakukan koordinasi dan menyiapkan langkah konkret di lapangan. Dukungan Banpres menjadi salah satu instrumen yang akan digunakan untuk memperkuat penanganan sekaligus mendorong kesiapsiagaan daerah menghadapi ancaman karhutla.

  • Banpres Karhutla Menjadi Penguat Pemda dalam Menjaga Keselamatan Masyarakat

    Oleh : Catur Ronggo*)

    Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tidak hanya menjadi persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut keselamatan masyarakat, kesehatan publik, aktivitas ekonomi, hingga keberlangsungan pendidikan. Memasuki periode risiko karhutla pada Agustus–September 2026, kemampuan pemerintah daerah untuk merespons secara cepat menjadi semakin penting. Dalam kondisi tersebut, dukungan pemerintah pusat melalui Bantuan Presiden (Banpres) menjadi salah satu instrumen untuk memperkuat kapasitas daerah dalam menghadapi ancaman karhutla.

    Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan bahwa penggunaan dana Banpres untuk penanganan karhutla harus dilakukan secara transparan dan dapat dipertanggungjawabkan. Dukungan tersebut merupakan bentuk perhatian pemerintah pusat terhadap daerah yang menghadapi ancaman karhutla sekaligus menjadi tambahan kekuatan bagi pemerintah daerah dalam menangani persoalan di lapangan.

    Kehadiran dukungan anggaran dari pemerintah pusat menunjukkan bahwa penanganan karhutla membutuhkan pembagian peran yang jelas antara pusat dan daerah. Pemerintah daerah berada pada posisi yang paling dekat dengan masyarakat sehingga membutuhkan fleksibilitas untuk menentukan kebutuhan prioritas, sementara pemerintah pusat memiliki fungsi memastikan dukungan sumber daya tersedia dan dapat digunakan secara tepat sasaran. Dengan pola tersebut, bantuan tidak berhenti sebagai tambahan anggaran, tetapi dapat diterjemahkan menjadi kemampuan operasional.

    Raja Juli menjelaskan bahwa Banpres dapat dimanfaatkan untuk mendukung kebutuhan penanganan karhutla, termasuk pengadaan peralatan yang diperlukan di lapangan. Ia juga menekankan pentingnya memastikan penggunaan dana dilakukan secara transparan sehingga masyarakat dapat mengetahui bahwa dukungan pemerintah benar-benar diarahkan untuk kepentingan penanganan bencana dan perlindungan warga.

    Pengelolaan bantuan yang transparan menjadi semakin penting karena penanganan karhutla membutuhkan keputusan yang cepat sekaligus dapat diawasi. Kecepatan diperlukan ketika titik api mulai berkembang, sedangkan akuntabilitas diperlukan agar setiap penggunaan anggaran memiliki dasar yang jelas. Keduanya bukan pilihan yang harus dipertentangkan, melainkan dua unsur yang perlu berjalan bersamaan dalam tata kelola penanganan bencana.

    Kepala BNPB Suharyanto menekankan perlunya memperkuat koordinasi terpadu lintas kementerian/lembaga dan pemerintah daerah dalam penanganan karhutla. Arahan tersebut merupakan tindak lanjut atas perhatian pemerintah terhadap peningkatan risiko kebakaran di sejumlah wilayah dan kebutuhan untuk memastikan seluruh unsur yang terlibat bergerak dalam satu sistem penanganan.

    Koordinasi menjadi faktor penting karena karhutla tidak mengenal batas administrasi pemerintahan. Penanganannya membutuhkan keterlibatan BNPB, kementerian terkait, pemerintah daerah, TNI, Polri, pemegang konsesi, hingga masyarakat. Ketika koordinasi berjalan baik, informasi mengenai titik api dapat lebih cepat diteruskan menjadi keputusan pengerahan sumber daya. Sebaliknya, koordinasi yang tidak terintegrasi dapat membuat sumber daya yang tersedia tidak digunakan secara optimal.

    Suharyanto juga mengarahkan penguatan operasi penanganan melalui kombinasi operasi darat, pemadaman udara, serta koordinasi lintas sektor. Perhatian pemerintah tidak hanya diarahkan kepada pengendalian api, tetapi juga keselamatan masyarakat yang terdampak asap, termasuk kelompok rentan dan anak-anak sekolah. Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa ukuran keberhasilan penanganan karhutla bukan semata jumlah titik api yang berhasil dikendalikan, melainkan juga sejauh mana dampaknya terhadap masyarakat dapat diminimalkan.

    Sementara itu, Gubernur Sumatera Selatan Herman Deru menyampaikan bahwa Provinsi Sumatera Selatan memperoleh Banpres sebesar Rp30 miliar untuk mendukung penanganan karhutla. Menurutnya, dana tersebut akan diarahkan antara lain untuk memperkuat peralatan pemadaman, khususnya peralatan yang tidak habis pakai sehingga dapat dimanfaatkan untuk menghadapi potensi karhutla pada masa berikutnya.

    Dukungan tersebut memperlihatkan pentingnya investasi pada kapasitas daerah. Peralatan pemadaman yang memadai bukan hanya membantu ketika kebakaran terjadi, tetapi juga meningkatkan kesiapsiagaan pemerintah daerah menghadapi ancaman yang berulang. Dengan demikian, bantuan pemerintah pusat dapat memberikan manfaat yang lebih panjang dibandingkan sekadar menyelesaikan persoalan pada satu periode kebakaran.

    Herman menjelaskan bahwa pemanfaatan Banpres tetap mengikuti petunjuk teknis yang telah ditetapkan pemerintah pusat. Mekanisme tersebut memberikan ruang bagi pemerintah daerah untuk menentukan kebutuhan berdasarkan kondisi lapangan, namun tetap berada dalam koridor tata kelola dan pertanggungjawaban penggunaan anggaran. Hal ini penting agar kecepatan respons daerah tetap berjalan beriringan dengan prinsip akuntabilitas.

    Kebijakan tersebut juga perlu dilihat dalam kerangka penanganan karhutla secara menyeluruh. Pemerintah tidak hanya mengandalkan pemadaman setelah api muncul, tetapi juga memperkuat pemantauan hotspot, kesiapsiagaan personel, koordinasi antarlembaga, pencegahan, hingga penegakan hukum terhadap pelanggaran. Pendekatan terpadu semacam ini dibutuhkan karena karhutla memiliki dimensi yang kompleks dan berpotensi menimbulkan dampak lintas sektor.

    Banpres karhutla memiliki arti strategis karena memperkuat kemampuan pemerintah daerah yang berada di garis depan perlindungan masyarakat. Bantuan anggaran, peralatan, koordinasi nasional, dan pengawasan penggunaan dana dapat menjadi satu rangkaian kebijakan yang saling melengkapi. Pemerintah pusat memberikan dukungan, sementara pemerintah daerah menerjemahkannya menjadi tindakan yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat di wilayah masing-masing.

    Dengan memperkuat tata Kelola daerah sekaligus menjaga transparansi dan koordinasi, pemerintah menunjukkan bahwa penanganan karhutla ditempatkan sebagai agenda keselamatan publik. Sinergi pusat dan daerah inilah yang menjadi fondasi penting untuk membangun Indonesia yang semakin siap menghadapi bencana, menjaga lingkungan, dan memastikan keselamatan masyarakat tetap menjadi prioritas pemerintah.

    *) Penulis merupakan Pengamat Sosial

  • Banpres Karhutla: Perhatian Pemerintah Sampai ke Daerah Terdampak

    Oleh : Radjiman Arif*)

    Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menjadi perhatian serius pemerintah saat ini. Ancaman karhutla tidak hanya berkaitan dengan kerusakan lingkungan, tetapi juga kualitas udara, kesehatan masyarakat, aktivitas ekonomi, serta keberlangsungan pendidikan. Karena itu, kehadiran pemerintah di wilayah terdampak perlu diwujudkan melalui langkah yang konkret, terukur, dan langsung menjawab kebutuhan daerah. Bantuan Presiden (Banpres) menjadi salah satu bentuk dukungan tersebut.

    Terkait tata kelolanya, Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni menegaskan bahwa dana Banpres untuk penanggulangan karhutla harus selalu dipertanggungjawabkan secara akuntabel dan transparan kepada negara maupun masyarakat. Prinsip dasar ini menjadi fondasi penting bagi pelaksanaan kebijakan di lapangan. Sebagai langkah nyata, pemerintah pusat secara sigap telah menyalurkan Banpres kepada sejumlah wilayah yang paling terdampak. Pemerintah Provinsi Sumatera Selatan, misalnya, menerima alokasi sebesar Rp30 miliar, berikut beberapa kabupaten di provinsi tersebut yang juga mendapatkan dukungan serupa untuk menangkal dampak buruk kabut asap.

    Dukungan anggaran dari pusat ini sangat vital agar pemerintah daerah memiliki kapasitas ekstra dan tidak perlu menunggu proses penganggaran rutin daerah yang kerap memakan waktu panjang. Banpres ini sejatinya dirancang agar dapat segera dimanfaatkan secara optimal untuk pengadaan peralatan serta upaya mengurangi dampak karhutla terhadap kesehatan masyarakat. Pengelolaan dana oleh pemerintah daerah dan BPBD tentu berpedoman pada petunjuk teknis yang ada. Dengan demikian, proses penggunaan anggaran dipastikan berjalan efisien, tidak berbelit-belit, dan perlindungan bagi warga dapat segera dieksekusi secara akuntabel.

    Perhatian penuh pemerintah tersebut juga terwujud jelas di Kabupaten Ketapang, Kalimantan Barat. Penyaluran Banpres sebesar Rp20 miliar untuk daerah ini merupakan langkah mitigasi yang sangat terukur. Dana taktis tersebut diarahkan oleh pemerintah pusat untuk memperkuat kebutuhan lapangan yang mendesak, seperti pengadaan alat pelindung diri (APD), mesin pompa air, nozzle, biaya operasional operasional, serta pemenuhan logistik bagi relawan. Kunjungan langsung jajaran kementerian pada awal September lalu ke lokasi terdampak juga menjadi wujud konkret evaluasi pemerintah untuk memastikan bahwa bantuan tersebut benar-benar memperkuat penanganan di garis depan.

    Dari aspek operasional kebencanaan, Kepala BNPB Suharyanto menyatakan bahwa penanganan karhutla yang efektif mutlak membutuhkan koordinasi terpadu lintas kementerian, lembaga, dan pemerintah daerah. Mengingat besarnya tantangan yang dihadapi, langkah memperkuat operasi darurat, khususnya di wilayah rawan seperti Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat, menjadi sebuah keharusan. Fokus utama dari pengerahan sumber daya ini adalah memberikan perlindungan maksimal bagi kelompok rentan serta menjamin keselamatan anak-anak sekolah. Hal ini kemudian disinergikan dengan optimalisasi Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) guna mendatangkan hujan buatan di wilayah-wilayah yang kering.

    Langkah taktis tersebut memperlihatkan paduan yang pas antara dukungan finansial dari Banpres dengan kemampuan manuver operasional di lapangan. Mobilisasi sumber daya darurat dan penyediaan sarana prasarana bagi personel darat tidak bisa ditunda. Memasuki bulan September, kabut asap di sejumlah wilayah Kalimantan Barat sempat memaksa sebagian sekolah untuk menerapkan pembelajaran dari rumah demi menjaga kesehatan para siswa. Oleh karena itu, gerak cepat pemerintah dalam merespons ancaman ini sangatlah krusial untuk mencegah dampak turunan yang lebih luas terhadap sektor pendidikan dan aktivitas ekonomi warga.

    Pendekatan operasional yang komprehensif semacam ini menjadi sangat penting karena setiap daerah memiliki karakteristik lahan yang berbeda. Penanganan kebakaran di kawasan lahan gambut, misalnya, membutuhkan strategi pemadaman dan teknik pembasahan yang jauh lebih rumit dibandingkan dengan lahan mineral. Banyak titik api di lahan gambut yang lokasinya sangat terisolir dan sulit dijangkau melalui jalur darat. Dalam kondisi geografis yang menantang inilah, fleksibilitas dukungan dari pusat menjadi instrumen kunci bagi daerah.

    Merespons dinamika di tingkat daerah, Bupati Ketapang Alexander Wilyo (Alex) menekankan pentingnya penanganan karhutla yang dilakukan secara serentak dan berada di bawah satu jalur komando. Komando yang terpusat ini menjadi kunci keberhasilan, mengingat pemerintah daerah bersama TNI, Polri, Manggala Agni, masyarakat, dan unsur relawan telah berjibaku memadamkan api selama lebih dari dua bulan penuh. Guna mengatasi titik-titik api yang tidak terjangkau oleh pasukan darat, usulan pemerintah daerah untuk memperkuat armada operasi water bombing (pengeboman air dari udara) adalah solusi yang paling logis. Kolaborasi udara dan darat inilah yang mampu meredam penyebaran titik api dengan lebih efektif.

    Penyaluran Banpres memperlihatkan dengan sangat jelas bahwa pemerintah pusat hadir secara utuh mendampingi daerah terdampak karhutla. Dukungan dana yang ditopang oleh koordinasi ketat BNPB, kesiapsiagaan pemerintah daerah, serta semangat gotong royong dari aparat, dunia usaha, dan masyarakat, merupakan satu kesatuan yang solid. Inilah wujud nyata negara yang tidak tinggal diam ketika terjadi persoalan yang membutuhkan penanganan cepat, dengan senantiasa hadir memberikan solusi demi memprioritaskan keselamatan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.

    *) Penulis merupakan Pengamat Sosial

  • Aktivis Ajak Warga Sikapi September Hitam dengan Damai

    JAKARTA — Momentum September Hitam menjadi ruang refleksi untuk mengingat berbagai peristiwa kekerasan, persoalan hak asasi manusia (HAM), serta tragedi kemanusiaan dalam sejarah Indonesia. Di tengah meningkatnya pembahasan isu tersebut di ruang publik dan media sosial, kelompok aktivis mengajak masyarakat menyikapinya secara kritis, bijaksana, aman, dan damai.

    September Hitam digunakan berbagai kelompok masyarakat sipil, aktivis, dan mahasiswa untuk membangun ingatan kolektif terhadap sejumlah peristiwa pada September. Momentum ini juga menjadi sarana meningkatkan kesadaran, khususnya generasi muda, mengenai pentingnya menghargai sejarah dan mengambil pelajaran dari berbagai peristiwa masa lalu.

    Ajakan menjaga suasana damai disampaikan kelompok Aktivis Tangerang Raya yang tergabung dalam ANTFA melalui diskusi bersama sejumlah aktivis di Jakarta pada 16 September 2026. ANTFA menekankan pentingnya menjaga suasana aman, damai, tertib, dan saling menghormati.

    Ketua ANTFA menjelaskan bahwa September Hitam berkaitan dengan ingatan terhadap berbagai peristiwa kekerasan dan persoalan HAM.

    “September Hitam memiliki makna yang berkaitan dengan ingatan terhadap sejumlah peristiwa kekerasan dan persoalan hak asasi manusia yang pernah terjadi di Indonesia. Oleh karena itu, penyikapan terhadap momentum tersebut perlu dilakukan secara bijaksana,” ujarnya.

    Penyampaian aspirasi tetap menjadi bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat dan demokrasi.

    “Penyampaian aspirasi merupakan bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat, namun harus dilaksanakan dengan tetap memperhatikan ketertiban umum, menghormati hak orang lain, serta menghindari tindakan yang dapat menimbulkan konflik maupun keresahan,” lanjut Ketua ANTFA.

    Sejalan dengan itu, aktivis pemuda dan mahasiswa mengajak generasi muda menyikapi bijak informasi terkait September Hitam 2026. Sikap kritis dan kemampuan memverifikasi informasi penting agar mahasiswa tidak mudah terprovokasi konten yang belum terjamin kebenarannya.

    Ketua Umum HMI Komisariat Hukum Universitas Jenderal Soedirman, Mizar Hilman, mengatakan perkembangan teknologi memudahkan generasi muda mengakses informasi mengenai berbagai kasus HAM melalui media sosial. “Belum tentu bahwa mereka itu memahami secara betul atau bahkan mereka hanya mengikuti tren saja,” kata Mizar.

    Ia mengingatkan generasi muda agar tidak sekadar membagikan atau mengunggah konten mengenai HAM. Kepedulian terhadap HAM perlu diwujudkan dengan mempelajari persoalan secara mendalam serta menghormati hak orang lain dalam kehidupan sehari-hari.

    ANTFA juga mengimbau masyarakat tidak mudah terprovokasi informasi yang dapat mendorong tindakan anarkis.

    “Diskusi ini juga menjadi bagian dari edukasi kepada masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh oknum yang menginginkan terjadinya kerusuhan, keributan, dan tindakan anarkisme,” tutup Ketua ANTFA. (*)

  • Aktivis Ingatkan September Hitam Perlu Disikapi Bijak dan Tertib

    Jakarta – Momentum September Hitam 2026 kembali menjadi perhatian di ruang publik. Sejumlah aktivis mengingatkan agar pembahasan mengenai isu hak asasi manusia (HAM) tetap diarahkan pada refleksi, edukasi, dan penyampaian aspirasi secara tertib sehingga tidak berkembang menjadi konflik sosial.

    Ketua ANTFA (Kelompok Aktivis Tangerang Raya) mengatakan momentum tersebut dapat menjadi ruang bagi masyarakat untuk memahami berbagai peristiwa masa lalu sekaligus mengambil pelajaran. Menurutnya, penyampaian aspirasi tetap merupakan bagian dari kehidupan demokrasi, tetapi perlu disertai tanggung jawab.

    “September Hitam memiliki makna yang berkaitan dengan ingatan terhadap sejumlah peristiwa kekerasan dan persoalan hak asasi manusia yang pernah terjadi di Indonesia. Oleh karena itu, penyikapan terhadap momentum tersebut perlu dilakukan secara bijaksana,” ujar Ketua ANTFA.

    Ia menuturkan, masyarakat perlu menjaga penghormatan terhadap hak orang lain ketika menyampaikan pandangan. Sikap tertib juga dinilai penting agar perhatian terhadap isu HAM dapat disampaikan melalui dialog dan kegiatan yang konstruktif.

    “Penyampaian aspirasi merupakan bagian penting dalam kehidupan bermasyarakat, namun harus dilaksanakan dengan tetap memperhatikan ketertiban umum, menghormati hak orang lain, serta menghindari tindakan yang dapat menimbulkan konflik maupun keresahan,” lanjutnya.

    Pandangan serupa disampaikan aktivis pemuda dan mahasiswa, M. Fad. Ia mengingatkan generasi muda agar tidak menerima begitu saja informasi yang beredar di media sosial, terutama narasi yang belum terverifikasi dan berpotensi memperuncing perbedaan.

    “Jangan terprovokasi oleh media maupun media sosial terkait hoaks-hoaks yang bertebaran, yang bertujuan menjatuhkan pimpinan, presiden, maupun pejabat kita semua,” ujar Fad.

    Menurut Fad, mahasiswa dapat mengambil peran sebagai agen perubahan sekaligus menjaga suasana sosial tetap kondusif. Ia mendorong masyarakat memperbanyak aktivitas positif, edukasi, dan dialog sebagai ruang menyampaikan kepedulian terhadap persoalan publik.

    “Supaya jangan terjadi konflik di masyarakat, mari masyarakat menjalin perkumpulan yang positif. Salah satunya untuk edukasi dan melakukan hal-hal yang positif,” katanya.

    Ketua Umum HMI Komisariat Hukum Unsoed, Mizar Hilman, juga menekankan pentingnya memahami informasi secara utuh. Menurutnya, konten singkat di media sosial belum tentu menggambarkan kronologi dan persoalan secara lengkap.

    “Belum tentu bahwa mereka itu memahami secara betul atau bahkan mereka hanya mengikuti tren saja,” ungkapnya.

    Karena itu, pembahasan September Hitam diharapkan dapat berlangsung secara kritis dan bertanggung jawab, dengan mengedepankan verifikasi informasi, dialog, serta penghormatan terhadap ketertiban dan hak masyarakat. (*)

  • Jangan Biarkan September Hitam Dibajak Oknum untuk Menyulut Keresahan

    Oleh: Alexander Royce*)

    Bulan September dinarasikan oleh kelompok kepentingan tertentu sebagai momentum September Hitam. Sebuah masa di mana publik diajak untuk menengok kembali berbagai rentetan peristiwa masa lalu yang berkaitan dengan isu hak asasi manusia. Namun, niat luhur untuk merawat ingatan kolektif ini belakangan mulai terasa melenceng dari esensinya. Ada kecenderungan nyata bahwa peringatan ini tidak lagi murni menjadi ajang refleksi kebangsaan, melainkan telah bermetamorfosis menjadi komoditas politik oleh oknum-oknum tak bertanggung jawab yang mencoba mendelegitimasi upaya perbaikan yang sedang dan terus dilakukan oleh pemerintah saat ini.

    Pemerintahan yang berkuasa sejatinya tidak pernah menutup mata terhadap sejarah. Berbagai upaya penyelesaian non-yudisial dan pemulihan hak-hak korban telah dieksekusi dengan langkah-langkah yang konkret, terstruktur, dan bermartabat. Sangat disayangkan jika iktikad baik dan kerja keras aparatur negara ini justru tertutup oleh bayang-bayang provokasi jalanan yang dirancang semata-mata untuk memicu kegaduhan. Kita harus menyadari bahwa menjaga stabilitas sosial dan politik adalah prasyarat mutlak bagi keberlanjutan pembangunan nasional, terutama di tengah dinamika global yang menuntut ketahanan ekonomi serta persatuan dari seluruh elemen bangsa.

    Kesadaran untuk menjaga kondusivitas ini sebenarnya sudah mulai tumbuh subur di kalangan akar rumput, sebagaimana yang disuarakan oleh Ketua Aliansi Nusantara Tangerang Raya (ANTFA). Pihaknya menggarisbawahi pentingnya menjaga perdamaian di tengah masyarakat dalam menyikapi momentum sejarah di bulan ini. Menurut pandangannya, peringatan sejarah seharusnya tidak diwarnai dengan aksi-aksi anarkistis yang berpotensi melumpuhkan ketertiban umum. Kelompok aktivis ini secara tegas menolak segala bentuk provokasi yang dapat memecah belah kerukunan sosial, seraya mengajak seluruh elemen masyarakat untuk lebih mengedepankan ruang dialog dan doa bersama dibandingkan turun ke jalan yang rentan ditunggangi oleh kepentingan gelap.

    Harapan akan kedamaian dari kelompok sipil tersebut sangat beralasan jika kita melihat betapa mudahnya sebuah isu sejarah dieksploitasi pada masa kini. Di era disrupsi informasi, narasi yang dibangun melalui media sosial sering kali membakar sentimen massa tanpa memberikan ruang bagi rasionalitas. Provokasi semacam ini tidak hanya merugikan masyarakat luas yang aktivitas kesehariannya terganggu akibat demonstrasi, tetapi juga menodai simpati publik. Masyarakat saat ini lebih membutuhkan solusi yang nyata, bukan sekadar pelampiasan amarah yang terus didaur ulang setiap tahun tanpa ujung pangkal yang jelas.

    Fenomena pengulangan narasi amarah ini turut memantik perhatian serius dari Pengamat Politik Indeks Data Nasional, Ayip Tayana. Dalam analisisnya, ia mengingatkan publik agar wacana peringatan peristiwa masa lalu ini tidak bertransformasi menjadi sekadar ajang mobilisasi emosi massa belaka. Ia menilai bahwa kemarahan yang sengaja diorkestrasi tidak akan pernah menghasilkan rumusan penyelesaian yang komprehensif. Lebih jauh, ia memberikan pandangan alternatif yang sangat konstruktif bagi kalangan akademis, yakni dengan mendorong mahasiswa agar mengambil peran aktif dalam mendukung program-program pemerintah yang berfokus pada pemulihan para korban. Keterlibatan mahasiswa dalam ranah kebijakan sosial dinilai akan memberikan dampak positif yang jauh lebih nyata dibandingkan dengan aksi protes yang konfrontatif.

    Pergeseran paradigma dari gerakan jalanan menuju kolaborasi strategis dengan pemerintah adalah kunci kedewasaan berdemokrasi. Mahasiswa sebagai agen perubahan sejatinya memiliki kapasitas intelektual untuk mengawal kebijakan negara dari dalam, memastikan bahwa setiap program pemulihan berjalan optimal di lapangan. Sinergi antara kaum intelektual muda dan pemerintah yang sedang bekerja keras membangun fondasi kemajuan bangsa akan menciptakan sebuah ekosistem penyelesaian masalah yang elegan, bermartabat, dan berorientasi pada masa depan, bukan sekadar jalan di tempat meratapi masa lalu.

    Sejalan dengan semangat kolaborasi tersebut, aktivis pemuda dan mahasiswa, M. Fad, juga memberikan pandangan yang sangat jernih dalam merefleksikan catatan sejarah ini. Ia secara persuasif mengajak seluruh elemen mahasiswa di penjuru tanah air untuk menjadikan momen ini sebagai wadah memperkokoh persatuan bangsa, bukan malah menjadikannya alat untuk memecah belah persaudaraan. Baginya, refleksi sejarah harus mampu melahirkan energi positif bagi para pemuda untuk berkontribusi langsung dalam pembangunan nasional. Ia meyakini bahwa generasi muda yang kritis namun tetap mengedepankan integrasi nasional akan mampu menjadi benteng pertahanan dari berbagai ancaman infiltrasi yang memanfaatkan isu-isu masa lalu.

    Kesadaran kolektif dari berbagai elemen masyarakat, pengamat, dan tokoh pemuda ini sepatutnya menjadi alarm bagi kita semua agar tidak mudah terprovokasi. Jangan biarkan ruang publik kita dibajak oleh oknum-oknum pemicu keresahan yang sekadar berlindung di balik topeng kepedulian HAM. Pemerintah telah membuktikan komitmennya melalui kerja nyata, kebijakan yang berpihak pada rekonsiliasi, dan jaminan stabilitas yang membuat roda kehidupan bangsa terus berputar maju. Mari kita rapatkan barisan, bergandengan tangan mendukung langkah progresif pemerintahan saat ini demi mewujudkan Indonesia yang lebih damai, sejahtera, dan tangguh di masa depan.

    *) Penulis merupakan Pengamat Sosial

  • Mengingat September Hitam Perlu Kedewasaan, Bukan Kemarahan yang Dibakar

    Oleh : Andika Pratama )*

    Setiap momentum untuk mengingat kembali persoalan hak asasi manusia memiliki arti penting bagi kehidupan demokrasi. Ingatan publik terhadap berbagai peristiwa masa lalu bukan sekadar upaya membuka kembali luka, melainkan dapat menjadi ruang untuk memastikan bahwa persoalan yang pernah terjadi tidak dilupakan dan pelajaran darinya dapat digunakan untuk memperbaiki masa depan. Dalam konteks tersebut, September Hitam semestinya ditempatkan sebagai momentum refleksi yang mendorong masyarakat membicarakan penyelesaian persoalan secara dewasa, bukan sebagai ruang untuk membakar kemarahan yang berpotensi meluas menjadi konflik sosial.

    Perkembangan isu September Hitam di ruang digital menunjukkan bahwa masyarakat, khususnya generasi muda, memiliki perhatian terhadap persoalan HAM dan sejarah bangsa. Aktivisme digital dapat menjadi sarana untuk menjaga ingatan kolektif, memperluas diskusi, serta mendorong negara dan masyarakat untuk terus memperhatikan persoalan yang belum sepenuhnya terselesaikan. Namun, ruang digital juga memiliki risiko ketika informasi yang beredar tidak disertai konteks yang memadai. Narasi yang emosional, provokatif, atau tidak terverifikasi dapat dengan mudah menyebar dan membentuk persepsi yang tidak selalu sejalan dengan fakta.

    Pengamat politik Indeks Data Nasional Ayip Tayana memandang fenomena September Hitam secara umum sebagai bagian dari aktivisme digital yang positif karena menjadi pengingat kolektif publik. Namun, ia mengingatkan agar momentum tersebut tidak berkembang menjadi mobilisasi emosi maupun kebencian. Pandangan tersebut penting karena perjuangan terhadap isu HAM pada dasarnya membutuhkan ketekunan, argumentasi, data, dan mekanisme penyelesaian yang jelas. Kemarahan mungkin menjadi titik awal munculnya perhatian publik, tetapi tidak cukup untuk menghasilkan penyelesaian yang berkelanjutan.

    Demokrasi memang memberikan ruang bagi mahasiswa dan masyarakat sipil untuk menyampaikan pendapat. Demonstrasi merupakan salah satu instrumen yang sah dalam menyampaikan aspirasi sepanjang dilakukan sesuai ketentuan hukum dan berlangsung secara tertib. Namun, sebagaimana disampaikan Ayip, masyarakat sipil juga perlu mengevaluasi apakah demonstrasi harus selalu menjadi satu-satunya jalan untuk mendorong penyelesaian persoalan HAM masa lalu. Pertanyaan tersebut layak dikembangkan menjadi diskusi yang lebih luas mengenai efektivitas berbagai jalur advokasi, dialog, penelitian, pendokumentasian, pendidikan publik, hingga mekanisme pemulihan bagi korban.

    Karena itu, tuntutan yang muncul dalam momentum September Hitam akan lebih bermakna apabila diarahkan pada persoalan konkret. Ayip menekankan pentingnya melihat kembali jumlah korban yang belum terverifikasi, memastikan program pemulihan benar-benar dirasakan penerima manfaat, serta memperkuat langkah negara agar peristiwa serupa tidak kembali terjadi. Dengan pendekatan semacam itu, peringatan tidak berhenti pada ekspresi kemarahan, tetapi berkembang menjadi agenda yang dapat diukur dan dievaluasi.

    Persoalan HAM masa lalu memang tidak sederhana. Pemerintah disebut telah melakukan sejumlah kemajuan dalam penanganannya, tetapi masih terdapat pekerjaan yang harus diselesaikan. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa penyelesaian persoalan tidak dapat dilihat secara hitam-putih. Ada langkah yang telah ditempuh, tetapi pada saat yang sama masih terdapat pertanyaan mengenai efektivitas pemulihan, pendataan korban, penyelesaian berbagai kasus, serta jaminan agar pelanggaran serupa tidak berulang. Ruang kritik tetap dibutuhkan, tetapi kritik akan memiliki daya dorong lebih kuat apabila dibangun berdasarkan fakta dan tuntutan yang terukur.

    Di sisi lain, Kapolda Papua Barat Irjen Pol. Alfred Papare mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh isu yang dibawa dalam agenda Black September. Ia menekankan pentingnya menjaga kedamaian dan keamanan serta mengingatkan bahwa masyarakat dapat menyampaikan aspirasi sesuai ketentuan hukum. Kepolisian juga menyatakan kesiapan untuk melakukan mediasi dan mempertemukan massa aksi dengan instansi pemerintah terkait. Pendekatan dialog semacam ini penting agar penyampaian aspirasi memiliki ruang komunikasi yang jelas dan tidak berkembang menjadi benturan.

    Kedewasaan dalam memperingati September Hitam bukan berarti menghapus ingatan terhadap persoalan masa lalu. Sebaliknya, kedewasaan berarti menjaga agar ingatan tersebut tetap hidup melalui cara-cara yang konstruktif. Masyarakat dapat memperingati momentum tersebut dengan memperkuat literasi sejarah, mendiskusikan persoalan HAM berdasarkan data, mendukung proses verifikasi korban, mengawasi pelaksanaan program pemulihan, serta mendorong kebijakan yang dapat mencegah terulangnya pelanggaran.

    Mahasiswa dan masyarakat sipil memiliki peran penting dalam menjaga kualitas demokrasi. Peran tersebut bukan hanya mengkritik, tetapi juga menghadirkan gagasan, menguji informasi, mengawal proses kebijakan, dan memastikan suara korban tetap menjadi bagian penting dalam pembahasan. Demikian pula pemerintah memiliki tanggung jawab untuk membuka ruang dialog, memberikan informasi yang dapat dipertanggungjawabkan, serta memastikan mekanisme penyelesaian berjalan secara nyata.

    September Hitam seharusnya menjadi momentum untuk memperkuat ingatan dan memperbaiki masa depan. Kemarahan yang tidak diarahkan hanya berpotensi melahirkan ketegangan baru, sementara dialog yang berbasis fakta dapat membuka jalan bagi penyelesaian yang lebih substantif. Mengingat masa lalu tidak harus berarti terjebak di dalamnya. Justru dengan kedewasaan, masyarakat dapat menjadikan setiap ingatan sebagai pelajaran, setiap kritik sebagai masukan, dan setiap aspirasi sebagai bagian dari upaya membangun kehidupan demokrasi yang lebih tertib, terbuka, serta menghormati hak asasi manusia.

    *) Penulis adalah Pengamat Sosial

  • Ekonomi RI Dinilai Resilien, Sistem Keuangan Kuat dan Berdaya Tahan

    JAKARTA — Perekonomian Indonesia dinilai memiliki daya tahan yang cukup kuat dalam menghadapi ketidakpastian global yang masih tinggi. Stabilitas makroekonomi, kondisi perbankan yang solid, serta investasi yang terus bergerak menjadi sejumlah faktor yang menopang ketahanan ekonomi nasional sepanjang 2026.

    Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) Solikin M. Juhro mengatakan sistem keuangan Indonesia tetap kuat di tengah meningkatnya tekanan dan dinamika global. Menurutnya, ketahanan tersebut ditopang fundamental ekonomi yang memadai sekaligus kemampuan sistem keuangan beradaptasi terhadap perubahan.

    “Layaknya akar bambu yang kokoh untuk bertahan menghadapi tekanan namun lentur mengikuti arah angin, demikian pula sistem keuangan kita dengan fundamental ekonomi yang kuat dalam menghadapi guncangan, namun tetap responsif dan adaptif terhadap perubahan yang terjadi,” ujar Solikin.

    Solikin menjelaskan, resiliensi sistem keuangan perlu diwujudkan melalui kemampuan membaca perubahan global, memperkuat sinergi antarlembaga, beradaptasi terhadap perkembangan, serta meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi potensi kerentanan. Ketahanan sistem keuangan juga perlu diarahkan untuk memperkuat pembiayaan bagi kegiatan ekonomi produktif.

    BI terus memperkuat kebijakan makroprudensial untuk mendorong intermediasi perbankan ke sektor produktif dan prioritas. Penguatan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) dan implementasi program Percepatan Intermediasi Indonesia (PINISI) menjadi bagian dari upaya tersebut dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian.

    Ketahanan sektor perbankan tercermin dari kondisi permodalan dan risiko kredit yang tetap terjaga. Pada Juni 2026, rasio kecukupan modal atau Capital Adequacy Ratio (CAR) perbankan tercatat 23,70 persen. Sementara itu, rasio kredit bermasalah atau Non-Performing Loan (NPL) berada pada level 2,09 persen secara bruto dan 0,82 persen secara neto.

    Dari sisi perekonomian, Lead Economist PT Bank Danamon Indonesia Tbk Irman Faiz memperkirakan ekonomi Indonesia dapat tumbuh sekitar 5,2 persen pada 2026. Investasi, belanja pemerintah, aktivitas domestik, serta pengembangan sektor hilirisasi dan ekonomi digital disebut menjadi penopang pertumbuhan.

    “Perekonomian Indonesia masih memiliki fondasi yang cukup kuat untuk mempertahankan pertumbuhan di tengah berbagai tantangan global,” kata Irman.

    Meski demikian, risiko eksternal tetap perlu diantisipasi, termasuk volatilitas pasar keuangan, perubahan kebijakan moneter global, serta tekanan terhadap nilai tukar dan transaksi berjalan. Penguatan pasar valuta asing domestik menjadi salah satu langkah untuk menjaga stabilitas sekaligus meningkatkan daya tahan ekonomi nasional.

  • Ekonomi RI Dinilai Resilien di Tengah Perlambatan Global

    JAKARTA — Perekonomian Indonesia dinilai memiliki daya tahan di tengah perlambatan ekonomi global yang dibayangi meningkatnya fragmentasi ekonomi, ketegangan geopolitik, serta perubahan pola investasi dan rantai pasok dunia. Kondisi tersebut sekaligus membuka peluang bagi Indonesia untuk memperkuat fondasi pertumbuhan ekonomi baru.

    Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menekankan pentingnya menjaga stabilitas makroekonomi sebagai fondasi menghadapi ketidakpastian global. Menurut dia, ketahanan ekonomi nasional perlu berjalan beriringan dengan upaya memperkuat sumber-sumber pertumbuhan baru agar Indonesia mampu merespons perubahan lanskap ekonomi internasional.

    “Pentingnya menjaga stabilitas makroekonomi sekaligus memperkuat pilar-pilar pertumbuhan ekonomi baru di tengah meningkatnya fragmentasi ekonomi dan tensi geopolitik internasional,” ujar Destry.

    Dalam menghadapi perubahan tersebut, Bank Indonesia juga mendorong penguatan kerja sama transaksi mata uang lokal atau local currency transaction (LCT) serta konektivitas sistem pembayaran lintas negara. Upaya itu mencakup perluasan integrasi pembayaran berbasis QR antarnegara di antara seluruh anggota aliansi BRICS.

    Penguatan kerja sama keuangan lintas negara tersebut dipandang sebagai bagian dari strategi untuk mengurangi ketergantungan terhadap mata uang tertentu sekaligus meningkatkan efisiensi transaksi perdagangan dan investasi. Inisiatif tersebut juga diarahkan untuk meredam dampak ketidakpastian ekonomi global dan mendorong terbentuknya kerja sama keuangan yang lebih konkret.

    Senior Economist DBS Group Research Radhika Rao mengatakan perkembangan ekonomi global yang semakin multipolar memberikan peluang bagi Indonesia untuk memperkuat posisinya sebagai salah satu pusat pertumbuhan baru. Diversifikasi investasi, manufaktur, dan rantai pasok global menjadi faktor yang dapat dimanfaatkan Indonesia untuk memperbesar peran ekonominya.

    “Keunggulan Indonesia ke depan tidak hanya terletak pada sumber daya alam dan ukuran pasar, tetapi juga kemampuannya menarik investasi berbasis teknologi, memperkuat rantai nilai domestik, mengembangkan ekonomi digital, serta menjaga stabilitas kebijakan dan makroekonomi,” ujarnya.

    Menurut Radhika, perubahan konfigurasi ekonomi global membuat negara-negara berlomba membangun rantai pasok yang lebih beragam dan tahan terhadap berbagai gangguan. Dalam konteks tersebut, Indonesia memiliki ruang untuk meningkatkan nilai tambah industri domestik, memperluas investasi berbasis teknologi, serta memperkuat konektivitas ekonomi digital.

    Penguatan stabilitas makroekonomi, diversifikasi sumber pertumbuhan, dan kerja sama ekonomi lintas negara menjadi sejumlah faktor penting bagi Indonesia untuk mempertahankan ketahanan ekonomi sekaligus menangkap peluang dari perubahan struktur perekonomian global. (*)

  • Ekonomi RI Resilien, Fondasi Makro dan Perbankan Masih Kuat

    Oleh: Bagas Nurahman )*

    Perekonomian Indonesia memiliki fondasi yang tetap kuat untuk menghadapi dinamika ekonomi global sepanjang 2026. Stabilitas makroekonomi yang terjaga dan sistem perbankan yang solid menjadi dua penopang utama resiliensi ekonomi nasional. Keduanya memberikan ruang bagi Indonesia untuk mempertahankan pertumbuhan, menjaga kepercayaan pelaku usaha, serta memperluas pembiayaan bagi sektor-sektor produktif. Dengan fondasi tersebut, tantangan global dapat direspons melalui kebijakan yang adaptif dan peluang pertumbuhan yang semakin beragam.

    Perekonomian global diperkirakan masih menghadapi tekanan berupa tingginya harga energi, suku bunga global yang bertahan tinggi, serta perlambatan pertumbuhan ekonomi dunia. Pertumbuhan global diperkirakan melambat dari 3,5 persen pada 2025 menjadi sekitar 3,0 persen pada akhir 2026 sebelum kembali membaik pada 2027. Namun, dinamika tersebut berlangsung ketika Indonesia memiliki aktivitas domestik yang relatif solid, investasi yang terus mengalir, serta dukungan sektor strategis yang memperkuat struktur ekonomi nasional.

    Lead Economist PT Bank Danamon Indonesia Tbk (Danamon), Irman Faiz, mengatakan bahwa kenaikan harga energi akibat ketegangan geopolitik global telah memicu tekanan inflasi dan memperketat kondisi keuangan di berbagai negara. Meskipun demikian, ekonomi Indonesia diperkirakan tetap tumbuh sekitar 5,2 persen pada 2026. Pertumbuhan tersebut ditopang investasi, belanja pemerintah, aktivitas ekonomi domestik, serta kebijakan yang mendorong pergerakan ekonomi nasional.

    Investasi asing langsung atau foreign direct investment terus menunjukkan tren positif, terutama pada sektor hilirisasi, industri logam dasar, dan pengembangan pusat data. Perkembangan ini memperlihatkan bahwa sumber pertumbuhan Indonesia semakin beragam. Hilirisasi memperkuat nilai tambah sumber daya alam, industri logam dasar memperluas kapasitas produksi, sedangkan pusat data mendukung transformasi digital dan membuka peluang ekonomi baru. Kombinasi tersebut memperkuat fondasi pertumbuhan jangka menengah dan panjang.

    Stabilitas makroekonomi juga tercermin dari upaya menjaga keseimbangan eksternal dan ketahanan pasar keuangan. Defisit transaksi berjalan diperkirakan meningkat dibandingkan tahun sebelumnya seiring tingginya impor energi dan perlambatan ekonomi sejumlah mitra dagang utama. Volatilitas pasar keuangan global serta perubahan arah kebijakan moneter negara maju juga menjadi faktor yang perlu dikelola secara cermat. Penguatan instrumen stabilisasi menjadi bagian penting agar dinamika eksternal tetap dapat direspons secara terukur.

    Bank Indonesia terus memperkuat pendalaman pasar keuangan, khususnya pasar valuta asing domestik. Pasar valuta asing yang lebih dalam, likuid, dan berdaya tahan mendukung stabilitas nilai tukar rupiah, memperluas akses pengelolaan risiko, serta meningkatkan kepercayaan investor. Langkah tersebut menjadi bagian dari penguatan fondasi makroekonomi agar perekonomian nasional memiliki daya tahan yang semakin baik terhadap perubahan arus modal internasional.

    Asisten Direktur Departemen Pengembangan Pasar Keuangan Bank Indonesia, Yansen Lokanata, mengatakan bahwa penguatan pasar valuta asing dilakukan melalui pengembangan transaksi mata uang lokal atau Local Currency Transaction, penyempurnaan ketentuan transaksi pasar valuta asing, serta implementasi Ketentuan Transaksi Pasar Valas Transaksi Lindung Nilai melalui Bank Mitra atau VASTRA.

    Kebijakan VASTRA dirancang untuk memperluas akses investor global terhadap instrumen lindung nilai rupiah di pasar domestik. Selain memperkuat daya tarik aset keuangan Indonesia, kebijakan tersebut diharapkan meningkatkan likuiditas pasar valuta asing, memperbaiki transparansi transaksi, dan mendukung stabilitas nilai tukar dalam jangka panjang. Pendalaman pasar keuangan dengan demikian memperkuat kemampuan ekonomi nasional dalam mengelola risiko sekaligus menjaga kesinambungan pertumbuhan.

    Di sisi lain, kekuatan sistem perbankan menjadi fondasi penting yang menerjemahkan stabilitas makroekonomi ke dalam pembiayaan. Deputi Gubernur Bank Indonesia, Solikin M. Juhro, mengatakan bahwa sistem keuangan Indonesia tetap kuat dan adaptif dalam menghadapi ketidakpastian global. Fundamental ekonomi yang terjaga memberikan ruang bagi sistem keuangan untuk merespons tekanan sekaligus mendukung kebutuhan pembiayaan perekonomian.

    Sistem keuangan yang resilien tidak hanya mampu bertahan menghadapi guncangan, tetapi juga mampu mengubah ketahanan tersebut menjadi pembiayaan yang lebih kuat bagi sektor produktif dan prioritas. Karena itu, Bank Indonesia terus memperkuat bauran kebijakan makroprudensial yang longgar guna mendorong intermediasi perbankan, dengan tetap mengedepankan prinsip kehati-hatian. Kebijakan ini menjaga keseimbangan antara perluasan pembiayaan dan pengelolaan risiko.

    Upaya tersebut dilakukan melalui penguatan Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial atau KLM serta implementasi program Percepatan Intermediasi Indonesia atau Pinisi. Kebijakan ini diharapkan memperluas ruang pembiayaan bagi dunia usaha, meningkatkan aktivitas sektor produktif, dan menjaga kesinambungan pertumbuhan ekonomi. Dengan ketahanan yang solid dan ruang pembiayaan yang masih terbuka, kredit atau pembiayaan perbankan pada 2026 diperkirakan dapat tumbuh pada kisaran 8–12 persen.

    Resiliensi ekonomi Indonesia pada akhirnya bertumpu pada hubungan yang saling menguatkan antara stabilitas makroekonomi dan kekuatan perbankan. Fondasi makroekonomi menjaga keseimbangan, kepercayaan, dan daya tahan ekonomi, sementara perbankan menyediakan pembiayaan untuk menggerakkan kegiatan produktif. Sinergi keduanya menjadi modal penting bagi Indonesia untuk mempertahankan pertumbuhan, memperluas investasi, dan memperkuat daya saing nasional di tengah perubahan lanskap ekonomi global.

    )* Penulis adalah Mahasiswa tinggal di Jakarta