Penulis: restiana818@gmail.com

  • Pemerintah Percepat Langkah Pengendalian Inflasi Demi Ekonomi Rakyat

    Jakarta – Jakarta – Pemerintah terus menunjukkan komitmen kuat dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional melalui langkah-langkah pengendalian inflasi yang terukur dan responsif. Di tengah ketidakpastian ekonomi global yang masih berlangsung, strategi pengendalian harga pangan, penguatan distribusi kebutuhan pokok, serta sinergi kebijakan fiskal dan moneter berhasil menjaga daya beli masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

    Berbagai indikator ekonomi menunjukkan bahwa inflasi Indonesia tetap berada dalam kondisi terkendali. Capaian tersebut mencerminkan efektivitas koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan Bank Indonesia dalam menjaga stabilitas harga serta memastikan pasokan kebutuhan masyarakat tetap tersedia dengan baik di berbagai wilayah.

    Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menegaskan bahwa kondisi inflasi nasional masih berada pada jalur yang sehat dan sesuai sasaran pemerintah.

    “Inflasi masih terkendali dan Bank Indonesia meyakini akan tetap berada dalam sasaran inflasi hingga akhir 2026 melalui sinergi kebijakan moneter serta koordinasi pengendalian inflasi dengan pemerintah pusat dan daerah,” ujar Ramdan.

    Menurutnya, Bank Indonesia juga terus memperkuat berbagai instrumen kebijakan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional.

    “Bank Indonesia akan terus memastikan stabilitas nilai tukar rupiah dan memperkuat bauran kebijakan untuk menjaga momentum pertumbuhan ekonomi nasional,” katanya.

    Sementara itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Dalam Negeri, Tomsi Tohir, mengatakan pemerintah terus memperkuat distribusi kebutuhan pokok, terutama di wilayah yang memiliki tantangan logistik tinggi.

    “Dari Bulog kami minta untuk penyaluran minyak gorengnya dipercepat, diperbanyak, dan Indonesia timur ya, khususnya Papua, agar stabilitas harga tetap terjaga,” ujarnya.

    Selain menjaga harga kebutuhan pokok, pemerintah juga memberikan perhatian besar terhadap keberlanjutan sektor peternakan nasional. Direktur Kesehatan Masyarakat Veteriner Direktorat Jenderal Peternakan dan Kesehatan Hewan Kementerian Pertanian, I Ketut Wirata, menegaskan bahwa pengawasan harga ayam hidup terus diperkuat.

    “Upaya ini dilakukan untuk melindungi keberlanjutan usaha peternak rakyat sekaligus menjaga keseimbangan industri perunggasan nasional,” katanya.

    Dengan berbagai langkah strategis tersebut, pemerintah optimistis stabilitas harga dapat terus terjaga, daya beli masyarakat tetap kuat, dan pertumbuhan ekonomi nasional berlangsung secara inklusif dan berkelanjutan. Keberhasilan pengendalian inflasi ini sekaligus menjadi bukti nyata hadirnya negara dalam menjaga kesejahteraan masyarakat di tengah tantangan ekonomi global yang dinamis.***

  • Inflasi Terkendali Jadi Modal Penting Mendorong Pertumbuhan Ekonomi Berkelanjutan

    Jakarta – Stabilitas inflasi yang tetap terjaga pada Mei 2026 menjadi fondasi penting bagi upaya pemerintah dalam mempertahankan momentum pertumbuhan ekonomi nasional di tengah berbagai tantangan global.

    Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), inflasi Mei 2026 tercatat sebesar 0,28 persen secara bulanan (mtm) dan 3,08 persen secara tahunan (yoy). Meski lebih tinggi dibandingkan April 2026 yang mencapai 2,42 persen (yoy), pemerintah menilai kondisi tersebut masih berada dalam batas yang terkendali.

    Kepala Bagian Komunikasi, Layanan Informasi, dan Manajemen Pengetahuan Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Endang Larasati, mengatakan pemerintah terus memperkuat langkah pengendalian inflasi bersama kementerian dan lembaga terkait, terutama untuk menjaga keterjangkauan pangan masyarakat serta mengantisipasi dampak gejolak ekonomi global.

    “Selain itu, untuk menjaga daya beli masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi, khususnya dalam mengoptimalkan momentum liburan sekolah, Pemerintah juga menyiapkan berbagai program stimulus ekonomi berupa diskon transportasi, termasuk diskon tiket pesawat pada masa libur sekolah, di samping terus memastikan harga BBM subsidi tetap terjangkau,” kata Endang.

    Kenaikan inflasi pada Mei dipengaruhi terutama oleh kelompok volatile food yang mengalami inflasi 6,24 persen (yoy). Peningkatan harga cabai merah, bawang merah, tomat, dan beras terjadi akibat penurunan produksi yang dipicu cuaca ekstrem serta berakhirnya musim panen raya. Meski demikian, sejumlah komoditas seperti daging ayam, telur ayam, dan bawang putih mengalami penurunan harga karena pasokan yang melimpah.

    Menurut Endang, ketahanan ekonomi nasional tetap terlihat dari berbagai indikator makroekonomi yang positif.

    “Perekonomian Indonesia pada Mei 2026 tetap resilien. Resiliensi ekonomi nasional tercermin dari inflasi yang tetap terkendali,” ujarnya.

    Kinerja sektor manufaktur juga menunjukkan perbaikan. Indeks PMI Manufaktur Indonesia naik ke level 50,0 pada Mei 2026 dari 49,1 pada bulan sebelumnya, menandakan aktivitas industri kembali memasuki zona ekspansi.

    “Capaian ini menjadi sinyal positif bahwa momentum pertumbuhan tetap terjaga di tengah berbagai tantangan ekonomi,” tegas Endang.

    Sementara itu, Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menegaskan inflasi masih berada dalam sasaran 1,5 persen hingga 3,5 persen.

    “BI dan pemerintah juga memperkuat implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional,” ujar Ramdan.

    Bank Indonesia meyakini inflasi akan tetap terkendali pada 2026 dan 2027 melalui sinergi kebijakan moneter serta penguatan koordinasi pengendalian inflasi antara pemerintah pusat dan daerah.

  • Pengendalian Inflasi yang Konsisten Menjaga Stabilitas Perekonomian Nasional

    Oleh: Ainul Ramdhani )*

    Keberhasilan pemerintah menjaga inflasi tetap terkendali menjadi salah satu pencapaian penting dalam menjaga stabilitas perekonomian nasional. Di tengah ketidakpastian global yang masih berlangsung, mulai dari fluktuasi harga energi hingga gangguan pasokan akibat perubahan cuaca, Indonesia mampu mempertahankan kondisi ekonomi yang relatif stabil. Capaian tersebut menunjukkan bahwa langkah pengendalian inflasi yang dilakukan secara konsisten telah memberikan hasil nyata bagi masyarakat maupun dunia usaha.

    Stabilitas harga memiliki peran yang sangat penting dalam mendukung aktivitas ekonomi. Ketika inflasi dapat dijaga pada tingkat yang sehat, masyarakat memiliki kepastian dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari, sementara pelaku usaha dapat menjalankan kegiatan produksi dan investasi dengan lebih baik.

    Data Badan Pusat Statistik menunjukkan inflasi pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,28 persen secara bulanan dan 3,08 persen secara tahunan. Meskipun terjadi peningkatan dibandingkan bulan sebelumnya, angka tersebut masih berada dalam rentang sasaran yang ditetapkan pemerintah dan Bank Indonesia. Kondisi ini menjadi indikator bahwa tekanan harga masih dapat dikelola dengan baik melalui berbagai kebijakan yang telah dijalankan.

    Kepala Bagian Komunikasi, Layanan Informasi, dan Manajemen Pengetahuan Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Endang Larasati, menjelaskan bahwa pemerintah terus memperkuat koordinasi dengan berbagai kementerian dan lembaga untuk menjaga akses masyarakat terhadap kebutuhan pokok serta mengantisipasi dampak gejolak ekonomi global. Menurutnya, berbagai langkah dilakukan secara terpadu agar tekanan inflasi tidak mengganggu daya beli masyarakat.

    Pemerintah terus mendorong stabilitas harga melalui operasi pasar, intervensi pada komoditas tertentu, serta pengawasan distribusi barang. Kebijakan tersebut diarahkan untuk memastikan pasokan kebutuhan pokok tetap tersedia dan harga tetap terkendali. Langkah ini menjadi penting karena sektor pangan merupakan salah satu faktor yang paling berpengaruh terhadap tingkat inflasi nasional.

    Selain menjaga ketersediaan pasokan, pemerintah juga berupaya memperkuat daya beli masyarakat melalui berbagai program stimulus ekonomi. Insentif transportasi, termasuk potongan harga tiket pesawat pada masa liburan sekolah, disiapkan untuk menjaga pergerakan ekonomi domestik. Pemerintah juga tetap mempertahankan keterjangkauan harga bahan bakar minyak bersubsidi guna mengurangi tekanan terhadap biaya hidup masyarakat.

    Tantangan inflasi pada Mei 2026 terutama berasal dari kelompok volatile food. Kenaikan harga cabai merah, bawang merah, tomat, dan beras dipengaruhi oleh berkurangnya pasokan akibat cuaca ekstrem serta berakhirnya musim panen raya. Kondisi tersebut menjadi tantangan yang harus dihadapi pemerintah karena komoditas pangan memiliki pengaruh besar terhadap pengeluaran rumah tangga.

    Harga beras tercatat mengalami kenaikan pada tingkat penggilingan, grosir, maupun eceran. Namun kenaikan tersebut tidak menyebabkan gangguan yang signifikan terhadap stabilitas ekonomi secara keseluruhan. Berbagai langkah yang dilakukan pemerintah berhasil menjaga agar kenaikan harga tidak berkembang menjadi tekanan inflasi yang lebih luas.

    Di sisi lain, sejumlah komoditas justru menunjukkan tren penurunan harga. Daging ayam, telur ayam, dan bawang putih mengalami penurunan seiring melimpahnya pasokan di pasar. Kondisi ini membantu menahan laju inflasi sehingga tetap berada dalam tingkat yang terkendali meskipun terdapat tekanan pada beberapa komoditas pangan lainnya.

    Bank Indonesia turut menegaskan bahwa inflasi Indonesia masih berada dalam kisaran sasaran yang telah ditetapkan. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa kondisi tersebut merupakan hasil dari konsistensi kebijakan moneter serta eratnya koordinasi pengendalian inflasi antara pemerintah pusat dan daerah.

    Menurut Ramdan, sinergi yang terbangun melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas harga. Kerja sama tersebut memungkinkan berbagai langkah pengendalian dilakukan secara cepat dan tepat sesuai dengan kondisi di masing-masing wilayah.

    Bank Indonesia bersama pemerintah juga terus memperkuat implementasi Program Ketahanan Pangan Nasional. Program ini diarahkan untuk meningkatkan ketersediaan pasokan pangan sehingga risiko inflasi akibat gangguan produksi maupun distribusi dapat diminimalkan.

    Selain itu, penguatan Gerakan Pengendalian Inflasi dan Pangan Sejahtera terus dilakukan sebagai bagian dari strategi menjaga stabilitas harga dalam jangka panjang. Upaya tersebut menunjukkan bahwa pengendalian inflasi tidak hanya dilakukan melalui kebijakan jangka pendek, tetapi juga melalui penguatan sektor pangan secara berkelanjutan.

    Dukungan terhadap pengendalian inflasi juga datang dari Kementerian Dalam Negeri. Menteri Dalam Negeri, Muhammad Tito Karnavian, menilai bahwa inflasi yang terjaga merupakan fondasi penting dalam menjaga stabilitas ekonomi dan daya beli masyarakat. Menurutnya, harga barang dan jasa yang stabil akan memberikan rasa aman bagi masyarakat dalam menjalankan aktivitas ekonomi.

    Tito juga menekankan bahwa biaya hidup merupakan salah satu persoalan yang paling diperhatikan masyarakat. Karena itu, keberhasilan menjaga inflasi pada tingkat yang rendah menjadi pencapaian yang sangat penting dalam mendukung kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat kepercayaan terhadap kondisi ekonomi nasional.

    Keberhasilan pengendalian inflasi selama ini menunjukkan bahwa koordinasi antarlembaga berjalan efektif. Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, Bank Indonesia, dan berbagai pemangku kepentingan lainnya mampu menciptakan kebijakan yang saling mendukung untuk menjaga stabilitas ekonomi.

    *) Pengamat Ekonomi Nasional

  • Keberhasilan Menjaga Inflasi Perkuat Optimisme Terhadap Ekonomi Indonesia

    Oleh: Yusri Mahendra )*

    Keberhasilan pemerintah menjaga inflasi tetap terkendali di tengah dinamika ekonomi global menjadi salah satu indikator penting yang memperkuat optimisme terhadap prospek perekonomian Indonesia. Di saat banyak negara masih menghadapi tekanan harga akibat gejolak geopolitik, gangguan rantai pasok, dan tingginya harga energi dunia, Indonesia mampu mempertahankan stabilitas harga dalam rentang yang aman sehingga memberikan ruang yang lebih luas bagi aktivitas ekonomi untuk terus tumbuh.

    Data Badan Pusat Statistik menunjukkan inflasi pada Mei 2026 tercatat sebesar 0,28 persen secara bulanan dan 3,08 persen secara tahunan. Meskipun terjadi kenaikan dibandingkan bulan sebelumnya, tingkat inflasi tersebut masih berada dalam kisaran sasaran yang ditetapkan pemerintah dan Bank Indonesia. Kondisi ini menunjukkan bahwa berbagai langkah pengendalian yang dilakukan pemerintah berjalan efektif dalam menjaga keseimbangan antara stabilitas harga dan pertumbuhan ekonomi.

    Kepala Bagian Komunikasi, Layanan Informasi, dan Manajemen Pengetahuan Direktorat Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kementerian Keuangan, Endang Larasati, menjelaskan bahwa pemerintah terus memperkuat koordinasi dengan berbagai kementerian dan lembaga untuk menjaga akses masyarakat terhadap kebutuhan pokok sekaligus mengantisipasi dampak rambatan dari ketidakpastian ekonomi global.

    Langkah pengendalian inflasi yang konsisten menjadi penting karena stabilitas harga berpengaruh langsung terhadap daya beli masyarakat. Ketika inflasi dapat dijaga pada tingkat yang sehat, masyarakat memiliki kepastian dalam melakukan konsumsi, sementara pelaku usaha memperoleh ruang yang lebih baik untuk merencanakan investasi dan ekspansi usaha. Kondisi tersebut pada akhirnya menciptakan lingkungan ekonomi yang lebih stabil dan produktif.

    Pemerintah juga terus memperkuat berbagai program stimulus yang diarahkan untuk menjaga konsumsi masyarakat. Dalam menghadapi periode liburan sekolah misalnya, pemerintah menyiapkan berbagai insentif seperti diskon transportasi dan tiket pesawat serta tetap menjaga keterjangkauan harga bahan bakar minyak bersubsidi. Kebijakan tersebut tidak hanya membantu masyarakat, tetapi juga mendukung aktivitas ekonomi di berbagai sektor yang berkaitan dengan mobilitas dan konsumsi domestik.

    Keberhasilan tersebut terlihat dari masih terkendalinya inflasi secara keseluruhan meskipun beberapa komoditas pangan mengalami kenaikan harga. Selain itu, sejumlah komoditas lain seperti daging ayam, telur ayam, dan bawang putih justru mengalami penurunan harga karena pasokan yang mencukupi. Kondisi ini menunjukkan bahwa mekanisme pengendalian yang dijalankan pemerintah mampu menjaga keseimbangan pasar dan mencegah gejolak harga yang berlebihan.

    Endang menilai resiliensi perekonomian Indonesia tetap terjaga. Stabilitas inflasi menjadi salah satu cerminan bahwa fundamental ekonomi nasional masih kuat meskipun menghadapi tantangan global yang tidak ringan. Keberhasilan tersebut semakin penting karena inflasi yang terkendali merupakan salah satu syarat utama untuk menjaga keberlanjutan pertumbuhan ekonomi.

    Optimisme terhadap ekonomi nasional juga didukung oleh membaiknya aktivitas sektor manufaktur. Pada Mei 2026, Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur Indonesia kembali memasuki zona ekspansi dengan mencapai level 50,0 setelah sebelumnya berada di bawah angka tersebut. Peningkatan ini menunjukkan adanya perbaikan aktivitas produksi yang didorong oleh meningkatnya permintaan domestik.

    Permintaan dalam negeri yang kuat menjadi sinyal bahwa daya beli masyarakat tetap terjaga. Kondisi tersebut sekaligus membantah anggapan bahwa pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya bergantung pada belanja pemerintah. Aktivitas konsumsi masyarakat masih menjadi motor utama yang menopang perekonomian nasional.

    Menteri Keuangan, Purbaya Yudhi Sadewa, menyampaikan bahwa kinerja ekonomi Indonesia pada Triwulan I-2026 menunjukkan hasil yang menggembirakan. Pertumbuhan ekonomi mencapai 5,61 persen, melampaui rata-rata negara-negara G20 maupun ASEAN. Menurutnya, capaian tersebut ditopang oleh konsumsi rumah tangga yang tumbuh kuat serta dukungan kebijakan fiskal yang efektif dalam menjaga momentum ekonomi.

    Pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang mencapai 5,52 persen menjadi bukti bahwa daya beli masyarakat tetap berada dalam kondisi baik. Di sisi lain, konsumsi pemerintah yang tumbuh signifikan berfungsi sebagai akselerator untuk memperkuat aktivitas ekonomi nasional. Kombinasi keduanya menghasilkan struktur pertumbuhan yang lebih sehat dan berkelanjutan.

    Pemerintah juga terus memperkuat sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter. Menurut Purbaya, koordinasi yang semakin erat antara Kementerian Keuangan dan Bank Indonesia menjadi faktor penting dalam menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan yang lebih tinggi. Langkah tersebut antara lain dilakukan melalui penguatan likuiditas sistem keuangan dan dukungan terhadap penyaluran kredit ke sektor riil.

    Bank Indonesia turut menegaskan bahwa inflasi Indonesia masih berada dalam kisaran sasaran 1,5 persen hingga 3,5 persen. Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi Bank Indonesia, Ramdan Denny Prakoso, menyampaikan bahwa pencapaian tersebut merupakan hasil dari konsistensi kebijakan moneter serta kuatnya sinergi pengendalian inflasi antara pemerintah pusat dan daerah melalui Tim Pengendalian Inflasi Pusat dan Daerah.

    Selain itu, penguatan Program Ketahanan Pangan Nasional dan implementasi berbagai program pengendalian inflasi pangan terus dilakukan untuk menjaga stabilitas harga pada masa mendatang. Langkah ini menjadi penting mengingat kelompok pangan masih menjadi salah satu faktor utama yang memengaruhi inflasi nasional.

    Keberhasilan menjaga inflasi tidak hanya mencerminkan efektivitas kebijakan ekonomi pemerintah, tetapi juga menunjukkan kuatnya koordinasi antarlembaga dalam menghadapi berbagai tantangan. Stabilitas harga yang terjaga memberikan kepastian bagi masyarakat dan dunia usaha, sekaligus memperkuat kepercayaan terhadap prospek ekonomi Indonesia.

    *) Pengamar Kebijakan Publik dan Ekonomi Nasional

  • Ketahanan Pangan Diperkuat melalui Mitigasi Kemarau dan Teknologi Pertanian Adaptif

    Jakarta – Kementerian Pertanian (Kementan) terus memperkuat upaya menjaga ketahanan pangan nasional melalui berbagai strategi mitigasi menghadapi musim kemarau 2026. Salah satu langkah yang dilakukan adalah memperluas penerapan teknologi pertanian adaptif melalui Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) guna memastikan produktivitas pertanian tetap terjaga di tengah tantangan perubahan iklim dan potensi keterbatasan ketersediaan air.

    Melalui jaringan BRMP Provinsi di seluruh Indonesia, Kementan mendorong pemanfaatan varietas unggul adaptif, teknologi hemat air, serta penerapan pola budidaya yang sesuai dengan karakteristik lahan kering. Langkah ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk menjaga keberlanjutan produksi pangan sekaligus meningkatkan kesiapan petani dalam menghadapi musim kemarau.

    Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa antisipasi harus dilakukan sejak dini melalui percepatan tanam, penguatan pengelolaan air, dan penggunaan varietas yang mampu beradaptasi dengan kondisi kekeringan.

    “Petani perlu memanfaatkan varietas genjah dan tahan kekeringan seperti Inpago 4–13, Inpari 38–46, Situbagendit, Situpatenggang, Padjadjaran, Cakrabuana, maupun varietas sejenis lainnya guna menjaga stabilitas produksi selama musim kemarau,” ujar Amran.

    Sejak awal tahun 2026, BRMP di berbagai daerah telah memperkuat diseminasi inovasi pertanian melalui penyediaan benih unggul, pendampingan budidaya hemat air, serta penerapan pola tanam yang sesuai dengan kondisi wilayah. Di Kepulauan Riau, BRMP mendiseminasikan varietas unggul tahan kekeringan seperti Cakrabuana Agritan dan Inpari 38 Tadah Hujan Agritan.

    Sementara itu, BRMP Bali turut mendorong pemanfaatan benih jagung varietas Jakarin yang adaptif pada lahan dengan ketersediaan air terbatas.

    Selain pengembangan varietas unggul, Kementan juga terus memperluas penerapan teknologi Alternate Wetting and Drying (AWD) atau pengairan berselang yang terbukti mampu meningkatkan efisiensi penggunaan air tanpa mengurangi produktivitas tanaman. Pengembangan teknologi Larikan Gogo Super (Largo Super) juga dilakukan untuk meningkatkan produktivitas lahan kering secara berkelanjutan.

    Kepala BRMP Prof. Dr. Ir. Fadjry Djufry, M.Si. menegaskan bahwa inovasi teknologi spesifik lokasi menjadi langkah strategis untuk menjaga keberlanjutan produksi pangan nasional.

    “BRMP terus mendorong penerapan inovasi teknologi pertanian sesuai karakteristik wilayah, mulai dari penggunaan varietas adaptif, pengelolaan air yang efisien, hingga pola budidaya spesifik lahan kering agar produktivitas pertanian tetap terjaga di tengah dinamika iklim,” kata Fadjry.

    Melalui penguatan diseminasi inovasi, pemanfaatan teknologi hemat air, dan penggunaan varietas unggul adaptif, Kementerian Pertanian optimistis sektor pertanian Indonesia akan semakin tangguh, produktif, dan berdaya saing dalam menghadapi musim kemarau serta dinamika iklim yang terus berkembang.

  • Ketahanan Pangan dan Mitigasi Kemarau Menjadi Prioritas, Jaga Produksi Nasional

    Jakarta – Pemerintah terus memperkuat strategi ketahanan pangan nasional di tengah ancaman musim kemarau yang mulai menguat di berbagai wilayah. Langkah antisipatif dilakukan melalui pemetaan daerah rawan kekeringan, penguatan infrastruktur irigasi, peningkatan sarana produksi pertanian, serta sinergi lintas sektor guna memastikan produktivitas pertanian tetap terjaga dan pasokan pangan nasional tetap aman.

    Komitmen tersebut tercermin dari langkah sejumlah pemerintah daerah yang bergerak cepat menjalankan berbagai program mitigasi untuk menghadapi potensi dampak kemarau terhadap sektor pertanian. Upaya ini dinilai menjadi bagian penting dalam menjaga stabilitas pangan nasional sekaligus mendukung target swasembada pangan yang menjadi agenda strategis pemerintah.

    Gubernur Jawa Tengah Ahmad Luthfi menegaskan bahwa seluruh pemerintah daerah harus segera memetakan wilayah rawan kekeringan, mengidentifikasi sumber-sumber air, serta menyiapkan kebutuhan infrastruktur irigasi pertanian. Menurutnya, langkah tersebut penting untuk menjaga peran Jawa Tengah sebagai salah satu penyangga utama kebutuhan pangan nasional.

    “Jawa Tengah tetap menjadi lumbung pangan nasional. Tahun 2025 kita sudah menghasilkan 9,1 juta ton gabah kering, dan 15,6 persen untuk kebutuhan nasional,” tegas Ahmad Luthfi.

    Ia menambahkan bahwa capaian tersebut harus terus dipertahankan melalui kolaborasi antara pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten/kota, TNI, Polri, serta seluruh pemangku kepentingan.

    Mengingat sejumlah daerah mulai memasuki periode kemarau, kesiapan daerah dalam mengantisipasi kekeringan menjadi faktor krusial dalam menjaga keberlanjutan produksi pertanian.

    “Kabupaten/kota harus punya peta mana daerah yang menjadi sumber kekeringan. Kalau kurang apa-apa segera lapor ke provinsi,” ujarnya.

    Sementara itu, Pemerintah Provinsi Lampung juga memperkuat langkah mitigasi dampak fenomena El Nino melalui percepatan pembangunan infrastruktur air, penguatan sarana produksi pertanian, serta peningkatan peran penyuluh pertanian di seluruh daerah. Kebijakan tersebut diarahkan untuk menjaga produktivitas lahan sekaligus mempertahankan posisi Lampung sebagai salah satu lumbung pangan utama nasional.

    Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura (KPTPH) Provinsi Lampung, Elvira Umihanni, mengatakan bahwa berbagai program strategis tersebut merupakan tindak lanjut arahan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal dalam memperkuat ketahanan pangan daerah dan mendukung target swasembada pangan nasional.

    “Arahan Gubernur Lampung tersebut diwujudkan melalui penguatan kolaborasi bersama Kementerian Pertanian RI guna menjaga tren peningkatan produksi pangan secara berkelanjutan,” kata Elvira.

    Menurutnya, pemerintah daerah telah menjalankan berbagai program mulai dari penyediaan benih unggul, alat dan mesin pertanian (alsintan), pupuk subsidi, pengendalian Organisme Pengganggu Tanaman (OPT), hingga pengawalan harga pembelian pemerintah terhadap komoditas gabah dan jagung.

    Penguatan langkah mitigasi di berbagai daerah menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan nasional di tengah tantangan perubahan iklim. Dengan kolaborasi yang semakin kuat antara pemerintah pusat dan daerah, sektor pertanian diharapkan tetap mampu menjaga produktivitas, memperkuat cadangan pangan, serta memastikan kebutuhan masyarakat terpenuhi secara berkelanjutan.

  • Mitigasi Kemarau sebagai Pilar Penguatan Ketahanan Pangan Nasional

    Oleh Tania Yuliarahmi )*

    Ketahanan pangan merupakan salah satu fondasi utama dalam menjaga stabilitas ekonomi, sosial, dan kesejahteraan masyarakat. Ancaman musim kemarau panjang menjadi salah satu faktor yang perlu diantisipasi secara serius oleh seluruh pemangku kepentingan. Kemarau berkepanjangan tidak hanya berdampak pada ketersediaan air bersih, tetapi juga berpotensi mengganggu produktivitas sektor pertanian. Oleh karena itu, langkah mitigasi kemarau harus ditempatkan sebagai bagian penting dalam strategi penguatan ketahanan pangan.

    Pemerintah menunjukkan keseriusannya dalam menghadapi potensi kemarau tahun 2026 melalui berbagai langkah antisipatif. Kementerian Pertanian melalui Badan Perakitan dan Modernisasi Pertanian (BRMP) memperkuat penerapan teknologi pertanian adaptif yang dirancang untuk menjaga produktivitas pertanian di tengah keterbatasan sumber daya air. Upaya tersebut dilakukan melalui pengembangan varietas unggul tahan kekeringan, penerapan teknologi hemat air, serta pengembangan pola budidaya yang sesuai dengan karakteristik lahan kering di berbagai wilayah Indonesia.

    Langkah yang dilakukan Kementerian Pertanian mencerminkan pendekatan yang semakin modern dalam menghadapi tantangan sektor pertanian. Ketika perubahan iklim menyebabkan pola cuaca menjadi semakin sulit diprediksi, kemampuan beradaptasi menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan produksi pangan. Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menegaskan pentingnya melakukan antisipasi sejak dini melalui percepatan masa tanam, penguatan pengelolaan air, serta penggunaan varietas tanaman yang adaptif terhadap kondisi kekeringan.

    Di Jawa Tengah, perhatian terhadap ancaman kemarau panjang juga menjadi fokus utama. Wakil Ketua DPRD Jawa Tengah, Mohammad Saleh, mengingatkan pentingnya kesiapsiagaan sejak dini agar dampak kemarau terhadap sektor pertanian, ketersediaan air bersih, serta potensi kebakaran dapat diminimalkan. Pandangan tersebut relevan mengingat prediksi BMKG yang memperkirakan sebagian besar wilayah Jawa Tengah akan mengalami musim kemarau dengan durasi yang lebih panjang dibandingkan tahun-tahun sebelumnya.

    Kesiapsiagaan daerah menjadi sangat penting karena setiap wilayah memiliki karakteristik dan tingkat kerentanan yang berbeda. Pemetaan daerah rawan kekeringan harus dilakukan secara komprehensif agar langkah-langkah antisipasi dapat diterapkan secara tepat sasaran. Penguatan sistem irigasi, pengelolaan cadangan air, serta pendampingan teknis kepada petani menjadi kebutuhan yang tidak dapat ditunda. Produktivitas pertanian harus tetap dijaga agar ancaman penurunan produksi pangan akibat kekurangan air dapat dihindari.

    Selain itu, penyediaan akses air bersih bagi masyarakat juga merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari strategi mitigasi kemarau. Ketersediaan air yang memadai tidak hanya penting bagi kebutuhan rumah tangga, tetapi juga mendukung aktivitas ekonomi masyarakat secara keseluruhan. Oleh sebab itu, koordinasi antara pemerintah daerah, badan penanggulangan bencana, dan berbagai instansi terkait terus diperkuat guna memastikan distribusi air bersih cepat dan efektif.

    Mitigasi kemarau juga harus memperhatikan aspek lingkungan yang berkelanjutan. Risiko kebakaran hutan dan lahan cenderung meningkat selama musim kemarau berlangsung. Karena itu, edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pencegahan kebakaran dan penggunaan air secara bijaksana perlu menjadi bagian dari agenda bersama. Kesadaran masyarakat memiliki peran besar dalam menentukan keberhasilan berbagai program mitigasi yang telah disiapkan pemerintah. Upaya pencegahan yang melibatkan masyarakat secara aktif akan memberikan hasil yang lebih efektif dibandingkan penanganan setelah bencana terjadi.

    Pembangunan infrastruktur air harus menjadi prioritas jangka panjang dalam menghadapi ancaman kekeringan. Pandangan Mohammad Saleh mengenai pentingnya pembangunan embung, revitalisasi saluran irigasi, dan penghijauan kawasan resapan air menunjukkan bahwa mitigasi kemarau membutuhkan pendekatan yang berkelanjutan. Infrastruktur yang kuat akan meningkatkan kemampuan daerah dalam menyimpan dan mengelola sumber daya air sehingga ketergantungan terhadap curah hujan dapat dikurangi.

    Komitmen tersebut juga terlihat dari langkah Pemerintah Provinsi Lampung yang bekerja sama dengan Kementerian Pertanian untuk membangun lebih dari 1.200 unit irigasi perpompaan di seluruh kabupaten dan kota pada tahun 2026. Program tersebut menjadi salah satu bentuk investasi strategis dalam memperkuat ketahanan pangan daerah sekaligus menghadapi ancaman El Nino yang berpotensi memicu kekeringan berkepanjangan. Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Tanaman Pangan, dan Hortikultura Provinsi Lampung, Elvira Umihanni, menyampaikan bahwa pembangunan infrastruktur air menjadi prioritas utama melalui berbagai program seperti irigasi perpompaan, irigasi perpipaan, pembangunan bangunan konservasi air, serta rehabilitasi jaringan irigasi tersier.

    Langkah tersebut memberikan gambaran bahwa pembangunan sektor pertanian tidak hanya berfokus pada peningkatan produksi, tetapi juga pada penguatan daya tahan terhadap berbagai risiko iklim. Infrastruktur air yang memadai akan memungkinkan peningkatan indeks pertanaman sekaligus menekan risiko gagal panen saat musim kemarau panjang.

    Mitigasi kemarau perlu dipandang sebagai investasi strategis bagi masa depan ketahanan pangan Indonesia. Keberhasilan menjaga produksi pangan ditentukan oleh kesiapan seluruh pihak dalam mengantisipasi berbagai risiko yang muncul akibat perubahan iklim. Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, petani, dunia akademik, dan masyarakat menjadi kunci dalam membangun sistem pertanian yang tangguh dan berkelanjutan. Dengan langkah mitigasi yang terencana, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjaga ketahanan pangan nasional sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat di tengah tantangan iklim yang semakin kompleks.

    )* penulis merupakan pengamat kebijakan pangan

  • Ketahanan Pangan dan Mitigasi Kemarau: Menjaga Produksi di Tengah Tantangan Iklim

    *) Oleh: Gavin Asadit

    Ketahanan pangan menjadi salah satu fokus utama pemerintahan Presiden Prabowo Subianto di tengah meningkatnya tantangan perubahan iklim yang berpotensi memengaruhi produksi pertanian nasional. Memasuki musim kemarau 2026, pemerintah bergerak cepat memperkuat berbagai langkah mitigasi guna memastikan produksi pangan tetap terjaga dan kebutuhan masyarakat dapat terpenuhi. Upaya tersebut dinilai semakin penting karena Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi sebagian besar wilayah Indonesia akan mengalami musim kemarau yang lebih panjang dan lebih kering dibandingkan kondisi normal.

    BMKG memperkirakan lebih dari 57 persen zona musim di Indonesia akan mengalami durasi kemarau yang lebih panjang dari biasanya, dengan puncak musim kemarau diprediksi terjadi pada Agustus 2026. Selain itu, sebagian besar wilayah diproyeksikan mengalami curah hujan di bawah normal, sementara peluang munculnya El Nino lemah hingga moderat pada semester kedua 2026 juga mulai menjadi perhatian. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan risiko kekeringan, mengganggu ketersediaan air irigasi, dan memengaruhi produktivitas sektor pertanian apabila tidak diantisipasi sejak dini.

    Menghadapi situasi tersebut, pemerintah telah menyiapkan berbagai strategi untuk menjaga stabilitas produksi pangan nasional. Kementerian Pertanian memperkuat program pompanisasi, optimalisasi jaringan irigasi, penyediaan benih adaptif, serta percepatan tanam di berbagai sentra produksi pangan. Langkah tersebut dilakukan agar petani tetap dapat berproduksi meskipun menghadapi tantangan cuaca yang lebih ekstrem. Pemerintah menilai pengelolaan air menjadi faktor kunci dalam menjaga produktivitas pertanian selama musim kemarau berlangsung.

    Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman sebelumnya menegaskan bahwa pemerintah tidak ingin menunggu dampak kekeringan terjadi sebelum mengambil tindakan. Karena itu, berbagai langkah antisipatif telah dijalankan sejak awal tahun melalui koordinasi dengan pemerintah daerah, kelompok tani, dan berbagai pemangku kepentingan sektor pangan. Pemerintah meyakini mitigasi yang dilakukan lebih awal akan membantu menjaga stabilitas produksi sekaligus mengurangi risiko gagal panen di daerah-daerah rawan kekeringan. Di saat yang sama, pemerintah juga terus memperkuat cadangan pangan nasional sebagai langkah pengamanan apabila terjadi gangguan produksi akibat faktor iklim.

    Upaya menjaga ketahanan pangan juga didukung oleh kondisi stok beras nasional yang saat ini berada pada level kuat. Hingga April 2026, cadangan beras pemerintah yang dikelola Perum Bulog mencapai sekitar 4,5 juta ton, tertinggi dalam sejarah pengelolaan cadangan beras nasional. Kondisi tersebut menjadi modal penting bagi pemerintah dalam menjaga stabilitas pasokan dan harga pangan di tengah berbagai ketidakpastian global maupun tantangan iklim yang berkembang.

    Sementara itu, Kepala BMKG Teuku Faisal Fathani menekankan bahwa kesiapsiagaan lintas sektor menjadi faktor penting dalam menghadapi musim kemarau tahun ini. Menurut BMKG, mitigasi tidak dapat dilakukan oleh satu lembaga saja, melainkan membutuhkan koordinasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, sektor pertanian, pengelola sumber daya air, hingga masyarakat. Karena itu, BMKG terus memperkuat penyediaan informasi iklim dan cuaca untuk mendukung pengambilan keputusan yang lebih tepat dalam sektor pertanian dan pengelolaan sumber daya air.

    Pemerintah juga memperkuat pengelolaan waduk dan sistem irigasi berbasis data iklim. Pendekatan tersebut memungkinkan distribusi air dilakukan secara lebih efisien sesuai kebutuhan wilayah dan pola tanam yang berkembang. Selain itu, berbagai langkah konservasi air terus didorong untuk menjaga ketersediaan sumber daya air selama periode kemarau. Pemerintah menilai adaptasi terhadap perubahan iklim harus menjadi bagian dari strategi jangka panjang pembangunan sektor pertanian agar ketahanan pangan nasional tetap terjaga di masa depan.

    Kepala Badan Komunikasi Pemerintah RI Muhammad Qodari juga menilai ketahanan pangan merupakan fondasi penting bagi stabilitas ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. Karena itu, pemerintah terus memastikan seluruh program penguatan produksi pangan berjalan secara terintegrasi, mulai dari penyediaan sarana produksi, pembangunan infrastruktur pertanian, hingga penguatan distribusi hasil panen. Menurut pemerintah, keberhasilan menjaga ketahanan pangan di tengah tantangan iklim akan menjadi bukti bahwa Indonesia mampu membangun sistem pangan yang semakin tangguh dan berkelanjutan.

    Selain menjaga produksi, pemerintah juga terus mendorong modernisasi sektor pertanian melalui pemanfaatan teknologi dan mekanisasi. Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan efisiensi produksi sekaligus membantu petani beradaptasi terhadap perubahan pola cuaca yang semakin dinamis. Pemerintah ingin memastikan sektor pertanian tidak hanya mampu bertahan menghadapi tantangan iklim, tetapi juga menjadi sektor yang semakin produktif dan kompetitif dalam mendukung pembangunan nasional.

    Di tengah ancaman kemarau yang lebih panjang dan kering pada 2026, pemerintah memilih untuk memperkuat langkah antisipasi dibandingkan sekadar merespons ketika masalah muncul. Dengan dukungan data iklim yang semakin akurat, penguatan infrastruktur pertanian, serta koordinasi lintas sektor yang terus diperkuat, pemerintah optimistis produksi pangan nasional dapat tetap terjaga. Melalui strategi mitigasi yang terencana dan berkelanjutan, Indonesia diharapkan mampu menghadapi tantangan iklim sekaligus menjaga ketahanan pangan sebagai fondasi penting menuju pembangunan yang lebih kuat dan berdaya saing.

    )* Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial dan Kemasyarakatan

  • Transformasi Pengelolaan Aset Negara Kian Cepat dengan Hadirnya PP 19/2026

    Pemerintah mempercepat transformasi pengelolaan aset negara melalui penerbitan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2026 tentang Perubahan atas PP Nomor 10 Tahun 2025 mengenai Organisasi dan Tata Kelola Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara).

    Melalui aturan baru tersebut, pemerintah membuka peluang pemberian Penyertaan Modal Negara (PMN) kepada holding investasi yang menjalankan kegiatan usaha untuk mendukung pembangunan nasional. Sumber PMN dapat berasal dari dana tunai, barang milik negara, piutang negara, hingga aset negara lainnya.

    “Aturan tersebut memberikan ruang bagi negara untuk melakukan penyertaan modal kepada holding investasi yang menjalankan kegiatan usaha dalam rangka mendukung pembangunan nasional, yang bersumber dari APBN, baik berupa dana segar, barang milik negara, piutang negara, maupun aset negara lainnya,” sebagaimana diatur dalam Pasal 31A ayat (1) PP 19/2026.

    Ketentuan ini memperkuat kapasitas pendanaan holding investasi yang berada di bawah kendali Danantara. Sebelumnya, PP 19/2026 juga memberikan kewenangan kepada Danantara untuk membentuk holding investasi dan holding operasional sebagai instrumen pengelolaan investasi serta aset BUMN.

    Regulasi tersebut juga menetapkan status khusus bagi holding investasi yang menerima PMN.

    “Dengan penyertaan modal negara sebagaimana dimaksud, holding investasi yang didirikan berdasarkan Pasal 29B ayat (2) huruf b berstatus menjadi BUMN yang ditetapkan sebagai alat fiskal,” bunyi Pasal 31A ayat (3) PP 19/2026.

    Ketua Komisi XI DPR RI, Mukhamad Misbakhun, menjelaskan bahwa pemberian PMN kepada entitas di bawah Danantara tidak ditujukan untuk mendanai kegiatan bisnis yang bersifat komersial, melainkan mendukung penugasan negara yang berkaitan dengan pelayanan publik atau public service obligation (PSO).

    “Karena beberapa tugas Danantara yang berkaitan dengan PSO, itu mau tidak mau instrumennya adalah APBN. Contoh, Bulog, KAI, dan Pelni. Itu penugasan murni,” ujar Misbakhun.

    Menurutnya, masyarakat tidak perlu mempertentangkan keberadaan Danantara dengan kemungkinan pemberian PMN. Ia menegaskan bahwa kegiatan komersial tetap harus dibiayai melalui mekanisme bisnis, sementara program pelayanan publik memerlukan dukungan anggaran negara agar dapat berjalan secara berkelanjutan.

    Kehadiran PP 19/2026 dinilai menjadi langkah penting dalam memperkuat peran Danantara sebagai instrumen pengelolaan aset dan investasi negara sekaligus mendukung berbagai program pembangunan nasional yang memiliki manfaat ekonomi dan sosial bagi masyarakat.

  • PP 19/2026 Perkuat Danantara sebagai Motor Pengelolaan Investasi Negara

    Jakarta – Pemerintah memperkuat peran Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara (Danantara) melalui penerbitan Peraturan Pemerintah (PP) Nomor 19 Tahun 2026. Regulasi tersebut merevisi sejumlah ketentuan dalam PP Nomor 10 Tahun 2025 guna meningkatkan efektivitas organisasi, tata kelola, dan akuntabilitas pengelolaan investasi negara.

    Dalam pertimbangan aturan tersebut, pemerintah menegaskan bahwa perubahan dilakukan untuk memperkuat kewenangan dan mekanisme kerja Danantara.

    “Bahwa untuk meningkatkan efektivitas penyelenggaraan organisasi dan tata kelola Badan Pengelola Investasi Daya Anagata Nusantara, diperlukan penyesuaian pengaturan mengenai kewenangan, mekanisme tata kelola, dan akuntabilitas pelaksanaan tugas Badan,” bunyi pertimbangan PP 19/2026.

    Melalui aturan baru ini, Danantara memperoleh kewenangan yang lebih luas dalam mengelola dividen BUMN, menyetujui perubahan penyertaan modal, membentuk holding baru, hingga melakukan penghapusan aset melalui mekanisme hapus buku maupun hapus tagih.

    Danantara juga diberi ruang untuk melakukan aktivitas pendanaan, termasuk memberikan dan menerima pinjaman serta menjaminkan aset dengan persetujuan Presiden.

    Salah satu perubahan penting adalah dibukanya peluang pembentukan lebih dari satu holding investasi maupun holding operasional. “Badan dapat mendirikan lebih dari satu holding investasi dan holding operasional dengan persetujuan Presiden,” sebagaimana tercantum dalam Pasal 29B.

    Penguatan kapasitas Danantara turut didukung oleh pengembangan instrumen pembiayaan baru.

    Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan bahwa pemerintah tengah menyiapkan sejumlah insentif untuk mendukung penerbitan instrumen pembiayaan Danantara, termasuk Patriot Bond dan Merah Putih Bond yang akan diatur dalam revisi Undang-Undang Pengembangan dan Penguatan Sektor Keuangan (P2SK).

    “Kami sedang menyiapkan berbagai insentif agar penerbitan Patriot Bond dan Merah Putih Bond semakin menarik bagi investor serta mampu menjadi sumber pembiayaan yang kuat bagi Danantara,” ujar Purbaya.

    Menurutnya, kebijakan tersebut merupakan bagian dari upaya pemerintah untuk memperluas sumber pendanaan pembangunan sekaligus meningkatkan partisipasi investor dalam mendukung proyek-proyek strategis nasional.

    Selain memperkuat aspek pendanaan, Danantara juga memperluas perannya melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI) yang mendapat mandat mendukung tata kelola ekspor komoditas strategis nasional. Kehadiran DSI diharapkan mampu memperkuat pengelolaan ekspor sehingga memberikan nilai tambah yang lebih besar bagi perekonomian nasional.

    Manajemen Danantara menegaskan bahwa implementasi kebijakan tersebut dilakukan secara bertahap dengan tetap menjaga kepastian usaha dan kepercayaan investor. Menurut manajemen, seluruh kontrak yang telah berjalan akan tetap dihormati sepanjang tidak ditemukan praktik yang merugikan negara.

    “Danantara Indonesia memahami bahwa keberhasilan pelaksanaan mandat DSI ini bertumpu pada kepastian berusaha: bahwa kontrak yang sudah ditandatangani masih dapat terus berjalan, selama tidak terjadi under-invoicing,” ujar manajemen Danantara.