Penulis: restiana818@gmail.com

  • Penegakan Hukum terhadap OPM Menjadi Kunci Pemulihan Papua

    Oleh: Ruben Murib *)

    Gelombang kekerasan bersenjata yang kembali terjadi di Papua bukan sekadar catatan kriminal biasa, melainkan alarm serius bagi negara untuk memperkuat keberpihakan pada keselamatan warga sipil. Ketika sebuah pesawat perintis ditembaki saat mendarat di Bandara Korowai Batu, Boven Digoel, Papua Selatan, publik tidak hanya dikejutkan oleh brutalitas aksinya, tetapi juga oleh pesan ancaman yang menyertainya, yaitu kelompok bersenjata masih berupaya menciptakan ketakutan di ruang-ruang hidup masyarakat. Dalam situasi seperti ini, sikap negara tidak boleh ragu. Tindakan tegas terhadap Organisasi Papua Merdeka (OPM) atau Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) menjadi kebutuhan mendesak, bukan sekadar pilihan kebijakan.

    Insiden di Bandara Korowai Batu memperlihatkan betapa rentannya jalur transportasi perintis yang selama ini menjadi urat nadi bagi masyarakat pedalaman. Serangan yang meninggalkan belasan lubang peluru pada badan pesawat dan merenggut nyawa awak penerbangan adalah bentuk kekerasan yang secara terang-terangan menyerang fasilitas publik. Kasatgas Humas Ops Damai Cartenz 2026, Kombes Pol. Yusuf Sutejo, memaparkan bahwa berdasarkan olah TKP, keterangan saksi, dan barang bukti, terdapat 13 bekas proyektil di badan pesawat. Fakta ini bukan sekadar angka, melainkan simbol bahwa aksi bersenjata dilakukan dengan niat membunuh dan menciptakan teror terbuka di ruang sipil.

    Dalam kronologi yang disampaikan Yusuf Sutejo, penyerangan terjadi ketika pesawat sudah mendarat dan bergerak menuju apron. Penumpang yang baru turun maupun yang hendak melanjutkan perjalanan dibuat panik. Bahkan pilot dan kopilot dikejar hingga ditembak di dekat runway. Jika ruang bandara yang seharusnya menjadi titik aman saja bisa berubah menjadi arena penembakan, maka jelas ada persoalan serius yang tidak bisa diselesaikan dengan pendekatan setengah hati.

    Langkah Satgas Damai Cartenz yang menerjunkan personel untuk mengamankan area Korowai serta melakukan pengejaran patut dipandang sebagai respons yang tepat. Dalam konteks Papua, ketegasan bukan identik dengan kekerasan berlebihan, melainkan penegakan hukum yang terukur agar ruang publik tidak dikuasai oleh senjata ilegal.

    Yang perlu digarisbawahi, serangan seperti ini bukan hanya menyasar aparat keamanan, tetapi juga merusak kehidupan warga biasa. Jalur penerbangan perintis di Papua bukan fasilitas mewah, melainkan akses vital bagi distribusi logistik, pelayanan kesehatan, pendidikan, dan mobilitas masyarakat. Ketika kelompok bersenjata menembaki pesawat sipil, sebenarnya yang diserang bukan hanya awak penerbangan, tetapi juga harapan warga pedalaman untuk hidup normal. Oleh sebab itu, agenda pemerintah untuk memastikan stabilitas keamanan di Papua adalah agenda kemanusiaan, bukan semata agenda politik.

    Tindakan tegas juga semakin relevan ketika serangan OPM menyasar objek vital nasional lainnya. Dalam insiden di KM 50 Area PT Freeport Indonesia, Kapendam XVII/Cenderawasih Letkol Inf Tri Purwanto menyampaikan bahwa terjadi kontak tembak yang menyebabkan seorang prajurit gugur dan sejumlah korban lainnya terluka, termasuk pekerja sipil. Serangan di kawasan strategis seperti ini tidak bisa dianggap gangguan kecil, sebab dampaknya dapat meluas terhadap keamanan investasi, keselamatan pekerja, serta kelangsungan ekonomi Papua sendiri. Ketika negara menjamin keamanan objek vital, yang dilindungi bukan hanya perusahaan, tetapi juga ribuan pekerja lokal dan rantai ekonomi yang bergantung pada stabilitas wilayah.

    Di tengah situasi yang mencekam, suara tokoh Papua sendiri menjadi penegas bahwa kekerasan bersenjata tidak pernah sejalan dengan nilai masyarakat Papua. Tokoh pemuda Papua, Ali Kabiay, menyampaikan sikap keras bahwa aksi penembakan terhadap pesawat sipil merupakan tindakan yang mencederai nilai kemanusiaan dan memalukan harga diri orang Papua. Ali Kabiay juga mendorong aparat untuk memburu pelaku serta mengusulkan pembangunan pos keamanan di wilayah perbatasan yang rawan. Pandangan ini penting karena memperlihatkan bahwa ketegasan negara mendapat legitimasi sosial dari warga Papua yang menginginkan kehidupan damai.

    Sikap serupa juga disampaikan Wakil Ketua Majelis Rakyat Papua (MRP) Provinsi Papua, Max Abner Ohee. Dalam pernyataannya, Max Abner Ohee mengecam keras aksi penembakan yang menewaskan awak pesawat, anggota TNI, dan melukai warga sipil. Max menilai tindakan kelompok separatis bersenjata sebagai pelanggaran berat terhadap nilai kemanusiaan. Pernyataan MRP ini menegaskan bahwa agenda keamanan bukan bertentangan dengan prinsip HAM, melainkan justru bagian dari perlindungan HAM itu sendiri, karena hak paling dasar adalah hak untuk hidup tanpa ancaman senjata.

    Pemerintah melalui berbagai satgas ataupun operasi di Papua menunjukkan garis kebijakan yang semakin jelas, yaitu menegakkan hukum dengan pendekatan profesional dan terukur. Kepala Operasi Damai Cartenz 2026, Brigjen Pol. Dr. Faizal Ramadhani, menegaskan bahwa aparat hadir untuk memastikan masyarakat tetap merasa aman, dan setiap aksi kekerasan terhadap warga sipil maupun fasilitas publik akan ditindak tegas sesuai hukum yang berlaku. Penegasan ini menjadi komitmen negara untuk tidak membiarkan teror berkembang menjadi normalitas.

    Ketegasan terhadap OPM bukan berarti menutup ruang dialog pembangunan, melainkan memastikan bahwa pembangunan hanya bisa berjalan jika keamanan ditegakkan. Papua tidak boleh terus-menerus disandera oleh kelompok bersenjata yang memaksakan agenda politik dengan cara membunuh. Jika negara ragu, korban akan terus berjatuhan. Jika negara tegas, masyarakat punya peluang lebih besar untuk hidup normal, bekerja, bersekolah, dan mengakses layanan dasar tanpa rasa takut.

    *) Pemerhati Sosial Politik Papua

  • Tokoh Pemuda Papua Kecam Keras Penembakan Pesawat Sipil oleh OPM

    Papua Tengah- Aksi penembakan terhadap pesawat sipil kembali mengguncang Papua dan memicu kecaman luas dari berbagai elemen masyarakat. Insiden yang terjadi saat pesawat jenis Caravan milik Smart Air mendarat di Bandara Korowai Batu, Rabu siang, menewaskan dua awak pesawat dan menimbulkan duka mendalam. Peristiwa ini disebut sebagai salah satu serangan paling serius terhadap penerbangan sipil di wilayah pedalaman Papua dalam beberapa waktu terakhir.

    Berdasarkan kronologi, pesawat dengan registrasi PK-SNR tersebut berangkat dari Bandara Tanah Merah menuju Korowai Batu dalam penerbangan rutin. Saat roda pesawat menyentuh landasan sekitar pukul 11.05 WIT, rentetan tembakan menghantam badan pesawat. Serangan diduga dilakukan oleh kelompok bersenjata yang berafiliasi dengan Organisasi Papua Merdeka. Dalam situasi genting, pilot berupaya mengendalikan pesawat hingga berhenti di ujung landasan, memberi kesempatan bagi para penumpang untuk menyelamatkan diri.

    Sebanyak 13 penumpang dilaporkan selamat setelah berlari mencari perlindungan di sekitar area bandara. Pilot sempat mengirimkan laporan darurat melalui perangkat komunikasi Garmin kepada pihak maskapai. Namun komunikasi terputus, dan kedua awak pesawat kemudian ditemukan meninggal dunia akibat luka tembak. Tragedi ini menambah daftar panjang kekerasan bersenjata yang menyasar fasilitas sipil di Papua dan memunculkan kembali kekhawatiran atas keselamatan transportasi udara di daerah terpencil.

    Tokoh Pemuda Papua Ali Kabiay menyampaikan kecaman keras atas insiden tersebut saat memberikan keterangan kepada media di Nabire. Kepada wartawan, termasuk dari TribunPapuaTengah.com, Ali menilai penembakan terhadap pesawat sipil merupakan tindakan yang mencederai nilai kemanusiaan dan merusak martabat orang Papua. Ia menyatakan bahwa tindakan kekerasan terhadap warga sipil tidak dapat dibenarkan dalam alasan apa pun.

    “Apa yang dilakukan kelompok-kelompok yang bertentangan dengan kedaulatan negara ini telah mencederai nilai kasih yang ditanamkan oleh agama,” ujarnya. Ia menambahkan bahwa masyarakat Papua menginginkan kedamaian dan pembangunan, bukan konflik berkepanjangan yang justru merugikan warga di daerah terpencil.

    Ali juga mendesak aparat keamanan untuk mengejar pelaku dan mengusut tuntas kasus tersebut agar memberi rasa keadilan bagi korban. Selain penegakan hukum, ia merekomendasikan penguatan pengamanan di wilayah perbatasan, khususnya di kawasan Kabupaten Boven Digoel dan sekitarnya di Papua Selatan. Menurutnya, kehadiran pos keamanan di titik rawan penting untuk membatasi ruang gerak kelompok bersenjata.

    Peristiwa ini kembali menjadi pengingat bahwa stabilitas keamanan merupakan prasyarat utama bagi kelancaran layanan publik dan konektivitas di Papua. Serangan terhadap penerbangan sipil tidak hanya mengancam nyawa, tetapi juga berpotensi mengisolasi masyarakat pedalaman yang sangat bergantung pada transportasi udara untuk mobilitas orang dan logistik. Karena itu, banyak pihak berharap langkah tegas dan terukur segera diambil agar tragedi serupa tidak terulang.

  • Pemerintah Jamin Situasi Papua Aman dan Kondusif

    JAKARTA – Komitmen pemerintah menjaga stabilitas keamanan di Papua kembali ditegaskan melalui langkah-langkah cepat dan terukur menyusul sejumlah gangguan keamanan yang terjadi dalam beberapa waktu terakhir. Penembakan terhadap pesawat perintis di Bandara Koroway, gangguan terhadap rombongan kendaraan operasional PT Freeport Indonesia, hingga ancaman terhadap pekerja layanan publik menjadi perhatian serius negara. Respons yang diambil tidak hanya berorientasi pada penindakan, tetapi juga memastikan aktivitas masyarakat tetap berjalan normal.

    Penguatan pengamanan segera dilakukan di sejumlah titik strategis, terutama di wilayah penerbangan perintis dan kawasan operasional vital. Bandara Koroway di Kabupaten Boven Digoel, Papua Selatan, yang berperan penting sebagai jalur distribusi logistik dan mobilitas tenaga kesehatan serta pendidikan, kini mendapat tambahan personel TNI–Polri. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi perlindungan menyeluruh agar akses masyarakat terhadap kebutuhan pokok tetap terjamin.

    Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan, Djamari Chaniago, menegaskan bahwa pemerintah tidak akan membiarkan aksi kekerasan mengganggu stabilitas daerah.

    “Penguatan pengamanan dilakukan agar peristiwa serupa tidak terulang dan masyarakat dapat menjalankan aktivitas secara aman dan tenang,” tegas Djamari Chaniago.

    Pernyataan tersebut menandai pendekatan preventif yang kini diperkuat di Papua. Pemerintah menempatkan keamanan sebagai fondasi utama pembangunan, sehingga setiap potensi eskalasi segera diantisipasi melalui koordinasi lintas institusi. Aparat di lapangan bergerak berdasarkan evaluasi situasi dan pemetaan risiko yang terukur.

    Di Timika, aparat juga bergerak cepat menangani insiden di area operasional PT Freeport Indonesia. Proses evakuasi korban berlangsung sigap dan pelayanan medis diberikan secara optimal. Langkah pengejaran terhadap pelaku terus dilakukan sesuai prosedur hukum yang berlaku, menunjukkan bahwa supremasi hukum tetap menjadi pijakan utama.

    Kepala Divisi Humas Polri, Johnny Eddizon Isir, menekankan bahwa perlindungan masyarakat sipil menjadi prioritas dalam setiap operasi keamanan.

    “Negara hadir untuk menjamin keamanan warga yang tidak terlibat konflik dan memastikan ruang publik tetap aman,” ujar Johnny Eddizon Isir.

    Penegasan tersebut memperlihatkan bahwa kebijakan keamanan dijalankan dengan pendekatan humanis. Aparat tidak hanya fokus pada penindakan, tetapi juga menjaga rasa aman masyarakat di sekitar lokasi kejadian. Aktivitas ekonomi, pendidikan, dan pelayanan publik tetap diupayakan berjalan tanpa gangguan berarti.

    Satgas Operasi Damai Cartenz pun memperlihatkan profesionalisme melalui langkah investigasi berbasis intelijen dan koordinasi antarlembaga. Proses pengungkapan dugaan keterlibatan kelompok bersenjata dilakukan secara sistematis dengan dukungan data dan bukti yang kuat. Transparansi penanganan perkara menjadi bagian penting dalam membangun kepercayaan publik.

    Di tengah dinamika keamanan tersebut, agenda pembangunan di Papua tetap berjalan. Proyek infrastruktur, layanan kesehatan, dan peningkatan kualitas pendidikan terus dilanjutkan sebagai wujud kehadiran negara yang berkelanjutan. Stabilitas yang terjaga diyakini menjadi kunci percepatan kesejahteraan masyarakat.

    Penguatan pengamanan bukan sekadar respons situasional, melainkan bagian dari strategi jangka panjang menjaga Papua tetap aman dan kondusif. Ketegasan aparat yang disertai profesionalisme dan akuntabilitas memberikan pesan jelas bahwa stabilitas adalah prioritas utama. Dengan situasi yang terkendali, Papua memiliki ruang lebih luas untuk melangkah menuju kemajuan yang berkelanjutan dalam bingkai Negara Kesatuan Republik Indonesia.

  • Judi Daring dan Tanggung Jawab Kolektif Melindungi Generasi Muda

    Oleh : Ravisya Darasya)*

    Perkembangan teknologi digital membawa dua sisi mata uang bagi Indonesia. Di satu sisi, ruang digital membuka peluang besar bagi generasi muda untuk belajar, berkreasi, dan berinovasi. Namun di sisi lain, ia juga menjadi medium subur bagi kejahatan siber, termasuk maraknya judi daring yang kini kian mengkhawatirkan. Fenomena ini tidak lagi menyasar kalangan tertentu, melainkan telah merambah pelajar, mahasiswa, bahkan anak di bawah umur.

    Kapolri, Jenderal Polisi Listyo Sigit Prabowo secara terbuka menyoroti maraknya judi daring sebagai tantangan serius bangsa. Dalam pembukaan retret Kokam di Satlat Brimob, Bogor, ia menyampaikan bahwa perkembangan teknologi di satu sisi berdampak pada kemudahan akses, tetapi di sisi lain juga memicu peningkatan kejahatan digital, dengan judi daring menjadi salah satu yang paling marak. Ia mengungkapkan keprihatinan karena pemain judi daring didominasi pelajar dan mahasiswa, disusul karyawan dan wiraswasta. Bahkan, anak-anak di bawah 18 tahun pun tercatat ikut terpapar praktik tersebut.

    Kapolri menegaskan bahwa situasi ini menjadi tantangan bersama yang tidak bisa ditangani secara parsial. Ia memerintahkan seluruh jajaran kepolisian untuk bekerja sama dengan kementerian, lembaga, serta elemen masyarakat dalam upaya edukasi dan penindakan, guna menekan angka judi daring dan melindungi generasi muda dari dampak destruktifnya.

    Ancaman judi daring tidak berdiri sendiri. Ia sering kali berkelindan dengan penipuan digital yang memanfaatkan dokumen elektronik palsu, tautan manipulatif, hingga rekayasa identitas. Dalam konteks ini, langkah pencegahan menjadi sangat krusial. Kementerian Komunikasi dan Digital bersama penyelenggara sertifikat elektronik Privy meluncurkan inisiatif #CekDuluBaruPercaya untuk mendorong masyarakat membangun kebiasaan memverifikasi dokumen digital sebelum mempercayai, menandatangani, atau mengambil keputusan.

    Direktur Pengawasan Sertifikasi dan Transaksi Elektronik Kemkomdigi, Teguh Arifiyadi, menekankan bahwa budaya verifikasi merupakan langkah proaktif dalam melindungi masyarakat dari maraknya penipuan berbasis dokumen digital. Ia memandang kolaborasi antara sektor publik dan swasta sebagai kunci dalam membangun ekosistem digital yang aman dan nyaman.

    Data dari Indonesia Anti Scam Center Otoritas Jasa Keuangan menunjukkan betapa genting situasi ini. Sepanjang November 2024 hingga Desember 2025, kerugian akibat penipuan digital mencapai Rp9,1 triliun dengan lebih dari 411 ribu laporan. Angka tersebut menjadi alarm keras bahwa literasi digital dan kebiasaan verifikasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak.

    Chief Executive Officer & Founder Privy, Marshall Pribadi, menyampaikan bahwa di dunia digital, kepercayaan harus bisa diverifikasi dan tidak cukup dinilai dari tampilan visual semata. Menurutnya, dokumen bisa terlihat resmi, lengkap dengan kop surat dan QR Code, tetapi belum tentu sah dan dapat dipertanggungjawabkan. Ia menegaskan bahwa proses verifikasi tidak seharusnya dipersepsikan rumit, karena dengan dukungan teknologi yang tepat, pengecekan keaslian dokumen dapat dilakukan secara cepat dan mudah.

    Upaya penguatan ekosistem digital juga menyasar aspek perlindungan anak. Melalui kegiatan CommuniAction Malang bertema Anak di Dunia Digital: Aman atau Sekadar Diawasi, Direktur Informasi Publik Ditjen Komunikasi Publik dan Media Kemkomdigi, Nursodik Gunarjo, mengajak generasi muda memanfaatkan ruang digital secara positif, kreatif, dan bertanggung jawab.

    Ia mengingatkan bahwa ruang digital memang menawarkan peluang besar, tetapi juga menyimpan tantangan berupa perundungan siber, eksploitasi online, paparan konten berbahaya, serta penyalahgunaan data pribadi. Pemerintah telah menerbitkan Peraturan Pemerintah Nomor 17 Tahun 2025 tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak atau PP Tunas sebagai bentuk komitmen melindungi anak di ruang digital. Namun ia menegaskan bahwa regulasi saja tidak cukup. Diperlukan kolaborasi lintas sektor, kapasitas teknis yang kuat, serta komunikasi publik yang responsif, kreatif, dan berdampak.

    Kepala Kejaksaan Negeri Kota Malang, Tri Joko, turut mengingatkan bahwa banyak perkara hukum berawal dari aktivitas media sosial yang tidak disaring dengan baik. Ia menekankan pentingnya kehati-hatian dalam mengunggah dan membagikan informasi, mengingat Pasal 27 Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik melarang distribusi konten bermuatan negatif, termasuk perjudian, dengan ancaman sanksi pidana.

    Di tingkat daerah, suara kewaspadaan juga digaungkan oleh Anggota DPRD Kabupaten Tanah Bumbu, Abdul Rahim. Dalam berbagai pertemuan warga, ia mengingatkan bahaya narkoba dan judi daring yang mengancam masa depan generasi muda. Menurutnya, ancaman tersebut tidak hanya merusak individu, tetapi juga menghancurkan harapan keluarga. Ia mengajak orang tua, tokoh masyarakat, dan pemuda untuk aktif menciptakan lingkungan yang sehat dan aman, karena pencegahan paling efektif justru dimulai dari kesadaran kolektif di tingkat komunitas.

    Fenomena judi daring pada akhirnya menjadi cermin bahwa transformasi digital harus dibarengi dengan transformasi etika dan literasi. Negara telah hadir melalui regulasi, penindakan, dan edukasi. Sektor swasta berkontribusi melalui inovasi teknologi verifikasi. Aparat penegak hukum memperkuat pengawasan dan penindakan. Namun, tanpa partisipasi aktif masyarakat, upaya tersebut tidak akan optimal.

    Melindungi generasi muda dari jerat judi daring bukan semata tugas pemerintah atau aparat, melainkan tanggung jawab kolektif. Orang tua perlu membangun komunikasi terbuka dengan anak. Sekolah dan kampus harus memperkuat literasi digital. Komunitas dan media perlu konsisten menyuarakan edukasi. Generasi muda sendiri dituntut lebih bijak, kritis, dan bertanggung jawab dalam memanfaatkan ruang digital.

    Menuju Indonesia Emas 2045, kemajuan teknologi harus berjalan seiring dengan kedewasaan komunikasi dan integritas moral. Judi daring dan kejahatan digital lainnya hanya dapat ditekan jika seluruh elemen bangsa berdiri dalam barisan yang sama: memperkuat literasi, membangun budaya verifikasi, serta menanamkan nilai tanggung jawab dalam setiap aktivitas digital. Dengan demikian, ruang digital Indonesia tidak hanya menjadi arena inovasi, tetapi juga ruang aman bagi tumbuh kembang generasi penerus bangsa..

    )* Pengamat Kebijakan Pemerintah

  • Bersama Melindungi Generasi Muda dari Judi Daring

    Oleh : Ricky Rinaldi

    Perkembangan teknologi digital telah membuka ruang baru bagi kreativitas, inovasi, dan pertumbuhan ekonomi. Namun di balik kemajuan tersebut, ancaman serius juga muncul, salah satunya adalah maraknya praktik judi daring yang menyasar generasi muda. Pemerintah memandang persoalan ini bukan sekadar pelanggaran hukum biasa, melainkan ancaman nyata terhadap masa depan bangsa yang harus ditangani secara tegas, terstruktur, dan berkelanjutan.

    Judi daring berkembang dengan pola yang semakin kompleks. Platform digital, media sosial, hingga sistem pembayaran elektronik dimanfaatkan untuk menjangkau anak-anak dan remaja secara masif. Generasi muda yang aktif di ruang digital kerap menjadi target empuk karena minimnya literasi risiko dan mudah tergoda oleh janji keuntungan instan. Dampaknya tidak hanya merugikan secara finansial, tetapi juga memicu gangguan psikologis, penurunan prestasi akademik, konflik keluarga, hingga potensi tindak kriminal lanjutan.

    Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto menempatkan perlindungan generasi muda sebagai prioritas strategis pembangunan sumber daya manusia. Negara memastikan bahwa ruang digital tidak boleh dibiarkan menjadi arena eksploitasi yang merusak moral dan masa depan anak bangsa. Ketegasan negara dalam memberantas judi daring merupakan bagian dari komitmen menjaga kualitas generasi penerus sebagai aset utama Indonesia.

    Langkah konkret diwujudkan melalui penguatan regulasi, percepatan pemblokiran situs ilegal, serta penindakan hukum terhadap jaringan pelaku judi daring. Pemerintah tidak hanya menyasar operator dan bandar, tetapi juga memutus aliran dana serta membongkar jaringan promosi yang kerap menyusup dalam konten hiburan digital. Pendekatan ini menunjukkan bahwa negara bergerak secara sistematis dan menyeluruh.

    Menteri Komunikasi dan Digital Meutya Hafid menegaskan bahwa pengawasan ruang digital diperketat secara berkelanjutan. Kementerian yang dipimpinnya meningkatkan kerja sama dengan platform digital dan penyedia layanan internet untuk mempercepat pemblokiran konten judi daring. Upaya ini dilakukan secara masif, dengan ribuan hingga jutaan konten ilegal yang telah ditindak sebagai bagian dari strategi pembersihan ruang digital nasional.

    Penanganan judi daring juga melibatkan sinergi lintas lembaga. Aparat penegak hukum, otoritas keuangan, serta kementerian terkait membangun koordinasi untuk memutus akses transaksi dan menindak pihak-pihak yang terlibat dalam ekosistem ilegal tersebut. Negara memastikan bahwa upaya pemberantasan tidak bersifat simbolik, melainkan memiliki dampak nyata dalam menekan aktivitas dan transaksi judi daring.

    Namun, kebijakan dan penegakan hukum saja tidak cukup. Perlindungan generasi muda membutuhkan partisipasi aktif keluarga dan masyarakat. Orang tua memiliki peran sentral dalam membangun komunikasi yang terbuka dengan anak, mengawasi aktivitas digital, serta menanamkan nilai tanggung jawab dan integritas sejak dini. Pendidikan karakter menjadi benteng utama dalam menghadapi godaan instan yang ditawarkan judi daring.

    Sekolah juga memegang peran strategis dalam membangun literasi digital yang komprehensif. Pendidikan literasi digital tidak hanya membahas kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan memahami risiko, mengenali manipulasi digital, dan mengambil keputusan yang bijak. Generasi muda harus dibekali kesadaran bahwa keuntungan instan yang ditawarkan judi daring hanyalah ilusi yang berujung pada kerugian.

    Pemerintah juga mendorong penguatan kegiatan positif bagi anak dan remaja sebagai alternatif yang produktif. Program olahraga, seni, kewirausahaan, serta inovasi teknologi menjadi ruang penyaluran energi dan kreativitas generasi muda. Ketika ruang digital diisi dengan aktivitas konstruktif, maka ruang bagi praktik ilegal akan semakin menyempit.

    Dampak ekonomi dari judi daring tidak bisa diabaikan. Banyak keluarga mengalami tekanan finansial akibat anggota keluarganya terjerat kecanduan judi online. Dalam jangka panjang, kondisi ini berpotensi memperburuk ketimpangan sosial dan menghambat mobilitas ekonomi. Oleh karena itu, pemberantasan judi daring juga menjadi bagian dari strategi perlindungan ekonomi keluarga dan stabilitas sosial nasional.

    Komitmen negara dalam memberantas judi daring menunjukkan bahwa pembangunan manusia tidak hanya berbicara tentang infrastruktur dan pertumbuhan ekonomi, tetapi juga tentang perlindungan moral dan mental generasi bangsa. Ruang digital harus menjadi sarana pembelajaran, inovasi, dan kreativitas, bukan arena yang merusak masa depan anak-anak Indonesia.

    Melindungi generasi muda dari judi daring adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah telah mengambil langkah tegas dan sistematis. Kini, dukungan masyarakat menjadi faktor penentu keberhasilan. Dengan sinergi yang kuat antara negara, keluarga, sekolah, dan komunitas, Indonesia dapat memastikan bahwa generasi mudanya tumbuh dalam lingkungan digital yang aman, sehat, dan bermartabat.

    Masa depan bangsa tidak boleh dipertaruhkan oleh praktik ilegal yang merusak. Bersama, Indonesia bergerak menjaga generasi muda dari ancaman judi daring demi masa depan yang lebih kuat dan berdaya saing.

    *)Pengamat Isu Strategis

  • Pemerintah Perkuat Ketahanan Energi Hadapi Dinamika Global

    Jakarta – Pemerintah terus memperkuat strategi ketahanan energi nasional sebagai langkah antisipatif menghadapi dinamika global sepanjang tahun 2026. Ketidakpastian geopolitik, fluktuasi harga energi dunia, serta perubahan pola konsumsi energi internasional menjadi faktor utama yang mendorong pemerintah mengambil kebijakan yang adaptif, terukur, dan berpihak pada kepentingan masyarakat.

    International Energy Agency (IEA) menyebutkan bahwa pertumbuhan permintaan minyak dunia pada 2026 diperkirakan melambat, sementara pasokan global berpotensi tetap berada di atas permintaan. Kondisi ini berpotensi memicu volatilitas harga energi yang dapat berdampak langsung pada perekonomian nasional.

    Pemerintah memandang situasi tersebut sebagai momentum untuk memperkuat fondasi kebijakan energi nasional agar lebih tahan terhadap gejolak eksternal sekaligus menjaga daya beli masyarakat.

    Sebagai bagian dari kebijakan fiskal dan energi nasional tahun 2026, pemerintah mengalokasikan anggaran ketahanan energi yang difokuskan pada subsidi dan kompensasi energi, peningkatan produksi energi domestik, pembangunan infrastruktur energi, serta pengembangan energi baru terbarukan.

    Langkah ini ditempuh untuk memastikan pasokan energi tetap aman dan terjangkau, sekaligus mendukung pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Pemerintah juga terus mendorong efisiensi konsumsi energi dan optimalisasi sumber daya nasional melalui berbagai program strategis lintas kementerian dan lembaga.

    Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa ketahanan energi merupakan salah satu pilar utama stabilitas nasional.

    “Ketahanan energi adalah fondasi penting bagi kedaulatan bangsa. Pemerintah akan memastikan rakyat mendapatkan akses energi yang aman, terjangkau, dan berkelanjutan di tengah situasi global yang tidak menentu,” ujar Presiden.

    Sejalan dengan itu, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia menekankan pentingnya reformasi tata kelola energi agar lebih efisien dan tepat sasaran.

    “Pemerintah tidak hanya menjaga keterjangkauan energi, tetapi juga memastikan investasi di sektor energi terus meningkat. Kita ingin sistem energi nasional lebih kuat, efisien, dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi jangka panjang,” ujarnya.

    Ia juga menegaskan bahwa pengembangan energi baru terbarukan akan menjadi bagian penting dalam strategi jangka panjang pemerintah untuk mengurangi ketergantungan pada energi fosil.

    Kebijakan ketahanan energi nasional pada tahun 2026 diarahkan untuk menjaga keseimbangan antara stabilitas jangka pendek dan transformasi energi jangka panjang. Melalui kombinasi kebijakan fiskal yang hati-hati, peningkatan produksi energi domestik, reformasi tata kelola, serta percepatan transisi energi bersih, pemerintah optimistis Indonesia mampu menghadapi tantangan global sekaligus memperkuat kemandirian energi nasional.

  • Pemerintah Percepat Program Listrik Desa Papua demi Ketahanan Energi

    Papua – Pemerintah terus mempercepat pemerataan akses energi hingga ke wilayah terluar dengan menjadikan Papua sebagai kawasan prioritas pengembangan energi berkelanjutan nasional. Kebijakan strategis yang diarahkan Presiden Prabowo Subianto dinilai sebagai langkah nyata memperkuat ketahanan energi sekaligus menghadirkan keadilan pembangunan bagi seluruh rakyat Indonesia.

    Anggota Komisi VI DPR RI, Rivqy Abdul Halim, menyatakan dukungan penuh terhadap fokus pemerintah dalam mempercepat program listrik desa di Papua. Ia menilai kebijakan tersebut harus segera diterjemahkan dalam langkah operasional oleh seluruh pemangku kepentingan, terutama BUMN kelistrikan dan kementerian teknis, agar manfaatnya benar-benar dirasakan masyarakat.

    Menurutnya, masih banyak wilayah Papua yang belum menikmati akses listrik layak, meskipun memiliki potensi sumber daya energi yang sangat besar. Kondisi ini harus segera diatasi melalui percepatan program berbasis energi baru terbarukan.

    “Masih banyak wilayah di Papua yang belum menikmati akses listrik yang layak, padahal daerah ini memiliki sumber daya alam yang luar biasa. Ini ironi yang tidak boleh terus dibiarkan,” ujarnya.

    Ia menegaskan bahwa Papua menyimpan potensi energi air, surya, dan berbagai sumber energi terbarukan lain yang strategis untuk dikembangkan. Selain mendorong kesejahteraan masyarakat lokal, pengembangan ini juga akan memperkuat fondasi ketahanan energi nasional dalam jangka panjang.

    Rivqy menekankan bahwa transisi menuju energi berkelanjutan harus berjalan seiring dengan prinsip keadilan sosial. Pemerataan listrik, menurutnya, merupakan bagian penting dari strategi pembangunan nasional yang inklusif.

    “Pengembangan energi berkelanjutan bukan hanya soal transisi energi, tetapi juga soal keadilan. Energi baru dan terbarukan adalah jalan terbaik untuk memastikan listrik hadir secara merata, dari kota besar hingga wilayah terluar,” tegasnya.

    Di tingkat implementasi, Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral bersama PT PLN (Persero) terus memperluas akses listrik melalui Program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL). Program ini menyasar ribuan rumah tangga tidak mampu di wilayah Papua Tengah.

    Manajer PLN UP3 Nabire, Rakhel Rumbewas, menjelaskan BPBL menargetkan 3.500 rumah tangga di Kabupaten Nabire, Deyiyai, Dogiyai, dan Paniai. Program ini mencakup pemasangan instalasi dan meteran listrik baru secara gratis bagi warga penerima manfaat.

    “Dari alokasi 3.500 tersebut, pelanggannya sudah ada, tinggal kita menyelesaikan pemasangan instalasi listrik dan meteran di lapangan, tinggal 20 persen yang belum terpasang,” jelasnya.

    Selain penyambungan gratis, pemerintah daerah juga memberikan bantuan token listrik guna memastikan masyarakat dapat langsung menikmati manfaat elektrifikasi. Dukungan lintas level pemerintahan ini mempercepat terwujudnya desa-desa berlistrik sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi lokal.

    Dengan sinergi kebijakan nasional dan implementasi teknis di lapangan, percepatan listrik desa di Papua diproyeksikan menjadi pengungkit utama pemerataan pembangunan sekaligus memperkokoh ketahanan energi Indonesia dari pinggiran.

  • Pemerintah Hadirkan Listrik Desa Papua sebagai Wujud Ketahanan Energi

    Oleh : Andhika Rahcma

    Percepatan pembangunan listrik di pedesaan Papua menjadi bukti nyata kehadiran negara dalam memperkuat ketahanan energi nasional. Melalui Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) bersama PT PLN (Persero), pemerintah menggencarkan Program Listrik Desa (Lisdes) untuk membuka akses listrik di wilayah terpencil yang lama tertinggal. Upaya ini bukan sekadar menghadirkan penerangan, tetapi juga mendorong transformasi sosial ekonomi, mengurangi kesenjangan pembangunan, dan memperkuat ketahanan energi yang inklusif dan berkelanjutan.

    Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengatakan pemerintah berkomitmen mewujudkan keadilan energi yakni menghadirkan listrik bagi semua tanpa terkecuali, seperti program listrik desa (lisdes) dan bantuan pasang baru listrik (BPBL) hingga pelosok Tanah Air.

    Pemerintah menempatkan Papua sebagai salah satu kawasan prioritas dalam pengembangan energi berkelanjutan nasional. Presiden Prabowo Subianto menegaskan arah kebijakan nasional dalam mewujudkan kemandirian energi dengan mengoptimalkan potensi sumber energi baru terbarukan di wilayah ini, serta mempercepat pemerataan akses listrik sampai ke desa-desa terpencil. Papua tidak lagi dipandang sebagai wilayah pinggiran yang luput dari perhatian pembangunan energi, tetapi sebagai bagian integratif dari strategi ketahanan energi nasional yang memanfaatkan potensi energi lokal seperti tenaga surya dan air. 

    Program Lisdes yang dicanangkan pemerintah bertujuan menjamin seluruh desa di Indonesia, termasuk yang terpencil dan terisolir, menikmati akses listrik yang cukup paling lambat tahun 2030. Di Papua sendiri, upaya ini telah menunjukkan hasil nyata dengan pemerintah memperluas jaringan listrik, membangun pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) serta pembangkit listrik tenaga mikrohidro (PLTMH) di sejumlah desa yang sebelumnya tidak teraliri listrik PLN. Program ini berhasil menghadirkan akses listrik di berbagai kampung di Papua seperti di Kabupaten Kepulauan Yapen, SUPiori, dan Biak Numfor, dengan ribuan rumah warga kini sudah terhubung listrik. 

    Direktur Utama PLN Darmawan Prasodjo menegaskan komitmen perseroan untuk menjadikan Papua sebagai tonggak keadilan energi yang nyata. Tak hanya itu, PLN telah menyiapkan inovasi PLTS atap/SuperSUN sebagai sumber energi listrik yang akan disalurkan ke 693 sekolah di Papua untuk mendukung peningkatan proses belajar-mengajar yang modern dan inklusif.

    Pemerintah juga memprioritaskan penggunaan energi terbarukan yang ramah lingkungan untuk memastikan ketahanan energi jangka panjang. Di distrik-distrik yang tersebar di alam Papua, PLTS dan PLTMH digunakan untuk memasok listrik secara lokal, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang mahal dan mencemari lingkungan. Selain itu, PLN juga telah memperkenalkan sistem SuperSUN, sebuah inovasi pembangkit listrik tenaga surya mikro yang dilengkapi dengan baterai, sehingga mampu menyediakan listrik secara andal meskipun jaringan utama belum terjangkau. 

    Salah satu contoh konkret adalah keberhasilan PT Pelabuhan Indonesia (Persero) atau Pelindo yang menghadirkan listrik bersih melalui PLTMH dan PLTS di Kampung Ausem, Papua. Ini bukan hanya sekadar menyediakan lampu di rumah warga di malam hari, tetapi juga membuka peluang baru bagi kegiatan ekonomi produktif yang selama ini terkendala karena minimnya pasokan energi. Hadirnya listrik 24 jam di kampung tersebut menjadi simbol kemajuan yang menyentuh kehidupan sehari-hari masyarakat setempat. 

    Percepatan elektrifikasi desa di Papua merupakan bagian dari tujuan besar pemerintah menjadikan rasio elektrifikasi nasional mendekati 100 persen. Menurut data terbaru, rasio elektrifikasi nasional telah mencapai hampir 99,83 persen, menunjukkan bahwa hampir seluruh warga Indonesia kini sudah menikmati akses listrik, termasuk di kawasan 3T (Tertinggal, Terdepan, dan Terluar) seperti Papua. Ini merupakan hasil dari sinergi berbagai program, termasuk penyediaan jaringan listrik, PLTS atap, serta sistem microgrid di pulau-pulau kecil yang belum tersambung jaringan listrik utama. 

    Selain itu, pemerintah juga menggabungkan upaya memperluas akses listrik dengan pembinaan sumber daya manusia (SDM) di hilir untuk mendukung pemanfaatan energi yang telah tersedia tersebut. Penguatan SDM di Papua menjadi fokus penting agar masyarakat lokal juga dapat terlibat aktif dalam pengelolaan dan pemeliharaan infrastruktur energi, serta dapat menciptakan peluang ekonomi baru berbasis energi. Inisiatif ini tidak hanya meningkatkan akses listrik, tetapi juga memperkuat kapasitas masyarakat dalam mengelola sumber daya energi secara mandiri. 

    Di sisi lain, pemerintah juga menggencarkan program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) sebagai bagian dari upaya memperluas akses listrik desa. Program ini turut membantu keluarga miskin di berbagai daerah, termasuk Papua, untuk mendapatkan sambungan listrik baru tanpa biaya pemasangan, sehingga membuka pintu peluang mereka untuk peningkatan kualitas hidup yang lebih baik. 

    Upaya pemerintah dalam menghadirkan listrik sampai ke desa-desa di Papua sejatinya juga menjadi bagian dari strategi besar menuju ketahanan energi nasional yang berkelanjutan. Ketahanan energi bukan hanya soal ketersediaan pasokan listrik yang cukup, tetapi juga bagaimana listrik tersebut dihasilkan secara efisien, ramah lingkungan, serta dapat diakses dan dikelola oleh seluruh masyarakat tanpa kecuali. Keberadaan listrik membawa perubahan besar dalam aspek sosial dan ekonomi, karena listrik merupakan energi dasar yang mampu mendorong pertumbuhan UMKM, meningkatkan layanan kesehatan, pendidikan, serta memperluas akses informasi dan komunikasi yang selama ini terbatas di wilayah terpencil. Di masa depan, misi ini dilanjutkan sebagai investasi besar dalam pengembangan energi terbarukan yang lebih luas di desa-desa di seluruh Indonesia melalui berbagai teknologi energi bersih.

    )*Pengamat Publik

  • Langkah Strategis Pemerintah Perkokoh Ketahanan Energi di Tengah Ketidakpastian Global

    Oleh : Veritonaldi

    Ketidakpastian global yang dipicu oleh dinamika geopolitik, fluktuasi harga komoditas, serta perubahan arah transisi energi dunia menempatkan isu ketahanan energi sebagai salah satu agenda paling strategis bagi Indonesia. Dalam konteks ini, langkah pemerintah memperkokoh ketahanan energi tidak dapat dibaca sekadar sebagai kebijakan sektoral, melainkan sebagai strategi besar menjaga stabilitas ekonomi, sosial, dan bahkan politik nasional. Energi adalah fondasi pembangunan; ketika pasokan terganggu atau harganya bergejolak, seluruh sendi kehidupan ikut terdampak, dari industri hingga rumah tangga.

    Pendekatan yang kini semakin mengemuka adalah integrasi hulu hingga hilir. Pandangan ini sejalan dengan penekanan Ketua Research Group on Energy Security for Sustainable Development Universitas Indonesia (RESSED UI) Ali Ahmudi, yang menilai penguatan sektor hulu semata tidak cukup tanpa kesiapan sektor tengah dan hilir. Produksi migas yang meningkat tanpa diimbangi infrastruktur distribusi, penyimpanan, dan pasar yang siap justru berpotensi menimbulkan inefisiensi. Dalam perspektif ini, ketahanan energi bukan hanya soal seberapa banyak sumber daya diangkat dari perut bumi, tetapi seberapa rapi seluruh rantai pasok dikelola.

    Karakteristik minyak dan gas yang berbeda juga menuntut kebijakan berbeda. Minyak relatif lebih fleksibel karena bisa disimpan, sementara gas menuntut kesiapan infrastruktur dan serapan pasar secara simultan. Karena itu, perencanaan energi nasional perlu berbasis data permintaan jangka panjang, peta industri pengguna, serta kesiapan jaringan distribusi. Tanpa itu, lonjakan produksi gas bisa berubah menjadi beban biaya.

    Peran badan usaha milik negara menjadi krusial dalam konteks integrasi tersebut. Pertamina dipandang sebagai tulang punggung yang menghubungkan kepentingan hulu dan hilir. Ketika perusahaan energi nasional mampu beroperasi efisien, profesional, dan transparan, maka orkestrasi rantai pasok dari sumur hingga konsumen akhir dapat berjalan lebih mulus. Di saat yang sama, regulator seperti SKK Migas terus didorong memperbaiki tata kelola agar iklim usaha semakin pasti dan menarik bagi investor.

    Optimisme terhadap ketahanan energi juga ditopang tren produksi yang mulai membaik dan ekspansi perusahaan nasional di luar negeri. Aktivitas di berbagai kawasan menunjukkan upaya diversifikasi sumber pasokan. Di dalam negeri, penguatan kapasitas kilang, termasuk melalui proyek Kilang Balikpapan, memperlihatkan keseriusan mendorong hilirisasi agar impor produk jadi bisa ditekan. Hilirisasi bukan hanya soal nilai tambah ekonomi, tetapi juga instrumen kedaulatan energi.

    Namun, ketahanan energi tidak identik dengan energi murah. Konsep yang lebih relevan adalah energi terjangkau. Harga energi perlu mencerminkan struktur biaya produksi yang rasional agar sektor energi sehat secara finansial dan mampu berinvestasi kembali. Subsidi yang tidak tepat sasaran berisiko menimbulkan distorsi dan ketergantungan. Karena itu, penguatan daya beli masyarakat dan efisiensi sistem produksi-distribusi menjadi solusi jangka panjang yang lebih berkelanjutan.

    Dimensi lain yang tak kalah penting adalah aksesibilitas. Ketahanan energi baru bermakna jika seluruh lapisan masyarakat di berbagai wilayah dapat menikmati layanan energi. Pemerataan listrik dan bahan bakar menjadi bagian dari keadilan pembangunan. Setelah akses terpenuhi, barulah aspek lingkungan mendapat porsi lebih besar, terutama dalam konteks komitmen iklim.

    Dari sisi kebijakan makro, pandangan Wakil Ketua MPR dari Fraksi Partai Amanat Nasional (PAN), Eddy Soeparno menegaskan bahwa ketahanan energi harus menjadi landasan seluruh program energi, termasuk transisi menuju energi bersih. Ia memandang kebutuhan energi yang terus meningkat dan tingginya impor menjadikan energi bagian integral dari ketahanan nasional. Dalam forum diskusi energi di The Bimasena, ia mendorong transparansi dan keterbukaan agar kebijakan lebih komprehensif.

    Realitas global menunjukkan transisi energi tidak selalu berjalan rapi. Energi fosil masih dominan, sementara energi terbarukan tumbuh cepat. Situasi ini menuntut Indonesia bersikap pragmatis: mendorong transisi, tetapi tetap menjaga pasokan. Menutup keran energi fosil terlalu cepat tanpa kesiapan alternatif justru bisa melemahkan ketahanan.

    Tantangan besar lainnya adalah investasi. Kebutuhan ratusan miliar dolar untuk transisi energi menuntut kepastian regulasi dan konsistensi kebijakan. Tanpa itu, modal akan lari ke negara lain yang dianggap lebih ramah investasi. Karena itu, rencana revisi berbagai undang-undang di sektor energi menjadi sinyal penting. Kepastian hukum dapat menurunkan risiko dan mempercepat proyek strategis.

    Transisi energi juga perlu dikaitkan dengan industrialisasi domestik. Pengembangan panel surya, turbin, kabel, dan komponen lain di dalam negeri akan menciptakan lapangan kerja serta memperkuat struktur industri. Dengan demikian, transisi energi tidak hanya berbicara soal lingkungan, tetapi juga transformasi ekonomi.

    Dalam kerangka besar tersebut, langkah strategis pemerintah sebenarnya berada di jalur yang tepat: memperkuat hulu, membenahi hilir, mendorong hilirisasi, memperbaiki tata kelola, serta menyiapkan regulasi pendukung transisi. Tantangannya adalah konsistensi implementasi dan koordinasi antarlembaga. Ketahanan energi bukan proyek jangka pendek satu pemerintahan, melainkan agenda lintas generasi.

    Di tengah ketidakpastian global, negara yang kuat adalah negara yang mampu menjamin energi bagi rakyat dan industrinya. Ketika energi tersedia, terjangkau, dan relatif bersih, maka fondasi menuju Indonesia maju semakin kokoh. Ketahanan energi pada akhirnya adalah tentang kedaulatan, daya saing, dan masa depan pembangunan nasional.

    *Penulis adalah Peneliti dari Lembaga Studi Indonesia Strategis

  • Koperasi Desa Merah Putih Berpotensi Serap Sejuta Tenaga Kerja

    Jakarta – Pemerintah menegaskan bahwa pengembangan Koperasi Desa Merah Putih menjadi salah satu instrumen strategis dalam memperluas lapangan kerja dan memperkuat ekonomi desa karena berpotensi menyerap 1,6 juta lebih tenaga kerja, sehingga dapat menekan pengangguran di level kelurahan hingga desa. Program ini diarahkan untuk menciptakan pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru berbasis potensi lokal, sekaligus mendorong pemerataan kesejahteraan masyarakat.

    “Kalau seluruh gerai dan gudang KMP (Koperasi Merah Putih) beroperasi maksimal tentu akan banyak menampung tenaga kerja,” kata Wakil Menteri (Wamen) Koperasi Farida Farichah.

    Ia mengatakan saat ini jumlah Koperasi Merah Putih yang sudah terbentuk dan berbadan hukum mencapai 83.500 unit tersebar di seluruh desa dan kelurahan se-Indonesia.

    “Jika gerai dan gudang di satu KMP ini hidup dan berjalan baik maka tenaga kerja yang dibutuhkan sekitar 20 hingga 21 orang dan ini belum termasuk tenaga kerja untuk mengelola potensi daerah seperti pertanian, perkebunan dan lainnya yang dimiliki desa ini,” jelas dia.

    Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, menekankan bahwa koperasi desa harus menjadi fondasi penguatan ekonomi kerakyatan.

    “Koperasi desa harus menjadi tulang punggung ekonomi rakyat dan mampu membuka lapangan kerja dalam skala besar,” katanya.

    Lebih lanjut, Presiden Prabowo menyatakan bahwa pemerintah mendorong agar koperasi desa tidak hanya berfungsi sebagai lembaga simpan pinjam, tetapi juga sebagai pusat distribusi, produksi, dan pemasaran hasil usaha masyarakat desa.

    “Penguatan koperasi merupakan bagian dari strategi nasional membangun ekonomi dari desa untuk memperkuat ketahanan ekonomi nasional,” tegasnya.

    Sejalan dengan itu, Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menjelaskan bahwa percepatan pembentukan dan operasionalisasi Koperasi Desa Merah Putih diarahkan untuk menciptakan lapangan kerja secara masif.

    “Jika koperasi desa berjalan optimal di seluruh wilayah, potensi penyerapan tenaga kerja dapat mencapai hingga satu juta orang,” ujarnya.

    Zulkifli Hasan menambahkan bahwa pemerintah terus memperkuat dukungan melalui regulasi, pendampingan manajemen, serta integrasi koperasi dengan rantai pasok nasional.

    “Koperasi desa harus dikelola secara profesional agar mampu menjadi tulang punggung ekonomi desa yang berkelanjutan,” katanya.

    Pengembangan Koperasi Desa Merah Putih mencerminkan komitmen nyata pemerintah dalam menciptakan lapangan kerja, memperkuat ekonomi rakyat, dan membangun kemandirian nasional dari desa. Melalui kebijakan yang konsisten dan sinergi lintas sektor, negara memastikan koperasi menjadi pilar utama dalam mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkeadilan.