Penulis: restiana818@gmail.com

  • Tidak Ada Ampun, Dapur MBG Tak Penuhi Standar Ditutup Permanen

    JAKARTA — Badan Gizi Nasional (BGN) tidak main-main dalam menindak dapur penyedia Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang gagal memenuhi standar keamanan pangan.

    Kepala BGN Sudaryono menegaskan, Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tidak mampu memperbaiki kekurangannya akan dihentikan operasionalnya secara permanen, tanpa memandang siapa pengelolanya.

    “Saya nggak peduli itu SPPG-nya misalnya apa punya siapa, saya nggak lihat, saya lihat sistem. Manakala tidak memenuhi standar di sistem saya, maka dengan berat hati harus saya tutup permanen,” kata Sudaryono.

    Ketegasan itu tercermin dari data terbaru BGN. Berdasarkan laporan Dinas Kesehatan yang disampaikan melalui Kementerian Kesehatan, hingga 10 Agustus 2026 tercatat 504 dapur MBG telah ditutup permanen lantaran dinyatakan tidak layak dari sisi sanitasi.

    Sekitar 3.000 dapur lainnya masih menjalani proses pemeriksaan oleh Dinas Kesehatan di masing-masing daerah.

    Sudaryono menegaskan percepatan pemeriksaan tidak boleh dilakukan dengan mengabaikan standar yang berlaku, sebab menyangkut keselamatan anak-anak penerima manfaat.

    “Yang kemudian kami tunggu manakala dia tidak layak, maka mohon maaf, ini urusan nyawa seseorang, urusan nyawa anak-anak kita, itu tidak bisa kita tolong lagi,” tegasnya.

    Angka penutupan terus bertambah seiring berjalannya waktu. Tiga minggu sejak menjabat, Sudaryono mengungkapkan total SPPG yang telah ditutup mencapai 1.300 unit, terdiri dari 800 dapur yang sebelumnya sudah dihentikan dan tambahan 500 dapur yang menyusul ditutup dalam beberapa hari terakhir.

    “Ya kalau nggak bisa diperbaiki, kita tutup permanen. Jadi sudah saya sudah menutup mungkin 800 tambah kemarin saya sudah menutup 500, jadi sudah 1.300 saya tutup selama tiga minggu saya jadi kepala,” ujarnya.

    Kendati bersikap tegas, Sudaryono memastikan langkah itu tidak dimaksudkan untuk menakut-nakuti mitra yang telah bekerja dengan baik.

    Ia mencontohkan SPPG yang dikelola Bhayangkari Polri sebagai rujukan keberhasilan karena rutin memakai test kit sehingga belum pernah tercatat satu pun kasus keracunan.

    “Jadi kita belajar dari keberhasilan SPPG, beberapa SPPG salah satunya adalah SPPG yang dikelola oleh Bhayangkari ya dari Polri itu menggunakan test kit dan sampai saat ini tidak ada satu kasus pun keracunan,” jelasnya.

    Dari total SPPG yang kini beroperasi, BGN mencatat sekitar 27.000 di antaranya telah menjalankan pelayanan dengan baik dan menjadi acuan perbaikan sistem.

    BGN menegaskan pengawasan akan terus diperkuat. Dengan pendekatan tersebut, keberlanjutan MBG tidak hanya diukur dari banyaknya dapur yang beroperasi, tetapi juga dari kemampuan setiap SPPG menjaga standar keamanan pangan dan melindungi penerima manfaat. (*)

  • Ketegasan Pemerintah Menutup Dapur MBG Berdasakan Sistem dan Standar Mutu

    *) oleh : Muhammad Dava Firdaus

    Penutupan sementara sejumlah dapur Program Makan Bergizi Gratis (MBG) atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) bukan semata-mata tindakan administratif, melainkan bagian dari sistem pengawasan untuk memastikan makanan yang diterima masyarakat aman, bergizi, dan layak dikonsumsi. Badan Gizi Nasional (BGN) menegaskan bahwa dapur yang ditemukan tidak memenuhi ketentuan operasional maupun keamanan pangan dapat dihentikan sementara sampai dilakukan perbaikan. Kebijakan tersebut menunjukkan bahwa keberlangsungan layanan MBG harus berjalan beriringan dengan pemenuhan standar mutu, bukan hanya mengejar jumlah penerima manfaat.

    Dalam pelaksanaannya, standar mutu menjadi fondasi penting karena makanan MBG diproduksi dalam jumlah besar dan didistribusikan kepada banyak kelompok penerima manfaat. Karena itu, prosesnya harus dikendalikan mulai dari pemilihan bahan baku, penyimpanan, pengolahan, pengemasan hingga distribusi. BGN menerapkan pendekatan keamanan pangan berbasis risiko yang mengacu pada praktik industri pangan serta prinsip HACCP, sehingga potensi masalah dapat dikenali sebelum makanan sampai kepada penerima. Sistem tersebut juga mencakup pemantauan suhu, kebersihan fasilitas, peralatan, higiene petugas, dan kondisi bahan pangan.

    Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono menjelaskan bahwa penghentian operasional bukan dimaksudkan untuk mematikan layanan MBG, tetapi menjadi bagian dari proses perbaikan ketika ditemukan ketidaksesuaian. Menurut Dadan, SPPG yang mengalami persoalan diminta berhenti terlebih dahulu agar dapat dilakukan investigasi dan evaluasi, kemudian diperbolehkan kembali beroperasi setelah seluruh rekomendasi perbaikan dipenuhi. Pendekatan tersebut memperlihatkan bahwa dapur MBG diperlakukan sebagai unit pelayanan pangan yang harus memenuhi ukuran kinerja dan keamanan tertentu sebelum kembali melayani masyarakat.

    Sebagai bagian dari upaya memperkuat tata kelola, pihaknya juga menekankan pentingnya pembenahan internal dan keterbukaan terhadap masukan dalam pelaksanaan MBG. Pihaknya terus melakukan asesmen internal serta berkoordinasi dengan jajaran pimpinan untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang masih ditemukan dalam pelaksanaan program. Sikap tersebut memperlihatkan bahwa evaluasi dan perbaikan sistem menjadi bagian penting dalam memastikan program MBG berjalan sesuai tujuan dan standar yang telah ditetapkan.

    Kepala Biro Hukum dan Humas BGN, Khairul Hidayati juga menegaskan bahwa standar higiene dan sanitasi merupakan prasyarat operasional SPPG. Artinya, dapur tidak cukup hanya memiliki kemampuan memasak dalam jumlah besar, tetapi juga harus memiliki fasilitas, prosedur kerja, peralatan, serta tenaga pelaksana yang mampu menjaga keamanan pangan secara konsisten. Sertifikasi keamanan pangan menjadi instrumen untuk memastikan seluruh unsur tersebut memenuhi ketentuan. Dengan sistem ini, pengawasan tidak hanya dilakukan ketika terjadi persoalan, tetapi juga dirancang sebagai langkah pencegahan terhadap risiko kontaminasi dan penurunan kualitas makanan.

    Pentingnya standar tersebut terlihat dari kebijakan kewajiban Sertifikat Laik Higiene Sanitasi (SLHS) bagi SPPG. Sertifikat ini menjadi bukti bahwa fasilitas dan proses pengolahan makanan telah memenuhi persyaratan higiene dan sanitasi yang ditetapkan. BGN juga memperkuat sistem penjaminan keamanan dan mutu pangan dengan mewajibkan SPPG memiliki sertifikasi keamanan pangan. Dalam regulasi BGN, penilaian dilakukan untuk memastikan proses produksi dan distribusi pangan berlangsung aman, higienis, serta memenuhi persyaratan kesehatan. Dengan demikian, SLHS bukan sekadar dokumen administratif, tetapi bagian dari mekanisme perlindungan penerima manfaat.

    Penerapan sistem tersebut juga terlihat dari langkah penghentian sementara puluhan dapur MBG di Kalimantan Barat pada April 2026. Sebanyak 74 SPPG dihentikan karena belum memenuhi standar sanitasi dan pengelolaan limbah, termasuk persoalan SLHS dan Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Kepala Program MBG Regional Kalimantan Barat Agus Kurniawi membenarkan langkah tersebut dan menyatakan bahwa penghentian dilakukan untuk menjaga kualitas serta keamanan pangan. Kasus ini memperlihatkan bahwa standar mutu tidak hanya berkaitan dengan makanan yang tersaji, tetapi juga mencakup kebersihan lingkungan dan pengelolaan limbah dapur.

    Ketegasan terhadap standar juga tercermin dari data pengawasan BGN pada 2026. Pada akhir Mei 2026, BGN menyebut sebanyak 1.152 SPPG masih berstatus dihentikan sementara dari total 4.581 SPPG yang sebelumnya telah menjalani penghentian untuk proses peningkatan kualitas dan penyesuaian standar pelayanan. Angka tersebut menunjukkan bahwa pengawasan terhadap dapur MBG dilakukan secara sistematis dan tidak berhenti pada pemeriksaan awal. Setiap dapur yang bermasalah harus melalui proses evaluasi dan perbaikan sebelum dinyatakan siap kembali beroperasi, sehingga kepentingan penerima manfaat tetap menjadi pertimbangan utama.

    Pada akhirnya, penutupan sementara dapur MBG perlu dipahami sebagai mekanisme pengendalian mutu dalam sebuah program pangan berskala nasional. Ketika ditemukan pelanggaran atau ketidaksesuaian, penghentian memberikan ruang bagi pengelola untuk memperbaiki fasilitas, prosedur, sumber daya manusia, sanitasi, hingga sistem pengawasan pangan. Setelah seluruh persyaratan dipenuhi, dapur dapat kembali beroperasi dengan standar yang lebih baik. Bagi masyarakat, terutama penerima manfaat MBG, konsistensi pengawasan seperti ini penting untuk membangun kepercayaan bahwa makanan yang diberikan tidak hanya bergizi, tetapi juga aman, bersih, dan diproduksi melalui sistem yang dapat dipertanggungjawabkan.

    *) penulis merupakan pemerhati isu strategis

  • Pemerintah Tidak Main-Main Soal Keamanan Pangan MBG

    Oleh: Bara Winatha*)

    Program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan salah satu kebijakan strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas gizi sekaligus membangun sumber daya manusia Indonesia. Besarnya cakupan penerima manfaat membuat aspek keamanan pangan menjadi bagian yang tidak dapat dipisahkan dari keberhasilan program. Karena itu, pengawasan terhadap dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG), pemenuhan standar operasional, transparansi informasi, hingga kesiapan menghadapi risiko operasional perlu dilakukan secara konsisten agar makanan yang diterima masyarakat benar-benar aman dan berkualitas.

    Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Sudaryono, mengatakan pemerintah terus memperketat pengawasan terhadap seluruh SPPG sebagai bentuk komitmen melindungi penerima manfaat MBG. Pengawasan dilakukan dengan memastikan setiap dapur memenuhi standar yang telah ditetapkan, sementara SPPG yang tidak mampu memperbaiki kekurangan dan membahayakan keamanan penerima manfaat dapat dihentikan secara permanen.

    Sudaryono menjelaskan bahwa BGN tidak memberikan perlakuan khusus berdasarkan siapa pengelola sebuah SPPG. Penilaian dilakukan berdasarkan kepatuhan terhadap sistem dan standar yang telah ditetapkan, sehingga dapur yang tidak memenuhi ketentuan tetap dapat dikenai tindakan. Dalam tiga minggu sejak dirinya memimpin BGN, sebanyak 1.300 SPPG disebut telah ditutup karena tidak memenuhi standar, yang terdiri dari sekitar 800 dapur pada tahap awal dan tambahan 500 dapur berikutnya.

    Penutupan tersebut bukan dimaksudkan untuk menghambat pelaksanaan MBG, melainkan untuk memastikan program berjalan dengan standar yang dapat dipertanggungjawabkan. Pemerintah perlu memberikan pesan yang jelas bahwa jumlah dapur dan luas cakupan penerima bukan satu-satunya ukuran keberhasilan. Kualitas makanan, keamanan proses produksi, kebersihan lingkungan dapur, kompetensi tenaga kerja, serta kepatuhan terhadap prosedur harus menjadi indikator utama penyelenggaraan MBG.

    Menurut Sudaryono, BGN juga terus mempelajari praktik terbaik dari SPPG yang mampu menjaga kualitas dan keamanan makanan. Salah satu contoh yang menjadi perhatian adalah SPPG yang dikelola Bhayangkari dari Polri dan menggunakan test kit dalam proses pengawasan makanan. Praktik tersebut dapat menjadi referensi bagi dapur lainnya untuk meningkatkan kemampuan mendeteksi potensi masalah sejak tahap produksi sebelum makanan diterima oleh penerima manfaat.

    Penguatan pengawasan juga perlu disertai keterbukaan informasi kepada masyarakat. BGN telah menyiapkan Radar MBG, sebuah layanan digital yang memungkinkan orang tua, guru, kepala sekolah, pemerintah daerah, dan masyarakat mengetahui berbagai informasi mengenai pelaksanaan program. Melalui sistem tersebut, informasi mengenai sekolah penerima MBG, menu harian, kandungan gizi, dokumentasi makanan, serta SPPG yang memproduksi makanan dapat dipantau secara lebih terbuka.

    Keamanan pangan juga tidak dapat hanya dibebankan kepada BGN. Gubernur Kalimantan Barat, Ria Norsan, mengatakan pemerintah daerah siap memperkuat dukungan terhadap pelaksanaan MBG melalui koordinasi dan pengawasan bersama. Menurutnya, keterlibatan pemerintah daerah diperlukan agar program dapat berjalan tepat sasaran, aman, serta memberikan manfaat bagi anak-anak dan masyarakat di daerah.

    Ria menilai koordinasi lintas sektor menjadi bagian penting dalam memastikan seluruh aspek pelaksanaan MBG berjalan secara beriringan. Pemerintah daerah perlu melibatkan perangkat daerah terkait, satuan pendidikan, BGN, serta pemangku kepentingan lainnya untuk mengawasi keamanan pangan dan ketepatan penerima manfaat. Dengan pembagian peran yang jelas, berbagai potensi persoalan dapat diketahui lebih cepat dan ditangani sebelum berkembang menjadi masalah yang lebih besar.

    Penguatan keamanan pangan menjadi semakin penting karena operasional dapur SPPG memiliki berbagai potensi risiko. Proses memasak dalam jumlah besar melibatkan penggunaan gas, listrik, peralatan produksi, bahan makanan, tenaga kerja, serta aktivitas distribusi yang berlangsung setiap hari. Apabila aspek keselamatan kerja dan manajemen risiko diabaikan, gangguan terhadap operasional dapur dapat terjadi dan berpotensi menghambat distribusi makanan kepada penerima manfaat.

    Perwakilan mitra sekaligus konsultan Yayasan Surya Telaga Cendekia dan Yayasan Humaira Azka, Muhammad Pinandito, mengatakan pengelola SPPG perlu melihat dapur MBG sebagai fasilitas operasional yang memiliki berbagai potensi risiko. Menurut Azka, risiko tersebut tidak hanya berkaitan dengan keamanan makanan, tetapi juga mencakup kebakaran, ledakan, kerusakan peralatan, kecelakaan kerja, hingga terhentinya kegiatan operasional.

    Azka menjelaskan bahwa evaluasi keselamatan perlu dilakukan terhadap instalasi elpiji dan listrik, ketersediaan alat pemadam kebakaran, jalur evakuasi, prosedur keadaan darurat, pemeliharaan peralatan, serta keselamatan pekerja. Pengelola juga perlu memastikan seluruh tenaga kerja memahami prosedur keselamatan dan mengetahui tindakan yang harus dilakukan apabila terjadi kondisi darurat. Langkah pencegahan tersebut jauh lebih penting daripada hanya mengandalkan penanganan setelah insiden terjadi.

    Di sisi lain, masyarakat juga memiliki peran penting dalam menjaga kualitas pelaksanaan MBG. Orang tua, guru, dan penerima manfaat dapat memanfaatkan informasi yang tersedia melalui Radar MBG untuk mengetahui menu dan penyelenggara makanan. Apabila terdapat persoalan terkait kualitas, kebersihan, keamanan, atau pelaksanaan program, partisipasi masyarakat dapat menjadi masukan penting bagi pemerintah untuk melakukan evaluasi dan perbaikan.

    Dengan demikian, tindakan tegas terhadap SPPG yang tidak memenuhi standar menjadi bagian dari proses pembenahan program. Penutupan dapur bermasalah, penguatan perizinan dan SLHS, penerapan standar keselamatan, pemantauan digital melalui Radar MBG, serta pelibatan pemerintah daerah merupakan rangkaian langkah yang saling melengkapi. Tujuannya bukan sekadar menjaga citra program, tetapi memastikan setiap makanan yang diberikan kepada masyarakat memenuhi prinsip aman, bergizi, dan layak dikonsumsi.

    *)Penulis merupakan pengamat sosial dan kemasyarakatan

  • Pemerintah Percepat Penanganan Gempa NTT melalui Penguatan Satgas Terpadu

    Jakarta – Pemerintah memperkuat pembentukan satuan tugas terpadu untuk mempercepat penanganan masyarakat terdampak gempa bumi di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT). Satgas akan menjadi pusat koordinasi pendataan korban, pemenuhan kebutuhan dasar, layanan kesehatan, hingga penyaluran bantuan ke titik pengungsian yang tersebar.

    Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno mengatakan keberadaan satgas diperlukan karena pengungsi tidak hanya berada di posko utama. Sebagian warga memilih mengungsi secara mandiri sehingga perlu didata agar tetap mendapatkan pelayanan.

    “Kita memperkuat pembentukan Satgas di sini. Dengan Satgas, kita bisa melakukan pendataan secara cepat. Karena titik pengungsian bukan hanya di sini, tetapi juga di tempat-tempat lain dan kita juga harus mendeteksi pengungsi mandiri,” ujar Pratikno.

    Satgas tersebut melibatkan pemerintah daerah, TNI, Polri, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), relawan, serta jajaran pemerintahan dari tingkat kabupaten hingga desa. Koordinasi juga dilakukan bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Sosial, dan Kementerian Kesehatan.

    Menurut Pratikno, bantuan bagi masyarakat terdampak mulai berdatangan. Pemerintah terus memastikan ketersediaan logistik, tempat tinggal sementara, layanan kesehatan, ambulans, dan tambahan tenaga medis.

    “Yang penting sekarang adalah bagaimana kebutuhan warga sehari-hari bisa dipenuhi. Layanan kesehatan, ambulans, dan dokter tambahan juga sudah mulai masuk,” katanya.

    Pratikno menegaskan kecepatan pelayanan menjadi prioritas selama masa tanggap darurat. Setelah kebutuhan mendesak tertangani, pemerintah akan melanjutkan penanganan ke tahap rehabilitasi dan rekonstruksi.

    “Satgas dibentuk bersama kepala daerah, Dandim, Kapolres secara sinergis dengan relawan dan BPBD. Semuanya bersinergi mulai dari tingkat kabupaten, kecamatan, hingga desa. Pelayanan masyarakat secepat-cepatnya diberikan, setelah itu berbicara rehabilitasi dan rekonstruksi,” tegasnya.

    Hingga Senin (17/8), BNPB mengidentifikasi 68 korban meninggal dunia dan 213 orang mengalami luka-luka. BPBD NTT juga mencatat sebanyak 7.968 rumah serta 744 fasilitas umum dan infrastruktur mengalami kerusakan.

    Dukungan terhadap percepatan penanganan turut disampaikan Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Haryadi. Ia memastikan DPR siap mempercepat proses persetujuan apabila pemerintah membutuhkan penyesuaian atau pengalihan anggaran untuk memenuhi kebutuhan masyarakat terdampak.

    “Kalau mitra membutuhkan percepatan persetujuan, kami akan mendorong agar prosesnya dilakukan dalam waktu sesingkat-singkatnya,” pungkas Bambang.

  • Satgas Gempa NTT Kawal Penanganan Korban hingga Tahap Rehabilitasi

    Jakarta – Penanganan korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT) terus dikawal agar berjalan cepat sejak masa tanggap darurat hingga memasuki tahap rehabilitasi dan rekonstruksi. Pengawalan dilakukan untuk memastikan bantuan, layanan kesehatan, hunian sementara, dan pemulihan infrastruktur menjangkau seluruh wilayah terdampak.

    Satgas Penanggulangan Pascabencana (Galapana) DPR RI telah meninjau langsung lokasi terdampak gempa berkekuatan magnitudo 7,7 di Ruteng, Kabupaten Manggarai. Dalam peninjauan tersebut, DPR meminta laporan terkini mengenai kondisi korban, kerusakan, distribusi bantuan, dan langkah taktis yang dilakukan pemerintah selama masa tanggap darurat.

    Wakil Ketua DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal mengatakan penanganan korban harus menjadi prioritas pertama. Dukungan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Kementerian Sosial, pemerintah daerah, dan kementerian/lembaga terkait harus dipastikan berjalan secara terpadu.

    “Kami ingin laporan juga, kepastian dalam tanggap darurat ini terutama yang paling pertama penanganan para korban gempa ini,” ujar Cucun.

    DPR juga meminta pemetaan menyeluruh karena dampak gempa tidak hanya dirasakan masyarakat di Kabupaten Manggarai. Sejumlah kabupaten lain di Flores turut melaporkan korban jiwa, kerusakan rumah, fasilitas umum, dan infrastruktur.

    “Karena bukan hanya Kabupaten Manggarai saja, termasuk ada kabupaten-kabupaten lain yang terdampak, kita minta juga masukan dalam waktu yang singkat ini,” kata Cucun.

    Sementara itu, Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (Menko PMK) Pratikno juga membentuk Satgas khusus untuk mempercepat penanganan pascagempa bumi di Flores, NTT.

    Pratikno mengatakan, pembentukan satgas diperlukan untuk mempercepat pendataan masyarakat terdampak, termasuk warga yang mengungsi secara mandiri di sejumlah lokasi.

    “Kita memperkuat pembentukan Satgas di sini. Dengan Satgas, kita bisa melakukan pendataan secara cepat. Karena titik pengungsian bukan hanya di sini, tetapi juga di tempat-tempat lain dan kita juga harus mendeteksi pengungsi mandiri,” ujarnya.

    Pratikno juga menegaskan pemerintah terus memprioritaskan pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat terdampak selama masa tanggap darurat.

    “Selain itu kami melihat masih ada kebutuhan dasar para pengungsi yang harus dipenuhi,” lanjutnya.

  • Negara Hadir, Harapan Penyintas Gempa NTT Terus Menyala

    Oleh: Servatius Yosef *)

    Bencana gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang menguncang berbagai wilayah di Kabupaten Manggarai, Manggarai Timur, Nagekeo, Sikka, hingga kawasan Kepulauan Flores Nusa Tenggara Timur telah menyisakan duka mendalam sekaligus memanggil kesadaran kemanusiaan kolektif bangsa. Di tengah masa-masa krisis yang menguji ketahanan sosial masyarakat, kepemimpinan pemerintah dan kebersamaan seluruh elemen bangsa hadir sebagai penopang utama yang merajut kembali harapan para penyintas. Musibah ini tidak boleh memadamkan optimisme pemulihan, sebab jajaran eksekutif, lembaga legislatif, aparat keamanan, dan sukarelawan kemanusiaan telah bergerak padu dalam satu barisan untuk menyalurkan bantuan komprehensif serta memastikan kehidupan warga terdampak dapat kembali pulih secara bermartabat.

    Strategi pemulihan terpadu yang digulirkan oleh pemerintah pusat menegaskan komitmen bahwa keselamatan rakyat merupakan hukum tertinggi dalam tata kelola bencana. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno menjelaskan bahwa seluruh langkah tanggap darurat diatur melalui mekanisme koordinasi terpusat guna menjamin pemenuhan kebutuhan dasar pengungsi secara menyeluruh. Penguatan sarana medis, mobilisasi armada ambulans, serta penerjunan tambahan tenaga dokter diprioritaskan untuk menangani korban luka-luka dan menjaga kondisi fisik para warga di tempat penampungan. Pemerintah menekankan pentingnya menyelesaikan fase tanggap darurat secara cepat dan presisi sebelum melangkah ke tahap rekonstruksi bangunan sarana publik dan hunian warga.

    Kepastian perlindungan terhadap pengungsi diperkuat oleh integrasi data kerusakan dan pemetaan kebutuhan di tingkat daerah. Kepala BPBD Nusa Tenggara Timur Mahadin Sibarani menyampaikan bahwa pemetaan validasi angka kerusakan rumah tinggal dan sarana publik terus diperbarui secara transparan sebagai rujukan penyaluran logistik dan bantuan pemulihan fisik. Data terverifikasi ini menjadi panduan kritis bagi kementerian teknis serta BUMN penunjang infrastruktur dalam mempercepat pemulihan jaringan listrik, pasokan bahan bakar, dan perbaikan sarana telekomunikasi yang sempat terganggu. Pengelolaan data yang akurat menjadi fondasi utama dalam memastikan bahwa tidak ada satu pun kawasan terdampak yang terlewatkan dalam agenda pemulihan nasional.

    Langkah nyata eksekutif dalam menjamin efektivitas penanganan bencana di lapangan mendapatkan pengawalan langsung dari pimpinan parlemen. Wakil Ketua DPR RI Sari Yuliati menegaskan pentingnya efisiensi distribusi bantuan logistik, fasilitas kesehatan, dan hunian sementara agar tepat sasaran serta menjangkau seluruh pengungsi tanpa terkecuali. Sari Yuliati menyampaikan bahwa peninjauan langsung di lokasi bencana merupakan bentuk tanggung jawab moral dan konstitusional dewan untuk memastikan negara benar-benar hadir mendampingi masyarakat di saat tersulit. Sinergi antara pemerintah pusat, BNPB, Kementerian Sosial, dan pemerintah daerah yang dipantau secara berkala menjadi kunci utama terciptanya mekanisme pelayanan publik yang responsif.

    Pendekatan pengawasan yang inklusif juga terus diperkuat oleh pimpinan dewan lainnya demi memastikan keterpaduan langkah penanganan di seluruh daerah terdampak. Wakil Ketua DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal mendorong agar inventarisasi masalah di lapangan segera diterjemahkan menjadi tindakan taktis penanganan korban gempa, khususnya di Kabupaten Manggarai dan wilayah Flores lainnya. Cucun Ahmad Syamsurijal menekankan pentingnya komitmen BNPB dan Kementerian Sosial dalam memberikan kepastian bantuan serta pendampingan psikologis bagi pengungsi. Pendekatan holistik ini membuktikan bahwa penanganan bencana tidak hanya berfokus pada pembangunan fisik, tetapi juga memulihkan ketenangan dan kesejahteraan batin para penyintas musibah.

    Dari sisi kepastian alokasi pembiayaan, skema anggaran yang fleksibel dan berkelanjutan telah disiapkan pemerintah pusat untuk menopang seluruh rangkaian pemulihan. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengonfirmasi ketersediaan anggaran bencana nasional yang siap disalurkan bertahap sesuai dengan eskalasi kebutuhan lapangan. Purbaya Yudhi Sadewa menjelaskan bahwa penggunaan alokasi awal darurat BNPB akan disusul dengan dukungan pembiayaan tahap rekonstruksi apabila fase tanggap darurat selesai dilaksanakan. Kepastian ketersediaan dana cadangan bencana ini memberikan jaminan penuh kepada masyarakat bahwa pemulihan infrastruktur pemukiman, fasilitas pendidikan, dan pusat kesehatan akan berjalan berlanjut tanpa hambatan fiskal.

    Dukungan finansial dari pusat mendapatkan apresiasi positif dari pimpinan perwakilan daerah sebagai wujud keadilan fiskal dalam penanganan krisis. Ketua DPD RI Sultan Bachtiar Najamudin menilai bahwa dorongan tambahan alokasi anggaran pusat sangat dibutuhkan oleh pemerintah daerah untuk mempercepat perbaikan fasilitas publik dan memenuhi kebutuhan operasional posko pengungsian. Sultan Bachtiar Najamudin menyampaikan bahwa kerja sama harmonis antara pusat dan daerah dalam pemetaan dampak bencana merupakan kunci utama dalam membangun kembali ketahanan sosial ekonomi masyarakat NTT. Sinergi fiskal ini mempertegas bahwa pemerintah daerah tidak dibiarkan menanggung beban bencana secara mandiri.

    Komitmen penanganan krisis ini semakin kuat dengan hadirnya dukungan fleksibilitas anggaran dari pihak parlemen. Jajaran legislatif memberikan kepastian untuk mendorong proses persetujuan dana tambahan dalam waktu sesingkat-singkatnya demi kelancaran operasional di daerah terdampak. Sinergi administrasi yang responsif ini menegaskan bahwa keselamatan warga adalah prioritas utama di atas segala prosedur formalitas. Melalui kolaborasi erat antara pemerintah pusat, parlemen, dan pemerintah daerah, seluruh rangkaian bantuan dan pemulihan dapat tersalurkan secara cepat dan menjadi simbol nyata keberhadiran negara dalam mengayomi serta membangkitkan kembali optimisme para penyintas gempa di Nusa Tenggara Timur.

    *) Pengamat Kebijakan Publik

  • Satgas Terpadu Gempa NTT Tegaskan Negara Hadir Lindungi Seluruh Pengungsi

    Oleh: Samhaji Syukur *)

    Musibah gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang kawasan Kepulauan Flores, Nusa Tenggara Timur, menjadi ujian ketangguhan nasional sekaligus momentum pembuktian nyata atas keberhadiran negara dalam mengayomi seluruh lapisan masyarakat terdampak. Didasari kesadaran mendalam akan besarnya skala dampak sosial dan kerusakan fisik di lapangan, langkah proaktif pemerintah pusat bersama jajaran pemerintah daerah dalam memetakan serta merespons situasi krisis secara terstruktur layak mendapatkan apresiasi setinggi-tingginya. Kehadiran negara bukan sekadar simbol penanganan krisis formalitas, melainkan wujud pelaksanaan mandat konstitusional untuk melindungi keselamatan setiap jiwa warga negara. Pembentukan Satuan Tugas Terpadu Penanganan Pascabencana Gempa NTT yang diinisiasi oleh pemerintah pusat menjadi konsolidasi instrumen kekuasaan publik yang krusial agar tidak ada satu pun warga terdampak yang terabaikan dalam fase tanggap darurat ini.

    Keputusan taktis yang diambil oleh Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Pratikno dalam merespons cepat dinamika pascagempa mencerminkan tata kelola krisis yang terukur, inklusif, dan berorientasi pada keselamatan publik. Pembentukan satuan tugas khusus pascagempa dipusatkan untuk menjangkau titik-titik pengungsian mandiri yang tersebar di wilayah perbukitan maupun pemukiman terpencil. Menko PMK Pratikno menjelaskan bahwa percepatan pendataan pengungsi mandiri merupakan fondasi utama agar pemenuhan kebutuhan logistik, obat-obatan, dan sarana tempat tinggal sementara dapat terdistribusi secara konsisten dan adil. Konsolidasi lintas sektor yang menyatukan peran pemerintah daerah, jajaran TNI, Polri, BPBD, hingga tingkatan kecamatan dan desa membuktikan bahwa sekat-sekat administratif tidak boleh membatasi penyaluran bantuan kemanusiaan pada saat-saat paling kritis.

    Langkah penanganan yang sigap di tingkat pusat menemukan titik tumpu yang kuat melalui kesiapan instansi teknis penanggulangan bencana di daerah. Kepala BPBD Nusa Tenggara Timur Mahadin Sibarani mengonfirmasi bahwa rincian dampak fisik, termasuk kerugian pada ribuan unit rumah warga serta ratusan fasilitas umum dan infrastruktur sosial, terus diverifikasi dalam basis data yang terintegrasi. Pendataan komprehensif ini menjadi landasan strategis bagi pembentukan satgas daerah untuk memperkuat komando lokal. Dengan komando operasional yang solid di tingkat tapak, berbagai tantangan teknis dalam menjangkau posko penampungan yang sulit diakses dapat diselesaikan secara efektif melalui kolaborasi intensif bersama Badan Nasional Penanggulangan Bencana, Kementerian Sosial, dan Kementerian Kesehatan.

    Penguatan kelembagaan penanganan krisis ini juga selaras dengan komitmen pengawasan ketat yang dijalankan oleh pimpinan legislatif. Wakil Ketua DPR RI Sari Yuliati menekankan bahwa peninjauan langsung di lapangan serta sinergi lintas lembaga merupakan kunci utama untuk memastikan efisiensi penyaluran pasokan logistik, fasilitas kesehatan, dan hunian sementara bagi warga terdampak. Pengawasan melekat dari parlemen memastikan bahwa setiap kebijakan tanggap darurat yang digulirkan eksekutif berjalan secara transparan, akuntabel, dan berfokus penuh pada pemulihan fisik maupun trauma psikologis masyarakat. Kehadiran pimpinan DPR bersama pejabat kementerian di titik bencana menegaskan jaminan bahwa seluruh fungsi pemerintahan bekerja sinergis demi mengembalikan rasa aman publik.

    Dukungan taktis legislatif semakin konkret dengan adanya kesiapan akselerasi prosedur penganggaran bencana di tingkat parlemen. Wakil Ketua Komisi XII DPR RI Bambang Haryadi menegaskan kesiapan DPR untuk mempercepat proses persetujuan alokasi maupun alih fungsi anggaran pemerintah apabila kebutuhan penanganan bencana di lapangan meningkat. Fleksibilitas serta kemudahan prosedur persetujuan anggaran di DPR menjamin bahwa seluruh tahapan tanggap darurat hingga rehabilitasi tidak akan terkendala oleh hambatan administratif. Komitmen ini menunjukkan betapa harmonisnya relasi kerja antara pemerintah dan DPR dalam mengutamakan keselamatan rakyat di atas segala kerumitan birokrasi anggaran.

    Pengawasan taktis terhadap efektivitas penanganan bencana di kawasan terdampak juga dikawal oleh pimpinan dewan lainnya melalui peninjauan lapangan yang mendalam. Wakil Ketua DPR RI Cucun Ahmad Syamsurijal menegaskan pentingnya laporan kondisi riil dan langkah taktis yang diambil selama masa tanggap darurat untuk menjamin kepastian pelayanan pengungsi di berbagai wilayah, termasuk Kabupaten Manggarai dan daerah sekitarnya. Cucun menyampaikan bahwa masukan konkret dari pemerintah daerah serta instansi terkait akan menjadi acuan utama dalam menetapkan kebijakan pemulihan jangka pendek dan menengah. Pendekatan ini memastikan bahwa penanganan dampak gempa bumi dilakukan secara merata tanpa mengesampingkan kabupaten yang membutuhkan intervensi khusus.

    Dari perspektif ketahanan fiskal nasional, keberlanjutan sokongan dana bagi penanganan gempa NTT dipastikan berada dalam kondisi yang sangat aman. Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengonfirmasi ketersediaan anggaran awal yang memadai melalui dana cadangan bencana di BNPB. Skema pembiayaan bertahap ini dirancang secara sistematis, dimulai dari pencairan dana darurat untuk pemenuhan kebutuhan logistik harian pengungsi hingga persiapan alokasi pembiayaan tahap rehabilitasi dan rekonstruksi fisik secara masif. Keberadaan dana cadangan khusus bencana ini memberi kepastian fiskal bahwa seluruh kebutuhan dasar masyarakat terdampak akan terus terpenuhi secara konsisten tanpa risiko keterbatasan anggaran.

    Kehadiran Satgas Terpadu Gempa NTT membuktikan komitmen utuh negara dalam menghadirkan sistem perlindungan bencana yang tangguh, responsif, dan bermartabat bagi seluruh masyarakat Nusa Tenggara Timur.

    *) Pengamat Kebijakan Publik

  • Presiden Prabowo Percepat Sekolah Rakyat Permanen untuk Perluas Akses Pendidikan

    Jakarta – Pemerintah mempercepat pembangunan 93 Sekolah Rakyat permanen di sejumlah provinsi untuk memperluas akses pendidikan bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera. Pembangunan sekolah berasrama tersebut menjadi bagian dari upaya memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan berkualitas dan pembentukan karakter.

    Program yang dilaksanakan Kementerian Pekerjaan Umum (PU) berdasarkan Instruksi Presiden Nomor 8 Tahun 2025 itu mencakup pembangunan sarana pendidikan yang terintegrasi. Hingga 12 Agustus 2026, sebanyak 30 sekolah telah selesai dibangun dengan progres 100 persen, sedangkan unit lainnya memasuki tahap penyelesaian akhir.

    Sebagian besar Sekolah Rakyat permanen juga telah difungsikan untuk mendukung Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah Tahun Ajaran 2026/2027. Secara keseluruhan, proses pembangunan tersebut menyerap sekitar 50.560 tenaga kerja.

    Menteri Pekerjaan Umum (PU) Dody Hanggodo mengatakan Sekolah Rakyat menjadi bentuk nyata kehadiran negara dalam memberikan kesempatan pendidikan kepada anak-anak yang selama ini menghadapi keterbatasan ekonomi.

    “Secara keseluruhan, dari Sabang sampai Merauke, mereka yang selama ini tidak pernah merasakan sekolah bisa disekolahkan di sini. Bahkan bukan cuma disekolahkan, tapi dimuliakan. Dikasih fasilitas yang megah, dikasih buku, seragam, sepatu, makan, sampai tempat tidur di asrama. Jadi Pak Presiden Prabowo Subianto memuliakan anak-anak dari kalangan prasejahtera,” tegasnya.

    Sekolah Rakyat permanen dibangun untuk jenjang SD, SMP, dan SMA. Setiap kawasan dilengkapi ruang kelas, asrama siswa, laboratorium, rumah susun guru, gedung serbaguna, tempat ibadah, kantin, dapur, serta instalasi pengolahan limbah dan penyediaan air bersih.

    Pemerintah turut menyediakan sistem keamanan berupa kamera pengawas serta fasilitas olahraga, seperti lapangan sepak bola atau mini soccer dan bola basket. Penyediaan fasilitas tersebut diharapkan dapat menciptakan lingkungan belajar yang aman, sehat, dan mendukung perkembangan akademik maupun nonakademik siswa.

    Sementara itu, Presiden Prabowo Subianto dalam pidatonya pada Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD, menegaskan Sekolah Rakyat dirancang khusus sebagai sekolah berasrama bagi anak-anak dari keluarga paling membutuhkan.

    “Kita juga membangun sekolah rakyat. Sekolah berasrama untuk anak-anak dari keluarga yang paling tidak berdaya dengan ruang kelas, tempat tinggal, makanan bergizi, komputer, guru, dan lingkungan yang aman,” kata Presiden Prabowo.

    Pemerintah menargetkan Sekolah Rakyat tersedia di setiap kabupaten dan kota. Percepatan pembangunan sekolah permanen akan terus dilakukan melalui kolaborasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, dan masyarakat agar manfaat program menjangkau lebih banyak anak dari keluarga prasejahtera.**

  • Sekolah Rakyat Beroperasi di Ratusan Titik, Pemerintah Perluas Akses Pendidikan

    Jakarta – Program Sekolah Rakyat telah beroperasi sebanyak 182 titik di berbagai wilayah Indonesia, mencakup sekolah permanen dan sekolah rintisan yang masih aktif. Pemerintah akan terus memperluas program tersebut dengan menargetkan sedikitnya satu Sekolah Rakyat tersedia di setiap kabupaten dan kota.

    Sekolah Rakyat dirancang sebagai sekolah berasrama bagi anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem. Data calon penerima manfaat dihimpun dan diverifikasi oleh Kementerian Sosial agar program menjangkau masyarakat yang paling membutuhkan.

    Presiden Prabowo Subianto dalam Pidato Kenegaraan pada Sidang Tahunan MPR dan Sidang Bersama DPR-DPD di Kompleks Parlemen Senayan mengatakan pemerintah menyediakan lingkungan pendidikan yang aman dan fasilitas lengkap bagi para siswa.

    “Kita juga membangun sekolah rakyat. Sekolah berasrama untuk anak-anak dari keluarga yang paling tidak berdaya dengan ruang kelas, tempat tinggal, makanan bergizi, komputer, guru, dan lingkungan yang aman,” kata Presiden Prabowo.

    Sementara itu, Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo mengatakan Sekolah Rakyat tidak sekadar memberikan pendidikan akademik, tetapi juga menghadirkan fasilitas dan pendampingan yang layak bagi anak-anak dari keluarga prasejahtera.

    “Secara keseluruhan, dari Sabang sampai Merauke, mereka yang selama ini tidak pernah merasakan sekolah bisa disekolahkan di sini. Bahkan bukan cuma disekolahkan, tapi dimuliakan. Dikasih fasilitas yang megah, dikasih buku, seragam, sepatu, makan, sampai tempat tidur di asrama. Jadi Pak Presiden Prabowo Subianto memuliakan anak-anak dari kalangan prasejahtera,” tegasnya.

    Menurut Dody, pembangunan Sekolah Rakyat merupakan bentuk kehadiran negara sekaligus salah satu instrumen untuk memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan. Hingga pertengahan Agustus 2026, Kementerian PU telah mengerjakan 93 Sekolah Rakyat permanen. Sebanyak 30 sekolah telah selesai dibangun, sedangkan unit lainnya memasuki tahap penyelesaian akhir.

    Sekolah Rakyat menerapkan kurikulum yang menyesuaikan kebutuhan akademik dan kondisi sosial siswa. Kurikulum tersebut meliputi tahap persiapan untuk mengidentifikasi bakat dan minat, pembelajaran formal sesuai regulasi nasional, serta pendidikan asrama yang berfokus pada pembentukan karakter dan kepemimpinan.

    Para siswa tidak hanya dibekali ilmu pengetahuan, tetapi juga didorong membangun kepercayaan diri, kegigihan, dan sikap pantang menyerah. Sejumlah siswa mulai mencatatkan prestasi, antara lain tujuh siswa yang meraih juara Olimpiade Nasional, juara karate tingkat kabupaten, serta seorang siswa yang terpilih menjadi anggota Paskibraka Nasional.***

  • Sekolah Rakyat Memuliakan Anak dari Keluarga Rentan

    Oleh: Hanan Alfawazi*)

    Pemerintah menunjukkan keberpihakan kepada anak-anak dari keluarga rentan melalui pengembangan Sekolah Rakyat. Program ini tidak sekadar menyediakan akses pendidikan, tetapi menghadirkan ekosistem pembelajaran yang mencakup tempat tinggal, makanan bergizi, fasilitas pendidikan, dan pembinaan karakter. Pendekatan tersebut memperlihatkan upaya negara memastikan keterbatasan ekonomi keluarga tidak menjadi penghalang bagi masa depan seorang anak. Dalam konteks itu, Sekolah Rakyat layak dilihat bukan sekadar sebagai kebijakan pendidikan, melainkan sebagai intervensi untuk memutus kemiskinan antargenerasi.

    Presiden Prabowo Subianto menempatkan pendidikan sebagai investasi strategis dalam pembangunan manusia. Dalam pidato kenegaraan pada 14 Agustus 2026, Prabowo menegaskan bahwa tidak ada investasi yang lebih berharga daripada mengembalikan masa depan seorang anak. Pernyataan tersebut memberikan gambaran mengenai filosofi di balik Sekolah Rakyat, negara tidak hanya menyediakan tempat belajar, tetapi berusaha mengembalikan kesempatan yang mungkin hilang akibat keterbatasan ekonomi keluarga.

    Makna tersebut menjadi semakin penting ketika melihat perkembangan program saat ini. Pemerintah telah membangun 93 Sekolah Rakyat permanen, sementara jika digabungkan dengan sekolah rintisan yang masih aktif, jumlahnya telah mencapai 182 titik. Pemerintah juga menargetkan kehadiran sedikitnya satu Sekolah Rakyat permanen di setiap kabupaten/kota. Angka tersebut menunjukkan bahwa kebijakan ini mulai bergerak dari tahap gagasan menuju pembangunan infrastruktur pendidikan yang lebih luas.

    Sekolah Rakyat juga memiliki karakter berbeda karena dirancang sebagai pendidikan berasrama bagi anak-anak dari keluarga paling tidak mampu. Konsep tersebut memungkinkan intervensi pendidikan dilakukan secara lebih komprehensif. Anak tidak hanya memperoleh pembelajaran akademik, tetapi juga mendapatkan lingkungan belajar, tempat tinggal, makanan bergizi, fasilitas olahraga, serta pembinaan karakter. Dengan pendekatan demikian, negara berupaya mengurangi hambatan nonakademik yang selama ini dapat membuat anak dari keluarga rentan sulit mempertahankan keberlanjutan pendidikannya.

    Menteri Sosial Saifullah Yusuf memperlihatkan bahwa perluasan Sekolah Rakyat tidak berhenti pada pembangunan gedung. Pemerintah menargetkan lebih dari 150 ribu siswa mengikuti program tersebut pada 2027, meningkat signifikan dari lebih dari 43 ribu siswa yang telah terjangkau saat ini. Target tersebut juga diarahkan agar setiap kabupaten/kota memiliki sedikitnya satu gedung permanen dengan kapasitas lebih dari 2.000 siswa. Menurut Gus Ipul, perluasan ini secara khusus menyasar anak kurang mampu dan anak yang putus sekolah.

    Pernyataan tersebut memperlihatkan bahwa pemerintah mencoba menjawab persoalan pendidikan dari sisi akses sekaligus keberpihakan. Menjangkau anak yang sudah berada di luar sistem pendidikan bukan pekerjaan sederhana. Gus Ipul bahkan menjelaskan bahwa pendamping di lapangan harus melakukan pencarian secara intensif untuk menemukan anak-anak yang pada jam sekolah justru mengamen atau mencari penghasilan di pasar dan tempat umum. Artinya, Sekolah Rakyat hadir dengan pendekatan proaktif, bukan hanya menunggu keluarga datang mendaftarkan anaknya.

    Dimensi kemanusiaan dalam kebijakan tersebut juga penting. Fatma Saifullah Yusuf selaku Penasihat Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Sosial (Kemensos) dalam kegiatan pendidikan terbaru menekankan bahwa anak-anak pada dasarnya memiliki potensi yang dapat berkembang ketika memperoleh kesempatan. Meski pernyataannya disampaikan dalam konteks pendidikan vokasional bagi remaja penyandang disabilitas, gagasan bahwa pendidikan harus membuka ruang bagi talenta dan membangun kepercayaan diri relevan dengan semangat Sekolah Rakyat. Pendidikan, menurutnya, tidak cukup berhenti pada materi di kelas, tetapi perlu membentuk keterampilan, kepercayaan diri, kemampuan sosial, dan kesiapan berkontribusi di masyarakat.

    Perspektif tersebut penting agar Sekolah Rakyat tidak terjebak menjadi program yang hanya mengukur keberhasilan berdasarkan jumlah siswa atau jumlah gedung yang dibangun. Keberhasilan sesungguhnya terletak pada kemampuan program mengubah peluang hidup peserta didik. Anak yang sebelumnya berisiko putus sekolah harus memperoleh kesempatan untuk berkembang sesuai potensinya, baik melalui prestasi akademik, olahraga, keterampilan, maupun kemampuan sosial.

    Bukti awal mengenai peluang tersebut mulai terlihat. Dalam pidatonya, Prabowo menyebut sejumlah prestasi siswa Sekolah Rakyat, termasuk tujuh siswa di Makassar yang memenangkan Olimpiade Nasional Indonesia serta Ismi Ulfaida dari Polewali Mandar yang menjadi siswa Sekolah Rakyat pertama yang lolos sebagai anggota Paskibraka Nasional. Capaian tersebut memperlihatkan bahwa ketika anak dari keluarga paling rentan mendapatkan fasilitas, bimbingan, dan kesempatan, mereka mampu bersaing pada tingkat yang lebih tinggi.

    Meski demikian, perluasan program tetap harus diiringi dengan penguatan kualitas. Pemerintah perlu memastikan standar pengajaran, kompetensi tenaga pendidik, kesehatan siswa, pendampingan psikososial, serta fasilitas asrama berkembang sejalan dengan pertambahan jumlah peserta didik. Evaluasi juga diperlukan agar Sekolah Rakyat benar-benar menjadi ruang pendidikan yang aman dan bermartabat, bukan sekadar alternatif bagi anak dari keluarga miskin. Prinsip keberpihakan harus berjalan bersama dengan standar mutu yang tinggi.

    Kebijakan ini pada akhirnya memandang anak bukan berdasarkan kondisi ekonomi keluarganya, melainkan berdasarkan potensi yang dapat dikembangkan melalui kesempatan yang setara. Ketika pemerintah memperluas akses, membangun fasilitas, menjangkau anak yang berada di luar sekolah, sekaligus memberikan pembinaan yang lebih menyeluruh, negara sedang membangun fondasi mobilitas sosial jangka panjang. Di situlah makna Sekolah Rakyat menjadi lebih luas: bukan sekadar menyediakan ruang belajar, melainkan membuka kembali kesempatan bagi anak-anak dari keluarga rentan untuk tumbuh, berprestasi, dan menentukan masa depan mereka sendiri.

    *) Penulis merupakan Pengamat Sosial