Penulis: restiana818@gmail.com
-
Situasi Nasional Aman Harus Dijaga dari Provokasi Jelang HUT ke-81 RI
Oleh: Alexander Royce*)Menjelang peringatan Hari Ulang Tahun ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia pada 17 Agustus 2026, stabilitas keamanan nasional menjadi perhatian penting. Informasi di ruang digital, mulai dari isu demonstrasi hingga ancaman keamanan, perlu disikapi secara tenang. Pemerintah telah memastikan bahwa situasi nasional berada dalam kondisi aman dan terkendali. Namun, kondisi itu tetap membutuhkan partisipasi masyarakat agar tidak terpengaruh informasi yang belum terverifikasi.Peringatan kemerdekaan semestinya menjadi ruang untuk memperkuat persatuan, bukan momentum bagi pihak tertentu untuk menyebarkan kecemasan. Di tengah penggunaan media sosial, kabar yang belum jelas sumbernya dapat menyebar lebih cepat daripada klarifikasi resmi. Karena itu, kewaspadaan publik bukan hanya berkaitan dengan ancaman fisik, tetapi juga kemampuan memilah informasi, menahan diri untuk tidak menyebarkan kabar meragukan, serta merujuk saluran resmi pemerintah.Menteri Koordinator Bidang Politik dan Keamanan Djamari Chaniago menegaskan bahwa situasi dalam negeri menjelang HUT ke-81 RI berada dalam kendali pemerintah. Penegasan tersebut disampaikan setelah rapat koordinasi bersama Panglima TNI, Kapolri, Jaksa Agung, dan Kepala Badan Intelijen Negara. Kehadiran para pimpinan lembaga strategis itu menunjukkan bahwa pemerintah tidak bekerja secara parsial, melainkan membangun koordinasi lintas institusi untuk membaca perkembangan, mengantisipasi potensi gangguan, dan memastikan aktivitas masyarakat tetap berjalan normal.Djamari juga menekankan bahwa pemerintah terus memperkuat komunikasi dengan aparat keamanan dan unsur intelijen di semua tingkatan. Langkah ini penting karena tantangan keamanan saat ini tidak selalu muncul dalam bentuk gangguan terbuka. Disinformasi, video manipulatif, serta narasi provokatif dapat menciptakan persepsi seolah-olah keadaan sedang genting. Dengan koordinasi yang terpadu, pemerintah dapat merespons kabar menyesatkan secara cepat dan mencegah keresahan berkembang menjadi gangguan nyata.Jaminan pemerintah tersebut patut dibaca sebagai bentuk kesiapsiagaan, bukan alasan untuk mengendurkan kewaspadaan. Pemerintah juga telah menyiapkan rangkaian Bulan Kemerdekaan bertema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur” dengan melibatkan kementerian, lembaga, pemerintah daerah, dan masyarakat. Partisipasi publik membutuhkan pengamanan terukur agar perayaan berlangsung tertib, inklusif, dan menggembirakan.Wakil Ketua Komisi III DPR Ahmad Sahroni mengingatkan masyarakat agar tidak mudah terprovokasi oleh berbagai narasi keamanan di media sosial. Menurutnya, informasi yang belum terverifikasi, termasuk isu aksi demonstrasi besar-besaran dan kabar pemasangan pagar di sejumlah pusat perbelanjaan, berpotensi menimbulkan keresahan. Imbauan ini relevan karena ketertiban nasional tidak hanya ditentukan oleh aparat, tetapi juga oleh kedewasaan masyarakat dalam menerima dan menyebarkan informasi.Sahroni juga mendorong publik untuk memeriksa sumber kabar sebelum menarik kesimpulan. Sikap kritis menjadi penting agar ruang digital tidak dimanfaatkan untuk membangun ketakutan yang tidak berdasar. Kritik dan aspirasi merupakan bagian demokrasi, tetapi harus dibedakan dari provokasi yang dirancang memperkeruh keadaan. Dalam konteks ini, masyarakat dapat berperan sebagai penjaga stabilitas dengan tidak ikut memperluas narasi yang belum terbukti.Pesan tersebut juga sejalan dengan kebutuhan untuk melindungi masyarakat dari berbagai modus penipuan menjelang perayaan kemerdekaan. Pemerintah mengingatkan agar pendaftaran upacara HUT ke-81 RI di Istana hanya diakses melalui kanal resmi. Kewaspadaan diperlukan terhadap tautan palsu yang meminta pembayaran maupun data pribadi. Artinya, keamanan menjelang HUT RI mencakup pula perlindungan warga di ruang digital.Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo memastikan seluruh rangkaian peringatan HUT ke-81 RI akan berjalan aman dan kondusif. Polri telah membangun sinergi dengan kementerian, lembaga, pemerintah daerah, serta unsur keamanan lainnya di seluruh Indonesia. Kerja sama ini memperlihatkan pendekatan pengamanan yang menyeluruh, tidak hanya berpusat di Jakarta, tetapi menjangkau daerah yang menggelar berbagai kegiatan masyarakat.Kapolri juga menekankan bahwa HUT Kemerdekaan merupakan milik seluruh rakyat Indonesia. Karena itu, pengamanan diarahkan untuk memberikan rasa aman agar masyarakat dapat mengikuti upacara, perlombaan, kegiatan kebudayaan, dan perayaan lainnya tanpa kekhawatiran. Soliditas TNI-Polri serta koordinasi dengan pemerintah daerah menjadi fondasi penting untuk mencegah gangguan sekaligus memastikan penanganan cepat apabila muncul potensi masalah.Kepastian dari Kapolri menunjukkan bahwa negara hadir melalui langkah pencegahan dan kesiapan operasional. Pendekatan ini penting agar aparat tidak sekadar bertindak setelah gangguan terjadi, tetapi mampu mendeteksi kerawanan sejak dini. Aparat juga perlu mengedepankan pelayanan humanis, komunikasi terbuka, dan tindakan proporsional agar kepercayaan masyarakat menguat.Situasi nasional yang aman merupakan modal utama untuk merayakan kemerdekaan dengan optimisme. Stabilitas memungkinkan masyarakat menjalankan aktivitas ekonomi, sosial, pendidikan, dan budaya secara tenang. Karena itu, menjaga keamanan bukan hanya tugas pemerintah dan aparat, melainkan tanggung jawab bersama. Masyarakat perlu menghindari provokasi, memeriksa kebenaran informasi, dan melaporkan konten mencurigakan melalui saluran yang tepat.Koordinasi pemerintah, pengawasan DPR, kesiapan Polri, dan partisipasi publik memperlihatkan bahwa Indonesia memiliki fondasi kuat untuk menghadapi berbagai potensi gangguan. Dengan tetap waspada tanpa menciptakan kepanikan, peringatan HUT ke-81 RI dapat berlangsung aman, tertib, dan penuh kebanggaan. Langkah pemerintah menjaga stabilitas nasional patut didukung sebagai wujud tanggung jawab negara dalam memastikan kemerdekaan dirayakan dalam suasana damai, sekaligus memperkokoh persatuan menuju Indonesia yang berdaulat, adil, dan makmur.*) Pengamat Sosial -
Disrupsi AI Diwaspadai, Pemerintah Dorong Perlindungan Data dan Konten Jurnalistik
Jakarta — Pemerintah terus memperkuat langkah antisipatif menghadapi disrupsi teknologi kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) yang berkembang pesat. Selain mendorong transformasi digital dan produktivitas di berbagai sektor, AI juga menghadirkan tantangan terkait perlindungan data, hak cipta, dan keberlanjutan industri media. Karena itu, pemerintah mendorong penyusunan tata kelola AI yang mampu menyeimbangkan inovasi dengan perlindungan kepentingan publik.Sejalan dengan upaya tersebut, Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) terus mematangkan penyusunan tata kelola hak cipta di era AI dengan menyerap masukan dari berbagai pemangku kepentingan. Langkah ini bertujuan menghadirkan regulasi yang melindungi karya jurnalistik sekaligus menjaga keberlangsungan industri media. Pemerintah juga menghimpun pandangan pelaku industri mengenai perlindungan karya jurnalistik, pemanfaatan AI, serta mekanisme kerja sama antara platform digital dan perusahaan media. “Kami prihatin terhadap beberapa isu yang menjadi perbincangan di kalangan komunitas media. Kami ingin mendengar pandangan dan rencana Anda. Kami juga menghargai kontribusi besar Google dalam menjaga ekosistem media di Indonesia tetap sehat,” ujar Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria.Pemerintah menilai tata kelola AI harus memberikan kepastian hukum bagi seluruh pemangku kepentingan tanpa menghambat inovasi. “Penting bagi kita menciptakan keseimbangan antara inovasi teknologi, perlindungan hak penerbit, serta kepastian hukum bagi seluruh pemangku kepentingan.” ucap Menteri Hukum Republik Indonesia, Supratman Andi AgtasPerlindungan terhadap data dan konten jurnalistik menjadi perhatian utama karena AI generatif memanfaatkan berbagai sumber informasi untuk menghasilkan konten baru. Oleh sebab itu, diperlukan mekanisme yang jelas terkait penggunaan karya jurnalistik, penghormatan terhadap hak cipta, serta pola kerja sama yang adil antara platform digital dan perusahaan media agar industri pers tetap berkelanjutan.Pemerintah juga terus mengkaji dampak AI terhadap industri media. Sejumlah perusahaan pers melaporkan penurunan trafik pembaca yang berdampak pada pendapatan, sehingga diperlukan model bisnis yang lebih adaptif untuk menjawab perubahan ekosistem digital. Pemerintah berkomitmen menyusun regulasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dengan tetap menjunjung prinsip keadilan, transparansi, serta keberlanjutan industri media nasional. Melalui komunikasi yang intensif dan kolaborasi dengan seluruh pemangku kepentingan, pemerintah optimistis mampu mewujudkan tata kelola ruang digital yang lebih sehat, mendorong inovasi, serta memberikan perlindungan yang memadai bagi karya jurnalistik dan keberlangsungan industri media nasional.
-
Pemerintah Antisipasi Disrupsi AI lewat Perpres Peta Jalan dan Etika AI
Jakarta – Pemerintah mempercepat penyusunan tata kelola kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) sebagai langkah mengantisipasi dampak disrupsi teknologi terhadap berbagai sektor. Melalui Peraturan Presiden (Perpres) tentang Peta Jalan AI Nasional dan Etika AI, pemerintah ingin memastikan pemanfaatan AI berlangsung secara aman, bertanggung jawab, dan mampu mendukung pertumbuhan ekonomi digital nasional.Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengatakan pemerintah memilih pendekatan bertahap dalam membangun regulasi AI. Menurutnya, Perpres akan menjadi fondasi awal sebelum pemerintah menyusun Undang-Undang AI yang lebih komprehensif. Saat ini, rancangan Perpres telah selesai dibahas lintas kementerian dan lembaga dan tinggal menunggu penetapan Presiden.”Kita rencananya akan membuat undang-undang juga, Undang-Undang AI. Tapi test case-nya kan Perpres ini dulu,” ujar Nezar.Nezar menjelaskan, pemerintah melalui Kementerian Komunikasi dan Digital berperan membangun kerangka regulasi, etika, dan kebijakan AI, sedangkan implementasinya disesuaikan dengan kebutuhan masing-masing kementerian, lembaga, maupun pelaku industri. Ia menambahkan, ekosistem AI nasional juga akan terintegrasi dengan kebijakan digital lain seperti Satu Data Indonesia, Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, Undang-Undang Pelindungan Data Pribadi, hingga regulasi keamanan siber agar pemanfaatan AI semakin tepercaya.”Ekosistemnya misalnya Satu Data Indonesia, nanti juga terhubung ke PDP, Undang-Undang ITE, hingga regulasi keamanan dan ketahanan siber,” jelas Nezar.Senada dengan itu, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menyatakan pemerintah tengah menyiapkan berbagai kebijakan turunan agar pemanfaatan AI mampu memperkuat daya saing sektor ekonomi kreatif. Menurutnya, Kementerian Ekonomi Kreatif akan menerjemahkan arah kebijakan nasional ke dalam pedoman pemanfaatan AI bagi 21 subsektor ekonomi kreatif setelah regulasi nasional ditetapkan.”Kemenekraf sebagai kementerian sektoral akan menerjemahkan arah kebijakan nasional tersebut ke dalam implementasi pada 21 subsektor ekonomi kreatif,” kata Riefky.Selain menyusun pedoman pemanfaatan AI, pemerintah juga akan mengembangkan AI readiness assessment, AI sandbox, serta program literasi AI yang melibatkan industri, akademisi, komunitas, dan pelaku usaha. Riefky menilai langkah tersebut penting agar perkembangan teknologi tidak hanya menciptakan efisiensi, tetapi juga membuka peluang usaha dan lapangan kerja baru.”Kami juga akan menyusun kebijakan turunan seperti pedoman pemanfaatan AI sektor ekonomi kreatif, AI readiness assessment, AI sandbox, serta program literasi AI bagi pelaku ekonomi kreatif,” pungkas Riefky. (*)
-
Mengawal Ekosistem Media Digital Nasional yang Tangguh Hadapi Disrupsi AI
Oleh: Bara Winatha*)Perkembangan kecerdasan artifisial (Artificial Intelligence/AI) telah mengubah lanskap media digital secara fundamental. Teknologi yang sebelumnya hanya berfungsi sebagai alat bantu kini menjadi bagian penting dalam proses produksi, distribusi, hingga konsumsi informasi. AI mampu mempercepat pengolahan data, menghasilkan konten secara otomatis, dan membantu masyarakat memperoleh informasi dalam hitungan detik. Namun, di balik berbagai peluang tersebut, hadir pula tantangan yang semakin kompleks bagi keberlangsungan ekosistem media digital nasional.Indonesia saat ini berada pada momentum penting dalam menghadapi gelombang transformasi digital berbasis AI. Pemerintah, industri media, akademisi, dan masyarakat dituntut untuk memastikan bahwa perkembangan teknologi tidak menggerus kualitas informasi publik. Di tengah semakin dominannya algoritma dan platform digital global, penguatan ekosistem media nasional menjadi kebutuhan strategis agar ruang informasi Indonesia tetap sehat, berdaya saing, dan mampu melindungi kepentingan publik.Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid menegaskan bahwa kolaborasi strategis antara pemerintah, ekosistem pers, dan platform digital adalah kunci untuk menjawab tantangan era transformasi digital, termasuk disinformasi dan dampak kecerdasan artifisial (AI). Di tengah derasnya arus konten digital dan meningkatnya disinformasi, pers tidak boleh mengorbankan kepercayaan publik demi kecepatan, algoritma, atau efisiensi teknologi.Disrupsi AI telah mengubah cara masyarakat mengakses informasi. Banyak pengguna kini memperoleh informasi melalui ringkasan dari mesin pencari, chatbot AI, dan media sosial tanpa mengunjungi sumber asli, atau dikenal sebagai fenomena zero click. Kondisi ini tidak hanya berdampak pada trafik media, tetapi juga berpotensi mengganggu keberlanjutan industri pers sebagai penyedia informasi yang kredibel. Karena itu, pemerintah menilai perubahan ini perlu diantisipasi bersama untuk menjaga kualitas informasi publik.Media digital nasional memiliki peran yang semakin penting sebagai penjaga kualitas informasi. Di tengah banjir konten yang diproduksi secara otomatis, jurnalisme profesional tetap menjadi rujukan utama dalam menghadirkan informasi yang telah melalui proses verifikasi, konfirmasi, dan pengujian fakta. Kecepatan yang ditawarkan AI tidak dapat menggantikan tanggung jawab etik yang melekat pada profesi jurnalistik. Oleh karena itu, pemanfaatan AI dalam media perlu ditempatkan sebagai alat pendukung yang memperkuat kerja redaksi, bukan menggantikan fungsi utama jurnalis sebagai penjaga kepentingan publik.Pemerintah Indonesia juga terus mendorong lahirnya kerangka tata kelola AI yang adaptif dan berorientasi pada kepentingan nasional. Berbagai inisiatif regulasi tengah disiapkan untuk memastikan pengembangan teknologi berjalan secara etis, transparan, dan bertanggung jawab. Upaya tersebut mencakup pengaturan penggunaan AI dalam ekosistem digital, penguatan literasi media, hingga penyusunan standar pelabelan konten berbasis AI.Ketua Umum PWI Pusat, Akhmad Munir mengatakan Perkembangan Artificial Intelligence dan ekosistem digital saat ini telah mengubah peta industri media secara fundamental. Pers Indonesia tidak boleh gagap, ragu, atau sekadar menjadi penonton. Namun, transformasi teknologi tidak boleh mencabut pers dari akarnya. Pers yang kuat adalah pers yang tetap relevan dan menyatu dengan rakyat,Komitmen Indonesia terhadap tata kelola AI yang bertanggung jawab juga terlihat dalam berbagai forum internasional. Pada forum UNESCO, Indonesia mendorong penguatan integritas informasi, peningkatan kapasitas media menghadapi disrupsi AI, serta perlindungan terhadap jurnalis di era digital. Sikap ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga aktif berkontribusi dalam membentuk tata kelola global yang lebih inklusif dan berkelanjutan.Namun demikian, ketangguhan ekosistem media digital tidak hanya bergantung pada regulasi. Literasi digital masyarakat menjadi faktor yang sama pentingnya. Kemampuan untuk memverifikasi informasi, memahami cara kerja algoritma, mengenali manipulasi digital, serta menggunakan teknologi secara bijak akan menentukan kualitas ruang publik di masa depan. Masyarakat yang memiliki literasi digital yang baik tidak mudah terpengaruh oleh disinformasi dan mampu menjadi bagian dari ekosistem informasi yang sehat.Selain itu, keberlanjutan industri media juga perlu mendapat perhatian. Disrupsi AI tidak boleh menyebabkan berkurangnya nilai ekonomi yang dihasilkan oleh karya jurnalistik. Pemerintah menilai bahwa praktik pemanfaatan konten media oleh platform digital dan sistem AI harus tetap memperhatikan prinsip keadilan dan kompensasi yang proporsional. Ekosistem media yang sehat membutuhkan model bisnis yang berkelanjutan agar media profesional tetap mampu menjalankan fungsi pengawasan, edukasi, dan penyediaan informasi yang berkualitas.Pada akhirnya, disrupsi AI bukanlah ancaman yang harus ditakuti, melainkan perubahan yang perlu dikelola dengan bijak. Indonesia memiliki peluang besar untuk memanfaatkan AI sebagai instrumen kemajuan bangsa, sekaligus menjaga integritas informasi dan keberlanjutan industri media. Dengan memperkuat tata kelola, meningkatkan literasi digital, mendukung jurnalisme berkualitas, serta membangun kolaborasi antara pemerintah, media, akademisi, dan masyarakat, ekosistem media digital nasional akan semakin tangguh menghadapi berbagai tantangan di era kecerdasan artifisial.Kepercayaan publik akan tetap menjadi aset utama dalam ruang digital. Ketika teknologi berkembang semakin cepat, nilai-nilai dasar seperti akurasi, etika, transparansi, dan tanggung jawab harus terus menjadi fondasi. Dengan cara itulah Indonesia dapat mengawal ekosistem media digital nasional yang kuat, berdaya saing, dan mampu menghadapi disrupsi AI tanpa kehilangan orientasi pada kepentingan publik dan masa depan bangsa.*)Pengamat sosial dan kemasyarakatan -
Kolaborasi Pemerintah, Platform Digital, dan Perusahaan Pers Hadapi Disrupsi
*) Oleh : Alva SanantaDisrupsi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) telah membawa perubahan besar bagi industri media. Kehadiran teknologi AI tidak hanya mengubah cara perusahaan pers memproduksi berita, tetapi juga memengaruhi pola konsumsi informasi masyarakat yang kini semakin bergantung pada platform digital. AI mampu menghasilkan konten secara cepat, menerjemahkan bahasa, hingga merangkum informasi dalam hitungan detik. Namun, perkembangan tersebut juga menghadirkan tantangan baru berupa meningkatnya penyebaran konten sintetis, misinformasi, dan penyalahgunaan teknologi yang dapat mengaburkan batas antara informasi yang benar dan yang dibuat secara otomatis. Kondisi ini menjadikan kolaborasi antara pemerintah, platform digital, dan perusahaan pers sebagai langkah penting untuk menciptakan ekosistem informasi yang sehat, adil, dan mampu menghadapi disrupsi AI.Menteri Komunikasi dan Digital, Meutya Hafid, menegaskan bahwa kolaborasi strategis antara pemerintah, ekosistem pers, dan platform digital menjadi kunci untuk menjawab tantangan transformasi digital. Menurutnya, pemerintah berkomitmen menciptakan regulasi yang mampu melindungi keberlangsungan jurnalisme berkualitas sekaligus mendorong inovasi teknologi. Langkah tersebut dinilai penting karena media memiliki fungsi sebagai penyedia informasi yang telah melalui proses verifikasi, sehingga mampu menjadi penyeimbang di tengah derasnya arus informasi yang beredar di internet.Pihaknya juga menekankan bahwa keberhasilan membangun ekosistem digital yang sehat tidak dapat diwujudkan hanya melalui kebijakan pemerintah. Menurutnya, platform digital memiliki tanggung jawab untuk menciptakan sistem distribusi informasi yang lebih transparan dan mendukung keberadaan media yang menghasilkan karya jurnalistik berkualitas. Di sisi lain, perusahaan pers juga perlu terus meningkatkan profesionalisme, menjaga independensi redaksi, serta beradaptasi dengan perkembangan teknologi AI tanpa mengabaikan prinsip-prinsip jurnalistik. Dengan kolaborasi yang saling menguatkan, diharapkan tercipta ruang digital yang tidak hanya mendorong inovasi, tetapi juga melindungi hak masyarakat untuk memperoleh informasi yang akurat, terpercaya, dan berimbang.Pandangan senada disampaikan Wakil Menteri Komunikasi dan Digital, Nezar Patria. Ia menilai perkembangan kecerdasan buatan (AI), media sosial, dan mesin pencari memang mempermudah masyarakat memperoleh informasi. Namun, kemudahan tersebut juga diikuti meningkatnya konten sintetis, misinformasi, dan hoaks yang sulit dibedakan dari informasi asli. Menurut Nezar, kekuatan utama jurnalisme terletak pada disiplin verifikasi yang tetap membutuhkan peran manusia. Karena itu, perusahaan pers perlu menjaga kualitas konten dan tidak terjebak pada praktik clickbait demi mengejar jumlah pembaca.Nezar juga menekankan bahwa pemanfaatan kecerdasan buatan dalam industri media sebaiknya diposisikan sebagai alat bantu untuk meningkatkan efisiensi kerja jurnalistik, bukan sebagai pengganti peran wartawan. Menurutnya, teknologi dapat dimanfaatkan untuk membantu proses pengolahan data, transkripsi wawancara, analisis dokumen, hingga penyusunan draf awal berita, tetapi keputusan editorial tetap harus berada di tangan jurnalis yang memahami etika profesi dan kepentingan publik. Ia menilai perpaduan antara inovasi teknologi dan standar jurnalistik yang kuat akan menjadi modal penting bagi perusahaan pers untuk tetap dipercaya masyarakat di tengah derasnya arus informasi digital dan pesatnya perkembangan AI generatif.Sementara itu, Ketua Dewan Pers, Komaruddin Hidayat, menyoroti pentingnya perlindungan terhadap karya jurnalistik di era AI. Ia menjelaskan bahwa banyak produk jurnalistik yang dihasilkan melalui proses panjang justru dengan mudah dimanfaatkan sebagai data pelatihan sistem kecerdasan buatan maupun didistribusikan ulang oleh berbagai platform digital tanpa memberikan manfaat ekonomi yang sepadan kepada perusahaan pers. Oleh sebab itu, menurutnya, pembahasan mengenai publisher rights atau hak ekonomi penerbit perlu terus diperkuat agar tercipta hubungan yang adil dan saling menguntungkan antara perusahaan pers, pengembang teknologi AI, dan platform digital.Kolaborasi ketiga pihak tersebut tidak hanya berkaitan dengan regulasi, tetapi juga menyangkut peningkatan literasi AI dan literasi digital masyarakat. Pemerintah dapat memperkuat kebijakan dan edukasi publik agar masyarakat mampu mengenali konten yang dihasilkan AI, sementara platform digital perlu meningkatkan transparansi algoritma, memberikan penanda pada konten sintetis, serta memperkuat sistem moderasi. Di sisi lain, perusahaan pers harus terus menghadirkan produk jurnalistik yang berkualitas, berbasis fakta, dan melalui proses verifikasi yang ketat. Sinergi tersebut diharapkan mampu mengurangi penyebaran informasi palsu sekaligus meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap media arus utama.Di sisi lain, perkembangan AI juga membuka peluang baru bagi perusahaan pers untuk mengembangkan model bisnis dan inovasi newsroom. Pemanfaatan analisis data, otomatisasi pekerjaan rutin, personalisasi konten, hingga penerjemahan berita dapat membantu media meningkatkan efisiensi dan memperluas jangkauan pembaca. Namun, penggunaan AI harus tetap mengedepankan transparansi, akuntabilitas, perlindungan hak cipta, serta etika jurnalistik agar teknologi benar-benar menjadi pendukung kerja wartawan, bukan menggantikan fungsi editorial maupun mengurangi kualitas informasi yang diterima publik.Kolaborasi antara pemerintah, platform digital, dan perusahaan pers menjadi fondasi penting dalam menghadapi disrupsi AI yang terus berkembang. Pemerintah berperan menghadirkan regulasi yang adaptif terhadap perkembangan teknologi, platform digital bertanggung jawab menciptakan ekosistem informasi yang aman dan transparan, sementara perusahaan pers tetap menjaga independensi, etika, dan kualitas jurnalistik. Dengan sinergi yang kuat, pemanfaatan AI diharapkan tidak hanya mendorong inovasi industri media, tetapi juga memperkuat kepercayaan publik serta memastikan masyarakat memperoleh informasi yang akurat, berimbang, dan dapat dipertanggungjawabkan di era kecerdasan buatan.)* Pengamat Kebijakan Publik -
Danantara Housing Expo Perkuat Akses Hunian bagi MBR dan Non-MBR
Jakarta – Sebagai upaya memperluas akses masyarakat terhadap hunian layak, pemerintah menggelar Danantara Housing Expo 2026. Pameran ini menghadirkan beragam pilihan hunian dan fasilitas pembiayaan kompetitif untuk melayani kebutuhan Masyarakat Berpenghasilan Rendah (MBR) serta masyarakat umum.Direktur Utama PT PP Properti Tbk, Dyah Rahadyannie, menyatakan bahwa keikutsertaan perusahaan dalam Danantara Housing Expo merupakan bentuk dukungan terhadap program pemerintah dalam memperluas akses kepemilikan rumah bagi masyarakat. “Kami menghadirkan delapan proyek hunian berkelanjutan yang tersebar di berbagai wilayah strategis untuk memberikan lebih banyak pilihan kepada masyarakat sesuai kebutuhan dan kemampuan finansialnya,” ujar Dyah. Menurutnya, proyek tersebut dikembangkan dengan memperhatikan aspek keberlanjutan, kualitas bangunan, serta aksesibilitas terhadap pusat aktivitas ekonomi dan fasilitas publik. Selain itu, kolaborasi dalam Danantara Housing Expo diharapkan dapat mempertemukan masyarakat dengan berbagai solusi kepemilikan rumah yang lebih mudah, sehingga semakin banyak keluarga Indonesia dapat memiliki hunian yang aman, nyaman, dan bernilai investasi.Dyah menilai bahwa sinergi antara pemerintah, pengembang, lembaga pembiayaan, dan sektor perbankan menjadi fondasi penting dalam mempercepat penyediaan rumah bagi masyarakat.”Melalui kolaborasi yang semakin kuat, kami optimistis target peningkatan kepemilikan rumah dapat tercapai sekaligus mendukung pertumbuhan sektor properti nasional,” katanya.Sementara itu, Plt. Direktur Bisnis Korporasi IFG Life, Fabiola Noralita menyatakan bahwa IFG Life menghadirkan layanan asuransi jiwa kredit sebagai bagian dari upaya memberikan perlindungan kepada masyarakat yang memanfaatkan fasilitas pembiayaan perumahan. “Kehadiran kami di Danantara Housing Expo merupakan komitmen untuk memperkuat ekosistem pembiayaan hunian melalui perlindungan asuransi yang memberikan rasa aman bagi debitur maupun lembaga pembiayaan,” ujarnya.Fabiola menjelaskan bahwa perlindungan asuransi jiwa kredit menjadi elemen penting dalam menciptakan pembiayaan perumahan yang sehat dan berkelanjutan.Menurutnya, masyarakat tidak hanya membutuhkan akses terhadap kredit rumah yang mudah, tetapi juga kepastian perlindungan apabila terjadi risiko yang tidak diharapkan selama masa pembiayaan.Fabiola menilai sinergi antara perusahaan asuransi, perbankan, pengembang, dan pemerintah akan semakin memperkuat kepercayaan masyarakat untuk memiliki rumah melalui skema pembiayaan yang aman dan terpercaya.Danantara Housing Expo 2026 turut menghadirkan berbagai program menarik, mulai dari pilihan hunian subsidi dan non-subsidi, penawaran suku bunga kompetitif, kemudahan uang muka, hingga konsultasi pembiayaan secara langsung dengan berbagai mitra perbankan dan pengembang.
-
Danantara Gandeng Himbara dan Pengembang Perluas Akses Rumah bagi Generasi Muda
JAKARTA – Dalam rangka percepatan pencapaian Program Tiga Juta Rumah yang dicanangkan oleh Presiden Prabowo Subianto, Pemerintah resmi menggandeng BPI Danantara Indonesia, Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), dan para pengembang nasional.Melalui program Danantara Housing, kolaborasi ini menghadirkan solusi skema pembiayaan yang lebih terjangkau guna memperluas akses kepemilikan rumah, khususnya bagi generasi muda, serta menjadi katalis pendorong pertumbuhan sektor properti di Indonesia.CEO Danantara, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa program tersebut dirancang untuk mengoptimalkan aset properti BUMN yang selama ini belum terserap pasar sekaligus membuka peluang lebih besar bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memiliki hunian pertama. “Ada beberapa pembangunan berupa apartemen maupun rumah yang selama ini sudah dibangun oleh BUMN tetapi belum bisa terjual. Kami akan menghadirkan Danantara Housing agar dapat dibeli masyarakat dengan suku bunga yang lebih menarik dan cara pembayaran yang lebih baik,” ujar Rosan. Ia menambahkan, sinergi dengan Himbara menjadi bagian penting dalam menghadirkan pembiayaan yang inklusif sehingga banyak keluarga muda dapat mengakses Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Sementara itu, Direktur Utama PT PP Properti Tbk (PPRO), Dyah Rahadyannie, menyatakan pihaknya berkomitmen mendukung Program Tiga Juta Rumah melalui partisipasi dalam Danantara Housing Expo 2026 dengan menawarkan delapan proyek hunian di berbagai lokasi strategis. “Kami ingin memberikan lebih banyak pilihan rumah berkualitas dengan harga yang kompetitif bagi masyarakat, khususnya generasi muda dan keluarga muda yang sedang mencari hunian pertama,” katanya. Dyah juga menilai kolaborasi antara pemerintah, Danantara, Himbara, dan pengembang menjadi model kemitraan yang mampu mempercepat penyerapan stok hunian sekaligus mendorong pertumbuhan sektor properti secara berkelanjutan. Ketua Milenial Muslim Bersatu (MMB), Khairul Anam, menilai hadirnya Danantara Housing menjadi kabar positif bagi generasi muda yang selama ini menghadapi tantangan tingginya harga rumah dan keterbatasan akses pembiayaan. “Anak-anak muda membutuhkan solusi nyata, bukan sekadar wacana. Sinergi Danantara, Himbara, dan para pengembang menunjukkan keberpihakan pemerintah terhadap kebutuhan generasi produktif untuk memiliki rumah pertama,” ujarnya. Ia menambahkan, kemudahan akses hunian akan memberikan rasa aman bagi generasi muda dalam membangun keluarga sekaligus meningkatkan optimisme terhadap masa depan ekonomi nasional.
-
Danantara Housing Expo: Langkah Nyata Pertemukan Hunian dan Kemampuan Finansial Anak Muda
Oleh: Hanan Alfawazi*)
Memiliki rumah pertama masih menjadi tantangan besar bagi generasi muda Indonesia. Kenaikan harga properti, keterbatasan uang muka, hingga skema pembiayaan yang belum sepenuhnya sesuai dengan kemampuan finansial masyarakat produktif sering kali membuat impian memiliki hunian harus ditunda. Karena itu, pendekatan baru yang tidak hanya berfokus pada penyediaan rumah, tetapi juga mempertemukan kebutuhan masyarakat dengan akses pembiayaan yang realistis, menjadi langkah yang semakin relevan.
Dalam konteks tersebut, penyelenggaraan Danantara Housing Expo 2026 patut dipandang sebagai inovasi kebijakan yang mampu menjawab tantangan tersebut. Melalui kolaborasi antara Danantara Indonesia, Himpunan Bank Milik Negara (Himbara), pengembang BUMN maupun swasta, serta industri pendukung, pemerintah menghadirkan sebuah ekosistem terpadu yang menghubungkan pilihan hunian dengan berbagai alternatif pembiayaan dalam satu platform. Dengan menghadirkan lebih dari 200 ribu unit rumah, uang muka mulai 1 persen, suku bunga mulai 2,75 persen, tenor hingga 30 tahun, serta skema angsuran bertahap, program ini berupaya menyesuaikan akses kepemilikan rumah dengan kemampuan finansial masyarakat, khususnya generasi muda.
CEO Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, menegaskan bahwa Danantara Housing bukan sekadar pameran properti, melainkan bagian dari upaya membangun ekosistem perumahan yang lebih inklusif. Ia menjelaskan bahwa Danantara ingin mengoptimalkan aset properti BUMN yang selama ini belum terserap pasar sekaligus membuka akses yang lebih luas bagi masyarakat untuk memiliki rumah pertama. Menurut Rosan, sinergi dengan Himbara memungkinkan hadirnya skema pembiayaan yang lebih kompetitif sehingga masyarakat tidak lagi hanya dihadapkan pada pilihan rumah, tetapi juga memperoleh solusi pembiayaan yang sesuai dengan kemampuan masing-masing. Ia juga menilai bahwa sektor perumahan memiliki efek berganda yang besar terhadap perekonomian nasional karena mampu menggerakkan industri konstruksi, bahan bangunan, jasa keuangan, hingga menciptakan lapangan kerja baru.
Pandangan tersebut menunjukkan adanya perubahan pendekatan dalam kebijakan perumahan nasional. Jika sebelumnya persoalan hunian sering dipahami sebatas ketersediaan rumah, kini pemerintah berupaya menjawab persoalan utama masyarakat, yakni keterjangkauan pembiayaan. Pendekatan inilah yang berpotensi memperkecil kesenjangan antara kebutuhan generasi muda untuk memiliki rumah dengan kemampuan ekonomi yang mereka miliki pada awal masa produktif.
Komitmen tersebut juga mendapat dukungan dari pelaku industri properti. Direktur Utama PT PP Properti Tbk (PPRO), Dyah Rahadyannie, menyampaikan bahwa perusahaan ikut berpartisipasi dalam Danantara Housing Expo 2026 dengan menghadirkan delapan proyek unggulan sebagai bentuk dukungan terhadap Program 3 Juta Rumah. Menurutnya, kolaborasi antara pemerintah, Danantara, Himbara, dan pengembang merupakan momentum penting untuk memperluas pilihan hunian berkualitas bagi masyarakat.
Ia memandang bahwa kepastian dukungan pembiayaan akan meningkatkan kepercayaan calon pembeli sehingga penyerapan pasar properti dapat berlangsung lebih cepat. Di sisi lain, keterlibatan pengembang BUMN dan swasta dalam satu ekosistem juga menciptakan persaingan yang sehat untuk menghadirkan produk hunian yang semakin kompetitif dari sisi harga maupun kualitas. Dengan demikian, masyarakat memperoleh lebih banyak pilihan sesuai kebutuhan dan kemampuan finansialnya.
Dari perspektif masyarakat, inisiatif tersebut juga memperoleh respons positif. Ketua Milenial Muslim Bersatu (MMB), Khairul Anam, menilai bahwa tantangan terbesar generasi muda saat ini bukan hanya keinginan memiliki rumah, tetapi bagaimana memperoleh akses pembiayaan yang benar-benar terjangkau. Menurutnya, skema uang muka rendah, tenor panjang, dan bunga yang kompetitif memberikan ruang bagi kelompok usia produktif untuk mulai merencanakan kepemilikan rumah tanpa harus terbebani biaya awal yang tinggi. Ia berpandangan bahwa langkah pemerintah mempertemukan lembaga pembiayaan, pengembang, dan masyarakat dalam satu forum akan mempercepat lahirnya solusi konkret dibandingkan pendekatan yang berjalan secara terpisah. Di saat yang sama, kepemilikan rumah juga menjadi fondasi penting dalam membangun ketahanan ekonomi keluarga muda di masa depan.
Lebih jauh, keberadaan Danantara Housing Expo menjadi representasi pergeseran paradigma bahwa kebijakan publik yang efektif tidak lagi bertumpu pada pembangunan fisik semata, melainkan pada rekayasa dan penguatan ekosistem lintas sektoral. Melalui inisiatif ini, pemerintah tidak hanya bertindak sebagai pelaksana, tetapi berevolusi menjadi orkestrator yang mempertemukan regulator, lembaga investasi, institusi pembiayaan, pengembang pro-rakyat, hingga masyarakat akar rumput dalam satu rantai nilai yang integratif. Pendekatan holistik semacam ini terbukti secara strategis mampu memangkas birokrasi, menciptakan efisiensi pembiayaan, memantik efek pengganda (multiplier effect) bagi roda perekonomian nasional, sekaligus memperluas akses kelompok rentan dan menengah terhadap hunian yang layak.
Parameter keberhasilan Program 3 Juta Rumah tidak boleh direduksi sekadar pada pencapaian target kuantitatif jumlah unit yang terbangun. Tolok ukur sesungguhnya justru terletak pada tingkat keterhunian, keterjangkauan finansial yang berkelanjutan, serta peningkatan kualitas hidup masyarakat. Di sinilah Danantara Housing Expo hadir sebagai purwarupa kolaborasi strategis yang merespons kecemasan generasi muda dan pekerja kelas menengah terhadap krisis kepemilikan rumah. Dengan langkah nyata dan sinergi yang terus diperkuat, optimisme pemenuhan hak dasar perumahan bagi seluruh rakyat Indonesia menjadi semakin terang benderang, memantapkan langkah bangsa menuju visi Indonesia yang lebih sejahtera dan berdaya saing.
*) Penulis merupakan Pengamat Sosial
-
Danantara Housing Expo Menjadi Terobosan Inklusif untuk Masa Depan Hunian Anak Muda
Oleh: Aziz Rahman *)Kepemilikan rumah masih menjadi tantangan besar bagi generasi muda Indonesia. Kenaikan harga properti, keterbatasan uang muka, serta akses pembiayaan yang belum sepenuhnya ramah bagi pekerja muda membuat impian memiliki rumah kerap tertunda. Di sisi lain, kebutuhan hunian terus meningkat seiring bertambahnya jumlah penduduk usia produktif yang mulai memasuki fase membangun keluarga dan kehidupan yang lebih mapan. Dalam konteks tersebut, penyelenggaraan Danantara Housing Expo 2026 menjadi terobosan yang patut diapresiasi karena menghadirkan solusi yang lebih inklusif melalui pilihan hunian dan skema pembiayaan yang semakin mudah dijangkau.Lebih dari sekadar pameran properti, Danantara Housing Expo mencerminkan komitmen pemerintah dalam membangun ekosistem perumahan yang melibatkan BUMN, pengembang, lembaga keuangan, dan industri asuransi. Pendekatan ini menunjukkan bahwa penyediaan hunian bukan lagi dipandang sebagai urusan sektor properti semata, melainkan bagian dari strategi pembangunan nasional untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus memperkuat sektor riil. Di tengah kondisi ekonomi yang relatif stabil dengan inflasi yang tetap terkendali dan iklim investasi yang terus dijaga, pemerintah memanfaatkan momentum tersebut untuk memperluas akses masyarakat terhadap kepemilikan rumah sebagai salah satu kebutuhan dasar.Optimisme tersebut disampaikan Chief Executive Officer Danantara Indonesia, Rosan Roeslani, yang menilai penyediaan hunian terjangkau merupakan investasi sosial sekaligus investasi ekonomi jangka panjang. Menurutnya, generasi muda, khususnya Gen Z dan milenial, membutuhkan akses kepemilikan rumah yang lebih mudah agar dapat membangun masa depan yang lebih pasti. Karena itu, Danantara Housing Expo dirancang bukan sekadar sebagai ajang promosi, tetapi sebagai wadah yang mempertemukan masyarakat dengan berbagai pilihan pembiayaan yang kompetitif melalui kolaborasi lintas sektor.Rosan juga berpandangan bahwa semakin luas pilihan pembiayaan yang tersedia, semakin besar peluang masyarakat untuk memiliki rumah sesuai kemampuan finansialnya. Ia menilai sinergi antara pemerintah, perbankan, pengembang, dan lembaga pendukung lainnya menjadi fondasi penting dalam mendukung Program Tiga Juta Rumah sekaligus memperkuat sektor properti sebagai salah satu penggerak pertumbuhan ekonomi nasional. Menurutnya, keberhasilan penyediaan hunian tidak hanya diukur dari banyaknya rumah yang dibangun, tetapi juga dari kemudahan masyarakat untuk mengakses pembiayaan yang aman, terjangkau, dan berkelanjutan. Pendekatan tersebut menunjukkan bahwa kebijakan pemerintah tidak hanya berorientasi pada pembangunan fisik, tetapi juga memastikan manfaat pembangunan dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.Komitmen tersebut diperkuat oleh Direktur Utama PT PP Properti Tbk, Dyah Rahadyannie, yang menyampaikan bahwa perusahaan menghadirkan delapan proyek hunian berkelanjutan dalam Danantara Housing Expo 2026. Menurutnya, proyek-proyek tersebut dirancang untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan hunian yang berkualitas, nyaman, serta memiliki akses yang baik terhadap pusat kegiatan ekonomi dan fasilitas publik. Dyah menegaskan bahwa pembangunan perumahan saat ini harus mengedepankan kualitas lingkungan, efisiensi pembangunan, dan keberlanjutan kawasan agar memberikan manfaat jangka panjang bagi penghuninya.Ia juga menilai bahwa kolaborasi antara pemerintah, pengembang, dan lembaga pembiayaan merupakan kunci dalam memperluas kepemilikan rumah. Dengan berbagai insentif dan kemudahan pembiayaan yang ditawarkan melalui Danantara Housing Expo, masyarakat memiliki lebih banyak pilihan untuk mewujudkan kepemilikan hunian tanpa menghadapi beban finansial yang berlebihan. Menurutnya, sinergi tersebut sekaligus memberikan kepastian bagi pelaku usaha untuk terus mengembangkan proyek perumahan yang berkualitas. Hal ini menunjukkan bahwa sektor swasta memiliki peran strategis dalam mendukung kebijakan pemerintah menyediakan hunian layak bagi seluruh lapisan masyarakat.Selain aspek penyediaan rumah, penguatan perlindungan bagi debitur juga menjadi bagian penting dari ekosistem perumahan. Plt. Direktur Bisnis Korporasi IFG Life, Fabiola Noralita, menjelaskan bahwa kehadiran IFG Life dalam Danantara Housing Expo bertujuan memperkuat pembiayaan perumahan melalui penyediaan asuransi jiwa kredit. Menurutnya, perlindungan tersebut memberikan kepastian bagi masyarakat maupun lembaga pembiayaan apabila terjadi risiko selama masa kredit berlangsung, sehingga kepemilikan rumah menjadi lebih aman dan memberikan rasa tenang bagi keluarga.Fabiola juga berpandangan bahwa keberhasilan pembiayaan perumahan tidak hanya ditentukan oleh kemudahan memperoleh kredit, tetapi juga oleh adanya perlindungan yang memadai. Sinergi antara industri asuransi, perbankan, pengembang, dan pemerintah diyakini akan meningkatkan kepercayaan masyarakat untuk memanfaatkan fasilitas pembiayaan perumahan sekaligus memperkuat pertumbuhan sektor properti nasional. Kepercayaan tersebut menjadi modal penting dalam membangun ekosistem pembiayaan yang sehat, berkelanjutan, dan mampu menjangkau lebih banyak masyarakat dari berbagai kelompok pendapatan.Berbagai inovasi dalam Danantara Housing Expo, mulai dari pilihan hunian subsidi dan non-subsidi, kemudahan pembiayaan, hingga perlindungan asuransi yang terintegrasi, menunjukkan komitmen pemerintah menghadirkan akses kepemilikan rumah yang lebih inklusif. Kolaborasi antara pemerintah, BUMN, pengembang, lembaga keuangan, dan industri asuransi tidak hanya membuka peluang lebih besar bagi masyarakat, khususnya generasi muda, untuk memiliki hunian layak, tetapi juga mendorong pertumbuhan sektor properti dan perekonomian nasional. Langkah ini menjadi bukti bahwa pemerintah terus menghadirkan solusi nyata guna mewujudkan masa depan hunian Indonesia yang lebih berkelanjutan dan menyejahterakan.*) Penulis merupakan Pengamat Sosial -
Mitigasi PHK Didorong Lewat Pemetaan Perusahaan agar Pekerja Tak Jadi Korban
Jakarta- Pemerintah bersama dunia usaha terus memperkuat langkah antisipatif untuk mencegah terjadinya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) di tengah dinamika ekonomi global. Melalui kolaborasi dengan Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) dan serikat pekerja, pemerintah tengah menyusun sejumlah langkah mitigasi yang berorientasi pada pencegahan sejak dini. Pendekatan ini menjadi bagian dari komitmen pemerintah dalam menjaga stabilitas dunia kerja, melindungi pekerja, serta memastikan keberlangsungan aktivitas dunia usaha sebagai penopang pertumbuhan ekonomi nasional.Ketua Bidang Ketenagakerjaan Apindo, Bob Azam, mengatakan bahwa pemerintah, pelaku usaha, dan serikat pekerja saat ini sedang merumuskan sekitar sepuluh langkah mitigasi PHK. Menurutnya, upaya tersebut tidak hanya berfokus pada penyelesaian persoalan setelah PHK terjadi, tetapi lebih diarahkan pada deteksi dini terhadap kondisi perusahaan yang mulai mengalami tekanan agar solusi dapat segera diberikan.“Kurang lebih ada 10 langkah yang nanti kita rumuskan dalam rangka untuk menghindari PHK. Jadi itu memang kita tangani sejak awal, di hulunya bukan di hilirnya. Itu yang sekarang sedang kita kolaborasikan dengan pemerintah,” ujar Bob.Ia menjelaskan, pemetaan dilakukan berdasarkan berbagai indikator yang lazim dialami perusahaan ketika menghadapi tekanan usaha, seperti berkurangnya lembur, pengurangan hari kerja, pengurangan jam kerja, hingga kebijakan merumahkan sebagian pekerja. Dengan mengenali indikator tersebut sejak awal, pemerintah dapat memperoleh gambaran mengenai tingkat kesehatan perusahaan dan menyiapkan langkah-langkah pendampingan yang sesuai sebelum kondisi memburuk.“Jadi kita bisa mapping kondisi perusahaan-perusahaan itu sejak awal. Jadi jangan di akhir. Begitu di akhir ngomongin soal pesangon saja, sudah telat,” katanya.Bob menambahkan, perusahaan yang mengalami penurunan keuntungan selama dua hingga tiga tahun berturut-turut juga perlu mendapat perhatian khusus. Menurutnya, identifikasi dini akan memberikan ruang bagi pemerintah untuk menghadirkan kebijakan maupun dukungan yang dapat membantu perusahaan bertahan sehingga mampu mempertahankan tenaga kerja yang dimiliki.Ia menilai pendekatan preventif jauh lebih efektif dibandingkan penanganan setelah PHK terjadi. Sebab, ketika perusahaan telah memasuki kondisi bangkrut, penyelesaian hak-hak pekerja menjadi semakin sulit karena kemampuan finansial perusahaan telah menurun secara signifikan. Oleh karena itu, langkah penyelamatan perusahaan sejak awal dinilai menjadi bagian penting dalam melindungi pekerja dari risiko kehilangan mata pencaharian.Bob juga mengingatkan bahwa tantangan ketenagakerjaan akibat perlambatan ekonomi bukan hanya dialami Indonesia, tetapi juga terjadi di berbagai negara seperti Singapura dan China. Karena itu, sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan pekerja menjadi kunci dalam menjaga ketahanan sektor ketenagakerjaan nasional.Melalui penyusunan langkah mitigasi berbasis pemetaan kondisi perusahaan, pemerintah menunjukkan komitmennya untuk mengedepankan upaya pencegahan dibandingkan penanganan setelah masalah terjadi. Kebijakan tersebut diharapkan mampu menjaga keberlangsungan dunia usaha, melindungi hak-hak pekerja, memperkuat iklim investasi, serta menciptakan hubungan industrial yang lebih sehat, adaptif, dan berkelanjutan di tengah tantangan ekonomi global.

