Kategori: Uncategorized

  • Penertiban Dapur MBG sebagai Langkah Menjamin Kualitas Layanan Gizi

    Oleh Aprilia Sekarani )*

    Penertiban dapur dalam Program Makan Bergizi Gratis (MBG) bukan sekadar langkah administratif, melainkan bagian dari upaya strategis negara dalam menjamin kualitas layanan gizi bagi masyarakat. Instruksi tegas Presiden Prabowo Subianto kepada Badan Gizi Nasional (BGN) untuk menertibkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang tidak mematuhi petunjuk teknis dan standar operasional prosedur menunjukkan keseriusan pemerintah dalam menjaga kredibilitas program ini. Kualitas pelaksanaan menjadi faktor penentu keberhasilan dalam pembangunan sumber daya manusia, sehingga setiap celah penyimpangan harus ditutup secara sistematis dan berkelanjutan.

    Langkah penertiban diperlukan mengingat MBG merupakan program unggulan yang menyasar kelompok rentan, terutama anak-anak yang membutuhkan asupan gizi seimbang. Ketika dapur-dapur penyedia layanan tidak memenuhi standar, maka risiko yang muncul tidak hanya terkait ketidakefisienan anggaran, tetapi juga ancaman terhadap kesehatan penerima manfaat. Pernyataan Wakil Kepala BGN Bidang Komunikasi Publik dan Investigasi, Nanik S Deyang, menegaskan bahwa dapur yang tidak sesuai juknis harus ditertibkan, mencerminkan adanya komitmen kuat untuk menjaga kualitas sekaligus akuntabilitas pelaksanaan program di lapangan.

    Penindakan berupa suspend terhadap ribuan SPPG menunjukkan bahwa pengawasan tidak dilakukan secara simbolis, melainkan benar-benar diterapkan dengan pendekatan tegas. Selain persoalan teknis dapur, penertiban juga menyasar praktik-praktik tidak sehat seperti monopoli pemasok bahan baku dan upaya pengambilan keuntungan pribadi oleh oknum mitra. Ketika praktik semacam ini dibiarkan, maka tujuan utama program untuk meningkatkan gizi masyarakat dapat terdistorsi oleh kepentingan ekonomi sempit. Oleh karena itu, penertiban penting untuk memastikan bahwa setiap rupiah anggaran negara digunakan secara optimal dan tepat sasaran.

    Penegasan bahwa MBG harus difokuskan kepada kelompok yang benar-benar membutuhkan merupakan langkah krusial dalam menjaga keadilan distribusi. Presiden menekankan bahwa anak-anak dari keluarga mampu tidak seharusnya menjadi penerima manfaat, karena kebutuhan gizi mereka telah terpenuhi di lingkungan keluarga. Prinsip ini mencerminkan pendekatan berbasis kebutuhan yang menjadi fondasi kebijakan sosial modern. Dengan memastikan bahwa bantuan hanya diberikan kepada mereka yang membutuhkan, pemerintah tidak hanya meningkatkan efektivitas program, tetapi juga memperkuat legitimasi publik terhadap kebijakan tersebut.

    Upaya pembentukan tim khusus untuk menyisir data penerima manfaat menjadi langkah strategis berikutnya. Validitas data merupakan kunci dalam setiap program bantuan sosial, karena kesalahan dalam penentuan sasaran dapat berujung pada pemborosan anggaran dan ketidakadilan. Untuk itu, BGN berupaya memperbaiki basis data agar distribusi MBG benar-benar tepat sasaran. Pendekatan ini sejalan dengan prinsip good governance yang menekankan pentingnya akurasi, transparansi, dan akuntabilitas dalam pengelolaan program publik.

    Tidak kalah penting, penegasan bahwa program MBG tidak boleh dipaksakan menunjukkan adanya sensitivitas pemerintah terhadap dinamika sosial di masyarakat. Setiap intervensi kebijakan harus mempertimbangkan kebutuhan dan kesiapan penerima, sehingga tidak menimbulkan resistensi atau bahkan pemborosan. Pendekatan sukarela ini mencerminkan paradigma pembangunan yang partisipatif, di mana masyarakat tidak hanya menjadi objek, tetapi juga subjek dalam pelaksanaan program.

    Komitmen pemerintah untuk memastikan efektivitas MBG juga diperkuat oleh pernyataan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan yang menegaskan pentingnya pelaksanaan program yang tepat sasaran dan sesuai standar. Hal ini menunjukkan bahwa koordinasi lintas sektor menjadi elemen penting dalam keberhasilan MBG. Tanpa sinergi yang kuat antar kementerian dan lembaga, upaya penertiban dan pengawasan tidak akan berjalan optimal.

    Peran monitoring dan evaluasi pun menjadi sangat krusial. Deputi Bidang Koordinasi Peningkatan Kualitas Kesehatan Kemenko PMK, Sukadiono menekankan bahwa monitoring dan evaluasi harus menjadi instrumen untuk memastikan dampak nyata terhadap peningkatan gizi masyarakat. Pendekatan ini menempatkan evaluasi sebagai bagian integral dari proses perbaikan berkelanjutan, bukan sekadar formalitas birokrasi.

    Selain itu, standar keamanan pangan dan kualitas gizi yang seragam di seluruh daerah menjadi hal yang tidak dapat ditawar. Ketimpangan standar hanya akan menciptakan kesenjangan kualitas layanan, yang pada akhirnya merugikan kelompok masyarakat tertentu. Oleh karena itu, penertiban dapur MBG harus diiringi dengan upaya standarisasi yang ketat, sehingga setiap penerima manfaat, di mana pun mereka berada, mendapatkan layanan yang sama baiknya.

    Dalam perspektif pembangunan nasional, keberhasilan MBG tidak hanya diukur dari jumlah penerima manfaat, tetapi juga dari kualitas dampak yang dihasilkan. Program ini memiliki potensi besar untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia, jika dilaksanakan dengan standar tinggi dan pengawasan ketat. Oleh karenanya, penertiban dapur menjadi salah satu fondasi penting dalam memastikan bahwa potensi tersebut dapat terwujud.

    Langkah tegas pemerintah dalam menertibkan dapur MBG merupakan kebijakan yang tidak hanya tepat, tetapi juga mendesak. Di tengah tantangan pemenuhan gizi masyarakat, terutama pada kelompok rentan, kualitas layanan harus menjadi prioritas utama. Penertiban bukanlah bentuk pembatasan, melainkan upaya untuk memastikan bahwa setiap intervensi negara benar-benar memberikan manfaat optimal. Dengan demikian, langkah ini akan memperkuat kepercayaan publik sekaligus memastikan bahwa MBG menjadi instrumen efektif dalam menciptakan generasi Indonesia Emas 2045.

    )* penulis merupakan pengamat kebijakan publik

  • Mendukung Penertiban Dapur MBG sebagai Instrumen Pengendalian Mutu Program Nasional

    Oleh: Arkan Satya Mahendra)*

    Penertiban pelaksanaan dapur Makan Bergizi Gratis (MBG) kian mengemuka sebagai langkah strategis pemerintah dalam memastikan kualitas program pemenuhan gizi nasional tetap terjaga di tengah percepatan implementasi di berbagai daerah. Seiring meluasnya cakupan layanan, kebutuhan akan standar yang seragam dan pengawasan yang konsisten menjadi semakin penting agar program ini tidak hanya menjangkau lebih banyak penerima manfaat, tetapi juga memberikan dampak yang optimal.

    Program MBG dirancang sebagai solusi konkret untuk mengatasi persoalan gizi yang masih menjadi tantangan di sejumlah wilayah. Dalam pelaksanaannya, dapur-dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) menjadi ujung tombak distribusi makanan bergizi kepada masyarakat. Namun, dinamika di lapangan menunjukkan adanya perbedaan kapasitas antar dapur, baik dari sisi fasilitas, manajemen, maupun pemenuhan standar keamanan pangan. Kondisi ini mendorong perlunya langkah penertiban yang terukur agar seluruh dapur dapat beroperasi sesuai ketentuan yang telah ditetapkan.

    Penertiban tidak hanya dimaknai sebagai pengawasan, tetapi juga sebagai upaya menyelaraskan kualitas layanan. Standar kebersihan, proses pengolahan makanan, hingga distribusi menjadi aspek krusial yang harus dipenuhi. Dalam konteks ini, penguatan sertifikasi dan peningkatan kualitas pangan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari upaya menjaga mutu program. Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana mengatakan pihaknya menegaskan SPPG yang bertugas sebagai dapur program MBG untuk segera melengkapi sertifikasi terkait keamanan dan wajib meningkatkan kualitas pangan.

    Langkah tersebut mencerminkan pendekatan sistematis dalam memastikan bahwa setiap dapur memenuhi standar minimum yang telah ditentukan. Dengan adanya sertifikasi, kualitas makanan yang disajikan dapat lebih terjamin, sekaligus memberikan kepastian bahwa proses pengolahan dilakukan secara higienis dan aman. Penertiban ini juga menjadi bagian dari mekanisme evaluasi berkelanjutan yang memungkinkan perbaikan dilakukan secara cepat dan tepat sasaran.

    Di sisi lain, penguatan pengawasan dari sektor kesehatan menjadi faktor penting dalam menjaga konsistensi mutu di lapangan. Keterlibatan instansi kesehatan memperlihatkan bahwa program MBG tidak hanya berorientasi pada kuantitas distribusi, tetapi juga pada aspek keamanan pangan. Wakil Menteri Kesehatan, dr. Benjamin Paulus Oktavianus mengatakan peran utama Kementerian Kesehatan RI (Kemenkes RI) dalam pelaksanaan program MBG adalah pengawasan, khususnya terhadap standar keamanan pangan di dapur-dapur SPPG yang tersebar di berbagai daerah.

    Dia menjelaskan pengawasan dilakukan melalui kerja sama program MBG dengan dinas kesehatan di daerah, yang bertugas memastikan seluruh proses pengolahan makanan memenuhi standar kesehatan. Salah satu instrumen utama pengawasan tersebut adalah sertifikasi laik higienis dan layak dikonsumsi bagi dapur SPPG.

    Kolaborasi lintas sektor ini memperkuat fondasi program dalam jangka panjang. Dengan adanya koordinasi antara pengelola dapur dan otoritas kesehatan daerah, setiap potensi permasalahan dapat diidentifikasi lebih awal. Hal ini menjadi penting mengingat program MBG menyasar kelompok masyarakat yang membutuhkan jaminan kualitas makanan secara konsisten.

    Penertiban dapur MBG juga berperan dalam meningkatkan kepercayaan publik. Program yang menyentuh kebutuhan dasar masyarakat menuntut tingkat keandalan yang tinggi. Ketika kualitas makanan terjaga dan proses distribusi berjalan baik, masyarakat akan merasakan manfaat secara langsung. Kepercayaan ini menjadi modal penting dalam mendukung keberlanjutan program serta memperkuat legitimasi kebijakan yang dijalankan.

    Lebih jauh, langkah ini menunjukkan komitmen dalam membangun tata kelola program yang akuntabel. Setiap sumber daya yang digunakan harus memberikan hasil yang maksimal dan dapat dipertanggungjawabkan. Dengan adanya standar yang jelas dan pengawasan yang ketat, potensi penyimpangan dapat diminimalisir. Penertiban menjadi instrumen penting untuk memastikan bahwa setiap tahapan pelaksanaan berjalan sesuai dengan prinsip transparansi dan efisiensi.

    Selain aspek pengawasan, penertiban juga membuka ruang bagi peningkatan kapasitas pelaksana di lapangan. Dapur-dapur SPPG tidak hanya dituntut untuk memenuhi standar, tetapi juga didorong untuk terus meningkatkan kualitas layanan. Pendampingan dan pembinaan menjadi bagian dari proses ini, sehingga penertiban tidak bersifat semata-mata korektif, melainkan juga konstruktif.

    Dalam perspektif yang lebih luas, penertiban dapur MBG berkontribusi pada pembangunan sumber daya manusia yang lebih berkualitas. Pemenuhan gizi yang baik akan berdampak pada peningkatan kesehatan, kemampuan belajar, serta produktivitas masyarakat. Dengan demikian, menjaga mutu program MBG menjadi bagian dari investasi jangka panjang yang strategis.

    Di tengah dinamika pelaksanaan program nasional yang terus berkembang, penertiban menjadi langkah adaptif untuk menjaga stabilitas dan kualitas. Setiap evaluasi yang dilakukan memberikan peluang untuk memperbaiki sistem agar semakin responsif terhadap kebutuhan di lapangan. Pendekatan ini mencerminkan upaya berkelanjutan dalam menghadirkan layanan publik yang semakin baik.

    Pada akhirnya, penertiban dapur MBG bukan sekadar proses administratif, tetapi merupakan bagian integral dari upaya memastikan keberhasilan program secara menyeluruh. Dengan standar yang semakin diperkuat, pengawasan yang terintegrasi, serta komitmen untuk terus melakukan perbaikan, program MBG diharapkan mampu memberikan manfaat yang lebih luas dan berkelanjutan bagi masyarakat.

    *) Penulis adalah Content Writer di Prisma Otonomi Strategika

  • Pemerintah Percepat Penyaluran Bantuan Pangan di Tengah Tekanan Global

    Jakarta – Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramadhani menyampaikan bahwa pemerintah terus memperkuat distribusi bantuan pangan sebagai langkah strategis dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional di tengah tekanan global yang masih berlangsung. Melalui Perum Bulog, distribusi beras dan minyak goreng kepada jutaan keluarga penerima manfaat (KPM) terus dioptimalkan guna memastikan daya beli masyarakat tetap terjaga.

    Ramdhani memastikan bahwa program bantuan pangan tahun 2026 tetap berjalan dengan fokus pada pemerataan distribusi dan ketepatan sasaran. Hingga saat ini, realisasi penyaluran telah mencapai sekitar 32.145.520 kilogram beras dan 6.438.104 liter minyak goreng kepada masyarakat. Meski demikian, capaian tersebut baru sekitar 4,83 persen dari total target nasional yang telah ditetapkan pemerintah.

    “Kami laporkan ini terkendala karena kemarin administrasi kami terima di Maret akhir. Kemudian penyaluran Banpang (bantuan pangan) ini juga seiring dengan menjelang hari Ramadan dan Idulfitri,” kata Rizal dalam rapat kerja dengan Komisi IV DPR RI di Jakarta.

    Rizal menjelaskan bahwa keterlambatan distribusi tidak terlepas dari faktor administratif yang baru diterima pada akhir Maret, serta adanya penyesuaian distribusi selama momentum Hari Besar Keagamaan Nasional (HBKN). Pada periode tersebut, kebutuhan masyarakat terhadap bahan pangan meningkat signifikan, sehingga pemerintah harus melakukan pengaturan prioritas penyaluran secara cermat.

    Bulog melakukan koordinasi intensif dengan Menteri Pertanian sekaligus Kepala Badan Pangan Nasional Andi Amran Sulaiman serta Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan. Sinergi lintas kementerian ini bertujuan memastikan kebijakan distribusi berjalan efektif dalam menjaga stabilitas harga dan ketersediaan pangan di masyarakat.

    Langkah penguatan distribusi ini juga menjadi bagian dari strategi pemerintah dalam meredam dampak ketidakpastian global terhadap ekonomi domestik. Dengan menjaga pasokan pangan tetap tersedia dan harga tetap terkendali, pemerintah berupaya melindungi kelompok masyarakat rentan dari tekanan inflasi, khususnya pada komoditas kebutuhan pokok.

    “Setelah momentum itu, Bulog kembali memaksimalkan penyaluran. Untuk Banpang (bantuan pangan) setelah Idul Fitri arahannya,” jelas Rizal. Pernyataan ini menegaskan bahwa percepatan distribusi akan dilakukan secara lebih agresif setelah periode puncak kebutuhan masyarakat terlewati.

    Bulog juga menegaskan komitmennya untuk merampungkan distribusi bantuan hingga April 2026. Upaya percepatan akan difokuskan pada wilayah-wilayah dengan tingkat kebutuhan tinggi serta daerah yang sebelumnya mengalami keterlambatan penyaluran.***

  • Distribusi Bantuan Pangan Dipercepat untuk Perkuat Daya Beli Masyarakat

    Jakarta – Pemerintah terus mengakselerasi distribusi bantuan pangan sebagai langkah strategis dalam menjaga daya beli masyarakat di tengah dinamika ekonomi global dan tekanan harga kebutuhan pokok pasca-Lebaran. Kebijakan ini dinilai tepat karena konsumsi rumah tangga masih menjadi penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional yang harus terus dijaga stabilitasnya.

    Percepatan penyaluran beras dan minyak goreng di berbagai wilayah mencerminkan komitmen kuat pemerintah dalam melindungi kelompok rentan sekaligus menjaga keseimbangan harga di tingkat konsumen. Langkah ini juga menjadi instrumen efektif untuk mengendalikan inflasi agar tetap berada dalam batas aman dan tidak membebani masyarakat luas.

    Direktur Utama Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani, menegaskan bahwa distribusi bantuan menjadi prioritas utama agar manfaatnya segera dirasakan masyarakat.

    “Realisasi penyaluran bantuan pangan 2026 telah mencapai sekitar 32.145.520 kilogram beras dan 6.438.104 liter minyak goreng kepada masyarakat penerima manfaat,” ujarnya.

    Pernyataan tersebut menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada ketersediaan stok, tetapi juga pada kecepatan distribusi. Semakin cepat bantuan sampai ke tangan warga, semakin kuat pula daya tahan konsumsi rumah tangga, khususnya bagi kelompok berpendapatan rendah yang paling terdampak gejolak harga.

    Di tingkat daerah, keberhasilan program juga terlihat nyata. Pemerintah Kota Mojokerto telah menuntaskan distribusi bantuan kepada 14.507 kepala keluarga. Wali Kota Mojokerto, Ika Puspitasari, menilai bantuan ini menjadi bantalan sosial penting.

    “Pemkot Mojokerto terus berkomitmen menjaga daya beli warga pasca-Lebaran,” katanya.

    Capaian tersebut menunjukkan sinergi yang efektif antara pemerintah pusat dan daerah. Koordinasi yang solid memastikan program tidak hanya berjalan cepat, tetapi juga tepat sasaran dan memberikan dampak langsung bagi masyarakat.

    Dari sisi nasional, optimisme terhadap keberlanjutan program semakin menguat dengan kondisi stok pangan yang aman. Kepala Bapanas sekaligus Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman, memastikan neraca pangan berada dalam posisi surplus.

    “Penyaluran bantuan pangan menjadi langkah strategis menjaga stabilitas pasokan dan harga,” jelasnya.

    Dengan dukungan stok yang kuat, distribusi yang semakin rapi, serta koordinasi pusat dan daerah yang solid, kebijakan ini menjadi bukti nyata kehadiran negara dalam melindungi masyarakat. Upaya ini tidak hanya menjaga daya beli, tetapi juga memperkuat fondasi ekonomi nasional agar tetap stabil dan tumbuh berkelanjutan.

  • Optimalisasi Bantuan Pangan: Penyangga di Tengah Gejolak Dunia

    Oleh : Garvin Reviano )*

    Di tengah dinamika global yang kian tidak menentu, mulai dari konflik geopolitik di Timur Tengah, perubahan iklim, hingga fluktuasi harga komoditas, ketahanan pangan menjadi isu krusial yang tidak bisa diabaikan. Dalam konteks ini, program bantuan pangan hadir sebagai salah satu instrumen strategis pemerintah untuk menjaga stabilitas sosial sekaligus melindungi daya beli masyarakat. Bantuan pangan bukan sekadar distribusi bahan kebutuhan pokok, melainkan juga representasi kehadiran negara dalam memastikan setiap warga negara tetap dapat memenuhi kebutuhan dasarnya, terutama di masa penuh tekanan.

    Gejolak dunia telah berdampak nyata pada rantai pasok global. Harga pangan internasional yang tidak stabil berimbas pada kondisi domestik, terutama bagi kelompok masyarakat rentan. Dalam situasi seperti ini, bantuan pangan berfungsi sebagai penyangga yang mampu meredam dampak langsung dari kenaikan harga maupun potensi kelangkaan. Dengan intervensi yang tepat sasaran, program ini tidak hanya menjaga konsumsi rumah tangga tetap terjaga, tetapi juga mencegah terjadinya penurunan kualitas gizi yang dapat berdampak jangka panjang.

    Lebih dari itu, bantuan pangan juga memiliki dimensi strategis dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Ketika daya beli masyarakat tertekan, konsumsi rumah tangga, yang merupakan salah satu pilar utama pertumbuhan ekonomi, dapat mengalami perlambatan. Melalui bantuan pangan, pemerintah secara tidak langsung menjaga roda ekonomi tetap bergerak. Masyarakat yang terbantu dapat mengalokasikan pengeluarannya untuk kebutuhan lain, sehingga aktivitas ekonomi di tingkat lokal tetap hidup dan berkelanjutan.

    Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman mengatakan bahwa pemerintah terus memperkuat stabilitas ekonomi nasional melalui perpanjangan distribusi bantuan pangan bagi masyarakat. Kebijakan ini menjadi langkah strategis untuk menjaga daya beli, khususnya bagi kelompok berpenghasilan rendah. Pemerintah memutuskan memperpanjang distribusi bantuan pangan berupa beras dan minyak goreng hingga April 2026. Program ini menyasar sekitar 33,2 juta keluarga penerima manfaat di seluruh Indonesia, yang sebagian besar berasal dari kelompok rentan. Langkah ini menunjukkan komitmen pemerintah dalam menjaga konsumsi rumah tangga sebagai salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi nasional.

    Di sisi lain, program bantuan pangan juga mencerminkan pendekatan kebijakan yang inklusif dan berkeadilan. Pemerintah tidak hanya berfokus pada pertumbuhan ekonomi semata, tetapi juga memastikan bahwa hasil pembangunan dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat. Kelompok masyarakat prasejahtera, lansia, hingga daerah-daerah terpencil menjadi prioritas utama dalam distribusi bantuan. Hal ini menunjukkan bahwa pembangunan nasional tidak meninggalkan siapa pun, sekaligus memperkuat kohesi sosial di tengah tantangan global.

    Keberhasilan program bantuan pangan tentu tidak lepas dari sinergi berbagai pihak. Pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga aparat di lapangan bekerja sama untuk memastikan distribusi berjalan lancar dan tepat sasaran. Selain itu, peran aktif masyarakat juga menjadi kunci dalam mengawal transparansi dan akuntabilitas program. Dengan adanya pengawasan yang partisipatif, potensi penyimpangan dapat diminimalisir, sehingga bantuan benar-benar sampai kepada mereka yang membutuhkan.

    Sementara itu, Direktur Utama (Dirut) Perum Bulog, Ahmad Rizal Ramdhani mengatakan realisasi penyaluran bantuan pangan 2026 hingga saat ini telah mencapai sekitar 32.145.520 kilogram beras dan 6.438.104 liter minyak goreng kepada masyarakat penerima manfaat. Namun demikian capaian tersebut baru sekitar 4,83 persen dari total target penyaluran bantuan pangan yang direncanakan pemerintah untuk tahun ini secara nasional. Ke depan, Bulog mempercepat penyaluran bantuan pangan sesuai arahan pemerintah, dengan memastikan distribusi berjalan lebih optimal dan tepat sasaran bagi masyarakat penerima manfaat.

    Dalam perspektif jangka panjang, bantuan pangan juga dapat menjadi pintu masuk untuk memperkuat kemandirian pangan nasional. Program ini dapat diintegrasikan dengan pemberdayaan petani lokal, penguatan rantai pasok domestik, serta pengembangan sektor pertanian yang berkelanjutan. Dengan demikian, bantuan pangan tidak hanya bersifat responsif terhadap krisis, tetapi juga berkontribusi pada transformasi sistem pangan nasional yang lebih tangguh dan mandiri.

    Di tengah narasi global yang sering kali dipenuhi kekhawatiran, kehadiran bantuan pangan memberikan pesan optimisme bahwa negara memiliki kapasitas dan komitmen untuk melindungi rakyatnya. Program ini menjadi bukti bahwa kebijakan publik dapat dirancang secara adaptif dan responsif terhadap perubahan situasi. Dengan pendekatan yang tepat, bantuan pangan tidak hanya menjadi solusi jangka pendek, tetapi juga fondasi bagi ketahanan nasional yang lebih kuat.

    Oleh karena itu, penting bagi seluruh elemen bangsa untuk terus mendukung dan mengawal keberlanjutan program bantuan pangan. Edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pemanfaatan bantuan secara bijak juga perlu ditingkatkan. Selain itu, inovasi dalam sistem distribusi, pemanfaatan teknologi, serta peningkatan kualitas data penerima bantuan menjadi langkah strategis untuk memastikan efektivitas program ke depan.

    Bantuan pangan bukan sekadar kebijakan, melainkan wujud nyata dari solidaritas dan gotong royong dalam skala nasional. Di tengah gejolak dunia yang tidak menentu, program ini menjadi jangkar yang menjaga stabilitas sekaligus harapan bagi jutaan masyarakat. Dengan komitmen yang kuat dan kolaborasi yang berkelanjutan, bantuan pangan akan terus menjadi penyangga utama dalam menjaga kesejahteraan rakyat dan ketahanan bangsa Indonesia.

    )* Pengamat Isu Sosial

  • Bantuan Pangan sebagai Instrumen Stabilitas di Tengah Gejolak Global

    Oleh: Dhita Karuniawati )*

    Di tengah dinamika ekonomi global yang penuh ketidakpastian, pemerintah Indonesia terus memperkuat berbagai instrumen kebijakan untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Salah satu instrumen yang terbukti efektif adalah program bantuan pangan. Kebijakan ini tidak hanya berfungsi sebagai bentuk perlindungan sosial, tetapi juga sebagai alat fiskal strategis untuk menjaga daya beli masyarakat, mengendalikan inflasi, serta memastikan stabilitas sosial di berbagai daerah.

    Gejolak global yang dipicu oleh konflik geopolitik, perubahan iklim, serta gangguan rantai pasok telah berdampak pada kenaikan harga pangan di berbagai negara, termasuk Indonesia. Dalam situasi ini, kelompok masyarakat berpenghasilan rendah menjadi yang paling rentan. Oleh karena itu, intervensi pemerintah melalui bantuan pangan menjadi langkah penting untuk mencegah penurunan kesejahteraan sekaligus menjaga konsumsi rumah tangga sebagai penopang utama pertumbuhan ekonomi.

    Bantuan pangan merupakan bagian dari kebijakan fiskal yang dirancang untuk menjaga stabilitas ekonomi nasional. Pemerintah memanfaatkan instrumen ini untuk memperkuat daya beli masyarakat sekaligus meredam tekanan inflasi, terutama pada komoditas pangan yang berkontribusi besar terhadap inflasi. Pemerintah juga menilai bahwa bantuan pangan memiliki efek ganda, yakni tidak hanya membantu masyarakat secara langsung, tetapi juga menjaga momentum pertumbuhan ekonomi melalui stabilitas konsumsi domestik.

    Program bantuan pangan menjadi salah satu bentuk nyata kehadiran negara dalam menghadapi tekanan ekonomi global. Dengan menjaga konsumsi masyarakat tetap stabil, pemerintah berupaya menghindari perlambatan ekonomi yang lebih dalam. Hal ini menunjukkan bahwa kebijakan bantuan pangan bukan sekadar program sosial, melainkan bagian integral dari strategi makroekonomi nasional.

    Pemerintah menyalurkan bantuan pangan di seluruh wilaya Indonesia, antara lain di Riau dan Kepri. Perum Bulog Riau-Kepri memastikan penyaluran bantuan pangan bagi masyarakat berjalan sesuai rencana dengan dukungan penuh dari berbagai pihak.

    Pimpinan Wilayah (Pimwil) Bulog Riau-Kepri, Dani Satrio, mengatakan bahwa total bantuan yang akan disalurkan mencakup jumlah yang sangat besar untuk memenuhi kebutuhan masyarakat di seluruh Provinsi Riau. Total keseluruhan penyaluran bantuan beras setara dengan 11 ribu ton dan minyak makan 2 juta liter kepada 597.998 penerima bantuan se-provinsi Riau.

    Menurut Dani, banyaknya bantuan tersebut merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus membantu masyarakat yang membutuhkan. Bulog tidak hanya fokus pada ketersediaan stok, tetapi juga memastikan aspek teknis penyaluran berjalan dengan baik agar bantuan tepat sasaran.

    Pola distribusi yang dilakukan melibatkan berbagai unsur di lapangan guna mempercepat proses penyaluran dan meminimalisir kendala. Dalam program ini, masyarakat penerima manfaat akan mendapatkan bantuan pangan dalam bentuk paket kebutuhan pokok utama yang telah ditentukan.

    Dani mengatakan penyaluran tahap awal dimulai di Kota Pekanbaru dan akan dilanjutkan secara bertahap ke seluruh kabupaten dan kota. Total bantuan yang disalurkan dalam program ini mencapai sekitar 11 ribu ton beras dan 2 juta liter minyak goreng untuk kebutuhan dua bulan.

    Dani menegaskan bahwa skema pemberian bantuan untuk dua bulan sekaligus bertujuan untuk memberikan kepastian ketersediaan pangan bagi masyarakat dalam jangka waktu tertentu. Selain itu, sinergi antara Bulog dan pemerintah daerah menjadi salah satu faktor utama dalam kelancaran distribusi bantuan ini.

    Dani optimistis distribusi bantuan dapat berjalan lancar dan memberikan dampak positif bagi masyarakat. Program ini diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat sekaligus menjaga stabilitas harga bahan pokok.

    Sementara itu, Pelaksana Tugas Gubernur (Plt) Riau, SF Hariyanto mengatakan bantuan pangan ini sangat membantu masyarakat, terutama di tengah kondisi ekonomi yang masih menantang. Program ini ditujukan bagi masyarakat yang membutuhkan di seluruh Provinsi Riau. Pihaknya berharap bantuan ini dapat meringankan beban masyarakat.

    Hariyanto menjelaskan, setiap kepala keluarga menerima bantuan berupa 20 kilogram beras dan 4 liter minyak goreng. Jumlah tersebut cukup signifikan untuk memenuhi kebutuhan pokok rumah tangga. Bantuan ini diharapkan dapat membantu memenuhi kebutuhan pangan masyarakat.

    Hariyanto menegaskan bahwa program ini merupakan bagian dari komitmen pemerintah dalam menjaga ketahanan pangan sekaligus memastikan masyarakat tetap memiliki akses terhadap bahan pokok. Pihaknya juga mengapresiasi dukungan pemerintah pusat dan Bulog dalam penyaluran bantuan ini.

    Bantuan pangan diharapkan tetap menjadi bagian penting dari strategi pemerintah dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional. Dalam menghadapi ketidakpastian global yang masih berlanjut, fleksibilitas kebijakan dan ketepatan intervensi menjadi kunci utama. Dengan pengelolaan yang baik, bantuan pangan tidak hanya mampu melindungi masyarakat dari dampak krisis, tetapi juga menjadi fondasi bagi pemulihan dan pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif.

    Secara keseluruhan, bantuan pangan telah menunjukkan perannya sebagai instrumen strategis dalam menjaga stabilitas ekonomi di tengah gejolak global. Melalui kombinasi kebijakan fiskal yang tepat, implementasi yang efektif di daerah, serta pengawasan yang ketat, program ini mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Dengan terus memperkuat sinergi dan evaluasi kebijakan, bantuan pangan dapat menjadi salah satu pilar utama dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional di masa yang akan datang.

    *) Penulis adalah Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia

  • Dukung Skenario Antisipatif Pemerintah dalam Menjaga Stabilitas Rupiah

    Oleh: Cahya Rumisastro)*

    Nilai tukar rupiah kembali menjadi sorotan di tengah tekanan global yang belum mereda dan dinamika ekonomi internasional yang cenderung fluktuatif. Dalam situasi ini, dukungan pemerintah terhadap langkah antisipatif yang disiapkan oleh Bank Indonesia (BI) menjadi krusial untuk memastikan stabilitas moneter tetap terjaga.

    Untuk diketahui nilai tukar rupiah masih mengalami fluktuasi beberapa hari terakhir. Nilai tukar Rupiah pada Rabu, 8 April 2026, menunjukkan penguatan 0,64 persen ke posisi 16.995 per USD, setelah sebelumnya ditutup di atas Rp17 ribu per USD pada 7 April akibat tertekan penguatan indeks dolar global. Namun rupiah kembali mengalami pelemahan pada Kamis, 9 April 2026, sebesar 0,11 % ke posisi 17.030 per USD.

    Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai angka tersebut masih berada dalam cakupan skenario yang disiapkan oleh pemerintah. Di samping itu, pergerakan tersebut tidak serta-merta mengganggu postur Anggaran dan Belanja Negara (APBN), mengingat Kementerian Keuangan telah menyiapkan berbagai instrumen simulasi Bersama BI guna mengantisipasi gejolak pasar.

    Purbaya mengatakan, pemerintah tidak hanya bergantung pada asumsi nilai tukar dalam penyusunan anggaran. Sebaliknya beberapa parameter simulasi disiapkan sebagai langkah antisipasif terhadap dinamika global.

    Purbaya menyatakan kepercayaan penuh terhadap kemampuan BI dalam menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah situasi ini karena upaya menjaga stabilitas rupiah tidak dapat berdiri sendiri, melainkan membutuhkan sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter yang konsisten. Di sinilah peran Bank Indonesia menjadi sangat strategis dalam mengawal stabilitas nilai tukar melalui instrumen kebijakan yang dimilikinya.

    Menanggapi situasi itu, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti menegaskan bahwa prioritas BI saat ini Adalah menjaga stabilitas kurs rupiah dengan memaksimalkan seluruh instrumen operasi moneter (OM) yang tersedia.

    Ia juga menyebut meski konflik Timur Tengah menimbulkan tekanan, kenaikan harga komoditas berdampak positif bagi perekonomian karena posisi Indonesia sebagai negara eksportir. Maka dari itu, tekanan tukar akibat eskalasi diyakini dapat dihadapi.

    BI tercatat meningkatkan intensitas intervensi di pasar valuta asing, sekaligus melakukan penyesuaian pada kepemilikan aset rupiah dan surat berharga negara. Langkah ini ditempuh untuk meredam volatilitas harian yang dipicu tekanan eksternal.

    Selain itu, otoritas moneter juga disebut memperkuat kebijakan suku bunga sebagai bagian dari strategi menjaga daya tarik aset domestik. Dengan demikian, aliran modal asing diharapkan tetap stabil dan tidak keluar secara masif yang dapat memperburuk tekanan terhadap rupiah.

    Head of Research & Chief Economist Mirae Asset Sekuritas, Rully Arya Wisnubroto menuturkan meski efektif dalam jangka pendek, strategi tersebut juga menunjukkan bahwa otoritas moneter semakin sering mengandalkan instrumen stabilisasi setiap kali gejolak global meningkat.


    Secara nominal, posisi cadangan devisa Indonesia masih berada pada level yang memadai yakni di atas standar kecukupan internasional. Per akhir periode terbaru, cadangan devisa tercatat sebesar USD148,2 miliar, setara dengan sekitar 6 bulan impor atau 5,8 bulan jika memperhitungkan pembayaran utang luar negeri.

    Namun demikian, Rully mengingatkan bahwa tren penurunan cadangan devisa yang terjadi selama tiga bulan berturut-turut mulai menjadi perhatian pelaku pasar. Sehingga ke depan, keberlanjutan cadangan devisa akan sangat bergantung pada kemampuan pemerintah dan otoritas moneter menjaga kepercayaan investor.

    Selain intervensi jangka pendek, perbaikan fundamental ekonomi juga dinilai menjadi faktor penentu. Sejauh ini, surplus perdagangan masih memberikan bantalan bagi stabilitas eksternal.

    Namun, ketidakpastian global yang berlanjut dan kecenderungan investor menghindari risiko (risk-off) berpotensi memicu arus keluar modal. Dalam kondisi tersebut, koordinasi kebijakan fiskal dan moneter yang kuat, serta pengelolaan fiskal yang kredibel, menjadi kunci untuk menjaga stabilitas.

    Melihat berbagai langkah yang telah dilakukan, dapat dipahami bahwa pemerintah dan otoritas moneter telah bergerak dalam kerangka yang terkoordinasi. Namun demikian, tantangan global yang terus berkembang menuntut kewaspadaan dan respons kebijakan yang adaptif.

    Stabilitas rupiah bukan semata ditentukan oleh kekuatan intervensi jangka pendek, tetapi juga oleh konsistensi kebijakan dan kredibilitas institusi ekonomi. Kepercayaan pasar menjadi fondasi utama yang harus terus dijaga melalui komunikasi kebijakan yang transparan dan terukur.

    Di tengah dinamika global yang tidak menentu, pemerintah dituntut untuk tidak hanya responsif, tetapi juga proaktif dalam merancang langkah antisipatif. Penguatan fundamental ekonomi, diversifikasi sumber pertumbuhan, serta pengelolaan risiko menjadi elemen penting dalam menjaga ketahanan nilai tukar.

    Dengan sinergi yang solid antara kebijakan fiskal dan moneter, serta dukungan pelaku pasar, stabilitas rupiah dapat tetap terjaga secara berkelanjutan. Ke depan, ketahanan ekonomi nasional akan sangat ditentukan oleh kemampuan semua pihak dalam merespons perubahan dengan strategi yang adaptif dan terarah.

    Top of Form

    Bottom of Form

    )* Pengamat Kebijakan Moneter

  • Pemerintah: Ekonomi RI Tangguh Hadapi Gejolak Global

    Jawa Barat – Menteri Koordinator Bidang Pemberdayaan Masyarakat, Muhaimin Iskandar mengatakan pihaknya optimis dan sudah menunjukan fakta bahwa ekonomi Indonesia kuat menghadapi berbagai gejolak global terutama disaat perang.

    Hal tersebut disampaikan Menko Pemberdayaan Masyarakat Muhaimin Iskandar dihadapan awak media di Jawa Barat.

    Menurutnya, perekonomian Indonesia saat ini dipastikan kuat dalam menghadapi dinamika geopolitik global.

    “Yang pertama, kita optimistis dan sudah menunjukkan fakta bahwa ekonomi kita kuat menghadapi berbagai kondisi global terutama perang. Insya Allah kita akan bekerja total untuk kita memiliki daya tahan atau daya kekuatan menghadapi krisis yang terjadi di tingkat global terutama akibat perang. Kita kuat, fondasi ekonomi kuat,” ujar Menko Muhaimin Iskandar saat membuka Rakernas Ikatan Alumni Universitas Terbuka di Bogor, Jawa Barat.

    Hal itu dikatakannya terkait taklimat Presiden Prabowo Subianto kepada anggota Kabinet Merah Putih dalam rapat kerja di Istana.

    Dalam taklimat itu, Presiden juga menegaskan bahwa tidak akan ada kenaikan harga BBM hingga akhir tahun 2026.

    “Tidak ada kenaikan harga BBM. Insya Allah sampai akhir tahun tidak akan ada kenaikan harga BBM sehingga tidak perlu panik, tidak ada yang perlu dikhawatirkan,” kata Muhaimin Iskandar.

    Selain itu, Presiden juga meminta Kabinet Merah Putih hingga pejabat daerah untuk bekerja keras membangun percepatan transformasi bangsa.

    “Pejabat mulai menteri sampai birokrat diberi arahan oleh Presiden untuk tidak main-main, untuk betul-betul kerja keras. Tidak ada waktu untuk berhenti di dalam membangun percepatan transformasi bangsa,” ungkap Muhaimin Iskandar.

    Sementara itu hal senada juga di sampaikan Wakil Menteri Keuangan, Juda Agung. Ia mengatakan fundamental ekonomi Indonesia saat ini berada dalam kondisi yang solid.

    “Pemerintah menjalankan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) secara prudent dan fleksibel sehingga mampu merespons berbagai risiko eksternal yang muncul akibat ketegangan geopolitik dunia,” jelasnya.

    Menurutnya, pendekatan kebijakan fiskal yang berhati-hati tersebut menjadi fondasi penting dalam menjaga stabilitas ekonomi nasional.

    “Ketahanan ekonomi Indonesia juga tercermin dari kinerja pertumbuhan yang tetap positif”, tuturnya.

    Pada tahun 2025, pertumbuhan ekonomi nasional tercatat sekitar 5,11 persen, dengan akselerasi yang lebih tinggi pada triwulan IV yang mencapai sekitar 5,39 persen. Angka tersebut menunjukkan bahwa aktivitas ekonomi domestik tetap bergerak dinamis meskipun lingkungan global berada dalam kondisi penuh ketidakpastian, kata dia.

    “Konsumsi masyarakat, investasi, serta berbagai aktivitas ekonomi produktif terus menjadi penggerak utama pertumbuhan,” pungkasnya.

    Ditambahkannya, selain pertumbuhan ekonomi yang stabil, tingkat inflasi Indonesia juga tetap berada dalam rentang yang terkendali.

    “Stabilitas harga tersebut menjadi bukti keberhasilan koordinasi kebijakan fiskal dan moneter dalam menjaga daya beli masyarakat sekaligus mendukung keberlanjutan aktivitas ekonomi,” ujarnya.

    “Kondisi ini semakin memperkuat posisi Indonesia sebagai salah satu negara dengan stabilitas ekonomi yang relatif baik di tengah tekanan global,” tutup Juda Agung.

  • Ekonom Global Nilai Fondasi Ekonomi RI Makin Solid dan Layak Jadi Tujuan Investasi

    Jakarta,- Kepercayaan global terhadap perekonomian Indonesia terus menguat seiring dengan semakin kokohnya fondasi makroekonomi nasional. Di tengah tekanan global yang ditandai dengan volatilitas pasar, ketatnya likuiditas, serta fluktuasi harga energi, Indonesia dinilai mampu menunjukkan stabilitas yang konsisten dan menjanjikan bagi para investor.

    Chief Economist IQI Global, Shan Saeed, dalam riset terbarunya menegaskan bahwa profil makroekonomi Indonesia pada kuartal I-2026 menunjukkan tren yang semakin solid. Hal ini menjadikan Indonesia sebagai salah satu tujuan investasi yang semakin diperhitungkan di kawasan emerging markets.

    “Dalam ekonomi global saat ini, pertumbuhan saja tidak cukup untuk menarik kapital. Konsistensi kebijakan menjadi faktor utama. Indonesia menunjukkan disiplin tersebut,” ujar Shan.

    Ia menilai bahwa pendekatan kebijakan ekonomi Indonesia yang terukur dan konsisten menjadi kunci utama dalam menjaga ketahanan di tengah gejolak global. Ketika banyak negara menghadapi tekanan berat, Indonesia justru mampu mempertahankan stabilitas dengan pertumbuhan ekonomi yang berada di kisaran 5%, serta proyeksi tahunan antara 5,0% hingga 6,0%.

    Struktur pertumbuhan ekonomi Indonesia juga dinilai kuat dan berkelanjutan. Konsumsi domestik yang menyumbang sekitar 53% dari Produk Domestik Bruto (PDB) menjadi penopang utama, sementara investasi yang berada di kisaran 30%–31% memperkuat basis pertumbuhan jangka panjang.

    “Ini bukan pertumbuhan yang didorong oleh ekses. Ini adalah pertumbuhan yang dibangun di atas struktur yang kuat,” tegas Shan.

    Lebih lanjut, ia menyoroti transformasi ekonomi Indonesia yang mulai bergerak dari sekadar eksportir bahan mentah menjadi negara dengan nilai tambah industri yang lebih tinggi. Kebijakan hilirisasi dinilai berhasil mendorong Indonesia naik dalam rantai nilai global.

    “Indonesia tidak lagi hanya menjadi pemasok bahan mentah. Negara ini mulai naik ke rantai nilai dengan mengubah sumber daya menjadi leverage industri,” jelasnya.

    Dari sisi stabilitas moneter, nilai tukar rupiah yang berada di kisaran Rp16.000 hingga Rp16.700 per dolar AS dinilai mencerminkan kondisi yang sehat dan terkendali. Shan menegaskan bahwa pasar lebih menghargai stabilitas dibandingkan sekadar kekuatan nominal mata uang.

    “Pasar bisa menerima depresiasi. Yang tidak bisa diterima adalah ketidakteraturan. Indonesia menawarkan stabilitas tersebut,” katanya.

    Selain itu, kebijakan fiskal Indonesia juga menunjukkan kehati-hatian yang tinggi. Dengan defisit anggaran sekitar 2,5% dari PDB dan rasio utang pemerintah di kisaran 40%, Indonesia dinilai menerapkan pengelolaan fiskal yang prudent dan berorientasi jangka panjang.

    “Ini bukan kebijakan yang reaktif. Ini kebijakan yang terukur dan antisipatif,” ujar Shan.

    Dalam konteks global, Shan menempatkan Indonesia sebagai bagian dari kategori “quality emerging markets”, yaitu negara berkembang yang mampu menjaga stabilitas dan ketahanan di tengah tekanan global.

    “Di dunia yang penuh volatilitas, kapital tidak lagi hanya mencari pertumbuhan. Kapital mencari konsistensi, disiplin, dan ketahanan. Indonesia telah menunjukkan itu,” pungkasnya.

    Dengan fondasi ekonomi yang semakin solid dan kebijakan yang konsisten, Indonesia kini berada pada posisi strategis untuk menarik lebih banyak investasi global, sekaligus memperkuat perannya sebagai kekuatan ekonomi baru di tingkat internasional.

  • Kemenkeu Yakin Ekonomi RI 2026 Tetap di Jalur 5,4 Persen

    Jakarta — Kementerian Keuangan (Kemenkeu) tetap optimistis pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 berada di kisaran target pemerintah sebesar 5,4 persen, meski proyeksi Bank Dunia menunjukkan angka yang lebih rendah.

    Direktur Jenderal Strategi Ekonomi dan Fiskal Kemenkeu, Febrio Kacaribu, menegaskan keyakinan tersebut sejalan dengan fundamental ekonomi nasional yang dinilai masih kuat dan menarik bagi investor global.

    “Yakin (masih sesuai target 5,4 persen),” ujar Febrio saat ditemui di Jakarta. Ia menambahkan, perhatian Bank Dunia terhadap Indonesia justru menjadi sinyal positif bagi iklim investasi.

    “Mereka ingin memastikan bahwa ada investasi yang masuk ke Indonesia,” katanya.

    Dengan kombinasi konsumsi domestik yang kuat, stabilitas makroekonomi, serta upaya pemerintah menjaga iklim investasi, Kemenkeu yakin target pertumbuhan 5,4 persen masih realistis dicapai.

    “Yang penting kita bisa deliver dan itu menjadi kabar baik bagi investor,” tegas Febrio.

    Bank Dunia sebelumnya memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2026 menjadi sekitar 4,7 persen, turun dari perkiraan sebelumnya 4,8 persen. Revisi ini dipengaruhi oleh perlambatan ekonomi global, terutama akibat kenaikan harga energi dan ketegangan geopolitik. Namun, pemerintah menilai proyeksi tersebut terlalu konservatif.

    Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa bahkan secara terbuka meragukan perhitungan lembaga internasional tersebut.

    “Saya pikir World Bank salah hitung,” kata Purbaya. Ia menilai asumsi yang digunakan Bank Dunia, khususnya terkait lonjakan harga minyak dunia, terlalu pesimistis terhadap prospek ekonomi Indonesia.

    Menteri yang memperoleh gelar Doktor dari Purdue University ini menilai bahwa langkah Bank Dunia seolah menghitung Indonesia mendekati fase resesi.vMenurutnya, jika harga energi kembali stabil, maka proyeksi pertumbuhan ekonomi juga akan berubah.

    “Kalau sebulan dari sini harga minyak turun, normal lagi, World Bank pasti akan berubah prediksinya,” ujarnya.

    Optimisme pemerintah juga didukung oleh kinerja ekonomi awal tahun. Purbaya menyebut pertumbuhan pada kuartal I-2026 berpotensi berada di kisaran 5,5 persen, mencerminkan daya tahan ekonomi domestik yang masih terjaga.