Kategori: Uncategorized

  • Penghapusan Kuota Impor Demi Ciptakan Keadilan Bagi Masyarakat

    Oleh: Riady Putra )*

    Langkah Presiden Prabowo Subianto untuk menghapus kuota impor pada sejumlah komoditas strategis menjadi sinyal kuat bahwa pemerintah berkomitmen membangun sistem ekonomi nasional yang lebih adil dan efisien. Kebijakan ini tak hanya mencerminkan keberanian dalam merombak tata kelola perdagangan yang selama ini sarat kepentingan kelompok tertentu, tetapi juga menegaskan arah baru pembangunan ekonomi yang berpihak pada masyarakat luas.

    Selama bertahun-tahun, sistem kuota impor telah menjadi instrumen yang rawan disalahgunakan. Mekanisme penunjukan terbatas terhadap importir tertentu menimbulkan praktik rente dan ketimpangan, karena hanya segelintir pihak yang mendapat akses atas kebutuhan pasar yang besar. Dalam praktiknya, kebijakan tersebut juga memicu rantai distribusi yang panjang dan tidak efisien, sehingga beban biaya pada akhirnya harus ditanggung oleh konsumen akhir. Situasi ini menciptakan distorsi harga dan ketidakadilan, terutama bagi masyarakat berpendapatan rendah yang sangat sensitif terhadap fluktuasi harga kebutuhan pokok seperti daging, gula, atau bahan pangan strategis lainnya.

    Dengan mencabut sistem kuota impor, Presiden berupaya menciptakan persaingan yang lebih sehat dan terbuka di sektor perdagangan. Setiap pelaku usaha diberikan kesempatan yang sama untuk mengakses pasar, tanpa harus tunduk pada prosedur birokratis yang selama ini menjadi celah permainan kekuasaan. Pendekatan ini tentu sejalan dengan semangat deregulasi yang diusung pemerintah, yakni mempermudah iklim usaha nasional dan mempercepat pertumbuhan ekonomi yang inklusif.

    Namun demikian, penting untuk dicatat bahwa penghapusan kuota tidak berarti liberalisasi impor secara bebas tanpa kendali. Pemerintah menyadari bahwa keberadaan produsen dalam negeri seperti petani, peternak, dan pelaku industri kecil harus tetap menjadi prioritas dalam kebijakan perdagangan nasional. Oleh karena itu, penghapusan kuota perlu dibarengi dengan kebijakan pengaman dan penguatan sektor produksi domestik agar tetap mampu bersaing secara sehat.

    Wakil Menteri Pertanian Sudaryono menggarisbawahi bahwa fokus utama pemerintah tetap pada pencapaian swasembada pangan. Ia menjelaskan bahwa sistem kuota justru menciptakan inefisiensi karena rantai distribusi yang terlalu panjang. Dalam banyak kasus, pihak penerima kuota bukanlah pelaku industri akhir, melainkan perantara yang kemudian menjual kembali hak impornya kepada pelaku usaha sesungguhnya. Hal ini menyebabkan harga barang semakin tinggi ketika sampai ke tangan konsumen. Maka dari itu, dengan dihapusnya kuota, pelaku usaha dapat langsung mengajukan izin impor ke instansi terkait tanpa melalui pihak ketiga, sehingga proses menjadi lebih transparan dan efisien.

    Sudaryono juga menegaskan bahwa prioritas terhadap produksi dalam negeri tetap menjadi landasan utama kebijakan ini. Pemerintah tetap melindungi industri nasional dan memastikan bahwa kebijakan impor bersifat komplementer, bukan substitutif. Artinya, impor hanya dilakukan untuk memenuhi kekurangan pasokan yang belum bisa dipenuhi secara optimal di dalam negeri, bukan menggantikan produksi lokal.

    Pendekatan realistis yang ditempuh pemerintah juga mendapat dukungan dari legislatif. Wakil Ketua Komisi XI DPR RI M. Hanif Dhakiri menilai keputusan Presiden sebagai langkah progresif dan strategis dalam mereformasi struktur ekonomi nasional. Baginya, sistem kuota selama ini telah membentuk ekosistem perdagangan yang tertutup dan tidak adil, karena kelompok tertentu dapat menguasai pasar melalui kedekatan politik atau birokrasi. Dengan penghapusan kuota, peluang bagi pelaku usaha kecil dan menengah untuk tumbuh menjadi lebih terbuka, sekaligus mendorong efisiensi harga dan distribusi barang.

    Hanif mengingatkan bahwa keterbukaan pasar harus dibarengi dengan perlindungan terhadap produsen domestik. Negara memiliki tanggung jawab untuk menciptakan keadilan dalam kompetisi, agar pelaku usaha lokal tidak tersingkir oleh produk-produk impor yang lebih murah karena didukung subsidi besar dari negara asal. Oleh karena itu, kebijakan penghapusan kuota perlu dilengkapi dengan penguatan industri substitusi impor, yakni sektor-sektor strategis yang dapat memproduksi barang pengganti secara mandiri di dalam negeri.

    Hanif juga menilai kebijakan ini juga memiliki nilai strategis dalam konteks hubungan dagang internasional. Pendekatan pemerintah untuk memperluas akses impor dari negara mitra seperti Amerika Serikat dapat menjadi instrumen diplomatik yang efektif. Namun, langkah tersebut tetap harus diarahkan secara selektif dan timbal balik. Jika Indonesia membuka pasar bagi produk negara lain, maka mitra dagang juga harus memberikan akses ekspor yang adil bagi produk Indonesia. Prinsip keseimbangan ini penting untuk menjaga ketahanan ekonomi nasional sekaligus memperkuat posisi Indonesia dalam percaturan ekonomi global.

    Dalam pelaksanaannya, pemerintah juga didorong untuk memastikan bahwa setiap instrumen kebijakan menggantikan kuota harus bersifat transparan, akuntabel, dan adil. Hal ini penting agar tidak tercipta celah baru yang memungkinkan terjadinya praktik monopoli atau kartel yang merugikan konsumen dan produsen secara bersamaan. Pemerintah dituntut untuk memperbaiki sistem perizinan, mempercepat proses distribusi, serta menjamin kepastian hukum bagi pelaku usaha, agar manfaat dari kebijakan ini dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.

    Dengan arah kebijakan yang tegas dan dukungan dari berbagai pihak, kebijakan penghapusan kuota impor bukan hanya merupakan langkah teknis dalam tata niaga, melainkan bagian dari transformasi ekonomi yang lebih besar. Pemerintah menempatkan keadilan dan efisiensi sebagai pilar utama pembangunan ekonomi, dengan memastikan bahwa setiap warga negara dapat merasakan manfaat dari kebijakan yang dijalankan.

    Langkah Presiden Prabowo Subianto menjadi representasi dari kepemimpinan yang tidak hanya berani, tetapi juga berpihak pada rakyat. Dengan menghapus sistem yang selama ini menciptakan ketimpangan dan ketidakpastian, pemerintah menegaskan komitmen untuk menciptakan pasar yang sehat, adil, dan inklusif. Ini bukan sekadar soal kuota atau angka impor, tetapi tentang bagaimana negara hadir untuk menciptakan keadilan ekonomi yang sesungguhnya.

    )* Pengamat Perdagangan Luar Negeri

  • Kunjungan Kerja Presiden Prabowo ke Timur Tengah Mampu Atasi Gangguan Stabilitas Global

    Jakarta – Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto memulai kunjungan kerja ke lima negara di kawasan Timur Tengah untuk memperkuat kerja sama strategis dan mendorong penyelesaian konflik Gaza melalui jalur diplomatik dan kemanusiaan.

    “Saya akan bertemu langsung dengan para pemimpin negara sahabat untuk konsultasi dan tukar pikiran tentang perkembangan geopolitik dan geoekonomi dunia,” kata Presiden Prabowo.

    Lawatan ini mencakup Uni Emirat Arab, Turki, Mesir, Qatar, dan Yordania. Di setiap negara, Presiden Prabowo membawa agenda kerja sama dan misi kemanusiaan. Di Abu Dhabi, ia dijadwalkan bertemu Presiden Uni Emirat Arab Mohammed bin Zayed Al Nahyan untuk memperkuat kemitraan bilateral.

    “Alhamdulillah, Bapak Presiden telah tiba di Abu Dhabi sekitar pukul 6.30 waktu setempat. Beliau langsung dijadwalkan bertemu Presiden MBZ dan didampingi Menteri Luar Negeri serta Sekretaris Kabinet,” ujar Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Yusuf Permana.

    Di Turki, Presiden Prabowo melakukan pertemuan empat mata dengan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan di Istana Kepresidenan Ankara. Keduanya sepakat memperkuat kerja sama strategis, terutama dalam mendukung kemerdekaan Palestina.

    “Kami mengapresiasi sikap Indonesia terhadap isu Palestina. Kami akan terus bekerja sama dengan Indonesia untuk membangun kembali Gaza dan membela kepentingan rakyat Palestina,” ucap Presiden Erdogan dalam pernyataan bersama usai pertemuan.

    Presiden Prabowo menyatakan bahwa Indonesia dan Turki memiliki pandangan yang sama soal pentingnya menjaga stabilitas kawasan.

    “Kami sepakat untuk terus bekerja sama memperjuangkan kemerdekaan Palestina, perdamaian di Ukraina, dan stabilitas di Suriah,” tegas Presiden Prabowo.

    Dalam misi kemanusiaan, Presiden Prabowo juga menyampaikan kesiapan Indonesia mengevakuasi 1.000 korban luka dari Gaza untuk dirawat di Indonesia, serta melanjutkan pengiriman tim medis TNI ke wilayah konflik.

    Kunjungan ini menunjukkan peran aktif Indonesia dalam perdamaian dunia dan menjadi bukti komitmen Presiden Prabowo terhadap diplomasi yang solutif dan berlandaskan kemanusiaan.

    Dengan pendekatan yang seimbang antara kekuatan diplomasi dan aksi nyata di lapangan, Indonesia memperkuat posisinya sebagai negara yang mampu menjembatani kepentingan global demi terciptanya perdamaian yang berkelanjutan.

  • Kunker Presiden Prabowo ke Timur Tengah Wujudkan Kekuatan Hadapi Ketidakpastian Global

    Jakarta – Presiden Prabowo Subianto resmi memulai kunjungan kerja (kunker) ke lima negara strategis di kawasan Timur Tengah dan Turki sejak Rabu, 9 April 2025. Lawatan ini adalah bentuk nyata dari kepemimpinan visioner dan responsif Presiden Prabowo dalam menjawab tantangan global secara taktis dan terukur.

    Kunjungan ke Uni Emirat Arab, Turki, Mesir, Qatar, dan Yordania membuktikan bahwa pemerintah Indonesia saat ini sangat aktif dan progresif dalam memperkuat hubungan bilateral, memperjuangkan isu kemanusiaan, serta menciptakan solusi damai atas konflik Gaza.

    Teguh Santosa (Pengamat Politik Global dari GREAT Institute) menyatakan bahwa kunjungan Presiden Prabowo mencerminkan komitmen tinggi pemerintah dalam membangun relasi internasional yang kuat, seimbang, dan bebas dari ketergantungan.

    “Kebijakan luar negeri Indonesia yang kini berlandaskan pada prinsip ‘good neighbor’ dan komunikasi aktif yang dijalankan Presiden Prabowo dengan para pemimpin dunia menunjukkan upaya strategis untuk menciptakan ‘the absence of dependency’,” tegas Teguh.

    Ia juga menegaskan bahwa prinsip bebas aktif yang menjadi fondasi diplomasi Indonesia kini dijalankan secara lebih konkret dan produktif di bawah kepemimpinan Presiden Prabowo, khususnya dalam menjawab dinamika ketegangan geopolitik global.

    “Kunjungan Presiden Prabowo yang intensif ke kawasan Timur Tengah dan Turki akan semakin memperkuat posisi ekonomi dan geopolitik Indonesia di dunia internasional,” tambah Teguh.

    Nailul Huda (Direktur Ekonomi Digital dari Celios) pun turut menyoroti manfaat besar dari langkah Presiden ini. Ia menyatakan bahwa Timur Tengah dan Afrika adalah kawasan strategis yang sangat potensial bagi ekspansi produk Indonesia, serta peluang besar bagi peningkatan ekspor nasional.

    “Inisiatif pemerintah untuk membuka akses ke pasar non-tradisional adalah langkah cerdas dan visioner. Timur Tengah dan Afrika dapat menjadi pilar utama diversifikasi ekspor Indonesia ke depan,” kata Nailul dengan penuh optimisme.

    Kunjungan Presiden ke Uni Emirat Arab disambut penuh kehormatan oleh Presiden Mohamed bin Zayed Al Nahyan. Dalam pertemuan ini, kedua pemimpin menyepakati penguatan kerja sama strategis yang akan membawa keuntungan besar bagi Indonesia, terutama dalam sektor energi dan infrastruktur.

    Presiden Prabowo kemudian bertemu dengan Presiden Recep Tayyip Erdogan di Turki, melanjutkan hubungan erat antar kedua negara. Pembahasan difokuskan pada kerja sama konkret di bidang industri pertahanan, perdagangan, pendidikan, dan kebudayaan yang akan mendorong kemajuan Indonesia secara menyeluruh.

    Kunjungan dilanjutkan ke Kairo, Mesir, untuk pertemuan dengan Presiden Abdul Fatah El-Sisi, di mana kedua kepala negara menjalin konsultasi bilateral yang produktif dan penuh semangat kebersamaan.

    Dalam lawatan ke Qatar dan Yordania, Presiden Prabowo juga dijadwalkan menyelesaikan sejumlah kesepakatan strategis, termasuk penandatanganan perjanjian kerja sama ekonomi dan investasi, yang akan menjadi terobosan baru dalam memperkuat ketahanan ekonomi nasional.

    Kunjungan kerja Presiden Prabowo ke Timur Tengah dan Turki ini membuktikan bahwa pemerintah Indonesia sangat siap, tangguh, dan cerdas dalam menghadapi tantangan global, serta berkomitmen tinggi untuk mengangkat posisi Indonesia sebagai kekuatan utama dunia berkembang.

  • Lawatan Presiden Prabowo ke Timur Tengah Buktikan Kepemimpinan Indonesia di Kancah Dunia

    Oleh: Fiky Kurniawan )*

    Kunjungan kerja Presiden Prabowo Subianto ke Timur Tengah baru-baru ini menegaskan peran aktif Indonesia dalam dinamika global. Melalui lawatannya yang mencakup lima negara di kawasan tersebut, termasuk Turki, Qatar, Mesir, dan Yordania, Indonesia menunjukkan komitmen untuk mempererat hubungan dengan negara-negara besar di dunia dan menjadi bagian dari solusi dalam berbagai tantangan internasional.

    Dalam forum Antalya Diplomacy Forum (ADF) yang diselenggarakan di Turki, Presiden Prabowo menegaskan pentingnya Indonesia sebagai jembatan antara negara-negara besar dunia. Ia mengungkapkan keinginannya untuk menjadikan Indonesia sebagai mediator yang dapat memainkan peran penting dalam menyelesaikan konflik internasional. Dalam kesempatan ini, Presiden menegaskan bahwa Indonesia mengedepankan kebijakan “tetangga yang baik,” baik dengan negara-negara tetangga maupun kekuatan besar dunia.

    Lebih dari 50 tahun yang lalu, ASEAN lahir dari keinginan negara-negara di Asia Tenggara untuk menghindari perang dan memfokuskan diri pada penyelesaian masalah sosial dan ekonomi yang lebih mendesak. Presiden Prabowo mengingatkan kembali bahwa perbedaan yang ada di kawasan tersebut tetap bisa diselesaikan melalui dialog dan diplomasi, bukan konflik. Hal ini menjadi landasan kebijakan luar negeri Indonesia yang mengutamakan perdamaian dan stabilitas dalam hubungan internasional.

    Di tengah ketidakpastian yang ditimbulkan oleh ketegangan global, seperti yang diungkapkan oleh Teuku Rezasyah, Dosen Universitas Padjadjaran, Presiden Prabowo berkomitmen untuk menjaga stabilitas ekonomi dunia melalui hubungan yang lebih kuat dengan negara-negara Timur Tengah. Sebagai contoh, Indonesia memiliki posisi strategis untuk mendalami hubungan ekonomi dengan negara-negara Timur Tengah yang memiliki ketergantungan tinggi pada investasi di Amerika Serikat. Jika mereka merasa tidak nyaman dengan situasi ekonomi AS, Indonesia siap membuka diri untuk menerima investasi dari kawasan tersebut.

    Presiden Prabowo juga menekankan bahwa Indonesia berupaya memperdalam pemahaman terhadap sikap negara-negara Timur Tengah terhadap dinamika investasi global. Selain itu, Indonesia ingin menjalin kerja sama yang lebih erat di sektor-sektor yang berkembang, termasuk energi dan infrastruktur, yang dapat mendatangkan manfaat ekonomi jangka panjang bagi kedua belah pihak. Hal ini juga sejalan dengan harapan Presiden Prabowo agar Indonesia dapat berperan lebih besar dalam meningkatkan kestabilan ekonomi internasional dan menjadi mitra strategis bagi negara-negara besar, termasuk negara-negara di kawasan Timur Tengah.

    Salah satu fokus utama dari kunjungan ini adalah untuk memperkuat hubungan bilateral Indonesia dengan negara-negara Timur Tengah dalam sektor ekonomi. Dengan misi ini, Indonesia berharap bisa memanfaatkan potensi besar kawasan tersebut dalam sektor energi, perdagangan, dan investasi. Penguatan hubungan ini bertujuan untuk mendatangkan manfaat bagi kedua belah pihak, terutama di sektor-sektor yang sedang berkembang dan membutuhkan kemitraan yang kuat.

    Di sisi lain, dalam perjalanan diplomatiknya, Presiden Prabowo juga menegaskan pentingnya Indonesia untuk berperan aktif dalam menyelesaikan masalah perdamaian global, terutama terkait dengan Palestina. Sebagai negara dengan jumlah penduduk Muslim terbesar, Indonesia merasa memiliki tanggung jawab moral untuk berkontribusi pada penyelesaian konflik Palestina, yang selama ini menjadi isu penting dalam politik Timur Tengah.

    Yon Machmudi, pengamat Timur Tengah, menilai bahwa lawatan Presiden Prabowo ini memperlihatkan komitmen Indonesia untuk lebih aktif terlibat dalam berbagai konflik global. Salah satu hal yang menjadi fokus adalah bagaimana Indonesia dapat mendalami rasa ketidaknyamanan negara-negara Timur Tengah terhadap ketegangan ekonomi yang berkembang di Amerika Serikat dan menawarkan solusi dengan membuka diri terhadap investasi dari kawasan tersebut. Melalui dialog bilateral yang lebih intensif, Indonesia ingin memperkuat hubungan dengan negara-negara tersebut dan membangun kerjasama yang saling menguntungkan.

    Dalam rangkaian kunjungan ini, Presiden Prabowo menegaskan bahwa Indonesia siap memainkan peran lebih aktif dalam menjaga stabilitas kawasan Timur Tengah. Selain itu, Indonesia juga menunjukkan kesiapan untuk terlibat dalam upaya perdamaian dunia, termasuk dalam konflik Palestina yang hingga kini belum ada penyelesaian yang memadai. Presiden Prabowo berharap Indonesia dapat lebih banyak berperan dalam perundingan dan diplomasi yang dapat mengarah pada solusi damai dan adil bagi semua pihak yang terlibat.

    Keberhasilan lawatan ini menunjukkan bahwa Indonesia tidak hanya berperan aktif dalam diplomasi regional, tetapi juga memiliki posisi strategis dalam membentuk masa depan hubungan internasional. Dengan kebijakan luar negeri yang mengutamakan diplomasi, Indonesia terus berupaya menjaga perdamaian global dan meningkatkan kerja sama ekonomi dengan negara-negara besar di dunia. Sebagaimana yang diungkapkan oleh Teuku Rezasyah, Indonesia harus memanfaatkan kesempatan ini untuk meningkatkan daya saing ekonomi dan memperkuat stabilitas nasional.

    Dengan semangat tersebut, Presiden Prabowo telah berhasil membawa Indonesia ke tengah-tengah percaturan internasional dengan posisi yang lebih kuat dan berpengaruh. Lawatan ini bukan hanya sebuah upaya untuk meningkatkan hubungan ekonomi, tetapi juga untuk menunjukkan bahwa Indonesia memiliki tanggung jawab moral dan diplomatik yang lebih besar dalam menciptakan perdamaian dan kesejahteraan global.

    )* Pengamat Hubungan Internasional

  • Lawatan Presiden Prabowo ke Timur Tengah Hasilkan Berbagai Kerja Sama Strategis

    Oleh : Irfan Aditya )*

    Lawatan Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, ke Timur Tengah menandai babak baru dalam hubungan diplomatik dan kerja sama internasional Indonesia. Dalam kunjungan kenegaraan yang berlangsung selama beberapa hari, Presiden Prabowo mengunjungi beberapa negara mitra strategis seperti Uni Emirat Arab, Turki, Mesir, Qatar, dan Yordania. Kunjungan ini tidak hanya menjadi momentum untuk memperkuat hubungan bilateral, tetapi juga menghasilkan berbagai kesepakatan penting yang akan membawa dampak positif bagi pembangunan nasional, kesejahteraan rakyat, serta posisi Indonesia di kancah global.

    Salah satu fokus utama dari lawatan ini adalah penguatan kerja sama di bidang ekonomi, investasi, dan pertahanan.  Kunjungan ini membawa semangat membangun solidaritas antarnegara dan membahas isu-isu utama kawasan, termasuk konflik Gaza dan kerja sama ekonomi. Di UEA, Presiden Prabowo berhasil menjalin kesepakatan investasi baru di sektor energi baru terbarukan, infrastruktur, dan teknologi digital. Perusahaan-perusahaan besar dari Timur Tengah menyatakan minat yang tinggi untuk menanamkan modalnya di Indonesia, sejalan dengan agenda pemerintah untuk mempercepat pembangunan nasional dan mendorong transformasi ekonomi. Investasi ini akan menciptakan lapangan kerja baru, meningkatkan daya saing industri nasional, serta memperkuat fondasi ekonomi hijau dan berkelanjutan.

    Deputi Bidang Protokol, Pers, dan Media Sekretariat Presiden Yusuf Permana mengatakan lawatan Presiden Prabowo ke Timur Tengah kali ini akan berdiskusi mengenai situasi geopolitik terkini, berkonsultasi mengenai situasi di Gaza, dan mengkonsultasikan rencana Indonesia untuk menampung sementara rakyat Palestina korban perang di Gaza. Setelah bertemu dengan Presiden Uni Emirat Arab Sheikh Mohammed bin Zayed al-Nahyan, lawatan kenegaraan Presiden Prabowo Subianto berlanjut ke Turki. Di Turki, Presiden menyerukan ajakan untuk membangun dunia yang damai, bebas dari penindasan oleh pihak mana pun. Seruan ini dinilai penting untuk membuka peluang baru dalam menyelesaikan konflik kemanusiaan di berbagai negara di tengah situasi dunia yang penuh ketidakpastian.

    Lawatan ini menegaskan peran aktif Indonesia dalam diplomasi internasional serta memperkuat solidaritas antarnegara Muslim. Dengan pendekatan yang hangat, produktif, dan visioner, Presiden Prabowo berhasil membangun kepercayaan dan membuka peluang baru bagi Indonesia di kawasan Timur Tengah. Kunjungan ini juga menjadi simbol transformasi diplomasi Indonesia yang kini lebih dinamis, terbuka terhadap inovasi, dan berorientasi pada hasil nyata yang berdampak langsung bagi kesejahteraan rakyat.

    Di sisi lain, hubungan budaya dan keagamaan juga mendapat perhatian khusus dalam lawatan ini. Presiden Prabowo menyempatkan diri untuk berkunjung ke tempat-tempat suci Islam dan berdialog dengan ulama serta tokoh agama terkemuka. Langkah ini mempererat hubungan batiniah antara masyarakat Indonesia dan dunia Islam, serta memperkuat citra Indonesia sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar yang menjunjung tinggi toleransi dan perdamaian. Presiden juga menyampaikan komitmen Indonesia dalam memperjuangkan isu-isu kemanusiaan dan perdamaian di Timur Tengah, termasuk mendukung solusi damai atas konflik di Palestina.

    Sementara itu, Menteri Luar Negeri (Menlu), Sugiono mengatakan kunjungan Presiden Prabowo ke lima negara tidak hanya bersifat bilateral. Tapi juga untuk melakukan konsultasi mendalam terkait situasi geopolitik dan kondisi kemanusiaan di Palestina. Indonesia menegaskan posisi konsisten dalam mendukung perjuangan rakyat Palestina dan menolak segala bentuk relokasi paksa terhadap warga Gaza. Pihaknya juga mengatakan, langkah-langkah kemanusiaan yang tengah dipertimbangkan oleh Indonesia bersifat sukarela dan harus berdasarkan persetujuan semua pihak yang terlibat.

    Selain itu, kunjungan ke Timur Tengah memperkuat kerja sama strategis di bidang pendidikan dan inovasi. Beberapa negara menyatakan kesiapan untuk menjalin kolaborasi riset dan pertukaran pelajar dengan perguruan tinggi di Indonesia. Ini menjadi peluang emas untuk meningkatkan kualitas sumber daya manusia Indonesia dan mempercepat transfer ilmu pengetahuan serta teknologi. Tidak hanya itu, sektor olahraga dan pariwisata juga dijajaki untuk dikembangkan bersama, mengingat negara-negara di Timur Tengah memiliki pengalaman besar dalam penyelenggaraan event internasional seperti Piala Dunia.

    Respons masyarakat internasional terhadap lawatan Presiden Prabowo pun sangat positif. Banyak pihak melihat bahwa Indonesia di bawah kepemimpinannya menunjukkan arah kebijakan luar negeri yang aktif, seimbang, dan penuh dengan semangat kolaboratif. Diplomasi yang dijalankan tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga substantif dan memberikan manfaat langsung bagi rakyat. Dengan pendekatan yang pragmatis dan terbuka, Presiden Prabowo berhasil menunjukkan bahwa Indonesia siap menjadi mitra strategis yang dapat diandalkan di kawasan Asia dan Timur Tengah.

    Lawatan Presiden Prabowo ke Timur Tengah merupakan langkah cerdas dan penuh makna strategis dalam memperkuat posisi Indonesia di dunia internasional. Kerja sama yang terjalin akan menjadi pondasi penting bagi pertumbuhan ekonomi, peningkatan kapasitas nasional, dan penguatan diplomasi global. Ini adalah bukti nyata bahwa diplomasi Indonesia di era baru tidak hanya tentang menjaga hubungan baik, tetapi juga tentang menciptakan nilai tambah konkret bagi seluruh rakyat Indonesia. Selain itu, Indonesia tidak hanya mempererat hubungan bilateral, tetapi juga memperluas jejaring strategis yang akan memberikan manfaat jangka panjang bagi pembangunan nasional dan posisi Indonesia sebagai mitra global yang diperhitungkan.

    )* Penulis merupakan Pengamat Kebijakan Publik

  • Satgas PHK, Solusi Cerdas Pemerintah Hadapi Ancaman Pemutusan Kerja

    Jakarta- Pemerintah mengambil langkah strategis dalam menghadapi meningkatnya ancaman pemutusan hubungan kerja (PHK) di berbagai sektor dengan membentuk Satuan Tugas Pemutusan Hubungan Kerja (Satgas PHK). Satgas ini dibentuk sebagai respon atas tekanan ekonomi global, efisiensi bisnis, dan disrupsi teknologi yang berpotensi berdampak besar pada tenaga kerja nasional.

    Pembentukan Satgas PHK dipimpin oleh Kementerian Ketenagakerjaan dan melibatkan lintas kementerian seperti Kementerian Perindustrian, Kementerian BUMN, serta stakeholder dunia usaha dan serikat pekerja. Tujuannya adalah untuk melakukan pemetaan sektor terdampak, mencegah eskalasi PHK massal, dan merumuskan solusi alternatif baik bagi pekerja maupun pengusaha.

    “Satgas ini bukan hanya reaktif terhadap laporan PHK, tapi juga memiliki peran strategis dalam mencegahnya. Kita ingin hadir sebelum masalah membesar, bukan hanya setelahnya,” ujar Menteri Ketenagakerjaan Ida Fauziyah dalam konferensi pers.

    Menurut data yang dihimpun Kementerian Ketenagakerjaan, beberapa sektor seperti tekstil, manufaktur ringan, dan startup digital mengalami tekanan signifikan dalam beberapa bulan terakhir. Satgas PHK akan bekerja cepat melakukan asesmen di lapangan, memfasilitasi dialog sosial, serta mengusulkan skema-solusi seperti relokasi pekerja, pelatihan ulang (reskilling), dan subsidi sementara.

    Satgas PHK akan bertugas melakukan pemetaan sektor-sektor yang berpotensi terdampak, memfasilitasi dialog sosial antara pekerja dan pengusaha, serta menyusun rekomendasi kebijakan berbasis data untuk menekan angka PHK. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menegaskan pentingnya kehadiran pemerintah dalam menjaga stabilitas ketenagakerjaan.

    “Kita tidak bisa tinggal diam melihat angka PHK yang terus meningkat. Pemerintah harus hadir, dan Satgas PHK adalah bukti nyata kehadiran itu,” tegasnya.

    Satgas ini juga diharapkan menjadi jembatan komunikasi antara pekerja dan pengusaha agar tercipta solusi yang adil dan berkelanjutan. Pemerintah menargetkan laporan pertama dari Satgas akan keluar dalam 60 hari ke depan sebagai dasar pengambilan kebijakan jangka menengah.

    Dengan kehadiran Satgas PHK, pemerintah menunjukkan komitmennya untuk tidak hanya melindungi pekerja, tetapi juga memastikan dunia usaha tetap kompetitif dan mampu bertahan di tengah tantangan global.

  • Pemerintah Bentuk Satgas PHK, Bukti Nyata Negara Lindungi Pekerja

    Jakarta — Pemerintah Indonesia menunjukkan keberpihakan nyata kepada pekerja. Menanggapi potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) massal akibat dinamika global dan disrupsi teknologi, Presiden Prabowo Subianto memerintahkan pembentukan Satuan Tugas Pemutusan Hubungan Kerja (Satgas PHK) sebagai langkah antisipatif dan solutif.

    Pengumuman ini disampaikan langsung dalam acara Silaturahmi Ekonomi Bersama Presiden RI di Jakarta, yang dihadiri ribuan pekerja, pelaku usaha, dan tokoh perburuhan. Dalam sambutannya, Presiden menegaskan bahwa negara tidak boleh tinggal diam saat rakyat menghadapi kesulitan.

    “Kalau ada buruh yang terlantar, itu harus kita bela, harus kita urus sebaik-baiknya,” tegas Presiden, disambut antusiasme peserta yang memadati lokasi acara.

    Satgas PHK dibentuk untuk merespons cepat ancaman PHK di berbagai sektor. Anggotanya terdiri dari perwakilan pemerintah pusat, serikat pekerja, pelaku industri, akademisi, serta BPJS Ketenagakerjaan. Fokus utama satgas adalah mencegah PHK, menjaga stabilitas ketenagakerjaan, dan memastikan hak-hak pekerja tetap terlindungi sesuai aturan.

    Menteri Ketenagakerjaan Yassierli mengungkapkan bahwa pihaknya telah menyusun Matriks Risiko Sektor Industri sebagai landasan kerja teknis Satgas.

    “Ini menjadi dasar untuk mengidentifikasi sektor yang rentan dan merancang kebijakan yang akurat dan responsif,” ujarnya.

    Selain itu, Satgas juga akan memfasilitasi program pelatihan ulang (reskilling), peningkatan keterampilan (upskilling), hingga penyaluran kerja lintas sektor.

    Tak hanya itu, Satgas juga berfungsi sebagai ruang dialog tripartit antara pemerintah, buruh, dan pengusaha untuk merumuskan solusi kolektif yang berkelanjutan. Pemerintah ingin memastikan bahwa setiap keputusan diambil secara inklusif dan memperhatikan kepentingan semua pihak.

    Presiden KSPSI Andi Gani Nena Wea menyambut baik langkah ini. Ia menyebut Satgas sebagai wujud konkret keberpihakan negara terhadap buruh.

    “Langkah ini bukan hanya respons sesaat, tapi strategi jangka panjang,” ujarnya.

    Senada, Presiden KSPI Said Iqbal menyampaikan bahwa pembentukan Satgas menandai babak baru dalam hubungan industrial di Indonesia yang lebih sehat dan solutif.

    Dengan Satgas PHK, pemerintah membuktikan bahwa di bawah kepemimpinan Prabowo-Gibran, negara hadir bukan hanya melalui regulasi, tetapi juga lewat aksi nyata. Melindungi pekerja adalah fondasi utama menuju Indonesia Emas 2045.

  • Pembentukan Satgas, Langkah Proaktif Pemerintah Cegah Gelombang PHK

    Oleh: Farhan Farisan )*

    Pemerintah tengah menyiapkan langkah strategis guna mencegah potensi gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) yang dapat mengancam stabilitas sosial dan ekonomi nasional. Salah satu inisiatif yang digagas adalah pembentukan Satuan Tugas (Satgas) PHK, yang dirancang untuk menjadi garda depan dalam mengantisipasi serta menangani kasus PHK secara terstruktur dan kolaboratif.

    Kementerian Ketenagakerjaan telah merancang konsep awal pembentukan Satgas tersebut. Namun, proses pengesahannya masih menunggu keputusan dari Presiden terpilih Prabowo Subianto, yang saat ini sedang melakukan kunjungan kenegaraan ke luar negeri.

    Menteri Ketenagakerjaan, Yassierli, mengatakan bahwa pihaknya telah menyiapkan draf pembentukan Satgas PHK. Draf ini mencakup struktur organisasi, sistem kerja, hingga mekanisme koordinasi antarinstansi dan pemangku kepentingan terkait.

    Menurut Yassierli, pembentukan Satgas PHK merupakan tindak lanjut dari instruksi langsung Presiden Prabowo yang diberikan dua hari sebelum keberangkatannya ke luar negeri. Ia menegaskan bahwa proses teknis telah berjalan dan saat ini tinggal menunggu arahan lanjutan dari Presiden.

    Dalam pernyataannya, Yassierli juga menekankan bahwa proses penyusunan tidak hanya dilakukan oleh Kementerian Ketenagakerjaan saja, melainkan melibatkan Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian. Kolaborasi ini diharapkan memperkuat efektivitas kebijakan yang akan diambil.

    Satgas PHK dirancang bukan hanya untuk mengurusi para korban PHK, tetapi juga bertugas melakukan pemetaan potensi PHK, mencegah terjadinya gelombang PHK massal, hingga menyiapkan skema pelatihan dan penempatan tenaga kerja yang terdampak.

    Yassierli menyebut bahwa pihaknya tengah menyiapkan beberapa opsi kebijakan yang akan diajukan kepada Presiden. Pilihan tersebut diharapkan dapat memberikan solusi komprehensif terhadap tantangan ketenagakerjaan di tengah ketidakpastian ekonomi global.

    Lebih jauh, pihaknya menegaskan bahwa Satgas ini harus bersifat inklusif, melibatkan seluruh unsur strategis dalam ekosistem ketenagakerjaan. Mulai dari unsur pemerintah, akademisi, serikat pekerja, hingga kalangan pengusaha.

    Menurutnya, ini merupakan momen penting untuk membangun kolaborasi lintas sektor demi menciptakan sistem ketenagakerjaan yang adaptif dan berkelanjutan. Menilai keberadaan Satgas PHK akan menjadi model pengelolaan isu ketenagakerjaan yang responsif.

    Sementara itu, ide pembentukan Satgas PHK sendiri awalnya mencuat dari usulan Presiden Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI), Said Iqbal. Usulan ini kemudian diterima langsung oleh Presiden Prabowo Subianto dalam sebuah pertemuan di Jakarta.

    Presiden Prabowo mengakui pentingnya inisiatif tersebut dan langsung memerintahkan kementerian terkait untuk segera merealisasikannya. Ia menyebut Satgas PHK akan menjadi wadah yang efektif untuk memetakan peluang kerja baru bagi para pekerja yang terdampak PHK.

    Presiden Prabowo juga menekankan pentingnya keterlibatan lintas institusi seperti BPJS Ketenagakerjaan, akademisi, dan pelaku industri dalam Satgas ini. Dengan begitu, pendekatan yang diambil dapat lebih komprehensif dan berdampak langsung ke masyarakat.

    Lebih lanjut, satgas ini menjadi jangka menengah pemerintah dalam menciptakan lapangan kerja baru, salah satunya melalui investasi besar-besaran di sektor pertanian. Program ini diproyeksikan mampu menyerap hingga delapan juta tenaga kerja.

    Di sisi lain, tekanan ekonomi global seperti kenaikan tarif impor dari Amerika Serikat mulai dirasakan oleh sektor industri padat karya. Namun, pemerintah menegaskan bahwa PHK bukan satu-satunya solusi yang bisa diambil oleh perusahaan terdampak.

    Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, mengatakan bahwa perusahaan padat karya tidak perlu melakukan PHK sebagai respons atas tekanan eksternal. Pemerintah telah menyiapkan insentif fiskal untuk menjaga stabilitas ketenagakerjaan.

    Salah satu insentif yang diberikan adalah pajak penghasilan (PPh) Pasal 21 Ditanggung Pemerintah (DTP) bagi pekerja dengan gaji di bawah Rp10 juta per bulan. Skema ini bertujuan menjaga daya beli buruh sekaligus mengurangi beban pengusaha.

    Airlangga menyatakan bahwa stimulus tersebut dirancang agar perusahaan tetap mampu mempertahankan tenaga kerja mereka tanpa harus mengambil langkah efisiensi berupa PHK. Hal ini menjadi bagian dari kebijakan mitigasi krisis yang diambil pemerintah.

    Selain itu, pemerintah juga tengah mengembangkan sistem pelatihan kerja berbasis kebutuhan industri (link and match). Skema ini akan ditopang oleh Satgas PHK agar para pekerja yang kehilangan pekerjaan dapat segera dialihkan ke sektor yang masih tumbuh.

    Keberadaan Satgas PHK akan menjadi kanal komunikasi resmi antara pekerja dan pemerintah dalam menyuarakan isu-isu ketenagakerjaan. Diharapkan, pendekatan ini dapat mencegah terjadinya ketegangan antara buruh dan pengusaha akibat keputusan PHK.

    Dengan pembentukan Satgas PHK, pemerintah ingin menunjukkan bahwa mereka tidak tinggal diam menghadapi ancaman gelombang PHK. Langkah ini adalah sinyal kuat bahwa negara hadir dan responsif terhadap keresahan rakyat, khususnya para pekerja.

    Berbagai pihak berharap Satgas PHK dapat segera terbentuk dan bekerja maksimal. Kolaborasi lintas sektor dan dukungan kebijakan yang tepat akan menjadi kunci sukses satuan tugas ini.

    Selain berperan dalam penanganan PHK, Satgas ini juga dirancang untuk memperkuat sistem pendataan tenaga kerja nasional. Dengan data yang akurat dan real-time, pemerintah dapat dengan cepat merespons dinamika ketenagakerjaan serta merancang intervensi yang tepat sasaran, baik dalam bentuk pelatihan vokasi maupun insentif bagi industri strategis.

    Upaya ini diharapkan dapat mengantisipasi dampak lanjutan dari disrupsi ekonomi global dan transformasi digital yang semakin cepat. Dengan Satgas PHK sebagai pusat koordinasi, pemerintah ingin memastikan bahwa Indonesia siap menghadapi tantangan ketenagakerjaan masa depan dengan kebijakan yang adaptif, inklusif, dan berkelanjutan.

    )* Penulis adalah mahasiswa Bandung tinggal di Jakarta

  • Mengapresiasi Rencana Pembentukan Satgas PHK

    Oleh : Gavin Asadit )*

    Pemerintah Indonesia menunjukkan langkah proaktif dalam menjaga stabilitas ketenagakerjaan nasional dengan merencanakan pembentukan Satuan Tugas Pemutusan Hubungan Kerja (Satgas PHK). Langkah ini hadir di tengah meningkatnya kekhawatiran akan meningkatnya angka pemutusan hubungan kerja sebagai imbas dari kenaikan Upah Minimum Provinsi (UMP) tahun 2025 yang mencapai 6,5%. Rencana pembentukan Satgas ini patut diapresiasi, mengingat tantangan dunia kerja yang semakin kompleks akibat perubahan kebijakan, kondisi ekonomi global, serta transformasi digital yang memengaruhi pola kerja dan struktur industri.

    Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, yang dipimpin oleh Airlangga Hartarto, menyampaikan bahwa Satgas PHK akan menjadi lembaga sementara yang bertugas untuk mengkaji dan menangani potensi dan realitas PHK yang terjadi sebagai dampak langsung maupun tidak langsung dari kebijakan kenaikan upah. Pemerintah menyadari bahwa kenaikan UMP, meskipun dimaksudkan untuk meningkatkan kesejahteraan pekerja, dapat menimbulkan tekanan tambahan bagi sektor usaha, khususnya industri padat karya seperti tekstil, garmen, alas kaki, dan sektor manufaktur lainnya.

    Menanggapi rencana pembentukan satgas PHK, Menteri Ketenagakerjaan (Menaker) Yassierli juga mengatakan bahwa pembentukan Satgas PHK sejalan dengan rencana Kemnaker yang telah lama disusun. pembentukan Satgas ini sudah menjadi wacana lama dan telah didiskusikan internal. Atas perintah Presiden, kami segera mengeksekusinya.

    Berdasarkan data dari Kementerian Ketenagakerjaan, hingga Oktober 2024 jumlah pekerja yang terkena PHK telah mencapai 63.947 orang. Angka ini hampir setara dengan jumlah PHK sepanjang tahun 2023 yang mencapai 64.884 orang. Lonjakan ini tentu mengindikasikan adanya tekanan serius yang dihadapi oleh sektor usaha, baik dari sisi biaya operasional yang meningkat maupun menurunnya permintaan pasar. Apabila tidak segera diantisipasi, tren ini berpotensi menimbulkan gelombang pengangguran baru yang akan berdampak terhadap daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi nasional.

    Melalui Satgas PHK, pemerintah ingin memastikan bahwa kebijakan pengupahan tidak menjadi bumerang bagi dunia kerja. Satgas ini tidak hanya akan memonitor dan menganalisis data terkait PHK, tetapi juga diharapkan dapat memberikan rekomendasi strategis berbasis data yang akurat dan faktual. Salah satu tugas utama dari Satgas ini adalah mengidentifikasi sektor-sektor yang paling rentan terhadap PHK serta memetakan penyebab utama terjadinya PHK, baik dari faktor internal perusahaan maupun eksternal, seperti kondisi makroekonomi dan kebijakan perdagangan internasional.

    Langkah ini memperlihatkan bahwa pemerintah mencoba menyeimbangkan antara perlindungan terhadap hak-hak pekerja dengan keberlangsungan usaha. Ini penting karena pada dasarnya pekerja dan pengusaha merupakan dua entitas yang saling bergantung. Kesejahteraan pekerja tidak bisa dilepaskan dari keberlanjutan usaha, dan sebaliknya, produktivitas dan daya saing usaha sangat dipengaruhi oleh kesejahteraan tenaga kerja. Oleh karena itu, pembentukan Satgas PHK juga menjadi momentum penting untuk memperkuat dialog sosial antara pemerintah, pengusaha, dan serikat pekerja.

    Sementara itu, Dirjen Pembinaan Hubungan Industrial dan Jaminan Sosial Tenaga Kerja (PHI dan Jamsos) Kemnaker, Indah Anggoro Putri mengatakan fokus kerja Satgas nantinya melibatkan banyak kementerian dan pemangku kepentingan lintas sektor. Fungsinya tak hanya menangani PHK, tapi juga melakukan mitigasi dan memperluas lapangan kerja.

    Mengingat hal tersebut, apresiasi juga perlu diberikan terhadap inisiatif ini karena menunjukkan adanya pendekatan berbasis kolaborasi. Dalam proses kerjanya, Satgas PHK diharapkan tidak bekerja secara tertutup, tetapi melibatkan banyak pihak, termasuk asosiasi pengusaha, serikat pekerja, akademisi, dan lembaga riset ketenagakerjaan. Keterlibatan semua pihak akan memastikan bahwa setiap rekomendasi yang dihasilkan benar-benar mencerminkan realitas di lapangan dan dapat diterapkan secara efektif.

    Diharapkan kehadiran Satgas PHK juga mendorong adanya reformasi kebijakan ketenagakerjaan yang lebih adaptif terhadap perubahan zaman. Di era digital dan otomatisasi ini, pola kerja dan kebutuhan tenaga kerja terus berubah. Oleh karena itu, pemerintah juga perlu menyiapkan langkah-langkah jangka panjang, termasuk peningkatan keterampilan dan pelatihan ulang (reskilling dan upskilling) tenaga kerja agar mereka tetap relevan di pasar kerja yang baru. Dengan demikian, potensi PHK dapat ditekan bukan hanya dengan kebijakan penanggulangan jangka pendek, tetapi juga melalui pembangunan sistem ketenagakerjaan yang lebih tangguh.

    Langkah lain yang bisa dikembangkan oleh Satgas adalah mendorong peran dunia usaha untuk mengembangkan model bisnis yang lebih adaptif, berkelanjutan, dan berbasis inovasi. Ketika industri mampu menyesuaikan diri dengan perubahan tren global, risiko terjadinya PHK bisa diminimalkan. Satgas juga dapat menjadi jembatan antara dunia usaha dan pemerintah dalam menyuarakan hambatan-hambatan struktural yang mungkin dihadapi, seperti beban regulasi, akses pembiayaan, serta biaya produksi yang meningkat.

    Langkah ini pun akan memperkuat kepercayaan publik bahwa pemerintah hadir dan peduli terhadap nasib pekerja. Di sisi lain, pelaku usaha juga akan merasa bahwa suara mereka didengar dan diperhatikan dalam pengambilan kebijakan publik. Bila dikelola dengan baik, Satgas PHK bisa menjadi model tata kelola ketenagakerjaan yang modern, responsif, dan solutif.

    )* Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial dan Kemasyarakatan

  • Program MBG Dongkrak Perekonomian dan Industri Kuliner Nasional

    Jakarta – Pemerintah terus menunjukkan keberpihakannya terhadap rakyat melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang tidak hanya menjadi fondasi pembangunan sumber daya manusia unggul, tetapi juga mendorong pemulihan ekonomi secara nyata, khususnya di sektor kuliner.

    Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Dadan Hindayana, menegaskan program MBG telah menjadi penyelamat bagi pelaku usaha makanan yang sempat terancam gulung tikar. Dengan adanya permintaan tetap setiap hari, sektor kuliner rakyat kembali hidup dan berkembang.

    “Restoran yang hampir bangkrut, kini bangkit kembali karena memperoleh pelanggan tetap minimal 3.000 per hari,” ungkap Dadan.

    Program MBG menggandeng mitra lokal seperti restoran, katering, dan kantin sekolah untuk menyiapkan makanan bergizi bagi penerima manfaat. Langkah ini secara langsung menghidupkan kembali aktivitas ekonomi lokal dan membuka peluang usaha di berbagai daerah.

    Contoh keberhasilan terlihat pada kantin sekolah Boswa Bina Insani di Bogor, yang kini berkembang menjadi satuan pelayanan gizi untuk ribuan anak di 10 sekolah sekitarnya.

    “Yang tadinya hanya melayani siswa sekolah, kini menjadi pusat pelayanan gizi bagi 3.000 anak. Yayasan yang sebelumnya memperoleh 2-3 juta rupiah per hari, kini meraih hingga 6 juta rupiah per hari,” terangnya.

    Pemerintah juga memperluas jangkauan program ini melalui rencana pembangunan 1.542 satuan pelayanan gizi di wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T). Pendanaan sepenuhnya berasal dari APBN, menunjukkan kehadiran nyata negara untuk mewujudkan keadilan pangan di seluruh pelosok tanah air.

    “Penerima manfaatnya bisa 200 sampai 500 anak, akan kami bangun dekat sekolah dan didanai oleh APBN. Ini bukti nyata bahwa negara hadir,” jelas Dadan.

    Dukungan terhadap program ini juga datang dari kalangan akademisi. Anggota Dewan Ekonomi Nasional (DEN) sekaligus Ahli Kemiskinan, Arief Anshory Yusuf, menyatakan bahwa MBG memiliki efek sistemik luar biasa dalam menciptakan lapangan kerja dan menurunkan kemiskinan.

    “Program ini sangat pro-job. Ia menciptakan hingga 1,9 juta lapangan kerja dan menurunkan angka kemiskinan hingga 5,8 persen,” ungkapnya.

    Lebih lanjut, Arief menyatakan pentingnya penguatan implementasi agar manfaat MBG terus optimal dan berkelanjutan. Ia mendorong pengawasan partisipatif dan tata kelola transparan, yang selaras dengan semangat pemerintah dalam menjalankan program prioritas nasional.

    “Ini adalah flagship bangsa, mari kita jaga dan kawal bersama,” tutup Arief.

    Program MBG dengan segala dampaknya menjadi bukti bahwa kebijakan Presiden Jokowi dan pemerintah saat ini sepenuhnya berpihak kepada rakyat, mendorong kemandirian ekonomi, serta menciptakan masa depan Indonesia yang lebih sehat dan sejahtera.