Kategori: Uncategorized

  • Kolaborasi Bersama Hadapi Risiko Bencana Menghadapi Cuaca Tak Menentu

    Oleh Yuanita Rahmah )*

    Perubahan pola musim yang semakin sulit diprediksi menuntut pemerintah dan masyarakat memperkuat kesiapsiagaan menghadapi risiko bencana hidrometeorologi, terutama ketika memasuki periode musim hujan 2026-2027. Kondisi cuaca yang tidak sepenuhnya mengikuti pola sebelumnya membuat banjir, longsor, kekeringan, krisis air bersih, hingga gangguan terhadap pertanian perlu diantisipasi secara lebih terukur.

    Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG), Prof. Teuku Faisal Fathani, menjelaskan bahwa karakter hujan pada musim 2026-2027 diperkirakan berada pada kondisi normal, tetapi berlangsung dalam durasi yang lebih pendek. Situasi tersebut justru perlu mendapat perhatian karena hujan dalam waktu singkat dapat meningkatkan risiko bencana hidrometeorologi basah, terutama banjir dan longsor.

    BMKG memperkirakan sebagian besar wilayah Indonesia mengalami awal musim hujan yang lebih lambat dibandingkan pola normal. Pengaruh El Nino yang kuat dan Indian Ocean Dipole (IOD) menjadi bagian dari dinamika iklim yang perlu dicermati pemerintah daerah. Sebagian wilayah diperkirakan baru memasuki musim hujan pada November dan Desember, sedangkan puncak musim hujan diprediksi terjadi pada Desember, Januari, dan Februari.

    Perubahan jadwal tersebut menunjukkan bahwa pemerintah daerah tidak dapat menggunakan pola musim tahun-tahun sebelumnya sebagai satu-satunya acuan dalam mengambil keputusan. Informasi cuaca terbaru harus menjadi dasar penyusunan langkah mitigasi, mulai dari pemetaan wilayah rawan banjir dan longsor, kesiapan sarana evakuasi, penguatan komunikasi kebencanaan, sampai perlindungan terhadap sumber air dan lahan pertanian. Sistem peringatan dini juga perlu dipastikan bekerja hingga tingkat desa dan kelurahan karena kecepatan informasi sering menentukan kemampuan warga menyelamatkan diri.

    Faisal juga menilai operasi modifikasi cuaca tidak selalu dapat dilakukan karena pelaksanaannya sangat bergantung pada kondisi atmosfer. Ketika potensi awan konvektif rendah pada puncak musim kemarau, teknologi tersebut menjadi langkah yang bersifat situasional dan tidak bisa dijadikan satu-satunya solusi. Karena itu, pendekatan yang lebih penting adalah memperkuat kesiapan sebelum bencana terjadi.

    Wakil Menko Pangan Hanif Faisol Nurofiq turut mengingatkan kepala daerah agar mencermati perubahan musim yang dapat memengaruhi berbagai sektor. Ketika musim hujan mengalami pergeseran akibat periode kemarau yang lebih panjang, ancaman terhadap ketersediaan air, pangan, kesehatan, dan aktivitas ekonomi dapat muncul secara bersamaan. Pemerintah daerah perlu membangun komitmen lintas sektor dan menyusun kebijakan yang dapat dikoordinasikan dengan kementerian terkait agar ketahanan wilayah tidak hanya bersifat reaktif.

    Langkah serupa terlihat di Provinsi Banten. Pemerintah Provinsi Banten bersama BMKG menyiapkan mitigasi untuk menghadapi mundurnya awal musim hujan yang berpotensi memperpanjang kemarau di sejumlah wilayah. Gubernur Banten Andra Soni menempatkan informasi cuaca BMKG sebagai dasar penting dalam menentukan kebijakan, khususnya untuk mengantisipasi krisis air bersih, dampak terhadap pertanian, persoalan kesehatan, dan potensi bencana hidrometeorologi.

    Pemprov Banten juga memperkuat koordinasi dengan pemerintah kabupaten dan kota untuk mengidentifikasi daerah yang membutuhkan penanganan khusus, sehingga distribusi air bersih dapat dilakukan sebelum kekeringan meluas. Pemerintah daerah bahkan menyiapkan opsi Teknologi Modifikasi Cuaca untuk membantu meningkatkan debit air waduk, termasuk Bendungan Karian, apabila kondisi atmosfer memungkinkan dan kebutuhan di lapangan semakin mendesak. Menurut Andra Soni, sinergi antara pemerintah daerah dan BMKG diperlukan agar rekayasa cuaca dapat diterapkan sesuai kebutuhan.

    Selain kesiapan pemerintah, kedisiplinan masyarakat dalam menjaga saluran air, tidak membuang sampah sembarangan, menghemat air saat kemarau, serta mengikuti arahan petugas menjadi bagian penting dari mitigasi. Kolaborasi tersebut membuat penanganan risiko tidak berhenti pada respons setelah bencana, melainkan bergerak menuju pencegahan yang lebih kuat, cepat, dan berkelanjutan di berbagai daerah.

    Pemerintah selama setahun terakhir juga mencatat sejumlah capaian yang dapat menjadi modal untuk memperkuat ketahanan masyarakat. Salah satu yang menonjol adalah keberhasilan mencapai swasembada pangan pada 2025 lebih cepat dari target awal. Capaian tersebut menunjukkan bahwa penguatan ketahanan pangan dapat berjalan ketika pemerintah dan masyarakat bergerak bersama.

    Capaian pemerintah tersebut tentu tidak otomatis menghapus risiko bencana, tetapi menunjukkan pentingnya kebijakan yang konsisten, koordinasi lintas lembaga, dan kesiapan menghadapi kondisi yang berubah cepat. Penguatan ketahanan pangan juga memiliki hubungan dengan kesiapsiagaan bencana karena gangguan cuaca dapat berdampak langsung terhadap produksi dan distribusi pangan. Oleh sebab itu, keberhasilan di satu sektor perlu diikuti penguatan sektor lain, terutama pengelolaan air, infrastruktur, kesehatan, dan perlindungan masyarakat.

    Menghadapi cuaca yang tidak menentu bukan pekerjaan pemerintah semata. Masyarakat, pemerintah daerah, lembaga kebencanaan, BMKG, dunia usaha, serta komunitas lokal perlu memiliki kesadaran yang sama untuk membaca informasi cuaca dan bertindak lebih awal. Kesiapsiagaan harus dibangun sebelum banjir datang, sebelum air bersih sulit diperoleh, dan sebelum kerusakan akibat longsor meluas.

    Dengan memperkuat koordinasi, menjaga lingkungan, mengikuti informasi resmi, serta mendukung kebijakan mitigasi, Indonesia dapat menghadapi risiko bencana dengan lebih tangguh. Kesadaran untuk bertindak lebih awal harus menjadi budaya bersama agar masyarakat tidak hanya bertahan ketika bencana datang, tetapi mampu mengurangi dampaknya sejak jauh hari.

    )* penulis merupakan pengamat kebijakan publik

  • Kopdes Merah Putih Hadir Memperkuat Ekonomi Desa, Bukan Menggeser Warung Rakyat

    Oleh Atikah Yuliarahmi )*

    Desa memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pertumbuhan ekonomi yang mandiri dan berkelanjutan. Dari sektor pertanian, perdagangan, hingga usaha mikro dan industri rumah tangga, masyarakat desa telah membangun berbagai aktivitas ekonomi yang menjadi sumber penghidupan sekaligus penggerak kesejahteraan. Potensi inilah yang ingin diperkuat pemerintah melalui kehadiran Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih sebagai bagian dari upaya membangun ekosistem ekonomi desa yang lebih produktif, terintegrasi, dan inklusif.

    Kehadiran Kopdes Merah Putih membawa harapan baru bagi masyarakat. Di tengah optimisme tersebut, muncul pula pertanyaan mengenai bagaimana koperasi akan menjalankan perannya berdampingan dengan warung kelontong dan usaha lokal yang telah berkembang. Pertanyaan ini menjadi ruang penting untuk memberikan pemahaman yang utuh bahwa koperasi hadir bukan untuk menggantikan usaha masyarakat, melainkan memperkuat potensi ekonomi yang sudah tumbuh di desa.

    Melalui Instruksi Presiden Nomor 9 Tahun 2025 tentang Percepatan Pembentukan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih, pemerintah berupaya mempercepat penguatan ekonomi berbasis desa. Kebijakan ini menempatkan koperasi sebagai salah satu instrumen untuk meningkatkan kemandirian ekonomi masyarakat, mendukung ketahanan pangan, serta memperluas pemerataan pembangunan. Dengan demikian, Kopdes Merah Putih memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar menjadi unit perdagangan, yakni membangun keterhubungan antarpelaku ekonomi dalam satu ekosistem yang saling menguatkan.

    Pemahaman mengenai peran tersebut sejalan dengan penjelasan Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan yang menegaskan bahwa Kopdes Merah Putih bukan warung ataupun supermarket yang dibentuk untuk bersaing dengan pedagang lokal. Pemerintah memosisikan koperasi sebagai infrastruktur ekonomi sekaligus offtaker atau penyerap hasil produksi masyarakat. Melalui fungsi ini, koperasi diharapkan mampu memperkuat rantai pasok, memperluas jaringan distribusi, dan membuka akses pasar yang lebih baik bagi pelaku usaha desa.

    Dalam praktiknya, koperasi dan warung rakyat memiliki peluang besar untuk membangun hubungan yang saling melengkapi. Koperasi dapat berperan dalam menghubungkan produsen dengan pedagang, membantu menyediakan akses pasokan barang, serta mendukung pemasaran produk lokal. Sementara itu, warung kelontong tetap menjalankan peran pentingnya sebagai penyedia kebutuhan sehari-hari yang dekat dengan kehidupan masyarakat.

    Kolaborasi tersebut dapat menciptakan manfaat bagi kedua pihak. Warung rakyat berpeluang memperoleh pasokan barang melalui jaringan distribusi yang lebih efisien, sedangkan koperasi dapat memperluas jangkauan pelayanannya dengan melibatkan pedagang lokal. Hubungan ini mencerminkan semangat ekonomi gotong royong yang menjadi bagian dari jati diri koperasi, ketika kemajuan satu pelaku usaha turut membuka kesempatan bagi pelaku usaha lainnya untuk berkembang.

    Peran koperasi sebagai penghubung antara produksi dan pasar menjadi semakin penting dalam membangun perekonomian desa yang berkelanjutan. Kemajuan ekonomi tidak hanya ditentukan oleh kemampuan masyarakat menghasilkan barang, tetapi juga oleh kesempatan memperoleh pasar yang lebih luas dan nilai tambah yang lebih baik. Melalui dukungan kelembagaan yang kuat, koperasi dapat membantu menciptakan peluang tersebut sekaligus memperkuat daya saing produk masyarakat.

    Sejalan dengan tujuan itu, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto menjelaskan bahwa Kopdes Merah Putih juga memiliki fungsi sebagai infrastruktur pemerintah dalam mendukung penyaluran komoditas bersubsidi. Melalui mekanisme tersebut, pemerintah ingin memastikan masyarakat memperoleh manfaat subsidi secara lebih optimal. Fungsi ini sekaligus memperlihatkan bagaimana koperasi dapat menjadi penghubung antara kebijakan pemerintah dan kebutuhan nyata masyarakat desa.

    Hal lain yang tidak kalah penting adalah memahami karakteristik dan potensi ekonomi setiap desa. Desa yang bertumpu pada pertanian tentu memiliki kebutuhan berbeda dengan wilayah yang mengandalkan perdagangan, perikanan, atau industri rumah tangga. Karena itu, pengembangan koperasi perlu menyesuaikan kondisi setempat agar kegiatan usahanya mampu menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus melengkapi aktivitas ekonomi yang telah berjalan.

    Dalam jangka panjang, Kopdes Merah Putih juga dapat menjadi ruang tumbuh bagi generasi muda desa. Perkembangan teknologi digital, pengelolaan logistik, pemasaran produk, hingga pengolahan hasil pertanian menghadirkan peluang ekonomi baru yang dapat dikembangkan melalui koperasi. Dengan dukungan tersebut, generasi muda memiliki kesempatan lebih luas untuk membangun usaha, meningkatkan keterampilan, dan mengembangkan potensi tanpa harus meninggalkan desanya.

    Gagasan pemerintah untuk menghadirkan pusat aktivitas ekonomi produktif di setiap desa menjadi langkah yang patut didukung. Keberhasilan Kopdes Merah Putih juga perlu dilihat dari manfaat nyata yang dirasakan masyarakat. Semakin luas keterlibatan pelaku usaha lokal, semakin terbuka akses pasar bagi petani, dan semakin banyak kesempatan ekonomi bagi generasi muda, semakin kuat pula kontribusi koperasi terhadap pembangunan desa.

    Kopdes Merah Putih merupakan bagian dari upaya membangun ekonomi desa yang memberikan ruang pertumbuhan bagi seluruh lapisan masyarakat. Kehadirannya tidak perlu dipandang sebagai ancaman bagi warung rakyat, melainkan sebagai peluang untuk memperkuat kerja sama, memperbaiki distribusi, dan mengembangkan potensi usaha lokal melalui semangat kebersamaan. Dengan kolaborasi yang sehat antara koperasi, warung rakyat, petani, pelaku UMKM, dan pemerintah, desa dapat tumbuh menjadi pusat kegiatan ekonomi yang semakin mandiri dan berdaya saing.

    )* penulis merupakan pengamat kebijakan publik

  • KDMP Papua Perkuat Ekonomi Kerakyatan dan Kemandirian Masyarakat

    Oleh: Markus Wenda*

    Pada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka, penguatan ekonomi kerakyatan melalui Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP) menjadi salah satu langkah strategis untuk memperluas pemerataan pembangunan hingga ke Papua. Program ini mencerminkan komitmen pemerintah dalam membangun ekonomi yang bertumpu pada masyarakat, memperkuat distribusi kebutuhan pokok, serta membuka peluang usaha bagi warga di tingkat kampung. Bagi Papua, KDMP tidak sekadar menghadirkan fasilitas ekonomi baru, tetapi juga menawarkan kesempatan untuk mengoptimalkan potensi lokal dan memperkuat kemandirian masyarakat.

    Papua memiliki kekayaan sumber daya ekonomi yang besar, mulai dari pertanian, perkebunan, perikanan, hingga berbagai produk usaha mikro, kecil, dan menengah. Namun, tantangan geografis, keterbatasan infrastruktur, dan jarak distribusi masih memengaruhi akses pasar masyarakat. Dalam situasi tersebut, kehadiran KDMP berpotensi menjadi penghubung antara produsen lokal dan konsumen, sekaligus memperpendek rantai distribusi barang. Apabila dikelola secara profesional, koperasi dapat membantu memastikan potensi ekonomi kampung menghasilkan manfaat yang lebih luas bagi masyarakat setempat.

    Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menegaskan bahwa pemerintah terus memperkuat peran Koperasi Desa Merah Putih sebagai pusat layanan ekonomi masyarakat. Koperasi dirancang untuk mendukung distribusi berbagai program pemerintah, termasuk bantuan sosial, bantuan pangan, pupuk bersubsidi, serta penyerapan hasil pertanian dan perikanan. Koperasi juga berpotensi mendukung pemanfaatan alat dan mesin pertanian secara bersama melalui sistem pengelolaan yang teratur. Dengan fungsi tersebut, KDMP diharapkan menjadi simpul pelayanan ekonomi yang mendekatkan program pemerintah kepada masyarakat sekaligus mendorong kegiatan usaha produktif.

    Perkembangan pembangunan gerai KDMP di Kabupaten Nabire dan Kabupaten Mimika, Papua Tengah, memperlihatkan upaya memperkuat infrastruktur ekonomi di tingkat lokal. Enam gerai dilaporkan telah menyelesaikan pembangunan fisiknya, terdiri atas empat gerai di Nabire dan dua gerai di Mimika. Capaian ini menjadi modal awal untuk mempersiapkan kegiatan koperasi yang lebih dekat dengan masyarakat. Tahapan selanjutnya adalah memastikan kesiapan pengelola, kelengkapan administrasi, ketersediaan pasokan, dan perencanaan usaha agar fasilitas tersebut dapat memberikan manfaat ekonomi secara berkelanjutan.

    Pengembangan KDMP Limau Asri Timur di Kabupaten Mimika juga memperlihatkan pentingnya partisipasi masyarakat. Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Mimika, Samuel Yogi, menekankan bahwa warga perlu menjadi anggota sekaligus pemilik koperasi. Prinsip tersebut penting karena keberhasilan koperasi tidak hanya bergantung pada dukungan pemerintah, tetapi juga pada keterlibatan masyarakat dalam pengambilan keputusan, pengawasan, dan pengembangan usaha. Semakin kuat partisipasi anggota, semakin besar peluang koperasi tumbuh sebagai lembaga ekonomi yang transparan, produktif, dan berorientasi pada kepentingan bersama.

    Dari perspektif pembangunan Papua, keterlibatan orang asli Papua (OAP) menjadi bagian penting dalam pengembangan KDMP. Orang asli Papua tidak hanya perlu ditempatkan sebagai penerima manfaat, tetapi juga didorong menjadi pengurus koperasi, manajer usaha, tenaga administrasi, tenaga distribusi, pemasok produk lokal, dan pelaku UMKM. Pelibatan tersebut dapat membuka kesempatan kerja sekaligus memperkuat kemampuan masyarakat dalam mengelola kegiatan ekonomi secara mandiri. Dengan dukungan pelatihan, pendampingan, dan akses pembiayaan yang sesuai, KDMP berpotensi menjadi ruang bagi peningkatan keterampilan dan tumbuhnya wirausaha lokal.

    Pemerintah juga memperkuat kesiapan sumber daya manusia untuk menjalankan koperasi. Zulkifli Hasan menyampaikan bahwa penempatan manajer sedang diproses untuk sekitar 28 ribu koperasi. Data pemerintah pada akhir September 2026 mencatat sebanyak 28.620 calon manajer telah menerima surat keputusan penempatan dari PT Agrinas Pangan Nusantara, dan lebih dari 85 persen dilaporkan telah menyatakan kesediaan ditempatkan. Para manajer dijadwalkan mulai bertugas pada Oktober 2026. Penyiapan pengelola ini diharapkan mendukung profesionalisme, memperkuat administrasi, serta meningkatkan kualitas pelayanan koperasi di berbagai daerah.

    Di Papua, pengembangan usaha koperasi perlu disesuaikan dengan karakteristik setiap wilayah. Koperasi di kawasan pertanian dapat membantu menampung dan memasarkan hasil panen, sedangkan koperasi di wilayah pesisir dapat mendukung pemasaran hasil perikanan. Produk UMKM, kerajinan, dan hasil produksi masyarakat juga dapat dipasarkan melalui jaringan koperasi agar memiliki jangkauan konsumen yang lebih luas. Dengan demikian, perputaran uang dapat semakin berkembang di tingkat kampung dan memberikan peluang ekonomi bagi keluarga, petani, nelayan, serta pelaku usaha lokal, termasuk orang asli Papua.

    Dua tahun pemerintahan Prabowo–Gibran menjadi momentum untuk memperkuat fondasi ekonomi kerakyatan melalui KDMP. Bagi Papua, program ini menawarkan peluang untuk menghubungkan potensi lokal dengan pasar, memperluas kesempatan kerja bagi orang asli Papua, dan meningkatkan akses masyarakat terhadap kebutuhan pokok serta layanan ekonomi. Dengan kolaborasi pemerintah, pengelola koperasi, pelaku usaha, dan masyarakat, KDMP dapat berkembang menjadi penggerak ekonomi kampung yang produktif.

    Pada akhirnya, keberhasilan KDMP Papua akan tercermin ketika koperasi mampu tumbuh bersama masyarakat, menyerap tenaga kerja lokal, memasarkan produk unggulan daerah, dan memperkuat kemandirian ekonomi kampung. Dukungan pemerintah perlu diiringi tata kelola profesional dan kepemilikan aktif masyarakat agar manfaat program dapat dirasakan secara nyata. Dengan pendekatan tersebut, KDMP berpeluang menjadi salah satu fondasi pemerataan pembangunan Papua sekaligus memperkuat arah pembangunan nasional yang inklusif dan berkelanjutan.

    *Penulis merupakan Pemerhati Pembangunan dan Ekonomi Kerakyatan Papua

  • Kopdes Merah Putih Jamin Subsidi Negara Tepat di Tangan Rakyat

    Oleh: Sadiman Drajat *)

    Upaya pemerintah dalam memperkuat kesejahteraan warga pedesaan kini memasuki babak baru yang lebih nyata dan berdampak langsung. Melalui pengoperasian Koperasi Desa Merah Putih secara serentak sejak awal Oktober 2026, pemerintah mengambil langkah tegas untuk memastikan seluruh program bantuan dan barang bersubsidi negara dapat menjangkau titik paling bawah di pelosok negeri. Keberadaan wadah ekonomi berbasis desa ini tidak sekadar bertindak sebagai tempat bertransaksi dagang sehari-hari, melainkan berdiri sebagai benteng utama yang mendekatkan berbagai hak ekonomi masyarakat desa tanpa terhalang tembok birokrasi maupun jalur distribusi yang rumit.

    Selama bertahun-tahun, persoalan klasik dalam penyaluran barang bersubsidi di wilayah pedesaan selalu bermuara pada panjangnya alur distribusi. Rantai logistik yang berbelit dari tingkat pusat, daerah, hingga ke pedagang perantara kerap memicu kenaikan harga yang membebaskan masyarakat di tingkat akhir. Selain itu, alur yang terlampau panjang sangat rentan terhadap potensi penyimpangan, kelangkaan buatan, serta kebocoran pasokan yang membuat barang bersubsidi jatuh ke tangan pihak yang tidak berhak. Dengan menetapkan Koperasi Desa Merah Putih sebagai saluran utama, pemerintah secara langsung memotong mata rantai perantara yang tidak efisien tersebut. Barang-barang bersubsidi kini dialirkan secara teratur dari produsen resmi menuju titik terdepan di setiap desa.

    Langkah strategis ini sejalan dengan arahan tegas dari Presiden Prabowo Subianto yang menginstruksikan agar seluruh barang bersubsidi milik pemerintah dipusatkan penyalurannya melalui jaringan Koperasi Desa Merah Putih. Kebijakan mendasar ini diambil untuk menegaskan kembali posisi barang bersubsidi sebagai hak murni warga kelas menengah ke bawah yang tidak boleh dijadikan bahan komoditas spekulasi pasar bebas. Arahan tersebut memberikan kepastian hukum dan operasional yang sangat kuat, bahwa seluruh potensi negara dikerahkan untuk melindungi daya beli masyarakat perdesaan dari gejolak harga yang tidak menentu.

    Melalui skema penyaluran satu pintu ini, berbagai komoditas penting dapat dinikmati warga desa secara mudah, teratur, dan terjangkau. Masyarakat kini bisa mendapatkan beras dari program Stabilisasi Pasokan dan Harga Pangan (SPHP), beras subsidi bantuan pangan, tabungan gas LPG 3 kilogram, hingga pupuk bersubsidi untuk para petani langsung di lingkungan tempat tinggal mereka. Tidak hanya itu, keberadaan koperasi ini juga memfasilitasi akses bantuan pembiayaan usaha melalui program PNM Mekaar yang dilengkapi suku bunga bersubsidi. Semua bentuk layanan prioritas ini berada dalam satu tempat terpadu, sehingga warga desa tidak perlu lagi membuang energi, waktu, dan biaya transportasi hanya untuk mencari kebutuhan dasar ke wilayah perkotaan.

    Kelancaran pasokan barang di lapangan disokong penuh oleh komitmen nyata badan usaha milik negara. Direktur Utama Perum Bulog Ahmad Rizal Ramdhani menyampaikan bahwa pihak Bulog memberikan kelonggaran dan jaminan penuh atas ketersediaan beras SPHP bagi jaringan Koperasi Desa Merah Putih tanpa adanya batasan kuota. Kebijakan ini merupakan bentuk dukungan khusus yang amat berbeda dibandingkan perlakuan terhadap pedagang eceran di pasar tradisional yang umumnya dibatasi volume pemesanannya. Bulog menyatakan siap memenuhi berapa pun besaran pesanan yang diajukan oleh jaringan koperasi ini, diiringi fasilitas pembayaran sistem konsinyasi dengan tempo 30 hari agar perputaran keuangan dan permodalan koperasi desa tetap berjalan stabil.

    Pada saat yang sama, Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menjelaskan bahwa seluruh tahapan persiapan operasional Koperasi Desa Merah Putih telah disusun secara sistematis sejak awal Oktober 2026. Penyiapan manajemen pengelola, agenda evaluasi rutin bersama para pimpinan badan usaha terkait, hingga penempatan dan pembagian tugas pramuniaga di lapangan dikerjakan dengan sangat cermat. Pengaturan operasional yang disiplin ini menunjukkan komitmen kuat pemerintah agar kelembagaan koperasi desa dapat bekerja secara transparan, profesional, dan mampu memberikan pelayanan terbaik secara berkelanjutan kepada seluruh warga lokal.

    Percepatan integrasi saluran subsidi ini kian kokoh melalui tersedianya payung hukum serta sinergi erat lintas lembaga. Kepala Staf Kepresidenan Dudung Abdurachman menyampaikan bahwa landasan aturan pengelolaan Koperasi Desa Merah Putih secara langsung mendorong koordinasi intensif antara kementerian teknis, penyedia energi nasional, hingga produsen pupuk demi memastikan proses pengiriman barang tidak mengalami kendala teknis. Kepastian dukungan operasional dan perlindungan bagi para pengelola di tingkat lapangan juga dijamin penuh oleh negara, sehingga koperasi dapat berfokus sepenuhnya pada pelaksanaan fungsi pelayanan publik secara optimal.

    Penetapan Koperasi Desa Merah Putih sebagai saluran utama penyaluran barang bersubsidi merupakan terobosan kebijakan yang sangat memihak pada kepentingan rakyat kecil. Kebijakan ini tidak hanya menghidupkan kembali semangat gotong royong dan kemandirian ekonomi perdesaan, tetapi juga memastikan bahwa anggaran belanja subsidi yang dikeluarkan negara benar-benar tepat sasaran dan berdaya guna. Ketika seluruh kebutuhan pokok bersubsidi dapat dijangkau warga secara mudah, murah, dan adil di desanya sendiri, maka pemerataan ekonomi dan keadilan sosial bukan lagi sebatas cita-cita, melainkan kenyataan yang dapat dirasakan langsung oleh seluruh rakyat Indonesia.

    *) Pengamat Kebijakan Publik dan Kemasyarakatan

  • Kopdes Merah Putih Tumbuh Sesuai Potensi Desa dan Kebutuhan Masyarakat

    Oleh: Rahmat Haryanto )*

    Koperasi Desa Merah Putih (Kopdes Merah Putih) menjadi salah satu langkah strategis pemerintah untuk memperkuat ekonomi kerakyatan dari tingkat desa. Melalui pengembangan usaha yang sesuai dengan potensi wilayah dan kebutuhan masyarakat, koperasi diharapkan mampu memperluas akses terhadap barang kebutuhan pokok, memperkuat pemasaran produk lokal, serta meningkatkan nilai tambah hasil produksi warga. Program ini membuka peluang bagi desa untuk mengoptimalkan sumber daya yang dimiliki sekaligus memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat secara berkelanjutan.

    Setiap desa memiliki karakteristik ekonomi, sumber daya, dan peluang usaha yang berbeda. Desa berbasis pertanian, misalnya, memiliki potensi dalam penyediaan pupuk, benih, sarana produksi, dan pemasaran hasil panen. Sementara itu, desa dengan potensi perikanan dapat mengembangkan penyimpanan, pengolahan, serta distribusi hasil tangkapan. Keberagaman tersebut menjadi modal penting bagi Kopdes Merah Putih untuk tumbuh melalui model bisnis yang sesuai dengan karakteristik wilayah masing-masing.

    Pengamat ekonomi Universitas Negeri Semarang, Dr. Vitradesie Noekent, S.E., M.M., menjelaskan bahwa pengembangan Kopdes Merah Putih dapat dilakukan melalui peta jalan atau roadmap usaha yang disusun secara bertahap. Menurut Vitradesie, koperasi dapat memprioritaskan bidang usaha yang paling relevan dengan kondisi lokal, kemudian memperluas kegiatan seiring perkembangan kapasitas organisasi, permodalan, dan kebutuhan pasar. Pendekatan tersebut memberikan ruang bagi setiap koperasi untuk berkembang berdasarkan potensi yang tersedia.

    Pengembangan secara bertahap juga memungkinkan koperasi membangun fondasi bisnis yang terarah. Pemetaan kebutuhan masyarakat, identifikasi peluang pasar, dan penentuan prioritas usaha dapat menjadi dasar penyusunan rencana bisnis. Dengan perencanaan tersebut, Kopdes Merah Putih dapat mengembangkan kegiatan ekonomi yang relevan sekaligus memperkuat manfaatnya bagi anggota dan masyarakat sekitar.

    Pada desa yang memiliki basis pertanian, koperasi dapat memprioritaskan penyediaan pupuk, benih, dan sarana produksi pertanian. Koperasi juga dapat membantu mengumpulkan hasil panen dan menghubungkan petani dengan pasar melalui peran sebagai offtaker atau pembeli hasil produksi. Pola ini membuka peluang bagi petani untuk memperoleh akses pemasaran yang lebih luas sekaligus memperkuat rantai pasok produk pertanian di tingkat desa.

    Adapun desa yang memiliki potensi perikanan dapat mengembangkan usaha penyimpanan dingin atau cold storage, pengolahan hasil laut, serta distribusi ikan. Di wilayah dengan aktivitas perdagangan yang kuat, koperasi dapat mengembangkan penyediaan sembako, pergudangan, dan logistik. Jenis usaha lain, seperti simpan pinjam, apotek, dan layanan kesehatan, juga dapat menjadi pilihan sesuai kebutuhan masyarakat, potensi pasar, serta ketentuan yang berlaku.

    Keragaman model bisnis tersebut memperlihatkan bahwa Kopdes Merah Putih memiliki peluang untuk tumbuh secara adaptif. Setiap koperasi dapat menentukan prioritas berdasarkan keunggulan wilayahnya, sehingga kegiatan usaha semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat. Dengan demikian, program ini berpotensi menjadi penghubung antara sumber daya desa, aktivitas produksi warga, dan kebutuhan pasar.

    Vitradesie Noekent juga menekankan pentingnya fungsi koperasi sebagai agregator produk masyarakat. Dalam peran tersebut, Kopdes Merah Putih dapat menghimpun produk UMKM, hasil pertanian, dan hasil perikanan untuk dipasarkan serta didistribusikan kepada konsumen dan mitra usaha. Fungsi agregator dapat membantu produk lokal menjangkau pasar yang lebih luas sekaligus memperkuat posisi pelaku usaha dalam rantai distribusi.

    Peran tersebut membuka kesempatan bagi petani, nelayan, dan pelaku UMKM untuk berkembang bersama koperasi. Mereka dapat menjadi pemasok produk, sementara koperasi membantu mempertemukan hasil produksi dengan jaringan pembeli dan distribusi. Sinergi ini memungkinkan Kopdes Merah Putih hadir sebagai mitra usaha masyarakat sekaligus memperkuat kegiatan ekonomi yang telah tumbuh di desa.

    Keberhasilan pengembangan koperasi juga ditunjang oleh tata kelola yang profesional, transparansi keuangan, serta partisipasi anggota. Pengurus dapat menyusun prioritas usaha berdasarkan kebutuhan warga dan perkembangan pasar, sedangkan anggota berperan dalam menentukan arah pengembangan koperasi. Pengelolaan yang baik akan memperkuat kepercayaan masyarakat dan mendukung kesinambungan kegiatan usaha.

    Kemitraan dengan perbankan, pemerintah desa, pemerintah daerah, dan pelaku usaha turut membuka peluang pengembangan ekosistem ekonomi lokal. Kolaborasi tersebut dapat mendukung akses pembiayaan, peningkatan keterampilan pengelola, penguatan kapasitas produksi, serta perluasan jaringan pemasaran. Dengan dukungan berbagai pihak, koperasi berpeluang menjadi simpul penggerak ekonomi yang menghubungkan potensi desa dengan kesempatan usaha yang lebih luas.

    Pada akhirnya, Kopdes Merah Putih merupakan peluang strategis untuk memperkuat ekonomi kerakyatan dan mendorong kemandirian desa. Pengembangan usaha yang sesuai dengan potensi lokal, didukung tata kelola profesional dan kemitraan yang kuat, dapat membantu meningkatkan nilai tambah produk masyarakat serta memperluas manfaat ekonomi bagi anggota.

    Melalui Kopdes Merah Putih, desa memiliki kesempatan untuk mengoptimalkan keunggulan wilayah, memperkuat UMKM, dan membangun jaringan usaha yang saling mendukung. Dengan semangat gotong royong dan pengembangan yang berkelanjutan, program ini diharapkan menjadi bagian penting dari upaya pemerintah memperkuat ekonomi desa, meningkatkan kesejahteraan masyarakat, dan mewujudkan pembangunan yang semakin merata.

    )* Penulis merupakan Pengamat Ekonomi Pembangunan

  • Dua Tahun Prabowo–Gibran, Kopdes Merah Putih Buka Akses Pasar Produk Lokal Papua

    TIMIKA – Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih) didorong menjadi penghubung antara produk lokal Papua dan pasar yang lebih luas. Melalui koperasi, hasil pertanian dan perikanan masyarakat dapat dihimpun, dikelola, serta dipasarkan secara lebih terorganisasi.

    Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menjelaskan bahwa koperasi ini dirancang sebagai pusat kegiatan ekonomi masyarakat, termasuk mendukung distribusi kebutuhan pokok, penyediaan sarana produksi, dan pemasaran hasil usaha warga.

    “Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih di Papua diharapkan menjadi pusat kegiatan ekonomi masyarakat, mulai dari penyaluran kebutuhan pokok dan sarana produksi pertanian hingga penampungan serta pemasaran hasil pertanian dan perikanan. Dengan begitu, potensi lokal dapat dikembangkan dan masyarakat memperoleh akses pasar yang lebih luas,” ujar Zulkifli Hasan.

    Di Kabupaten Mimika, Papua Tengah, Kopdes Merah Putih Limau Asri Timur di kawasan SP 5 diarahkan menjadi pusat kegiatan ekonomi masyarakat. Koperasi tersebut diharapkan tidak hanya menyediakan kebutuhan sehari-hari, tetapi juga menampung hasil pertanian dan produk lokal agar memiliki jalur pemasaran yang lebih terorganisasi.

    Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kabupaten Mimika Samuel Yogi, S.H., M.H. menekankan pentingnya pemanfaatan potensi lokal untuk menggerakkan perekonomian masyarakat. Komoditas pertanian dan hasil produksi warga dapat dikumpulkan melalui koperasi sebelum dipasarkan kepada konsumen yang lebih luas.
    “Potensi lokal harus digali. Tujuannya bagaimana menggerakkan ekonomi lokal supaya tumbuh,” ujar Samuel.

    Potensi pertanian Limau Asri turut menjadi perhatian pemerintah daerah. Staf Ahli Bupati Mimika Bidang Ekonomi, Keuangan dan Pembangunan Petrus Pali Amba, S.T., M.T. menilai kawasan tersebut memiliki peluang berkembang sebagai sentra produksi beras apabila didukung peningkatan hasil panen dan pemasaran yang baik. Melalui penampungan dan distribusi yang terorganisasi, hasil pertanian diharapkan memiliki nilai ekonomi lebih tinggi dan memberikan manfaat langsung bagi petani.

    “Kalau hasil panen padi sudah melimpah, masyarakat di kota tentu akan datang membeli beras dari Limau Asri,” jelas Petrus.

    Asisten Deputi Pengawasan Penataan Usaha Naslindo Sirait mengingatkan bahwa pembangunan fasilitas fisik perlu diikuti kesiapan pengelolaan dan strategi usaha agar koperasi dapat beroperasi secara produktif.

    “Di samping berfungsi menjadi gerai, kita juga berharap tempat ini dimanfaatkan untuk mendorong bagaimana ekonomi masyarakat bisa tumbuh,” ujar Naslindo.

    Dalam dua tahun pemerintahan Prabowo–Gibran, pengembangan koperasi desa menjadi salah satu upaya memperkuat ekonomi berbasis masyarakat. Dengan pengelolaan profesional dan partisipasi masyarakat, Kopdes Merah Putih diharapkan memperluas akses pasar bagi produk lokal, meningkatkan peluang usaha, dan mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat Papua. (*)

  • Kehadiran Kopdes Merah Putih Dorong Pengembangan Potensi Ekonomi Desa dan Wisata Alam

    Sumatera Utara – Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) didorong menjadi penggerak ekonomi masyarakat melalui pengembangan potensi lokal yang selaras dengan pelestarian lingkungan. Upaya ini dilakukan melalui penguatan koperasi pemasaran, pengembangan pariwisata, hingga pelibatan pemuda dalam mengoptimalkan komoditas unggulan desa.

    Menteri Koperasi Ferry Juliantono mengatakan pengembangan koperasi di Kabupaten Toba, Sumatera Utara, diarahkan untuk memperkuat usaha masyarakat sekaligus mendukung pelestarian Danau Toba. Hal itu disampaikannya saat meninjau KDKMP Desa Patane Pasifik Porsea.

    Dalam kesempatan tersebut, Ferry meresmikan Koperasi Komite Masyarakat Danau Toba (KMDT) Pemasaran Sejahtera dan pusat kajian yang berfokus pada penelitian, pariwisata, serta pengembangan ekonomi berkelanjutan.

    “Tempat ini akan dikembangkan menjadi pusat penelitian, pariwisata, dan pengembangan ekonomi berkelanjutan yang berfokus pada pelestarian Danau Toba sekaligus peningkatan kesejahteraan warga sekitar,” kata Ferry dalam keterangan tertulis.

    Koperasi pemasaran tersebut diharapkan dapat menyerap dan memasarkan hasil produksi KDKMP, termasuk hasil bumi dan kerajinan masyarakat, sehingga memiliki nilai tambah melalui pemasaran bersama.

    Ferry juga menyepakati percepatan operasionalisasi KDKMP di Kabupaten Toba, meliputi penempatan manajer profesional, serah terima aset bangunan, serta penyusunan model bisnis dan rencana pengembangan usaha.

    “Semoga menjadi bukti bahwa kesejahteraan dan pelestarian alam dapat berjalan beriringan,” ujarnya.

    Wakil Bupati Toba Audi Murphy Sitorus menyebutkan terdapat 243 koperasi desa dan 13 koperasi kelurahan yang telah berbadan hukum di wilayahnya. Pembangunan fisik telah selesai pada 41 unit, dengan 12 unit di antaranya rampung 100 persen.

    Di sisi lain, Wakil Menteri Koperasi Farida Farichah mendorong keterlibatan pemuda untuk mempercepat aktivasi KDKMP melalui pemetaan potensi ekonomi desa di Kabupaten Lamongan, Jawa Timur.

    “Kita berharap jaringan KNPI sampai desa menjadi penggeraknya, motornya, untuk pergerakan aktivasi Koperasi Desa Merah Putih,” kata Farida saat menghadiri pelantikan pengurus KNPI Lamongan.

    Farida menilai koperasi tidak hanya berfokus pada gerai sembako, tetapi juga dapat mengembangkan Gerai Potensi Desa untuk mengomersialkan produk lokal dan komoditas unggulan.

    Melalui kolaborasi pemerintah, pengurus koperasi, dan pemuda, KDKMP diharapkan mampu memperluas peluang usaha, meningkatkan kesejahteraan warga, serta mendorong pemanfaatan potensi desa secara berkelanjutan.

  • Dua Tahun Prabowo–Gibran, Kopdes Merah Putih Disiapkan Jadi Simpul Ekonomi Desa

    Jakarta – Menjelang dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran, Kopdes Merah Putih dikembangkan untuk memperkuat ekonomi dan ketahanan pangan desa. Koperasi ini dirancang menjadi simpul layanan warga melalui toko sembako, unit simpan pinjam, klinik, apotek, dan gudang pendingin.

    Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan mengatakan Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) disiapkan sebagai penyerap hasil komoditas, penyalur subsidi, simpul logistik, serta pendukung program Makan Bergizi Gratis.

    “Sekarang sudah berjalan dengan baik. Sekarang ya, penempatan manajer-manajer sudah,” ujar Zulhas.

    Zulhas menyebut sekitar 28 ribu koperasi telah dipersiapkan untuk dikelola oleh manajer profesional.

    “Ya, 28 ribuan,” ucap Zulhas.

    Sementara itu, Kementerian Koperasi mencatat lebih dari 85 persen dari 28.620 calon manajer telah menyatakan bersedia ditempatkan per 28 September 2026. Menurut jadwal yang disampaikan Kemenkop pada September, calon manajer yang telah menyelesaikan proses konfirmasi dijadwalkan mulai bertugas pada Oktober 2026.

    Penyiapan manajer menjadi bagian dari penguatan pengelolaan koperasi. Pemerintah mengembangkan layanan Kopdes agar dapat menjawab kebutuhan masyarakat sekaligus mendukung kegiatan ekonomi di desa.

    Terkait hal itu, Menteri Desa dan Pembangunan Daerah Tertinggal Yandri Susanto mengatakan pengembangan Kopdes berjalan bersama upaya mendorong desa mandiri menjadi desa industri. Kebijakan tersebut diarahkan untuk memperluas kegiatan ekonomi sesuai potensi daerah.

    “Desa mandiri kita naikkan menjadi desa industri. Jadi akan terjadi ada circle ekonomi yang lebih tinggi lagi,” ujar Yandri.

    Menurut Yandri, Kopdes juga dirancang menyediakan akses pinjaman berbunga rendah dari bank Himbara bagi warga yang membutuhkan pembiayaan.

    “Maka akan hadir nanti di Kopdes itu pinjaman yang dari Bank Himbara dengan bunga rendah. Nah itu kan solusi,” katanya.

    Selain pembiayaan, pupuk dan LPG bersubsidi direncanakan menjadi bagian dari layanan Kopdes. Yandri mengatakan koperasi tersebut akan membantu penyaluran barang bersubsidi kepada masyarakat yang berhak.

    “Kopdes akan menjadi alat pemerintah untuk memastikan bahwa barang-barang bersubsidi ini benar-benar dinikmati oleh rakyat yang benar-benar harus mendapatkan subsidi,” ucapnya.

    Yandri menyampaikan Kopdes akan menjadi aset desa, dengan manfaat usaha yang diarahkan bagi masyarakat setempat.***

  • Pemerintah Perkuat Kopdes Merah Putih untuk Percepat Distribusi Bantuan di Papua

    PAPUA – Pemerintah terus memperkuat peran Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) sebagai pusat layanan ekonomi masyarakat sekaligus mempercepat distribusi bantuan pemerintah di Papua. Program ini diarahkan untuk memperluas akses masyarakat terhadap kebutuhan pokok, meningkatkan produktivitas pertanian, serta memperkuat perekonomian desa melalui jaringan koperasi yang terintegrasi.

    Menteri Koordinator Bidang Pangan Zulkifli Hasan menyampaikan hal tersebut dalam rapat koordinasi bersama Pemerintah Provinsi Papua di Kantor Gubernur Papua, Selasa (14/7). Pertemuan itu membahas pelaksanaan program prioritas Presiden di bidang pangan dengan melibatkan perwakilan pemerintah daerah di Papua.

    Zulkifli menegaskan, KDMP tidak hanya berfungsi sebagai tempat berbelanja, tetapi juga menjadi simpul distribusi berbagai program pemerintah.

    “Koperasi ini dipastikan tidak hanya berfungsi sebagai tempat berbelanja, tetapi akan menjadi simpul distribusi berbagai program pemerintah, mulai dari bantuan sosial, pupuk bersubsidi, hingga penyerapan hasil pertanian dan perikanan,” ujarnya.

    Melalui skema tersebut, penyaluran bantuan pangan, bantuan tunai, pupuk bersubsidi, alat dan mesin pertanian (alsintan), serta LPG 3 kilogram direncanakan terintegrasi melalui koperasi. Langkah ini diharapkan mendukung distribusi yang lebih terorganisasi sekaligus memudahkan masyarakat mengakses berbagai layanan ekonomi.

    Zulkifli juga menjelaskan bahwa koperasi akan berperan dalam pengelolaan alsintan yang dapat dimanfaatkan bersama oleh masyarakat melalui mekanisme sewa.

    “Alsintan nantinya ditempatkan di koperasi. Siapa pun yang membutuhkan dapat menggunakannya dengan sistem sewa. Dari situ koperasi juga memperoleh pendapatan,” jelasnya.

    Untuk mendukung kelancaran operasional, pemerintah merencanakan bantuan satu unit truk bagi setiap KDMP sebagai sarana transportasi distribusi barang.

    Pengembangan infrastruktur koperasi juga berlangsung di Papua Tengah. Kepala Seksi Teritorial Korem 173/PVB Kolonel Inf Fajar Wibawa Angkasa mengatakan enam gerai KDMP telah selesai dibangun, terdiri atas empat gerai di Kabupaten Nabire dan dua gerai di Kabupaten Mimika.

    “KDMP yang sudah selesai pembangunannya ada empat titik di Kabupaten Nabire dan dua titik di Kabupaten Mimika,” katanya.

    Di Nabire, tiga gerai lainnya telah mencapai progres pembangunan lebih dari 95 persen. Sementara itu, di Mimika, dua gerai yang menjadi target pembangunan telah rampung.

    Komandan Kodim 1705/Nabire Letkol Arh Dwi Palwanto Tirta Mentari menambahkan, pengoperasian koperasi akan disertai pendampingan bagi pengurus.

    Pendampingan tersebut mencakup administrasi, rantai pasok, dan pemasaran. Dengan penguatan kelembagaan serta dukungan infrastruktur, KDMP diharapkan menjadi penggerak ekonomi desa, memperluas pemasaran produk lokal, dan mendukung pemerataan akses bantuan bagi masyarakat Papua.

  • Kopdes Merah Putih Kembangkan Bisnis Sesuai Potensi Ekonomi Desa

    JAKARTA – Pengembangan Koperasi Desa (Kopdes) Merah Putih berbasis potensi ekonomi lokal dinilai menjadi langkah strategis dalam memperkuat kemandirian desa dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Melalui model bisnis yang disesuaikan dengan karakteristik wilayah, koperasi diharapkan mampu menjadi penggerak ekonomi kerakyatan sekaligus memperluas akses pasar bagi produk unggulan desa.

    Pengamat Ekonomi Universitas Negeri Semarang (Unnes), Vitradesie Noekent, menilai Kopdes Merah Putih tidak harus langsung menjalankan seluruh jenis usaha yang menjadi mandat pemerintah. Pengembangan bisnis perlu dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kebutuhan dan keunggulan ekonomi masing-masing desa.

    “Yang paling realistis adalah koperasi membuat sebuah roadmap, jadi pada tahun pertama sampai tahun kedua atau berikutnya, apa yang kemudian bisa sesuai dengan kondisi lokalnya,” ujar Vitradesie.

    Menurutnya, desa berbasis pertanian dapat memprioritaskan penyediaan pupuk, sarana produksi, hingga penyerapan hasil panen. Sementara itu, wilayah perikanan berpeluang mengembangkan fasilitas penyimpanan dingin, pengolahan, dan distribusi hasil tangkapan.

    Vitradesie menegaskan koperasi juga perlu berperan sebagai penghubung antara produsen lokal dan pasar, sehingga keberadaannya tidak justru menjadi pesaing pelaku UMKM.

    “Mandat utama dari koperasi itu berbeda dengan UMKM. Fungsi sebagai agregator,” tegasnya.

    Sejalan dengan itu, Menteri Koperasi Ferry Juliantono menegaskan Kopdes Merah Putih diproyeksikan menjadi penyerap hasil produksi masyarakat, mulai dari sektor pertanian, peternakan, hingga perikanan.

    “Jadi memang ini agak merubah mata rata distribusinya, tetapi ini diputuskan oleh Bapak Presiden semata-mata adalah supaya masyarakat menerima hak dari barang-barang bersubsidi itu bisa mendapatkan harga dan juga jumlah barang yang sesuai dengan jumlah masyarakat atau penduduk di desa atau kelurahan tersebut,” ujar Ferry.

    Dengan pengembangan usaha berbasis potensi lokal dan penguatan rantai distribusi, Kopdes Merah Putih diharapkan mampu meningkatkan nilai tambah produk masyarakat, membuka peluang usaha, serta mendorong pertumbuhan ekonomi desa yang inklusif dan berkelanjutan.