Kategori: Uncategorized

  • Pemerintah Terima Masukan Masyarakat, Ruang Digital Diminta Tetap Sehat

    Jakarta – Pemerintah terus membuka ruang partisipasi masyarakat dalam memperkuat tata kelola ruang digital agar perkembangan teknologi berjalan seiring dengan perlindungan pengguna. Masukan masyarakat dinilai penting untuk memastikan kebijakan digital mampu menjawab tantangan perkembangan teknologi, termasuk penyebaran hoaks, disinformasi, penipuan daring, dan konten manipulatif berbasis kecerdasan buatan (AI).

    Ketua Presidium Masyarakat Antifitnah Indonesia (MAFINDO), Septiaji Eko Nugroho, mengatakan literasi digital masyarakat harus terus diperkuat karena perkembangan teknologi berlangsung sangat cepat. Menurutnya, kemampuan masyarakat dalam menggunakan teknologi perlu diikuti kemampuan berpikir kritis ketika menerima dan menyebarkan informasi.

    “Literasi digital tidak cukup hanya mengajarkan cara menggunakan teknologi. Masyarakat juga harus memiliki kemampuan reflektif dan analitis agar tidak mudah terjebak dalam arus informasi yang menyesatkan,” ujar Septiaji.

    Ia menilai perkembangan AI menghadirkan tantangan baru karena masyarakat semakin sulit membedakan konten asli dan konten hasil manipulasi. Karena itu, pemerintah, platform digital, media, dan masyarakat perlu memperkuat kolaborasi untuk menjaga kualitas informasi di ruang digital.

    “Kolaborasi berkelanjutan dengan platform digital, organisasi media, dan pembuat kebijakan sangat diperlukan untuk memperkuat kepercayaan publik terhadap informasi yang kredibel,” tegasnya.

    Sementara itu, Direktur Jenderal Ekosistem Digital Kementerian Komunikasi dan Digital Edwin Hidayat Abdullah mengatakan pemerintah terus melibatkan masyarakat dan pegiat literasi digital dalam membangun ruang digital yang aman dan sehat. Menurutnya, partisipasi publik menjadi bagian penting dalam penyempurnaan kebijakan digital.

    “Ruang digital yang sehat membutuhkan keterlibatan seluruh elemen masyarakat. Pemerintah tidak dapat bekerja sendiri dalam menghadapi berbagai tantangan di ruang digital,” ujarnya.

    Edwin menambahkan, penguatan literasi digital juga harus berjalan beriringan dengan peningkatan kesadaran masyarakat mengenai keamanan data, etika berkomunikasi, serta penggunaan teknologi AI secara bertanggung jawab.

    Pemerintah berharap masyarakat semakin aktif memberikan masukan sekaligus ikut menjaga kualitas ruang digital. Pengguna juga diimbau tidak mudah menyebarkan informasi yang belum terverifikasi dan memanfaatkan kanal pelaporan apabila menemukan konten yang berpotensi merugikan. (*)

  • Pemerintah Terbuka pada Kritik, Publik Diingatkan Waspada Provokasi Digital

    JAKARTA – Pemerintah menegaskan keterbukaan terhadap kritik, aspirasi, dan masukan masyarakat sebagai bagian dari kehidupan demokrasi. Namun, kebebasan menyampaikan pendapat perlu berjalan beriringan dengan tanggung jawab, terutama di tengah derasnya arus informasi digital yang berpotensi dimanfaatkan untuk menyebarkan hoaks, disinformasi, dan provokasi.

    Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Cholil Nafis menyoroti fenomena masyarakat digital yang saat ini cenderung bergantung pada platform media sosial untuk bertukar ide. Menurutnya, karakter informasi di medsos yang serba cepat sering kali tidak dibarengi dengan kedalaman wawasan intelektual.

    “Jangan terlena dengan medsos yang padat, singkat, dan seakan-akan sudah bisa mengeluarkan semua ide-ide kita, padahal tidak ada wawasan intelektual,” kata Kiai Cholil.

    Praktisi Kehumasan, I Gede Alfian Septamiarsa memandang kondisi saat ini telah membawa manfaat besar karena masyarakat memiliki kesempatan lebih luas untuk menyampaikan aspirasi, mengkritisi kebijakan, mengawasi pelayanan publik, berbagi pengalaman dan memperjuangkan kepentingan yang sebelumnya tidak memperoleh ruang.

    “Akan tetapi, kemudahan yang sama juga melahirkan tantangan ketika kecepatan mengalahkan ketelitian, emosi mengalahkan nalar, dan keinginan menjadi yang pertama menyebarkan informasi mengalahkan kesediaan untuk memeriksa kebenarannya,” jelasnya.

    Pesan tersebut sejalan dengan pernyataan Ketua DPR RI Puan Maharani yang mengingatkan pentingnya menjaga ruang publik dari narasi yang dapat memecah belah masyarakat. Dalam Rapat Paripurna Pembukaan Masa Persidangan I Tahun Sidang 2026–2027

    “Di tengah ketidakpastian global, persaingan geopolitik, fragmentasi ekonomi, dan derasnya arus informasi, kita harus menjaga ruang publik agar tidak dikuasai oleh politik kebencian, polarisasi, dan kepentingan yang memecah belah,” tutur Puan.

    Puan juga menilai derasnya arus informasi digital membawa tantangan terhadap kualitas demokrasi.

    “Derasnya arus informasi juga membawa tantangan tersendiri yaitu berupa disinformasi, hoaks, serta konten yang dimanipulasi atau dilepaskan dari konteksnya, yang dapat memperuncing polarisasi dan mengaburkan batas antara kritik yang membangun dengan provokasi yang memecah belah,” ujarnya.

    Peringatan tersebut menunjukkan bahwa kritik dan aspirasi masyarakat tetap memiliki ruang dalam demokrasi, namun perlu dibedakan dari konten yang sengaja dimanipulasi untuk membangun kebencian atau memecah persatuan.

    Karena itu, masyarakat diimbau tidak terburu-buru mempercayai dan menyebarkan informasi yang beredar di media sosial. Verifikasi sumber, membaca informasi secara utuh, serta membandingkan informasi dengan sumber tepercaya menjadi langkah penting untuk mencegah masyarakat terpengaruh narasi provokatif.

    Keterbukaan pemerintah terhadap kritik dan kewaspadaan publik terhadap disinformasi perlu berjalan beriringan. Dengan budaya kritik yang konstruktif serta literasi digital yang semakin kuat, ruang publik dapat tetap menjadi sarana menyampaikan aspirasi sekaligus memperkuat persatuan dan ketertiban sosial.

  • Waspada Provokasi Digital, Bersama Menjaga Agar Tak Terlena Medsos

    Oleh: Dhita Karuniawati )*

    Perkembangan media sosial telah mengubah cara masyarakat memperoleh, memahami, dan menyebarkan informasi. Dalam hitungan detik, sebuah video, potongan pernyataan, atau unggahan dapat menjangkau ribuan bahkan jutaan orang. Kemudahan tersebut membawa manfaat besar, tetapi juga menghadirkan risiko ketika informasi diterima tanpa pemeriksaan yang memadai.

    Karena itu, kewaspadaan terhadap provokasi digital menjadi semakin penting. Masyarakat tidak cukup hanya menjadi pengguna media sosial yang aktif, tetapi juga perlu memiliki kemampuan memilah informasi agar tidak mudah terseret arus konten yang sengaja dibuat untuk membangun persepsi tertentu, memancing emosi, atau memecah persatuan.

    Peringatan mengenai penggunaan media sosial juga disampaikan Wakil Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH M Cholil Nafis. Pihaknya mengingatkan umat agar tidak terlena dengan karakter media sosial yang serba singkat dan padat. Menurut Cholil, kecepatan serta kepadatan informasi di media sosial tidak selalu berbanding lurus dengan kedalaman wawasan intelektual.

    Cholil juga menekankan pentingnya mempertahankan tradisi membaca buku dan literatur sebagai bagian dari upaya memperluas wawasan. Baginya, media sosial sebaiknya dimanfaatkan secara proporsional dan tidak menggantikan kebiasaan membaca sumber pengetahuan yang lebih mendalam. Ia menilai kemajuan teknologi justru dapat dimanfaatkan untuk mengakses berbagai bahan bacaan digital seperti buku elektronik dan jurnal.

    Pesan tersebut relevan dengan situasi ketika masyarakat semakin terbiasa mengonsumsi informasi dalam format pendek. Judul yang provokatif, potongan video berdurasi singkat, maupun narasi yang hanya menampilkan sebagian konteks sering kali lebih cepat mendapatkan perhatian dibandingkan informasi yang membutuhkan waktu untuk dibaca dan dipahami.

    Masalahnya, konten singkat dapat menciptakan kesan seolah-olah masyarakat telah memperoleh gambaran utuh. Padahal, sebuah peristiwa hampir selalu memiliki konteks, kronologi, dan latar belakang yang tidak dapat dijelaskan hanya melalui satu unggahan.

    Risiko tersebut terlihat dari beredarnya kembali video lama mengenai demonstrasi yang kembali beredar di media sosial kemudian dikaitkan dengan situasi terkini. Wakil Ketua Komisi XIII DPR RI, Andreas Hugo Pareira mengingatkan masyarakat agar lebih cermat dan waspada terhadap video-video lama yang kembali disebarkan seolah-olah merupakan dokumentasi peristiwa terbaru. Menurutnya, pola seperti itu dapat membentuk persepsi keliru dan menimbulkan keresahan di tengah masyarakat.

    Andreas mengatakan bahwa kebebasan masyarakat dalam menyampaikan aspirasi, termasuk melalui media sosial, merupakan bagian dari kehidupan demokrasi. Namun, kebebasan tersebut tidak seharusnya dimanfaatkan oleh pihak tertentu untuk menyebarkan informasi menyesatkan atau membangun kepentingan yang dapat memicu perpecahan. Ia mendorong masyarakat untuk membedakan antara penyampaian pendapat dengan penyebaran informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan.

    Di sini literasi digital menjadi kebutuhan bersama. Masyarakat perlu membangun kebiasaan sederhana sebelum mempercayai atau membagikan sebuah konten. Pertama, periksa sumber informasi. Kedua, lihat tanggal dan konteks video atau foto. Ketiga, bandingkan informasi dengan pemberitaan dari sumber lain yang kredibel. Keempat, jangan menjadikan jumlah komentar, tanda suka, atau jumlah tayangan sebagai ukuran kebenaran.

    Kebiasaan melakukan cross check menjadi semakin penting ketika sebuah informasi menyentuh isu sensitif, seperti politik, agama, keamanan, demonstrasi, konflik sosial, atau identitas kelompok. Konten dalam kategori tersebut memiliki daya emosional tinggi sehingga masyarakat lebih mudah bereaksi sebelum berpikir secara rasional.

    Masyarakat juga perlu menyadari bahwa algoritma media sosial cenderung menghadirkan konten yang sesuai dengan perhatian dan perilaku pengguna. Akibatnya, seseorang dapat terus melihat informasi dengan sudut pandang serupa dan merasa bahwa informasi tersebut merupakan gambaran keseluruhan keadaan. Padahal, yang muncul di layar belum tentu mewakili kenyataan secara utuh.

    Karena itu, melawan provokasi digital bukan berarti menjauhi media sosial. Sikap tersebut justru tidak realistis di tengah kehidupan masyarakat yang semakin terkoneksi. Yang diperlukan adalah perubahan perilaku dari sekadar menjadi konsumen informasi menjadi pengguna yang kritis.

    Pemerintah, lembaga pendidikan, tokoh agama, media massa, platform digital, dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam membangun ekosistem informasi yang sehat. Namun, pertahanan pertama tetap berada pada individu. Setiap pengguna memiliki pilihan untuk berhenti sejenak, memeriksa informasi, dan tidak ikut menyebarkan konten yang belum jelas kebenarannya.

    Pesan Cholil Nafis mengenai pentingnya membaca dan peringatan Andreas Hugo Pareira mengenai video lama yang digunakan untuk membangun persepsi keliru menunjukkan persoalan yang sama yakni masyarakat membutuhkan kedalaman berpikir di tengah derasnya arus informasi.

    Media sosial seharusnya menjadi sarana memperluas pengetahuan dan komunikasi, bukan ruang yang membuat masyarakat kehilangan kemampuan untuk berpikir kritis. Karena itu, kewaspadaan terhadap provokasi digital harus dimulai dari kebiasaan sederhana: jangan mudah percaya, jangan terburu-buru membagikan, dan selalu periksa konteks.

    Di tengah derasnya informasi, kemampuan untuk berhenti sejenak sebelum bereaksi bukan tanda keterlambatan. Justru itulah bentuk kedewasaan digital. Dengan sikap kritis dan literasi yang kuat, masyarakat dapat tetap memanfaatkan media sosial tanpa terlena oleh arus informasi yang singkat, padat, dan belum tentu benar.

    *) Penulis adalah Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia

  • Kritik Publik Didorong Jadi Solusi, Bukan Provokasi di Ruang Digital

    Oleh: Yandi Arya Adinegara)*

    Ruang publik Indonesia sedang menghadapi tantangan baru seiring semakin derasnya arus informasi digital. Demokrasi memang menjadi lebih terbuka karena masyarakat dapat menyampaikan pendapat, kritik, dan aspirasi tanpa batas ruang dan waktu. Namun, keterbukaan tersebut juga membawa persoalan ketika informasi yang beredar tidak selalu disertai akurasi, konteks, dan tanggung jawab. Media sosial membuat sebuah informasi dapat menyebar dalam hitungan menit, bahkan sebelum kebenarannya sempat diperiksa.

    Situasi tersebut menunjukkan bahwa persoalan ruang publik hari ini bukan lagi sekadar mengenai banyak atau sedikitnya informasi, tetapi mengenai kualitas informasi yang dikonsumsi masyarakat. Ketua Dewan Pers Komaruddin Hidayat menilai ruang publik kini semakin bebas, tetapi kebebasan tersebut belum sepenuhnya diikuti dengan kualitas isi yang memadai. Informasi yang viral terkadang lebih banyak didorong oleh kontroversi, sensasi, maupun unsur emosional dibandingkan substansi persoalan yang sebenarnya penting bagi masyarakat.

    Fenomena tersebut perlu menjadi perhatian karena persepsi publik dapat dibentuk oleh informasi yang paling cepat beredar, bukan selalu oleh informasi yang paling benar. Potongan pernyataan dapat dilepaskan dari konteks, video lama dapat kembali disebarkan dengan narasi baru, dan judul berita dapat dibuat sedemikian rupa agar menarik perhatian tanpa menggambarkan isi secara utuh. Dalam kondisi seperti itu, masyarakat berisiko menilai sebuah persoalan hanya berdasarkan informasi parsial.

    Hingga Juli 2026, jumlah pengaduan tercatat sekitar 800 kasus, meningkat dibandingkan periode yang sama pada tahun sebelumnya. Angka tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat semakin aktif mengawasi pemberitaan. Namun, peningkatan pengaduan juga menunjukkan bahwa persoalan akurasi, keberimbangan, penggunaan narasumber, hingga pemenuhan hak jawab masih menjadi tantangan bagi industri media.

    Di sisi lain, pemerintah juga memiliki tanggung jawab dalam menjaga kualitas informasi publik. Kritik terhadap komunikasi pemerintah tidak selayaknya dipandang hanya sebagai persoalan pencitraan, tetapi sebagai bagian dari kebutuhan agar substansi kebijakan dapat dipahami masyarakat secara utuh. Program pemerintah, kebijakan strategis, dan agenda pembangunan akan lebih mudah diterima apabila disampaikan melalui komunikasi yang jelas, konsisten, dan mampu menjawab kebutuhan informasi publik.

    Dalam beberapa kesempatan, pernyataan Presiden Prabowo Subianto mengenai agenda pembangunan justru mendapat perhatian karena potongan atau bagian tertentu yang lebih mudah menjadi bahan percakapan di media sosial. Fenomena tersebut memperlihatkan bahwa substansi kebijakan dapat kalah bersaing dengan isu yang lebih ringan atau kontroversial. Karena itu, pemerintah perlu memastikan pesan utama dari setiap kebijakan dapat diterima publik secara sederhana, terukur, dan tidak mudah terdistorsi oleh narasi yang berkembang di ruang digital.

    Pandangan mengenai pentingnya menjaga ruang publik juga disampaikan Ketua DPR RI Puan Maharani. Ia mengingatkan bahwa derasnya arus informasi perlu diimbangi kecermatan masyarakat dalam memilah informasi berdasarkan fakta dan data. Bagi Puan, ruang digital tidak boleh dikuasai politik kebencian, polarisasi, maupun kepentingan yang sengaja memecah masyarakat. Namun, upaya menjaga ruang publik juga tidak boleh berubah menjadi pembenaran untuk membatasi kritik.

    Di sinilah batas penting harus dijaga. Demokrasi membutuhkan kritik, bahkan kritik terhadap pemerintah sekalipun. Akan tetapi, kritik akan lebih bermakna apabila lahir dari pemahaman terhadap persoalan, memiliki dasar data, dan tidak berhenti pada tuduhan. Kritik yang hanya mengandalkan kemarahan berpotensi memperbesar polarisasi, sementara kritik yang disertai argumentasi dan solusi dapat menjadi instrumen perbaikan kebijakan.

    Tantangan tersebut semakin terasa dalam dinamika aksi demonstrasi. Informasi mengenai unjuk rasa kini dapat menyebar dengan sangat cepat melalui foto, video, maupun berbagai pesan berantai. Persoalannya, tidak semua materi tersebut menggambarkan kondisi terkini. Video lama dapat digunakan kembali, lokasi dapat disalahartikan, bahkan narasi tertentu dapat sengaja dibangun untuk memancing emosi masyarakat. Karena itu, masyarakat perlu memeriksa sumber, waktu, dan konteks sebelum mempercayai ataupun menyebarkan informasi.

    Ketua Bidang OKP Kemahasiswaan, LSM dan Ormas PB PMII M. Muham Tahsir juga menekankan pentingnya menjaga aksi demonstrasi tetap damai dan konstitusional. Menurutnya, pengalaman demonstrasi yang diwarnai kerusakan maupun tindakan anarkis harus menjadi pelajaran agar penyampaian aspirasi tidak kehilangan substansi. Kritik dapat disampaikan melalui berbagai cara, mulai dari aksi damai, diskusi publik, kajian, kegiatan sosial, hingga kampanye digital yang berbasis argumentasi.

    Pada akhirnya, menjaga ruang publik bukan tanggung jawab satu institusi. Pers membutuhkan profesionalisme dan etika. Pemerintah membutuhkan komunikasi publik yang terbuka dan efektif. Masyarakat membutuhkan literasi digital dan kedewasaan dalam menerima informasi. Platform digital juga perlu menjalankan tanggung jawab agar ruang informasi tidak berkembang menjadi arena penyebaran kebencian dan manipulasi.

    Indonesia membutuhkan ruang publik yang ramai oleh gagasan, bukan sekadar kegaduhan. Demokrasi harus tetap menyediakan ruang bagi kritik dan perbedaan pandangan, tetapi semuanya perlu ditempatkan dalam kerangka kepentingan bersama. Di tengah banjir informasi, masyarakat perlu belajar bahwa tidak semua yang viral layak dipercaya dan tidak semua yang populer memiliki nilai penting.

    )*Penulis Merupakan Pengamat Sosial

  • Pemerintah Perkuat Hilirisasi, Smelter Freeport Gresik Siap Jadi Motor Industri Nasional

    GRESIK — Pemerintah terus memperkuat agenda hilirisasi sumber daya alam sebagai strategi untuk meningkatkan nilai tambah mineral di dalam negeri. Sejalan dengan kebijakan tersebut, kesiapan dua fasilitas pemurnian tembaga PT Freeport Indonesia (PTFI) di Gresik diharapkan menjadi motor baru bagi pengembangan industri nasional sekaligus memperkuat kontribusi sektor pertambangan terhadap perekonomian.

    Dua smelter tersebut diproyeksikan mampu memurnikan hingga 3 juta ton konsentrat tembaga setiap tahun ketika beroperasi secara penuh. Kapasitas besar itu menempatkan Gresik sebagai salah satu pusat pemurnian tembaga terbesar di Indonesia dan menjadi bagian penting dalam upaya mendorong pengolahan sumber daya mineral agar tidak lagi hanya mengandalkan ekspor bahan mentah.

    Presiden Direktur PT Freeport Indonesia Tony Wenas mengatakan pemulihan produksi dilakukan secara bertahap setelah kedua fasilitas sempat mengalami gangguan operasional dan pasokan. Pada tahun ini, tingkat produksi ditargetkan berada di kisaran 65 persen, kemudian meningkat menjadi 75 persen pada semester I 2027 dan mencapai kapasitas penuh pada semester II 2027.

    “Kalau sudah 100 persen, kontribusi kepada negara bisa luar biasa besar, lebih dari Rp100 triliun, mungkin Rp120 triliun setiap tahunnya,” kata Tony.

    Menurut dia, smelter PTFI di Gresik telah siap untuk kembali beroperasi. Bersama PT Smelting, fasilitas tersebut akan memperkuat kemampuan pemurnian konsentrat tembaga di dalam negeri hingga mencapai 3 juta ton per tahun.

    “Saat ini smelter PTFI di Gresik telah siap untuk beroperasi kembali dan bersama smelter PT Smelting yang juga kita miliki akan memiliki kapasitas pemurnian 3 juta ton konsentrat tembaga setiap tahun,” ujar Tony.

    Kapasitas tersebut dinilai tidak hanya penting dari sisi peningkatan produksi, tetapi juga menjadi bukti semakin kuatnya arah hilirisasi nasional. Dengan pengolahan konsentrat dilakukan di dalam negeri, nilai ekonomi yang dihasilkan dari sumber daya mineral dapat memberikan manfaat yang lebih besar bagi negara, industri, serta masyarakat.

    Pemulihan bertahap kedua fasilitas tersebut diharapkan dapat mempercepat kembali aktivitas industri pengolahan tembaga nasional. Ketika kapasitas penuh tercapai, keberadaan smelter di Gresik akan memperkuat ekosistem industri hilir, membuka peluang pengembangan produk bernilai tambah, serta meningkatkan penerimaan negara.

    Dengan demikian, pengoperasian dua smelter Freeport di Gresik menjadi momentum penting bagi pemerintah untuk mempertegas konsistensi kebijakan hilirisasi. Penguatan industri pengolahan di dalam negeri diharapkan mampu menjadikan kekayaan sumber daya alam Indonesia sebagai fondasi pertumbuhan ekonomi yang lebih mandiri, berdaya saing, dan berkelanjutan. (*)

  • Smelter Freeport Gresik Beroperasi, Kontribusi ke Negara Diproyeksi Melonjak

    Jakarta – Pemerintah kembali membuktikan komitmen dan keberhasilannya yang gemilang dalam mewujudkan program hilirisasi industri mineral secara masif di Tanah Air. Beroperasinya smelter katoda tembaga milik PT Freeport Indonesia (PTFI) di Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Gresik, Jawa Timur, menjadi tonggak sejarah baru bagi kemajuan bangsa ini. Fasilitas megah berstandar internasional ini tidak hanya menjadi simbol kemandirian industri nasional yang semakin tangguh, tetapi juga menjadi mesin penggerak perekonomian utama yang siap memberikan keuntungan finansial berskala raksasa bagi negara.

    Operasional smelter raksasa ini dipastikan berjalan lancar guna memperkuat rantai pasok industri. Presiden Direktur PTFI, Tony Wenas, memastikan kesiapan operasional fasilitas peleburan tersebut saat menyampaikan pemaparan pada sebuah sesi diskusi dan wawancara di stasiun televisi nasional baru-baru ini.

    “Smelter nanti mulai bulan September sudah mulai akan produksi lagi. Smelter Manyar akan mulai produksi copper (tembaga) katoda,” ujar Tony.

    Lebih dari itu, penyelesaian fasilitas pemurnian berteknologi mutakhir ini merupakan bukti paling nyata dari kesuksesan kebijakan hilirisasi yang menjadi ujung tombak perekonomian di bawah pemerintahan saat ini. Melalui infrastruktur tersebut, Indonesia kini telah bertransformasi menjadi salah satu pemain utama yang memiliki kapasitas pengolahan konsentrat tembaga berskala global yang sangat dihormati di mata dunia.

    “Pencapaian ini menjadikan Gresik sebagai pusat pemurnian mineral tembaga terbesar dalam sejarah hilirisasi Indonesia dan ini juga menegaskan komitmen nyata PTFI dalam meningkatkan nilai tambah sumber daya alam di dalam negeri untuk pertumbuhan industri nasional,” kata Tony.

    Dampak positif dari strategi hilirisasi ini tentu tidak berhenti pada penciptaan nilai tambah produk semata. Pada saat kapasitas produksi telah mencapai titik puncaknya, setoran penerimaan kepada kas negara diproyeksikan akan melonjak tajam dan sangat drastis. Hal ini menjadi katalisator pendanaan segar yang sangat krusial untuk mengeksekusi program-program pro-rakyat yang telah dirancang pemerintah.

    “Kalau sudah 100 persen, kontribusi kepada negara bisa luar biasa besar, lebih dari Rp 100 triliun, mungkin Rp 120 triliun setiap tahunnya. Jadi itulah kontribusi Freeport kepada negara,” tegas Tony.

    Pencapaian luar biasa ini semakin menegaskan kepada publik bahwa visi besar kepemimpinan pemerintah dalam mengelola sumber daya alam adalah sebuah wujud nyata rasa cinta Tanah Air. Dengan lonjakan pendapatan negara yang signifikan, fondasi perekonomian nasional diyakini akan tumbuh semakin tangguh. Kebijakan ini membuktikan bahwa pemerintah selalu berkomitmen memastikan Indonesia melangkah maju sebagai bangsa berdaulat yang senantiasa mampu menjamin kemakmuran serta kesejahteraan bagi seluruh rakyatnya.(*)

  • Hilirisasi Tembaga di Gresik Menjadi Jalan Indonesia Menguasai Nilai Tambah SDA

    Oleh: Dwi Saputri)*

    Indonesia memiliki kekayaan sumber daya alam yang melimpah, namun manfaatnya akan lebih besar apabila tidak berhenti pada penambangan dan penjualan bahan mentah. Hilirisasi menjadi langkah strategis untuk mengolah SDA di dalam negeri sekaligus meningkatkan nilai tambah bagi perekonomian. Pengembangan industri pemurnian tembaga di Gresik, Jawa Timur, menjadi salah satu wujud nyata upaya tersebut. Langkah ini sejalan dengan komitmen pemerintah yang terus mempercepat agenda hilirisasi sebagai bagian dari transformasi ekonomi nasional.

    Presiden Prabowo Subianto menyampaikan bahwa saat ini pemerintah terus mempercepat agenda hilirisasi sebagai bagian dari transformasi ekonomi nasional. Pemerintah bersama Danantara telah melakukan groundbreaking 13 proyek hilirisasi pada 6 Februari 2026. Selanjutnya, 13 proyek hilirisasi lainnya kembali dimulai pada 29 April 2026. Berbagai proyek tersebut mencakup pengolahan batu bara menjadi dimethyl ether (DME), hilirisasi tembaga dan emas, pengolahan garam industri, hingga pembangunan smelter alumina menjadi aluminium.

    Langkah tersebut menunjukkan bahwa hilirisasi tidak lagi ditempatkan sebagai kebijakan sektoral, melainkan bagian dari strategi besar untuk membangun struktur ekonomi yang lebih kuat. Menurut Prabowo, strategi tersebut penting agar Indonesia tidak hanya mengolah sumber daya alam di dalam negeri, tetapi juga memiliki teknologi dan jaringan pasar yang mampu memperkuat keterlibatan Indonesia dalam rantai pasok dunia.

    Dalam konteks tembaga, Gresik memiliki posisi strategis. Kehadiran fasilitas pemurnian milik PT Freeport Indonesia (PTFI) menjadikan wilayah tersebut sebagai salah satu pusat penting pengolahan mineral tembaga di Indonesia. Presiden Direktur PTFI Tony Wenas mengatakan fasilitas smelter Manyar terintegrasi dengan kapasitas pengolahan konsentrat tembaga berskala global. Seluruh infrastruktur pengolahan di kawasan tersebut juga telah memasuki tahap kesiapan operasional.

    Menurut Tony, keberadaan fasilitas pemurnian tembaga dan emas tersebut tidak hanya memperkuat kapasitas hilirisasi PTFI, tetapi juga mendorong penciptaan nilai tambah mineral di dalam negeri. Artinya, manfaat ekonomi dari kekayaan mineral Indonesia tidak berhenti pada proses penambangan, tetapi dilanjutkan melalui pengolahan dan pemurnian di dalam negeri.

    Smelter Manyar memiliki kapasitas pengolahan hingga 1,7 juta ton konsentrat tembaga per tahun. Fasilitas tersebut akan beroperasi berdampingan dengan smelter pertama PTFI yang dikelola PT Smelting di Gresik. Apabila kedua fasilitas tersebut beroperasi secara optimal, kapasitas pemurnian konsentrat tembaga PTFI di Gresik diperkirakan mencapai sekitar 3 juta ton per tahun.

    Kapasitas tersebut sekaligus memperlihatkan besarnya potensi produk hilir yang dapat dihasilkan. Kedua smelter diproyeksikan mampu menghasilkan sekitar 1 juta ton katoda tembaga, 50 ton emas, dan 200 ton perak setiap tahun. Produk-produk tersebut memiliki nilai ekonomi yang jauh lebih tinggi dibandingkan konsentrat mineral, sehingga keberadaan smelter menjadi instrumen penting untuk menangkap nilai tambah di dalam negeri.

    Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan peningkatan nilai ekonomi komoditas. Hilirisasi juga berpotensi menciptakan lapangan kerja, mendorong investasi, meningkatkan aktivitas industri pendukung, serta memperkuat kemampuan sumber daya manusia dan teknologi nasional. Semakin panjang rantai pengolahan yang dapat dilakukan di Indonesia, semakin besar pula manfaat ekonomi yang dapat dinikmati masyarakat dan negara.

    Dari sisi penerimaan negara, potensi hilirisasi tembaga juga sangat signifikan. PTFI memproyeksikan bahwa apabila operasional smelter di Gresik mencapai tingkat 100 persen, perusahaan dapat memberikan kontribusi keuangan kepada negara hingga sekitar Rp100 triliun setiap tahun. Proyeksi tersebut menunjukkan bahwa pengelolaan sumber daya alam melalui hilirisasi dapat memperkuat penerimaan negara sekaligus menyediakan ruang fiskal yang lebih besar untuk mendukung berbagai program pembangunan.

    Lebih jauh, tembaga merupakan mineral strategis yang dibutuhkan dalam berbagai sektor industri, mulai dari kelistrikan, elektronik, konstruksi, energi terbarukan, hingga kendaraan listrik. Dengan meningkatnya kebutuhan global terhadap produk-produk tersebut, penguasaan atas rantai pasok tembaga menjadi semakin penting. Indonesia memiliki peluang untuk tidak hanya menjadi pemasok bahan baku, tetapi juga mengambil posisi lebih besar dalam rantai industri global.

    Karena itu, pemerintah perlu memastikan pengembangan hilirisasi tembaga berjalan secara berkelanjutan dan memberikan manfaat optimal bagi perekonomian nasional. Pemerintah perlu memperkuat ekosistem industri pendukung, meningkatkan kualitas sumber daya manusia, memastikan ketersediaan energi dan infrastruktur, serta mendorong transfer teknologi agar Indonesia secara bertahap mampu menguasai lebih banyak tahapan pengolahan hingga menghasilkan produk turunan bernilai tinggi.

    Selain itu, pengawasan terhadap aspek lingkungan dan tata kelola juga perlu diperkuat agar percepatan hilirisasi tetap berjalan seimbang dengan prinsip pembangunan berkelanjutan. Pemerintah juga diharapkan memastikan manfaat ekonomi dari aktivitas industri dapat dirasakan masyarakat sekitar melalui penyerapan tenaga kerja lokal, pengembangan usaha mikro dan kecil, serta program pemberdayaan masyarakat.

    Hilirisasi tembaga di Gresik bukan sekadar pembangunan fasilitas pemurnian mineral, tetapi merupakan bagian dari upaya Indonesia mengubah kekayaan alam menjadi kekuatan ekonomi. Harapannya, keberadaan smelter di Gresik dapat menjadi salah satu fondasi bagi terbentuknya industri tembaga nasional yang semakin terintegrasi, menciptakan nilai tambah yang besar, memperkuat penerimaan negara, dan membuka lebih banyak lapangan kerja. Dengan pengelolaan yang konsisten dan berkelanjutan, hilirisasi diharapkan mampu membawa Indonesia tidak hanya kaya sumber daya alam, tetapi juga menguasai teknologi, industri, dan nilai tambah dari kekayaan tersebut, sehingga semakin berdaulat dan kompetitif dalam rantai pasok global.

    )* Pemerhati isu sosial-ekonomi

  • Hilirisasi Tembaga di Smelter Freeport Gresik, RI Makin Kuat dan Berdaya

    Oleh: Zhafran Goldwin)

    Indonesia sedang memasuki babak penting dalam perjalanan membangun kemandirian ekonomi melalui hilirisasi sumber daya mineral. Salah satu tonggak strategisnya berada di Gresik, Jawa Timur, melalui penguatan fasilitas pengolahan dan pemurnian tembaga milik PT Freeport Indonesia (PTFI). Kehadiran smelter Freeport di kawasan Java Integrated Industrial and Port Estate (JIIPE), Manyar, bukan sekadar membangun fasilitas industri, tetapi menjadi simbol bahwa Indonesia semakin berani mengubah kekayaan alam menjadi kekuatan ekonomi di dalam negeri.

    Presiden RI, Prabowo Subianto menegaskan bahwa hilirisasi merupakan langkah strategis untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya alam agar manfaatnya dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Menurutnya, hilirisasi adalah jalan menuju kebangkitan dan kemajuan bangsa Indonesia. Ia menilai pembangunan hilirisasi merupakan proyek besar dan bersejarah bagi Indonesia.

    Pandangan tersebut sejalan dengan perkembangan industri pengolahan tembaga di Gresik. PT Freeport Indonesia memastikan smelter Manyar di kawasan JIIPE, Gresik, Jawa Timur, mulai memproduksi katoda tembaga pada September 2026. Presiden Direktur PTFI Tony Wenas mengatakan operasional produksi tersebut berjalan tepat waktu sesuai dengan jadwal yang telah direncanakan sebelumnya.

    Kepastian produksi katoda tembaga ini menjadi momentum penting bagi agenda hilirisasi nasional. Smelter Manyar tidak hanya menjadi fasilitas pengolahan mineral, tetapi juga menjadi bukti bahwa Indonesia mulai membangun kemampuan untuk mengolah kekayaan alamnya sendiri hingga menghasilkan produk bernilai tambah.

    Menurut Tony Wenas, pasokan konsentrat tembaga dikumpulkan terlebih dahulu hingga mencapai volume yang cukup sebelum dimasukkan ke dalam tungku atau furnace. Pengoperasian smelter dilakukan secara bertahap dan tidak langsung berjalan dalam kapasitas penuh. Pada tahap awal, operasional berada di bawah 30 persen. Setelah tahap awal tersebut, kapasitas produksi akan terus ditingkatkan secara bertahap.

    PTFI menargetkan Smelter Manyar dapat mencapai kapasitas produksi 100 persen pada akhir 2027. Tahapan tersebut menunjukkan bahwa pembangunan industri berskala besar membutuhkan proses panjang, mulai dari kesiapan fasilitas, kesinambungan pasokan bahan baku, hingga stabilitas proses produksi. Smelter Manyar dibangun dengan nilai investasi sekitar US$3,7 miliar atau setara Rp58 triliun.

    Nilai investasi tersebut menjadikannya salah satu proyek hilirisasi mineral terbesar yang pernah digarap pihak swasta di Indonesia. Fasilitas ini memiliki kapasitas pengolahan hingga 1,7 juta ton konsentrat tembaga per tahun. Selain menghasilkan katoda tembaga, smelter tersebut dilengkapi Precious Metal Refinery berkapasitas 6.000 ton per tahun untuk mengekstraksi emas, perak, dan berbagai mineral ikutan lainnya.

    Kehadiran fasilitas tersebut memperlihatkan bahwa hilirisasi bukan sekadar slogan pembangunan. Ada investasi besar, teknologi, tenaga kerja, serta infrastruktur industri yang dibangun untuk mengubah komoditas tambang menjadi produk bernilai ekonomi lebih tinggi. Bagi Indonesia, langkah tersebut menjadi semakin strategis karena tembaga merupakan salah satu mineral penting dalam perkembangan industri modern.

    Tembaga digunakan dalam sektor kelistrikan, elektronik, konstruksi, kendaraan listrik, energi terbarukan, hingga berbagai kebutuhan industri strategis. Dengan menguasai proses pemurnian dan pengembangan produk turunannya, Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk membangun rantai pasok industri di dalam negeri.

    Lebih jauh, hilirisasi juga membuka peluang berkembangnya industri turunan. MIND ID melalui Freeport Indonesia telah bersinergi dengan PINDAD untuk mengoptimalkan katoda tembaga sebagai bahan baku produksi brass cup. Rencana pengembangan berikutnya mencakup fasilitas produksi batang dan kawat tembaga serta pipa tembaga. Rangkaian tersebut memperlihatkan bahwa hilirisasi tidak berhenti pada pembangunan smelter. Tujuan akhirnya adalah menciptakan ekosistem industri yang semakin panjang dan terintegrasi, sehingga nilai ekonomi sumber daya alam dapat dinikmati lebih besar oleh Indonesia.

    Dampaknya pun tidak hanya berkaitan dengan penerimaan negara. Pertumbuhan industri pengolahan dan manufaktur turunan berpotensi menciptakan lapangan kerja, meningkatkan aktivitas ekonomi daerah, mendorong transfer teknologi, serta membuka peluang bagi tumbuhnya industri pendukung nasional. Ketika sumber daya alam tidak lagi berhenti sebagai komoditas yang keluar dari Indonesia, tetapi diolah menjadi produk industri, maka nilai tambah dan manfaat ekonominya dapat semakin banyak berputar di dalam negeri.

    Smelter Manyar juga menunjukkan keberanian Indonesia untuk mengambil peran yang lebih besar dalam rantai pasok mineral global. Negara dengan cadangan sumber daya alam yang besar tidak cukup hanya menjadi pemasok bahan mentah. Indonesia harus memiliki kemampuan mengolah, memurnikan, mengembangkan produk turunan, serta menghubungkan sektor pertambangan dengan industri manufaktur. Karena itu, dimulainya produksi katoda tembaga di Smelter Manyar pada September 2026 layak dipandang sebagai salah satu tonggak penting perjalanan hilirisasi nasional.

    Dengan investasi besar, kapasitas pengolahan yang signifikan, serta rencana peningkatan produksi hingga 100 persen pada akhir 2027, proyek ini membawa pesan kuat bahwa Indonesia sedang membangun fondasi industri yang lebih mandiri. Hilirisasi tembaga di Gresik pada akhirnya bukan sekadar tentang Freeport, smelter, atau produksi katoda. Ini adalah tentang arah baru pembangunan ekonomi Indonesia: mengubah kekayaan alam menjadi kekuatan industri, menciptakan nilai tambah di dalam negeri, dan memastikan manfaat sumber daya nasional dapat dirasakan lebih luas oleh masyarakat.

    )* Pengamat Kebijakan Publik

  • Pemerintah Siagakan Kekuatan Darat dan Udara Tangani Karhutla

    Jakarta – Pemerintah memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah dengan mengerahkan kekuatan darat dan udara.

    Langkah ini dilakukan menyusul kembali munculnya titik panas dan kebakaran di sejumlah wilayah Sumatra dan Kalimantan.

    Dukungan udara diperkuat dengan pengerahan tiga pesawat Casa NC-212 milik Skadron Udara 4 TNI Angkatan Udara (AU) untuk mendukung operasi modifikasi cuaca (OMC) di Kalimantan.

    Kadispenau Marsma TNI, I Nyoman Suadnyana, mengatakan tiga pesawat tersebut diberangkatkan dari Lanud Abdulrachman Saleh menuju Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur.

    “Tiga pesawat terbang dari Lanud Abdulrachman Saleh Jumat ini menuju Kalimantan Barat dan Kalimantan Timur untuk memperkuat dukungan penanganan karhutla di wilayah tersebut,” kata Nyoman.

    Menurut dia, pengerahan pesawat menjadi bentuk dukungan TNI AU terhadap OMC sekaligus menambah kekuatan armada yang telah berada di Kalimantan.

    Saat ini terdapat 20 pesawat berbagai jenis yang mendukung penanganan karhutla di wilayah tersebut, termasuk pesawat OMC dan 12 helikopter besar untuk operasi water bombing.

    Nyoman mengatakan dukungan tersebut diharapkan semakin optimal dalam membantu mengurangi dampak kabut asap.

    Sebelumnya, sebanyak 42 pesawat dikerahkan ke enam provinsi yang memiliki potensi karhutla, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Tengah.

    Di sisi darat, Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan, Ristianto Pribadi, mengatakan pemerintah mengerahkan 12.880 personel gabungan untuk operasi terpadu di Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.

    “Operasi terpadu pengendalian kebakaran hutan dan lahan di Kalimantan terus diperkuat melalui kolaborasi lintas sektor, dengan penanganan yang disesuaikan berdasarkan perkembangan kondisi di lapangan,” kata

    Operasi darat mencakup pemantauan hotspot, patroli, pemeriksaan lapangan, pemadaman, pembasahan, pendinginan, serta penyekatan lokasi terbakar.

    Pemerintah juga memperkuat ketersediaan sumber air melalui pembangunan dan pengaktifan sumur bor, terutama karena kondisi kering membuat sumber air permukaan semakin terbatas.

    BNPB turut memperkuat satgas darat dan udara di enam provinsi prioritas. Plt. Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengatakan helikopter telah digunakan untuk patroli, OMC, dan water bombing sesuai kebutuhan di lapangan.

    BNPB meminta pemerintah daerah dan masyarakat meningkatkan kewaspadaan selama musim kemarau, memperkuat deteksi dini, serta memastikan kesiapan sarana pemadaman.

    Masyarakat juga diimbau tidak melakukan pembakaran di wilayah rawan dan segera melaporkan kebakaran agar dapat ditangani dengan cepat.

  • Ancaman Karhutla Meningkat, Pemerintah Maksimalkan Deteksi Dini hingga Pemadaman Udara

    Jakarta – Pemerintah memperkuat penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan di tengah kondisi cuaca kering yang masih terjadi di sejumlah wilayah.

    Strategi dilakukan melalui Operasi Modifikasi Cuaca (OMC), deteksi dini, patroli, pemadaman darat, hingga dukungan udara.

    Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan, Ristianto Pribadi, mengatakan OMC dioptimalkan untuk meningkatkan peluang hujan sekaligus membasahi wilayah yang rawan kebakaran.

    “Pelaksanaannya tetap didukung pemadaman darat, patroli, deteksi dini, serta koordinasi lintas kementerian/lembaga dan pemerintah daerah,” kata Ristianto.

    Selain OMC, pemerintah memperkuat patroli, pemadaman darat, pendinginan, penyekatan, serta penambahan personel dan sarana. Dukungan udara juga mencakup helikopter patroli, pesawat patroli fixed wing, dan helikopter water bombing.

    “Penambahan armada diharapkan meningkatkan jangkauan operasi, khususnya pada lokasi yang sulit diakses dan membutuhkan pembasahan dari udara,” katanya.

    Penggunaan armada udara tetap mempertimbangkan jarak pandang, asap, cuaca, dan keselamatan penerbangan. Jika OMC tidak memungkinkan atau water bombing terkendala, satgas darat tetap melakukan pemadaman dan pendinginan.

    “Strategi operasi terus disesuaikan berdasarkan kondisi aktual di lapangan,” ujarnya.

    Di Kalimantan Selatan, pencegahan juga diperkuat melalui patroli terpadu dan edukasi masyarakat. PT Hasnur Citra Terpadu bersama BPBD Kabupaten Tapin mendorong masyarakat ikut mendeteksi potensi kebakaran sejak dini.

    Estate Department Head Coordinator PT HCT, Roni Yansyah, mengatakan patroli ini bertujuan memperkuat pencegahan karhutla

    “Patroli ini bertujuan memperkuat pencegahan karhutla sekaligus membangun sinergi antara perusahaan, masyarakat, pemerintah, aparat, dan pemangku kepentingan dalam menjaga lingkungan di sekitar wilayah operasional perusahaan,” kata Roni Yansyah.

    Sebelumnya, pemerintah telah mengerahkan 40 armada udara untuk penanganan karhutla, terdiri atas 10 pesawat patroli, 27 helikopter water bombing, dan tiga pesawat OMC.

    Menteri Kehutanan, Raja Juli Antoni, menegaskan penanganan karhutla dilakukan secara terpadu bersama BNPB dan BMKG.

    “Pemerintah all out tangani karhutla. Kementerian Kehutanan terus memperkuat sinergi dengan BNPB dan BMKG dalam mencegah kebakaran hutan dan lahan, salah satunya melalui kegiatan Operasi Modifikasi Cuaca,” kata Raja Juli.

    Raja Juli menambahkan jika persoalan karhutla membutuhkan kolaborasi banyak pihak.

    “Kami menyadari bahwa karhutla merupakan persoalan serius yang memerlukan penanganan secara kolaboratif, terpadu, terukur, dan berkelanjutan,” ujarnya.