Kategori: Uncategorized

  • AMANAH Resmi Dikukuhkan Kembali, Jadi Penggerak Utama Pemberdayaan Pemuda Aceh Menuju Daya Saing Global

    Banda Aceh – Yayasan Aneuk Muda Aceh Unggul dan Hebat atau AMANAH secara resmi dikukuhkan kembali. Yayasan ini hadir sebagai wahana pemberdayaan generasi muda Aceh yang bertumpu pada inovasi teknologi, kewirausahaan berbasis komoditas lokal, sekaligus selaras dengan Asta Cita Presiden Prabowo, khususnya dalam hal hilirisasi industri.

    Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya, dalam sambutannya menjelaskan bahwa mengacu pada Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya poin ke-3 tentang peningkatan tenaga kerja berkualitas melalui pengembangan industri kreati, industri kreatif dipandang sebagai sektor strategis untuk menciptakan lapangan kerja berkualitas berbasis keterampilan (skill) yang harus terus diasah.

    “Kehadiran AMANAH di Aceh diharapkan menjadi wadah untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas SDM kreatif daerah,” kata Menteri Teuku.

    Dirinya menyebuut bahwa Asta Cita poin ke-5 menekankan pentingnya hilirisasi guna meningkatkan nilai tambah ekonomi, dimana hilirisasi tidak hanya berlaku untuk sektor tambang, tetapi juga industri kreatif, sepert fashion, parfum, film dan aplikasi asing menjadi produk lokal

    “Target utama adalah menjadikan Indonesia, termasuk Aceh, sebagai pemain industri kreatif di tingkat global,” tuturnya.

    Ketua Yayasan AMANAH, Syaifullah Muhammad, menyampaikan bahwa visi utama lembaga ini adalah mewujudkan generasi muda Aceh yang inovatif, mandiri, dan berdaya saing global.

    “Misi yang kami jalankan, yaitu, mengembangkan ekosistem kewirausahaan berbasis inovasi, mendorong pemanfaatan teknologi di berbagai sektor, memberdayakan UMKM dan ekonomi lokal, meningkatkan kapasitas dan kompetensi pemuda melalui pelatihan, serta mewujudkan pembangunan berkelanjutan berbasis komunitas”, kata Syaifullah.

    Dirinya berharap AMANAH menjadi salah satu stakeholder yang menggerakkan anak muda Aceh agar mampu bersaing di tingkat lokal, nasional, hingga global.

    Salah satu unggulan yang dikembangkan adalah teknologi pemurnian minyak nilam menggunakan molecular distillation and fractionation, yaitu teknologi yang juga digunakan oleh Prancis dan Amerika Serikat.

    “Dengan teknologi ini, minyak nilam bisa masuk ke grade kosmetik, skincare, hingga parfum. Ini penting karena selama ini bahan mentah dari Indonesia diekspor, lalu kita membeli kembali dalam bentuk produk jadi,” jelasnya.

    Melalui teknologi ini, minyak nilam asal Aceh tidak lagi diekspor dalam bentuk bahan mentah, melainkan diolah hingga memenuhi standar kosmetik, skincare, dan parfum berkualitas tinggi. AMANAH bahkan telah memiliki fasilitas produksi dan formulasi kosmetik serta parfum untuk mendukung substitusi impor.

    “Jika ini berjalan, maka hilirisasi benar-benar terjadi di dalam negeri, dari bahan baku hingga produk akhir. Ini akan menjadi gerakan ekonomi yang sangat besar,” tegas Syaifullah.

    Menurutnya, respons publik sangat positif, dengan sejumlah influencer kembali mempromosikan AMANAH sebagai pusat pengembangan pemuda Aceh. AMANAH akan menerapkan kolaborasi pentahelix, melibatkan pemerintah, akademisi, bisnis, komunitas, dan media, untuk mempercepat pemberdayaan pemuda Aceh secara terukur dan terintegrasi.

    Sebelumnya, Walikota Banda Aceh Illiza Sa’aduddin Djamal menyebut bahwa fasilitas AMANAH menjadi ruang nyata bagi anak muda untuk berkembang dan berinovasi.

    “Fasilitas di sini sangat lengkap dan luar biasa. Ini adalah jawaban bagi keresahan anak muda kita yang memiliki bakat, tetapi sering terkendala infrastruktur,” tuturnya.

    Kolaborasi dan sinergitas antarpemangku kepentingan diharapkan mendorong pemanfaatan teknologi di berbagai sektor, memberdayakan UMKM dan ekonomi lokal dan meningkatkan kapasitas serta kompetensi pemuda yang berakar pada kekayaan potensi daerah. [-RWA]

  • AMANAH Resmi Relaunching, Fokus pada Hilirisasi dan Penguatan Ekosistem Ekonomi Kreatif Aceh

    Aceh Besar – Yayasan Aneuk Muda Aceh Unggul Hebat (AMANAH) resmi memulai babak baru melalui momentum Relaunching dengan semangat “Restart and Rise”. Langkah strategis ini mempertegas posisi AMANAH sebagai motor penggerak hilirisasi di sektor ekonomi kreatif dan komoditas lokal, selaras dengan program Asta Cita Presiden Prabowo Subianto dalam memperkuat kemandirian ekonomi nasional.

    Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, dalam sambutannya menekankan bahwa kehadiran AMANAH merupakan implementasi nyata dari Asta Cita poin ke-3 dan ke-5. Fokus utamanya adalah peningkatan kualitas SDM melalui pengembangan industri kreatif serta penciptaan nilai tambah ekonomi lewat hilirisasi.

    “Hilirisasi yang kita dorong bukan hanya di sektor tambang, tetapi juga industri kreatif. Kita ingin melihat produk fashion, parfum, hingga film asing bertransformasi menjadi karya lokal yang berkualitas global. AMANAH adalah wadah untuk mewujudkan hal tersebut di Aceh,” ujar Teuku Riefky.

    Sejalan dengan visi tersebut, Ketua Yayasan AMANAH, Dr. Saifullah Muhammad, menjelaskan bahwa fokus utama gerakan ini adalah memberikan nilai tambah nyata pada komoditas unggulan daerah. Salah satu terobosan konkret yang dihadirkan adalah penerapan teknologi molecular distillation and fractionation untuk pemurnian minyak nilam.

    “Selama ini kita berhenti di komoditas mentah. Dengan teknologi ini, minyak nilam kita masuk ke grade kosmetik dan parfum. Jika ini berjalan, maka hilirisasi benar-benar terjadi di dalam negeri, dari bahan baku hingga produk akhir. Ini akan menjadi gerakan ekonomi yang sangat besar,” jelas Saifullah.

    Saifullah menambahkan bahwa AMANAH telah menyiapkan fasilitas pendukung mulai dari rumah kemasan hingga studio fotografi produk untuk meningkatkan daya saing UMKM.

    “Kami ingin produk mereka tidak hanya bagus secara kualitas, tetapi juga siap masuk pasar dengan standar tinggi. Kami mendorong pemuda Aceh untuk mampu berkompetisi tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga di level global,” pungkasnya.

    Pemerintah Provinsi Aceh turut memberikan dukungan penuh dengan menjadikan Gedung AMANAH sebagai pusat kolaborasi lintas sektor atau hub bagi ekosistem pentahelix.

    Gubernur Aceh, Muzakir Manaf, dalam sambutannya menekankan bahwa fasilitas ini harus menjadi ruang tumbuh bagi kreativitas yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat.

    “Pendekatan berbasis kerja sama yang diusung melalui AMANAH dinilai mampu memberikan dampak nyata dalam menjawab tantangan sosial ekonomi, termasuk membantu mengurangi pengangguran dan kemiskinan di Aceh melalui program yang lebih terarah,” tutur Muzakir.

    Ke depan, AMANAH akan mengedepankan pendekatan social enterprise yang menggabungkan pelatihan kapasitas diri dengan penguatan ekosistem bisnis.

    Transformasi ini menjadi sinyal kuat bahwa sinergi antara pusat dan daerah dalam bingkai Asta Cita dapat mengakselerasi lahirnya generasi muda Aceh yang inovatif, mandiri, dan berdaya saing global. #

  • AMANAH Sejalan Asta Cita, Dorong Daya Saing Ekonomi Lokal ke Tingkat Global

    Aceh – Program AMANAH semakin mengukuhkan posisinya sebagai pusat pengembangan generasi muda Aceh yang selaras dengan agenda besar Asta Cita pemerintah, khususnya dalam mendorong hilirisasi dan penguatan ekonomi berbasis potensi lokal. Dengan pendekatan inovatif dan kolaboratif, AMANAH hadir sebagai motor penggerak ekonomi kreatif yang mampu membawa komoditas daerah naik kelas ke pasar global.

    Ketua Yayasan AMANAH, Syaifullah Muhammad, menegaskan bahwa arah pengembangan AMANAH ke depan berfokus pada penciptaan generasi muda yang inovatif, mandiri, dan berdaya saing global. “Visi utama kami adalah pengembangan generasi muda Aceh yang inovatif, mandiri, dan berdaya saing global. Untuk itu, kami membangun ekosistem kewirausahaan berbasis inovasi serta mendorong pemanfaatan teknologi di berbagai sektor,” ujarnya.

    Ia menjelaskan bahwa AMANAH tidak hanya berfokus pada pengembangan individu, tetapi juga pada pemberdayaan ekonomi lokal. Melalui pelatihan, pendampingan, serta penguatan kapasitas pemuda, AMANAH turut mendorong pertumbuhan UMKM dan pembangunan berkelanjutan berbasis komunitas.

    Menurut Syaifullah, AMANAH juga secara aktif mengadopsi arah kebijakan nasional, khususnya Asta Cita yang diusung Prabowo Subianto. “Kami mempelajari Asta Cita Presiden, lalu kami adopsi menjadi gerakan di AMANAH agar bisa bersinergi dengan pemerintah, baik pusat maupun daerah,” jelasnya.

    Salah satu implementasi nyata dari sinergi tersebut adalah penguatan hilirisasi berbasis komoditas lokal. AMANAH mendorong pengembangan produk unggulan seperti kopi dan nilam agar tidak hanya menjadi bahan mentah, tetapi memiliki nilai tambah melalui inovasi dan teknologi.

    Pendekatan ini sejalan dengan strategi nasional dalam memperkuat hilirisasi sebagai kunci peningkatan daya saing ekonomi Indonesia. Dengan mengolah komoditas lokal menjadi produk bernilai tinggi, AMANAH turut berkontribusi dalam menciptakan lapangan kerja serta memperluas akses pasar bagi pelaku usaha muda.

    Selain itu, AMANAH juga diproyeksikan menjadi pusat aktivitas kreatif atau hotspot bagi anak muda Aceh. Berbagai program dan fasilitas yang tersedia mampu menarik minat generasi muda untuk berinovasi dan berkolaborasi dalam menciptakan solusi ekonomi berbasis lokal.

    “Responsnya sangat positif. Banyak influencer mulai kembali membicarakan AMANAH, dan kami juga memperkuat kerja sama dengan kampus seperti Universitas Syiah Kuala dan UIN Ar-Raniry sebagai basis komunitas anak muda kreatif,” ungkap Syaifullah.

    Kolaborasi lintas sektor ini dinilai menjadi kunci keberhasilan AMANAH dalam membangun ekosistem inovasi yang berkelanjutan. Sinergi antara pemerintah, akademisi, dan komunitas kreatif membuka peluang besar bagi lahirnya generasi muda yang siap bersaing di tingkat global.

    Dengan semangat Asta Cita dan fokus pada hilirisasi, AMANAH tidak hanya menjadi wadah pengembangan pemuda, tetapi juga lokomotif baru dalam mendorong transformasi ekonomi Aceh yang inklusif, produktif, dan berdaya saing tinggi.

  • Relaunching AMANAH Berlangsung Meriah, Perkuat Lahirnya Talenta Muda Aceh yang Kompetitif

    Aceh Besar – Relaunching Aneuk Muda Aceh Unggul Hebat (AMANAH) berlangsung sukses, semarak, dan penuh antusiasme di Kawasan Industri Aceh (KIA) Ladong. Momentum ini menegaskan keseriusan berbagai pihak dalam mempercepat pembangunan sumber daya manusia unggul sebagai fondasi kemajuan Aceh di tengah dinamika global yang terus berkembang.

    Bupati Aceh Besar, Muharram Idris mengatakan relaunching AMANAH menjadi bukti nyata kehadiran negara dalam mendukung generasi muda sebagai motor penggerak pembangunan.

    “Fasilitas yang ada ini harus dimanfaatkan secara optimal. Kita ingin anak muda Aceh tidak hanya berkembang, tetapi juga mampu menciptakan peluang dan membawa dampak nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

    Menurutnya, penguatan generasi muda merupakan investasi jangka panjang yang akan menentukan arah pembangunan daerah. Generasi muda Aceh diyakini mampu menjadi kekuatan utama dalam menjaga stabilitas ekonomi sekaligus mendorong pertumbuhan yang berkelanjutan.

    Direktur AMANAH, Safwan Nurdin mengatakan bahwa relaunching ini menandai kebangkitan baru AMANAH sebagai pusat inovasi pemuda. “Hari ini kita melihat semangat luar biasa dari anak-anak muda Aceh. Ini menjadi energi besar untuk terus melahirkan karya-karya unggul yang mampu bersaing secara global,” katanya.

    Sementara itu, Ketua Yayasan AMANAH, Saifullah Muhammad mengatakan bahwa AMANAH hadir dengan visi membangun generasi muda yang inovatif, mandiri, dan berdaya saing global. “Kami mengembangkan ekosistem kewirausahaan berbasis inovasi, mendorong pemanfaatan teknologi, serta memperkuat UMKM agar memiliki nilai tambah yang tinggi,” jelasnya.

    Ia menambahkan bahwa penguatan hilirisasi komoditas lokal seperti kopi dan nilam menjadi langkah strategis dalam meningkatkan daya saing produk Aceh. “Selama ini kita hanya menjual bahan mentah. Sekarang kita dorong hingga menjadi produk akhir seperti parfum dan kosmetik. Ini bagian dari gerakan besar untuk memperkuat ekonomi daerah,” ungkapnya.

    Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal mengatakan bahwa kehadiran AMANAH mencerminkan arah pembangunan yang semakin maju dan terintegrasi. “Ini adalah jawaban atas kebutuhan anak muda yang selama ini membutuhkan ruang untuk berkembang. Dengan fasilitas ini, potensi mereka dapat dimaksimalkan,” ujarnya.

    Dengan semangat kebangkitan yang kuat dan dukungan berbagai pihak, AMANAH kini tampil sebagai simbol optimisme baru bagi masa depan Aceh. Ruang kreatif yang semakin terbuka luas menjadi bukti bahwa generasi muda mendapatkan tempat strategis dalam pembangunan, sekaligus menjadi pilar utama dalam mewujudkan Aceh yang maju, mandiri, dan berdaya saing tinggi.

  • Relaunching AMANAH Dorong Transformasi Hilirisasi Industri Kreatif Aceh

    ACEH BESAR – Relaunching Gedung AMANAH di Aceh menjadi momentum penting dalam memperkuat arah pembangunan ekonomi kreatif yang terintegrasi dengan agenda hilirisasi nasional. Peresmian ini tidak sekadar mengaktifkan kembali fasilitas, tetapi juga menegaskan peran AMANAH sebagai pusat kolaborasi lintas sektor yang mendorong penciptaan nilai tambah dari potensi lokal.

    Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya menyoroti bahwa hilirisasi kini berkembang ke sektor kreatif sebagai bagian dari implementasi Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

    “Hilirisasi tidak hanya diartikan untuk sektor tambang, tetapi juga industri kreatif yang mampu mengubah produk asing menjadi produk lokal dengan nilai tambah tinggi,” ujar Teuku Riefky Harsya.

    Penegasan tersebut menunjukkan arah kebijakan yang semakin luas, di mana penguatan industri kreatif menjadi instrumen penting dalam menciptakan lapangan kerja berkualitas. Aceh dinilai memiliki potensi besar melalui kekayaan budaya dan kreativitas generasi muda yang terus berkembang. Kehadiran AMANAH diharapkan mampu menjadi ruang akselerasi bagi talenta lokal agar mampu bersaing di tingkat nasional hingga global.

    Gubernur Aceh, Muzakir Manaf menilai relaunching ini sebagai tonggak penguatan sinergi berbagai pihak dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

    “Gedung AMANAH menjadi pusat kegiatan bersama yang menghubungkan pemerintah, pelaku usaha, akademisi, dan komunitas untuk memperkuat pemberdayaan ekonomi,” tegas Muzakir Manaf.

    Pendekatan kolaboratif yang diusung dinilai relevan dalam menjawab tantangan sosial ekonomi, termasuk pengangguran dan kemiskinan. Melalui program yang lebih terarah, AMANAH diproyeksikan mampu menghadirkan dampak nyata bagi masyarakat, khususnya generasi muda yang menjadi motor penggerak ekonomi kreatif.

    Ketua Yayasan AMANAH, Dr. Saifullah Muhammad menekankan pentingnya optimalisasi fasilitas serta perubahan pola pikir dalam mengelola potensi daerah.

    “Pengembangan ekonomi kreatif membutuhkan kolaborasi yang kuat, manajemen yang efektif, serta kemauan untuk memaksimalkan potensi yang ada,” pungkas Dr. Saifullah Muhammad.

    Relaunching ini juga menandai penguatan program berbasis inovasi dan teknologi, termasuk pengembangan hilirisasi komoditas unggulan seperti kopi dan nilam. Upaya tersebut tidak hanya meningkatkan nilai tambah, tetapi juga membuka peluang ekspor dan investasi yang lebih luas.

    Dengan dukungan berbagai pemangku kepentingan, AMANAH diharapkan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di Aceh. Sinergi yang terbangun melalui relaunching ini memperkuat optimisme bahwa hilirisasi kreatif dapat menjadi pendorong utama dalam menciptakan ekonomi yang inklusif, berdaya saing, dan berkelanjutan.

  • Scaling Up Koperasi Merah Putih, Target 80 Ribu Unit Perkuat Ekonomi Nasional

    Jakarta – Program Koperasi Desa Merah Putih ditargetkan mencapai 80 ribu unit di seluruh Indonesia sebagai upaya memperkuat ekonomi berbasis kerakyatan. Inisiatif ini diarahkan untuk mendorong kemandirian ekonomi masyarakat desa sekaligus memperluas akses terhadap lapangan kerja produktif.

    Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, menegaskan bahwa revitalisasi koperasi menjadi agenda penting pemerintah untuk mengejar ketertinggalan sektor ini dibandingkan badan usaha lainnya.

    Ia menyoroti bahwa selama puluhan tahun koperasi belum mendapatkan ruang optimal dalam ekosistem ekonomi nasional, sehingga diperlukan intervensi kebijakan yang lebih progresif dan terukur.

    “Koperasi kita selama 30 tahun kalah jauh dibandingkan BUMN maupun swasta. Ini bukan karena koperasi tidak mampu, tetapi karena kurangnya keberpihakan kebijakan. Sekarang saatnya negara hadir memperkuat koperasi sebagai sokoguru ekonomi rakyat,” ujar Ferry.

    Ia juga menambahkan bahwa pengembangan Koperasi Desa Merah Putih tidak hanya berfokus pada kuantitas, tetapi juga kualitas tata kelola dan digitalisasi.

    “Kami tidak ingin hanya membentuk koperasi, tetapi memastikan koperasi ini sehat, produktif, dan mampu bersaing. Digitalisasi dan integrasi dengan rantai pasok nasional menjadi kunci keberhasilan ke depan,” lanjutnya.

    Sejalan dengan itu, Wakil Menteri Koperasi, Farida Farichah, menyampaikan bahwa pemerintah telah menyiapkan berbagai infrastruktur pendukung guna memastikan koperasi desa dapat berjalan optimal. Ribuan fasilitas penunjang telah dirampungkan dan siap digunakan sebagai basis operasional Koperasi Merah Putih di berbagai daerah.

    “Kami memastikan bahwa Koperasi Desa Merah Putih tidak berjalan sendiri. Pemerintah sudah menyiapkan fasilitas, pendampingan, hingga skema pembiayaan agar koperasi ini benar-benar bisa berkembang dan memberikan manfaat langsung bagi masyarakat,” jelas Farida.

    Ia menambahkan bahwa pendekatan kolaboratif menjadi kekuatan utama program ini.

    “Sinergi antara pemerintah pusat, daerah, dan masyarakat menjadi fondasi utama. Dengan dukungan yang terintegrasi, koperasi desa akan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di tingkat lokal,” katanya.

    Sementara itu, Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menekankan bahwa Koperasi Desa Merah Putih ini juga memiliki dampak signifikan terhadap pengentasan kemiskinan. Kementerian Sosial memprioritaskan penerima bantuan sosial untuk dapat terlibat langsung dalam aktivitas ekonomi koperasi.

    “Kami ingin penerima bansos tidak selamanya bergantung pada bantuan. Melalui Koperasi Merah Putih, mereka didorong untuk bekerja, berusaha, dan menjadi bagian dari ekosistem ekonomi produktif,” pungkas Gus Ipul. ***

  • Pemerintah Targetkan 80 Ribu Koperasi Merah Putih, Fondasi Ekonomi Desa Diperkuat

    Jakarta – Menteri Koperasi, Ferry Juliantono, menegaskan bahwa pemerintah terus mendorong percepatan penguatan ekonomi desa melalui pengembangan Koperasi Desa/Kelurahan (Kopdes/Kel) Merah Putih yang ditargetkan mencapai lebih dari 80 ribu unit di seluruh Indonesia.

    Program ini dinilai menjadi langkah strategis dalam membangun fondasi ekonomi kerakyatan yang kuat, inklusif, dan berkelanjutan.

    Dalam keterangannya, Ferry menyampaikan bahwa saat ini program Kopdes/Kel Merah Putih telah memasuki fase operasionalisasi setelah sebelumnya melalui tahap pembentukan kelembagaan.

    Ia menyebutkan bahwa ribuan unit koperasi telah rampung dibangun dan siap menjalankan fungsinya sebagai pusat kegiatan ekonomi masyarakat desa.

    “Saat ini pembangunan yang sudah selesai 100% sudah 5.500 titik. Ini tidak lepas juga dari dukungan dari teman-teman dari daerah, provinsi, kabupaten, kota yang ada,” papar Ferry.

    Ia juga menekankan pentingnya peran pemerintah daerah dan DPRD dalam mendorong pengembangan UMKM agar mampu mengisi rantai pasok koperasi tersebut.

    Menurutnya, sinergi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci dalam memastikan koperasi dapat berjalan optimal dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

    “Jangan takut produknya tidak laku, karena kami akan prioritaskan produk-produk UMKM lokal yang akan mengisi rak-rak di Kopdes/Kel Merah Putih. Tapi ini perlu didorong bersama-sama, karena memang harapannya adalah produk-produk itu bisa diisi oleh kita sendiri,” pungkas Ferry.

    Di sisi lain, praktisi Koperasi Indonesia, R. Nugroho M., turut memberikan apresiasi terhadap program tersebut. Ia menilai bahwa penguatan koperasi merupakan langkah tepat dalam membangun kemandirian ekonomi masyarakat dari tingkat akar rumput.

    “Program ini patut diapresiasi karena menempatkan koperasi sebagai wadah rakyat untuk menjadi pemilik sekaligus pelaku ekonomi di lingkungannya sendiri.” Ujar nugroho.

    Ia menambahkan bahwa keberadaan koperasi yang didukung berbagai fasilitas akan memberikan dampak luas bagi masyarakat desa, termasuk dalam menciptakan lapangan kerja baru dan memperkuat usaha lokal.

    “Melalui berbagai fasilitas, koperasi akan lebih mudah mengembangkan unit usaha, memperluas pelayanan kepada anggota, serta membuka lapangan kerja baru di desa”. Ujarnya

    Menurutnya, kekuatan utama koperasi terletak pada rasa kepemilikan dan kepercayaan dari anggotanya. Hal tersebut menjadi fondasi penting dalam membangun ekonomi berbasis masyarakat yang berkelanjutan.

    “koperasi yang kuat bukan lahir dari ketergantungan, tetapi dari kepercayaan dan kepemilikan. Di situlah ekonomi kerakyatan menemukan bentuknya yang sesungguhnya” tutupnya

    Dengan target lebih dari 80 ribu koperasi, Program Koperasi Merah Putih ini diharapkan mampu menjadi mesin baru pertumbuhan ekonomi desa dengan memperkuat distribusi, produksi, dan konsumsi secara terintegrasi.

    [w.R]

  • Koperasi Merah Putih sebagai Instrumen Penciptaan Kerja Berbasis Desa

    Oleh: Citra Kurnia Khudori)*

    Koperasi Merah Putih muncul sebagai salah satu terobosan kebijakan yang diarahkan untuk memperkuat ekonomi desa sekaligus menciptakan lapangan kerja baru. Inisiatif ini menjadi relevan di tengah tantangan ketimpangan pembangunan antara wilayah perkotaan dan pedesaan yang masih menjadi pekerjaan rumah nasional.

    Dalam kerangka pembangunan inklusif, desa tidak lagi diposisikan sebagai objek pembangunan semata, melainkan sebagai subjek yang memiliki potensi besar untuk tumbuh secara mandiri. Oleh karena itu, kehadiran Koperasi Merah Putih diharapkan mampu menjadi instrumen strategis dalam menggerakkan ekonomi berbasis komunitas.

    Pemerintah menargetkan pembentukan koperasi desa dalam skala besar sebagai bagian dari agenda transformasi ekonomi. Langkah ini tidak hanya berorientasi pada penguatan kelembagaan, tetapi juga penciptaan ekosistem usaha yang mampu menyerap tenaga kerja lokal.

    Menteri Koordinator Bidang Pangan sekaligus Ketua Satgas Pembentukan Kopdes Merah Putih, Zulkifli Hasan, menyampaikan bahwa pemerintah membuka sekitar 30 ribu lowongan manajer koperasi desa. Ia menjelaskan bahwa kebutuhan ini mencerminkan keseriusan pemerintah dalam memastikan koperasi dikelola secara profesional dan mampu berkembang secara berkelanjutan.

    Pembukaan lapangan kerja tersebut menjadi sinyal kuat bahwa koperasi tidak lagi dipandang sebagai entitas ekonomi tradisional. Sebaliknya, koperasi didorong untuk bertransformasi menjadi lembaga bisnis modern yang berbasis pada prinsip gotong royong.

    Selain menciptakan posisi manajerial, keberadaan koperasi juga berpotensi membuka peluang kerja lain di sektor pendukung. Mulai dari administrasi, logistik, hingga pengolahan produk lokal, semua memiliki potensi untuk berkembang seiring dengan aktivitas koperasi.

    Pendekatan ini menunjukkan bahwa penciptaan kerja berbasis desa tidak harus selalu bergantung pada industrialisasi skala besar. Justru, penguatan ekonomi lokal melalui koperasi dapat menjadi alternatif yang lebih berkelanjutan dan kontekstual.

    Di sisi lain, keberhasilan koperasi sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia yang mengelolanya. Oleh karena itu, proses rekrutmen dan pelatihan menjadi aspek penting yang tidak boleh diabaikan.

    Pemerintah menekankan bahwa manajer koperasi harus memiliki kompetensi yang memadai, baik dari sisi manajerial maupun pemahaman terhadap potensi lokal. Hal ini penting agar koperasi tidak hanya berdiri secara formal, tetapi juga mampu beroperasi secara efektif.

    Peneliti Center of Reform on Economics (CORE) Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, menilai bahwa Koperasi Merah Putih memiliki potensi besar dalam mendorong transformasi ekonomi desa. Ia mengungkapkan, koperasi dapat menjadi instrumen efektif jika didukung oleh tata kelola yang baik dan integrasi dengan kebijakan ekonomi lainnya.

    Pandangan tersebut menegaskan bahwa koperasi bukan sekadar solusi instan. Diperlukan pendekatan sistemik yang mencakup penguatan kelembagaan, akses pembiayaan, dan dukungan pasar.

    Selain itu, keberlanjutan program juga harus menjadi perhatian utama. Koperasi yang dibentuk tidak boleh hanya aktif di awal, tetapi harus mampu bertahan dan berkembang dalam jangka panjang.

    Oleh karena itu, pendampingan menjadi kunci penting. Pemerintah dan pemangku kepentingan lainnya perlu memastikan bahwa koperasi mendapatkan dukungan yang memadai, terutama pada fase awal operasional.

    Di sisi lain, partisipasi masyarakat menjadi elemen yang tidak kalah penting. Koperasi hanya akan berhasil jika didukung oleh keterlibatan aktif dari anggota dan komunitas setempat.

    Hal ini menuntut adanya kepercayaan terhadap pengelola koperasi. Transparansi dan akuntabilitas menjadi faktor kunci dalam membangun kepercayaan tersebut.

    Koperasi Merah Putih juga memiliki potensi untuk mengurangi urbanisasi. Dengan tersedianya lapangan kerja di desa, masyarakat tidak perlu lagi berpindah ke kota untuk mencari penghidupan.

    Dampak sosial dari kebijakan ini juga cukup signifikan. Selain meningkatkan pendapatan, koperasi dapat memperkuat solidaritas dan kohesi sosial di tingkat desa.

    Dalam jangka panjang, penguatan ekonomi desa akan berkontribusi terhadap stabilitas ekonomi nasional. Desa yang mandiri akan menjadi fondasi yang kuat bagi pembangunan yang berkelanjutan.

    Namun demikian, evaluasi berkala tetap diperlukan. Langkah ini penting agar setiap kendala yang muncul dapat segera diatasi. Dengan pendekatan yang adaptif, program Koperasi Merah Putih dapat terus disempurnakan.

    Lebih dari sekadar program ekonomi, koperasi ini juga memiliki dimensi sosial yang kuat. Nilai-nilai kebersamaan dan gotong royong menjadi fondasi utama dalam pengembangannya sehingga Koperasi Merah Putih tidak hanya berfungsi sebagai alat penciptaan kerja, tetapi juga sebagai sarana pemberdayaan masyarakat.

    Ke depan, keberhasilan program ini akan sangat ditentukan oleh konsistensi implementasi dan sinergi antar pihak. Tanpa koordinasi yang baik, potensi besar yang dimiliki bisa tidak termanfaatkan secara optimal.

    Dalam lanskap pembangunan yang terus berubah, pendekatan berbasis desa menjadi semakin penting. Koperasi Merah Putih menawarkan model yang menggabungkan aspek ekonomi dan sosial dalam satu kerangka yang utuh.

    Dengan arah kebijakan yang tepat, koperasi ini berpeluang menjadi motor penggerak ekonomi desa sekaligus solusi penciptaan kerja yang inklusif. Harapannya, inisiatif ini mampu menghadirkan perubahan nyata bagi masyarakat desa di seluruh Indonesia.

    )* Pemerhati isu sosial-ekonomi

  • Koperasi Merah Putih dan Integrasi Ekonomi Desa Berkelanjutan

    Oleh : Gavin Asadit )*

    Pemerintah Indonesia terus mempercepat penguatan ekonomi desa melalui program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (Kopdes Merah Putih) yang kini menjadi salah satu prioritas utama nasional pada tahun 2026. Program ini dirancang sebagai strategi besar untuk membangun sistem ekonomi desa yang terintegrasi, produktif, dan berkelanjutan, sekaligus menjawab tantangan ketimpangan ekonomi antara wilayah perkotaan dan perdesaan.

    Koperasi Merah Putih hadir sebagai model transformasi koperasi modern yang tidak lagi terbatas pada fungsi simpan pinjam, tetapi berkembang menjadi pusat aktivitas ekonomi desa. Pemerintah menempatkan koperasi sebagai agregator utama yang menghubungkan produksi masyarakat desa dengan sistem distribusi nasional, termasuk dalam sektor pangan, perdagangan, dan usaha mikro kecil.

    Perkembangan implementasi program ini menunjukkan tren positif. Presiden RI, Prabowo Subianto menyampaikan bahwa puluhan ribu koperasi desa Merah Putih mulai beroperasi bertahap sejak awal 2026, dengan target jangka menengah mencapai 60.000 unit di seluruh Indonesia. Ia menegaskan bahwa koperasi merupakan instrumen strategis dalam membangun kemandirian ekonomi rakyat sekaligus mempercepat pemerataan pembangunan nasional.

    Dalam konteks distribusi dan stabilitas harga, pemerintah juga menempatkan koperasi sebagai simpul penting dalam rantai pasok nasional. Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, menyampaikan bahwa koperasi Merah Putih akan difungsikan sebagai pusat distribusi yang mampu memotong rantai pasok panjang. Ia menilai sistem ini akan memberikan dampak langsung pada stabilitas harga serta peningkatan kesejahteraan petani dan pelaku usaha desa.

    Penguatan kelembagaan menjadi fokus utama dalam implementasi program ini. Pemerintah membuka rekrutmen tenaga profesional dalam jumlah besar untuk memastikan koperasi dikelola secara modern, transparan, dan berbasis kinerja. Langkah ini menjadi bagian dari upaya membangun koperasi yang tidak hanya kuat secara sosial, tetapi juga tangguh secara bisnis.

    Program ini juga terintegrasi dengan berbagai kebijakan pembangunan desa lainnya, termasuk penguatan Badan Usaha Milik Desa (BUMDes), hilirisasi produk unggulan desa, serta digitalisasi sistem perdagangan. Pendekatan ini menciptakan ekosistem ekonomi yang saling terhubung, sehingga desa tidak hanya berperan sebagai produsen bahan mentah, tetapi juga sebagai pelaku utama dalam rantai nilai ekonomi nasional.

    Digitalisasi menjadi salah satu pilar utama dalam pengembangan koperasi modern. Pemerintah mendorong koperasi untuk memanfaatkan teknologi dalam operasionalnya, mulai dari pencatatan keuangan, manajemen stok, hingga pemasaran produk. Dengan digitalisasi, koperasi diharapkan mampu meningkatkan efisiensi, transparansi, serta memperluas jangkauan pasar hingga ke tingkat nasional dan global.

    Dari sisi pembiayaan, pemerintah menyediakan berbagai skema dukungan, termasuk akses kredit berbunga rendah dan kemitraan dengan lembaga keuangan. Dukungan ini bertujuan untuk memastikan koperasi memiliki kapasitas permodalan yang memadai untuk berkembang. Selain itu, pemerintah juga membuka peluang kerja sama dengan sektor swasta guna memperkuat jaringan usaha dan distribusi.

    Meski menunjukkan perkembangan yang positif, tantangan dalam implementasi program ini tetap menjadi perhatian. Kesiapan sumber daya manusia, literasi keuangan, serta infrastruktur pendukung menjadi faktor penting yang perlu terus diperkuat. Pemerintah pun terus melakukan pendampingan dan pelatihan secara berkelanjutan agar koperasi mampu berkembang secara profesional dan adaptif.

    Sebelumnya, Menteri Koperasi, Ferry Juliantono menegaskan bahwa Koperasi Merah Putih merupakan langkah strategis dalam membangun ekosistem ekonomi desa yang terintegrasi. Ia menyampaikan bahwa koperasi harus menjadi agregator ekonomi rakyat yang mampu menghimpun potensi lokal, memperkuat produksi, serta membuka akses pasar yang lebih luas. Ia juga menekankan bahwa transformasi koperasi menuju model modern dan berbasis digital menjadi kunci dalam meningkatkan daya saing.

    Dalam perspektif jangka panjang, Koperasi Merah Putih tidak hanya berorientasi pada pertumbuhan ekonomi, tetapi juga pada keberlanjutan dan pemerataan. Koperasi menjadi sarana untuk memperkuat solidaritas sosial, meningkatkan partisipasi masyarakat, serta menciptakan distribusi ekonomi yang lebih adil. Dengan melibatkan masyarakat sebagai pelaku utama, koperasi diharapkan mampu menciptakan kesejahteraan yang berkelanjutan.

    Program ini sekaligus menandai perubahan paradigma pembangunan desa, dari yang sebelumnya berbasis bantuan menjadi berbasis pemberdayaan. Pemerintah kini menempatkan desa sebagai pusat pertumbuhan ekonomi baru yang memiliki potensi besar untuk dikembangkan secara mandiri, produktif, dan berdaya saing. Pendekatan ini mendorong masyarakat desa tidak lagi hanya sebagai penerima manfaat, tetapi juga sebagai pelaku utama dalam aktivitas ekonomi yang berkelanjutan.

    Ke depan, keberhasilan Koperasi Merah Putih akan sangat ditentukan oleh sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, pelaku usaha, dan masyarakat desa. Kolaborasi yang kuat dan terarah menjadi kunci untuk memastikan koperasi dapat berjalan efektif, transparan, dan mampu menjawab kebutuhan riil masyarakat. Dukungan kebijakan yang konsisten, pendampingan yang berkelanjutan, serta peningkatan kapasitas sumber daya manusia juga menjadi faktor penting dalam memperkuat peran koperasi.

    Dengan berbagai langkah strategis yang terus diperkuat, Koperasi Merah Putih diharapkan mampu menjadi fondasi utama dalam membangun ekonomi desa yang terintegrasi dan berkelanjutan. Program ini tidak hanya menghadirkan peluang ekonomi, tetapi juga memperkuat kemandirian desa sebagai bagian penting dari ketahanan ekonomi nasional, sekaligus mendorong pemerataan kesejahteraan secara lebih inklusif di seluruh wilayah Indonesia.

    )* Penulis adalah Pemerhati Masalah Sosial dan Kemasyarakatan

  • Tekanan Energi Dunia Naik, Pemerintah Pastikan BBM Tetap Terkendali

    Jakarta – Pemerintah memastikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) subsidi tetap terkendali di tengah meningkatnya tekanan energi global yang dipicu oleh dinamika geopolitik dan fluktuasi harga minyak dunia.

    Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia mengungkapkan harga BBM subsidi tidak akan naik hingga akhir 2026, dikarenakan kondisi pasokan energi domestik yang masih relatif terjaga.

    “Stok kami di atas standar minimum, baik itu solar, bensin, maupun LPG. Insyaallah aman. Kami sudah bersepakat atas arahan Bapak Presiden, bahwa harga BBM untuk subsidi tidak akan dinaikkan sampai dengan akhir tahun,” ungkap Bahlil.

    Ia menambahkan, saat ini pemerintah tengah menyiapkan kerja sama energi jangka panjang dengan Rusia untuk menambah pasokan nasional, dalam rangka mengantisipasi tekanan terhadap ketersediaan minyak dan gas di pasar global akibat konflik di Timur Tengah.

    “Tambahan sumber pasokan penting untuk menjaga stabilitas distribusi energi domestik. Di tengah kondisi global yang seperti ini, kita harus mampu mencari cadangan-cadangan minyak dari berbagai sumber. Tidak hanya di satu negara, tapi di hampir semua negara,” ujar Bahlil.

    Di sisi lain, Kepala Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), Wahyudi Anas menjelaskan pihaknya akan mengintensifkan pengawasan untuk mengidentifikasi potensi penyaluran BBM subsidi yang tidak tepat sasaran serta mengevaluasi data penjualan di SPBU.

    “Kami akan mencermati rekaman CCTV yang mengindikasikan adanya mobil yang membeli keluar masuk SPBU secara berulang, mengganti plat nomor dan menggunakan plat nomor polisi yang berbeda,” ungkap Wahyudi.

    Sebelumnya, Wahyudi telah meminta kepada seluruh pengelola SPBU untuk memastikan penyaluran BBM subsidi tepat guna dan tepat sasaran, mengingat subsidi merupakan anggaran negara yang diperuntukkan bagi masyarakat yang berhak.

    “Prioritas pemanfaatan BBM subsidi adalah untuk rakyat. Kami membutuhkan dukungan berbagai pihak, salah satunya pengelola SPBU, untuk mencegah penyaluran yang tidak tepat, agar penyaluran BBM subsidi tepat sasaran,” ucapnya.

    Di tengah tekanan energi dunia yang terus meningkat, langkah penguatan pasokan, pengendalian harga, serta peningkatan pengawasan distribusi menjadi kunci bagi pemerintah untuk memastikan BBM tetap terkendali, sehingga kebutuhan masyarakat terpenuhi tanpa mengganggu daya beli maupun ketahanan ekonomi nasional.