Kategori: Uncategorized

  • Membangun SDM Unggul Lewat Pendidikan Bermutu di Sekolah Garuda

    Oleh: Dodit Ibrahim )*

    Pembangunan sumber daya manusia unggul menjadi fondasi utama dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045. Pemerintah menempatkan sektor pendidikan sebagai instrumen strategis untuk menyiapkan generasi yang tidak hanya cakap secara akademik, tetapi juga memiliki karakter, kepemimpinan, dan daya saing global. Dalam konteks tersebut, kehadiran SMA Unggul Garuda Transformasi menjadi langkah konkret yang menunjukkan keseriusan pemerintah membangun kualitas manusia Indonesia melalui pendidikan bermutu.

    Program SMA Unggul Garuda Transformasi 2026 yang diluncurkan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi menjadi bagian dari strategi besar memperkuat fondasi pendidikan nasional. Program ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan kualitas sekolah unggulan, tetapi juga membangun ekosistem pendidikan yang terhubung antara jenjang menengah dan pendidikan tinggi. Pendekatan ini menunjukkan bahwa pemerintah menyiapkan transformasi pendidikan secara terstruktur untuk menghasilkan talenta unggul yang relevan dengan kebutuhan masa depan.

    Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi, Brian Yuliarto, menempatkan program ini sebagai instrumen penting untuk mengintegrasikan pendidikan menengah dan pendidikan tinggi dalam sistem yang saling menguatkan. Perspektif tersebut menegaskan bahwa pembangunan SDM unggul tidak dilakukan secara parsial, tetapi melalui desain pendidikan yang terhubung, berkelanjutan, dan berorientasi pada hasil jangka panjang.

    Brian juga menekankan bahwa Sekolah Garuda dirancang untuk mendorong lahirnya lulusan yang unggul secara akademik sekaligus memiliki karakter kuat dan kesiapan berkompetisi di tingkat global. Pandangan ini memperlihatkan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada capaian akademik, tetapi juga membangun kualitas generasi yang utuh. Pendidikan bermutu dalam kerangka ini dipahami sebagai proses pembentukan kapasitas intelektual, integritas, dan kepemimpinan secara bersamaan.

    Fokus program pada sekolah dengan rekam jejak akademik yang kuat menunjukkan pemerintah membangun transformasi melalui penguatan institusi yang siap dikembangkan menjadi pusat keunggulan. Intervensi yang dilakukan melalui peningkatan kapasitas guru, pengayaan kurikulum berbasis sains dan teknologi, serta pembinaan siswa menuju perguruan tinggi terbaik dunia menunjukkan bahwa pemerintah menempuh pendekatan komprehensif dalam meningkatkan kualitas pendidikan.

    Direktur Jenderal Sains dan Teknologi, Ahmad Najib Burhani, menjelaskan program ini merupakan bagian dari ekosistem Sekolah Garuda yang lebih luas. Pendekatan ini memperlihatkan bahwa pemerintah tidak memosisikan program sebagai kebijakan yang berdiri sendiri, tetapi sebagai bagian dari desain besar yang mencakup penguatan sekolah unggulan, pembangunan sekolah baru, dan dukungan akses menuju perguruan tinggi global. Integrasi kebijakan ini menjadi kekuatan utama dalam mempercepat pembangunan SDM unggul.

    Perluasan jangkauan program dari 12 sekolah pada 2025 menuju target 80 sekolah pada 2029 menunjukkan adanya arah pengembangan yang terukur. Kebijakan ini tidak bersifat terbatas, tetapi terus diperluas agar dampaknya menjangkau lebih banyak wilayah dan peserta didik. Proyeksi pertumbuhan tersebut memperlihatkan komitmen pemerintah membangun transformasi pendidikan secara progresif dan berkelanjutan.

    Dampak program yang telah menjangkau ratusan SMA dan MA melalui skema pengimbasan memperkuat bahwa Sekolah Garuda tidak dibangun sebagai model eksklusif. Pemerintah justru menjadikan sekolah terpilih sebagai pusat keunggulan yang memberi pengaruh positif bagi ekosistem pendidikan di sekitarnya. Pendekatan ini penting karena pembangunan pendidikan bermutu tidak cukup berhenti di sekolah sasaran, tetapi harus memberi manfaat lebih luas bagi sistem pendidikan nasional.

    Kolaborasi dengan perguruan tinggi terkemuka menjadi elemen penting yang memperkuat kualitas program. Keterlibatan universitas dalam mendampingi pengayaan pembelajaran menunjukkan pemerintah mendorong integrasi yang kuat antara pendidikan menengah dan pendidikan tinggi. Sinergi ini membuka ruang bagi transfer pengetahuan, penguatan kualitas pembelajaran, dan pembinaan siswa secara lebih terarah.

    Program pelatihan internasional bagi guru menunjukkan pemerintah memahami kualitas pendidikan sangat bergantung pada kapasitas pendidik. Penguatan kompetensi guru melalui pelatihan, penguasaan standar internasional, dan pengembangan pembelajaran berbasis riset menjadi strategi penting dalam menopang keberhasilan program. Reformasi pendidikan yang dijalankan pemerintah dengan demikian tidak hanya menyentuh peserta didik, tetapi juga memperkuat fondasi pengajaran.

    Penguatan kompetensi STEM menjadi bagian penting dari strategi pembangunan SDM unggul. Pemerintah menempatkan penguasaan sains dan teknologi sebagai kebutuhan mendesak untuk menjawab tantangan global yang semakin kompetitif. Namun program ini tidak hanya berfokus pada kemampuan teknis, melainkan juga mengembangkan soft skills, personal branding, dan kapasitas kepemimpinan siswa. Pendekatan ini memperlihatkan visi pendidikan yang adaptif terhadap perubahan zaman.

    Direktur Strategi dan Sistem Pembelajaran Transformatif, Ardi Findyartini, menambahkan program ini bertumpu pada tiga pilar penting, yakni pemerataan kesempatan berprestasi, inkubator kepemimpinan, serta penguatan akademik dan pengabdian masyarakat. Pilar tersebut memperlihatkan desain program yang tidak hanya berorientasi pada prestasi individual, tetapi juga pembentukan tanggung jawab sosial dan kepemimpinan generasi muda.

    Landasan kebijakan yang kuat melalui instruksi presiden, peraturan presiden, dan regulasi kementerian memperlihatkan program ini memiliki legitimasi yang kokoh. Hal ini penting karena transformasi pendidikan membutuhkan kesinambungan kebijakan agar pelaksanaannya konsisten dan berdampak jangka panjang. Pemerintah menunjukkan bahwa pembangunan SDM unggul didukung tidak hanya oleh visi, tetapi juga oleh kerangka regulasi yang terarah.

    SMA Unggul Garuda Transformasi pada akhirnya menunjukkan bahwa pembangunan SDM unggul membutuhkan pendidikan bermutu yang dirancang secara sistematis, inklusif, dan berorientasi masa depan. Melalui penguatan sekolah unggulan, pengembangan guru, kolaborasi dengan perguruan tinggi, penguatan STEM, serta perluasan dampak ke ekosistem pendidikan yang lebih luas, pemerintah memperlihatkan komitmen kuat membangun generasi yang siap menghadapi persaingan global.


    *) Analis Kebijakan Pendidikan Nasional

  • Relaunching AMANAH Bangkitkan Optimisme Generasi Muda Aceh

    Oleh: Fauziyah Hasan

    Aneuk Muda Aceh Unggul dan Hebat (AMANAH) kembali hadir dengan semangat baru dalam membangun generasi muda Aceh yang kreatif, unggul, dan berdaya saing. Relaunching ini tidak sekadar menandai diaktifkannya kembali sebuah program, tetapi juga menjadi simbol kebangkitan harapan baru bagi pengembangan talenta muda di “Serambi Mekah”. Di tengah dinamika zaman yang semakin kompetitif, kehadiran AMANAH membawa optimisme bahwa anak-anak muda Aceh memiliki ruang yang lebih luas untuk tumbuh, berkembang, dan berkontribusi nyata bagi daerahnya.

    Fokus utama AMANAH kali ini diarahkan pada pengembangan talenta muda yang selama ini tersebar di berbagai wilayah Aceh. Potensi besar yang dimiliki generasi muda dinilai sebagai aset strategis yang perlu dikelola secara terarah dan berkelanjutan. Tidak sedikit anak muda Aceh yang memiliki kreativitas, kemampuan, serta semangat untuk maju, namun belum sepenuhnya mendapatkan wadah pembinaan yang sistematis. Dalam konteks inilah AMANAH hadir sebagai jembatan yang menghubungkan potensi dengan peluang.

    Peran strategis AMANAH semakin terlihat dalam upayanya membangun ekosistem pengembangan pemuda yang inklusif dan adaptif. Program ini tidak hanya menyasar peningkatan kapasitas individu, tetapi juga mendorong lahirnya generasi yang mampu menjadi motor penggerak pembangunan daerah. Dengan pendekatan yang terintegrasi, AMANAH berupaya menciptakan generasi muda yang tidak hanya siap menghadapi tantangan, tetapi juga mampu menciptakan solusi inovatif bagi berbagai persoalan yang ada.

    Salah satu wujud nyata dari komitmen tersebut adalah pelaksanaan Future Leaders Bootcamp (FLB) yang digelar oleh Bidang Pelatihan dan Sertifikasi Badan Pekerja AMANAH di Gedung AMANAH, Kawasan Industri Aceh (KIA), Ladong, Aceh Besar. Program ini menjadi contoh konkret bagaimana AMANAH menghadirkan ruang pembinaan yang serius dan terarah. Sebanyak 26 peserta terpilih dari berbagai kabupaten/kota di Aceh mengikuti kegiatan ini setelah melalui proses seleksi ketat, memastikan bahwa mereka yang terlibat adalah individu dengan potensi dan komitmen tinggi.

    Mengusung tema “Mengenal Diri, Menentukan Arah, Mewujudkan Masa Depan”, bootcamp ini dirancang tidak hanya sebagai kegiatan pelatihan biasa, tetapi sebagai proses transformasi diri. Peserta diajak untuk memahami potensi yang dimiliki, menetapkan tujuan hidup, serta merancang langkah konkret untuk mencapainya. Pendekatan ini penting, mengingat banyak generasi muda yang memiliki potensi besar namun belum memiliki arah yang jelas dalam mengembangkannya.

    Ketua Yayasan AMANAH, Saifullah Muhammad, menegaskan bahwa peran anak muda sangat menentukan arah pembangunan daerah. Ia menekankan bahwa AMANAH hadir bukan hanya sebagai lembaga pelatihan, tetapi sebagai ekosistem yang mendorong lahirnya pemimpin masa depan yang berintegritas, visioner, dan memiliki kepedulian terhadap kemajuan daerah serta bangsa. Pandangan ini menjadi landasan penting bahwa pembangunan tidak dapat dilepaskan dari kualitas generasi mudanya.

    Dalam sesi pelatihan, peserta juga didorong untuk memahami pentingnya keseimbangan antara kecerdasan intelektual, emosional, dan spiritual. Ketiga aspek ini dipandang sebagai fondasi utama dalam membentuk kepemimpinan yang utuh. Seorang pemimpin tidak hanya dituntut cerdas secara akademik, tetapi juga mampu mengelola emosi, memiliki empati, serta menjunjung nilai-nilai moral dan kebangsaan.

    Berbagai materi disampaikan secara aplikatif untuk memastikan peserta mendapatkan pengalaman belajar yang komprehensif. Mulai dari penguatan pola pikir kewirausahaan melalui sesi entrepreneurial mindset, hingga pembentukan visi hidup dan penyusunan peta jalan masa depan (life roadmap). Selain itu, peserta juga dibekali kemampuan komunikasi efektif dan public speaking, yang menjadi keterampilan penting dalam menyampaikan gagasan dan mempengaruhi lingkungan sekitar.

    Pendekatan pelatihan yang interaktif menjadikan suasana kegiatan berlangsung dinamis dan inspiratif. Peserta tidak hanya menjadi penerima materi, tetapi juga terlibat aktif dalam diskusi, simulasi, dan berbagai latihan yang mendorong eksplorasi potensi diri. Interaksi antar peserta juga membuka peluang terbentuknya jejaring yang kuat, yang dapat menjadi modal penting dalam kolaborasi di masa depan.

    Lebih jauh, program ini diharapkan mampu melahirkan generasi muda Aceh yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga adaptif terhadap perubahan, kreatif dalam berpikir, dan memiliki daya saing global. Di tengah arus globalisasi, kemampuan untuk berinovasi dan beradaptasi menjadi kunci utama dalam memenangkan persaingan. Dengan bekal yang diberikan melalui AMANAH, generasi muda Aceh diharapkan mampu mengambil peran strategis dalam berbagai sektor pembangunan.

    Optimisme terhadap masa depan Aceh semakin menguat dengan hadirnya program-program seperti AMANAH. Generasi muda kini tidak lagi hanya menjadi penonton, tetapi didorong untuk menjadi aktor utama dalam menentukan arah pembangunan. Mereka memiliki kesempatan untuk mengembangkan potensi, memperluas wawasan, serta membangun kepercayaan diri dalam menghadapi tantangan global.

    Pada akhirnya, relaunching AMANAH menjadi momentum penting yang menegaskan bahwa masa depan Aceh berada di tangan generasi mudanya. Dengan ekosistem yang terus diperkuat, dukungan berbagai pihak, serta semangat kolaborasi yang terbangun, AMANAH diyakini mampu menjadi katalisator lahirnya generasi muda yang unggul, berkarakter, dan siap membawa Aceh menuju masa depan yang lebih cerah dan berdaya saing tinggi.

    Pengamat Sosial Budaya Aceh

  • AMANAH Kembali Digerakkan, Langkah Strategis Bangun SDM Unggul Aceh

    Oleh: Cut Nadia Azizah.

    Program Aneuk Muda Aceh Unggul dan Hebat (AMANAH) resmi diluncurkan kembali dengan semangat baru yang menandai babak penting dalam pembangunan sumber daya manusia di Aceh. Relaunching ini bukan sekadar menghidupkan kembali sebuah program, melainkan mempertegas arah kebijakan pembinaan generasi muda yang lebih terstruktur, terpadu, dan berorientasi pada dampak nyata. Dalam konteks pembangunan daerah, langkah ini menjadi sinyal kuat bahwa investasi pada kualitas pemuda dipandang sebagai fondasi utama untuk mendorong kemajuan ekonomi dan sosial yang berkelanjutan.

    Pendekatan yang diusung AMANAH tidak lagi bersifat parsial. Program ini mengintegrasikan pembinaan kepemimpinan berkarakter dengan penguatan ekosistem kewirausahaan berbasis potensi lokal. Artinya, generasi muda tidak hanya didorong untuk menjadi pemimpin dalam arti formal, tetapi juga sebagai aktor ekonomi yang mampu menciptakan peluang, membuka lapangan kerja, dan menggerakkan potensi daerah dari dalam. Sinergi antara kepemimpinan dan kewirausahaan ini menjadi kunci dalam menghadapi tantangan zaman yang menuntut adaptasi cepat, inovasi, serta daya saing tinggi.

    Antusiasme terhadap kehadiran kembali AMANAH terlihat jelas dari respons berbagai kalangan, terutama generasi muda Aceh. Selama ini, kebutuhan akan wadah pengembangan diri yang terstruktur dan berkelanjutan memang menjadi salah satu tantangan utama. Banyak potensi yang belum terfasilitasi secara optimal karena terbatasnya ruang pembinaan yang mampu menjawab kebutuhan zaman. AMANAH hadir untuk menjembatani kesenjangan tersebut dengan menghadirkan program yang lebih inklusif, adaptif, dan berorientasi pada hasil.

    Salah satu implementasi konkret dari semangat baru ini adalah penyelenggaraan Future Leaders Bootcamp (FLB), yang menjadi program unggulan dalam ekosistem AMANAH. Kegiatan ini diikuti oleh anak-anak muda terpilih dari berbagai daerah di Aceh yang telah melalui proses seleksi ketat. Bootcamp ini tidak hanya berfungsi sebagai ruang pelatihan, tetapi juga sebagai laboratorium pembentukan karakter dan kepemimpinan. Tema yang diangkat, yakni pengenalan diri, penentuan arah, dan perwujudan masa depan, menunjukkan bahwa program ini dirancang untuk membantu peserta memahami potensi diri sekaligus merancang langkah strategis dalam kehidupan mereka.

    Selama pelaksanaan bootcamp, terlihat jelas tingginya antusiasme dan semangat peserta. Hal ini mencerminkan adanya harapan besar dari generasi muda terhadap program yang mampu memberikan arah dan peluang nyata. Mereka tidak hanya datang untuk belajar, tetapi juga untuk membangun jejaring, bertukar gagasan, serta memperkuat visi tentang masa depan yang ingin mereka capai. Dalam konteks ini, AMANAH berperan sebagai katalis yang mempertemukan potensi individu dengan peluang yang tersedia.

    Penekanan pada pentingnya kepemimpinan yang berkarakter juga menjadi salah satu pilar utama dalam program ini. Generasi muda didorong untuk tidak hanya memiliki kecakapan intelektual, tetapi juga integritas, komitmen, serta rasa tanggung jawab terhadap pembangunan. Nilai-nilai kebangsaan dan semangat cinta tanah air menjadi landasan penting yang terus ditekankan, sehingga arah pengembangan tidak semata-mata berorientasi pada kepentingan individu, tetapi juga pada kontribusi terhadap masyarakat dan daerah.

    Di sisi lain, integrasi dengan sektor kewirausahaan menjadi langkah strategis dalam menjawab tantangan ekonomi. Dengan membangun kapasitas kewirausahaan berbasis potensi lokal, AMANAH membuka peluang bagi generasi muda untuk mengembangkan usaha yang relevan dengan karakteristik daerah. Hal ini tidak hanya berdampak pada peningkatan kesejahteraan individu, tetapi juga pada penguatan ekonomi daerah secara keseluruhan. Ketika pemuda mampu menjadi pelaku ekonomi yang produktif, maka efek bergandanya akan dirasakan oleh masyarakat luas.

    Kolaborasi dengan perguruan tinggi juga menjadi bagian penting dalam memperkuat ekosistem ini. Kampus tidak lagi hanya berperan sebagai institusi akademik, tetapi juga sebagai pusat inovasi dan pengembangan ide. Sinergi antara AMANAH dan dunia pendidikan membuka peluang lahirnya model pembinaan yang lebih komprehensif, di mana teori dan praktik dapat berjalan beriringan. Hal ini penting untuk memastikan bahwa generasi muda tidak hanya memiliki pengetahuan, tetapi juga kemampuan untuk mengaplikasikannya dalam kehidupan nyata.

    Namun demikian, keberhasilan program ini tidak dapat dilepaskan dari tantangan yang ada. Berbagai persoalan sosial, termasuk ancaman penyalahgunaan narkoba di kalangan generasi muda, menunjukkan bahwa pembangunan manusia membutuhkan pendekatan yang lebih holistik. Program pembinaan tidak cukup hanya bersifat seremonial atau jangka pendek, tetapi harus mampu menyentuh akar persoalan, termasuk menyediakan ruang pengembangan diri yang bermakna dan berkelanjutan.

    Dalam konteks ini, AMANAH memiliki peran strategis untuk menjadi solusi. Dengan menghadirkan ekosistem yang konsisten, terpercaya, dan memberdayakan, program ini diharapkan mampu mengisi kekosongan yang selama ini dirasakan oleh generasi muda. Potensi anak muda Aceh sesungguhnya sangat besar, namun tanpa dukungan ekosistem yang tepat, potensi tersebut sulit berkembang secara optimal.

    Relaunching AMANAH pada akhirnya merupakan pernyataan komitmen bahwa pembangunan sumber daya manusia tidak bisa ditunda. Dibutuhkan sinergi yang kuat antara pemerintah, lembaga pendidikan, dunia usaha, dan masyarakat untuk memastikan bahwa program ini berjalan secara berkelanjutan. Keberhasilan tidak hanya diukur dari jumlah kegiatan yang dilaksanakan, tetapi dari dampak nyata yang dihasilkan dalam kehidupan generasi muda.

    Dengan pendekatan yang terintegrasi dan kolaboratif, AMANAH optimistis mampu melahirkan generasi muda Aceh yang tidak hanya unggul secara intelektual, tetapi juga tangguh secara mental dan produktif secara ekonomi. Lebih dari itu, program ini diharapkan menjadi katalis perubahan yang mendorong Aceh menuju masa depan yang lebih berdaya saing, inklusif, dan berkelanjutan.

    (Former Journalist and Social Observer)

  • Relaunching AMANAH: Komitmen Serius Membangun Ekosistem Generasi Muda Aceh

    Oleh : Abdul Razak)*

    Relaunching Aneuk Muda Aceh Unggul dan Hebat (AMANAH) layak dibaca bukan sekadar seremoni, melainkan sebagai ujian serius bagi komitmen pemerintah dalam membangun ekosistem pengembangan generasi muda yang berkelanjutan. Momentum ini mencerminkan adanya kesadaran bahwa penguatan kapasitas pemuda tidak bisa lagi dilakukan secara parsial, tetapi harus terintegrasi dalam kerangka kebijakan yang terarah, berkelanjutan, dan berbasis kebutuhan zaman.

    Kehadiran unsur pimpinan daerah dan perwakilan pemerintah pusat dalam kegiatan tersebut menjadi sinyal kuat bahwa pengembangan pemuda telah ditempatkan sebagai agenda strategis lintas level pemerintahan. Hal ini penting, mengingat tantangan yang dihadapi generasi muda saat ini semakin kompleks, mulai dari disrupsi teknologi, dinamika pasar kerja, hingga tuntutan inovasi di sektor ekonomi kreatif. Tanpa dukungan kebijakan yang konsisten dan sinergis, potensi besar yang dimiliki pemuda berisiko tidak terkelola secara optimal.

    Namun, penting untuk melihat lebih dalam: apa yang sebenarnya ingin diubah melalui relaunching ini? Jika merujuk pada dinamika sebelumnya, pengembangan generasi muda di Aceh sering kali terjebak dalam pola yang repetitif, pelatihan dilakukan, sertifikat dibagikan, tetapi dampaknya tidak selalu berlanjut. Di titik inilah AMANAH diuji: apakah ia hanya menjadi wadah baru dengan pola lama, atau benar-benar menghadirkan pendekatan yang berbeda.

    Secara konseptual, AMANAH menawarkan sesuatu yang lebih terintegrasi. Program seperti Future Leaders Bootcamp (FLB) menunjukkan adanya upaya membangun fondasi kepemimpinan sejak awal. Peserta tidak hanya diberi materi, tetapi diarahkan untuk memahami diri, menyusun visi, dan merancang langkah konkret ke depan. Ini merupakan pendekatan yang relatif lebih dalam dibandingkan pelatihan konvensional.

    Selain itu, penekanan pada entrepreneurial mindset menjadi sinyal penting. Generasi muda Aceh didorong untuk tidak hanya menjadi pencari kerja, tetapi juga pencipta peluang. Dalam konteks ekonomi saat ini, pendekatan ini relevan. Lapangan kerja formal tidak tumbuh secepat jumlah angkatan kerja, sehingga kewirausahaan menjadi salah satu solusi strategis.

    Namun, di sinilah letak tantangannya. Membangun pola pikir kewirausahaan tidak cukup hanya melalui pelatihan singkat. Dibutuhkan ekosistem pendukung yang mencakup akses permodalan, pendampingan bisnis, hingga jejaring pasar. Tanpa itu, semangat kewirausahaan yang dibangun berisiko berhenti pada tahap wacana.

    Program-program lain seperti Communication & Public Speaking, Vision Building, dan Life Roadmap menunjukkan bahwa AMANAH mencoba menyentuh aspek soft skill. Ini langkah yang tepat, mengingat banyak generasi muda memiliki kemampuan teknis, tetapi kurang percaya diri dalam mengekspresikan ide. Dalam dunia yang semakin kompetitif, kemampuan komunikasi menjadi salah satu kunci utama.

    Namun, pendekatan holistik ini juga menuntut konsistensi. Tidak cukup hanya menghadirkan materi yang baik; yang lebih penting adalah memastikan bahwa peserta benar-benar mengalami proses pembelajaran yang berkelanjutan. Di sinilah pentingnya desain program jangka panjang, bukan sekadar kegiatan berbasis event.

    Dari sisi kebijakan, relaunching AMANAH mencerminkan perubahan cara pandang pemerintah. Generasi muda tidak lagi diposisikan sebagai objek yang “dibantu”, tetapi sebagai subjek yang “diberdayakan”. Ini pergeseran yang signifikan. Artinya, keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah peserta, tetapi dari sejauh mana mereka mampu menghasilkan karya, inovasi, atau bahkan usaha baru.

    Keterlibatan pemerintah pusat melalui sektor ekonomi kreatif juga membuka peluang baru. Aceh memiliki kekayaan budaya yang dapat diolah menjadi produk kreatif bernilai tinggi. Jika generasi muda mampu menggabungkan kreativitas dengan teknologi, maka potensi ekonomi yang dihasilkan bisa sangat besar. Dalam konteks ini, AMANAH dapat berperan sebagai inkubator yang menjembatani ide dengan implementasi.

    Meski demikian, ada satu hal yang tidak boleh diabaikan: tata kelola. Banyak program bagus gagal bukan karena konsepnya lemah, tetapi karena pengelolaannya tidak konsisten. Transparansi, akuntabilitas, dan profesionalisme menjadi faktor kunci. Tanpa itu, AMANAH berisiko mengalami nasib yang sama seperti program-program sebelumnya.

    Selain itu, kolaborasi harus menjadi fondasi utama. AMANAH tidak bisa berdiri sendiri. Keterlibatan kampus, pelaku industri, komunitas kreatif, hingga sektor swasta sangat diperlukan. Kolaborasi ini bukan hanya memperkaya program, tetapi juga memastikan bahwa output yang dihasilkan relevan dengan kebutuhan dunia nyata.

    Hal lain yang perlu dicermati adalah bagaimana mengukur keberhasilan. Apakah cukup dengan jumlah pelatihan yang dilakukan? Atau harus dilihat dari berapa banyak peserta yang berhasil membangun usaha, menciptakan inovasi, atau berkontribusi di masyarakat? Tanpa indikator yang jelas, sulit untuk menilai sejauh mana program ini berhasil.

    Dalam perspektif jangka panjang, AMANAH adalah investasi sosial. Dampaknya tidak instan, tetapi jika dikelola dengan baik, dapat melahirkan generasi yang lebih siap menghadapi tantangan global. Generasi yang tidak hanya memiliki keterampilan, tetapi juga karakter, visi, dan daya juang.

    Relaunching ini juga bisa menjadi momentum bagi Aceh untuk menunjukkan bahwa daerah mampu membangun ekosistem pengembangan talenta secara mandiri. Jika berhasil, AMANAH tidak hanya berdampak lokal, tetapi juga dapat menjadi model nasional.

    Pada akhirnya, AMANAH adalah tentang masa depan. Tentang bagaimana Aceh mempersiapkan generasi mudanya untuk tidak hanya bertahan, tetapi juga unggul di tengah perubahan global. Relaunching ini adalah langkah awal yang menjanjikan. Tetapi, seperti semua program besar lainnya, keberhasilannya tidak ditentukan oleh seberapa meriah peluncurannya, melainkan oleh seberapa konsisten ia dijalankan setelahnya.

    )* Penulis adalah Aktivis Muda Aceh

  • AMANAH Aceh Kembali Diluncurkan, Kolaborasi Strategis Kian Terbangun

    Oleh : Rika Prasatya )*

    Program Aneuk Muda Aceh Unggul Hebat (AMANAH) kembali diluncurkan sebagai upaya memperkuat peran generasi muda dalam mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di Aceh. Inisiatif ini tidak sekadar menjadi program pembinaan, tetapi berkembang sebagai gerakan kolaboratif yang mempertemukan berbagai pemangku kepentingan, mulai dari pemerintah daerah, lembaga keuangan, hingga sektor swasta.

    Peluncuran kembali AMANAH menjadi momentum penting untuk mempertegas komitmen bersama dalam membangun ekosistem kewirausahaan muda yang inklusif dan berkelanjutan. Program ini dirancang untuk memberikan ruang bagi anak muda Aceh dalam mengembangkan potensi di berbagai sektor, seperti UMKM, industri kreatif, hingga inovasi berbasis digital.

    Peran lembaga keuangan, khususnya Bank Indonesia, menjadi salah satu pilar penting dalam penguatan program ini. Ketua Yayasan AMANAH, Dr. Ir. Syaifullah Muhammad, ST, M.Eng. telah mengadakan pertemuan dengan Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Aceh, Agus Chusaini yang membahas peluang sinergi dalam mengoptimalkan berbagai fasilitas dan program pemberdayaan ekonomi yang dimiliki AMANAH di Kawasan Industri Ladong.

    Perwakilan Bank Indonesia menyampaikan bahwa pihaknya terus mendorong pertumbuhan ekonomi kreatif di kalangan generasi muda melalui berbagai program pembinaan dan fasilitasi. Mereka menilai AMANAH sebagai wadah strategis untuk mencetak wirausaha muda yang tangguh dan mampu bersaing di tingkat nasional maupun global.

    Dalam pernyataannya, pihak Bank Indonesia menegaskan bahwa dukungan terhadap AMANAH merupakan bagian dari upaya memperluas basis ekonomi daerah melalui pemberdayaan generasi muda. Mereka juga secara aktif mendorong peningkatan kapasitas pelaku usaha muda agar mampu beradaptasi dengan perkembangan pasar dan teknologi.

    Selain dukungan dari Bank Indonesia, kolaborasi dengan sektor perbankan syariah juga semakin diperkuat. AMANAH menggandeng Bank Syariah Indonesia (BSI) untuk memperluas akses pembiayaan bagi UMKM dan wirausaha muda. Kerja sama ini tidak hanya berfokus pada aspek permodalan, tetapi juga mencakup pendampingan usaha, literasi keuangan, serta penguatan manajemen bisnis.

    Pihak AMANAH secara aktif menyatakan bahwa kolaborasi dengan BSI menjadi langkah strategis dalam membangun fondasi ekonomi yang kuat bagi generasi muda Aceh. Mereka menilai dukungan perbankan syariah sangat relevan dengan karakteristik masyarakat Aceh, sehingga dapat mendorong pertumbuhan usaha yang berkelanjutan dan sesuai dengan prinsip syariah.

    Regional CEO BSI Aceh, Imsak Ramadhan, menyatakan pihaknya menyambut baik inisiatif kolaborasi tersebut dan terbuka bekerja sama sepanjang memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Menurutnya, BSI menjalankan tiga semangat utama dalam program pemberdayaan, yakni Sahabat Finansial, Sahabat Spiritual, dan Sahabat Sosial, sebagai bentuk komitmen dalam mendukung pembangunan ekonomi berbasis nilai syariah.

    Direktur AMANAH, Safwan Nurdin, menegaskan bahwa pihaknya terus membuka ruang kolaborasi dengan berbagai pihak untuk memperluas dampak program. Ia menyampaikan bahwa AMANAH tidak bisa berjalan sendiri, melainkan membutuhkan dukungan lintas sektor agar mampu menciptakan perubahan yang signifikan.

    Dukungan pemerintah daerah juga menjadi faktor penting dalam keberlanjutan program ini. Bupati Aceh Besar, Muharram Idris, menyatakan bahwa pemerintah siap menyinergikan program AMANAH dengan kebijakan pembangunan daerah. Ia menegaskan bahwa generasi muda harus menjadi aktor utama dalam pembangunan ekonomi, khususnya di sektor kreatif.

    Pihaknya ingin generasi Aceh Besar menjadi generasi unggul dan hebat. Mereka harus kreatif, inovatif, dan tetap memiliki nilai-nilai budaya serta keislaman yang kuat. Ia juga menambahkan bahwa pemerintah daerah akan mendorong pemanfaatan fasilitas dan program yang ada agar benar-benar memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Menurutnya, AMANAH memiliki potensi besar untuk menjadi pusat pengembangan ekonomi kreatif yang terintegrasi dengan sektor lain, seperti pertanian modern dan industri berbasis lokal.

    Lebih jauh, Muharram menekankan pentingnya sinergi antara pemerintah, dunia usaha, dan komunitas dalam menciptakan ekosistem yang kondusif bagi pertumbuhan wirausaha muda. Ia menyebut bahwa keberhasilan program seperti AMANAH sangat bergantung pada kolaborasi yang kuat dan berkelanjutan.

    Dengan semakin luasnya jaringan kerja sama yang terbangun, AMANAH kini berkembang menjadi lebih dari sekadar program pembinaan. Ia telah menjadi simbol gerakan kolektif untuk membangun kemandirian ekonomi generasi muda Aceh. Pendekatan kolaboratif yang diusung memungkinkan terciptanya inovasi yang lebih relevan dan berdampak langsung bagi masyarakat.

    Ke depan, AMANAH diharapkan mampu terus memperluas jangkauan program, baik dari sisi peserta maupun sektor yang digarap. Dengan dukungan berbagai pihak, program ini diyakini dapat melahirkan lebih banyak wirausaha muda yang tidak hanya sukses secara ekonomi, tetapi juga mampu memberikan kontribusi positif bagi pembangunan daerah.

    Peluncuran kembali AMANAH menandai babak baru dalam perjalanan pengembangan ekonomi kreatif di Aceh. Dengan semangat kolaborasi yang semakin kuat, program ini diharapkan menjadi katalisator bagi lahirnya generasi muda yang unggul, inovatif, dan siap menghadapi tantangan masa depan.

    )* Penulis adalah Kontributor Lembaga Studi Informasi Strategis Indonesia

  • Amanah Aceh Resmi Diluncurkan Kembali, Program Pembinaan Pemuda Diperluas

    Banda Aceh – Program Aneuk Muda Aceh Unggul – Hebat (AMANAH) kembali diluncurkan. Program ini dilakukan melalui pendekatan terpadu dengan basis menggabungkan pembinaan kepemimpinan berkarakter dan penguatan ekosistem kewirausahaan dan potensi lokal.

    Dalam rangka perkuat program AMANAH ini, sejumlah anak muda dari berbagai daerah di Aceh mengikuti Future Leaders Bootcamp (FLB) yang diselenggarakan oleh Bidang Pelatihan dan Sertifikasi Badan Pekerja AMANAH, di Gedung AMANAH, Kawasan Industri Aceh (KIA), Ladong, Aceh Besar.

    Dalam penyampaiannya Ketua Amanah, Dr Syaifullah Muhammad, mengatakan bahwa generasi muda Aceh tidak kekurangan potensi, namun masih terbatas dalam hal ruang pengembangan diri, oleh karena perlu dukungan seluruh pihak untuk memberikan kesempatan menjadikan mereka generasi yang tangguh dan dan berdaya saing global.

    “Anak muda Aceh tidak kekurangan potensi. Yang dibutuhkan adalah ekosistem yang mampu mengubah potensi itu menjadi produktivitas dan daya saing,” ujarnya.

    Ia menambahkan, energi dan kreativitas yang tidak tersalurkan berpotensi mendorong munculnya perilaku destruktif, termasuk penyalahgunaan narkoba.

    Sedangkan Bupati Syech Muharram menegaskan komitmennya untuk mendukung keberadaan AMANAH sebagai pusat pengembangan potensi anak muda, khususnya di bidang UMKM, pertanian modern, dan industri kreatif.

    “Sudah ada gedung yang megah dan fasilitas yang lengkap, maka sangat disayangkan jika tidak dimanfaatkan secara optimal. Kita berharap AMANAH benar-benar memberi manfaat nyata bagi masyarakat Aceh Besar,” ujar Syech Muharram.

    Ia juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah daerah dan AMANAH dalam mengelola serta menghidupkan fasilitas yang ada, sehingga dapat menjadi pusat inovasi yang berdampak langsung terhadap peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM).

    Dalam kesempatan itu, Bupati turut menyoroti pentingnya peningkatan kualitas SDM generasi muda Aceh. Ia mengingatkan bahwa generasi masa depan harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan jati diri.

    “Kita ingin generasi Aceh Besar menjadi generasi unggul dan hebat. Mereka harus kreatif, inovatif, dan tetap memiliki nilai-nilai budaya serta keislaman yang kuat,” tegasnya.

    Syech Muharram juga memaparkan sejumlah program prioritas Pemerintah Kabupaten Aceh Besar, di antaranya penguatan sektor pertanian melalui program cetak sawah baru, perbaikan irigasi, pembangunan sumur bor dan pipanisasi, serta peningkatan kesejahteraan masyarakat melalui sektor UMKM, perikanan, peternakan dan perkebunan.

    Ia bahkan menegaskan komitmennya selama memerintah Aceh Besar untuk menjaga lahan pertanian agar tidak beralih fungsi menjadi kawasan permukiman. “Kita akan menjaga area persawahan. Tidak boleh lagi dibangun rumah atau bangunan lain di atas lahan produktif,” ujarnya.

    Selain itu, Bupati juga menyampaikan pentingnya program pendidikan berbasis keagamaan seperti Beut Kitab Bak Sikula sebagai bagian dari upaya membentuk karakter generasi muda Aceh Besar yang unggul dan hebat seperti program AMANAH.

  • Semarak Relaunching AMANAH, Pemuda Aceh Siap Gerakkan Ekonomi Daerah

    Aceh – Suasana semarak dan penuh antusiasme mewarnai pelaksanaan relaunching program Aneuk Muda Aceh Unggul dan Hebat (Amanah) Aceh yang digelar dengan meriah. Kegiatan ini menjadi momentum penting dalam memperkuat peran pemuda sebagai motor penggerak ekonomi daerah. Ratusan peserta yang terdiri dari pemuda, komunitas, akademisi, serta berbagai pemangku kepentingan tampak memenuhi lokasi acara dengan semangat kebersamaan dan optimisme tinggi.

    Relaunching Amanah Aceh tidak sekadar seremoni, tetapi mencerminkan komitmen nyata dalam memperluas akses pengembangan kapasitas pemuda di berbagai bidang. Mulai dari pelatihan kepemimpinan, kewirausahaan, hingga penguatan literasi digital, seluruh program dirancang lebih inklusif dan adaptif terhadap tantangan zaman. Energi positif yang tercipta selama acara memperlihatkan tingginya harapan terhadap kontribusi pemuda dalam membawa perubahan yang berkelanjutan.

    Ketua Yayasan Aneuk Muda Aceh Unggul dan Hebat (Amanah), Dr. Ir. Syaifullah Muhammad, ST, M.Eng., dalam sambutannya menegaskan pentingnya peran generasi muda sebagai agen transformasi.

    “Amanah Aceh hadir sebagai ruang tumbuh bagi pemuda untuk mengembangkan potensi diri secara maksimal. Kami ingin memastikan setiap anak muda memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, berinovasi, dan berkontribusi bagi kemajuan Aceh,” ujar Syaifullah.

    Lebih lanjut, ia juga menekankan bahwa relaunching ini menjadi titik penguatan kolaborasi lintas sektor.

    “Kami tidak bisa berjalan sendiri. Sinergi dengan pemerintah, dunia usaha, dan komunitas menjadi kunci agar program ini benar-benar berdampak luas dan berkelanjutan,” kata Syaifullah.

    Kemeriahan acara semakin terasa dengan berbagai penampilan kreatif dari pemuda Aceh yang menunjukkan bakat dan inovasi mereka. Pameran karya, pertunjukan seni, hingga sesi berbagi inspirasi dari tokoh muda sukses menjadi bagian dari rangkaian kegiatan yang memperkaya pengalaman peserta. Atmosfer penuh semangat ini mencerminkan potensi besar yang dimiliki generasi muda Aceh.

    Relaunching Amanah Aceh juga menandai pembaruan pendekatan dalam pengelolaan program, dengan fokus pada kebutuhan nyata pemuda saat ini. Pendekatan berbasis kolaborasi dan teknologi menjadi salah satu sorotan utama, sehingga program mampu menjangkau lebih banyak peserta secara efektif.

    Dengan terselenggaranya kegiatan ini secara sukses dan meriah, Amanah Aceh semakin mengukuhkan posisinya sebagai wadah strategis dalam pengembangan pemuda. Semangat yang terbangun selama relaunching menjadi modal kuat untuk mendorong lahirnya generasi muda yang unggul, kreatif, dan berdaya saing tinggi, sekaligus memperkuat kontribusi nyata bagi pembangunan Aceh yang lebih maju.

  • AMANAH Aceh Diluncurkan Kembali, Ruang Kreatif Anak Muda Kian Terbuka

    Aceh Besar – Suasana semarak dan penuh antusiasme mewarnai peluncuran kembali Aneuk Muda Aceh Unggul Hebat (AMANAH) di kawasan Industri Aceh (KIA) Ladong, Aceh Besar. Kegiatan ini menjadi momentum penting yang menandai penguatan peran AMANAH sebagai pusat kreativitas dan inovasi bagi generasi muda Aceh yang semakin berkembang dan berdaya saing.

    Relaunching berlangsung meriah dengan dihadiri berbagai unsur pemerintah daerah, komunitas pemuda, serta pelaku industri kreatif. Beragam atraksi dan penampilan karya anak muda turut memeriahkan kegiatan, mulai dari pameran produk UMKM, demonstrasi teknologi, hingga pertunjukan kreatif yang menunjukkan potensi besar generasi muda Aceh di berbagai bidang.

    Bupati Aceh Besar, Muharram Idris mengatakan peluncuran kembali AMANAH menjadi bukti nyata keseriusan pemerintah daerah dalam mendorong pengembangan sumber daya manusia yang unggul. “Kita memiliki fasilitas yang lengkap dan representatif. Ini menjadi ruang bagi generasi muda untuk berkembang, berinovasi, dan menciptakan karya yang bermanfaat,” ujarnya di tengah kegiatan.

    Kemeriahan acara semakin terasa saat para peserta menampilkan berbagai inovasi di sektor digital, pertanian modern, dan industri kreatif. Pengunjung terlihat antusias mencoba berbagai fasilitas yang tersedia, mulai dari studio podcast, ruang kreatif, hingga area pengembangan produk lokal yang menjadi kebanggaan Aceh.

    Direktur AMANAH, Safwan Nurdin mengatakan relaunching ini memperkuat posisi AMANAH sebagai pusat pengembangan talenta muda. “Hari ini kita melihat semangat luar biasa dari anak-anak muda Aceh. Ini menjadi energi besar untuk terus melahirkan inovasi dan karya nyata,” katanya.

    Tidak hanya menjadi ajang seremonial, kegiatan ini juga menghadirkan sesi interaktif, pelatihan singkat, serta diskusi kreatif yang melibatkan peserta dari berbagai latar belakang. Atmosfer kolaboratif terasa kuat, memperlihatkan sinergi antara pemerintah, komunitas, dan pelaku industri dalam membangun ekosistem kreatif yang dinamis.

    Wali Kota Banda Aceh, Illiza Sa’aduddin Djamal mengatakan kehadiran AMANAH membuka ruang yang lebih luas bagi anak muda untuk mengekspresikan potensi mereka. “Fasilitas ini luar biasa dan menjadi jawaban atas kebutuhan generasi muda yang ingin berkembang dan berkarya,” ungkapnya.

    Dengan peluncuran kembali yang berlangsung sukses dan meriah, AMANAH semakin menegaskan perannya sebagai ruang tumbuh bagi generasi muda Aceh. Energi kreativitas yang terpancar dari kegiatan ini mencerminkan optimisme baru dalam membangun masa depan daerah yang lebih maju melalui tangan-tangan muda yang inovatif dan berdaya saing tinggi.

  • Momentum Relaunching AMANAH Perkuat Peran Pemuda Dorong Ekonomi Kreatif Aceh

    ACEH – Relaunching Yayasan Aneuk Muda Aceh Unggul Hebat (AMANAH) menjadi momentum penting dalam memperkuat peran generasi muda sebagai penggerak ekonomi daerah. Kegiatan ini diharapkan mampu mendorong lahirnya inovasi dan kolaborasi baru dalam pengembangan sektor ekonomi kreatif di Aceh.

    “Relaunching ini bukan sekadar seremoni, tetapi momentum untuk memperkuat peran generasi muda Aceh dalam membangun ekosistem ekonomi kreatif yang berdaya saing dan berkelanjutan,” ujar Ketua Yayasan AMANAH, Syaifullah Muhammad, dalam sambutannya.

    Kegiatan relaunching AMANAH berlangsung meriah dengan dihadiri berbagai elemen masyarakat, mulai dari pelaku usaha kreatif, akademisi, komunitas pemuda, hingga perwakilan pemerintah daerah. Suasana penuh antusiasme tampak sejak awal acara, dengan rangkaian kegiatan yang dirancang untuk menggambarkan semangat kolaborasi dan inovasi yang menjadi ruh utama organisasi tersebut.

    Acara dibuka dengan penampilan seni budaya khas Aceh yang memukau para undangan, dilanjutkan dengan pemaparan visi baru AMANAH yang lebih berfokus pada pengembangan ekonomi kreatif berbasis potensi lokal. Berbagai subsektor seperti kuliner, kriya, fesyen, hingga konten digital menjadi perhatian utama dalam strategi penguatan yang disampaikan.

    Dalam kesempatan tersebut, Syaifullah menegaskan bahwa relaunching ini merupakan langkah strategis untuk menjawab tantangan zaman, terutama di tengah perkembangan teknologi dan perubahan pola ekonomi global. Ia menyampaikan bahwa AMANAH akan menjadi wadah akselerasi bagi anak muda Aceh untuk berinovasi, berjejaring, dan mengembangkan usaha berbasis kreativitas.

    Lebih lanjut, ia menambahkan bahwa pihaknya telah menyiapkan sejumlah program unggulan, termasuk pelatihan kewirausahaan, inkubasi bisnis kreatif, serta kemitraan dengan berbagai pihak, baik di tingkat nasional maupun internasional. Hal ini diharapkan mampu membuka akses yang lebih luas bagi pelaku ekonomi kreatif di Aceh untuk berkembang.

    Sebelumnya, dukungan terhadap relaunching AMANAH datang dari Bupati Aceh Besar, H. Muharram Idris (Syech Muharram), yang turut hadir dan memberikan apresiasi atas inisiatif tersebut. Ia menyatakan bahwa penguatan ekonomi kreatif merupakan salah satu kunci dalam mendorong pertumbuhan ekonomi daerah yang inklusif dan berkelanjutan.

    “Kita ingin generasi Aceh Besar menjadi generasi unggul dan hebat. Mereka harus kreatif, inovatif, dan tetap memiliki nilai-nilai budaya serta keislaman yang kuat,” tegasnya.

    Momentum relaunching ini juga dimanfaatkan sebagai ajang networking antar pelaku usaha dan komunitas kreatif, yang diharapkan dapat melahirkan kolaborasi-kolaborasi baru. Berbagai stan pameran produk kreatif turut memeriahkan acara, menampilkan karya-karya unggulan anak muda Aceh yang inovatif dan bernilai ekonomi tinggi.

    Dengan semangat baru yang diusung melalui relaunching ini, AMANAH optimistis dapat menjadi motor penggerak ekonomi kreatif di Aceh. Ke depan, organisasi ini diharapkan mampu menciptakan ekosistem yang mendukung lahirnya talenta-talenta unggul yang tidak hanya berkiprah di tingkat lokal, tetapi juga mampu bersaing di kancah nasional dan global.

  • Tokoh Aceh Dukung Relaunching AMANAH, Dorong Penguatan Kapasitas Pemuda untuk Masa Depan Daerah

    Banda Aceh – Dukungan terhadap relaunching Yayasan Aneuk Muda Aceh Unggul dan Hebat (AMANAH) terus mengalir dari berbagai tokoh masyarakat Aceh. Wali Nanggroe Aceh Malik Mahmud Al Haythar menegaskan pentingnya pengembangan kapasitas generasi muda sebagai kunci utama dalam mendorong kemajuan daerah di masa depan.

    Hal tersebut disampaikan saat menerima audiensi pengurus AMANAH masa bakti 2026–2031 di Meuligoe Wali Nanggroe, Kamis (16/04). Dalam pertemuan itu, Wali Nanggroe menilai bahwa keberadaan AMANAH merupakan bagian penting dalam membangun fondasi sumber daya manusia Aceh yang unggul dan berdaya saing.

    Ketua Yayasan AMANAH, Syaifullah Muhammad, hadir bersama jajaran pengurus menyampaikan rencana reaktivasi organisasi yang akan kembali difokuskan pada pengembangan potensi pemuda. Relaunching yang dijadwalkan berlangsung pada 23 April 2026 di kawasan Gedung AMANAH, Ladong, diharapkan menjadi momentum penguatan peran lembaga tersebut.

    Dalam paparannya, Syaifullah menegaskan komitmen AMANAH untuk menjadi pusat pengembangan keterampilan pemuda Aceh. “AMANAH memiliki banyak fasilitas yang dapat dimanfaatkan anak-anak muda Aceh, mulai dari pelatihan pertanian, peternakan, ekonomi kreatif, UMKM, robotik, hingga rumah produksi nilam dan kopi beserta produk turunannya,” ujarnya.

    Ia juga menambahkan bahwa program tersebut diarahkan untuk mendorong kontribusi nyata generasi muda terhadap pembangunan daerah. “Kami berharap ke depan AMANAH dapat berkontribusi nyata dalam pembangunan pemuda Aceh, sehingga perekonomian daerah dapat bergerak lebih maju melalui kreativitas anak muda,” katanya.

    Sementara itu, Wali Nanggroe menyampaikan apresiasi terhadap langkah AMANAH yang dinilai konsisten dalam memikirkan masa depan generasi muda Aceh. Ia menekankan bahwa pemuda harus terus meningkatkan kapasitas diri agar mampu bersaing di tingkat global.

    “Pembangunan jangan hanya berorientasi pada gedung dan ruko semata, tetapi harus menjaga keseimbangan alam, keindahan, serta karakter Aceh. Aceh harus modern, namun tetap bernuansa keacehan yang kuat,” ujar Wali Nanggroe.

    Selain itu, ia juga mendorong generasi muda untuk memperluas wawasan melalui pendidikan dan pengalaman internasional, termasuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris sebagai bekal menghadapi tantangan global.

    Audiensi ini sekaligus mempertegas sinergi antara tokoh masyarakat dan organisasi kepemudaan dalam membangun ekosistem pengembangan generasi muda yang lebih terarah.

    Dukungan tersebut semakin memperkuat optimisme bahwa relaunching AMANAH akan menjadi momentum penting dalam melahirkan pemuda Aceh yang unggul, produktif, dan mampu menjadi motor penggerak pembangunan daerah.****