Kategori: Uncategorized

  • Sekolah Rakyat dan Social Mobility bagi Keluarga Kurang Mampu

    Oleh Marla Prameswari )*

    Upaya menghadirkan keadilan sosial dalam bidang pendidikan kembali menemukan momentumnya melalui program Sekolah Rakyat, sebuah inisiatif menjadi instrumen penting dalam mendorong mobilitas sosial bagi keluarga kurang mampu. Anak-anak dari keluarga miskin kerap terjebak dalam lingkaran kemiskinan antargenerasi karena terbatasnya akses terhadap pendidikan berkualitas. Oleh sebab itu, kehadiran Sekolah Rakyat menjadi langkah strategis negara untuk memutus rantai tersebut secara sistematis dan berkelanjutan.

    Menteri Sosial Saifullah Yusuf menegaskan bahwa negara memiliki kewajiban konstitusional untuk memastikan setiap anak memperoleh pendidikan yang layak. Ia mendorong keluarga yang masuk kategori miskin ekstrem agar tidak ragu menyekolahkan anak-anaknya melalui program ini. Penekanan tersebut merupakan bagian dari desain kebijakan yang berorientasi pada pemerataan kesempatan. Sekolah Rakyat dirancang untuk menjangkau kelompok paling rentan melalui pendekatan aktif, di mana pemerintah daerah bersama Kementerian Sosial dan Badan Pusat Statistik turun langsung ke lapangan untuk memastikan bahwa anak-anak dari desil terbawah benar-benar terakomodasi.

    Pendekatan berbasis penjangkauan penting karena bagi keluarga miskin ekstrem, hambatan bukan hanya soal biaya, tetapi juga keterbatasan informasi dan rendahnya kesadaran pendidikan. Dengan adanya dialog langsung bersama orang tua yang terdata dalam sistem sosial nasional, negara hadir secara nyata untuk membangun kepercayaan sekaligus membuka akses yang selama ini tertutup.

    Sekolah Rakyat juga menawarkan ekosistem pendidikan yang komprehensif. Fasilitas seperti asrama, perangkat pembelajaran, hingga dukungan kebutuhan dasar menjadi bagian integral dari program ini. Model boarding school yang diterapkan bukan hanya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran, tetapi juga untuk menciptakan lingkungan yang kondusif bagi perkembangan karakter dan disiplin siswa. Untuk mobilitas sosial, faktor lingkungan memiliki peran krusial dalam membentuk aspirasi dan pola pikir anak. Dengan lingkungan yang mendukung, anak-anak dari keluarga kurang mampu memiliki peluang lebih besar untuk keluar dari keterbatasan struktural.

    Pengamat kebijakan publik dari Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah, melihat Sekolah Rakyat sebagai instrumen strategis dalam memperluas akses pendidikan bagi kelompok miskin. Dengan pembiayaan penuh oleh negara, Sekolah Rakyat memberikan ruang baru yang lebih inklusif. Bahkan, melalui sistem berasrama, negara tidak hanya menanggung biaya pendidikan, tetapi juga memberikan kompensasi tidak langsung kepada keluarga, sehingga beban ekonomi mereka dapat berkurang.

    Pandangan tersebut mempertegas bahwa Sekolah Rakyat bukan sekadar program pendidikan, melainkan kebijakan afirmatif yang dirancang untuk memperbaiki ketimpangan struktural. Ketika anak-anak dari keluarga miskin memperoleh akses terhadap pendidikan berkualitas, maka peluang mereka untuk mendapatkan pekerjaan yang lebih baik di masa depan juga meningkat. Inilah inti dari mobilitas sosial, yakni pergerakan individu atau kelompok dari satu lapisan sosial ke lapisan yang lebih tinggi melalui peningkatan kapasitas dan kesempatan.

    Di tingkat daerah, dukungan terhadap program ini juga terus menguat. Anggota Komisi E DPRD Provinsi Sulawesi Selatan, Yeni Rahman, menilai bahwa Sekolah Rakyat hadir sebagai solusi konkret atas ketimpangan akses pendidikan yang masih terjadi di berbagai wilayah. Ia menekankan pentingnya pendekatan adaptif dalam sistem pendidikan, di mana kebijakan harus mampu menyesuaikan dengan kondisi sosial dan ekonomi masyarakat. Sekolah Rakyat, dalam pandangannya, bukan hanya alternatif, tetapi menjadi jembatan yang menghubungkan anak-anak dari keluarga kurang mampu dengan masa depan yang lebih baik.

    Penekanan pada inklusivitas juga menjadi aspek penting dalam implementasi program ini. Pendidikan tidak boleh lagi bersifat eksklusif yang hanya dapat diakses oleh kelompok tertentu. Sekolah Rakyat dirancang untuk memastikan bahwa tidak ada lagi sekat dalam memperoleh pendidikan, termasuk bagi anak-anak di wilayah terpencil maupun kelompok rentan lainnya. Keberhasilan program tidak hanya diukur dari jumlah siswa yang diterima, tetapi juga dari sejauh mana program ini mampu menjangkau mereka yang selama ini terpinggirkan.

    Namun, keberhasilan Sekolah Rakyat tidak dapat berdiri sendiri tanpa dukungan lintas sektor. Sinergi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga pendidikan, dan masyarakat menjadi kunci utama. Kolaborasi ini diperlukan untuk memastikan bahwa seluruh tahapan, mulai dari pendataan, seleksi, hingga pembinaan siswa, berjalan secara efektif dan berkelanjutan.

    Dalam jangka panjang, Sekolah Rakyat memiliki potensi besar untuk menjadi model transformasi pendidikan nasional yang lebih berkeadilan. Program ini menunjukkan bahwa negara tidak hanya berperan sebagai regulator, tetapi juga sebagai fasilitator aktif dalam menciptakan kesempatan yang setara bagi seluruh warga negara. Ketika anak-anak dari keluarga kurang mampu dapat mengakses pendidikan berkualitas, maka fondasi untuk menciptakan masyarakat yang lebih inklusif dan berdaya saing akan semakin kuat.

    Dengan demikian, Sekolah Rakyat bukan sekadar program bantuan sosial di bidang pendidikan, melainkan investasi jangka panjang bagi masa depan bangsa. Ia membuka jalan bagi terwujudnya mobilitas sosial yang lebih luas, di mana latar belakang ekonomi tidak lagi menjadi penghalang utama untuk meraih kesuksesan. Bagi pembangunan nasional, langkah ini menjadi bukti bahwa keadilan sosial bukan hanya sebuah cita-cita, tetapi dapat diwujudkan melalui kebijakan yang tepat, terarah, dan berpihak pada mereka yang paling membutuhkan.

    )* Penulis Merupakan Pengamat Pendidikan Nasional

  • Sekolah Rakyat dan Peran Strategis dalam Memutus Rantai Ketimpangan

    Oleh: Nadira Citra Maheswari)*

    Sekolah Rakyat tidak sekadar dimaknai sebagai institusi pendidikan formal, tetapi sebagai representasi dari semangat kolektif dalam memastikan setiap individu memiliki kesempatan yang sama untuk berkembang tanpa dibatasi kondisi ekonomi. Konsep ini menitikberatkan pada inklusivitas, keterjangkauan, dan relevansi pendidikan dengan kebutuhan nyata masyarakat. Dengan demikian, Sekolah Rakyat berfungsi sebagai jembatan antara arah kebijakan pembangunan dan kebutuhan riil kelompok rentan yang membutuhkan akses pendidikan.

    Pengamat Kebijakan Publik dari Universitas Trisakti, Trubus Rahadiansyah mengungkapkan bahwa program sekolah rakyat memiliki peran strategis dalam membantu anak-anak dari keluarga miskin dan miskin ekstrem memperoleh akses pendidikan. Perluasan akses ini tidak sekadar bersifat administratif, melainkan merupakan bagian dari upaya sistematis untuk memutus rantai ketimpangan yang berlangsung lintas generasi.

    Ketimpangan sosial tidak hanya berkaitan dengan distribusi ekonomi, tetapi juga dengan keterbatasan akses terhadap pengetahuan dan keterampilan. Ketika pendidikan berkualitas hanya dinikmati oleh sebagian kelompok, maka kesenjangan akan terus berulang. Sekolah Rakyat hadir dengan pendekatan yang lebih adaptif dan kontekstual, sehingga mampu menjawab kebutuhan masyarakat secara langsung sekaligus mendorong pemberdayaan.

    Dalam implementasinya, Sekolah Rakyat mengedepankan fleksibilitas yang tidak selalu ditemukan dalam sistem pendidikan konvensional. Kurikulum dirancang sesuai kebutuhan lokal, dengan memperhatikan potensi daerah serta mendorong partisipasi masyarakat. Pendekatan ini memungkinkan proses pembelajaran menjadi lebih relevan dan berdampak nyata dalam kehidupan sehari-hari peserta didik. Komitmen untuk memperluas akses tersebut juga tercermin dalam percepatan pembangunan fasilitas pendidikan.

    Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo mengungkapkan bahwa kementeriannya mengupayakan 97 titik pembangunan sekolah rakyat (SR) tahap II dapat diselesaikan pada Juni 2026 melalui percepatan pekerjaan di berbagai lokasi. Ia mengatakan percepatan itu dilakukan agar fasilitas pendidikan tersebut dapat digunakan pada tahun ajaran baru mendatang sesuai target pemerintah.

    Dody menjelaskan progres pembangunan di lapangan masih bervariasi sehingga diperlukan konsolidasi harian, penguatan pengawasan dan dukungan lintas unit di lingkungan Kementerian PU. Langkah ini menunjukkan bahwa upaya pemerataan pendidikan tidak berhenti pada gagasan, tetapi juga diwujudkan melalui pembangunan infrastruktur yang terencana.

    Sekolah Rakyat turut membangun kesadaran kolektif bahwa pendidikan adalah hak sekaligus tanggung jawab bersama. Dengan melibatkan berbagai elemen, mulai dari tenaga pendidik hingga komunitas lokal, tercipta ekosistem pendidikan yang lebih partisipatif. Keterlibatan ini tidak hanya memperkuat kualitas pembelajaran, tetapi juga menumbuhkan rasa kepemilikan terhadap proses pendidikan.

    Dalam perspektif jangka panjang, Sekolah Rakyat dapat dipandang sebagai investasi sosial. Pendidikan yang merata akan melahirkan sumber daya manusia yang lebih kompeten dan berdaya saing, yang pada akhirnya berkontribusi terhadap pembangunan ekonomi yang lebih inklusif. Hal ini memperlihatkan bahwa sektor pendidikan memiliki keterkaitan erat dengan stabilitas sosial dan pertumbuhan ekonomi.

    Penguatan konsep Sekolah Rakyat juga tampak dari pendekatan inovatif yang diterapkan. Menteri Sosial, Saifullah Yusuf (Gus Ipul) menegaskan bahwa Sekolah Rakyat merupakan program strategis pemerintah untuk menjangkau masyarakat miskin dan miskin ekstrem yang selama ini belum tersentuh layanan pendidikan.

    Ia menjelaskan, konsep Sekolah Rakyat berbeda dengan sekolah formal pada umumnya. Sistemnya menggunakan pendekatan boarding school (berasrama) dengan skema multi entry–multi exit, sehingga siswa dapat masuk kapan saja tanpa harus menunggu tahun ajaran baru. Model ini memberikan fleksibilitas yang lebih besar, sekaligus menjawab berbagai kendala yang selama ini menghambat akses pendidikan bagi kelompok rentan.

    Selain itu, Sekolah Rakyat juga berpotensi menjadi ruang inovasi pendidikan. Berbagai metode pembelajaran kreatif dapat diterapkan, termasuk pembelajaran berbasis proyek dan pendidikan vokasional yang terhubung dengan kebutuhan lokal. Pendekatan ini membantu peserta didik tidak hanya memahami teori, tetapi juga memiliki keterampilan praktis yang dapat digunakan dalam kehidupan nyata.

    Peran strategis lainnya terlihat dari kemampuannya menjangkau kelompok yang sulit terakses oleh sistem pendidikan formal. Anak-anak dari keluarga kurang mampu, masyarakat di daerah terpencil, hingga mereka yang putus sekolah memiliki kesempatan untuk kembali mengenyam pendidikan. Dengan demikian, Sekolah Rakyat menjadi instrumen penting dalam memastikan tidak ada kelompok yang tertinggal dalam proses pembangunan.

    Keberhasilan program ini tentu memerlukan dukungan berkelanjutan dari berbagai pihak. Konsistensi kebijakan, alokasi sumber daya yang memadai, serta sinergi antar pemangku kepentingan menjadi faktor penting dalam menjaga keberlanjutan program. Kolaborasi antara pemerintah, masyarakat, dan berbagai sektor lainnya akan menentukan sejauh mana dampak Sekolah Rakyat dapat dirasakan secara luas.

    Sekolah Rakyat mencerminkan arah pembangunan yang menempatkan keadilan sosial sebagai prioritas. Melalui pendidikan yang lebih inklusif, program ini diharapkan mampu mengurangi ketimpangan secara bertahap sekaligus memperluas akses bagi kelompok yang selama ini tertinggal.

    Dengan pendekatan yang fleksibel dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat, Sekolah Rakyat membuka ruang bagi perubahan yang lebih mendasar. Pendidikan tidak lagi dipandang sebagai hak yang terbatas pada kelompok tertentu, melainkan sebagai instrumen pemberdayaan yang dapat diakses secara lebih merata oleh seluruh lapisan masyarakat.

    *) Penulis adalah Content Writer di Galaswara Digital Bureau

  • Relaunching AMANAH Diapresiasi sebagai Lompatan Hilirisasi dan Industri Kreatif Pemuda Aceh

    ACEH BESAR – Relaunching Gedung AMANAH di Aceh menuai apresiasi luas sebagai langkah strategis dalam memperkuat hilirisasi ekonomi kreatif yang sejalan dengan arah pembangunan nasional. Pengaktifan kembali fasilitas ini dinilai menjadi simbol kebangkitan ekosistem kreatif daerah yang mengedepankan kolaborasi, inovasi, dan penciptaan nilai tambah dari potensi lokal.

    Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya menegaskan bahwa kebijakan hilirisasi tidak lagi terbatas pada sektor sumber daya alam, melainkan telah merambah industri kreatif sebagai penggerak baru ekonomi nasional.

    “Hilirisasi industri kreatif menjadi kunci untuk meningkatkan nilai tambah, dari produk asing menjadi produk lokal yang mampu bersaing di pasar global,” ujar Teuku Riefky Harsya.

    Apresiasi terhadap relaunching AMANAH muncul karena pendekatan yang diusung dinilai mampu menjawab tantangan klasik industri kreatif, seperti keterbatasan pembiayaan, akses pasar, hingga perlindungan karya. Dengan dukungan pemerintah dan berbagai pemangku kepentingan, AMANAH diproyeksikan menjadi ruang tumbuh yang mendorong lahirnya pelaku kreatif unggul dari Aceh.

    Gubernur Aceh, Muzakir Manaf memandang kehadiran kembali AMANAH sebagai penguat sinergi lintas sektor yang selama ini menjadi kebutuhan utama dalam pembangunan ekonomi daerah.

    “Relaunching AMANAH merupakan momentum penting untuk memperkuat kolaborasi dalam mendorong pemberdayaan ekonomi dan membuka peluang kerja yang lebih luas,” tegas Muzakir Manaf.

    Pendekatan kolaboratif yang melibatkan pemerintah, akademisi, pelaku usaha, dan komunitas dinilai menjadi kekuatan utama dalam mengakselerasi pertumbuhan ekonomi berbasis kreativitas. AMANAH tidak hanya berfungsi sebagai pusat kegiatan, tetapi juga sebagai ruang integrasi ide, teknologi, dan pasar yang saling terhubung.

    Apresiasi juga datang dari Ketua Yayasan AMANAH, Dr. Saifullah Muhammad yang menilai relaunching ini sebagai titik awal konsolidasi besar dalam membangun generasi muda yang produktif dan berdaya saing.

    “Momentum ini menjadi penguat bagi seluruh pihak untuk beralih dari pendekatan saling menyalahkan menuju kolaborasi yang solutif dan berorientasi hasil,” pungkas Dr. Saifullah Muhammad.

    Lebih jauh, pengembangan hilirisasi berbasis komoditas lokal seperti kopi dan nilam dipandang sebagai langkah konkret dalam menciptakan nilai tambah di dalam negeri. Pemanfaatan teknologi dan penguatan ekosistem usaha menjadi bagian penting dalam memastikan produk lokal mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.

    Relaunching AMANAH pada akhirnya tidak hanya dipandang sebagai peresmian fasilitas, tetapi sebagai langkah maju yang patut diapresiasi dalam membangun fondasi ekonomi kreatif Aceh. Dengan sinergi yang terus diperkuat, hilirisasi kreatif diyakini mampu menjadi motor pertumbuhan baru yang inklusif dan berkelanjutan.

  • Relaunching AMANAH 2026: Membangun Pusat Kolaborasi dan Inkubasi Talenta Muda Aceh

    Aceh Besar – Peluncuran kembali Yayasan Aneuk Muda Aceh Unggul Hebat (AMANAH) melalui momentum “Restart and Rise” di Aceh Besar, Kamis (23/4/2026), menandai babak baru dalam pengembangan potensi anak muda di Tanah Rencong.

    Berbeda dengan pendekatan konvensional, wajah baru AMANAH kini lebih fokus menjadi pusat gravitasi bagi berbagai komunitas kreatif untuk saling bersinergi. Dengan menyediakan wadah inkubasi yang terpadu, gerakan ini optimistis mampu mencetak generasi muda yang mandiri dan siap bersaing di kancah global melalui penguatan keterampilan teknis dan manajerial.

    Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya, yang hadir dalam acara tersebut, menekankan pentingnya ekosistem yang mampu menampung bakat-bakat besar di daerah agar memiliki daya saing nasional maupun internasional.

    “Kita ingin fashion, parfum, hingga aplikasi karya anak Aceh mampu bersaing di level internasional. AMANAH adalah motor penggerak untuk mewujudkan kedaulatan ekonomi tersebut,” ujar Teuku Riefky.

    Ia menambahkan bahwa fokus pada peningkatan kualitas SDM ini merupakan langkah konkret pemerintah dalam mendukung visi besar Asta Cita Presiden Prabowo Subianto.

    Sejalan dengan visi tersebut, Ketua Yayasan AMANAH, Dr. Saifullah Muhammad, menjelaskan bahwa kunci dari kebangkitan ini adalah transformasi mentalitas dan penguatan kolaborasi antar-elemen masyarakat.

    Menurutnya, AMANAH hadir untuk menjembatani talenta kreatif dengan akses pendukung yang selama ini sulit dijangkau.

    “Kami ingin produk UMKM Aceh tidak hanya bagus secara kualitas, tapi juga punya daya saing tinggi di pasar global. Kami mendorong pemuda Aceh untuk naik kelas dan tidak lagi sekadar menjadi penonton di industri kreatif,” tegas Saifullah saat menjelaskan peran fasilitas pendukung seperti studio fotografi dan rumah kemasan bagi para kreator lokal.

    Dukungan penuh juga diberikan oleh Pemerintah Provinsi Aceh yang melihat Gedung AMANAH sebagai hub kolaborasi pentahelix yang strategis bagi daerah.

    Gubernur Aceh, Muzakir Manaf menyampaikan bahwa sinergi antara pemerintah, akademisi, dan dunia usaha di dalam satu wadah kolektif akan menciptakan solusi nyata bagi isu pengangguran di Aceh.

    “Gedung ini harus menjadi ruang tumbuh bagi kreativitas yang berdampak langsung pada kesejahteraan masyarakat. Kita ingin program pemberdayaan di sini benar-benar menekan angka pengangguran melalui penciptaan lapangan kerja yang inklusif,” ungkap Muzakir.

    Dengan memposisikan diri sebagai pusat inkubasi talenta, AMANAH berkomitmen untuk terus mendampingi anak muda Aceh agar tidak hanya memiliki ide brilian, tetapi juga memiliki kemandirian dalam mengelola peluang ekonomi secara berkelanjutan di era digital.

  • Relaunching AMANAH Aceh Perkuat Ekosistem Pemuda Inovatif dan Wirausaha Berbasis Lokal

    Aceh – Yayasan Aneuk Muda Aceh Unggul Hebat (AMANAH) kembali dikukuhkan melalui relaunching gedung AMANAH yang menjadi momentum penting dalam memperkuat ekosistem pemberdayaan pemuda berbasis inovasi dan kewirausahaan lokal.

    Relaunching ini sekaligus menjadi bagian dari upaya strategis dalam mendukung agenda hilirisasi nasional yang selaras dengan visi pembangunan Presiden Prabowo Subianto.

    Menteri Ekonomi Kreatif, Teuku Riefky Harsya menilai bahwa AMANAH diposisikan sebagai wadah yang mampu mengintegrasikan potensi lokal dengan pendekatan teknologi dan inovasi, sehingga menghasilkan nilai tambah ekonomi yang lebih tinggi bagi masyarakat, khususnya generasi muda Aceh.

    “Hilirisasi tidak hanya diartikan untuk sektor tambang, tetapi juga industri kreatif yang mampu mengubah produk asing menjadi produk lokal dengan nilai tambah tinggi,” ujar Menteri Ekraf.

    Aceh dinilai memiliki peluang besar melalui kekayaan budaya serta kreativitas anak muda yang terus berkembang. Kehadiran AMANAH diharapkan mampu menjadi pusat akselerasi bagi talenta lokal agar mampu bersaing tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga global.

    Teuku juga menambahkan bahwa pengembangan industri kreatif sejalan dengan Asta Cita, khususnya dalam meningkatkan tenaga kerja berkualitas berbasis keterampilan.

    “Kehadiran AMANAH di Aceh diharapkan menjadi wadah untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas SDM kreatif daerah,” kata Menteri Teuku.

    Sementara itu, Ketua Yayasan AMANAH, Syaifullah Muhammad, menjelaskan bahwa visi utama lembaga ini adalah menciptakan generasi muda Aceh yang inovatif, mandiri, dan berdaya saing global melalui penguatan ekosistem kewirausahaan berbasis teknologi.

    “Misi yang kami jalankan, yaitu, mengembangkan ekosistem kewirausahaan berbasis inovasi, mendorong pemanfaatan teknologi di berbagai sektor, memberdayakan UMKM dan ekonomi lokal, meningkatkan kapasitas dan kompetensi pemuda melalui pelatihan, serta mewujudkan pembangunan berkelanjutan berbasis komunitas”, kata Syaifullah.

    Salah satu inovasi unggulan yang dikembangkan adalah teknologi pemurnian minyak nilam menggunakan molecular distillation and fractionation, yang memungkinkan produk lokal Aceh memiliki kualitas setara standar internasional.

    “Dengan teknologi ini, minyak nilam bisa masuk ke grade kosmetik, skincare, hingga parfum. Ini penting karena selama ini bahan mentah dari Indonesia diekspor, lalu kita membeli kembali dalam bentuk produk jadi,” jelasnya.

    Melalui relaunching ini, optimisme terhadap masa depan ekonomi kreatif Aceh semakin menguat. AMANAH diharapkan menjadi motor penggerak dalam menciptakan generasi muda yang inovatif, adaptif, dan mampu membawa potensi lokal ke tingkat yang lebih tinggi.

    [w.R]

  • Relaunching AMANAH Jadi Pusat Inkubasi, Dorong Investasi dan Ekspor Kreatif Aceh

    ACEH – Program Aneuk Muda Aceh Unggul – Hebat (AMANAH) kembali diperkuat melalui relaunching yang menegaskan perannya sebagai pusat inkubasi ekonomi kreatif di Aceh. Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menegaskan bahwa AMANAH dirancang sebagai ruang strategis untuk pengembangan ekosistem kreatif daerah.

    “AMANAH diharapkan menjadi pusat aktivitas kreatif untuk kurasi, pengembangan ide, dan inkubasi bisnis,” ujarnya dalam sambutan saat relaunching AMANAH.

    Ia menjelaskan bahwa penguatan AMANAH dilakukan melalui kolaborasi multipihak yang terintegrasi. “Ekosistem AMANAH melibatkan pemerintah, akademisi termasuk Universitas Syiah Kuala, dunia bisnis, lembaga keuangan seperti Bank Syariah Indonesia, serta komunitas dan asosiasi,” katanya.

    Menurutnya, pendekatan kolaboratif ini menjadi kunci dalam menciptakan ekosistem yang berkelanjutan. Dengan sinergi lintas sektor, pelaku ekonomi kreatif tidak hanya mendapatkan ruang pengembangan, tetapi juga akses yang lebih luas terhadap pendanaan dan pasar.

    Selain itu, program AMANAH juga diarahkan untuk memperkuat promosi produk kreatif Aceh. Langkah tersebut dinilai penting untuk meningkatkan nilai tambah ekonomi daerah. Produk kreatif yang terkurasi dan terinkubasi dengan baik diharapkan mampu menarik minat investor sekaligus memperluas jaringan pemasaran.

    Sementara itu, Gubernur Aceh Muzakir Manaf menekankan bahwa relaunching AMANAH menjadi momentum penting untuk memperkuat kolaborasi lintas sektor. “Momen ini menegaskan pentingnya kerja sama antara berbagai pihak untuk memperkuat program pemberdayaan ekonomi, khususnya di sektor ekonomi kreatif,” ujarnya.

    Ia menilai bahwa pendekatan berbasis kolaborasi yang diusung AMANAH mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat. “Model kerja sama ini diyakini dapat menjawab tantangan sosial ekonomi di Aceh secara lebih efektif,” katanya.

    Lebih lanjut, Muzakir Manaf menyebut bahwa salah satu fokus utama pascarelaunching adalah mengatasi persoalan pengangguran dan kemiskinan. “AMANAH diarahkan untuk menghadirkan program yang lebih terarah dan berkelanjutan guna membuka lapangan kerja baru,” jelasnya.

    Dengan dukungan berbagai pihak, AMANAH diharapkan menjadi motor penggerak ekonomi kreatif di Aceh. Program ini tidak hanya memperkuat kapasitas pelaku usaha, tetapi juga membuka peluang investasi dan memperluas akses pasar hingga tingkat global.

  • Relaunching Program AMANAH, Menekraf: Ekonomi Kreatif Aceh Bagian dari Asta Cita Nasional

    Banda Aceh – Relaunching program Aneuk Muda Aceh Unggul Hebat (AMANAH) mempertegas perannya anak muda Aceh sebagai motor penggerak kolaborasi lintas sektor dalam pengembangan ekonomi kreatif di Aceh. Menteri Ekonomi Kreatif (Menekraf) Teuku Riefky Harsya mengatakan ekonomi kreatif merupakan bagian Asta Cita Presiden dan hilirisasi tidak semata tentang tambang, tetapi bisa dilakukan untuk industri kreatif.

    “Pada poin ke-3 asta cita dengan mengembangkan industri kreatif jadi sudah jelas isi presiden seperti apa yang juga tercantum pada asta cita ke-5 mengatakan melanjutkan hilirisasi dapat meningkatkan nilai tambah” katanya.

    Lebih lanjut “Hilirisasi tidak hanya diartikan untuk tambang hilirisasi juga dilakukan untuk industri kreatif yang tadinya fashion asing menjadi fashion lokal yang tadinya parfum asing jadi, patung lokal, film asing, film lokal ini, aplikasi asing, dan lain-lain. Itulah yang kita inginkan menjadi pemain dk tingkat global” ujarnya.

    Apakah mungkin-mungkin orang-orang Indonesia sangat kreatif? Anak-anak Aceh telah berkembang di industri kreatifnya adalah negara yang mempunyai akar budaya uang apa, contohnya Amerika akar budaya yang kuat.

    “Jadi, tantangan yang dihadapi oleh para kegiatan industri kreatif, yaitu masalah data, masalah kelahiran, masalah pembiayaan, masalah infrastruktur, sistem pemasaran, insentif fasilitas, dan perlindungan terhadap hasil kita” katanya. Nah, bagaimana menyelesaikan masalah itu ya? Itu dengan yang kita lakukan hari ini, ada pemerintah hadir melalui AMANAH Aceh”.

    Sedangkan Ketua Yayasan Amanah Syaifullah Muhammad dalam sambutannya mengatakan Launching AMANAH menjadi momentum strategis konsolidasi pengurus dan badan pekerja dalam memperkuat peran pemuda Aceh yang unggul, produktif, dan berdaya saing.

    Evaluasi kondisi awal fasilitas menunjukkan berbagai keterbatasan mendasar, seperti kerusakan atap, ketiadaan air, dan belum tersedianya listrik.

    Lebih lanjut Muhammad menyampaikan bahwa pentingnya optimalisasi aset bernilai besar agar tidak terbengkalai dan memberikan manfaat maksimal bagi masyarakat. Serta seluruh pihak didorong untuk menghentikan pola saling menyalahkan dan beralih pada pendekatan solutif serta kolaboratif.

    “Peran pemangku kepentingan menjadi krusial sebagai problem solver yang mampu menyelesaikan persoalan secara cepat dan tepat. Kami ingin memastikan setiap potensi anak muda terfasilitasi, dari pelatihan hingga implementasi karya yang memiliki nilai ekonomi,” ujarnya.

    Selain sektor industri dan kreatif, penguatan juga dilakukan pada sektor pertanian modern melalui pemanfaatan greenhouse, budidaya hortikultura, hingga program cabai dan sistem bioflok untuk perikanan.

    “Akses pembiayaan, termasuk kredit UMKM, perlu diiringi dengan pelatihan dan pendampingan yang berkelanjutan untuk meminimalisir risiko kegagalan. Penguatan ekosistem usaha menjadi kunci, mencakup tidak hanya aspek produksi, tetapi juga distribusi dan pemasaran” lanjutnya.

    Produk yang dihasilkan harus memiliki kualitas unggul dan daya saing tinggi agar mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional.

    Langkah ini diharapkan mampu mendukung ketahanan pangan sekaligus menjaga stabilitas inflasi daerah. Ke depan, sinergi antara AMANAH dan Banda Aceh Academy ditargetkan segera diformalkan melalui nota kesepahaman.

  • Relaunching AMANAH Sukses Digelar, Wadah Pemuda Aceh Menuju Daya Saing Global

    Banda Aceh – Relaunching Yayasan Aneuk Muda Aceh Unggul dan Hebat atau AMANAH berlangsung dengan sangat meriah. AMANAH hadir sebagai wadah pemberdayaan generasi muda Aceh yang bertumpu pada inovasi teknologi, kewirausahaan berbasis komoditas lokal, sekaligus selaras dengan Asta Cita Presiden Prabowo, khususnya dalam hal hilirisasi industry.

    Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya, dalam sambutannya mengatakan, mengacu pada Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya poin ke-3 tentang peningkatan tenaga kerja berkualitas melalui pengembangan industri kreatif.

    “Industri kreatif dipandang sebagai sektor strategis untuk menciptakan lapangan kerja berkualitas berbasis keterampilan yang harus terus diasahhadiran AMANAH di Aceh diharapkan menjadi wadah untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas SDM kreatif daerah,” kata Teuku Riefky Harsya.

    Dirinya menyebut bahwa Asta Cita poin ke-5 menekankan pentingnya hilirisasi guna meningkatkan nilai tambah ekonomi, dimana hilirisasi tidak hanya berlaku untuk sektor tambang, tetapi juga industri kreatif, sepert fashion, parfum, film dan aplikasi asing menjadi produk lokal

    “Target utama adalah menjadikan Indonesia, termasuk Aceh, sebagai pemain industri kreatif di tingkat global,” tuturnya.

    Sementara itu, Ketua Yayasan AMANAH, Syaifullah Muhammad, menjelaskan bahwa visi utama lembaga ini adalah mewujudkan generasi muda Aceh yang inovatif, mandiri, dan berdaya saing global.

    “Misi yang kami jalankan, yaitu, mengembangkan ekosistem kewirausahaan berbasis inovasi, mendorong pemanfaatan teknologi di berbagai sektor, memberdayakan UMKM dan ekonomi lokal, meningkatkan kapasitas dan kompetensi pemuda melalui pelatihan, serta mewujudkan pembangunan berkelanjutan berbasis komunitas”, kata Syaifullah.

    Dirinya berharap AMANAH menjadi salah satu stakeholder yang menggerakkan anak muda Aceh agar mampu bersaing di tingkat lokal, nasional, hingga global.

    Salah satu unggulan yang dikembangkan adalah teknologi pemurnian minyak nilam menggunakan molecular distillation and fractionation — teknologi yang juga digunakan oleh Prancis dan Amerika Serikat.

    “Dengan teknologi ini, minyak nilam bisa masuk ke grade kosmetik, skincare, hingga parfum. Ini penting karena selama ini bahan mentah dari Indonesia diekspor, lalu kita membeli kembali dalam bentuk produk jadi,” jelasnya.

    Melalui teknologi ini, minyak nilam asal Aceh tidak lagi diekspor dalam bentuk bahan mentah, melainkan diolah hingga memenuhi standar kosmetik, skincare, dan parfum berkualitas tinggi. AMANAH bahkan telah memiliki fasilitas produksi dan formulasi kosmetik serta parfum untuk mendukung substitusi impor.

    “Jika ini berjalan, maka hilirisasi benar-benar terjadi di dalam negeri, dari bahan baku hingga produk akhir. Ini akan menjadi gerakan ekonomi yang sangat besar,” tega Syaifullah. [-RWA]

  • Relaunching AMANAH Jadi Momentum Besar Dorong Pemuda Aceh Tembus Pasar Global

    Aceh – Ketua Yayasan AMANAH Saifullah Muhammad mengatakan Relaunching AMANAH kali ini menjadi momentum strategis konsolidasi pengurus dan badan pekerja dalam memperkuat peran pemuda Aceh yang unggul, produktif, dan berdaya saing.

    Hal tesebut diungkapkan Ketua Yayasan AMANAH Saifullah Muhammad saat menyampaikan pidatonya dalam acara relaunching AMANAH di Aceh.

    Menurut Saifullah, diakui ada yang perlu divaluasi agar ditengah keterbatasan yang ada, pemuda Aceh didorong untuk dapat lebih berperan baik di skala nasional maupun global.

    “Evaluasi kondisi awal fasilitas menunjukkan berbagai keterbatasan mendasar namun pemuda Aceh didorong untuk mampu berkompetisi tidak hanya di tingkat nasional, tetapi juga di level global. Program AMANAH diproyeksikan sebagai gelombang peluang yang harus dimanfaatkan secara maksimal oleh generasi muda,” tuturnya.

    Ia menilai pintingnya peran pemangku kepentingan agar dapat menyelesaikan masalah dengan cepat dan tepat serta pengembangan ekonomi kreatif dapat terus berkembang dengan mengoptimalkan potensi besar Aceh.

    “Peran pemangku kepentingan menjadi krusial sebagai problem solver yang mampu menyelesaikan persoalan secara cepat dan tepat. Pengembangan ekonomi kreatif tidak semata bergantung pada besarnya modal, melainkan pada kemauan, manajemen yang efektif, dan kolaborasi yang kuat. Potensi besar Aceh harus dikelola secara optimal agar dapat berkembang dengan pesat dan tidak dimanfaatkan pihak luar,” ujarnya.

    Ditambahkannya dengan fasilitas tersedia saat ini dapat dimaksimalkan agar ada ruang kreatifitas yang tumbuh dan adanya peningkatan daya saing pemuda Aceh.

    “Fasilitas yang tersedia dinilai memadai dan harus dimaksimalkan sebagai ruang tumbuh kreativitas serta peningkatan daya saing pemuda.

    Disisi lain perlunya akses pembiayaan dan penguatan ekosistem usaha agar kualitas produk yang dihasilkan memiliki daya saing nasional maupun internasional.

    “Akses pembiayaan, termasuk kredit UMKM, perlu diiringi dengan pelatihan dan pendampingan yang berkelanjutan untuk meminimalisir risiko kegagalan. Penguatan ekosistem usaha menjadi kunci, mencakup tidak hanya aspek produksi, tetapi juga distribusi dan pemasaran. Produk yang dihasilkan harus memiliki kualitas unggul dan daya saing tinggi agar mampu bersaing di pasar nasional maupun internasional,” pungkasnya.

    Sementara itu, Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya mengatakan mengacu pada Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya poin ke-3 tentang peningkatan tenaga kerja berkualitas melalui pengembangan industri kreatif, peran pemuda Aceh dapat terus di tingkatkan.

    “Industri kreatif dipandang sebagai sektor strategis untuk menciptakan lapangan kerja berkualitas berbasis keterampilan (skill) yang harus terus diasah,” katanya.

    Menurutnya, kehadiran AMANAH di Aceh menjadi wadah untuk meningkatkan kapasitas dan kualitas SDM kreatif daerah.

    “Target utama adalah menjadikan Indonesia, termasuk Aceh, sebagai pemain industri kreatif di tingkat global. Indonesia memiliki potensi besar karena kekayaan budaya yang kuat sebagai fondasi pengembangan industri kreatif’ jelasnya.

    Relaunching AMANAH diharapkan menjadi pusat aktivitas kreatif untuk kurasi, pengembangan ide, dan inkubasi bisnis pemuda Aceh dengan kolaborasi bersama perguruan tinggi dalam lingkup hilirisasi yang diyakini dapat menarik investasi lebih besar, tutupTeuku Riefky.

  • Pasca Relaunching AMANAH, Hilirisasi dan Ekonomi Kreatif Jadi Motor Penguatan SDM Aceh

    ACEH BESAR — Pasca Relaunching Aneuk Muda Aceh Unggul Hebat (AMANAH), penguatan ekonomi kreatif berbasis hilirisasi dan kolaborasi lintas sektor langsung menjadi fokus utama dalam mendorong peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) Aceh.

    Menteri Ekonomi Kreatif Teuku Riefky Harsya menegaskan bahwa AMANAH selaras dengan arah pembangunan nasional sebagaimana tertuang dalam Asta Cita Presiden Prabowo Subianto, khususnya dalam pengembangan tenaga kerja berkualitas melalui industri kreatif.

    “Industri kreatif dipandang sebagai sektor strategis untuk menciptakan lapangan kerja berkualitas berbasis keterampilan (skill) yang harus terus diasah,” ujarnya.

    Ia menekankan bahwa hilirisasi tidak hanya terbatas pada sektor sumber daya alam, tetapi juga harus diperluas ke sektor ekonomi kreatif.

    “Hilirisasi tidak hanya berlaku untuk sektor tambang, tetapi juga industri kreatif, seperti fashion asing menjadi produk lokal, parfum asing menjadi produk lokal, film asing menjadi produksi lokal, hingga aplikasi asing menjadi karya lokal,” jelasnya.

    Menurutnya, AMANAH memiliki peran strategis sebagai pusat aktivitas kreatif yang mampu mengkurasi ide, menginkubasi bisnis, serta membuka akses pembiayaan dan pemasaran bagi pelaku ekonomi kreatif.

    “Target utama adalah menjadikan Indonesia, termasuk Aceh, sebagai pemain industri kreatif di tingkat global,” tegasnya.

    Gubernur Aceh Muzakir Manaf turut menegaskan bahwa relaunching AMANAH menjadi momentum penting dalam memperkuat sinergi lintas sektor di daerah.

    “Gedung AMANAH diharapkan menjadi wadah sinergi antara pemerintah, pelaku ekonomi kreatif, akademisi, dan pemangku kepentingan lainnya dalam mengembangkan potensi daerah,” ujarnya.

    Ia menambahkan bahwa pendekatan kolaboratif yang diusung melalui AMANAH diyakini mampu memberikan dampak nyata dalam menjawab tantangan sosial ekonomi, termasuk pengangguran dan kemiskinan.

    “Fokus pascarelaunching adalah menghadirkan program yang lebih terarah dan berkelanjutan untuk mengurangi pengangguran dan kemiskinan,” katanya.

    Sementara itu, Ketua Yayasan AMANAH Syaifullah Muhammad menegaskan bahwa fase pascarelaunching menjadi momentum konsolidasi dan percepatan program.

    “Visi utama kami adalah pengembangan generasi muda Aceh yang inovatif, mandiri, dan berdaya saing global,” ujarnya.

    Ia menyoroti pentingnya hilirisasi komoditas lokal sebagai kunci peningkatan nilai tambah ekonomi daerah.

    “Selama ini kita hanya berhenti di komoditas mentah. Padahal, sesuai visi hilirisasi pemerintah, kita harus menciptakan nilai tambah,” katanya.

    Menurutnya, AMANAH telah mengembangkan teknologi pemurnian minyak nilam agar dapat masuk ke industri bernilai tinggi seperti kosmetik dan parfum.

    “Jika ini berjalan, maka hilirisasi benar-benar terjadi di dalam negeri—dari bahan baku hingga produk akhir. Ini akan menjadi gerakan ekonomi yang sangat besar,” tegasnya.

    Ia juga menekankan pentingnya penguatan ekosistem usaha secara menyeluruh, mulai dari produksi hingga pemasaran.

    “Kami ingin produk mereka tidak hanya bagus, tetapi juga siap masuk pasar dengan standar tinggi,” ujarnya.

    Selain itu, AMANAH mengusung kolaborasi pentahelix yang melibatkan pemerintah, akademisi, dunia usaha, komunitas, dan media sebagai fondasi pengembangan berkelanjutan.

    Dengan langkah pascarelaunching ini, AMANAH diharapkan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi kreatif sekaligus ruang tumbuh bagi generasi muda Aceh untuk bersaing di tingkat nasional hingga global.