Kategori: Uncategorized

  • Pemerintah Pertegas Pemberantasan Korupsi hingga Lingkar Keluarga

    Jakarta – Pemerintah mempertegas langkah pemberantasan korupsi melalui pendekatan yang semakin komprehensif dengan menyoroti keterlibatan lingkar terdekat pelaku. Strategi ini menunjukkan keseriusan negara dalam membongkar praktik korupsi hingga ke akar-akarnya, sekaligus memastikan bahwa tidak ada ruang bagi penyalahgunaan wewenang dalam sistem pemerintahan.

    Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), Budi Prasetyo, mengungkapkan bahwa banyak perkara yang ditangani menunjukkan keterlibatan pihak-pihak terdekat pelaku, mulai dari keluarga hingga rekan kerja.

    “Dari beberapa perkara yang ditangani KPK, terungkap fenomena keterlibatan ‘circle’ pelaku utama dari pihak keluarga hingga rekan kerja,” ujarnya.

    Menurut Budi, kondisi tersebut menegaskan bahwa korupsi tidak lagi berdiri sebagai tindakan individu, melainkan berkembang menjadi jaringan yang terstruktur.

    “Kondisi ini menunjukkan bahwa korupsi layaknya sebuah ekosistem, ada yang mengatur, ada yang menjalankan, dan ada yang menyimpan,” jelasnya. Oleh karena itu, KPK terus memperkuat strategi penindakan sekaligus pencegahan untuk memutus mata rantai tersebut.

    Dalam upaya pencegahan, KPK mengintensifkan edukasi antikorupsi yang tidak hanya menyasar penyelenggara negara, tetapi juga lingkungan terdekat mereka.

    “Sosialisasi dan pendidikan antikorupsi terus kami dorong hingga ke lingkungan keluarga sebagai bagian dari upaya membangun benteng integritas dari lingkar terdekat,” tutur Budi. Langkah ini dinilai efektif dalam membangun kesadaran kolektif serta memperkuat budaya integritas di berbagai lapisan masyarakat.

    Selain itu, penguatan sinergi antar lembaga juga terus dilakukan, termasuk kerja sama dengan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) dalam menelusuri aliran dana mencurigakan.

    “Dukungan PPATK memungkinkan kami mengidentifikasi pola transaksi dan mengungkap skema penyamaran dana melalui berbagai lapisan,” jelasnya. Kolaborasi ini memperkuat efektivitas penegakan hukum berbasis data dan analisis keuangan.

    Sementara itu, Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya menegaskan bahwa pemerintah terus menunjukkan komitmen nyata dalam pemberantasan korupsi.

    “Dalam kurun 1,5 tahun, pemerintah telah berhasil menyelamatkan keuangan negara sebesar Rp31,3 triliun,” ujarnya. Capaian ini menjadi bukti konkret bahwa langkah tegas yang diambil pemerintah memberikan dampak signifikan dalam menjaga keuangan negara.

    Dengan penguatan penindakan, edukasi berkelanjutan, serta kolaborasi lintas lembaga, pemerintah bersama KPK optimistis mampu menekan praktik korupsi secara lebih efektif. Pendekatan yang menyasar hingga lingkar terdekat pelaku diharapkan menjadi kunci dalam memutus ekosistem korupsi, sekaligus memperkuat kepercayaan publik terhadap komitmen negara dalam mewujudkan pemerintahan yang bersih, transparan, dan berintegritas.

  • Mendukung Penegakan Hukum dan Pembongkaran Jaringan Korupsi Berbasis Relasi

    *) Oleh: Rangga Pratama Wicaksono

    Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) kembali menegaskan bahwa wajah korupsi di Indonesia telah mengalami transformasi yang signifikan. Praktik korupsi tidak lagi berdiri sebagai tindakan individual yang sporadis, melainkan berkembang menjadi sebuah ekosistem yang kompleks dan terstruktur. Dalam lanskap ini, korupsi melibatkan jaringan relasi yang luas, mencakup berbagai aktor dengan peran yang saling melengkapi. Oleh karena itu, pendekatan penegakan hukum tidak bisa lagi bersifat konvensional, melainkan harus adaptif terhadap dinamika kejahatan yang semakin canggih. Pemerintah, melalui berbagai instrumen penegakan hukum, menunjukkan keseriusan untuk membongkar pola-pola baru tersebut secara menyeluruh.

    Lebih lanjut, Juru Bicara KPK, Budi Prasetyo, menyoroti fenomena “sirkel” yang memperkuat praktik rasuah dalam berbagai kasus yang ditangani lembaganya. Fenomena ini merujuk pada lingkaran orang-orang terdekat pelaku utama, mulai dari keluarga inti, orang kepercayaan, rekan kerja, hingga kolega politik yang memiliki peran berbeda dalam satu jaringan. Dalam konteks ini, relasi personal berubah menjadi instrumen kejahatan yang memfasilitasi proses perencanaan, pelaksanaan, hingga penyamaran hasil korupsi. Budi Prasetyo menegaskan bahwa keberadaan sirkel membuat praktik korupsi semakin sulit diungkap karena dijalankan secara sistematis dan berlapis. Kondisi tersebut menuntut aparat penegak hukum untuk tidak hanya fokus pada pelaku utama, tetapi juga menelusuri seluruh jejaring relasi yang terlibat.

    Temuan KPK di berbagai daerah memperlihatkan bagaimana jaringan korupsi berbasis relasi bekerja secara nyata dan terstruktur. Dalam sejumlah kasus di Pekalongan dan Bekasi, keterlibatan keluarga inti pelaku dalam menikmati hasil korupsi menunjukkan bahwa kejahatan ini telah merambah ruang privat. Sementara itu, di Tulungagung dan Riau, peran orang kepercayaan sebagai perantara pengumpulan dan distribusi dana memperlihatkan adanya sistem operasional yang rapi. Bahkan, dalam sektor Bea Cukai, KPK menemukan pola yang lebih kompleks dengan penggunaan safe house serta pencatutan nama kolega sebagai nominee untuk menyamarkan aliran dana. Pola ini menegaskan bahwa korupsi telah berkembang menjadi jaringan tertutup yang sulit ditembus tanpa pendekatan penegakan hukum yang komprehensif.

    Oleh sebab itu, strategi pemberantasan korupsi harus mengalami pergeseran mendasar menuju pendekatan berbasis jaringan. Penegakan hukum tidak lagi cukup menargetkan aktor utama, melainkan harus menjangkau seluruh lapisan yang menopang praktik tersebut. Dalam konteks ini, pernyataan Budi Prasetyo menjadi relevan bahwa pembongkaran jaringan harus menyasar lingkungan terdekat pelaku sebagai bagian dari sistem kejahatan itu sendiri. Pendekatan ini akan memperkuat efek jera sekaligus memutus mata rantai korupsi yang selama ini beroperasi secara tersembunyi. Dengan demikian, langkah penegakan hukum menjadi lebih strategis dan berdampak jangka panjang.

    Di sisi lain, Ketua DPW Komite Anti Korupsi Indonesia (KAKI) Jawa Timur, Moh Hosen, menegaskan komitmennya untuk mengawal langsung proses hukum pidana korupsi yang sedang berjalan di Indonesia. Kehadiran masyarakat sipil dalam mengawasi penanganan kasus korupsi menjadi faktor penting dalam menjaga akuntabilitas dan transparansi. Moh Hosen menunjukkan bahwa kontrol publik tidak boleh melemah di tengah kompleksitas kasus yang dihadapi aparat penegak hukum. KAKI Jawa Timur menempatkan diri sebagai bagian dari kekuatan sosial yang mendorong penegakan hukum tetap berada di jalur yang benar. Peran ini sekaligus memperkuat legitimasi proses hukum di mata masyarakat luas.

    Keterlibatan masyarakat sipil dalam pemberantasan korupsi tidak hanya bersifat simbolik, tetapi juga strategis dalam mempersempit ruang gerak pelaku. Dengan adanya pengawasan yang konsisten, potensi penyimpangan dalam proses hukum dapat diminimalisir. Hal ini juga menciptakan tekanan moral yang kuat bagi seluruh pihak yang terlibat dalam praktik korupsi. Sinergi antara lembaga negara dan masyarakat sipil menjadi fondasi penting dalam membangun sistem antikorupsi yang kokoh. Dalam konteks ini, komitmen yang ditunjukkan Moh Hosen memperlihatkan bahwa pemberantasan korupsi merupakan tanggung jawab kolektif.

    Sementara itu, Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto, sebelumnya telah berkomitmen kuat untuk memberantas korupsi tanpa pandang bulu. Pernyataan tersebut menempatkan korupsi sebagai ancaman serius yang dapat merusak fondasi negara dan menghambat pembangunan. Dengan menjadikan pemberantasan korupsi sebagai prioritas utama, pemerintah memberikan sinyal tegas bahwa tidak ada ruang kompromi terhadap praktik rasuah. Komitmen ini juga menjadi landasan moral dan politik bagi aparat penegak hukum untuk bertindak secara tegas dan konsisten. Dalam konteks pembongkaran jaringan korupsi berbasis relasi, dukungan dari pucuk kepemimpinan nasional menjadi faktor krusial.

    Pembongkaran jaringan korupsi berbasis relasi tersebut memiliki implikasi luas terhadap tata kelola pemerintahan yang bersih dan profesional. Ketika jejaring korupsi berhasil diurai, maka struktur informal yang selama ini melindungi pelaku akan melemah secara signifikan. Hal ini membuka ruang bagi peningkatan transparansi dan akuntabilitas dalam setiap proses pengambilan keputusan. Selain itu, reformasi birokrasi dapat berjalan lebih efektif karena praktik penyalahgunaan kewenangan dapat ditekan. Dengan demikian, pemberantasan korupsi tidak hanya berorientasi pada penindakan, tetapi juga pada perbaikan sistem secara menyeluruh.

    *) Pakar Hukum Pidana Korupsi.

  • Melawan Ekosistem Korupsi dan Peran Lingkaran Terdekat dalam Praktik Rasuah

    Oleh: Bara Winatha *)

    Dinamika penanganan korupsi di Indonesia menunjukkan perkembangan pendekatan yang semakin adaptif seiring dengan kompleksitas tantangan yang ada. Praktik korupsi kini dipahami dalam konteks yang lebih luas sebagai pola yang melibatkan berbagai peran dan tahapan, sehingga mendorong penguatan strategi penanganan yang lebih menyeluruh. Pendekatan ini tidak hanya berfokus pada aktor utama, tetapi juga memperhatikan keterkaitan antar pihak dalam keseluruhan proses. Dalam konteks tersebut, sinergi antara lembaga negara, aparat penegak hukum, dan partisipasi masyarakat menjadi faktor penting untuk menjaga efektivitas serta keberlanjutan upaya pencegahan dan penindakan korupsi.

    Juru Bicara Komisi Pemberantasan Korupsi, Budi Prasetyo, mengatakan bahwa praktik korupsi saat ini telah berkembang menyerupai sebuah ekosistem yang melibatkan banyak pihak di luar pelaku utama. Ia menjelaskan bahwa fenomena yang disebut sebagai sirkel mencerminkan keterlibatan berbagai aktor dalam proses korupsi, mulai dari tahap perencanaan hingga penyamaran aliran dana. Menurutnya, pihak-pihak yang tergabung dalam lingkaran ini dapat berasal dari keluarga, rekan kerja, hingga jejaring politik yang memiliki kedekatan dengan pelaku utama.

    Budi menyampaikan bahwa peran lingkaran terdekat tidak hanya sebatas membantu pelaksanaan tindak pidana, tetapi juga menjadi bagian penting dalam proses layering atau penyamaran aliran dana. Dalam praktiknya, lingkaran terdekat dapat berfungsi sebagai perantara penerimaan uang, penyimpan dana, hingga pihak yang membantu mengaburkan asal-usul dana hasil korupsi. Hal ini menunjukkan bahwa korupsi telah berkembang menjadi sistem yang terorganisir dengan rapi, sehingga sulit diungkap jika hanya berfokus pada satu pelaku.

    Dalam beberapa kasus, keterlibatan keluarga inti bahkan menjadi bagian dari aliran dana yang dinikmati bersama. Kompleksitas ini menuntut perubahan strategi dalam pemberantasan korupsi. Ia menekankan bahwa penindakan tidak cukup hanya menyasar pelaku utama, tetapi harus mampu mengurai seluruh jaringan yang terlibat.

    Dalam perspektif hukum, penguatan peran lembaga audit negara menjadi aspek penting dalam mendukung pemberantasan korupsi. Pakar hukum tata negara Universitas Muslim Indonesia, Fahri Bachmid, mengatakan bahwa putusan Mahkamah Konstitusi yang menetapkan Badan Pemeriksa Keuangan sebagai satu-satunya lembaga yang berwenang mengaudit kerugian negara memberikan kepastian hukum yang lebih kuat. Keputusan tersebut memperjelas kewenangan antar lembaga dalam menentukan kerugian negara, sehingga tidak lagi menimbulkan perbedaan interpretasi.

    Fahri menjelaskan bahwa mandat konstitusional Badan Pemeriksa Keuangan sebagaimana diatur dalam UUD 1945 menjadi dasar utama dalam penentuan kerugian negara. Meskipun lembaga lain dapat terlibat dalam proses perhitungan, hasil audit dari lembaga tersebut tidak memiliki kekuatan hukum mengikat secara konstitusional. Hal ini menegaskan bahwa hanya temuan Badan Pemeriksa Keuangan yang dapat dijadikan dasar dalam proses hukum tindak pidana korupsi.

    Fahri juga menyoroti pentingnya pendekatan berbasis kerugian aktual dalam penegakan hukum korupsi. Kerugian negara yang digunakan sebagai dasar penindakan harus bersifat nyata dan dapat dibuktikan secara faktual, bukan sekadar potensi kerugian. Lebih jauh, Fahri menekankan bahwa harmonisasi antara putusan Mahkamah Konstitusi dan peraturan perundang-undangan lainnya menjadi langkah penting untuk memastikan konsistensi dalam penegakan hukum.

    Sementara itu, upaya pencegahan korupsi juga tidak dapat dilepaskan dari peran individu dan lingkungan sosial. Ketua Dewan Audit Otoritas Jasa Keuangan, Sophia Issabella Watimena, mengatakan bahwa perempuan memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai antikorupsi, terutama dalam lingkungan keluarga. Ia menilai bahwa keluarga merupakan unit terkecil dalam masyarakat yang memiliki pengaruh besar dalam membentuk karakter dan integritas individu.

    Penanaman nilai antikorupsi sejak dini dapat menjadi benteng awal dalam mencegah seseorang terlibat dalam praktik rasuah. Perempuan yang berperan sebagai ibu dan pengelola rumah tangga memiliki posisi penting dalam membangun budaya integritas di lingkungan keluarga. Di sektor profesional, pentingnya penerapan tata kelola yang baik menjadi bagian dari upaya pencegahan korupsi. Otoritas Jasa Keuangan telah menerapkan berbagai kebijakan untuk memperkuat integritas, termasuk penerapan prinsip good corporate governance, penguatan manajemen risiko, serta strategi anti rasuah.

    Selain itu, inovasi berbasis teknologi juga dimanfaatkan untuk meningkatkan pemahaman mengenai tata kelola dan integritas. Salah satunya melalui penerapan sistem pelaporan pelanggaran dan penggunaan chatbot internal yang membantu pegawai memahami prinsip-prinsip tata kelola. Selain itu, kolaborasi antara pemerintah, lembaga negara, sektor swasta, dan masyarakat menjadi kunci dalam menciptakan sistem yang transparan dan akuntabel.

    Pemberantasan korupsi memerlukan pendekatan yang tidak hanya represif, tetapi juga preventif dan edukatif. Pendekatan ini mencakup penguatan sistem hukum, peningkatan transparansi, serta pembangunan budaya integritas di seluruh lapisan masyarakat. Dengan demikian, korupsi tidak hanya dapat ditekan dari sisi penindakan, tetapi juga dicegah sejak awal.

    Melalui penguatan peran lembaga audit, peningkatan efektivitas penegakan hukum, serta pembangunan budaya antikorupsi di tingkat keluarga dan masyarakat, upaya melawan korupsi dapat dilakukan secara lebih komprehensif. Dengan kesadaran kolektif dan komitmen yang kuat, Indonesia memiliki peluang besar untuk keluar dari jerat korupsi dan membangun masa depan yang lebih bersih, adil, dan sejahtera.

    *) Penulis merupakan pengamat sosial dan kemasyarakatan.

  • Sinergi Pemerintah dan BI Jaga Rupiah Tetap On Track di Tengah Tekanan Global

    Jakarta, – Pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmen kuat dalam menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan nasional di tengah meningkatnya ketidakpastian global. Komitmen ini disampaikan dalam forum IMF–World Bank Spring Meetings di Amerika Serikat, sebagai bagian dari upaya memperkuat kepercayaan investor global terhadap perekonomian Indonesia.

    Gubernur BI, Perry Warjiyo, menyampaikan bahwa strategi utama difokuskan pada pengelolaan nilai tukar rupiah yang fleksibel namun tetap terukur.

    “Kami menjaga stabilitas nilai tukar melalui kebijakan yang adaptif, serta memperkuat instrumen moneter agar daya tarik investasi di dalam negeri tetap terjaga,” ujarnya.

    Selain itu, pengelolaan likuiditas dilakukan secara hati-hati untuk memastikan tetap mendukung pertumbuhan ekonomi tanpa mengganggu stabilitas. Langkah ini menjadi bagian dari strategi komprehensif dalam menghadapi tekanan global, termasuk volatilitas pasar dan dinamika geopolitik.

    Sinergi antara BI dan pemerintah juga menjadi faktor kunci dalam menjaga ketahanan ekonomi nasional. Pemerintah menegaskan komitmennya untuk mempertahankan disiplin fiskal, termasuk menjaga defisit anggaran di bawah 3 persen dari Produk Domestik Bruto (PDB), serta mengarahkan belanja negara ke sektor produktif.

    “Koordinasi kebijakan moneter dan fiskal terus diperkuat agar stabilitas ekonomi tetap terjaga dan pertumbuhan dapat berkelanjutan,” ungkap perwakilan pemerintah.

    Dengan suku bunga acuan di kisaran 4,75 persen dan inflasi yang relatif terkendali, Indonesia dinilai tetap kompetitif di antara negara berkembang lainnya. Kondisi ini turut mendorong optimisme terhadap potensi peningkatan arus modal asing ke pasar keuangan domestik, baik pada instrumen obligasi maupun ekuitas.

    Pertemuan antara pemerintah, BI, dan US-ASEAN Business Council juga dimanfaatkan untuk memperkuat kredibilitas Indonesia sebagai destinasi investasi yang stabil dan prospektif.

    Di tengah ketidakpastian global tahun 2026, pemerintah dan Bank Indonesia menegaskan bahwa perekonomian Indonesia tetap berada pada jalur yang tepat. Dengan fondasi yang kuat, koordinasi kebijakan yang solid, serta komitmen menjaga stabilitas, Indonesia optimistis mampu menghadapi berbagai tantangan eksternal sekaligus memanfaatkan peluang pertumbuhan di masa depan. (*)

  • Gejolak Global Meningkat, Rupiah Tetap Terjaga Berkat Fondasi Ekonomi Kuat

    Jakarta – Di tengah meningkatnya dinamika dan ketidakpastian ekonomi global, nilai tukar rupiah menunjukkan ketahanan yang solid. Stabilitas ini tidak terlepas dari kuatnya fondasi ekonomi nasional yang terus dijaga oleh pemerintah bersama otoritas moneter melalui kebijakan yang terukur dan responsif.

    Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti mengatakan BI memastikan akan terus menjaga stabilitas nilai tukar dengan mengoptimalkan berbagai instrumen moneter.

    “Kami akan mengoptimalkan semua instrumen operasi moneter yang kami miliki. Jadi yang sekarang ini yang terus dilakukan oleh kami adalah secara terukur, terus menerus ya, dan juga timely. Kami lihat timing-nya. BI akan terus berada di market,” ujarnya.

    Destry menjelaskan bahwa intervensi tidak hanya dilakukan di pasar domestik, tetapi juga di pasar offshore melalui instrumen non-deliverable forward (NDF). Langkah ini dinilai penting untuk merespons pergerakan nilai tukar yang sering kali dipengaruhi transaksi di luar negeri.

    “Kadang rupiah di dalam negeri masih stabil, tapi di pasar NDF offshore sudah bergerak di atas Rp17.100 per USD. Kalau tidak diintervensi, itu bisa langsung berdampak ke pasar spot,” jelasnya.

    Selain intervensi pasar, BI juga memastikan likuiditas rupiah tetap terjaga guna mendukung aktivitas ekonomi. Hal ini tercermin dari pertumbuhan uang primer (base money) yang saat ini berada di atas 12 persen, menunjukkan kebijakan ekspansi likuiditas masih berlangsung.

    “Target kami adalah base money itu tidak akan di bawah 10%. Base money sekarang pertumbuhannya sudah di atas 12-an persen. Jadi itu adalah M0. Itu adalah hal yang menunjukkan bahwa bank sentral akan tetap melakukan ekspansi,” tambah Destry.

    Senada, Chief Economist Bank Central Asia (BCA), David Sumual, menyampaikan bahwa stabilitas Rupiah tidak hanya dilihat dari level nilai tukar, tetapi juga dari stabilitas volatilitasnya.

    “Bagi pasar, yang menjadi perhatian utama bukan hanya level nilai tukar, tetapi juga stabilitas volatilitasnya. Stabilitas tersebut menjadi faktor penting dalam menjaga keyakinan investor dan pelaku usaha,” ujar David.

    Sebagai bagian dari penguatan stabilitas, Bank Indonesia juga memperkuat tata kelola dalam transaksi valas domestik dengan mewajibkan transaksi valas di atas USD50 ribu untuk disertai dengan dokumen underlying yang lengkap. Langkah tersebut ditempuh untuk memastikan transaksi yang dilakukan mendukung kelancaran aktivitas ekonomi.

    Dengan fondasi ekonomi yang kokoh dan kebijakan yang adaptif, Indonesia dinilai mampu menghadapi berbagai tantangan global dengan optimisme. Stabilitas rupiah bukan hanya mencerminkan kekuatan ekonomi saat ini, tetapi juga menjadi indikator kepercayaan terhadap prospek jangka panjang Indonesia yang semakin menjanjikan.

  • Managing Volatility: Strategi Menjaga Stabilitas Rupiah di Tengah Tekanan Global

    Oleh : Abdul Razak)*

    Ketidakpastian global kembali menjadi tantangan nyata bagi perekonomian dunia. Eskalasi konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah, fluktuasi harga komoditas, hingga arah kebijakan moneter negara maju yang sulit diprediksi menciptakan tekanan berlapis terhadap pasar keuangan global. Dalam konteks ini, stabilitas nilai tukar rupiah tidak lagi sekadar persoalan teknis, melainkan menjadi indikator utama kepercayaan pasar terhadap ketahanan ekonomi nasional.

    Dalam sebuah forum Seminar Nasional Ketahanan Ekonomi Indonesia Menghadapi Volatilitas Nilai Tukar Global di Jakarta pada April 2026, Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan bahwa kondisi global saat ini tergolong tidak biasa dan membutuhkan respons kebijakan yang konsisten, pre-emptive, serta terukur. Bank Indonesia, menurut Destry, terus mengoptimalkan seluruh instrumen moneter yang dimiliki secara terukur, berkelanjutan, dan tepat waktu, sekaligus memastikan kehadiran aktif di pasar guna menjaga stabilitas nilai tukar.

    Pendekatan ini tercermin dalam bauran kebijakan yang komprehensif, mulai dari intervensi di pasar offshore melalui Non-Deliverable Forward (NDF), intervensi di pasar domestik melalui spot dan Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), hingga pembelian Surat Berharga Negara di pasar sekunder. Strategi tersebut menunjukkan bahwa stabilitas rupiah dijaga melalui berbagai kanal secara simultan, mencerminkan kehati-hatian sekaligus ketegasan dalam merespons tekanan eksternal.

    Tekanan terhadap rupiah sendiri sempat terlihat dari pelemahan hingga menyentuh level Rp17.122 per dolar AS. Angka tersebut menempatkan rupiah sebagai salah satu mata uang dengan tekanan terdalam di kawasan Asia. Meski demikian, pergerakan selanjutnya menunjukkan adanya stabilisasi jangka pendek, dengan rupiah sempat menguat ke kisaran Rp17.168 per dolar AS.

    Analis Research and Development Indonesia Commodity & Derivatives Exchange, Muhammad Amru Syifa, menilai bahwa penguatan tersebut tidak lepas dari kombinasi sentimen domestik dan global yang meski masih memberikan tekanan, namun diimbangi oleh faktor stabilisasi jangka pendek. Ia menambahkan bahwa komitmen Bank Indonesia dalam menjaga nilai tukar, yang didukung oleh cadangan devisa yang relatif kuat, turut menjaga kepercayaan investor.

    Dalam situasi seperti ini, stabilitas nilai tukar tidak hanya diukur dari level kurs, melainkan juga dari tingkat volatilitasnya. Fluktuasi yang terlalu tajam berpotensi menimbulkan ketidakpastian bagi dunia usaha, terutama dalam perencanaan impor bahan baku, pengelolaan utang luar negeri, hingga pengambilan keputusan investasi jangka panjang. Oleh karena itu, langkah Bank Indonesia dalam meredam gejolak jangka pendek menjadi sangat krusial untuk menjaga iklim usaha tetap kondusif.

    Selain intervensi pasar, Bank Indonesia juga memastikan likuiditas rupiah tetap terjaga. Destry Damayanti menyampaikan bahwa pertumbuhan uang primer atau base money saat ini berada di atas 12 persen, mencerminkan kebijakan ekspansi likuiditas yang masih berlangsung. Target bank sentral adalah menjaga pertumbuhan base money agar tidak berada di bawah 10 persen sebagai bagian dari upaya menjaga keseimbangan antara stabilitas dan pertumbuhan ekonomi.

    Langkah strategis lainnya adalah pengetatan tata kelola transaksi valuta asing domestik, termasuk kewajiban dokumen underlying untuk transaksi di atas 50 ribu dolar AS. Kebijakan ini dipandang sebagai upaya menjaga kualitas transaksi tanpa menghambat aktivitas ekonomi riil. Di sisi lain, Bank Indonesia juga mendorong diversifikasi penggunaan mata uang melalui Local Currency Transaction (LCT), yang nilainya telah mencapai 25,72 miliar dolar AS pada akhir 2025. Inisiatif ini menjadi bagian penting dalam mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS dalam jangka menengah.

    Dari sisi ketahanan eksternal, posisi cadangan devisa Indonesia yang mencapai 148,3 miliar dolar AS pada akhir Maret 2026 menjadi bantalan penting dalam menghadapi gejolak global. Cadangan ini memberikan ruang bagi otoritas moneter untuk melakukan intervensi secara terukur tanpa menimbulkan tekanan berlebihan terhadap fundamental ekonomi.

    Namun demikian, stabilitas nilai tukar tidak dapat hanya mengandalkan cadangan devisa. Penguatan fundamental ekonomi tetap menjadi kunci utama. Dalam hal ini, pemerintah juga mengambil peran strategis melalui kebijakan fiskal yang adaptif dan berorientasi pada pertumbuhan.

    Menteri Keuangan RI, Purbaya Yudhi Sadewa, menegaskan bahwa Indonesia tengah menggeser fokus pembangunan ekonomi dari sekadar menjaga stabilitas menuju pertumbuhan yang lebih produktif dan berkelanjutan. Ia menyampaikan bahwa pemerintah mendorong industri hilir, memperkuat sektor manufaktur, serta meningkatkan kualitas sumber daya manusia dan efisiensi agar pertumbuhan ke depan tidak hanya stabil, tetapi juga lebih tangguh dan terdiversifikasi.

    Menurut Purbaya, kinerja ekonomi Indonesia saat ini relatif kuat dibandingkan negara G20 dan negara berkembang lainnya, didukung oleh pertumbuhan yang stabil, inflasi yang terkendali, serta defisit dan rasio utang yang terjaga. Optimisme ini tercermin dari proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia yang berada di kisaran 5,4 hingga 6 persen pada 2026, di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.

    Sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal menjadi faktor penentu dalam menjaga stabilitas rupiah ke depan. APBN tetap berfungsi sebagai shock absorber untuk menjaga daya beli masyarakat, sementara kebijakan moneter memastikan stabilitas pasar keuangan tetap terjaga.

    Ke depan, tantangan utama bukan hanya menjaga rupiah agar tidak melemah, tetapi memastikan stabilitas tersebut kredibel dan berkelanjutan. Dalam dunia yang semakin kompleks dan penuh ketidakpastian, konsistensi kebijakan, komunikasi yang transparan, serta koordinasi yang solid antar-otoritas menjadi fondasi utama.

    Pada akhirnya, stabilitas nilai tukar adalah soal menjaga ekspektasi. Ketika ekspektasi pasar terkelola dengan baik, kepercayaan akan terjaga, dan dari situlah ketahanan ekonomi nasional dapat terus diperkuat di tengah tekanan global yang tidak kunjung mereda.

    )* Analis Kebijakan

  • Dunia Bergejolak, Rupiah Indonesia Tetap Stabil

    Oleh : Reska R )*

    Situasi ekonomi global dalam beberapa tahun terakhir bergerak dengan ritme yang sulit diprediksi. Ketegangan geopolitik di berbagai wilayah, perubahan arah kebijakan suku bunga di negara maju, serta fluktuasi harga energi dan pangan dunia menciptakan tekanan yang terasa hingga ke pasar negara berkembang. Banyak mata uang mengalami pelemahan karena derasnya arus modal yang mencari aset aman. Namun di tengah kondisi yang penuh ketidakpastian tersebut, rupiah Indonesia menunjukkan ketahanan yang cukup kuat dan konsisten, mencerminkan fondasi ekonomi yang semakin solid.

    Bank Indonesia menyebutkan bahwa meskipun rupiah sempat tertekan oleh kondisi global, pergerakannya tetap berada dalam kisaran yang sejalan dengan fundamental ekonomi Indonesia. Pada awal 2026, rupiah bergerak di level belasan ribu per dolar AS dengan fluktuasi yang lebih banyak dipengaruhi faktor eksternal seperti ketidakpastian geopolitik dan arah kebijakan suku bunga global. BI juga menilai rupiah masih cenderung undervalued, sehingga berbagai langkah stabilisasi terus dilakukan.

    Stabilitas ini didukung oleh kebijakan moneter yang konsisten, inflasi yang terjaga dalam sasaran, serta koordinasi kebijakan fiskal dan sektor keuangan yang semakin solid. Inflasi sempat naik secara musiman, tetapi inflasi inti tetap rendah sehingga daya beli masyarakat relatif terjaga. Kondisi tersebut menjadi salah satu fondasi utama yang membantu menjaga stabilitas rupiah di tengah tekanan global.

    Kepala Biro Komunikasi dan Layanan Informasi Kementerian Keuangan Deni Sujantoro mengatakan meski kondisi global sedang tidak stabil, pemerintah berupaya mengelola APBN dengan baik. pemerintah terus mengoptimalkan berbagai instrumen fiskal, antara lain melalui optimalisasi penerimaan, penguatan kualitas belanja, optimalisasi penerimaan, serta pengelolaan pembiayaan dengan hati-hati. Sehingga APBN tetap sehat dan dapat berfungsi efektif sebagai penyerap guncangan atau shock absorber.

    Menariknya, meskipun tekanan global meningkat, Indonesia masih mampu mempertahankan fundamental ekonomi yang relatif kuat. Pertumbuhan ekonomi tetap berada di kisaran sekitar lima persen, ditopang oleh konsumsi domestik, investasi, dan ekspor yang stabil. Laporan dari berbagai lembaga menunjukkan bahwa sektor perbankan juga tetap resilien dengan tingkat permodalan yang kuat dan risiko kredit yang terkendali.

    Tidak dapat dipungkiri bahwa gejolak global tetap memberikan dampak terhadap rupiah. Ketegangan geopolitik, seperti konflik di beberapa kawasan dunia, sempat memicu arus keluar modal dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Dalam beberapa momen, rupiah bahkan sempat menyentuh level psikologis tertentu akibat tekanan tersebut. Namun yang menarik, pelemahan tersebut cenderung bersifat sementara dan tidak menunjukkan tren penurunan yang tidak terkendali. Bank Indonesia secara aktif melakukan intervensi di pasar valuta asing untuk menjaga stabilitas, baik melalui pasar spot maupun instrumen derivatif, sehingga fluktuasi dapat diredam.

    Dari perspektif global, kondisi ini sebenarnya cukup positif. Banyak negara berkembang lain mengalami depresiasi mata uang yang lebih dalam, terutama yang sangat bergantung pada arus modal asing jangka pendek. Indonesia, dengan struktur ekonomi yang lebih seimbang dan cadangan devisa yang cukup besar, mampu menjaga daya tahannya lebih baik. Selain itu, surplus neraca perdagangan yang berkelanjutan juga memberikan bantalan tambahan terhadap tekanan eksternal.

    Peran kebijakan fiskal juga tidak kalah penting. Pemerintah terus menjaga disiplin anggaran dengan defisit yang masih berada dalam batas aman, sambil tetap mengalokasikan belanja untuk program-program strategis yang mendukung daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi jangka panjang. Sinergi antara kebijakan fiskal dan moneter ini menciptakan ekosistem ekonomi yang lebih stabil dan adaptif terhadap perubahan global.

    Di tengah situasi global yang sarat ketidakpastian, dipengaruhi dinamika geopolitik, fluktuasi harga komoditas, serta perubahan arah kebijakan moneter dunia, stabilitas rupiah menjadi salah satu indikator penting bahwa fondasi ekonomi Indonesia tetap terjaga. Nilai tukar tidak hanya merefleksikan kondisi pasar keuangan, tetapi juga mencerminkan kepercayaan terhadap prospek ekonomi nasional. Dalam konteks ini, rupiah menunjukkan ketahanan yang semakin solid, seiring dengan membaiknya koordinasi kebijakan dan penguatan instrumen stabilisasi.

    Analis Mata Uang dari Doo Financial Futures, Lukman Leong, mengatakan bahwa penguatan rupiah kali ini sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik global, terutama munculnya optimisme terkait peluang kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Nilai tukar rupiah menunjukkan performa positif, Mata uang Garuda tercatat menguat 42 poin atau sekitar 0,24 persen, bertengger di posisi Rp17.126 per dolar AS.

    Penguatan fundamental ekonomi domestik menjadi kunci utama untuk menjaga stabilitas jangka panjang. Peningkatan produktivitas, diversifikasi ekspor, serta penguatan industri dalam negeri akan menjadi faktor penentu ketahanan rupiah di masa mendatang. Stabilitas rupiah di tengah dunia yang bergejolak bukan hanya soal angka di pasar valuta asing, tetapi juga cerminan dari kepercayaan terhadap ekonomi nasional. Kepercayaan ini terbentuk dari konsistensi kebijakan, ketahanan sektor keuangan, serta kemampuan Indonesia menjaga keseimbangan di tengah tekanan eksternal. Selama fondasi ini terus diperkuat, rupiah akan tetap menjadi salah satu simbol stabilitas ekonomi Indonesia di tengah ketidakpastian global yang terus bergerak.

    )* Pengamat Kebijakan Ekonomi

  • MBG Hadir di Perbatasan, Negara Perkuat Akses Gizi dan Layanan Dasar

    Jakarta – Pemerintah terus mengoptimalkan pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sebagai bagian dari strategi memperkuat akses gizi dan layanan dasar, khususnya di wilayah Tertinggal, Terdepan, dan Terluar (3T). Langkah ini diperkuat melalui pembangunan Sentra Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di kawasan perbatasan negara salah satunya di PLBN Wini dan Motamasin. Kehadiran fasilitas ini menjadi bukti nyata komitmen negara dalam memastikan masyarakat perbatasan mendapatkan layanan gizi yang merata dan berkualitas.

    Pembangunan SPPG difokuskan pada wilayah dengan kebutuhan layanan gizi yang mendesak. Selain mendukung pemenuhan nutrisi, dapur MBG di kawasan perbatasan juga berfungsi sebagai penguat layanan dasar sekaligus penggerak aktivitas ekonomi lokal. Dengan demikian, kehadiran MBG tidak hanya meningkatkan kualitas kesehatan masyarakat, tetapi juga memperluas manfaat pembangunan hingga ke wilayah perbatasan.

    Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, menyampaikan bahwa program MBG merupakan bagian dari kebijakan strategis nasional yang berdampak luas.

    “Program MBG adalah amanat Presiden untuk memastikan generasi Indonesia tumbuh sehat dan cerdas. Di sisi lain, program ini juga memperkuat ekonomi lokal melalui keterlibatan petani, nelayan, dan pelaku UMKM, sehingga manfaatnya dirasakan secara langsung oleh masyarakat,” ujarnya.

    Ia juga menegaskan bahwa pembangunan SPPG di perbatasan mencerminkan kehadiran negara dalam memperkuat layanan dasar.

    “Kehadiran fasilitas ini menunjukkan komitmen negara dalam menjamin akses gizi yang layak, menjaga stabilitas pangan, serta memastikan ketersediaan layanan dasar bagi masyarakat di wilayah perbatasan,” tambah Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo.

    Secara teknis, SPPG di PLBN Wini dan Motamasin dilengkapi dengan fasilitas yang memenuhi standar kebersihan dan keberlanjutan lingkungan, mulai dari dapur utama, area pencucian, gudang penyimpanan, hingga Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Fasilitas pendukung seperti jaringan air bersih, area parkir, serta penataan kawasan juga disiapkan untuk menunjang operasional yang optimal.

    Sementara itu, Asisten Deputi Pengelolaan Lintas Batas Negara (Tasbara) BNPP, Budi Setyono, menekankan pentingnya kesiapan operasional pascapembangunan.

    “Arahan Sekretaris BNPP menegaskan agar SPPG yang telah dibangun dapat segera dioperasikan. Oleh karena itu, kesiapan aspek teknis dan manajerial, termasuk penetapan mitra pengelola dan penyusunan SOP, menjadi hal yang krusial,” jelasnya.

    Lebih lanjut, ia menyebutkan bahwa pengelolaan SPPG di kawasan PLBN memerlukan koordinasi lintas sektor.

    “Perencanaan operasional harus mencakup pemetaan kebutuhan pangan, distribusi, hingga kesiapan tenaga kerja agar layanan berjalan efektif dan berkelanjutan,” tambah Budi Setyono.

    Melalui percepatan ini, pemerintah bersama BNPP menegaskan komitmennya untuk menghadirkan MBG di perbatasan sebagai upaya memperkuat akses gizi dan layanan dasar. Program ini diharapkan mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat sekaligus mendorong pemerataan pembangunan di wilayah perbatasan Indonesia.

  • MBG di Perbatasan Libatkan Petani dan UMKM, Ekonomi Lokal Bergerak

    Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) terus menunjukkan dampak positifnya, termasuk di wilayah perbatasan Indonesia–Timor Leste. Tidak hanya berfokus pada pemenuhan gizi masyarakat, program ini juga terbukti mampu menggerakkan roda ekonomi lokal dengan melibatkan petani dan pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) setempat.

    Menteri Pekerjaan Umum (PU), Dody Hanggodo mengatakan bahwa program MBG memiliki dampak yang luas, tidak hanya pada sektor kesehatan, tetapi juga ekonomi.

    “Program MBG adalah amanat Presiden Prabowo Subianto untuk mencetak generasi Indonesia yang sehat dan cerdas. Program ini juga mendorong ekonomi lokal dengan melibatkan petani, nelayan, dan UMKM. Dengan demikian, MBG bukan hanya program sosial, tetapi juga bagian dari strategi pembangunan nasional,” ujar Dody.

    Melalui Kementerian Pekerjaan Umum (PU), pemerintah telah menyelesaikan pembangunan dua unit Sentra Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah perbatasan Indonesia-Timor Leste. Kedua fasilitas tersebut berlokasi di Pos Lintas Batas Negara (PLBN) Wini dan PLBN Motamasin, Nusa Tenggara Timur.

    Kehadiran dapur MBG di kawasan perbatasan ini tidak hanya ditujukan untuk meningkatkan akses gizi masyarakat, tetapi juga memperkuat peran PLBN sebagai pusat pelayanan sekaligus penggerak kesejahteraan warga. Pembangunan fasilitas difokuskan pada wilayah yang memiliki kebutuhan layanan gizi mendesak, termasuk daerah perbatasan yang selama ini menghadapi keterbatasan akses.

    Dody mengatakan pembangunan fasilitas ini merupakan wujud nyata kehadiran negara di kawasan perbatasan.

    “Ini menjadi bentuk nyata kehadiran negara dalam memastikan akses gizi yang layak, menjaga stabilitas harga, serta menjamin ketersediaan pangan bagi masyarakat perbatasan,” kata Dody.

    Secara teknis, kedua SPPG tersebut dilengkapi dengan berbagai fasilitas pendukung yang memenuhi standar kebersihan dan keberlanjutan lingkungan. Mulai dari dapur utama, area pencucian alat dan bahan makanan, gudang kering dan basah, hingga ruang penyimpanan peralatan. Selain itu, tersedia pula fasilitas parkir, jaringan air bersih, serta Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL). Infrastruktur tambahan seperti ruang panel, tempat pembuangan sampah (TPS), serta penataan lanskap kawasan turut dibangun guna mendukung operasional yang optimal.

    Ke depan, model implementasi MBG di perbatasan ini dinilai dapat direplikasi di wilayah lain dengan karakteristik serupa. Sinergi antara pemerintah, masyarakat, petani, dan UMKM menjadi kunci keberhasilan yang perlu terus dijaga dan ditingkatkan.

    Dengan pendekatan yang tepat, MBG tidak sekadar menjadi program bantuan, melainkan instrumen strategis untuk mendorong kemandirian ekonomi lokal. Di perbatasan Indonesia–Timor Leste, langkah ini telah membuktikan bahwa pembangunan dari pinggiran dapat menjadi fondasi kuat bagi pertumbuhan nasional yang berkelanjutan. (*)

  • MBG: Dari Perbatasan untuk Kesejahteraan Nasional

    Oleh : Ricky Rinaldi *)

    Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya menjadi instrumen peningkatan kualitas gizi masyarakat, tetapi juga mencerminkan komitmen negara dalam menghadirkan kesejahteraan secara merata hingga ke wilayah perbatasan. Selama ini, kawasan perbatasan kerap menghadapi keterbatasan akses terhadap layanan dasar, termasuk pemenuhan gizi yang layak. Melalui MBG, negara menunjukkan bahwa pembangunan tidak boleh berhenti di pusat, melainkan harus menjangkau seluruh wilayah hingga titik terluar.

    Wilayah perbatasan memiliki peran strategis, tidak hanya sebagai batas geografis, tetapi juga sebagai wajah kedaulatan negara. Kesejahteraan masyarakat di kawasan ini menjadi indikator penting keberhasilan pembangunan nasional. Oleh karena itu, kehadiran program seperti MBG memiliki makna yang lebih luas, yakni memperkuat kehadiran negara sekaligus meningkatkan kualitas hidup masyarakat di daerah yang selama ini menghadapi berbagai keterbatasan.

    Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa pembangunan harus bersifat inklusif dan merata. Tidak boleh ada wilayah yang tertinggal dalam proses pembangunan, termasuk kawasan perbatasan. MBG menjadi salah satu bentuk konkret dari komitmen tersebut, dengan memastikan bahwa anak-anak di daerah terluar pun mendapatkan akses terhadap makanan bergizi yang dibutuhkan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal.

    Pelaksanaan MBG di wilayah perbatasan juga menghadapi tantangan tersendiri. Akses logistik, keterbatasan infrastruktur, serta kondisi geografis menjadi faktor yang harus diatasi melalui perencanaan yang matang. Pemerintah merespons tantangan ini dengan pendekatan yang adaptif, memanfaatkan potensi lokal serta memperkuat koordinasi lintas sektor agar distribusi program dapat berjalan efektif.

    Kepala Badan Gizi Nasional Dadan Hindayana menekankan bahwa pendekatan berbasis wilayah menjadi kunci keberhasilan implementasi MBG di daerah perbatasan. Program ini tidak hanya mengandalkan distribusi dari pusat, tetapi juga mendorong pemanfaatan sumber daya lokal dalam penyediaan bahan pangan. Dengan cara ini, keberlanjutan program dapat terjaga sekaligus memberikan dampak ekonomi bagi masyarakat setempat.

    Selain meningkatkan kualitas gizi, MBG di wilayah perbatasan juga berkontribusi pada penguatan ekonomi lokal. Kebutuhan bahan pangan untuk program ini membuka peluang bagi petani, nelayan, dan pelaku usaha kecil untuk terlibat dalam rantai pasok. Aktivitas ekonomi yang tercipta dari program ini membantu meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan ekonomi daerah.

    Program ini juga memiliki dimensi sosial yang penting. Kehadiran MBG di wilayah perbatasan memperkuat rasa keadilan dan kebersamaan dalam pembangunan nasional. Masyarakat di daerah terpencil merasakan bahwa negara hadir dan memberikan perhatian yang setara. Hal ini berkontribusi pada penguatan rasa kebangsaan dan kepercayaan terhadap pemerintah.

    Dalam jangka panjang, peningkatan kualitas gizi di wilayah perbatasan akan berdampak pada peningkatan kualitas sumber daya manusia. Anak-anak yang mendapatkan asupan gizi yang baik akan memiliki kemampuan belajar yang lebih optimal serta kesehatan yang lebih terjaga. Hal ini menjadi modal penting dalam menciptakan generasi yang mampu berkontribusi dalam pembangunan daerah maupun nasional.

    Namun demikian, keberhasilan MBG di wilayah perbatasan memerlukan komitmen yang berkelanjutan. Pemerintah terus memastikan bahwa program ini tidak hanya berjalan dalam jangka pendek, tetapi menjadi bagian dari sistem yang terintegrasi dalam pembangunan daerah. Pengawasan dan evaluasi yang konsisten diperkuat untuk menjaga kualitas pelaksanaan program.

    Peran pemerintah daerah juga sangat penting dalam mendukung implementasi MBG. Dengan memahami kondisi lokal, pemerintah daerah dapat membantu memastikan bahwa program berjalan sesuai dengan kebutuhan masyarakat. Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci dalam menghadapi berbagai tantangan di lapangan.

    Selain itu, partisipasi masyarakat menjadi faktor penentu keberhasilan program. Keterlibatan masyarakat dalam penyediaan bahan pangan, pengelolaan distribusi, serta pengawasan program akan memperkuat efektivitas MBG. Dengan kolaborasi yang baik, manfaat program dapat dirasakan secara lebih luas dan berkelanjutan.

    Program MBG di wilayah perbatasan juga berperan dalam mengurangi kesenjangan pembangunan antarwilayah. Selama ini, disparitas antara pusat dan daerah pinggiran menjadi tantangan dalam pembangunan nasional. Dengan intervensi yang tepat sasaran seperti MBG, kesenjangan tersebut dapat ditekan secara bertahap. Program ini menunjukkan bahwa pemerataan bukan sekadar konsep, tetapi dapat diwujudkan melalui kebijakan yang konkret dan berkelanjutan.

    Selain aspek ekonomi dan sosial, MBG di wilayah perbatasan juga memperkuat ketahanan nasional dalam arti yang lebih luas. Masyarakat yang sejahtera dan sehat akan memiliki rasa keterikatan yang lebih kuat terhadap negara. Dengan terpenuhinya kebutuhan dasar, potensi kerentanan sosial dapat diminimalkan, sehingga stabilitas wilayah perbatasan dapat terjaga dengan lebih baik. Ini menjadi bagian penting dalam menjaga kedaulatan negara dari berbagai tantangan non-militer.

    Program MBG menjadi simbol bahwa kesejahteraan nasional harus dibangun dari seluruh wilayah, termasuk dari perbatasan. Dengan memastikan setiap anak mendapatkan akses terhadap gizi yang baik, negara sedang menyiapkan fondasi bagi masa depan yang lebih kuat. Dari perbatasan, kesejahteraan dapat tumbuh dan menyebar ke seluruh penjuru negeri, memperkuat ketahanan nasional secara menyeluruh.

    *) Pengamat Isu Strategis